Disclaimer : All Characters belong to Masashi Kishimoto.
A/N : Maaf lama baru up date fic ini lagi. Ini belum kelar saya malah buat fic baru lagi dengan genre crime-romance.
Semoga masih setia membaca lanjutannya meski up nya sedikit tersendat. Mind to RnR. Thank you.
The Glass Half Empty
.
Chapter 08
It's Not The End
.
.
Naruto turun dari mobil dan membukakan pintu. Ino melangkah keluar dan tersenyum pada sahabatnya "Selamat bersenang-senang"
"Salah, Harusnya kau bilang selamat bekerja" Ino berjalan memasuki hotel mewah tempat dia dan tamunya akan bertemu. Dia tak mengerti mengapa Madam Tsunade begitu senang bahkan secara langsung memberitahunya klien kali ini adalah tangkapan besar dan Ino akan menyukainya. Gaun crepe berwarna lavender-nya bergemeresik tiap kali dia melangkah. Dia di antar menuju lantai paling atas. Sepertinya klien kali ini sangat kaya dan suka pamer kemewahan. Wanita pirang itu tiba di sebuah restoran yang penuh dengan tamu berpakian formal hanya untuk makan malam. Dia tak tahu siapa nama kliennya tapi begitu dia menyebut nama Madam Tsunade pada penjaga pintu seorang pelayan datang dan mengantarnya menuju ruang makan privat. Hal ini membuat Ino semakin yakin kliennya seorang VIP.
Pelayan itu membukakan pintu. Ino melihat sosok pria berambut raven mengenakan setelan jas biru memunggunginya. Sepertinya pria itu sedang menikmati pemandangan kota yang tentunya sangat Indah dilihat dari lantai gedung setinggi ini. Perasaan Ino langsung tidak enak. Sosok ini familier baginya.
Pria itu berbalik dan di saat yang bersamaan Ino menahan nafasnya. Wanita itu terbelalak menemukan pria tampan dengan seringai arogan menatapnya.
"Mizuna Kasane, Nama yang cantik"
"Sasuke, Apa yang kau lakukan di sini?"
Pria itu melangkah mendekat "Aku menyewamu. Tak kuduga Yamanaka Ino adalah seorang lady escort terkenal di kalangan orang-orang penting. Sekarang aku paham mengapa kau bisa mengenal Sai dan Kakashi"
Wajah Ino memucat, Rahasia terbesarnya ditemukan oleh pria yang memiliki maksud tak jelas pada dirinya "Aku pergi"
Pria itu menangkap tangan Ino mencegah wanita itu lari "Tidak bisa, Aku sudah membayarmu. Kau harus berkencan denganku"
"Apa yang kau inginkan Sasuke?"
"Bicara"
Sasuke membimbing Ino ke meja makan dan menarikan kursi untuk wanita itu. Kemudian dia duduk di ujung lain meja itu dan memanggil pelayan untuk memesan makanan dan menuangkan anggur untuk mereka.
"Mengapa kau menyewa jasa escort bukankah kau tak kekurangan wanita?"
"Sebenarnya aku iseng saja. Seorang personel Akatsuki memberitahuku tentang seorang lady escort yang cantik, menantang dan hebat di ranjang. Jadi aku membuka website dan menemukan fotomu. Jelas aku ingin tahu siapa Mizuna Kasane. Mengapa kau melakukan pekerjaan ini Ino?"
Wanita berambut pirang itu meraih gelas dan meneguk minumannya dengan anggun "Jawaban apa yang ingin kau dengar?, Sudah jelas aku ingin uang dan jalan pintas untuk menembus golongan elite"
"Aku paham, Meski dari luar kau menampilkan dirimu sebagai wanita baik-baik yang lugu tapi aku selalu merasa kau menyembunyikan ambisi dan determinasi yang besar untuk meraih sesuatu di luar kemampuanmu"
"Tak semua orang beruntung sepertimu Sasuke lahir di keluarga ternama dan juga berbakat. Aku cuma punya bakat, tubuh dan mimpiku. Jadi aku hanya memanfaatkan semua yang aku punya"
"Aku tak menghakimimu. Menembus dunia artis memang tak mudah. Tak pernah cukup dengan bakat kau juga harus mengenal orang-orang yang tepat. Aku mengingatkanmu tawaranku yang waktu itu masih berlaku"
"Bagaimana bila aku menolaknya lagi?"
Sasuke tersenyum "Kali ini kau tak akan bisa menolak karena aku akan mengungkapkan rahasiamu pada publik begitu Itachi memulai audisinya. Apa kau ingin kerja keras Sai untuk mengangkatmu di mata kakakku jadi sia-sia?"
"Mengapa kau melakukan itu, Bukankah itu juga artinya kau mencoreng dirimu dengan mengumumkan kau membayar wanita untuk berkencan denganmu?"
"Apa kau lupa Ino? Aku adalah seorang Uchiha. Segila apa pun kelakuanku publik akan memaafkannya dan tetap mencintaiku. Jadi kau satu-satunya pihak yang tak diuntungkan dengan masalah ini"
Pria itu benar, Bila Ino ingin sukses dia tak bisa berseberangan dengan Sasuke dan pria itu bisa menjadi batu loncatan besar untuk kariernya tapi bagaimana dengan Sai? Ino tak ingin kehilangan pria itu dari hidupnya. Mungkin kah dia bisa memberi Sai pengertian kalau dia melakukan ini karena terpaksa.
"Boleh aku minta waktu untuk berpikir?"
"Apa lagi yang kau pikirkan, Apa kau takut kehilangan pria-pria penggemarmu? Atau kau takut kehilangan Sai Shimura"
"Diam, apa yang kau tahu"
"Pria lugu itu menyukaimu dan aku terkejut wanita sepertimu menyukainya juga"
"Kau sudah tahu aku menyukai orang lain tapi mengapa kau masih menginginkanku?" tanya Ino marah
"Karena aku selalu mendapatkan yang aku mau. Aku menginginkanmu maka aku akan mendapatkanmu"
"Tapi perasaanku tak akan jadi milikmu"
"Aku tak butuh perasaanmu"
"Kau lihat Sasuke. Kau tak benar-benar menyukaiku bagimu aku hanya mainan langka yang ingin kau punya"
"Semua wanita itu mainan. Begitu bosan tinggal dibuang tak ada yang benar-benar berharga untuk disimpan selamanya" jawabnya santai dan jujur
"Uh.. kau memang bajingan"
"Jadi kau harus jadi pacarku sampai aku bosan denganmu dan aku tak akan memaafkanmu bila kau bermain-main dengan pria lain. Aku tak suka berbagi"
"Bagaimana dengan pekerjaanku?"
"Lady escort?, Kau tak perlu melakukannya lagi. Aku akan membayar semua biaya hidupmu selama kau jadi pacarku"
Ino menunduk dia harus memilih antara impian yang sejauh ini dia kejar dengan banyak pengorbanan atau pria yang membuat hatinya tergerak. Hanya selangkah lagi dia bisa mencicipi ketenaran yang tentunya dibayar mahal. Dia sudah mengorbankan tubuhnya dan sekarang dia juga harus mengorbankan hatinya. Bila ia menolak penawaran Sasuke itu berarti usahanya selama ini akan sia-sia.
"Baiklah aku akan jadi pacarmu" Ucap wanita itu tanpa rasa antusias. Dia berharap Sasuke akan segera bosan padanya. Dengan begitu dia bisa melepaskan diri dan menjalani hidupnya lagi.
Ino kembali dijemput Naruto. Pria bermata biru itu heran mengapa ekspresi wajah Ino begitu muram "Apa yang terjadi? Klien menyakitimu lagi?"
"Tidak"
"Lalu apa yang membuatmu begitu murung"
"Naruto, Sekarang aku punya pacar dan aku dipaksa berhenti bekerja pada madam"
"Bukankah itu hal yang bagus. Aku tak mengerti mengapa kau jadi sedih gara-gara itu"
"Itu karena aku terpaksa bodoh"
"Jadi siapa pacarmu?" Tanya pria itu penasaran
"Sasuke Uchiha"
Naruto mengerem mendadak, Membuat mobil yang dia kendarai terlonjak. Mobil-mobil di belakang mereka pun membunyikan klakson
"Wow..Ino, pacarmu pria paling populer di jepang. Kau bisa jadi terkenal dengan instan"
"Tapi aku tak menyukainya" Ino tambah cemberut.
"Jadi siapa yang kau sukai? Pria aneh itu?"
"Bagaimana kau bisa menebak?"
"Karena tiap kali aku mengantarmu untuk bertemu dengannya kau tampak berbeda. Terlihat lebih santai dan ceria. Mengapa kau setuju jadi pacar Sasuke kalau begitu?"
"Karena dia mengancam akan menghancurkan kesempatanku menjadi artis"
"Santai saja Ino. Pria play boy macam Sasuke cepat bosan"
"Aku harap juga begitu"
.
.
Hari sabtu yang di tunggu-tunggu Ino tiba. Harusnya hari ini jadi hari bahagia karena dia akan berkencan dengan Sai tapi kenyataannya tak seperti itu. Ino datang ke apartemen pria itu dengan wajah suram.
"Hai " Sai menyapa wanita itu di depan pintu.
"Hai, Kita jadi makan siang?"
"Tentu saja"
Ino tak luput memperhatikan penampilan Sai yang terlihat kasual dengan pakaian yang simpel. Denim jeans pudar, T-shirt hitam polos, Sepatu sneaker. Begitu keluar dari gedung Sai mengenakan kaca mata gelap untuk menghindari terangnya sinar matahari. Ino memilih untuk makan di tempat favoritnya karena Sai tak punya ide mau makan di mana.
Sai menatap Ino dan merasa ada yang salah. Tak butuh menjadi seorang ahli untuk membaca raut muka wanita itu, bahkan pria yang tak sensitif seperti dirinya pun tahu dia sedang sedih "Ada apa denganmu?"
"Sai, Aku menyukaimu" ucap wanita itu dengan suara perlahan. Ino telah membulatkan tekad untuk mengungkapkan perasaannya. Ia ingin Sai tahu semuanya dan tidak salah paham. Meski dia sekarang pacaran dengan Sasuke. Hatinya hanya untuk pria itu.
Sai tak tahu bagaimana harus bereaksi dengan pengakuan ini. Pria itu hanya diam membisu, Terpaku karena ini pertama kalinya seorang wanita mengungkapkan perasaan padanya. Ia tak bisa segera menjawab karena takut salah bicara.
"Sai?" Ino memanggil namanya "Mengapa kau termangu begitu?"
"Maaf, Aku hanya bingung harus berkata apa. Aku berterima kasih karena kau menyukaiku"
"Apa kau juga menyukaiku?" Ino bertanya langsung ke intinya. Dengan pria macam Sai tak perlu berbicara berputar-putar karena pria itu pasti akan jadi tambah bingung.
"Aku tak tahu perasaanku Maaf, tapi aku tertarik padamu dan mungkin terobsesi"
Ino tertawa. Hatinya merasa hangat. Bagaimana mungkin merasa tertarik hingga level terobsesi bila tak diawali oleh rasa suka. Jelas sudah Sai Shimura juga menyukainya meski pria itu sendiri belum paham benar "Apa yang membuatmu berpikir kau terobsesi padaku"
"Tanpa sadar aku selalu melukismu, Mungkin simetri wajahmu yang sempurna membuat kau selalu muncul dikepalaku terus menerus" ucap pria itu dengan lugu.
"Aku tersanjung mendengarnya" Mungkin maksud Sai dia terlihat cantik.
"Sudah dengar kabar dari Itachi" Tanya pria pendiam itu sedikit penasaran. Dia masih belum bertemu Itachi lagi jadi dia tak tahu perkembangan casting film itu.
"Belum, Tapi ada masalah Sai. Sasuke Uchiha tahu kalau aku bekerja sebagai lady Escort dan dia mengancam untuk membeberkannya pada publik. Itachi tak akan mau menjadikan artis baru penuh kontroversi sebagai bintang utama filmnya"
"Lalu apa yang pria itu minta agar dia mau tutup mulut?"
"Dia minta aku jadi pacarnya" Ino terdengar sedih "Apa yang harus aku lakukan Sai?"
Pria itu terdiam "Lakukan saja. Jadilah pacar Sasuke Uchiha. Dengan begitu kariermu juga akan terangkat"
Hati Ino langsung hancur mendengarnya dari mulut Sai sendiri "Tapi aku menyukaimu"
Pria berambut hitam itu menghembuskan nafas berat. Dia tak suka mendengar Ino bersama Sasuke tapi secara realistis ini hal yang terbaik bagi wanita itu " Ino, Mimpimu lebih penting. Aku juga ingin melihatmu menjadi bintang"
"Tapi Sai, tidakkah kau sedikit pun merasa cemburu?"
" Aku merasa terganggu, tapi aku tidak cemburu karena aku tak memiliki emosi itu"
"Apa maksudmu?"
"Karena desakan Shino dan Shikamaru. Aku bertemu seorang psikiater dan aku didiagnosis mengalami schzoid personality disorder dan aku tahu aku tak akan bisa memenuhi ekspektasi mu"
"Mengapa tak bisa?"
"Selama ini aku berpikir sifatku normal-normal saja. Aku tak pernah merasa aneh atau tak bahagia. tapi kenyataannya orang-orang di sekelilingku frustrasi karena mereka merasa aku tak punya minat untuk bersosialisasi. Apa kau bisa mengerti kalau aku butuh lebih banyak waktu untuk sendirian dari orang normal. Bisakah kau menerima pacar yang tiba-tiba menghilang dan tak berkomunikasi denganmu berhari-hari? Bisakah kau menerima pria yang tak merasakan empati? Karena aku tak akan pernah bisa memahami emosimu atau mengerti mengapa kau merasakan perasaan tertentu"
"Apa itu artinya kau tak ingin bersamaku?" Mata Ino mulai berkaca-kaca tapi dia menahan tangisnya. Tak pernah dia merasa begini sakit hati
"Aku tak layak untukmu karena aku akan selalu seperti ini meski dokter bilang dengan terapi jangka panjang sifatku bisa diperbaiki tetap saja aku merasa kita malah akan saling menyakiti nantinya"
"Kau sudah menyakitiku sekarang" ucap Ino kasar. Bagaimana bisa Sai berkata seperti itu dengan wajah tanpa ekspresi. Mengapa dia tak sedikit pun memikirkan apa yang Ino rasakan. Tentu saja itu semua karena dia pria schizoid. Dia memang menyadari sikap Sai jauh dari sekedar introvert tapi dia jatuh cinta pada pria itu apa adanya.
"Maafkan aku"
Ino berusaha keras untuk meredam emosinya dan berusaha tampak tenang "Aku tak mengerti mengapa kau berpikir aku tak akan bisa menerima dirimu yang eksentrik"
"Dengar rasa tertarikku padamu adalah pengalaman pertama dan terdekatku dengan cinta tapi aku tahu aku tak akan pernah bisa mengerti cara mencintai dan aku tak ingin kau mengorbankan impianmu menjadi artis untuk pria yang belum tentu bisa membuatmu bahagia"
"Kau benar, Impianku yang selama ini kukejar mati-matian tak layak dikesampingkan hanya karena dirimu"
Meski mulutnya terasa sepat tapi Sai merasa dia telah melakukan yang terbaik. Dia tak akan bisa memberikan wanita itu apa yang dia inginkan jadi lebih baik mereka berjalan di rute masing-masing "Ino jadilah seorang bintang dan aku akan selalu mengagumimu"
Ino berusaha tersenyum. Meski sama-sama saling menyukai mereka tetap tak bisa bersama. Kariernya tak membutuhkan Sai dan Sai tak membutuhkan dirinya.
"Bolehkah aku tetap menyukaimu?"
"Bila kau merasa sikapku likeable silakan saja. Aku tak bisa mencegahmu" Pria itu mengeluarkan senyum terlatihnya.
"Sai, Seorang penyendiri pun terkadang merasa kesepian. Bila saat-saat seperti itu menimpamu ingatlah aku. I'll be around"
" Terima kasih Ino"
Ino menyadari ini bukan akhir dari hubungannya dengan Sai. Mungkin saja pria itu salah, Mungkin saja Ino akan baik-baik saja menghadapi sikap pria itu. Masa depan siapa yang tahu. Barangkali ini bukan waktu yang tepat bagi mereka untuk menjalin hubungan. Dia dan Sai punya isu masing-masing yang harus diselesaikan. The glass never half empty Ino selalu memandang hidup dari jendela positif. Hanya dengan berpikir demikian dia bisa punya kekuatan untuk melangkah maju.
.
.
Minggu-minggu berikutnya Ino berturut-turut menghabiskan waktu bersama Sasuke. Tentu saja barisan paparazi mengikuti mereka. Foto-foto dia dan Sasuke mulai bertebaran di media dan orang-orang bertanya siapa wanita cantik berambut pirang yang di kencani oleh Sasuke.
Sementara sang aktor sibuk bekerja. Ino menghabiskan waktunya berlatih di teater royal. Mereka akan mementaskan drama Ophelia beberapa minggu lagi.
Ino duduk di ruang ganti, komat-kamit membaca dialognya. Anak-anak yang lain keluar untuk membeli makan malam dan Ino memilih berlatih sendirian di teater sambil menunggu mereka kembali.
Temari menyodorkan teh hijau dingin pada Ino "Apa benar kau pacaran dengan selebriti Ino?"
"Bagaimana kau tahu tentang itu?"
"Dari tabloid gosip pastinya. Jadi benar? Padahal aku ingat sekali Sasuke menghinamu waktu kita bertemu dengannya di acara penghargaan itu"
"Mungkin itu caranya menunjukkan ketertarikannya padaku? "
"Aku pikir kau dan Sai Shimura punya sesuatu. Kalian terlihat, kau tahu kan. Dekat?"
"Tidak ada apa-apa di antara kami. Bagaimana kabar Gaara? Aku tak bertemu lagi setelah syuting video klip itu"
"Entah lah, Sepertinya dia juga sibuk mempromosikan album barunya. Apa kau merindukannya? Dia bahkan tak mengontakku. Saudara macam apa dia"
Pintu ruang ganti terbuka, Sosok pria berambut merah muncul begitu saja. "Apa kalian membicarakanku?"
"Gaara, Apa kau punya indra ke enam. Begitu kami membicarakanku kau muncul"
"Aku harap aku punya. Sayangnya tidak" Gaara meletakan bungkusan di atas meja "Ini oleh-oleh dari tur ku di Osaka"
"Tumben kau baik, ingat membeli oleh-oleh. Bagaimana promosi albummu?"
"Kalian belum melihat video klip yang baru di rilis tiga hari yang lalu?"
Kedua wanita itu menggeleng.
"Kalian harus melihatnya, Video fallen maiden menjadi trending no.3 dan tentu saja ini dibantu oleh popularitas Uchiha. Aku harus berterima kasih padamu Ino"
"Mengapa kau bilang begitu"
"Banyak orang penasaran dengan wanita misterius yang mengencani Sasuke Uchiha. Begitu mereka tahu kau muncul di video klip the rebels mereka langsung menontonnya. Aku agak sedih karena mereka lebih banyak berkomentar tentang dirimu dari pada musik kami. Tapi dengan banyak viewer kami yakin kami menjaring banyak fans baru juga"
"Aku minta maaf Gaara"
"Tak usah minta maaf Ino. Hubunganmu dengan Sasuke memang bagus untuk publikasi. Mau menjelaskan apa yang terjadi?"
Ino menatap Temari "Bolehkah aku pergi bersama Gaara sebentar?"
"Silahkan Saja Ino. Yang lain juga sebentar lagi kembali"
Ini dan Gaara berjalan ke luar hendak mencari kopi di cafe terdekat. Mereka berdua tidak sadar paparazi tengah menguntit mereka.
Mereka berdua duduk di sudut yang tenang. Syukur petang ini cafe yang mereka datangi tak begitu ramai.
"Jadi mengapa tiba-tiba Sasuke Uchiha? Bukankah kau bilang akan berkencan dengan Sai Shimura?"
"Gaara karena suatu keadaan. Semua berubah"
"Jelaskan padaku Ino? Asal kau tahu. Aku juga menyukaimu tapi aku tak ingin berkata apa-apa karena dalam hatimu kau memikirkan pria itu. Bagaimana aku menyatakan suka bila wanita yang tidur bersamaku meneriakkan nama pria lainnya"
"Jadi kau dan aku begitu?" Wajah Ino memerah. Dia tak ingat sedikit pun apa yang terjadi malam itu.
"Iya, tapi lebih baik kita anggap tak pernah ada" ujar pria itu datar "Apa yang terjadi?"
"Sai memohon pada Itachi Uchiha untuk membiarkanku ikut audisi filmnya dan sutradara itu setuju tapi Sasuke menemukan rahasia gelapku dan mengancam untuk membeberkannya dan menghancurkan karier akting yang bahkan belum aku mulai bila aku tak mau jadi mainannya"
"Begitu?, Apa Shimura tau soal ini?"
Wajah Ino langsung muram "Dia tahu dan menyaranku untuk mengikuti permainan Sasuke. Menurutnya mengejar cita-citaku jauh lebih berharga dari pada menjalin hubungan dengan dirinya"
Gaara bersandar di kursi dan melipat tangannya di dada "Shimura pria yang logis. Tentu berat untuk mengatakannya tapi dia benar. Apa kau menyukai Sasuke Ino?"
"Tidak" Ucapnya dengan jelas.
Pria itu langsung tersenyum "Kalau begitu kompetisi masih terbuka. Aku akan mengejarmu kalau begitu"
Mata Ino menatap pria itu dengan rasa tak percaya "Yang benar saja Gaara. Jangan membuat masalah jadi lebih pelik"
"Mengapa aku tak boleh mendekati wanita yang aku sukai. Lagi pula kau bukan milik siapa-siapa"
"Ya sudah terserah saja"
"Rahasia apa yang kau simpan hingga sanggup menghancurkan kariermu?"
"Apa kau bisa menyimpannya?" Tanya Ino dengan mata menyelidik.
"Aku menyukaimu. Aku tentunya tak akan menyebarkan aibmu kemana-mana"
Ino menarik nafas "Aku bekerja sebagai lady escort. Bukan sembarang lady escort karena klienku adalah orang-orang terkenal"
Gaara terdiam dan tampak terkejut. Tentu saja isu seperti itu akan mempengaruhi kredibilitas Ino sebagai artis. Publik penuh dengan orang-orang yang menghakimi pilihan hidup orang lain. Mereka akan mempertanyakan moralitas Ino dan menganggapnya tak layak menjadi public figure.
"Mengapa diam, Apa kau sedang menghakimiku Gaara?"
"Tidak Ino. Aku tak peduli apa yang kau lakukan dan aku tak perlu menghakimimu. Aku sendiri punya dosa-dosa yang aku perbuat dan aku tak akan menilai moralitasmu karena aku tergolong sebagai pria tak bermoral"
Ino bernafas lega."Anda saja semua orang begitu pengertian"
"Mustahil Ino. Jadi Sasuke menyanderamu dengan ancaman itu"
"Ya, dan aku terpaksa harus menuruti maunya karena aku tak ingin usahaku dan Sai menjadi sia-sia"
Gaara meraih dan menggenggam tangan Ino. "Apa pun yang terjadi. Aku akan mendukungmu Ino. Aku, Temari dan semua anggota royal. Kami tahu kau adalah wanita yang baik"
"Terima kasih Gaara
.
.
Kelas akting tak lagi terasa menyenangkan bagi Yamanaka Ino. Dia merasa semua mata menatapnya tajam tanpa ada pengecualian. Tapi pandangan yang paling terasa menusuk dia dapatkan dari sepasang mata hijau jade yang biasanya terlihat ramah. Mereka semua mendiamkannya dan yang paling menyakitkan Sakura tak lagi bicara dengannya.
Selepas kelas usai Ino mengejar wanita berambut pink itu. Semua orang di sekolah ini tahu Sakura menyukai Sasuke dan kini berita tentang dirinya dan Sasuke telah tersebar dimana-mana. Bahkan pria brengsek itu dengan sengaja merangkulnya di koridor saat berpapasan dengan Sakura. Seolah dengan senang hati menaburkan garam di atas luka hati wanita yang selalu memuja dan mengejar-ngejarnya itu.
"Sakura, tolong dengarkan penjelasanku sekali saja" Teriak Ino pada Sahabatnya.
"Aku tak butuh penjelasan Ino. Semua sudah jelas di mataku. Aku tak menyangka kau menusukku dari belakang. Aku pikir kita teman. Kau merebut Sasuke dariku. Dasar tak tahu diri aku duluan yang menyukai Sasuke"
Ino langsung marah. Sakura tak mau mendengar penjelasannya bahkan menuduhnya macam-macam. Apa Sakura tak pernah mempercayainya? Merasa sakit hati Ino membalas "Dengar Sakura, Sasuke bukan milikmu. Mengapa kau marah padaku bila dia menyukaiku. Kau pikir aku menggodanya? Mengapa kau tak bisa terima kenyataan kalau Sasuke tak pernah menyukaimu"
"Aku yakin kau menggodanya, kalau tidak mengapa dia memilihmu. Bukan aku. Dasar pelacur"
Dengan marah Ino menampar Sakura "Berhentilah menuduhku. Kau tanya sendiri pada Sasuke mengapa dia tertarik padaku. Aku tak mencuri apa pun darimu dan sebaiknya kau berterima kasih padaku. Karena aku menjauhkanmu dari pria bajingan yang hanya akan menyakitimu"
Sakura terbengong-bengong. Dia tak pernah melihat Ino begitu marah. Wanita berambut pirang itu berlari menahan linangan air mata. Sahabatnya bahkan tak mau mendengar penjelasannya. Apa yang Sakura akan pikirkan bila dia tahu Ino memang pelacur sungguhan. Mungkin Sakura tak akan pernah bisa mengerti dirinya.
Ino yang merasa sedih dan sendirian berguling di kasur menatap ponselnya. Ia butuh bicara dengan seseorang. Mungkin kah Sai masih mau bicara dengannya? Dia mengetikkan pesan untuk pria itu.
Berbie Blondie : Hei, Apa Kabarmu?
Ino menekan ikon send dengan cepat sebelum berubah pikiran dan dia terkejut mendapatkan balasan kilat.
Sai : Baik-baik saja. Aku sudah lihat video klip itu. Kau mengagumkan.
Berbie Blondie : Terima kasih, Bagaimana naskah filmnya?
Sai : Minggu depan selesai dan Itachi akan mengumumkan audisinya. Aku harap kau siap.
Berbie Blondie : Tentunya.
Sai menatap layar ponselnya berpikir mengapa Ino menghubunginya. Apa ada sesuatu yang buruk terjadi padanya?
Sai : Mengapa kau menghubungiku?
Berbie Blondie : Memang tak boleh?
Sai : Apa yang terjadi?
Berbie Blondie : Sahabatku salah paham karena Sasuke. Dia menganggapku wanita jalang.
Sai bingung nasihat apa yang bisa dia berikan. Dia sama sekali tak paham masalah yang seperti ini. Jadi dia hanya mengetik kalimat singkat yang dia tahu.
Sai : Abaikan saja dia. Kau tak butuh orang itu kan?
Ino langsung tersenyum membaca jawaban itu. Tipikal Sai.
Berbie Blondie : Begitukah caramu menghadapi masalah dengan orang lain?
Sai : Aku tak pernah punya masalah dengan orang lain. Never too close to be bothered.
Berbie Blondie : Keuntungan jadi penyendiri ya.
Sai : Yep. Less people less drama Aku lebih bahagia sendirian
Berbie Blondie : Bukanya less lonely together?
Sai : Perhaps but I hardly feel lonely. Are you?
Berbie Blondie : Ya. Meski setiap hari aku bertemu orang-orang somehow i still feel alone.
Sai : Aku tak bisa menawarkan solusi. I am schizoid. i am not carving over connection like any normal person. Jadi aku tak akan pernah mengerti dan simpati dengan permasalahanmu. Maaf.
Berbie Blondie : Aku paham. Kau punya perspektif berbeda.
Chatting dengan Sai membuat mood wanita itu membaik meski pria penyendiri itu tak memberikan solusi. Mereka mengakhiri percakapan dengan mengucapkan selamat tidur. Andai saja mereka bisa bersama. Ino terlelap dengan memimpikan dirinya dipeluk pria berambut gelap itu.
Seperti kata Sai. Seminggu setelah percakapan mereka Ino dipanggil ke kantor Itachi. Ino duduk dengan gugup menghadapi sang sutradara. Ia secara refleks memilin-milin jari-jarinya yang dia letakan di pangkuannya.
"Nona Yamanaka, Aku rasa Sai atau Sasuke sudah memberitahumu alasan aku memintamu ke sini. Awalnya aku bersikap skeptis dengan permintaan Sai, tapi melihat aktingmu di panggung. Komentar para guru di sekolah akting dan pendapat pribadi Sasuke aku merasa kau layak mendapat kesempatan untuk menguji bakatmu. Audisi akan diadakan bulan depan"
"Aku sangat berterima kasih Uchiha-San. Aku tak tahu harus berkata apa"
Pria itu menyodorkan lembaran kertas padanya "Ini sepenggal script adegan Kira Yamato. Tokoh utama dalam filmku. Aku akan bersikap objektif dalam penilaian. Tak ada keistimewaan untukmu meski kau adalah pacar adikku"
Wajah Ino memerah malu. Sampai Itachi pun tahu soal ini "Aku tak mengharapkan keistimewaan. Aku hanya berharap sebuah penilaian yang adil"
"Tenang saja Nona Yamanaka. Semua tergantung bagaimana para artis akan menginterpretasikan karakter Kira Yamato. Asal kau tahu kandidat lainnya adalah artis-artis ternama tapi aku berharap kau bisa membuat kejutan yang melebihi ekspektasi"
"Aku mengerti. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini"
"Kalau begitu sampai jumpa di hari audisi. Terima kasih sudah datang" Itachi berdiri. Menjabat tangan Ino dan mengantar wanita itu ke luar pintu kantornya.
Sebelum Ino benar-benar melangkah pergi. Sutradara terkenal itu membuang formalitas dengan memanggil nama depannya.
"Ino, Aku mohon kau jaga Sasuke. Dia memang agak sulit dan keterlaluan tapi dia tak pernah bermaksud jahat"
"Aku tak bisa berjanji padamu. Aku tak yakin ketertarikannya padaku akan berlangsung lama"
"Aku hanya berharap Sasuke akan memperlakukan mu dengan baik"
Andai saja Itachi tahu apa yang terjadi. Masih kah dia akan berpikir Sasuke memperlakukannya dengan baik? Wanita berambut pirang itu tersenyum "Sasuke sangat baik padaku. Permisi Uchiha-San. Sampai jumpa" Ino buru-buru pergi karena enggan percakapan antara dia dan Itachi akan jadi lebih sulit.
Ino mempelajari naskah yang di tulis Sai dia terenyak mendapati begitu banyak persamaan karakter Kira dan dirinya. Ino dengan mudah mengerti pola pemikiran sang tokoh utama yang tampak lugu tapi memendam sesuatu yang gelap dalam dirinya. Pertemuannya dengan pembunuh berantai hanya menjadi pemicu meluapnya sisi lain itu. Kira hanya ingin bertahan hidup dan dia akan melakukan segala hal untuk menyelamatkan dirinya.
Wanita itu membaca dialognya berulang-ulang. Memahami perasaan Kira. Gadis yang berjuang dari nol tanpa bantuan siapa-siapa. Gadis yang berusaha menyelamatkan hidupnya dengan berpura-pura mencintai pria yang mengancam dan memanipulasinya dan setelah sekian lama dia berusaha akhirnya Kira bisa membalikkan keadaan. Entah mengapa situasi Kira mirip dengan situasi Ino sekarang.
Ino terduduk di sofa menyadari sesuatu. Karakter Kira sepertinya dibuat dari kepribadiannya. Bolehkah dia berpikir Sai membuat karakter ini untuk dirinya. Sejauh itu kah Sai memikirkan dan mendukung impiannya atau ini hanya sebuah kebetulan semata. Apa pun itu Ino tak akan mengecewakan pria itu. Mungkin mereka belum bisa bersama tapi Ino bisa menghidupkan karya Sai lewat akting dan pria itu mengaguminya sebagai artis. Ino semakin bertekad menjadi seorang bintang besar.
.
.
Sasuke membanting tabloid yang dia baca ke meja. Bibirnya merengut dalam. Dua minggu dia meninggalkan Tokyo untuk syuting dan Ino sudah berulah. Apa wanita itu tak sadar ancamannya bukan main-main. Mata gelap Sasuke kembali melirik judul artikel majalah gosip itu.
"Sang Play boy Sasuke Uchiha terkena karma"
Wanita yang di kencani Sasuke belakangan ini terlihat sering berduaan dengan Vokalis Band Rock The rebels, Sabaku Gaara. Mungkin bukan suatu kebetulan Yamanaka Ino memulai debutnya di dunia Entertainment dengan membintangi video klip bersama penyanyi tersebut. Bahkan dalam video berdurasi empat menit itu. Ino dan Gaara tampak mesra. Apakah Ino menduakan Sasuke yang terkenal sebagai play boy? Belum ada klarifikasi dari Sasuke tentang perselingkuhan ini.
Wajah Sasuke penuh kemarahan. Dia akan membuat Ino membayar untuk permainan kecilnya.
.
.
"Ping" Nada notifikasi ponsel Ino berbunyi. Wanita itu meraih ponsel dan membaca pesannya. Hatinya berbunga-bunga mengetahui pesan itu dari Sai.
Sai : Aku melihat sesuatu yang menarik di televisi tentang dirimu.
Berbie Blondie : Apa? Aku tak pernah menonton TV.
Sai : Mereka bilang kau punya pacar baru berambut merah. Sabaku Gaara. Siapa dia?. Apa rumor ini benar?
Berbie Blondie : Mengapa tanya?, Cemburu?
Sai : Tidak, cuma ingin tahu.
Berbie Blondie : Dia adik Temari, Ingat? Pacar Shikamaru. Kami hanya berteman.
Sai : Bagus. Xoxo
Pria sinting: Apa sudah lupa dengan apa yang aku bilang? Sengaja membuatku marah dengan lelucon kecilmu? Besok aku pulang dan kau akan mendapat ganjaran karena tak mematuhi ku.
Wajah Ino memucat. Pesan ini dari Sasuke. Apalagi yang akan dia perbuat. Tak cukup kah pria itu menyulitkan hidupnya seperti ini. Betapa menyebalkan menjadi kekasih Sasuke Uchiha. Dia heran mengapa banyak wanita rela melakukan apa saja untuk berada di posisinya.
.
.
.
Catatan tentang kepribadian Schzoid.
– Penderita kepribadian schizoid cenderung tertutup, suka menyendiri atau mengucilkan diri. Secara emosi mereka tergolong dingin dan jauh dari kehidupan sosial. Mereka lebih tertarik dengan pemikiran dan perasaan diri sendiri dan merasa takut berhubungan dekat dengan orang lain.
