::The Dark Legacy— First Quarter::
By: Morning Eagle
Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Just to warn you all :: AU, OC, OOC, Misstypos...for this story
Scene 4: Werewolf and the Other Things
~0*0~
.0.
.
.
.
.
.
.
.
"Tunggu apa lagi?" tanya Rukia gugup, menunggu transformasi Ichigo berlangsung. Apakah yang akan terjadi selanjutnya, Rukia menebak-nebak dalam hati. Akankah tubuhnya membesar dengan cepat dan otot-ototnya yang berubah menyerupai hewan liar? Mungkinkah pakaiannya akan robek akibat proses perubahannya?
"Kau sungguh ingin melihatku berubah?" Ichigo bertanya balik, menaikkan sebelah alisnya yang menggoda. "Ingin melihatku tanpa pakaian di hadapanmu?"
Rukia membuka mulutnya terkejut, setengah menggeram karena pria itu lagi-lagi berusaha memojokkan dirinya. Ichigo tidak akan pernah puas sampai membuat wajah gadis itu berubah semerah tomat matang.
"Aah—jadi, itu benar? Kau harus … membuka pakaianmu…"
"Aku tidak akan mengabulkan permohonanmu yang satu itu, jadi jangan berharap aku akan membiarkan diriku telanjang di hadapanmu." Ichigo memperlebar seringaiannya.
"Bukan itu yang ingin kulihat, bodoh!"
"Lagipula, prosesnya tidak bisa dibilang mudah," lanjut Ichigo, beringsut mundur dan bersandar pada meja kayu di belakangnya. "Butuh konsentrasi juga pemancing amarah yang membuat emosi seorang werewolf menjadi tidak stabil. Lalu, otot di tubuh akan mengejang dan berubah dua kali lipat lebih besar. Sedikit mengerikan bila dilihat pertama kali, apalagi oleh manusia sepertimu. Juga—hal itu akan membuat tubuhku sakit."
Rukia mendengus, melempar buku di atas pangkuannya. Kedua tangan terlipat di depan dada, pertanda dirinya menantang dan berusaha memenangkan perdebatan ini. "Kau pikir aku tidak akan sanggup melihatmu berubah?"
"Tidak semudah yang kau pikirkan, tidak secepat yang kau pikirkan," jawab Ichigo. "Suara gertakan tulang juga tarikan otot bisa memilukan orang yang mendengar. Bahkan, suaraku pun ikut berubah menyerupai hewan buas." Dia menelisik, melihat Rukia dengan tatapan tidak percaya. "Apalagi untuk gadis kecil sepertimu—"
Itu berhasil memancing emosi Rukia. "Hei—aku bukan gadis kecil! Umurku sudah enam belas tahun, asal kau tahu!"
Ichigo terkekeh, bahkan tubuhnya hampir menunduk terlalu ke bawah. Rukia selalu bisa membuatnya lepas kendali, terutama untuk menarik senyumnya terlepas begitu lebar. Sebaliknya, Rukia menggerutu tidak jelas dan berniat melempar buku di pangkuannya, tepat ke arah kepala jingga Ichigo.
"Kau benar-benar menyebalkan! Pria bodoh tidak tahu diri!" Rukia benar-benar melempar bukunya, tapi meleset saat Ichigo mengetahui lebih dulu dan berhasil menghindarinya. Refleks seorang werewolf lebih baik dari perkiraan Rukia.
"Mengapa kau selalu tidak puas untuk mengetahui segala yang berada di sekelilingmu? Tidak sabaran adalah kata yang tepat," ucap Ichigo, melangkah ke tumpukan buku di samping sofa. Dia mengambil satu buku yang tertumpuk di tumpukan teratas, lalu membacanya. Tubuhnya terhempas di atas sofa panjang, tepat di samping Rukia. Gadis itu mengenyit, begitu menyadari bahu mereka hampir bersentuhan—terlalu dekat.
"Ada lagi yang ingin kau ketahui, Rukia? Kupikir aku akan membantumu," tanyanya santai, membuka halaman demi halaman. Matanya terpaku lurus pada setiap baris kalimat yang tercetak dengan tinta hitam. Kertasnya sudah terlalu usang dengan bintik coklat memudar. Rukia bisa mencium bau kertasnya, menyerupai bau hujan dan kayu lapuk.
"Dan sekarang kau menawarkan bantuanmu, tuan serigala," cibir Rukia, memutar bola matanya.
"Bantuan secara cuma-cuma dan di saat aku hanya ingin melakukannya saja. Sesuai dengan mood-ku," ungkap Ichigo. Matanya sedikit terbelalak, ketika menemukan sesuatu pada buku di tangannya. "Nah—satu bukti yang mungkin perlu kauingat, perubahan werewolf. Kami benar-benar menanggalkan baju kami—"
"Aku sudah tahu untuk yang satu itu!"
Ichigo mendesah pasrah, lalu membalik lagi halaman berikutnya. "Perubahan setiap werewolf untuk pertama kali adalah yang paling menyakitkan. Di saat tubuh seorang calon werewolf sudah hampir matang pada masanya—bisa dikatakan saat mencapai masa pubertas, rata-rata usia enam belas tahun ke atas—maka mereka akan merasakan naluri yang memanggil dari bulan. Bulan purnama adalah satu-satunya jalan mereka bisa melakukan transformasi pertama. Menyakitkan untuk prosesnya dan membutuh waktu cukup lama, hingga tulang-tulang di tubuh membiasakan diri ke dalam kerangka seekor serigala."
"Sekarang … aku mengerti maksudmu," gumam Rukia, merasakan tenguknya merinding dingin.
"Saat mereka bisa melalui proses tersebut, maka bisa dikatakan mereka adalah werewolf seutuhnya," lanjut Ichigo, mengalihkan pandangan dari buku. Dia hapal di luar kepala. "Dan satu waktu yang bisa dikatakan adalah paling berbahaya bagi werewolf—Blood Moon. Di mana bulan purnama mencapai puncaknya saat Bulan Oktober, orang-orang merayakannya sebagai hari Halloween. Sungguh menggelikan bila mereka bertemu dengan werewolf yang hilang kendali di komplek perumahannya dan mengira itu adalah tetangga mereka yang memakai kostum berbulu."
"Jadi, kau tidak bisa mengendalikan dirimu saat Blood Moon terjadi?" tanya Rukia, semakin ingin tahu.
"Emosi kami tidak terkendali dan sifat liar terdalam yang mengalir dari darah terkutuk ini memberontak keluar. Pada dasarnya, kami adalah monster, jadi bertingkahpun layaknya monster." Ichigo tersenyum miris.
"Kau … bukan monster," ungkap Rukia, memandang sendu pada pria di sebelahnya yang kini menatap jendela tak bergeming. Dia sedang memikirkan sesuatu atau mungkin merutuki leluhurnya. "Kau berjuang bersama kelompokmu untuk tetap bertahan, bukan? Bukankah itu sifat alami manusia—berbaur dan ingin diterima oleh orang lain? Satu hal yang masih dimiliki dan membedakan kalian dari monster. Kalian memiliki hati."
Ichigo terdiam, hanya bernapas dengan dada yang naik dan turun seirama. Rukia sedikit gugup, menghadapi keheningan mendadak yang melanda perpustakaan kecil itu. Tangannya bermain-main dengan bantalan sofa, sementara pikirannya berusaha mengerti mengenai apa yang namanya akal sehat. Sudahkah dia berpikir sebelum mengatakan pendapatnya secara terang-terangan? Apakah hal ini menyinggung perasaan Ichigo?
"Hati?" Ichigo berkata tanpa emosi. Matanya jatuh ke arah Rukia dan berhasil membuat gadis itu sedikit terlonjak. "Kau akan mengerti, saat kau melihatku ber-transformasi. Itu—hal terburuk yang pernah ada untuk kalian lihat, manusia. Seperti mimpi buruk, tapi kami bangga akan hal itu. Hanya itu identitas yang kami miliki untuk bertahan hidup."
Ichigo bangun dari duduknya dan melangkah pergi ke pintu keluar. Rukia hanya terpaku, mengamati punggung pria itu yang lebar juga berdiri tegap. Tidak bisa dipungkiri, bahwa tubuhnya pun mengalami proses tidak lazim untuk menghadapi transformasi yang menyakitkan. Namun sungguh indah, bila diamati lebih dekat dan melihat lekukannya bak sebuah patung peninggalan sejarah. Tanpa cacat.
"Hanatarou berada di dapur untuk segera menyiapkan makan malam," ucap Ichigo, dengan tangan yang menahan pintu agar tidak tertutup. Wajahnya masih membelakangi Rukia. "Aku ada di kamarku … bila kau butuh sesuatu. Jangan tidur terlalu malam!"
Rukia masih tertegun, bahkan saat pintu sudah tertutup rapat. Dia kembali seorang diri, mendesah lega saat satu bebannya terasa terangkat. Berada di samping Ichigo sama seperti menghadapi sebuah teror. Kepribadian yang sulit untuk ditebak, juga emosi yang naik-turun begitu cepat. Rukia sedikit khawatir, kepada werewolf keras kepala yang terlalu cepat tersinggung dan sensitif. Mungkin bisa dibilang terlalu peka, layaknya serigala yang bisa mengendus perasaan takut mangsanya.
Hari berlalu cepat, Rukia menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan. Tidur siang, membaca, dan kembali menemukan fakta werewolf. Ichigo sudah sedikit menjelaskan kepadanya, mengenai transformasi dan Blood Moon. Membaca dan menemukan ilustrasi gambar yang mengerikan, sedikit membuat Rukia mual. Dia memilih untuk menutup bukunya dan mengambil buku yang lebih ringan. Beberapa dongeng anak seperti, 'Little Red Riding Hood' dan 'White Fang'—yang kembali ditemukannya di deretan terbawah tumpukan buku di samping kaki sofa.
Malam berganti cepat, ketika kakinya menapaki lorong lantai bawah yang benar-benar hening tanpa suara. Ruang makan hanya menyisakan satu orang koki, Hantarou yang sedang memanaskan sup miso. Ichigo tidak terlihat di sana, bahkan setelah Rukia selesai menyantap makanannya untuk menenangkan perut yang bergemuruh bising. Pria itu tidak ada di mana-mana, warna rambutnya tidak tertangkap oleh sudut mata sekalipun. Rukia kembali mengingat, kemungkinan Ichigo masih belum beranjak dari dalam kamarnya. Dia bermaksud pergi ke sana, sekedar mengecek tanda-tanda kehidupan dari kekeras kepalaannya. Namun niatnya diurungkan, ketika menyadari pria itu tidak akan menerimanya sebagai salah satu orang yang peduli pada sosok congkaknya. Rukia tidak berarti apapun untuknya, mungkin hanya seorang manusia normal di dalam rumah bermitos nyata.
Gadis itu mendesah, menyerah. Dia lebih memilih untuk menelusuri lorong ke kamar kakaknya. Berharap Hachi boleh membukakan pintu untuknya dan melihat keadaan Byakuya hanya untuk beberapa menit. Rukia sungguh frustasi, di saat mulutnya ingin mengucapkan kata-kata pelampiasan dirinya, tapi tidak ada orang yang mau mendengarnya. Dia butuh kakaknya, yang kembali terbangun dan siap menampung semua kekesalan di dalam hatinya. Bukan Ichigo—dia lebih merupakan sebagai awal semua rasa amarah di dalam diri Rukia yang membuncah seperti gunung berapi. Perlahan naik dari dalam perut bumi, sebelum mengeluarkan sumber lavanya ke udara bebas. Pria itu tidak bersahabat, hanya itulah yang dipercayai Rukia.
Rukia mengetuk pintu di depan wajahnya, tidak mendapatkan jawaban apapun selain keheningan. Tidak ada Hachi dan kenop pintu pun tidak bisa dibukanya. Dia kembali mendesah, sebelum berjalan menjauh dan menuju tempat terakhir di rumah itu—kamarnya. Dia butuh berendam di bak air hangat selama yang bisa tubuhnya merasa rileks, dan tidur bergelung di atas kasur empuk. Rukia baru merasakannya, bahwa dia benar-benar butuh istirahat. Seperti yang dikatakan Hachi juga Ichigo.
Matanya memandang langit-langit yang beruap, selama tubuhnya masih terendam dalam air hangat yang membuat otot tubuhnya tidak lagi menegang kaku. Dia merenungi, kembali ke dalam memori masa lalunya. Hari-hari masih setenang langit musim semi, dengan warna biru yang lebih mendominasi. Dia tidak perlu takut akan strigoi yang menyerang di lorong sepi, ataupun seekor serigala besar berlarian di tengah-tengah kota yang sedang terlelap. Tidak takut pada kabut juga kegelapan, juga sinar mata yang seterang bulan purnama. Dia hanya perlu berjalan ke depan dan menjalani hari-hari sibuknya sebagai siswa sekolah teladan. Mengurusi berbagai masalah kesiswaan Osis juga menghadapi ujian akhir. Mungkin, bisa menemukan seorang pria manis yang menarik perhatiannya dan berpacaran layaknya manusia normal. Oke—itu melebihi rencana awalnya dan mungkin tidak buruk juga.
Tubuhnya tiba-tiba tersentak dari dalam bathtub, matanya mengerjap terlalu cepat dan melihat ke sekeliling. Dia yakin hampir tertidur di dalam air yang terlalu nyaman—mungkin benar terlelap untuk beberapa menit. Dan setelah suara itu membangunkannya panik. Rukia segera bangun untuk mengambil handuk dan mengeringkan tubuh basahnya, merasakan jari-jarinya sudah berkerut karena terlalu lama berendam di air yang kini sudah sehangat kuku.
Suara itu melolong begitu keras, terdengar dari arah hutan. Rukia berjalan ke dalam kamarnya, melihat jendela yang belum tertutup oleh gorden, membiarkan secercah cahaya bulan masuk dari kaca jendela. Hutan terpapar di belakang halaman rumah, juga gunung tinggi menjulang menghalangi cakrawala. Suara itu, Rukia yakin sebagai lolongan serigala, membuatnya penasaran juga membangunkan keawasannya.
Itu bukan serigala biasa. Itu—werewolf.
Entah darimana keyakinan itu datang, membuat Rukia termenung dan mendengarkan tenang selama lolongannya masih belum berhenti. Suaranya memanggil seseorang, Rukia tidak tahu siapa itu. Seakan memohon dan memanjakan telinganya, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Matanya menutup untuk merasakan lebih jauh, berusaha menebak arti dari kesedihan si serigala. Memantul di udara kosong dan kegelapan malam, sehitam beledu lembut menoreh hati. Rukia mendesah, ketika hanya bisa menebak satu orang yang hilang dari perhatiannya. Mungkin saja serigala itu—
Ichigo.
.
.
…..~***~…..
.
.
Serigala itu menatap dalam kabut tebal, cahaya matanya menembus dan jatuh pada sosok Rukia. Gadis itu menggerakkan kaki telanjangnya di atas rumput basah, dengan gaun putihnya yang melambai tertiup angin kasat mata. Tubuhnya menggigil, bernapas dalam embun pagi sedingin es kutub utara. Matanya terpaku, pada sosok yang juga tidak bergeming di hadapannya.
Dia hanya menatap, tak bergeming. Hanya saling memandangi dalam kebisuan seputih salju turun. Serigala itu terdiam, seperti hewan jinak. Terkadang kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, berusaha mengerti dan mengamati gadis di hadapannya.
Lalu, dia menghilang dari hadapan Rukia—serigala besar berbulu caramel tua itu. Seakan ditelan kabut tebal yang menghalangi pandangan. Mungkin serigala itu pergi dan sudah bosan dengan dirinya, pikir Rukia.
Rukia berusaha memanggil, namun suaranya tidak bisa keluar bebas. Sesuatu seperti menahan tenggorokannya. Dia tercekat, juga tidak bisa melangkah. Seakan kakinya memang terekat erat pada tanah di bawahnya, menahan segala tindakan yang ingin dilakukannya.
Dan seseorang muncul, membuat Rukia terbelalak lebar. Bukan sosok serigala, tapi seorang pria yang muncul dari balik kabut itu. Tubuhnya tinggi dengan bahu tegap dan otot terbentuk indah tercetak sempurna. Dia bertelanjang dada dan membuat Rukia merasakan kegugupan menebal di tenggorokannya.
Dia mengenal pria itu, si serigala yang sudah berubah wujud.
Dia—
.
.
…..~***~…..
.
.
Rukia mengerjap, mendapati sinar mentari pagi menghalangi matanya. Dia mengerang, bergelung ke samping dan menarik selimutnya lebih atas. Ketika sesuatu terlintas di benaknya. Dia bermimpi, tapi sungguh terasa nyata. Seakan baru saja dialaminya beberapa detik yang lalu. Pahitnya, itu adalah mimpinya.
Wajahnya terbenam lebih dalam dan mulai merutuki diri sendiri. Dia hampir saja bisa melihat akhir dari mimpinya, sebelum terbangun karena matahari yang muncul terlalu cepat. Kembali mengingat-ingat, dirinya seperti dihantui oleh sosok serigala yang terus menatap dalam diam. Juga pria bertelanjang dada yang mungkin adalah serigala itu. Sekarang dia memimpikan Ichigo yang tidak memakai pakaian, pikir Rukia. Gadis itu berhenti bergelung di atas kasur, ketika menyadari ada yang salah.
Darimana dirinya berpendapat itu adalah Ichigo? Dia tidak bisa mengingat jelas wajah dalam mimpinya dan sekarang pikirannya bertambah satu peganggu layaknya hama. Dia memimpikan serigala yang berubah menjadi Ichigo, atau itu memang Ichigo yang ber-transformasi dan menatapi dirinya seperti seorang psikopat. Rukia mengerang, menyadari betapa sulit hidupnya mulai saat ini.
Dan suara itu—lolongan serigala malam tadi. Itu bukanlah mimpi, ketika kulitnya kembali merinding saat suaranya terbentuk dalam benaknya. Rukia mengingat jelas suara itu melolong dan menggema dari dalam hutan. Itu bukan salah satu dari mimpi anehnya, tapi sebuah kenyataan. Dia terus mendengar alunan melodi itu, hingga matanya tertutup sempurna di atas kasur empuknya. Lolongan serigala yang berubah menjadi lagu pengantar tidur. Menggema di dalam hutan dan memanggil bulan di atas langit.
Ketukan di pintu membuat tubuhnya tersentak. Rukia segera bangun dari kasurnya, diikuti dengan punggung yang terasa pegal karena posisi tidurnya seperti kucing tertabrak truk. Dia berjalan cepat, membuka pintu yang semakin diketuk tidak sabaran. Dan mendapati Ichigo berdiri di hadapannya. Sempurna.
"Kau baru bangun?" tanyanya tanpa beban, mengamati Rukia dari atas kepala hingga ujung kaki. Dia menyeringai.
"Ada perlu apa? Ini masih pagi," gerutu Rukia, berusaha merapikan rambutnya yang sekusut benang terlilit.
"Kyouraku-san sudah datang dan dia ingin bertemu denganmu," jelas Ichigo singkat.
Rukia berusaha memproses otaknya yang berjalan seperti siput. Nama Kyouraku terdengar tidak asing di telinganya, sebelum menyadari bahwa itu adalah sang pemilik rumah. Pria yang memegang segala rahasia mengenai kejadian hari itu—orang asing yang melukai kakaknya.
"Lima menit," ucap Rukia, sebelum menutup pintu tepat di depan wajah Ichigo.
Rukia tidak memedulikan gerutuan yang terdengar dari balik pintu kamarnya. Dia segera pergi untuk mengganti pakaian dan membersihkan dirinya agar tidak terlihat seperti orang yang baru saja mendapatkan hangover di pagi hari. Jujur saja dia sedikit menyerupai hal itu beberapa menit yang lalu.
Dia memakai jeans miliknya dan kaos sedikit kebesaran yang ditemukannya di lemari pakaian. Tangannya membuka kenop pintu begitu cepat dan mendapati Ichigo masih berada di sana, bersandar pada dinding lorong dengan wajah mengkerut.
"Kau masih ada di sini," kata Rukia, sedikit tidak percaya pria itu menunggunya.
"Aku masih di sini, setelah kau menutup pintu dan hampir membentur wajahku," jelas Ichigo, terdengar menggerutu. "Kau tidak tahu ruangan Kyouraku-san, bahkan bertemu orangnya saja belum pernah."
"Oh." Hanya itu yang diucapkan Rukia, sebelum mengikuti Ichigo yang sudah berjalan mendahuluinya.
Pikirannya bercabang, kembali mengingat mimpi itu juga lolongan serigala malam kemarin. Dia bermaksud menanyakan hal itu pada Ichigo, mengenai serigala yang berada di dalam hutan. Melihat pria itu begitu sensitif pagi ini, Rukia mengurungkan niatnya di urutan paling belakang.
Matanya terus memandangi punggung Ichigo, dan sesekali membayangkan bagaimana tubuhnya yang berubah menjadi werewolf. Serigala yang benar-benar serupa dengan kejadian malam itu, di saat mereka bertatapan pertama kalinya. Dia tidak mengingat jelas bagaimana dia berjalan dan menggeram, tapi besar tubuhnya hampir tiga kali lipat tubuhnya sekarang. Jauh lebih besar.
Mereka berjalan menuju lantai dua, dan ke arah perpustakaan di lorong kiri. Sebuah pintu terletak tepat di ujung lorongnya, jalan buntu yang mengarah pada ruangan akhir. Ichigo mengetuk pintunya, sebelum membukanya dan melangkah masuk. Rukia mendapati sebuah ruangan yang menyerupai kantor kecil. Dengan perapian di satu sisi dan sofa hijau muda di sisi lainnya. Di pojok ruangan terdapat meja kayu yang dilatarbelakangi jendela kaca berbingkai. Dan seseorang duduk membelakanginya, di kursi kerja dengan tangan terlipat di atas meja.
Pria itu sedikit menunduk, dijubahi sebuah mantel coklat usang. Dari goresan wajahnya, menandakan dia sudah paruh baya. Jenggot kasar tercukur sedikit tidak rapi di dagunya. Matanya sedikit lesu saat menatap Rukia di belakang Ichigo, juga senyum ramahnya setenang langit cerah di luar jendela.
"Kau pasti Kuchiki Rukia?" tanyanya sembari berdiri dari duduknya. Tubuhnya tinggi besar dan berbicara dengan logat asing, perpaduan keturunan Italia dan Spanyol.
"Ah—ya," jawab Rukia singkat, sedikit gugup saat Ichigo menyingkir ke samping dan membiarkan langkahnya terbuka lebar.
"Terima kasih sudah mengantarkannya kemari, Ichigo-kun," ucap Kyouraku. "Kau boleh pergi sekarang."
Ichigo mencuri pandang ke arah Rukia, sebelum melangkah pergi ke pintu keluar. "Tentu."
Rukia sedikit terkejut, mendapati Ichigo bisa patuh terhadap perintah seseorang. Lebih tepatnya, tidak berulah. Matanya kembali mengamati sosok Kyouraku, berusaha mencari tahu apa yang dilihat Ichigo pada diri pria tersebut. Ketakutan ataukah rasa hormat?
"Silakan duduk, Rukia-chan," kata Kyouraku. Dia sudah duduk di samping perapian, menyilangkan kakinya santai. Bahkan, rambut berombaknya seakan menjuntai tenang dari bahunya. "Ahh—maaf, sebelumnya, aku belum memperkenalkan diri secara langsung. Aku Kyouraku Shunshui, pemilik kediaman ini."
"Kuchiki Rukia," balas Rukia duduk tegap di sofa hijau, kakinya bergerak tidak tenang di atas karpet Turki berwarna merah, biru, dan tembaga. "Dan—terima kasih sudah menerimaku di sini, juga merawat nii-sama."
"Tidak masalah, Rukia-chan. Justru akulah yang meminta Ichigo untuk menjemputmu. Setelah kejadian itu—kau tahu, orang yang masuk ke dalam rumahmu."
Rukia menegang dalam duduknya, meremas kepalan tangannya di atas pangkuan. Sebentar lagi kebenaran akan terungkap. "Apakah anda tahu, siapa yang menyerang nii-sama juga merusak rumahku?"
"Ichigo belum menceritakannya kepadamu," tebak Kyouraku, mengusap dagunya dengan sebelah tangannya. "Hmm … dari mana aku akan memulai?"
"Kalau mengenai strigoi dan … werewolf—" Rukia berdeham, merasakan kekeringan mengisi tenggorokannya saat hendak mengatakan kata tersebut. "Aku sudah tahu. Ichigo sudah menjelaskan sebagian besarnya."
Kyouraku tidak menunjukkan ekspresi berlebih, selain mengangguk dan mengetukkan jari di dagunya. "Begitu? Baiklah, aku tidak perlu menjelaskan dari awal mula. Karena—aku pun adalah salah satunya."
Rukia berusaha menebak, melirik Kyouraku dengan tatapan menilai. "Anda … werewolf?"
"Tentu saja, Rukia-chan! Orang menarik dan menawan sepertiku, tidak mungkin adalah strigoi, bukan begitu?" Kyouraku tertawa, mengisi kekosongan ruangan dengan canda yang membuat Rukia terpaku.
Gadis itu mendapatkan teori, bahwa seorang werewolf memiliki masalah dengan kepribadian dirinya. Ichigo dengan rasa congkak yang dingin, sementara Kyouraku dengan pemujaan diri sendiri yang diisi gurauan murahan.
"Kau sepertinya tidak begitu terkejut dengan keadaan di sekitar sini?" tanya Kyouraku. "Kau cukup cepat untuk beradaptasi, Rukia-chan."
Lebih tepat dengan menerima tanpa mengeluh banyak. Rukia menahan suaranya untuk tidak berteriak seperti orang gila ataupun mengutuk perlakuan Ichigo yang membawanya ke tempat antah berantah. Ke dalam dunia yang berada di balik dunia nyata. Dia tidak memiliki reaksi yang terlalu banyak, karena lebih mengandalkan sikap dinginnya di samping tangisan juga gerutuan—mungkin ditambah sedikit makian, hanya sesekali.
"Apakah semua penghuni rumah ini adalah werewolf? Apakah Hanatarou juga?" Rukia bertanya, sedikit meragukan bila koki handal yang sedikit lesu itu adalah seorang werewolf.
"Hantarou? Oh—dia hanya pengurus rumah biasa. Beberapa orang adalah manusia yang juga menjaga rahasia kami secara turun menurun. Percaya atau tidak, mereka mewarisi darah pelindung kaum mitos dari leluhurnya." Kyouraku menjelaskan. "Kami berhutang banyak kepada mereka, sebagai salah satu yang peduli terhadap eksistensi kami.
"Itu di luar perkiraanku. Tetapi—" Rukia berdeham, berusaha menelan kegugupannya. "—nii-sama? Dia juga bukan werewolf, bukan?"
Kyouraku tersenyum simpul, memberikan sebagian jawabannya kepada Rukia. Itu bukan senyum kebahagiaan atau sebagai pertanda membenarkan suatu fakta. Sesuatu disembunyikan diam-diam dan tertutup rapat. Rukia ingin membongkar semuanya.
"Byakuya bukan werewolf." Seperti pembacaan vonis di rumah sakit, Rukia sedikit menghela napas lega. Namun, Kyouraku belum selesai menceritakan kisah akhirnya. "Tapi, dia juga seperti kami—salah satu jenis yang bersembunyi dari manusia. Kekuatannya sangat besar sebagai pemimpin kaum terbesar di Jepang."
Rukia tidak bisa mengedipkan matanya, ataupun menarik napas ke dalam paru-paru keringnya. Dia hanya menunggu, sementara Kyouraku mengucapkan setiap katanya secara hati-hati.
"Kuchiki Byakuya adalah pemimpin kaum Peri Bunga Sakura—The Spring Fairies. Dia yang menjaga setiap pohon sakura selama musim semi berlangsung, juga mengawal setiap benih baru yang akan tumbuh di kemudian hari. Menjaga ekosistem, itu yang seringkali kami sebutkan."
Rukia menganga, bahkan tidak menyadari bahwa mulutnya terbuka sangat lebar, hingga rahangnya tertarik ke bawah. Sekarang dia menyadari, bahwa cerita dongeng sangat tidak bisa diterima oleh akal manusia. Apalagi dalam kasus seperti sekarang ini.
"Aku tidak percaya sudah mengatakan ini padamu," desah Kyouraku, menahan tawanya ketika melihat Rukia masih ternganga. "Oh—tenanglah, Rukia-chan! Peri Bunga Sakura tidak seaneh yang kau kira. Mereka adalah bangsa yang teranggun dan terhormat di Jepang. Bisa dikatakan serupa dengan Peri Clover di dataran Eropa ataupun bangsa elf."
"Jadi, elf itu ada?" Rukia berhasil mengumpulkan sebagian suaranya yang hilang, berupa cekatan histerik.
"Itu yang dikatakan buku sejarah bangsa kami, walaupun aku sendiri belum pernah bertemu dengan mereka. Strigoi, werewolf, juga penyihir di Benua Amerika yang kuketahui dengan jelas keberadaan mereka." Kyouraku menjelaskan, dengan mata menatap kaca jendela seakan sedang berkhayal. "Aku lahir di daratan Amerika Selatan, sebelum pindah ke Jepang dan membentuk koloniku di sini. Itu masa-masa di mana kejayaanku sebagai seorang Alpha masih diakui—oh, sungguh sudah lama berlalu." Dia mendesah, penuh rindu kepada tubuh mudanya. Sekarang beban di pundaknya sudah terlalu tebal menumpuk. Kyouraku menyadari dirinya tidak bisa lagi berlarian bebas di alam luar, seakan mengejar angin juga burung rajawali menuju puncak gunung.
Keheningan mendadak, membuat Rukia ikut merasakan rasanya tercekat oleh masa lalu. Pria di depannya terlihat lebih tua dan terlalu lelah untuk menanggung beban seorang diri. Seorang werewolf seharusnya hidup bersama anggota kelompoknya, bukan sebagai pengelana seorang diri. Rasanya harus menanggalkan nama kebesarannya sebagai pemimpin kelompok, sangat sakit menahan perihnya bekas luka lama. Itu salah satu bukti yang menegaskan kediaman besar tersebut begitu sepi. Juga, kamar yang berkapasitas cukup untuk menampung sekelompok werewolf, pakaian yang selalu penuh di dalam lemari pakaian, juga dapur—luasnya mencapai setengah lapangan tenis.
"Jadi kau adalah Alpha." Rukia bergumam, berusaha memilih kata-kata yang tepat sebelum diucapkan. "Kau memiliki kelompok werewolf di Jepang?"
"Dulunya, sudah lama sekali," jelas Kyouraku. "Hanya beberapa orang yang masih tinggal, karena keberadaan werewolf di Jepang semakin langka dan menghilang. Kami hidup untuk mitos itu sendiri dan menghilang, bila ceritanya pun ikut memudar. Zaman semakin maju dengan teknologi muktahir yang berkembang pesat. Orang-orang tidak lagi percaya akan adanya keberadaan kami, yang dikatakan sebagai mimpi belaka ataupun dongeng dalam sebuah buku."
"Bagaimana dengan nii-sama?" tanya Rukia lagi, ingin tahu. "Apakah nii-sama pun—"
"Oh, tidak! Tentu saja tidak, Rukia-chan," potong Kyouraku, memasang wajah murah hatinya lebih kental. Dia tidak ingin merusak suasana semakin menjadi muram. "Kuchiki Byakuya memiliki perannya sendiri dalam masyarakat Jepang. Pohon sakura akan selalu hidup setiap tahunnya dan dia diperlukan sebagai pemimpin upacara sakral tersebut. Sakura melambangkan jati diri budaya Jepang, dan Byakuya akan melakukan apapun untuk mempertahankan tugasnya sebagai pelindung juga sumber kekuatan mistis yang tak tampak."
Rukia tersenyum, menyadari kakaknya memiliki tanggung jawab besar sebagai pembawa harapan. Dia selalu menyukai bunga sakura setiap musim semi tiba, tidak menyangka bahwa Byakuya yang membawanya mekar seindah mentari bangkit. Sehangat musim semi mencairkan salju musim dingin.
"Dan tugasnya hampir terhambat, saat beberapa strigoi menyerang rumah kalian beberapa hari yang lalu." Kyouraku mulai kembali ke dalam pertanyaan utama, menjawab sesuatu yang membawa Rukia ke tempat ini. "Untung saja Hachi tiba tepat waktu dan membawa Byakuya kemari untuk mengobati lukanya melalui teleportasi. Hachi adalah Spring Fairies—sebelum kau bertanya lebih jauh—dan dia adalah salah satu pengawal kepercayaan Byakuya."
Penjelasan Kyouraku membuat Rukia tersentak. Kebenaran mengenai Hachi yang juga berkaitan dengan identitas asli kakaknya, juga strigoi yang merusak rumahnya, bukan perampok. Rasa gemetar takut mulai menjalar di jari-jari kurusnya, mengepal terlalu erat.
"Aku sendiri masih belum mengerti apa motif mereka menyerang Byakuya," ungkap Kyouraku, menangkup mulutnya dengan sebelah tangan, pertanda frustasi. "Selain kemungkinan besar berhubungan dengan pesan dari Amerika Utara."
"Pesan? Mengenai apa?" Rukia tidak bisa menahan rasa gugupnya.
Kyouraku sedikit menimbang-nimbang, mengganti tumpuan kakinya seakan sedang memilah jawaban yang tepat. "Ichigo adalah pengantar pesan dari kelompok werewolf Amerika Utara. Dia mengantarkan surat yang ditujukan kepada kakakmu, Kuchiki Byakuya. Ini berkaitan dengan keberadaan strigoi yang semakin banyak bermunculan di Amerika hingga Eropa. Mereka semakin bertindak agresif dan berusaha mencari sesuatu."
"Dan apa hubungannya dengan nii-sama?" tanya Rukia, sedikit menggertak karena merasakan perasaan buruk mengenai kakaknya. Dia masih memercayai bahwa Byakuya akan mengatakan kejujuran kepadanya—setelah sadar dan pulih dari kondisinya.
"Byakuya, kemungkinan besar dia mengetahui sesuatu mengenai apa yang dicari para strigoi," ucap Kyouraku serius. "Yuki no Crystal—sesuatu yang kusebutkan tadi, yang dicari strigoi hingga ke negara ini. Hal yang masih awam bagi kami para werewolf, untuk mengetahui lebih jelas mengapa mereka begitu keras berusaha mengambil kristal tersebut. Sebuah kristal sakral milik peri di gunung Utara—Winter Fairies."
Rukia terbungkam, kembali terhanyut dalam cerita yang seperti tak berujung. Saling bersambung dari satu kisah ke kisah lainnya dan semakin membingungkannya. Rasanya seakan Cinderella, Snow White, dan The Little Mermaid tinggal di satu tempat dan era yang sama—bahkan mungkin mereka adalah kerabat dekat. Mulutnya terasa seperti meneguk obat sirup pahit dan juga manis.
"Lalu, apakah nii-sama mengetahui sesuatu? Nii-sama … dia tidak mungkin melakukan hal yang buruk, bukan?"
"Kami percaya, bahwa Byakuya masih berada di pihak kami. Sudah cukup lama kami memiliki hubungan kerja sama dengan Peri Bunga Sakura, tidak dalam waktu yang singkat. Mungkin, sejak kakek dan leluhurku menguasai Amerika Selatan sebagai salah satu koloni werewolf terkuat." Kyouraku berdiri dari duduknya, berjalan ke arah salah satu rak buku, mengambil buku yang terlihat acak. Tangannya memanggil Rukia, membiarkan gadis itu dipenuhi rasa antusias yang penasaran.
Bukunya dibuka pada tengah halaman, memperlihatkan sebuah simbol besar dengan bunga sakura di tengahnya. Rukia hanya menebak, bahwa ini milik kakaknya.
"Simbol yang menjadi lambang kekuasaan Spring Fairies di Jepang—yang berumur lebih lama dari penguasa wilayah membangun istananya pertama kali. Di mana manusia masih bergantung pada alam dan musim berganti sebagaimana alurnya. Sakura sudah seperti pohon magis yang melindungi wilayah ini, dan dari sanalah kelompok peri bertahan hidup." Jarinya bergerak untuk membalik halaman, memperlihatkan sebuah simbol lagi di mana seekor serigala duduk terdiam di bawah pohon Sakura, menyaksikan bunganya berguguran dari atas. "Dan kami pun mulai mendatangi wilayah ini—invasi pertama bangsa asing ke dataran Asia Timur. Masyarakat masih menganggap kami adalah wabah penyakit tak tersembuhkan, sebagian mengatakan monster dan siluman. Hanya satu kaum yang menerima keberadaan kami tanpa tatapan jijik dan menilai. Peri Bunga Sakura membangun aliansi pertamanya dengan kelompok werewolf."
Rukia tidak tahu harus berkata apa, selain terhanyut dalam cerita yang sudah lama berlalu. Degup jantungnya berdebar begitu cepat, seakan sedang mengalami mimpi musim panas ataupun melihat cahaya dari balik kaleidoskop. Begitu indah, namun rapuh. Dia takut, seandainya semua ini hanyalah omong kosong belaka yang memperolok dirinya.
"Dan satu lagi bangsa yang paling ditakuti—strigoi," lanjut Kyouraku, membalik halaman buku terlalu cepat. Jarinya menahan di sebuah halaman bergambar hitam, separuh putih yang kini sudah menguning karena jamur. "Kalian biasanya menyebut mereka dengan sebutan vampire, penghisap darah yang berbahaya. Mereka bertindak layaknya penguntit di waktu malam dan memercayai bahwa bangsa merekalah yang terkuat di antara yang ada."
Rukia melihat hati-hati, gambar seorang strigoi yang berada di balik bayang-bayang malam. Jari-jarinya ramping dan berkuku panjang, tapi tidak seperti penyihir. Seorang gadis memikat yang membuat Rukia terpana, pucat kulitnya seakan terbuat dari es. Matanya tidak memiliki warna putih di antara pupilnya, hanya hitam dan sebuah lingkaran merah di bagian tengahnya. Rukia bergidik ngeri, menyadari gadis itu tidak secantik yang dia bayangkan. Seorang strigoi yang berusaha menyerangnya di tempat pengisian bensin tempo hari menjadi bukti nyata. Mereka berusaha terlihat rapuh dan tidak berdaya di hadapan manusia, hanya untuk mengincar darah segarnya.
"Kami tidak pernah bisa untuk membentuk aliansi dengan mereka. Seakan sudah ditakdirkan sebagai musuh sejak awal mula kami tercipta, werewolf dan strigoi adalah musuh yang saling membenci. Kami tidak memiliki cara lain untuk menjaga lingkungan di mana kami tinggal dan berbaur bersama manusia, selain membunuh strigoi yang berusaha merusaknya." Kyouraku menutup bukunya, seakan sudah mencapai kisah akhir dari sebuah dongeng. "Di antara menerima dan menolak. Strigoi menganggap manusia sebagai makanan mereka, sedangkan kami menerima mereka sebagai teman kami. Pilihan jalan yang berbeda membuat kami saling membunuh."
"Apakah masih ada strigoi yang tidak ingin membunuh manusia—misalkan, mereka memilih jalan yang sama dengan werewolf?" tanya Rukia.
Kyouraku terdiam, menatap gadis mungil di sebelahnya dengan tatapan terkejut. Di luar perkiraanya, bahwa gadis itu memiliki hati yang semurni kristal. "Aku masih mengharapkan hal itu, percayalah. Walaupun, hingga saat ini aku hanya melihat strigoi yang serupa—membunuh siapapun yang menghalangi jalan mereka untuk mendapatkan darah."
"Dan manusia yang digigit, namun berhasil bertahan hidup—apakah mereka juga akan berubah menjadi strigoi?"
"Tidak, tapi hanya mereka yang terpilih," ungkap Kyouraku, mendesah berat ketika menaruh bukunya di atas meja. "Sebagian yang masih dibiarkan hidup adalah mereka yang terpilih untuk menjadi salah satu bagian dari kelompok strigoi. Insting atau mungkin mereka mengenali calon anggota dari bau darahnya, kami sendiri masih belum yakin mengenai hal tersebut."
"Tidak seperti di Buffy the Vampire Slayer," gumam Rukia kepada diri sendiri, tapi Kyouraku mendengarnya jelas. Telinga werewolf setajam pendengaran serigala liar.
"Ini tidak seperti yang ada di film. Imajinasi manusia terkadang terlalu berlebihan." Kyouraku tertawa miris, menggelengkan kepalanya sebagai penyangkalan pada kemajuan teknologi dan grafik canggih yang menipu mata.
"Bagaimana dengan werewolf—maksudku, apakah kalian juga bisa mengubah seseorang?" Rukia masih memiliki ratusan pertanyaan di benaknya, sebagian diungkapkan oleh mulutnya karena rasa penasaran menggelitik perutnya.
Kyouraku tertawa, membuat Rukia terkejut dan hampir meloncat di tempat. Pria paruh baya tersebut menyilangkan tangannya di depan dada, membiarkan tubuhnya sedikit rileks. "Aku menunggu kapan kau akan menanyakan pertanyaan itu. Ternyata, kau tidak takut bila salah satu dari kami menggigitmu, mungkin Ichigo?"
Pipinya terasa panas saat nama Ichigo disebut. Rukia menggigit bibir bawahnya, menahan kegugupan berlebih. "Aku … belum melihatnya berubah."
"Jadi, kau tidak masalah bila digigit seorang werewolf?"
"Tidak—bukan itu maksudku!"
"Aku hanya bercanda, Rukia-chan," goda Kyouraku, tertawa lagi ketika melihat mata Rukia terbelalak begitu lebar. "Kau tidak akan berubah, sekalipun digigit oleh keturunan murni sekalipun."
"Keturunan murni?"
"Yang lahir dari gen werewolf tanpa campuran gen lain—bisa dikatakan dari orang tua yang berdarah werewolf," lanjut Kyouraku. "Dan sebagian memiliki darah campuran, persilangan antar gen werewolf dan gen dari ras lainnya. Manusia kebanyakan, mungkin peri ataupun penyihir. Tapi, itu kemungkinan kecil dari sedikit werewolf yang memiliki mate di luar kelompok. Takdir tidak bisa ditebak dan alam yang akan memberi petunjuknya."
"Mate," bisik Rukia. Dia pernah membaca hal ini dari buku di perpustakaan, dan entah mengapa dia melupakkannya hingga detik sekarang. Mate—pasangan takdir yang terjadi satu kali dalam kehidupan seorang werewolf, pasangan sebenarnya. Kami boleh memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidup, antara mate ataupun orang lain yang menjadi pilihan dari keegoisan dan kebutaan untuk mengakui pasangan sejati. Tapi, sejauh apapun seorang werewolf berusaha menjauhi mate-nya, dia tidak akan bisa memotong benang merah di antara mereka. Sekali terikat, maka akan terus terikat hingga maut menjemput.
"Bagaimana kau bisa tahu siapa mate yang terpilih? Ini … sedikit membingungkan," kata Rukia, mengerutkan alisnya dalam. "Bagaimana kalau kalian salah memilih?"
"Seorang werewolf akan tahu, seandainya dia bertemu dengan pasangan hidupnya," jawab Kyouraku singkat, mengangguk sambil menatap ke balik kaca jendela. Seakan sedang memandangi kisah hidupya. "Kami akan tahu, itu saja."
"Itu saja?"
Ketukan di pintu menahan Rukia untuk mengucapkan pertanyaannya lebih lanjut. Seseorang membuka pintu setelah ketukan ketiga, memperlihatkan sosok asingnya di hadapan Rukia juga Kyouraku. Pria dengan rambut putih panjang menjutai hingga pinggangnya, memakai pakaian terlalu tebal untuk menutupi tubuh ringkihnya. Wajahnya hampir menyamai Kyouraku—dalam kesan santai juga keramahan bak malaikat.
"Ahh—Ukitake! Bagaimana kondisi Byakuya?"
Rukia menegakkan punggungnya, saat mendengar nama kakaknya disebut begitu lantang oleh Kyouraku. Kejujuran tidak bisa menutupi raut wajahnya, ketika rasa rindu itu menekan dadanya begitu keras.
"Dia sudah dalam kondisi stabil dan kemungkinan akan segera sadar," jelas Ukitake, dan tatapannya jatuh ke arah Rukia. "Dan—kau adalah Kuchiki Rukia, adik Byakuya?"
"Ya, dia adalah Rukia-chan." Kyouraku yang menjawab. Dia menepuk punggung Ukitake, seraya memperkenalkannya di hadapan Rukia yang masih terpaku diam. "Ini adalah teman baikku, sekaligus orang kepercayaanku selama aku memegang jabatan sebagai Alpha. Ukitake Juushirou, salah satu dari kaum kami."
"Kau tidak perlu khawatir, Rukia," ucap Ukitake, tersenyum pada Rukia yang sedikit berubah pucat. "Kakakmu akan baik-baik saja, aku yakin itu."
"Boleh … aku bertemu dengannya? Aku ingin melihatnya." Rukia hampir berteriak, bahkan mungkin berniat menerjang pintu yang dihalangi oleh Hachi, bila itu memungkinkan.
"Tentu saja." Kali ini Kyouraku yang menjawab. "Tapi, setelah sarapan pagi. Kau belum sarapan, bukan?"
.
.
…..~***~…..
.
.
Rukia duduk terdiam sembari memakan potongan roti panggangnya. Dia hanya memerhatikan bagaimana caranya Ichigo menyendok es krimnya, lagi. Kali ini rasa butter pecan (1). Kyouraku duduk di seberang meja, berbincang dengan mulut penuh daging panggang. Ukitake mengambil tempat di sebelah kiri Kyouraku, hanya menyesap teh hijaunya yang sudah mencapai gelas ke delapan. Mereka terlihat sangat tidak biasa, dengan porsi makan di atas rata-rata orang kebanyakan. Rasa kosong membuat kulit gadis itu terasa dingin, melihat bagian kanan meja terlalu banyak menyisakan deretan kursi kosong. Seharusnya meja tersebut bisa diisi oleh selusin manusia serigala.
"Tawarannya masih berlaku," ucap Ichigo di balik sendok es krimnya. Sudut mulutnya naik ke satu sisi. Sudah jelas dia berusaha menggoda Rukia yang sekarang menggerutu di sebelah Ichigo.
"Aku lebih suka rasa coklat." Rukia bergumam, matanya menatap ke depan, pada dua pria paruh baya yang sedang membahas sesuatu. Otaknya tidak bisa menangkap apa yang mereka katakan, karena terlalu sibuk untuk menahan diri agar tidak mencuri pandang ke arah Ichigo.
"Rasa coklat dengan saus caramel dan potongan hazelnut, itu yang terbaik." Seakan mengucapkan kalimat yang terkesan hambar, Ichigo kembali memasukkan sesendok es krim yang sebesar bola baseball. "Sayang sekali Hanatarou tidak menyediakan stoknya, karena jarang sekali ada tamu yang datang."
"Dan kau menghabiskan jatah stoknya," cibir Rukia, memotong-motong rotinya hingga bagian terkecil. Sekarang dia memberanikan diri untuk melirik ke arah Ichigo, mendapati pria itu pun sedang memandangi dirinya. Wajahnya bersemu merah, beruntung tertutup oleh sebagian rambutnya. Mulutnya berkedut tidak suka.
"Sebelum sampai tanggal kedaluwarsa. Lebih baik untuk tidak menyia-nyiakan makanan," jawab Ichigo, sedikit bangga akan dirinya. "Apa saja yang dikatakan Kyouraku-san?"
"Hah?"
"Soal werewolf dan—" Ichigo berdecak, mengetahui bahwa gadis itu mengerti sebagian lainnya. Mengenai makhluk mitos yang benar-benar nyata.
"Ohh… " Rukia tahu kode yang diberikan padanya. Ichigo hanya ingin mengecek, sedalam mana Rukia mendapatkan informasi dari sang mantan Alpha. "Mengenai nii-sama adalah Spring Fairies." Rukia berdeham, sementara Ichigo mengangguk. "Juga Kyouraku-san pernah menjadi Alpha untuk kelompok werewolf di Jepang. Dan—sebagian hal tentang strigoi yang merusak rumahku. Kau tahu mengenai hal itu?"
"Mereka sudah tidak ada saat aku sampai di rumahmu, tapi bisa kucium bau mereka yang tertinggal," kata Ichigo.
"Kau juga tahu apa yang dicari oleh mereka?" Rukia sedikit berbisik, separuh menghindari kontak mata dengan Kyouraku. Dia belum sepenuhnya memercayai pria itu, bila dibandingkan dengan Ichigo. "Apa yang diinginkan strigoi dari nii-sama?"
Ichigo mengedikkan bahunya, raut wajahnya tidak menunjukkan reaksi apapun. "Seandainya aku pun tahu."
Rukia menunduk, kembali terhanyut dalam lamunannya. Dia belum bisa berhenti untuk berpikir, selama belum mendapatkan petunjuk mengenai kakaknya. "Yuki no Crystal."
"Apa?"
"Kristal itu—apakah nii-sama mengetahui sesuatu?"
"Kau juga tahu soal itu." Ichigo cukup terkejut, tidak menduga Rukia menyebutkannya secara lantang. "Kristal yang hilang dari Negara Utara."
"Kau yang mengantarkan surat itu, jadi kau pasti tahu sesuatu, bukan?" Rukia mulai bersikeras, bahkan tangannya tidak sengaja menyikut lengan atas Ichigo. Amarahnya mengambil alih kesadaran pandangan.
"Aku bahkan tidak membuka isi suratnya. Itu surat terlarang yang dikirim oleh Alpha dari Amerika Utara dan aku dilarang untuk melihat isinya."
"Dan mengapa Kyouraku-san tahu akan hal itu?" Matanya menyipit, mengamati gerak-gerik Kyouraku yang masih dalam sikap santainya.
"Mungkin dari ayahku," jelas Ichigo, ikut mengerutkan keningnya. "Dia yang menulis suratnya dan memintaku untuk mengirimkannya secara langsung kepada Spring Fairies di Jepang—Kuchiki Byakuya."
Rukia tidak berhasil menyembunyikan emosinya, yang kali keluar dalam bentuk sebuah pekikkan. "Ayahmu? Dia Alpha?"
"Sepertinya perbincangan kalian lebih menarik dari pada kami." Kyouraku mencoba untuk bergabung, juga dikarenakan telinga werewolf-nya yang masih tajam menangkap apapun di sekitarnya—bahkan untuk suara benang jatuh sekalipun.
"Kyouraku-san, kau menghubungi oyaji, bukan?" Ichigo menggerutu, mengeratkan kepalannya di atas meja. Terlihat jelas emosi sudah mulai terbentuk di mata terangnya.
Kyouraku tersenyum, yang bisa ditangkap apa jawaban seterusnya. "Baru saja, sebelum aku bertemu dengan Rukia-chan—bila yang kau maksud adalah isi dari suratnya. Hanya sebagian saja yang dikatakan Isshin kepadaku. Separuhnya adalah masalah pribadi dengan Byakuya."
"Dia seharusnya tahu kalau sekarang sudah tersedia jasa pengiriman surat lintas benua! Why don't just use email better than a piece of paper?! For heaven's sake! The old man really pissing me off! (2)"
Rukia sedikit takjub mendengarnya mengeluarkan bahasa asing yang begitu kental dalam nada suaranya. Ichigo memang bukan orang Jepang, walaupun aksen Jepangnya bisa dikatakan hampir sempurna. Dan perubahan sikap Ichigo yang semakin tidak terkontrol—Rukia yakin melihat sekilas kuku pria itu memanjang dan meruncing seperti cakar—membuat tenguknya mulai terasa dingin.
"Isshin masih menghormati tradisi dan membuktikan surat itu begitu penting untuknya," ucap Kyouraku yang sama sekali tidak terusik dengan amarah sang werewolf muda. "Juga membuktikan bahwa kau adalah orang kepercayaannya, calon Alpha."
Rukia menyeringai, saat melihat wajah Ichigo yang berubah sedikit memerah. Kyouraku sudah mengakuinya sebagai calon penerus dan itu adalah pujian tertinggi yang pernah didapatkan oleh Ichigo.
"Kau sudah menyelesaikan sarapanmu?" Ukitake menyela, bertanya pada Rukia dengan senyum ramah yang setia bertengger di wajahnya. Wajahnya mengingatkan Rukia pada sosok Gandalf dalam 'Lord of The Rings'—yang tidak berjenggot dan tidak memiliki kerutan di wajahnya.
"Ah, ya," jawab Rukia.
"Bagaimana kalau kita melihat kakakmu?" tawar Ukitake, mendapat perhatian tambahan dari rekan di sebelahnya, juga Ichigo. "Kupikir ini sudah saatnya."
"Firasat Ukitake sangatlah kuat, kau bisa percaya padanya," tambah Kyouraku menjelaskan. Senyum keyakinannya tidak pernah lebih lebar dari ini.
…..~*(to be continued…)*~…..
.
.
.
.
.
.
.
Author's note:
(1) butter pecan: Rasa es krim vanilla lembut dengan sedikit rasa mentega dan ditambah potongan kacang pecan dari Meksiko
(2) translate: "Mengapa tidak menggunakan email saja dibandingkan secarik kertas? For heaven's sake! (idiom yang berarti mengekspresikan rasa frustasi dan terganggu) Orang tua itu membuatku jengah!"
Awww~ Gomenne! Sebelumnya aku minta maaf karena lama (terlalu lama) untuk update fic ini TTATT… Dikarenakan ada sebuah fic yang aku fokuskan untuk mengejar deadline, jadinya fic ini ditunda dulu updatenya. Tapi sekarang aku sudah kembali lagi ke sini dan jujur sempat bingung untuk penulisan chapter ini. Sebagian besar adalah penjelasan mengenai werewolf dan sebagainya, juga percakapan bergantian antara Rukia, Kyouraku, Ichigo, dan Ukitake. Semoga kalian bisa menebak sebagian ceritanya (?) Hope u like it guys~ ;)
Ow! Rahasia terbongkar! Yup, Byakuya bukan werewolf ataupun vampire, dia adalah peri. Peri bukan berarti harus memiliki sayap seperti tinkerbell atau sejenisnya, tapi wujudnya di fic ini lebih menyerupai fairy bentuk manusia. Bagi yang pernah menonton True Blood? Yah, mirip" sosok Sookie. Atau Mortal Instruments yang juga jadi inspirasi sebagian makhluk mitosnya :3
Byakuya akan segera siuman di chapter depan! Dan nii-sama juga akan menjelaskan secara rinci identitasnya sebenarnya~
Terima kasih bagi yang sudah mereview dan maaf (lagi) baru aku balas sekarang! Aku terbiasa membalas review (bagi yang log-in) bersamaan dengan update chapter terbaru, agar tidak lupa sampai mana aku mereview :p Dan terima kasih juga untuk para reader yang setia membaca sampai chapter ini, juga yang baru membaca, yoroshiku~ Saran, pendapat, dan masukan kalian sangat sangat sangat berarti untukku! Love u~ 3 3 3
.
.
Balasan untuk anonymous dan no-login reviewers:
uzumakisanti: Terima kasih untuk reviewnya! Alamat fb aku ada di profile fanfic, bisa dilihat di sana link-nya XD Username nya: Asa no Washi. Grimmjow nya aku tunda dulu, mungkin bakalan ada tapi bukan di seri yang ini :3 hihihi…
Rumie IchiRuki: Terima kasih sudah mereview! Byakuya diserang strigoi itu :D Dan identitas Byakuya sudah terungkap di sini, tapi berbeda sama Rukia. Dia belum tahu siapa dia sebenarnya, penjelasannya bakalan ada di chapter depan (dari mulut Byakuya sendiri). Ichigo memang tertarik sama Rukia XD Apakah dia mate dari Rukia, aku belum bisa menjawab~ Update nya ga kilat TAT, gomen! Semoga suka deh sama chapter ini, walaupun udah kelamaan ga update…xixixi
Kirito2239: Terima kasih sudah mereview! Makasih juga untuk semangatnya dan ini lanjutan chapternya! Maaf sebelumnya lama update, tapi semoga kamu suka dengan chapter ini XD
darries: Terima kasih untuk reviewnya! Chapter sebelumnya dan ini membahas mengenai penjelasan werewolf dan sebagainya, jadi masih dibilang santai (?) tapi authornya ga santai, muter kepala buat jelasinnya XD #plak Sosok penjahatnya adalah vampire a.k.a strigoi. Kyouraku muncul di chapter ini dan membawa segudang rahasia….wkwkwkwk Semoga suka dengan chapter terbarunya, maaf sebelumnya lama update ;_;
hendrik widyawati: Terima kasih untuk reviewnya! Wkwkwkw… mau digigit asalkan sama Ichigo ga masalah ya XD #plak Ichigo yang berubah wujud akan segera terlihat, mungkin 2 chapter lagi :3 Sekarang masih membahas seputar masalah werewolf dulu..hehehe..
Playlist:
Lorde- Yellow Flicker Beat
Borgeous and Tony Junior- Break the House
Ella Henderson- Ghost
Taylor Swift- Out Of The Woods
Chvrches- Dead Air
These songs don't belong to me…
