Disclaimer : Characters belong to Masashi Kisimoto.

A/N : Maaf slow up date karena agak sibuk. Terima kasih bagi yang masih follow. Ini juga ditulis dan di upload via Handphone karena laptop rusak. Jadi bila ada typoo atau kalimat hilang maaf ya.

The Glass Half Empty

.

.

Chapter 05

.

An Accidental Encounter

Ino mematung di pintu Limosin melihat dua wajah yang tak asing.

"Temari...Shikamaru?"

Sai bingung mengapa wanita itu belum juga naik "Mizuna ada apa?"

"Oh.. maaf" Ino bergegas duduk di mobil dan Sai memilih duduk di tempat kosong sebelah wanita itu.

"Ino, Kau di Tokyo?"

"Aku baru pindah kemari tiga tahun yang lalu" Ino berteman akrab dengan Nara Shikamaru sewaktu SD tapi begitu kelulusan keluarga Nara pindah dari Chiba dan Ino putus kontak dengan temannya. Satu hal yang tak berubah dari pria itu. Gaya rambutnya yang terikat dan terlihat seperti nanas. Ino langsung mengenalinya.

"Shikamaru kau juga kenal Ino? Dia anggota baru teater yang aku ceritakan"

"Wow sungguh suatu kebetulan. Ino adalah teman masa kecilku"

Sai terdiam dan menyimak. Otaknya perlahan-lahan menelaah informasi dari percakapan yang dia dengar. Sai tak pernah tahu apa pun tentang kehidupan Mizuna. Ia tak peduli untuk bertanya tapi kini dia tanpa sengaja mendapatkan sekelumit tentang gambaran kehidupan pribadi sang lady escort.

"Apa kau dan Shikamaru berkencan Temari?" tanya Ino pada dua orang itu. Mereka tampak malu-malu.

"Iya sudah dua tahun kami pacaran" jawab Temari.

"Apa kau dan Sai juga berkencan?" Shikamaru bertanya dengan rasa ingin tahu. Dia dan Sai sudah bertahun-tahun bekerja bersama. Pria itu penyendiri dan menjaga jarak. Dia dan Shino nyaris memohon-mohon agar dia mau datang ke acara ini dan Shikamaru menduga Sai akan datang sendirian. Tapi secara mengejutkan dia malah menggandeng wanita yang sangat cantik.

"Tidak kami hanya teman. Aku belum lama mengenalnya. Dia memintaku menemaninya ke acara ini karena dia tak tahu gadis lainnya"

"Bagaimana kalian berkenalan Sai?" Shikamaru tak suka ikut campur urusan orang tapi Sai mengajak gadis yang baru di kenal ke acara penting. That's new.

Sai menatap Ino "Kau saja yang ceritakan" ucap pria itu secara implisit menyerahkan mandat kepada Ino untuk mengarang cerita.

"Ah, Bagaimana ya. Kami berkenalan dari web-site online dating. Aku pikir dia pria yang cukup menarik dari profil yang dia tulis. Jadi kami bertukar email dan bertemu" Ino memutar otaknya untuk membuat cerita yang masuk akal.

Shikamaru menatap Sai tak percaya. "Kau ikut on-line dating?"

"Menurutmu bagaimana caraku bisa bertemu orang baru bila tidak via internet? Kau tahu aku tak suka keluar rumah dan bersosialisasi"

"Lalu apa yang kau lakukan di Tokyo Ino? Aku pikir kau akan menikah dan melanjutkan toko bunga Yamanaka. Seperti cita-cita mu waktu kita anak-anak dulu"

"Semua berubah Shikamaru, Aku kemari untuk menjadi artis tapi sepertinya tidak mudah"

"Lalu mengapa kau bergabung dengan teater kami?"

"Karena aku ingin berakting Temari. Selama tiga tahun aku di Tokyo. Aku mengikuti puluhan audisi tapi aku tak mendapatkan satu peran pun. Jadi aku memutuskan bergabung dengan teater amatir agar aku bisa pentas paling tidak di atas panggung"

Sai lagi-lagi menoleh untuk menatap Ino. Bolehkah dia mendengar informasi ini? Mereka berdua sangat menghargai batasan dan privasi tapi Sai tak mungkin menghindari percakapan yang bersifat personal. Karena Shikamaru dan Temari adalah bagian dari kehidupan Mizuna yang lain.

Bila impian wanita itu menjadi artis lalu mengapa dia menjadi lady escort? Apa yang membuat Mizuna memutuskan menjual tubuh dan waktunya? Sai menundukkan kepala mengingatkan dirinya hidup wanita itu bukan urusannya. Mengapa dia harus peduli.

"Ngomong-ngomong soal akting. Sai akan menulis naskah film yang akan diarahkan oleh Itachi Uchiha tahun depan"

"Yang benar?" Mata Ino terbelalak. Dia pikir Sai hanyalah seorang novelis tak di sangka dia mengerjakan drama juga.

"Bagaimana urusan yang itu Shikamaru. Apa kau telah membuat kesepakatan dengan mereka?"

"Itachi ingin bertemu dan membahas konsepnya langsung denganmu. Dia juga menghadiri acara ini"

"Mengapa orang dunia perfilman datang ke acara penghargaan literator?" Ino terheran dan bingung. Kenapa Uchiha ada di mana-mana.

"Hanya Uchiha. Kau tau kan kekuasaan mereka menggurita tak hanya dunia perfilman. Mereka juga menguasai dunia publishing. Menurutmu mengapa selalu perusahaan mereka yang mendapat lisensi untuk membuat adaptasi layar lebar novel-novel best seller karena perusahaan penerbit milik mereka. Penulis tak punya banyak kekuatan karena bila mereka tidak menerima tawaran sudah jelas perusahaan Uchiha akan menghancurkan mereka"

Ino manggut-manggut. Dia tak menyangka keluarga Uchiha sebesar itu. Pantas saja Sasuke muncul di pesta tahunan perusahaan surat kabar tertua di Konoha. Dia jadi takut juga jangan-jangan Sasuke memblack-list nya karena dia kerap melawan pria itu. Ahh.. harusnya dia bersikap lebih baik dan bila perlu menjilat kaki tuan arogan itu. Kadang Ino merasa itulah kekurangannya. Dia terlalu terus terang. Keras kepala banyak orang yang kadang tersinggung dengan dirinya.

Mereka tiba di tempat acara penghargaan. Kerpet merah di gelar meskipun tidak semewah acara penghargaan film. Wajah pucat Sai kian memucat melihat banyak lampu blitz kamera berkedip. Tangan dan tengkuknya berkeringat dingin. Tiba-tiba dia merasa ingin berbalik dan lari.

Ino mengamit lengan pria itu menyadari tubuh Sai menjadi kaku "Kau tak apa-apa" suaranya bernada kekhawatiran.

Sai menarik nafas mencoba menyembunyikan dirinya yang nervous. Tanggangnya masih gemetar. Dia mencoba memanggil alter-egonya. Dalam hati dia berkali-kali berucap dia bukan Sai Shimura. Begitu gemetarnya berhenti Sai melangkah dan tersenyum. Senyum yang bertahun-tahun dia latih di depan cermin. Senyum yang dia paksakan agar dia bisa di terima menjadi bagian dari suatu kelompok sosial. Sebuah senyum untuk menyamarkan sikap apatisnya.

Ino melihat transformasi itu. Apa yang Sai lakukan tak ubahnya dengan yang dia lakukan. Dia paham mengapa Sai menyukai kesendirian karena hanya di situlah dia bebas bernafas tanpa mengenakan topeng yang begitu menyesakkan. Dunia tidak bersikap ramah dengan orang-orang yang punya sikap berbeda. Bila kau cukup beruntung mungkin kau bisa menemukan seseorang yang menerima dan memahami keunikanmu bila tidak kau berakhir dengan rasa kesepian tapi Ino berada di sisi yang berseberangan dengan Sai. Dari dulu Ino selalu populer dan terkenal ramah. Dia terkenal berisik ceria dan selalu dengan mudah memulai percakapan. Ino tak pernah sendirian. Walaupun dia di Tokyo dia punya kenalan dan banyak klien tapi tidak ada orang yang dekat untuk dia percaya melihat dirinya yang sesungguhnya.

Ino menggenggam lengan Sai dan mereka melangkah melewati kerumunan. Pria itu harus keluar dari zona nyamannya dan mencoba menghadapi apa yang menjadi bagian dari pekerjaan dan popularitasnya dan Ino hanya ingin pria itu mengingat dia ada disini untuk menemaninya menghadapi acara sosial yang dia benci. Pria itu harus menelan rasa tak sukanya dan menghadapi ini.

Mereka menemukan meja mereka. Dimana Shikamaru, Temari dan Shino telah menunggu. Sai dan Ino bergabung. Wanita itu tersenyum ramah pada Shino yang belum dia kenal.

"Sai, Kau tampak keren" ucap editornya.

"Kau datang sendirian Shino?" Sai melihat kursi kosong di sebelah pria itu.

"Aku single. Lagi pula aku tak keberatan going solo. Siapa wanita cantik di sebelahmu?"

"Ah..ini" Sai bingung dia tak tahu nama belakang Ino.

"Hi, Aku Yamanaka Ino. Teman Sai. Senang bertemu denganmu" Sela wanita itu cepat sebelum Sai membuat kesalahan yang membuat Temari dan Shikamaru curiga.

"Aku Aburame Shino. Editor Sai"

"Kau tahu Shino. Suatu kebetulan Ino adalah teman masa kecilku di Chiba dan Anggota kelompok teater Temari"

"Jadi kalian semua sudah saling mengenal"

"Iya" Jawab Temari singkat.

Ruangan itu mulai disesaki oleh tamu undangan. Puluhan orang berseragam mondar-mandir menawarkan minuman dan kudapan ke setiap tamu. Acara di mulai dengan pidato dan sambutan-sambutan sebelum penghargaan yang diselingi acara hiburan di mulai.

Baru tiga puluh menit berlalu Shikamaru sudah menguap. Sedangkan Shino hanya mengetuk-ketukan jari telunjuknya di meja. Sai sendiri menatap sekelilingnya dengan tatapan kosong. Ino bersyukur ada Temari di sana jadi mereka bercakap-cakap dengan suara rendah tanpa memedulikan sambutan dan pidato yang membosankan. Ino berpikir acara ini akan seperti acara penghargaan film seperti yang dia lihat di TV tapi ternyata acaranya begitu kaku, serius dan membosankan.

Sai ternyata memenangkan penghargaan penulis novel suspense terbaik. Pria itu tampak sedikit terkejut tak seorang pun memberitahunya dia masuk nominasi. Tapi dengan cepat dia memakai kembali wajah stoicnya. Shikamaru dan Shino menyengir lebar atas Kemenangan ini mereka sengaja merahasiakannya sebab bila Sai tahu dia mungkin harus naik ke panggung dan berbicara. Seratus persen pria itu tak akan mau datang.

Dia naik ke panggung berupaya terlihat relaks dan percaya diri. Sebuah piala di berikan padannya. Tangannya mulai berkeringat. Seketika tubuh dan lidahnya kaku. Melihat ratusan pasang mata menatap mengarah padanya. Sai berusaha menelan ludahnya tenggorokannya bagai terganjal batu. Sai memandang ke arah mejanya memutuskan memfokuskan diri memandang satu objek di ruangan itu. Mizuna, Wajah wanita pirang itu tampak cemas. Mungkin dia juga sadar betapa nervous Sai sekarang tapi perlahan wanita itu tersenyum padanya. Sai bisa melakukan ini.

"Ma..a..af" Ucapnya sedikit terbata

"Saya sangat terkejut memenangkan penghargaan ini. Terima kasih saya ucapkan pada para pembaca setia yang mendukung saya selama ini. Editor, manajer dan perusahaan penerbit serta segenap orang yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Saya berharap novel terbaru saya juga akan menuai sukses yang sama"

Ucapan terima kasih itu di tutup dengan sebuah senyuman yang diabadikan oleh wartawan. Sai mencoba terlihat gembira. Dia melangkah tergesa-gesa untuk kembali ke mejanya. Dia menghempaskan tubuhnya ke kursi, mengambil gelasnya dan minum.

"Kau tak apa-apa?" Shino merasa kasihan. Sebenarnya bila mereka punya pilihan dia dan Shikamaru tak ingin menyeret Sai kemari. Hanya saja mereka harus membuat strategi marketing baru untuk mempromosikan novel terbaru Sai.

"Aku baik-baik saja sepertinya aku perlu ke toilet sebentar" Sai kembali berdiri dan melangkah pergi.

Setelah pria itu keluar. Ino bangkit dari kursinya dan mengikuti pria itu menuju toilet.

Sai memuntahkan isi perutnya. Semua ketegangan ini membuatnya mual dan stres. Tatapan mata mereka pada dirinya membuat dia merasa cemas. Bagaimana dia bisa bersikap biasa saja saat acara promosi nanti. Pria berambut hitam itu membasuh wajahnya dengan air dingin dan mengeringkannya dengan tisu. Dia menghela nafas panjang sebelum kembali ke ruangan.

"Kau tak terlihat baik"

"Kau mengikuti ke mari?" Mata hitam Sai menemukan wanita bergaun ungu berdiri di depan pintu toilet.

"Aku khawatir, Aku tak menduga kau separah itu"

"Gugup di depan publik itu bukankah hal yang biasa? Apa kau tak mengalaminya saat kau pentas? Semua mata menatapmu dan menilaimu?"

"Aku tak pernah memandangnya seperti itu. Iya terkadang aku gugup dan khawatir aku membuat kesalahan dan tidak memenuhi ekspektasi penonton tapi aku tak membiarkannya berlarut-larut. Aku hanya perlu fokus pada peranku dan berpura-pura tak ada yang menonton"

"Sulit untukku menganggap mereka tak ada. Sebagai aktris di atas panggung kau tak perlu berinteraksi dengan mereka. Berbeda bila kau harus menandatangani buku dan menyapa orang asing yang tak aku tahu"

"Kau payah, Coba pikir mereka adalah orang-orang yang membeli dan menyukai karyamu tidakkah harusnya kau berterima kasih? Mereka datang untuk mengenal penulis favorit mereka bukan untuk mengkritik dan menilai dirimu dan karyamu. Sai tak akan menjadi siapa-siapa ataupun jadi kaya tanpa orang-orang yang antusias membaca tulisanmu. Jadi berusahalah untuk pura-pura ramah dan tersenyum"

"Aku mengerti maksudmu, Aku sedang berusaha. Bisakah kau katakan pada yang lainnya. Aku akan segera kembali. Aku butuh sendirian"

"Baiklah" Ino meninggalkan pria itu seperti yang dia minta.

Sai melangkah ke luar gedung. Dia merogoh sakunya untuk mencari korek dan rokok. Asap tembakau dia hembuskan dari bibirnya. Malam masih panjang dan masih banyak orang yang harus dia temui.

Ino kembali ke ruangan yang mulai tampak sepi sepertinya acara penghargaan sudah selesai dan semua hadirin pergi menuju ke lantai paling atas di mana pesta diadakan.

"Bagaimana Sai?" Shino bertanya dengan cemas. Dia berharap Sai tidak kena serangan panik.

"Dia keluar untuk merokok sebentar lagi juga kembali"

"Kalau begitu kita tunggu saja"

Tak lama berselang pria berambut hitam itu kembali dan terlihat tenang. Beberapa menit sendirian sambil mencamkan kata-kata Mizuna membuat Sai tersadar bagaimanapun dia tak sukanya pada publik dan keramaian perkerjaan dan uang yang dia hasilkan karena orang-orang membaca dan membeli bukunya. Jadi sudah sepantasnya dia mencoba untuk bersikap menyenangkan.

"Kau sudah kembali. Kalau begitu ayo kita ke tempat pesta" Shikamaru berdiri mengamit tangan Temari. Mereka semua menuju lantai teratas gedung itu.

Ino menggandeng Sai masuk ke dalam restoran mewah itu. Sebuah lantai dansa dan beberapa bar berdiri di setiap sudut ruangan yang luas itu. Pemandangan malam kota Tokyo terpampang dari semua jendela. "Sai, Aku mau mengambil makanan. Kau ikut?"

Pria itu menggeleng. "Aku akan bergabung dengan Shino dan Shikamaru di bar. Temui aku di sana"

"Baiklah"

Ino menyeberangi ruangan menuju meja buffet. Wanita itu memilih beberapa makanan ringan dan meletakannya di piring. Dia makan sambil berdiri mengamati suasana tempat itu yang cukup ramai.

"Kebetulan lagi Yamanaka, Seorang tanpa latar belakang apa-apa mendapatkan undangan untuk menghadiri event bergengsi di Tokyo ?"

Ino nyaris tersedak, Suara pria memanggil namanya membuat Ino menoleh. Perasaannya langsung menjadi tak enak melihat sosok pria berambut gelap yang berdiri menggenggam gelas wine nya. Ino merasa ingin menghapus seringai sombong yang menghiasi wajah rupawannya.

"Kau lagi, Mengapa kau menganggukku di setiap kesempatan"

"Itu karena kau menarik. Siapa sebenarnya dirimu? Minggu lalu kau bersama Kakashi Hatake seorang wartawan ternama dan sekarang kau di sini. Barangkali dengan pria lainnya? Aku tak menyangka kau pintar mencari teman kencan"

" Tutup mulutmu Uchiha. Apa yang kulakukan bukan urusanmu"

"Bagaimana bila kau berkencan denganku Ino? Kau bisa masuk majalah dan ikut jadi terkenal dengan instan"

"Kau tahu Sakura menyukaimu. Apa kau sengaja membuat aku dan sahabatku bermasalah?"

"Jadi kau menolak usulku karena si Pinky? Aku tak pernah tertarik padanya"

"Aku tak tertarik padamu Uchiha?"

"Serius? Meski aku bisa membantu kariermu Ino"

Sebenarnya Ino tergoda berkencan dengan Uchiha karena pria itu benar. Dia bisa langsung jadi pesohor dan naik pamor tapi Ino belajar dari semua klien yang di kencaninya. Omongan mereka tak ada yang dipegang. Begitu puas bermain dengannya mereka melupakan janji-janjinya.

"Shoved your offer into your ass, Aku tak butuh" Ingin Ino mengacungkan jari tengahnya tapi tentu gestur itu tak berkelas Jadi dengan dagu terangkat Ino berjalan melewati Sasuke tanpa berkedip sedikit pun. Tanpa Ino tahu penolakannya malah membuat pria itu semakin tertarik. Sasuke menyukai wanita yang tidak memedulikannya sebab dia pria yang menyukai tantangan. Sikap misterius dan dinginnya Yamaka Ino membuat pria itu jadi gatal ingin menyingkap apa yang dia sembunyikan. Pria seperti Kakashi Hatake tak akan bersamanya bila wanita itu bukan seseorang yang spesial.

Sai, Shino, Shikamaru dan Temari masih duduk di Bar. Seorang tampak bergabung dengan mereka. Sai terlihat mengaguk pada pria berambut hitam yang berbicara dengannya.

"Ino ada apa kau tampak gusar" Temari yang paling pertama melihat ekspresi kesalnya.

"Aku bertemu Uchiha Sasuke. Kau tahu kan Temari. Aktor terkenal itu"

"Apa adikku mengganggumu? Maafkan dia. Kadang dia bersikap sedikit kurang ajar dan tak sopan"

"Bukankah anda Uchiha Itachi?"

"Ya, Saya ingin bertemu Sai untuk membicarakan naskah film action-thriller yang akan diproduksi tahun depan. Sepertinya dia sudah paham apa yang saya inginkan"

"Tidak semua. Anda tahu saya tidak pernah menulis romance. Saya tidak yakin akan bisa menulis naskah dengan baik"

"Sai, Romance itu hanya bumbu pelengkap. Genre utamanya tetap action. Aku hanya ingin tokoh utama wanita tertarik pada pria yang memburunya tapi itu bukan cerita utama. Kau tahu adegan yang sensual sangat menjual" Itachi mencoba menjelaskan. Dengan menambahkan sedikit bumbu romance dia berharap untuk menarik penonton wanita.

"Aku akan mencoba, Drafnya akan kuserahkan tiga bulan lagi"

"Kalau bisa lebih cepat lebih baik karena aku belum menentukan casting-nya"

Ino langsung tertarik "Apa akan dibuat audisi?"

"Tentu saja. Aku memilih sendiri orang-orang yang akan di audisi"

Ino kecewa. Ternyata bukan audisi yang terbuka untuk umum. Padahal dia selalu bermimpi untuk bisa bekerja dengan Itachi Uchiha. Mungkin mimpinya ketinggian.

"Ternyata kau disini Kakak. Aku mau pulang. Aku sudah mengantikkanmu minggu lalu menghadiri acara konyol. Sekarang kau malah menyeretku ke tempat membosankan ini"

"Sasuke, Kalau kau mau pulang, pulang saja. Aku tak mau mendengar keluhanmu sepanjang malam"

Mata Sasuke langsung melihat sosok Ino yang berdiri di antara Shino dan Sai.

"Ah Yamanaka Ino, Jadi pria yang mana kau kencani malam ini? Apa Kakashi Hatake tak cukup untukmu"

Itachi menatap Sasuke. Dia terkejut mendengar adiknya menyindir seorang wanita "Apa kau mengenal wanita ini?"

"Tentu saja Kak, Dia seorang artis -wannabe yang belajar di sekolah kita"

Mendengar nada bicara pria itu pada Ino. Sai jadi kesal "Ino datang bersamaku ada masalah?"

Itachi yang merasa tak enak atas kelakuan Sasuke menghardik adiknya "Sasuke jangan bersikap keterlaluan"

Sasuke tak mengindahkan kakaknya dan berbicara pada Sai, "Aku kasihan padamu sobat, Dia hanya akan memberimu masalah" Begitu menyelesaikan kalimatnya Sasuke berbalik meninggalkan mereka.

Kelima orang itu tercengang dengan omongan Sasuke yang blak-blakan.

"Wow, ternyata media tak melebih-lebihkan cerita tentang kelakuan Sasuke yang Arogan dan kasar" Temari berdecap

"Aku sendiri terkejut. Tak biasanya Sasuke bersikap begitu biasanya dia selalu acuh untuk berbicara. Barangkali kau menarik perhatiannya"

"Sungguh cara yang aneh untuk mengekspresikan ketertarikan" Ino mendesah.

"Sasuke adalah Sasuke. Dunia selalu memaafkan dan mencintainya karena itu dia tak pernah belajar bersikap rendah hati" ujar Itachi "Sai nanti kita diskusikan lagi. Terima kasih atas kerja samamu"

"Aku tersanjung kau memilih diriku"

"Kau penulis terbaik saat ini Sai" Sutradara terkenal memberikan pujiannya sebelum meninggalkan kelompok itu.

"Lalu sekarang apa yang kita lakukan?" Shino yang dari tadi hanya menjadi pendengar yang baik akhirnya buka mulut.

"Aku dan Ino mau pulang. Urusanku disini selesai. Apa yang akan kau lakukan Shikamaru?"

"Aku dan Temari masih mau menikmati malam disini"

"Baiklah, Aku dan Ino akan pulang dengan taxi. Kau dan Temari bisa pakai limosinnya" putus Sai. Dia sudah tak sabar untuk kembali ke rumahnya yang tenang dan nyaman. Kerumunan orang-orang ini membuat dia pusing.

"Jangan lupa besok pagi acara meet and greet nya" Ucap Shino mengingatkan Sai acara promosi novelnya.

Pria itu mendesah merasa keberatan, "Baiklah. Kalian tak perlu menyeretku besok. Aku akan datang sendiri"

.

.

Mereka tiba di apartemen Sai lewat tengah malam. Pria itu sangat lelah secara mental. Dia hanya ingin tidur.

Turun dari Taxi Ino mengikuti Sai hingga ke Lobi. Wanita cantik itu menggigit bibir bawahnya "Apa kau masih membutuhkanku?" Wanita itu bertanya dengan canggung. Sebab Madam bilang Sai membayar untuk semalam.

"Tidak kau boleh pulang. Pekerjaanmu sudah selesai dan aku tak butuh apa-apa lagi darimu" Sai tak sadar dia mengucapkan kata-kata itu dengan ketus. Pria itu mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan setumpuk uang pada Ino.

"Aku sudah mentransfer pembayaranmu. Ini sekedar tip untuk semua gangguan yang terjadi malam ini"

Ino merasa enggan untuk menerima uang itu. Entah mengapa dia merasa sedikit tersinggung karena Sai ingin cepat-cepat membuat dia pergi dari sini. Tapi akhirnya dia memilih mengambil uang itu dan memasukkannya ke tas

"Kalau begitu aku permisi Tuan Shimura" Ucap wanita itu dengan formal. Ino berbalik untuk melangkahkan kakinya keluar tapi mendengar pria itu memanggil namanya Ino berhenti.

"Mizuna, Maaf aku jadi terlibat dengan kehidupan pribadimu"

"Bukan salahmu. Kebetulan saja kita punya kenalan yang sama" Ino melanjutkan langkahnya keluar dari gedung itu untuk mencari Naruto di tempat parkir. Ino berpikir apa dia akan bertemu dengan Sai lagi setelah ini?

.

.

Ino berlatih Drama di teater Royal. Dia baru saja menyelesaikan latihan adegannya bersama Neji. Meskipun mereka hanya kelompok amatir akting mereka tak buruk-buruk amat. Terutama Temari tapi wanita itu memilih untuk bekerja di biro hukum dari pada mengasah kemampuan aktingnya dan menjadi artis.

"Temari apa kau puas menjalankan kelompok amatir ini? Tidakkah kau berpikir untuk menjadi artis"

Wanita yang lebih tua itu menggeleng "Aku tak punya ambisi dan tak suka popularitas. Bagiku akting dan teater hanya sekedar hobi. Gedung teater ini milik ayahku dan diwariskan kepada kami. Ibuku juga pernah mengecap karier sebagai bintang drama meski sangat singkat"

"Jadi keluargamu punya darah seni yang kental"

"Mungkin begitu. Adikku Kankuro menjadi aktor Kabuki. Sedangkan Gaara. Dia dan band nya baru saja mendapatkan kontrak dari Major label. Hanya aku yang punya karir yang tak berhubungan dengan panggung"

Pintu teater terbuka. Gaara muncul dengan rambut merah jabrik dan jaket kulitnya. Pria itu tentu sangat nyentrik. Entah seberapa banyak rasa percaya dirinya untuk beraktivitas dengan dandanan seperti itu tapi Ino harus mengakui gaya pria itu mencerminkan kepribadiannya. Sabaku Gaara punya aura pemberontak dan wajah tampan yang pastinya akan menarik fans wanita. Siapa yang tak suka dengan Bad-boy. Lihat saja Sasuke. Image Bad boy-nya melegenda dan para wanita rela menaruh hatinya untuk di jadikan keset oleh si play boy Uchiha.

"Mau apa kau muncul di sini Gaara. Bukannya kau ada meeting dengan orang dari perusahaan rekaman?"

"Sudah selesai. kami membahas single debut kami di major label dan mereka setuju menyerahkan konsep video klip pada kami. Jadi aku butuh model untuk video klipku"

"Lalu apa hubungannya dengan teaterku?" Alis Temari bertaut

" Aku butuh artis berbakatmu" Gaara memperhatikan Ino naik turun dengan mata biru kehijauannya " kau mau jadi model tidak? Bila single ku menjadi hits kau juga bisa terkenal"

"Mengapa kau tak memilih model profesional yang sudah punya nama?"

"Karena konsep yang aku usung from nothing to something. Seperti halnya band kami yang awalnya hanya band Indie yang tampil di acara festival dan bar kini punya kontrak dengan major label. Jadi kami memerlukan orang biasa"

"Aku setuju-setuju saja" Ino tak akan menolak kesempatan untuk tampil di tv.

"tapi aku tak bisa memastikan kau akan dipakai atau tidak karena keputusan final ada di tangan produsernya"

"Apa genre musik mu? Dari penampilanmu kau terlihat seperti anak emo tidakkah kau terlalu tua untuk itu?"

Pria itu tersenyum " Rock, ballad tapi kadang aku suka musik metal juga tergantung Mood. Kau lihat saja channel kami di you tube. Rebels"

"Kau lihat Ino. Adikku ini tak bisa beranjak dari masa remaja labilnya. Dia masih saja begitu angsty dan emo. Mengapa kedua adik laki-laki ku tak normal. Kankuro memilih Kabuki karena dia suka make up dan kau Gaara sudah 27 tahun masih menjadi remaja labil dengan eye liner-mu"

"Karena itu aku bisa menulis musikku. Bisa aku minta no ponselmu. Jadi aku bisa memberitahu kapan kau bisa bertemu produsernya"

Temari tiba-tiba terkikik " very smooth brother, apa kau ingin mendekati Ino? Baru terpikir olehku mengapa kau langsung menghardik Ino saat pertama kali dia kemari. Sebaiknya kau tanya dia sudah punya pacar atau belum. Bukan begitu Ino?"

Wajah Gaara langsung memerah "Kau salah Temari, Aku hanya berpikir wanita ini punya wajah cantik yang cukup komersial. Tak ada maksud lain"

"Oh.. jadi kau mengakui Ino wanita yang cantik. Sepertinya musim semi akan tiba lebih cepat untukmu adikku sayang"

Ino jadi tak enak melihat Gaara digoda seperti itu "Temari sudahlah jangan kau goda Gaara lagi"

"Bukankah dia terlihat imut dengan wajah merona"

"Kau memang saudara yang menyebalkan Temari" Gaara tak heran dengan sikap Temari. Mereka semua dari kecil suka saling menggoda dan mengejek sesama saudara.

Ino mengambil tasnya dan menyerahkan secarik kartu nama pada pria bertato itu.

"Terima kasih Ino. Aku akan menghubungimu"

"Sama-sama, kebetulan aku juga butuh sekali pekerjaan" Ino tersenyum

"Kalau urusanmu sudah selesai pergilah dari sini Gaara. Artisku harus berlatih"

"Oke..oke. Tak usah mengusirku. Aku pergi sekarang"

.

.

Sai duduk menatap layar komputernya. Mencoba mengetik kalimat untuk draf naskah yang diminta oleh Itachi. Film ini berkisah tentang gadis yang diincar oleh seorang pembunuh berantai. Pria psikopat dan narssistic. Sai memutuskan pria itu punya obsesi tak sehat untuk memiliki sang tokoh utama tapi mengapa sang pembunuh berantai tertarik pada mangsanya?

Dia membakar rokoknya dan mulai berpikir. Apa yang membuat seorang pria terobsesi pada wanita. Pikirannya langsung menuju Mizuna. Mungkin dia sendiri bisa dikatakan terobsesi dengan wanita itu. Lihat saja studionya. Penuh dengan gambar wanita itu dan Sai tak pernah tidak memikirkan Ino dan kehidupan gandanya. Apa saja yang wanita itu hadapi?

Sai jadi teringat kisah phantom of the opera. Pria jenius yang buruk rupa. Terkucil dan tersiksa tanpa pernah merasakan sentuhan manusia apa lagi kasih sayang. Dalam pekatnya kegelapan dia tertarik pada Christine. Gadis polos dengan suara merdu. Dengan menggunakan manipulasi dan rasa takut sang phantom membuat Cristine menjadi Diva. Seperti yang gadis itu selalu impikan. Tapi phantom terobsesi untuk memilikinya. Mengapa phantom tertarik pada christine? Menurut Sai karena wanita itu merepresentasikan hal-lah yang bukan phantom. He could relate. Dia tertarik pada Mizuna karena wanita itu sungguh berbeda mereka begitu kontras.

Sai tidak ingin menulis tokoh wanita yang polos karena itu membosankan. Dia ingin seorang wanita yang tegar. Licik dan juga manipulatif. Wanita yang bisa membebaskan dirinya dengan mempermainkan kondisi psikologi si penjahat. Perang kecerdikan dan saling menyiksa satu sama lain hingga salah satu dari mereka hancur dan bertekuk lutut. Ini menarik.

Sai mulai mengetik paragraf pertama ceritanya dengan tanpa sengaja membuat Ino sebagai tokoh utamanya.