::The Dark Legacy— First Quarter::
By: Morning Eagle
Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Just to warn you all :: AU, OC, OOC, Misstypos...for this story
Scene 5: Team Up
~0*0~
.0.
.
.
.
.
.
.
.
Rukia termenung tanpa ingin melihat lurus ke depan. Tatapannya tertuju pada tangannya yang bergerak gelisah di atas pangkuan. Napasnya tertahan di tenggorokannya, saat suara itu akhirnya berkumandang di telinganya.
"Rukia, kau baik-baik saja?" Pertanyaan itu terlontar keluar dari mulut kakaknya, yang masih terlilit perban dan terduduk nyaman di punggung ranjang. Sorot matanya sedikit sendu, dengan kilat kekhawatiran yang begitu kentara. Dia begitu mengkhawatirkan keadaan adik kecilnya.
"Seharusnya aku yang menanyakan hal itu … nii-sama," jawab Rukia, mengangkat wajahnya setelah sekian lama menunduk. "Kau terluka."
"Tidak seburuk kelihatannya." Byakuya sedikit tersenyum, tapi bukan dari sudut mulutnya. Wajah dan matanya yang hanya berbicara. "Kyouraku yang menjagamu?" tebaknya kemudian.
Rukia mengangguk, menggigit bibirnya karena kegugupan berputar-putar dalam perutnya. Kakaknya masih belum menyinggung soal identitas dirinya, ataupun strigoi yang menyerang rumah mereka, ataupun kristal keramat itu. "Nii-sama, mengenai … maksudku—kau pasti tahu, bukan? Penyebab semua ini, juga Kyouraku-san…"
Byakuya terdiam, menarik napas dalam-dalam. Hal ini menambah ketegangan di dalam ruangan semakin terasa mencekik. Di antara Rukia dan Byakuya, hanya mereka yang mengerti situasai yang terjadi. "Mereka sudah menceritakannya kepadamu?"
"Ya," jawabnya singkat. Menimbang-nimbang untuk mengerti raut wajah kakaknya yang bisa menyerap informasi hanya dalam sekilas tatapan. "Soal strigoi, werewolf, juga spring fairies. Kau—menyembunyikan hal ini dariku, nii-sama."
"Maafkan aku, Rukia. Aku tidak punya pilihan lain," desahnya, terasa berat di relung jantungnya. Adiknya tidak mau menatap dirinya.
"Aku mengerti kalau nii-sama berusaha untuk melindungiku. Tapi, masalah ini—strigoi, juga werewolf yang menculikku, lalu mitos mengenai fairies, elfs, witches, juga kristal itu—semuanya membuatku bingung." Rukia mengerutkan dahinya, menutup matanya pada dunia yang berusaha menilainya. "Aku bahkan tidak mengerti, di mana aku sekarang berada."
"Kau berada di tempat yang seharusnya, Rukia. Aku ingin mengungkapkan semuanya kepadamu, tapi aku tidak bisa."
"Kau menyembunyikan segalanya dariku, nii-sama," protes Rukia, sedikit amarah mulai tersulut. Kepalan tangannya sekeras bongkahan batu. "Jadi, kini aku tinggal di dunia mimpi? Mitos? Apakah aku juga … fairy?"
Suara pintu terbuka, memotong pembicaraan mereka yang mulai memanas. Rukia hampir meneriaki orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan, namun diurungkannya begitu melihat Kyouraku tersenyum padanya. Sang pemimpin werewolf yang sekarang berdiri menjulang layaknya patung hidup.
"Kuchiki Byakuya, bagaimana kabarmu?" tanya Kyouraku, tersenyum ramah dan sedikit menundukkan tubuhnya sebagai salam. "Ketua spring fairies dari Jepang."
"Dan Sang Alpha sendiri yang menemuiku, Kyouraku Shunshui."
"Itu sudah lama berlalu, aku bukan lagi seorang Alpha," ungkap Kyouraku, dengan tertawa keringnya seperti mengatakan takdirnya. "Hachigen segera menghubungiku, begitu kau terluka parah akibat serangan strigoi."
"Terima kasih sudah menjaga adikku, selama kondisiku belum pulih sepenuhnya," ucap Byakuya, lagi-lagi tanpa ekspresi berlebih. Tapi, kata-katanya terdengar serius, demi menjaga keselamatan sang adik, dia rela melakukan apapun untuk menebusnya.
"Itu sama sekali tidak masalah untukku. Lagipula, rumah ini terbuka bagi siapapun yang membutuhkan pertolongan, juga terkhusus bagi keluargamu. Anggap saja sebagai pembalasan hutang budi yang tidak akan pernah bisa kuganti untukmu, Byakuya."
"Hutang yang sudah lama berlalu dan kau masih mengingatnya. Itu adalah antara kau dan kakekku," balas Byakuya.
"Dan akupun tidak akan melupakannya, selama keturunan Kuchiki masih hidup. Mungkin, seluruh bangsa werewolf sudah lama mengakui nama Kuchiki sebagai fairies terkuat di Asia." Senyum Kyouraku sedikit memudar, sekilas garis lurus yang masih terkesan ramah. "Kekuatan untuk melindungi yang hampir terlupakan, simbol keluarga kalian sendiri—pohon sakura. Pelindung yang tidak bisa ditembus seorang strigoi sekalipun, bila bulan purnama musim semi mencapai puncaknya Dan kami hampir kehilangan dirimu, sebelum upacara itu berlangsung."
"Strigoi tidak akan bisa membunuhku," ucap Byakuya penuh percaya diri. Wajahnya terangkat cukup tinggi. "Hachigen sudah melakukan sebagian tugasnya, juga memperkuat garis pertahanan di setiap daerah Jepang—Utara, Timur, dan Barat. Dan Selatan akan menjadi tugas terakhirku untuk menyempurnakan proses upacaranya—hingga batas waktu hanami tiba."
Rukia mengerjap, berusaha mengikuti alur pembicaraan yang semakin membuatnya bingung. Rasanya seperti menonton film fantasi, semacam Game of Thrones ataupun Harry Potter. Di antara kekuatan magis dan mitos bercampur menjadi satu.
"Apa di setiap bagian tersebut harus ditandai dengan upacara—maksudku, kekuatan yang saling tersambung?" tanya Rukia.
Byakuya menatapnya gugup, dan lagi dengan ekspresi sekosong kertas putih. "Ya, dilambangkan sebagai empat arah mata angin ataupun seperti mitos kuno yang menyebutkan empat pengawal suci pelindung Kota Kyoto." Tangannya saling bertumpu satu sama lain, menandakan sikapnya yang setenang air sungai. "Empat pohon sakral yang jadi penentunya dan aku harus menjaganya setiap musim semi tiba."
"Konon dikatakan, bila sekat pelindung yang dibuat spring fairies gagal, maka kegelapan dan kekacauan akan meliputi setiap kota di Jepang," tambah Kyouraku, melipat kedua tangan di depan dada. "Yang dimaksudkan adalah strigoi, juga hollow."
"Hollow?"
"Makhluk kegelapan yang seringkali muncul di saat kekuatan pelindung memudar," jelas Kyouraku, tersenyum miris menatap Rukia yang kebingungan. "Berbeda bentuknya di setiap negara bagian, dan di Jepang sendiri yang sedikit lebih banyak daripada daerah lainnya. Mungkin faktor alam ataupun sejarah? Aku tidak mengerti begitu jelas, karena hollow seringkali muncul untuk menyerang fairies."
"Tidak dengan werewolf? Atau strigoi?" tanya Rukia, menambahkan.
"Mereka tertarik dengan kekuatan fairies yang misterius juga memiliki sihir terkuat." Kali ini Byakuya yang membuka suara. "Ditandai dengan tercabutnya sayap fairy yang juga perlambang sumber kehidupannya."
"Sayap…" Rukia bergumam, menggosokkan ibu jari dan telunjuknya di bawah dagu. "Tapi, aku tidak melihat sayapmu, nii-sama."
Kyouraku berusaha menahan tawanya, memalingkan wajahnya ke samping dengan sebelah tangan yang menutupi. Terlihat jelas keterkejutan di raut wajah Byakuya yang meretakkan pertahanannya. Dia tahu, cepat atau lambat adiknya akan bertanya mengenai hal itu, tapi tetap saja membuatnya sedikit terganggu.
"Aku tidak bisa membayangkan bila sayapmu terlihat, Byakuya," ungkap Kyouraku di sela suara menahan tawanya yang tercekat.
"Itu tidak berarti sayapku akan terlihat dengan jelas." Byakuya menjelaskan kepada Rukia, menghiraukan Sang Alpha yang masih kesulitan mengatur napasnya. "Sayap fairies sebening air kehidupan yang paling jernih, itu salah satu ungkapan yang bisa menggambarkan keadannya. Dan hanya bisa tercabut oleh kegelapan tergelap yang merayap di atas bumi juga terbang di atas udara."
"Hollow," bisik Rukia, seperti saling bertukar kata dalam membaca dongeng klasik.
"Seandainya kalian memiliki bubuk peri untuk membantuku terbang—"
"Kyoraku," potong Byakuya, dengan nada terendah yang digunakannya. Dia terlihat tidak suka saat werewolf tersebut menggunakan pengandaian yang lebih tertuju sebagai sebuah ejekan.
"Aku hanya bercanda," lanjut Kyouraku. "Dan aku datang kemari untuk memastikan satu hal. Kuharap kau bisa menjawabnya tanpa berbohong kepada kami."
Byakuya terdiam, mendapatkan tatapan menilai dari adik satu-satunya. Rukia merenungi, sekaligus mencari kesalahan terkecil yang bisa membongkar jati diri Byakuya sebagai manusia—sebagaimana yang pernah dikenalnya sebelum ini.
"Apa kau tahu mengenai Yuki no Crystal?"
Rukia melihat wajah kakaknya, bukan untuk pertama kalinya tanpa ekspresi seperti patung. Entah dia tidak ingin memberikan sedikit raut yang berbeda, atau memang tidak bisa.
"Kau ingin membicarakan hal ini denganku, walaupun aku tidak memiliki petunjuk apapun?" tanya Byakuya balik.
Kyouraku pun tidak bergeming, mendesah pelan hanya untuk sesaat. Dia terlihat sedikit lelah, di saat hari baru saja dimulai.
"Rukia, bisakah tinggalkan kami sebentar?" Kyouraku berjalan mendekati ranjang Byakuya, tersenyum pada gadis itu. "Ada yang perlu kupastikan—kau tahu, antara werewolf dan fairy."
Rukia hanya bisa mengangguk dan sekali melirik ke arah Byakuya. Dia memastikan bahwa kakaknya membutuhkan privasi darinya. Tidak semua rahasia sudah terbongkar.
Gadis itu melangkahkan kakinya ke pintu keluar, begitu Byakuya menganggukan kepalanya sekali. Rukia selalu melihat sekilas ketegasan di mata kakaknya, bahkan sebelum identitas aslinya terbongkar. Di dalam keseharian rumahnya, Byakuya bertindak sebagai kepala keluarga sekaligus kakak laki-lakinya.
Rukia menutup pintunya rapat-rapat, merasakan ketegangan masih terasa di ujung jari-jarinya. Dia menunduk, tidak menyadari seseorang memerhatikan punggungnya yang menunduk.
"Aku tidak mengira secepat ini kau keluar."
Suara itu mengejutkan Rukia, yang tanpa sengaja terlonjak di tempat dan melukai kepalanya ke daun pintu. Cukup keras untuk didengar.
"Kau…" Rukia menggerutu, mengelus kepalanya sambil melirik tajam ke arah Ichigo. Pria yang dengan santainya mendengus karena menahan tawa kerasnya. "Apa yang kau lakukan di sana?"
"Berdiri? Berjalan? Tidak sengaja melewati lorong? Kau terlalu peduli rupanya," ucap Ichigo, menyeringai lebar.
"Kau yang menyebabkan kepalaku membentur pintu tentu aku peduli," balas Rukia sinis.
"Jadi—fairy, huh? Aku tidak sabar untuk melihatmu terbang di langit-langit rumah."
"Sayap fairy tidak terlihat, bodoh! Lagipula, aku … belum tentu fairy, bukan?"
"Kakakmu seorang fairy dan tidak mungkin adik kandungnya tidak memiliki darah yang sama." Ichigo mengetukkan sol sepatunya ke atas lantai yang tak tertutupi karpet. Bunyinya seperti batu yang jatuh berulang kali, sekedar mengatur ritme ketegangan terasa mencekik leher Rukia.
Gadis itu menatap Ichigo seakan bertanya, juga meragukan dirinya sendiri. Menerima kenyataan yang memaksa masuk ke dalam identitasnya. Seperti benalu yang mengikat. "Tapi, aku tidak merasakan apapun yang mengatakan bahwa aku adalah keturunan fairy. Mungkin kekuatan di kedua tanganku atau pupil mataku yang berubah warna, mungkin juga kulit yang bersisik?"
Ichigo mendengus, membayangkan gambaran itu di kepalanya. "Kau fairy, bukan penjelmaan shapeshifter buaya di Amazon."
"Lalu apa yang seharusnya kurasakan bila aku memang benar-benar fairy?"
"Kenapa tidak kau tanyakan saja hal itu pada kakakmu?" tanya Ichigo. "Aku hanya bisa mendeskripsikan kulit seorang werewolf saat berubah, bulu tebal dan taring tajam."
Rukia terdiam, menyesali dirinya yang tidak bersikeras memojokkan kakaknya. "Aku … nii-sama tidak menjawab pertanyaanku, lebih tepatnya—Kyouraku-san sudah masuk dan mengganti topik. Kemudian, aku diusir keluar begitu saja."
"Semua tidak terasa adil," gumam Ichigo miris, menatap Rukia sedikit prihatin. Jati dirinya sebagai seorang manusia menjadi pertanyaan besar yang juga ikut mengusiknya. Seperti perumpaan orang Jepang yang lahir di laut perbatasan Amerika dan Eropa Barat.
"Aku hanya harus menunggu hingga sayapku muncul dan—mungkin aku akan menemukan jawabannya…" Rukia berbisik lemas, mulai berjalan menjauhi kamar kakaknya menuju ruang makan. Dia butuh segelas air dingin yang bisa membekukan otaknya, pelampiasan karena umurnya belum cukup untuk mengkonsumsi alkohol.
Satu derap langkah bertambah menjadi dua, membuat dahi gadis itu mengernyit. Dia bisa merasakannya, punggungnya menggigil karena seseorang berjalan di dalam batasan yang terlalu dekat. Tepat di belakangnya. Dia bisa menduga pria itu sedang memelototi punggung atau mungkin kepalanya.
"Mengapa kau mengikutiku?" tegas Rukia, berbalik dan mendapati Ichigo sedikit terkejut. Pria itu pun berhenti, seperti meniru gerakan gadis yang melangkah di depannya.
"Aku sedang menuju dapur," jawab Ichigo tanpa bergetar ataupun gugup. Terlalu percaya diri. "Dan aku tidak mengikutimu. Perutku terlalu berisik dan membutuhkan makanan."
"Tapi, kau baru saja makan sarapanmu." Rukia tidak bisa menahan gerutuannya, menggigit bibirnya untuk tidak meracau lebih jauh.
"Tapi aku lapar." Ichigo menegaskan kata-katanya, terlihat tidak menyembunyikan suatu kebohongan dari suaranya.
Rukia mengangkat tangannya menyerah, juga menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti werewolf dan masalah perutnya. Ichigo menghiraukan lagi, dengan santainya melangkahkan kaki jenjangnya, masih di belakang Rukia.
Dapur sesepi yang sudah diperkirakan. Tidak ada siapapun, selain bunyi lemari pendingin yang berdengung juga suara jam besar di sudut ruangan. Berdetak seperti jantung raksasa. Rukia mengisi gelasnya dengan es batu di lemari es teratas, tidak sengaja bertubrukan dengan Ichigo yang juga bermaksud membuka pintu lemari es untuk mencari seonggok daging yang siap dipanaskan. Mata mereka bertemu dan terlihat Rukia sama sekali tidak suka saat pria itu menatapnya jahil.
"Kau menghalangi jalanku," gerutu Rukia, tidak mau kalah untuk mengambil jatah es batunya.
"Aku tidak mengira bahwa kita memiliki pikiran yang sama," balas Ichigo, memaparkan gigi atasnya, terutama taringnya. Tidak menggertak, hanya menggoda yang berusaha mendorong gadis itu agar mundur. "Aku menginginkan daging gulung yang disediakan Hanatarou di sana." Telunjuknya menunjuk ke arah pintu tengah, dimana semua makanan siap saji disediakan.
"Kalau begitu, tunggu hingga aku selesai."
"Baiklah, princess." Ichigo mengangkat dua tangannya—menyerah. Dia mundur beberapa langkah ke belakang.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu!" gerutu Rukia, mendesis bersamaan dengan sebelah tangannya yang membuka lemari es. Baru disadarinya, bahwa tangannya tidak bisa menggapai penyimpanan es batu berada. Dia butuh sesuatu sebagai penopang tingginya yang di bawah rata-rata.
Tanpa pikir panjang, Ichigo maju dan mengambil gelas di genggaman Rukia. Tidak perlu bersusah payah berjinjit, tangannya mampu mengambil es batu sebanyak yang dia bisa. Satu hal yang dimiliki Ichigo dan faktor terpenting untuk membantu kehidupannya tanpa kesulitan berarti. Yang dirutuki Rukia dalam hati, mengapa tubuh pria itu begitu sempurna.
"Cukup?" tanya Ichigo, menyodorkan gelasnya sedikit lebih pendek, agar Rukia bisa melihatnya.
Gadis itu mengerucutkan bibirnya, dengan rona merah muda jelas terlihat di kedua pipinya. Ichigo tersenyum, menyadari Rukia berdiri canggung dan terdiam seperti anak kecil yang baru saja disodorkan permen. Terlalu manis untuk dilihat.
"Terima kasih," bisik Rukia, mengambil gelasnya tanpa melihat wajah Ichigo lebih jauh. Dia tahu, bila itu dilakukan akan segera menghentikan jantungnya.
"Dan sekarang aku mau dagingku." Ichigo berdeham. "Bolehkah?"
Rukia menyadari bahwa dia masih berdiri di depan lemari es, menghalangi jalan Ichigo. Kikuk, akhirnya dia melangkah mundur dan tergesa mengambil air di kran cuci piring. Penyaringan airnya sejernih air gunung mengalir.
Mereka terdiam tanpa suara, selain retakan es yang dialiri air juga microwave yang berdengung untuk menghangatkan daging siap saji yang berputar di dalamnya. Tanpa ada topik yang bisa disinggung, Rukia menatap keluar jendela sambil menyeruput air dinginnya. Ichigo tidak melepaskan pandangannya dari microwave, mengikuti alur yang berputar searah jarum jam. Sesekali mencuri pandang ke arah punggung gadis mungil itu, yang didapatinya tidak bergerak memunggunginya.
Suara dentingan bel terdengar menggema hingga ke dalam dapur, juga ketukan ringan di pintu utama yang hanya bisa didengar oleh Ichigo. Telinga tajamnya menangkap gerakan dan suara sekecil apapun—terlalu peka dan sensitif. Ichigo melangkah ke ruang tengah kemudian, membiarkan Rukia seorang diri yang masih meminum air dinginnya dan tenggelam dalam emosinya. Dia tidak menyadari bahwa werewolf muda itu menghilang tanpa bersuara.
Suara berat dari seseorang di ruang tengah membuat Rukia terlonjak. Bukan makian, hanya nada yang sedikit meninggi juga geraman. Dia mengerjap, menyadari Ichigo tidak ada di belakangnya, terlambat karena kelincahan si werewolf muda. Rukia tergesa berjalan menuju sumber suara berasal, yang dia yakini Ichigo akan memulai sebuah pertengkaran baru. Mungkin saja.
Matanya terbelalak lebar, menyadari suara rendah itu bukan milik Ichigo. Hal pertama yang dilihatnya adalah warna merah terang. Dia menatapnya lama, seperti memandangi cabai matang di perkebunan petani. Lalu tato di wajahnya seliar lekukan graffiti hitam, dan wajah lonjong berkesan terlalu tegas. Dia mengenal orang itu.
"Officer!" panggil Rukia, menggenggam gelasnya lebih erat, tidak memilih untuk menjatuhkannya ke atas karpet mahal. "Kau—Officer Renji!"
"Rukia?" Tidak kalah panik, bahkan lebih terkejut dari yang disadari Rukia. Renji menganga terlalu lebar. "Apa yang kau lakukan di tempat ini?!"
"Kalian saling mengenal," tebak Ichigo, yang berdiri tepat di hadapan Renji dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Sikap congkaknya muncul terlalu cepat, berperan sebagai sifat defensifnya juga satu hal lain yang menjadi perlambang ketidaksukaan. Ichigo membenci cara Renji menatap Rukia, begitu pula sebaliknya.
"Dia—kau…" Rukia kehilangan kata-katanya, sementara Renji kebingungan antara memilih tersenyum lebar ataukah memasang kengerian di wajah sangarnya.
"Kau mengenalnya?" Kali ini suara wanita, yang muncul di belakang Renji dengan memakai seragam kepolisan yang sama. Hanya saja lebih rapi dengan tanda pengenal yang dikalungkan di lehernya. Rambut hitamnya pendek sebahu, memiliki mata setajam penglihatannya. Dia jeli, terlihat lebih pintar daripada Renji.
"Dia gadis yang kuceritakan padamu, Tatsuki," jelas Renji pada rekan wanitanya, sambil menunjuk Rukia dengan telunjuk. "Yang bekerja di toko musik Tokyo—tempat aku membeli Bob Marley terbaruku. Dan apa yang kau lakukan di Toyama?" Kali ini wajahnya menatap Rukia, berikut pertanyaan yang ditujukan kepadanya.
"Dan apa urusanmu dengan Rukia?" Kali ini Ichigo yang angkat bicara, sedikit mendelik pada sosok Renji yang lebih tinggi darinya. Tapi tidak membuatnya mundur ataupun terintimidasi. "Kau ingin bertemu dengan Kyouraku-san, bukan?"
"Aku mengenalnya baik—lagipula siapa kau, hah? Berandal sepertimu, apa yang kaulakukan di tempat ini?" Renji membalas Ichigo, dengan emosi yang sedikit tersulut. Salah satu kelemahan yang dimilikinya sebagai petugas kepolisian.
Rukia sedikit panik, apalagi saat melihat sikap tubuh Ichigo yang sedikit menunduk. Dia mendengar samar-samar saat pria itu menggeram dan warna matanya berubah lebih terang. Satu hal yang ditakutinya, bila Ichigo tidak terkendali dan melepaskan wujudnya di hadapan Renji juga rekan wanitanya—Tatsuki. Mereka manusia dan rahasia werewolf bisa terbongkar.
"Woah—tunggu dulu," ucap seseorang yang mulai muncul dari lorong satunya. Itu Kyouraku Shunshui, berjalan santai tanpa tergesa. Sorot matanya hanya tertuju pada Ichigo seorang. "Ichigo—mundurlah."
Dan hanya satu kata itu, Ichigo mundur seketika. Dia berjalan ke belakang terlalu angkuh, tanpa melepaskan pandangan membunuhnya pada sosok Renji.
"Officer," lanjut Kyouraku, menggantikan posisi Ichigo di depan. Dia tersenyum ramah kepada Renji juga Tatsuki. Terlalu baik. "Kalian sudah datang. Bagaimana laporannya?"
Renji terlihat ragu, sekali lagi menatap Rukia yang masih terpaku di tempatnya. Gadis itu berulang kali memastikan keadaan, antara Ichigo juga Renji.
"Rukia tahu semuanya," jawab Kyoraku, menjawab pertanyaan yang bergulir di kepala si nanas merah. "Kau tidak perlu khawatir, dia salah satu dari kami."
"Rukia juga werewolf?!" Renji tidak menahan teriakannya, bahkan mulutnya menganga lebih lebar.
"Aku bukan—"
"Dia bukan," potong Kyouraku, mempertegas situasi yang bisa berubah menjadi kesalahpahaman. "Dia mengetahui rahasianya, tapi bukan berarti menjadikannya seorang werewolf. Rukia masih bersih."
Rukia menaikkan sebelah alisnya, menduga-duga apa arti dari kata bersih tersebut. Apakah maksdunya dia masih manusia?
"Be … begitu?" tanya Renji memastikan, mengambil napas dengan desahan dalam. "Aku mengenal baik dirinya, jadi kupikir … tidak mungkin dia bisa berubah menjadi makhluk buas itu, bukan?"
"Jaga kata-katamu," tegas Ichigo, kembali menggertak.
"Hei—itu hanya perumpamaan! Tenanglah!"
"Ichigo," panggil Kyouraku, kembali menegaskan. Rukia bergidik saat melihat kilatan terlintas di mata mantan Alpha tersebut. Dan hal itu membuat Ichigo terdiam di tempat, menutup mulutnya. "—dan officer, ada hal yang bisa dilaporkan?"
"Ya." Kali ini Tatsuki yang angkat bicara, maju selangkah ke depan untuk menghadap Kyouraku. "Kami menemukan lagi, strigoi di luar area perbatasan Tokyo. Kupikir kau ingin tahu akan hal itu. Dan masalah serigala yang muncul di tengah kota Tokyo tempo hari sudah diklarifikasikan. Semuanya aman."
"Begitu?" Kyouraku mendesah, menganggukkan kepalanya menyetujui. "Terima kasih untuk bantuanmu, officer."
"Tidak masalah," balas Tatsuki, tersenyum simpul saat mendapati pria di depannya terlalu ramah untuk dihadapi. "Dan kami datang kemari untuk bertanya satu hal—mengenai werewolf yang muncul itu, kau tahu siapa dia?"
"Rukia melihatnya juga," tambah Renji, menatap Rukia tanpa kecurigaan. "Bukan begitu?"
Rukia menahan napasnya, entah harus menjawab atau tidak. Renji bukanlah petugas polisi normal yang bekerja mengatur lalu lintas ataupun menangkap perampok toko serba ada yang berjalan dua puluh empat jam—yang pernah diyakininya sebelum ini. Dia mengetahui identitas werewolf dan strigoi, begitu pula dengan rekan kerjanya. Dan mereka melindungi keberadaan kelompok mitos tersebut agar aman di balik bayang-bayang. Juga—mengamati, mungkin membasmi strigoi di luar sana.
"Gadis itu?" tanya Tatsuki, seakan baru mendapatkan berita terbaru yang luput dari pengawasannya.
"Insiden pemerkosaan seorang wanita di lorong beberapa hari yang lalu—yang ternyata adalah ulah seorang strigoi," jelas Renji. "Rukia ada di sana, dan aku yakin dia tidak terlibat masalah tersebut. Aku tidak tahu bahwa dia adalah salah satu dari kalian."
"Ini sedikit kompleks," ucap Kyouraku. "Kita bisa membicarakannya di ruanganku. Bisakah?" Kyouraku mulai berjalan tanpa menengok, menuju lantai dua.
Tatsuki mengikuti secara sukarela, meninggalkan rekannya yang masih terpaku di depan pintu. Renji masih memandang Rukia, antara keraguan dan terpana yang berlebihan. Kepercayaan atau pengkhianatan ringan.
"Jadi kau, Kuchiki." Renji tertawa tanpa emosi, menyunggingkan sudut mulutnya ke atas. "Aku tidak percaya kita bertemu lagi—dan di tempat ini? Kau membuatku terkejut."
"Aku pun demikian, officer," balas Rukia, tidak menemukan kegugupan dalam suaranya. Rasanya seperti bertemu teman lama di tengah-tengah komunitas aneh yang berusaha meremukkannya. "Aku tidak mengerti situasi ini, sampai dua hari yang lalu. Namun sekarang aku bisa memahaminya."
"Rumit," desah Renji, berjalan ke arah Rukia yang berdiri di samping tangga menuju lantai dua. "Kuharap kau bisa menerimanya."
"Ahh," gumam Rukia, tersenyum kikuk seraya memerhatikan sosok Renji yang berjalan lambat menaiki anak tangga. Gadis itu hanya terdiam hampir setengah menit, ketika menyadari Ichigo masih berdiri di sana. Seperti patung terdiam yang hanya bisa melihat dan menilai. Begitu yang dirasakan Rukia saat tatapan tajam itu tertuju padanya.
"Officer," ucap Ichigo, mengucapkannya seakan memastikan. Mulutnya masih mengandung bisa yang bernada rendah, tidak mematikan seperti sebelumnya.
Rukia mengerjap, melawan kegugupannya yang mulai naik ke tenggorokannya. "Dia beberapa kali mengunjungi tempatku bekerja paruh waktu. Aku mengenal baik dirinya dan dia selalu membelaku di saat aku membutuhkannya."
"Satu fakta bahwa dia bekerja sebagai pelindung. Dia rela mengeluarkan kebohongan demi melindungi makhluk mitos, juga memutarbalikkan fakta bila hal tersebut akan diketahui media ataupun tercium oleh masyarakat luas."
"Dan dia melindungimu," jelas Rukia. "Mengapa kau membencinya?"
"Aku tidak membencinya." Ichigo mengerutkan alisnya tidak suka, kembali memasang tameng arogannya.
"Tapi kau menggertaknya!"
"Dia mengejekku," balas Ichigo. "Aku tidak suka dengannya."
"Tapi, tetap saja dia menutupi dirimu. Malam itu."
"Aku tidak perlu berhutang budi padanya, itu sudah menjadi tugas utamanya."
"Ichigo!" Rukia memanggil, menggertak, tapi tetap saja tidak berpengaruh pada sosok Ichigo yang sudah berjalan pergi. Bahkan, bahunya berdiri tegap, tanpa ada rasa bersalah ataupun prihatin. Werewolf yang keras kepala.
.
.
…..~***~…..
.
.
Rukia memandangi jendela kamarnya, saat bulan mulai meninggi di atas langit malam. Dahinya menempel pada dinding kaca, berharap pada bintang bahwa pertanyaannya bisa terjawab. Selain, kakaknya yang juga menolak untuk membahas masalah fairy juga mengenai panduan awal bagaimana tubuhmu berubah menjadi sosok peri sejati, Byakuya lebih memilih untuk tutup mulut. Dia tidak menyangkal bahwa adiknya adalah fairy, juga tidak mengatakan darah manusia normal mengalir di pembuluh darah Rukia. Hanya satu kata yang terngiang-ngiang di benak Rukia—salah satu dari kami. Sekarang satu pertanyaan lagi melintas dalam benaknya, darah apa yang mengalir di dalam tubuhnya? Apakah Kuchiki masih menjadi nama keluarganya?
Sebelum bertanya lebih jauh, lagi-lagi Hachi mengusirnya untuk keluar dari kamar kakaknya. Tepat pukul enam sore, dan Byakuya tidak berkomentar apapun untuk menahannya lebih lama. Rukia menyadari bahwa pria besar itu melakukan tugasnya terlalu ketat juga kaku. Jam malam selalu diberlakukannya, berperan sebagai penyekat kehidupan pribadi Rukia. Mau tidak mau, gadis itu hanya pasrah dalam membuka tangannya lebar-lebar—menerima dengan terpaksa.
Rukia memutuskan untuk keluar kamar, mencari udara segar. Mungkin teh akan menyegarkan pikirannya, ataupun melihat barisan kalimat asing di perpustakaan yang bisa menghipnotisnya untuk tertidur. Dia selalu lemah terhadap barisan kata yang membingungkan, apalagi di dalam kondisi kalut yang membayangi otak berkapasitas terbatasnya. Melakukan hal yang dibencinya untuk membuat tubuhnya otomatis terlelap.
Dan koridor di malam hari selalu membuatnya gelisah. Di mana tidak ada orang yang berlalu lalang, ataupun sekedar mendengar gumaman seseorang dari balik dapur ataupun lantai dua. Semuanya hening dan tak bersuara. Seperti mansion berhantu, pikir Rukia dalam hati.
"Rukia?"
Seseorang memanggilnya, tepat di samping tangga kayu kokoh. Sosok Kyouraku yang turun tergesa dan melambat saat mencapai tempat gadis itu berdiri.
"Kyouraku-san."
"Kau melihat Ichigo?"
Rukia memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, sekedar memastikan pria itu tidak mengikutinya diam-diam. "Kupikir tidak."
Kyouraku mendesah, tertawa kering saat menyadari tubuhnya tidak segesit saat muda. Mencari seorang werewolf yang menghilang ternyata tidak semudah yang dikira. "Dia selalu menghilang di saat aku membutuhkannya."
"Mungkin kalian bisa melakukan sejenis telepati? Atau semacam itu?" saran Rukia.
"Aku bukan Alpha-nya, jadi aku tidak memiliki kuasa untuk memasuki pikirannya," ungkap Kyouraku. "Dia terlalu sulit untuk dikendalikan, terlalu berjiwa bebas dan tak bisa dikekang. Werewolf yang berbahaya dan bisa menjadi ancaman di dalam kelompoknya."
"Dia memang selalu menyebalkan, juga keras kepala."
"Kau pernah mengatakannya secara langsung?" Kyouraku terlihat terkejut, terkekeh melihat gadis yang berpendirian kuat di hadapannya. Dia tidak takut terhadap werewolf, apalagi pada sosok Ichigo yang seliar serigala perantau di alam liar.
"Mungkin yang dia maksud adalah sebuah pujian." Ichigo muncul kemudian, dari pintu utama yang terbuka tanpa suara. Rukia selalu memuji bagaimana pria itu melangkah dan melakukan segalanya, tanpa gesekan berarti. "Bukan begitu, Rukia?"
"Bila kau memotong rambutmu hingga botak, mungkin aku akan mempertimbangkannya," sinis Rukia, sedikit terbiasa dengan kedatangan Ichigo layaknya keluar dari kabut tebal.
"Dalam mimpi terburukmu, Rukia," ungkap Ichigo, memelototinya.
"Aku memanggilmu kemari bukan untuk berdebat dengan Rukia-chan, Ichigo," tegur Kyouraku, menengahi pertengkaran yang bisa saja berakhir ricuh. "Kau datang dari Amerika seorang diri dan menanggung tugas cukup berat sudah membuktikan dirimu menjadi kepercayaan Isshin."
"Orang tua itu hanya menugaskanku memberikan surat kepada kepala bangsa fairy, dan kupikir itu hal yang mudah," ucap Ichigo. "Juga membosankan, bila perlu kutambahkan. Aku lebih suka menghadapi sekelompok strigoi di luar sana, daripada mendapatkan tugas seperti ini terus menerus."
"Karena itulah aku akan memberikan tugas baru untukmu."
Mata Ichigo sedikit terbelalak, tidak menutup diri pada sebuah harapan. "Apa itu?"
Kyouraku tersenyum lebar, melirik ke arah Ichigo dan Rukia berulang kali. "Kau—menjaga Kuchiki Rukia juga Kuchiki Byakuya selama mereka berada di tempat ini—dan selama ayahmu belum memanggilmu kembali pulang ke Amerika. Itu tidak terlalu sulit, bukan?"
Ichigo terkejut bukan main, bahkan hampir tersedak napasnya sendiri. "Jangan katakan bahwa alasannya adalah aku satu-satunya werewolf yang mengganggur di Jepang! Ini tidak adil, Kyouraku-san!"
"Apanya yang tidak adil?"
"Aku bertugas sebagai pengantar pesan—hanya itu! Dan setelah tugasku selesai, aku akan segera kembali pulang." Ichigo bersikukuh.
"Tapi, Alpha-mu belum memerintahkanmu kembali. Isshin mengatakan padaku tempo hari, bahwa aku bisa memercayakan beberapa hal kepadamu."
"Tidak!"
Rukia sedikit antusias, bercampur kedutan di sudut bibirnya bahwa dirinya sependapat dengan Ichigo. Pria itu sudah seperti sumber bencana bila terus berada di dekatnya. Layaknya angin topan berjalan, yang bisa menyedot habis setiap orang yang berlalu di sekitarnya.
"Aku tidak butuh penjaga," ucap Rukia, membuka suaranya untuk diri sendiri. Kedua orang di depannya terdiam, memerhatikannya dalam tatapan setuju dan satu lagi ketidakpercayaan seperti habis mendengar kabar buruk.
"Tidak, Rukia-chan. Kau butuh penjaga, selama kakakmu belum pulih ke kondisinya semula. Bahkan, setelah Byakuya pulih pun, kau masih tidak aman karena strigoi yang berkeliaran di luar sana." Kyouraku memasang wajah sedihnya, membuat Rukia mengerutkan dahinya tidak suka. "Kau sudah menjadi salah satu bagian dari kami, dan Ichigo akan melindungimu sebagai gantinya."
"Hei—jangan mengucapkan sesuatu seenaknya atas nama diriku!" protes Ichigo.
"Isshin mengirimkan beberapa anggota kelompoknya dan kemungkinan akan tiba besok pagi."
"Siapa—" Ichigo baru menyadari pembicaraan ini berubah terlalu drastis. "—Apa?!"
"Kau akan bertemu mereka besok, Ichigo," jawab Kyouraku, setenang air mengalir. "Isshin tidak memberitahumu mengenai hal ini?"
"Perlu kuingatkan bahwa kau yang mulai memberitahuku beberapa detik yang lalu. Aku tidak tahu menahu mengenai masalah ini, selain kalian para Alpha!"
"Baiklah, sudah diputuskan." Kyouraku mengangguk senang, menghiraukan Ichigo yang masih meracau tak jelas karena emosinya. "Selamat malam, Rukia-chan."
"Malam…" Rukia hanya bisa terpaku memandang punggung Kyouraku yang berlalu pergi. Ichigo di sampingnya, menggerutu dengan suara teredam. Pria itu masih belum bangun dari rasa kaget yang tidak memihak dirinya.
Rukia merasa tidak nyaman, di saat Ichigo masih berdiri tidak jauh darinya. Dan saat emosinya masih di batas labil.
Gadis itu berdeham, berusaha sehalus mungkin untuk menegur Ichigo, tanpa perlu memandangnya. "Aku … akan kembali ke kamarku."
Ichigo menaikkan sebelah alisnya, pertanda tidak percaya. "Jadi, kaupun setuju dengan Kyouraku-san."
"Apa?"
"Kau sudah terbiasa menganggapku sebagai penjagamu," jelas Ichigo, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Sikap tubuhnya berubah menjadi lebih rileks.
"Aku tidak … aku…" Rukia tergagap, menebak dalam hati apakah pria di hadapannya serius atau tidak.
"I'm watching you," ucap Ichigo saat dia berjalan dan berhenti di samping Rukia. Hanya sekilas memandangnya, tapi memberikan getaran dingin di sekujur permukaan kulitnya. Rukia tidak bisa bernapas beberapa detik, ketika kata-kata Ichigo berdengung di kepalanya.
Pria itu serius, itu yang diyakininya.
.
.
…..~***~…..
.
.
Pagi hari bukanlah hari yang secerah mentari tersenyum pada bumi. Tidak bagi Rukia. Dia merasa lega saat mengetahui kakaknya sudah bisa bangun dari ranjangnya, di saat bersamaan kembali menghilang di salah satu ruangan di kediaman tersebut. Rukia bertemu dengan Hachi—si pria besar—dan mengatakan bahwa Byakuya masih butuh waktu untuk memulihkan kekuatannya. Ketua spring fairies tersebut sedang melakukan semacam ritual, atau semedi yang dipikir Rukia dalam benaknya. Hachi mengatakannya memanggil angin musim semi dan mengirimkan pesan kepada setiap fairies yang tersebar di beberapa wilayah Jepang, juga memantau setiap perkembangan bunga sakura yang siap mekar pada waktunya. Memastikan strigoi tidak mengganggu, hingga upacara berlangsung. Rukia masih tidak memercayai bagaimana kepalanya memproses cepat semua informasi tersebut dan memercayainya semudah menarik napas. Sungguh tidak masuk akal.
Dan ditambah Ichigo yang lebih sering terlihat, selain di ruang makan. Matanya terus mengawasi Rukia, di saat dia bergerak ataupun mengisi gelasnya dengan susu tanpa lemak segar yang diambilnya dari lemari pendingin. Tidak bisa menyangkal bahwa gadis itu sungguh merasa tidak nyaman. Seperti penguntit yang mengawasinya dua puluh empat jam—kurang lebih—hanya saja dalam kasus ini adalah seorang werewolf. Menggoda saat dia sedang bertopang dagu dan kepalanya miring ke satu arah, garis rahangnya terlihat lebih tegas dan menunjukkan sosok maskulinnya. Tampan. Ralat, congkak.
"I … Ichigo-san," panggil Hanatarou, memecah lamunan Ichigo—tugas penjaganya. Pengurus rumah itu terlihat gugup, bahkan saat Ichigo tidak menunjukkan kerutan berlebih di dahinya, tidak hari ini.
"Hm?"
"Itu … ada tamu yang mencarimu di luar—"
"Ichigo-san!" Kali ini seorang pengurus rumah yang lebih bersemangat. Rukia pernah melihatnya sedang membersihkan sudut lorong dan menemukan dirinya lebih ramah dari yang diperkirakan. Gadis kecil yang terlalu enerjik, seringkali terlihat mondar-mandir di depan pintu ruangan Ukitake. "Mereka datang! Dan … akutidakmengertiapayangmerekakatakan!"
"Tenanglah, Kiyone," ucap Ichigo, memanggil si gadis kecil berambut pixie pirang, terlihat tidak tenang karena melompat-lompat tidak karuan. "Bicaramu terlalu cepat dan aku tidak mengerti maksudmu."
Rukia melihat Kiyone seperti peri kecil yang terlalu gugup. Nyatanya gadis kecil itu bukanlah salah satu dari kelompok mitos. Dia manusia biasa, sama seperti Hanatarou.
"Mereka … datang … di pintu depan," eja Kiyone, menunjuk-nunjuk lorong yang mengarah ke ruang tengah. "Akutidakmengertiyangmerekakatakan—"
"Apa yang dia katakan?" tanya Ichigo, menunjukkan pertanyaan tersebut lebih kepada Rukia di hadapannya.
Rukia hanya bisa mengerutkan dahinya sembari berpikir keras. Mulutnya sedikit terbuka untuk menjelaskan maksud Kiyone, ketika tiga orang pria besar muncul tanpa terduga.
"Ichigo!" Satu pria berseru keras. Tubuhnya tinggi dan terlalu kekar untuk ukuran orang Asia. Rambutnya putih mencuat, lebih ke warna silver. "Apa yang Alpha pikirkan sehingga mengirimkan kami kemari?" Dia terlihat tidak senang. "Menaiki pesawat adalah pengalaman terburuk yang pernah kurasakan!"
"Kensei," panggil Ichigo, sedikit terbelalak. "Chad, Shuuhei. Seharusnya aku bisa menduga kalian yang dikirim."
Chad—pria paling besar dan berambut ikal coklat tua. Kulitnya seperti habis terbakar matahari terlalu lama dan matanya tertutup oleh bayang-bayang rambutnya. Dan Shuuhei di belakangnya, Rukia menilainya lebih seperti anak berandal. Tato angka 69 terukir di kulit pipinya, tepat di bawah mata kirinya. Ketiga pria yang sama sekali tidak terlihat sama, atau mungkin seikatan dalam sebuah kelompok werewolf yang selaras. Berbagai ras bisa bersatu dalam kesatuan tanpa membedakan jenisnya.
"Chad menakuti gadis itu," tunjuk Shuuhei, pada sosok Kiyone yang gemetaran menahan takut. "Dia mengatakan sesuatu dalam Bahasa Spanyol, bahkan aku sendiri tidak mengerti artinya."
"Buenos días señorita, artinya selamat pagi nona." Chad menjelaskan sesingkat mungkin, tanpa ada rasa intimidasi yang menakuti.
"Dan siapa gadis di hadapanmu? Rupanya kau sudah menemukan pasanganmu saat mengantarkan tugas dari Alpha?" Kensei menggodanya, berjalan lebih dekat untuk melihat wajah Rukia lebih jelas. "Jadi seperti ini tipemu?"
"Shut up, Kensei!" Ichigo mendesis, terusik. "Dia bukan pasanganku. Rukia adalah adik dari pemimpin spring fairies."
Ketiga pria itu terdiam, mulai menilai Rukia dari atas rambut hingga ujung kaki. Kecuali Chad, dia tidak bergerak sama sekali seperti patung.
"Ahh—jadi kau fairies?" Kensei berkomentar, membuat Rukia gugup saat pria itu mendekat kepadanya.
"Tapi dia tidak terlihat seperti fairies," tambah Shuuhei, menaruh tas yang tersampir di bahunya ke atas lantai.
"Aku bukan…"
"Kalian harus menjaganya, mulai hari ini," potong Ichigo, tidak membiarkan Rukia membuka suaranya lebih dulu. "Juga Kuchiki Byakuya, dari serangan para strigoi. Ini tugas baru yang diperintahkan Kyouraku-san—atau mungkin dari orang tua itu."
"Lalu, mengapa kau yang memerintah?" Shuuhei angkat bicara, mengerutkan alisnya hampir setajam Ichigo.
Ichigo berdeham, melipat tangannya di depan dada. Rukia bisa melihat bagaimana otot lengannya terbentuk, karena kaos lengan pendek yang sengaja memaparkan keindahan lekukannya. Mustahil dalam waktu singkat dia bisa mendapatkan tubuh yang hampir sempurna, walaupun masih ramping apabila dibandingkan dengan Kensei. "Karena aku wakil Sang Alpha."
"Tentu, calon penerus," kata Kensei, mengangguk setuju. "Whenever you ask, boss!"
"Jadi … mereka juga akan mengawasiku?" bisik Rukia perlahan, duduk tidak nyaman saat dikelilingi sekelompok werewolf muda yang terlihat liar.
Rukia melupakan bahwa telinga werewolf tajam dan penuh siaga. Mereka bertiga mendengarnya, terlalu jelas.
"Perintah adalah perintah. Dan mulai saat ini kami akan mengawasi kemanapun kau melangkah." Ichigo menjelaskan. Seringainya tersungging ke satu arah. "Rukia, ini Kensei, Chad, dan Shuuhei. Dan kalian, ini Kuchiki Rukia. Kupikir cukup perkenalan dirinya."
"Rukia, pleasure to meet you," ucap Kensei, yang lebih sering berkomentar dan terlihat ramah tanpa memandang tubuh besarnya. Senyumnya berkedut sedikit kaku, tapi matanya terlihat lembut daripada cara Ichigo memandangnya.
Rukia tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya, mengerucutkan bibirnya tidak suka. Terlalu berlebihan untuk menjaga dua orang oleh sekawanan werewolf yang memiliki pendengaran dan penciuman tajam. "Haruskah kalian menjagaku?"
"Wow, gadis kuat." Kensei menyukai cara Rukia menggertak. "Kau menemukan pasangan yang sejalan denganmu, Ichigo."
"Sudah kukatakan dia bukan pasanganku," gerutu Ichigo, memasukkan kue pie bulat-bulat ke dalam mulutnya. "Dan apa maksudnya sejalan?"
Rukia mendesah keras-keras, walaupun sepertinya tidak terdengar sama sekali oleh sekelompok serigala jadi-jadian. Mereka seperti menutup mata pada sekitarnya, ketika Hanatarou sibuk memasak porsi tambahan yang tidak sedikit, juga Kiyone yang membantunya dengan kedua tangan bergetar gugup. Werewolves memiliki jalan pikirnya sendiri, berbeda dengan jalur manusia mengambil jalannya. Manusia? Apakah Rukia masih bisa menyebut dirinya sebagai manusia?
Piringnya masih menyisakan setengah bagian roti panggang, tapi perutnya berkata lain untuk menerimanya. Rukia lebih memilih keluar ruangan—separuh mengendap. Tidak ada yang menyadari, termasuk Ichigo yang sibuk berdebat dengan anggota kelompoknya yang berangasan. Seandainya Renji bergabung, mungkin masalah akan menjadi lebih pelik, pikir Rukia.
Koridor menjadi lebih tenang di bagian sayap kanan juga bagian tengah menuju lantai dua. Tidak ada orang yang sekedar melintas, bahkan lalat sekalipun. Melihat dia mendapatkan kesempatan seorang diri untuk mengisi waktu luangnya, Rukia berlari menuju kamarnya dan mendapatkan beberapa tas tergeletak di atas ranjang. Salah satunya adalah tas selempang, yang selalu digunakannya sehari-hari.
Hachi pernah menyinggung bahwa Byakuya akan mengirimnya ke rumah Kuchiki, untuk mengambil beberapa barang milik Rukia juga kakaknya—bila gadis itu memiliki hal pribadi mengenai barang kesayangannya yang ingin diambilkan oleh sekutu kakaknya. Beberapa anggota fairies menjaga area tersebut dan rumahnya bisa dibilang aman dari ancaman pencuri ataupun strigoi yang kembali masuk. Dan Rukia tidak menyangka bahwa membutuhkan waktu tidak lama hingga barang-barangnya sampai di tempat ini. Beberapa potong baju dan kebutuhan pribadi seperti gosok gigi hingga sabun mandi, tas selempangnya berisi dompet dan ponsel miliknya, juga buku kecil yang digunakan setiap bertugas berbelanja membeli kebutuhan dapur. Rukia tersenyum puas, melihat pekerjaan fairies hampir seperti penjaga dan pesuruh pribadi. Itu berlaku untuknya, selama kakaknya yang menjabat sebagai ketua. Entah untuk waktu berapa lama lagi.
Dan sekarang dia butuh udara segar, dan sabun mandi yang hampir habis. Mungkin itu bisa dijadikan alasan—kebohongan—mengapa dirinya keluar tanpa pamit. Atau pesan kecilnya yang terekat oleh selotip di depan pintu kamarnya. 'Pergi lima belas menit ke minimarket. Tidak akan lama—Rukia.'
Tanpa pikir panjang kakinya berlari menusuri jalanan berbatu di halaman depan dengan tas tersampir di bahunya. Dia lupa bagaiamana rasanya angin menerpa pipi juga menerbangkan rambutnya ke udara. Menemukan matahari yang mengintip di balik awan abu-abu, pertanda sebentar lagi hujan akan turun. Dan Rukia tidak ingin ditemukan Ichigo dalam keadaan basah kuyup. Kecuali dia siap untuk dimakan bulat-bulat oleh wujud werewolf si pria sangar.
Minimarket terletak tidak jauh dari jalan besar, setelah berlarian kurang lebih lima menit dari jalan kecil yang berliku-liku. Di tempat antah berantah yang sebagiannya adalah pohon pinus dan permadani karpet hijau luas, terdapat sebuah minimarket dua puluh empat jam yang menyala terang. Lampunya tidak berkedip rusak ataupun temboknya yang berlumut dan berjamur. Tempat itu lebih terlihat seperti baru dibangun. Mungkin sebagai tempat pemberhentian menuju kota berikutnya di daerah terpencil Toyama, pikir Rukia.
Bunyi bel bergemerincing saat pintunya terbuka, juga pendingin ruangan yang menyambut kulit gadis itu yang basah-lembab karena keringat. Seorang petugas kasir terlihat sedang tertidur, menopang dagunya dengan sebelah tangan tanpa peduli siapa yang memasuki tokonya. Pekerja paruh waktu—terlalu muda untuk menyadari jika perampok yang membobol mesin kasnya secara diam-diam.
Rukia mengambil beberapa keperluannya tanpa memedulikan waktu yang bergulir. Sabun mandi—diralat dijadikan alasan kebohongan untuk kepergiannya karena dia menemukan wangi manis bunga ume di salah satu rak—lalu shampoo, beberapa cemilan ringan, minuman dingin, juga es krim. Dia membutuhkan sesuatu yang segar, walaupun rintik hujan mengatakan bahwa cuaca dingin masih akan berlanjut hingga sore tiba. Salahkan Ichigo yang selalu memakan seember es krim setiap pagi di hadapannya, apa daya Rukia tidak bisa mencobanya karena embun pagi masih membuatnya menggigil.
Kedua tangannya menangkup barang bawaannya yang menumpuk terlalu banyak, kemudian menjatuhkannya di atas meja kasir. Rukia mendengus saat menyadari si penjaga kasir masih tertidur dan tidak bergerak. Secepat itu tenguknya terasa dingin, mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah di sana.
"Permisi…" ucap Rukia gugup, mengganti posisinya untuk melihat si wajah petugas lebih jelas. Pria muda yang terlalu kurus juga pucat, matanya tertutup rapat dengan mulut yang setengah terbuka lebar. Dia melihatnya, darah menetes di lehernya yang tertutup oleh tangan. Ke atas lantai putih meninggalkan noda seperti terinjak oleh seseorang.
Rukia menutup mulutnya yang hampir berteriak, mundur terlalu cepat hingga menubruk rak makanan ringan di belakang punggungnya. Hanya satu kata yang terbayang dalam benaknya, merutuki makhluk tersebut karena menyerang manusia di saat matahari bersinar di atas langit. Walaupun sekarang semuanya terbantahkan dengan deru hujan turun yang membasahi tanah. Bunyinya meredam speaker pemutar lagu yang berdengung di dalam minimarket.
Pintu depan terbuka dan tertutup terlalu cepat. Dentingan belnya terdengar dalam sekali hentakan, memberikan rasa takut yang mulai tumbuh menjadi getaran mengganggu di tenggorokan Rukia. Seorang pria yang memakai jaket serta topi baseball menutupi wajahnya, menyeringai pada Rukia tanpa ada rasa canggung. Lalu, satu orang lagi yang keluar dari pintu belakang. Seorang wanita pendek yang lebih tinggi satu kepala dari Rukia. Rambut pirangnya tergerai bebas hingga pinggangnya, bergelung seperti tanaman sulur yang menjuntai halus. Wanita itu terlihat dongkol, dengan sudut mulut yang menyisakan cairan merah. Darah.
"Sepertinya kita mendapatkan hidangan utama terlalu cepat," ujar si wanita, mendelikkan mata merahnya ke arah Rukia.
"Dia bagianku," tambah si pria yang mendesis senang sambil melangkahkan kakinya terlalu cepat.
Rukia mengerjap kaget, melakukan sesuatu yang terlintas di dalam benaknya. Dia memutar tubuhnya seraya menarik rak pajangan hingga jatuh ke atas lantai. Barang-barang yang berserakan menghambat pria itu, pikirnya. Namun, tebakannya salah besar. Pria itu melompat tinggi dan mendarat tepat dua kaki darinya.
Rukia memutar otaknya secepat petir menyambar. Dia meraih tiang rak yang tak sengaja terlepas karena baut yang terpasang terlalu longgar—yang terjatuh di dekat kakinya—melemparnya ke arah jendela sekuat yang dia bisa.
Kaca pecah menjadi serpihan kecil. Rukia melompat keluar, disambut oleh guyuran hujan yang turun terlalu deras. Sepatunya menapak pada tanah kotor, tidak mempedulikannya selain berlari seribu langkah ke arah mansion. Segera.
Tubuhnya terarik ke belakang, sebelum terlempar ke samping hingga membentur bebatuan kerikil. Bahunya jatuh lebih dulu, membuat Rukia merintih karena hantaman keras tepat di tulang lengan atasnya.
Pria itu melepas topinya, berdiri di samping tubuh Rukia yang tergeletak di atas tanah. Seringaiannya memaparkan dua gigi taring, memanjang perlahan dan menukik seperti kuku binatang buas. Rukia menahan napasnya sendiri, saat menatap mata merah itu yang terlihat jelas, memandang dirinya seperti seonggok daging yang mengalirkan darah di pembuluh darahnya. Makanan bagi para strigoi, seperti burung bagi anaconda. Terlalu kecil dan lemah.
Dan di saat itu pula hantaman keras membelalakan matanya. Teriakan menggema di balik tirai hujan yang berusaha meredamnya, disertai jarum dingin yang jatuh ke atas kulit bersamaan dengan perasaan dinginnya udara membakar paru-paru.
…..~*(to be continued…)*~…..
.
.
.
.
.
.
.
Author's note:
Scene 5 finish! Ngg… aku ga tahu kalau chapter ini bisa menjelaskan jelas atau tidak, tapi Byakuya memang memilih untuk tutup mulut dibandingkan bicara blak-blakan masalah fairies pada Rukia. Kesannya memang masih misterius, sesuai dengan kepribadian Byakuya ;) Dan … aku merasa sangat sangat lama buat menyelesaikan chapter ini dan gaya penulisan yang menurun (otak mumet), maaf sebelumnya bagi yang kelamaan menunggu. Bagaimana menurut kalian, apa chapter ini masih bisa menjelaskan dengan benar seperti chapter sebelumnya? Tapi, aku berusaha sebisa mungkin buat menyelesaikan secepat yang aku bisa dan sedetail yang aku harap memuaskan (tidak ya?) XD Dan untuk dua strigoi di akhir, itu murni OC, bukan karakter dari manga ataupun anime Bleach.
Banyak yang bermunculan di sini, mulai dari kedatangan Renji yang tak terduga bersama partner-nya Tatsuki, juga teman-teman Ichigo dari Amerika. Banyak yang membantu di belakang kelompok werewolf, selain manusia yang bekerja di kediaman Kyouraku. Rahasia mereka masih terjamin aman, kok.
Terima kasih bagi yang sudah membaca hingga chapter ini! Juga bagi yang sudah menyempatkan dirinya untuk mereview, terima kasih buat masukan, kritik, pendapat kalian yang sangat sangat membantu! Juga bagi yang sudah me-follow juga me-fave fic ini! Sankyuu~ Love you guys~ 3 3 3
.
.
Balasan untuk anonymous dan no-login reviewers:
Chizuru Mey: Terima kasih untuk reviewnya ya! Hihihi, ga masalah kok, aku bisa balas di sini reviewnya :D Hmm.. Apa Rukia yang punya kristalnya? Rukia peri? Nah, ada di chapter depan ya, bukan chapter terbaru ini XD xixixi.. di sini Byakuya masih bungkam dan diam" menyelinap pergi menghindari Rukia (lagi pemulihan diri sebenarnya). Sip deh, gomen sebelumnya ini ga update kilat, tapi semoga chapter ini bisa menghibur~
kirito2239: Terima kasih untuk reviewnya! Hihihi… sudah dilanjut ini semoga kamu suka ya ;)
Rumie Ichiruki: Terima kasih sudah mereview! Wkwkwkwk kependekan kah? Tpi chapter ini panjang loh, sampai ga beres" aku ngetiknya XD Hahahah.. loh pada tebak Rukia nih, bener ga ya dia yang punya? Masih rahasia ah! XD Mate-nya Ichigo juga masih dirahasiakan, jadi tebak"an dulu aja sekarang ;) Updatenya ga kilat nih, gomenne~ Tapi semoga kamu suka dengan chapter terbarunya~
uzumakisanti: Terima kasih untuk reviewnya! Sudah diupdate, walaupun ga cepat nih, gomen~ Semoga chapter barunya bisa menghibur…hehehe :D
rini desu: Terima kasih sudah mereview! Hahahaha… Thumbelina dan Momotarou berteman dan berpetualang bersama ya XD Ah, banyak yang nanya begitu loh, Yuki no Crystal nya berhubungan sama Rukia ga ya? Oke deh, ga kasih spoiler, tebak" dulu aja ya :D xixixi… Oke deh, semoga suka chapter barunya~
Yuki chan: Terima kasih sudah mereview! Novel Need? Sudah kulanjut ini, semoga kamu suka dengan lanjutannya~ :D
Playlist:
Edward Sharpe and The Magnetic Zeros- Home
Ella Henderson- Ghost
Taylor Swift- Out Of The Woods
Zara Larsson- Uncover
Snow Patrol- I won't Let You Go
These songs don't belong to me…
