Sejak itu, Sakura tidak pernah lagi menoreh tangannya. Dia telah mendapatkan pengganti yang lebih efisien dan tidak meninggalkan bekas. Dia juga makan dengan baik (walau setelah itu dimuntahkannya kembali) sehingga tidak ada alasan bagi ayahnya untuk memarahinya.
Jam istirahat siang. Sakura sedang menyantap bekal makan siangnya dengan tenang. Walau sebenarnya dia tidak suka dikelilingi murid-murid cewek, tapi dia hanya diam dan bersikap tenang. Sama sekali tidak berminat untuk menentang keinginan mereka. "Membuat repot saja" pikirnya. Murid-murid cewek di kelasnya sangat senang menempel erat dengan Sakura walau sedang makan siang sekalipun.
"Woowww... Reiji...Udang goreng milikmu enak sekali. Nyummm ...padahal bentuknya biasa saja. Tapi rasanya...kereennn..." terdengar celutukan keras yang bergema sampai ke penjuru kelas.
"Yeee... siapa dulu dong pembuatnya. Nenekku memang paling ahli dalam hal masak-memasak, apalagi udang goreng kesukaanku. Gimana? Enak kan?!" Reiji membalas senang dengan suara yang juga tidak kalah keras.
"Hiya...enyakkk..." Eric menyantap 1 udang goreng lagi dari bekal Reiji.
"Hei, siapa bilang kau boleh mengambil lagi?! Dasar pencuri udang goreng !" Reiji melancarkan kepalan tangannya ke dada temannya itu.
"Berisik sekali. Memang apa hebatnya masakan dari orang yang tidak lama lagi juga akan mati ?"
Tawa canda Reiji dan temannya segera terhenti setelah mendengar perkataan yang tidak dengan suara keras namun jelas itu.
Reiji langsung naik pitam dan segera berdiri beranjak dari tempat duduknya ke arah tempat duduk orang yang mengatakan hal barusan.
"Hei, apa maksudmu mengatakan itu?!" Reiji berdiri tepat di depan meja orang itu.
"Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya bingung, apa yang mau kau banggakan dari nenekmu itu." Sakura mengatakannya dengan tenang sambil tetap duduk dan menyantap pelan bekalnya.
"Sebenarnya ada dendam apa kau padaku ? Kenapa kau selalu mengatakan hal-hal yang menyinggung perasaanku ?! Seingatku, aku tak pernah melakukan kesalahan apapun padamu !" Suara Reiji semakin meninggi. Namun, dia masih menahan amarahnya karena tidak ingin mencari masalah.
"Aku tidak ada dendam apapun padamu. Mungkin hanya perasaanmu."
"Lalu kenapa...?" Reiji semakin tidak sabar mendengar jawaban Sakura.
"Aku hanya jijik melihat dan mendengar tentang kehangatan keluargamu yang kau umbar-umbar secara berlebihan itu. Kakek dan Nenek mu itu menyanyangimu karena hanya ingin mendapat keuntungan darimu saja. Mereka berharap kau bisa merawat mereka, bukan? Tapi, sepertinya kau sangat senang melakukan tugas mulia itu. Syukurlah. Mereka tidak salah pilih orang." Papar Sakura dengan tenangnya.
"BRENGSEK ! Kau benar-benar menguji kesabaranku." Reiji akhirnya tak bisa menahan emosinya lagi. Dia menarik kerah baju Sakura, memaksa pemuda itu berdiri dan kemudian satu kepalan tinju Reiji mendarat di pipi Sakura.
Saking kuatnya pukulan yang diterima Sakura, tubuh kecil dan kurusnya itu tidak mampu menahan efek pukulan Reiji dan Sakura pun terjerebap jatuh ke lantai.
"Kyyaaaaa..." teriakan-teriakan dari murid-murid cewek mulai terdengar.
"Tidak masalah kalau kau mau menghinaku. Tapi aku tidak akan memaafkanmu kalau kau menghina keluargaku sedikit saja. Kau dengar itu ?!" Bentakan keras dari Reiji menenangkan suasana kelas lagi.
Sakura hanya diam dengan kepala tertunduk. Ujung bibirnya berdarah. Kemudian dia berusaha bangun dengan terhuyung.
"Hei, apa kau deng...aarr..." Suara dan nada bicara Reiji mendadak menurun dan kemudian dia tidak bisa melanjutkan bentakannya lagi ketika melihat raut wajah Sakura.
"Puas?" Sakura hanya menimpalinya dengan tenang. Namun raut wajahnya tidak berkata begitu. Dan kemudian dia pun berjalan tenang dengan sedikit terhuyung ke luar kelas meninggalkan seisi kelas dan Reiji yang terdiam.
"Apa-apaan dia ? Kenapa wajahnya seperti itu ? Wajahnya seperti orang yang akan menangis. Seperti menahan kepahitan." Gumam Reiji dalam hati. Hatinya sakit membayangkan kembali wajah sengsara Sakura barusan. Tiba- tiba muncul rasa bersalah dan menyesal yang sangat besar dalam dirinya karena telah memukul Sakura. Dia merasa, dialah penyebab Sakura membuat ekspresi wajah seperti itu.
"Cih, kenapa aku jadi seperti pihak yang salah ?" Reiji pun berlari ke luar kelas mencari Sakura.
Sakura berjalan dengan terhuyung menuju toilet. Hanya saja, dia mengambil jalan memutar melewati halaman sekolah karena tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang di koridor karena luka di ujung bibir dan lebam di wajah cantiknya. Apalagi kalau sampai bertemu guru. Bakal lebih repot lagi urusannya.
Dan nasib jelek Sakura. Dia dicegat oleh 3 murid cowok yang tidak suka padanya dan dari dulu memang sering mencari masalah.
Tubuh Sakura digiring dan dihempaskan ke arah tembok. Kemudian dia mulai dikerubuti oleh cowok-cowok itu.
"Hei, ada apa dengan wajah tampanmu itu ?" kata salah seorang dari mereka sambil berseringai senang.
"Akhirnya, ada juga orang lain yang memukulmu, ya? Kau sudah menyadari sikap sombong dan menyebalkan dirimu itu ?" timpal yang lainnya.
"Aku dipukul siapapun, tidak ada hubungannya dengan kalian. Minggir ! Kalian menghalangiku." Sakura meladenin mereka dengan tenang.
"Brengsek. Orang-orang ini menghalangi ku saja. Aku tak tahan lagi ingin memuntahkan isi perutku." Pikirnya. Rasa mual yang menjadi rutinitas yang selalu dialaminya sudah mulai menyerang Sakura.
"Sialan ! Kau makin kurang ajar saja. Kau pikir kau siapa, hah ?!" Salah satu dari mereka melayangkan tinju ke arah wajah Sakura.
"!"
Sakura menutup matanya. Bersiap menerima pukulan.
"...? " Namun pukulan itu tidak kunjung datang. Bingung...dan akhirnya Sakura memutuskan membuka matanya.
Sebuah tangan yang besar memegangi pergelangan tangan cowok yang bermaksud melancarkan pukulan itu. Tangan itu menghentikan pukulan yang nyaris menghantam wajah Sakura dan kemudian meremasnya sehingga si pemilik tangan berteriak kesakitan.
"Uuaaakkkkkk..."
"Apa yang kalian lakukan ?! Mengeroyok 1 orang beramai-ramai ...Pengecut !" teriak pemilik tangan yang besar itu.
"Re...Reiji !? Hiii..." sahut mereka serempak dan langsung secepat kilat melarikan diri dari tempat itu.
Wajar kalau mereka takut pada Reiji. Dari segi fisik, tubuh Reiji memang lebih besar dari mereka. Dan kalau dia mau, dia bisa mengeluarkan aura yang membuat orang lain takut padanya. Bagaimana tidak ? Dia Dan3 dan ketua klub kendo yang merupakan juara 3 Nasional. Makanya dia bingung Sakura berani mencari masalah dengannya. Dia memang tidak mengerti apa yang ada di pikiran pemuda yang sekarang berada di hadapannya itu.
"Hei, Sakura. Kau baik-baik saja ?" tanyanya lembut. Dia sedikit khawatir melihat wajah pucat Sakura.
"Tidak ada hubungannya denganmu ." jawab Sakura ketus.
"Hei, ada apa denganmu ? Begitukah sikapmu pada orang yang telah menolongmu?" Reiji sebal mendengar jawaban Sakura.
"Memang siapa yang meminta pertolonganmu ?! Jangan sok pahlawan padaku !" bentak Sakura. Dia tidak bisa mengatur nada bicaranya agar terkesan tenang lagi. Dia pun sesegera mungkin beranjak dari tempat itu. Rasa mual sudah menyerangnya dengan kuat. Dia ingin sesegera mungkin ke toilet.
"A...apa...?" Reiji terkejut, tak menyangka itu yang akan keluar dari mulut Sakura. Dia mengejar pemuda itu dan meraih pergelangan tangannya.
"Hei, kau sangat bermasalah dengan sikapmu. Jika kau begitu terus, kau akan dibenci semua orang."
"Lepaskan aku !" Sakura membalik ke arah Reiji dan berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman tangan Reiji.
"Makanya... kubilang kau... !" Kata-kata Reiji terhenti. Perhatiannya tertuju pada bekas luka yang menyeruak dari balik Handband Sakura yang tersingkap karena ditarik oleh Reiji."Apa-apaan luka ini ? Lagipula, ada banyak sekali bekas torehan. Siapa yang melakukannya ?" Reiji menarik tangan Sakura agar bisa melihat lebih jelas lagi dan memperhatikan bekas luka-luka itu.
"Lepaskan aku !" Sakura berusaha melawan dan melepaskan tangannya dari cengkraman Reiji, namun tidak berhasil.
"Kau...jangan-jangan...Kau sendiri yang membuat luka-luka ini !?" Reiji terguncang oleh dugaannya itu. Dan perhatiannya sekarang tertuju pada wajah Sakura.
"Kubilang, lepaskan akuu !" Kali ini, dengan sekuat tenaga Sakura melepaskan diri dari Reiji dan berhasil. Sakura pun segera berlari, beranjak dari tempat itu.
"Dia itu...Siall ! Mana bisa aku membiarkannya begitu saja !?" Reiji ikut berlari mengejar Sakura.
"Sialan. Cepat sekali menghilangnya. Pergi ke mana dia?".
Reiji kewalahan mencari jejak Sakura. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menyerah dan menuju ke toilet untuk membasuh mukanya yang bermandikan keringat.
Sesampainya di sana, dia menemukan sosok yang sejak dari tadi dicarinya.
Baru saja dia mau menyapanya, niatnya itu terhenti begitu melihat tindakan Sakura.
Sosok cowok berbadan kecil itu tampak gemetaran di washtafel. Dia bermandikan keringat. Dan 2 jari tangan kanannya mulai dimasukkan ke dalam mulutnya.
"Uukkhh..." Sakura mulai mengerang kecil. Walaupun sudah 5hari dia memulai hal itu, namun tetap saja dia masih belum merasa nyaman.
"!" Reiji kaget bukan kepalang menyaksikan perbuatan Sakura.
"Hei, apa yang kau lakukan ?!" Reiji secepat mungkin melesat ke arah Sakura dan menghentikan perbuatannya itu.
" Kau... mau apa kau ... ?" Sakura tampak terkejut sekaligus marah ketika Reiji memegangi tangannya, membuat dia terhenti melakukan pekerjaannya.
"Kau sudah gila, ya ? Kau tahu kau tadi melakukan apa ?!"
"Tak ada urusannya denganmu ! Lepaskan aku !" Sakura berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Reiji. Walaupun sia-sia.
"Hentikan ! Kenapa kau melakukan hal-hal seperti ini ?! Jangan bilang kalau sudah dari lama kau melakukan hal ini."
"Makanya kubilang tidak ada hubungannya denganmu kan ?! Kenapa kau menggangguku ?!"
"Kau kira aku bisa membiarkan saja orang lain melakukan hal seperti ini di depanku ?!"
"!?" Sakura tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi setelah mendengar perkataan Reiji yang keras itu.
"Kriiingggg...Kriiiingggg..." Bunyi bel pertanda jam istitrahat siang selesai menggema ke seluruh penjuru sekolah.
" Pelajaran akan dimulai. Ayo, masuk ke kelas." Reiji menarik tangan Sakura dan mengajaknya beranjak dari tempat itu.
"Lepaskan ! Jangan ganggu aku !"
" Hei, Sakura. Aku sudah berbaik hati padamu. Tidak bisakah kau mendengar kata-kataku sedikit saja ?!"
" Makanya, siapa yang minta kau berbaik hati padaku !? Sudah kubilang jangan sok pahlawan padaku." Sakura membentak Reiji dengan suara keras. Wajahnya terlihat pucat.
"Kau ini... keterlaluan..." Reiji kehabisan akal untuk melawan Sakura. Aku tak akan menang melawan cowok ini. Begitu pikirnya.
"Hhh...hhhh..." Sakura mengendurkan perlawanannya terhadap Reiji. Sekarang wajahnya benar-benar sudah pucat.
" ? Sa... Sakura...?" Reiji menyadari tangan yang sejak tadi digenggamnya perlahan melemah dan kehilangan tenaga untuk melawannya.
"..." Belum sempat mengatakan apapun, Sakura ambruk di pelukan Reiji.
"Hoi...oi... Sakura. Jangan becanda, oi...!" Reiji panik menyaksikan tubuh kecil yang di hadapannya itu perlahan merosot jatuh dari tubuhnya."Sialan ! Benar-benar orang yang merepotkan." Dia mengangkat tubuh kecil itu dan membawanya pergi secepat mungkin.
"Braakkk..."Reiji membuka pintu dengan kakinya.
"Hei, apa tidak bisa lebih sopan sedikit ? Ini ruang kesehatan." Sahut guru praktek di situ.
"Maaf, Bu. Tapi, bisa tolong dia ...?" Reiji menunjukkan kedua tangannya yang sedang menggendong tubuh lemah Sakura. Dia terlihat panik. Keringat bercucuran dari wajahnya. Dan nafasnya tampak terburu-buru. Yah, selama ini dia belum pernah berhadapan dengan orang selemah Sakura.
"Wah, coba baringkan dia dulu." Reiji dengan patuh membaringkan tubuh Sakura di tempat tidur dengan lembut.
"Kenapa dia ?" tanya bu guru.
"Tidak tahu. Tiba-tiba saja, dia ambruk. Sebelumnya, dia..."
"Jangan bicara sembarangan kau !" Perkataan Reiji dipotong Sakura dengan suara kecil.
"Wah, kau sudah siuman ? Syukurlah. Tapi, sebaiknya kau jangan bangun dulu." Bu guru segera menghentikan Sakura yang berniat untuk beranjak dari tempat tidurnya dan menyuruhnya untuk berbaring lagi.
Sakura mematuhinya.
"Bu, saya minta yang biasa saja."
"Itu lagi ? Kau tak boleh selamanya bergantung pada itu. Tidak akan mencukupi untuk kebutuhan tubuhmu."
"Eh, itu ? Apa maksudnya?" Reiji bingung berada di tengah-tengah pembicaraan yang tidak dia mengerti.
"'Itu' maksudnya ini." Bu guru menunjukkan kepada Reiji benda yang dia keluarkan dari lemari kaca nya. Benda seperti tabung yang berselang.
"Infus ?! Untuk apa itu ?" Gumam Reiji dalam hati sambil kebingungan melihat bu guru yang berjalan mendekat ke arah Sakura.
Dia semakin kaget sewaktu melihat sebuah jarum diarahkan ke telapak atas tangan Sakura.
"Tunggu ! Mau kau apakan dia ?!" Reiji berlari, memegangi tangan Sakura. Menghentikan jarum itu menusuk tangan Sakura. Sakura bingung dan terkejut melihat reaksi Reiji yang berlebihan itu.
"Tenang saja. Tak usah panik begitu. Saya hanya akan menginfus dia."
"Aahhh..." Reiji menjadi malu sendiri atas perbuatannya. Dia melepaskan tangan Sakura dan menjadi salah tingkah.
Setelah itu, dia hanya diam saja menyaksikan Sakura diinfus. Reiji memperhatikan wajah Sakura yang tetap tenang diinfus. Dari situ dia tahu, Sakura sudah sering melakukan hal ini.
"Untuk apa semua infus itu ?" Reiji akhirnya tak bisa menahan rasa ingin tahu nya dan menanyakannya pada bu guru.
"Untuk suplay gizi dalam tubuhnya. Sepertinya tubuhnya tidak mendapat gizi yang cukup. Jadi, harus ditunjang dengan ini. Walau tidak bisa optimal, tapi setidaknya ...yah, cukup untuk menyangga tubuhnya. Sama seperti orang yang sedang diopname di rumah sakit." Bu guru menjelaskan sambil memberi plester pada tempat infus Sakura.
Tubuhnya tidak mendapat gizi yang cukup ?! Pasti karena hal yang dia lakukan tadi. Reiji menyadari bahwa bu guru tidak mengetahui apa yang dilakukan Sakura sehingga tubuhnya kekurangan suplay gizi.
Sakura menarik ujung kemeja Reiji. Dia menatap pemuda itu dengan tatapan memohon. Dia mengetahui niat Reiji yang hendak mengatakan pada bu guru apa yang sebenarnya terjadi. Tak tega melihatnya, akhirnya Reiji menghentikan niatnya itu.
"Ibu tinggal dulu, ya. Tolong jaga dia." Dan bu guru pun beranjak keluar dari ruang kesehatan itu meninggalkan Sakura dan Reiji berdua.
Lama mereka berdua hanya terdiam, akhirnya Reiji duduk di kursi di sebelah Sakura dan membuka pembicaraan.
"Hei Sakura, kalau boleh aku tahu, kenapa kau melakukan hal itu ? Siapa tahu aku bisa membantu mu."
Sakura hanya diam. Tidak mengatakan dan bereaksi apa-apa.
"Yah, sudah kuduga kau tidak akan mau mengatakannya." Reiji menghela nafas nya. Dugaannya tepat.
"Setidaknya, bisakah kau menghentikan melakukan hal-hal seperti itu ? Tubuhmu bahkan seringan bulu. Kalau seperti ini terus, kau bisa benar-benar masuk rumah sakit."
"Kenapa..."
"Eh..?"
"Kenapa kau begitu memperdulikanku ? Aku tidak ada hubungan apa-apa denganmu. Bahkan aku sudah menghina keluargamu. Seharusnya kau membenciku kan? Kenapa ?"
"Hmm... Itu juga yang ingin kutanyakan pada diriku sendiri." Reiji tersenyum lembut mengatakannya.
"Entah kenapa, aku tak bisa dan tidak mau membencinya. Aku tak bisa membiarkan orang ini begitu saja." Pikirnya sambil memandang lembut Sakura yang kebingungan.
