"Ayo, cepat! Pesawatnya segera lepas landas!" Shuuhei berteriak panik dan berlari tak tentu arah, hingga menubruk Chad yang berdiri tepat di depannya. Tubuh pria besar itu sama sekali tak bergeming.
"Kemarikan kopermu," ucap Ichigo, meraih tas Rukia yang dibawa gadis itu seperti berisi batu bata. Kedua tangannya sudah terlalu tegang untuk menahan beban yang hampir sebanding berat tubuhnya.
Kini Ichigo membawa dua buah koper, satu miliknya dan satu milik Rukia. Seperti troli pembawa barang, kakinya melangkah tak mempermasalahkan beban berat yang bertambah untuk ditopang.
Kensei sudah melangkah jauh meninggalkan Ichigo di belakang, disusul Shuuhei yang berlari panik dan Chad yang mengekori seperti penjaga pribadinya. Rukia hampir tidak bisa mengimbangi cara mereka berlari. Bergerak ke kiri dan ke kanan, sesuai insting yang mengambil alih.
Rukia merasakan tarikan di tangan kirinya, membuat tubuhnya hampir tersontak ke depan. Itu Ichigo, yang menarik tangannya untuk segera mengikuti jalur sang werewolf.
"Aku memegangimu. Ayo, cepat!"
Rukia mengangguk sekali. Dengan ada yang memegang tangannya, dia tidak khawatir untuk terjatuh. Ichigo berada di sisinya, menjadi sebuah hal baru yang menjaga hatinya untuk tidak goyah. Perjuangannya masih terlalu panjang di depan dan dia butuh penyemangat agar tidak mundur ke belakang. Di antara intrik masalah yang berada jauh dari luang lingkup masyarakat pada umumnya.
Panggilan terakhir untuk pesawat menuju New York, Amerika. Rukia berhasil mencapai terminal yang hampir saja ditutup. Ichigo membantu gadis itu untuk memberikan tiketnya kepada petugas pengecekan. Tinggal selangkah lagi, di mana dunia baru akan mengungkap rahasia gelap yang sulit terpandang oleh mata telanjang.
.
.
…..~***~…..
.
.
::The Dark Legacy— First Quarter::
By: Morning Eagle
Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Just to warn you all :: AU, OOC, Misstypos...for this story
Scene 7: Welcome To New York
~0*0~
.0.
.
.
.
.
.
.
.
Manhattan, New York
Hal pertama yang dilihat Rukia saat menapakkan kaki di kota tersibuk di belahan bumi barat adalah pemandangan yang tidak biasa. Suara rentetan klakson dan juga mobil yang melaju seperti siput mengantri panjang. Hari hampir menjelang siang hari dengan langit sendu diiringi rintikan hujan ringan. Lampu jalan tercetak jelas di atas genangan air, memberikan sedikit warna dari monokrom warna hitam dan putih.
Ichigo yang memimpin jalan di depan, menelusuri koridor bandara padat akan orang berlalu lalang. Rukia mengikuti di belakang dengan memegang tas selempangnya erat, disusul Chad juga Shuuhei, dan Kensei yang terlihat tidak begitu sehat. Dia benci terlalu lama berada di udara, yang menurutnya adalah terjebak dalam batas ruang di luar kendali manusia. Di mana bumi dipijak, di situlah dia merasa lebih aman.
Rukia disambut oleh udara dingin yang membuat giginya bergemeletuk. Walaupun hujan tidak sederas yang terlihat, tapi udaranya hampir membeku di bawah batas kehangatan musim semi. New York tidak selalu cerah dan tidak selalu menyambut ramah para pendatang asing dari berbagai belahan dunia. Cuacanya sungguh tidak bersahabat.
Suara klakson mobil terdengar beberapa kali, membuat Ichigo mengganti jalurnya ke arah barat bandara. Tidak jauh dari taksi yang berderet, terdapat dua buah SUV, Jeep Grand Cherokee. Terparkir sejajar, berwarna merah dan khaki muda. Seorang wanita cantik bersandar pada SUV merah. Rambut panjang berombak tergerai hingga pinggangnya—pirang jingga muda hampir terlihat emas di bawah warna abu-abu langit. Dan seorang pria berkacamata hitam, duduk diam di kursi pengemudi mobil satunya.
"Cepatlah bergerak! Matahari masih belum tampak di atas langit, sungguh hari yang buruk," perintah Ichigo terburu-buru, begitu sampai di mobil terdepan.
Kensei mengikutinya, sementara Shuuhei dan Chad mengambil mobil bersama si wanita cantik tersebut. Semuanya bergerak cepat, hampir membuat Rukia seperti patung lilin yang memerhatikan bagaimana kawanan werewolf itu bergerak tak manusiawi. Menaruh koper di bagasi yang hampir melemparnya seperti karung beras.
"Naiklah," ucap Ichigo, membukakan pintu penumpang belakang untuk gadis itu. Matanya menatap tidak sabaran, ketika Rukia mengerjap bingung sebelum naik dengan gerakan kikuk.
Pintu tertutup rapat dan mobil segera melaju ke arah jalan keluar bandara. Klakson dibunyikan untuk menegur mobil depan yang menurunkan penumpang terlalu lama. Hal lumrah yang terjadi sebagai kemacetan lalu lintas bandara.
"Mengapa kalian terburu-buru?" Rukia bertanya, melihat Kensei di kursi penumpang depan dan Ichigo di sampingnya. Mereka terdiam dengan rahang mengeras.
"Dua strigoi mengintai di belakang," kata Ichigo. Dia melirik spion depan untuk melihat kerumunan orang yang berjalan seperti semut.
Rukia ikut merasakan ketegangannya, hingga mereka keluar dari tempat itu secepat mungkin dan memasuki jalur utama jalanan yang lebih dilalui banyak kendaraan umum. Tidak sepadat yang sebelumnya, sehingga mobil bisa melaju dalam kecepatan 60km/jam.
"Mereka ada di mana-mana." Akhirnya Kensei angkat bicara, menghela napas leganya dengan bersandar pada bantalan kursi. "Itu sedikit menegangkan."
"Beberapa hari ini mereka seringkali terlihat di daerah Upper Manhattan juga di daerah Brooklyn. Aktivitas pergerakannya tidak seperti biasanya," jelas si pengemudi. Rukia tidak bisa melihat wajahnya jelas, karena matanya ditutupi oleh kacamata hitam. Sesuatu yang aneh untuk dikenakan di hari yang tidak cerah.
"Bagaimana keadaan rumah selama aku pergi, Tetsuzaemon?" tanya Ichigo pada si pengemudi.
Tetsuzaemon menjawab sambil tetap berpandangan lurus ke depan, "Safe and sound, sir! Tenanglah, keadaan belum lebih buruk daripada para werewolf muda yang belum bisa mengontrol emosi labil mereka."
"Itu terdengar baik-baik saja," tambah Kensei.
"Dan—dia adalah gadis itu? Yang harus kita lindungi?" tanya Tetsuzaemon, memerhatikan dari kaca mobil depan.
Rukia mengerjap, sedikit bingung untuk memilih antara tersenyum atau menyapa pria asing yang baru ditemuinya.
Ichigo maju lebih dulu, mengangguk sembari melipat tangannya acuh tak acuh. "Ya, dia yang harus kalian lindungi mulai saat ini. Rukia akan berada di bawah pengawasan seluruh anggota kelompok." Matanya bertemu dengan gadis itu, menyadari atmosfer di mobil itu masih terasa begitu baru. "Tetsuzaemon, ini Kuchiki Rukia. Rukia, ini Iba Tetsuzaemon. Sebelum aku lupa memperkenalkan kalian."
Dia orang Jepang, pikir Rukia. Pembicaraan asing mereka masih bisa ditanggapi Rukia, walaupun bahasa Inggrisnya tidak terlalu bagus untuk dipamerkan. Dan orang ini—Iba, sudah terlalu lama menetap di negara asing, hingga logat Amerikanya terlalu kental mengalir di dalam darahnya.
"Welcome to New York!" Tetsuzaemon memberikan salam hangatnya, tersenyum seperti salah satu anggota mafia jalanan. Rukia tidak bisa menahan dirinya untuk sedikit bergidik terkejut.
"Orang-orang di sini tidak seramah Tetsuzaemon," jelas Ichigo. Dia memperlihatkan senyumnya pada Rukia, mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Sedikit menyangkal, bahwa dia tahu betul perasaan gadis itu seperti terciprat minyak kotor. Rukia merasakan rasa ganjil yang membangunkan sikap bertahan dirinya—sekokoh dinding bata berdiri.
Mobil berbelok ke sebuah jalan raya yang lebih padat dan memaparkan keindahan kota lebih jelas, juga Sungai East. Dan di sana Rukia melihatnya, sebuah jembatan yang selama ini seringkali dilihatnya dalam film-film Hollywood ternama.
"Manhattan Bridge." Ichigo menjawab pertanyaan tak terungkap dari benak Rukia. "Menghubungkan Brooklyn dengan daerah Lower Manhattan. Kau akan menyukai pemandangannya pada malam hari."
Rukia bisa menilai cukup jelas, bahwa jembatan itu lebih besar daripada dugaannya. Walaupun belum memasuki jalur menuju penyebrangan, namun jantungnya sudah bergemuruh begitu cepat. New York memiliki berbagai hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Menakjubkan—satu kata yang keluar dari rasa antusiasnya.
Mobil melaju stabil, hingga mencapai mulut jembatan. Jalur panjang yang seakan tak terlihat ujungnya. Matahari pagi mulai muncul perlahan dari balik awan abu-abu yang menyembunyikannya. Cahayanya lebih terlihat memantul di atas permukaan air sungai juga besi-besi fondasi jembatan Manhattan. Menyinari jalur yang akan ditempuh, lurus hingga mencapai bagian kota berikutnya. Distrik tersibuk setelah pusat Kota New York— Manhattan memiliki pusat perekonomian terpadat di Amerika, sebut saja Wall Street dan Distrik Finansial. Juga gedung kembar World Trade Centre, yang mulai didirikan kembali sejak insiden menggemparkan 11 September. Kenangannya masih terasa melekat di setiap hati penduduk Manhattan—kenangan kelam yang menyayat hati di antara kesibukan yang menenggelamkan emosi mereka.
Tidak mengurangi rasa kagumnya, Rukia memerhatikan bagaimana mobil melaju di atas jembatan yang kokoh. Rintik hujan tidak lagi turun membasahi bumi, digantikan hari cerah yang lebih tenang. Kebisuan mengunci mulutnya untuk berkomentar, selain mendengarkan perbincangan tiga werewolf kelaparan yang saling berdebat di dalam mobil. Situasi masih membingungkan baginya. Bukan hal aneh bila udara mencekik tenggorokannya karena terlalu tegang.
Dia tidak mengenal siapapun—dalam batasan teman di atas satu tahun mengenal. Semuanya terasa baru juga asing. Belum bisa beradaptasi di mana tempatnya berpijak saat ini.
Hanya Ichigo yang dipercayainya. Entah itu adalah panggilan instingnya ataupun perasaannya sendiri. Di antara orang-orang lainnya, pria bertemperamen sedikit dingin itulah yang membuat dirinya merasa nyaman—diterima. Apakah karena dia sudah mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi Rukia? Ataukah janjinya itu sekuat metal yang saling mengkait tak terputus?
Tanpa disadari, mobil sudah keluar dari jembatan panjang dan mengarah ke bagian kota lebih dalam. Di antara gedung-gedung pencakar langit dan daerah China Town yang padat. Lebih ke pusat distrik di mana gedung terbengkalai juga tak berpenghuni banyak terlihat. Di sisi sebelah timur, hampir mencapai sisi Sungai East.
Tetsuzaemon membawa mobil ke dalam sebuah area tak berpenghuni. Tidak ada pejalan kaki yang melewati daerah tersebut, terkecuali kucing liar ataupun tikus-tikus di dalam got. Gerbang jeruji besi berkarat terlihat terbuka sebagian, memberikan akses masuk ke sebuah gedung tinggi yang terlihat tak terurus. Tembok dengan cat terkelupas dan berbagai graffiti menghiasi di sisi kiri dan kanan bawahnya. Bahkan, rumput liarnya tumbuh lebih lebat daripada perkiraan. Di balik cahaya mentari yang tak terhalang oleh kaca-kaca transparan di dinding gedung.
Mereka berhenti di dalam gedung yang lebih tepat disebut sebagai gedung parkir terbengkalai. Mobil kedua menyusul di belakang, ikut berhenti dengan lampu depan yang menyala terang. Para werewolf mulai turun dari mobil, kecuali Rukia yang masih terdiam di tempat. Dia tidak mengerti apa yang akan mereka lakukan di tempat terbuang seperti ini.
"Kau tidak turun?" Ichigo bertanya, tepat di sebelah pintu Rukia yang sudah dibukanya tanpa persetujuan. Gadis itu terlonjak kaget, ketika menyadari Ichigo berjalan terlalu cepat dan tanpa suara. Dia memutar dari tempat duduknya hanya untuk menegur gadis itu. "Ada apa? Kau terlihat lebih diam hari ini." Itu bukan sebuah pertanyaan di akhir kalimatnya. Ichigo mengerti bahwa Rukia lebih memilih bungkam daripada berdebat, tapi tidak tahu alasannya.
"Ini di mana?" tanya Rukia balik, mulai membuka suaranya.
"Markas kami di Manhattan, sekaligus tempat berkumpul kelompok juga tempat pertemuan. Tempatnya tidak seburuk yang kaulihat."
"Kupikir strigoi akan mudah menyerang kalian di tempat berbahaya seperti ini." Tangannya meremas gugup, sementara menunggu Ichigo menjawab. Rukia membayangkan beberapa strigoi menyergap kelompok Ichigo semudah menangkap ikan tuna.
Ichigo tertawa, menyunggingkan seringaiannya. Terdengar seperti meremehkan ataupun sekedar memamerkan sifat congkaknya. "Mereka tidak akan berani mendekati wilayah kami. Percayalah, ini daerah teraman dari serangan jahat para strigoi di lingkungan New York yang teramat luas. Bahkan, jarang sekali ada manusia yang berkeliaran di area ini."
"Jadi, kalian mengamankan areanya dengan bau kalian?" Rukia memerhatikan Kensei yang berdebat dengan si wanita cantik itu, yang tidak diketahui namanya. "Dan strigoi bisa mencium bau kalian dari jarak puluhan kilometer?"
"Kau menyebutkannya seakan kami kelompok anjing liar! Bukan begitu cara kerjanya," gerutu Ichigo, mendengus kesal. "Turunlah, sebelum Rangiku memulai gurauan menjengahkannya."
"Siapa?"
"Wanita yang sedang melambaikan tangannya," tunjuk Ichigo dengan kepalanya, ke arah si wanita cantik yang dipertanyakan Rukia sejak tadi. "Selain cara mengemudinya yang buruk, kupikir dia tipe yang mudah untuk kaupercayai."
"Aku mendengarmu!" Rangiku berteriak nyaring, bahkan suaranya sedikit menggema di ruangan yang kosong tersebut, area bawah bangunan. "Tidak ada yang salah dengan caraku mengemudi!"
"Tidak, karena aku yang menggantikanmu," ucap Shuuhei, yang muncul dari belakang Rangiku dengan tangan bersedekap di depan dada. "Sebelum semuanya berakhir buruk, lebih baik kau tidak mengemudikan mobilnya."
Rangiku berbalik ke arah pria itu, mengibaskan rambutnya seringan bulu. Shuuhei hampir tersedak napasnya, ketika dua mata tajam Rangiku tidak sependapat dengan gurauannya. Tajam dan memesona setiap orang yang memandang. "Sekarang kau tidak memihakku? Baiklah, terserah padamu, pria bodoh!"
Rangiku beranjak pergi, menghentakkan langkahnya hingga hak sepatu boots-nya berderap di atas lantai beton. Shuuhei terlihat panik, menyusulnya di belakang dengan sedikit tergesa. Kikuk dan tak berpengalaman dalam masalah wanita.
"Mereka bersama? Maksudku—seperti pasangan kekasih?" tanya Rukia yang sudah turun dari mobil. Dia bersandar pada pintu mobil, sambil tetap memerhatikan bagaimana cara Rangiku melangkah. Anggun dan gemulai, bahkan tanpa gerakan berlebihan. Shuuhei mengikuti di belakangnya seperti anak anjing yang kehilangan tuan. Tidak mungkin para pria werewolf tidak memuja kecantikan parasnya juga kemolekan tubuhnya. Para pria, selain Ichigo—yang sekarang memandangi Rukia tanpa bergeming.
"Itu sedikit rumit. Shuuhei memercayai bahwa mungkin Rangiku adalah pasangan hidupnya. Kami menyebut hal itu sebagai mate—pasangan hingga akhir hayat yang ditakdirkan di dalam darah liar kami. Sebaliknya, Rangiku hanya menganggap para pria yang berada di dalam kelompok adalah para bocah ingusan—itu yang selalu dikatakannya."
"Bagaimana … denganmu?" tanya Rukia, masih tidak menyadari bahwa tatapan Ichigo masih jatuh ke arahnya.
"Aku tidak tertarik dengan urusan mereka juga hal semacam itu," jawabnya hampir seperti bergumam. "Kau tidak terkena jetlag, bukan? Kau terlalu diam."
Rukia memelototinya, akhirnya bisa menatapnya secara benar. "Memangnya aku harus bagaimana?"
"Entahlah, mungkin mengumpat atau berteriak," balas Ichigo, sedikit gugup dengan suara yang hampir bergetar. Tangannya menggaruk kepala yang tidak terasa gatal. "Kau seperti bom atom yang hampir meledak—setiap saat."
Rukia tidak menjawabnya ataupun membantah anggapan itu. Gadis itu hanya terdiam, memandangi ke arah fondasi bangunan. Berbagai pikiran berkelut dalam kepala kecilnya, tidak bisa ditampung hingga ikut mengambil fokusnya.
Ichigo mendesah ringan, sebelum berbalik ke arah bagasi mobil. "Aku akan mengambil kopernya."
Bahkan suara Ichigo tidak mencapai telinganya. Kakinya melangkah ke dalam tempat itu yang lebih gelap dan suram. Kensei masih terlihat di mobil satunya, sedang berbincang dengan Chad. Membahas sesuatu, pikir Rukia. Tempat yang menjadi area tenang dan nyaman bagi para werewolf, terdengar tidak masuk akal untuknya.
"Jadi, kau gadis itu?" Suara seseorang menegur tepat di sampingnya. Rukia sedikit tersentak saat mengetahui sosok itu terlalu dekat dengannya. Seorang pria tinggi besar, bahkan lebih jangkung dari Ichigo. Hampir setinggi Chad, namun lebih kurus. Rambut putihnya terlihat mencuat dari kain yang melilit kepala hingga sebelah matanya—seperti perban.
"Siapa?"
"Namaku Kokuto," ucapnya, berusaha bersahabat. "Aku salah satu anggota kelompok 'kau-tahu-siapa'. Tenanglah, gadis kecil! Aku tidak akan menggigitmu."
Orang itu sedikit menakuti Rukia. Dia terlihat sedikit berbeda dari yang lainnya. Lebih menyerupai serigala liarnya dalam wujud manusia normal. "Kau, anggota kelompok Ichigo?"
"Ichigo?" Kokuto mengangkat sebelah alisnya, seakan tidak menyetujui. "Kau menyebutnya seperti itu, ya? Isshin adalah Alpha-nya, jadi aku lebih suka disebut sebagai tangan kanan Isshin daripada Ichigo."
"Tapi, Ichigo yang memimpin kelompoknya saat berada di Jepang. Apa karena Ichigo adalah anak dari Isshin?"
"Kau menarik." Sebelah tangannya terulur untuk menjangkau ujung rambut Rukia, terlalu panjang seperti ular yang mematuk. "Bisa dikatakan begitu, karena dia adalah ahli warisnya. Tapi, kemungkinan untuk menduduki posisi Alpha tidak hanya dilihat dari keturunan semata. Kami tidak memegang paham monarki, karena kekuatan menentukan segalanya."
Rukia mundur satu langkah besar, menghindari tangan yang terasa dingin ketika tak sengaja menyentuh pipinya. Kokuto mengikuti, mengambil langkah yang tak sebanding untuk mencapai posisinya lebih dekat. Kini mulutnya berbisik di telinga Rukia, memberikan sentuhan dingin seperti berada di Kutub Utara.
"Kau tidak tahu apa yang akan terjadi dan tidak mengenal bagaimana kami melakukan hal kami, Rukia. Werewolf bukan makhluk yang mudah berbaur dengan manusia, apalagi dengan kaum sepertimu, fairy." Kokuto mengendus sekilas, merasakan bau yang tercium familiar. Darah biru dari keturunan yang berbeda dengannya. "Kau berbeda dengan kami, yang di mana terkadang hukum rimba memegang kendalinya."
Rukia berniat untuk mengambil langkah mundur, sebelum Kokuto yang terdorong lebih dulu. Seseorang memukulnya mundur dan merangkul tubuh gadis itu terlalu cepat, seperti berbenturan dengan dinding kokoh. Itu bukan dinding beton, melainkan Ichigo. Belum pernah Rukia melihat Ichigo seliar ini dalam wujud manusia normal—hampir menyeringai tajam dengan geraman rendahnya.
"Wow! Lama tidak bertemu, pal! Jadi ini sambutan hangatnya?" sindir Kokuto dengan mengangkat kedua tangannya ke atas. Dia tidak bermaksud mengikuti insting liarnya untuk bertarung dengan teman sekelompoknya.
"Mundur, Kokuto!" Ichigo memajukan tubuhnya, menutupi tubuh mungil Rukia di belakang. "Kaupikir aku tidak mendengar apa yang kaukatakan? Rukia adalah salah satu dari kita mulai saat ini, jadi jangan memojokkannya!"
"Protektif seperti biasanya, penjaga," balas Kokuto, terlihat santai tanpa menggubris amarah Ichigo yang mulai meledak-ledak. "Aku hanya membantu Rukia untuk beradaptasi dengan kelompok, tidak lebih."
"Seperti aku bisa memercayai kata-katamu?" Ichigo tertawa getir. Terlihat jelas Kokuto sedikit terintimidasi karenanya.
"Karena kau yang menjadi pemimpin sementaranya, bukan berarti kau memimpin kelompok besar ini sebagai Alpha yang sebenarnya, pal! Kau terlalu ceroboh untuk melakukan tugasmu, bahkan melindungi gadis asing itu," celetuk Kokuto.
Ichigo mengerutkan alisnya sebagai penanda amarah yang tak terbendung. Rahangnya mengeras karena gertakan giginya. "Dia bukan gadis asing! Ini adalah perintah Alpha sendiri, bahwa Rukia akan berada di bawah pengawasan kelompok mulai saat ini!"
Kokuto melirik Rukia, mendapati gadis itu sedikit bergidik di tempat. Dia mencium rasa takut juga keberanian yang tiba-tiba muncul. Gadis yang tidak seperti manusia. Kokuto cukup menyukainya. "Mungkin, dia memiliki sesuatu yang spesial. Sesuatu yang tidak bisa kausangkal, pal? Apa mungkin dia salah satu kandidat untuk jadi pendampingmu—pasanganmu?"
"Apa?" Ichigo sedikit tergagap, separuh kebingungan.
"Bagaimana, bila aku memiliki hal yang sama denganmu?" Kokuto maju selangkah, memutar seperti sedang mengamati mangsa. "Bagaimana jika aku merasakan getarannya? Mungkinkah keturunan fairy bisa menjadi pasangan yang tepat bagi seorang werewolf? Walaupun aku tidak mempermasalahkannya—darah bangsawannya terlihat menggiurkan, bukan? Ahh—apa mungkin kau sudah mencicipinya dan menjadi tunduk pada gadis itu, hah?"
Ichigo maju dalam sekali hentakan, memukul mundur Kokuto. Dia hampir melepaskan emosinya, dengan separuh tubuh yang hampir berubah menjadi werewolf. Kukunya yang memanjang dan taring giginya menukik sempurna. Pupil matanya sedikit membesar dengan warna keemasan, namun kembali memudar ketika sesuatu menekannya mundur. Kalungnya—menahan Ichigo agar tidak berubah terlalu cepat.
Kokuto membalas gertakannya, memukul Ichigo telak di wajahnya. Hal yang sama terjadi pada pria jangkung itu, tubuhnya yang lebih tinggi menjadi keunggulan fisiknya, yang sekarang berubah hampir sebesar truk. Suara tulang yang beradu juga robekan kemeja putihnya terdengar begitu jelas.
Rukia bermaksud untuk menarik mundur Ichigo yang berbaring di atas tanah tanpa bisa berubah lebih lanjut. Pria itu hanya tertegun, saat Kensei menariknya ke belakang dan Chad menghalangi jalur Kokuto untuk kembali menyerang. Tepat waktu, sebelum semuanya menjadi semakin lebih buruk.
"Hentikan kalian berdua!" Kensei berteriak, berusaha menahan Ichigo yang masih menatap marah Kokuto. "Chad, bawa Kokuto mundur!"
"Jangan memerintahku!" Kokuto balas menggertak. Separuh proses perubahannya sudah terlihat, dengan mulut yang menyeringai lebar. Seperti robek, pertama kali dilihat oleh Rukia. Tidak mungkin manusia bisa membuka mulutnya selebar itu dan memerlihatkan gigi setajam belati yang diasah.
"Shuuhei!" Kensei memanggil, ketika Shuuhei berlari terlalu cepat dan membantunya mengangkat tubuh Ichigo. Mereka menghempaskannya ke arah tembok beton, mengunci pergerakannya. "Kontrol emosimu, dammit!"
Rukia melihat beberapa orang—werewolf—memenuhi area sekitar mereka. Seakan sedang memerhatikan pertarungan ilegal di gedung terlantar, sebagian pasang mata berdiri di lantai atas dan daerah gelap yang hampir tak terlihat. Mereka mendengar jelas bagaimana pertarungan itu hampir meledak. Rukia yakin telinga mereka berfungsi lebih peka darinya.
Gadis itu melangkah sedikit takut ke arah Ichigo, melihatnya masih tak bisa mengontrol perubahan diri. Juga cara kalungnya menyakiti dirinya sendiri, bagaimana lehernya tercekik hingga menampakkan memar yang memerah. Salah satu alasan mengapa Ichigo pernah menitipkan kalung itu kepadanya tempo hari, tepat sebelum transformasinya mengambil alih. Kalung itu benar-benar mencegahnya berbuat suatu kesalahan yang berakibat fatal.
"Rukia, mundur!" Kensei menggertak, lebih seperti mencegahnya untuk mendekati Ichigo. Rukia sedikit bergidik, ketika Shuuhei tersentak mundur karena terkena pukulan Ichigo tepat di rahangnya.
"Apa-apaan ini?!" Suara teriakan terdengar jelas, mendekat dari ke tengah perseturuan yang terjadi. Seorang gadis berlari tergesa dan melotot, terkejut melihat apa yang terjadi. Dia mengarahkan langkahnya mendekati Kokuto, yang cakarnya menancap tepat pada lengan Chad. "Kakak, hentikan!"
Kokuto melihat gadis itu, sedikit tidak fokus. Seakan mengerti akan ancaman dari tatapan si gadis, Kokuto mundur dan mengambil napas dalam-dalam. Bajunya sudah robek karena kekuatannya berteriak untuk dilepaskan. Dia berhasil menarik mundur hewan liarnya, walaupun rasa tidak suka terlihat jelas di raut wajahnya.
"Senna—"
Gadis itu menampar Kokuto tepat di pipi kirinya. Begitu keras hingga suaranya terdengar jelas oleh Rukia. "Apa yang kaulakukan, hah?! Bertarung dengan temanmu sendiri?"
"Ini bukan urusanmu, Senna!"
"Ya, bila menyangkut Ichigo! Dia pasanganku!"
Rukia kembali tersentak, kali ini dadanya yang seperti dipukul telak. Senna—si gadis pemberani yang menengahi pertengkaran itu dan berhasil memukul mundur Kokuto—adalah pasangan Ichigo. Warna rambutnya terlihat tidak lazim, ungu tua dan tampak jelas ketika sinar matahari menyinarinya. Matanya besar dan menantang, coklat oker terang hampir seperti emas. Dia cantik dan menawan, pikir Rukia.
"Akhirnya dia muncul," gerutu Shuuhei tanpa mulutnya yang terlihat jelas bergerak. Dia berdiri di samping Rukia sambil mengusap dagunya yang sedikit lebam.
Rukia menyadari bahwa Ichigo sudah bersandar tenang pada tembok. Kensei masih berjaga di sampingnya, mencegah kemungkinan terburuk bisa terjadi lagi. Satu hal yang membuat punggung Rukia terasa bergidik dingin—tatapan Ichigo yang jatuh ke arahnya. Kedua mata yang kembali mengingatkannya akan wujud serigala besar Ichigo, tajam juga hangat. Menantang dan tidak kenal takut, seakan menembus dalam hingga menemukan jati diri gadis itu yang tersembunyi di tempat terdalam bilik hatinya. Rukia sedikit tidak menyukainya.
Senna berjalan ke arah Ichigo, seakan tidak melakukan hal apapun pada kakaknya—Kokuto yang terpaku terdiam. Langkahnya ringan dan terlihat hampir seperti melompat. Senyumnya begitu memikat, namun terasa menekan di satu sisi. Rukia merasa muak, melihat cara gadis itu menatap ke sekelilingnya. Tatapan meremehkan.
"Kau tidak apa-apa, Ichigo?" Dia bertanya, berusaha untuk menarik perhatian Ichigo yang masih tertegun. "Kakakku terkadang tidak bisa mengontrol kata-katanya sendiri, maaf itu—"
"Ini bukan urusanmu, Senna," balas Ichigo, menepis tangan Kensei yang menghalangi jalannya. Dia melangkah tergesa, menemui Rukia yang menatapnya khawatir. Tidak bisa dipungkiri, bahwa Rukia sedikit takut dengan reaksi Ichigo yang bermaksud untuk membela dirinya. Hal ini terlalu berlebihan.
Ichigo mulai menyadari apa yang hampir dilakukannya, melihat ke sekeliling bagaimana kawanan werewolf memerhatikan kejadian yang hampir menjadi arena tarung. Juga Shuuhei yang berdiri di sebelah Rukia dengan tatapan awas.
"Maaf," gumam Ichigo, sekilas mendapati sudut mulut temannya yang lebam karenanya.
Sebuah mobil memasuki pekarangan area. Setiap pasang mata teralih dengan kedatangan Jeep asing yang berhenti tepat di tengah-tengah lapangan. Rasa tegang juga takut terasa begitu kuat hingga membuat bulu kuduk Rukia berdiri. Dia bisa merasakannya dengan jelas, bahkan Ichigo menatap serius pada sosok yang turun dari mobil tersebut. Pintu dibuka dan ditutup dengan berdebam kentara, orang itu tidak menyukai apa yang sudah terjadi. Dia—pria paruh baya yang berdiri setegap patung kokoh. Sepatu boots dan jeans usang, juga jaket kulit yang warnanya sudah mula memudar usang. Tidak menambah kesan lebih baik, selain sebutan preman jalanan atau pengelana rocker yang tiba di tempat antah berantah.
"Kutinggal beberapa hari dan inikah yang terjadi?" Pria itu berkomentar. Suaranya terdengar berat dan rendah, mengisi kekosongan udara yang perlahan mencekik ketegangannya.
Rukia melihat bagaimana pria itu berhasi menyita seluruh perhatian kawanan. Dan dari gesture tubuhnya, dia mengingatkan pada satu orang. Ichigo. Pria paruh baya itu memiliki postur tubuh yang sama, bahkan wajahnya—cara menatap orang-orang di sekitarnya. Tegas dan keras, namun di baliknya memiliki kehangatan yang tersembunyi sempurna.
"Kau tahu konsekuensinya bila memulai pertengkaran dengan temanmu sendiri, Kokuto?" tegurnya dan merubah wajah Kokuto menjadi pucat. "Aku bisa merasakannya di sini," tunjuknya pada kepalanya. "—bagaimana kalian melihat dan menggeram satu sama lain. Dan Ichigo, kupikir kau bisa lebih waspada akan emosi labilmu, son?"
Benar saja, itu adalah ayah Ichigo. Sang Alpha sekaligus pemimpin kelompok. Dia berhasil membungkam semua mulut yang menyeringai dan memaki. Kekuatannya jauh lebih kuat dari perkiraan Rukia sebelumnya. Loyalitas anggotanya pun membantunya untuk tetap berdiri sebagai pusat dari kelompok.
"Bagaimana perjalananmu, Rukia?" tanyanya kemudian di hadapan Rukia. Satu hal yang sama dari ayah-anak tersebut, mereka melangkah tanpa bersuara dan menakuti Rukia hingga ke tulangnya. "Apakah anakku berani untuk melepaskan pengawasannya?" Sang Alpha tersenyum, sedikit aneh tercipta di wajah sangarnya.
"Kau tahu aku tidak akan melupakan tugasku," gerutu Ichigo. Dia sudah kembali ke sifat awalnya, mendengus dan siap untuk menggertak.
"Siapapun yang meragukan gadis ini—Kuchiki Rukia—akan mendapatkan konsekuensi yang setimpal!" Teriakan Isshin menggema tiba-tiba, hampir membuat Rukia terlonjak ke belakang dan menubruk tubuh Ichigo. Suaranya lantang sebagai Alpha yang kuat. "Rukia adalah salah satu bagian dari kita, mulai saat ini. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, awasi Rukia dari serangan para strigoi! Tidak lebih aku meminta kalian hanya untuk menerimanya dalam kawanan."
Suara sambutan menggelegar terdengar dari berbagai sudut, atas dan bawah. Mereka saling bersahutan—seperti nyanyian para anak serigala yang memanggil-manggil pemimpinnya untuk menunjukkan jalan permainannya—menerima peringatan Sang Alpha sebagai tugas mereka selanjutnya. Sebuah sambutan penerimaan, itulah yang terjadi.
"Kau sudah diterima," ucap Isshin yang mendapati kelegaan pada wajah Rukia. "Tidak perlu khawatir bila salah satu dari orang-orangku memojokkan ataupun menyudutkanmu lagi. Dan sebelumnya, aku—Kurosaki Isshin—perlu berkenalan secara langsung kepadamu. Aku Alpha dari kelompok werewolf Amerika Utara."
"Senang bertemu denganmu … Isshin-san," ucap Rukia gugup, menyambut uluran tangan Isshin.
"Kami akan melakukan tugas kami untuk melindungimu—semampu yang pernah kami lakukan atau mungkin akan kami perjuangkan. Selama Byakuya melakukan kewajibannya sebagai spring fairy, kau bisa bergantung kepadaku juga kelompokku." Isshin melirik putranya yang masih berdiri tak bergeming. "Juga putra bodohku, sebagai penjagamu."
"Apa?" Ichigo memprotes tidak suka. "Aku tidak sebodoh dirimu, old man!"
"Ayolah, Ichigo! Kupikir aku tidak tahu apa yang kaupikirkan sekarang?"
"Kau bukan pembaca pikiran! Jadi jangan pura-pura mengerti apa yang ada di dalam otakku," balas Ichigo menggeram.
Sebaliknya, Isshin sama sekali tidak mempermasalahkan perlakuan kasar dari putra satu-satunya itu. Sudah memaklumi, lebih tepatnya seperti itu. "Aku bisa menerka jelas apa yang tertera jelas pada wajah juga sikapmu, son! Karena kau adalah putraku, jadi—bagaimana?"
"Apanya?"
"Jangan balas bertanya," balas Isshin sedikit tidak sabaran. Dia terdiam, memerhatikan ada hal yang terlewat darinya, atau mungkin tidak disadari orang yang bersangkutan. "Kau belum menyadarinya?"
Alis Ichigo berkerut semakin tajam. Jelas-jelas dia tidak suka penuturan ayahnya. "Sudah kukatakan, apanya? Bicara yang lebih spesifik."
Isshin mendesah dan memijit batang hidungnya, terlalu lelah untuk berhadapan dengan ketidakpekaan Ichigo. Itulah yang sering dirasakannya, berharap dia memiliki kekuatan sebagai pembaca pikiran saja. "Sudahlah, lupakan. Lagipula ini adalah masalahmu sendiri, aku tidak bisa ikut campur."
Rukia memandang takjub, bagaimana Isshin dan Ichigo berinteraksi. Tidak mendekati ikatan orang tua-anak pada umumnya. Mungkin lebih ke gaya barat daripada timur, yang membawa kebebasan dalam berkomunikasi juga berekspresi. Rukia tidak bisa membayangkan bila hal itu terjadi kepada dirinya juga Byakuya.
Kawanan werewolf mulai membubarkan diri, berkeliaran keluar dan masuk dari bangunan tersebut. Rukia bisa melihat jelas seberapa banyak anggota yang mengisi regu terkuat di Manhattan tersebut. Lebih dari selusin werewolf dan di antaranya adalah anak muda. Tidak sedikit yang menatap Rukia dengan sikap ingin tahu juga menilai. Seperti menemukan hal baru di dalam komunitas yang sudah berjalan terlalu lama hingga terasa suram. Dan Rukia adalah cahaya barunya.
"Kau tidak mengantar Rukia berkeliling?" tanya Isshin kemudian. "Ini adalah tempat yang besar untuk dijelajahi, jadi kau bisa mengantarnya ke kamarnya untuk beristirahat."
"Ini bukan tempat kalian menetap?" Rukia bertanya lanjut, menyadari gedung itu terlalu kumuh untuk ditinggali sebagai tempat tinggal.
"Tentu tidak, Rukia. Kami hanya memakai tempat terasingkan ini untuk berkumpul, berlatih, dan markas utama New York untuk pertemuan juga rapat. Tempat tinggal kami memakai gedung apartemen di dekat pusat kota, tidak jauh dari sini," jelas Isshin. "Sifat liar selalu diutamakan dalam kebebasan tempat yang tidak memiliki batasan juga aturan. Ini adalah tempat yang tepat untuk mengeluarkan jati diri kami sebenarnya."
Rukia mengangguk, menyetujui. Dia bisa mengerti bagaimana werewolf beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya yang terasa lebih normal.
"Aku permisi dulu, Rukia. Masih ada hal yang perlu kuselesaikan." Isshin tersenyum ramah, sebelum berlalu pergi dan diikuti Kensei juga Shuuhei di belakangnya.
Rukia masih menatapi punggung Sang Alpha, yang dilihatnya seperti pemimpin kelompok berandal berwibawa. Ichigo berdeham pelan, berusaha menarik perhatian Rukia untuk kembali kepadanya. Sekedar menatap ke arahnya.
"Aku akan mengantarmu ke kamarmu," ucap Ichigo, sambil berlalu pergi ke arah bagasi mobil, mengambil koper yang tertinggal.
Langkahnya terasa lebih berat, ketika mengikuti Ichigo tanpa berbicara. Perasaan canggung semakin kuat menggelayuti tubuh juga perasannya. Semua dipenuhi tantangan, bila menyangkut masalah perseturuan kelompok yang terlihat sepele.
Tetsuzaemon muncul dan menegur Ichigo dalam percakapan ringan. Mereka mulai membahas sesuatu yang tidak dimengerti Rukia. Lagi-lagi harus menebak atau menunggu seorang diri. Ketika sebuah teguran menarik perhatiannya. Dari belakang tubuhnya, mendapati seorang gadis yang sempat tidak disukai instingnya sendiri. Senna.
"Kau Kuchiki itu?" tanyanya dengan nada melengking tinggi. "Tidak seperti yang kubayangkan—berkelas atau mungkin terlihat bergemelapan dengan cahaya fairy?"
Rukia menggigit bibir bawahnya, menahan umpatan yang hampir keluar. "Tidak semuanya sesuai dengan pikiran ataupun kehendakmu. Nyatanya, fairy tidak memiliki bubuk bersinar untuk membuatmu terbang. Dan—aku tidak seperti yang kaulihat."
"Bahwa fairy memiliki bau menyengat seperti permen kapas atau sayap yang tumbuh di punggungmu? Itu menjijikkan!"
"Aku bukan fairy!" geram Rukia, memelototi Senna. "Aku … tidak memiliki darah fairy."
Senna terbelalak terkejut, menatap menilai dari atas kepala hingga ujung kaki Rukia. Memastikan tidak ada yang salah. "Tapi, aku jelas-jelas bisa mencium bau fairy darimu."
"Mungkin karena nii-sama—kami sudah tinggal bersama dalam waktu yang lama." Rukia menundukkan kepalanya, menyesali sudah melepaskan apa yang menjadi kelelahannya selama ini. Dia tidak menyukainya, bagaimana cara mereka menatap tubuhnya seperti seorang makhluk aneh.
"Jadi kau benar-benar bukan keturunan fairy? Dan Kuchiki Byakuya bukan saudara kandungmu? Kau—manusia?!"
"Hentikan, Senna!" Ichigo memotong, menggertak Senna untuk mundur. "Alpha sudah mengatakannya, Rukia adalah bagian dari kelompok apapun identitasnya. Jadi, hentikan sikap kekanak-kanakkanmu!"
"Ichigo! Kau membela gadis itu—orang asing ini?" Senna menunjuk Rukia dengan telunjuknya tidak percaya. "Dibandingkan temanmu sendiri? Kita sudah berteman lama, bahkan sebelum perubahan pertama kita terjadi! Dan … aku adalah pasanganmu—"
"Kau yang mengatakan itu sendiri, tidak denganku," bantah Ichigo, mengerutkan alisnya tajam. "Kita tidak memiliki ikatan apapun."
"Karena kau belum menyadarinya, Ichigo! Akui hal itu, kita cocok di segala hal. Kau partner-ku dalam melakukan tugas—menangkap strigoi atau bahkan berburu saat Blood Moon tiba. Mengapa kau masih tetap menyangkalnya?"
"Aku tidak merasakan apapun, Senna. Berapa kali aku harus menjelaskan hal ini padamu?" tanya Ichigo putus asa, melihat gadis keras kepala itu semakin bersikukuh.
"Dan lebih memilih dia," gumam Senna, seperti mendesis saat menunjuk Rukia kembali. "Sungguh disayangkan, kau buta akan takdirmu sendiri, Ichigo. Karena aku tidak akan pernah melepaskan hal ini begitu saja—suatu saat kau akan menyadarinya sendiri."
Senna melangkah pergi, dengan kejengkelan yang membuatnya memaki tak jelas. Hilang kendali, salah satu sifat yang tidak bisa disembunyikan kaumnya.
"Mengapa dia sungguh menyebalkan?" ucap Rukia, berbisik karena tidak ingin gadis liar itu mendengarnya.
"Dia selalu seperti itu, lupakan saja," balas Ichigo, menyampirkan kopernya seakan tidak ada beban.
"Drama Queen, mereka selalu menyebutnya seperti itu," tambah Tetsuzaemon, masih belum melepaskan kacamata hitamnya. "Senna adalah gadis pemberontak dan terkuat di antara kelompok, selain Rangiku yang lebih senior. Dia selalu dihormati teman-temannya, bahkan kakaknya sendiri—Kokuto. Sangat berambisi untuk merebut posisi mate si calon penerus." Dia melirik Ichigo, terlihat dari sudut mulutnya yang berkedut.
"Gadis manja yang selalu menginginkan segalanya," cibir Rukia. "Aku mengerti, sebagian besarnya."
"Lihat! Bahkan Rukia lebih mengerti daripadamu, Ichigo!"
"Diam, Tetsuzaemon!" Ichigo terlihat semakin geram setiap kali dipojokkan. "Senna hanya sedikit berlebihan. Pada dasarnya dia adalah gadis yang baik."
Tetsuzaemon melirik jahil, tertawa ringan ketika mendengar penuturan Ichigo yang terdengar ambigu. "Kau yakin dia benar-benar bukan pasanganmu?"
"Tentu saja bukan! Jangan memulai!"
Rukia memandangnya tidak demikian. Jelas ada sesuatu di sana—yang hanya bisa dimengerti oleh Ichigo dan Senna seorang. Sebuah ikatan yang tidak akan pernah bisa dimasukinya karena sudah terlalu lama terbentuk. Jauh sebelum dirinya dan Ichigo bertemu di Tokyo. Senna memiliki peranan penting dalam kehidupan Ichigo, mengubah pria itu menjadi seperti sekarang ini. Tidak beringas juga tidak lunak terhadap si gadis keras kepala berkepala terong. Ichigo menganggapnya sebagai sesuatu yang lain, dekat dan tidak ingin Rukia tahu apa hal itu. Menguncinya rapat-rapat hati juga pikirannya, dari semua kemungkinan terburuk yang akan menghancurkan dirinya dari dalam—kepercayaannya. Bisakah disebut sebagai rasa cemburu?
"Senna berulah lagi," celetuk seseorang di belakang tubuh Ichigo.
Rukia kembali terpesona, saat melihat rambut berkilau itu terpapar sinar matahari siang. Keemasan yang menyala seperti api. Rangiku berdiri di sana seperti dewi yang turun dari langit.
"Dan kau diam saja dari tadi? Tidak seperti dirimu," ucap Tetsuzaemon.
"Aku tidak ingin berbicara dengannya—gadis bodoh yang tidak tahu caranya bersikap. Karena, aku lebih memilih untuk mengenal gadis pendiam yang berada di dekatmu, Ichigo." Rangiku memerhatikan Rukia, terlihat penasaran saat gadis itu melotot terkejut.
Ichigo mendesah, menatap Rukia dengan tatapan malas. "Kau tahu, dia tidak seperti yang kaubayangkan, Rangiku. Rukia lebih menyeramkan daripada Senna yang bertransformasi—"
Rukia menginjak kaki Ichigo tanpa aba-aba, membuat pria itu mengaduh terlalu keras.
"Seperti itu?" geram Rukia marah, tidak tahan akan sikap Ichigo yang selalu mengejeknya di waktu terberatnya.
Rangiku tidak bisa menahan tawanya, bersama Tetsuzaemon yang tertawa seperti orang gila. "Dia benar-benar tidak terduga! Akhirnya, kau menemukan orang yang bisa menundukkan Ichigo dalam sekali hentakan!" Rangiku berkomentar.
"Itu tidak lucu!" teriak Ichigo, sekali lagi memelototi Rukia yang menyeringai padanya. "Sekarang granatmu sudah meledak, hah?"
"Kau yang menarik pengamannya," balas Rukia.
"Aku menyukaimu, Rukia." Rangiku memeluk erat Rukia sebagai tanda berkenalannya. Rukia bisa merasakan bagaimana dada wanita itu menekan terlalu erat di wajahnya. Rangiku memiliki aset yang besar. "Kita akan cepat berteman—aku bisa merasakannya. Kau bisa tinggal sementara di kamarku, selama para serigala liar itu masih berkeliaran untuk mendapatkan perhatian darimu." Tatapan Rangiku jatuh kepada Ichigo, yang sekarang memicing bingung antara marah atau bertanya.
"Apa maksudmu?"
"Aku tahu dari caramu menatap, Ichigo! Jangan berbohong," goda Rangiku, menampakkan giginya saat menyeringai.
Ichigo hanya bisa terdiam, sambil memikirkan jawaban apa yang harus dilontarkannya. Rangiku kalah satu langkah, tidak bisa bergerak maju selama pria itu tidak menyadari apa yang sudah terjadi di depan matanya.
"Kau benar-benar tidak peka? Payah," ucap Rangiku berkacak pinggang. Rambutnya dipelintir di telunjuknya, mengisi kekosongan waktu. "Sebagai penerus Alpha, kau sama sekali tidak berpengalaman banyak, Ichigo. Kau bisa menjadi lebih tua daripada Alpha bila terus bodoh seperti ini."
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," eja Ichigo di setiap katanya. Bahkan, Tetsuzaemon memandang kosong antara Rangiku juga Ichigo. Pria selalu mengandalkan insting juga logika, bila dibandingkan perasaan mereka yang tertutup debu di dalam hatinya, tidak pernah digunakan.
"Mungkin memang kepalanya sudah terbentur," ucap Rukia, mengikuti alur yang diciptakan Rangiku sebelumnya. Dia berpendapat bahwa ini adalah rencana Rangiku untuk memojokkan si kepala jingga. "Atau terlalu banyak memakan es krim di pagi hari. Sudah kukatakan bahwa kepalamu bisa membeku."
Suara nyaring terdengar jelas, seperti bergemuruh badai yang datang. Rukia terkejut, menyadari itu bukan suara petir ataupun awan yang bertubrukan. Ichigo memegangi perutnya tanpa menyembunyikan rasa malu—terlihat percaya diri melebihi batasan.
"Aku sungguh lapar dan kurasa tubuhku akan tumbang beberapa saat lagi," kata Ichigo. "Ada yang punya es krim?"
…..~*(to be continued…)*~…..
.
.
.
.
.
.
.
Author's note:
Scene 7 akhirnya selesai! Jujur saja aku tidak begitu suka bagaimana scene ini diketik hingga akhir. Aku merasa alurnya terlalu cepat dan tidak bisa menggambarkan karakter baru lebih lama, karena memang sudut pandangnya lebih mengarah di sekitar Rukia. Banyak chara baru bermunculan, dari Isshin si Alpha hingga Kokuto si pemberontak. Yup! Kokuto memang tidak akur dengan Ichigo sejak dulu. Dan Senna adalah adik kandung Kokuto, yang beranggapan bahwa Ichigo adalah mate-nya.
Rukia masih sedikit bingung juga shock di chapter ini. Karena itu dia lebih banyak berkutik dalam pikirannya sendiri, sampai saat Senna mulai memperolok dirinya. Rukia tidak suka diperolok, karena dia sendiri tidak mengerti bagaimana caranya agar tetap bertahan menjadi dirinya sendiri. Dan bahasa yang digunakan di sini adalah Bahasa Inggris, karena setting-nya sendiri adalah New York. ^^
Hubungan Kokuto dan Senna itu sebenarnya sedikit dipengaruhi dari tokoh baru dari film Avengers (yang baru saja kutonton) Age of Ultron. Mereka seperti pasangan kakak-adik Quicksilver dan Scarlet Witch, walaupun bukan saudara kembar seperti mereka. Namun, Senna lebih unggul di sini sebagai adik Kokuto, dibandingkan kakaknya yang lebih seenaknya sendiri. Mereka memiliki ikatan kuat yang sulit untuk dipisahkan.
Untuk masalah pasangan atau mate di sini, sedikit kujelaskan. Pasangan seorang werewolf yang muncul tidak selalu dari kaum werewolf lagi. Dan masalah imprint seperti dalam cerita Twilight berbeda dari pasangan yang kuceritakan di sini. Mereka tidak selalu langsung merasakan pada pandangan pertama. Werewolf tahu bahwa itu adalah mate mereka bisa dikatakan dari insting juga perasaan terdalamnya. Beberapa werewolf membutuhkan waktu untuk bersabar dan mengerti apa yang dirasakannya (peka). Bila werewolf bertemu dengan pasangan hidupnya, maka dia tidak akan melepaskannya dan menunjukkan lebih jelas bagaimana gerak geriknya bila berada di dekat mate-nya. Bisa juga werewolf salah memilih dan mengira orang yang dipilihnya adalah mate-nya, tapi mereka akan merasakan sendiri kalau tiba-tiba mate-nya muncul di depan mata.
Dan … terima kasih bagi para readers yang setia membaca fic ini, yang masih akan terus berlanjut sampai akhir! Karena sempat terhambat sesuatu, jadi aku sedikit terlambat untuk meng-update fic ini TTATT… kuharap kalian masih menikmati ceritanya! Dan terima kasih juga bagi yang sudah meninggalkan review, pesan kesan, kritik, juga pendapat kalian! Love u all~ 3
.
.
Balasan bagi anonymous dan no-login reviewers:
Little Istia: Terima kasih untuk reviewnya ya! Yup, mereka bakal pergi ke New York dan sudah tiba di chapter ini. Hihihi… hubungan Ichigo dan Rukia memang belum terlihat jelas, apalagi masalah romance mereka. Ngg… banyak yang bilang begitu sih, tapi aku belum bisa bilang soal kristalnya itu XD Nanti bakal terungkap di chapter-chapter terakhir. Jadi sabar dulu ya~ :3
uzumakisanti: Terima kasih untuk reviewnya! Ini sudah ada lanjutannya, semoga kamu suka ya! Dan soal masalah cinta Rukia masih agak panjang nih dibahasnya XD
ella mabby chan: Terima kasih sudah mereview! Iya nih, jadi agak lama updatenya karena sudah muncul fic 1 lagi yang multichip XD Rukia udah tiba di New York di sini :3 dan ketemu teman" Ichigo lainnya, semoga chapter ini ga berasa pendek (walaupun ngetiknya udah mentok") Semoga kamu suka dengan kelanjutannya!
Playlist:
Taylor Swift- Welcome To New York
Ariana Grande- One Last Time
Calvin Harris feat Ellie Goulding- Outside
Snow Patrol- I won't Let You Go
Avicii- The Nights
Imagine Dragons- I Bet My Life
Zedd feat. Selena Gomez- I Want You To Know
These songs don't belong to me…
