::The Dark Legacy— First Quarter::

By: Morning Eagle

Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::

Just to warn you all :: AU, OOC, Misstypos...for this story


Scene 1: Big Eyes, Bad Wolf

~0*0~

.0.

.

.

.

.

.

.

.

June 2008—Tokyo, Japan

Musik berdentum keras dari speaker di setiap sudut ruangan, memainkan melodi menghentak yang bisa membangunkan semangat di tengah malam. Lagu Good Charlotte sudah dimainkan hampir seluruh track list-nya, selama lebih dari tiga puluh menit. Seorang gadis mungil sibuk menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan sesuai alunan drum. Jari-jarinya menelusuri piringan hitam dan menyusunnya sesuai abjad. Dari A hingga C. Daftar susunan yang tidak sedikit, dimulai dari era tahun lima puluh hingga sembilan puluhan.

Kuchiki Rukia, 16 tahun, sedang mengerjakan pekerjaan part-time seperti tanpa beban. Sesekali menggumamkan lirik dengan dengungan. Tidak bisa menghapal seluruh bagian liriknya, hanya mengingat samar-samar pada bagian reff. Musik rock yang sulit terjamah oleh ingatan penuh akan tugas sekolah juga menu makan malam.

Pintu depan didorong hingga terbuka. Seseorang masuk dengan langkah mantap dari sepatu boots kulitnya, mengamati ruangan dan hanya menemukan gadis mungil di belakang rak yang memajang urutan Billboard teratas. Tidak ada pengunjung di dalam toko musik menjelang jam tutup malam ini.

Pria itu berdeham, berusaha menarik perhatian Rukia tanpa menegur. Hemat bersuara, terkadang tenggorokannya terasa kering karena sudah berteriak seharian penuh. Tuntutan pekerjaan.

"Rukia," pria itu memanggil, mengetuk-ketukkan sepatunya tidak sabaran. "Hoi, penjaga kasir!"

Rukia menegakkan bahunya, berbalik hingga menatap si pria sangar. Bertubuh tinggi tegap juga warna merah mengkilat terlihat dari atas kepalanya. "Ahh—officer!"

"Jangan memanggilku dengan sebutan itu," gerutu si pria, menumpukan sebelah sikunya di atas meja kasir. Alisnya mendelik tidak suka. "Aku baru saja naik pangkat, bahkan menyentuh pekerjaan baruku pun belum."

"Itu lebih baik daripada menjadi pengatur lalu lintas, bukan?" Rukia menyunggingkan senyumnya. Kakinya melangkah cepat mengitari rak, sambil terus menyenandungkan lagu yang sudah berganti ke track selanjutnya.

"Kau sudah menyimpan pesananku?" tanya si officer, mencari-cari di balik rak laci yang terlihat jelas dari posisinya. Dengan tinggi tubuh di atas seratus delapan puluh sentimeter ke atas.

Rukia mendengus, separuh menggerutu karena mengganggu ritual pembersihan tokonya. Menyusun kaset-kaset lagu sambil mendengarkan musik di latar belakang.

"Aku menyimpannya. Bob Marley tidak akan pergi kemana-mana, Renji."

"Di antara kesibukan juga hiruk pikuk kota ini, Jepang luput akan daftar import yang mengharuskan Bob Marley juga John Lennon di rak musik teratas. Singkirkan Johnny untuk sementara waktu."

"Hei! Aku masih mendengarkan KAT-TUN dan kupikir mereka tidak buruk. Selera musikmu seperti om-om," gumam Rukia, mengambil kantong kertas dan memasukkan pesanan Renji ke dalamnya. "Kau juga harus mendengarkan lagu terbaru Morning Musume, bila ingin kusarankan."

"Aku hanya senang melihat mereka tampil di tivi, tidak membayangkan mereka menyanyi di pemutar musikku." Renji menyunggingkan senyum lebarnya.

"Man." Rukia mencibir berbisik sambil memberikan pesanan Renji dengan tangan terulur. Matanya tidak menunjukkan ekspresi apapun.

"Sankyuu! Oya—kapan shift-mu berakhir? Aku bisa mengantarkanmu pulang."

"Dengan mobil barumu?" Mata gadis itu mengerjap beberapa kali, seperti menyingkirakn debu kasat mata.

"Yah—Tatsuki sedang tidak memakainya, jadi aku meminjamnya untuk sementara waktu. Lagipula kami adalah partner, tidak masalah."

"Keren, tapi tidak perlu. Aku bisa menggunakan kereta bawah tanah. Stasiunnya tidak jauh dari sini, kau tidak perlu khawatir."

"Kau serius? Hanya sepuluh menit menggunakan mobil patroli daripada memilih untuk menaiki kereta malam yang hanya menyisakan tidak lebih dari lima orang di setiap gerbongnya? Plus, pemanas mobil yang masih berjalan."

Rukia memutar bola matanya, "Ini sudah hampir memasuki musim panas. Kau tidak membutuhkan pemanas mobil."

"Baiklah, terserah padamu, nona. Dan pastikan kau tidak melewati jam malam! Kerjakan pekerjaan sekolahmu sebelum tidur!"

Rukia terkekeh, melihat Renji mengguruinya sambil berlalu pergi. "Yes, sir!"

"Sampai jumpa!" Dan Renji menghilang di balik pintu kaca, sambil melambaikan tangannya sebelum menapaki jalanan luar menuju mobilnya.

Rukia memandangi jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Pertanda shift-nya sudah hampir berakhir. Pekerjaan sampingan menjelang musim panas sudah membuat tubuhnya terasa pegal. Stok barang yang menumpuk di akhir minggu juga pelanggan yang menuntut pemberian potongan harga bagi member baru. Sakit kepalanya bertambah dua kali lipat.

Tangannya kembali memainkan peran, mengambil dan menyusun beberapa kuitansi yang sudah lunas terbayar. Pikirannya kembali bercabang, menghiraukan musik yang tidak lagi berkumandang nyaring. Kesunyian menjadi teman barunya. Sambil menatap layar komputer berlatar Microsoft Excel. Penghitungan stock pembelian hari ini selama hardware berdengung nyaring. Bosnya belum memiliki niat untuk mengganti mesinnya dengan yang terbaru—menghemat anggaran.

"Oh, ayolah! Jangan sekarang!" Rukia menggerutu, saat cursor-nya tidak mau bergerak. Sepertinya komputer toko sedang tidak ingin bekerja sama dengannya.

Tangannya menggerak-gerakkan mouse dengan cepat, tapi tidak ada hasil. Dia mendesah, melirik tombol off yang bisa meninggalkan pekerjaan di tengah jalan. Mungkin pagi besok pekerja shift lainnya akan meneruskan apa yang tertinggal. Atau kelalaian Rukia yang segera dilaporkan pada pemilik toko. Itu kabar buruknya.

"Aku benci pekerjaan ini!" decaknya, membenturkan kepalanya ringan ke atas meja kayu. Sambil menunggu mesinnya bekerja lagi.

"Kau belum pulang?" terucap suara dari pintu pegawai. Seorang laki-laki asing berambut coklat lembut. Wajahnya mengingatkan akan sosok anak band era awal abad dua satu dengan tindikan berlebih hampir di seluruh telinganya. Rukia menyebutnya sebagai si bos pesolek maskulin. Mengingat tubuhnya terbilang hampir sempurna untuk pria dalam usia rata-rata tiga puluh akhir dan selalu memakai celana jeans ketat dipadukan dengan kemeja bercorak terang.

"Bos," Rukia memanggil, lebih terdengar seperti menggerutu. "Sudah kukatakan sebaiknya beli mesin yang baru. Komputernya tidak mau berjalan."

Si bos berperawakan ganteng khas Eropa Utara itu hanya terkekeh geli, melihat karyawannya berwajah memberengut seperti tikus tanah. "Biar kuselesaikan. Kau boleh pulang, doll."

"Sampai kapan kau akan terus memanggilku doll?"

"Karena kau terlihat seperti boneka yang dijual di toko oleh-oleh di kampung halamanku," ucap si bos. "Aku serius! Dan kau menggemaskan seperti dolly."

"Dolly?" Rukia semakin memberengut kesal, sembari menyampirkan tasnya di sebelah lengannya. Matanya mendelik tajam.

"Tenang saja, kau bukan tipeku. Pulanglah sebelum hari semakin gelap!"

Rukia mendengus, sebelum melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar. Meninggalkan tanda tangan di atas buku absent yang tergeletak di atas meja konter.

"Otsukare!" teriak si bos, melepas kepergian salah satu pegawai terpercayanya.

"Seharusnya anda mengucapkannya perlahan, jangan disambung seperti itu." Rukia tersenyum simpul dengan sebelah tangan yang menahan pintu keluar. Bel berdenting karena gesekan pintu. "Otsukare!"

Rukia berjalan lambat, menikmati udara yang hampir berubah panas. Angin masih berhembus sejuk untuk menyingkirkan udara musim semi berakhir. Digantikan dengan musim terburuk yang pernah ada. Karena gadis mungil itu tidak tahan dengan teriknya sinar mentari siang. Membakar kulit dan merusak pigmennya.

Musim panas berarti liburan panjang. Di sisi lain pekerjaan sampingannya tidak menghilang—malah bertambah. Perjanjian yang diambilnya untuk pendapatan lebih telah mengharuskannya bekerja enam hari dalam seminggu, ditambah shift yang lebih panjang. Bertambah dua jam dari yang biasanya. Membayangkan duduk di depan komputer berkecepatan siput berjalan dan orang-orang memenuhi toko untuk mengincar pendingin ruangan. Kamera pengawas yang minim harus membuatnya berpikir ke cara tambahan. Matanya yang tidak boleh lepas dari kecurigaan sedikitpun. Meminimalisir pengutil dadakan yang kebanyakan adalah para siswa sekolah.

Rukia hanya bisa menggerutu dalam hati, sesekali menendang kerikil yang tak terlihat. Malam semakin larut dan dirinya harus segera tiba secepat mungkin. Tidak menambah rasa khawatir berlebih pada satu-satunya anggota keluarga yang dia miliki. Kakak laki-laki yang menunggu kepulangannya di rumah.

Mengingat rumah, gadis itu tersenyum lebar karena tidak sabar untuk segera menyantap jeruk yang sudah tersedia di atas meja makan. Khusus dipesannya kepada kakaknya untuk menyambut akhir pekan.

Lampu jalan yang berkedip rusak telah menyita pandangan seriusnya. Hanya satu dari sekian deretan lampu yang terpasang di tepi jalan. Entah mengapa langkahnya terhenti dan matanya mengamati lampu dalam diam. Angin berhembus lebih kencang menyapu lehernya. Terasa seperti musim dingin di sela-sela cuaca lembab nan kering.

Beberapa pejalan kaki seperti tidak menyadari matinya lampu atau mungkin tidak peduli. Kemungkinan petugas akan segera mengganti lampunya pagi ini. Hal sepele luput dari perhatian dan pekerjaan menanti di depan.

Rasa dingin itu semakin terasa, tepat di sebelah kanannya. Tembok bata berdiri tinggi dan berlumut. Terabaikan dari pengurus bangunan untuk segera disemen dan dicat ulang. Menyambut sebuah jalan kecil yang menghubungkan toko depan dengan pintu belakang. Biasanya digunakan oleh para pegawai yang memiliki akses tersembunyi. Kini berbisik sepi dan terlihat lebih gelap.

Rukia menelisik, mengamati sesuatu yang tidak terlihat olehnya. Jalan batu berubah menjadi tanah bersemen yang kotor. Tumpukan kardus buah bekas juga tempat sampah berbak terbuka memberikan bau tak sedap. Rukia mengernyitkan hidungnya, mengerjap ketika cahaya lampu jalan kecil lebih terlihat hidup daripada sebelumnya.

Di sanalah berdiri. Dua orang yang saling berdempetan di dinding bata. Rukia tidak bisa melihat terlalu jelas, kecuali tubuh yang berbenturan juga bergerak seirama. Mereka—pasangan—sedang bercumbu di sebuah jalan kecil.

Wajahnya langsung terasa panas. Perutnya menggelitik, karena rasa aneh yang seharusnya tidak dirasakannya saat pulang dari kerja sampingan. Kecuali karena makanan yang memprotes untuk segera keluar. Bukan rasa malu karena melihat sepasang manusia yang memiliki privasi dewasa. Tidak seharusnya murid sekolah seperti dirinya mengintip kegiatan intim mereka.

Rukia bermaksud melangkah pergi, sebelum mendengar lengkuhan tinggi dari si wanita. Suaranya parau juga melengking serak. Seperti tersedak sesuatu dan terhimpit beban berat. Perlahan mengecil dan menghilang. Digantikan sebelah tangannya terkulai lemas tanpa memeluk tubuh si pria yang memeluknya semakin erat.

Wajah si pria tersembunyi di balik leher pasangannya, tidak bisa lepas menjauh. Memberikan perasaan ganjil untuk segera pergi atau tetap diam di tempat. Situasi yang belum pernah dirasakan sebelumnya, membuat Rukia masih terdiam dan merogoh cepat tas sekolahnya. Mencari bala bantuan—

"To…long…."

Suara itu—si wanita yang sebelumnya terdengar oleh telinganya. Rukia memelototi si pria yang tak kunjung menyadari keberadaan dirinya. Hal itu tak berlangsung lama, ketika tangan lunglai si wanita terulur ke arah Rukia. Wanita itu menyadari dirinya.

Rukia menahan napasnya, begitu melihat wajah pucat si wanita. Hampir tak memiliki warna dengan bibir biru dan mata yang hampir memutih. Seperti melihat zombie dalam kenyataan. Seakan mimpi buruk memperolok di depannya, mempertanyakan kebenaran di balik sebuah khayalan semata.

Rukia melangkah semakin mendekat, berusaha memahami situasi semakin jelas. Tangannya bergetar untuk segera meraih ponselnya. Sayangnya terendam di balik onggokan buku dalam tas kecilnya. Dia menggerutu saat jari-jarinya tidak bisa merasakan tekstur kasar ponsel miliknya.

"He…hei!" Akhirnya Rukia memaksakan dirinya untuk menegur—separuh ragu. Matanya mengerjap beberapa kali, untuk menghilangkan rasa gugup juga ketakutan yang membuat bulu kuduk berdiri.

Si pria kini benar-benar menyadari keberadaannya. Gerak tubuhnya mewakilkan bahwa teguran Rukia terdengar jelas olehnya. Dengan cara berbeda dia berdiri tegak, meregangkan tubuhnya sementara tubuh si wanita merosot turun dan terduduk di atas tanah.

Si pria menampakkan dirinya, disorot oleh lampu dinding lima kaki tinggi darinya. Matanya mengkilat tajam—merah menyala. Bibirnya tertarik ke satu sisi hingga menampakkan taringnya. Bukan gigi manusia. Darah segar masih menodai sudut mulutnya.

Kulitnya tidak kalah pucat dari si wanita, terlihat menonjol di balik rambut hitam gelapnya. Si pria asing yang mulai melangkah dan sekejap hilang dari pandangan. Rukia merasakan kepanikan menggelayuti paru-parunya. Tarikan napasnya menjadi lebih berat. Sesuatu kembali menusuk punggung dan pundaknya. Seperti sengatan dingin dari es.

Rukia berbalik dan mendapati pria itu berdiri di belakangnya. Santai tanpa perlu bersusah payah melakukan sesuatu. Gerak tubuhnya lunglai seperti bergerak tanpa tulang.

"Kau terlihat…menggiurkan," ucapnya parau. Dia mengendus udara apak, dan menggeram ketika matanya menatap Rukia penuh hasrat.

"Kau…melukainya." Suara Rukia bergetar, sementara otaknya sibuk mencari jalan keluar dari tempat terkutuk itu.

"Aku mengambil darahnya. Wanita itu tidak akan merasakan apapun selain mati lemas beberapa menit ke depan." Si Pria melangkah maju, membuat Rukia harus mundur beberapa langkah.

Napasnya memburu, sebelah tangannya bertumpu pada dinding batu untuk menahan tubuh olengnya. Kini dia merasa mual. "Kau bukan manusia."

Si pria terkekeh, memegangi perutnya yang mengejang karena tawa. Matanya tidak pernah bisa lepas dari Rukia, mengikuti arah gadis itu bergerak. Kiri dan kanan.

Sebelah tangan Rukia menyentuh balok kayu yang terabaikan. Beberapa tersandar di balik kotak kayu dan diambilnya salah satunya. Kedua tangannya memegang mantap, walaupun masih sedikit bergetar karena gugup juga takut. Menghadapi sesuatu yang tidak bisa diterima akal sehatnya.

"Mundur atau aku akan memukulmu!"

Si pria sama sekali tidak tersudut oleh ancamannya. Malah semakin maju dengan tangan terulur. "Lakukan saja kalau kau bisa, gadis kecil."

Balok kayunya melayang dan menghantam wajah si pria, ketika dia mendekat lebih dari batas aman. Rukia melepaskan refleks secepat mungkin, mengerahkan tenaganya yang bertumpu pada senjata dadakan. Dan balik kayu terbelah menjadi dua, patah dengan serat kayu yang keluar tak beraturan.

Rukia menahan napasnya, ketika menyadari si pria tidak tumbang. Juga tidak terluka. Tidak ada darah ataupun bekas merah di atas kulit putihnya. Menyisakan emosi yang berubah marah dan gigi yang menggertak. Si pria terlihat kesal. Membungkuk sebelum melompat ke arah gadis manusia itu.

Sesuatu berkelebat cepat. Seperti terbang dan menghantam tubuh si pria hingga menabrak dinding. Suara teriakan dan geraman terdengar nyaring di telinganya. Rukia bergidik sambil berusaha memfokuskan matanya di balik kegelapan. Melihat pergelutan yang terjadi terlalu cepat.

Suara keras terdengar nyaring. Sesuatu yang keras patah dan bergemeretak. Tidak manusiawi. Seluruh saraf Rukia hampir berteriak, ketika mendapati sosok kedua yang terlalu besar untuk seukuran hewan liar.

Serigala. Berbulu coklat muda menyala—hampir jingga. Tubuhnya hampir sebesar truk dan cakarnya tajam mencengkram tanah. Mulutnya menampakkan taring panjang yang kini mencabik tubuh si pria tak kenal ampun. Daging terkoyak hingga ke tulang.

Mulut gadis itu terbuka, namun tidak ada suara yang keluar. Tercekat saat mata si serigala menatap dirinya. Tidak ada emosi apapun selain kegeraman dan juga kedengkian. Perlahan melembut luluh digantikan oleh ketenangan.

Rukia mengerjap, masih mendapati si serigala menatap dirinya. Lama. Seperti menilai sementara kedua telinganya naik ke atas karena awas, dan ekornya menggantung di udara. Terpana—itu yang mewakilkan bila si serigala bisa berbicara.

Suara bising mulai terdengar di ujung jalan. Beberapa orang berbisik dan memanggil, ketika perhatian Rukia teralih. Hanya beberapa detik, sebelum kembali mencari si serigala. Tapi dia sudah menghilang. Bersama tubuh si pria yang sudah dipastikan mati dengan kepala terpenggal. Menimbulkan rasa mual di perut Rukia, seperti diaduk dalam mesin cuci berputar.

"To…tolong," panggil Rukia, menarik fokusnya kembali pada situasi di sekitarnya. Masih mendapati si wanita yang diam tak bergerak.

Seorang pria mendekat ke lokasi, berpakaian biru dengan topi dan menggenggam tonfa. Polisi patroli.

"Polisi! Tolong! Ada wanita…yang terluka!" Rukia berteriak, mengeluarkan seluruh emosinya yang sempat terpendam sebelumnya.

"Tenanglah!" Polisi kedua muncul sementara rekannya pergi untuk mengecek keadaan wanita yang tergeletak. "Apa yang kau lihat, nona? Kau tahu siapa pelakunya?"

Rukia mengangguk, namun kemudian menggeleng. Sedikit ragu untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya. "A—aku…ya—itu…"

"Kau bisa ikut kami ke kantor polisi. Penjelasanmu akan kami dengarkan segera sebagai keterangan saksi untuk sementara waktu."

Sial. Itu yang dipikirkan Rukia selama dirinya pasrah mengikuti si polisi. Malam tidak berpihak adil pada dirinya, juga pada pikiran sehatnya. Si serigala terus terbayang dalam benaknya. Terutama mata besar yang berwarna hazel menyala.

.

.

…..~***~…..

.

.

"Sudah kukatakan bahwa aku tidak bisa melihatnya dengan jelas!"

"Kesaksian anda sungguh diperlukan dalam kasus ini, nona. Walaupun hanya sedikit ciri-cirinya saja itu sudah cukup membantu. Bila anda tidak ingin bekerja sama, posisi andalah yang akan sangat dirugikan."

"Tapi aku bukan pelakunya!" Rukia terus berteriak frustasi.

Si polisi menatap tanpa ekspresi berlebih—separuh lelah. Rukia semakin memelototinya, bergerak tidak nyaman di atas kursi keras seperti terbuat dari batu. Lalu otaknya menemukan sesuatu. Tepatnya seseorang, yang bisa menolongnya keluar dari tempat itu.

"Renji—maksudku officer Renji! Bisakah kau segera menghubunginya?"

"Dia sedang tidak bertugas malam ini. Dan kasus ini tidak bisa ditangani olehnya, karena dia tidak berada di tempat kejadian. Seharusnya anda mengerti itu, nona."

Rukia semakin geram, ingin melayangkan tinjunya ke atas meja dan memaki polisi angkuh di depannya. Terlalu muda dan menyebalkan untuk menjabat sebagai penyelidik.

"Aku ingin bicara dengannya," gerutu Rukia, menggertakkan gigi. "Sekarang."

"Tidak, karena anda belum mengatakan yang sebenarnya terjadi. Bila tidak ada yang bisa kudapat malam ini, maka andalah yang bisa dijadikan sebagai pelakunya."

Mulut Rukia ternganga lebar, seperti sedang menguap dan bahkan burung kecil bisa masuk ke dalamnya. Ketidakadilan membuatnya ingin menjerit sekaligus mengatakan apa yang sudah terjadi. Serigala dan manusia yang 'bukan manusia'. Tapi, siapa yang mau percaya dengan cerita tak masuk akalnya itu? Mungkin setelah itu dirinya akan dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa.

"Itu tidak adil! Aku menolong wanita itu dan sekarang kau menyebutku sebagai pelakunya?"

"Belum, itu mungkin bila kami tidak mendapatkan keterangan yang tepat." Si polisi menjawab sedatar mungkin, tanpa mengerucutkan bibirnya ataupun mengerutkan alisnya.

"Bagaimana dengannya? Apakah—wanita itu masih hidup? Dia sudah siuman?"

"Kondisinya kritis dan kami tidak bisa mendapatkan keterangan darinya. Karena itu, saksi satu-satunya bisa menjelaskan, mencegah situasi buruk bila korban meninggal dunia."

Rukia memijit pelipisnya, siap membenturkan kepalanya kapanpun ke dinding tembok. Sikap terlalu pedulinya itu sekarang merubah terbalik keadaan. Menjadi lebih buruk dan menjatuhkan dirinya.

Suara pintu terbuka paksa, membuatnya bergidik kaget dan hampir terlompat di atas kursinya. Seseorang dengan napas terengah berdiri di sana, sebelah tangannya menahan pintu agar tetap terbuka. Rambut merahnya mencuat ke segala arah—hampir terlihat seperti saos tomat di bawah sinar lampu putih yang terlalu terang.

"Renji?" Rukia memanggil, separuh terkejut dan bahagia. Orang yang diharapkannya bisa membantu kini berdiri di belakangnya.

"Hei kau—" Renji menunjuk si petugas polisi yang masih duduk di depan layar komputernya, terbengong menatap Renji seperti melihat hantu. "Kasus ini milikku sekarang dan gadis ini tidak bersalah."

"Ta…tapi—anda tidak bisa mengambil kasus ini seenaknya, officer! Lagipula dia satu-satunya saksi yang kami miliki!"

"Ming-gir se-ka-rang." Renji mengeja kata-katanya keras.

Dia melangkah dan menapaki lantai keras dengan sepatunya, menarik kerah si petugas—mengangkatnya berdiri dari kursinya.

"Hei—aku bisa melaporkan ini kepada atasan—"

"Laporkan saja! Aku tidak peduli!" teriak Renji, mengagetkan si petugas penyelidikan juga Rukia.

Si petugas mengeluarkan emosinya, dengan wajah memberengut dan merah seperti apel. Dia berlari keluar sambil membanting pintu sekeras mungkin. Renji tidak berkutik, hanya terdiam sambil menumpukan tangannya di atas meja. Memandang jenuh sekaligus mengejek.

"Itu baru hebat," kata Rukia.

Renji meliriknya, mendapati gadis itu memandang kagum ke arahnya. Senyum si officer tersungging lebar, karena pujian yang baru di dapatnya. "Bocah itu sungguh membuatku kesal! Tingkahnya mengharuskanku sesekali menggertaknya."

"Apa ini berarti—aku bebas?"

"Ya. Kau bisa segera pulang, aku akan mengantarmu—"

"Tapi, bagaimana dengan kasusnya? Wanita itu?" Rukia bertanya, sebelum mengikuti Renji keluar dari ruangan yang membuatnya mual itu.

Renji hanya memunggunginya, terdiam sambil berpikir. "Aku dan Tatsuki sedang menyelidikinya, kau tidak perlu khawatir akan hal itu."

"Bagaimana dengan lokasinya? Apa ada darah? Atau mungkin bekas perkelahian dan—"

"Kau melihatnya?" tanya Renji hampir berteriak, menutup kembali pintu yang sudah dibukanya.

Rukia terbelalak, ketika Renji terlihat serius dan rahangnya mengeras. Oksigen kembali seperti ditarik dari paru-parunya. Kakinya terasa kaku tidak bisa digerakkan.

"Aku…tidak—hanya memastikan, mungkin," gumam Rukia.

"Kau yakin?"

Dia mengangguk, separuh berbohong. Tidak mungkin mengatakan serigala yang melakukan hal itu—yang membunuh si pelaku dan memenggalnya di tempat. Renji juga akan menganggapnya gila.

"Kupikir kau sedang tidak bertugas malam ini," ucap Rukia, mengalihkan topik pembicaraan yang terlalu serius.

"Aku mendengar di radio mobil bahwa ada kasus pencobaan pembunuhan di area tempatmu bekerja. Kebetulan aku masih berada di dekat situ."

"Kau tahu aku terlibat?"

Mereka berjalan di tengah lorong yang sepi. Suara mesin fotokopi yang bekerja juga beberapa orang berbincang masih melatari di hari yang hampir menjelang tengah malam. Kesibukan bertambah dan tidak pernah berkurang di kantor polisi.

"Kantor pusat mengatakan bahwa ada seorang gadis yang menjadi saksi di tempat kejadian. Aku segera memastikan bahwa orang itu bukanlah dirimu." Renji mendesah, memainkan kunci mobilnya dengan sebelah tangan. "Dan lihat siapa yang kutemukan di ruang interogasi?"

Rukia mendengus, menanggapi komentar Renji yang terdengar sedikit sarkastik. Dia tidak pernah terlibat dengan kasus yang melibatkan polisi dan ruang interogasi. Dan tidak akan pernah lagi.

"Apa dia akan baik-baik saja?"

"Wanita itu? Itu yang selalu kami harapkan di setiap kejadian yang kami terima. Korban selamat dan bisa menjalani hidupnya tanpa ada kejahatan yang sudah masuk dalam jeruji besi. Memisahkan masyarakat dari monster itu sendiri."

Rukia mengangguk, memandangi pintu mobil setelah Renji masuk ke dalamnya. Menarik napas perlahan sebelum menghembuskannya. Mengeluarkan kepenatan yang mengganggu akal sehatnya. Sesekali masih bertanya apa kejadian yang dia rasakan adalah sebuah realita. Atau mungkin hanya khayalannya semata.

"Kuharap dia akan baik-baik saja," gumam Rukia, duduk, dan menutup pintu mobil.

"Kau hanya bisa berharap."

"Kau yakin tidak menemukan apapun di tempat kejadian?" Sekali lagi Rukia bertanya.

Renji menaikkan sebelah alisnya, tanpa melepas matanya dari jalanan di depan. "Tentu, Tatsuki sudah menyelidikinya dan kemungkinan besar si pelaku belum pergi jauh dari tempat itu. Kau mengetahui sesuatu, Rukia?"

"Tidak."

"Kau bisa menceritakannya padaku, kau tahu itu? Apapun yang kau lihat."

Dia tersenyum, memandangi si polisi yang kini sudah membuatnya berhutang budi. Separuh percaya dan tidak. Mengatakan yang sebenarnya bisa menambah masalah. Kemungkinan besar adalah mereka tidak akan menemukan si pelaku—maupun jasadnya.

"Oh—sial!"

"Apalagi?" Renji bertanya, menegang memegang setirnya.

"Nii-sama! Renji, kau bisa berbohong untukku?"

"Apa?"

"Jangan katakan ini pada nii-sama, bisakah? Aku tidak ingin dia mengetahui bahwa aku terlibat dengan kasus hukum!"

Sekarang Renji meliriknya, saat lampu merah memberhentikan laju mobilnya. "Aku polisi dan kau menyuruhku untuk berbohong?"

"Kumohon! Bila tidak, nii-sama akan melarangku keluar rumah. Memotong jam malamku," gerutunya, menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya. "Nyawaku bergantung padamu, officer!"

"Oh—baiklah! Dan kau berhutang kopi untukku," balas Renji.

"Ditambah bangle. Lihat! Bukankah aku gadis yang baik hati?"

Rukia tersenyum lebar dan Renji tidak tahu apa yang ada di baliknya selain rujukan manis untuk membantunya berbohong. Gadis itu memikirkan hal lain. Membuatnya bergidik ngeri. Sesuatu yang berbahaya dan mengancam jiwa. Mempertanyakan apakah peran si serigala sungguh membantu?

Seandainya serigala liar itu tidak ada di sana dan menerkam pria itu, mungkin dirinya tidak akan selamat.

Sebuah rahasia yang akan digenggamnya seorang diri—hanya gadis itu seorang yang tahu. Di saat semuanya sudah terlelap dan bulan tepat berada di atas kepala. Mata itu akan terus terngiang di balik kepalanya. Mata yang menatap tajam di lorong gelap yang sepi. Taring yang panjang saat mulutnya menggeram. Serigala yang kembali muncul di dalam mimpinya, saat dia terlelap di atas kasur empuknya. Serigala liar yang memamerkan taring untuknya, menunduk di atas tubuh kecilnya.

..~*(to be continued…)*~…..

.

.

.

.

.

.

.

Author's note:

Dolly= domba

Oye~ Hallo readers? Ok, aku tahu, terlalu lama update :p Sudah satu bulan lebih dan aku belum meneruskan fic ini (masih berupa prolog) sampai scene pertama dimunculkan—akhirnya terwujud! Yeay! Sungguh maaf karena membuat kalian bertanya-tanya 'apakah fic ini masih tetap dilanjutkan?' Jawabannya Yes! Tapi, berhalangan akhir-akhir ini entah kenapa niat mengetikku hilang dan berkali-kali berusaha mengetik tapi selalu tidak pernah bisa beres TTATT… Syukurlah sekarang bisa mengupdate chapter lanjutannya. Semoga chapter ini tidak terlalu membuat kalian penasaran (?) Karena Ichigo-nya masih belum aku munculkan di sini (pssstttspoiler…dalam wujud manusia ;) hehe)

Kalian sudah pasti tahu siapa si serigala di atas, jadi tidak perlu kujelaskan lagi. Dan si pemilik toko tempat Rukia bekerja itu OOC yang kubuat (tidak ada di manga/anime Bleach) karena hanya tokoh sekelebat lewat saja. Renji is the cop! Beberapa kali membaca fic-fic Bleach dan menempatkan Renji sebagai seorang polisi, aku setuju perannya itu sangat cocok untuk si nanas merah XD

Chapter terbaru akan segera kurilis! Oya sebelum aku lupa, chapter ini sedikit pendek daripada chapter yang pernah kutulis di fic mulitchap sebelumnya. Harap maklum, karena aku membagi-bagi permasalahan tiap chapternya tidak terlalu berat. XD

Terima kasih sebelumnya untuk para pembaca! Yoroshiku minna-san! ;) Sankyuu untuk reviewers~ Dukungan kalian sungguh membantu untuk penulisan fic baruku ini! Love you all!

.

.

Balasan reviewers anonymous dan no-login:

virgo24: Terima kasih untuk review pertama fic ini! Wah, kalo rate-M nanti dulu ya, aku belum bisa bikinnya (jujur) XD Untuk sekarang masih dibatas rate-T ;)

Rumie Ichiruki: Terima kasih buat reviewnya Rumie-san! Maaf ya chapter barunya kelamaan update, semoga kamu suka TAT… Siapa ya? Ichigo-kah? Ada jawabannya di chapter ini atau mungkin chapter depan (?) ;)

Dani Reykinawa: Terima kasih untuk reviewnya! Hehe…itu Ichigo atau bukan ada di chapter ini, mungkin chapter depan lebih jelasnya ;) Keluarga Kurosaki werewolf itu masih menjadi rahasia, nanti aku ungkapkan di chapter-chapter terdepan. Nah, tebakanmu benar! Ada seseorang yang sedang diserang vampire XD Oke, ini sudah kulanjut dan sebelumnya maaf aku kelamaan update TAT…

darries: Terima kasih sudah mereview darries-san! Thehe…Rukia muncul kok di chapter ini ;) Surat apa ya? Nanti ada kok di chapter terdepan. Maaf ya aku kelamaan update, semoga kamu suka dengan chapter terbarunya.

.

.

Playlist:

Fever Ray- The Wolf

Jack Trammell- Stand and Become Legendary

B.O.B feat Hayley Williams- Airplanes

DJ Snake X Lil Jon- Turn Down For What

These songs don't belong to me…