::The Dark Legacy— First Quarter::

By: Morning Eagle

Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::

Just to warn you all :: AU, OC, OOC, Misstypos...for this story


Scene 2: Haunting You, Chasing You

~0*0~

.0.

.

.

.

.

.

.

.

Rukia mengetukkan kakinya berirama. Kedua tangannya terlipat di depan dada, sementara roti panggangnya tergeletak tak tersentuh. Asap mengepul dari cangkir kopi dan teh di atas meja, melewati pandangan akan koran yang terbuka lebar. Mata gadis itu tidak pernah berkedip, sesekali teralihkan saat korannya dibuka untuk halaman berikut. Giginya menggigit bibir bawah—pertanda tidak sabaran juga frustasi.

"Apa yang kau lakukan, Rukia? Kau tidak memakan rotimu?"

Suara kakaknya memecah konsentrasi Rukia, untuk membaca kolom surat kabar bagian depan. Beritanya tidak ada di sana.

"Ada apa?" Kakaknya bertanya lagi, kali ini menutup koran yang sedang dibacanya. Rukia hampir menggerutu, sebelum diurungkannya dan segera mengambil roti setengah gosongnya.

"Tidak ada—hanya saja roti ini sedikit panas." Mulutnya terbuka lebar sebelum menutup dan menggigit rotinya.

Kuchiki Byakuya—sang kakak sekaligus kepala keluarga rumah itu hanya bisa menatap datar. Alisnya sedikit terangkat melihat kebohongan yang tertera jelas di wajah adiknya.

"Kau terus menatap koran," ucap Byakuya, menyesap teh panasnya. Matanya tidak lepas dari gerak-gerik Rukia yang seperti duduk di atas kompor panas.

Rukia terbelalak, hampir mengumpat saat gerak sembunyi-sembunyinya terbongkar. "Aku—tidak, hanya saja ingin melihat cuaca hari ini."

Byakuya sekali lagi melihat koran di tangannya, di bagian ramalan cuaca. "Hari ini cerah, sedikit berawan, suhu 24 derajat celsius."

"Begitu? Aku tidak perlu membawa payungku," gumam Rukia.

"Kau tidak pernah membawa payungmu—yang selalu kau tinggalkan di tempat penyimpanan."

Seperti biasa, kakaknya selalu jeli dalam hal apapun. Rukia hanya bisa terdiam sambil menyesap kopinya dalam satu tegukan.

"Apa yang kau sembunyikan—"

"Tidak ada."

Kali ini Byakuya benar-benar mengangkat sebelah alisnya. Hal itu membuat Rukia gugup dan menelan rotinya bulat-bulat.

"Apa hari ini kau mengambil kerja sampingan?" Pertanyaan lain keluar dari mulut kakaknya.

"Tidak. Aku libur, karena itu aku bisa pulang lebih cepat."

Melihat Rukia mengalihkan pandangan darinya, Byakuya terdiam. Tapi, terlihat sedikit bahwa sudut mulutnya tertarik. "Kau harus lebih banyak menyempatkan waktu di rumah. Bekerja terlalu keras bisa membuat tubuhmu cepat lelah."

"Aku baik-baik saja, nii-sama. Lagipula, itu hanya kerja sampingan."

"Kau bisa mengikuti kelas hari ini."

Rukia mengerutkan dahinya, sedikit bingung akan penuturan kakaknya. "Kelas?"

"Kaligrafi—kau selalu ingin mengikutinya."

"Nii-sama mengajar hari ini?" Rukia bangkit dari duduknya, kedua tangannya menekan meja makan. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya. Menulis sama seperti kehidupan baginya. Termasuk kaligrafi dan menggambar. Dua hal yang menurutnya adalah sesuatu yang sejalan. Sealiran.

"Karena kau tidak bekerja hari ini, jadi—"

"Aku akan datang! Ahh—maksudku, tentu saja, nii-sama," ucap Rukia, tidak bisa menahan rasa gembiranya untuk tetap disembunyikan.

Menunggu kelas kakaknya yang tepat setelah jam sekolah berakhir adalah terasa seperti menunggu siput berjalan. Yang membuat tubuhnya merasa kegelisahan tak tertahan namun di sisi lain adalah kenikmatan itu sendiri. Seperti menabung permen pelangi terlalu awal untuk menikmatiya di akhir hari. Matanya mengamati jam dinding dan hampir tersedak saat melihat jam menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit.

"Aku terlambat!" ucapnya, sembari menyambar satu buah jeruk dan dimasukkan ke dalam tasnya. "Aku pergi sekarang, nii-sama—"

Rukia terhenti canggung di samping kakaknya, melihat dengan tatapan bulatnya. Byakuya mengerti apa yang dimaksud adik perempuannya, mendesah sebelum menaruh koran di pangkuannya.

"Kau boleh memelukku."

Dengan begitu Rukia memeluknya erat, singkat sebelum dilepaskannya segera. "Dan terima kasih untuk jeruknya." Rukia membungkuk dalam.

Byakuya belum sempat membalas kata-katanya, karena Rukia sudah menghilang di balik pintu. Kembali dalam rutinitas paginya, dia membuka koran dan membaca dimana tadi dia tinggalkan.

.

.

…..~***~…..

.

.

Rukia berlari secepat mungkin, sambil merutuki gerbang sekolah yang hampir ditutup. Sedikit lagi, hanya dua puluh meter maka tubuhnya akan mencapai garis finish itu. Kemungkinan besar lolos, bila anggota Osis tidak menutup gerbangnya.

"Tidak! Jangan—tunggu dulu!" teriaknya, terengah-engah di sela-sela napasnya yang memburu. Tangannya terulur ke depan, seperti ingin meraih sesuatu yang tak tampak.

Sesaat sebelum mencapai batas akhir perjuangannya, gadis itu berhenti. Seperti angin yang menerpa rambutnya kuat, juga matahari menyinari terik menusuk. Hentakan ringan di jantungnya dengan tepukan berulang keras berdentum. Matanya sejeli tupai, menemukan sesuatu yang seharusnya luput dari perhatiannya.

Rukia menyadarinya, warna jingga yang dilihatnya kemarin malam. Sama berarti serupa. Kali ini berjalan di depan matanya. Di sudut belokan gerbang sekolahnya. Di sana seorang pria melangkah pergi dan menghilang dari pandangan. Tapi, gadis itu yakin akan apa yang sudah melintas di depannya. Rambut pria itu—seterang bulu si serigala. Napasnya pun berpihak pada apa yang dipercayainya.

Seakan waktu berjalan lambat, Rukia hanya mematung dan mengulang kembali kejadian malam itu. Si serigala yang menatapnya diam. Perasaan yang dimilikinya hampir membodohi dirinya sendiri, untuk tidak takut akan monster yang bisa saja melahapnya bulat-bulat. Melihat ukuran tubuhnya sebesar truck dan cakarnya setajam belati yang baru saja diasah. Makhluk itu bisa menerjangnya dan menerkamnya. Tapi tidak.

Serigala itu hanya terdiam. Menatap dan mengamati dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Rukia terdiam. Seperti memahami apa yang sedang menatapnya bukanlah kegelapan itu sendiri. Bukan mimpi buruk. Tapi sebagiannya—mungkin.

"Kuchiki!"

Teriakan itu menengadahkan kepalanya dan berpaling. Melihat seorang anggota Osis meneriakinya dan melambai padanya.

"Cepat! Pintu akan segera ditutup! Sekarang atau tidak!"

Dan begitulah akhirnya, gadis itu memilih pergi dan meninggalkan pikirannya di belakang. Kakinya kembali menapaki jalanan aspal dan berlari menerjang angin. Memasuki celah gerbang yang akan menutup. Meninggalkan dirinya, seandainya dia lebih memilih untuk mengikuti si pria misterius. Yang mungkin perkiraannya adalah kesalahan besar.

"Ada apa denganmu? Kau tidak berniat bolos, bukan?" Si anggota Osis yang meneriakinya menatap bingung. Bibirnya berkedut, sementara sebelah tangannya menggaruk tenguknya.

"Tentu saja tidak," jawab Rukia, terengah-engah.

"Lalu, kenapa kau berdiri di tengah jalan seperti itu?"

Rukia hanya terdiam, sembari berjalan meninggalkan pria kikuk itu di belakangnya. Si anggota Osis mengikutinya, hampir menggerutu karena gadis itu menghiraukannya.

"Aku berbicara padamu, Kuchiki!"

"Berhentilah bertanya yang tidak jelas, Tanaka! Lagipula tidak baik mengurusi masalah orang lain!" Rukia berteriak, kali ini kembali lari dan masuk ke dalam sekolah. "Kita sudah terlambat dan kau masih terus menggangguku."

"Aku tidak—tapi kau yang terlambat!"

Rukia menghentikan langkahnya, dan membuat Tanaka hampir menabrak punggungnya. "Hei—jangan—"

"Sekarang, lebih baik lakukan tugasmu dan hentikan kebiasaan menahanku agar tidak mengikuti pelajaran di awal sekolah!"

Tanaka tersentak dan pipinya bersemu merah muda. Lagi, dia menggaruk tenguknya. "A…aku tidak bermaksud menahanmu."

"Bagus—karena aku bisa melaporkan pekerjaan burukmu pada ketua," ancam Rukia, menunjuk Tanaka tepat di depan wajahnya, walaupun tinggi badannya terpaut sepuluh senti darinya.

"Kau…tidak akan berani—Kuchiki!"

"Oya? Aku wakil ketua, kalau perlu kuingatkan sekali lagi," balasnya tersenyum miring. Dan kali ini pria di depannya berubah merah padam. Separuh jengkel dan separuh menahan malu.

Jam pelajaran sekolah masih berjalan padat, setelah tes di akhir musim semi telah berakhir. Beberapa hari lagi libur menjelang. Gadis itu hanya bisa mendesah dan menatap jendela di samping tempat duduknya. Menunggu jarum jam bergulir cepat dan menahan agar kakinya tidak segera bergerak lebih dulu daripada otaknya bekerja. Kejadian tadi pagi membuat semangatnya bertambah dua kali lipat. Tidak jarang sesekali matanya menatap keluar gerbang sekolah, hanya untuk memastikan pria itu melewati jalur awalnya.

Si pria berambut jingga. Hanya sekian dari banyaknya populasi di Tokyo Selatan. Kebanyakan orang mewarnai rambutnya pirang ataupun coklat. Jingga masih menjadi hal asing untuk dilakukan kaum muda.

Dan entah mengapa ingatannya selalu tertuju pada si serigala. Di dalam mimpi malamnya yang juga mengarah pada makhluk itu. Geraman rendah saat menerkam si pria 'yang bukan manusia' juga gerak tubuhnya selihai binatang liar. Tulang kakinya yang menekuk dan punggungnya menunduk rendah di atas mangsanya. Itu merupakan pemandangan yang tidak dilihat setiap harinya. Seperti sebuah bentuk melekuk nan indah. Serupa lekukkan kayu piano ataupun pinggiran cello.

Dia terlalu indah untuk dilihat. Namun terlalu berbahaya untuk didekati.

Bahkan setelah jam sekolah berdenting nyaring—menandakan jam pulang adalah akhir di hari itu—Rukia tidak bisa melepaskan benaknya dari penyusup di balik bayangan malam. Seperti hantu yang menghilang terlalu cepat. Kakinya kembali menapaki lorong dan berlari menghindari kerumunan siswa yang berjalan memenuhi pintu keluar. Tidak ada yang spesial hari ini. Hari berlalu terlalu cepat untuknya, bahkan tidak bisa mengingat jelas apa yang dimakannya untuk jam makan siang. Selain jeruk yang dibawanya di dalam tas—pemberian kakaknya.

Dia ingin secepat mungkin mencapai rumah. Mengikuti kelas kakaknya dan menghanyutkan diri dalam kenyamanan dan ketenangan budaya kuno tersebut. Menulis sebuah huruf, kata, yang menghabiskan berlembar-lembar kertas putih dan tinta hitam. Apapun yang bisa mengalihkan perhatiannya dari bayangan yang seakan mimpi baginya.

Itu bukanlah hal nyata. Perlahan memorinya berganti dan seakan membohongi dirinya.

Rukia sampai ke jalanan utama, di samping toko berderet dan jalanan raya yang diisi kendaraan berlalu-lalang. Dia berhenti di depan halte bus, yang akan mengantarkannya pulang. Di balik keteduhan tudung plastiknya, sinar mentari sore menerangi dan menciptakan bayangan pada jalanan aspal. Jam bergerak cepat. Bergulir seakan mendorong tubuhnya maju dengan kecepatan penuh.

Bus terlihat di belokan, menunggu lampu hijau menyala. Rukia hanya bisa mendesah dan berdiri di antrean pendek menunggu bus berhenti di depan halte. Matanya bergerak mengamati layar iklan di seberang jalan, menampilkan promosi album terbaru dari Morning Musume. Itu mengingatkannya akan si keras kepala officer Renji. Seharusnya dia mengakui, bahwa grup yang berisikan wanita itu ada di daftar kesukaannya. Setelah Bob Marley tentunya. Dia harus menyarankan hal satu itu, saat Renji kembali berkunjung ke tempat kerjanya.

Dan matanya turun, menemukan sekelompok orang berdiri menunggu lampu merah di seberang jalan. Di antara kerumunan itu, berdirilah orang itu. Si pria berambut jingga. Seperti terbangun, Rukia membelalakkan matanya dan mengamati lebih lama. Melihat tinggi pria itu yang lebih tinggi dari orang-orang di sampingnya. Rambutnya adalah hal utama yang terlihat jelas darinya, di samping keluwesan tubuhnya dan sepatu boots yang dipadukan dengan celana jeans usang.

Rukia tersentak, saat mata si pria asing seakan menatap dirinya. Terarah padanya. Dalam beberapa detik mereka terpaku, saling menatap tanpa ada emosi juga kata-kata yang tersalurkan keluar. Rukia masih terdiam saat bus menghalangi pandangannya. Pintu terbuka dan orang-orang keluar-masuk secara bergantian. Gadis itu segera mengikuti barisan paling belakang dan mencari-cari sosok si pria asing dari jendela dalam bus.

Lampu hijau penyebrangan sudah menyala dan sosok si pria asing sudah menghilang. Di antara barisan orang-orang yang menyebrang. Atau mungkin tidak.

Gadis itu bersumpah, mata itu adalah mata yang sama dengan sosok makhluk buas semalam. Menatapnya tajam tanpa bergeming. Hanyut dalam keheningan emosi.

.

.

…..~***~…..

.

.

Rukia menapaki jalan menuju ke arah rumahnya, sekaligus tempat kakaknya melakukan pekerjaannya. Untuk kelas kaligrafi dan upacara minum teh tradisional. Rumah bergaya Jepang kuno dengan pintu dan tatami yang berfungsi sempurna. Halaman depan dan belakang yang sederhana, dilengkapi sebuah kolam kecil dan beberapa jenis bonsai milik Byakuya. Dirawat tanpa cacat seperti karya seni berwarna hijau. Bernilai lebih dari gelas Chappy limited edition.

Pintu rumahnya terlihat jelas di depan sana, terpaut beberapa kaki. Tanpa menunggu lagi, gadis itu segera berlari dan membuka gerbang depan dengan sekali hentakan. Kakinya menapaki lantai batu di depan pintu rumah, sebelum menggeser pintu shoji-nya. Dan langkahnya terhenti saat menemukan pot bunganya tergeletak menghalangi jalan. Tanahnya berceceran di atas lantai kayu.

Jantungnya seakan bertalu lebih cepat, ditambah napasnya memburu menyesakkan paru-parunya. Matanya terbelalak saat mendapati ruang tengahnya yang porak poranda. Seperti terkena amukan badai topan. Semuanya hancur, termasuk pigura penghargaan milik kakaknya. Juga foto keluarga satu-satunya yang dia miliki.

Rukia bergerak, walaupun hanya sedikit dan ragu. Menghindari beberapa benda tergeletak tidak pada tempatnya, menyusuri ruang tengah dan menuju ruang kelasnya di bagian belakang. Dia masih terpaku pada sekeliling, seakan-akan semua ini tidak terasa nyata baginya. Seperti rekayasa, dimana kakaknya tidak ada di sana.

"Nii-sama?" Rukia memanggil, berjalan lebih cepat dan menemukan sebuah katana di ujung lorong. Milik Byakuya.

Pedang yang tergeletak, bahkan belum sempat ditarik keluar dari sarungnya. Rukia mengambilnya, menggenggam kuat seakan itu adalah kunci kehidupannya. Pedang yang entah darimana itu berasal, tapi selalu dijaga Byakuya seperti kehidupan keduanya yang sempurna. Penjaganya.

Rukia kembali mencari sosok kakaknya yang belum ditemukannya, sembari memanggil berulang kali. Sedikit putus asa, saat melihat pintu ruang kursus terbuka lebar.

Perlahan kakinya melangkah tanpa suara di atas lantai kayu. Tangannya memegang erat pedang dan menjadikannya tumpuan pelukan. Tidak ada tanda-tanda kelas sedang atau sudah berlangsung. Tatami yang rusak juga terlihat bercak noda di dinding dalamnya. Merah seperti darah.

Mulutnya hampir berteriak, saat menemukan sosok seseorang berdiri di sudut ruangan, mencari sesuatu. Dia menunduk dan memunggungi Rukia. Namun, gadis itu menyadari sesuatu yang menghantuinya sepanjang hari. Berujung hingga kemari. Berdiri di depannya sebagai jawaban terakhir. Pria asing itu. Yang berambut jingga terang.

"Si…siapa kau?" tanya Rukia bergetar, bahkan air matanya tergenang di pelupuk matanya. Bibirnya digigit sebagai penahan emosi yang hampir keluar.

Pria itu berdiri tegang, masih memunggungi dan tak bergerak. Rukia menarik pedang keluar dari sarungnya, mengarahkan tepat ke punggung pria itu. Kilauannya tak ternilai, itu mengapa Byakuya selalu merawatnya setiap hari. Hal terindah yang pernah gadis itu lihat dalam hidupnya.

Perlahan, pria itu berbalik dan menatap Rukia. Mata itu—masih sama seperti terakhir kali dilihatnya. Ditambah kerutan dalam juga alis yang menukik. Wajahnya yang hampir tirus menambah kesan garang dengan tulang pipi yang tinggi. Hidung mancungnya juga bibir tipisnya bahkan terkesan sempurna. Pria itu benar-benar pria asing. Bukan berasal dari Jepang.

"Siapa kau?! Apa yang kaulakukan pada nii-sama?" Rukia berteriak, melengking. Tangannya semakin gemetar memegang katana.

Pria itu masih terdiam, mengamati Rukia dari atas ke bawah. Mulutnya berkedut tidak suka, saat melihat mata pedang terarah di depan wajahnya.

"Kau bercanda?" Bahkan suaranya semakin membuat gadis itu tersentak. Suara yang kasar sekaligus ringan. Hal yang bagus bahwa dia masih bisa berbahasa Jepang.

"Kau yang melakukan semua ini!"

"Aku?"

"Dimana…nii-sama? Katakan!" Rukia semakin menekan pedangnya ke depan, hampir menyentuh dagu pria itu.

"Hei—" Pria itu menegur, mundur satu langkah. "Turunkan pedangmu! Kau mau menebasku?"

"Ya!"

Pria itu terlihat gusar sekaligus geram. Dalam sekali gerakan cepat, tangannya berhasil menepis pegangan pedang yang digenggam Rukia terlalu rapat. Pedangnya terlepas dan pria itu mengambilnya dengan satu tangan. Sekarang keadaan berbalik, saat Rukia tidak lagi memiliki sebuah tameng dan perlindungan diri.

"Pedang yang bagus," ucapnya, mengamati pedang itu sedikit meneliti. "Salah satu yang masih tersisa."

"Berikan padaku!" Rukia bergerak maju dan berniat merampas kembali pedangnya. Pria itu sudah memegang sarungnya dan kembali memasukkan pedangnya ke tempat yang aman. Menyembunyikan bilah tajamnya. Dia menarik tangan gadis itu tanpa ucapan apapun dan menyeretnya keluar ruangan. Masih dengan satu tangan memegang katana sigap.

"He—hei! Apa maumu?!"

"Membawamu keluar dari tempat ini," jelas pria itu.

"Aku tidak mau!" Rukia berusaha meronta, bahkan memegang tembok sebagai penahan. Tapi, tidak berhasil, saat pria itu menariknya semakin kuat. "Lepaskan!"

"Di sini tidak aman! Apa kau tidak lihat rumah ini sudah porak poranda dan darah di tembok—"

"Dan kau tidak jauh berbahaya dengan di sini! Siapa kau?!"

Teriakan memekikkan Rukia membuat pria itu tertegun. Tepat di depan pintu keluar. "Aku?"

Hanya suara napas Rukia yang terdengar, di antara kesunyian mendadak melanda tempat itu. Dan mata yang saling menilai. Menatap tajam satu sama lain. Seandainya tatapan bisa membunuh, sebuah ungkapan yang hanya pengandaian.

"Kau ikut denganku," ucap pria itu, kembali menyeret gadis itu untuk mengikuti langkah lebarnya.

Rukia tidak bisa berpikir jernih, selama kejadian asing tersebut terus berputar di dalam kepalanya. Rumahnya yang hancur, dinding yang terdapat noda darah, kakaknya tidak ada di sana, dan pria asing yang menyeretnya seperti sebuah karung tepung.

Mereka tiba di jalan luar, masih berjalan hingga menemukan sebuah mobil terparkir. Luput dari penglihatan Rukia, karena terlalu antusias mengikuti kelas kaligrafi beberapa menit yang lalu. Sebuah Jeep Wrangler hitam.

"Masuk." Pria itu berdiri di belakangnya, mengamati saat gadis itu naik ke kursi penumpang.

Dia terduduk diam, terpaku pada jalanan di jendela sampingnya, sementara mobil mulai bergerak maju saat pria itu menjalankan mesinnya. Mereka berkendara di tengah keheningan, menelusuri jalanan sepi perumahan dan keluar ke jalan utama Tokyo.

Matahari tidak bersahabat, saat hampir tenggelam di ujung cakrawala. Barisan burung-burung terbang di atas langit, kembali ke dalam hunian mereka yang aman. Di atas pohon ataupun tiang listrik. Dan Rukia ragu akan bisa kembali ke dalam rumahnya. Tempat terhangat yang mungkin tidak akan bisa dirasakannya lagi.

"Kita…akan kemana?" ucap Rukia, bergetar. Bisikannya lemah, menandakan ketakutan yang berusaha ditahannya untuk tidak keluar.

Pria itu terdiam beberapa saat, masih berkonsentrasi menghindari beberapa mobil untuk tidak tertahan lampu merah. "Toyama."

Rukia bergidik saat mendengar jawabannya, walaupun tahu tempat itu tidak begitu jauh dari Tokyo. Tidak sejauh Hokkaido ataupun Osaka.

"Untuk apa?"

"Aku hanya menjalankan perintah," jawabnya singkat.

"Dari siapa?"

"Aku tidak berhak memberitahu semuanya."

"Dimana nii-sama? Apa yang terjadi…sebenarnya? Siapa mereka yang—"

"Tahan pertanyaanmu, nona," potongnya, menatap Rukia dengan tatapan tajamnya. "Kita masih memiliki waktu kurang lebih lima jam—tidak, buat itu menjadi tiga jam."

Rukia menganga lebar, mengerti apa yang dimaksud oleh pria yang kini menambah kecepatan mobilnya. "Kau…tidak berniat melajukan mobil di atas kecepatan rata-rata, tuan penculik?!"

"Penculik?" Pria itu mendengus mendengar panggilan barunya. "Aku bukan penculik!"

"Lalu apa? Siapa yang menyeret orang yang rumahnya baru saja dimasuki perampok dan mungkin saja kakaknya dijadikan sebagai sandera, hah?"

"Bukan aku."

"Kau! Pria bodoh keras kepala angkuh yang tidak tahu caranya memperkenalkan diri?" Rukia memajukan tubuhnya, hingga seat-belt yang melilit tubuhnya ikut tertarik.

"Dan kau—perempuan tidak tahu terima kasih karena kau tahu, aku sudah menyelamatkanmu!"

Rukia hampir menggeram marah, hingga kulit wajahnya berubah merah padam. Tidak ada gunanya berdebat terus dengan pria di sampingnya, selain meminta bantuan atau menghubungi polisi. Renji. Nama itu terlintas dalam benaknya sebagai pilihan terakhir.

Mobil berbelok dari jalan raya, menuju sebuah tempat pengisian bahan bakar. Terdapat mini market di sampingnya, juga toilet umum. Pria itu menghentikan mobilnya, tanpa perlu sekedar melirik gadis yang mungkin bisa membunuhnya dan meninggalkan jasadnya membusuk di belakang mini market. Tidak—gadis kecil itu tidak akan sanggup.

"Kita berhenti sebentar untuk mengisi bensin dan aku harus menghubungi seseorang. Kau tunggu di sini."

Rukia menaikkan sebelah alisnya, sementara pria itu sudah beranjak turun tanpa repot-repot mengikat dirinya di kursi penumpang.

"Aku serius," tambahnya, wajahnya semakin mengkerut masam. "Tunggu-disini-mengerti? Aku akan segera tahu kalau kau berniat untuk pergi."

Dan pria itu pergi, hanya berjarak beberapa kaki dari mobil. Dia sedang berdebat dengan seseorang di sebrang ponselnya, sedikit menghentakkan langkahnya. Membicarakan sesuatu yang terlihat serius.

Rukia melihat sebuah kesempatan—sangat besar untuk melarikan diri. Beberapa pilihan terbentang sebagai pilihan. Menuju mini market dan menelepon polisi, berteriak minta tolong akan si penculik yang sekarang sedang sibuk menelepon seseorang yang mungkin adalah bos jahatnya, atau lari dari tempat itu sejauh mungkin.

Tangannya segera melepas seat-belt-nya dan membuka pintu mobil perlahan. Si petugas pengisian bensin masih melakukan tugasnya mengisi bahan bakar, tanpa perlu menyadari seorang gadis berlari menuju mini market dari mobil pelanggannya. Rukia berlari, dengan napas terengah dan mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak berbalik ke belakang.

'Jangan lihat ke belakang. Terus berlari. Jangan berbalik!' ucapnya dalam hati. Berulang kali.

Dia hampir tiba di belakang mini market, di antara toilet dan jalan kecil menuju belakang. Kepalanya sibuk bergerak ke kiri dan ke kanan, mencari kesempatan yang menurut dirinya lebih baik. Dan matanya yang sibuk menemukan seorang wanita jatuh terduduk saat baru saja keluar dari pintu toilet.

Wanita itu terlihat kesakitan, yang menjadi hambatan dirinya untuk segera lari dari tempat itu. Menghiraukannya sementara tidak ada orang lain yang menyadari kejadian genting, sama seperti lepas dari tanggung jawabnya. Dan kakaknya akan sangat kecewa dengan keputusan yang diambilnya.

"Sial—" Akhirnya Rukia berjalan menuju si wanita terduduk, ikut berjongkok dan mengamati sesuatu yang mungkin membuatnya terluka. Lututnya yang cedera atau mungkin masalah pribadi.

"Tolong…" Wanita itu meringis kesakitan, sambil terisak kecil. "Tolong…."

"Ada apa?" Rukia berniat menyentuh bahunya, namun diurungkannya. Sedikit canggung. "Tidak apa-apa, aku akan segera memanggil bantuan—"

"Jangan!" Wanita itu menahan tangannya, membiarkan Rukia kembali terududuk di sebelahnya. "Jangan…pergi."

"Hanya sebentar," jawab Rukia. "Mini market tidak jauh dari sini, aku bisa menelepon polisi atau ambulans—"

"Tidak perlu," isaknya, menatap Rukia tanpa ada air mata yang keluar.

Matanya semerah darah, membuat gadis itu bergidik karena mengetahui apa yang dihadapinya. Bulu kuduknya berdiri, memberikan tanda bahaya yang terasa jelas. Malam dingin menusuk tulang leher dan merambat turun ke punggung. Serupa dengan kejadian malam itu. "Karena aku hanya menginginkan dirimu, gadis kecil."

'Lari!' Sebuah kata yang terlintas di benaknya. Namun refleksnya tidak cukup cepat saat wanita itu memamerkan giginya. Kedua taringnya yang panjang dan mengerikan.

Rukia menepis tangannya dan mendorong tubuhnya menjauh dengan kakinya. Si wanita tidak kalah cepat, melempar tubuh gadis itu hingga menabrak dinding toilet. Keras.

Limbung juga panik, Rukia segera merangkak menjauh, menuju sumber cahaya yang lebih terang dari situ. Ke tempat pengisian bensin. Cahaya mentari yang meredup tidak memungkinkan petugas melihat dirinya diserang. Atau mungkin pria itu. Si Penculik.

Tenggorokannya terasa tercekik, saat si wanita mencengkramnya kuat dan menghantamkan tubuhnya kembali ke dinding beton. Rukia mengerang kesakitan.

"Gadis keras kepala! Seharusnya kau tetap diam dan membiarkanku meminum darahmu hingga habis—"

"Ya, ya. Aku sudah bosan mendengar kutipan murahanmu itu."

Rukia terbelalak, saat menyadari pria itu sudah berdiri di belakang si wanita. Dengan sebelah tangan memegang katana.

Pria itu menarik si wanita, hingga pegangannya lepas dari Rukia. Si wanita terlempar dan jatuh terduduk di atas tanah. Dia hendak bangkit berdiri, namun tertahan oleh sebilah pedang yang memamerkan cahaya padanya. Kilauannya menerangi kulit pucatnya, seperti tanpa pigmen—albino.

Si wanita terlihat panik, namun tidak bisa berbuat apapun saat pria itu menusuk lehernya dengan katana. Rukia hampir pingsan tersedak, melihat kejadian mengerikan yang sudah memutus kata-kata di tenggorokannya. Dan dalam sekejap, si wanita jatuh kembali ke atas tanah. Tubuhnya menghitam dan menjadi serpihan debu terbawa angin malam. Seperti bara api yang menghilang di gelap malam.

"Kau baik-baik saja?" Suara si pria menyadarkan kepanikannya, masih mengamati tubuh yang kini tidak ada lagi di depannya.

Si pria berjongkok, mengamati wajah Rukia yang masih terlihat panik—pucat. Tangannya terulur menyentuh kepalanya, mulai membelainya tanpa alasan pasti. Simpati atau mungkin sekedar basa-basi.

"Apa itu…tadi?" Akhirnya Rukia menemukan suaranya, hampir terisak.

"Monster yang mengincar darahmu? Strigoi—kalian menyebutnya sebagai vampire."

Rukia hanya bisa mengangguk, sementara benaknya menolak untuk memercayainya. Sebuah mitos yang tidak mungkin menjadi kenyataan.

"Kita harus pergi dari sini, mereka akan segera menemukanmu. Baumu sangat mudah ditemukan—bahkan aku bisa menciumnya dari seberang sana."

Rukia tidak mempertanyakan apa maksud kata-katanya—hanya menurut—ketika pria itu kembali membawanya ke mobilnya. Kali ini lebih lembut, tidak menarik dan menyeretnya paksa. Bahkan, dia dengan murah hati membukakan pintunya dan memasang seat-bealt untuk memastikannya aman di sana.

"Siapa…kau?" Sebuah pertanyaan yang kembali menarik perhatian pria itu padanya.

Warna matanya lebih terang di dalam kegelapan malam dan membuat gadis itu menahan napasnya. Aneh nan indah. Asing, yang membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan. Hanya melihat dan bertanya-tanya ada apa di balik mata indahnya itu. Apa yang sedang dipikirkannya?

"Ichigo—itu namaku. Kau boleh memanggilku begitu mulai saat ini, Rukia."

Mata Rukia tidak pernah lebih besar daripada itu, mengetahui bahwa langkahnya jauh tertinggal di belakang. Pria itu lebih tahu banyak tentang dirinya. Sebuah misteri yang perlahan terungkap—satu per satu.

"Kau—" Pintu tertutup tepat di depan wajahnya, hampir membuatnya mengumpat pada perlakuan kasar—lagi—dari si pria. Ichigo.

Ichigo sudah kembali naik di kursi pengemudi, setelah membayar biaya bensin pada si petugas. Katana di pegangannya dilempar ke kursi belakang tanpa peduli apa yang bernilai di dalamnya. Rukia kembali melotot, menggertakkan giginya.

"Hei! Itu pedang berharga milik nii-sama!"

"Kulempar pun tidak akan patah," jawabnya, menyalakan mesin mobil. "Itu bukan besi, melainkan perak murni yang dicampur oleh air suci. The Blessing Sword—tersebar dalam berbagai bentuk yang berbeda di belahan dunia. Dan ini salah satu yang terkuat."

"Haruskah…aku memercayaimu?" Rukia bergumam, memeluk dirinya sendiri karena dinginnya atmosfer seakan mengkhianati dirinya.

"Haruskah? Semuanya tergantung padamu—kemana kakimu melangkah, di sanalah hatimu berada. Seandainya aku bisa mengganti jalan pikirmu."

"Tapi kau tidak berhak," gerutu Rukia, mendengus kesal.

Ichigo tersenyum miring, menatap sekilas sosok gadis mungil yang akan menjadi teman perjalanannya tiga jam lebih ke depan. "Tapi mataku tertuju padamu. Aku mengawasimu sekarang."

..~*(to be continued…)*~…..

.

.

.

.

.

.

.

Author's note:

Strigoi= Bahasa Rumania untuk vampire.

Scene 2's here! Finally! Sedikit memakan waktu untuk menyelesaikan scene ini dan maaf harus mengganti scene beberapa kali. Sedikit lompat ke sana kemari, namun inilah awal pertemuan resmi Rukia dan Ichigo! Yeaay! Rukia belum mengetahui sosok asli Ichigo, hanya saja dia merasakan ada sesuatu yang ganjil di diri pria misterius itu. Dan selalu mengingatkannya akan sosok si serigala bila memandang mata Ichigo. Semuanya akan terungkap seiring berjalannya chapter, jadi mohon bersabar :D

Tanaka adalah murni chara buatanku sendiri alias OC. Dia tidak ada di dalam manga/anime Bleach. Juga peran Byakuya yang sedikit OOC. Dia tidak sekaku di manga-nya, karena di sini Keluarga Kuchiki bukanlah keluarga bangsawan besar. Akan dijelaskan di chapter-chapter terdepan.

Dan aku sarankan, alternatif playlist untuk fic ini adalah soundtrack terbaru The Hunger Games: Mockingjay part 1! Seriously, Lorde is the most real ART-ist, singer-songwriter! Dia yang memproduseri album soundtrack tersebut dan lagu-lagunya benar-benar keren! XD Yellow Flicker Beat salah satu lagu kesukaanku :D

Thank you for all of you! Arigatou na! Readers dan yang sudah me-fave ataupun follow fic ini! Terima kasih banyak semuanya :D I really appreciate that! Love you all~ #bighug

.

.

Balasan untuk anonymous dan no-login reviewers:

virgo24: Terima kasih untuk reviewnya! Yup, bisa dibilang serigala itu Ichigo, tapi belum resmi disebutkan di chapter ini XD Masih harus menunggu ya. Sudah kuupdate dan semoga kamu suka

ayuuuu: Terima kasih sudah mereview! Juga untuk sukanya..hehehe :D Klo vampire-nya aku belum bisa kasih tau. Masih rahasia ;)

kirito2239: Terima kasih untuk reviewnya! Yup, sudah dilanjut ini, semoga kamu suka :D

dearest: Terima kasih sudah mereview~ ;) thehehe…arigatou~ eh, review 2x? Grimmjow bukan vampire-nya, itu vampire OC..hehe.. Klo identitas Rukia nanti ya, masih rahasia ;) wkwkkw…Renji jadi polisi di sini XD Dia lebih cocok jadi petugas keamanan, hahhaa.. Sudah kulanjut dan semoga kamu suka!

Snow: Terima kasih untuk reviewnya! Hehe..klo identitas Rukia belum bisa dikasih tau. Nanti ya di chapter-chapter berikutnya bakalan pelan" kebongkar. Sudah kuupdate ini dan semoga kamu suka ;)

Rumie Ichiruki: Terima kasih sudah mereview! Thehehe sankyuu na~ Sudah kuupdate nih, kelamaan ga? XD Semoga kamu suka ya!

Dani Reykinawa: Terima kasih sudah mereview! Eh? Ga kok, darah Rukia normal (?) Ah, masih rahasia deh, nanti ya pelan" bakal keungkap XD Adak ok alasannya kenapa Ichigo bisa nunjukin sosok rahasianya di depan Rukia. Bisa dibilang itu ga sengaja juga :D Sudah kulanjut chapternya, dan semoga kamu suka~

uzumakisanti: Terima kasih untuk reviewnya! Nah untuk Grimmjow aku belum berencana munculin di sini. Mungkin nanti (?) Aku juga kepingin munculin sosoknya, bakal seru berseteru sama Ichigo :D Beberapa chara bakal muncul lagi, seperti yang di Black Rosette, Vizard terutama..hehe.. Oke deh, chapter terbarunya sudah kuupdate, semoga kamu suka!

Ann: Halo Ann-san! Makasih sudah mereview! Ga apa" kok, aku juga bru bisa balas n update lagi sekarang XD Underworld? Wah aku suka film itu, memang mirip" itu, kesannya dark gimana gitu. Hihihi..makasih untuk sukanya! :D Yup, si Renji seringkali dijadiin cop, di beberapa fic yang pernah aku baca dan entah kenapa image-nya cocok banget XD. Alpha-nya akan segera terungkap, walaupun masih agak lama ;) Makasih lagi, untuk semangatnya! Semangat juga untuk Ann-san!

Playlist:

Jack Trammell- Stand and Become Legendary

Fall Out Boy- Alpha Dog

Snow Patrol- What If This Storm Ends

Lorde- Yellow Flicker Beat

DJ Snake X Lil Jon- Turn Down For What

These songs don't belong to me…