Disclaimer : All Characters belong to Masashi Kishimoto.
A/N: Saya kembali dengan fic ini. Maafkan saya para pembaca budiman saya merasa kualitas tulisan dan plot yang saya kembangan untuk kisah ini menurun. Karena itu saya bingung harus diapakan lagi agar ceritanya tetap menarik, realistis dan tentunya happy ending. Saya kehabisan ide.. hu..hu..hu...
The Glass Half Empty
.
Chapter 09
Deception.
.
.
Ino sibuk membaca naskah yang ditulis Sai. Itachi sengaja memilih bagian tersulit untuk diaudisikan. Keningnya berkerut memikirkan bagaimana dia harus mengekspresikan Kira yang membenci penculiknya tapi juga membutuhkannya. Berkali-kali dia membaca ulang dialog tapi ia tak mendapatkan feel-nya. Ino harus berpikir sebagai Kira. Wanita yang tak kalah manipulatifnya dengan sang penculik. Bila dia diculik karena pria itu terobsesi padanya apa yang akan dia lakukan. Ino berpikir dengan khusyuk hingga suara ketukan pintu merusak konsentrasinya.
Wanita itu beranjak dari sofa menuju pintu. 'Siapa yang malam-malam datang ke mari' pikirnya bingung. Begitu pintu terbuka Ino terkejut melihat Sasuke
"Mengapa kau di sini?"
"Apa aku tak boleh berkunjung ke rumah pacarku?"
"Mengapa tak mengabariku kalau kau mau datang? Apa susahnya mengirim sms?" wajah Ino langsung jadi butek melihat Sasuke.
Sasuke melengang begitu saja memasuki ruang tamu wanita itu. Melewati Ino yang masih berdiri diambang pintu. Dengan Santai dia duduk di sofa dan meletakkan kakinya di atas meja
'Urgh...Pria sialan' Pikir Ino dalam hati. Wanita itu bersedekap marah mengingat Sasuke menginvasi privasinya.
"Aku pikir kau akan senang dengan kejutan ini. Aku meninggalkanmu dua minggu tapi kau langsung berulah. Tak bisa meninggalkan sisi jalangmu sepertinya" Ucap Sasuke menatap Ino dengan mata yang menyipit curiga.
"Kau tahu aku bersamamu karena terpaksa, Jadi jangan harap aku senang melihatmu dan aku tak mengerti apa maksudmu"
"Oh sekarang kau berpura-pura bodoh. Begitu aku pergi kau terlihat berkencan dengan Sabaku Gaara. Image macam apa yang mau kau tampilkan pada media?"
"Aku dan Gaara hanya berteman" Ino membela diri.
"Tidak seperti itu yang aku baca. Kau harus hati-hati dengan citramu Ino. Bila kau ingin dianggap sebagai artis kacangan yang menumpang popularitas dengan membuat gosip murahan silakan saja. Tanpa aku membuka kartumu pun kariermu bisa berakhir prematur"
"Terima kasih atas nasehatmu tapi aku tak memerlukannya. Lihat saja dirimu hampir setiap hari digosipkan berkencan dengan banyak wanita dan kariermu baik-baik saja"
"Pria yang berkencan dengan bayak wanita itu dianggap mengagumkan. Tapi wanita yang berkencan dengan bayak pria di cap murahan. Apa kau sudah mengerti perbedaannya?. Aku harap kau akan mulai berhati-hati dari sekarang"
"Aku tak pernah tahu mereka mengikutiku"
"Ino kau adalah pacarku. Wajar saja bila paparazi mengikutimu. Mereka selalu penasaran wanita macam apa yang aku kencani. Lebih baik kau manfaatkan mereka untuk membuat pencitraan positif dan jauhi Gaara dan juga pria-pria lainnya"
"Apa kau cemburu?"
"Cemburu, Tidak. Aku tahu kau tak akan begitu bodoh dengan mencoba memancing kemarahanku. Bukankah begitu Ino?"
Ino mengatupkan rahang kesal mendengar sarkasme yang terlontar dari mulut pria itu.
"Aku mengerti maksudmu. Aku akan berusaha menghindari terlihat berduaan dengan pria lain bila itu membuatmu senang, Yang mulia"
"Bagus. Lalu mengapa kau mematung di situ. Aku sudah disini jadi mana hiburanku. Aku sudah membayarmu cukup mahal"
'Keparat' Ino menggigit pipi bagian dalamnya. Wanita bersurai pirang melangkah dengan malas ke sofa dan duduk di atas pangkuan Sasuke. Wajah mereka berhadapan. Ino melingkarkan lengannya di leher aktor ternama itu. Mendekatkan bibirnya, "First class service for first class costumer."
"Aku menginginkan sentuhan seorang kekasih Ino. Kau seorang artis, meskipun kau tak menyukaiku bila memang kemampuanmu cukup andal kau akan bisa meyakinkanku."
"Jadi kau menginginkan aku berakting untukmu?, Aku pikir kau menginginkan kekasih sungguhan."
"Aktris hebat mampu membuat hal palsu terlihat nyata."
Ino menandang Sasuke dengan tatapan sayu dan menggoda, "Sasuke, Apa kau juga hanya memerankan sosok pria yang arogan dan menyebalkan?, Mungkin kah kau punya sosok berbeda di balik topeng sang super star?"
"Do you care to know?" Sasuke menyeringai dengan misterius. Seolah dia memang mempunyai rahasia.
"Perhaps." Wanita itu berbisik di antara bibir mereka dan mengecup bibir Sasuke dengan lembut. Apa Ino peduli bila ternyata pria itu tak seburuk image yang dia tampilkan?, Ia tak akan menghabiskan waktunya untuk mencari tahu pria seperti apa Sasuke Uchiha itu. Di mata Ino Sasuke tak ubahnya seorang pria bajingan yang pintar memanfaatkan situasi. Not more, not less.
Tangan Sasuke melingkari pinggang Ino. Perlahan turun untuk meraba bokongnya. Ino terkesiap, apalagi melihat binar nakal menghiasi mata gelapnya.
"Jangan berharap menemukan sesuatu Ino, I am a vile and despicable human."
"Mungkin itu adalah bagian dari pesonamu Sasuke tapi aku tak menyukainya."
"Kau tak perlu menyukaiku Ino, just be mine."
Sasuke melumat bibir wanita itu dalam ciuman yang keras dan mendominasi. Ino yang kesal menyalurkan agresivitasnya dengan membalas ciuman sang aktor tak kalah garangnya. Mereka bercumbu layaknya tengah bertengkar tak seorang pun mau mengalah. Ino tak mau menerima dominasi Sasuke begitu saja.
Semangat Ino yang tak mau kalah, yang tak ingin tunduk membuat Sasuke tambah bergairah. Ia tak pernah menemukan wanita yang begitu sulit di taklukan. Ino menarik rambut pria itu memperdalam ciumannya. Lidah mereka beradu dalam perdebatan tanpa suara.
Ino tak menyukai pria itu. Tapi kini ia adalah kekasihnya. Ino akan melakukan apa yang pria itu minta sambil tetap melakukan perlawanan kecilnya. Mungkin semua wanita takluk di kaki Sasuke, tapi dia tak akan pernah membiarkan pria itu menguasainya.
Ino mengakhiri ciuman mereka, wajahnya memerah dan nafasnya tersengal-sengal, "Apa cukup meyakinkan?"
"Aku menyukainya."
Ino turun dari pangkuan pria itu. Tapi Sasuke menarik tangannya, "Mau ke mana, Apa kau pikir ini sudah cukup menghiburku?"
"Apa lagi yang kau inginkan?"
"Something more." Sasuke mengendong wanita itu ke tempat tidurnya.
Ino menutup matanya, menarik nafas dalam-dalam. Dia hanya ingin berada dalam pelukan pria lainnya. Seorang pria dengan rambut dan mata sewarna pria yang kini sedang mencumbunya.
Ino akan baik-baik saja. Dia telah melakukan ini berkali-kali. Mungkin sebaiknya ia belajar menikmati semua ini. Banyak wanita rela melakukan apa pun untuk menjadi kekasih Sasuke Uchiha bukankah dia beruntung. Kariernya akan menanjak setelah ini. Ia akan jadi terkenal dan tak akan punya waktu untuk memikirkan hal lain. Tidak pula Sai Shimura yang jelas -jelas sudah menolak dirinya.
Ino menatap Sasuke dengan pasrah, "Be gentle!"
Sasuke tersenyum dan mulai mendaratkan ciuman di leher wanita itu. Ia membuka pakaian Ino dan tangannya menyusuri tiap jengkal tubuh Indah wanita berambut pirang itu. Tapi pria itu kecewa karena sang wanita tak merespons sentuhannya. Ino hanya terdiam dengan kaku menatap langit-langit kamar. Ini bukan reaksi yang Sasuke inginkan.
"Ke mana semangatmu Ino?" Pria itu terheran-heran karena tiba-tiba Ino menjadi pasif. Ia tak memberikan perlawanan.
"Kenapa bertanya?, Aku tak mau menyia-nyiakan energi untuk melawanmu karena pada akhirnya kau juga akan mendapatkan apa yang kau mau dariku. Lakukan saja dan selesaikan dengan cepat. "
Sasuke tak jadi melepas celananya. Sikap submisive Ino memadamkan nafsunya dia tak butuh wanita yang berlagak seperti domba yang akan disembelih. Pria itu berguling dan duduk di pinggir tempat tidur, menatap wanita yang baru saja dia telanjangi, "Aku membiarkanmu kali ini, tapi lain kali aku tak akan diam saja. Kau sengaja tak memberikan apa yang aku inginkan. Apa ini servis dari seorang mantan lady escort terbaik? Aku mengharap kau akan memberikanku tantangan Ino."
Ino duduk memandang Sasuke kesal, "Kau tahu apa yang aku pikirkan, kau menganggap hubungan antara pria dan wanita hanya sebagai sekedar perburuan kau bahkan tak menyukaiku. Ego-mu hanya ingin menaklukkan diriku. Benar kan?"
"Apa yang salah dengan itu? Aku tak ingin wanita yang dengan sengaja menjual dirinya pada pria-pria kaya hanya untuk menaikkan derajat sosialnya mengguruiku tentang hubungan pria dan wanita."
Ino mengeram kesal. Pria itu ada benarnya. Dia adalah wanita dingin yang perhitungan yang memilih menghabiskan waktu bersama pria hanya untuk mendapatkan keuntungan tapi dia melakukannya dengan profesional mereka membayar dan Ino memberikan apa yang mereka inginkan. Tak ada manipulasi ataupun mempermainkan perasaan, Tapi itu juga tidak sepenuhnya benar karena Ino juga mengeksploitasi pelanggan-pelanggan yang jatuh cinta padanya untuk mendapatkan keuntungan lebih banyak. Bagi Ino pria hannyalah sebuah alat dan bagi Sasuke wanita hannyalah sekedar permainan.
"Mengapa kau diam, Sulit mengakui kenyataan kalau kau dan aku mirip. Hanya karena kau merasa jatuh cinta pada pria polos macam Sai Shimura, Kau jadi melupakan siapa dirimu. Bila kau berpikir dengan logikamu. Kau pastinya akan memilihku. Lagi pula apa kau merasa tak memanfaatkan pria itu? Rasa sukanya pada dirimu membuatnya merekomendasikanmu pada kakakku. Apa lagi yang pria itu lakukan untukmu Ino?" Sasuke memancingnya.
"Diam, Aku tak memanipulasi Sai untuk keuntunganku. Bila dia melakukan sesuatu untukku itu karena dia peduli padaku dan asal kau tahu. Sai Shimura sudah menolakku dengan alasan paling tak egois yang pernah aku dengar dan ini semua terjadi karena kau, Sasuke. Kau merusak harapanku untuk bisa bersama pria yang aku cintai." Ino hampir menangis tapi dia menahannya. Ia tak ingin tampak kalah dan tersudut di hadapan laki-laki itu. Sungguh tak adil ketika kebahagiaan tampak di depan mata kemudian lenyap begitu saja.
"Kau menyalahkanku? Aneh, karena aku dengan jelas memberikanmu pilihan. Apa kau yakin kau akan berbahagia dengan Shimura? Sepertinya pria itu tahu lebih baik dari dirimu sendiri Ino. Kalau memang kalian yakin akan bahagia berdua selamanya, mengapa dia melepasmu begitu saja tanpa memperjuangkanmu sedikit pun? Apa kau yakin pria itu mencintaimu?" Sasuke mencoba menjatuhkan wanita itu lebih jauh. Pria itu paham Sai adalah pria yang baik. Ia menginginkan Ino sukses meski harus mengorbankan perasaannya sendiri tapi di akhir kisah bahkan dalam fiksi sekalipun selalu pria jahat macam dirinya yang mendapatkan sang gadis.
Ino dengan marah menatap Sasuke, "Apa yang kau tahu, Sai merasa mengejar impianku jauh lebih penting dari pada mengejar perasaan cinta."
"Dan dia benar, Apakah kau akan membuang semua usaha dan kerja kerasmu selama ini hanya demi kebahagiaan bersama seorang pria?, hati manusia bisa berubah Ino. Mungkin kau merasa menyukainya hari ini dan besok akan lain cerita."
"Aku bisa mendapatkan keduanya bila kau tak ikut campur."
"Hm...m Mungkin." Sasuke mendekat dan menangkup wajah Ino. Pria itu tersenyum angkuh, "Sekarang kau memiliki diriku dan aku akan memastikan dirimu akan menjadi bintang besar yang akan menyaingiku, Ino. I'll make you shine, i promised "
Ino menunduk, ia tak ingin menatap mata Sasuke yang dipenuhi janji. Ia malah mencengkeram seprai hingga buku-buku jarinya memutih, "Aku tak akan pernah mendapatkan semua yang aku inginkan." Ucapnya dengan nada sendu. Mengakui meraih kebahagiaan dalam cinta dan karier adalah hal yang sulit.
"Tak seorang pun akan mendapatkan segalanya Ino, Manusia membuat pilihan dan menentukan prioritas. What we could do just to make most of it."
"Aku mengerti, Karierku adalah prioritas. Sebaiknya kau benar-benar menjadikanku artis besar Sasuke atau semua ini akan jadi tak berarti."
"Ino kau sudah punya segalanya untuk menjadi seorang bintang, maaf bila aku kerap mengolok-olokmu. Tapi semangat dan sikap keras kepalamu yang membuatku tertarik. Aku hanya menguji seberapa jauh kekuatan mentalmu."
"Dengan bersikap antagonis padaku setiap saat dan menikmatinya?"
"Ini hanya sebuah permainan tak ada yang serius dalam hubungan kita. Ikuti langkahku, aku akan membawamu ke puncak dan tentu saja selama itu aku mengharap sedikit sikap manis darimu, Sayang."
"Manis?, tidak Sasuke aku akan memberikan tantangan yang kau minta."
"Sebaiknya begitu, Selamat malam Ino" Pria itu mencium pipinya dan mengambil baju yang tadi ia lempar ke lantai. Sasuke pun melangkah meninggalkan kamar tidur Ino. Begitu ia sampai di ambang pintu pria itu berbalik dan kembali menebar ancaman, "Hari ini aku sedang bermurah hati tapi lain kali aku tak akan membiarkanmu merusak mood-ku. Apa kau paham?"
Ino hanya mengangguk. Dia menarik nafas lega mengetahui Sasuke telah meninggalkan apartemennya. Ino meraih gaun tidurnya dan meraih naskah yang Sai buat. Bila karya ini adalah obsesi dan dedikasi pria itu untuk dirinya. Maka tak akan ada aktris lain yang akan memerankan Kira selain dirinya.
Cinta Ino pada Sai mungkin tak bisa di tampilkan di kehidupan nyata. Tapi Sebagai ungkapan perasaannya Ino bertekad menghidupkan karakter yang Sai buat dengan akting yang sempurna. Wanita itu memeluk erat buku naskah di dadanya dia menoleh ke jendela, Bulan purnama menghiasi langit kota. Dadanya begitu sesak dengan rasa rindu. Dia hanya bisa menahannya. Sungguh mahal harga yang dibayar untuk meraih kesuksesan.
Di sudut lain kota, Sai mengoreskan kuasnya. Matanya fokus pada lukisan yang dia kerjakan. Sebuah potret Ino atau mungkin alter egonya. Kasane. Sai mencurahkan fokus memulas warna keemasan di atas kanvas. Mencoba mereplika warna dan tekstur rambut Ino ke dalam seni dua dimensi.
Dia sudah melepas Ino karena ia tahu pria macam dirinya tak akan membuat siapa pun bahagia apa lagi wanita seperti Ino, Tapi mengapa dia merasakan kecemburuan mengetahui wanita itu menggandeng Sasuke Uchiha.
Tanpa sadar Sai mengores kuasnya dengan kuat menghasilkan pulasan garis yang tampak kaku, bukan hal yang dia harapkan. Dengan kesal dia membanting kuas dan paletnya membuat cat menodai lantai studio. Dia benci pada dirinya sendiri. Semenjak dia melihat foto Ino dan Sasuke di sebuah tabloid, dia merasa tak lagi menjadi dirinya. Mengapa mereka mempengaruhinya hingga seperti ini? Dia kehilangan seluruh kedamaian dan ketenangan di dunia yang dia ciptakan.
Dia yang cukup puas dan bahagia hanya dengan kesendirian kini merasa tak tenang. Apa ia membutuhkan Ino sebesar itu? Dunianya yang sempurna kini berantakan. Bagaimana bisa ia memperbaikinya? Ia telah memutuskan untuk menjauhkan Ino. Pria itu membuka jendela dan menyalakan rokoknya. Memikirkan keputusan yang telah dia ambil dan sesali.
Bukankah hal yang paling bijaksana membiarkan Ino terbang meraih impiannya?. Sai tak punya banyak hal yang bisa ia tawarkan dan dia juga tak akan pernah bisa mengerti dalamnya gairah Ino untuk berakting. Sasuke dalam hal ini bisa membantu Ino dengan baik. Sai telah memberikan kunci bagi Ino untuk membuka pintu meraih impiannya dan Uchiha akan menjaga dan membimbingnya menjadi bintang.
Seharusnya ini adalah keputusan terbaik bagi mereka berdua tapi Sai merasa menjadi seorang pengecut yang lari dari perasaannya sendiri. Dia tak akan pernah lupa wajah kecewa Ino ketika ia meminta melupakan ketertarikan yang ada di antara mereka.
Ia menghembuskan asap rokok ke luar jendela. Kali ini kesunyian dan kesendirian tak lagi menjadi temannya.
Suara ponsel dari saku celananya membuat pria itu berhenti merefleksikan keputusan yang telah menggerogoti hatinya. Dia menjawab telepon itu dengan enggan.
"Itachi, Mengapa meneleponku?"
"Sai, audisi akan diadakan bulan depan. Aku berharap kau bisa ikut memberikan penilaian."
"Bukankah penilaianku akan bias, kau tahu aku yang merekomendasikan Ino padamu."
"Aku pikir kau akan bisa bersikap objektif Sai. Kau adalah penulis naskahnya, kau yang paling tahu bagaimana karakter itu harus dibawakan."
"Baiklah aku akan ikut, tapi aku hanya akan memberikan pendapatku. Aku tak ikut dalam penilaiannya."
"Oke, Masukan darimu akan sangat membantu"
Sai menutup telepon dan mematikan rokoknya. Dia membuang nafas panjang. Mau tidak mau dia akan berjumpa dengan Ino lagi. Bagaimana dia akan menghadapinya? Hati dan pikirannya masih tertambat pada wanita berambut pirang dan bermata aquamarine itu dan Sai membiarkan wanita itu pergi dengan rasa kecewa.
.
.
Hari penting yang Ino nanti-nantikan tiba. Dia merasa tegang tapi ia juga merasa yakin seratus persen dengan kemampuannya. Di ruangan itu terdapat tiga orang artis kawakan yang juga tengah menunggu bersama para manajer mereka. Ino tahu dia tak diperhitungkan tapi dia tak peduli. Mereka beranggapan Ino mendapatkan kesempatan ini hanya karena dia adalah kekasih Sasuke Uchiha. Ino mengabaikan lirikan tajam dan bisik-bisik mereka, Ia memfokuskan dirinya membaca naskah di tangannya. Keberhasilannya di sini akan membuktikan bahwa dia bukan sekedar wajah cantik untuk di pamerkan.
Sasuke membawanya ke mana-mana. Mulai dari menghadiri pesta, acara promosi film, penghargaan dan dia mengenalkan Ino pada orang-orang penting di dunia perfilman. Tentu saja kadang terjadi kecanggungan ketika Ino tanpa sengaja bertemu dengan mantan pelanggannya tapi mereka tak menyinggung apa-apa. Kebanyakan memilih untuk berpura-pura tak mengenal Ino. Tentu saja itu membuatnya lega bagaimanapun mereka semua tak ingin terekspose di mata publik telah melakukan tindakan asusila.
Berkat publikasi gratis dari Sasuke dan meledaknya Hits grup band The Rebels. Ino semakin menjadi perhatian publik. Pementasan teater Royal tiba-tiba jadi penuh sesak dan dihadiri wartawan yang tentu saja disambut dengan baik oleh Temari.
Ino mulai memiliki fans dan juga haters. Follower-nya di instragram menjadi jutaan. Tapi popularitas ini bagai pedang bersisi dua. Banyak yang menyanjung Ino tapi banyak juga yang meninggalkan caci maki dan kata-kata jahat di akun sosmed-nya. Bahkan beberapa kali ia mendapatkan ancaman pembunuhan dari penggemar berat Sasuke. Ino senang pada akhirnya ia menapaki jalan menjadi seorang selebriti dan memang tak mudah menjadi sorotan. Ia sekarang menjadi sangat berhati-hati dalam memilih kata-kata ketika ia berbicara atau dengan siapa dia menghabiskan waktunya.
Hubungannya dengan Sasuke tak hanya berpengaruh positif bagi Ino tapi juga bagi pria itu. Dia tak lagi di cap sebagai aktor play boy dengan sikap dan temperamen buruk. Wanita pirang itu berpikir mungkin kah Sasuke merencanakan sesuatu untuk mengubah karier dan image -nya menjadi pria yang lebih mature. Sepertinya dia juga ingin dianggap serius. Ino tak lagi berusaha melawan Sasuke. Dia menerima perannya dan melakukan apa yang pria itu inginkan dan sungguh bila ia mengikuti permainan dan rencana pria itu semua berjalan lancar-lancar saja.
Sasuke memang pria arogan, menyebalkan dan bermulut pedas tapi pria itu tahu apa yang dia lakukan. Dia membuat orang-orang bergerak sesuai dengan keinginannya. Ino belajar satu dua hal darinya dan dia salah sangka beranggapan bila apa yang pria itu raih karena nama besarnya. Pria itu juga berusaha dengan keras. Meski ia lebih suka menampilkan sosok santai dan acuh pada publik. Ino belajar menghormati Sasuke sebagai seorang aktor yang berdedikasi pada pekerjaannya tapi bukan berarti Ino jadi menyukainya. Sebagai seorang lelaki ia tetap tergolong berengsek.
Itachi Uchiha memasuki ruangan diikuti oleh empat orang lainnya. Jantung Ino berdegup melihat Sai di antara mereka. Sudah beberapa bulan Ino tak melihatnya dan Sai terlihat lebih tampan. Ino berusaha mencuri-curi pandang. Betapa ia merindukan Sai dan percakapan aneh mereka. Ia merindukan kesunyian yang menentramkan jiwanya ketika mereka berduaan. Emosinya nyaris meluap tapi dengan baik Ino menyembunyikannya.
Sang penulis tak menatapnya sama sekali. Sai berdiri di sebelah Itachi dengan wajah dingin dan seriusnya. Bersikap seolah-olah ia tak mengenal Ino. Hal itu membuat Ino sakit hati. Wanita itu tahu Sai yang menginginkan mereka untuk putus kontak dan menjalankan hidup masing-masing tapi Ino mengira ia bermakna lebih bagi pria itu karena Sai telah membantunya.
"Terima kasih sudah datang ke mari. Aku memilih kalian dengan banyak pertimbangan tapi hari ini aku dan tim ku akan memutuskan siapa yang akan mendapatkan peran ini. Nona Midori bisa kau ikut dengan kami."
Mereka meninggalkan ruangan itu dan memulai audisi-nya di ruangan yang lain. Tak ada penonton hanya artis dan tim penilai yang terdiri dari, sutradara, penulis, produser, direktur dan orang dari perusahaan Uchiha.
Ino semakin tegang. Setiap artis hanya menghabiskan waktu dua puluh menit. Tinggal dirinya saja yang belum di panggil. Tangan Ino menjadi dingin dan butiran keringat bermunculan di dahinya. Ini kesempatan besarnya. Bila ia gagal disini Ino tak akan lagi akan mengejar impiannya menjadi seorang aktris. Ia membuang terlalu banyak waktu dan membuat pengorbanan besar untuk ini dan bila ia masih gagal mungkin dia harus berhenti dan mencari sesuatu yang lain.
"Nona Yamanaka, silakan ke ruang sebelah"
Ino menutup pintu dan berhadapan dengan para jurinya. Wanita itu menelan ludah. Sedikit takut menghadapi lima orang yang akan menentukan jalan hidupnya. Itachi menatapnya dengan senyum. Sai hanya diam dia tampak bosan. Sedangkan tiga orang lainnya menatapnya dengan bingung.
"Itachi, apa kau merekomendasikannya karena permintaan Sasuke. Dari apa yang aku baca tentang pengalaman akting dan kariernya. Dia tak ada apa-apanya."
Pria berkaca mata yang merupakan perwakilan perusahaan Uchiha menatap sang sutradara dengan heran, "Apa kau mau berjudi dengan film ini. Jangan main-main Itachi casting akan menentukan sejauh mana orang-orang tertarik untuk menonton film mu. Kau tak bisa memilih aktris tak terkenal menjadi bintang utama film berbudget besar ini."
Ino merasa diserang. Ia tahu banyak orang akan meragukannya tapi di sinilah dia harus melakukan pembuktian dan mengerahkan segala kemampuannya.
"Dengar, Aku memberi Nona Yamanaka karena melihat potensinya. Bagaimana jika kalian membiarkan dia menunjukkan kemampuannya sebelum berkomentar." Itachi menatap Ino dan melanjutkan berbicara, "Nona Yamanaka tampilkan adegan favoritmu dalam naskah itu."
"Baiklah"
Ino menarik nafas panjang. Menutup matanya sejenak. Ia mengingat-ingat kembali perasaan Kira. Begitu ia membuka matanya tubuhnya langsung gemetar.
"Jangan...jangan dekati aku, jangan sentuh." ujarnya penuh ketakutan. Pupil mata wanita itu melebar dia duduk meringkuk di lantai. Memeluk tubuhnya seolah sedang di pojokkan oleh seseorang.
"Biarkan aku pergi, Aku mohon. Apa yang kau inginkan dariku?" Ino terisak memelas. Penonton merasakan dan melihat ketakutan wanita itu nyata.
Itachi terlihat puas. Dia tahu Ino bisa berakting dengan natural dan dia positif memberikan peran utama ini pada Ino. Tiga orang lainnya tampak terkejut dan takjub. Mereka terhanyut dengan penampilan dan bakat Ino.
Wanita itu begitu terserap dalam perannya sehingga dia tak memperhatikan sudut bibir Sai Shimura melengkung senang. Sepertinya ke lima orang itu sependapat tanpa perlu mengutarakan kata-kata. Peran Kira jatuh ke tangan Ino.
Mereka memutuskan akan memberitahu hasilnya seminggu lagi. Ino merasa ini akan menjadi penantian yang panjang. Ia ingin mendengar keputusan itu secepatnya tapi tentu saja dia harus menunggu.
Ino keluar dari toilet wanita hendak meninggalkan gedung ini tapi dia melihat Sai berjalan ke arahnya. Wanita itu menggigit bibirnya dan melangkah dengan cepat. Ia ingin mengabaikan Sai seperti pria itu dari tadi mengabaikannya. Mereka berpapasan Ino menahan nafasnya. Entah apa yang terjadi tiba-tiba saja Ino berhenti melangkah mencegat pria itu.
"Ino?" Sai bingung mengapa wanita ini menghalangi jalannya ke toilet.
"Mengapa kau mengabaikanku?, Aku tahu kau tak ingin ada sesuatu di antara kita tapi apa kita tak bisa berteman atau sekedar saling menyapa?" Mata wanita itu di penuhi rasa sakit dan kekecewaan.
Sai mencoba untuk melawan desakan hatinya. Sepanjang waktu ia mencoba untuk tak menatap Ino, berusaha untuk mengabaikan keberadaannya dan berpura-pura tak mengenalnya. Tapi keteguhannya runtuh melihat wanita ini berdiri dalam jangkauannya menatapnya dengan rasa kecewa dan sakit hati. Ia tak pernah ingin menyakiti Ino. Karena itu ia menghindarinya dan tak mengontaknya lagi. Itu hal terbaik yang biasa dia lakukan.
"Kita tak bisa menjadi teman Ino." Jawabnya jujur. Dia tak akan bisa berdekatan dengan wanita itu tanpa merasakan getaran dalam dirinya. Dia tak akan bisa menatap Ino tanpa ingin merengkuhnya. Tapi dia bukan pria yang tepat untuk wanita itu.
"Aku tahu." Ucapnya lemah. Wanita itu menunduk.
"Kau dan aku tak bisa bersama Ino. Aku tak ingin kau menghancurkan impianmu."
"Aku tahu, Jangan ucapkan lagi. Aku hanya bersikap bodoh dengan merindukanmu."
Sai meletakan kedua tangannya di bahu mungil wanita berambut pirang itu. Dia tak percaya dengan apa yang baru dia dengar. Jadi bukan hanya dia yang dilanda perasaan merindu dan kehilangan. Sai tahu ini salah. Ino adalah kekasih Sasuke sekarang tapi ia tak bisa mencegah dirinya untuk memeluk wanita itu. Sai menarik Ino dan mendekapnya dengan erat.
Mereka berdiri berpelukan di lorong yang untungnya sepi. Ino menyandarkan dirinya di dada bidang Sai. Membiarkan dirinya menikmati kehangatan tubuh pria yang dia rindukan.
"Aku juga merindukanmu." Pria itu menarik pinggang Ino membuat tubuh mereka menempel satu sama lain. Dia membenamkan wajahnya pada helaian rambut pirang wanita yang telah membangunkan rasa membutuhkan dalam dirinya.
"Apakah kau akan mengubah pikiranmu Sai?" Bisik wanita itu lirih.
"Ino, aku menyukaimu teralu menyukaimu aku tak ingin kau kehilangan segalanya untuk pria yang bahkan tak akan pernah yakin bisa membahagiakanmu."
"Bisakah kau berhenti mengasumsikan apa yang terbaik bagiku Sai?, biarkan aku memutuskan untuk diriku sendiri."
"Jangan bodoh Ino. Sudah diputuskan kau mendapatkan peran ini dan selangkah lagi kau akan meraih apa yang kau inginkan. Jangan buang kesempatan ini."
"Bagaimana bila aku menginginkanmu? Melebihi ketenaran yang aku selalu impikan."
Sai tanpa sadar membelai rambut wanita itu dan tersenyum, "Pertama raihlah impianmu, setelah kau mendapatkannya dan masih menginginkanku carilah aku Ino."
"Berjanjilah kau akan selalu di sana Sai"
"Aku akan selalu berdiri di latar belakang dan menyaksikanmu. Perasaanku padamu tak akan berubah Ino. Aku yakin soal itu. Saat ini aku hanya ingin melihatmu bersinar terang." Sai benar-benar tulus ingin melihat wanita itu sukses. Meski mereka tak bisa bersama karenanya, Tapi Sai tetap gembira. Mereka masih punya harapan karena perasaan mereka sama.
"Aku akan menjadi bintangmu Sai, Menghidupkan tokoh karyamu di layar perak."
"You're already my star, Ino."
Wanita itu berjinjit dan mencium Sai. Ia tak ingin memikirkan kerumitan situasi dan perasaan mereka. Ia tak ingin memusingkan konsekuensi tindakannya, apalagi hubungannya dengan Sasuke. Ia hanya ingin meredakan rasa rindu dan kekosongan dalam dirinya. Dahaga yang hanya bisa dihapuskan oleh sentuhan pria yang mencuri hatinya.
Punggung Ino menyentuh tembok sementara tangan pria itu memeluk pinggangnya. Mereka bercumbu seolah ini adalah terakhir kalinya. Mereka tersesat dan tenggelam pada rasa bibir yang saling berpagut. Kerinduan, kekecewaan, harapan, kesedihan. Semua emosi Ino tergambar dalam sebuah ciuman yang berasa begitu intim. Mereka begitu terlarut hingga tidak menyadari seseorang berdiri di koridor menyaksikan mereka.
"Apa yang kalian lakukan?"
Suara yang terdengar kasar itu terasa bagai siraman air dingin di tubuh hangat mereka. Ino melepaskan dirinya dari pelukan Sai dan menoleh ke arah sumber suara tersebut. Iris matanya terbuka lebar menatap sosok pria yang berdiri di lorong yang sama dengan mereka. Wanita itu mengutuk dirinya mengapa dia begitu ceroboh.
"Mengapa diam saja. Shimura, Ino. Jelaskan apa yang baru saja aku lihat?"
Ino dan Sai terpaku. Apa yang harus mereka katakan di hadapan pria yang tampak marah itu.
