Setelah itu, tak terjadi apa-apa antara mereka berdua. Semuanya berjalan seperti biasa. Walaupun Reiji tahu, Sakura mash melakukan kebiasaannya itu. Setiap 5 menit sebelum jam istirahat siang berakhir, Sakura pasti pergi ke toilet sendiri. Dia tahu hal itu, namun tak berdaya menahan Sakura. Setiap kali dia berusaha menahannya, Sakura pasti marah dan memberontak.

"Apa hubungannya denganmu? Ini urusanku sendiri." Itulah yang selalu dikatakan Sakura.

Kalau sudah begitu, Reiji tak dapat berkata apapun lagi. Dia memang selalu kalah kalau bertengkar mulut dengan Sakura. Dan diapun tidak mau mengulangi hal yang sia-sia itu berkali-kali.

Dia hanya bisa memandangi Sakura dengan hati iba.

"Bagaimana kalau ada yang melihatmu pada saat kau melakukan itu ?" kata Reiji sebagai salah satu usahanya untuk menghentikan Sakura.

"Tak akan. Aku selalu pergi pada 5 menit sebelum bel berbunyi. Toilet pasti kosong pada waktu itu. Jadi, tak perlu khawatir." balas Sakura.

Perkataan yang akan disesalinya.

Saat itu, 5 menit sebelum bel istirahat siang berbunyi, Sakura seperti biasa menuju ke toilet. Setelah memakan bekalnya. Reiji hanya bisa memandangi kepergian Sakura.

Sesampainya di toilet, Sakura memulai kegiatannya itu. 2 jari tangannya dimasukkan ke dalam mulutnya. Sesaat kemudian, dia memuntahkan kembali makanan yang tadi dimakannya.

Nasib buruk Sakura, masih ada seorang siswa yang berada di dalam toilet waktu itu dan melihat seluruh hal yang dilakukan Sakura.

"Apa yang kau lakukan ?!" bentak orang itu.

Sakura tersentak kaget dan melihat orang itu. Dia mengenalnya. Orang itu sekelas dengannya.

"Kau... barusan sengaja memuntahkan makananmu ..." Siswa itu terguncang melihat hal yang dilakukan Sakura barusan. Wajahnya menjadi pucat. Dia semakin berjalan mundur mendekati pintu keluar.

"Bu...bukan...Ini..." Sakura ketakutan.

"Apa dia melihat semua yang kulakukan dari awal ? Bagaimana ini ? Bagaimana kalau dia menyebarkan pada semua orang." Pikirnya ketakutan. Keringat mulai mengucur dari wajahnya dan air wajahnya mulai memucat.

"Sakura, kau tidak normal !" pekik orang itu.

"Tung..." belum sempat Sakura menahannya, orang itu sudah berlari menjauh dan membiarkan Sakura yang mematung gemetaran di toilet sendirian.

Dengan berat hati, Sakura berjalan kikuk menuju kelasnya. Dia tidak ingin ke sana, tapi mau tak mau dia harus menghadapinya. Begitu sampai di depan kelas, Sakura berhenti. Menguatkan hati dan kemudian membuka pintu kelasnya.

Pemandangan yang dilihat Sakura adalah tatapan mata seluruh penghuni kelas yang menuju ke arahnya. Dia sudah menduganya. Dengan berat hati, Sakura melangkah masuk ke dalam kelas diikuti iringan tatapan teman-teman sekelasnya.

"Dia memuntahkan makanannya dengan sengaja. Apa benar ?"

"Iiiihhh... menjijikkan sekali."

"Oh, iya. Dia kan selalu menghilang tiap waktu istirahat akan berakhir. Jangan-jangan pada saat itu dia..."

"Dia aneh. Jangan-jangan itu hobinya."

Bisikan dari teman-temannya memenuhi seluruh isi kelas. Semuanya memandang Sakura dengan tatapan aneh dan berbisik-bisik. Kecuali Reiji yang berwajah cemas dan prihatin.

"Tuh kan ?! Apa yang kutakutkan akhirnya terjadi." Pikir Reiji di benaknya.

Sakura berusaha sekuat tenaga mengacuhkan tatapan dan bisikan-bisikan itu. Dengan tenang dia menuju tempat duduknya dan duduk diam di sana hingga sekolah usai. Begitu lonceng tanda pelajaran berakhir, Sakura secepat kilat menyambar tas nya dan beranjak pergi dari kelas.

"Sakura" seseorang memanggilnya. Sakura mengetahui siapa pemilik suara itu dan sudah menduganya. Namun dia tidak memperdulikan suara itu dan tetap melaju dengan kecepatan tinggi, berjalan menyerusuri koridor.

"Hei, aku memanggilmu. Apa kau tidak dengar ?" tanya Reiji yang berhasil menggapai tangan kanan Sakura dan menghentikan langkah pemuda itu.

Sakura menampik tangan Reiji tanpa melihat wajah pemuda itu sama sekali.

"Mau apa kau ? Mau menertawakanku ? Silakan. Semua terjadi seperti apa yang kau katakan. Kau senang, kan ?" ketus Sakura.

"Ngomong apa kau ini ? Aku mengkhawatirkanmu." jawab Reiji.

"Aku tak perlu simpati darimu." Jawab Sakura sambil pergi menjahui Reiji.

Kali ini, Reiji tidak mengejarnya. Dia hanya memandang punggung Sakura yang semakin menjauh. Dia tahu, tak ada yang dapat dia perbuat untuk membantu Sakura keluar dari permasalahannya itu.

Keesokan harinya, Sakura tetap tinggal di kelas sampai dari awal mulai pelajaran hingga akan usai. Sewaktu jam istirahat pun, dia sama sekali tidak keluar kelas untuk pergi ke manapun. Tidak ke toilet maupun ruang kesehatan. Tempat-tempat yang sering dikunjunginya. Lebih tepatnya, dia tidak mau lagi kejadian tadi pagi yang dia alami terulang lagi.

Sewaktu dia menginjakkan kakinya di sekolah, melangkah maju menuju kelasnya, Sakura tak lepas dari tatapan dan bisikan orang-orang. Tampaknya berita tentang dirinya telah menyebar sampai ke seluruh isi sekolah. Sudah cukup tatapan dari teman-teman sekelasnya, jangan ditambah orang lain lagi. Dia sudah terlalu kenyang jadi bahan pembicaraan semenjak semalam hingga siang ini.

Pada jam istirahat, Sakura tidak makan apapun. Dia takut, apabila dia tidak bisa menahan mual dan keinginannya untuk memuntahkan makanannya. Maka, sepanjang jam istirahat dia hanya duduk diam di kursinya. Dia pun bingung dengan kemampuan perutnya yang sama sekali tidak berbunyi alias kelaparan walaupun tidak makan berhari-hari. Tapi akhirnya dia pun bersyukur dengan kemampuannya itu dan tidak mau ambil pusing. Mungkin tubuhnya sudah terbiasa dan beradaptasi. Tapi hal itu tidak bisa memungkiri keadaan tubuh Sakura yang semakin lemah dan kurus. Walaupun Sakura tak pernah peduli pada hal itu. Namun, yang paling peduli adalah Reiji.

Dia menyadari keadaan Sakura yang semakin memburuk. Dia ingin membantu pemuda itu, namun tak tahu harus berbuat apa.

"ting tong..." suara pengumuman dari speaker sekolah menggema tepat setelah bel mata pelajaran terakhir berbunyi.

"Kepada siswa yang bernama Sakura Tennouji dari kelas II-3, harap setelah pengumuman ini datang ke ruang kepala sekolah."

"klikk..."

"tok...tok..." Sakura mengetuk pintu ruang kepala sekolah dan setelah dia mendengar balasan dari balik pintu, barulah dia membuka pintu itu dan melangkah pelan masuk.

"Permisi " sapanya.

Ruangan itu dikelilingi oleh lemari-lemari yang berisi buku-buku dan thropy. Namun yang paling menonjol adalah meja besar yang terpampang tepat di depan arah pintu masuk. Di situ duduk Bapak kepala sekolah yang disampingnya berdiri juga beberapa guru. 3 laki-laki dan 2 perempuan. Semuanya melihat Sakura dengan serius. Sakura mengawasi tatapan mereka dengan hati was-was. "Mau apa mereka" pikirnya.

"Tennouji Sakura, tentu kamu seharusnya tahu alasan kamu kami panggil." Kata Pak kepala sekolah memulai pembicaraan."Sekarang di sekolah ini, para siswa membicarakan masalah kamu yang...yah, kamu yang lebih tahu mengenai hal itu. Kami juga mendapat laporan bahwa kamu sering ke ruang kesehatan untuk meminta infus. Kalau kami boleh tahu, atas alasan apa kamu melakukan hal itu ?" tanya kepala sekolah sambil tetap tidak melepaskan tatapan pada Sakura.

"Ahhh... itu...eeee..." Sakura tidak bisa menjawabnya. Lebih tepatnya, dia tidak mau mengatakannya.

"Yah, kami sudah menduga kau tidak akan mau mengatakannya. Karena itu, kami sudah menghubungi keluargamu mengenai masalah ini." Balas kepala sekolah.

"Apa ?! Kalian menghubungi keluargaku ?! Itu urusanku pribadi. Pihak sekolah seharusnya tidak boleh ikut campur sampai sejauh itu !" bentak Sakura. Dia sama sekali tidak senang atas keputusan sepihak sekolah itu. Mereka sama sekali tidak mengatakan atau meminta persetujuan darinya terlebih dahulu.

"Ini masalah serius. Apa yang kamu lakukan itu bisa mempengaruhi siswa lain. Dan hal yang paling berperan dalam hal ini adalah keluarga. Karena itu kami merasa wajib untuk memberitahu pihak keluargamu." gertak kepala sekolah.

Sakura terdiam setelah mendengar kata-kata itu. Dia kesal dan tidak terima. Namun, dia tahu dia tidak bisa melawan dan berbuat apapun untuk menarik kembali hal itu.

"Sadarilah. Kami melakukannya semata-mata hanya untuk kebaikan kamu." Kata kepala sekolah lembut.

"... Saya mengerti.." pasrah Sakura.

Sakura menyadari dia tidak bisa lari lagi. Baik dari sekolah, maupun keluarganya. Dan tepat seperti dugaannya, begitu sampai di rumah, Sakura dipanggil ke ruang tengah oleh ayahnya, satu-satunya keluarganya.