Warning : Mature Content

A/N: Chapter ini saya revisi lagi karena baca review nya amu B. Makasih banget kritiknya. Saya membuat kesalahan dengan tidak meluangkan waktu untuk membaca berulang-ulang dan mengedit tulisanku. Begitu selesai langsung main publish aja. Maafkan saya pembaca karena saya ingin cepet-cepet update jadi mengorbankan kualitas bacaan. Saya akan lebih hati-hati lagi. Keep reading yah.. thank you.

Glass Half Empty

.

.

Chapter 06

The Open Door

.

.

Sebulan berlalu tanpa terasa. Ino disibukkan oleh rutinitasnya. Ia tak pernah lagi berjumpa dengan Sai. Pria itu tak lagi menghubunginya dan dalam hati dia merasa kecewa. Mungkin dia telah salah sangka mengira pria itu tertarik secara pribadi padanya hanya karena cara pria itu menatapnya. Pada akhirnya hubungan mereka hanya sekedar wanita penghibur dan pelanggannya.

Dari pertemuan mereka yang singkat Ino membiarkan dirinya terbawa perasaan. Ia merasa simpati, kasihan dan merasa kagum dengan apa yang telah dilalui Sai dan kini ia menyesal kepeduliannya pada pria itu membuat dirinya merasa dicampakkan saat Sai tak lagi membutuhkan jasanya. Tidakkah pria itu merasa kesepian dan sekali-sekali ingin ditemani.

Ino melangkah ke atas panggung dengan suasana hati yang berantakan. Gedung teater masih kosong, sepertinya dia datang terlalu awal karena para anggota Royal lainnya belum pada tiba untuk latihan.

Seminggu lagi dia akan berdiri di atas panggung ini sebagai Juliet. Dia merasa gugup karena ini pertama kalinya dia tampil lagi setelah absen selama tiga tahun. Ino menutup matanya dan menarik nafas panjang menghalau semua pikiran negatif dari benaknya.

Dia harus fokus hanya pada aktingnya. Wanita berambut pirang itu mulai berlatih sendiri dengan mengucapkan dialog babak ke dua drama Romeo dan Juliet yang akan mereka pentaskan.

"Romeo oh Romeo. Mengapa kau harus menjadi seorang Montague? Lupakan ayahmu dan gantilah namamu atau jika kau tak mau meninggalkan namamu bersumpahlah kalau kau mencintaiku dan aku akan berhenti menjadi seorang Capluet" Ino berusaha mengucapkan dialog itu dengan rasa sedih mengetahui orang yang dicintainya tidak akan pernah direstui tapi juga harapan bila Romeo mencintainya dia rela meninggalkan segalanya.

Ino tak akan bisa menjadi Juliet di dunia nyata karena dia tak akan rela membuang segala yang dia raih demi bisa bersama dengan laki-laki yang dia cintai tapi disinilah tantangan berakting. Mencoba menghidupkan karakter yang bukan dirimu sendiri.

"Plok...Plok..Plok" Suara tepuk tangan terdengar dari bangku penonton. Ino tak menyadari seseorang berada di sana menontonnya berlatih.

Gaara berjalan ke arahnya. "Aku harap pertunjukannya akan sukses. Kau ternyata memang berbakat. Aku sempat berpikir pujian Temari berlebihan"

"Kau meragukan kemampuanku tapi juga menawariku pekerjaan aneh sekali"

"Aku menawarkanmu pekerjaan bukan karena aktingmu tapi karena wajahmu. Aku kemari mau memberitahu kalau kau mendapatkan pekerjaan itu. Produser setuju untuk memakaimu sebagai model kami"

"Benarkah?" Ino merasa girang. Sedikit demi sedikit pintu mulai terbuka untuknya.

"Iya, Produksi akan di mulai bulan depan. Apa kau tak berterima kasih padaku karena sudah memberimu pekerjaan. Aku tak keberatan kok ditraktir makan" Ucap Gaara setengah bergurau.

"Kau...Apa kau sedang mencoba mengajakku kencan?" Ino pun membalasnya dengan gurauan.

Wajah Stoic Gaara jadi ternoda oleh semburat merah jambu "Siapa yang bilang aku mau berkencan denganmu. Kau membuat asumsi. Aku hanya bilang mau ditraktir makan jangan salah paham. Aku tak tertarik padamu"

"Oh..Begitu. Maaf bila aku salah sangka" Ino sekarang paham mengapa Temari suka mengganggu adiknya. Reaksi Gaara sungguh lucu. Pria yang terlihat garang dan dingin tak kebal dengan olok-olokan yang tak berbahaya. Lihat saja wajahnya merona.

Temari dan Anggota Royal lainnya muncul. Mendapati Ino dan Gaara sedang berduaan saja.

"Ehem.. apa kami sedang menginterupsi hal penting?

"Tidak, Aku hanya mau memberitahu Ino dia mendapatkan pekerjaan jadi model video klipnya"

"Hm.. Itu saja?" Temari masih tak percaya. Instingnya berkata Gaara tertarik pada Ino. Adiknya tak pernah tertarik menjalin hubungan selain casual sex setelah konserdengan para gruppies nya.

Tentu saja adiknya tak akan pernah bisa punya hubungan yang sehat dengan wanita karena His brother isn't the nicest man on earth. Di luar pesonanya sebagai anak band dan seorang musisi berbakat. Gaara adalah pria temperamental yang tak bisa mengontrol amarahnya dan cenderung destruktif. Bila dia frustrasi ada saja benda yang dia hancurkan untuk meluapkan kekesalannya. Temari telah menyarankan Gaara mengikuti Anger management class karena karier profesionalnya yang bahkan belum dimulai bisa saja hancur karena kebiasaan mengamuknya. Lagi pula bila Gaara tak mengubah sikapnya dia tak akan pernah menemukan wanita yang sanggup menghadapi sifat buruk dan gaya hidupnya yang tak jauh dari alkohol dan narkoba.

Temari tak ingin Gaara kesepian. Dia menemukan kebahagiaan dalam hubungannya bersama Shikamaru dan berharap adiknya akan menemukan hal yang sama. Barangkali bila Gaara jatuh cinta dia bisa mengubah sikapnya jadi lebih baik.

"Kau juga jangan berasumsi yang aneh-aneh Temari. Urus saja dirimu. Aku sudah terlalu tua untuk kau urusi" Pria itu kemudian pergi. Gaara harus menyelesaikan rekaman singgelnya minggu ini. Tak ada ruang untuk memikirkan hal lain selain musiknya.

.

.

"Ting..tong...ting...tong"

Sai mendengar bel rumahnya berbunyi tapi dia mengabaikannya. Pria itu larut dengan pekerjaannya semua fokusnya terserap dalam dunia imajinasi yang sedang dia bayangkan. Asap rokok terus-menerus berembus dari bibirnya yang mulai kering dan pecah-pecah. Aroma tembakau memenuhi ruang kerjanya yang tertutup rapat.

Sang penulis dengan tekun mengetikkan semua adegan dan dialog yang tergambar di benaknya menjadi sebuah naskah drama.

Aburame Shino telah berkali-kali menekan bel tapi tak ada jawaban. Pria itu kemudian memutar gagang pintu yang ternyata tidak dikunci dan terkejut melihat keadaan di dalamnya yang begitu kotor dan berantakan. Sampah dan buku-buku berserakan. Sama sekali tak terdengar suara penghuni rumah. Dia mulai cemas dan memeriksa setiap ruang yang dia lalui tanpa menemukan sang pemilik rumah. Akhirnya Shino membuka pintu terakhir di apartemen yang merupakan ruang kerja Sai.

"Ya Tuhan. Ada apa ini" Pria itu terkejut melihat tumpukan kardus kosong bekas makanan dan mie instan berserakan di lantai. Ruangan itu pekat dengan asap rokok sampai-sampai dia sendiri kesulitan bernafas. Sai menolehkan wajah pucat nya seperti hantu akibat tak pernah melihat sinar matahari, tulang pipinya tirus dan menonjol menunjukkan tanda-tanda kurang nutrisi.

"Oh..Kau Shino" Suara pria itu serak akibat lusinan batang rokok yang dia hisap setiap hatinya

"Sai, Kau tenggelam dalam pekerjaanmu lagi. Selama dua minggu kau tak bisa dihubungi Shikamaru dan aku sangat khawatir mengira kau sedang ada masalah"

"Maafkan aku Shino. Kebetulan aku sedang banyak ide. Aku takut bila berhenti bekerja ide ceritanya ikut mandek" Pria itu berdiri untuk meregangkan otot-ototnya entah berapa jam yang dia habiskan untuk duduk di depan komputer dan mencari-cari referensi tapi dia merasa puas pekerjaannya sudah beres.

"Sepertinya kau butuh orang untuk mengurusimu Sai, Kau tak boleh mengabaikan makan dan istirahat hanya untuk bekerja"

"Aku tak apa-apa Shino. Ngomong-ngomong draf naskah film yang diminta Itachi sudah aku selesaikan. Aku perlu pendapatmu sebelum kita diskusikan dengannya"

"Serius? Berapa jam kau menulis setiap harinya? Itachi memberimu waktu tiga bulan. Ini baru satu bulan sudah selesai"

"Itu karena aku menulis siang malam tapi belum tentu dia setuju dengan apa yang aku buat. Aku harap dia menerima cerita yang kutulis mungkin dengan sedikit revisi tak jadi masalah buatku"

"Kalau begitu sekarang kau mandi, Aku pikir kau butuh makan dan sinar matahari. Aku akan menyuruh orang membersihkan apartemen ini. Lalu kita bisa membahas naskahnya di restoran sambil makan"

"Terima kasih banyak Shino"

"Aku sangat khawatir syukurlah kau baik-baik. Lain kali sesibuk apa pun angkat teleponnya"

"Baiklah, Aku benar-benar minta maaf. Aku tak berpikir kalian akan khawatir. Selama ini tak ada yang mengkhawatirkanku"

"Sai perusahaan tak ingin kehilangan telur emasnya. Kalau kau tak lagi membuat best seller siapa yang akan membayar gajiku dan Shikamaru. Kalau begitu bersiaplah, Aku akan menunggumu di ruang tamu" Pria berkaca mata itu meninggalkan Sai untuk membereskan dirinya.

Setelah mandi, bercukur dan memakai pakaian yang bersih baru Sai merasa segar kembali. Pria berambut hitam itu mengemasi laptop nya dan mencari sang editor yang berada di ruang tamu.

"Sudah Siap?" Editornya bertanya.

Sai menjawabnya dengan anggukan.

"Aku sudah memanggil tukang bersih-bersih. Begitu kita kembali tempatmu akan bersih dari semua sampah ini. Kau mau makan apa?"

"Bisa kita pergi ke steak house?. Aku ingin makan daging"

"Beres, Aku akan membaca naskahmu setelah makan lalu kita ke kantor menemui Shikamaru. Dia bilang kau harus menandatangani sesuatu"

"Baiklah"

Setelah perutnya terisi penuh mereka berdua meluncur ke kantor. Sambil membicarakan isi naskah itu.

"Sai kau harus membuat dialognya lebih baik. Itachi mengharapkan adanya seksual chemistry antara sang korban dan penculiknya tapi aku tak mendapatkan feel-nya"

"Aku paham. Mungkin aku harus membaca lebih banyak referensi. Kau tahu romance bukan genre ku"

"Konsepnya sudah bagus tapi dialognya bertele-tele dan banyak adegan yang tak perlu"

"Aku terima saranmu Shino tapi aku tak akan memperbaikinya sebelum Itachi membacanya dulu"

Tiba di kantor penerbit. Mereka langsung menuju ruang kerja Shikamaru. Pria berambut nanas tampak sibuk mengetuk-mengetukan bolpoinnya. Dia khawatir setengah mati dengan penulis handal mereka. Setelah bertahun-tahun bekerja bersama. Shikamaru paham Sai adalah tipe orang yangbila sedang menulis melupakan segalanya dan parahnya lagi pria itu juga tak punya siapa-siapa yang bisa mengingatkan dirinya bila dia bekerja terlalu lama.

Pintu terbuka, Shino dan Sai masuk ke ruangan dan langsung duduk di kursi kosong yang tersedia di dekat meja kerja sang manajer.

"Senang melihatmu Sai. Kami sangat mencemaskanmu. Aku pikir kau mengalami hal buruk"

"Maafkan aku" Pria berkulit pucat itu tertunduk. Dia tak pernah mengira orang lain akan mencemaskan dirinya "Aku hanya terlalu larut dalam pekerjaanku"

"Ya sudah, Aku perlu kau menandatangani kontrak dengan Uchiha. Semua sudah beres" Pria itu menyerahkan sebuah file dan bolpoin pada Sai "Apa kau setuju dengan bayaran yang mereka berikan?"

"Tak masalah dengan bayarannya tapi aku punya satu permintaan yang ingin aku diskusikan secara pribadi dengan Itachi Uchiha. Aku tak akan menandatangani kontrak ini sampai aku bicara dengannya"

"Oke. Ini nomor telepon Itachi Uchiha. Kau buat saja janji meeting dengannya. Apa kau bertemu Ino?"

"Tidak, Aku tak lagi mengontaknya sejak pesta itu. Aku pikir dia tak menyukaiku"

"Jadi hubungan kalian tak berjalan mulus?" tanya Shino.

"Kami tak punya hubungan apa-apa. Dia hanya wanita yang aku kenal dari internet dan setuju melakukan kencan buta" ucapnya berbohong. Sebetulnya Sai berkali-kali ingin menghubungi wanita itu tapi dia takut mengganggu privasi Ino. Dia bisa saja menyewa wanita itu lagi tapi untuk apa? Dia tak memerlukan jasa escort. Dia ingin wanita itu datang padanya tanpa embel-embel uang tapi sejauh ini Ino juga tak berusaha mengontaknya. Ia menunggu dan menunggu tapi tak ada kabar. Mungkin di antara mereka memang tak ada apa-apa. Sai mulai yakin Ino hanya menganggapnya sebagai klien.

"Hei, Aku akan menghadiri pementasan teater Temari hari sabtu. Apa kau mau ikut Sai?"

"Baiklah aku juga tak ada acara" Bila Ino tak berniat menemuinya. Biar lah dia mengagumi wanita itu dari jauh. Lagi pula mana mungkin pria seperti dirinya bisa membuat Ino bahagia. Dia mungkin bisa menawarkan uang tapi Sai tak akan bisa menawarkan dukungan emosional. Bagaimana dirinya bisa mencintai bila dia sendiri hancur dari dalam dan tak bisa diperbaiki.

Tiba di rumah yang telah bersih dan rapi. Sai memutuskan untuk mengontak Itachi Uchiha. Sai paham apa yang akan dia minta pada Sutradara terkenal itu bisa di bilang pemerasan tapi ia hanya ingin memberikan Ino kesempatan.

Dia tak tahu apa yang dialami wanita itu selama hidupnya tapi yang dia sadari dari kebersamaan singkat mereka betapa Ino sangat ingin menjadi aktris. Dari cara wanita itu membicarakan tentang passion-nya untuk berakting Sai tahu Ino akan melakukan apa pun demi menjadi artis. Lagi pula dia hanya akan membukakan pintu. Sisanya tergantung dari bakat Ino dan keputusan Itachi apa wanita itu layak menjadi peran utama.

Pria itu menekan ponselnya "Hallo Itachi. Ini Sai Shimura"

"Ada apa Sai"

"Bisakah kita bertemu besok. Naskah yang aku tulis sudah jadi aku ingin dengar pendapatmu"

"Besok datang saja ke kantorku jam tiga siang"

"Baiklah"

Keesokan harinya. Sai ke kantor Itachi dengan mengenakan pakaian yang dipilihkan oleh wanita berambut pirang itu. Dengan terpaksa dia menuruti idenya untuk membuang baju-baju lamanya dan mengisi lemarinya hanya dengan pakaian baru yang mereka beli berdua. Jadi di sinilah dia. Di depan gedung Uchiha film. Mengenakan sepatu berbahan patent leather. Kemeja hitam rancangan desainer. Denim wash-off yang melekat dengan sempurna di tubuhnya. Di lengannya tersampir jas berwarna abu-abu gelap. Ia merapikan rambutnya sekali lagi dan melangkah ke dalam gedung itu menenteng tas kerjanya.

Sai tiba-tiba menyadari kaum hawa terus-menerus menatapnya. Ia merasa tidak nyaman. Mengapa mereka memperhatikannya. Apa dia terlihat aneh? Sai menuju meja resepsionis. "Maaf aku ada janji dengan Itachi Uchiha"

"Siapa nama Anda?"

"Sai Shimura" Pria itu berusaha meredam rasa tak enaknya. Dia menjadi sangat self concious gara-gara tatapan-tatapan dari orang-orang yang tak dia kenal. Apa mereka sedang menilai dirinya?

Pegawai resepsionis mengecek komputernya "Ah benar, Anda bisa langsung menuju ke lantai lima belas. Apa anda aktor baru? tanya wanita itu.

"Tidak? Mengapa"

"Karena wajah anda sangat tampan" jawab wanita itu terus terang.

Sai tertegun. Dia tampan? Sai tahu Ino pernah berkata dia tampan tapi Sai berpikir itu hanya sekedar lip service dari sang lady escort dan sekarang wanita tak di kenal juga memuji rupanya. Ia jadi tak tahu harus berkata apa. Mungkin ini efek berpakaian ala pria metrosexual

"Terima kasih, sebaiknya aku pergi"

"Lift nya di sebelah kanan Tuan Shimura"

Sai tiba di lantai lima belas. Seorang wanita berambut ungu menyapanya. "Tuan Shimura. Mari ke dalam"

Wanita itu membukakan pintu. Itachi duduk menatap laptopnya. Ruang kerja pria itu luar biasa. Di setiap rak kaca terdapat berbagai macam penghargaan dan dinding-dindingnya penuh dengan poster-poster film yang pria itu pernah produksi.

"Duduklah Sai, Aku tak menyangka kau akan menyelesaikannya secepat ini"

"Kebetulan ideku sedang lancar" jawab pria berkulit pucat itu. Dia duduk dan menyerahkan print out naskah yang dia kerjakan pada Itachi " Kurang lebih ini yang aku tangkap dari percakapan kita. Tentu saja semua masih bisa ditulis ulang bila tak sesuai dengan pemikiranmu"

"Omong-omong mengapa kau belum menandatangani kontraknya. Apa ada hal yang kurang jelas?"

"Aku datang kemari untuk sebuah permintaan. Aku hanya akan bekerja untukmu bila syarat ini terpenuhi"

Pria bermarga Uchiha itu menatap Sai dengan serius "Apa hal lain yang kau inginkan?"

"Aku ingin kau memberikan Yamanaka Ino kesempatan untuk mengikuti audisi film ini"

"Yang benar saja, kau memintaku mengaudisi aktris amatir. Apa wanita itu mempengaruhimu untuk melakukan ini? Aku tak mau melakukannya. Lagi pula wanita itu tak punya nama atau pun agen besar di belakangnya. Kalau dia memang berbakat mengapa dia belum debut-debut juga"

"Ino tak meminta apa pun dariku. Aku hanya ingin sedikit membalas budi. Aku tak meminta dia langsung mendapatkan peran karena keputusan itu ditanganmu. Aku tak akan mencampurinya. Aku hanya ingin kau menilainya dan memberikannya kesempatan"

"Baiklah, Aku tak janji tapi aku akan melihat kemampuannya dulu sebelum mengikut sertakannya dalam audisi. Aku jadi penasaran dengan wanita ini. Kau dan adikku menaruh minat padanya. Apa kau begitu percaya pada kemampuannya?"

Sai bersandar di kursinya " Jujur saja aku tak pernah melihatnya berakting tapi bukankah dia belajar di sekolah aktingmu mungkin kau bisa bertanya pada pengajar di sana"

"Hm...aku bisa melakukan itu tapi bila ia tak lulus penilaianku dia tak ikut audisi. Kau setuju?"

"Baiklah. Bagaimana kalau kau datang ke pementasan teater royal. Hari Sabtu nanti. Ino akan berperan sebagai Juliet. Kau bisa memberikan penilaianmu di situ"

"Aku akan ikut ke sana kalau begitu"

"Aku sungguh berterima kasih kau mau meluangkan waktu. Ini drafnya kau baca dulu lalu hubungi aku lagi"

"Baiklah Sai"

"Kalau begitu urusan kita sudah selesai. Aku akan segera menemui Shikamaru untuk menyelesaikan kontrak kita"

"Terima kasih"

Setelah pertemuannya dengan Sai. Itachi memutuskan untuk mengali lebih dalam tentang Yamanaka Ino. Dia menemukan informasi kalau gadis itu melakukan puluhan audisi termasuk untuk perusahaannya tapi tak satu pun lolos. Mengapa dia terus gagal? Apa dia begitu buruk. Mungkin dia mesti bertanya pada Sasuke dan melihatnya sendiri ke sekolah akting Uchiha.

Sekolah akting yang didirikan ayah mereka bukan sekolah sembarangan. Mereka hanya memilih siswa-siswa berbakat dan biaya pendidikannya pun mahal. Bila Ino berhasil diterima paling tidak itu artinya dia bisa berakting dan kaya. Tapi itu tak menjelaskan mengapa dia bahkan tak bisa mendapatkan peran figuran. Sungguh aneh sekali karena wanita itu juga sering memenangkan kontes lokal di Chiba.

.

.

"Mizuna-chan buka mulutmu lebar-lebar dan bilang Aa...a.."

Ino menurut saja. Wanita itu bersimpuh membuka mulutnya menanti hal yang tak bisa dia hindari. Pria itu mendorong pinggulnya dan nyaris membuat Ino tersedak dengan penisnya yang tegang. Ino ingin bekerja lebih sedikit tapi dia butuh banyak uang untuk mempertahankan gaya hidupnya dan tentu saja membayar biaya sekolah aktingnya. Sebelum dia jadi artis terkenal dia tidak bisa berhenti. Banyak pria kaya yang mau mensponsorinya tapi Ino enggan menjadi wanita simpanan yang harus menuruti perintah sepanjang waktu.

Ino tak suka kliennya. Dia membiarkan pria itu melakukan apa saja dengan tubuhnya. Dia tak peduli. Toh sejak lama dia berhenti menikmati seks. Oh tidak dia menikmati seks dengan kliennya pria bermata paling kelam yang pernah dia lihat. Sekelam kepribadiannya. Meskipun puluhan kali wanita pirang itu membayangkan dirinya bersama Sai saat menangani klien lain. Dia tetap merasa jijik dan bosan.

Ino mengerakkan kepalanya maju mundur. Menggunakan semua teknik yang dia tahu untuk memberikan servis memuaskan yang tentunya akan dibayar dengan ekstra tip yang besar.

"Mengapa kau menutup matamu Mizuna-chan. Pandanglah aku. Bukankah aku pria keren"

Ino ingin mengeretakan giginya tapi tidak bisa karena mulutnya penuh. Bagaimana mungkin pria berusia lima puluh tahun dengan perut buncit merasa dirinya keren. Mungkin dia merasa uang dan jabatan cukup untuk menutupi kekurangan fisiknya. Betapa menyedihkan pria-pria berduit ini yang harus membeli wanita hanya untuk memberi makan ego mereka. Mereka sengaja melupakan semua pujian dan dedikasi sang pelacur hannyalah fatamorgana yang dibayar dengan uang. Pada akhirnya Ino adalah wanita yang di bayar untuk memberikan kebohongan dan ilusi. Tak ada bedanya dengan menjadi aktris.

Puas dengan apa yang Ino kerjakan. Kliennya mendorong wanita itu ke ranjang. Ino hanya pasrah menatap langit-langit kamar ketika merasakan tangan gempal menjamah sekujur tubuhnya. Ino mencoba membuat sarafnya tumpul agar dia tak merasakan apa pun. Pria itu membuka paha Ino dan wanita itu pura-pura mengerang dan beringsut tatkala jari-jari berlabuh pada organ intimnya.

"Mizuna-chan, kau cantik sekali. Aku jadi tak sabar ingin mencicipimu"

Ino memberikan senyum penuh dukungan. 'Selesaikan saja pak tua, Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini' ucapnya dalam hati. Keinginan Ino terkabul. Kurang dari lima menit kliennya sudah terpuaskan. Ino mendesah lega meskipun wajahnya dikotori oleh cairan lengket yang menjijikkan.

"Wah Mizuna-chan. Kau hebat sekali. Tak pernah aku merasa begitu puas"

"Apa anda masih memerlukan saya Tuan?"

"Tidak Mizuna, Pria tua macam diriku tak sanggup melakukannya berkali-kali. Terima kasih sudah membuatku merasa lebih baik. Aku harap kau juga puas"

"Tentu saja tuan. Kau dengar sendiri bagaimana aku mengerang"

"Ha..ha..ha Kau bisa saja Mizuna"

"Bolehkah aku membersihkan diri?"

"Tentu saja. Aku tahu kau ingin cepat-cepat pergi"

Ino menyalakan shower untuk membasuh tubuhnya dengan cepat. Ia tak ingin merasa kotor berlama-lama. Begitu dia selesai berpakaian dan kembali ke kamar kliennya memberinya setumpuk uang. Ino berterima kasih dan pergi.

Ino ingin beristirahat total malam ini. Besok pagi mereka mengadakan reheasal. Dia sedikit nervous karena ini adalah pementasan pertamanya setelah absen selama tiga tahun terakhir.

.

.

Itachi membaca naskah yang diberikan Sai dan dia cukup puas meski masih banyak kekurangan. Ia akan mendiskusikan beberapa adegan yang ingin dia tampilkan di filmnya serta mengganti dialog-dialog yang kedengarannya cheesy.

Draf sudah selesai dan Itachi bisa fokus memikirkan casting. Ia akan menawarkan peran pembunuh berantai pada Sasuke. Selama ini adiknya hanya mendapat peran protagonis padahal Itachi tahu kemampuan akting Sasuke sangat luar biasa. Sayangnya produser film lainnya tak mau merusak image Sasuke dengan memberikannya peran yang tidak biasa.

Itachi sendiri tak pernah bekerja sama dengan adiknya karena tak ingin di tuduh nepotisme tapi kali ini ia membuat pengecualian. Ia ingin membuat sesuatu yang tak biasa dan mempertaruhkan reputasinya untuk film yang satu ini.

Itachi mengambil ponselnya untuk menelepon si bungsu Uchiha.

"Ada apa Itachi?"

"Aku punya tawaran untukmu. Apa kau tertarik mengambil peran antagonis dalam proyekku tahun depan?"

"Antagonis? Kau tahu kan Kak. Ayah mengatur manajerku hanya untuk menerima peran mudah"

"Kalau begitu aku yang akan bicara pada ayah. Sudah saatnya mengganti image mu sebagai aktor berwajah manis Sasuke"

"Tentu saja kak. Aku bosan menjajal peran yang mirip-mirip dengan kepribadianku. Aku merasa di meremeh. Aku ingin dilihat sebagai aktor berbakat yang memang bisa akting. Bukan hanya pria berwajah ganteng yang kebetulan lahir di keluarga ternama"

"Aku mengerti apa yang kau rasakan. Tak peduli seberapa keras kau berusaha selalu saja dikait-kaitkan dengan nama Uchiha. Kau pikir aku tak mengalaminya juga. Karena itu kau harus mengambil peran ini"

"Kakak kirim saja naskahnya padaku. Biar aku baca dulu baru aku putuskan"

"Baiklah, Aku rasa kau akan tertarik karena perannya cukup menantang. Aku juga punya pertanyaan soal Yamanaka Ino"

"Bagaimana kau kenal wanita itu? "

"Apa kau lupa. Empat minggu yang lalu aku dengar sendiri kau menghinanya"

"Apa yang ingin kau ketahui?" Suara Sasuke terdengar sebal.

"Apa menurutmu dia bisa berakting?"

"Aku kurang tahu karena tak pernah melihat dia mengambil peran tapi aku perhatikan dia selalu menonjol di kelas. Mengapa kau jadi tertarik padanya?"

"Karena Sai Shimura merekomendasikannya padaku"

"Jadi begitu. Aku tak menyangka Ino memperalat pria itu" Sasuke menyeringai. Ternyata Yamanaka Ino seorang manipulator juga. Dia tak mau menerima penawarannya tapi malah memanfaatkan pria yang sepertinya tampak lugu dan pendiam seperti Shimura.

"Jangan berburuk sangka dulu Sasuke. Sai hanya memintaku memberi wanita itu kesempatan untuk audisi"

"Terserah kau saja kak, mungkin kau hanya akan membuang-buang waktu saja"

"Kita lihat saja. Kalau aku beruntung mungkin aku akan menemukan berlian yang belum dipoles"

Kakak beradik itu mengakhiri sambungan teleponnya dan Sasuke masih memikirkan Yamanaka Ino. Sebenarnya wanita macam apa dia? Penampilannya terlihat berkelas. Dan dia begitu serius mendalami akting meski selalu gagal. Apa yang membuat Ino optimis?.

Dari interaksi mereka yang jarang dan singkat Sasuke merasa Ino wanita yang blak-blakan. Sulit membayangkan dia sebagai wanita licik dan manipulatif yang memanfaatkan orang lain demi tujuannya. Tapi siapa yang tahu apa yang tersembunyi dibalik bayangan. Dia ingin tahu rahasia apa lagi yang disimpan wanita itu.

.

.

Jantung Ino berdebar kencang. Sebentar lagi tirai akan dibuka. Ino berdiri di sisi panggung. Rambut indahnya terangkai dalam gelungan cantik dan wanita itu mengenakan gaun dengan potongan khas abad ke empat belas. Bahannya yang ringan membuat lengan baju dan rok yang melebar bagaikan lonceng melambai mengikuti gerakan Ino.

"Nona Juliet...Nona Juliet. Anda di mana? Ayo lekas bersiap-siap pestanya sebentar lagi" Pengasuh Juliet sudah memanggilnya.

Ino masuk dalam perannya. Dia adalah putri bangsawan Capluet. Gadis berusia tiga belas tahun yang ceria dan lugu.

"Aku di sini. Ada apa memanggilku?" Ino Berjalan setengah berlari menuju Ten-ten yang berperan sebagai pengasuh Juliet

"Nyonya ingin bicara denganmu"

"Ada apa mama?"

"Ada yang aku bicarakan empat mata denganmu Juliet"

"Kalau begitu saya permisi Nyonya" Ten-Ten pergi ke belakang panggung.

Ino begitu terhanyut dengan perannya sehingga dia tak menyadari penonton terpesona melihat pertunjukannya. Ino begitu bersinar seolah panggung itu adalah miliknya. Sai dan Itachi menjadi salah satu dari sekian banyak mata yang terpaku pada sosok Juliet yang dibawakan oleh wanita berambut pirang itu.

Cara Ino menginterpretasikan Juliet sebagai remaja yang naif dan gegabah terasa begitu segar di mata Sutradara Itachi Uchiha. Dia terpukau dengan setiap mimik dan gerakan kecil yang tampak begitu natural. Ia semakin bingung mengapa tak seorang pun memberikan wanita itu pekerjaan. Wanita itu berakting dengan profesional dan detail.

Dengan senang hati Itachi memutuskan untuk memberi kesempatan Ino untuk mengikuti audisi. Bakat alami dan kemampuan tekniknya begitu tinggi. Bila Instingnya benar akan jadi sangat menarik melihat Ino dan Sasuke beradu akting di depan kamera. Banyak aktris gagal bersinar begitu berakting dengan Sasuke karena adiknya sangat serius dan intens sehingga para pemeran lainnya jadi terlihat biasa saja. Makanya Sasuke hanya diperkenankan untuk mengambil karakter yang sesuai dengan image asli sang aktor agar dia tidak jadi terlalu berusaha.

Sai sendiri diam membisu. Matanya terpaku melihat aksi wanita itu di atas panggung. Begitu mudahnya Ino menyesuaikan diri dengan peran yang dia bawa.

Sekarang dia mengerti Lady escort Mizuna Kasane yang dia kenal adalah salah satu peran yang dia bawakan di dunia nyata. Kalau begitu apa dia mengenal Yamanka Ino? Mungkin tidak. Tapi apa dia ingin mengenalnya? Sai tercenung. Mungkin kah dia menaruh perasaan pada wanita yang merupakan enigma. Siapa yang sebenarnya membuat dia tertarik sang lady escort atau sang artis? Dia tak akan pernah punya kesempatan untuk mendalami perasaannya karena wanita itu jauh dari jangkauan tapi dia akan merasa amat senang bila Ino bisa meraih mimpinya.

Begitu adegan terakhir selesai dimainkan dan tirai telah tertutup. Ino kembali menjadi dirinya. Tepuk tangan terdengar membahana dari bangku penonton. Ia tersenyum sepertinya mereka sukses malam ini.

Sekali lagi para pemain muncul di panggung untuk memberi hormat. Dia antara para penonton yang tidak banyak jumlahnya Ino melihat wajah Sai sekilas. Apa pria itu disini atau salah lihat.

Shikamaru mengajak Sai memberi salam ke belakang panggung. Tapi pria itu menolak dengan alasan dia mesti mendiskusikan sesuatu dengan Itachi. Pria berambut nanas itu tak memaksa dan membiarkan koleganya pergi begitu saja. Tapi ia menceritakan pada Temari dan yang lainnya. Sai dan Itachi menonton pertunjukan mereka.

Ino merasa amat sangat kecewa mengetahui Sai berada di sana dan tak menyapanya. Mengapa? Kalau pria itu tak menyukainya kenapa datang kemari untuk menonton pertunjukannya. Yang lebih mengejutkannya lagi Shikamaru berkata Sai yang mengajak Itachi Uchiha kemari untuk menonton pertunjukan. Untuk apa mereka berdua di sini. Ino tak paham sama sekali.

Temari mengadakan pesta setelah pertunjukan usai tapi Ino tak ingin ikut. Dia masih ke pikiran dengan tingkah Sai. Apa kah mereka teman atau cuma kenalan. Atau Sai hanya menganggapnya sebagai wanita panggilan yang bisa dilupakan bila sudah tak butuh. Ino melamun di sudut ruangan ketika yang lainnya sudah mulai beranjak pergi.

"Hey mengapa wajahmu tertekuk begitu?" Sabaku Gaara menghampiri Ino.

"Aku sedang tak ingin berpesta" Ino mengemasi tasnya dan melangkah ke luar tapi pria itu mencegatnya.

"Ino. Temari akan sedih bila kau tak ikut. Aku tak tahu apa masalah pribadimu. Tapi malam ini adalah kesuksesan team Royal teater dan kau juga salah satu anggotanya. Apa kau mau merusak mood semua orang karena masalah pribadimu?"

"Baiklah..baiklah aku ikut kalau begitu" Ino mengubah pikirannya. Gaara benar. Dia tak bisa pergi begitu saja hanya karena kecewa Sai memilih untuk tak menemuinya. Bagaimanapun dia harus berterima kasih karena berkat Temari dan kawan-kawan dia bisa pentas lagi dan ini patut dirayakan.

Rock Lee muncul di pintu. "Hei mengapa kalian lama sekali. Yang lain sudah menunggu di luar"

"Kami ke sana Lee"

.

.

Setelah pertunjukan berakhir Sai dan Itachi mengobrol sebentar di Bar. Mereka tentu saja membahas tentang pekerjaan.

Pria yang lebih tua itu memesan bir dan Sedangkan Sai memilih wishky yang lebih keras

"Kau tidak keberatan aku merokok" Sai bertanya pada sang sutradara. Merokok kini memang menjadi kebiasaan buruknya terutama bila ia sedang bekerja.

"Bisa aku minta?"

Sai mengulurkan bungkus rokoknya dan menyerahkan pemantik pada sutradara itu.

"Aku memutuskan untuk mengaudisi Yamanaka Ino tapi aku juga akan memilih lima orang aktris top menjadi saingannya. Meski aku sudah melihat bakat wanita itu malam ini aku masih tidak yakin dia bisa menyaingi aktris-aktris yang telah berkarier bertahun-tahun"

"Tak masalah. Ino mendapat peran ini atau tidak bukan masalah untukku. Yang penting dia mendapat kesempatan berkompetisi dengan penilaian yang jujur dan adil. Aku percaya kau adalah produser yang objektif jadi aku tak akan meragukan penilaianmu. Dia sangat kecewa di pesta saat kau berkata akan melakukan audisi tertutup" Sai begitu memperhatikanIno. Hingga ia sempat melihat ekspresi kecewanya meski sekilas.

" Tentu saja aku harus melakukannya. Aku tak ingin menghabiskan waktuku hanya untuk menyortir ratusan kandidat. Apa Kau menyukai wanita itu? Sampai memintaku melakukan ini"

"Aku tak tahu. Aku hanya merasa ingin membantunya karena dia telah membantuku aku rasa dia pantas mendapatkan kesempatan" Sai meraih gelas nya . Rasanya minumannya sedikit pahit dan keras membakar tenggorokannya tapi tidak buruk.

"Aku mau kau merevisi naskah itu"

"Aku tahu tak mungkin sekali tulis langsung sempurna. Apa idemu?"

Itachi kemudian menjelaskan dengan detail adegan apa saja yang ingin dia lihat dan hubungan tiap karakternya.

"Lalu bagaimana ending-nya?"

Sang Sutradara tersenyum "Buatlah sekompleks mungkin. Happy Ending bukan pilihan"

"Aku setuju. Ending yang tragis akan mengejutkan penonton"

"Kau dan aku sepaham. Sepertinya kita akan bekerja sama dengan baik"

.

.

Ino memarkirkan mobilnya. Hari ini dia tampak kuyu bahkan dia terlalu malas untuk menutupinya dengan make up. Semalam mereka semua mabuk berat dan Ino tak tahu apa yang dia lakulan pada Gaara. Tahu-tahu saja dia terbangun di rumah pria itu. Semua peristiwa di pesta tampak buram di ingatannya. Dia hanya minum dan terus minum mencoba menghapus rasa frustrasinya pada Sai Shimura. Ino tahu ini hari minggu seharusnya dia bisa tidur dengan santai di rumah sambil menunggu hang overnya hilang tapi dia tak bisa melewatkan kelas spesial Kurenai.

Ino mengernyit karena sakit kepalanya. Dia berjalan menuju auditorium di mana kelas pendalaman karakter berlangsung tanpa di duga dia berpapasan dengan Si sombong Uchiha.

"Wow...wow kau tampak berantakan Ino"

Sakit kepala Ino jadi bertambah parah gara-gara melihat tampang Sasuke

"Aku tak punya urusan denganmu. Jangan bicara lagi denganku"

"Tentu saja. Kau mendapatkan yang kau mau dengan memanfaatkan Sai Shimura. Jadi kau tak membutuhkan bantuanku"

Mendengar nama Sai disebut-sebut Ino seketika berhenti melangkah untuk menatap mata Sasuke

"Apa maksudmu dengan itu?"

"Manis sekali kau berpura-pura lugu. Kau membuat Sai Shimura mengancam kakakku agar menerimamu untuk ikut audisi. Kau tahu kan Sai itu menulis naskah untuk film terbaru Itachi. Apa yang kau lakukan untuknya hingga dia mau menuruti keinginanmu Ino."

"Sasuke, Aku tak tahu menahu soal ini" Ino tampak bingung. Mengapa Sai melakukan hal ini. Pria itu tak pernah menghubunginya sekali pun sejak acara penghargaan itu. Apa karena ini Itachi Uchiha muncul di teater royal.

"Kau memang pintar berakting Ino. Bahkan kebohonganmu pun terlihat nyata. Sekarang aku menyadari kau ternyata wanita ambisius yang berbahaya"

Tak senang mendengar nada bicara Sasuke Ino membalas pria itu dengan sepat "Apa kau sakit hati karena aku menolak tawaranmu. Aku tak butuh bantuanmu untuk mengangkat karierku"

"Aku beranggapan kau pengecut Ino. Mengolah pria lugu seperti Sai tentunya lebih mudah daripada memanipulasiku"

"Pendapatmu tak penting Sasuke"

Sasuke tersenyum sinis "Begitu? Jangan lupa Ino. Bila kau ingin hidup di dunia hiburan pastikan kau tidak bermusuhan dengan Uchiha"

Pria itu berlalu meninggalkan Ino yang darahnya mulai mendidih. Pria brengsek itu mengancam untuk menghancurkan kariernya yang bahkan belum di mulai. Ino memutuskan untuk menemui Sai. Apa yang sebenarnya pria itu inginkan dengan melakukan ini.