The Glass Half Empty.
.
Chapter 07
.
Why Do You Care?
.
.
Yamanaka Ino menggigiti kuku jari tangannya yang di manicure sempurna. Dia merasa cemas haruskah dia menemui Sai hanya karena omongan Sasuke yang belum jelas kebenarannya. Sampai saat ini masih belum ada orang yang menghubunginya untuk membicarakan masalah audisi. Bagaimana bila pria itu tidak ada di rumah? Bagaimana bila dia tak mau bertemu dengan Ino? Canggung rasanya bertemu mantan pelanggan untuk membahas hal pribadi. Ino masih mematung berpikir memencet bel apartemen itu atau tidak.
"Mizuna, Mengapa kau berdiri di depan pintuku?"
Ino panik seketika mendengar nama aliasnya disebut. Wanita berambut pirang itu menolehkan wajahnya. Jantungnya langsung berhenti sesaat sebelum berdebar kencang. Itu Sai? Berapa lama Ino tak melihatnya? Mengapa tiba-tiba pelanggannya yang suram, hambar dan awut-awutan mendadak jadi pria keren begitu.
"Um...anu.. ada yang ingin aku bicarakan" Rasanya Ino ingin menabok dirinya sendiri. Mengapa dia jadi salah tingkah begini.
Pria itu berdiri di sebelahnya kemudian meletakan tas belanjaannya di lantai. Dari dalam sakunya celananya dia meraih kunci dan membuka pintu karena mereka berdiri cukup dekat, pria itu tanpa sengaja menghirup wangi parfum floral yang selalu Ino gunakan. Ia memegang gagang pintu dengan sedikit lebih kencang mencoba menepis rasa girang yang dia rasakan karena wanita itu berada di sana.
"Mau bicara di dalam?" Suaranya rendah dan tenang menutupi kegugupannya.
Ino mengangguk mengikuti pria itu masuk ke apartemennya lalu memutuskan duduk di sofa sambil menanti Sai kembali dari dapur meletakkan barang belanjaannya.
Sai membuka kulkas dan menuangkan segelas air dingin yang dengan cepat dia teguk hingga tandas. Masih merasa tegang pria itu mengusap wajahnya. Dia tak menduga akan melihat Mizuna berdiri di depan pintu apartemennya. Sai tak pernah berharap wanita itu akan mengunjunginya setelah sekian lama tak pernah mengontaknya.
Apa yang harus dia lakukan sekarang ketika objek fantasi yang sebulan ini menghantui dirinya duduk manis di sofa. Tanpa sadar dia mengacak-acak rambut pendeknya yang tadinya tersisir rapi sambil mondar-mandir di dapur kebingungan. Menduga-duga apa yang membawa Ino kemari. Merasa tidak sopan membiarkan wanita itu menunggu lama dengan langkah gontai dia berjalan ke ruang tamu.
"Sai, Apa kabar?" Ino memulai percakapan dengan basa-basi.
"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja"
Ino menatap Sai naik turun. Mau tak mau menilai penampilan baru pria itu yang tampak modis "Kau mengubah penampilanmu?"
"Bukankah kau yang menyarankan aku membuang semua isi lemariku yang lama dan menggantinya dengan pakaian yang kau pilihkan waktu itu"
"Kau menuruti yang aku katakan?"
Pria berkulit pucat itu mengangguk "Aku baru sadar penampilan ternyata cukup penting. Shino dan Shikamaru juga senang aku terlihat layak. Bagus untuk publikasi katanya. Mengapa kau datang kemari?"
Ino terdiam sesaat sebelum akhirnya bicara "Apa kau datang ke pagelaran Drama ku?"
"Iya. Shikamaru mengajakku. Jadi aku datang"
Ino merasa kecewa mendengar alasan Sai. Ternyata pria itu datang hanya karena diseret Shikamaru bukan untuk melihatnya.
"Mengapa tak ikut menyapa kami ke belakang panggung?"
"Aku ragu. Apa kau mau bertemu denganku lagi di luar konteks pekerjaan? Bagi Mizuna aku hannyalah pelanggan dan aku bukan siapa-siapa bagi Yamanka Ino. Aku tak ingin mencampuri kehidupan pribadimu bila kau tak mau"
Ino mengepalkan tangan di pangkuannya. Jadi dia dan Sai sama menahan diri gara-gara situasi tak jelas ini. Ino sadar dia sendiri yang bilang enggan mencampur adukan pelanggan dengan kehidupan pribadinya tapi baginya Sai adalah pengecualian dia merasa nyaman-nyaman saja menghabiskan waktu dengan pria itu. "Kalau aku bilang kita bisa berteman. Apakah kau tak akan ragu untuk menghubungiku?"
Sai terkejut mendengar pertanyaan Ino, "Entahlah Ino, Aku tak tahu apa yang kita berdua bisa lakukan bersama. Kau dan aku terlalu berbeda untuk menjadi teman" Tanpa pria itu sadari jawaban logisnya menciutkan hati wanita itu.
Meski begitu Ino tetap mencoba untuk tersenyum dan tak menganggap serius omongan Sai. Mungkin bagi pria penyendiri sepertinya sulit untuk mencerna arti kata teman. Pria itu tak pernah merasa butuh teman.
"Sai sebenarnya aku kemari untuk memastikan sesuatu. Benarkah kau memaksa Itachi untuk memberikanku kesempatan audisi di film yang akan kalian kerjakan?"
Pertanyaan Ino membuat Sai tertegun, tidak seharusnya wanita itu tahu. Dia lupa berpesan pada Itachi untuk merahasiakan hal ini "Siapa yang memberitahumu? Pekerjaanku hanya menulis naskah. Casting pemeran itu urusan Itachi aku tak ikut campur. Memang pihak rumah produksi sudah menghubungimu?"
"Belum ada orang yang menghubungiku tapi Sasuke bilang kakaknya akan mengundangku untuk ikut audisi"
"Bila itu memang benar mungkin karena Itachi tertarik dengan bakat aktingmu. Ingat Itachi juga menonton dramamu"
"Benarkah kau tak memaksanya?" Ino tentu saja curiga. "Mengapa pula pria sibuk seperti Itachi Uchiha bisa mampir ke pertunjukan teater amatir?"
"Itu karena aku memintanya untuk bertemu di sana. Aku pikir setelah urusan kami selesai Itachi akan langsung pergi tapi dia malah ikut menonton dan menikmati pertunjukannya" Sai mencoba mengarang cerita yang kedengarannya cukup masuk akal ia tak ingin Ino merasa berhutang nantinya atau merasa kemampuannya diremehkan "Lagipula Ino. Belum tentu yang Sasuke katakan benar. Sampai saat ini kau belum mendapatkan pemberitahuan kan?"
Wanita itu menunduk memandangi tangan yang dia letakkan di pangkuannya. Benar kata Sai mungkin saja Sasuke salah informasi. It's just too good to be true. Artis amatir seperti dirinya bisa ikut audisi film yang di buat oleh sutradara dan produser kondang Uchiha "Ya, Mungkin saja Sasuke mengerjaiku. Pria itu bisa jadi sangat menyebalkan dan keterlaluan"
"Kau dekat dengan aktor itu?" Perasaan apa ini? Tiba-tiba saja Sai tak suka mendengar Ino menyebut nama Sasuke. Dia ingat pria itu menghina Ino di pesta tapi seperti apa sebenarnya hubungan mereka.
"Tidak kebetulan saja dia sering muncul di kelas akting dan sahabatku sedang mengejar-ngejarnya"
"Begitu? Tapi Itachi bilang Sasuke tertarik padamu"
"Masak?, Sayangnya aku tak tertarik pada pria brengsek itu"
Sai merasa amat sangat lega mendengarnya. Aneh mengapa penting baginya mengetahui Ino tak sedang tertarik dengan siapa-siapa. Semenjak dia bertemu Mizuna sistem otaknya tak berjalan normal. Sering kali bayangan wanita itu mengganggu konsentrasinya dan dia tak menyukainya.
"Ah, Maaf aku lupa menawarkanmu minuman"
" Tak apa Sai, aku akan pergi sekarang. Aku hanya ingin tahu kebenaran kata-kata Sasuke" Wanita itu berdiri dan melangkah ke luar. Langkahnya meninggalkan Sai terasa begitu berat sepertinya dia menyukai pria itu.
Sai mengantarnya sampai di ambang pintu "Mizuna bila memang kau mendapatkan undangan audisi percayalah itu karena kau memang layak mendapatkan kesempatan"
"Kesempatan itu tak datang begitu saja tapi dibuat dengan usaha dan bila benar aku mendapatkannya berarti ada seseorang yang berusaha membuka jalan untukku" Ino menatap mata Sai yang kelam guna mencari kebenaran.
Dia menyerah saat sorot mata menyelidik dan cerdas itu mencoba menembus kebohongannya, "Aku merekomendasikanmu tapi jangan salah aku tak memaksa Itachi. Aku hanya memintanya untuk mempertimbangkan dirimu. Kau di terima atau tidak semua keputusan di tangannya"
"Mengapa kau melakukannya? Aku bukan siapa-siapa untukmu" Ino tak percaya Sai melakukan ini untuknya.
"Mizuna..."
"Panggil aku Ino" sela wanita itu. "Saat ini aku bukan wanita sewaanmu jadi panggil aku Ino"
"Ino, Aku hanya ingin membantumu. Lagi pula ini bukan urusan besar. Aku hanya menyebut namamu di depan orang yang tepat dan keberhasilanmu nanti tak ada hubungannya denganku. Semua tergantung dari usaha, bakat dan keberuntunganmu untuk meyakinkan Itachi kau pilihan terbaik"
"Terima kasih Sai, Kau sudah membuka jalan untukku. Aku akan memanfaatkannya dengan baik " ucap wanita itu dengan wajah berbinar.
Seulas senyum tersungging di wajah Sai yang biasanya miskin ekspresi "Sama-sama"
"Dan satu lagi. Aku kira kau salah bila menganggap kita tak bisa berteman. Pria dan wanita bisa menjadi teman kencan"
Pria berkulit pucat itu tercengang mendengar pernyataan Ino. Apa maksudnya?. Belum sempat Sai berkedip wanita itu sudah berjinjit mendaratkan ciuman di pipinya. Tangannya yang halus membelai pipi tirus pria itu.
"Ino...Aku" Sai mencoba untuk bicara tapi wanita itu mendiamkannya dengan meletakkan jari telunjuknya yang di bibir Sai yang tipis.
"Ssht...Pikirkan saja dulu usulku. Lain kali hubungi aku. Kau punya nomorku kan" Wanita itu melangkah pergi. Sai masih saja tercengang. Tanpa sadar dia menatap pinggul Ino yang bergoyang seiring langkah kakinya menjauh penuh percaya diri. Ia melihat wanita itu sampai menghilang dari pandangan sebelum masuk rumah dan kembali menutup pintu.
'Apa maksud Ino. Teman kencan?' Sai memikirkan implikasi dari kata-kata wanita itu. Ino ingin berkencan dengannya. Wajah pria itu langsung merona merah menyadari pendekatan gamblang wanita berambut pirang itu. Apa itu artinya Ino menyukainya?
Ino sendiri termenung dalam mobilnya. Menyesali apa yang dia katakan. Wanita itu berharap tidak menakuti Sai dengan pendekatan blak-blakannya. Dia begitu gembira mengetahui Sai membantunya membuatnya lupa betapa tertutupnya pria itu. Semoga saja ajakan kencan Ino tidak dianggap ofensif. Dia sudah menyampaikan maksudnya dengan jelas dan dia hanya bisa menanti jawaban darinya. Tapi Ino yakin jawaban pria itu tak akan mengecewakan karena dia sekarang paham di balik sifat pendiam dan tertutupnya Sai peduli padanya.
.
.
Sabaku Gaara diam dengan tenang membiarkan make up artist menyelesaikan pekerjaan mereka. Dia masih belum bicara dengan Yamanaka Ino tentang apa yang terjadi malam itu. Sebisa mungkin Gaara ingin bersikap seolah tak ada apa-apa. Wanita itu mungkin mabuk total dan lupa dengan apa yang dia lakukan keesokan harinya tapi dia melakukannya dengan sadar benar dan dia tak bisa melupakan wanita itu menangis di pelukannya. Sambil mengucapkan nama pria lain. Apa Ino sedang patah hati?. Dia jadi mengetahui hal-hal yang tak harusnya dia ketahui. Ternyata di balik wajah yang selalu berbinar ceria dan optimis Ino menyimpan kehidupan yang kelam.
Salah seorang kru masuk ke trailernya. "Gaara kau sudah siap? Kita akan mengambil video sepuluh menit lagi"
"Baiklah" Make up dan kostumnya sudah beres. Hari ini mereka memulai pengambilan gambar untuk lagu debut mereka my fallen maiden. Sebuah lagu tentang kecemburuan dan pengkhianatan.
Para kru, produser dan band-nya sudah siap di lokasi. Sebuah hutan yang di penuhi pohon mapel yang daunnya mulai berwarna kemerahan memasuki musim gugur. Sinar matahari sore yang masuk menembus sela-sela dedaunan yang lebat memberikan bias kekuningan pada tanah dan pepohonan. Ino sudah memulai pengambilan gambarnya. Wanita itu berdiri di tengah-tengah daun yang berguguran menatap penuh harapan ke langit. Rambut panjangnya di biarkan tergerai. Gaun putih menyentuh tanah berbahan renda tipis yang dia kenakan bergoyang tertiup semilir angin. Belahan roknya yang tinggi tersingkap memamerkan kaki jenjangnya. Semua mata terhipnotis dengan kecantikan wanita itu yang kali ini tampak etheral . Gaara tak sanggup memalingkan mata ketika Ino menoleh menatap kamera dan memberikan senyum paling innocent yang pernah ia lihat.
"Cut" Suara produser menyelesaikan pengambilan gambar untuk take pertama. Kebetulan Gaara tengah berdiri di sebelahnya dan kameramen. "Gaara kau memilih model yang luar biasa" Pria tambun itu tampak puas melihat rekaman ulang gambar yang telah diambil tadi.
"Dia memang berbakat" komentar pria itu singkat.
"Sekarang kau siap-siap untuk pengambilan gambar berikutnya. Cepatlah ke posisimu. Aku ingin kau memberikan suasana sensual untuk take yang kedua" perintah sang produser padanya.
"Akan kucoba" Gaara berharap produser tidak menuntut banyak darinya. Dia seorang penyanyi bukan aktor. Hanya karena wajahnya tampan dan menjual mereka ingin Gaara ikut berperan di video klipnya.
Pria itu melangkah ke arah Ino "Hai" Gaara mencoba menyapanya.
"The devil huh?, Kau terlihat sangat cocok dengan semua leather dan metal cuff yang kau kenakan itu. Kau terlihat berbahaya Gaara" bila Ino mengenakan kostum serba putih lembut dan feminin. Vokalis band rebels itu berpakaian serba hitam dengan material tebal berat dan kaku. Ino adalah gadis lugu dan Gaara menjadi pria brengsek yang suka menggoda wanita.
"Menjadi bajingan sudah jadi bagian dari hidupku. Aku tak perlu berakting untuk menjadi pria brengsek"
"Begitukah?" Ino mengangkat alisnya tak percaya.
"Kalian siap?" Sutradara berteriak pada mereka. "Kamera roll, Action"
Adegan perjumpaan mereka dimulai. Gaara melangkah melintasi pepohonan menatap si gadis yang tersesat dan mengulurkan tanggangnya dengan kaku. Ino meraihnya dan menatap sang Iblis dengan terpesona. Jantung Gaara langsung berdebar 'jangan goyah ini hanya akting' ucap pria itu pada dirinya sendiri
"Cut. Kita harus mengulanginya lagi. Kau tidak terlihat natural Gaara"
Gaara mendesah. Sudah dia duga akting bukan merupakan salah satu bakatnya. Mereka terpaksa mengulang adegan itu berkali-kali. Hingga Gaara merasa frustrasi.
Ino menepuk bahu pria berambut merah itu "Mau dengar saran aktris profesional. Anggap saja kru dan kamera tidak ada. Hanya ada kau yang berusaha menggodaku"
"Boleh juga saranmu"
"Kalau begitu. Ayo!" Ino melangkah ke posisinya yang tadi.
Gaara mencoba mempraktikkan saran Ino. Dia bahkan tak mendengar sutradara sudah mengaba-abakan kata action. Dia hanya memfokuskan dirinya hanya pada lawan mainnya. Seorang wanita yang tanpa sengaja menarik perhatiannya. Dia melangkah mendekat pada wanita yang diam-diam dia selalu perhatikan ketika ia mengunjungi Teater. Gaara tersenyum pada Ino. Senyum sensual yang biasanya membuat fans wanitanya menjerit-jerit. Gaara mengulurkan tanggangnya berharap Ino akan meraihnya dan memberitahunya dia bukan lagi sekedar adik Temari.
Manik aquamarine menatap bola mata berwarna hijau pupus seolah terhipnotis Ino melangkah mendekat pada Iblis yang tersenyum dengan seksinya tapi yang paling mengejutkan dia bisa melihat pria itu menginginkannya. Ada rasa takut dan juga keingintahuan. Melihat tangan yang terulur itu Ino meraihnya.
Gaara tersenyum lebih lebar merasa menang ketika sang mangsa masuk perangkapnya. Dia menarik wanita itu dan meraih pinggangnya. Ino mendongak pandangan mata mereka terkunci satu sama lain. Gaara menunduk untuk mencium bibir pink yang merekah sempurna. Wanita ini miliknya.
"Cut" Suara itu menyadarkan Gaara semuanya sudah selesai. Dengan enggan dia melepaskan Ino. Semakin lama syuting video klip ini semakin menyiksa saja.
"Kalian berdua bekerja dengan sangat baik. Kali berdua terlihat natural. Aku suka dengan chemistry-nya" Sang produser tampak puas setelah satu jam lebih mengambil adegan yang sama.
Ino menatap Gaara penuh tanda tanya " Gaara tidak tertulis ciuman dalam script-nya"
"Maaf-sepertinya aku terbawa suasana. Terima kasih sudah bekerja sama denganku hari ini"
"Akulah yang harus berterima kasih. Kau membuatku mendapatkan pekerjaan ini. Senang sekali bisa berakting di depan kamera. Meski hanya untuk sebuah musik video berdurasi kurang dari lima menit"
"Sampai jumpa besok di studio Ino" pria berambut merah itu melangkah ke arah trailer-Nya. Pengambilan gambar hari ini telah usai. Sisanya akan dilakukan di studio. Gaara ingin cepat-cepat pergi sebelum dia melakukan hal yang lebih bodoh seperti mengakui ketertarikannya pada wanita itu.
Ino pun pergi mengganti pakaiannya. Matahari sudah hampir terbenam. Dia tak mau ambil pusing dengan Gaara yang menciumnya. Itu cuman akting mengapa dia mesti terkejut. Lagi pula ada hal yang lebih memusingkan baginya. Sudah tiga hari berlalu dan Sai Shimura tak menghubunginya. Apa yang salah dengan pria itu.
Sampai di rumah Ino mandi dan menghempaskan dirinya di kasur. Ia lelah menunggu. Kalau begini biar dia saja yang langsung bertanya. Ino meraih ponselnya dan mulai menulis pesan
Barbie Blondie : Mengapa tak menghubungiku?
Ino menunggu hingga satu jam belum ada jawaban. Wanita itu kesal. Hingga ketika dia memutuskan untuk tidur barulah handphone nya berbunyi.
Sai : Maaf. Aku sibuk
Wanita itu membanting ponselnya di kasur dengan kesal. Mengapa Sai membuatnya begini frustrasi. Sesibuk apa sih seseorang sampai tak bisa mengirim sekedar pesan. Mungkin Sai memang tak mau menghubunginya.
Ponsel Ino berbunyi lagi. Buru-buru dia membaca pesannya berharap itu Sai tapi ternyata bukan
The Rebel : Selamat tidur Ino. Aku benar-benar minta maaf soal ciuman tadi. Semoga produser mengeditnya.
Barbie Blondie : Tak masalah buatku. Toh hanya akting. Mengapa kau ingin adegan itu di potong. Takut Temari menggodamu sampai liang kubur?"
The Rebel : Itu salah satunya. Aku tak ingin orang salah paham dan mengira aku memberimu pekerjaan karena tertarik padamu. Bagaimana hubunganmu dengan Sai Shimura?
Barbie Blondie : Bagaimana kau tahu nama itu?
The Rebel : Kau sendiri yang cerita. waktu kau mabuk berat malam lantaran dia mengabaikan wanita cantik sepertimu.
Barbie Blondie : OMG, aku tak ingat. Apa lagi yang aku lakukan. Aku terbangun di apartemenmu dan kau langsung mengantarku pulang tanpa penjelasan.
The Rebel : Aku tak akan memberitahumu. Kalau kau tak ingat biar hal itu jadi rahasiaku sendiri. Aku juga merekam sesuatu. LOL
Barbie Blondie : Memang apa yang aku lakukan?
The Rebel : Sesuatu yang memalukan pastinya. Bila pria itu menolakmu. Jangan di pikirkan. Just move on. Sampai jumpa besok di studio.
Ino menggigiti bibir bawahnya. Apa sebenarnya yang telah terjadi pada dirinya sewaktu mabuk. Ya Tuhan, Ino berjanji mulai detik ini dia akan menjauhi alkohol. No more drunken sex or perhaps drunken confession. Sikap Gaara yang tak ingin membicarakannya malah membuat Ino semakin penasaran. Bila pria itu mendengar nama Sai dari mulutnya mangkinkah Ino mabuk dan mengeluarkan unek-uneknya pada pria itu atau lebih parah lagi menjadikan pria itu sebagai objek pelampiasan. Uh..Poor Gaara tapi salah pria itu sendiri memilih duduk dengannya di sisi lain Ino berpikir mungkin dia dan pria berambut merah itu bisa berteman.
.
.
Sai menatap nar-nar tembok apartemennya yang kosong. Dengan tarikan nafas panjang dia meletakkan ponselnya di meja. Dia terlihat lelah dan bingung. Apa yang harus dia lakukan dengan Yamanaka Ino? Mungkin dia butuh bantuan karena dia tak mampu mengambil keputusan. Pikirannya dan hatinya tak pernah berkonflik seperti ini sebelumnya. Dia menginginkan wanita itu tapi di sisi lain dia tak bisa melawan ketakutan apa yang akan terjadi bila dia membiarkan wanita itu memasuki kehidupannya. Dia khawatir keberadaan Ino akan mengubah segala hal yang sudah tertata dengan rapi dan memberikannya kenyamanan selama ini. Sai tak pernah ingin terlibat dengan gejolak emosi yang pastinya tak akan bisa dia hindari bila ia dan Ino berkencan. Semua ini terlalu menakutkan baginya. Dia bisa kehilangan dirinya sendiri bila membiarkan Ino menguasai dirinya. Sai Shimura tak butuh siapa-siapa. Selama ini dia baik-baik saja sendirian tapi dia tak bisa melepaskan obsesinya pada Mizuna Kasane.
Pria berambut hitam itu pergi ke kamar tidur merebahkan dirinya di atas kasur mencoba memejamkan matanya dan tidur. Haruskah dia membuat keputusan berdasarkan hatinya atau mendengarkan logikanya. Yang jelas kehadiran Yamanaka Ino membuat hidupnya yang sederhana menjadi semakin rumit. Mungkin dia bisa minta pendapat Shikamaru dan Shino. Dua pria itu pastinya lebih ahli soal perasaan dan wanita daripada dirinya. Perlahan-lahan kantuk mendatanginya begitu ia terlelap Sai bermimpi tentang wanita berambut pirang yang mendesah manja padanya.
.
.
Pintu kelas terbuka. Sasuke menoleh dan kecewa ternyata bukan wanita berambut pirang yang berdiri di sana. Melainkan si pinky. Aktor kenamaan itu sengaja datang ke kelas yang sebenarnya tak perlu lagi dia ikuti hanya untuk menemui Yamanaka Ino tapi sudah seminggu ini wanita itu tak pernah muncul. Dia jadi khawatir apa dia bersikap keterlaluan pada wanita itu. Dia hanya menyukai melihat wanita itu marah dan menentangnya. Jadi sebisa mungkin Sasuke selalu berusaha mencari perhatiannya meski dengan cara negatif karena jujur saja Sasuke tak tahu cara menjadi Nice. Tanpa Ino kedatangannya kemari jadi sia-sia.
"Sasuke-kun, Kau ikut kelas ini lagi?" Sakura tersenyum riang melihat pria incarannya mengikuti kelas yang sama. Sakura selalu berusaha ramah meski Sasuke selalu dingin padanya. Ia tak mau menyerah untuk mendapatkan cinta pertamanya begitu saja.
"Hn.. apa kau tahu ke mana teman pirang mu? Aku tak melihatnya beberapa hari ini"
"Oh Ino. Dia sedang syuting video klip. Mengapa kau menanyakannya?"
"Karena aku sedang ada urusan dengannya"
"Boleh aku tahu apa urusanmu dengan Ino?" Sakura tiba-tiba merasa sedikit aneh. Kenapa Sasuke mencari Ino. Sepengetahuan Sakura mereka bahkan tak pernah bertegur sapa. Apa ada yang berubah di antara mereka selama dua bulan dia cuti karena kesibukannya.
"Aku ingin kencan dengannya" jawab Sasuke singkat tanpa memedulikan perasaan Sakura padanya.
"Mengapa harus Ino?"
"Nona Sakura, Haruskah aku menjelaskan bagiku Ino wanita yang lebih menarik darimu" Sasuke Uchiha berlalu begitu saja tanpa memedulikan wajah Sakura yang mulai memerah menahan air mata.
Dia baru saja dibandingkan dengan sahabatnya oleh lelaki yang dia taksir. Apa Ino mendekati Sasuke ketika dia sedang pergi. Apa mungkin Ino melakukan hal seburuk itu? Padahal sahabatnya itu tahu Sakura sudah menyukai Sasuke bertahun-tahun lamanya. Mungkinkan selama ini Ino berencana menusuknya dari belakang karena Iri dengannya. Sakura mulai berpikir buruk tentang Ino sehingga dia lupa dan tutup mata pada kenyataan Sasuke terkenal sebagai pria brengsek dan menyebalkan.
.
.
Dahi Shikamaru berkerut menatap penulisnya yang duduk terpaku di depannya mengharapkan sebuah pencerahan "Ino mengajakmu kencan. Jelas artinya Ino menyukaimu. Di mana letak masalahnya Sai aku tak mengerti? Kalau kau juga suka tinggal bilang iya. Kalau tidak suka bilang saja tidak"
"Kau membuatnya terdengar simpel"
"Karena memang simpel. Kau dan cara berpikirmu saja yang membuatnya menjadi ruwet"
"Tapi?"
Shino yang duduk di antara mereka melontarkan satu pertanyaan penting "Apa kau menyukai Ino?"
"Tentu saja"
"Apa kau ingin punya pacar?"
Pertanyaan Shino tak langsung dijawab oleh pria berkulit pucat itu. Dia terdiam cukup lama di bawah tatapan bingung kedua orang rekannya "Aku tak tahu. Semakin aku berpikir membiarkan seseorang memasuki hidupku aku jadi semakin cemas akan kemungkinan seorang pacar akan mengacaukan kehidupan pribadiku"
"Sai, Sudah lama kami merasa kau punya masalah. Kecemasan dan ketakutanmu berhadapan dengan publik. Keenggananmu untuk bersosialisasi. Sifatmu yang tertutup dan rahasia. Ini pertama kalinya kau menceritakan masalah pribadimu pada kami setelah sekian tahun bekerja bersama aku rasa sebaiknya kau menemui psikiater"
"Kalian menginginkan aku menemui psikiater? Mengapa?"
"Kami peduli padamu. Sikap dan pola pikirmu yang seperti itu bisa membuat kariermu mandek dan kau juga pelan-pelan menyabotase kebahagiaanmu sendiri"
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku ingin bersama Ino tapi aku juga tak ingin dia menjadi terlalu dekat denganku"
Shino menepuk bahu Sai " Jelaskan semua perasaanmu padanya dengan gamblang. Beritahu juga batasan-batasan yang kau punya. Apa yang bisa kau berikan dan tidak bisa. Biarkan Ino memutuskan dia bisa menerima apa yang kau tawarkan atau tidak"
"Begitu?"
"Bicara jujur dan terbuka. Jauh lebih baik dari pada menghindar dan diam saja" Sambung Shikamaru. Pria itu menyodorkan sebuah kartu nama "Kunjungi Dokter Shizune dalam waktu dekat. Dia psikiater terbaik di kota"
Sai mengangguk dan menyimpan kartu nama itu di saku. Pria itu tak pernah menyadari kalau dia punya masalah. Selama ini dia menganggap dirinya normal. Sangat normal tapi tentu saja standar sikap normal setiap orang berbeda-beda.
Setelah meninggalkan kantor penerbit. Sai mampir pergi ke toko buku. Dia tertarik dengan buku bersampul pink dengan judul filosofi cinta. Pria itu langsung membelinya. Mungkin dia bisa belajar satu dua hal mengenai perasaannya pada Ino. Sai memutuskan untuk menemui wanita itu. Memberanikan diri untuk membiarkan Ino melihat betapa Insecure-nya dia. Dia meraih ponselnya dari saku jaketnya dan menulis pesan singkat.
Sai : Bisakah kita bertemu hari Sabtu. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan.
Dia tahu tidak ada hal yang langsung sukses. Semuanya harus butuh trial dan error untuk mendapatkan formula yang tepat serta diawali dengan keberanian untuk mengambil resiko. Begitu pula hubungannya dengan Ino. Dia memutuskan untuk tidak lagi lari dan mencoba. Barangkali dia bisa menemukan bahagia di luar zona kenyamanannya dan apabila semuanya gagal paling tidak Sai sudah mencoba. Jadi dia tak akan menyesalinya.
.
.
Ino tersenyum membaca pesan dari Sai. Akhirnya Sai memutuskan untuk bertemu dengannya. Dia merasa sangat senang. Mendekati pria tertutup seperti Sai memang butuh ekstra kesabaran. Ino merasa positif mereka saling menyukai tapi wanita itu juga sadar kompleksitas dari hubungan mereka. Bisakah Sai menerima kenyataan Ino akan tetap melakukan pekerjaannya sebagai Lady escort? Itu sesuatu yang harus mereka diskusikan tapi paling tidak untuk saat ini Sai mau sedikit membuka diri dan mengakui ketertarikan di antara mereka.
Barbie Blondie: Bagaimana kalau kita pergi makan siang. Jam 12? Aku akan menjemputmu.
Sai : Ok, Sampai jumpa hari sabtu. XOXO. Maafkan aku sudah mendiamkanmu beberapa hari. Aku butuh waktu untuk berpikir
Barbie blondie: Tak apa aku mengerti.
Gaara mendekati Ino yang tampak tersenyum-senyum sambil memegang ponselnya.
"Mendapatkan berita baik Ino?"
"Aku tak jadi ditolak sepertinya" Wanita itu tersenyum dengan lebar.
Gaara tak tahu harus merasakan apa. Senyum itu begitu menyilaukan membuatnya juga merasa senang melihat wanita itu bahagia tapi hatinya jadi merasa sakit karena kesempatannya mendapatkan perhatian Ino kian menipis.
"Kau bisa memikirkan pria itu nanti, Sekarang kita harus bekerja" Gaara menarik tangan Ino menuju set untuk mengambil adegan terakhir video klip mereka. Lain kali Gaara akan meminta produsernya untuk memakai model saja. Dia lebih suka menyanyi di back ground dan tak terlibat dengan plot story seperti ini. Mereka adalah rock band. Bukan boy band tapi sepertinya perusahaan ingin memasarkan mereka seperti boy band yang sekarang memang sedang populer.
"Kalian siap?" Produser menatap kedua orang itu yang hanya menangguk.
Gaara mengambil gitarnya berdiri di depan layar hijau menyanyikan bait terakhir lagunya "You came to me in rage and pain. Brimming in hate and jealousy from my dishonesty. Broken heart, wounded soul for everything i put you trought. When i saw your tears i know i am a bad man. I wish you will forgive me but i know i dont deserve your forgiveness for playing with your heart. I am sorry so sorry" Begitu nada terakhir dinyanyikan Gaara berdiri menunduk penuh penyesalan. Ino muncul di hadapannya penuh air mata dan kebencian. Gaun merah yang dia kenakan tampak seperti api yang membakar tubuhnya. Wanita itu menghunjamkan pisau ke tubuh pria yang mengkhianatinya mendorong sang Vokalis hingga terjatuh. Ino menatap kamera dan tersenyum puas.
"Cut" teriak sang produser.
Gaara masih tergeletak di lantai. Ino mengulurkan tangan membantunya berdiri "Kau tak apa-apa"
" Kau tampak benar-benar serius mau membunuhku eh. Kau mendorongku dengan keras" ujar pria berambut merah itu mengusap-usap kepalanya yang membentur lantai.
"Namanya juga akting butuh penghayatan. Kalau masih terlihat seperti pura-pura artinya kau tak melakukannya dengan benar"
Anggota Band Gaara mengerumuni mereka.
"Ino mau ikut merayakan selesainya syuting video klip pertama kami"
"Bagaimana ya" Ino tampak ragu.
"Ayolah, Kau harus ikut" Desak Yosuke sang Drummer.
"Baiklah. Tapi aku tak akan menyentuh alkohol"
"Ah, Tak seru" Komentar pria berambut panjang yang merupakan bassist grup tersebut.
"Aku tak ingin mabuk di depan kalian" Ino menjadi akrab dengan anggota grup the rebels. Mereka semua lebih muda dari Gaara dan meskipun terlihat sanggar mereka ternyata ramah, baik dan sangat sopan. Tak seperti pemimpin mereka yang suka sinis.
"Mungkin akan jadi tontonan seru Ino melihatmu mabuk" Gaara tersenyum geli.
"Diam kau Gaara" Mata Ino mendelik
"Kau dan Ino akrab ya" Komentar salah satu dari mereka.
"Sepanjang Syuting chemistry kalian luar biasa. Aku sampai berpikir apa kalian berkencan"
"No..No. Kami hanya berteman" ucap Ino cepat.
"Yah, untuk saat ini kami hanya teman"
Alis Ino terangkat "Apa maksudmu?"
"Tidak ada maksud apa-apa. Ayo kita pergi Sampai kapan mau memakai kostum yang tak nyaman ini"
"Kau benar"
.
.
Nyonya Tsunade sibuk memililah email-nya. Ia harus menolak banyak permintaan untuk Ino. Lady escort paling populer di agensinya itu tak lagi ingin melayani banyak tamu. Tentu saja semua terserah Ino dia tak bisa memaksa wanita itu melakukan apa yang dia inginkan. Hidup menjadi lady escort memang berat lagi pula Tsunade tahu Ino hanya ingin menjadi artis dan dia hanya mencari-cari koneksi untuk menapak dunia Entertainment
Wanita setengah baya itu tertegun melihat sebuah email dari salah seorang pelanggan baru. Mungkin pria ini yang Ino butuhkah ia tak mungkin menolak permintaan seorang Uchiha. Nyonya Tsunade langsung membalas email pria tersebut yang menginginkan kencan dengan Mizuna Kasane.
