::The Dark Legacy— First Quarter::
By: Morning Eagle
Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Just to warn you all :: AU, OC, OOC, Misstypos...for this story
Scene 3: Hold Your Breath, Open Your Eyes
~0*0~
.0.
.
.
.
.
.
.
.
"Rukia—bangunlah…"
Gadis itu mengerang dalam tidurnya, perlahan membuka matanya dan melihat cahaya di tengah kegelapan. Samar-samar dari jendela luar, berwarna kuning redup. Lehernya terasa kaku dan kram, akibat tidur dalam posisi yang tidak nyaman. Bersandar di kaca pinggir telah membuat ototnya mengejang.
"Sudah sampai?" Rukia bergumam, mengerjapkan matanya dan melihat jam di dasbor menunjukkan pukul sepuluh malam lewat dua belas menit. Pria itu berhasil menempuh jarak empat jam—kurang dari jarak tempuh seharusnya. Dia mengemudikan mobil gunung secepat mengendarai sport car.
"Ya—ini di Toyama, tepatnya di pinggiran Toyama."
"Wow—" Kata-katanya terputus di udara saat melihat rumah di depannya. Mansion sebesar istana. "Ini…rumahmu?"
Rumah yang berdiri kokoh dari batu merah dan kayu tudor. Lentera kuning di halaman menyorotnya seperti sebuah peninggalan kuno yang megah. Berwarna merah bata dan daun jendela dari kayu putih. Tidak seperti rumah Jepang pada umumnya, terdiri dari pintu shoji dan taman berbatu. Ini adalah gaya Eropa yang terlihat asing—berdiri di Toyama yang termasuk kota kecil di pegunungan.
Rukia menelisik, memerhatikan cerobong asap yang tidak hanya berjumlah satu. Mereka menggunakan pemanas tradisional, daripada pemanas listrik seperti di rumahnya. Kebanyakan orang lebih memilih kecanggihan teknologi, daripada peninggalan bersejarah.
"Terima kasih sudah beranggapan ini adalah rumahku, nona." Ichigo terkekeh mendengar penuturan Rukia. "Tapi, ini bukan milikku. Kyouraku-san yang memberi perintah untuk membawamu kemari. Ini rumahnya."
"Kyouraku? Siapa?"
"Kau akan bertemu dengannya segera. Lebih baik kita masuk daripada berdiam terus di dalam sini. Dan, kau pasti ingin melihat kakakmu, bukan?"
Seperti tersengat listrik, Rukia memelototi Ichigo dengan tatapan mengerikan. Tenguknya terasa dingin, merasakan angin musim dingin kembali muncul. Bahkan, kedua kakinya terasa bergetar hebat.
"Apa…maksudmu?"
Ichigo mendesah, memandang Rukia sedikit bersalah. Sedikit prihatin. "Dengar, aku baru mendapat kabar saat kau tertidur tadi. Mereka membawa kakakmu kemari dan—"
Terlambat, Rukia sudah keluar dari mobil secepat kilat. Dia membanting pintunya sekuat mungkin dan berlari ke sebuah pintu yang terlihat sebagai pintu masuknya. Besar dan dilapisi kayu yang terlihat sekuat baja. Kedua tangannya mendorong terbuka, meninggalkan bunyi decit yang nyaring terdengar.
Sebuah ruangan besar dengan tangga kayu dihadapannya, menuju lantai dua. Masih bergaya Eropa, sebuah lampu kristal besar tergantung di tengah-tengah ruangan. Bercahaya menyilaukan dan menerangi ruangan. Bahkan, karpet Timur Tengah di lantai kayunya pun terlihat memesona dan sehalus beludru.
"Rukia!" Ichigo menyusul di belakangnya, mengikuti gadis itu yang kini terlihat kebingungan. Antara memilih lorong kiri atau kanan, atau mungkin menuju lantai dua. "Tenanglah, kau tidak akan—"
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang?!" Rukia menggeram marah, meremas kepalan tinjunya sekuat mungkin. "Setelah apa yang terjadi dan hampir meremukkan akal sehatku? Kau—membawaku kemari tanpa alasan yang jelas, sementara nii-sama menghilang tiba-tiba dan aku tidak bisa melakukan apapun untuk menolongnya. Aku takut, hingga rasanya ingin berteriak sekeras mungkin, tapi tidak bisa kulakukan."
Ichigo menatap sendu, melihat gadis itu hampir menangis. Matanya berkaca-kaca, sementara menggigit bibirnya untuk menahan tangisnya. Tidak boleh keluar, setidaknya tidak di depan pria asing itu.
"Kurosaki-san, anda sudah tiba," ucap suara ketiga, terdengar dari lorong kanan. Seorang pria besar dengan pakaian formal, rambutnya berwarna merah muda. Terlihat sangat asing, apalagi untuk seorang pria. Bahkan, kumisnya pun berwarna mencolok sama.
"Hachi," sapa Ichigo, mengetahui si pria tersebut. "Dimana Kyouraku-san?"
Pria besar itu menunduk, mendesah sekali. "Kyouraku-sama tidak ada di tempat sejak beberapa jam yang lalu. Kemungkinan mereka akan kembali esok pagi."
"Dan, dimana Kuchiki Byakuya? Kau yang membawanya?"
Sekarang mata gadis itu memelototi pria besar di hadapannya. Berharap bisa menemukan sebuah kabar yang tidak lagi membohonginya. "Dimana…nii-sama?"
"Kuchiki Rukia-sama, kalau boleh kutebak?" tanya Hachi, menunduk dalam. "Namaku Hachigen, penjaga Kuchiki Byakuya-sama."
"Penjaga? Untuk apa—"
"Baiklah, sudah cukup perkenalannya," potong Ichigo. Tangannya merangkul bahu Rukia ringan, untuk menariknya menjauh dari Hachi. "Dimana dia, Hachi? Kupikir Rukia ingin segera bertemu dengan kakaknya?"
Seperti tersadar, Hachi berbalik dan berjalan cepat menelusuri lorong di belakangnya. "Sebelah sini, Kuchiki Rukia-sama. Ikuti aku."
Rukia mengikutinya, separuh ingin berlari separuh tertahan karena tangan Ichigo. Membuatnya tidak bisa melakukan apa yang diinginkannya, termasuk bertanya lebih lanjut mengenai penjaga yang Hachi masuk. Rukia tidak memercayainya, baik Hachi maupun Ichigo. Dua orang asing yang menyembunyikan sesuatu darinya.
Mereka berjalan dalam diam, seperti keheningan yang menggigit hingga ke tulang, ditemani kaca yang semakin redup seiring masuk lebih dalam. Gadis itu sedikit gugup, berjalan ke dalam sebuah lorong yang seakan menelannya hidup-hidup. Gelap dan hanya diterangi lampu yang jarang sekali terlihat menempel di samping dinding, juga cahaya malam yang menerangi dari jendela kaca. Taman di luar tidak menunjukkan kehidupan, tanpa ada burung juga jangkrik yang berbunyi. Berbagai pikiran buruk mulai membayanginya, membiarkan seluruh permukaan kulitnya terasa bergidik.
"Di sini," ucap Hachi kemudian, membuat Rukia tersentak di tempat. Tangan Ichigo sudah tidak ada di pundaknya, kembali ke tempatnya semula—di dalam saku celana jeans usangnya.
Rukia memandangi pintu di depannya. Pintu kayu yang terlihat seperti pada umumnya, tapi sedikit terlihat lain di matanya. Dia tidak menyukainya—pintu itu—berwarna coklat tua yang berasal dari kayu puluhan tahun. Hal-hal yang berupa peninggalan ataupun memiliki makna yang tua, seringkali membuatnya risih.
"Byakuya-sama baik-baik saja, hanya saja kondisinya belum pulih seratus persen. Aku sudah melakukan semampu yang kubisa untuk mengobati lukanya," jelas Hachi, sambil membukakan pintu untuk Rukia.
Rukia ingin menanyakannya, berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya. Mulai dari mengapa rumahnya dijadikan sebagai target perusakan dan siapa yang menyerang kakaknya? Perampok? Yakuza?
Mulutnya terkatup rapat, juga menghindari kontak mata dengan Hachi maupun Ichigo. Yang dia butuhkan saat ini hanyalah kesadaran Byakuya dan mengatakan semua ini akan berakhir baik, bukan kebohongan yang dikatakan terlambat, ataupun kejujuran yang menghantam otaknya seperti ombak mengamuk. Semuanya terlalu kuat dan memaksa.
Rukia perlahan masuk ke dalam ruangan gelap itu, melihat sebuah bayangan gelap yang seperti ranjang berukuran besar. Juga seseorang yang terbaring di atasnya. Dia yakin, begitu merasakan hentakan di dadanya. Itu—kakaknya.
"Nii-sama?" panggilannya hampir seperti getaran memilukan, memanggil dan berharap untuk mendapatkan jawaban.
Keheningan melanda dan Rukia hanya menatap kosong. Byakuya terbaring diam, tertidur dalam ketenangan. Kemeja putihnya terbuka di bagian dada, memperlihatkan dadanya yang dililit perban putih, tersambung ke lengan kirinya. Leher dan pipi tirusnya ditutupi kapas penahan luka di beberapa tempat.
Gadis itu duduk di pinggir kasur, menyentuh tangan kakaknya dalam getaran tak tertahankan. Berhati-hati karena takut untuk melukai dan membangunkannya. Terlihat rapuh juga berharga.
Menit yang berlalu seperti jam, sementara Rukia terus memandangi wajah kakaknya yang hampir sepucat bulan purnama. Sedikit semburat merah muda di pipinya menandakan dia masih hidup dan dadanya yang naik-turun masih bernapas. Rukia tidak bergerak dalam posisinya, selama berbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya.
Pintu keluar tertutup rapat, menyisakan satu orang di sana. Pria itu mengambil langkah ke pojok ruangan—suara gemerincing kalungnya terdengar kentara di keheningan—kemudian bersandar pada dinding sambil melipat tangannya di depan dada. Ichigo masih mengawasinya dalam diam, memberikannya waktu sebentar lagi.
"Apa yang terjadi dengannya?" bisik Rukia, terlalu kecil untuk didengar. Tapi, Ichigo mendengarnya, terlalu jelas di dalam ruangan yang sepi ini.
"Kau butuh istirahat, Rukia. Aku yakin, Kyouraku-san akan menjelaskan detailnya esok hari padamu. Dia yang mengetahui semuanya." Ichigo membalas, beringsut pergi ke arah pintu. "Perlu kuantar ke kamarmu?"
Rukia mendengar suara congkaknya mulai kembali, tipikal pria nyentrik itu. Namun, sebuah gelengan cukup untuk mewakilkan jawabannya. "Aku…akan tetap di sini."
Ichigo masih belum melepas pandangannya dari gadis itu, yang memunggungi dirinya. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi, menekan pegangan pintu dan membuatnya berdecit. "Panggil aku ataupun Hachi bila kau membutuhkan sesuatu," balas Ichigo. "Hachi akan berjaga di lantai satu sementara kamarku di lantai dua."
'Hanya sebuah pernyataan formal,' pikir Rukia. Gadis itu meyakini, bahwa Ichigo sudah cukup lelah memantau dirinya hampir sepanjang hari. Sekarang tugasnya sudah selesai dan dia bebas melakukan apapun, selain berada di sampingnya terus menerus. Bila hal itu terus dilakukannya hingga esok hari, tentu juga membuat Rukia jengah.
Ichigo menutup pintunya, meninggalkan Rukia yang kini seorang diri terbangun. Tubuhnya mulai merasakan rasa lelah yang begitu hebat, ketika pria itu pergi dari hadapannya. Dia beringsut untuk berbaring di samping kakaknya, menarik sebuah kursi antik berbantalkan busa empuk dari samping jendela. Kepalanya disandarkan di atas ranjang, dan tangannya tetap memegang tangan hangat kakaknya.
Terlalu lelah karena emosi yang bercampur dalam satu hari. Matanya mulai terasa berat dan perlahan dirinya terlelap di dalam kegelapan. Cahaya bulan menelisik dari balik jendela, menyinari ruangan itu dalam kelelapan secukupnya. Samar-samar sebelum dirinya terlelap, telinganya menangkap suara sayup dari arah luar. Seperti lolongan serigala, yang seakan memanggil dirinya. Separuh hilang kesadaran, Rukia meyakini itu adalah mimpinya di balik kegelapan matanya. Dia perlu tidur, hingga matahari kembali muncul di cakrawala.
.
.
…..~***~…..
.
.
Matanya mengerjap terbuka, merasakan rasa sakit melilit di perut juga punggungnya. Rukia mengerang, karena posisi tidurnya yang sangat tidak nyaman. Dia kembali awas, memerhatikan kondisi kakaknya yang mungkin saja mengalami kemajuan. Tapi, tidak ada. Byakuya masih terlelap dalam tidurnya, belum ingin terbangun dan menyambut kedatangan adik perempuannya.
Rukia mendesah, membelai buku-buku jari kakaknya perlahan. Tiba-tiba tenggorokannya terasa sakit. Kering—di saat napasnya menarik kuat dan menghembuskannya. Dia kurang minum, bahkan belum makan sedikitpun sejak sore kemarin.
Matanya menemukan jam meja di dekat rak buku, di sebelah pintu kamar. Jam kecil yang sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Hari sudah berganti tanpa sepengetahuan dirinya. Bergerak terlalu cepat juga terlalu lambat di saat bersamaan.
Tangannya tertarik ke udara sebagai peregangan sesaat, sebelum memutuskan untuk pergi keluar. Mencari makanan juga baju ganti. Seragam sekolahnya masih menjadi pelapis dirinya, yang sekarang terasa menempel ke permukaan kulitnya. Tidak nyaman.
Rukia menahan pintu keluar sebelum beranjak pergi, memerhatikan kakaknya dan memastikan kondisinya. Napasnya masih teratur naik-turun dengan tenang. Gadis itu mendesah lega dan menutup pintunya perlahan. Kini dirinya sendirian, di tengah lorong yang gelap.
Matahari masih belum tampak, namun burung sudah terdengar berkicau. Sesekali memberi tanda kehidupan pagi masih tampak hidup. Rukia mengawasi, siapapun yang bisa dimintai tolong olehnya. Mengingat perkataan Ichigo sebelumnya, Hachi berada di lantai satu dan si pria congkak di lantai dua. Di dalam mansion seluas lima kali lapangan tenis, bukan hal mudah untuk mencari mereka berdua.
Kakinya terus melangkah, hingga ke hall utama. Tempat dimana dirinya berawal tadi malam, sebelum memasuki rumah itu lebih dalam. Tangga bertengger untuk menampakkan lantai dua yang terlihat sama. Gelap dan redup dari lampu dinding. Lampu kristal besar di tengah-tengah hall tidak bersinar, menandakan penghuni rumah masih tertidur lelap.
Ragu, gadis itu memutuskan untuk naik. Kakinya teredam oleh karpet eksotis dan menapak pada lantai kayu di lantai atas. Berbunyi dari sol sepatunya, sedikit menggema di antara lorong.
Wajahnya mengamati, sebuah lukisan besar di hadapannya. Lukisan perang abad pertengahan dengan kebakaran juga kehancuran akibat pemberontakan—Revolusi Perancis. Tidak hanya itu, di sepanjang lorong sebelah kanan lebih banyak lagi. Lukisan hampir di sepanjang dinding yang menuntunnya menelusuri kisah sejarah. Perang kebanyakan, juga tokoh terkenal. Napoleon, Ratu Elizabeth pertama, hingga Kekaisaran Edo. Dan napasnya tertahan di lukisan yang menghadap kaca luar. Memiliki bingkai emas di sekelilingnya, menyisakan cat minyak di tengahnya. Membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. Lukisan serigala hitam besar yang seakan menatapnya. Tidak ada latar atau efek yang spesial, hanya menyisakan mata kuning menyala, mengawasi siapapun yang berjalan di depannya.
Rukia tertegun, menelusuri dengan ujung jarinya. Permukaan kanvas yang kasar dan tidak rata karena cat. Namun dia yakin, lukisan itu bukanlah baru—dalam arti berusia lama. Lebih lama dari umurnya sendiri.
"Kau sudah bangun?"
Dan gadis itu benar-benar terlonjak dari tempatnya berdiri, hampir berteriak keras karena seseorang menegurnya tiba-tiba.
Rukia menarik napas dalam, merasakan denyut jantungnya berdebar terlalu keras. "Bisakah kau tidak mengagetkanku? Mengapa kau selalu melakukan hal itu?!"
"Aku sudah berdiri di sini sejak tadi," balas Ichigo tidak peduli, menyunggingkan senyumnya. "Kau yang tidak menyadari."
"Kau berjalan tanpa suara! Dan, ini lantai kayu tidak berkarpet!" teriak Rukia, lebih berbisik dengan geraman memekik.
"Anggap saja itu keahlianku—dan apa yang kau butuhkan? Kau mencariku?"
"Lebih baik aku mencari Hachi," gerutunya, menolak untuk menatap pria yang kini mengerutkan alisnya tajam.
"Hei—aku menawarkan bantuan. Seharusnya kau berterima kasih—"
"Kau terdengar tidak tulus! Dan—" Rukia terhenti dan hampir merutuki dirinya karena melihat Ichigo dengan begitu teliti. Pria itu, berdiri angkuh dengan kaos putih ketat juga celana jeans biru memudar. Beberapa sobekan terlihat di pahanya, bukan disengaja—hanya mode. Dan gadis itu bersumpah, bisa melihat otot perutnya tercetak di bali kaosnya.
'Sial! Mengapa dia memilih kaos putih ketat untuk memamerkan tubuhnya?!' pikir Rukia, berteriak dalam kepalanya.
"Dan?" Ichigo bertanya lebih lanjut, di saat keheningan melanda di antara mereka.
Mulut Rukia masih menganga, dan matanya tidak mengerjap. Menyadari dirinya hampir memasuki area berbahaya, dia memutuskan untuk berbalik arah. Lagi-lagi dirutukinya, karena menatap lukisan yang sudah membuatnya takut. Si serigala.
"Apakah…maksudku, kalian memiliki pakaian cadangan?" Rukia menahan agar suaranya tidak bergetar, sepertinya tidak berhasil.
Ichigo terdiam sesaat, sebelum kembali tersenyum—menyeringai. "Ah—kau butuh baju ganti?"
Rukia mengangguk dan merasakan Ichigo bergerak ke arahnya. Pria itu melangkah lambat dan kali ini suara langkah kakinya terdengar. Ketukan sepatu boots-nya mengetuk di atas lantai kayu. Mengapa sebelumya gadis itu tidak menyadari ketukannya?
"Ikut aku," ucap Ichigo.
Rukia mengikutinya canggung, kembali menuruni lantai satu dan mengarah ke lorong sebelumnya—kamar kakaknya dirawat. Ichigo terus berjalan, hingga hampir ke ujung sayap timur.
Dan sekarang jalannya terlihat sedikit lebih jelas, dari sang mentari yang bersinar di balik awan kusam. Dindingnya dihiasi lagi oleh beberapa lukisan, tidak semenyeramkan seperti di lantai dua. Sebagian lukisan mengisahkan kota kecil abad pertengahan juga hutan pinus dengan beberapa orang yang duduk mengelilingi api unggun. Sedikit ganjil, tidak biasa berada dalam bentuk karya seni. Bukan lukisan bunga Primrose ataupun sepasukan kuda berlari.
Mereka tiba di depan pintu kedua dari akhir lorong, terlihat sama dengan pintu lainnya. Ichigo mendorongnya terbuka dan memperlihatkan kamar yang lebih luas. Ranjang berukuran Queen size di samping jendela bergorden putih. Bahkan, selimut dan seprainya berwarna serupa. Rukia menamainya sebagai kamar boneka, karena renda sebagai aksen di setiap kain pelapis ruangannya.
"Ini kamarmu, seharusnya kutunjukkan malam kemarin," jelas Ichigo. "Ada beberapa baju di lemari pakaian dan kau bisa menggunakan kamar mandinya. Air panasnya berjalan sempurna."
Rukia mengerjap, menyadari dirinya masih terpaku di luar. Belum menapaki kamar barunya, walaupun hanya untuk sementara waktu.
"Ini…tidak seperti yang kubayangkan. Dan—lemari berisi pakaian?" tanya Rukia, berjalan ke arah lemari pakaian yang berwarna coklat muda. "Milik pemilik rumah?"
"Hanya persediaan—untuk para tamu. Para pengurus rumah selalu siap lebih dari seharusnya."
"Berapa jumlah kamar yang kalian miliki?"
"Dua belas kamar tamu."
"Sebanyak itu?" Rukia membuka pintu lemarinya dan kembali tersentak. Deretan bajunya lebih banyak dari yang dibayangkannya. "Kau yakin ini benar-benar bukan kamar pemilik rumah?"
Ichigo terkekeh menanggapinya. "Tidak. Kyouraku-san tinggal bersama relasinya dan juga lima orang pengurus rumah. Mereka jarang terlihat di mansion utama, selain membersihkan lorong di waktu tertentu."
"Jadi…untuk apa baju-baju ini? Juga kamar sebanyak itu?"
Ichigo terdiam, saat Rukia menoleh ke arahnya. Gadis itu tidak bisa menebak apapun dari ekspresinya. Entah kebingungan atau keraguan.
"Mereka seringkali kedatangan tamu," jawab Ichigo singkat.
Rukia mendengus, tidak mengerti mengapa Ichigo membalikkan kembali pertanyaannya—menjawab seperlunya. Antara tidak ingin menjawab dan tidak tertarik dengan keingintahuan lebih dirinya.
Gadis itu memilih dan mengambil sebuah terusan berwarna putih gading, di antara puluhan baju yang memenuhi rak lemari. Lebih mirip seperti pakaian musim panas selutut. Tapi, dengan tinggi badannya yang dibawah rata-rata, bajunya akan jatuh tepat di pertengahan betisnya.
"Aku akan mengambil sarapan. Pergilah ke dapur tepat di sayap barat," ucap Ichigo sebelum beranjak pergi.
Rukia mengangguk, sebelum berbalik dan tidak menemukan Ichigo di sana. Dia sudah pergi, lagi-lagi tanpa meninggalkan jejak suara. Seperti angin, juga seperti badai. Pembawaan dirinya yang tenang sedikit membuat gadis itu takut. Terkadang Ichigo berubah angkuh dengan seringaian yang membuatnya dongkol. Apakah pria itu selalu mengubah sikapnya seperti ramalan cuaca?
"Pria aneh," gerutu Rukia.
Dia menuju kamar mandi yang membuat matanya kembali mengerjap. Bergaya eropa dengan bath-tub dan shower di atasnya. Juga sebuah kloset yang disatukan dalam satu kamar mandi, berada tepat di samping tempat pemandian. Rumahnya memiliki gaya Jepang yang sangat khas, berbanding terbalik dengan tempat ini. Dirinya kembali mengingatkan, bahwa ini bukanlah rumahnya.
"Kuharap aku bisa menjalankan air hangatnya."
.
.
…..~***~…..
.
.
"Pancake? Atau mau ditambahkan sesendok es krim?"
"Kau memakan es krim di pagi hari?" Rukia hampir tertawa melengking, malah mendapati Ichigo memasukkan sesendok es krim ke mulutnya. "Kau bisa sakit perut!"
"Kupikir tidak masalah," gumam Ichigo, kembali menyendok es krim di atas pancake-nya. "Kecuali kau memakannya bersama kentang ataupun nasi."
"Kupikir itu pun kau lakukan," balas Rukia.
Ichigo memelototinya, melihat gadis itu membalasnya dengan seringaian. Benar apa yang dikatakan Ichigo, satu orang pengurus rumah terlihat di balik counter dapur. Mereka tidak terlihat di sepanjang lorong selama Rukia menuju ruang makan. Sedikit aneh, di rumah sebesar ini hanya terlihat satu orang pengurus rumah dalam satu ruangan besar yang dipenuhi tugas menumpuk. Berbeda dengan drama Asia yang selalu ditontonnya sore hari, mengisahkan seorang konglomerat yang tinggal di sebuah rumah semegah istana dan memiliki selusin lebih pengurus rumah yang menyambutnya—setiap kali tuannya pulang dari pekerjaan kantor.
"Cobalah," kata Ichigo, menyodorkan sepiring pancake panas di hadapan Rukia yang sudah duduk di sampingnya. "Pancake buatan Hanatarou masih menjadi yang terbaik di sini."
"I…Ichigo-san, anda terlalu memuji," ucap si pengurus gugup, masih memegang spatula dan pan di tangannya.
Rukia melihatnya pertama kali, si pengurus yang terlihat kikuk juga bermata sendu. Hanatarou—Ichigo memanggilnya. Dia memanggang pancake cukup lihai, di balik kata-katanya yang sedikit bergetar saat berbicara. Pria kikuk itu membalikkan adonan dalam sekali lemparan pan.
"Wanginya enak." Rukia mengendus pancake miliknya, sebelum menusuknya dengan garpu. Rahangnya mengunyah perlahan, menikmati setiap detik rasa pancake-nya meleleh di lidah, yang dilapisi saus karamel manis. "Ini…enak!"
"Aku masih menawarkan es krimnya," goda Ichigo, memegang seember es krim yang tersisa kurang dari seperempatnya. "Dan makanlah perlahan, kau bisa tersedak."
Rukia sudah memakan setengah bagian pancake dalam sekejap, lebih terlihat seperti menelannya. "Aku tidak mau otakku membeku di pagi hari."
"Baiklah, terserah padamu." Ichigo menyendok lagi es krimnya dan memakan bulat-bulat. Rasa cookies' n cream.
Masing-masing memakan sarapannya dalam diam, menunggu adonan yang meleleh di dalam mulut. Hanatarou masih bergelut dengan masakannya, menyediakan pancake berikutnya yang hampir ludes di atas piring Rukia. Gadis itu makan begitu cepat, memenuhi permintaan perut kosongnya sejak kemarin sore.
Rukia meminum teh Earl Grey hangatnya, setelah menyantap tiga porsi pancake. Ichigo—menghabiskan kurang lebih empat porsi, ditambah seember es krim. Dan pria itu sama sekali tidak terlihat menderita kekenyangan, efek dari makan terlalu berlebihan. Bahkan, perutnya sama sekali tidak terlihat membesar.
"Kau makan…terlalu banyak," gumam Rukia, mengernyit begitu membayangkan semua makanan itu bisa masuk ke mulutnya.
"Aku memang makan lebih banyak. Dan perutku tidak bermasalah akan hal itu," balas Ichigo cuek. Soda kaleng di tangannya kembali diteguk terlalu cepat.
"Kau berbohong." Rukia mendengus, sedikit menelisik tubuhnya diam-diam. Tapi, pria itu selalu lebih tahu dan lebih cepat darinya.
"Perlu bukti?" Ichigo mengangkat sedikit kaosnya ke atas, hendak memaparkan perut yang masih memiliki otot perut sempurnanya.
"Oke, cukup!" Rukia berdeham dan bangkit berdiri dari duduknya. Dia menyadari bahwa hanya mereka berdua di ruangan itu. Hanatarou sudah menghilang entah kemana, mungkin ke pekerjaan berikutnya yang masih menunggu.
"Boleh aku tanyakan sesuatu?" Rukia melanjutkan, setelah melihat Ichigo tidak lagi menggoda dirinya. Pria itu terlihat terlalu santai, tanpa mempedulikan perasaan gadis itu. Atau mungkin memang tidak pernah peduli.
Ichigo memiringkan kepalanya ke arah Rukia, melihatnya dengan satu alis yang naik terlalu tinggi. "Tentang perutku?"
"Bukan itu." Hampir saja Rukia mengumpat, sebelum diurungkannya secepat mungkin. "Ini mengenai nii-sama, juga semua ini. Apa yang kau sembunyikan?"
"Yang aku sembunyikan? Sepertinya kau tahu persis seberapa banyak rahasia yang kusimpan."
"Kalau begitu aku akan tetap memanggilmu sebagai si penculik."
"Apa aku memang terlihat seperti penculik?"
"Apa yang kau sembunyikan?" Rukia mengulang lagi pertanyaannya, kali ini lebih menekan. Jarinya mengetuk begitu cepat di atas permukaan counter, sementara jarum jam berdetak berirama.
Cahaya matahari sudah masuk melalui kaca jendela, menyegarkan bila tidak dihadapi dengan kejadian yang masih menghantui. Seperti bayangan yang mengikuti kemanapun kau pergi, tapi tidak bisa kau ungkap. Rukia tidak bisa menahannya lagi, walaupun berprasangka sangatlah salah tanpa adanya bukti.
"Kau benar-benar keras kepala. Bagaimana kalau kuberi kau pilihan, Rukia?" tanya Ichigo, setelah menit-menit isolasi yang membuatnya mengalah.
"Pilihan?"
"Kau yang ungkap sendiri," lanjut Ichigo. "Atau kau yang menunggu Kyouraku-san pulang dan menjelaskannya padamu. Sudah kukatakan bahwa aku tidak memiliki kewajiban untuk mengisahkan kisahnya padamu. Dan lagipula, aku tidak ingin."
"Kau bercanda," gerutu Rukia, tersedak tawanya sendiri.
Ichigo menyeringai, kali ini matanya dipenuhi cahaya kemenangan. "Aku sedang tidak ingin berurusan denganmu, nona. Jadi, kuberi waktu untuk menebak dan aku akan menjawab." Tiga jarinya terangkat di udara, tepat di depan wajahnya. "Hanya tiga kesempatan. Dan tenang saja—kau bisa menggunakan ruang perpustakaan di lantai dua untuk mencari jawabannya."
Rukia merasa ini seperti sedang menghadapi kuis akhir semester. Hanya saja kepalan tangannya ingin sekali terlontar dan mendarat di wajah congkak pria di depannya.
"Pilihan ada di tanganmu, seperti biasa. Jadi—mulai?" Senyum Ichigo terangkat lagi, kali ini lebih lebar dan menukik. Mengancam dan menertawai di saat bersamaan.
Pria itu sudah beranjak lebih dulu dari Rukia, keluar dari dapur dengan kedua tangan di saku celananya. Berjalan tanpa merasa ada yang berusaha menusuknya dari belakang. "Aku ingin istirahat, jadi jangan mengganggu tidur siangku," ucap Ichigo sebelum berlalu pergi dan menghilang.
Rukia belum sempat membalas dan hilang kesempatannya. Tidak ada pilihan lain selain menuruti permainannya. Melihat tidak ada orang yang bisa dimintai keterangan olehnya, seakan-akan rumah ini tidak berpenghuni. Wajahnya tidak pernah berkerut masam lebih dari itu.
"Lagipula ini masih pagi buta, belum siang hari." Rukia menggerutu sambil menelusuri lorong, berkutat dalam pikirannya. "Pria bodoh terlalu sombong dan arogan. Makhluk paling menyebalkan yang pernah kutemui seumur hidupku."
Dia berhenti di depan pintu kamar kakaknya, hendak membuka pintunya dalam kemarahan berlebih. Dan pintu itu terbuka lebih dulu, menampakkan sosok raksasa Hachi yang kini menjulang tinggi di atasnya.
"Rukia-sama? Selamat pagi," ucapnya, penuh ketenangan dan keramahtamahan. Berbanding terbalik dengan Ichigo.
"Selamat pagi," balas Rukia kaku. "Aku ingin melihat nii-sama—"
"Kuchiki Byakuya-sama sudah di dalam kondisi yang stabil dan beliau masih membutuhkan istirahat sebelum sepenuhnya tersadar. Saya akan menjaganya, jadi anda tidak perlu khawatir, Rukia-sama."
Jelas-jelas keberadaan gadis itu ditolak. Kali ini oleh penolong kakaknya, sebelumnya oleh pria berambut jingga. "Begitu?"
"Anda bisa beristirahat dan kupikir Ichigo-san sudah menunjukkan kamar pribadi anda?"
"Ah, ya. Itu baru saja—"
"Kalau begitu selamat beristirahat, Rukia-sama." Dan Hachi menutup pintunya rapat-rapat.
Rukia tertegun tidak percaya, setelah ditolak mentah-mentah untuk melihat keadaan kakaknya. Dia bersumpah mendengar kunci pintu diputar dari dalam. Matanya mengerjap, sebelum kembali menggerutu dan berbalik arah untuk menuju lantai dua. Kakinya melangkah dengan sendirinya, sementara kepalanya dipenuhi perkataan yang keluar dari mulutnya secara spontan. Gerutuan yang tidak berujung. Mulai dari kesombongan Ichigo dan disambung dengan ketidakjelasan Hachi. Sebelumnya dia sempat yakin bahwa Hachi salah satu orang yang normal, walaupun rambut merah mudanya terlihat lebih aneh dari rambut Ichigo. Semuanya terbantahkan, rasanya seperti menjadi kucing liar yang ditendang keluar oleh majikannya.
Dia berhenti untuk memeriksa, arah kiri atau kanan. Mengikuti nalurinya tanpa sebuah petunjuk, gadis itu memilih arah berlawanan dari lorong dimana dirinya bertemu Ichigo. Yang bisa dipastikan itu adalah arah menuju kamarnya. Dan dia tidak mau mendobrak masuk hanya untuk menjambak rambutnya. Itu sangatlah tidak etis.
Lorong kiri hampir sama seperti lorong sebelumya, dengan kaca berderet rapi di sebelah kanan dan lukisan di sebelah kiri. Kali ini berkisah latar masa lalu, seperti pasar perdagangan abad ke delapan belas, hingga pendirian bangunan yang terlihat seperti White House. Beberapa pintu dilewatinya, terlihat sama seperti pintu lainnya. Hingga pintu ke lima—pintu yang lebih besar dan terdapat dua pegangan. Pintu ganda.
Rukia menimbang-nimbang ketika melihat ukiran pintu yang terlihat seperti daun juga pohon. Dan sepasang kepala tepat di sebelah pegangan besi tuanya. Kepala serigala yang melolong. Itu bukan sengaja terukir, tapi lebih kepada sebuah permintaan khusus. Entah disengaja atau tidak, terlihat ganjil ditemukan dalam sebuah pintu kuno.
Tangannya mendorong dan pintu terbuka lebar. Seperti instingnya, itu adalah perpustakaan. Lebih sederhana daripada yang dipikirkannya. Dua ruangan yang disatukan atau terlihat seperti itu. Di seluruh dindingnya hampir dilapisi rak dan buku-buku. Satu sisi dinding dilapisi jendela kaca dan gorden merah bata. Juga perapian dari batu granit—seperti kisah yang dibacanya di dalam buku literatur. Dia menyukai tempat itu, lebih daripada ruangan lain yang sudah dikunjunginya.
Dia melihat-lihat, sebuah meja kayu di tengah ruangan dan dua buah kursi senyaman sofa. Di sisi sebuah jendela besar terdapat sofa itu sendiri, dengan bantal berbahan sutra. Tempat yang tepat untuk dijadikan pelarian tidur siang. Menikmati kehangatan mentari yang terhalang punggung sofa, juga bau kertas apak yang menenangkan.
Rukia menelisik setiap baris rak di dekatnya. Hanya memerhatikan, tanpa menyentuh. Hampir semuanya berbahasa Inggris dan membuat gadis itu mengernyit tidak suka.
"Darimana aku akan memulai?" gumamnya.
Matanya menemukan sebuah buku yang menarik perhatiannya, lebih terlihat seperti jurnal. Tidak berjudul, hanya bertuliskan kode angka yang tidak jelas—401. Dia membuka lembaran awalnya, ketika menemukan sebaris kalimat berbahasa Inggris—
'The 'dream place' is everywhere and nowhere, just like the 'dreamtime' is always and never. You might say that the term 'dream place' does not refer to any particular place and the way to get to it is to get nowhere.'
"Hans Peter Duerr, 1985. Dreamtime: Concerning the Boundary between Wilderness and Civilization," kata Rukia, berbisik kepada diri sendiri. Dia kembali membuka halaman berikutnya, melihat lebih banyak catatan tangan yang seluruhnya berbahasa Inggris. "Haruskah di saat seperti ini? Ini akan memakan waktu lebih lama daripada yang seharusnya."
Rukia tidak terlalu suka membaca, terlebih lagi buku berbahasa asing. Bukan karena nilai ataupun ketidakpahaman bahasanya—terbantahkan karena dirinya adalah wakil ketua Osis dan berada di peringkat sepuluh besar dan tak pernah tergeserkan. Dia lebih suka sesuatu yang praktis ataupun tidak berbelit-belit. Bertolak belakang dari tipe pencari masalah ataupun pemecah masalah. Kehidupannya akan terasa sempurna bila menemukan krim keju dan bantal, ditambah selusin boneka yang bisa dipeluknya.
Beberapa buku diambilnya dan ditumpuk di atas meja baca. Sebagian waktunya lebih digunakan untuk mencari daripada membaca. Terkadang menggunakan tangga geser untuk mencapai rak paling atas. Mengambil kamus besar yang entah bagaimana caranya teronggok di rak terujung dan terabaikan. Kemungkinan si pemilik rumah sudah tidak memerlukannya lagi sebagai panduan membaca.
Duduknya terasa tidak nyaman di atas sofa, kini menjadi tempat kedua dirinya berbaring dan membaca setengah hati. Sesekali wajahnya ditekankan pada bantal di sisinya, sambil mengerang teredam. Frustasi, sebuah kata yang ditambahkan dalam benaknya hari ini. Kakinya menendang dan membuat tumpukan buku di ujung sofa tercecer ke atas lantai tak beraturan. Kembali mengerang pada langit-langit, dirinya bangkit hanya untuk memungut beberapa buku yang terjangkau dari posisinya.
Tangannya mengambil sebuah buku merah bata, masih berjudul bahasa asing. Meninggalkan jurnal yang kini terpendam di balik bantal sofa, Rukia memulai lagi pada sebuah buku baru. Berharap dia menemukan sebuah petunjuk, bukan terkaan. Bukan sebuah fantasi yang melayang-layang di dalam benaknya seperti capung, berdengung seperti lalat.
Buku ini berbeda dari yang sebelumnya, tercetak oleh mesin ketik juga memiliki beberapa gambar. Referensi yang semakin ditelisiknya secara acak, membuka lembarannya terlalu cepat dan membaca seperti menelan air. Rukia paham apa yang dicarinya tidak membutuhkan waktu lama, hanya sebuah kata yang terpikirkan sejak pertama kali kakinya menapaki perpustakaan. Serigala.
Tapi dia tidak menemukannya, mulai dari buku pertama dan kini buku kedua. Kembali buku di tangannya ditelantarkannya. Dia mengambil buku ketiga, tidak berbeda dari buku sebelumnya. Berjudul 'White Fang by Jack London'. Seakan mengejeknya, Rukia mendengus dan meletakkan buku itu di atas lantai. "Tidak berharap untuk buku dongeng yang muncul."
Hampir empat jam berlalu sia-sia, sebagian menemukan buku fiksi dan penjelasan sejarah perdagangan dunia. Buku bersejarah menandakan hal bagus sebagai petunjuk, tapi pencariannya seperti mencari jarum di dalam jerami. Masa lalu bukan satu kata yang bisa ditelisik dengan mata terbuka dan menarik napas. Jaringan luasnya seakan menjalar layaknya jaring laba-laba. Dari satu ke sisi yang lain, ke sumber yang berbeda. Semuanya terhubung ke satu titik, karena itulah yang terjadi pada setiap individu di dunia. Setiap peristiwa terjadi karena adanya dua pihak yang bertubrukan—baik ataupun buruk.
Jarinya berhenti ketika membuka halaman ke sekian, buku ke sekian. Dirinya tidak mengingat betul berapa lama duduk di atas meja, berbaring di atas sofa, berjalan dari satu rak ke rak lain, dan berakhir lagi di atas sofa. Hingga satu kata itu tercetak miring di buku yang sekarang tergeletak di atas meja kayu. Matanya sedikit melebar dan mulutnya berkedut gugup. Dia menemukannya, lebih daripada yang diperkirakan sebelumnya. Kata itu—werewolf.
Rukia membuka lagi sampul bukunya, melihat jurnal bukan sebuah buku fiksi atau pencatat sejarah. Jurnal nomor 635. Tidak hanya satu kata, tapi beberapa kata dalam satu halaman. Werewolf, serigala, perubahan bentuk, bulan purnama, dan shapeshifter. Seakan ada es balok yang menuruni punggungnya, seluruh tubuh terasa bergidik. Akhirnya, teori itu terungkap. Bukan dari sebuah bukti, tapi beberapa. Buku jurnal nomor 705 pun mengatakan demikian, namun lebih terperinci.
"Bavaria, Jerman Selatan, muncul pertama kali, sebuah lolongan," gumam Rukia, jarinya bergerak dari satu kata ke kata lain.
Bibirnya digigit kuat-kuat, menahan rasa penasaran akan reaksi Ichigo mengenai hal ini. Di antara sebuah penyangkalan diterimanya atau kebenaran yang akan keluar dari mulut arogannya. Setelah peristiwa aneh yang terjadi pada dirinya dua hari ini, pria itu tidak akan bisa menghindar lagi. Sejak awal keanehan sudah terlihat begitu jelas pada diri Ichigo, namun seakan ada dinding kasat mata yang menutupinya. Juga sebuah bukti samar akan keberadaan strigoi—vampire.
Mereka benar-benar nyata dan hidup di antara manusia, pikir Rukia. Antara menahan rasa antusias juga sedikit ketakutan, dimana dirinya tidak akan bisa bertahan hidup di tengah-tengah pertikaian makhluk mitos. Seakan dirinya ikut tenggelam dalam masa lalu dan bergulir di pencampuran keliaran fantasi. Mengingat kembali sepasang mata yang menatapnya malam itu—tidak akan pernah terhapus dari benaknya.
"Menemukan hal menarik?"
Dan Rukia mengumpat, menjatuhkan jurnal ke atas karpet bergaya Indian. Jantungnya berdebar sangat cepat dan memelototi sosok Ichigo yang bersandar di samping pintu.
"Kau—bagaimana caranya kau masuk?" Rukia berteriak, menunjuk Ichigo sebagai penyebab dirinya hilang kendali.
"Dari pintu," Ibu jarinya menunjuk pintu ganda di sampingnya. "Darimana lagi? Lagipula—kau terlalu terhanyut dalam pikiranmu sendiri, sehingga tidak menyadari kedatanganku." Kali ini Ichigo menyeringai.
Rukia tidak suka saat pria itu mengejeknya, apalagi sudut mulutnya yang tertarik terlalu tinggi. Masih tidak mengerti cara pria itu masuk seperti kabut, kecuali teorinya terbuktikan. Mengenai serigala dan juga werewolf dari sebagian buku yang ditemukannya.
"Sudah menemukan jawabannya?" Ichigo duduk di atas meja kayu, mengambil salah satu buku yang terabaikan, membukanya tanpa peduli apa yang ada di dalamnya. "Kupikir dengan semua buku ini, kau pasti memiliki beberapa jawaban?"
"Mungkin saja," jawab Rukia, mengalihkan pandangan. Meneguk ludahnya sendiri, dia merasakan telapak tangannya berkeringat gugup.
"Sebutkan saja. Karena Kyouraku-san tidak akan kembali hari ini, jadi rasa penasaranmu tergantung oleh jawabanku. Kecuali, kau mau menunggu satu hari lagi?"
"Serigala dan—" Suaranya bergetar saat menatap Ichigo yang sudah memandangnya tajam. Mata itu, yang selalu membuatnya takut juga penasaran. "Perubahan wujud saat bulan purnama. Werewolf."
"Kau percaya akan hal itu?" Sebuah tanggapan yang tidak diperkirakan oleh gadis itu—berpikir mungkin Ichigo akan menyangkalnya.
"Jadi…kau benar-benar—werewolf?"
"Omnes angeli, boni et Mali, ex virtue naturali habent potestatem transmutandi corpora nostra." Ichigo mengucapkannya seperti perapalan mantra, layaknya alunan musik. "St. Thomas Aquinas yang mengatakannya, 'semua malaikat, baik ataupun jahat memiliki kekuatan untuk me-transformasi tubuh kita'. Dan ucapannya terbukti kebenarannya bagi kalangan tertentu. Sebagian masih menyebutnya mitos—karena mata dan telinga mereka menolak untuk memercayainya. Haruskah aku mengatakannya sebagai takdir kami?"
Rukia mengerti benar apa yang dimaksudnya. Secara tidak langsung Ichigo menyebut dirinya salah satu dari mereka—makhluk jadi-jadian itu. "Karena kalian bersembunyi dari manusia."
"Bersembunyi ataupun tidak, mereka tetap membenci kami. Monster, siluman, dan sebutan buruk lainnya sudah sering kudengar. Itu membuatku muak, karena di sisi lain mereka penasaran akan wujud kami yang sebenarnya." Ichigo berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Rukia, matanya menatap jam dinding yang berdetak lambat. "Bayangkan bila salah satu dari kami terlihat oleh kalian, manusia. Menurutmu, kami ini apa? Musuh atau ancaman?"
Rukia tertegun, melihat Ichigo yang kini menatapnya. Pria itu menginginkan jawabannya, perwakilan dari gadis yang merupakan salah satu dari kaum pembencinya. Rukia menggigit bibir bawahnya, merasakan gejolak geli di dadanya. Dia kembali lagi pada malam itu, ketika si serigala berbulu coklat menatap dirinya dalam keheningan malam. Di antara kekotoran, darah, juga kepolosan dua orang individu. Bukan monster yang bersanding dengan dirinya.
"Kau serigala yang waktu itu," ucap Rukia dan berhasil membuat Ichigo terbelalak—terkejut. "Saat di gang kecil itu, kau membunuh strigoi, bukan?"
Pria itu tersenyum kecut, menyadari gadis di depannya lebih tahu daripada perkiraannya. Dia tidak bisa membodohinya. "Kau takut?"
"Pada strigoi itu? Ya—setelah strigoi wanita yang menyerangku kemarin. Kepadamu—aku tidak begitu yakin."
"Bila aku berubah wujud sekarang di sini, di depanmu, apakah reaksimu? Aku sungguh ingin tahu." Tubuhnya condong ke depan, menatap gadis itu seperti pemangsa. Rukia sedikit bergidik, sedikit menertawai ancaman yang memperoloknya.
"Coba saja," katanya menantang, matanya balas menatap Ichigo. "Kalau itu bisa meyakinkan teoriku?"
Ichigo tertawa, setelah sekian lama dirinya tidak bisa melepaskan tawa begitu keras. Gadis itu kuat dan mampu berhadapan dengan sosok tergelap yang pernah ada. Mereka—mitos yang hidup—nyata juga mengikuti bergulirnya waktu dalam sekian abad. Rukia sudah memasuki dunia baru—dimana cahaya dan juga rasa sakit bisa bercampur menjadi satu, diikuti ketakutan akan mimpi buruk yang menjadi nyata. Matanya telah terbuka pada sosok serigala yang mencuri perhatiannya, sejak pertama kali mereka bertemu.
…..~*(to be continued…)*~…..
.
.
.
.
.
.
.
Author's note:
Ouch! Gomen karena telat update (penyakit bawaan) :p Tapi, akhirnya update, scene 3! Yeaay! Entah kenapa butuh waktu lama (banget) buat menyelesaikan 1 chapter saja! Apa penulisanku jadi menurun akhir-akhir ini? TTATT Semoga kalian masih bisa menikmati chapter baru ini.
Chapter ini full istirahat, dalam arti Rukia menikmati hari-hari tenangnya dulu. Nii-sama nya dalam keadaan selamat walaupun tidak baik-baik saja dan muncul chara baru di sini. Hachi! I love this guy! XD Ada rahasia baru seiring bertambahnya karakter juga chapter, jadi mohon bersabar? Rahasia Ichigo resmi terbongkar di chapter ini, walaupun kalian sudah berhasil menebaknya dari chapter kemarin…tehehe :3
Aku lebih menggunakan kata strigoi daripada vampire di fic ini, karena vampire sudah seringkali digunakan dan strigoi lebih cocok untuk sosok tokoh jahat yang sebentar lagi akan terungkap :p Btw, bukan strigoi dari film Vampire Academy ya (bagi yang sudah menonton atau membaca novelnya?)
Oya! Sebelum lupa, aku update gambar" yang bersangkutan dengan chapter ini di fb-ku. Jadi yang mau lihat gambar referensinya silahkan~ Ada link-nya di profile-ku ;)
Terima kasih BANYAK! Untuk para readers yang sudah setia menunggu lama~ Juga yang sudah mereview dan memberi masukan, reviews kalian sangat berarti bagiku! I love u all guys! 3 3 3
.
.
Balasan untuk anonymous dan no-login reviewers:
virgo24: Terima kasih untuk reviewnya! Hihi..nii-sama nya Rukia ada di chapter ini XD akhirnya mereka bertemu lagi.
ayuuu: Terima kasih untuk reviewnya! Tehehe..arigatou na! XD Ah…makasih banyak *jadi malu* :3 chapter barunya sudah kuupdate ini, maaf menunggu lama. Semoga kamu suka ya~
Snow: Terima kasih untuk reviewnya~ wkwkwkwk Rukia mudah dibaca sama Byakuya XD Ga mempan kalo mau bohong. Hmm…karena vampire bukan ya? Itu harus menunggu di chapter terdepan ya..hehe. Yup, Byakuya jadi OOC, sebenarnya agak bosen juga melihat sosok yang terlalu kakunya, jadi aku buat lebih perhatian XD Chapter baru sudah kuupdate, maaf menunggu lama! Semoga kamu suka ya~
ICHIRUKI: Terima kasih untuk reviewnya~ Wkwkwkwk…gpp kok, km baca aja ak dah senang :D Romance nya nanti, masih intro sekarang, fufuufuf…. Ga seru klo udah diumbar di awal :3 Maaf menunggu lama, aku baru update sekarang, tapi semoga kamu suka~ Nii-sama nya udah ketemu di chapter ini..hehehe XD
Dani Reykinawa: Terima kasih untuk reviewnya~ Hmm..kalau yang mengawasi Rukia itu sebenarnya cuman kebetulan kok (walaupun belum kusebutin di ficnya :D) Klo soal Byakuya masih menunggu di chapter depan ya, masih misterius…fufuufu… ups, juga Rukia ;) ada kaitannya dengan Byakuya. Oke, sudah kuupdate chapter terbarunya, semoga kamu suka!
Rumie Ichiruki: Terima kasih buat reviewnya Rumie-san! Hihihih.. yup, sedikit demi sedikit mulai kebongkar tapi nambah lagi misterinya #plak Oke deh, maaf sebelumnya ini ga bisa update kilat, tapi semoga kamu suka dengan chapter terbarunya!
darries: Terima kasih buat reviewnya, darries-san! Eh, gpp kok, santai aja~ Kamu udh baca juga ga masalah, aku dah senang :D review bikin aku tambah senang #plak XD Eh belum, Byakuya masih hidup kok, ada di chapter ini ;) walaupun kondisinya belum sadar. Pertarungan vampire vs werewolf bakalan ada, tapi soal Rukia masih rahasia..hehe… Sedikit misteri udah aku bongkar di sini. Maaf menunggu lama, semoga suka dengan chapter barunya ;)
mue mya: Terima kasih untuk reviewnya! Hihihi..arigatou na! Klo soal vampire aku belum sempet bahas, tapi soal kegigit bakal jadi vampire-nya nanti dulu ya XD hehe… masih misteri. Keluarga Byakuya (bisa dibilang Kuchiki) akan aku ungkap di chapter mendatang..hehe.. Gomen sebelumnya aku ga bisa update kilat TAT, tapi semoga kamu suka sama chapter terbarunya~
Guest: Halo juga! Terima kasih untuk review dan sukanya~ Ureshii! Hihihhi…XD
uzumakisanti: Terima kasih untuk reviewnya! Tehehehe… arigatou na! Maaf membuatmu menunggu, aku baru update sekarang TAT. Semoga kamu suka sama chapter barunya!
Playlist:
Snow Patrol- What If This Storm Ends
Lorde- Yellow Flicker Beat
Diddy-Dirty Money feat Skylar Grey- Coming Home
Ella Henderson- Ghost
Taylor Swift- Out Of The Woods
Chvrches- Dead Air
These songs don't belong to me…
