::The Dark Legacy— First Quarter::

By: Morning Eagle

Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::

Just to warn you all :: AU, OOC, misstype...for this story


Scene 12: Lose Myself

~0*0~

.0.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi … di mana kita?"

"Memphis," gerutu Kensei, masih dalam posisi tiduran di kursi penumpang belakang. Sebelah tangannya menutupi mata.

"Aku tahu itu, tapi darimana kita harus memulai?" Ichigo membalas, memelototi Kensei dari kaca spion.

Rukia memegang kompas di tangannya, mengamati arah jarum yang berputar tidak karuan. Terkadang ke Barat, lalu ke Timur, dan berubah haluan ke Selatan. Dia masih tidak mengerti cara kerjanya.

"Kompas itu sungguh tidak membantu." Tangan Ichigo mengetuk-ketuk permukaan kompas dan langsung ditepis menjauh oleh Rukia. Gadis itu tidak suka saat konsentrasinya diganggu.

"Ini tidak rusak! Entahlah, saat ini tidak bisa berfungsi." Rukia menggerutu kesal.

Rintik hujan mulai turun dan mobil mereka sudah terparkir lama di sisi jalan hampir sepuluh menit lamanya. Jalanan kota kecil itu terlihat sedikit lenggang, dengan beberapa mobil yang hanya melintas tiap menitnya. Ichigo harus mengambil keputusan secepatnya. Sebelum langit gelap dan matahari tenggelam.

Ichigo menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi, menghela napas dalam keheningan. Sudut matanya melirik Rukia yang masih memelototi kompasnya.

"Mungkin memang tidak bekerja saat hari hujan."

"Ini bukan alat elektronik," sanggah Rukia.

"Apa sebaiknya kalian lakukan di luar?" Kensei memberi saran.

Rukia mengangkat wajahnya, memerhatikan rintik hujan yang perlahan seakan menghilang. Awan masih gelap di atas langit, namun para pejalan kaki mulai terlihat lebih banyak di sisi jalan.

"Mungkin memang sebaiknya dilakukan di luar," ucap Rukia, menyetujui.

Gadis itu langsung membuka pintu dan merasakan angin yang lebih dingin menyapu wajahnya. Jaket lama milik Ichigo menyelimuti tubuhnya, hangat dan terasa aman. Rukia harus menggulung ujung lengannya, agar jari-jari mungilnya bisa bergerak bebas.

"Jadi, ke mana?" tanya Ichigo yang sudah berdiri di samping Rukia, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Di bahunya tersampir tas ransel yang entah apa isinya.

Rukia tersentak karena suara rendah Ichigo. Pria itu selalu mengendap tanpa suara, layaknya serigala yang berkeliaran di alam liar.

"Sekitar sini atau memutari blok." Rukia memberi saran.

Ichigo hanya mengangguk, sementara Shuuhei dan Kira mengikuti di belakang.

Kedua pria itu berdiri tegap. Sosok Kira lebih seperti orang yang setengah mengantuk, terlihat janggal tanpa adanya sosok yang menarik perhatian di antara mereka. Wanita dengan rambut bergelombang indah, strawberry blonde, juga pria paling besar di antara mereka.

"Apa Rangiku dan Chad tidak ikut?" tanya Rukia.

"Rangiku merasa pening dan Chad sedang mencari aspirin," jawab Shuuhei, membuat Rukia sedikit tersentak kaget. Shuuhei terlihat berbeda di matanya, mulai menunjukkan banyak perubahan. Dumulai dari penerimaan Rukia sebagai salah satu bagian kelompok hingga membuka suaranya lebih dulu untuk menjawab.

"Apa kau akan baik-baik saja, Kira?" Ichigo melihat Si Pria Pirang yang menundukkan wajahnya.

Keraguan pertanda dari kerutan berlebih di wajah Kira. Meskipun enggan menjawab, tapi yang bertanya adalah Sang Beta. Tidak bisa menolak walaupun merasa takut sekalipun. "Ya, sepertinya. Lagipula, saat ini aku membutuhkan udara segar."

"Rangiku akan membuatmu semakin gila seandainya kau tetap di mobil," canda Shuuhei, menyikut Kira yang berjalan oleng ke samping.

Perdebatan ringan terjadi di antara mereka, sementara Rukia menyusuri jalan dengan konsentrasi penuh pada kompas. Melewati dua blok tanpa hasil menentu, hingga menyebrangi jalan menuju sebuah area yang lebih hijau dan jauh dari kepadatan kota kecil.

"Apa ini arah yang benar?" Ichigo bertanya lagi, tak sabaran.

"Kompasnya semakin stabil ke arah sini." Rukia menjawab, memerhatikan laju kendaraan di jalanan yang tergolong sepi.

"Bersabarlah, Beta. Kita hanya bisa mengandalkan arah kompas, bukan instingmu untuk saat ini," ucap Shuuhei, berhasil membuat Ichigo mendelik tajam.

"Sejak kapan kau bisa berpikiran bijak seperti itu? Kau membenturkan kepalamu?"

"Aku tidak seperti Rangiku!"

"Sudah kukatakan, lebih baik kau mengajaknya makan malam." Kali ini Kira yang berpendapat, berhasil membuat wajah Shuuhei merah padam.

Rukia menghentikan langkahnya, mendapati pertengkaran para serigala lebih menarik daripada yang diduganya. Shuuhei yang berusaha balas memukul Kira, sementara Ichigo meluapkan kata-kata sindiran tanpa tanggapan berarti.

Beta, tidak bisa terbantahkan juga dilawan oleh yang lebih rendah darinya. Keberadaan Ichigo sebagai pemimpin perjalanan ini dinilai Rukia tak efektif karena temperamen pria itu masih dibatas tak stabil. Di sisi lain, pembawaan karisma dan kewibawaannya yang hampir menyerupai ayahnya.

Ketukan di dahi menyadarkan Rukia. Telunjuk Ichigo yang menyentuh, tepat di antara alis gadis itu yang bertaut.

"Jangan diam saja! Sekarang kau terpana padaku?"

Rukia menggigit bibir bawahnya, kesal. Dua werewolf berusaha mencari tahu, berdiri terlalu dekat di belakang Ichigo.

Injakan kuat dilepaskan Rukia tepat di atas sepatu sneakers-nya. Seperti menginjak batu, pria itu sama sekali bergeming. Kesalahan Rukia, membuat wajahnya semakin terasa panas.

"Tidak perlu menginjakku—kalau itu yang kausebut menginjak." Seringaian mengejek mewarnai wajahnya, kepercayaan diri Si Beta.

Kegeraman Rukia ditahan dalam hati. Gadis itu lebih memilih untuk melanjutkan pencariannya tanpa mempedulikan kepercayaan diri Si Beta yang berkepala besar.

"Lebih baik kau yang mengajaknya makan malam, bukan?" Shuuhei memberi pendapat, menahan tawanya dengan senyum canggung.

"Apa maksudmu?"

"Kebodohan dan ketidakpekaan itu berkesinambungan terlalu pelik di dalam kasusmu, Beta," ungkap Kira.

Ichigo menganga, sebagian besar karena lapisan otaknya terlalu tebal. Dia tidak mengerti tanggapan berupa sindirian yang dilontarkan Kira.

"Kerumitan juga pemikiran dalammu itu yang menggangguku, Kira."

"Kau akan segera kehilangan jejak mate-mu bila kau tidak segera bertindak," tambah Shuuhei, menunjuk sosok Rukia yang sudah di ujung jalan. "Lihat, dia akan menyebrang di lampu merah!"

"Sudah kukatakan kalau aku tidak percaya dengan adanya mate, demi malaikat kematian!" Ichigo berteriak, sambil berlari mengikuti instingnya. Dan tepat waktu, ketika tangannya berhasil menahan siku Rukia, sebelum gadis itu menyebrang tanpa melihat rambut.

"Apa yang dilakukan Senna sebelum ini sama sekali tidak membuka matanya. Bukankah ini terlalu kejam untuk dipikul calon penerus Alpha?" Shuuhei berpendapat, berbisik pada Kira tanpa sepengetahuan ketuanya.

Kira mendesah, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia pun terlihat bingung dengan situasinya. "Kita serahkan semuanya pada Beta. Hanya dia yang bisa merasakan, jadi aku tidak tahu pasti selain menebaknya."

"Apa yang dikatakan Shuuhei memang terbukti benar."

"Apanya?"

"Ichigo menutup dirinya selama ini. Dan yang bisa menyadarkan perasaannya hanyalah dirinya sendiri. Bukankah itu salah satu ketentuan untuk menjadi penerus Alpha?"

.

.

…..~***~…..

.

.

Selatan Memphis memberikan pemandangan berbeda. Lebih rimbun namun sedingin musim gugur. Jalanan menjadi lebih sepi dan angin dingin terasa menyapu seluruh permukaan kulit. Tidak terlindung oleh bangunan juga toko berderet, area ini lebih seperti alam liarnya. Sebuah jalan setapak terlihat di sisi pohon tua yang tak lagi memiliki daun rimbun. Arah yang mengarahkan Memphis pada daerah rahasia di balik pepohonan rindang. Jauh dari hiruk pikuk klakson mobil dan aktivitas manusia.

Rukia terkejut saat menyadari kompas itu menunjuk ke arah yang pasti, menuju jalan rindang itu. Jarumnya berhenti, menghentikan langkah si gadis mungil untuk berpikir.

Bertanya-tanya apa yang disembunyikan hutan kecil di daerah Selatan Memphis.

"Rukia?" Ichigo memanggil, menyadarkan lamunan sesaat.

"Jarumnya menunjuk ke arah sana," ungkap Rukia.

"Apa kita harus bertanya pada penduduk sekitar? Terlalu beresiko mengambil langkah lebih dulu," saran Shuuhei.

Ichigo terdiam, mengamati jalan yang seperti jalan pintas itu lebih lama. Instingnya mengambil alih, membuat bahunya menegang, kemudian kembali santai.

"Tidak perlu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap Ichigo, mengambil langkah lebih dulu untuk menelusuri area itu.

Rukia mengikuti di belakang, terburu-buru untuk menyamai langkah besar Ichigo. Dia tidak melihat sebuah akar pohon besar menghalangi jalan, yang menyebabkan kakinya tersandung.

Secepat angin, tangan Ichigo terulur dan menahan tubuh Rukia untuk tidak mencium tanah basah. Kehangatan tubuh Sang Beta membuat Rukia merasa tidak tenang. Panas menyelimuti pipi dinginnya, merasakan getaran aneh di dadanya.

Kedekatan Ichigo selalu membuatnya tidak tenang akhir-akhir ini. Takut untuk mencari tahu lebih jauh, Rukia segera menegakkan tubuhnya dan menjauhi Ichigo. Wangi citrus bercampur sandalwood kini melekat pada tubuhnya.

"Hati-hati saat melangkah. Kau tidak apa-apa—"

"Aku baik-baik saja," potong Rukia, menghiraukan Ichigo dan melangkah lebih dulu di depan. Hampir berlari, gadis itu berusaha fokus pada apa yang ada di genggaman tangannya.

Wajahnya masih tetap merasa panas selama beberapa menit ke depan. Rukia takut werewolf penjaganya akan merasakan keanehan yang terpancar begitu jelas. Napas yang tak teratur berlomba dengan degup jantungnya.

Gadis itu hampir menabrak batang pohon setelah beberapa langkah ke depan. Dan lagi, Ichigo yang menolongnya—melilitkan tangannya di sekeliling bahu Rukia.

"Serius, Rukia. Ada apa denganmu?"

Rukia bertambah tidak tenang, berusaha mencari sesuatu untuk menariknya keluar dari kecurigaan Ichigo yang berlebihan.

"Kau juga mabuk seperti Kensei?" canda Shuuhei, tertawa ringan. Jelas dia mengejeknya.

"Aku baik-baik saja," gumam Rukia, menyerah akan kondisinya yang tak stabil.

Ichigo tetap mengikuti dalam diam, lebih dekat dengan punggung Rukia. Langkah mereka hampir seirama, berpijak pada dedauan lembab yang sudah layu. Jejak sepatu tertinggal pada tanah basah, meninggalkan sesuatu di belakang sebelum memasuki daerah yang terasa asing. Juga dingin.

Rukia merasakan perasaan itu, seperti tepukan pada bahunya atau desiran angin menampar pipinya. Mereka tiba di sebuah lahan yang lebih terbuka, lebih hijau dan murni. Terlihat tak buruk ketika menemukan sebuah jembatan tua yang terbuat dari batu bersusun. Sebuah peninggalan yang berusia lebih lama dari usia Perang Dunia Pertama.

Rukia tertegun, mendapati sebuah rumah yang terselimuti tanaman merambat hampir di seluruh permukaan tembok luarnya. Dia hampir tak menyadari keberadaan bangunan yang sehijau daun musim semi, tampak berbaur dengan murninya alam sekitar.

Sebuah rumah sederhana dengan kusen jendela putih dan cerobong atas yang mengepulkan asap. Pertanda ada orang yang tinggal di sana.

"Di sana?" Ichigo mendekat pada Rukia, melihat kompasnya.

"Ya. Arah jarumnya mengarah ke sana. Mungkin itu tempat Senjumaru, orang yang dikatakan nii-sama."

Ichigo mengangguk, memerhatikan rumah itu sedikit lebih lama sebelum melepaskan napasnya keluar. Sikap tubuhnya sedikit berkurang dari kesiagaan.

"Shuuhei, Kira, kalian berjagalah di sekitar sini. Aku dan Rukia akan memeriksa ke sana." Sang Beta memberikan perintah, tak bisa terbantahkan.

Kedua werewolf muda hanya bisa menunduk patuh, sebelum berkeliaran di sekitar hutan kecil—berjaga, sementara Ichigo mengikuti Rukia yang sudah melangkah lebih dulu.

Tanpa disadari, Sang Beta seakan mengikuti induk barunya. Sebuah perumpamaan yang akan dikatakan Isshin bila Sang Alpha hadir di sana, menyaksikan kekuatan anaknya bisa melebur dan menjadi tameng di sekitar Rukia.

Dua orang yang berjalan tanpa suara, selain derap langkah yang menapaki bebatuan jembatan, menyebrangi sungai kecil penuh batu di dasarnya. Rukia memerhatikan setiap jendela, mencari keberadaan orang yang tinggal di dalam sana. Tak terlihat apa pun, selain refleksi dirinya, ketika berhenti tepat di salah satu jendela depan.

Sedikit tidak yakin untuk mengetuk pintu mahoni tuanya. Besi pengetuk pintu dengan ukiran ular yang saling melilit sedikit menakuti dirinya.

Ichigo melangkah langsung ke depan pintu, mengetuk tanpa perlu menunggu.

"Apa yang kaulakukan?" bisik Rukia, terkejut dan matanya membulat lebar.

"Mengetuk pintu. Ini tata krama dasar sebelum kau memasuki rumah orang."

Gadis itu mendesis kesal, sulit menerima candaan Ichigo yang sarkastis. "Aku belum menyiapkan hatiku."

"Tidak mungkin naga yang keluar dari dalam sana, bukan?" Ichigo mendelik canda, menarik seringainya.

"Memangnya kau tidak mencium sesuatu?"

Ichigo mendengus tidak suka, alisnya bertaut tajam. "Aku bukan anjing, Rukia! Dan yang bisa kurasakan hanyalah bau perapian bercampur dengan sesuatu yang alami dari asap di atas sana—mungkin tanaman herbal, aku tidak yakin. Seperti thyme dan mint dan belerang."

"Mengapa kau tidak memberitahukan hal itu lebih awal?"

"Itu sesuatu yang normal, bukan?"

'Bila menyangkut belerang, mungkin sedikit aneh,' pikir Rukia. Arah pikirnya mengarah ke berbagai kemungkinan.

Perdebatan mereka terhenti, ketika pintu rumah terbuka dengan bunyi kernyitan nyaring. Engsel pintunya sudah terlalu tua, berkarat karena jeritan waktu memakan batang besinya. Seorang wanita berdiri di sana, dengan pakaian serba hitam—selegam rambut panjangnya.

Matanya menilai, memerhatikan dua orang tamu tak diundang yang berdiri di depan pintu rumahnya. Garis wajahnya lembut namun tegas di tulang pipi, menambah kesan tajam mengintimidasi. Bibirnya semerah darah, terkatup rapat tanpa celah menampakkan gigi. Jari tangan bergerak seperti kaki laba-laba, menahan daun pintu untuk tetap terbuka. Perawakan kurus nan misterius, sepekat langit malam.

Rukia masih memegang kompasnya, memerhatikan cara wanita itu bergerak. Cantik setajam duri mawar. Berbahaya. Tapi menyambut baik kedatangan mereka dengan sikap tenangnya.

"Werewolf," kata wanita itu, memandang Ichigo tajam. "Kau tidak diundang untuk memasuki tempatku."

Ichigo mengernyit, memelototi tajam. "Witch," desisnya.

Sebuah kosakata baru dalam kamus Rukia. Penyihir yang berdiri di hadapannya, tak terlihat seperti layaknya penyihir. Tidak berhidung bengkok atau berkulit hijau. Kebalikan dari keburukan, menyimpan keindahan yang mematikan.

Gadis itu terdiam, memerhatikan sikap tegang di antara werewolf muda dan wanita penyihir. Ichigo menunjukkan gertakan dalam sikap tubuh yang siaga. Gigi taringnya terlihat saat mulutnya berkedut menyeringai.

"Sungguh hal yang tidak terduga, Kuchiki Rukia bersama serigala liar datang ke rumahku," lanjut Senjumaru, kali ini menatap Rukia.

"Kau tahu namaku?" Gadis itu berkata penuh rasa ingin tahu, selain identitas asli si wanita yang mulai menatapnya penuh penilaian. Tanpa topi hitam runcing dan hidung bengkok, Senjumaru lebih terlihat seperti wanita gypsy.

"Ada urusan apa kau datang kemari?"

"Nii-sama … kakakku mengatakan kalau aku harus mencarimu," jelas Rukia, menunjukkan tangannya yang memegang petunjuk arah. "Dengan menggunakan kompas ini."

"Kompas milik fairy," gumam Senjumaru, memerhatikan singkat. "Masuklah, kita bicarakan di dalam."

Rukia mengikuti Senjumaru, ketika wanita itu memberikan izin memasuki rumahnya. Matanya mendelik kepada Ichigo, memerhatikan werewolf yang mengekori Rukia protektif.

"Dan hati-hati dengan langkahmu, werewolf. Jangan menyentuh barang-barangku dengan cakar kotormu." Senjumaru memberi peringatan, disambut dengan geraman rendah Ichigo.

Interior rumah tidak terlihat sebagai gambaran mengerikan dari buku dongeng. Tidak ada hewan mati atau bahan-bahan tak lazim yang digantung di langit-langit. Tidak ada panci besar yang dimasak di perapian dengan gelembung-gelembung berwarna ungu gelap. Dan tidak ada kucing hitam yang mendesis di bawah kursi pojok ruangan.

Rumah yang terlihat lebih umum, bergaya kuno dengan dekorasi kayu mewarnai sebagian besar furniture. Rukia memandangnya sebagai kehangatan yang tersembunyi. Terasingkan dari dunia luar.

Buku dongeng tidak menjadi panduan dalam melihat sisi lain kenyataan. Witch, werewolf, fairy, juga strigoi. Semuanya masih terasa aneh berbaur dengan dunia nyata, berada di jalanan atau berkeliaran saat bulan purnama menyingsing di angkasa atas.

Tiba-tiba pintu tertutup dengan sendirinya. Ichigo menengok, mengernyitkan alisnya bingung. Rukia merasakan rasa dingin menjalar cepat ke tenguknya. Rasa tidak nyaman saat sesuatu yang aneh terjadi di depan matanya.

Mencari keamanan tersendiri, gadis mungil itu beringsut mendekat ke arah Ichigo tanpa disadari pria kaku tersebut. Senjumaru menoleh, hanya diam sambil melanjutkan langkahnya lebih ke dalam, melewati lorong pendek ke bagian belakang. Sebuah pintu kayu sudah terbuka setengahnya, memberikan sedikit rahasia dari ruangan yang dituju.

Ruangan yang terlihat lebih hangat dengan dinding bercat ungu tua. Sofa bercorak bunga bohemian, dari biru hingga merah bergradasi teratur. Barang-barang yang menghiasi lebih ke arah Timur Tengah—perunggu tembaga terlihat jelas pada frame foto, tertempel di dinding.

"Duduklah," ucap Senjumaru, sambil menutup gorden hingga ruangan menjadi gelap.

Sebuah lampu menyala otomatis di tengah ruangan. Warnanya biru tua, seakan memberikan sensasi menyelam di kedalaman laut. Gelembung aneh naik dan turun dari dalam lampu, seperti lendir yang bergerak tak beraturan. Rukia mengamatinya seksama, terhipnotis sesaat. Ichigo hanya duduk membisu, kedua tangannya terlipat rapi di depan dada.

Senjumaru duduk di hadapan mereka, menarik lengan bajunya yang terlalu panjang. Gemerincing gelang-gelang di kedua tangannya memberikan melodi di tengah kesunyian dingin. Seperti nyanyian mantra penyihir yang akan memulai ritualnya.

"Baiklah, aku akan memulai dari pertanyaan utamanya. Apakah Kuchiki Byakuya mengatakan sesuatu kepadamu—alasanmu datang mencariku?" tanya Senjumaru, memandang Rukia lebih serius.

Rukia mendadak kaku. Giginya otomatis menggigit bibir bawahnya, menekan rasa gugup juga takutnya. "Nii-sama hanya memberikan pesan untuk segera mencarimu. Yang kutahu hanya itu."

"Apa yang dilakukan seorang witch di tempat seperti ini?" Kali ini Ichigo yang angkat bicara, kerutan di wajahnya sama sekali tak berkurang.

"Ini bukan waktunya kau untuk bicara, werewolf."

"Keberadaan penyihir sudah sangat berkurang di Utara Amerika. Mungkin kau satu dari sedikitnya populasi yang selamat dari perburuan penyihir. Perburuan Salem 1692?"

Benda-benda di sekeliling ruangan mulai bergetar, seperti gemuruh gempa yang muncul tiba-tiba. Sebuah kotak berwarna tembaga melayang tinggi dan menghantam dinding tepat di samping wajah Ichigo. Sang Beta bergeming, seringainya tertarik lebar sebagai tanda perlawanan balik.

Rukia bergidik melihat raut wajah Senjumaru yang murka. Kedua matanya benar-benar hitam legam, tanpa ada putih yang tersisa.

"Beraninya kau menantangku. Anjing sepertimu lebih baik meringkuk ketakutan di pojok ruangan dengan ekor terlipat di antara kaki belakangmu—makhluk kotor!"

Ichigo menantang balik, memiringkan wajahnya ke satu sisi. "Apakah kau sendiri lebih baik, witch? Yang bisa kaulakukan hanyalah tipu muslihat dan menipu makhluk lainnya. Tidak ada bedanya dengan penghisap darah, kelicikan kalian serupa."

Rukia tidak mengerti apa yang menjadi pemicu Ichigo memulai pertengkaran ini. Masalah apa yang sudah menimpa pria itu, juga sikap sensitif Senjumaru pada kelompok werewolves. Hubungan renggang di antara kaum yang tersembunyi dari dunia nyata.

Sekali lagi, benda terbang menghantam dinding di samping wajah Ichigo. Rukia menutup matanya karena terkejut, mendengar suara benturan yang lebih besar dan mengerikan. Kali ini sebuah belati tertancap pada tembok, entah bagaimana caranya benda itu bisa menancap sempurna pada permukaan padat yang tebal.

"Bisakah kau tidak memulai lagi, Ichigo," tegur Rukia, menarik ujung lengan baju Ichigo.

Pria itu hanya menatapnya diam. Sama sekali tak terusik.

"Kau bisa menarik napas lega, karena saat ini aku sedang tidak ingin memenggal kepalamu dan kumasukkan ke dalam panci rebusan, werewolf," ungkap Senjumaru, sudah lebih tenang. Aura gelap perlahan memudar dari wajahnya. "Ada yang lebih penting dari kebodohanmu." Mata Senjumaru kembali melirik Rukia. "Kau—Kuchiki Rukia—apa yang kau ingat?"

"Aku?" Rukia bingung dengan maksud perkataan Senjumaru. Matanya berkedip terlalu cepat.

"Yang ada di dalam tubuhmu, apakah kau bisa merasakannya? Byakuya mengirimmu datang kemari untuk hal itu, bukan?"

"Aku tidak mengerti maksudmu," ungkap Rukia jujur. "Nii-sama tidak mengatakan apa pun…"

"Kau bingung, itu berarti aku tidak bisa melanjutkannya lebih jauh. Hanya kau yang memegang kuncinya. Perlahan, kau akan merasakan itu memancar keluar darimu. Manteraku tidak bisa menyembunyikan segalanya lagi, karena kau mulai beradaptasi dengan sekelilingmu, jauh lebih kuat dari sebelumnya."

Rukia bangkit berdiri, merasa darah di kepalanya mendidih. Perkataan Senjumaru tidak ada yang masuk akal baginya.

"Aku tidak tahu siapa kau sebenarnya, dan berhentilah mengatakan hal yang tidak jelas!"

Senjumaru mendesah, mengganti posisi duduknya menjadi lebih tegap. Lebih mengintimidasi. "Aku dilarang untuk memberikan kebenarannya, kecuali kau sudah menyadari sebagian besar apa yang ada di dalam dirimu, Rukia. Dan dari yang kulihat sekarang, perubahannya sangatlah tidak stabil. Kau masih belum bisa menggunakan kekuatan itu—terlalu muda." Jari telunjuknya menunjuk, tepat ke arah dada Rukia. "Kuchiki Byakuya sudah mengikat janjinya, maka dari itu tidak bisa dipatahkan, untuk identitasmu, young lady. Kau harus mencarinya sendiri, sampai segelnya terbuka dengan sendirinya."

Kesunyian dan kecanggungan merundung ruangan, menyamai awan hitam gelap berpetir. Rukia tidak bisa berkata apa pun, selain memerhatikan jarum kompas di tangannya yang mengarah langsung kepada Senjumaru. Wanita misterius yang memegang kuncinya, tapi melemparkan kunci itu tanpa mau membuka pintu yang mengurung Rukia hingga hari ini. Jawaban yang dicarinya, identitas yang hampir didengarnya, rahasia yang hanya diketahui oleh kakaknya—semuanya menolak untuk diungkap.

"Siapa dirimu sebenarnya," lanjut Senjumaru. "Hanya kaulah yang bisa mengungkapnya."

"Mengapa tidak kau saja yang mengatakan secara langsung, sekarang juga?" Ichigo menggeram rendah. "Stop playing hide and seek, dammit!"

"Kau tidak berhak berbicara atas ini, werewolf. Seharusnya kau menyadarinya sejak awal, bila kau dan gadis ini—"

Senjumaru tiba-tiba terdiam, matanya memandang Ichigo dan Rukia bergantian. Mulutnya setengah terbuka, tidak ada kata yang terucap.

"Tidak mungkin." Penyihir itu berbisik, seperti meracau. "Tidak mungkin kau mengikat ikatan itu. Walaupun ada kemungkinan kecil ini bisa terjadi, tetapi tetap saja terlihat mustahil. Aku tidak pernah yakin kalau keyakinanmu bisa terjadi dalam bentuk berbeda, jauh berbeda…"

"Sekarang apa yang kau gumamkan—"

Suara benturan keras terdengar dari arah luar. Geraman rendah dan lolongan tinggi, diikuti suara retakan akibat benturan. Keributan yang membuat tiga orang di dalam rumah berdiri siaga, terutama Ichigo yang menegakkan bahunya. Matanya menyala, hendak untuk berubah.

"Strigoi!" Ichigo menggertakkan giginya. Inderanya mengambil alih, peka terhadap kedatangan tamu tak diundang.

"Jangan di sini!" cegah Senjumaru, sudah berdiri di samping pintu yang terbuka. "Lewat belakang, cepat!"

Pintu berderak dan terbuka paksa. Jalan keluar tertutup oleh halangan seorang strigoi tinggi pucat. Dia berpakaian serba putih, dengan matanya yang semerah darah meneliti setiap sudut ruangan. Bibirnya tersenyum sinis, menampakkan taring tajam yang dipamerkan layaknya ancaman kematian.

Ichigo spontan menarik Rukia mundur—menyembunyikan gadis itu tepat di belakang tubuhnya. Gemerincing kalung besi di lehernya terdengar bagaikan musik gemuruh perang, diikuti sikap tubuh yang menegang kaku. Dan Senjumaru menghalangi arah serangan Sang Beta, merapalkan mantera tak jelas dengan tangan terentang di depan tubuhnya.

Sang Penyihir membangkitkan angin juga kegelapan. Seluruh rumah layaknya dilanda gempa, membangunkan benda-benda mati dan mengisi udara dengan kabut hitam.

Dinding menampakkan noda darah yang sudah lama kering, seakan halusinasi membutakan mata yang memandang. Puluhan tangan muncul ke permukaan, menyerupai tangan manekin yang bergerak tak lazim. Ditekuk dan memanjang tak tentu arah.

Rukia menahan teriakannya, ketika tangan-tangan itu terlalu cepat menangkap si strigoi yang kebingungan—menariknya masuk ke dalam dinding. Teriakan nyaring dan kertakan keras terdengar, sebelum akhirnya ditelan kegelapan tak bersisa.

Mimpi buruk yang muncul dalam beberapa detik, tidak menyisakan bekas apa pun yang mengganggu pandangan. Dinding tidak lagi bernoda darah dan kabut hitam sudah lenyap ditelan angin.

Tidak ada yang bersuara, kecuali langkah Senjumaru yang berderap menuju pintu keluar.

"Tidak kusangka Quincy yang muncul dan menyerang area pribadiku. Konsekuensinya adalah masuk ke alam lain," ucap Senjumaru, tak terlihat takut atau bahkan panik. "Lebih baik kalian segera keluar dari sini."

Ichigo menarik tangan Rukia yang sedingin es, mengikuti Senjumaru ke pintu belakang. Sebuah area luas yang mengarah langsung pada kaki gunung. Lolongan dan geraman terdengar tak jauh dari sana. Pertarungan satu werewolf dan dua strigoi. Serigala besar berbulu pirang pucat, yang Rukia yakini adalah Kira.

Pergelutan tak adil, merubuhkan Kira yang kesulitan untuk bangun dan menerkam leher musuhnya. Ichigo hampir membuka kalungnya, ketika sekelebat bayangan dengan cepat menyambar satu strigoi dan menghantamkannya ke batang pohon besar.

Werewolf yang lebih besar datang membantu, berbulu abu muda dan bertubuh kekar. Satu strigoi lagi berhasil dijatuhkan Kira ke atas tanah, sebelum dikoyaknya murka.

"Kensei," panggil Ichigo, menarik perhatian serigala abu muda.

Lolongan memekik ke arah langit, ditujukan sebagai komunikasi werewolves yang bersahutan. Rukia memerhatikan ke sekeliling, mencari sosok werewolves lainnya. Memastikan mereka baik-baik saja.

Beberapa strigoi kembali muncul, dari balik pohon dan arah depan rumah. Lebih banyak juga berkelompok, membuat para werewolf siaga hendak memulai pertarungan sengit berikutnya.

"Rukia, tolong pegang ini sebentar." Ichigo menyerahkan tas ransel juga kalungnya kepada Rukia.

Gadis itu hampir menjatuhkan tasnya, yang lebih berat daripada perkiraan. Entah apa isinya, dia tidak bisa menebak.

Ichigo melepaskan sepatu juga jaketnya, merobek sisa pakaiannya ketika tubuhnya bertransformasi mendadak. Rukia hampir mengumpat, melihat Ichigo berubah cepat di depan matanya. Serigala jingga besar yang menggeram juga menancapkan cakarnya pada tanah lembab.

"Kau tidak perlu pamer, werewolf," sindir Senjumaru, mendapatkan geraman rendah dari Ichigo. "Lebih baik bawa gadis ini pergi dari tempat ini. Mereka lebih banyak dari yang kuduga."

"Quincy?" lanjut Rukia, memastikan kelompok strigoi yang mulai dibantai oleh dua werewolf kelaparan. Sisa keributan terdengar dari depan rumah, menyisakan werewolves lainnya yang belum ditemukan Rukia.

"Pergilah ke dalam hutan, lewati kuburan menuju Timur. Dengan kecepatan werewolf, kalian bisa lepas dari kejaran mereka."

"Mengejar? Apakah Quincy itu memburu kami?" tanya Rukia, mengernyit ketika Ichigo berhasil melempar satu strigoi ke dinding rumah.

"Bukan werewolves yang mereka cari, melainkan hal lain."

"Bisakah kau mengatakannya dengan jelas, Senjumaru? Apa yang mereka incar?!"

Amarah Rukia teredam oleh desisan di belakang tubuhnya. Seorang strigoi, Quincy bertubuh besar yang muncul tak terduga.

Senjumaru menarik Rukia mundur, sebelum merapalkan manteranya dengan sebelah tangan. Alunan suara yang seperti melodi Beethoven, memunculkan akar berduri dari bawah tanah, menarik tubuh Si Quincy hingga setengahnya terbenam.

Ichigo datang tepat waktu, menancapkan taringnya pada bahu si Quincy dan mengoyak tubuhnya. Liar, sesuai instingnya yang mengambil alih.

Rukia menyadari bahwa tubuhnya bergetar hebat. Tenguknya terasa dingin, menandakan rasa takut bercampur dalam darahnya. Pembantaian yang merupakan perang darah antara dua kelompok berbeda ideologi.

Ichigo mendekat, membiarkan bulunya disentuh Rukia sebagai pegangan. Tubuh gadis itu hampir oleng ke samping, bila Sang Beta tidak berada di sampingnya. Melindungi dari ancaman strigoi yang mulai mengalihkan fokus kepada mereka.

Kepada Rukia, mendesiskan kata-kata tak jelas yang keluar dari mulut bertaring mereka. Para Quincy yang kelaparan akan keyakinan juga perburuan.

"Aku tahu kau bisa menangani mereka, werewolf. Tapi itu bukan keputusan bijak untuk sekarang," ungkap Senjumaru, merapatkan bajunya ketika angin dingin mulai berhembus. Rambutnya yang tergerai menari-nari di atas udara.

Ichigo menggeram rendah. Matanya memicing, bergerak cepat dari satu strigoi ke penghisap darah lainnya. Dia memikirkan matang-matang ke mana arah serangannya akan berlabuh terlebih dahulu. Dari satu leher ke leher pucat lainnya. Mematahkan tulang baja strigoi dan meremukkan jantungnya.

"Yang mereka incar adalah Rukia."

Rukia bergidik, mencengkram bulu Ichigo lebih erat. Napasnya mulai terasa berat, tubuhnya panik. Angin dingin memberikan sensasi aneh yang menggelitik. Dia tidak menyukai cara para Quincy yang menatapnya seperti mangsa, ditambah pengakuan Senjumaru yang memperburuk keadaan.

Ichigo kembali menggeram, sebelum melolong tinggi pada langit. Suaranya memicu beberapa werewolf berdatangan dan menghantam kelompok strigoi yang mengepung mereka. Chad dan Rangiku ikut serta, bergerak lincah di belakang Kensei. Werewolves berbulu coklat tua pekat dan coklat muda seperti mentari pagi hari.

Sang Beta merendahkan tubuhnya, membiarkan Rukia bersandar pada punggungnya. Gadis itu terkejut saat Ichigo sudah berdiri dan mengambil kuda-kuda untuk berlari. Kaki belakangnya ditekuk terlalu dalam, menginjak tanah sebagai tumpuan.

"Ba … bagaimana denganmu?" tanya Rukia, sebelum merasakan angin menampar pipinya lebih keras.

Kata-katanya terlontar tanpa terjawab, kepada Senjumaru yang tak melepaskan pandangannya pada Rukia. Bibirnya bergerak, namun tak terbaca dari jarak yang semakin jauh, juga tunggangan liar di atas werewolf berlari. Rukia membiarkan penyihir itu perlahan menghilang, sementara Ichigo memasuki hutan dalam langkah tergesa.

Beberapa Quincy berusaha menahan langkahnya. Mereka dijatuhkan begitu mudah, dengan terjangan cepat Ichigo dan werewolf lain yang menerkam leher secara tiba-tiba. Pembantaian yang menyesakkan dada, membiarkan si gadis mungil menutup mata rapat-rapat.

Napasnya ikut memburu, mengikuti arah Ichigo berlari. Menghindari pepohonan dan menginjak batang pohon tumbang sebagai dorongan. Tas ransel bersandar erat pada punggungnya, dan tangan kirinya menggenggam erat kalung rantai yang kembali bergemerincing. Tidak akan dilepaskannya, bahkan bila mereka terjatuh sekalipun.

Benda itu seperti jimat penenang. Memberikan efek positif bahwa dirinya akan baik-baik saja. Walaupun takdir kembali berputar arah dan mengombang-ambingkan kehidupannya. Sesuatu yang ada di dalam dirinya—entah itu apa—merusak akal sehatnya juga perasaannya. Percaya jika dirinya berbeda, Rukia merasakan efek dingin mulai menggelayuti otaknya. Membekukan jalan pikirnya.

Derak pohon yang dicengkram cakar Ichigo, juga gemerisik dedaunan tersapu bayangan besar. Tidak ada suara burung menambah ketegangan pada pelarian mendadak. Lari dari ketidaktentuan, rahasia musuh terbesar.

Yang bisa dipercayai adalah diri sendiri. Tapi, apakah Rukia masih memiliki hal itu di dalam hatinya yang perlahan membeku?

Bukan karena udara dingin yang membakar paru-paru, melainkan hal lain. Sesuatu yang lebih kuat dan berbahaya, terpancar keluar dari dalam dirinya.

..~*(to be continued…)*~…..

.

.

.

.

.

.

.

Author's note:

Sudah berapa lama? 4 bulan! Terakhir kali aku update adalah Oktober… Jeez! Maaf karena kendala waktu juga kesibukanku, fic ini jadi terlantar untuk beberapa bulan. Sebenarnya kerangka sudah dibuat, jadi tinggal mengetik chapter-chapter yang tersusun. Tapi itu membutuhkan waktu, juga mood. Untuk hal ini aku tidak bohong, mood memengaruhi sebagian besar caraku dalam mengetik. Dan mudah-mudahan cara penulisanku tidak menurun di chapter ini, karena sudah lama juga tidak mengetik. Maaf, para reader! TAT~

Chapter ini membahas rahasia dan rahasia… Serba rahasia untuk identitas Rukia sebenarnya, tapi kalian pasti sudah bisa menebaknya. Masalah mate masih mengganggu Ichigo dan sekarang ditambah strigoi mulai berdatangan. Quincy! Mereka lebih jeli juga lebih bisa bekerja secara kelompok dari strigoi liar lainnya. Dan yang muncul di chapter ini adalah prajurit kelas bawah Quincy, jadi belum ada pemimpin alias jendral"nya.

Ichigo vs Senjumaru, ada apa sebenarnya? Yang pasti Ichigo membenci witch, masih dengan alasan tak jelas. Dan Senjumaru membenci werewolf, lebih seperti jijik. Witch satu ini memang sensitif.

Terima kasih bagi para reader yang sudah ak gantungin (hahahhah) dan masih setia menunggu kapan fic ini dilanjutkan. So, here we are! Semoga chapter ini bisa menghibur dan memberikan kunci rasa penasaran kalian, walaupun belum kuungkap secara gamblang. Terima kasih untuk dukungan, review-review kalian yang sangat berarti, saran pendapat, kritik juga masukan. Thanks a lot and always love u all~ :D

.

.

Balasan untuk anonymous dan no-login reviewers:

good rukia: Terima kasih sudah mereview! Hahhaha aduh maaf sekali selalu membuatmu sampai lumutan, semoga chapter ini bisa mengobati :D Rukia bisa dibilang cemburu dan … kamu bisa tebak sendiri.. hahahha Ichigo bisa dibilang ga serius juga ga peka, maklum dia memang agak bodoh sama yang beginian :3

snow: Terima kasih sudah mereview! Iya, jarang ada cewek yang seberani Senna, berani menerjang ombak sekalipun! Yup, Quincy alias Yhwach pemimpinnya, tapi dia belum kelihatan berperan, masih menunggu. Fairy lebih menutup diri dan eksklusif, tapi mereka bangsa yang baik. Jarang terlihat berkomunikas dengan bangsa lain, kecuali pemimpinnya (Byakuya). Ichigo masih ga peka, walaupun sekarang sudah lebih dekat dengan Rukia. Senjumaru mengambil alih di chapter ini, dia pemegang kuncinya… hehehhe.. Makasih buat semangatnya ya! Semoga chapter ini bisa menghibur

Mabby chan: Terima kasih sudah mereview! Senna memang begitu orangnya, main rebut ga pikir dulu…hehehehe… Makasih buat koreksinya, nanti bisa jadi masukan buat ke depannya :D Adegan Senna memang bikin serangan jantung ya? hahaha Semoga chapter ini bisa menghibur.

nayasant japaneze: Terima kasih untuk reviewnya! Yup, Yhwach musuh utama, alias ketua Quincy, tapi belum dapat porsi muncul. Sip, ini sudah kulanjut walaupun sudah lumutan! Maaf sekali~ Terima kasih untuk semangatnya!

Guest: Terima kasih sudah mereview! Hihihi… Si terong penganggu, sekarang dia rehat dulu. Sudah diupdate walaupun lama banget, semoga masih bisa menghibur :D Eh, ini kucik1Naru-chan? Double reviewnya..

Louis: Terima kasih untuk reviewnya! Hahahha itu adegan konfliknya, tapi Ichigo ga merespon banyak. Oh itu nanti dulu, Ichigo kiss Rukia masih menunggu (?) Sekarang Ichigo masih belum peka dan masih fokus ke pertarungan juga masalah Rukia. Hahaha gpp kok, makasih ya sudah selalu membaca, walaupun sekarang ak updatenya kelamaan. Ehh gpp kok, setiap review selalu berharga buat ak. :D Makasih buat semangatnya!

BLEACHvers: Terima kasih sudah membaca dan mereview! Salam kenal juga! Hitsugaya memang ingin kumunculkan di fic ini, tapi belum memungkinkan. Kuhargai permintaanmu, tpi mungkin bakalan muncul di seri selanjutnya, karena fic ini ada 3 seri (rencananya). Terima kasih untuk semangatnya ya! :D

Aichu: Terima kasih untuk reviewnya! Maaf, ak lama banget updatenya, baru sekarang bisa lanjut lagi. Semoga bisa menghibur dan terima kasih sudah mau menunggu lama #hiks Terima kasih ya buat semangatnya~

haruna aoi: Terima kasih untuk reviewnya! Ini sudah kulanjut, maaf kelamaan! Aduh sampai karatan, ini sudah kuampelas sama chapter lanjutannya… hahahha semoga masih bisa menghibur. Ichigo memang dodol, lama" dia jadi dodol beneran nih #plak Perlahan nanti bisa terlihat kok perkembangan hubungan mereka ini. Sip, satu per satu bakalan kuupdate fic yang masih belum complete. :D

Playlist:

Sia- Alive

Disclosure feat Lorde- Magnet

Fall Out Boy- Alpha Dog

Lorde- Yellow Flicker Beat

Of Monsters and Men- Wolves Without Teeth

Borgeous- Wildfire

These songs don't belong to me…