Warning : Explicit sexual content
The Glass Half Empty
.
.
Chapter 03
Kyoto Inferno
.
.
Sayo memberitahu Ino festival tanabata di Kyoto akan dimulai nanti malam. Sudah lama dia tak pernah pergi ke festival musim panas. Mungkin dia bisa menyeret Tuan Shimura bersamanya karena akan sangat aneh bila dia pergi ke festival sendirian. Pria itu sendiri tidak muncul untuk makan siang. Entah apa yang dilakukannya. Untuk apa jauh-jauh ke Kyoto bila pada akhirnya dia mengunci diri bersama pekerjaannya. Ino merasa sangat kasihan tapi pria itu tak pernah tampak sedih. Ino tentu saja tidak bisa menyimpulkan kepribadian pria itu karena mereka baru menghabiskan waktu kurang dari dua belas jam bersama yang lebih banyak diisi oleh kesunyian. Tapi sudah jelas Tuan Shimura tak pernah memperlihatkan emosi selain senyum sopan yang dia sunggingkan sesekali.
Ino jadi pusing. Dia tidak seharusnya ikut campur mengenai urusan kliennya tapi bagaimana bisa dia bekerja menghibur pria yang menyewanya bila sang pria tak tahu makna terhibur.
Sai bukannya melanjutkan pekerjaannya menulis novel dia malah sibuk membuat sketsa. Wanita itu kini menjadi objek utama yang diproyeksikan oleh kepalanya. Sambil membuat coretan dan garis di atas buku sketsanya dia berpikir apa yang membuat wanita itu menarik? Parasnya, komposisi warnanya, postur dan style-nya. Wanita itu unik dengan gayanya sendiri tetapi yang paling menarik adalah ekspresinya. Dia begitu kaya akan emosi tidak seperti dirinya tapi Mizuna juga bisa menjadi sebuah enigma.
Wanita itu ekspresif tapi dia tidak transparan. Seolah ada sesuatu yang lain di balik senyum manisnya. Sai menghabiskan waktunya menjadi observant dia mengamati interaksi manusia yang satu dengan yang lain dan terkadang heran menemukan peristiwa yang sama menghasilkan emosi yang berbeda dalam setiap orang. Dia hanya menduga emosi dipengaruhi persepsi dan pola pikir dan beberapa orang pintar berpura-pura. Menyimpan kepribadian yang asli dan menunjukkan alternate ego yang bisa diterima oleh orang lain. Seperti halnya yang dia lakukan bila terpaksa harus bersosialisasi.
Ini pertama kalinya dia tertarik mempelajari seseorang. Dia ingin tahu apa yang ada di balik wajah sang lady escort. Tapi sepertinya dia tak akan pernah tahu karena hal seperti itu bersifat sangat intim. Sisi yang hanya bisa diperlihatkan pada orang yang bisa dipercaya dan menerima tanpa menghakimi.
Sai sendiri tidak akan pernah menelanjangi jiwanya pada orang lain. Kisah dan pikirannya hanya miliknya sendiri. Campur tangan orang lain dalam kehidupannya bisa merusak orisinalitas dan dia juga tidak suka dinilai dan dihakimi. Dia tak pernah ikut campur atau menilai orang lain karena dia percaya setiap orang punya kisah masing-masing. Segala baik dan buruk bersifat relatif dan kita tak bisa menerapkan ukuran standar pribadi pada orang lain karena itu salah.
Ino menemukan tuan Shimura duduk di teras. Pria itu duduk bersandar pada tiang kayu dan terlihat begitu fokus pada bacaannya. Ino mendudukkan diri di dekatnya lalu pria itu menutup bukunya.
"Aku ada permintaan. Temani aku pergi ke festival tanabata di tepi sungai kamo nanti malam" ucapnya tanpa basa-basi.
"Baiklah, jam berapa?"
Ino cukup terkejut kliennya tidak menolak. "Jam tujuh? Kita bisa makan malam di Gion bila kau mau"
Sai mengangguk. Karena tak ada lagi yang bisa dia dibicarakan Ino kembali mencari Sayo. Wanita tua itu banyak bercerita tentang Sai Shimura karena dia berpuluh-puluh tahun mengabdi pada keluarganya. Sekarang Ino tahu kliennya adalah anak yatim piatu yang di besarkan oleh kakeknya seorang jendral militer yang keras. Sayo mengira dirinya adalah tunangan tuan mudanya. Jadi wanita itu menceritakan semua yang dia ketahui tentang Sai dan meminta Ino menjaga pria malang itu.
Dia menemukan Sayo sedang minum teh di dapur.
"Nona, Apa anda memerlukan sesuatu?"
"Kami akan pergi ke festival tanabata nanti"
" Ah Kalau begitu bagaimana bila aku persiapkan air mandimu sekarang"
"Terima kasih Sayo" Ino tersenyum. Senang menemukan orang yang ramah untuk diajak berinteraksi. Bila di rumah ini hanya ada dia dan kliennya Ino yakin dirinya akan mulai mencabuti rambut dari kepalanya.
Ino berendam dalam bak air panas. Menggosok tubuhnya dengan sabun beraroma lavender. Dia bisa membayangkan masa kecil Sai membuatnya tumbuh menjadi pria yang menjaga jarak dan tak tertarik pada ikatan. Sepertinya dia sejak kecil tak punya hubungan berarti dengan siapa-siapa atau mengenal kasih sayang. Dia tumbuh seorang diri. Belum lagi kakeknya selalu menekankan emosi hanya untuk orang lemah. Wajar saja dia menjadi pribadi yang tertutup dan stoic.
Ino mengeringkan rambut dan melilitkan handuk di tubuhnya. Dia membuka pintu kamar dan tanpa sengaja melihat Sai Shimura sedang berganti baju. Pria itu sudah setengah telanjang dan baru saja mau membuka celana
"Maaf" Ucap wanita itu dengan terkejut. Dia lupa mereka menghuni kamar yang sama. Pipinya bersemu merah. Mengapa dia jadi malu begini. Padahal dia sering melihat berbagai macam bentuk tubuh tanpa busana.
Pria itu hanya menoleh sebentar. Ekspresinya sama sekali tak berubah melihat Ino berdiri dengan tubuh terlilit handuk di pintu. Wanita itu tampak agak syok karena Sai melanjutkan melepaskan celananya seolah Ino tak ada di sana untuk menyaksikannya. Dia meraih handuk baru dari lemari dan berjalan menuju kamar mandi.
"Permisi, Kau menghalangi jalanku" Ucap pria itu datar ketika memapas Ino. Ino seketika menyingkir tapi tanpa sengaja bahu mereka bersenggolan. Sai melangkah menutup pintu kamar. Sudut mulutnya sedikit terangkat. Menarik, Lady Escort bisa grogi juga.
Ino memakai Yukata yang dipinjamkan Sayo padanya dengan terburu-buru. Ia ingin segera meninggalkan kamar ini sebelum pemiliknya kembali. Dengan cepat dia memulas make up nya tipis-tipis dan membiarkan rambutnya tergerai. Sekali lagi dia mematut dirinya di cermin. Merasa semua sudah sempurna Ino memilih duduk di teras menunggu kliennya siap untuk pergi.
Sai kembali ke kamar dan menemukan Ino sudah pergi. Dia menghirup aroma melati dan bergamot. Ini pastinya wangi parfum Mizuna. Segar, manis dan feminin. Dia berpakaian dan menyisir rambutnya. Merasa rambutnya telah menjadi terlalu panjang dan menutupi wajahnya Sai mencari karet dan mengikat rambutnya. Hanya saja bagian depan rambutnya masih menjuntai. Tapi dia masa bodoh. Sai bukanlah orang yang peduli penampilan.
Sai menemukan wanita itu menunggunya di teras. Ia tampak manis mengenakan Yukata berwarna ungu dengan motif kupu-kupu yang dipinjamkan oleh Sayo.
"Sudah siap?" tanya Ino pada kliennya.
Sai hanya mengangguk singkat. Sopir mengantar mereka ke tepi sungai. Tempat itu sudah di penuhi orang-orang. Ino terkesima lampu dan lampion dan lonceng angin bergantungan. Di kanan kiri banyak stan makanan. Batang-batang bambu yang dahannya di penuhi kertas yang bertuliskan permohonan berjejer di dekat kuil.
Sai berjalan dalam diam. Memperhatikan wanita itu gembira seperti seorang anak kecil "Mizuna kemari" Panggilnya pada wanita itu. Ino mendekat. Sai meraih tangannya "Lebih baik dari pada kita terpisah dalam keramaian"
Ino langsung merona. Bukankah ini suatu kemajuan. Kliennya memutuskan berjalan bergandengan tangan dengan dirinya.
"Tuan Shimura, Aku mau kesana" Ino menunjuk ke arah stan Taiyaki.
"Panggil aku Sai saja"
"Baiklah"
Ino memesan dua kue dengan isian kacang merah. "Ini untukmu" Ino menyerahkan kue berbentuk ikan itu pada Sai. Dia mengunyah dengan bersemangat "Sudah lama tidak makan kue ini. Waktu kecil aku sangat menyukainya"
"Kue ini cukup enak" Komentarnya singkat. Dia baru menyadari Mizuna tak hanya magnet perhatian tapi dia juga gumpalan semangat yang siap melibas dan menulari siapa saja yang berada di dekatnya. Sayo baru mengenal Mizuna beberapa jam tapi setiap saat dia memuji-muji wanita itu. Mizuna menarik Sai untuk menghampiri setiap stan makanan. Dango, takoyaki, kembang gula,Ubi bakar. Pria itu jadi heran sendiri.
"Mizuna apa kau masih mau mampir ke gion untuk makan malam? Kau sudah makan cukup banyak"
"Tentu saja. Aku masih punya banyak ruang di perutku"
Sungguh aneh bagi Ino. Hari ini terasa bagai jalan-jalan biasa dengan seorang teman dari pada seorang klien. Meskipun pria yang dia ajak sangat pendiam Ino merasa nyaman-nyaman saja.
Mereka duduk di tepian Sungai yang agak sepi. Dari tas nya Ino mengeluarkan secarik kertas berwarna biru dan menulis.
"Apa yang kau lakukan?"
"Ini Tanabata, Sudah seharusnya kau membuat permohonan" Ino menuliskan harapannya dengan cermat.
"Apa yang kau tulis?"
Ino menyerahkan kertas itu pada kliennya.
"Kau ingin menjadi artis?"
"Aku mencintai akting, dan aku hidup untuk drama" jawab wanita itu berlebihan. Ino menyerahkan secarik kertas dan bolpoinnya pada Sai "Kau tuliskan saja keinginanmu"
"Aku tak punya"
"Ah, Kau benar-benar membosankan. Tulis saja sesuatu"
"Ok" Sai mulai menulis "Kau tahu melakukan ini sungguh konyol. Mana ada keinginan dapat terwujud hanya dengan mengantungkan kertas di pohon bambu. Ini tak masuk akal"
"Aku tak mau dengar logikamu. Kau seorang penulis seharusnya kau tahu kekuatan dari imajinasi dan harapan"
" Baiklah" ucapkan pria itu sambil menulis di kertas
"Boleh aku lihat apa yang kau tulis" Ino mencondongkan tubuhnya untuk membaca apa yang pria itu tulis.
Dengan cepat Sai menyingkirkan kertasnya "Tidak boleh, ini privat"
"Oke..oke. Ayo kita gantung"
Sai meraih tangan Ino untuk membantunya berdiri. Mereka mengantungkan kertas di pohon bambu yang telah berisikan ratusan permohonan.
"Bisa kita pergi sekarang?"
"Tunggu, Sebentar lagi pesta kembang apinya di mulai"
Benar kata Ino, puluhan kembang api meluncur ke angkasa. Mewarnai langit malam dengan ledakan warna dan cahaya.
"Indah bukan?" tanya wanita itu pada Sai
"Iya, Sedikit menyedihkan menurutku. Karena keindahan itu berlangsung amat singkat"
"Meskipun singkat. Keindahan langit malam ini meninggalkan kesan. Menurutku itu yang penting"
Mereka berdiri di tepian sungai menatap kembang api yang menghiasi langit musim panas dalam diam.
Mereka berdua makan malam di sebuah Izakaya. Sai menuangkan Sake di cawannya. Dia memutuskan sedikit alkohol di waktu liburan tak berbahaya. Sepertinya bepergian dengan Mizuna tak melelahkan seperti yang dia duga. Wanita itu tak bertanya tentang dirinya dan itu cukup membuatnya tenang. Mizuna tak melewati batas dalam mencari topik percakapan. Meski dia harus mengakui Mizuna agak sedikit cerewet tapi dia mulai sedikit merasa nyaman berada di sekitar wanita itu.
"Apa kau mau minum, Mizuna?"
"Boleh"
Sai menuangkan sake untuk wanita itu juga. Ino menghabiskannya dalam satu tegukan.
"Madam bilang kau penulis terkenal, tapi aku tak pernah mendengar namamu"
"Itu karena aku menggunakan nama lain. Bukankah kau juga begitu. Mizuna bukan nama aslimu"
"Kau benar"
"Kau sudah tahu namaku, bukankah adil bila aku juga tahu namamu?"
"Tidak, Kau klienku lebih baik kau hanya mengenalku sebagai Mizuna sang lady escort populer dari Madam Papillon"
"Kau tak ingin klien mengenal dirimu secara personal"
"Iya, pekerjaanku terpisah dari hidupku. Aku tak ingin mencampuradukkan kehidupan pribadi dengan kehidupan profesionalku"
"Bukankah itu artinya kau harus memasang topeng dan berpura-pura"
"Aku tak punya masalah dengan itu. Karena Mizuna adalah diriku yang lain. Lagi pula di dunia ini siapa yang tak berpura-pura. Kita semua menjalankan peran kita masing-masing"
"Kau benar, Aku juga melakukannya tapi tidak sepertimu. Aku tidak menikmati kepura-puraanku. Terlalu melelahkan"
Sai mulai banyak bicara, Ino yakin ini pengaruh alkohol. Kliennya menghabiskan dua botol sake dalam waktu singkat. Ino sendiri agak pusing.
"Sayo menceritakan banyak hal tentang dirimu padaku"
"Ah, Wanita tua itu. Mengapa dia melakukannya?"
"Itu salahmu, Kau berkata padanya kita adalah sepasang kekasih. Sekarang aku merasa bersalah sudah berbohong padanya karena dia berharap aku bisa membuatmu bahagia"
"Sayo yang membesarkanku. Tak mungkin aku berkata kalau aku membayar wanita untuk menemaniku"
"Aku baru tahu kau memikirkan pendapat orang tentangmu"
"Aku terlalu banyak mengecewakan orang-orang yang peduli padaku hingga tak ada yang tersisa lagi" Pandangan mata Sai menerawang jauh.
"Sai, sebaiknya kita pulang. Sepertinya kau sudah mabuk"
"Apa iya? Aku tak merasa"
"Kau bicara lebih banyak dari biasa"
"Baiklah-baiklah"
Ino menelepon sopir untuk menjemput mereka di depan Izakaya. Sai berjalan dengan terhuyung-huyung. Wanita itu memapahnya keluar.
Ino lega saat mereka duduk di dalam mobil. Lelaki itu tampak setengah teler. Sai terlihat seperti pria zaman edo dengan Yukata berwarna biru gelap dan kuncir sementara dia merasa seperti istri malang yang harus menjemput suami mabuk setelah semalaman bermain dengan geisha. Sepanjang perjalanan Ino terkekeh mungkin karena dia mabuk . Gumam-gumam tak jelas yang meluncur dari mulut jadi terasa amat lucu.
Sayo menanti mereka dengan khawatir di pintu.
"Kalian tidak apa-apa?"
"Sai mabuk, aku rasa kami terlalu menikmati suasana festival"
"Anda perlu bantuan membawa tuan ke kamar?"
"Tidak Sayo, Aku bisa mengatasinya" Ino menyampirkan lengan Sai di bahunya dan satu tangannya memegang pinggang pria itu. Ino berjalan sambil menyeretnya. Untung Sai buka om-om gendut.
Sai menggerang. Sepertinya pria itu mulai agak sadar
"Apa yang kau lakukan?, Aku bisa berjalan sendiri"
Alis Ino langsung terangkat. Sudah mabuk berat saja masih sombong "Dengar Sai, Aku tak mau mengambil risiko kau mati karena tersandung di rumah sendiri"
"Aku tidak mabuk, Lihat" Sai melepaskan diri dari pegangan Ino. Dengan terhuyung-huyung dia melangkah sambil meraba tembok agar dia tidak jatuh.
"Terserah kau saja kalau begitu" Ino mengikutinya dengan waspada.
Sai merangkak ke arah futon-nya dan terkapar begitu saja. Ino menghembuskan nafas panjang. Pria itu butuh minum banyak air putih bila esok tak ingin menderita hang over parah. Dia menuangkan segelas air dan mencoba membangunkan pria itu dengan menepuk-nepuk pipinya. "Sai bangun kau harus minum air dulu"
Pria berambut hitam itu tak bereaksi. Ino pun menyerah, bukan salahnya bila besok pagi pria itu merasa pusing. Ino memutuskan untuk membuka pakaian pria itu. Dia hanya ingin kliennya tidur senyaman mungkin.
Ino berdiri untuk mengamati hasil kerjanya. Awalnya dia berpikir Sai bukan pria yang menarik. Sekarang dia berubah pikiran. Hanya butuh sedikit polesan dan gaya busana yang trendi. Dia bisa menjadi model peragaan busana tapi mengingat sifat nya yang introvert sepertinya pria ini akan selamanya menjadi petapa.
Ino pun menjalani ritual malamnya. Dia membersihkan make up, mengosok gigi dan menyisir rambutnya. Dengan cermat Ino membuka Obinya dan membiarkan Yukata itu terjatuh di lantai. Dia terlalu lelah dan mabuk untuk membereskannya. Cuaca juga amat panas. Tak ada pendingin ruangan di rumah ini. Wanita itu memutuskan membuka jendela membiarkan semilir angin masuk. Ino bisa mendengar Suara jangkrik dan tonggeret yang bernyanyi dari kebun. Dia menatap Sai yang tertidur pulas.
Mau tidak mau Ino harus berbaring bersama pria itu atau tidur di lantai. Keusilan melintas di kepala pirangnya. Ino menyingkirkan tangan Sai untuk membuat ruang bagi dirinya. Ino berbaring di sebelah pria itu dengan sama telanjangnya. Wanita itu terkekeh membayangkan reaksi kliennya ketika bangun pagi nanti. Kemudian menarik selimut tipis menutupi tubuh mereka.
Menjelang subuh udara sedikit dingin. Sai tanpa sadar beringsut mencari sumber kehangatan. Dia tak tahu apa yang dia pegang tapi dia merasa nyaman menemukan sesuatu yang hangat dan lembut kemudian pria itu tertidur dengan pulas tanpa menyadari dia merangkul wanita yang tidur di sebelahnya.
Sinar mentari pagi menyusup melalui jendela. Sai merasa kepalanya berdentam-dentam. Dia mengerang kesakitan sambil mencoba membuka matanya. Perlahan-lahan dia mengangkat kelopak matanya hanya untuk menemukan wajah dengan bulu mata lentik berwarna terang begitu dekat dengannya.
Sai mengedip-ngedipkan matanya berusaha memastikan apa yang dia lihat tidak salah. Ingatannya tentang semalam kabur. Hal terakhir yang dia ingat makan malam di gion bersama Mizuna. Kemudian dia mulai minum sake untuk menenangkan dirinya. Sai baru sadar tubuhnya menempel pada tubuh wanita itu. Mizuna telanjang dia bisa merasakan halusnya kulit wanita itu di telapak tangannya. Dia menyayangkan tak bisa mengingat apa yang dia dan Mizuna lakukan semalam. Jarang-jarang dia bersama wanita dan sekalinya dia melakukannya dia tidak ingat. Bodoh makinya dalam hati.
Merasakan wanita itu bergerak, Sai melepaskan pelukannya. Ino menggeliat untuk meregangkan tubuhnya. Dia membuka matanya lalu tersenyum menggoda "Selamat pagi, Sai"
Hal itu membuat Sai melongo kemudian berkedip dua kali. Semburat pink menjalari wajahnya yang pucat. Ino berusaha menahan tawanya tapi kurang dari satu menit Sai sudah kembali jadi dirinya yang kalem dan dingin.
"Pagi Mizuna" Jawab Sai datar. Sesaat pria itu meringis. Kepalanya terasa berdentam-dentam. Berapa banyak Sake yang dia minum semalam?
"Apa kau sakit kepala?"
Sai mengangguk. Ino kemudian bangun dan mengenakan jubah tidurnya dengan bertelanjang kaki dia mencari Sayo. Dia menemukan sang pengurus rumah di dapur.
"Sayo apa kau punya obat sakit kepala?"
"Ada, Tunggu sebentar" Sayo mengecek kota obat dan kembali membawa aspirin.
" Nona, Saya membuatkan teh untuk tuan Sai. Apa anda mau membawakannya?"
"Tentu saja Sayo"
Ino kembali ke kamar. Dia meletakan nampan teh dan obat di lantai "Sai, Sayo membuatkanmu pepper mint tea. Kau minumlah ini akan membuatmu merasa jauh lebih baik"
Sai duduk dan meraih gelas tehnya "Aku harap begitu" Kemudian menghabiskan teh hangat itu dengan cepat. Sepertinya dia harus mandi. Tubuhnya berbau alkohol dan parfum wanita itu.
Sai sebenarnya ingin bertanya apa yang terjadi semalam tapi rasa malunya membuat dirinya bungkam. Dia melirik Mizuna berharap mendengar petunjuk yang berkaitan dengan kejadian tadi malam tapi wanita itu juga tak berkomentar apa-apa.
Melihat pria itu sudah cukup baikkan Ino meninggalkannya "Sai aku pergi ke dapur, kalau ada perlu cari aku di sana"
Dalam cucuran air hangat yang mengalir dari shower. Sai dengan keras mencoba mengingat kembali tapi tak satu ingatan pun melintas di kepalanya. Hanya tubuh yang hangat dan kulit lembut yang dia rasakan. Sai menyerah untuk mengingat-ingat rasanya bersetubuh karena bila dia melakukannya pastinya dia selalu dalam keadaan mabuk atau teler tak banyak yang bisa diingat dalam kondisi seperti itu. Dia butuh alkohol dan kadang menghisap ganja untuk membuat dirinya relaks di situasi tertentu tapi semalam dia cukup nyaman berjalan bergandengan tangan dengan Mizuna. Mungkin dia bisa mencoba menyentuhnya tanpa pengaruh alkohol.
Sai bergabung dengan Ino di ruang makan. Wanita itu telah menyelesaikan sarapannya "Maaf, Aku tidak menunggumu. Aku lapar"
"Tidak apa-apa. Apa kemarin aku menyusahkanmu?"
"Iya kau bertingkah begitu buruk"
Sai terenyak. Apa dia memperlakukan wanita itu dengan kasar. Dia tahu dirinya kadang agresif dan hilang kendali. Apa itu yang terjadi ketika dia mabuk? "Aku minta maaf"
"Tak usah minta maaf Sai. Kau membayarku untuk menemaniku. Aku sudah melakukan pekerjaanku"
Entah mengapa Sai tidak menyukai kata-kata itu sedikit pun. Ino beranjak dari tempat duduknya tapi Sai menghentikannya dengan meraih lengan wanita itu. Wanita itu sedikit terkejut melihat penyesalan si mata kliennya. Mungkin keusilannya sudah keterlaluan. Ia tak bermaksud membuat Sai merasa buruk.
Mereka saling menatap. Bibir indah Ino sedikit membuka dan tampak mengundang. Bila semalam dia telah mencumbu wanita itu. Apa salahnya bila dia menciumnya sekarang ketika dia sadar? Dia ingin tahu apa yang dia lupakan kemarin. Godaannya tak tertahankan.
Sai meraih pinggang wanita itu dan menariknya mendekat. Kemudian dia menunduk untuk mengecup bibirnya. Mizuna begitu lembut dan manis. Tenggelam dalam sensasi bibir wanita itu Sai melupakan semua kekhawatiran. Mizuna bukan lagi orang asing bagi dirinya. Dengan berani Sai memperdalam ciumannya yang di sambut Ino dengan rasa tertarik yang sama. Siapa sangka dari sosok pria pendiam dan dingin memiliki gairah yang bisa membakarnya menjadi abu. Mungkin Ino sudah membangunkan macan tidur.
Merasa limbung wanita itu mengaitkan tangannya di leher Sai. Ciuman pria itu turun menyusuri lehernya. Satu tangannya menangkup payudara di balik kimono sutra tipis yang dia kenakan.
"Sai"
Wanita itu mendesahkan namanya saat ibu jarinya mengusap puting payudara yang mulai mengeras. Sekarang dia benar-benar menyesal terlalu mabuk semalam dan melupakan rasa wanita ini tapi dia masih bisa mencicipinya sekarang.
Sai mendudukkan Ino di atas meja makan. Kimono Itu telah merosot dari bahunya. Memamerkan bahu indah dengan kulit sewarna gading. Bibir pria itu menjejaki leher hingga bahunya. Mengirim gelenyar menyenangkan ke otaknya. Dia menggigit bahu Ino dengan lembut. Wanita itu memejamkan mata dan memutuskan untuk menikmati apa yang Sai lakukan. Ino menyilangkan kakinya di pinggul pria itu menarik tubuhnya lebih dekat. Tangannya menyelusup dan membelai helaian rambut gelap yang menjuntai di tengkuknya.
Kapan dia pernah menikmati berhubungan Seks dengan kliennya. Tak pernah dalam ingatan sejak dia terjun ke dunia prostitusi. Tapi yang ini terasa berbeda dia tak perlu memaksa dirinya pura-pura nikmat. Karena sentuhan pria ini memang membuatnya belingsatan.
Sai masih mencumbu Ino. Sementara jarinya menjelajah menyusuri paha liat dan kencang. Dengan sengaja dia meremas dan mengusap selangkangkan wanita itu. Sai mungkin minim pengalaman tapi dia punya banyak pengetahuan yang dia baca dari berbagai sumber selama bertahun-tahun. Jarinya telunjuknya menyelinap ke balik celana dalam Ino. Wanita itu memekik terkejut dan otomatis meregangkan pahanya lebih lebar.
"Kau Basah" Bisik Sai di telinga wanita itu. Dia bisa merasakan cairan licin dan lengket membasahi jarinya. Dia menatap Ino yang merona. Wanita itu bisa terlihat malu-malu dan Innocent meskipun Sai tau melakukan hal seperti ini adalah pekerjaan Mizuna. Dia ingin wanita itu menikmatinya juga.
Sai menyelipkan tiga jari pada liang kewanitaannya yang hangat dan lembab. Mencoba merentangkan dan mengisinya dengan maksimal. Ino mengerang merasa begitu penuh dan sensasinya semakin menggila ketika pria itu mendorong jarinya keluar masuk.
Mendengar rintihan dan erangan wanita yang duduk di meja. Pria berambut hitam itu jadi merasa lapar. Dia melepaskan celana dalam Ino dan membuat wanita itu terlentang di meja makan. Suara piring dan gelas yang terjatuh tidak mengganggu mereka. Sai membuka paha wanita itu lebar-lebar. Kemudian dia membungkuk untuk melihat bagian Intim wanita itu yang membuka seolah memohon dirinya untuk masuk.
Embusan nafas Sai yang terasa di organ kewanitaannya membuat Ino geli. Tapi begitu ia merasakan lidah yang basah dan lunak menari-nari di sana. Wanita berambut pirang itu langsung belingsatan. Tangan Sai menahan paha wanita itu hingga dia tak mampu lagi bergerak. Mulutnya hanya bisa merintih sementara gairah dan nafsunya terlecut oleh setiap belaian lidah pria itu di bagian Intimnya.
Ino merasa kurang stimulasi tanpa sadar wanita itu meremas-remas sendiri payudaranya. Dia memilin-milin putingnya tapi masih merasa belum cukup.
"Sai bisakah kau menggunakan jarimu juga, Please" Ino memohon. Dia butuh di isi.
Sai pun mengabulkan permintaan Ino dengan menyelipkan dua jarinya ke dalam. Sambil memompa keluar masuk dia berusaha menemukan titik sensitif wanita itu.
"Oh, yes..yes" Ino bergumam sambil menggigit bibirnya.
Sepertinya dia telah memberi tekanan pada titik yang tepat. Sai kemudian membuat Ino menjerit dengan menyesap dan mempermainkan klitorisnya.
Getar-getar kenikmatan mulai menjalari tubuhnya. Ino bisa merasakan kumpulan sensasi yang hampir meledak terpusat di antara kedua pahanya.
"Sai lebih cepat"
Pria itu menurut. Jarinya bekerja dengan cepat dan dengan kencang dia menghisap bagian paling sensitif di tubuh Ino. Tak perlu waktu lama wanita itu memekik keras. Dia bergetar meledak dalam sensasi pelepasan luar biasa. Otot-ototnya berkontraksi dan berkedut sebelum akhirnya cairan bening muncrat membasahi wajah pria itu dan menetes di meja.
Mereka berdua tertegun. Ternyata ejakulasi wanita bukan hanya mitos belaka. Ino merasa tubuhnya menjadi jelly setelah mengalami orgasme pertamanya sejak bertahun-tahun.
Sayo yang berdiri di pintu memekik terkejut. Nampan yang dia bawa terjatuh kedua tangan menutup mulutnya tidak percaya "Maafkan saya Tuan" pelayan itu langsung balik arah dan pergi.
Sai kembali memasang wajah Stoicnya. Sejujurnya ia ingin menyelesaikan apa yang dia mulai. Tapi kemunculan Sayo telah merusak mood-nya.
Ino duduk di ujung meja. Mengelap wajah Sai yang basah dengan serbet. Dia menarik nafas panjang "Sepertinya kita membuat wanita tua itu trauma"
Sudut mulut Sai terangkat. Baru kali ini dia merasa geli sampai membuat dia tersenyum sungguhan.
"Kau tahu Sai. Tidak terjadi apa-apa tadi malam. Kau mabuk berat lalu tertidur" Ino merapikan kimono dan memungut celana dalamnya "Sebaiknya aku mandi" Wanita itu melangkah keluar ruangan yang berantakan.
Sai melongo mendengar penjelasan Ino. Tangan kanannya menutup wajahnya yang merona 'Sial, Apa yang dia telah lakukan' maki pria itu dalam hati. Tiba-tiba saja dia merasa sangat malu.
Jantung Ino berdebar keras, Ia tak mengerti mengapa kali ini dia bersikap tidak profesional. Sekarang dia tahu terlalu banyak tentang pria itu. Bila dia merasa kasihan wajar saja. Apa hidup namanya bila lebih suka menghabiskan waktu bersama buku-bukunya daripada manusia? Meski dalam kasus Sai dia merasa nyaman-nyaman saja sendirian dan hidupnya sempurna seperti itu tapi Ino merasa peduli dan tak bisa berpaling.
Lihat saja tubuhnya bereaksi dengan gila. Di bawah sentuhan pria itu. Hanya dengan mengingatnya saja membuat Ino gemetar. Apa dia menginginkan Sai Shimura? Tak mungkin. Ino menggeleng-gelengkan kepalanya membuat air pada rambutnya yang basah memercik ke mana-mana. Mungkin dia hanya kesepian. Semenjak Ino pindah ke Tokyo dia tak punya banyak teman atau kekasih. Hanya ada Sakura dan Naruto serta Madam Tsunade. Dia merasa kesepian dan Sai Shimura kliennya tidak seburuk klien-klien lainnya. Sai hannyalah pria yang menderita social anxiety akut. Yang kini sepertinya sudah sedikit terbiasa dengan dirinya. Syukurlah besok pagi mereka kembali ke Tokyo. Ino tak ingin menghabiskan banyak waktu bersama Sai.
Ino menghabiskan siangnya untuk membaca novel. Sai mengurung diri di ruang tamu beralasan harus mengerjakan novelnya. Ino kemudian mencari Sayo. Berharap wanita tua itu mau menemaninya berjalan-jalan keliling Kyoto.
"Sayo, Aku minta maaf kau harus melihat yang tidak-tidak"
" Aku paham kalian anak muda yang sedang mabuk cinta" dia tergelak dan Ino tidak berusaha mengoreksi
"Aku tak menyangka tuan muda Sai yang dingin seperti es ternyata berdarah panas juga"
"Sayo, Tuanmu itu masih lelaki normal"
"Saya senang Nona menganggap Tuan Sai normal. Dari dulu dia selalu menyendiri begitu pendiam dan tak pernah tersenyum. Aku mengkhawatirkannya"
"Dia akan baik-baik saja Sayo. Aku mencarimu karena aku ingin kau menemaniku berkeliling Kyoto. Sai sibuk bekerja. Besok kami akan kembali ke Tokyo jadi aku akan amat senang bila kau bisa pergi denganku"
"Baiklah Nona"
Sai berhasil menyelesaikan draf novelnya. Shino pasti akan senang. Hari telah menjelang malam tapi Sayo dan Mizuna belum pulang dan Dia lapar. Sai duduk di beranda menatap bintang pertama yang muncul di langit. Bagaimana dia harus bersikap pada wanita berambut pirang itu. Dia tak ingin kembali bersikap canggung setelah semua hal yang terjadi.
Sai mendengar suara wanita sedang bercakap-cakap. Sepertinya mereka telah kembali. "Sai apa kau lapar?, Kami membeli udon untuk makan malam"
"Ya, kalian datang tepat waktu. Aku lapar"
"Kalau begitu aku pergi ke dapur dulu tuan" Sayo pergi meninggalkan mereka berduaan.
Ino duduk di sebelah Sai "Mengapa kau jadi pendiam lagi?"
"Haruskah aku minta maaf?"
"Tak perlu, Jangan lupa aku wanita yang kau bayar untuk menghiburmu"
"Kalau begitu. Apa nanti malam kau berniat menghiburku?" Sai menatap manik aqua-nya dengan sedikit ragu.
"Aku akan melakukan apa yang kau minta dan aku harap kau mulai nyaman dengan keberadaanku"
"Tentu saja, Aku tak akan berniat menyentuhmu bila itu membuatku merasa nervous"
"Jadi malam ini aku akan memastikan kau tak menyesal menyewa jasaku" Ino tersenyum nakal.
A/N : hey, saya kembali. Mohon maaf bila update agak lama dan chapter juga tambah pendek karena saya berusaha menulis fic SaiIno yang lain. Bila kalian tertarik dengan cerita supranatural bisa cek fic Succubus X Vampire nya.. ho..ho..ho jadi promosi gak jelas.
Makasih buat yang mereview:
Rimmierrimmie : Makasih sudah review. Sai itu memang menderita gangguan mental dan social anxiety parah. Tapi gak sadar kalau dia sakit.
Ino chan: May be.. kita lihat saja nanti apa sakura akan memusuhi Ino
Almaidah97: yep kencan mereka membuat kyoto terbakar (judul samurai X hahaha)
Amu B: Hum mungkin sasuke jadi orang ketiga. Atau ke empat.. bagaimana kalau bikin Ino Harem?
Xoxo: thanks sudah suka cerita tema gelap gini. Saya paham gak banyak yang suka tipe2 cerita beginian tapi saya suka menulisnya.
Azurra Yamanaka: Saya berusaha membalas review. Tapi bila pun saya engak menulis karena kadang lupa pengen cepet2 up date.. saya amat berterima kasih atas review2nya. Apalah arti tulisan tanpa pembaca (lebay ya gue)
Cloesalsabilaah : reader saya yang budiman kamu bikin saya semangat nulis karena tau ada yg menantikan kelanjutannya
Sqchn: makasih ya sudah baca. Semoga lanjut terus sampai tamat ceritanya
