::The Dark Legacy— First Quarter::
By: Morning Eagle
Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Just to warn you all :: AU, OOC, Misstypos...for this story
Scene 10: Seek a Sanctuary
~0*0~
.0.
.
.
.
.
.
.
.
Ichigo mengerjap, perlahan matanya sudah kembali beradaptasi. Suara gumaman keras di telinganya berhasil membangunkan setengah kesadarannya, ditambah pukulan keras tepat di kepalanya.
"Aww—shit!"
"Sudah kukatakan dia baik-baik saja!" Suara itu berucap melengking, tertawa setelah Ichigo bangun dari tidurnya.
Tubuhnya seperti ditusuk seribu jarum dan lengan kirinya terasa kaku. Sedikit demi sedikit memorinya tersusun rapi, mengingat kembali kejadian hari itu. Bau strigoi, gedung pabrik terbengkalai di Selatan kota, dan Rukia. Gadis itu—wajahnya sepucat es di musim dingin dan matanya membulat sempurna, menampakkan dua kristal bening yang ketakutan.
"Rukia! Di mana dia?" teriak Ichigo panik, menyadari tubuhnya berada di atas ranjangnya—kamarnya. Ayahnya berdiri di sampingnya, pelaku dari pukulan telak di atas kepalanya tadi. Sang Alpha berdiri tegak sempurna. Senyumnya menghilang menjadi garis tipis yang rata di wajahnya.
"Seharusnya kau lebih mengkhawatirkan dirimu," gerutu Shuuhei, duduk di sofa hitam Ichigo dengan wajah menggerutu. "Kau hampir sekarat karena wolf's bane dan lebih mementingkan keadaan Kuchiki?"
Ichigo terdiam, memelototi Shuuhei dengan tatapan mengintimidasi. Aura dirinya berubah menjadi lebih kuat dan mencekik. Kensei yang berdiri paling jauh di dekat jendela pun bisa merasakannya dengan jelas. Beta yang marah hampir menyamai kemurkaan Sang Alpha.
"Ini sudah menjadi tugasku untuk melindungi Rukia—apapun yang terjadi. Dia berada di bawah pengawasanku, walaupun kau enggan turut andil mengawasinya, aku tidak peduli. Gagal dalam menjalankan misi karena penolakan oleh keegoisan sendiri adalah kesalahan terburuk bagi seorang werewolf!"
Shuuhei terdiam, melihat Ichigo sama sekali tidak terusik dengan efek rasa sakit racunnya. Setiap werewolf yang mendapat sengatan dari wolf's bane tidak akan pulih hingga tiga hari, atau seminggu kemudian untuk dampak terburuk. Dan Ichigo—seakan merupakan perwujudan monster melebihi para werewolf lainnya. Pria itu menggeram seperti serigala yang mendapati lawannya sudah melewati batas wilayahnya.
"That's my son!" Isshin melepaskan tawanya lagi, memukul Ichigo di bahunya sekali lagi. Menyambut kesadaran anaknya yang lebih keras kepala darinya.
"Bisakah kau hentikan itu!" Ichigo memelototi Ayahnya, Sang Alpha yang suka untuk meringankan suasana dalam bentuk apapun.
"Sengatan wolf's bane pertamaku adalah saat aku berumur tujuh belas tahun. Dan aku bisa melewati kondisi kritisnya menyamai dirimu, son! Kau jelas-jelas keturunan dari darah kuatku," jelas Isshin bangga.
"Berapa lama aku tertidur?" tanya Ichigo.
"Tiga puluh jam dua puluh menit." Kensei menjawab, masih bersandar di dekat jendela kamar. Wajah tegasnya tak menunjukkan emosi apapun.
Ichigo mengernyitkan dahinya, menyadari tubuhnya terasa kaku karena terlalu lama tertidur. Juga efek racun yang masih tersisa. Memakan waktu untuk hilang sepenuhnya.
"Dan kejadian tempo hari, telah mengantarkan kita ke petunjuk yang lebih kuat," ucap Isshin, melipat kedua tangan di depan dadanya. "Gedung tua itu—tempat di mana kau mencari Rukia—adalah sebuah gerbang keluar-masuknya strigoi ke arah Manhattan. Persembunyian besar mereka dan mengacu kepada sesuatu yang lebih busuk." Matanya terpejam, menyadari kerumitan masalah baru bagi kelompok besarnya. "Kejadian di Detroit mungkin saja merupakan pengalihan semata. Itu yang bisa kusimpulkan."
"Menjaga mata kita kepada hal lain, sementara mereka melakukan rencana busuknya," tambah Kensei. "Cerdik dan lihai. Kita termakan jebakan tanpa bisa menghindar lebih dulu."
"Rukia membawa kita tepat ke ginjal mereka," sebut Isshin.
"Haruskah kau memakai istilah itu?" Ichigo mengernyit, mendapati penuturan ayahnya tidak lebih baik dari perumpamaan Kensei atau mungkin Rangiku. "Kau menyebutnya ginjal, hah?"
"Ginjal adalah organ penting sebelum paru-paru dan jantung. Perjalanan kita masih jauh dan para strigoi menyembunyikan diri mereka dengan sempurna. Sulit untuk mencari markas utama mereka, sebelum membereskan pengintai yang berkeliaran seperti semut."
"Kali ini adalah di teritori kelompok," gumam Shuuhei angkat bicara. "Ini sudah keterlaluan, sir!"
"Tidak bisa mengambil langkah gegabah setelah apa yang terjadi di Detroit." Isshin mencegah, kembali menegakkan bahunya. "Jalankan sesuai yang sudah direncanakan semula—garis pertahanan di setiap pos, jangan melebihi batas wilayah. Aku tidak ingin ada lagi korban akibat serangan hollow maupun strigoi. Kita harus merencanakan strategi yang lebih kuat untuk menghadang serangan berikutnya, tidak boleh ada kesalahan. Di saat kesempatannya datang, segera serang mereka hingga tak bersisa."
"No failure, no mercy," kata Kensei, menyunggingkan senyumnya di satu sisi. "Terdengar bagus, sir."
Ichigo mengernyit, ketika kakinya mencapai lantai kamarnya. Lengan kirinya kembali berdenyut nyeri, mengarah langsung pada saraf di kepalanya. Penyalur rasa sakit yang memberontak di otaknya.
"Ichigo, kau mau ke mana?" tanya Isshin, melihat putranya berusaha untuk bangkit berdiri dan mengambil kaos di dalam lemari pakaian. Tubuh atasnya tak terbalut apapun, selain perban melilit di lengannya. Tidak ada bekas luka berarti yang tertinggal, semua berkat pemulihan cepat werewolf-nya.
Kaos putih ketat membuat otot perutnya tercetak sempurna. Seakan menjadi pelapis kulit kedua baginya. Kalung rantainya teronggok di atas meja, segera dipakainya tanpa mempedulikan berat ataupun sengatan yang menekan saraf di bahunya.
"Mencari Rukia," gerutunya, ketika Shuuhei menghalangi jalannya. "Minggir, Shuuhei."
"Kondisimu masih belum pulih! Lagipula, Rukia dia—"
"Dia baik-baik saja," potong Isshin, menengahi pertengkaran yang tak perlu. "Kau bisa tidur lebih lama lagi—memulihkan tubuhmu."
Ichigo memejamkan matanya, mengambil napas dalam-dalam. Sekilas bau jejak yang familiar terasa cukup kuat. Dia mengenalnya jelas—aroma manis sakura bercampur air dingin.
Tanpa memikirkan gerutuan dan pencegahan yang berlebihan, Ichigo berjalan keluar dari kamarnya. Langkahnya terasa ringan, setiap kali mendapati samar-samar aroma yang menenangkan hatinya. Semakin melangkah semakin terasa kuat. Hingga langkahnya terhenti di depan tangga darurat menuju lantai atas—atap bangunan.
.
.
…..~***~…..
.
.
Rukia menarik lututnya semakin mendekat ke dadanya, merasa dingin karena angin malam mulai berhembus. Matahari hampir terbenam di ujung cakrawala, terhalang oleh gedung pencakar langit yang berdiri kokoh bagaikan batang pohon. Napasnya berhembus perlahan, menciptakan uap di depan wajahnya. Dia merasakan takut untuk pertama kali dalam hidupnya.
Ichigo ambruk di depan Rukia tak bergerak. Tubuhnya bergetar hebat, karena efek racun yang menjalar di pembuluh darahnya. Mematikan saraf juga hampir membunuhnya. Sang Alpha mengatakan semuanya akan baik-baik saja, setelah Ichigo dirawat intensif di dalam kamarnya tanpa ada yang boleh mengganggu. Rukia hanya bisa menunggu di dalam kamar seorang diri, memandangi pintu keluar sementara berharap Ichigo segera bangun dan menghampirinya seperti biasa. Mengatakan kata-kata mengintimidasi dan kekeraskepalaan yang menuntut. Sangat tipikal dirinya.
Momen itu tak kunjung datang, bahkan setelah pagi menjelang. Matanya tidak bisa menutup rapat, Rukia tertidur seperti mayat hidup—tidak bisa beristirahat penuh dengan mata yang seringkali terbuka sepanjang malam. Efek terburuk karena kesalahan terbesar yang pernah dibuatnya.
Semuanya bermula sejak Rukia menapaki kakinya untuk masuk ke dalam kelompok werewolf Manhattan. Sebagian besar menolak keberadaannya, sebagian kecil lainnya terlihat memaksakan diri. Mungkin hal itu juga berlaku bagi Ichigo, pikir Rukia. Pria penjaganya merasa risih bila harus berdekatan dengan gadis itu hampir dua puluh empat jam penuh.
Dirinya seperti benalu yang menahan tanaman untuk tetap tumbuh. Tidak memikirkan konsekuensi, apabila berhadapan langsung dengan penyiksaan hidup barunya. Kelompok baru, teman baru, juga keluarga baru. Semua aspek itu tidak bisa ditemukan Rukia dengan cara termudah.
Isshin berusaha mendesaknya lebih lanjut, menceritakan alasan apa yang menuntun Rukia pada tempat keramat itu. Pabrik besi tua yang terbengkalai, memancing kelompok besar strigoi untuk mengincar dan menyerang mangsa dalam perangkap. Rukia enggan untuk membuka mulut—menciptakan pertikaian baru di dalam kelompok yang seliar hewan buas itu sendiri.
Rukia lebih memilih diam tak menuntut. Walaupun Sang Alpha mencium kecurigaan kental yang bersumber dari salah satu anggota kelompoknya, Isshin tidak bisa sembarang menuduh tanpa bukti yang kuat. Terutama saksi absolut—Rukia seorang. Gadis itu membungkam mulutnya rapat-rapat, bahkan saat Rangiku berusaha mengorek informasinya sebisa mungkin. Tipe gadis keras kepala, menyamai sifat keras Sang Beta.
Rukia menunduk lebih dalam, bersandar pada dinding bangunan di atap apartemen. Lantai teratas di mana bisa menjadi tempat relaksasi tanpa dipungut biaya, menikmati pemandangan sore sambil memerhatikan burung-burung kembali ke cakrawala.
Seekor burung hinggap di pagar pembatas besinya. Sayapnya lebar dan suaranya memanggil pada bintang di angkasa. Seekor elang peregrine, mengamati Rukia seakan gadis itu adalah teman barunya. Rukia meneliti bagaimana kepala elang itu bergerak juga bulunya yang tertiup angin malam. Tak bergeming saat angin berusaha menumbangkan tubuh kecilnya. Dia mampu berdiri seorang diri, tanpa kawanan banyak dan berburu bersamaan.
Rukia merasakan rasa simpati yang kuat. Dirinya bagaikan elang peregrine, menghadapi angin dan hujan tanpa ada rekan di sampingnya. Tidak lagi, setelah kakinya memilih untuk melangkah ke depan—meninggalkan yang sudah berlalu.
Pintu atap terbuka, besi tuanya berderit nyaring. Perhatian Rukia teralih pada sosok yang muncul di sampingnya. Tubuh tinggi tegap dan rambut secerah mentari sore, kini meredup di setengah kegelapan menyambut malam. Ichigo berdiri di sana, melihatnya tanpa menunjukkan emosi berlebih.
Suara elang memekik di angkasa, terbang meninggalkan Rukia yang kini memiliki pendamping lamanya. Kepakan sayap membelah udara, menghilang di detik kemudian menjadi kebisuan hening. Rukia kembali menundukkan kepalanya terlalu dalam. Dia enggan untuk menatap Ichigo, sekadar mengecek tubuhnya yang sudah membaik.
"Hei," panggil Ichigo, memiringkan wajahnya ke samping. "Di sini dingin."
Rukia hanya mengangguk, tidak berniat untuk menjawab lantang.
Ichigo menghela napas, beringsut duduk di samping Rukia dengan jarak beberapa kaki. Perlahan lengan kirinya disampirkan di atas lututnya. "Sekarang kau berubah menjadi pasif. Siklusmu terus berputar, huh?"
Rukia kembali diam, memandang titik kosong di depan wajahnya. Seakan kesadarannya direngut seiring matahari tenggelam. Matanya tidak lagi bersinar terang.
"Hei, aku hanya bercanda!" Ichigo menambahkan, menyandarkan kepalanya pada tembok semen. "Kau sakit? Apa strigoi melukaimu—"
"Seharusnya itu yang kutanyakan, Ichigo." Rukia memotong, membuat pria itu membelalak di tempat. Emosinya berubah terlalu cepat. "Kau terluka karena kebodohanku. Bukankah lebih baik bila kau marah kepadaku? Mencelaku atau mungkin meneriakiku?"
"Haruskah?" tanya Ichigo sinis. "Sebaiknya kau bertanya kepada dirimu sendiri—pantaskah kau mengasingkan diri dan membebani dirimu dengan kejadian yang sudah terjadi? Aku sudah mengabdikan diriku untuk menjadi penjagamu, jadi berhentilah terus menghindar dariku!"
Gadis itu tersentak dengan emosi Ichigo yang menekan tajam. Matanya mengerjap cepat, berusaha mengerti bahwa dirinya berada di bawah Ichigo—sekali lagi bergantung kepadanya.
"Mendapat luka seperti ini adalah konsekuensi kami—setengah monster yang hidup di jalanan. Sudah menjadi bagian dari hidupku bahwa kekejaman tidak akan menutup mata di depan aku melangkah. Strigoi, hollow, sebut saja makhluk mitos lainnya, semuanya sama saja. Membunuh atau dibunuh, menjajah atau dijajah. Hukum alam mengalir dalam nadiku."
"Tapi, aku…"
"Berhentilah merengek seperti anak kecil yang kehilangan permen!" Ichigo mengejek, memukul kepala Rukia sebagai gantinya. Pukulan ringan yang membangunkan geraman rendah di tenggorokan gadis itu, menjadi bentuk kemarahan yang labil.
"Kau—jangan mengejekku!" teriak Rukia lantang. "Aku tidak menangis ataupun merengek, bodoh!"
Seringai Ichigo semakin nampak di permukaan, menukik tajam. "Kalau begitu, jangan kabur lagi seorang diri! Bergantunglah kepadaku, setidaknya percayakan keselamatanmu di tanganku. Berusaha lebih baik daripada tidak mencoba, bukan?"
Rukia sedikit terkejut dengan penuturan Ichigo. Terdengar bijaksana dan masuk akal.
Matanya tertuju pada lengan kiri Ichigo, menampakkan balutan perban dari kaos lengan pendeknya yang hampir tembus pandang. Lagi-lagi pria itu bertindak seenaknya, memakai apapun tanpa peduli daya tariknya meningkat seratus persen. Rukia merutuk dalam hatinya diam-diam.
"Bagaimana … lenganmu? Apa tidak sakit?"
Ichigo tertawa, melihat Rukia seperti anak kecil yang kebingungan. Rasa bersalah masih terasa dalam mulut gadis itu, hambar bercampur pahit.
"Sedikit—kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Mendapat luka akibat sengatan wolf's bane merupakan penghargaan tertinggi bagi seorang werewolf," ujar Ichigo, mendapat tatapan mengejek dari gadis di depannya. "Aku serius! Luka ini adalah luka terparah yang mungkin mengancam kehidupan kami—" Wajah gadis itu kembali berubah murung karenanya, membuat Ichigo menganga panik. "—maksudku, sulit untuk pulih cepat seperti luka lainnya, jadi konsekuensinya lebih menyakitkan. Siapapun yang mendapatkan sengatan wolf's bane akan diakui kekuatannya sebagai salah satu kandidat calon terkuat."
Calon Alpha, pikir Rukia. Gelar pangeran muda yang disanggah Ichigo tidak menentukan takdirnya di kemudian hari. Seorang Alpha ditunjuk bukan berdasarkan nama besar dan keturunan 'darah biru' werewolves, melainkan kekuatan juga wibawa kuat. Ichigo mewarisi segala kelebihannya—werewolf besar yang beringas juga bermata tajam menusuk.
"Itu bagus untukmu," ucap Rukia, bersandar pada dinding tembok sambil menghela napasnya. Entah mengapa tubuhnya terasa sangat lelah, kantuk hinggap di kelopak matanya. Arah pandangnya tertuju lurus pada cahaya jingga yang meredup di balik gedung bertingkat.
"Menjadi Alpha sama sekali tak terlintas dalam benakku. Kau tahu, segala pekerjaan dan persoalannya akan menjadi hal terumit yang harus kukerjakan," jelas Ichigo, terlihat tak menyukai kata-katanya sendiri. "Itu semua sama sekali bukan hal yang kuinginkan menjadi pekerjaan tetapku. Kerja paruh waktu atau menjadi buruh bangunan terdengar lebih baik, berbaur dengan manusia dan semacamnya. Menjadi seorang Alpha hampir menyamai tingkatan Presiden memimpin rapat juga pesta besar di Gedung Putih menjelang Natal tiba—" Ichigo menelisik ke samping, sekadar mengetahui raut wajah gadis yang menjadi pendiam sejak mulutnya mengambil alih. Dan dia tertidur—Rukia menutup matanya seakan tak takut bila matahari meninggalkannya sendirian di atas sini. Terlelap dalam alunan musim semi yang terasa dingin di kulit.
Ichigo mengerjap, memastikan gadis itu menanggapi sebagian dari penjelasan singkatnya. Tidak ada reaksi, selain napasnya yang naik-turun begitu lambat. Rukia menikmati waktu istirahatnya.
"Rukia," bisik Ichigo, beringsut mendekat dan menyentuhkan telunjuknya pada kening Rukia. Tak ada reaksi. "Hei…"
Punggung tangannya mengelus pipi putih gadis itu lembut, berhati-hati untuk tidak membangunkannya dari mimpi indahnya. Nadi di lehernya terasa di ujung jemari Ichigo, membuat Sang Beta gugup ketika menyadari diri mereka serupa. Werewolf dan manusia—atau apapun itu identitasnya. Rukia berharga seperti berlian yang dijaga di dalam lemari kaca toko perhiasan ternama. Ichigo hanya bisa melihatnya dari luar, mengamati keindahan yang tak ternilai harganya.
Tiba-tiba gadis itu melonjak kaget, membuat Ichigo memundurkan tubuhnya ke belakang. Rukia membelalakkan matanya, separuh mengantuk karena bangun terlalu cepat.
"Aku … tertidur…"
"Kau lelah. Kembalilah tidur," gumam Ichigo menyandarkan kembali punggungnya pada dinding. Matanya tidak pernah beralih dari Rukia, yang terlihat kalut sambil merapikan rambut hitamnya. "Hei, Rukia—siapa yang melakukan ini?"
"Hah?" Rukia tidak menutupi kebingungan di wajahnya. Ichigo mengganti topik menjadi lebih serius.
"Siapa pelakunya, katakan padaku? Dia yang menuntunmu ke arah sarang strigoi," tuntutnya lebih kuat. "Kokuto?"
Rukia menggigit bibirnya kuat-kuat, enggan menghadapi permasalahan yang akan membuat Ichigo murka. Besar kemungkinan pria itu akan menancapkan taringnya ke leher Senna—sumber permasalahannya—dan menimbulkan keributan kelompok yang lebih besar. Setelah hollow dan strigoi, kali ini adalah perseturuan saudara sedarah?
"Senna," gumam Ichigo, berhasil membuat tubuh Rukia bergidik. "Siapapun orangnya, aku bisa menyelidiki masalah ini seorang diri. Tapi, aku membutuhkan dirimu, Rukia. Hanya kau yang bisa membawanya untuk diadili di hadapan seluruh anggota kelompok."
Rukia tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya berdiri di hadapan anggota kelompok yang tidak memercayai pengkhianat di antara mereka. Keluarga serta teman yang menutup mata bagi yang terhakimi.
"Haruskah seperti itu?" tanya Rukia berbisik.
Raut kecemasan di wajah Rukia berhasil membuat Ichigo menyesali sebagian tindakannya. Gadis itu sama sekali tidak tahu aturan serta hukum keras yang mengikat setiap werewolf di dalam kelompok. Gadis yang berasal dari dunia luar.
"Kemungkinan terburuk adalah dikeluarkan dari kelompok," lanjut Ichigo. "Tergantung perbuatan dan penyesalan yang mungkin dia akui."
Rukia tidak tahu harus berbuat apa, selain memejamkan mata lelahnya. Otaknya tidak bisa berpikir logis, selain berusaha melindungi keberadaan Senna walaupun itu hal yang salah. Dia membenci gadis congkak itu, sangat ingin menjambak habis rambut ungu tuanya hingga rontok. Senna terlalu mementingkan dirinya sendiri. Dan memberikan namanya kepada Ichigo ataupun Sang Alpha akan membuat Rukia menjadi pengadu yang bersembunyi di belakang punggung orang lain.
Rukia memutuskan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dengan Senna. Tidak melibatkan Ichigo yang akan menambah kisruh keadaan.
Gadis itu berpaling pergi, meninggalkan Ichigo mematung seperti orang bodoh. Tangan pria itu terulur, menjangkau Rukia yang hampir menggapai pintu, menahanya di tempat.
"Tunggu—kau mau ke mana, Rukia?"
"Aku butuh tidur," jawab Rukia singkat, berusaha melepaskan genggaman erat di lengan atasnya. Dia menggerutu tidak jelas, tidak menyadari sikap pemarahnya mulai kembali muncul.
Ichigo melepaskan tangannya segera, mengangkatnya ke udara seakan dia tidak berusaha mencegah sejak awal. Gadis itu berlalu pergi meninggalkan wangi samar-samar yang terasa pekat di indera penciuman Ichigo. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit bingung—ada yang tercium selain wangi manis yang melekat erat di dalam benaknya—sebelum akhirnya mengikuti punggung Rukia yang kembali dingin kepadanya.
.
.
…..~***~…..
.
.
Rukia kembali terkejut, begitu Rangiku berteriak kegirangan dan Shuuhei yang menggerutu dalam kekalahannya. Duduk di ruang berkumpul para werewolves seperti berada di wahana bermain. Penuh permainan menarik—dari Playstation platform hingga mesin ding dong yang terlihat klasik. Permainan pertarungan arcade. Werewolves menyukai tantangan juga adrenalin yang memacu. Perkiraan Rukia dalam hatinya yang bisa disimpulkan samar-samar.
"Kau benar-benar payah dalam permainan ini!" kata Rangiku, mencibir Shuuhei yang sudah kalah tiga kali putaran.
"Itu karena kau yang curang! Kau tidak bisa menekan semua tombolnya secara acak!" Shuuhei membalas, tidak ingin harga dirinya kembali ditekan rendah.
"Bukankah ini peraturan mainnya?"
Kensei tertawa karena penuturan Rangiku. Cara bermain yang jitu bagi seorang amatir. "Kau kurang keberuntungan, Shuuhei—atau kau memang benar-benar bodoh."
"Jangan memulai, Kensei! Seharusnya kau berada di timku!"
"Mengapa? Hanya karena aku seorang wanita?" celetuk Rangiku, memiringkan kepalanya ke samping hingga leher jenjangnya tertarik menggoda. Shuuhei dibuat diam olehnya, hanya dengan satu gerakan yang membuat sekujur tubuh pria itu merinding. Pesona Rangiku mengalahkan semua werewolves perempuan di timnya.
Rukia tertegun dengan keramaian dan keonaran di antara para werewolves. Seakan mereka memang hidup bersumber dari tawa dan teriakan, juga terkadang makian. Rasanya terasa normal, walaupun dia meyakini ini bukanlah tempatnya berada. Dia tidak seharusnya menjadi bagian dari kelompok mereka—seakan hanya beban yang menempel seperti benalu.
"Kau ingin bermain?" Chad bertanya, muncul di belakang Rukia tanpa suara.
Rukia mengerjap dan memastikan beberapa kali, kalau pria besar itu sedang berbicara kepadanya. Sepertinya memang demikian.
"Aku tidak…" Tidak bisa menyangkalnya, kalau Rukia pernah beberapa kali bermain bersama teman juga bos di tempat kerja paruh waktunya dulu. Sesekali di musim panas atau saat sedang tidak ada pengunjung.
Tatapan Rukia jatuh ke arah Shuuhei. Pria itu memandangnya tidak bersahabat, seakan memberikan pesan permusuhan yang cukup jelas. Kensei terlihat diam sambil bersandar pada single sofa yang nyaman, sementara Rangiku menatap Shuuhei dalam tanya dan delikan tajam. Suasana dalam ruangan berubah intens.
"Apa maksudmu, Shuuhei?" tanya Rangiku, sedikit mendesis.
Shuuhei tersadar dalam posisi canggungnya, melirik Rangiku tak fokus. "A … apanya?"
"Tidak usah membantah, karena aku tahu maksudmu itu, pria bodoh!" Tangan Rangiku memukul bahu Shuuhei keras. "Kau bermaksud menyalahkan Rukia atas apa yang sudah terjadi, bukan?!"
Rukia terdiam, menggigit bibir bawahnya setelah mendengar penuturan Rangiku. Wanita itu selalu membelanya yang berdiri di belakang, entah karena kewajiban atau niatnya yang sebenarnya.
Shuuhei membuang muka, menggerutu tidak jelas dalam napas beratnya.
"Ichigo ingin kita melindungi Rukia apapun yang terjadi. Dan kejadian tempo hari merupakan kesalahan kelompok—termasuk perseturuan tidak penting untuk membela siapa dan melindungi siapa," jelas Rangiku. "Sebagai salah satu prajurit dunia bawah, seharusnya kau malu karena sudah meragukan kesepakatan Alpha!"
Kensei hampir terlonjak dari duduknya, melihat wanita paling kuat di timnya mulai berapi-api. Bahkan rambut gelombang emasnya menyerupai jilatan panas itu sendiri.
Shuuhei tidak berniat melawan balik ataupun menyangkal. Sebaliknya, wajahnya menunduk dalam dan giginya menggertak kuat. Dia tidak bisa mengatakan apapun setelah nama Sang Alpha disebut.
Rukia merasakan udara yang mulai penat di dalam ruangan. Tidak ada yang bersuara, kecuali layar televisi juga permainan game yang terhenti. Gadis itu memilih untuk keluar ruangan segera. Napasnya terasa begitu tercekat, entah apa yang harus dipercayainya sekarang.
"Rukia," panggil Kensei, tidak sering pria itu memanggil namanya. Kensei berdiri di belakang Rukia, tepat saat gadis itu berniat untuk mengendap keluar.
"Aku tidak ingin bergantung kepada siapapun, itulah keinginanku," ucap Rukia tanpa bisa menahan lagi. "Tapi, menjadi beban berat bagi kalian menjadi hal yang sangat kubenci untuk diriku sendiri. Aku—tidak bisa berdiri sendiri saat ini … karena itu…" Mulutnya tertutup, berbalik dengan tatapan mantapnya. Sedikit kekecewaan menggetarkan bibirnya. "Aku—"
"Tidak ada perlu yang dikhawatirkan," potong Rangiku, melambaikan tangannya di udara. "Kau bisa bergantung kepadaku, bila yang lain tidak ingin. Kau tahu, selama Ichigo mengatakan apa yang harus dilakukan maka aku berada di pihaknya."
Pendukung Ichigo, memaparkan senyum memikatnya yang membuat setiap pria bertekuk lutut di hadapannya. Dan lagi-lagi Shuuhei menjadi korban utamanya.
"Tidak masalah bagiku," ucap Kensei, menyandarkan tubuhnya pada dinding, mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. "Apa yang Ichigo ataupun Alpha percayai, aku akan menghormati keputusan mereka. Lagipula, kau tidak bisa dikatakan sebagai pembuat masalah, shorty. Sebaiknya cobalah untuk lebih bebas, sesekali membangkang bukan hal besar."
"Aku tidak pendek," gerutu Rukia, mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Niat awal untuk memelototi pria besar itu pupus sudah, saat senyum Kensei tersungging. Bahkan anak kecilpun akan lari terbirit-birit begitu melihat Kensei memaparkan giginya.
"Kau bisa mengandalkanku." Chad angkat bicara. Pria yang memegang teguh paham bicara seperlunya itu mengangguk setuju.
Shuuhei terlihat mati langkah. Dia mendesah berat sebelum melirik Rukia dalam kilasan cepat. "Terserah kalian saja."
Satu tali besar yang melilit beban Rukia di dada sudah ditarik lepas. Dia merasa lega, merasa diterima di tempat yang liar ini. Tidak semua werewolves mengerikan seperti yang ada di dalam benaknya.
Rukia mengangguk, menyetujui gagasan setiap suara di dalam ruangan itu. Kakinya melangkah lagi ke pintu keluar. Dia merasa perlu untuk berbaring sejenak.
"Aku akan ke kamarku untuk beristirahat," kata Rukia, sedikit canggung.
"Kau bisa mampir ke sini kapanpun kau suka dan setelah merasa lebih baik," balas Rangiku tersenyum ramah. "Untuk mengalahkan pria bodoh ini dalam satu atau dua permainan. Anggap saja sebagai relaksasi sejenak."
"Hei—itu tidak masuk hitungan!" Shuuhei menyanggah.
"Kau perlu bukti lagi, kalau kau sama sekali tidak mahir memainkan game ini? Ok, bring it on, loser!"
Shuuhei menanggapi tantangan Rangiku, memencet tombol start dan bersiap memilih karakter selanjutnya. Permainan dimulai kembali, juga dengan kebisingan yang semakin membuat telinga menjadi tuli.
Pintu ditutup rapat oleh Rukia, mendapati lorong yang terlihat lenggang. Jam sudah menunjukkan pukul dua siang, waktu yang tepat untuk tertidur dan bangun di petang yang lebih hangat. Rukia menyukai idenya, mulai berjalan menapaki lorong yang disinari mentari siang dari jendela tanpa tirai.
Sesuatu tertangkap oleh telinganya, berasal dari belokan lorong menuju lift. Suara perbincangan dua orang yang mulai terdengar sengit. Rukia mengenal salah satu suaranya. Berat juga menekan kuat. Pemilik suara yang sama sekali tidak ramah dalam bersikap, namun di sisi lain terlihat manis. Itu Ichigo.
Rukia mengintip—mencuri dengar dari balik tembok. Betapa terkejutnya dia, ketika melihat Senna dengan mata berbinar sedang berdiri menghadapi Ichigo. Gadis itu bertubuh terlalu pendek dan kecil, bila dibandingkan dengan Ichigo yang berdiri tegap. Penuh kepercayaan diri juga kontrol. Senna menyerupai Rukia dalam ketinggian yang lebih unggul, namun otak yang lebih sempit. Emosinya meledak-ledak seperti ranjau darat yang tak sengaja terinjak. Sensitif, anggap saja demikian.
"Mengapa kau selalu menyangkalnya, Ichigo?" Senna terlihat bersungut-sungut, berusaha menggapai Ichigo namun terlihat ragu.
Ichigo mengambil napas dalam, kerutan di dahinya terlihat semakin mengkerut dalam. Dia dalam kondisi yang tidak bersahabat. "Karena mate itu tidak nyata. Berapa kali harus kukatakan kalau aku sama sekali tidak memercayainya? Itu semua hanyalah mitos yang dianggap kalian sebagai tradisi yang mengikat satu sama lain."
"Aku benar-benar merasakan ikatannya! Kau dan aku—kita selalu menjadi tim yang baik selama ini!"
"Tidak lagi, kupikir." Ichigo menggerutu, mengeratkan kepalan tangannya di samping tubuhnya.
Senna terdiam karena gertakan ringan Ichigo. Tidak membentak, hanya menggeram dalam batasan werewolf yang tidak bisa dirasakan makhluk lainnya. Termasuk Rukia.
"Karena aku sama sekali tidak merasakan ikatan apapun," lanjut Ichigo, berhasil membuat Senna tersentak. "Juga setelah apa yang sudah kaulakukan, Senna."
"Aku? Apa maksudmu?"
Ichigo menaikkan sebelah alisnya. Dia mengetahui sesuatu, dan Senna berusaha menyangkalnya. "Kau tahu itu. Kali ini kau sudah keterlaluan!"
Rukia bergidik dari posisinya, menyadari Senna pun mengalami hal yang sama. Gadis itu takut bercampur geram. Dia tidak bisa melakukan apapun selama Sang Beta menggertaknya. Satu tingkat di bawah Alpha.
"Aku tidak bisa melakukan apapun selama Rukia tidak mau membuka mulutnya untuk masalah ini. Keputusan ada di tangannya dan yang bisa kulakukan adalah melindunginya dari apapun itu. Termasuk dirimu—jangan pernah dekati Rukia lagi. Kau mengerti batasannya, bukan?"
Senna mengeluarkan suara seperti tercekik dan tersedak. Dia hanya bisa terdiam, sementara Ichigo berbalik dan melihat Rukia yang memelototinya. Seakan sudah tahu sejak awal di mana posisi gadis itu mengintip.
Ichigo melangkah cepat, mendekati Rukia dan menarik tangannya untuk segera pergi dari tempat itu. Mereka menuju lift, melewati Senna yang masih tertegun diam. Matanya menusuk Rukia yang berdiri terlalu dekat di samping Ichigo, bahkan bahunya bersentuhan dengan lengan atas pria itu. Sesaat sebelum pintu tertutup, Rukia mendapati mata Senna yang menyala terang. Pertanda gadis werewolf itu menunjukkan kemarahan terbesarnya.
"Kau mencuri dengar," gumam Ichigo, bersikap lebih santai selama lift bergerak naik.
Rukia merasakan ketegangan mulai mencair, digantikan oleh sebuah tanda tanya besar di atas kepalanya. Bagaimana Ichigo bisa tahu kalau 'orang itu' adalah Senna?
"Mengapa kau melakukan itu?" tanya Rukia, lebih hati-hati untuk tidak menunjukkan langkah matinya di hadapan Ichigo.
"Melakukan apa? Membuat Senna untuk tidak mendekatimu lagi?"
"Mengapa Senna?"
Ichigo mendesah berat, memijit pangkal hidungnya. "Seharusnya itu kautanyakan kepada dirimu sendiri, Rukia. Apa kau berniat untuk menyangkalnya?"
Pintu lift terbuka, memotong pembicaraan mereka yang semakin sengit. Ichigo melangkah keluar, membiarkan Rukia masih terpatung di dalam lift. Detik kemudian Rukia tersadar dalam lamunannya, melangkah keluar tepat sebelum pintu tertutup. Ichigo sudah berdiri jauh di depannya. Pria itu siap memasuki kamarnya, namun tangannya berhenti di kenop pintu.
Rukia ragu untuk mendekat. Tubuhnya terasa panas juga siaga, menghadapi Ichigo yang tidak memedulikan jawaban yang hampir keluar di ujung mulut gadis itu. Seakan pria itu tidak lagi tertarik dengan topiknya. Ataukah itu hanya sebuah pernyataan pasti?
"Apakah lukamu sudah lebih baik?" tanya Rukia. Keheningan retak begitu saja dan Ichigo bangun dari posisi menunduknya. Matanya mencari gadis mungil itu, menemukannya di belakang tubuh tegapnya.
"Bantu aku mengganti perbannya?" Ichigo bertanya tanpa bisa ditahan. Sebuah ajakan yang tidak bisa ditolak begitu saja.
Entah apa yang mendorong Ichigo untuk menarik Rukia ke dalam kamarnya. Membantu sebagai pengganti tangan kirinya yang terluka. Pintu dibuka dan Rukia mengikuti tanpa menolak ataupun beringsut semakin menjauh. Sesuatu membawa gadis itu hingga menapakkan kakinya di lantai kamar Ichigo. Kamar dengan luas seperti yang dihuninya, tapi lebih hitam dan lebih maskulin.
Sofa hitam juga seprai hitam di ranjang besarnya. Sedikit berantakan dengan buku bertumpuk di atas meja batu granitnya juga selimut yang tidak dilipat rapi. Khas Ichigo, Rukia bisa langsung mengenalinya.
"Duduklah. Aku akan mengambil perbannya." Ichigo berlalu pergi ke lemari bajunya, mengambil peralatan pertolongan pertama.
Rukia duduk di atas sofa, menarik napas dalam-dalam. Cinnamon citrus yang kaya akan musk. Ini wangi tubuhnya, membuat otot di tubuh Rukia merasa lebih tenang. Aman dan terlindungi. Cahaya sore masuk melalui tirainya, menyinari permukaan meja yang berkilau cantik. Sebuah majalah yang sudah tertekuk tak karuan berada di tumpukan paling atas. Tangan Rukia terasa gatal untuk meneliti, mengambil majalah itu dengan mata terbelalak.
"Jangan!" Ichigo menarik secepat kilat, melemparkan majalah itu ke sudut ruangan. Wajahnya sedikit memerah karenanya. "Itu milik Kensei! Dia selalu meninggalkannya di kamarku entah karena alasan apa!"
Rukia berkedut ringan karena tidak bisa menahan seringaiannya. Ichigo adalah pria pada umumnya, terlebih lagi sebagai kalangan pria yang ingin tahu segalanya. Kemungkinan besar Ichigo membuka atau mungkin hanya mengintip majalah yang diperuntukkan pria dewasa itu. Rukia hampir tersedak begitu melihat aset wanita si model cover terlalu terpampang jelas—besar dalam ukuran yang tak wajar.
"Kau menyukainya," bisik Rukia, tertawa geli. "Aku mengerti."
"Kau sama sekali tidak mengerti! Sudah kukatakan itu milik Kensei!"
"Aku mengerti, bodoh. Semua pria sama saja, bukan?"
"Sama apanya?" Ichigo membuka kotak obat-obatan, menaruhnya di atas meja saat tangannya membuka kaosnya perlahan.
Rukia kembali terkejut, kali ini benar-benar tersedak. Ichigo membuka bajunya dan bertelanjang dada. Dia mengernyit begitu lengan kirinya sedikit terangkat. Sengatannya masih belum sepenuhnya hilang.
"Aku tidak bisa memakainya sendiri," gerutu Ichigo, merasa tak berdaya saat membuka lilitan perbannya seperti siput berjalan.
Rukia berdeham, membantu Ichigo untuk membuka perban yang terikat kuat. Perlahan kulitnya terlihat, luka bekas suntikan yang cukup tak wajar bagi Rukia. Di sekitarnya terlihat masih membiru, dengan jejak nadi yang seakan berkedut. Racunnya masih menyisakan efek kuat pada tubuh kekar Ichigo.
"Kau berbohong kalau itu tidak terasa sakit." Rukia mengambil perban bersih dan juga obat oles yang disodorkan Ichigo. Warnanya hijau pekat seperti lumut.
Perlahan Rukia membersihkan lukanya dengan kain bersih, sebelum mengoleskan obat oles yang membuat dahi Ichigo mengkerut. Pria itu berusaha menahan penderitaannya, menghela napas kuat-kuat.
Langkah terakhir, Rukia melilitkan perban baru secara hati-hati. Memutari lengan atas Ichigo dan terus berulang kali. Ichigo hanya bisa memandangi dalam diam, sementara gadis itu melakukan tugasnya.
Pandangan mereka bertemu di detik berikutnya. Ichigo merasakan sesuatu yang aneh. Tubuhnya menunduk lebih dalam dan wajahnya berada tepat di samping leher Rukia. Gadis itu hampir tersentak di tempat, setelah mengikatkan perban di lengan Ichigo cukup kuat.
"Ichigo?"
Ichigo menarik wajahnya, meneliti wajah Rukia dalam kerutan kebingungan. Seakan melihat lukisan yang miring dari posisinya. "Aneh."
"Apanya?" tanya Rukia. Suaranya terdengar bergetar sesaat.
"Seharusnya tidak seperti ini, bukan? Baumu lain."
"Bauku?" Rukia memelototinya.
"Bukan itu—tapi bau dari ciri khasmu. Aku bisa menemukanmu dengan mudah sebelum ini, tapi tidak sekarang. Rasanya seperti kau berganti kulit."
"Aku bukan ular," desis Rukia tak mengerti.
Ichigo terhanyut dalam tawanya sendiri. Gadis itu selalu bisa membuatnya takjub. "Hei, Rukia. Boleh kucium baumu?"
"Haruskah kau mengatakan itu sebagai permohonan? Ini terdengar sangat aneh." Spontan Rukia memundurkan tubuhnya beberapa inci.
"Hanya ingin mengecek, juga memahami. Kau seperti sakura sebelumnya, tapi saat ini—" Ichigo menunduk tanpa menunggu lagi. Wajahnya tepat di samping leher Rukia. Deru napas panasnya menyapu kulit, dan rambut mencuatnya berhasil menggelitik pipi gadis itu. "—seperti … kesejukan?"
Ichigo mengambil napas dalam-dalam, membuat Rukia menutup matanya erat. Panas tubuh pria itu menyiksa batin Rukia. Terlalu dekat dan bahkan melebihi batas. Tangan Rukia sedikit terangkat, berusaha mendorong Ichigo menjauh tapi tidak bisa. Jari-jari mungilnya justru mencengkram ringan bahu Ichigo.
"Es? Atau mungkin … ya, ini tidak salah lagi. Ini bau salju juga es," bisik Ichigo, mengendus dan membuat Rukia kembali mengernyit. Terlalu panas. "Bagaimana mungkin?"
"Mungkin karena wangi sabunnya," jawab Rukia menghindar.
Ichigo menarik tangan Rukia ringan, tidak ingin dia menjauh dan merusak konsentrasi pria itu. "Aku bisa membedakan hal itu, terlalu kentara. Dan ini—sakura yang bercampur dingin, perlahan mulai terasa benar."
"Kau terdengar seperti orang cabul—"
"Aku tidak!" Ichigo memelototi Rukia tidak percaya. "Ini adalah hal werewolf! Mengertilah sedikit?"
Mata tajam mereka bertemu dalam posisi yang terlalu dekat. Ichigo hampir menghimpit tubuh Rukia, membuat gadis itu harus memilih pilihan yang sulit. Menghindar sama sekali tidak bisa dilakukannya, selama tangan Ichigo bertumpu di samping tubuhnya.
"Aku serius, Rukia."
Rukia menggeram, mendorong tubuh Ichigo hingga bangkit dari posisi tidak nyamannya. Gadis itu segera beranjak berdiri, memunggungi Ichigo dengan wajah semerah tomat. Jantungnya berdegup seperti hampir menggila dan meledak dalam sekejap.
Tubuhnya kembali menegang, begitu Rukia mendengar desahan napas Ichigo berada di bahu kanannya. Pria itu kembali mengendus, seakan berusaha memastikan berkali-kali.
"Hei—"
"Hentikan itu," potong Rukia, memutar mundur dan menajamkan mata bulatnya. Tangannya memukul ringan lengan kanan Ichigo yang tidak terluka. "Yang lain tidak mempermasalahkan bauku!"
Ichigo mendengus, mengernyit pertanda terusik. "Mereka tidak lebih peka dariku. Dan aku yang bertanggung jawab atasmu—jadi jangan biarkan mereka mengendusmu."
Rukia hampir tertawa, begitu mendengar penuturan yang masih terasa aneh baginya. "Aku bukan makanan ataupun pengharum ruangan. Sampai kapan kau akan tetap mengatakan pendapat anehmu itu, hah?"
Ichigo hanya diam, namun senyumnya mengembang. Jenis senyuman yang berupa ejekan juga tantangan. Pria itu jelas suka akan kemarahan yang terpatri jelas dalam mimik wajah Rukia.
Pintu kamar terbuka begitu saja, berhasil membuat Rukia melompat di tempat. Ichigo masih bersikap tenang, tidak perlu menggerakkan kepalanya untuk mengecek si tamu tak diundang. Dia mengenal betul siapa yang mendobrak masuk.
"Ichigo—ah Rukia! Ini sebuah kemajuan besar, bukan?" Isshin mengangguk senang, tawanya hampir menggelegar di dalam ruangan.
"Jangan memulai hal yang tidak penting!" Ichigo balas menggertak, memelototi ayahnya sendiri.
Rukia tidak bisa menahan rasa malunya. Wajahnya kembali memanas, entah karena alasan yang jelas. Ichigo kah atau ejekan Sang Alpha?
"Apa yang membawamu kemari, Dad?" tanya Ichigo. Ini pertama kalinya Rukia mendengar Ichigo memanggil ayahnya—benar-benar mengakui ayahnya dalam bentuk yang normal. Walaupun itu masih terasa asing di telinganya.
Isshin berubah serius, menatap Ichigo tak meragukan apa yang akan dikatakannya. "Ada hal penting."
"Sebaiknya cepat."
"Karena aku mengganggu waktumu?" Isshin melirik Rukia, tersenyum ramah kepadanya. "Aku menggaggu kalian, Rukia?"
Rukia hanya bisa mengerjap dan tidak tahu harus berkata apa. Mulutnya kaku tidak bisa digerakkan bebas.
"Masalah apa?" Ichigo kembali bertanya, berusaha meraih fokus ayahnya. Dia sudah mengambil kaosnya dan memakai dengan perlahan. Rasa sakit di lengannya masih terasa menusuk. "Aku tahu kedatanganmu kemari tidak sekedar berbasa-basi."
"Ya, karena kupikir Rukia juga perlu mendengarnya. Ini mungkin berkaitan dengan penyerangan Kuchiki Byakuya di Tokyo."
Rukia langsung menengang. Tubuhnya tegap dengan rasa dingin menjalar di punggungnya. "Nii-sama?"
"Apa maksudnya?" Ichigo mengikuti, mengisi keterkejutan yang bisa ditebak.
"Kabar burung yang beredar di kalangan werewolves, bahwa Quincy sudah mencapai perbatasan Asia," jelas Isshin. "Dan kami beranggapan bahwa merekalah yang berusaha mendobrak masuk perbatasan Jepang yang termasuk kuat dikuasai oleh spring fairies. Terlalu pintar dan lihai, Quincy justru mengirimkan informan dan kaki tangannya untuk menjatuhkan kekuatan utama yang dimiliki oleh Byakuya."
"Seakan tidak ingin diketahui jati dirinya," gumam Ichigo menambahkan. "Memakai cara sebersih-bersihnya untuk mewujudkan rencana licik mereka."
Rukia terlihat bingung. Dia tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini mengarah dan—siapa Quincy?
"Siapa Quincy?" tanya Rukia akhirnya. "Apakah mereka bermaksud membunuh nii-sama untuk menguasai Jepang?"
Isshin dan Ichigo memandang Rukia diam. Kebingungan yang menjadikan ruangan itu hening seketika. Pasokan udara semakin menipis dan membiarkan keringat dingin membasahi tenguk Rukia. Detik berjalan seperti jam.
"Kupikir ini akan menjadi cerita yang cukup panjang," ucap Isshin. Senyum ringannya tidak pernah menghilang dari wajah tegasnya, memberikan keamanan untuk Rukia seorang. "Bagaimana kalau kita lanjutkan di kantorku?"
Rukia mengangguk, menjadikan kegugupan menggelayuti tenggorokannya. Kakinya mulai melangkah—memasuki sumber masalah itu sendiri yang lebih pelik dari kelihatannya. Pasukan malam akan segera menghantui hidupnya.
…..~*(to be continued…)*~…..
.
.
.
.
.
.
.
Author's note:
Chapter 11! Sungguh maaf readers, karena mengetik chapter ini memakan waktu yang sangat sangat lama dari sebelumnya. Mood juga otakku yang mendadak bercabang-cabang ini jadi menyulitkan untuk berkonsentrasi. Semoga kalian masih bisa menikmati fic ini dan chapter baru yang bisa menghibur. Di sini masalahnya menjadi lebih kompleks, dengan adanya kedatangan topik baru. Yup! Quincy! Yang bisa kukatakan sekarang hanyalah quincy itu strigoi~ That's all! XD
Dan terima kasih untuk semua pembaca yang sudah menyediakan waktu kalian untuk membaca fic ini! Juga pesan kesan, kritik saran melalui review sangat kuhargai! Terima kasih bagi yang sudah mendukung juga memberi semangat, karena kalian aku berusaha keras mengumpulkan mood yang menguap dan hampir menghilang (?) Love u all~ XD
Penjelasan isi chapter:
Ichigo menebak Senna pelakunya, tapi dia tidak mengambil langkah lanjutan dikarenakan Rukia masih tidak ingin mengakui. Di persidangan tidak bisa menjatuhkan hukuman kepada terdakwa selama saksi tidak membuka suara atau memberikan kesaksian, atapun barang bukti yang lengkap. Nah, di sini itu semua bergantung kepada Rukia. Dan Ichigo masih melihat Senna sebagai teman baiknya, jadi tidak bisa sembarang menyerang.
Rukia masih bersikap tangguh, hanya saja berbagai masalah pelik mengganggu pemikirannya. Mulai dari Byakuya juga masalah pribadi, jadi dia tidak ingin membuka mulut soal mengapa dirinya bisa dijebak oleh seseorang. Rukia tidak ingin menghancurkan kelompok werewolves ini lebih dalam lagi, tidak setelah insiden Ichigo terluka (yang Rukia pikir itu adalah kesalahannya).
.
.
Balasan untuk anonymous dan no-login reviewers:
ayuuuu: Terima kasih untuk reviewnya! Hihihi Senna dapat balasannya kok di sini XD Ichigo sudah mulai pulih dan ada scene Ichiruki-nya juga, moga kamu suka ;)
ika chan: Terima kasih sudah mereview! Rukia bukannya tidak tegas atau tidak berani. Dia dalam kondisi kebingungan yang membuat dirinya ga bisa berpikir logis. Karakter Rukia yang tegas di sini itu bukan asal main juntrung seenaknya aja. Dia masih lihat kondisi dan situasi, di mana werewolves sekarang lebih dominan dan jauh lebih menguasai teritori dibandingkan dia. Rukia memang sekarang berani mengeluarkan sedikit kepribadian kuatnya di dekat Ichigo, karena dia satu-satunya yang menemani Rukia dalam jatah waktu yang lebih banyak. Juga ada tekanan dari kelompok asing yang dia tempati menjadi beban berat, sama halnya dengan Byakuya juga jati dirinya, Rukia jadi sulit untuk memutuskan harus melakukan apa. Ini kuambil dari pengalaman pribadi Terkadang rasanya untuk beradaptasi itu sulit, tapi di chapter ini Rukia sudah mulai pulih. Terima kasih untuk pendapatmu.
nayasant japaneze: Terima kasih sudah mereview! Sekarang Senna mulai agak jinak (?) tapi masih sinis ke Rukia. Namanya aja udah pelindung, jadi Ichigo akan selalu ada buat Rukia, dan di sini dia ngakuin loh ke Rukia :3 Sip deh, sudah kuupdate ini, semoga kamu suka. Jyaa~
Guest: Terima kasih sudah mereview! Senna merasa terancam dengan keberadaan Rukia yang 'dianak emaskan' hohoh… apalagi perhatian Ichigo sekarang beralih ke Rukia. Di chapter ini Ichigo sudah mengakui loh~ Rukia hampir putus asa karena merasa menjadi beban di kelompok, tapi kembali bangkit karena Rangiku dkk juga Ichigo. Semoga chapter ini bisa menjawab sebagian pertanyaanmu… hihihi… Terima kasih buat semangatnya!
El: Terima kasih sudah mereview: Yup, ada actionnya di chapter 10, tapi di sini menghilang dulu. Senna tipikal orang licik di sini, demi mendapatkan perhatian Ichigo lagi XD mirip banget kayak puppy :p Hahaha… teralihkan nih pandangannya. Iya, Ichigo memang telanjang itu, tapi Rukia (sepertinya) ga lihat semua karena terlalu fokus sama luka juga wajah Ichigo. Mudah"an ya.. Rukia sudah mulai pulih di chapter ini, dan ada scene Ichiruki juga loh. Makasih buat semangatnya!
Adin: Terima kasih sudah mereview! Yup sama" juga karena sudah membaca Iya ya, deskripsinya kurang panjang di bagian action. Makasih buat masukannya, nanti aku berusaha lebih detail di scene action selanjutnya ;) Ini sudah kuupdate dan maaf ga bisa cepat. Semoga km suka dengan lanjutannya ya~ Makasih buat semangatnya.
Ella maby chan: Terima kasih sudah mereview! Masa pendek? wkwkwkwk... Senna bermain licik di sini, berusaha narik perhatian Ichigo XD wkwkwkw nah tuh, salah fokus :3 Tapi Rukia ga lihat semua kok, dia liat muka sama lengan Ichigo aja.. hehehe.. Chapter terbaru udah mulai terbentuk lagi hubungan Ichirukinya.. semoga kamu suka!
indryanimer: Terima kasih untuk reviewnya! Hihihi arigatou~ Chapter terbaru sudah dilanjut, semoga kamu suka!
darries: Terima kasih sudah mereview! hhihi.. Senna selicik rubah di sini, tapi dapet omelan dari Ichigo tuh. Ada scene Ichiruki yang ngebuat mereka kembali dekat ;) berkat luka parahnya Ichigo. Kokuto saat ini masih menjadi biang onar kelompok aja kok. Ada musuh besarnya di chapter ini. Semoga suka dengan kelanjutannya XD
good rukia: Terima kasih sudah mereview! Chapter baru sudah diupdate, maaf menunggu lama! Semoga kamu suka dengan lanjutannya. Wah gpp kok, reviewmu ga terlambat ;)
Playlist:
B. O. B feat. Hayley Williams- Airplanes
Imagine Dragons- Bet My Life
Calvin Harris feat Ellie Goulding- Outside
Snow Patrol- I won't Let You Go
G. R. L- Lighthouse
Fifth Harmony- Sledgehammer
Jessie J- Flashlight
Lucy Hale- Lie A Little Better
These songs don't belong to me…
