::The Dark Legacy— First Quarter::
By: Morning Eagle
Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Just to warn you all :: AU, OOC, Misstypos...for this story
Scene 11: The Nightmare, Quincy
~0*0~
.0.
.
.
.
.
.
.
.
Rukia tertegun untuk mengamati suasana yang terkesan familiar. Ruangan yang dimasukinya tidak jauh berbeda dengan ruang kerja Kyouraku di Jepang. Perabot yang terlapisi oleh kayu dan berbau oak tajam. Jendelanya membiarkan cahaya luar menelisik ke dalam, menciptakan bercak heksagonal pada lantai kayu, dari bingkai yang bersusun rapi layaknya cetakan sarang lebah. Tidak lepas dari susunan rak buku yang setebal kamus dunia, berwarna merah bata hingga hijau lumut.
Penarik perhatian utama jatuh pada patung kayu berbentuk sekelompok serigala di atas meja kerja. Taring tajamnya keluar dari mulut yang menganga lebar dan di barisan depan adalah sang Alpha—serigala besar yang melolong ke arah langit, di mana bulan berada. Perlambang kekuatan kelompok dalam sebuah karya seni yang tak bisa terbantahkan keindahannya.
Rukia duduk di atas salah satu sofa, sementara Isshin bersandar di meja kerjanya. Ichigo menyandarkan tubuhnya di samping Rukia, mendesah pelan saat tubuh atasnya menyentuh bantalan empuk sofa. Lukanya tersangga dengan baik, setidaknya tidak membuatnya bersusah payah menahan kernyitan juga denyut rasa sakit.
Gadis itu memainkan jari-jari tangannya, melirik Isshin yang mencari-cari sesuatu di atas meja kerjanya. Di antara buku juga laporan terbengkalai menjadi susunan kertas putih bernoda jamur kuning pucat. Rasa ingin tahu membanjiri pikiran Rukia, ketika Isshin mengangkat salah satu bandul di tangannya. Berbentuk lima rangka bintang di dalam sebuah lingkaran sempurna, berwarna putih bersih bahkan hampir berkilauan bak permata.
"Quincy," ucap Isshin, menarik perhatian Rukia kepadanya. "Simbol dari bandul ini adalah milik mereka. Kelompok strigoi yang berpengetahuan luas dengan hukum mengikat. Mereka selalu bergerak dengan kelompoknya, tidak seperti strigoi liar lainnya. Kelompok yang terbentuk sebagai prajurit tanpa hati, membunuh siapa pun yang menghalangi tujuan utama mereka."
"Strigoi bangsawan pengecut," tambah Ichigo, mendengus kesal. "Mereka tidak pernah menampakkan wujudnya, selain memperalat strigoi lain yang lebih lemah dari mereka. Yang paling licik dari strigoi yang pernah ada."
"Kau selalu meremehkan keberadaan mereka, son," tegur Isshin.
Ichigo mengedikkan bahunya, enggan untuk berkomentar. Kepalanya bersandar miring, hampir menyentuh bahu Rukia.
"Apa maksudnya Quincy itu? Apa mereka berbeda dari strigoi yang pernah terlihat?" tanya Rukia, akhirnya membuka suara. Dia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya lebih lama lagi. Ditambah rasa panas di bahu kanannya, menyapu kulit lehernya lembut.
"Pasukan Putih—begitulah sebagian kaum memanggilnya. Berpakaian serba putih seakan mereka adalah penindak kejahatan yang tersebar di berbagai belahan dunia. Nyatanya, mereka yang menyebarkan kebusukan itu sendiri, sumber tergelap yang pernah ada. Pemerintahan tangan besi yang bersikap arogan juga penantang tak kenal ampun," jelas Isshin bersikap tenang. "Mereka terbentuk hampir seribu tahun yang lalu, dari strigoi ras murni yang sangat langka. Strigoi Rumania, yang terkeji juga tertinggi di antara segalanya. Bukan hal aneh bila para Quincy berusaha menduduki posisi tertinggi di dalam kasta strigoi. Mereka menguasai segalanya."
"Pengeruk darah juga kehidupan. Sungguh tamak!" gerutu Ichigo, berdecak tidak suka. "Mereka tidak pernah puas, bahkan setelah menguasai bangsa werewolf—berusaha menghancurkan kami hingga ke akar! Hah, itu sungguh hal yang mustahil!"
"Mereka mengalahkan kalian—ahh, maksudku, werewolves?" tanya Rukia.
Isshin mengambil salah satu buku di rak tertinggi dan paling berdebu. Jarang sekali disentuh setelah sekian lama. Sejarah tertidur di antara lapisannya, tak lekang oleh waktu.
"Bangsa kami pernah mengalami kekalahan di masa lalu. Peperangan antara strigoi juga werewolf untuk menguasai dataran Eropa, para nenek moyang yang menumpahkan darah mereka di atas tanah kelahiran, berjuang mati-matian. Karena ras murni werewolf sendiri pun berasal dari tanah yang serupa—Bavaria," lanjut Isshin, membuka buku di halaman tengah dan memperlihatkannya kepada Rukia. Gadis itu pernah membacanya sebelum ini, di perpustakaan kediaman Kyouraku. Lolongan pertama yang terdengar di Bavaria.
Sebuah gambar perang kuno tampak terlihat sebagai gambaran bertinta hitam, dua halaman penuh pada buku di tangan Isshin. Seperti ilustrasi kisah dongeng pengantar tidur, tapi lebih menyerupai mimpi buruknya. Rukia melihatnya seksama, memerhatikan ras werewolf yang menyerang strigoi di dalam pertarungan mematikan. Ada serigala yang tertusuk pedang hingga menancap di atas tanah, berikut strigoi yang kepalanya terpisah dari tubuhnya. Pertumpahan darah yang tak terelakkan.
"The First War, 1329," gumam Ichigo, menjelaskan. "Pertarungan untuk perebutan wilayah antara werewolf dan strigoi, berujung pada kekalahan bangsa werewolf di dataran Eropa. Sebagian yang tidak berhasil melarikan diri telah dijadikan budak oleh para penghisap darah keji itu. Quincy ikut andil dalam rencana penyerangan besar-besaran di wilayah werewolf yang memiliki pertahanan lemah. Mereka bersembunyi di balik bayangan dan menyerang secepat kilat."
"Kau seharusnya mendapatkan nilai lebih baik di bidang sejarah, son," goda Isshin, tertawa ringan. Hal itu membuat Ichigo mengerutkan alis tajamnya, merasa terusik.
"Oh, shut up!"
"Dan kisah kelam ini berawal dari seorang pencetus gerakan liar itu—" Isshin melanjutkan, membuka halaman buku beberapa halaman ke belakang, hingga menampakkan sesosok pria bertubuh tinggi dengan rambut dan janggut sehitam arang legam. Berjubah panjang yang mungkin berwarna putih, karena tidak diwarnai oleh tinta hitam. "Sang Mimpi Buruk—Yhwach."
Rukia merasakan ketegangan di sampingnya, tidak lain adalah Ichigo. Pria itu menegakkan bahunya, hingga matanya terlihat lebih terang dari cahaya lampu meja. Rahangnya menegang, berikut geraman yang terdengar samar-samar. Ichigo dalam posisi siaganya.
"Yhwach? Dia pemimpin Quincy?" tebak Rukia, merasakan hawa dingin menyapu tenguknya.
Isshin mengangguk, tersenyum simpul dengan rahang yang juga mengeras. Terlihat sikap kuat sebagai tameng diri dari seorang Alpha penguasa wilayah Utara. Isshin menghela napas, berusaha terlihat lebih tenang.
"Itu yang dikatakan oleh salah satu strigoi, yang menyerang Rukia di sekitar kediaman Kyouraku," jelas Ichigo. "Sang Mimpi Buruk yang sudah mendekat. Jadi yang dimaksudnya adalah pemimpin Quincy?"
"Sudah lama sekali aku tidak mendengar namanya disebut. Selama itu pula ketenangan kami masih bisa bertahan," ucap sang Alpha, bersandar pada mulut meja kerjanya. "Yhwach adalah sebuah nama tua yang jarang sekali disebut. Bukan hal aneh bila generasi werewolf muda tidak pernah mendengarnya. Nama yang tidak boleh disebut sembarangan."
"Ini berkaitan dengan nii-sama?" tanya Rukia terburu-buru, merasakan gemuruh kuat di dadanya. "Itu yang Anda katakan sebelum ini, bukan?"
Isshin tertawa riang, berhasil membuat Rukia semakin tidak nyaman. "Kau mirip sekali dengan kakakmu. Byakuya selalu mengatakan point utamanya, sungguh berterus terang."
"Kaku," tambah Ichigo.
Rukia memelototi pria di sebelahnya, yang sudah menyeringai sambil bersandar riang di bantalan sofanya. Seakan tidak ikut terlibat, Ichigo mendesah lelah sambil memejamkan matanya.
"Kalian pasti sudah mendengar penjelasan Kyouraku mengenai Yuki no Crystal, bukan?"
Ichigo mengangguk kentara, sementara Rukia semakin beringsut tidak tenang dalam duduknya. Hal yang semakin menegangkan mulai bergemuruh layaknya awan hitam pembawa badai.
Kyouraku menerawang jauh, sementara sikap tubuhnya bergeming diam. "Yang bisa kusimpulkan dari perdebatan beberapa kelompok werewolves di Utara juga Eropa, bahwa Quincy mengincar Yuki no Crystal. Dan sekarang gerakan mereka sudah hampir menembus perbatasan Jepang. Ada kemungkinan besar Byakuya mengetahui sesuatu tentang hal ini."
"Apa dia yang menyimpannya?" celetuk Ichigo, membuat Rukia memelototinya.
"Nii-sama tidak mungkin—"
"Jangan berpikiran gegabah, Ichigo. Kebenaran tidak bisa dipandang hanya dengan sebelah mata. Namun, bila dilihat dari gerakan Quincy, sepertinya mereka tertarik untuk menghancurkan pertahanan spring fairies dan berusaha masuk perbatasan. Ada sesuatu di sana, itu yang mereka cari."
Rukia tidak puas dengan penjelasan Isshin. Masih tidak masuk akal, bahkan bagi keberadaan kakaknya sebagai penentu inti cerita. Rukia menunduk pasrah, sementara pikirannya mulai bercabang ke berbagai kemungkinan negatif. Sebuah sentuhan lembut mendarat di atas bahunya. Rasa hangat yang menjalar begitu cepat, membuat gadis itu merasa terlindungi di bagian yang rapuh.
Rukia melihatnya, tangan Ichigo terjulur di belakang lehernya hingga menyentuh bahunya. Seakan sedang meregangkan badan, Ichigo sama sekali tidak mempermasalahkan apa yang sedang dilakukannya saat ini. Begitu pula Isshin, yang masih serius menjelaskan bagaimana spring fairies bertindak siaga dengan kepintaran mereka di atas rata-rata petinggi werewolf Utara.
"Dan satu hal yang perlu ditekankan." Isshin berjalan memutar untuk duduk di kursi kerjanya. Tubuhnya jauh lebih rileks ketika bersandar pada bantalan empuknya. "Racun wolf's bane yang disuntikkan kepadamu, Ichigo—Quincy yang melakukannya, berperan sebagai pemasok utama."
Ichigo sedikit bangkit dari duduknya, melepas sentuhan panasnya di bahu Rukia. Gadis itu sedikit bergidik karena rasa dingin yang kembali menutupi.
"Ini bukan strigoi biasa, seperti yang kita perkirakan. Racun yang diambil oleh kelompok Quincy, satu-satunya yang memiliki akses untuk meracik racun mematikan wolf's bane ke dalam bentuk yang lebih efisien. Menjual racunnya di pasar gelap secara cuma-cuma, dengan tujuan melumpuhkan beberapa kelompok werewolf yang tersebar di Amerika Utara."
Ichigo terkejut dengan penjelasan ayahnya. Matanya membulat dan berubah sedikit keemasan. Geraman teredam, dengan urat leher menegang hingga tampak di permukaan kulit. Amarah hampir membutakan matanya, ketika kalung di lehernya bergemerincing nyaring.
Rukia mengetahui hal itu, Ichigo tidak akan bisa berubah selama kalungnya melilit pernapasan. Tangannya terjulur untuk menyentuh bahu pria itu, berusaha menenangkan dalam bentuk yang tidak mengancam. Sedikit berhasil, ketika napas Ichigo berubah semakin teratur dan kembali stabil.
"Ini tidak bisa dibiarkan, Dad! Hal ini bisa mengancam ikatan kelompok!" Ichigo menggeram tertahan, dengan mata setajam belati. "Kau tahu berapa besar dampak yang bisa dirasakan hanya dalam satu buah suntikan? Dan kali ini dalam jumlah besar!"
"Karena itu kau tidak boleh menyebarkan hal ini kepada anggota lainnya, sebelum para petinggi Utara menyelidiki lebih dalam untuk menemukan solusi utamanya," jelas Isshin sigap.
"Tentu," balas Ichigo singkat.
"Dan sampai saat ini aku masih belum bisa menghubungi Byakuya," desah Isshin, melirik Rukia dengan tatapan prihatin. "Tidak perlu khawatir, Rukia. Pertahanan mereka jauh lebih kuat daripada yang pernah kulihat sebelum ini. Kakakmu akan baik-baik saja, begitu pula denganmu di perlindungan kelompokku."
"Kuharap begitu." Rukia bergumam, menggigit bibirnya yang sedikit bergetar. Membayangkan apa yang bisa terjadi kepada kakaknya adalah beban terbesar yang pernah dirasakannya selama ini. Cahaya seakan terengut dari matanya.
Isshin mengambil sesuatu dari laci mejanya. Sebuah surat yang terlipat rapi. Rukia bisa mencium samar-samar, wangi bunga sakura yang manis. Jantungnya berdegup keras menalu di dada.
"Hanya ini yang bisa kudapatkan dari Byakuya. Hachigen memberikan surat ini tempo hari. Byakuya meminta kalian mencari seseorang."
Rukia tersentak dalam duduknya, hampir terlonjak berdiri. Surat dari kakaknya, pertanda mungkin semuanya akan baik-baik saja.
"Nii-sama?"
"Apa maksudnya?" Ichigo mengikuti, mengerutkan alisnya bingung.
Isshin membuka suratnya, membaca kembali apa yang sudah pernah dilihatnya sebelum ini. Mengingat kembali setiap kata yang tertoreh menggunakan tinta hitam. "Byakuya hanya memberikan sebuah nama asing dalam pesannya—tertulis, 'carilah Senjumaru di Kota Memphis. Kompas ini akan menunjukkan jalannya.' Yang dimaksudnya adalah kompas petunjuk arah milik fairies." Isshin mengeluarkan kompas berlogam emas dengan ukiran dedaunan lancip di permukaannya. Di balik itu, terdapat penunjuk arah dengan jarum menunjuk arah yang bergerak tak stabil.
"Kompas milik fairies," gumam Ichigo. "Jadi ini benar-benar ada?"
"Kompas yang hanya menunjukkan jalan bagi yang memintanya—bangsa fairies. Kemungkinan besar Byakuya sudah memantrainya untukmu, Rukia. Kau tinggal mengikuti arah ke mana jarumnya mengarah."
"Tapi…" Rukia sedikit ragu dengan penjelasan sang Alpha. Matanya menangkap hal ganjil pada kompas itu. Kepada sesuatu yang tidak pernah dikenalnya, asing yang mengganggu. "Apa arti dari semua ini? Siapa Senjumaru dan mengapa aku harus mencarinya?"
"Sayangnya aku tidak memiliki petunjuk apa pun mengenai hal itu, dear," kata Isshin, meminta maaf. "Yang bisa kulakukan adalah membantumu dalam perjalanan ini. Ichigo tentu akan menemanimu, beserta beberapa anggota kawananku. Para orang yang terpercaya, kau tidak perlu khawatir, Rukia."
Ichigo bangkit berdiri, melangkah ke arah Isshin dan mengambil kompas itu. Seperti sebuah logam kuno di tangannya, bergerak ringan dan jarumnya masih menentu pada sembarang arah. "Ini aneh, tidak ada arah yang benar. Apa mungkin semuanya bisa terjawab bila kita menemukan Senjumaru?"
"Semuanya berada pada pilihan Rukia." Isshin tersenyum lembut, memberi semangat kepada Rukia yang masih terlihat bingung. "Cobalah kau yang memegangnya?"
Rukia meneguk ludahnya, merasakan rasa dingin menghantam perutnya. Kakinya sedikit gemetar saat berdiri dan menopang tubuhnya, berjalan terseret ke arah Ichigo. Kompasnya diulurkan, menjadi sebuah penentu takdir masa depan. Hal aneh yang terpusat pada sebuah benda kecil nan rapuh. Rukia memegangnya ragu, ketika jarumnya berputar kian cepat.
Tidak ada yang menghela napas, selama jarum itu memutar dan tiba-tiba berhenti. Jarumnya mengarah ke arah jam tujuh—barat daya.
"Jadi benar, hanya Rukia yang bisa memegangnya." Isshin terlihat takjub, mengusap dagunya yang berjenggot tipis tak rapi.
Ichigo terdiam, memerhatikan bagaimana Rukia mengetuk-ketuk kompasnya dan membalikkannya. Berharap ada trik tertentu yang masih di dalam nalar pikir manusia normal.
"Tepat pada Kota Memphis di barat daya. Sisanya aku bisa serahkan kepadamu," lanjut Isshin, mendesah lega. "Harapan Byakuya ada di dalam kompas itu dan kuharap kau menjaganya dengan baik, Rukia."
Rukia mengerjap kaku, melihat Isshin yang seakan berusaha merangkulnya sebagai salah satu anggota kelompoknya. Sang Alpha yang bermurah hati, bijaksana dan berpikiran terbuka. Sikapnya santai sebagai perwakilan pusat pemerintahan kelompok, salah satu yang Rukia yakini ada di dalam diri Ichigo. Sifat yang menurun, mendarah daging.
"Terima kasih untuk bantuannya, Isshin-san. Aku akan menjaga kompas ini baik-baik," tutur Rukia, menggenggam kompas di kedua tangannya sebagai awal harapan baru. Pertanyaannya terjawab sedikit demi sedikit.
.
.
…..~***~…..
.
.
Kelompok werewolf masih sibuk memasukkan barang ke bagasi mobil, bersiap untuk pergi ke Memphis. Perjalanan yang hanya direncanakan dalam waktu satu hari, sebelum akhirnya mereka berkemas cepat untuk menjalankan misi barunya.
Sementara itu, Rukia duduk di pojok ruangan—garasi khusus tempat penyimpanan kendaraan kelompok. Dia pernah berkunjung kemari malam itu, bersama Ichigo yang sudah mengantarnya berkeliling kota. Satu malam yang membangunkan jantungnya untuk merasakan kehidupan liar. Mendebarkan.
Ichigo memutuskan untuk mengajak Chad, Kensei, Shuuhei, Rangiku, dan Kira bersamanya. Kelompok utama yang selalu mengekori Ichigo kemana pun dirinya pergi. Dan ditambah satu wajah baru yang berdiri di samping Rangiku. Kira—pria berambut pirang pucat dan berwajah lesu. Rukia ragu bahwa pria itu setangguh Kensei atau secekatan Shuuhei. Namun, tatapannya menunjukkan bahwa sikap dingin serigala ada di dalamnya.
Mereka terlihat sibuk memasukkan beberapa tas ransel juga berbagai perlengkapan lainnya. Kensei dan Shuuhei memeriksa mesin mobil. Dua buah Jeep Grand Cherokee yang pernah menjemputnya di bandara Manhattan. Kali ini akan membawanya ke Kota Memphis di barat daya New York. Perjalanan yang membutuhkan waktu kurang lebih delapan belas jam, tidak berhenti. Cukup jauh, belum ditambah pencarian Senjumaru yang entah di mana keberadaannya.
Sesuatu yang tebal dan hangat menyentuh pundak Rukia. Gadis itu mengerjap bingung, ketika mendapati sebuah kain tebal melapisi pundak kanannya. Bahan kulit yang halus berwarna coklat muda.
"Itu jaketku, pakai saja." Ichigo berdiri di samping Rukia. "Ukurannya sudah terlalu kecil bagiku, tapi masih tetap hangat."
Rukia mengambilnya, membelai permukaan yang masih terasa halus. Jenis jaket yang biasanya digunakan saat berkendara motor. "Untukku?"
"Kau tidak membawa jaket tebal, bukan? Udara malam masih dingin di luar sana, walaupun sekarang sudah berganti musim. Musim semi di sini tidak sama dengan di Jepang."
Tidak ada alasan untuk menolaknya. Rukia segera melipat rapi dan menaruhnya di atas pangkuan. Rasanya benar-benar hangat. "Terima kasih."
"Sure," ucap Ichigo menyeringai.
"Ichigo!" Kensei memanggil dari jauh, suaranya hampir menggema di dalam ruangan. "Kita bisa berangkat segera!"
"Kau siap?" Kali ini Ichigo melirik Rukia, memastikan gadis itu baik-baik saja.
Rukia merasa gugup, dirasakan gemuruh di perutnya. Bukan rasa lapar, melainkan rasa tegang yang membuatnya mual. Perjalanan kali ini akan terasa berbeda saat dia berada di dalam pesawat terbang menuju Manhattan. Orang yang bernama Senjumaru memiliki rahasia ganjil dan membuat rasa ingin tahu jauh lebih kental terasa.
Rukia memantapkan tekadnya. Mau tidak mau dia harus tetap melangkah maju. "Aku—"
"Apa-apaan ini?" Suara seseorang dan pintu yang dibuka berhasil memotong kata-kata Rukia. Seorang gadis lebih tepatnya, mendobrak masuk dengan kilatan kemarahan di matanya.
"Damn," gumam Ichigo dengan gigi terkatup. Dia tidak menyangka bahwa Senna akan datang kemari.
"Kenapa kau tidak memberitahuku, Ichigo?" tanya Senna geram, melangkah cepat dengan heels boots yang menderap kentara. Matanya mendelik tajam ke arah Rukia yang tersembuyi di belakang punggung Ichigo. "Dan dia, semua ini karena dia bukan?"
"Ini bukan masalahmu, Senna," jelas Ichigo berusaha menggertak.
"Kau—" Mulut Senna menganga lebar, membuatnya seperti patung dengan mata sebundar kelereng. "Ichigo! Kita satu tim, ingat? Sudah seharusnya aku ikut denganmu, apa pun misinya!"
"Dan aku tidak ingin kau ikut."
"Kenapa?" Teriakan Senna berhasil membuat setiap orang di ruangan terdiam bisu. Amarahnya memuncak hingga otot lehernya menegang. Dia yang merasa dikhianati saat ini.
"Misi ini di luar kendalimu. Alpha sudah memberi perintah kepadaku untuk menentukan anggota kelompok yang ikut serta. Ini semua menjadi keputusanku sendiri, Senna!"
"Dan aku akan ikut, apa pun risikonya!"
"Kau bahkan tidak menyukai Rukia!" Ichigo balas menggertak, membuat Senna mundur satu langkah. "Lakukan tugasmu seperti biasa, sebagai penjaga kelompok selama kami pergi."
"Aku melakukan ini untukmu, sebagai partner! Kita saling menjaga punggung masing-masing, Ichigo!"
"Hei, hei," tegur Kensei, berusaha menengahi perdebatan yang kian memanas. Kedua tangannya terentang di udara, pertanda dia berusaha bersikap netral. "Tenanglah, kalian berdua. Dan sebaiknya kau mendengar perkataan Ichigo—"
"Tidak usah ikut campur, Kensei!" Senna menggeram marah, memelototi Kensei kemudian. Gadis kecil itu bisa menjadi sangat murka dan melawan siapa pun lawannya, yang bahkan pria sebesar Kensei.
"Kita berangkat sekarang!" teriak Ichigo menyelesaikan perdebatan. Suaranya seperti gemuruh petir menyambar di siang hari. Sang Beta melangkah pergi dan menarik Rukia bersamanya.
"Ichigo, tunggu!" Senna ikut berlari, mengejar dengan putus asa. "Jadi ini yang kauinginkan, hah? Memutuskan ikatan kita?"
"Aku tidak memutuskan apa pun, Senna. Aku berusaha mengerti tindakanmu, tapi semua itu terlalu berlebihan. Kau tidak pernah mau mendengarkan kata-kataku, bukan? Yang bisa kaulakukan adalah melanjutkan tugasmu sebagaimana mestinya, mau tidak mau. Dan jaga sikapmu."
"Ini semua karena kau," geram Senna kepada sosok Rukia yang masih terdiam. Matanya kembali menantang. "Seharusnya kau tidak ada di dalam kelompok kami dan mengacaukan ikatan yang sudah terbentuk!"
"Senna! Jangan salahkan siapa pun untuk masalahmu sendiri!"
Senna tidak menanggapi gertakan Ichigo. Dia sudah maju mendekat, berdiri tepat di hadapan Rukia. "Kau tidak hanya memutuskan hubunganku dengan Ichigo, manusia! Anggota yang lain mulai meragukan Ichigo sebagai Beta, ini semua karena kesalahanmu! Kau sudah menjatuhkan status Ichigo, kau tahu?"
Rukia menggigit bibirnya, merasakan gemuruh di dadanya semakin menggertak. Amarah, juga ketidakberdayaan yang mulai menyatu sempurna. Akal sehatnya hampir lenyap di udara yang semakin memanas.
"Kau pikir aku menginginkan hal ini, hah?" balas Rukia sengit. "Berada di tempat ini dan jauh dari rumahku? Seharusnya kau merasa lebih baik, karena keluargamu berada dalam jangkauanmu, tapi tidak denganku. Aku tidak memiliki siapa pun untuk bergantung, sementara kalian terus menghujamiku dengan penilaian semena-mena. Perbaiki itu, bila hal yang kauyakini sudah rusak dan menghilang! Bukankah itu yang harus kaulakukan? Apa salahnya bila aku juga berusaha memperbaiki yang sudah terampas dariku?"
Senna menganga, tidak menyangka Rukia masih memiliki sengatan untuk membalasnya. Matan Rukia hampir setajam werewolf yang marah, dan itu sedikit menakuti Senna. Sebuah rasa frustasi, perlahan bertumbuh menjadi sesuatu yang sangat egois. Pembelaan yang seringkali disebut sebagai penyangkalan. Dibalik semua itu adalah perjuangan tak terbatas.
"Kau hanya manusia," cibir Senna.
"Manusia atau bukan, aku masih memiliki kekuatan untuk menentukan hidupku. Kami bertahan hidup, itu sama saja dengan kalian bukan? Bukankah kau sendiri yang lebih serupa dengan manusia?"
"Kau—"
"Kau memilikiku, bukankah itu yang pernah kukatakan, Rukia?" Ichigo bertanya tajam, melihat Rukia yang masih memeluk jaket tebalnya. Perdebatan Senna dan Rukia terpotong, berakhir dengan tatapan mengerikan dari si gadis berambut terong. Dia tidak memercayai apa yang baru saja didengar telinga tajamnya.
Rukia bergidik, menyadari Ichigo memandanginya dingin. Mencari sebuah penuntutan. "A … aku…"
"Masuklah ke mobil," ucap Ichigo, sedikit menyeringai.
Rukia menunduk tanpa pikir panjang, menghindari perasaan aneh yang tertuju pada dirinya. Baru pertama kali Ichigo menunjukkan sikap yang tak terduga—berbicara kepada Rukia di luar batasan yang semestinya. Bahkan di hadapan rekan-rekan sang Beta sendiri.
Tiba-tiba tubuh Ichigo tertarik ke samping. Rukia tidak bisa melepaskan rasa terkejutnya, ketika sepasang tangan merangkul leher Ichigo dan melihat sebuah ciuman yang tak terduga. Senna mencium Ichigo, beberapa detik yang terasa lama. Keheningan menjadi kecanggungan, bahkan setelah Ichigo melepas cengkraman Senna secara paksa.
Punggung tangan Ichigo menutupi bibirnya, sementara alisnya menekuk sempurna. "Senna, what the—"
"Kau mate-ku, Ichigo. Aku akan melakukan apa yang kauinginkan, selama ikatan yang satu itu belum terputus. Aku memercayainya. Aku akan berusaha mengerti situasinya, selama kau berusaha untuk mengerti diriku—seperti yang sudah kaukatakan," ungkap Senna tersenyum lebar. "Dan itu yang tidak dimiliki manusia sepertimu, Kuchiki—sungguh disayangkan, bukan?"
"Sepertinya tidak lagi, Senna!" Ichigo menaikkan alisnya terlalu tinggi, menyesali langkah yang sudah diambilnya sebelum ini. "Berusaha mengerti dirimu rasanya terlalu mustahil untuk dilakukan, selama kau bersikap seperti ini!"
"Cobalah, Ichigo? Kau tidak pernah menyerah semudah ini sebelumnya, bukan?" balas Senna tersenyum puas, berusaha untuk tidak terintimidasi oleh penolakan sang Beta.
Gadis berambut terong itu langsung melangkah pergi, mantap dan tak terbantahkan. Sekilas, Rukia bisa melihat tatapan Senna meliriknya tajam. Sebuah kemenangan seakan berbicara dari wajah liciknya, itu yang bisa Rukia tebak.
Dan rasa aneh mulai menyerang tubuhnya lagi. Rukia merasakan jemarinya yang bergetar dan matanya yang terasa panas. Menghiraukan hal itu, dia segera melangkah pergi menuju mobil. Menjauh sebisa mungkin.
Rukia duduk di kursi penumpang belakang, menunduk diam sementara Ichigo memerintahkan anggotanya untuk segera berangkat. Gemuruh suaranya semakin berteriak lantang, pertanda suasana hatinya semakin memburuk.
Ichigo menaiki mobil yang sama dengan Rukia, di kursi penumpang depan. Kensei masuk di kursi pengemudi kemudian, memerhatikan ketua grupnya dengan pandangan menilai.
"She's got you, huh?" canda Kensei, menyalakan mesin mobilnya.
"Shut up!" Ichigo menggeram marah, memukul Kensei tepat di lengan atasnya. "Dia benar-benar hilang akal! Dan sampai kapan dia terus memaksakan pilihannya seorang diri?"
"Hei—bagaimana kalau dia benar-benar mate-mu?"
"Aku tidak percaya apa yang disebut mate. Itu hanya legenda."
"Bagaimana menurutmu, Rukia?" Tiba-tiba Kensei berbalik dan menatap Rukia yang masih terdiam bisu. "Kau percaya pada hal seperti ini?"
Rukia melirik Ichigo, yang menolak melakukan kontak mata langsung dengannya. Sebagai gantinya, Ichigo mengamati Rukia dari kaca spion depan. Gadis itu mulai merasakan napasnya memberat.
"Itu bukan urusanku," gumam Rukia, memalingkan wajahnya.
Kensei menaikkan sebelah alisnya tidak percaya, melirik Ichigo sebagai gantinya. Kedua kalinya Ichigo menggeram marah kepadanya, seakan sudah mengganggu bagian teritorinya.
"Baiklah. Kurasa itu menjawab semuanya," ucap Kensei, mengganti gigi mobil sebelum menginjak gasnya. Pintu garasi sudah terbuka lebar dan cahaya matahari lebih terik dari yang diduga sebelumnya. Tidak turun hujan, itu pertanda bagus.
.
.
…..~***~…..
.
.
Menjelang tengah hari, dan rombongan berhenti di tempat pemberhentian untuk mengisi bahan bakar, di sekitar Maryland-Virginia. Terdapat mini market dan restoran cepat saji. Chad dan Kensei memilih untuk mengisi bahan bakar, sementara Shuuhei, Rangiku, dan Kira sudah berjalan menuju ke dalam restoran. Rukia mengambil jalur terpisah, memasuki mini market seorang diri.
Bel berdenting begitu pintu dorongnya dibuka dan pendingin ruangan menjadi penyejuk tengah hari. Rukia mendesah lega sembari menyusuri rak menuju lemari pendingin. Bayangannya terpantul di pintu kacanya, berikut sesuatu familiar yang berwarna cerah. Jingga samar-samar.
Itu Ichigo, Rukia mengetahuinya jelas tanpa perlu berbalik. Seperti biasa pria itu akan terus memantau dirinya. Kemana pun gadis itu pergi, maka sang Beta akan mengikutinya. Bahkan ke dalam jurang terdalam sekali pun. Pemikiran yang bodoh, namun ikatan tugas seorang werewolf sangatlah mengikat.
"Kau membutuhkan sesuatu?" Ichigo yang angkat bicara lebih dulu, di sela-sela lagu I'm not in love-nya 10CC berkumandang.
Rukia memilih diam, memandangi lemari pendingin seperti patung bisu. Kebodohan yang dilihat Ichigo sedikit mengganggu.
"Masih tidak mau bicara?" gumam Ichigo, melangkah mendekat. Bahu mereka saling bersentuhan saat Ichigo membuka lemari pendinginnya. Mengambil sekaleng soda. "Ada apa denganmu?"
Rukia bergeser ke samping dan membuka pintu lemari pendingin sebelahnya. Dia mengambil botol air mineral dingin, merasakan kebekuan meleleh di permukaan tangannya yang panas. "Tidak apa."
"Karena Senna?"
"Dia masalahmu, bukan? Jangan kaitkan denganku lagi," balas Rukia, kepalanya mulai berdenyut kembali. Dia berjalan menjauh menuju rak makanan ringan. Dengan cekatan tangannya mengambil beberapa snack, memeluknya seperti balon dalam tangkupan.
"Kau tidak akan bertumbuh, kalau kau memakan makanan seperti itu," tegur Ichigo, mengambil snack dari tangan Rukia dan membawanya ke meja kasir. "Daging bagus untuk tubuh kurusmu."
"Jangan mendikteku!" Rukia mendesis kesal, mau tidak mau mengikuti Ichigo ke meja kasir.
Ichigo yang membayar, beberapa dolar keluar dari dompet kulitnya. Dan sebuah kertas jatuh dari dalamnya. Rukia melihatnya, itu sebuah foto kecil yang luput dari perhatian Ichigo. Gadis itu mengambilnya dengan sebelah tangan, memerhatikan foto itu lebih dekat.
Seorang wanita muda dengan rambut jingga terang tergerai indah, sedang memeluk seorang bocah yang tertawa lebar. Rambut mereka serupa dan Rukia menyadarinya bahwa itu Ichigo. Bocah kecil itu, yang tertawa hingga memamerkan gigi putihnya dan tanpa kerutan dalam di dahinya. Dan wanita itu adalah ibunya?
"Ini fotomu?" tanya Rukia, menyodorkannya kepada Ichigo.
Pria itu sedikit melotot, sebelum kembali ke sikap lamanya—berusaha tenang. Dia mengambilnya dan memasukkannya kembali ke dalam dompet, enggan berbicara.
"Itu ibumu?" Rukia bertanya lagi, memerhatikan Ichigo yang berubah canggung. Terlihat dari gerak tubuhnya yang sedikit kaku.
"Ahh."
"Dia cantik," gumam Rukia, mengingat kembali wajah wanita itu dalam benaknya. Bagaikan perumpamaan seorang dewi yang turun dari langit. Dan Ichigo mewarisi hal itu dari ibunya, dari garis wajahnya yang rupawan. "Aku belum pernah melihatnya di dalam kelompok."
"Ibuku sudah meninggal." Sebuah pernyataan dari Ichigo yang menusuk Rukia tepat di jantungnya. Mata itu seakan meredup cahayanya, mata Ichigo yang seakan tidak fokus. Pertama kali Rukia melihat ekspresi Ichigo yang berubah murung. Pria keras itu bisa merubah emosinya menjadi seorang pria putus harapan.
"Maaf … Ichigo. Aku tidak tahu," gumam Rukia gugup, melihat Ichigo mulai memandang dirinya. Perlahan rasa murung itu menghilang.
"Kejadiannya sudah lama, tidak perlu khawatir," ucap Ichigo, mengambil kantong belanjaan dan memiringkan kepalanya ke pintu keluar. "Kita harus makan sesuatu. Perjalanan masih panjang."
Terlihat jelas Ichigo tidak ingin menyinggung masalah keluarganya lebih jauh. Pria itu menutup diri, mengalihkan topik sedikit memaksa. Rukia sedikit merasa kecewa, walaupun belum mengenal jauh sosok Ichigo yang sebenarnya. Sebuah harapan yang terasa mustahil, bahwa pria itu akan sedikit bergantung kepadanya.
Rukia mengangguk, mengikuti Ichigo dari belakang. Mereka berjalan lambat menuju restoran yang hanya terisi setengahnya. Kensei dan Chad sudah bergabung dengan anggota lainnya, di sebuah meja besar di tengah ruangan. Sedikit menarik perhatian, dengan sosok Chad juga Kensei yang bertubuh besar. Sebesar para supir truck yang terkadang singgah untuk makan dan minum bir.
"Aku sudah memesan bagian kalian," ucap Rangiku, tersenyum lebar dengan tangan saling bertaut di bawah dagunya.
"Jangan meminum bir di siang hari!" Ichigo menegur anggotanya, ketika menemukan tiga buah gelas bir besar di tengah meja. "Kita sedang melakukan misi, bukan bersenang-senang!"
"Ayolah, ini hanya sedikit," goda Rangiku, meneguk gelas birnya. "Aku tidak akan mabuk hanya dengan segelas bir."
"Tidak dengannya," tunjuk Chad pada sosok Kira yang wajahnya sudah memerah. Sesekali dia cegukan dan berusaha tetap sadar.
Ichigo mengerutkan alisnya kesal, melihat Kira yang memang selalu lemah pada alkohol. "Jangan biarkan Kira yang menyetir!"
"Ini semua karena Matsumoto!" tunjuk Kira yang terlihat panik. "Di … dia memaksaku!"
"Kalau kau tidak kuat, tidak seharusnya kau minum," ucap Shuuhei yang melahap daging porsi besar di hadapannya.
Rukia memilih duduk di samping Rangiku, sambil mendengarkan perdebatan yang tidak penting. Hanya perbincangan pada umumnya—bahasan para werewolves yang kelaparan. Namun, kebisingan itu menjadi sesuatu yang hidup di sekitarnya. Ini kedua kalinya gadis itu merasakan makan bersama menjadi lebih menghibur, yang pertama adalah di kediaman Kyouraku. Makan bersama Byakuya sudah lebih dari cukup sebelum ini, walaupun jarang sekali berkomunikasi selama menyantap hidangan. Tata krama yang diterapkan kakaknya masih menjadi aturan utama, sulit untuk dilanggar.
Dan untuk alasan yang tidak jelas, Rukia menyukainya. Kebisingan yang hanya gurauan ringan dan sesekali membahas sesuatu di sela-sela mengunyah dan meneguk minuman. Hal aneh yang jarang sekali terjadi. Tidak lazim. Berhasil menarik seulas senyum di wajah Rukia. Dia menginginkan semua ini berjalan lebih lama lagi.
Ichigo duduk di sebelah Rukia, ketika pelayan datang mengantarkan dua piring besar, menaruhnya di hadapan mereka. Dua porsi daging sapi besar, dengan kentang goreng dan salad. Rukia memelototi porsi daging yang lebih besar dari ukuran wajahnya sendiri.
"Aku tidak akan bisa memakan semua ini," ucap Rukia, menusuk daging tebal itu dengan garpunya. Tiga kali porsi makannya.
"Sudah kukatakan kalau makanan di Jepang itu sangat sedikit," tambah Kensei, yang sudah menghabiskan makanannya tanpa sisa. "Kalian tidak akan bisa membayangkan apa yang kami makan saat bertugas di sana. Ini yang baru disebut daging!"
Rangiku mengernyit, meminum birnya dalam tegukan terakhir. "Aku tidak bisa membayangkan berapa piring yang bisa kauhabiskan."
"Makan saja," ucap Ichigo, yang sudah memotong dan memakan bagiannya. "Kau bisa memberikan sisanya kepadaku."
"Hei, itu curang!" Kensei menyela, jelas terlihat belum puas dengan makanannya.
"Kau meminum bir dan kau tidak boleh mengambil daging," balas Ichigo menyeringai. Sebelah alis Ichigo naik terlalu tinggi, menganggap remeh sikap Kensei yang lagi-lagi berusaha memenangkan bagiannya. "Selanjutnya aku yang menyetir, karena itu aku butuh lebih banyak asupan. Lagipula lukaku ini masih dalam tahap pemulihan, dan butuh energi dua kali lebih besar."
Rukia baru menyadari bahwa lengan Ichigo yang terluka sudah tidak kaku lagi. Pria itu sudah bergerak seperti biasa, tanpa beban. Bahkan, di balik kaos putih ketatnya, berlapis jaket kulit berwarna coklat tua. Kemungkinan besar dia berbohong demi jatah setengah lebih porsi daging.
Shuuhei tertawa melihat ketidakberdayaan Kensei di sebelahnya. Tidak ada yang bisa membantah Ichigo, sekeras apa pun mereka berusaha. Beta itu terlalu mendominasi dan keras kepala.
"Aku tidak mengerti apa yang kau makan selama di Jepang, Rukia," celetuk Rangiku, bertopang dagu sambil memerhatikan Rukia yang makan dengan sangat lambat. "Tubuhmu terlalu kecil, dear. Kau seharusnya makan lebih banyak dan bisa membanggakan aset tubuhmu." Rangiku berkacak pinggang, sambil memamerkan aset yang dimaksudnya—dadanya, di balik kemeja denim yang sedikit terlalu ketat untuknya.
"Hei! Jangan lakukan itu!" Shuuhei memprotes, tersedak kentang yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Wajahnya memerah seperti tomat.
"Sudah seharusnya kau mendengarkanku," cibir Ichigo, melirik Rukia dari atas ke bawah. "Walaupun itu sepertinya mustahil. Kau terlalu kecil dan terlambat bertumbuh."
Rukia menggeram marah, menusuk seperempat daging milik Ichigo yang baru saja dipotong. Dia mengunyahnya cepat, membuat pria itu tidak bisa berkutik.
"Itu dagingku!"
Suara tawa menjadi sebuah olokan bagi Ichigo. Dia kalah langkah, kali ini oleh seorang gadis kecil yang sekeras dirinya, enggan untuk mengalah.
"She's tough, pal!" Kensei yang tertawa paling keras, menertawai ketidakberdayaan Ichigo. "Aku menyukaimu, Rukia. Kalahkan dia, maka aku akan makin menyukaimu!"
"Jangan dukung dia, Kensei!" Ichigo memprotes, berusaha mencuri kembali dagingnya yang sudah diambil. Rukia menjauhkan piringnya dari jangkauan Ichigo, sambil tetap mengunyah cepat. Seperti marmot. "Berikan dagingku!"
"Bukankah kau yang mengatakannya tadi, kalau aku butuh makan lebih banyak?"
Rukia merasa puas, begitu melihat wajah Ichigo yang berubah panik juga geram, tidak bisa membalas kata-katanya. Dia pantas mendapatkannya, karena sudah terlalu jauh meremehkan kemampuan gadis itu. Tekad Rukia mendorong kelemahannya menjadi penyerangan fatal bagi Ichigo. Gadis yang setangguh werewolf, patut diperhitungkan.
Perlahan kekuatan itu memudar oleh batasan yang tidak bisa dipaksakan runtuh. Rukia mulai merasakan sakit di perutnya, setelah menghabiskan setengah lebih porsi makanannya. Yang awalnya mampu makan dengan semangat menggebu, kini perlahan menghilang dalam bentuk kunyahan seperti mengunyah kertas. Ini terlalu berlebihan untuknya.
"Menyerah?" ejek Ichigo, sambil meminum sodanya. Dia menunggu Rukia mengaku kalah.
Rukia mendesah dan menyadari beberapa orang sudah pergi meninggalkan meja makan. Chad dan Shuuhei sudah pergi, kembali ke mobil mereka untuk persiapan perjalanan berikutnya. Kensei bersandar malas di kursinya, memijit kepalanya dalam diam. Salahkan birnya untuk hal satu itu. Berikut Kira yang berbaring tak berdaya di atas meja, memejamkan matanya sambil mengeluh tak jelas.
"Sepertinya pertarungan ini masih akan terus berlanjut," ucap Rangiku yang masih setia menantikan siapa pemenang perdebatan sengit ini. Ichigo yang menunggu atau Rukia yang berusaha keras dalam usaha terakhirnya. "Aku akan mencari udara segar."
Rangiku berjalan pergi, dengan langkah yang seperti model peragaan busana. Dengan tubuh moleknya—pinggang kecil dan pinggul yang bergoyang—menjadi pusat perhatian para pria yang sedang beristirahat di dalam restoran. Celana jeans ketat memperlihatkan bentuk kaki jenjangnya, yang hanya dimiliki beberapa wanita beruntung dengan gen terbaik. Beberapa siulan menggoda terdengar lantang, ketika Rangiku menyibakkan rambut emasnya sebelum membuka pintu keluar.
"Apa dia selalu melakukan hal itu?" tanya Rukia, berusaha mengalihkan perhatian dan mengosongkan pikirannya. Tidak bisa disangkal bahwa gadis itu merasa kalah, mendesah pasrah. Tubuhnya memang terlalu kurus bahkan tidak berotot. Lebih serupa seperti tiang kayu yang rapuh.
"Rangiku suka untuk menjadi pusat perhatian, biarkan saja," jawab Ichigo santai, menghiraukan aksi Rangiku yang entah disengaja atau tidak. "Hei, jangan mencoba untuk alihkan topik! Kau menyerah? Sepertinya kau tidak sanggup lagi menghabiskan dagingnya lebih banyak lagi."
Rukia benci untuk menyerah, tapi kali ini adalah pengecualian. Dengan enggan dia menggerutu, menyodorkan piringnya perlahan ke arah Ichigo. Dia menyerah dalam diam.
Ichigo menyeringai, menyantap daging sisanya penuh kebanggaan. "Sesekali meminta bantuan orang lain bukan masalah besar."
"Kau yang menantangku, ingat?" Rukia mendesis, memegangi perutnya yang terasa lebih berat.
"Dan memakan daging sebanyak ini dalam satu kali santapan tidak akan mengubah banyak tubuhmu, kecuali perut yang membesar."
'Dan mengapa itu tidak terjadi padamu?' ingin sekali Rukia menanyakan hal itu, sebuah misteri alam yang belum terpecahkan. Pria itu masih bisa berjalan tegap bahkan berlari, setelah menyantap porsi besar sekali pun. Mungkin sistem pencernaannya berjalan lebih cepat dari kebanyakan orang, atau werewolves.
"Hei, Ichigo," tegur Kensei yang masih memejamkan matanya. "Setelah menemukan yang bernama Senjumaru itu, apa yang akan kita lakukan?"
"Tergantung kondisinya. Yang kita miliki hanyalah informasi dari Kuchiki Byakuya, satu-satunya petunjuk untuk saat ini. Juga kompas yang dipegang Rukia."
Rukia menyentuh tas selempangnya, merasakan kompasnya masih aman tersimpan di dalam sana. Kompas yang diberikan kakaknya, sebagai arah menuju sebuah misteri yang masih tersegel rapat. Berharap itu bisa menjawab pertanyaan terbesar dalam hidupnya.
"Kompas para fairies," gumam Kensei. "Aku baru mendengar hal itu pertama kali. Mereka sungguh di luar dugaan, penuh dengan sihir."
"Jadi, kau tidak pernah bertemu dengan fairy?" tanya Rukia penasaran.
"Katakan saja kami tidak pernah berinteraksi dengan mereka. Sebagian besar fairies tinggal jauh di Utara, di luar wilayah werewolves. Dan melibatkan mereka dalam urusan kelompok adalah keputusan yang cukup buruk, kecuali bagi beberapa werewolves yang berhubungan khusus dengan mereka. Seperti para petinggi kelompok contohnya." Kensei menjelaskan.
"Kenapa? Kupikir kalian saling membantu…" Rukia tidak mengerti, di luar pemahamannya bahwa bangsa mereka saling menjauh dan berdiri di teritori masing-masing.
Kensei memajukan tubuhnya, bersandar pada topangan tangan di atas meja. Matanya sedikit menyipit dengan senyum miris di guratan wajahnya. "Walaupun kami sama-sama makhluk mistis, bukan berarti harus hidup di satu garis yang sama. Werewolf adalah predator pemburu, berikut strigoi yang lebih menunjukkan sikap dominan mereka pada kelompok manusia. Menurut mereka manusia adalah target buruan—sumber makanan utama. Dan bagi kami, manusia adalah saudara jauh sedarah, masih dalam satu garis keturunan. Fairy memiliki batasan tersendiri, menyembunyikan jati diri mereka dari manusia. Entah alasan apa yang membuat fairy tidak begitu menyukai manusia."
"Tapi nii-sama … dia tidak seperti yang kaukira," ucap Rukia melawan. Byakuya adalah fairy itu sendiri, dan sama sekali tidak bersikap seperti apa yang sudah dikatakan Kensei baru saja. Byakuya tidak menolak keberadaan manusia.
"Yah, mungkin saja spring fairy memiliki tujuan tersendiri—"
"Cukup, Kensei," tegur Ichigo, yang sudah menghabiskan makanannya. Kali ini dia menatap Kensei tajam, jelas-jelas terusik. "Kau akan mengetahuinya sendiri setelah bertemu dengan salah satu dari mereka."
"Fairy?" dengus Kensei, mengangguk terpaksa. "Terserah padamu, Beta."
Rukia merasa tegang, begitu melihat Ichigo menegakkan punggungnya. Sikap dominan Ichigo membuat pria sebesar Kensei pun tidak bisa melawan banyak. Terlihat jelas bahwa Ichigo adalah kandidat Alpha terkuat selanjutnya.
"Aku akan memeriksa mobilnya," ucap Kensei kemudian, berdiri sambil meregangkan tubuhnya. "Ayo bangun, Kira!" Tangannya menepuk keras pundak werewolf kurus itu.
"Huh?" Kira bangun dari posisinya, jelas terlihat tidak suka, juga limbung. "Berangkat?"
"Yah, sekarang!" Kensei menarik siku Kira untuk berdiri dan berjalan mengikutinya. "Dan, Rukia, aku masih menyukaimu, selama Beta tidak bisa membalas gertakanmu. Hanya kau yang bisa melawannya sejauh ini, selain Alpha sendiri." Kensei berkedip jahil sambil tertawa dan berlalu pergi.
"Kensei!" Ichigo terlambat menegur, setelah Kensei sudah menggerakkan kakinya secepat berlari. "
Rukia tersenyum bangga, melihat Ichigo yang menyerapah geram. Anggota yang berada di bawah Beta tidak bisa membalas taring yang sudah diperlihatkan Ichigo, hukum mutlak yang mengikat bagi werewolves. Siapa yang kuat, dia yang berkuasa. Kecuali dia yang memiliki keberanian untuk meloncat dari tebing terjal sekali pun.
"Apa? Jangan tersenyum!" gertak Ichigo tidak suka.
"Jadi, tidak ada yang bisa membalasmu?" tanya Rukia, mengamati gerak gerik Ichigo yang tidak tenang. "Bagaimana dengan Kokuto? Dia pernah membalas gertakanmu, bukan?"
Saat Ichigo membela Rukia dari Kokuto, jelas terlihat werewolf tinggi itu menantang Beta. "Dia salah satu yang memiliki kekuatan untuk menyerang. Taring yang lebih kuat dari yang lain, sikap yang memberontak. Mungkin, dia bisa menjadi Alpha selanjutnya."
"Bagaimana denganmu?" Rukia melotot terkejut, melihat Ichigo yang dengan santainya mengungkapkan kekuatan besar Kokuto. Seperti sedang membahas makan malam apa yang akan mereka santap selanjutnya. "Kau adalah calon Alpha selanjutnya, bukan?"
"Itu bukan keputusan mutlak," desah Ichigo. "Siapa yang memiliki keberanian dan loyalitas, juga kekuasaan besar, dia yang akan memimpin selanjutnya. Siapa pun itu, terlepas dari keturunan murni Alpha."
Rukia tidak bisa membahas lebih jauh. Ini di luar kekuasaanya berbicara, masalah werewolf yang masih asing baginya.
"Kupikir, kau jauh lebih kuat darinya," ungkap Rukia.
Ichigo mendengus, menahan tawanya begitu melihat keseriusan di mata besar gadis itu. Perlahan tubuhnya maju, hingga wajahnya berada tepat di depan wajah Rukia. Terlalu dekat ketika napasnya berhembus hangat. "Benarkah, Rukia?"
Rukia merasa gugup diperhatikan seperti itu. Dia lebih memilih berdiri dan berjalan pergi. Menjauh sejauh mungkin. Canda Ichigo menjadi sebuah hal yang membuat hatinya berubah menjadi dentuman liar.
Ichigo hanya bisa tertawa, menganggap semua ini lucu baginya. Gadis itu terlalu manis untuk digoda. Dan sulit untuk diraih ketika menjauh begitu saja.
Dan seperti biasanya, Ichigo mengikuti Rukia terlalu dekat dan protektif. Langkah Ichigo tidak terdengar jelas, namun kehangatan tubuhnya terasa menusuk punggung Rukia. Entah bagaimana cara dia melakukannya, tapi Rukia menyukainya. Sesuatu yang bisa meyakinkan dirinya bahwa dia aman di bawah pengawasan werewolf muda itu.
…..~*(to be continued…)*~…..
.
.
.
.
.
.
.
Author's note:
Chapter 12, finally! Sudah berapa lama ak belum meng-update fic ini, maaf para readers ;_; Kemarin ini berusaha melunasi hutang-hutang fic lainnya dan emosi untuk membuat fic ini agak memudar. Fic ini mudah dan santai diketik, tapi justru itulah sulitnya! Kalau author lagi mood-moodan dan baper (istilah kekinian) jadi ga bisa ngetik lancar dan cepat. Dan semoga fic ini masih bisa menghibur kalian. Masih dengan Ichigo, Rukia dan kelompoknya. Dan kali ini Ichigo lebih serius terhadap Rukia. Kelihatan tidak?
Senna! Sumber masalah di chapter ini dan dia mencium Ichigo, beneran *please don't kill me*. Dia masih berpendapat kalau Ichigo adalah mate nya. Mereka seringkali bersama sebelum Rukia datang (sepertinya aku sudah mejelaskan bagian ini sebelumnya), jadi dia berpikir mereka partner yang cocok. Too bad, Ichigo nolak dia mentah-mentah. Dan Rukia cemburu? Kalian boleh tebak sendiri… wkwkwkkw~
Misteri hampir banyak terkuak, mulai dari Quincy (akhirnya ini muncul juga) sampai Senjumaru. Siapa Senjumaru? Yang ini akan dibahas di chapter selanjutnya, berikut rahasia besar Rukia! Sabar ya…
Dan terima kasih bagi kalian yang masih membaca fic ini. Terima kasih bagi yang sudah mereview, memberi kesan pesan, pendapat kalian, kritik dan masukan sangat kuterima, selama masih berhubungan sama isi fic-nya. Thanks a lot guys! Love you always~
.
.
Balasan untuk anonymous dan no-login reviewers:
good rukia: Terima kasih sudah mereview! Hihihi makasih banyak. Btul, sikap dominan Ichigo kuat di sini, jdi dia diseganin juga sama yang lain. Soal bau Rukia itu masih rahasia. Chapter depan bisa kelihatan ;)
Snow: Terima kasih sudah mereview! Soal bau Rukia itu masih belum bisa bilang, untuk sementara Ichigo berpendapat karena Rukia sudah jauh dari kampung halamannya, juga jauh dari Byakuya. Makasih buat semangatnya ya, Rukia jg bakal terus semangat di fic ini ;) Chapter baru sudah diupdate, semoga kamu suka ya!
je je: Terima kasih sudah mereview! Soal Rukia ak belum bisa ngomong, tunggu chapter depan ya~ Rukia vs Senna sih belum ada, pasti ada Ichigo di sana, keburu dilerai.. wkwkwk dan Rukia bisa kalah tuh, Senna gitu" kuat. Quincy masih termasuk vampire alias strigoi, cuman itu nama kelompoknya aja (eksklusif). Nah Ishida pengen ak munculin, tapi belum bisa di sini. Mungkin di seri ke dua nanti. Ini totalnya ada 3 seri… hehehe… Byakuya masih ada kok di Jepang, lagi bertapa dia. Chapter barunya sudah diupdate, semoga kamu suka ya ;)
rin azuna: Terima kasih sudah mereview! Iya, akhirnya update, dan ini juga update lama lagi. Makasih kembali rin ;) Rukia masih rahasia, chapter depan bisa kelihatan. Ini ada banyak loh Ichirukinya, campur aduk perasaan mereka. Untuk reviewmu di chapter 11, Ichigo sudah melunak perlahan. Dia lebih perhatian serius ke Rukia. Dan di chapter ini ada pertengkaran mereka sedikit.. hohoho.. Moga kamu suka dengan chapter lanjutannya~
Ciel Strife: Terima kasih untuk reviewnya! Hihihi luph u too~ wkwkwk iya nih, updatenya lama, banyak yang harus dikelarin. Ichiruki-nya di sini juga banyak loh, walaupun ga ada sweet"an, sedikit berantem di sini.. hahhaaha… Chapter depan bakalan di bahas identitas Rukia, ada hints nya setidaknya. Ishida pengen ak keluarin, tapi ga bisa di seri ini. Nanti dia muncul di seri depan. Semoga suka dengan chapter barunya ;)
Ella mabby chan: Makasih sudah mereview ya! Makasih buat sukanya.. heheheh… Ichigo mulai terbuka buat Rukia, tanpa dia sadari. Eh, beneran loh dia cuman mengendus aja.. ga cari" kesempatan.. wkwkwk… Perasaan Ichiruki bakalan berkembang selama pergantian chapter. Strigoi munculnya random kok, dan mereka lebih menyerang teritori werewolf. Rukia masih tersembunyi di antara para werewolf. Senna cuman cemburu sama Rukia, dia ga sengaja bawa Rukia ke situ, soalnya dia ga tau itu daerah strigoi keluar-masuk wilayah werewolf. Quincy itu strigoi kok, quincy sendiri sebenarnya nama kelompok. Strigoi yang eksklusif mereka sudah kuupdate, semoga kamu suka ya ;)
darries: Terima kasih sudah mereview! Shuuhei agak ga percaya sama Rukia, cuman Ichigo aja sih yang sebenarnya murni ngelindungin Rukia benar". Kebanyakan werewolf masih belum bisa menerima Rukia yang seperti orang luar bagi mereka. Byakuya baik-baik aja kok, dia masih bertapa ;) Ichiruki di chapter ini banyak, mereka bakal sering sama". Sudah diupdate lanjutannya, moga kamu suka!
loly jun: Terima kasih sudah mereview! Sudah dilanjut, Ichiruki makin merapat ga ya? hahahha… Banyak kok porsi mereka di sini.
Playlist:
10CC- I'm Not In Love
Phillip Phillips- Home
Avicii- Waiting For Love
Calvin Harris feat Ellie Goulding- Outside
Snow Patrol- I won't Let You Go
Lucy Hale- Lie A Little Better
These songs don't belong to me…
