::The Dark Legacy— First Quarter::
By: Morning Eagle
Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Just to warn you all :: AU, OC, OOC, Misstypos...for this story
Scene 6: Allies to the Rescue
~0*0~
.0.
.
.
.
.
.
.
.
Rukia membuka matanya, tidak bisa menutup bahkan berkedip. Tubuh jangkung berdiri tegap di hadapannya, dengan punggung yang membelakangi. Rambut jingganya basah terkena rintikan hujan. Sebagian turun dan menempel hingga tenguknya.
Di saat gadis itu hendak memanggil namanya—seperti yang dilakukannya seakan memuaskan dahaga haus—sesuatu membentur ringan ke pangkuannya. Rukia melihat, mendapati sebuah kalung rantai perak berada di genggamannya. Dan perhatiannya kembali kepada pria itu, Ichigo—
"Jaga kalungku." Dia berucap seakan menyuruh.
Rukia menelan ludahnya gugup, memerhatikan saat tubuh Ichigo menunduk rendah. Otot tangan hingga bahunya melekuk indah seperti pahatan patung. Dalam seperkian detik, tubuhnya bergetar juga menggeliat. Rukia menahan teriakannya, ketika suara gertakan memilukan itu terdengar nyaring. Suara tulang yang mengadu dan menggertak nyaring di udara dingin.
Napasnya memburu berupa gigilan berat. Rukia melihat jelas setiap detail transformasi ynag terjadi. Tubuh membesar dengan cepat, pakaiannya terkoyak robek, berikut bulu yang semakin lebat di sekujur tubuhnya. Dan mulut itu, serigala yang benar-benar menjadi nyata. Alasan dia disebut sebagai monster. Besar dan menakutkan.
Ichigo menjadi bentuk werewolf sempurnanya. Taringnya dikeluarkan sebagai ancaman, melawan balik sosok strigoi yang sudah terbangun dari jatuhnya—dihantam Ichigo sebelumnya. Pria strigoi itu terlihat murka, memberengut masam dan menampakkan giginya yang setajam duri besi.
Ichigo maju tanpa aba-aba, menerjang strigoi yang berusaha menjangkau kaki depannya. Ichigo jauh lebih cepat, menahan tubuh strigoi itu di bawahnya dengan gigi yang tertancap kuat di bahu sedingin es. Sang strigoi berteriak memilukan, amarah yang bercampur rasa benci. Kekalahan akan werewolf adalah hal yang paling dirutuki oleh seorang penghisap darah sadis.
Si strigoi memukul balik, menendang tubuh Ichigo hingga terpelanting ke belakang. Rukia mengernyit, menekuk kakinya spontan saat werewolf tersebut terjatuh berguling tepat di sebelahnya. Di sela-sela sebelum Ichigo terbangun, Rukia menatap mata itu yang bersinar terang. Caramel muda seterang madu jernih lebih ke kuning. Kepalanya menggeleng cepat, mengusir rasa benturan yang mengganggu pandangannya.
Bahkan gerak geriknya lebih menyerupai serigala aslinya, pikir Rukia. Dia tersentak saat Ichigo melompat tinggi, memijak batang pohon terdekat untuk menerjang lagi ke arah si strigoi. Darah mengalir dari daging yang terkoyak di lehernya. Bukan merah seperti manusia, tapi berwarna hitam. Membuat perut Rukia memberontak mual.
Ketika Ichigo berhasil menangkap strigoi di lehernya yang mulai lunglai, suara teriakan menggema dari arah minimarket. Sang wanita mungil yang murka, mulutnya terbuka lebar tak lazim untuk rahang manusia. Si wanita strigoi menerjang ke arah Ichigo, menangkap punggungnya untuk meremukkannya.
Rukia memegang erat rantai kalungnya semakin erat, menyakiti telapak tangannya yang mulai memerah. Suaranya memanggil di tengah rintiknya hujan, merasakan sesuatu yang memberontak dalam dirinya. Ketakutan—Ichigo yang kalah dan dikoyak dua strigoi demi membela dirinya.
Anggapan buruknya tersanggah, saat wujud serigala Ichigo memutar lihai ke belakang. Si wanita strigoi tertindih di bawah bobot berat sang werewolf—berbalik cepat dan menghantamkan taring serigalanya ke kepala si wanita strigoi. Si pria strigoi sudah tumbang di atas tanah yang basah. Lehernya hampir putus, dengan darah hitam menggenangi lumpur kotor.
Ichigo menarik dan melemparkan tubuh si wanita strigoi hingga menghantam batang pohon. Suara retakan terdengar kembali, membuat Rukia menebak apakah itu batang pohonnya atau tulang si strigoi. Mengingat strigoi memiliki peforma tubuh yang kuat dan sekokoh baja.
Mimpi buruknya hampir berakhir, saat mendapati Ichigo berdiri tak bergerak. Matanya masih memerhatikan si wanita strigoi, tangannya yang bergerak tidak karuan mencengkram tanah. Dia masih hidup, mungkin sekarat.
"Kau … werewolf sialan…" Suara seraknya seakan merobek keheningan. Matanya menatap tajam dan berusaha mengutuk werewolf yang berdiri di hadapannya. "Kau tidak akan … bisa hidup … lebih lama…"
Ichigo menggeram rendah, menampakkan taringnya ketika perlahan mendekat ke arah si wanita strigoi.
"Kalian akan musnah … sebentar lagi—" Si wanita strigoi terbatuk dan mengeluarkan darah kotor dari sudut mulutnya. "—Sang Mimpi Buruk sudah berjalan mendekat…"
Rukia tidak bisa menahan ketakutannya, saat si wanita strigoi tertawa nyaring, seperti gesekan biola yang sumbang. Bahkan, rambut ikalnya tidak lagi bergelombang sempurna—ternoda tanah dan seperti menyatu dengan permukaan bumi. Makhluk mengerikan yang pernah dilihat Rukia dalam hidupnya. Selain perampok dan pria hidung belang. Ichigo belum termasuk dalam daftarnya, setidaknya dia melihat hal lain dari tubuh besar werewolf-nya.
"Yuki no Crystal akan menjadi milik Sang Mimpi Buruk … kalian tidak akan bisa mencegahnya! Makhluk keji!"
Ichigo mengerang murka, menerjang si wanita strigoi dan mengoyak lehernya. Suara tawa yang memekikkan itu berhenti. Hanya rintikan hujan yang turun membasahi tanah dengan percikan selembut embun terjatuh.
Napas Rukia masih memburu, takut membuat sekujur tubuhnya merinding. Di saat Ichigo berbalik menghadapnya, dia kembali tersentak dan menarik rumput liar di bawah tubuhnya terlalu kuat. Namun, kelegaan mulai mengalir di dalam pembuluh darahnya kemudian. Layaknya cahaya mentari yang selalu muncul di balik awan setelah hujan berhenti.
Ichigo menatapnya, dengan noda kotor di sudut moncongnya. Telinganya sesekali bergerak dan berhenti menegak tinggi di udara. Dia menyadari sesuatu yang mendekat.
"Ichigo!" Panggilan itu terdengar beberapa detik kemudian. Suara berat yang dikenali Rukia bukanlah seorang musuh. Itu salah satu teman Ichigo.
Kensei muncul, berlari di tengah guyuran hujan yang mulai mereda. Chad dan Shuuhei menyusul di belakangnya, mengikuti dengan tergesa.
"Hei—kau membereskan semuanya?" Kensei berkomentar, kemudian bersiul saat melihat dua strigoi yang terbaring tak bergerak. "Damn!"
"Lebih baik kalian kembali ke mansion," ucap Shuuhei. "Kyouraku mungkin akan mencari kalian dan gadis itu terlihat tidak baik-baik saja."
Tatapan setiap orang jatuh ke arah Rukia yang bergetar tidak karuan. Sebagian berpendapat dia menggigil kedinginan atau karena masih terkejut dan trauma akibat kejadian mengerikan barusan. Kensei berjalan ke tempat Rukiat terduduk, menepuk-nepuk kepalanya lembut.
"Hei, Kuchiki? Sebaiknya kau kembali bersama Ichigo."
"A … aku?" Gigi Rukia bergemeletuk menahan dingin, melihat Ichigo yang berjalan lambat ke arahnya. Ekornya bergerak ke kanan dan ke kiri. "Ba … baiklah…"
Tanpa memperingatkan, Kensei mengangkat tubuh mungil Rukia dan menundukkannya di atas punggung Ichigo. Rukia sedikit tersentak saat tubuh yang tiga kali lebih besar darinya itu bergerak terlonjak.
"Kau yang mengatakan untuk menjaganya, bukan? Jadi jangan menjatuhkannya dan tetap buat tubuhnya hangat," ucap Kensei kepada Ichigo yang hanya bisa menggeram rendah. "Begini lebih cepat, sementara kami memantau daerah sekitar sini. Berjaga-jaga bila ada strigoi yang bersembunyi."
Ichigo tidak memerlukan perdebatan lebih panjang, meninggalkan Kensei serta kawanannya yang mulai melakukan tugasnya, sementara dia kembali ke mansion bersama Rukia di punggungnya. Kakinya mulai berlari, hampir membuat Rukia oleng ke samping. Sebelah tangan mungilnya mencengkram bulu serigala dan hampir seperti memeluk tenguknya, sementara tangan satunya tetap mengamankan kalung perak yang kini terasa berat. Hangat tubuhnya menjalar cepat seperti listrik yang menyengat. Rukia tidak pernah tahu bahwa tubuh seorang werewolf yang bertransformasi bisa menjadi sehangat bara api dalam perapian.
Ichigo menapaki jalan setapak menuju mansion dalam keheningan yang tak berarti. Rintik hujan mulai menghilang perlahan, menyisakan angin yang masih berhembus dingin. Menampar pipi Rukia yang sudah berubah sepucat kertas putih. Dia membenamkan wajahnya pada tenguk Ichigo, mencari kehangatan tambahan agar kulitnya tidak mati rasa.
Perjalanan yang tak pernah dirasakan Rukia sebelumnya. Menunggangi kuda sangat berbeda dengan berada di atas punggung werewolf besar yang masih memiliki otak untuk berpikir secara naluri bercampur manusiawi. Hentakannya terasa memacu adrenalin, juga pandangan akan alam sekitar menjadi sekelebat bayangan. Cepat dan lincah.
Cahaya mentari perlahan menelisik dari balik dedaunan hijau. Samar-samar menaungi setelah hujan mulai mereda. Aneh, perasaan yang bertalu di dada Rukia. Sehabis hujan adalah hal terbaik yang selalu dirasakannya selama ini—ketika cahaya keluar dari balik kegelapan yang memelintir perutnya.
Ichigo berhenti di depan mansion, beberapa menit yang ditempuhnya lebih cepat. Mereka masih terdiam bisu. Tangan Rukia yang masih mencengkram kuat di tubuh Ichigo. Napasnya memburu, menyadari perjalanannya sudah berakhir. Dan tubuhnya terasa amat lengket dengan pakaian basah menempel pada kulitnya tidak nyaman.
"Aku … harus turun," gumam Rukia, menyadari kakinya masih bergelantung di udara. Pijakannya tidak sampai selama Ichigo masih berdiri tegap.
Menyadari Rukia masih tetap memeluk tubuh hangatnya, Ichigo menunduk rendah untuk memudahkan gadis itu turun tanpa terluka. Rukia merosot turun, masih bertumpu pada bulu hangatnya. Tercium bau hutan dan hujan pekat masuk ke indera penciumannya.
Rukia berdiri canggung, menimbang-nimbang apa yang harus dikatakannya kepada si serigala besar di hadapannya. Ichigo tidak berniat untuk meliriknya, lebih memilih untuk memandangi pintu masuk yang berdiri kokoh. Dan ketika Rukia akan berucap, Ichigo melangkah tergesa pergi dari tempat itu. Dia bergerak terlalu lincah dan menghilang di balik bangunan ke arah belakang, membiarkan Rukia masih terpaku diam. Kata-katanya tidak sampai di telinga Ichigo.
"Terima kasih…" Rukia mendesah lelah, sebelum berjalan gontai memasuki bangunan utama. Dia butuh mandi air hangat dan mengganti pakaiannya yang basah juga lembab.
.
.
…..~***~…..
.
.
Rukia mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk putih, setelah mandi air panas hampir setengah jam lebih. Dia menatap cermin di hadapannya, menyadari wajahnya tidak lagi terlihat pucat juga bibir yang membiru. Sebagian besar adalah bantuan dari Ichigo, yang sudah mengizinkan gadis itu untuk menumpang di punggung besarnya. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa rasanya sungguh aneh untuk menaiki punggung sang werewolf—berusaha tidak terjatuh dengan wajah menghantam tanah berbatu.
Tiga kali ketukan di pintu terdengar tergesa, menghentikan kegiatannya sementara dan bergegas untuk membukanya lebar. Dia terkejut ketika mendapati Kyouraku berdiri di hadapannya. Wajahnya terlihat tidak senang.
"Kyouraku-san?" Rukia sedikit takut, merasakan kesalahannya yang terjun ke dunia luar seorang diri sudah menyulitkan kelompok werewolf tersebut. Tidak terkecuali sang mantan Alpha.
Kyouraku memaksakan senyumannya sebelum menjawab. "Kau baik-baik saja, Rukia-chan? Mereka tidak melukaimu?"
Rukia mengerti benar siapa yang dimaksud dengan mereka—sang penghisap darah. "Tidak, aku baik-baik saja. Ichigo … dia datang menolongku."
"Tentu, sudah seharusnya." Kyouraku mengangguk menyetujui. "Tapi, bukan itu saja kedatanganku kemari. Ada sebuah kabar yang harus kusampaikan kepadamu."
Rasa dingin tidak bisa ditepis menjalar cepat di tenguk Rukia. Bukan karena rambutnya yang masih basah. "Apa itu?"
"Kakakmu sudah pergi—dia menghilang bersama dengan Hachi setelah Ichigo dan teman-temannya pergi mengejarmu."
Terasa seperti beban yang bertambah di punggungnya, tubuh Rukia mulai terasa berat dan berbagai pikiran buruk berkecambuk dalam benaknya. Tidak mungkin kakaknya pergi meninggalkannya seorang diri, bukan?
"Dia meninggalkan sebuah surat untukmu," lanjut Kyouraku, menyodorkan sebuah amplop putih tanpa coretan ataupun tulisan di atasnya. Bersih. "Perlu kauketahui, Byakuya pergi dengan meninggalkan alasan yang jelas. Dia menitipkan dirimu kepada kami, karena di sinilah satu-satunya tempat teraman untukmu. Dia tidak ingin suatu hal buruk datang menimpamu."
"Karena itu Ichigo diperintahkan untuk memantauku?" tebak Rukia.
"Ya. Itu salah satunya, Rukia-chan."
"Aku butuh waktu," ucap Rukia ragu. "Sendiri—bisakah?"
Seakan menyadari tempatnya, Kyouraku mundur beberapa langkah ke belakang, menundukkan badannya untuk memberi salam permintaan maaf. "Tentu, Rukia-chan. Dan kau boleh mengandalkan kami selama tinggal di sini. Anggap saja ini adalah rumahmu."
"Terima kasih, Kyoraku-san." Rukia mengangguk lemas, sebelum menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Walaupun dia mengharapkan kehangatan lebih di tempat ini, tapi tetap saja ini bukanlah rumahnya. Rumahnya sudah menghilang. Dan dia mulai menjalani hari-harinya seorang diri bersama orang asing.
Rukia duduk di tepi ranjang, sambil membuka suratnya perlahan. Dia tidak ingin merobek isinya tanpa disengaja dan tidak bisa membaca isi kata-kata terpenting dari kakak satu-satunya. Kertasnya terlipat menjadi tiga bagian begitu rapi, juga tulisan yang ditulis dengan tinta hitam. Seperti sebuah kaligrafi di setiap goresan kanjinya, bukan hal aneh bagi seorang Kuchiki Byakuya yang artistik.
Rukia mengerutkan alisnya, mulai membaca surat yang tidak terlalu panjang. Jantungnya berdegup kencang, setiap membaca kata per kata yang seakan menelan rasa penasarannya bulat-bulat. Suratnya berbunyi—
Untuk adikku, Kuchiki Rukia.
Ini adalah keputusan terakhir yang bisa kuambil, juga jalan satu-satunya untuk melindungi orang-orang tidak bersalah dari serangan para strigoi. Aku akan pergi untuk waktu yang tidak menentu, memulihkan kekuatanku dan menjaga ritual bunga sakura tetap berlangsung selama musim semi. Barikade yang dibangun di sekitar Jepang mulai memudar, karena itu strigoi bisa melakukan segala sesuatunya begitu mudah, termasuk melukaimu. Aku sudah meminta perlindungan khusus yang ditujukan kepadamu, adikku. Kyouraku Shunshui sudah menyetujui perjanjian denganku untuk menjagamu hingga semuanya selesai. Tidak perlu khawatir karena semuanya akan berakhir baik. Juga, dirimu bukanlah incaran para strigoi, karena kau adalah keturunan bersih dari darah peri yang mengalir dalam tubuhku. Kau bukanlah diriku, bukan dari kaumku.
Kuchiki Byakuya.
Rukia tidak bisa berkata apa-apa lagi, mengetahui kakaknya menghilang untuk melindungi dirinya juga Jepang. Mempertaruhkan apa yang menjadi konsekuensi sebagai pemimpin spring fairies terkuat di negaranya, adalah tanggung jawab yang akan dipegang Byakuya hingga akhir hidupnya. Rukia mengetahui betul sifat dan keteguhan kakaknya. Dan satu kata yang membuat hati Rukia bergetar miris—tertinggal di bagian paling kiri bawah surat di pangkuannya.
Tsumanai.
Sebuah permintaan maaf. Ketakutan besar mulai menusuk tulang rusuknya, melihat sebuah pertanda yang seharusnya tidak akan terucap dari mulut kakaknya. Rukia takut, bila dia tidak bisa bertemu lagi dengan kakak lelakinya. Setelah semua ini terjadi dalam hidupnya.
Kenyataan baru seakan tidak membuat hatinya gundah. Dia menerimanya seperti menelan segelas air putih. Dia bukanlah fairy. Entah itu kabar buruk atau kabar baik, sama sekali tidak menjadi masalah untuknya. Dan rahasia besar yang kini menggelayuti hidupnya adalah—apakah dia dan kakaknya adalah saudara kandung? Byakuya dengan jelas menuturkan, bahwa Rukia bukanlah dari kaum spring fairies. Lalu, sebenarnya siapa dirinya sendiri? Gadis itu mulai meragukan jati dirinya seperti seonggok kertas yang terbawa angin kesana kemari.
Tangannya memijit kepalanya yang terasa pening. Dia mulai merasa ketakutan baru memasuki batas aman dirinya. Sebuah penyangkalan, atau lebih baik disebut sebagai kebohongan. Rukia ragu untuk memercayai siapapun yang berada di dekatnya. Tidak, setelah kakaknya pun tidak memberikan pernyataan yang jelas. Mengenai darah yang mengalir berbeda di nadi mereka.
Mungkin karena itulah Byakuya meminta maaf. Sebagai rasa bentuk penyesalan atas kebohongan hidup Rukia yang sekarang terasa seperti naskah kotor dan terbuang. Tidak terpakai lagi. Masa lalunya seperti direkayasa sejak awal mula. Dan dia sungguh membencinya.
Lagi—ketukan di pintu terulang beberapa kali. Rukia mendesah lelah, menghiraukan ketukan itu tanpa ada niat untuk menyambutnya. Kepalanya terlalu penat untuk menghadapi masalah yang sekarang terpampang di balik pintu. Baik masalah strigoi ataupun werewolf. Berharap dirinya bisa menghilang dari dunia ini, untuk sementara waktu.
Ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih menuntut. Rukia mengerang di pembaringannya, berguling ke samping hingga wajahnya terbenam di atas kasur. Sebisa mungkin mengusir suara membisingkan yang mulai berdentum-dentum di dalam kepalanya.
"Aku tahu kau di sana!" Suara itu membuat bulu kuduk Rukia merinding. Dia mengenal betul siapa pemilik suara khas tersebut. Si werewolf yang baru saja menolong dirinya.
Ichigo, gumam Rukia dalam hati. Kembali teringat akan janji pria itu kepada dirinya, sebelum menghantam dua strigoi hingga remuk. Kalung itu—
"Hei—" Ketukan berulang kali dilemparkannya pada daun pintu. "Aku bisa mendengar napasmu juga mencium baumu dari balik pintu! Jangan pikir kau bisa kabur dariku—"
Rukia bangun mendadak—mau tidak mau—menggerutu tidak jelas sambil membukakan pintunya kasar. Dia memelototi sosok Ichigo yang berdiri di hadapannya. Sebelah tangannya masih dalam posisi mengetuk, terkepal di udara.
"Tidak perlu menjelaskan hal yang tidak penting, bodoh! Kau terdengar seperti orang mesum," gerutu Rukia, mendapatkan tatapan sinis dari Ichigo yang mendengus kesal.
"Mau bagaimana lagi, itu salah satu kelebihan yang kubawa sejak lahir," balas Ichigo ngotot. "Indera penciuman, pendengaran, dan penglihatanku lebih baik dari manusia biasa."
"Jangan bilang kau bisa melihat tembus pandang," cibir Rukia.
Ichigo memelototinya tidak percaya, dengan alisnya yang naik terlalu tinggi. "Kau bercanda? Aku perwujudan serigala, bukan cyborg ataupun peramal psikis!"
Orang yang terlalu serius, pikir Rukia. Dia setengah tersenyum mengejek.
"Dimana kalungku?" tanya Ichigo lanjut, tidak berbasa-basi sekedar menanyakan keadaan gadis itu. Pria berterus terang dan terlalu kaku.
Rukia mendesah, kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil kalung perak yang ditaruhnya di atas meja samping tempat tidur. Tanpa bertanya, Ichigo ikut masuk, mengekori Rukia dengan langkah teredam.
Rukia menyodorkan kalungnya, bergemerincing ketika bergoyang. "Mengapa kau melepaskan kalungmu?" Bukan hal aneh untuk bertanya. Sepertinya bukan kebiasaan werewolf untuk melepaskan kalungnya sebelum bertransformasi, apalagi di dalam keadaan yang mendesak.
Ichigo mengambilnya segera, memakaikan ke lehernya seperti semula. "Aku bisa tercekik atau mungkin merusak kalungnya bila berubah tanpa melepasnya."
"Lalu, mengapa kau memakainya? Itu sungguh merepotkan."
"Kalung ini berharga untukku."
Suasana berubah hening dengan cepat. Rukia menyadari perubahan yang terlihat jelas di wajah Ichigo. Alisnya tidak lagi mengkerut masam dan tatapan sinis yang ditujukannya kepada gadis itu. Ichigo memandangi jendela luar seperti sedang melamun—memasuki pikirannya seorang diri.
"Kau tahu apa yang sudah kaulakukan beberapa saat yang lalu?" Ichigo bertanya, sedikit serius.
Rukia bergerak gelisah, menyadari dirinya berhutang banyak pada penyelamatnya. "Aku butuh udara segar, jadi—"
"Kau harus mengabariku sebelumnya, walaupun aku bisa menebak ketika kakiku melangkah keluar dari tempat ini dengan mengendap. Resikonya terlalu berbahaya di luar sana."
Rukia tidak menjawabnya, terlihat larut dalam pemikirannya sendiri. Membiarkan udara dingin menari-nari di sekitar tubuhnya yang menegang.
Ichigo mendesah perlahan, separuh menyesal karena melihat kondisi gadis itu yang terlalu dalam masuk ke dalam dunianya. Segalanya berbahaya, dan dia seharusnya layak mendapatkan tempat yang lebih baik. "Kyouraku sudah memberi kabar untukmu mengenai Byakuya?" lanjut Ichigo, berusaha menetralkan pembicaraan mereka.
Rukia menaikkan sebelah alisnya tidak percaya. Pria itu sungguh santai dan tidak peduli memanggil nama orang seenaknya. Mungkin karena gaya barat yang terlalu kental sudah mendarah daging dalam hidupnya.
"Ya. Nii-sama memberikan surat untukku."
Ichigo menemukan kertas yang tergeletak di atas ranjang. Ditebaknya sebagai surat yang dimaksud. Tanpa meminta persetujuan Rukia, dia mengambilnya dan membaca lambat-lambat. Kata-kata yang ditulisnya sedikit menyulitkan otaknya bekerja. Kanji dengan tulisan seperti berkas kuno bersejarah yang terpajang di dalam museum nasional.
"Hei—jangan baca seenaknya!" Rukia terkejut, menyadari suratnya berada di tangan Ichigo. Dia berusaha menggapai dan merebutnya kembali, ketika Ichigo menaikkan tangannya lebih tinggi. Rukia terlalu mungil untuk mencapai ketinggian dua kali tubuhnya.
"Sebentar, Bahasa Jepangku tidak sebagus dirimu," ucap Ichigo, menghindari gadis itu yang meloncat-loncat menggapai kaus bajunya. "Diamlah sebentar!"
"Itu surat pribadi, bodoh! Jadi kembalikan padaku!"
"Suratmu adalah suratku juga, mulai saat ini." Ichigo memutar tubuhnya ke belakang, hingga membuat Rukia menabrak punggungnya. "Jadi, tidak ada lagi rahasia ataupun hal yang kausembunyikan dariku. Aku penjagamu jadi aku berhak tahu."
Rukia menggeram rendah, mencengkram rambut di tenguk Ichigo terlalu kuat. "Sejak kapan kau yang membuat aturan!"
"Aww—lepaskan!" Ichigo memberontak, menarik tubuh Rukia dengan lengannya yang melingkar di pinggang gadis itu. Tubuh Rukia terangkat di udara, bergelantung seperti boneka di samping pinggang Ichigo. Dia menahan tubuh mungilnya seakan mengangkat karung beras.
"Turunkan aku!" Rukia memberontak, berusaha memukul Ichigo yang terasa sulit dari posisinya sekarang.
Ichigo menghiraukannya, berusaha membaca surat di tangannya tanpa melewatkan satu katapun. Dia berhasil menangkap sebagian besar isinya, ketika Rukia menggigit jari tangannya dan spontan pegangannya terlepas. Gadis itu terjatuh ke atas karpet kamar tanpa persiapan.
"Kau menggigitku, jadi jangan salahkan aku—"
"Bisakah kau mengerti antara batasan pribadi dan bernama lain privasi?" sinis Rukia, berdiri tanpa kesulitan berarti karena keningnya yang membentur lantai cukup keras. Dia merampas kembali surat miliknya—dari kakaknya, yang akan dimintai penjelasan olehnya mengenai semua hal yang sudah terjadi.
Ichigo menggaruk tenguknya yang tidak gatal. Matanya lebih menunjukkan rasa peduli daripada rasa bersalah. "Aku hanya ingin memastikan segalanya masih berjalan baik—kau tahu? Ditunjuk sebagai seorang pelindung adalah salah satu tugas penting di kelompok kami. Menjagamu perlahan menjadi sebuah kekhawatiranku sendiri, seperti sebuah bagian diriku yang ikut merasakan apa yang kaurasakan."
Rukia mengurungkan dirinya untuk meneriaki Ichigo lebih lanjut. Terlihat jelas bahwa pria itu benar-benar serius. Werewolf yang mendedikasikan dirinya demi melindungi gadis asing yang baru saja dikenalnya beberapa hari ini.
"Byakuya memiliki alasan lain di balik semua ini. Dia tidak akan meninggalkanmu tanpa alasan jelas di bawah perlindungan kami yang lebih aman dibandingkan kantor polisi ataupun bunker gedung putih sekalipun." Ichigo menambahkan.
Rukia mendengus, menyadari sikap angkuh Ichigo sama sekali tidak memudar. "Begitu percaya dirinya dirimu, Tuan Serigala."
Ichigo mengerutkan dahinya dalam. Dia tidak suka dengan sebutan barunya, seakan dia adalah orang jahatnya di sini. "Aku tidak berubah menjadi serigala dua puluh empat jam penuh, Kerudung Merah," ucap Ichigo ketus.
Rukia kembali mengingat sosok serigala yang berubah di hadapannya. Besar dan benar-benar menyerupai serigala sebenarnya. Tidak berdiri dua kaki seperti yang pernah dilihatnya di televisi ataupun bahan pencarian internet. Makhluk jadi-jadian yang bukan hanya setengah berdarah serigala, tapi memiliki sifat yang hampir sama. Kecuali perasaan juga kepintaran manusia yang menambahkan predikatnya sebagai seorang werewolf berbahaya.
Matanya tertuju pada permukaan kulit tangan Ichigo, yang terlipat di depan dadanya. Rukia masih mengingat bagaimana tubuh menggigilnya berubah hangat seketika karena suhu tubuh Ichigo. Kulitnya sehangat mentari musim panas, di balik bulu halusnya yang seperti anak Golden Retriever.
"Apa?" Ichigo terlihat tidak nyaman, saat mendapati Rukia memerhatikannya tanpa bersuara.
"Wujud transformasimu," gumam Rukia, bertemu pandang dengan Ichigo yang memelototinya. "Itu … besar dan—" lembut, pikir Rukia dalam hati. "—kuat."
"Aku tahu kau memikirkan kata lain, selain itu," koreksi Ichigo, berkedut masam.
Rukia terbelalak tanpa bisa ditahan. Menjelaskan secara terang-terangan bahwa apa yang dikatakan Ichigo memang terbukti benar.
"Aku tahu saat kau berbohong, dari caramu bergerak dan menarik napas." Senyum lebar melambangkan kepuasannya akan instingnya yang terlalu jitu. "Dan berkedip. Kau terlalu gugup untuk menutupi kebohonganmu, Rukia."
"Werewolf aneh," cibir Rukia.
"Sekarang kau terdengar rasis. Tidak ada golongan freaky werewolf ataupun charming werewolf saat kami berbicara ataupun berjalan di lorong mansion." Kedua jari telunjuk dan jari manisnya terangkat di udara, digerakkan seirama seperti perlambang tanda kutip. "Bagaimana menurutmu?"
Rukia mendesahkan napasnya terlalu keras, lelah karena Ichigo selalu membawanya memutar dan bermain kata dengannya. "Apanya?"
"Saat aku berubah." Ichigo duduk di sudut ranjang, meregangkan otot punggungnya yang lelah karena harus terus menunduk selama berbicara. "Apa yang ada di pikiranmu? Bukankah kau selalu bertanya-tanya bagaimana caraku berubah?"
Suara tulang yang beradu juga tarikan ototnya terdengar jelas. Rukia bergidik, menyadari itu seburuk yang diceritakan Ichigo di perpustakaan. "Terdengar dan terlihat … sedikit buruk." Rukia menjelaskan, sedikit ragu karena tidak ingin menyinggung perasaan Ichigo terlalu jauh.
Ichigo mengangkat alisnya terkejut, separuh menilai. "Katakan saja kalau itu benar-benar buruk."
Anehnya, Rukia tidak merasakan takut apapun saat melihat wujudnya yang berubah menjadi serigala. Memang terlihat tak lazim, tapi dia menyukainya—saat tangannya menggenggam bulu halusnya dan merasakan hangat tubuhnya menjalar begitu cepat.
Rukia menggeleng, menahan senyumnya merekah terlalu lebar di wajahnya. Perbedaannya terlalu jauh kentara, antara tubuh manusia dan tubuh werewolf pria di hadapannya. Dia terlihat lebih jujur saat berwujud normal—ekspresi wajahnya mengatakan apapun secara gamblang. Tidak seserius dan setajam indera serigalanya yang awas.
"Kau lebih baik saat tersenyum seperti itu," gumam Ichigo, menarik perhatian Rukia kembali menatapnya. Ekspresinya sedikit berubah, keterkejutan bercampur tersipu. "Jadi, kau mau mempercayaiku, Rukia? Aku tidak mengerti apa yang ada di kepala ketua fairies yang sekarang memberikan teka-teki membingungkan, seperti rayap yang siap memakan habis otakmu. Tapi, sebisa mungkin, kami akan berusaha melindungimu hingga batas perlindungan yang dibuat fairies kembali seperti semula."
"Hingga festival musim semi berakhir? Itu waktu yang cukup lama, kupikir."
"Kita masih memiliki banyak waktu untuk itu. Tidak perlu khawatir." Ichigo menyunggingkan seringaiannya, membuat alis Rukia berkedut tidak suka.
Suara gemuruh mengisi kamar yang tiba-tiba menjadi hening. Rukia menatap ke sekeliling, menyadari suara itu bukan datang darinya. Itu, Ichigo.
"Aku lapar, seluruh tenagaku habis setelah menyerang dua strigoi itu," ungkap Ichigo tanpa rasa malu ataupun sungkan. "Waktunya makan siang?"
Rukia berkedip bingung, melihat siklus makan sang werewolf memang terbilang sangat pendek. Mereka terlalu cepat lapar, setelah tubuhnya dipaksakan berubah dan menyita banyak energi. Jadi, inilah efek sampingnya.
"Aku tidak lapar," ucap Rukia, saat Ichigo hampir keluar dari pintu kamarnya. "Kau duluan saja. Mungkin aku akan melewati makan siangnya."
Ichigo berkedut masam, menimbang-nimbang di depan pintu yang akan segera tertutup rapat. Meninggalkan gadis itu seorang diri dan meratapi nasibnya sama sekali tidak terdengar sehat. "Ikut saja. Perutmu pun pasti akan segera bergemuruh, ketika melihat apa yang Hanatarou sajikan." Dia tersenyum mengejek.
"Tidak ada perumpamaan yang lebih sopan?" Tanpa daya, Rukia mengikuti langkah Ichigo keluar ruangan. Sesuatu yang menjadi daya tarik pria itu tak bisa ditolaknya.
"Kita lihat saja. Mau taruhan?"
.
.
…..~***~…..
.
.
Rukia memandangi piring-piring kosong yang tergeletak tanpa noda di hadapannya. Makanannya sudah habis dilahap—daging dan sosis panggang, ditambah dua mangkuk nasi penuh. Dia benar-benar kelaparan, saat menginjakkan kakinya ke ruang dapur dan mencium wangi daging terbakar yang membangunkan suara perutnya. Ichigo menyeringai jahil, saat warna merah panas menghiasi pipi putih gadis itu. Instingnya selalu berkata benar.
"Sial! Perutku!" Shuuhei mendesah, memeganggi perutnya yang sama sekali tidak membesar. "Hanatarou melakukan tugas terhebat yang pernah kulihat."
"Dan kaurasakan," tambah Kensei. "Kau menghabiskan empat piring porsi daging dan tiga mangkuk nasi." Tusuk gigi bertengger di sudut mulutnya.
"Kau menghabiskan lebih banyak—enam piring?" Shuuhei memelototi piring-piring yang bertumpuk rapi di hadapan Kensei, seperti menara Pisa yang miring ke satu sisi.
"Ini setengah jatah makanku biasanya," ucap Kensei. "Daging di negara ini sedikit lebih kecil. Bahkan Chad pun berpendapat sama denganku."
Chad mengangguk, menyetujui. Tubuh pria terbesar di ruangan itu dan menghabiskan porsi yang sama dengan Kensei. Mungkin dia bersikap sungkan, pikir Rukia. Pemandangan saat Hanatarou sibuk memanggang seluruh persediaan daging di rumah itu sungguh membuat Rukia prihatin. Memasak terburu-buru karena para werewolf kelaparan meminta porsi lebih setiap dua menit sekali.
Rukia melirik Ichigo yang duduk di sebelahnya, menemukan seember es krim lagi yang sedang berusaha masuk ke dalam perutnya. Rasa Chocolate Chip Raisin. Wajahnya menyerupai seorang bocah yang baru pertama kali melihat wujud es krim—menyendok dan memakannya dengan mata terbelalak.
"Ichigo, hentikan itu! Kau membuat perutku terasa mual," protes Shuuhei, yang mendapati ketuanya masih sanggup mengisi perutnya dengan makanan. Di antara mereka berlima, si rambut jingga yang menghabiskan paling banyak porsi daging panggangnya. Delapan piring.
"Kalau begitu tidak usah melihatku," balas Ichigo yang dengan sengaja menyendok besar es krimnya dan melahapnya habis dalam satu tangkupan.
Shuuhei mengernyit ngeri, menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. "Kau benar-benar mempunyai masalah dengan perutmu, dude."
Rukia mengamati, bagaimana es krim itu disendok seperti pengeruk pasir dan masuk ke dalam mulut lebarnya.
Ichigo menangkap gerak gerik Rukia—tertarik dengan sendok es krim—mengikuti kemana dia mengarahkannya. Sekali lagi dia menyendok es krim, kali ini diarahkan tepat di depan wajah gadis itu—di depan mulutnya. "Kau ingin mencobanya, bukan?"
Rukia mulai merasa gugup, namun melahap sesendok rasa yang creamy juga menggiurkan itu ke dalam mulutnya. Dia menyukainya, membuat kepalanya terasa ringan.
"Sudah kukatakan bahwa ini membuatmu ketagihan. Dessert setelah makanan utama tidak akan pernah membohongi indera pengecapmu," tambah Ichigo.
Kensei berdeham, menarik perhatian kedua orang yang sedang berbagi es krim tanpa berdebat. Berikut dua orang lagi yang juga mengikuti arah pandangnya. "Aku tidak ingin ikut campur untuk masalah ini, tapi—apakah benar tidak ada apapun di antara kalian berdua?"
Rukia menatap Ichigo bingung, sementara yang bersangkutan hanya memalingkan wajahnya ke samping.
"Dia tidak mungkin mate-mu, bukan?" Kali ini Shuuhei yang angkat bicara. "Kau tahu, dia pasti akan marah setelah kita pulang nanti—"
"Kalian selalu memulai tanpa menungguku," ucap Kyouraku memotong topik yang baru saja dimulai. Dia berjalan santai dengan jas kebesaran yang bertengger di bahunya tanpa terjatuh. Ukitake mengikuti di belakang, melirik sekitar ruangan dengan menilai.
"Dan menghabiskan makanannya," tambah Kyouraku, menatap sedih pada piring-piring yang bertumpuk tanpa sisa. "Karena itu Hanatarou terburu-buru meminta izinku untuk pergi membeli bahan makanan?"
"Stamina werewolf di atas segalanya," ucap Ukitake di samping rekannya. "Apalagi di saat umur kalian masih terbilang muda. Ingatkah kau akan masa di mana kita bisa menghabiskan satu rusa liar tanpa berbagi, Kyouraku?"
Kyouraku tersenyum lebar, kembali pada memori masa lalunya. "Tentu, Ukitake. Kalian harus mencobanya, berburu seorang diri tanpa bantuan kelompokmu. Rasanya menegangkan dan hasilnya sungguh memuaskan."
"Tapi, apakah tidak apa memakan daging mentah?" Shuuhei bertanya, mengernyit begitu membayangkan daging segar dirobek oleh taring werewolf-nya.
"Tentu saja setelah dimasak," jelas Kyouraku. "Membuat api unggun dan semacamnya bukanlah hal yang sulit. Oh—karena itulah aku rindu alam liar, bukan panggangan terbaru dari produk yang dijual di televisi ataupun panci untuk merebus sup daging."
"Itulah yang dilakukan oleh seorang pria—werewolf," tambah Ukitake menyetujui.
"Hmhm … tentu," tanggap Ichigo yang terlihat sama sekali tak tertarik. "Jadi, lebih baik segera katakan, apa ada kabar?" Ichigo bertanya, sedikit memberengut saat Kyouraku tersenyum lebar ke arahnya. Menyembunyikan sesuatu yang terlihat kentara.
"Ahh, ya—tentu saja! Isshin baru saja menelepon." Kyouraku berucap.
"Ayahku?"
"Sang Alpha," gumam Kensei.
"Dia ingin kalian kembali," jawab Kyouraku mengangguk. "Segera. Dan tentu saja bersama Rukia-chan."
Kali ini Rukia yang terkejut, sebagian besar kebingungan. "A … aku?"
"Maaf, Rukia-chan, kami tidak memiliki pilihan lain. Kekuatan yang kumiliki bersama Ukitake di sini sudah terlalu lama memudar. Tidak ada lagi kelompok yang kuat dan saling menyokong satu sama lain untuk membuat garis pertahanan dari para strigoi." Kyouraku mendesah ringan, memandang sendu pada sosok Rukia yang memerhatikannya serius. "Dan Isshin menawarkan bantuannya secara sukarela, untuk menjagamu di dalam kelompok besarnya di Amerika Utara."
"Tunggu—maksudmu, aku pergi…" Rukia berkata gugup, bahkan suaranya terdengar bergetar. "Meninggalkan Jepang?"
"Karena markas kami berada di Manhattan." Kensei angkat bicara, membantu memberikan informasinya. "Walaupun rumah induk kami terletak lebih ke Utara—Montana."
"Berbaur di antara manusia dan mencari informasi penting di antaranya," ucap Ichigo. "Kelompok kami lebih suka tinggal di keramaian kota, daripada di atas gunung yang terpencil."
"Tapi, konsekuensinya lebih besar terjadi di antara manusia, bukan? Di saat mereka melihat kalian berubah menjadi werewolf?" Rukia bertanya.
Ichigo memiringkan senyumnya ke satu sisi, hingga kerutan di pipinya terlihat seperti lemak berlapis. Rukia menganggapnya itu sedikit manis. "Karena itu kami berbaur."
"Dan kabar ini sungguh di luar perkiraan," kata Shuuhei, menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Kami baru saja tiba di Jepang dan harus kembali lagi."
"Itu tugas kita untuk menjemput mereka." Chad angkat bicara, menebak dengan suara rendahnya. Rukia tidak mengira bahwa pria besar itu akan mengeluarkan suaranya, tanpa bergerak seperti patung.
"Kau tahu akan hal itu, Chad?" Shuuhei tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Isshin baru saja mengabarkan kabar ini satu jam yang lalu. Jadi, kupikir Chad hanya menebak?" Ukitake menerka, mendapat anggukan dari pria besar itu.
"Insting Chad sungguh kuat, bukan?" Ichigo terlihat senang melihat rekannya mengutarakan pikirannya dengan singkat dan jitu. Rukia mendapat kesan, bahwa Ichigo lebih merasa nyaman berada di sisi teman besarnya, dibandingkan dua lainnya yang terlihat sebagai pengkritik.
"Dan Isshin ingin bicara denganmu, Ichigo." Kyouraku menatap Ichigo di seberang meja, yang masih menyendok es krim untuk memuaskan kebutuhan perutnya. "Segera."
Ichigo mendesah lelah, memijit pelipisnya yang bahkan belum berdenyut nyeri. "Really? That old man always annoys me, you know? All the time!" Dan tanpa disuruh, pria itu bangkit dari duduknya untuk mengikuti Kyouraku ke lantai atas.
"Juga kau, Rukia-chan," panggil Kyouraku sebelum menghilang dari balik pintu dapur. "Ada baiknya kaupun ikut dengan kami. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Rukia menatap sekelompok werewolf yang masih duduk bersantai di kursinya, sebelum mengikuti Kyouraku menuju lantai dua. Ichigo terlibat perbincangan serius dengan si pemilik mansion. Lebih terdengar seperti bisikan dan gumaman. Rukia tidak ingin bertanya lebih jauh ataupun mendekat sekedar mendengar topik yang sedang dibahas. Separuh takut akan fakta apa lagi yang berusaha disembunyikan darinya. Cukup muak dengan hal yang menimpa dirinya hingga hari ini.
Mereka tiba di dalam ruangan yang Rukia ingat masih terlihat sama, seperti yang pernah dikunjunginya terakhir kali. Nyaman dan bisa merasakan betapa empuknya sofa hijau tanpa menyentuhkan tangannya. Sekarang rasa kantuk mulai menyerang akal sehatnya.
"Jadi, aku ingin membicarakan masalah strigoi ini denganmu," ucap Kyouraku kemudian, duduk di sebelah Rukia. "Kau tidak keberatan, bukan?"
Rukia mengangkat kepalanya, mendapati Ichigo berada di pojok ruangan yang memaparkan jendela ke arah luar. Telepon berada di telinga kirinya, ditahan dengan tangan kiri pula. Kemungkinan kidal, pikir Rukia.
"Tentu, Kyouraku-san," jawab Rukia.
Kyouraku mulai menyandarkan tubuhnya, sekedar menyamankan punggung pada bantalan sofa. Rukia bisa menciumnya dari posisinya, bau hutan dan seperti pinus dingin. Entah dari sofanya atau mungkin wangi parfum sang mantan Alpha. "Aku masih belum bisa menemukan jawaban mengapa Byakuya pergi begitu saja dan tidak menjawab pertanyaanku mengenai Yuki no Crystal. Itu menunjukkan sesuatu yang berusaha disembunyikan atau mungkin disangkalnya. Tapi, strigoi tidak bisa membiarkan hal itu begitu saja."
"Ini berhubungan dengan strigoi yang menyerangku di minimarket," gumam Rukia.
Kyouraku menganggukkan kepalanya. "Ya, Ichigo sudah menceritakannya kepadaku. "Mereka berusaha mencari kristal itu hingga ke tempat ini. Sesuatu memancing mereka—yang tidak lain adalah darah fairies. Byakuya menjadi incaran mereka."
"Dan Sang Mimpi Buruk," tambah Rukia, menahan kegugupannya. "Aku mendengar salah satu dari mereka menyebutkan hal itu. Apa yang dimaksudnya?"
Kyouraku menarik napas dalam-dalam, seraya tersenyum kecut mendapati hal yang di luar perkiraannya. "Sang Mimpi Buruk, ya? Sudah lama aku tidak mendengar mengenai mereka. Kegelapan terbesar yang pernah ada di dunia ini, beratus-ratus tahun yang lalu. Tumbuh menjadi pasukan pembunuh yang mengerikan." Kedua tangannya terkepal erat, seakan hendak memanjatkan doa agar kemungkinan buruk tidak terjadi. "Mereka pasukan strigoi yang berbahaya."
"Pasukan? Mereka bergerak secara berkelompok, maksudmu?"
"Ya. Hampir menyamai bagaimana kami bertahan hidup. Jarang sekali—bahkan mungkin tidak ada, strigoi yang membentuk koloni di era sekarang ini. Hanya yang tersisa dari sejarahlah yang bertahan," jelas Kyoraku, dengan sebuah senyum mengembang untuk meredakan ketegangan yang tak perlu. "Buku menceritakan segalanya, bukan?"
"Old man sudah menyetujuinya." Ichigo muncul ke dalam perbincangan, dengan telepon di genggamannya. Sudah terputus. "Dia meminta kita berangkat secepatnya."
"Isshin selalu terburu-buru." Kyouraku mengelus dagunya yang memiliki jenggot tipis. Terkadang dilakukannya sebagai perwakilan pemikiran gandanya. "Mungkin ini yang terbaik untuk Rukia-chan. Kondisi di sini sama sekali tidak stabil, selama strigoi terus bermunculan."
"Walaupun aku bukan keturunan fairy?" Rukia bertanya, sedikit murung karena lagi-lagi takut akan pertanyaannya sendiri. Dia belum siap mendengarkan jawabannya, walaupun rasa penasaran menusuk-nusuk tulang rusuknya.
Kyouraku dan Ichigo terdiam, menyadari surat yang juga telah dibaca mereka tersusun kembali di dalam ingatan masing-masing. Hal yang seharusnya menjadi sebuah privasi, kini tidak lagi disimpan sendiri oleh Rukia. Dia membaginya kepada dua werewolf di hadapannya.
"Bila itu memang yang sebenarnya, mungkin karena kau sudah terlalu lama berada dekat dengan Byakuya," ucap Kyouraku. "Strigoi cukup sensitif dengan darah fairies dan aura mereka yang terbilang spesial."
"Dan karena itu aku mencium bau yang sama darimu," tambah Ichigo, melipat tangannya di depan dada. "Bisa saja Byakuya menyatakan kebohongan, karena indera penciumanku masih berfungsi normal."
Rukia terkejut, mendengar pernyataan Ichigo yang sejernih air gunung. Tidak ada kebohongan, melainkan rasa percaya diri yang membuat nyali gadis itu menciut. Dia malu terhadap dirinya sendiri, sementara orang yang berdiri di hadapannya yakin akan apa yang dipercayai di dalam lubuk hatinya. Tekad bercampur keteguhan. Juga naluri liar.
"Kau memiliki darah fairy atau tidak, itu bukan masalah untukku," ucap Ichigo.
"Sudah menjadi tanggung jawab kami untuk melindungimu," tambah Kyouraku. "Werewolf selalu memegang erat janjinya. Apapun yang terjadi, percayalah kepada kami."
Kedua werewolf menatap Rukia yakin, juga menunggu persetujuan gadis itu untuk mengikuti mereka ke dalam situasi yang dianggap aman. Sementara waktu, hingga semuanya berakhir lebih baik.
"Baiklah! Bersiaplah berkemas," lanjut Ichigo, meregangkan kedua tangannya ke atas kepalanya. Tubuhnya terasa kaku sesaat. "Kita akan pergi besok sore dan kuharap perjalanan kali ini tidak selelah yang kuingat."
"Besok sore…" Rukia bergumam, menyadari hari esok akan jauh berbeda dari biasanya. "Besok?!"
…..~*(to be continued…)*~…..
.
.
.
.
.
.
.
Author's note:
Perkataan Ukitake mengenai seorang pria, werewolf, diambil dari Anggota Asosiasi Shinigami Pria, yang biasanya berkata "Otokoto wa…" dari versi Drama Rock Musical-nya.
Scene 6's up! Yup! Lebih pendek dari chapter sebelumnya tapi memulai awal baru di Amerika :D Rukia, Ichigo, dkk akan segera menuju Manhattan, New York! Kelompok Ichigo berada di sana, walaupun sudah disebutkan markas pusatnya berada di Montana. Dan akan banyak tokoh baru, sekaligus lawan Rukia sesungguhnya. Pasukan Sang Mimpi Buruk! Segera akan terungkap :3
Soal kalung yang dikenakan Ichigo, mengapa dia repot" pakai kalung itu kalau harus dicopot sebelum bertransformasi? Yup, itu ada sebabnya dan masih belum bisa dijelaskan di chapter ini. Segera di chapter" terdepan ;)
Rukia bukan berasal dari kelompok spring fairies Jepang, itu yang pasti. Byakuya sudah menjelaskannya secara gamblang di surat yang ditulisnya, bahwa Rukia tidak memiliki darah yang sama dengannya. Apa berarti Rukia itu bukan adik kandungnya? Simpan dulu jawabannya sampai pertengahan-akhir cerita ya, masih panjang banget! Sekarang fokus dulu ke hubungan Ichigo dan Rukia :3
Terima kasih bagi yang sudah membaca juga mereview fic ini! Walaupun masih banyak kekurangan, aku sangat menghargai kritik dan saran dari kalian semua. Juga berikut pesan kesan saat membaca fic ini tiap chapternya! Arigatou gozaimasu! Love u all~ 3 3 3
.
.
Balasan untuk anonymous dan no-login reviewers:
Rumie Ichiruki: Terima kasih untuk reviewnya! Wkwkwkw Ichigo lengah sesaat dan Rukia terlalu lincah ga bisa diem XD Yup, 2 strigoi asing menyerang Rukia dan yang datang memang Ichigo :3 Chapter barunya sudah kuupdate ini dan semoga kamu suka! :D
uzumakisanti: Terima kasih sudah mereview! Wah, kalo soal Espada ak belum bisa jawab, soalnya identitas si musuhnya masih dirahasiakan XD xixixi… Sudah kuupdate chapter barunya, semoga kamu suka! ;)
kirito2239: Terima kasih sudah mereview! Iya, Renji tahu Ichigo itu werewolf. Awalnya dia cuman tahu Kyouraku dkk yang werewolf, soalnya Ichigo pendatang dari Amerika :D Sudah kulanjut dan semoga kamu suka! ;)
darries: Terima kasih untuk reviewnya! Mungkinkah Rukia? Fufufu… itu masih rahasia sampai chapter-chapter terdepan XD Siapa yang menyelamatkan Rukia ya? Yup, itu Ichigo! :D xixixi… Iya, sekarang bakal ada pertarungan antar werewolf dan strigoi, walaupun masih ringan" kok. Sudah kuupdate dan semoga kamu suka lanjutannya ;)
Playlist:
Edward Sharpe and The Magnetic Zeros- Home
Ariana Grande- One Last Time
Taylor Swift- Out Of The Woods
Zara Larsson- Uncover
Calvin Harris feat Ellie Goulding- Outside
Snow Patrol- I won't Let You Go
These songs don't belong to me…
