::The Dark Legacy— First Quarter::
By: Morning Eagle
Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Just to warn you all :: AU, OOC, Misstypos...for this story
Scene 8: That Kind of Feeling
~0*0~
.0.
.
.
.
.
.
.
.
Rukia menapaki koridor berlantaikan kayu yang tidak berderit rapuh. Dindingnya berlapis wallpaper putih bercorak bunga daisy yang cantik. Bahkan, jendelanya memiliki bingkai sempurna tanpa terkelupas. Tempat ini seperti kebalikannya—vice versa dari gedung terbengkalai yang baru saja didatanginya beberapa menit yang lalu. Gedung yang lebih mirip sebagai tempat tersembunyi untuk transaksi ilegal di daerah bawah Kota New York, tidak seindah dan senyaman gedung apartemen berlantai tujuh ini.
Sebuah apartemen sederhana yang terletak dua blok dari tempat pertemuan rahasia kelompok werewolves Manhattan. Gedung merah bata yang terlihat sama dengan bangunan di sekitarnya, memiliki tempat strategis karena mengarah ke arah Sungai East. Tempat tinggal nyaman yang tak sempat terlintas dalam benak Rukia, bahwa mereka butuh ketenangan juga kemewahan akan sofa empuk dan televisi layar datar.
Ichigo berhenti hampir di ujung lorong, dua pintu dari depannya. Rangiku masih menjelaskan bagaimana cara operasi gedung ini berjalan. Tidak ada jam malam, karena anggota kelompok seringkali keluar-datang pada jam yang tak tentu. Terdapat sebuah ruang makan di lobi apartemen, di mana semuanya tersaji dari makan pagi dan makan malam. Makan siang menjadi tanggungan masing-masing anggota yang memiliki jam kerja berbeda. Seorang konstruksi bangunan, supir pengantar barang, ataupun pekerjaan yang lebih mengandalkan emosi stabil—dari guru seni di sebuah pelatihan kursus, hingga perawat Unit Gawat Darurat.
Beberapa werewolf muda masih menjalani studi mereka di sekolah, atau lebih memilih untuk bekerja di mini market sebagai pengisi waktu luang karena tak memiliki hasrat akan keahlian lainnya, selain sebagai 'pembersih jalanan' dari serangan pengganggu malam. Strigoi masih menjadi masalah utama mereka, layaknya hama. Semangat juga labilnya para werewolf muda, seringkali mengganggu para petinggi kelompok sekelas Ichigo juga Kensei yang lebih berpengalaman. Harus ada yang berpatroli dan berjaga. Mencegah kemungkinan terburuk bagi mereka yang bisa ber-transformasi tiba-tiba di depan manusia.
"Ini kamarmu," jelas Ichigo, mengambil fokus Rukia kembali kepadanya. "Ruang duduk yang bersatu dengan kamar tidur, juga kamar mandi pribadi. Cukup walaupun tidak sebesar kediaman Kyouraku di Jepang."
"Sayang sekali kamarku terpaut satu lantai darimu," ujar Rangiku, menunjuk lantai bawah dengan jarinya. "Tapi tenang saja, kau berada dalam jangkauan aman bersama Si Calon Alpha."
"Sudah kukatakan jangan memanggilku dengan sebutan itu, Rangiku." Ichigo mendecak kesal, menaruh koper Rukia di atas lantai. Sebelah tangannya merogoh saku celananya untuk mencari kunci kamar.
"Kalau begitu, kau lebih suka dipanggil sebagai pangeran? Yuck—itu terdengar seperti bangsawan berdarah dingin strigoi!"
"Aku lebih memilih yang terdengar normal. Kupikir, tidak ada yang salah dengan namaku," balas Ichigo. Kunci perak tergenggam dalam genggamannya.
"Memangnya di mana kamarmu?" Kali ini Rukia yang angkat bicara. Matanya melirik kiri dan kanan lorong, berusaha menebak di mana kiranya Ichigo tinggal.
Ichigo menyeringai, menunjukkan gigi taringnya yang terlihat tajam bukan karena asahan. "Tepat di depan kamarmu."
Mata Rukia terbelalak besar, berusaha menahan diri untuk tidak membuka mulutnya. Masih belum terbiasa akan keberadaan Ichigo yang muncul tanpa bersuara seperti angin. Kali ini mereka hanya terpaut tiga kaki dari pintu ruangan masing-masing. Keadaan memang tidak bisa diduga dan tidak memihak. Rukia hampir bisa merasakan bagaimana serangan jantung itu menyerang tiba-tiba.
"Tidak baik menggoda peri manis seperti Rukia," saran Rangiku, mengerling jahil pada Ichigo yang masih memandang Rukia seperti mainan baru. "Aku bahkan bisa melihat air liurmu menetes."
"Rangiku!" Ichigo berteriak marah. Dia tidak suka cara Rangiku menghabiskan waktu luangnya—mengikuti werewolf bodoh kemanapun mereka pergi dan menjahilinya seperti mempermainkan bocah ingusan. Ichigo adalah salah satunya.
"Kamarku ada di lantai bawah, nomor 603. Kau bisa menghubungiku bila butuh sesuatu, terutama masalah wanita," ucap Rangiku menekankan pada kata terakhirnya, terlalu kentara. "Pria di tempat ini lebih menyerupai hewan liarnya sendiri, jadi jangan memercayai mereka untuk meminta pendapat. Dan kau sedang berdiri di depan salah satunya." Ibu jari Rangiku tepat menunjuk ke arah Ichigo yang menatap sangar.
Rukia belum sempat mengatakan apapun, ketika Rangiku membalikkan badannya dan pergi menjauh. Dia mengatakan sesuatu seperti 'ada urusan' atau 'memiliki hal lain untuk dilakukan', sebelum berbelok ke arah lift berada. Kini, kedua orang tersisa bisa merasakan udara yang lebih lega dari sebelumnya.
"Rangiku selalu mengatakan apa yang disukainya. Membiarkan lawan bicaranya tidak bisa menyela di setiap jedanya," gerutu Ichigo, memutar kunci pada kenop pintu dan membuka ruangan yang kini menjadi daerah pribadi Rukia. Tangan kekarnya kembali mengangkat koper Si Mungil dan membawanya ke dalam ruangan.
"Dia orang yang menarik," balas Rukia. Dia menemukan area yang rapi juga tertata memesona. Tiga jendela bertirai mengarah pada jalan raya. Perlahan, cahaya mentari menelisik dari balik celah-celah kecilnya.
Ruang tengah terdiri dari sofa putih dan meja kopi pendek. Di sisi kanan ruangan adalah ranjang besarnya. Berseprai putih senada dengan selimut tebal bercorak zebra. Sisi kiri ruangan terdapat sebuah pintu yang ditebak sebagai kamar mandinya.
"Welcome to your humble home," sambut Ichigo, mendesah lega. Kedua tangannya terentang di samping tubuhnya. "Seperti yang sudah dijelaskan, dapur di lantai satu, ruang bersama di lantai dua. Kalau kau butuh sesuatu, aku ada di depanmu."
Rukia tersenyum geli, mengangguk sekali. "Kupikir aku akan cepat beradaptasi di tempat ini. Asalkan, kalian tidak menggigit."
"Sungguh lucu, Rukia." Ichigo mencibir, memutar bola matanya. "Sial—aku benar-benar butuh makanan. Ayolah, mereka pasti sudah menyimpan makanan di dapur bawah."
Rukia baru menyadarinya, saat perutnya bergemuruh ringan. Dia belum makan apapun sejak berada di pesawat. Ketegangan membuatnya hanya bisa bernapas dan membuka matanya lebar-lebar. Meresapi apa yang terjadi di sekelilingnya seperti penyedot debu.
"Baiklah." Gadis itu menurut, mengekori Ichigo setelah menaruh kopernya di samping sofa panjang, mengikuti di belakang punggung tegapnya.
Mereka berjalan ringan sepanjang lorong—hening bercampur ketergesaan untuk mengisi lambung yang terlalu berisik. Rukia menebak-nebak antara sarapan pagi khas barat atau makanan yang disebut sebagai junk food. Dirinya tidak terlalu mempermasalahkan jenis makanan yang masuk ke dalam sistem tubuhnya. Asalkan berupa energi dan tetap bisa membuatnya berpikir jernih.
Pintu lift menutup kemudian, tombol angkanya berubah semakin menurun. Menuju lantai satu lobi apartemen. Tidak banyak orang yang berlalu-lalang. Pada waktu pagi menjelang siang sebagian kelompok melakukan tugasnya masing-masing. Sisanya hanya bermalas-malasan, atau disebut juga sebagai waktu senggang para petinggi kelompok.
Melewati area depan yang sudah pernah diperhatikannya sejak pertama kali datang ke tempat ini—lobi tanpa meja resepsionis, hanya beberapa sofa beledu gelap dan lampu chandelier tua menggantung di langit-langit. Kali ini Rukia berjalan ke lorong belakang, menuju sebuah tempat lebih nyaman yang disebut Ichigo sebagai ruang makannya.
Sebuah meja bar panjang bertekstur kayu tua di sisi ruangan, dan satu sisinya diisi dengan meja-meja dan kursi kayu yang memiliki barisan acak. Menempel pada dinding bata dan jendela besarnya, cahaya matahari masuk seperti memaparkan karya masterpiece dari sebuah lukisan ternama. Tidak diharapkan oleh Rukia, menemukan sisi menarik dari perkumpulan werewolf yang tergolong liar. Area makan yang menjadi pusat para werewolf yang kelaparan—setiap pasang mata kini jatuh pada sosok gadis mungil itu. Ruangan dengan unsur punk gothic yang kental.
"Duduklah di mana pun kau suka," ucap Ichigo kemudian. "Aku akan mengambil makanannya di belakang, kau tunggu di sini."
Rukia hanya terdiam, sambil memerhatikan Ichigo yang memasuki pintu dapur belakang di sebelah bar. Matanya menelisik ke sekeliling, masih tidak nyaman dengan tatapan menilai dari para werewolf yang sedang menganggur. Beberapa bahkan terlihat lebih tua dari umur Ichigo, terlihat seperti berandalan jalanan dengan tato di lengan juga leher mereka. Rukia memilih meja yang terpojok di samping jendela besar. Entah mengapa, tidak ada werewolf yang duduk di sekitar cahaya matahari yang jatuh di bagian tertentu. Seakan mereka takut dengan cahaya terang itu sendiri—lebih seperti perwujudan musuh mereka sendiri, para strigoi.
Rukia menundukkan kepalanya, berusaha fokus pada tangannya sendiri dan tetap tenang. Jantungnya sudah jauh lebih stabil, tapi pikirannya tidak. Kusut dan tak selaras dengan apa yang dirasakannya. Semuanya terasa baik-baik saja, namun justru terasa salah ketika dia kembali melihat ke belakang. Kehidupannya benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak akan pernah bisa pulih kembali seperti sedia kala, selama pusat kehidupannya kini berpusat pada sesuatu yang asing baginya. Fairy juga werewolf. Ichigo. Pria aneh keras kepala yang terlalu peduli padanya. Ataukah hanya mengemban tugas demi harga dirinya sebagai penerus?
Ichigo datang tidak lama kemudian, dengan sebuah nampan besar yang dibawanya tanpa beban. Dua piring besar berisi sarapan sisa pagi itu—telur setengah matang, bacon bertumpuk, juga pancake seperti menara bersusun dengan saus caramel-nya—dua gelas besar air mineral, dan satu ember es krim coklat mint. Mata Rukia terbelalak lebar begitu nampannya ditaruh di atas meja, hampir menutupi seluruh permukaannya.
"Ada apa?" Ichigo memandang penuh tanya, duduk dengan santainya. Senyumnya sedikit terangkat di sudut mulut, membentuk seringai kasat mata.
"Kau selalu memakan es krim." Rukia menunjuk ember es krim dengan mata tajamnya. "Dan sarapan ini terlalu banyak."
"Aku bisa menghabiskan sisanya, kau tenang saja. Ada masalah peraturan mengenai 'tidak boleh menyia-nyiakan makanan' di tempat ini, walaupun selama ini tidak pernah ada yang menyisakan sedikitpun pada piring mereka. Werewolf butuh makanan sebanyak yang mereka bisa makan, selama piringnya belum terlihat kosong."
"Brutal," gumam Rukia mengernyit, memerhatikan Ichigo sudah memakan tiga bacon dalam sekali lahap.
"Itu yang disebut dengan asupan gizi yang cukup—bagi kami. Sekarang makanlah sarapanmu sebelum kuhabiskan lebih dulu." Kali ini sepotong pancake besar masuk ke dalam mulutnya, yang kembali menyeringai ketika Rukia menatap tajam.
Pembantaian makanan itu berakhir tanpa tersisa sedikitpun potongan terkecil di atas lapisan piring putih. Rukia merasakan perutnya meminta lebih, ketika memasukkan potongan telur pertama ke dalam perutnya. Tubuhnya tidak selaras dengan jalan otaknya, yang hampir menyamai kapasitas seorang werewolf kecil.
Dia berhasil menyantap ludes porsi besarnya, setelah Ichigo menghabiskan setengah es krim seperti mesin pemotong kertas—tak pernah berhenti mengunyah—tanpa merasakan beban bertambah di perutnya. Sesekali matanya menerawang ke balik jendela, memikirkan sesuatu yang tak dimengerti Rukia. Entah masalah pribadi atau tatapan tajam anggota kelompok yang menusuk dingin di punggung Rukia. Gadis itu bisa merasakannya begitu jelas, walaupun tidak memiliki indera peka seperti werewolf. Orang-orang itu seakan menatap tidak suka kepadanya. Selama Sang Alpha tidak ada dalam jangkauan pandangan, werewolves lainnya bisa mengatakan apapun isi hati mereka yang terpampang jelas pada tatapan. Mata tidak pernah bisa berbohong.
"Jangan pedulikan," celetuk Ichigo, menyentuhkan ujung sendoknya pada bibir Rukia. Es krim dingin dan berbau mint tepat berada di depan mulut gadis itu. "Ini hal biasa yang terjadi setiap harinya. Kau akan terbiasa seiring berjalannya waktu."
Rukia membuka mulutnya tanpa memprotes, merasakan rasa dingin itu meleleh di dalam mulutnya. Manis seperti di Kutub Utara.
"Apa mereka selalu seperti ini kepadamu?" tanya Rukia. Wajahnya menunduk ragu, hanya tertuju pada jari-jari panjang Ichigo yang terkepal ringan di atas meja. Rukia jarang memerhatikan. Tangan pria itu jauh lebih besar daripadanya. Terbersit pikiran yag membuatnya bertanya-tanya, sehangat apakah genggaman tangan si werewolf jingga bila bertumpu pada jari mungilnya.
"Tidak selalu. Hanya beberapa anggota senior yang merasa diri mereka lebih pantas menyandang gelar Alpha berikutnya. Menurutku itu hal yang bodoh, karena kami tidak memegang aturan bangsawan ataupun sistem Imperialisme seperti manusia. Werewolf adalah makhluk yang liar, jadi hukum rimbalah yang berlaku."
"Yang terkuat adalah pemimpinnya."
"Bukan hal asing bila terjadi penantangan pada Sang Alpha dari mereka yang terlalu berambisi akan pemikiran egoisnya. Yang menang akan memegang gelar penerus Alpha, dan yang kalah tersingkirkan dari kelompok—pengasingan."
"Seperti itukah?" Rukia sedikit terkejut, menyadari konsekuensi menantang Sang Alpha sangatlah berbahaya. "Bagaimana—misalkan Alpha itu sendiri yang mati karena usia ataupun kalah dalam pertarungan? Siapa yang menjadi penerusnya?"
Ichigo memandang Rukia tanpa emosi berlebih, hanya menatap dan seakan menerawang ke masa lalu. "Kompetisi—pertarungan dari siapapun yang ingin menggantikan posisi Sang Alpha. Hanya saja, pihak yang kalah tidak akan diasingkan dari kelompok. Ini jauh lebih buruk, mendapatkan gelar pecundang yang menempel lekat di sisa hidupnya. Menjadi bahan ejekan anggota lainnya, terkadang memilih untuk mengasingkan dirinya sendiri tanpa perintah Sang Alpha. Jarang yang melawan balik, karena harga diri mereka sudah jatuh ke dasar jurang terdalam."
"Dan kau masih bisa hidup di tengah-tengah kekacauan itu," ucap Rukia. Sedikit merasakan apa yang akan terjadi bila dirinya berada di posisi yang diasingkan tersebut. Menyakitkan dan terasa tidak adil. "Kalian berjalan dalam kesatuan kelompok yang saling menyokong, namun bisa berubah dalam sekejap mata menjadi yang teraneh, berdiri di antara teman-temanmu."
Ichigo mengeruk lagi es krimnya, setelah ditelantarkannya untuk beberapa menit. Bukan hal yang lumrah untuknya. "Ayahku selalu mengatakannya sebagai insting terikat werewolf. Mungkin seperti ini yang dimaksudnya. Selama kami bisa berjalan sesuai aturan dan perintah Sang Alpha, tidak akan ada yang menghakimi diri masing-masing karena kesalahan akibat keegoisan diri yang menghancurkan harga dirimu."
"Instingnya adalah menyudutkan temanmu yang memberontak," cibir Rukia. Mulutnya mengerucut cepat, ketika sendok es krim disodorkan kembali kepadanya.
"Hei—itu aku yang sedang kaubicarakan! Lagipula, apa yang menjadikan seorang pemberontak melawan Sang Alpha merupakan masalah pribadi mereka masing-masing. Pengkhianatan selalu menjadi alasan utama, karena itu werewolves lainnya merengek dan menghina yang telah gagal seperti anak anjing. Seperti yang kaukatakan, ini semua terasa tidak adil. Satu-satunya jalan yang lebih baik adalah menjadi pengelana seorang diri—yang diasingkan."
Rukia menunduk dalam, tidak tahu harus setuju ataukah menyangkal. Ini adalah kehidupan Ichigo. Sekeras apapun di dalamnya, tidak akan pernah bisa dirasakan gadis itu seperti yang dirasakan Ichigo. Darah werewolf tidak mengalir di dalam nadinya, begitu pula hatinya. Mungkin nasibnya masih jauh lebih baik daripada menjadi anggota serigala liar jadi-jadian yang sulit untuk bertahan seorang diri di dunia yang kejam ini. Walaupun, jati dirinya masih menjadi pertanyaan terbesar dalam hidupnya.
"Makanlah, ini bisa memperingan kepalamu," lanjut Ichigo, bersikeras menyodorkan sendok es krim.
"Karena itu kau memakan es krim? Sebagai pelarian dari semua masalah ini yang mengejarmu?" Rukia membuka mulutnya lebar. Sebagian dari kebiasaan Ichigo menular padanya. Dalam bentuk anehnya.
Ichigo mengangguk, menyetujui. "Itu salah satu alasannya. Ini pilihan terbaik daripada harus meminum alkohol ataupun merokok. Sebagian besar memilih pilihan itu, tapi aku tidak. Es krim baik untuk menaikkan kadar gulamu."
"Aku lebih percaya bila kau adalah penderita diabetes akut."
"Dengan tubuh seperti ini?" Ichigo balas mencibir, membuka kaosnya ke atas. Perut berototnya terlihat sekilas, membuat Rukia harus menahan napasnya dalam beberapa detik. "Please! Jangan samakan aku dengan mereka yang mengisi waktunya dengan pekerjaan, donat, uang, dan ikat pinggang baru."
Pertanyaan terbesar, bagaimana mungkin pria itu bisa menahan perutnya selama seluruh makanannya belum selesai dicerna di dalam lambung. Atau mungkin masih tersangkut di tenggorokannya. Jawaban satu-satunya yang bisa mewakili adalah bakat-alami-menyebalkan dari seorang werewolf muda yang sehat.
"Aku akan kembali ke kamarku," celetuk Rukia tiba-tiba, menghindari tatapan Ichigo yang jatuh kepadanya. Lebih tepat disebut sebagai menghindari. "Oh—piringnya. Di mana dapurnya?"
"Biar aku saja," tawar Ichigo, tanpa berniat untuk bangun dari duduknya. "Lebih baik kau istirahat. Setelah perjalanan sepanjang ini, di mana sopan santunku?"
"Hmhm…"
"Kau yakin kau baik-baik saja?" Ichigo bertanya sekali lagi, ketika Rukia hampir beranjak dari kursinya. Gadis itu terlihat lebih lesu dari sebelumnya. Bukan hanya karena masalah jetlag ataupun lingkungan barunya.
Rukia memaksakan tersenyum, tapi diurungkannya. Itu bukan seperti dirinya. Tersenyum untuk Ichigo? Sejak kapan dirinya jadi selunak ini?
Panggilan terdengar nyaring, begitu Rukia hendak membuka mulutnya untuk menjawab. Seseorang memanggil Ichigo, melengking tinggi dan terdengar merajuk. Rukia membangun kembali alarm siaganya. Dia tahu—seakan sudah tertanam dalam darah dagingnya—asal suara yang mengganggu jalan pikir juga beban bertambah di kedua tangannya. Terkepal erat seperti bongkahan batu.
"Ichigo!" Senna menerjang Ichigo dari belakang, hampir terlihat seperti mencekik lehernya. "Hei, semuanya sedang melakukan patroli. Kau mau bergabung? Kita seperti sebelumnya, menelusuri daerah Manhattan dan Brooklyn?"
"Senna," tegur Ichigo, menggeram rendah yang terdengar samar-samar. "Kau tahu bukan, kalau kami baru saja tiba di sini. Biarkan anggota lainnya yang melakukannya, mereka terlalu banyak menganggur."
"Uppsie—kau benar. Kalau begitu, aku akan memijit bahu dan kakimu!"
Rukia tersedak napasnya sendiri, membuat pandangan Ichigo dan Senna beralih kepadanya. Gadis itu tidak bisa menahan rasa geli jijiknya.
"Maaf, sebaiknya aku pergi … dan silahkan lanjutkan perbincangan kalian, love birds."
"Hei!" Ichigo memprotes, memolototi Rukia yang menggigit bibirnya kuat-kuat—menahan tawanya keluar. "Sudah kukatakan kalau dia bukan—"
"Apa masalahmu, Tinker Bell!" Senna maju lebih dulu, menantang Rukia dengan sikap dominasinya. "Kau mau aku merobek sayapmu dengan taringku? Uppsie—aku lupa kalau kau itu manusia biasa." Seringainya menampakkan gigi taringnya, mengejek yang merendahkan.
"Senna!"
"Itu lebih baik daripada anak anjing sepertimu dengan otak bodoh. Apa yang bisa kaulakukan selain menggertak, puppy?" balas Rukia, berkacak pinggang.
Senna menggeram kesal, menerjang Rukia dengan tinju terkepal di atas kepalanya. Ichigo mencegahnya tepat waktu, meraih pergelangan Senna dan menariknya ke belakang. Sebelum kericuhan yang tidak perlu terjadi dan mendapat sanksi dari Sang Alpha.
"Senna! Hentikan!" Ichigo mendesis rendah, berusaha menekan Senna untuk mundur ke belakang.
"Dia yang memulai lebih dulu! Dasar perempuan tidak tahu diri! You bitc—"
"Senna! Back off!" Ichigo menghentakkan Senna ke belakang dan memunggungi Rukia sebagai tameng. "Kau sudah mendengar perintah Alpha, bukan? Jangan memulai, atau kali ini kau berhadapan denganku!"
"Sekarang kau memihaknya, Ichigo?! Kau gila! Kau adalah pasanganku dan sekarang kau lebih membela gadis manusia itu!"
"Sudah kukatakan aku bukan mate-mu, Senna," balas Ichigo menggeram kesal. Penat di kepalanya berdenyut-denyut seperti halilintar di siang bolong. "Pergilah!"
Senna tidak bisa melakukan apapun selain berusaha memberikan tatapan menusuk pada Rukia di belakang punggung Ichigo. Dia menggigigit bibirnya kuat-kuat, sebelum berbalik dan berlari pergi dengan hentakan kaki yang keras. Ichigo jauh lebih kuat darinya dan Senna tidak bisa melawan balik calon penerus Alpha yang dapat menancapkan taringnya sewaktu-waktu.
Ichigo mendesah dalam. Tubuh lelahnya kini berbalik menghadap Rukia yang mengerutkan dahinya dalam. Bibirnya mengerucut tidak suka, masih memandang ke arah Senna berlalu.
"Ada apa denganmu?" tanya Ichigo. Rasa kesalnya masih kental terdengar dalam suara beratnya. Emosi seorang werewolf sulit untuk dikendalikan naik atau turunnya.
"Ada apa denganku? Jelas-jelas dia yang bermasalah!" tunjuk Rukia pada ruang kosong.
"Senna terlalu sensitif pada sekitarnya, karena itu jangan sekali-kali memancing emosinya. Dia benar-benar sumber masalah, kau tahu?"
"Tentu! Urusi saja Drama Queen-mu itu!" balas Rukia berteriak, beranjak pergi kemudian menapaki koridor menuju lift.
Ichigo berusaha mencegahnya pergi, namun terlambat. Dia tidak bisa melakukan apapun selain memandangi punggung Rukia yang berubah kaku dan awas. Gadis itu benar-benar marah dan dia tidak tahu apa masalahnya. Karena Senna? Lalu, mengapa?
Sekali lagi Ichigo mendesah, mengacak-acak rambutnya. Berharap rasa pusingnya segera menghilang dan menguap di bawah sinar mentari. "Women…"
.
.
…..~***~…..
.
.
Rukia bergelung dalam kasur empuknya tanpa bisa melakukan apapun. Separuh harinya dihabiskan dengan tidur siang yang lama juga mimpi buruk. Semua karena kejadian siang tadi. Karena si sumber masalah di dalam kelompok. Senna.
Dia kembali menggeram kesal, menutupi wajahnya dengan bantal dan berteriak sekeras mungkin. Hidupnya sudah terlalu rumit, dan kali ini ditambah dengan masalah yang biasanya bisa dihindarinya. Karena itu Rukia tidak suka bergaul terlalu dekat dengan teman-teman perempuannya semasa sekolah. Bisa dikatakan mereka adalah bom atom, begitu pula dirinya, bila berbenturan akan menciptakan ledakan kuat seperti nuklir. Saling berebut pria idaman, juga marah karena masalah sepele. Selalu mengenakan aksesoris yang sama sebagai simbol pertemanan. Berbelanja barang yang serupa. Menghabiskan hari libur dengan pesta piyama dan bertukar rahasia pribadi. Bukankah itu adalah hal yang merepotkan? Dan Senna bagaikan para perempuan itu—menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bergosip dan berusaha menubruk pria idamannya.
Rukia lebih suka melakukan tugasnya tanpa terbebani kehidupan sosial yang penat. Menjadi wakil ketua Osis sudah cukup berat. Mencari waktu luang yang bisa menenggelamkan emosinya adalah hal yang tepat. Bekerja paruh waktu dan sesekali mengikuti kelas kaligrafi kakaknya. Semuanya terasa normal untuk beberapa minggu yang lalu.
Suara ketukan terdengar di lorong depan. Rukia bangun dari tidurnya, menyadari itu bukanlah pintunya. Mungkin pintu tetangga depannya. Ichigo?
Kakinya mengendap dan beringsut ke arah lubang pengintip di pintu depan. Rukia berjinjit, bertumpu pada pintu kayu sambil menutup sebelah matanya. Dan di sana dia mendapatkannya. Senna membuka pintu kamar Ichigo tanpa beban. Dia memiliki kunci cadangan dan masuk seenaknya.
"Perempuan itu…" desis Rukia, tidak bisa melihat apapun saat pintunya tertutup. Seharusnya bisa dia tebak bahwa Ichigo memiliki sesuatu dengan Senna. Hal yang tidak mungkin bisa dimasuki oleh Rukia begitu saja.
Di saat seperti ini dia butuh udara segar. Rukia segera menyambar jaket jeans-nya dan tas selempangnya. Dia memakai boots dengan tergesa, sebelum mengendap keluar kamar seperti pencuri ulung. Ichigo akan mendengarnya dengan mudah bila Rukia tidak berhati-hati keluar. Telinganya lebih tajam dari alarm kebakaran sekalipun.
Rukia berhasil menutup pintu tanpa bersuara dan mengendap cepat menuju lift di ujung koridor. Berharap pria itu tidak menyusulnya secepat kilat dan menarik kerahnya kembali ke dalam kamar.
Telunjuknya memencet tombol turun berulang kali, sebelum lift berdenting nyaring. Rukia bernapas lega saat lift sudah bergerak turun. Dia hanya butuh jalan-jalan sebentar dan mungkin ke mini market. Ichigo sudah mengatakannya sebelum ini, bahwa area ini adalah area werewolf yang dijaga ketat. Tidak ada strigoi di malam hari. Ini bisa dikatakan aman.
Pintu lift bergeser terbuka dan Rukia hampir tersedak napasnya sendiri begitu melihat Shuuhei di depannya. Pria itu menatapnya bingung, menghalangi jalan keluar yang seharusnya bisa Rukia tembus dengan mudah.
"Kau mau ke mana? Lalu, di mana Ichigo?" tanyanya tanpa mencium kecurigaan apapun. Dia terlalu tidak peka pada masalah yang jelas terlihat di depan mata. Atau mungkin bisa dibilang bodoh.
"Aku … perlu ke mini market," jawab Rukia berbisik, mencengkram pegangan tas ranselnya terlalu kuat.
"Mini market ada di ujung blok. Dan mengapa kau tidak bersama Ichigo?"
"Aku hanya ada perlu sebentar. Kalau begitu permi—"
"Tapi dia penjagamu," cegah Shuuhei, menutupi jalan yang Rukia akan ambil. "Bukankah dia selalu menemanimu kemanapun kau pergi?"
"Ini…" Rukia tidak bisa memikirkan masalah apapun lagi untuk menghindarinya. "Kau tahu … masalah perempuan."
"Perempuan?" Shuuhei mengerjap beberapa kali, sebelum menemukan jawabannya. Wajahnya perlahan berubah semerah tomat. "Ohhh … perempuan…"
"Kau tahu masalah perempuan, bukan? Setiap bulan? Kami harus menahan sakit—"
"Oke, oke cukup!" Shuuhei menghentikannya dengan segera, mundur beberapa langkah ke belakang. "Beberapa werewolf muda masih berjaga di area ini, jadi kau akan aman."
"Terima kasih." Rukia segera berlari tanpa aba-aba. Mendorong pintu lobi hingga menghentak keluar.
Suara Shuuhei terdengar samar-samar dari belakang, seperti 'berhati-hati' dan 'tidak perlu berlari'. Rukia tidak memedulikannya, selain merasakan udara dingin yang masuk ke dalam paru-parunya begitu kuat. Lampu jalanan menjadi pijakan pengarahnya, seperti jalan emas yang ditapaki Dorothy dalam kisah Oz. Hanya saja Manhattan tidak secantik negeri dongeng. Gelap di malam hari dan berbahaya bagi seorang gadis kecil seperti dirinya.
Jalanan di sekitarnya berasa hening dengan hanya beberapa orang yang lewat. Tidak sepadat pusat Kota New York. Beberapa rumah terlihat seperti tidak berpenghuni, juga jalanan yang sepi dari kendaraan umum.
Rukia memperlambat langkahnya. Napasnya terengah dan menyadari tidak ada apapun di ujung jalan. Blok berakhir di sini, tanpa ada tanda-tanda mini market. Kepalanya kembali memerhatikan jalur yang sudah dilewatinya. Seperti jalur gelap tanpa berujung. Kemungkinan dia salah mengambil jalur atau sudah terlewat.
Gadis itu terdiam di ujung jalan. Matanya memerhatikan tanda rambu lalu lintas yang tidak memperbolehkan kendaraan untuk terparkir di sisi jalan. Beberapa bagiannya sudah berkarat dan menekuk. Terabaikan begitu saja, seperti dirinya. Sekarang Rukia bisa merasakannya, bagaimana rasanya menjadi yang tersesat dan terabaikan.
Suara gemuruh motor terdengar di belakangnya, berikut cahaya lampunya yang menyilaukan mata. Motor itu berhenti tepat di sebelahnya, hampir memotong jalurnya beranjak. Jantung Rukia berdegup kencang, ketika menyadari ada bahaya lain yang mengintai dirinya selain strigoi. Perampok bahkan penculik.
Pria itu segera membuka helmnya, sebelum Rukia sempat berteriak dan menyerangnya dengan tas selempang. Itu Ichigo, menatap Rukia tajam sekaligus kebingungan.
"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Ichigo, terdengar menuntut. "Kau pergi seorang diri tanpa mengabariku lebih dulu."
"Aku butuh untuk ke mini market," balas Rukia ketus, ketika menyadari apa yang menjadi pemicu dirinya berlarian di malam gelap. "Lebih baik kau kembali saja ke kamarmu dan bermesraan dengan pasanganmu itu!"
"Pasangan? Apa maksudmu?"
"Senna! Siapa lagi?"
"Aku tidak berada di kamarku, kalau perlu kautahu. Aku mencium baumu, begitu hampir memasukkan motorku ke garasi." Ichigo menyeringai lebar, mengetahui wajah Rukia sedikit merona karena kesalahannya. "Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan bersama ayahku dan beberapa anggota kelompok. Mendengar kau tertidur pulas, tidak ada masalah aku meninggalkanmu untuk beberapa jam. Lagipula, ada Chad dan Tetsuzaemon yang berjaga di apartemen."
"Kau … mendengarku tidur?"
"Kau mendengkur," jawab Ichigo santai. "Cukup keras."
"Aku tidak mendengkur! Tunggu—kau masuk ke kamarku?"
"Tidak perlu masuk ke dalam, karena aku bisa mendengarmu dengan jelas dari luar."
Rukia membuka mulutnya tergagap. Dia tidak bisa berkomentar apapun selain memukul lengan Ichigo sekeras mungkin.
"Hei!" Pria itu memprotes kesal, namun tidak membalas. Tidak perlu karena dia tidak merasakan sakit apapun di atas kulitnya yang tergolong keras. "Apa-apaan itu?"
"Kau mengganggu privasiku, bodoh!"
"Lalu apa yang harus kulakukan kalau dengkuranmu terdengar jelas oleh telingaku? Koridor masih belum termasuk batas wilayahmu."
"Salahkan telinga … telinga menyebalkanmu itu!"
Ichigo sedikit tersentak dengan teriakan Rukia. Mampu untuk mengganggu tetangga di sekitaran blok yang mungkin sudah tertidur lelap.
"Baiklah, sudah cukup! Naiklah!"
"Apa?" tanya Rukia balik, tidak mempercayai apa yang sudah didengarnya barusan.
"Na-ik. Hari belum terlalu malam, aku akan membawamu keliling kota," tawar Ichigo, meraih helm cadangan yang terikat di bagian belakang, menyerahkannya pada Rukia.
"Untuk alasan apa?" Rukia kembali bertanya, namun sudah memakai pengaman helmnya. Separuh dirinya merasa antusias.
"Haruskah selalu dengan alasan? Naik saja."
Rukia memandangi motornya yang masih berderu keras. Ducati Monster dengan warna hitam dan merah pada bagian body depannya. Bukan motor sport keren yang seperti perwakilan dari masa depan.
Gadis itu naik ke belakang Ichigo, dengan bantalan sedikit lebih tinggi dan membuatnya hampir menyamai tinggi pria di depannya. Tangannya bergerak gelisah, antara memegang jaket Ichigo di bahu atau melingkar di pinggangnya. Rukia menggelengkan kepalanya, lebih memilih untuk mengeratkan pegangannya di bahu Ichigo.
"Hold tight!" Ichigo memutar gasnya, hingga motor melaju kembali ke jalanan.
Rukia merasakan bagaimana rasanya angin berhembus menerpa wajahnya. Jantungnya berdegup kencang, menyamai gemuruh motor yang melaju semakin kencang. Lampu jalanan berubah menjadi kilatan cahaya yang saling bersambung satu sama lain. Tidak ada siapapun di sekelilingnya, selain punggung hangat Ichigo dan suara tawanya. Rukia tidak pernah menyangka, bahwa menaiki motor di gelap malam adalah pilihan yang menyenangkan.
"Kau terlalu cepat!" teriak Rukia, spontan melingkarkan tangannya di pinggang Ichigo saat motornya melaju semakin cepat. Takut untuk terjatuh ke atas trotoar yang kasar.
"Tapi kau menyukainya, bukan?" Suara Ichigo teredam dalam helm yang menutupi sebagian besar wajahnya. Kaca pelindungnya diangkat ke atas, sehingga matanya bisa melihat Rukia lebih jelas.
"Lihat ke depan!" Rukia berteriak panik dan memukul punggungnya sekeras mungkin.
Ichigo tertawa keras, menghentikkan motornya saat lampu merah menyala terang. Beberapa mobil mengantri di depannya, hanya berjarak beberapa inci saja setelah dia mengerem.
"Tenanglah! Aku masih memiliki insting yang kuat, jadi kau akan baik-baik saja!"
"Ya! Setelah wajahmu mencium kaca mobil di depanmu! Dan wajahku menghantam kepala kerasmu!"
"Itu akan terasa lebih sakit daripada menghantam kaca belakang mobil. Kepalamu sekeras batu!"
Rukia tidak sempat membalas, ketika motornya kembali melaju dan berbelok ke kanan. Jalanan jauh lebih terang dan memasuki komplek yang lebih ramai. Restoran di tikungan jalan berlanjut dengan toko laundry dan perkantoran kecil. Mobil lebih banyak melaju dan terparkir di sisi kanan jalan, kawasan yang berarti manusia biasa masih bebas melakukan aktivitasnya.
Beberapa papan reklame terpasang di atas bangunan dengan lampu kuning menyala terang. Suasana menjadi semakin lebih terasa menyala, ketika Ichigo kembali berbelok dan melajukan motornya ke jalan raya lebar. Di depan sana, Rukia melihatnya jelas. Bangunan tinggi dan bercahaya seperti yang terlihat di film layar lebar. Mirip dengan jalanan utama Tokyo yang tidak pernah tertidur di waktu malam, terang dan memaparkan kemewahannya.
"Broadway!" jelas Ichigo sedikit lebih keras karena suara klakson kendaraan dan keramaian yang bergemuruh. "Seharusnya kautahu bila sering menonton drama Amerika!"
"Aku tahu!" balas Rukia, melihat gedung teater dan layar pertunjukkannya. Phantom of The Opera, Wicked. Lampu hijau, ungu, kuning, hingga biru terang.
Motor kembali berhenti di lampu merah. Rombongan manusia menyebrang jalan dengan kesibukan masing-masing. Rukia memerhatikannya lebih jelas, bagaimana tempat itu berdiri tanpa mengusik perhatian orang yang lewat. Para penduduk yang sudah terbiasa, tidak seperti dirinya. Matanya terus melebar untuk mengambil setiap momennya, merasakan menjalar cepat di atas permukaan kulitnya.
Rukia menekan bahu Ichigo untuk sedikit berdiri dan mengamati apa yang ada di hadapannya. Terlalu banyak taksi kuning yang mendominasi jalanan menjadi salah satu ciri khas Broadway. Drama musikal dan teater pertunjukkan impian.
"Lampunya sudah kembali hijau! Duduklah!"
Rukia menghiraukan perintah Ichigo, tetap dalam posisinya. Motor melaju perlahan ketika suara klakson terdengar nyaring dan memaksa untuk maju.
"Rukia!"
"Kau terlalu khawatir! Aku memegang bahumu!" balas Rukia, kembali duduk dan bersandar pada punggung bidangnya. Dia tidak menyadarinya selama ini bahwa tubuh pria ini begitu hangat dan lembut. "Dan kau akan menangkapku, kalau aku terjatuh."
"Apa?" Ichigo kembali bertanya, tidak mendengar sebagian kata yang dilontarkan Rukia di bagian akhir, juga karena terlalu fokus untuk menghindari bus umum dan taksi di depannya.
"Tidak ada."
Mereka kembali berkendara melewati beberapa blok dan berbelok ke area China Town. Warna merah mendominasi dan lampu lampion terlihat lebih banyak bergelantungan di atas kepala. Jalan lebih padat akan kendaraan dan penduduk Asia mengisi berbagai restoran pinggir jalan hingga penjual kaki lima.
"Tempat apa ini?" tanya Rukia, melihat para pedagang yang sibuk melayani pelanggannya. Dari jauh terlihat asap mengepul di udara, karena panasnya masakan hingga tercium dari jarak beberapa puluh meter.
"China Town—pusat area penduduk Asia di New York. Makanan fast food Asia bisa didapatkan dengan mudah di sini."
"Cocok untukmu."
"Kau tidak akan pernah bisa berhenti makan selama melalui jalanan ini. Percayalah, kau akan ketagihan ketika mencoba mie dan pangsit mereka," Ichigo menjelaskan. "Juga lebih banyak area terselubung, kejahatan dunia bawah bersembunyi. Jangan pergi ke area ini seorang diri! Kau akan menjadi sasaran empuk bagi mereka."
"Karena aku orang Asia? Itu terdengar rasis!"
"Human trafficking—perdagangan manusia. Sebagian besar berpusat di Asia, bukan? Itu bukan hal aneh lagi, Rukia. Kau gadis kecil yang sesuai dengan kategori incaran mereka."
"Sekarang kau mengejekku!"
"Kau lebih menyerupai anak empat belas tahun daripada gadis remaja!" Ichigo tidak bisa menahan gurauannya, berujung pada kepalan tangan Rukia yang menghantam lengan atasnya. "Hei—aku mengatakan yang sejujurnya!"
"Itu karena badanmu yang terlalu besar! Juga rambut jingga anehmu itu!"
"Ini tidak ada kaitannya dengan rambutku—dan lagipula ini disebut merah daripada jingga. Ini rambut asliku, asal kautahu!"
"Rambut Renjilah yang merah, sedangkan kau jingga seperti jeruk," ucap Rukia bersikeras.
"Itu rambut yang dicat, tidak denganku. Aku mewarisi darah Inggris, jadi jangan samakan aku dengan preman jalanan seperti dirinya."
Rukia terdiam, berpikir dan menyadari mengapa Ichigo terlihat lain dari keturunan Asia lainnya. Isshin murni orang Jepang, dengan nama Kurosaki juga rambut hitam dan mata tajamnya. Tidak dengan Ichigo, dengan tubuh lebih kurus namun tinggi dan kekar. Garis rahangnya lebih tegas juga tulang pipi yang tinggi. Hidung mancungnya seperti kebanyakan pria asing dari barat, ibarat pangeran dari negeri seberang. Matanya hazel terang, seharusnya membuat Rukia sadar bahwa pria itu separuh keturunan asing.
"Jadi kau mewarisi sebagian besar gen ibumu?"
Ichigo tidak menjawab, hanya berdeham dan mengangguk kentara. Tidak membuat gadis itu puas, sekaligus penasaran. Seperti apa rupa ibunya? Ichigo belum pernah membahasnya sebelum ini. Apakah dia juga merupakan keturunan werewolf?
Motor melaju lebih kencang di area yang tenang, memasuki daerah yang dikenal Rukia pertama kali. Tempat tinggal para werewolves juga markas mereka. Malam semakin larut dan Ichigo melaju lebih lambat saat memasuki area apartemen. Beberapa pejalan kaki terlihat di sekitar gedung, yang Rukia sadari mereka adalah anggota kelompok.
Ichigo terus melaju melewati apartemen, ke sebuah gudang kecil di tengah blok. Pintu besi yang terlihat seperti bengkel terbengkalai, dengan papan nama yang tidak menyala. Ichigo turun dari motornya, membuka pintu besi yang kemudian naik secara otomatis.
Motor melaju lambat masuk ke dalam tempat yang menjadi area parkir. Ichigo mematikan mesin motornya dan menyuruh Rukia untuk turun. Saklar lampu tersembunyi di balik tiang tembok besar, yang menjadi pusat dari penerangan di seluruh gudang itu. Berbagai jenis mobil terparkir di belakang dan motor sport juga motor trail gunung yang masih tersisa jejak noda tanahnya.
Rukia membuka helmnya dan mengamati terpana. Melihat koleksi yang bisa dibilang terlalu banyak dan terlalu khas werewolves. Sebagian besar mobil gunung besar—Jeep, truck Ford, bahkan Mustang.
"Jadi ini tempat parkirnya?" tanya Rukia, melihat kiri dan kanan. "Semuanya milikmu?"
"Tidak semua. Ini kendaraan kelompok, sebagian besar adalah milik werewolves. Motor ini pengecualian, karena aku membelinya dengan jerih payahku sendiri," jawab Ichigo, memarkir motornya di bagian khusus di belakang. Terpisah dari mobil-mobil besar lainnya.
"Mengandalkan transformasi sangat sulit di area yang dipenuhi oleh manusia, termasuk New York," lanjut Ichigo. "Juga untuk menghantam strigoi bila kami mencium bau mereka."
Rukia mengernyit, membayangkan Jeep Hummer besar di hadapannya menggilas strigoi dan meremukkan mereka. Senjata yang efektif. "Ide bagus, walaupun sedikit menjijikkan."
Rukia bersandar pada dinding fondasi, memainkan helm di tangannya sementara Ichigo memeriksa motornya. Gadis itu hampir menjatuhkan helmnya, ketika memutarnya di udara dan kehilangan keseimbangan. Ichigo menangkapnya tepat waktu dengan sebelah tangan. Tubuhnya menjulang tinggi tepat dihadapan Rukia.
Rukia terdiam membisu, hanya bisa memerhatikan bagaimana mata Ichigo menatapnya lembut. Tidak ada sepatah katapun yang keluar, hanya merasakan dan menyerap perasaan masing-masing. Rukia tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan pria itu, tapi dia bisa melihatnya jauh lebih rileks. Bahunya sedikit merosok dan otot tangannya tidak lagi menegang.
"Kau … harus mengganti kuncinya." Rukia membuka suara lebih dulu, membuat Ichigo menatapnya bingung.
"Kunci?"
"Pintu kamarmu. Aku melihat Senna menggunakan kunci cadangan untuk membukanya."
"Aku akan memasang tiga pengait rantai besi—mungkin empat." Senyum tertarik hingga berkerut di sudut mulutnya.
"Kau yakin dia bukan pasanganmu? Maksudku mate dan legenda kalian, kupikir Senna benar-benar memujamu."
Ichigo menahan napasnya, tanpa mengalihkan pandangannya. "Entahlah—aku tidak tahu. Aku tidak merasakan apapun saat berada di dekatnya. Senna … dia adalah temanku, tidak lebih."
Rukia bisa merasakan saat napas Ichigo berhembus, menyapu pipinya. Hangat dan memberi getaran asing di kulitnya. Bahkan, udara di antara mereka terasa lebih panas. Perlahan membara seperti api.
"Kupikir kita harus kembali." Di saat Rukia hendak menyentuh lengan jaket Ichigo, pria itu berlalu pergi. Dia menaruh helmnya di atas meja kayu, memunggungi Rukia. "Waktunya makan malam.
Gadis itu mendesah dan mendengus kesal. Tidak adakah yang dipikirkannya selain makanan dan perut gemuruhnya? Kali ini apa—es krim wasabi?
"Kau cukup bersenang-senang tadi," celetuk Ichigo, membukakan pintu keluar untuk Rukia. Rasa dingin menusuk tulang saat mereka menapaki trotoar beku.
"Ya. Itu menyenangkan."
"Kita bisa melakukannya, sekali-kali. Untuk menghilangkan kepenatan tidak ada salahnya, bukan?"
Sudut mulut Rukia naik di satu sisi, menyadari bahwa ini bukan terakhir kalinya dia akan mengendarai motor bersama Ichigo.
Angin berhembus lembut dan Rukia merasakan rasa hangat di pipi kanannya. Lembut menyapu seperti beledu dan naik hingga menyentuh ujung rambutnya. Ichigo menyingkirkan beberapa helai rambut yang terlihat kusut, akibat memakai helm dan angin malam.
"Sekarang lebih baik," ucap Ichigo, kembali memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya. "Ayo, masuk! Aku tidak ingin Kensei dan Chad menghabiskan jatah makan malamnya."
Sekali, dalam detik itu Rukia merasakannya. Walaupun tidak terasa kuat, samar-samar jantungnya berteriak. Gemetar di ujung jarinya dan panas di wajahnya. Tangannya naik dan menelusuri jejak yang telah Ichigo tinggalkan di helai rambutnya. Rasanya aneh dan Rukia sedikit tidak menyukainya. Dia tidak bisa mengatakan apa hal itu, yang sekarang akan terus mengganggunya selama ada Ichigo di dekatnya.
…..~*(to be continued…)*~…..
.
.
.
.
.
.
.
Author's note:
It's been a while! Scene 8 finally up! Maaf menunggu lama, karena sudah lama aku belum meng-update fic ini. Menunggu waktu yang lama karena ada berbagai masalah menghambat, jadi sedikit lama tidak mengetik lagi. Dan …. Semoga chapter ini tidak mengecewakan kalian? Dan berharap pengetikannya tidak berubah, tehehe… Jujur sekarang aku butuh waktu agak lama buat mengetik 1 chapternya.
Chapter ini masih belum ada scene action, akan dimulai chapter depan. Jadi masih membahas sekitaran masalah Rukia dan adaptasinya di kelompok Ichigo. Dan masih ada Senna yang berulah (juga buat kedepannya). Bagi yang bertanya, apakah perasaan Ichigo di sini terhadap Rukia? Aku hanya bisa menjawab, belum ada. *dihajar massa* Dia semakin dekat dengan Rukia tapi belum menunjukkan tanda-tanda. Segera readers! Xixixixi.. nanti akan ada ketegangan dan alur yang lebih romance (mungkin).
Dan terima kasih banyak untuk readers sekalian! Yang sudah membaca dari chapter 1 hingga sekarang, dan setia menunggu fic ini. Maaf karena aku selalu lama update, karena akhir-akhir ini masih ada kesibukan yang harus diselesaikan. Berharap kalian tidak kecewa dan terhibur dengan fic ini. Terima kasih juga bagi yang sudah menyempatkan untuk mereview! Kritik saran dan pendapat kalian sangat kuterima. Love u guys~ 3
.
.
Balasan untuk anonymous dan no-login reviewers:
Ayuuuu: Terima kasih untuk reviewnya ya! Wkwkwkwk iya nih, Ichigo seneng banget makan es krim, asalkan perutnya ga mengembung dia suka-suka aja XD Yup, Kokuto yang muncul di sini. Kaien aku ga pakai, xixiix… Senna pas dengan sifat yang seperti itu, terlalu memaksa dia :p Hihihi… betul, Ichigo hanya untuk Rukia XD
Rumie IchiRuki: Halo Rumie, ini sudah kuupdate ya! Makasih untuk reviewnya! Eh? Lupa password? Sekarang udah bisa masuk? Inoyeh ga cocok ah jadi werewolf, lebih beringas Senna *plak* Inoyeh terlalu lemahhhh (lembut) dan ak lagi males juga pakai dia XD Rukia sedihnya karena dia ga tahu apa" di sini, bahkan identitasnya belum jelas. Ichiruki-nya ada nih di sini, ngabisin waktu bersama….hoho.. Maaf ya ga bisa update kilat sebelumnya, semoga kamu suka dengan chapter barunya ;)
ir: Terima kasih untuk reviewnya ya! Hihihih.. Werewolf cuman punya 1 mate seumur hidupnya, kalau ditinggal mati ga akan ada penggantinya, walaupun dia menikah lagi. Dan kalau misalkan nikah sama yang lain, itu rasa cintanya ga akan sekuat dan sebesar ke mate-nya. Kira-kira begitu. Tapi werewolf bisa ngerasain sebelum kebablasan, kecuali mereka yang menyangkal adanya mate. Ichigo memang kelamaan sadar, karena terlalu fokus sama misinya :p
uzumakisanti: Terima kasih untuk reviewnya! Hihihi ini sudah ada lanjutannya, maaf menunggu lama. Makasih buat semangatnya ya, semoga suka dengan chapter barunya ;)
ella mabby chan: Terima kasih sudah mereview! Wkwkkw akhirnya mereka sampai di Amerika XD Iya, Rukia masih bingung sama masalahnya sendiri, jadi lebih milih diem aja. Wkwkwkwk seiring berjalannya waktu nanti Rukia kelihatan cemburunya *smirk* Kalau masalah mate nanti ya menyusul XD Black Hair Girl juga akan menyusul setelah ini. Semoga suka dengan chapter barunya ya~
Playlist:
Taylor Swift- This Love, Clean
Ariana Grande- One Last Time
Calvin Harris feat Ellie Goulding- Outside
Snow Patrol- I won't Let You Go
Avicii- The Nights
Imagine Dragons- I Bet My Life, Hear Me, America
These songs don't belong to me…
