The Glass Half Empty

.

.

Chapter 04

.

Escorting a Gentleman

Ino berdiri di depan bangunan yang seharusnya adalah sebuah teater. Jantungnya berdegup kencang meski Ino tahu ini hanya lah kelompok teater amatir. Dia menarik nafas dan membusungkan dada. Mencoba menenggelamkan ketegangannya dengan seulas senyum percaya diri. Dia melangkah memasuki gedung teater tua itu. Beberapa orang tampak berlatih di panggung

"Permisi" teriak wanita itu menarik perhatian orang-orang yang sedang berakting di panggung.

Pria yang duduk di bangku penonton paling depan berjalan ke arahnya. Penampilannya sangat nyentrik dengan rambut jabrik merah marun dan mata berwarna hijau tosca yang di bingkai eye liner hitam tebal. Dia juga tak punya alis. Dari penampilannya seharusnya pria itu berada di studio musik menggarap lagu-lagu cadas bukannya di teater.

"Ada perlu apa?" tanyanya singkat dan dingin. Tatapan mata tajamnya tidak mengindikasikan keramahan. Hati Ino jadi menciut

"Aku kemari ingin bergabung dengan teater kalian"

"Apa kau bisa berakting? Kami tidak menerima orang yang tidak serius menjalani peran di atas panggung"

Kata-kata pria itu benar-benar menusuk. Mengapa dia harus bertemu dengan orang-orang menyebalkan.

Seorang wanita berkuncir empat memukul kepala pria itu dengan buku naskah. "Jangan kau ganggu tamu kita Gaara. Maafkan adikku yang tak sopan ini Nona. Dia selalu mencoba mengintimidasi orang lain. Saya Temari pemimpin teater ini" wanita itu mengulurkan tangan yang Ino sambut dengan sebuah jabat tangan

"Namaku Ino Yamanaka. Aku dari Chiba dan merantau ke tokyo demi sebuah impian. Aku kemari karena ingin berakting"

"Apa kau punya pengalaman teater sebelumnya?"

"Iya, Aku mengikuti klub teater di SMA dan saat kuliah. Aku sangat mencintai akting"

"Mau mencoba membaca naskah bersama kami?"

"Boleh"

Wanita itu mengajak Ino ke belakang panggung.

"Kawan-kawan, Ini Ino dia ingin bergabung dengan kelompok teater kita"

"Kau cantik sekali" Komentar pria beralis tebal yang memakai t-shirt dan celana hijau. Potongan rambutnya nyaris membuat Ino tertawa.

"Hai Ino, Kenalkan aku ten-ten" ucap seorang gadis bercepol dua. "Yang Ini Rock Lee, Kiba, Neji, Matsuri. Kami anggota kelompok teater royal" lanjut gadis itu.

"Dan pria yang tadi mengganggumu namanya Gaara. Adikku, Dia tak ada hubungannya dengan teater ini Cuma orang yang suka nongkrong di sini karena tak ada kerjaan" Temari berkacak pinggang menatap adiknya.

"Coba kau baca dialog ini!" pinta wanita berkuncir itu.

Ino membacanya bukankah ini naskah Romeo dan Juliet. Temari ingin dia membaca dialog terakhir Juliet

" Apa ini? sebuah cangkir di genggaman tangan kekasihku? Racun, Aku tahu. Inikah yang mengakhiri hidupmu. Tapi mengapa tak ada setetes pun yang kau sisakan untukku Romeo. Aku akan menciummu. Mungkin dengan begitu sisa racun di bibirmu akan membuat aku sekarat.

Ah. Bibirmu begitu hangat Romeo

Bukankah ini belati milikmu? Tunggu aku. Tak akan lama. Aku akan bersamamu lagi kekasihku"

Ino mengucapkannya dengan penuh penghayatan. Seolah dia seorang gadis yang patah hati dan putus asa mengetahui cintanya telah pergi. Mereka semua tertegun.

"Ino, Kau berbakat" ucap Temari dengan kagum "Aku bisa merasakan rasa putus asa Juliet dalam aktingmu"

"Terima kasih Temari. Sebenarnya aku bermimpi menjadi artis profesional tapi jalannya tak mudah"

"Teruslah bermimpi Ino. Bila kau terus berusaha jalan akan terbuka untukmu"

"Terima kasih Temari. Apa kalian menerima ku menjadi anggota kalian?"

"Tentu saja Ino, Kami senang mendapatkan seseorang yang cantik dan berbakat seperti dirimu" Sahut Kiba.

"Kami akan memberikanmu jadwal latihan kami. Dua bulan lagi akan ada pementasan drama Romeo dan Juliet. Kau bisa mengambil peran Juliet dari ten-ten kalau kau mau"

"Tidak apa-apa aku yang orang baru mendapat peran utama?"

Temari menatap gadis bercepol dua itu untuk meminta persetujuan

"Tak apa Ino. Aku malah senang karena aku tak suka peran gadis cemen macam Juliet. It's not my cup of tea"

"Neji yang menjadi Romeo nya" sambung Temari.

Gaara tiba-tiba masuk ke tempat latihan "Jadi kau menerima wanita ini jadi anggota teatermu. Aku harap dia tak akan merusak kekompakan yang telah terbina sejak lama"

Temari jadi marah-marah "Kau orang luar. Bukankah seharusnya kau mencari inspirasi untuk membuat lagu mengapa malah menganggukku"

"Jadi kau mengusirku. Ya sudah aku pergi" Pria itu pun melangkah keluar ruangan.

"Ada apa dengan adikmu?"

"Aku tak tahu. Dari dulu dia sudah menjadi pain in my arse" Temari tak berusaha menyembunyikan kekesalannya. "Kalau kau punya waktu kau bisa berlatih bersama kami mulai hari ini"

"Terima kasih Temari" ucap Ino bersemangat.

.

.

Sai telah menatap layar ponselnya selama beberapa menit. Nomor Mizuna terpampang di sana. Perjalanan ke Kyoto membuahkan hasil. Tak hanya draf novel nya selesai dia pun pada akhirnya tidur bersama wanita itu. Entah mengapa setelah menghabiskan waktu beberapa saat melakukan kontak tubuh dengan Mizuna dia mulai bisa tenang dan menerima wanita itu memasuki dunianya yang penuh privasi.

Dia masih bingung mengapa Mizuna memberikannya nomor ponsel pribadi bukankah ini menyalahi aturan bukannya dia sendiri yang bilang memisahkan kehidupan pribadi dan profesionalnya. Apa wanita itu merasa kasihan padanya? Sai tak suka di kasihani karena tak perlu. Dia cukup konten dengan kehidupannya. Meskipun di mata orang lain kehidupan yang dia jalani tampak mengenaskan.

Acara penghargaan itu tinggal enam hari lagi dan Sai tak tahu harus mengenakan apa untuk datang ke gala formal macam itu. Semua isi lemarinya hanya t-shirt dan jeans. Beberapa kemeja dan jaket. Tentu dia tidak bisa datang seperti itu dia butuh bantuan dan satu-satunya manusia stylish yang dia kenal hanya lah Mizuna. Dengan enggan dia mengetikkan pesan

Hi, Mizuna bisakah kau membantuku mencari pakaian untuk gala hari sabtu? Aku juga akan membelikan pakaian untukmu

Pria itu menekan tombol send. Berharap-harap cemas Mizuna akan membalasnya.

.

.

"Mengapa kau tersenyum-senyum senang Mizuna, Apa karena kau berkencan dengan ku?"

Ino menyimpan ponselnya kembali setelah membalas pesan Sai dengan singkat "Jangan merasa ge-er dulu tuan Hatake"

"Aku tak pernah mendapatimu tersenyum seperti itu. Apa kau punya kekasih sekarang?"

Ino menggeleng "Kalau aku punya pacar aku tak akan menemanimu Tuan Hatake"

"Ouch, Hatiku Sakit karena kau menyebut namaku dengan begitu formal Mizuna"

Ino menatap pria berambut perak yang sedang menyetir di sebelahnya "Baiklah Kakashi, Ke mana kita akan pergi dengan pakaian formal ini?"

"Ke pesta tahunan kantorku. Aku malas datang tanpa gandengan"

"Apakah setelah itu kau memerlukan aku untuk hal yang lainnya?"

"Seks maksudmu? Tergantung mood ku nanti. Mungkin aku akan memerlukanmu menyetir mobilku bila seandainya aku mabuk"

Ino berdecak " Kau harus membayar ekstra untuk servis yang itu"

"Aku selalu membayarmu dengan ekstra Mizuna sayang. Kapan aku pernah pelit padamu"

"Karena itu kau adalah klien favorit ku Kakashi" Ino kembali memandang jalan raya.

"Betapa beruntungnya kau Mizuna. Di bayar untuk berkencan dan menghabiskan waktu dengan pria tampan dan menyenggakan"

"Intinya, kau hanya mau memuji dirimu sendiri. Selera humormu kadang tak lucu"

Mereka tiba di sebuah hotel mewah. Kakashi menyerahkan kunci mobilnya pada pegawai Valet parking dan menggandeng Ino masuk ke dalam. Kemunculan mereka menyita perhatian.

"Apa yang harus kita lakukan disini?" tanya Ino pada kliennya

"Tersenyum, berbasa-basi kalau sudah muak bersosialisasi kita bisa makan yang banyak kemudian bersembunyi di pojok yang sepi"

"Ide yang bagus. Aku hanya berharap tak menarik minat banyak orang"

"Tenang saja Mizuna aku wartawan bukan artis. Tak banyak orang yang akan memedulikan kita. Kau santai saja"

Di ruang yang sama Sasuke Uchiha melengang dengan angkuh meliwati sekelompok gadis muda yang menatapnya memuja. Dia tak berminat datang ke pesta ini tapi ayahnya memaksanya untuk datang karena dia dan Itachi berhalangan. Pria berambut hitam itu tampak bosan. Dia meladeni percakapan di sekitarnya hanya dengan anggukan kepala tanpa benar-benar mendengarkan. Sudut matanya menangkap sosok wanita bergaun hitam dan berambut pirang. Bukankah itu Yamanaka Ino. Wanita itu tampak nyaman dalam gandengan Kakashi Hatake.

Sasuke meninggalkan orang-orang yang mengerumuninya untuk menyapa wanita itu. Dia tertarik dan ingin tahu siapa Ino. Wanita yang tak sekalipun mendapatkan peran meski kemampuan aktingnya cukup baik.

"Kakashi, sepertinya ada orang yang aku kenal di sini"

"Siapa?"

"Kau tak melihat Sasuke Uchiha datang ke arah kita"

"Kau mengenal Sasuke. Apa dia juga klienmu Mizuna?"

"Bukan" Ino mengumpat keberuntungannya. Mengapa dari sekian banyak orang di dunia dia harus bertemu Sasuke Uchiha hari ini.

"Selamat malam Nona Yamanka, Aku tak menyangka akan menemukanmu di pesta orang-orang terkenal"

"Mengapa? Terkejut karena orang sepertiku juga memiliki koneksi?. Aku kemari untuk menemani pacarku"

Ino menggenggam lengan Kakashi lebih keras. Mencoba mengisyaratkan pria itu untuk bekerja sama.

"Sasuke jaga sikapmu" pria bermata kelabu itu mantap si bungsu Uchiha. Kakashi berteman dengan Itachi. Jadi dia juga mengenal Sasuke.

"Ah. Jadi kau adalah kekasih Kakashi Hatake. Maaf aku tak bermaksud mengganggu kalian. Aku hanya ingin menyapamu Ino. Sampai jumpa di kelas akting besok" pria itu tersenyum dan berlalu. Sepertinya dia menemukan artileri baru untuk membuat wanita itu kesal. Bersilat lidah dengan Ino kini menjadi hal yang menyenangkan buat Sasuke. Orang-orang kembali mengerumuninya. Kadang dia heran meskipun dia sengaja bersikap buruk dan tak sopan tetap saja orang-orang berlomba untuk berbicara dengannya. Mungkin ini efek dari kebinatangannya kadang Sasuke merasa bosan di kelilingi oleh fake people yang mendekatinya hanya karena dia populer, kaya dan terkenal. Sepanjang pesta Sasuke sibuk menatap Ino yang terlihat menikmati pesta.

"Aku jadi tidak sengaja mendengar informasi tentang kehidupan pribadimu Mizuna" Kakashi mengamit lengan wanita itu. Berjalan menuju meja buffet

"Mengapa pria itu disini?"

"Saham mayoritas perusahaan ini milik Uchiha Corp. Biasanya Itachi yang datang. Jadi kau belajar akting?"

"Yeah, Di sekolah yang juga milik keluarganya. Makanya dia mengenalku"

"Mengapa dia bersikap menyebalkan pada dirimu dan sepanjang pesta menatapmu"

"Aku tak tahu. Yang jelas sudah beberapa kali dia berusaha menyinggungku. Aku tak mengerti mungkin dia punya mentalitas seorang bully. Dia aktor terkenal sedangkan aku selalu gagal audisi. Bisakah kita pergi? Aku sudah merasa tak enak disini"

"Baiklah Ino"

Wanita berambut pirang itu langsung menoleh menatapnya tajam "Jangan panggil aku dengan nama itu tuan Hatake. Kau adalah klienku"

"Baiklah Mizuna. Aku paham"

Duduk di dalam mobil Ino meremas-remas roknya. Bagaimana bila Sasuke tahu kehidupan ganda yang dia jalani?

"Mizuna mengapa kau tampak cemas?" Kakashi bertanya penuh perhatian

"Aku hanya khawatir Sasuke mengetahui pekerjaanku sebagai lady escort"

"Apa kau malu Mizuna? Bila suatu saat nanti kau menjadi artis sukses orang-orang seperti aku akan mengulik semua detail tergelap dari masa lalumu dan menjualnya ke publik. Apa yang akan kau lakukan? Kau harus mempersiapkan mentalmu. Jangan sampai pendapat negatif orang membuat mu jatuh"

"Apa kau tak menghakimi diriku karena pilihan pekerjaanku?"

"Kalau kau berpikir begitu. Berarti aku juga pantas dihakimi karena membayar seorang wanita untuk menemaniku. Kita membuat pilihan dengan mempertimbangkan keadaan. Jangan biarkan orang lain yang tak menjalani hidupmu mendikte apa yang harus kau lakukan maupun apa yang kau rasakan"

"Aku mengerti, Semakin tinggi pohon semakin kencang angin yang menggoyangnya"

"Begitulah popularitas. Tidak mudah hidup dalam ketenaran. Sasuke paling tahu itu dan dia tak pernah mencampuri hidup orang lain"

Kakashi menurunkan Ino di kantor Madam untuk mengambil mobilnya. Ino mampir sebentar untuk menemui Naruto.

"Hei, Naruto kau punya waktu untuk hang out denganku?"

Pria berambut pirang itu tampak rapi. Sepatu di semir berkilat dan baju yang dia kenakan juga oke. "Tidak Ino, Aku ada kencan. Lain kali saja"

"Kencan, Aku iri denganmu"

"Ayolah ini kau berkencan tiap saat dibayar pula. Kalau saja aku tidak bertemu gadis pemalu dengan jiwa malaikat yang menyukai kebodohanku mungkin aku tak akan pernah berkencan atau punya pacar"

"Sepertinya pacarmu gadis yang spesial"

"Tentu saja" jawab Naruto dengan bangga "Lain kali aku akan mengenalkan Hinata padamu. Aku yakin kau juga akan menyukainya Ino. Aku pergi dulu" Pria itu melangkah dengan riang.

"Hm.. si Bodoh itu jatuh cinta. Jadi bikin iri saja" Ino bergumam pada dirinya sendiri. Karena tak ada siapa untuk di ajak bicara Ino pun pulang dan mengunci kantor madam papillon.

Ponselnya kembali berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Sai. Sudut mulut wanita itu terangkat mungkin dia bisa memaksa pria itu untuk menjalani make over. Dia harus menampilkan image penulis keren yang misterius. Bukan seorang petapa yang sehari-harinya mengurung diri di apartemennya.

Sai: Mizuna. Aku tak punya mobil. Bisa kau jemput aku?

Barbie blondie: Beres, Aku akan membuat janji dengan butik langgananku. Kau juga butuh sepatu dan potongan rambut baru.

Sai: uh. Aku serahkan semua padamu.

Barbie blondie: Sampai jumpa besok ;)

Sai : Terima kasih xoxo

Is he flirting with me? Dengan menuliskan kode kisses and hugs. Ino terheran-heran. Apa pria itu mengerti kalau mereka sedang flirting? Ino meragukannya. Meskipun tahu banyak teori Sai adalah pria yang seret pengalaman. Kadang dalam beberapa hal dia begitu polos dan naif sampai-sampai Ino gatal ingin mengerjainya.

Week end mereka di Kyoto membuat kebekuan Sai sedikit mencair tapi bukan berarti pria itu membuka diri. Ino hanya mengerjakan tugasnya membuat pria itu tampak sedikit santai berada di sampingnya dan sepertinya berhasil. Dia sendiri pun merasa antusias bertemu lagi dengan pria itu.

Keesokan harinya. Ino mengikuti kelas akting dengan rasa waswas. Dalam hati dia berdoa semoga tidak bertemu dengan Sasuke tapi ternyata doanya tak terkabulkan. Begitu melangkahkan kaki Sakura dan Sasuke sudah menantinya. Gadis berambut pink itu melambaikan tangan padanya dengan enggan Ino menyapa mereka.

"Hai Sakura, Bagaimana acara syuting mu?"

"Sudah selesai. Sisanya akan di lakukan di studio. Apa kau senang aku kembali?"

"Tentu saja. Tanpa dirimu kelas membosankan"

"Kau tak menyapaku Ino?" Sasuke menyela pembicaraan mereka.

"Untuk apa? Kau tidak dalam daftar temanku" jawabnya ketus.

"Ya sudah kalau begitu. Aku tak mengerti mengapa kau selalu marah-marah padaku?"

"Loh, Bukannya kau yang selalu mencoba menyinggungku"

"Maaf kalau kau tersinggung. Sepertinya kau jadi orang terlalu sensitif. Sakura aku pergi dulu. Sepertinya temanmu tak menyukaiku" Pria itu berbalik pergi.

"Ah, Sasuke-kun tunggu" Sakura langsung memandang Ino dengan cemberut "Ini gara-gara kau Ino. Sasuke jadi pergi padahal ini pertama kalinya dia datang padaku"

Ino menarik nafas berat. Jadi pria sial itu sedang mencoba mengganggu persahabatannya dengan Sakura. Ino tak sampai hati memberitahu Sakura pria itu ingin dia menjauhinya "Maafkan aku Sakura tapi Sasuke itu lelaki yang menyebalkan"

.

.

Selepas kelas usai Ino langsung menjemput Sai di apartemennya. Pria itu muncul dengan T-shirt hitam dan jeans. Kaca mata hitam melindungi penglihatannya dari senggatan sinar ultra violet. Dia membuka pintu mobil dan menyunggingkan senyum tipis pada Ino. Seketika wanita itu berpikir Sai perlu berlatih untuk tersenyum pada penggemarnya.

Sai mengikatkan sabuk pengaman dan Ino berkendara menuju pusat perbelanjaan favoritnya.

"Maaf bila aku merepotkanmu" Sai membuka suara memecah keheningan di antara mereka.

"Tak perlu minta maaf. Aku senang membantumu. Lagi pula aku suka sekali shopping. Apa kau sudah makan siang?"

Perut Ino sudah keroncongan. Dia hanya minum segelas teh hijau untuk sarapan

"Belum"

"Kau tidak keberatan kita makan dulu?"

"Tidak"

"Kalau begitu kita makan di tempat favoritku"

Sai diam saja. Hanya terdengar alunan musik frank sinatra dari audio mobil. Kedua manusia itu kembali tenggelam dalam diam. Ino fokus mengemudi di jalanan yang padat dan merayap.

"Jadi di sini tempat favorit mu?"

Mereka duduk dalam restoran yang juga sebuah rumah kaca yang luas. Tempat itu di penuhi tanaman dan bunga serta pepohonan tropis seolah mereka sedang menikmati makanan di tengah hutan. Ino mengunyah crass water salad nya yang renyah.

"Berasa seperti di hutan bukan? Aku menyukai tumbuhan dan bunga"

"Ya kau benar. Tumbuhan yang begini banyak juga membuat udara terasa lebih sejuk dan segar"

"Di rumah keluargaku. Kami punya perkebunan bunga dan rumah kaca. Keluargaku turun temurun membuka toko bunga" Ino menghirup dalam-dalam aroma floral dan dedaunan.

Sai memperhatikan wanita itu dengan saksama kemudian dia tersenyum "Apa kau punya ide apa yang harus ku beli?"

"Tenang Saja Sai, Kita hanya perlu masuk satu toko untuk membeli sebuah tuxedo, tapi kita juga harus mampir untuk memotong rambutmu"

Sai hanya mangut-mangut mempercayakan semuanya pada wanita yang baru dia kenal dua minggu.

Mereka tiba di butik langganan Ino. Tanpa basa-basi sang desainer langsung menemukan tuxedo yang menempel sempurna di tubuh Sai.

Ino membantu Sai mencoba pakaiannya. Kemudian dia jadi malu sendiri karena mengingat tubuh telanjang pria itu yang meskipun tampak kurus tapi berotot dan kencang.

Beres dengan urusan Sai dia memilih gaun untuk dirinya. "Menurutmu aku harus pakai warna apa?"

"Hitam, Ungu, Aquamarine atau peach" jawab pria itu.

"Hum..kalau ungu tua ini bagaimana?" Ino mengambil sebuah gaun simpel dari gantungan. Ia menyukai bahan beludru yang tebal tapi lembut.

"Kau coba saja"

Ino kemudian muncul dari ruang ganti

"Cocok sekali Ino. Dengan body ideal sepertimu memakai pakaian apa pun terlihat bagus. Benar kan tuan" Sang pemilik sangat gembira.

"Tampak bagus" Sai pertama kalinya mengagumi gaun wanita sebagai karya seni. Gaun itu jatuh sempurna di kakinya. Pantulan cahaya yang di hasilkan permukaan beludru membuat gradasi warna ungu. Belum lagi bordir yang begitu detail menghiasi bagian dada dan pinggulnya.

"Ok, Aku ambil yang ini"

Sai menyerahkan kartu kreditnya untuk membayar. "Lalu sekarang ke mana?"

"Mencari sepasang sepatu"

Pada akhirnya mereka berbelanja hingga langit menjadi gelap dan Sai berakhir dengan menjadi lima ratus ribu yen lebih miskin dan memiliki satu lemari penuh pakaian baru. Rambut yang lebih pendek serta sebuah jam tangan dan kaca mata hitam branded.

Ino mampir sebentar di apartemen pria itu. Membantunya membawa semua tas belanjaan itu dan menaruhnya di lantai.

"Bagaimana menurutmu?"

"Pakaian sebanyak ini. Aku rasa tidak perlu"

Wanita itu menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan wajah pria itu "Kau salah penampilan itu penting. Kau tak bisa terlihat seperti gembel ke mana-mana"

"Aku tak pernah pergi dari rumah. Tak perlu pakaian bagus hanya untuk pergi ke super market terdekat" jawab pria itu acuh. Satu hal baru yang Sai tahu tentang Mizuna. Wanita itu pintar menghabiskan uang.

"Karena itu kau butuh kehidupan sosial. Apa kau tak ingin terlihat indah?" Ino sendiri suka terlihat cantik bukan karena dia ingin membuat orang lain terkesan tapi karena tampil cantik dan modis memberinya kepuasan tersendiri.

"Indah itu tergantung selera masing-masing orang Mizuna"

"Pakaian yang sudah dibeli harus kau pakai Oke!"

"Baiklah...baiklah. Mau minum kopi?" Sai enggan wanita itu pergi. Hari ini pertama kalinya dia menikmati kegiatan selain membaca buku.

"Tidak, Aku harus pulang untuk berlatih drama"

Sai mengantarkan wanita itu sampai ke pintu "Selamat malam Mizuna. Sampai jumpa hari sabtu"

Ino tergoda untuk mencium pipi Sai tapi dia berusaha bersikap bijak "Sampai jumpa"

.

.

Hari-hari Ino di isi dengan latihan bersama anggota teater Royal. Mengikuti kelas akting tanpa pernah bertemu Sasuke Uchiha mungkin pria itu sibuk. Ino lega tak melihatnya. Klien juga sedang sepi tapi Ino tak keberatan beberapa hari libur dari merasakan tangan-tangan tak menyenangkan menggerayangi dan menggunakan tubuhnya. Akhirnya hari sabtu pun tiba. Naruto akan menjemput dan mengantarnya ke tempat Sai.

Ino menjalin rambut panjangnya yang kemudian dia rangkai menjadi sanggul sederhana tapi manis. Dia membiarkan poninya menjuntai kemudian memberi sedikit ikal untuk membingkai wajahnya yang berbentuk hati.

Dengan lihai dia mengaplikasikan make up. Eyeshadow gelap dan nude lipstik yang dia gunakan berhasil memberikan efek dramatis. Ino mengenakan gaun ungu yang di belikan oleh Sai dan mengambil anting chandelier yang dihiasi intan dan ametis. Hal terakhir yang dia lakukan adalah menyemprotkan parfum favoritnya di belakang telinga dan pergelangan tangannya. Ino mengambil clutch-nya dan memakai sepatu lubotin yang tentu saja di bayari Sai. Ternyata memang pria itu kaya meski tak kelihatan begitu.

"Wow Ino lihat dirimu. Begitu glamor seperti keluar dari sampul majalah"

"Terima kasih Naruto"

"Jadi kau menemani pria aneh itu lagi?"

"Dia tidak aneh Naruto. Hanya Introvert"

"Kau membelanya.. hm..Ino apa kau menyukainya?"

Pipi Ino bersemu merah untung dia duduk di kursi belakang Naruto tak bisa melihat reaksinya "Tidak, Dia klien ku"

"Bukankah ada film pretty women. Mereka berakhir bahagia"

"Itu kan Cuma film Naruto. Kenyataan tidak semanis itu"

" Aku hanya berharap kau akan bahagia dan menemukan cinta Ino"

"Itu hanya karena kau sedang jatuh cinta, Bila wanita itu meninggalkanmu jangan datang menangis padaku"

"Ayolah Ino katakan sesuatu yang positif. Jangan menjatuhkan mentalku dong"

"Memang kata-kataku berpengaruh? kau Naruto tipe manusia yang sangat positif. Di tolak ratusan kali pun kau selalu bangkit"

"Aku anggap itu pujian deh"

Mereka tiba di tempat Sai. Pria itu menunggunya di Lobi. Mulut Ino hampir menganga melihat sosok Sai. Dia terlihat sangat berbeda.

Melihat tatapan Ino pria itu jadi canggung dan kikuk "Apa ada yang salah Mizuna? Apa aku terlihat aneh?. Aku sudah melakukan semua yang kau minta"

"Tidak kau terlihat berbeda. Sempurna Sai, kau tampan"

"Syukurlah, Aku pikir aku membuat kesalahan. Rasanya aku enggan untuk datang ke acara itu"

"Ayolah Sai kau sudah buang uang untuk menyewaku dan membeli pakaian. Kau harus muncul di sana. Kumpulkan semua kepercayaan dirimu dan cobalah tersenyum"

"Aku tak bisa"

"Hm. Kau bisa. Tampilkan saja senyum sopan dan senyum bisnis mu itu. That will do"

"Ah baiklah"

Sebuah limosin hitam berhenti di depan pintu. "Itu mereka" Sahut Sai "Kita berangkat dengan editor dan manajerku" Lanjutnya.

"Kau terlihat sangat cantik Mizuna" pria itu berbisik dan mengamit lengan Ino. Kali ini tanpa kecanggungan. Kemudian dia membukakan pintu mobil untuk wanita itu. Ino langsung terkesiap melihat para penumpang lainnya.

"Temari? Shikamaru?" Ino mengumpat dalam hati ternyata dunia selebar daun kelor. Buktinya dia tak sengaja bertemu dengan orang-orang yang dia kenal secara kebetulan.