::The Dark Legacy— First Quarter::
By: Morning Eagle
Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Just to warn you all :: AU, OOC, misstype...for this story
And some bloody scene, beware!
Scene 13: The Power Unleashed
~0*0~
.0.
.
.
.
.
.
.
.
Derap langkah Ichigo menghancurkan ranting juga batang kayu yang sudah lapuk. Angin mendesir seperti berbisik nyaring. 'Lari, lari!' Terulang di dalam benak Rukia yang bertumpu pada Ichigo. Tangannya mencengkram bulu Sang Beta hingga buku jarinya memutih. Giginya bergemeletuk karena dingin merayap di sekujur tubuhnya.
Ichigo berbelok tajam, menghindari terbing terjal yang mengarahkannya ke jalan sempit. Menuju sebuah gerbang tua berkarat yang dijalari tanaman rambat. Kabut turun dari puncak gunung, mengisi udara menjadi lebih mencekam.
Sebuah kuburan tua diisi oleh suara gagak hitam penghuni setia. Batu-batu nisan yang sudah berlumut dan bahkan retak dimakan oleh waktu. Kuburan tua yang terbengkalai, menjadi satu-satunya saksi bisu seekor werewolf sedang berdiri tegap menantang bahaya adalah kenyataan pahit.
Rukia bergidik takut, ketika Ichigo memperlambat langkahnya dan memasuki area terlupakan itu. Tidak ada tanda strigoi yang mengejar mereka. Hanya dua individu yang terdiam memandangi tulisan di batu-batu nisan. Seperti terukir oleh kuku jari yang kasar—sudah dimakan oleh waktu.
Sebuah patung malaikat bertengger di batu nisan tertinggi. Sayapnya patah sebagian, menyisakan satu lagi di sisi kirinya. Matanya seakan meratap pada Rukia, mengatakan keadaan di dalam makam adalah kabar buruk yang tersembunyi dari dunia luar.
Rukia menelan ludah, gugup. Bisikan kembali terdengar, dari kiri juga kanan. Entah depan atau belakang. Gadis itu merasakan rasa tidak aman mulai merayapi punggungnya. Mereka belum sepenuhnya terbebas dari ancaman.
Ichigo melangkah ke sisi tembok besar yang hampir seluruhnya hancur—menundukkan tubuhnya sementara Rukia turun dan terduduk di atas tanah. Rukia menyadari kakinya benar-benar lemas, tidak mampu berdiri tegap.
"I … Ichigo…" panggil Rukia, berbisik. Ichigo mulai melangkah pergi, mengibaskan ekornya hingga terdiam kaku di udara. Telinga runcingnya berdiri tegak, bergerak-gerak mendengar sesuatu di udara.
Rukia bermaksud berdiri, namun kembali terjatuh saat Ichigo mendorong tubuhnya lembut. Gadis itu menyadari maksudnya, untuk sembunyi sementara.
Ada yang mendekat, berjalan di balik bayangan. Ichigo lebih memilih melawan daripada tetap berlari tak tentu arah.
Geraman terdengar detik kemudian. Suara sinis seperti pisau diasah juga dedaunan yang diinjak teredam. Satu orang strigoi membuntuti, hingga akhirnya muncul dari baik pohon oak yang sudah meninggalkan semua daunnya.
Strigoi yang berbeda dari yang lain—lebih tenang. Rukia menggambarkannya lebih pintar dari yang lainnya. Caranya melihat juga memerhatikan keadaan sekitar hampir menyamai cara Ichigo berburu.
Quincy—Senjumaru mengatakannya demikian. Berjubah putih panjang dan mengenakan boots coklat tua. Kepalanya hampir separuh botak, dengan rambut mohawk bertengger di tengah kepalanya, semerah darah. Seringainya tersungging, menantang Ichigo yang menggeram kepadanya.
"Anjing pemburu yang melindungi tuannya," sindir si Quincy. "Di mana kau menyembunyikan gadis itu?"
Rukia beringsut menunduk, meringkuk di belakang tembok dan rerumputan tinggi. Dia menahan napasnya, sementara Ichigo menggeram pada sosok yang berdiri di atasnya. Menggertak strigoi yang seakan tak mempedulikannya.
"Aku ada perlu dengannya," ungkap si Quincy. "Tidak banyak waktu yang tersisa, jadi lebih baik kauserahkan gadis itu kepadaku, sebelum aku patahkan seluruh tulang kakimu itu."
Ichigo menggeram, sebelum melompat tinggi dan hampir mengoyak tubuh lawannya. Hampir saja, ketika si Quincy menghindar begitu cepat, tak terlihat. Seperti bayangan yang menari di antara kabut mistis. Kini udara semakin terasa dingin, hari sudah mulai gelap.
"Kau mau bermain-main? Baiklah, aku akan meladenimu, anjing kecil." Si Quincy menyeringai dan memasang kuda-kudanya, sebelum berlari ke arah Ichigo dan berhasil meraih lehernya.
Napas Rukia tercekat, ketika melihat Ichigo berguling di atas tanah, hendak melepaskan lilitan yang sekuat ular besar. Sang Beta tidak bisa bernapas, sementara si Quincy tertawa puas melihat ketidakberdayaannya. Sampai tubuh Ichigo berhasil berdiri dan membenturkan punggungnya—si Quincy yang bertengger—pada tembok reruntuhan.
Rukia berlari menjauh, menghindari pertarungan sengit yang hampir saja membunuhnya seketika. Tepat waktu sebelum reruntuhan menimpa tubuh mungilnya. Gadis itu kembali tercekat, ketika melihat kekuatan Ichigo yang sekuat hewan buas. Dia berhasil menerkam kaki kiri si Quincy yang tidak berdaya—mengerang sambil mencakar-cakar tanah di bawah tubuhnya. Sang Beta tak kenal ampun, melemparkan tubuh si Quincy seperti seonggok sampah, melempar lebih tinggi ke arah batang pohon yang sekokoh baja.
Suara retakan membuat Rukia mengernyit. Entah batang pohonnya atau tulang si Quincy yang patah. Ini mengingatkannya akan pertarungan sengit Ichigo di Jepang—pertama kalinya gadis itu melihat Ichigo berubah menjadi werewolf sempurna.
"Kau mematahkan kakiku!" teriak si Quincy yang terkapar kesakitan. Tulang kakinya menonjol keluar, layaknya ranting pohon yang patah. "Sialan, anjing pemburu sialan!"
Rukia menutup matanya, mundur ke belakang tubuh Ichigo yang kini melindunginya. Tubuhnya bergetar dan ekornya mengibas. Rukia menebaknya bahwa sekarang pria itu sedang tertawa puas.
"Di-sana-kau-rupanya…" bisik seorang wanita tepat di belakang tubuh Rukia, mengeja setiap katanya dengan penuturan lembut yang menusuk. Rasa dingin membangunkan bulu kuduk gadis itu, yang langsung menghindar dari tempatnya berpijak.
Seorang Quincy lainnya, berambut pirang dan mata sebesar cherry. Pakaian utamanya tampak mencolok, serba putih dengan rok yang jatuh di tengah pahanya. Kulitnya hampir seputih seragamnya, layaknya mayat hidup yang diawetkan. Satu-satunya tanda yang membuatnya terlihat hidup adalah mulutnya yang tertarik menyeringai, menampakkan gigi tajamnya.
Ichigo muncul dalam sekejap, berusaha menerkam si Quincy wanita yang berhasil melompat mundur—menjaga jarak. Sang Beta kembali menggeram, menancapkan kukunya di atas tanah yang lembab, membatasi teritorinya. Tangan Rukia terulur dan meraih bulu lebatnya, mencengkram seakan pegangan hidupnya.
"Poor little thing," kata si Quincy wanita, mendecak ketika melihat kondisi rekannya yang terkapar, berusaha untuk berdiri. "Dia mematahkan kakimu, Bazz B? Sudah kukatakan untuk berhati-hati melawan yang satu ini."
"Diam kau Candice!" Bazz B memprotes, mendesis tidak suka. "Kau kemari hanya untuk mengejekku atau mematahkan leher anjing itu?!"
Ichigo menggeram, tanpa aba-aba menerjang Candice yang masih terdiam. Wanita strigoi itu melompat ke udara dan menendang tubuh Ichigo di bawahnya, hingga terpelanting menubruk batu nisan.
Ichigo segera berdiri dan melancarkan serangan berikut, memasang targetnya pada leher Candice. Dan wanita itu selihai tupai melompat, menghindari taring tajam Sang Beta dalam gerakan secepat angin. Ketika mendapatkan celah, dia mengepalkan tinjunya dan meninju rahang Ichigo.
"Ichigo!" Rukia tidak bisa menahan teriakannya, ketika Ichigo kembali terjatuh dengan keras. Kepalanya menghantam batu-batu reruntuhan.
"Lebih baik kau diam saja, manusia. Diam dan saksikan saat aku memenggal kepala serigala kesayanganmu ini!" Candice tertawa sinis, menyeringai seperti nenek sihir. "Aku akan membawanya pulang sebagai suvenir menarik."
Rukia tidak bisa berdiam diri, sementara menyaksikan pertarungan yang berat sebelah. Bazz B mulai berdiri dengan kaki yang pincang, berjalan melompat ke arah Ichigo yang terdesak. Dua lawan satu, kali ini berbeda dengan melawan lima strigoi biasa.
Quincy lebih pintar dan lebih cepat. Kekuatannya setara dengan Sang Beta itu sendiri.
Tangan Rukia tak sengaja menyentuh sebuah tongkat yang terlilit tanaman rambat. Tua dan tertancap pada tanah. Dia terkejut saat menyadari itu adalah sebuah sekop. Sudah berkarat tapi masih bisa digunakan.
Rukia tidak berpikir dua kali untuk mencabut sekop itu sekuat tenaga. Dia akan menggunakan kekuatannya sendiri, semampu yang dia bisa untuk membantu Ichigo. Satu-satunya cara adalah bertindak, suka mau pun tidak suka, pilihan terakhir.
Sekop itu lebih berat daripada kelihatannya. Rukia menyeretnya dengan seluruh bobot tubuhnya, menunggu waktu yang tepat hingga Candice membelakangi tubuhnya. Wanita Quincy itu menghindari serangan Ichigo berkali-kali, hingga berdiri di atas sebuah batu dalam posisi diam, memperhatikan Bazz B yang kembali mencengkram leher sang werewolf.
Rukia mengayunkan sekop ke udara, tepat ke arah kepala Candice. Gerakannya terbaca dengan mudah, ketika Candice menangkap bayangan gadis itu di sudut matanya. Tangan sang Quincy menangkap arah sekop itu mengarah, mematahkannya dalam sekali gertakan.
Rukia mundur, merasakan bobot sekopnya hampir membuatnya jatuh. Menyisakan serpihan kayu tajam di ujung gagangnya.
"Kaupikir ini bisa membunuhku, huh? Jangan bercanda manusia!" Candice memelototinya, dengan mata semerah darah. Menunjukkan kemurkaannya.
"Kupikir ini bisa, penghisap darah memuakkan!" balas Rukia, tanpa pikir panjang menancapkan ujung tongkatnya pada tubuh Candice yang serapuh manusia, ketika ujung tongkatnya berhasil menembus tulang selangka lehernya.
Teriakan si Quincy wanita membelah udara dingin, memekik kesakitan ketika darah merah yang menghitam keluar dari perpotongan bahunya. Tusukan itu terlalu dalam, hingga tidak bisa ditariknya dengan kekuatannya sendiri. Quincy yang tak berdaya, meringis di atas tanah yang kotor.
"Apa yang kaulakukan?!" Candice berteriak tak percaya. Lehernya miring ke satu sisi. "Lepaskan … ini dariku! Bazz B!"
Rukia melihat keadaan Ichigo yang berjalan sempoyongan, berhasil menjatuhkan Bazz B yang tergenang oleh darahnya sendiri. Quincy itu sudah jatuh tak bergerak.
Candice terbatuk, berusaha sebisa mungkin melepaskan tusukan tongkatnya yang merobek pembuluh darah arterinya, sementara Ichigo perlahan mendekatinya. Mata si Quincy terbelalak takut dan bibirnya bergetar hebat.
"Ti … tidak! Ini tidak mungkin … lepaskan tongkat ini!" Dia terbatuk, mengeluarkan darah yang menghitam dari mulutnya. "Manusia sialan! Aku akan membunuhmu gadis sialan!" Tangannya terulur dengan kuku setajam belati. Matanya menyala marah, liar seperti bara api.
Ichigo menggunakan kesempatan terakhirnya untuk menerkam leher Candice, menahan teriakan terakhirnya hingga akhirnya tubuh Quincy itu terkulai tak bergerak. Berhenti melawan.
Rukia menutup matanya erat-erat, menggigit bibirnya yang bergetar takut. Sebelah tangannya mengeratkan pegangan pada tas di bahunya. Pertarungan ini terasa berlebihan dan juga menyeramkan. Di luar batas kemampuannya untuk beradaptasi. Dan seketika itu juga dia sudah mulai bisa merasakan inderanya berfungsi normal. Mulai dari kalung Ichigo yang dikalungkan pada lehernya—ketika Bazz B menyudutkan Ichigo dan terhempas ke bangunan tua—terasa berat sebagai beban tambahan.
Ichigo menyentuhkan moncongnya pada bahu Rukia dan membuat gadis itu terlonjak kaget di tempat. Seakan baru tersadarkan bahwa Ichigo lebih besar dua kali lipat dari tubuh normalnya, sebagai serigala raksasa yang memancarkan kehangatan berlebih. Sang Beta meraih tasnya dengan gigitan ringan, dibiarkan Rukia begitu saja saat werewolf itu melompat ke balik reruntuhan yang menghalangi tubuhnya.
Rukia menggigil seorang diri, merasakan ujung-ujung jarinya yang membeku. Bahkan kukunya mulai membiru dan kepalanya mulai terasa ringan. Udara lebih dingin daripada sebelumnya, memenuhi paru-parunya dengan oksigen yang menusuk.
Mata gadis itu mengerjap, memerhatikan seksama keadaan dua Quincy yang tumbang tak bergerak. Tidak ingin beralih, seakan-akan mereka bisa bangkit kembali dan menyerang dirinya tanpa pertahanan. Walaupun darah hitam menggenang seperti genangan air, yang membuktikan Quincy hidup dalam kekosongan.
"Kau benar-benar membeku," ucap Ichigo, tiba-tiba berdiri di belakang Rukia, memegang siku gadis itu. Rukia kembali terlonjak dan memelototinya marah. "Apakah udara memang sedingin ini? Kita harus segera keluar dari tempat ini."
Rukia memerhatikan Ichigo yang sudah berubah cepat dan berpakaian normal—sweater hitam dan jeans biru tua usang—itulah mengapa dia bersembunyi dengan tas di mulutnya, berganti wujud di belakang reruntuhan. Ya, tentu saja dia butuh privasi, yang membayangkannya saja berhasil membuat rona di pipi Rukia perlahan muncul.
"Kau baik-baik saja?"
Ichigo mengedikkan bahunya, melemaskan otot-ototnya. Tidak ada yang cedera. "Lebih dari baik, kecuali beberapa lebam di punggungku. Akan menghilang dengan sendirinya—ya, I'm fine."
"Apa mereka … mati?" tanya Rukia, bergidik ngeri melihat tangan si Quincy wanita bergerak. "Dia belum mati!"
"Tenang saja, mereka perlahan mati kehabisan darah," jelas Ichigo, mengambil kalungnya di leher Rukia. Jari-jarinya seakan meraba, menelusuri dan membuat gadis itu merinding geli. Rasa hangatnya perlahan tersalurkan, membiarkan Rukia tetap merasa di atas, tidak tenang. "Hanya itu yang bisa kami lakukan, kecuali membakar tubuh mereka hingga menjadi abu. Selama nadi utama di leher bisa diputuskan atau tulang leher yang diremukkan, maka mereka tidak akan bisa bergerak. Tubuh mereka masih tubuh manusia, sebanyak apa pun mereka meminum darah sebagai sumber tenaga, itu tidak akan merubah banyak fisiknya."
"Aku masih meragukan hal itu."
"Terserah kau saja, tapi kau yang menusuknya tadi," celetuk Ichigo. Tangannya terulur ke wajah Rukia dan merasakan dinginnya membeku seperti es. Matanya terbelalak terkejut. "Mengapa kau bisa sedingin ini? Ayo, cepat pergi dari tempat ini!"
Rukia hanya bisa mengikuti, sementara tangannya tergenggam erat pada tangan Sang Beta. Hangat, perlahan tersalurkan dalam jalur yang membuat jantung gadis itu berdebar. Tidak nyaman dan gugup di saat bersamaan. Rukia tidak bisa menahan senyumnya terukir sedikit di sisi mulutnya. Di antara keheningan mencekam yang bisa membunuhnya perlahan, hanya Ichigo satu-satunya sumber kehidupan yang membuatnya bertahan hidup.
Ichigo membantu Rukia naik dari kuburan tua yang bertempat di dasar bukit, mengambil jalur setapak yang mengarahkan mereka ke jalan sebelumnya. Kembali ke tempat Senjumaru, mencari kawanan lainnya dan kembali membentuk koloni.
"Apakah mereka baik-baik saja—Shuuhei dan yang lainnya?"
"Tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Kami dilatih untuk berburu dalam kelompok, jadi kemungkinan besar mereka menang tanpa perlu mengkhawatirkan punggung masing-masing. Ditambah Senjumaru yang misterius—kekuatannya lebih besar daripada yang kuduga untuk ukuran seorang witch."
Rukia semakin mengeratkan pegangannya pada Ichigo, ketika udara di paru-parunya semakin menipis. Dia terengah dan seakan mengidap asma dadakan.
"Rukia?" Ichigo berhenti mendadak dan menahan punggung Rukia yang hampir terkulai lemas. "Kau kenapa?!"
"Di … ngin…" bisik Rukia, merasakan hal aneh pada tubuhnya. Terutama pada dadanya, yang sepanas perapian, membakar dari dalam. "Juga panas… A-aku tidak mengerti…"
"A-ku me-ne-mukan ka-lian…"
Ichigo terbelalak ngeri, mendapati si Quincy wanita berdiri di sana dengan luka dalam. Lehernya miring ke satu arah, dengan tulang remuk yang membuatnya seperti mayat hidup berjalan. Jalur-jalur aneh terbentuk dari area leher yang jaringan-jaringan sarafnya rusak parah. Menyerupai nadi yang membiru, perlahan menghentikan pendarahannya.
Dia kembali hidup, dengan kemurkaan yang lebih mengerikan.
"Apa-apaan—"
Ichigo belum sempat melepaskan kalungnya, ketika Candice menerjangnya secepat angin, menjatuhkannya ke atas tanah. Tangannya mencekik dan kukunya menggores lehernya hingga menancap dalam. Ichigo hanya bisa menggeliat dan berusaha melepaskan tangan Quincy itu darinya.
"Matilah anjing liar! Mati dalam genggamanku!" Candice berteriak dan menahan tubuh Ichigo dengan bobot tubuhnya.
Ichigo berusaha berubah, tapi kalung juga cekikan si Quincy menahannya tetap di bawah. Kekuatan yang sekuat tiga kali pria dewasa—keunggulan Quincy atas werewolf yang masih berwujud manusia. Putus asa terpancar dari mata Ichigo yang seterang bintang menyala, namun perlahan meredup saat oksigen terputus dari pernapasannya.
Rukia melihat semua itu, tidak berdaya. Tubuhnya tidak bisa digerakkan, terbaring lemas jauh dari Ichigo. Tangannya terulur menggapai dedaunan kering, tidak bisa menjangkau Sang Beta yang berusaha meronta lepas dengan kaki terhentak.
Air mata jatuh dari matanya, membeku dalam sekejap sebelum jatuh ke atas tanah.
"Ichigo…"
Sesuatu yang panas mulai terasa dari dalam tubuh Rukia. Memberontak untuk keluar, mengalir di setiap nadinya. Napasnya keluar dalam uap dingin, ketika cahaya itu menerangi matanya. Seperti kristal es yang berkilau indah, berada di atas gunung yang diselimuti salju. Padang salju yang luas dan butiran-butiran kecil kristal jatuh di depan matanya.
Vision—memori yang bukan miliknya mulai menari-nari di dalam benaknya. Seakan dia memang berada di sana, gadis itu tersentak begitu menyadari dirinya—dalam tubuh yang sama layaknya bercermin—berdiri tepat di hadapannya. Mata yang sendu dan hampa, rambutnya sedikit lebih panjang dan hampir menutupi bulu matanya. Dan sayap itu terpapar di belakang punggungnya. Ukiran-ukiran tercantik yang pernah dilihatnya, membentuk serat-serat yang saling terhubung seperti terbuat dari kain transparan.
Dia—dalam wujud lainnya—mengucapkan sesuatu yang tak bersuara. Lalu, beberapa orang menghalangi pandangan, yang berpakaian zirah besi perak berkilau dengan tatapan sedingin es. Semuanya membentuk seperti tameng hidup, bersiaga dari sesuatu yang gelap, tak terlihat dan tak terucapkan.
Memori itu pecah berkeping-keping, menjadi retakan kaca yang berhamburan ke segala arah. Dan semuanya menjadi lebih liar. Rasa dinginnya juga rasa panasnya. Es yang bersatu dengan api, perlahan mengalir keluar dari dalam diri Rukia.
"Sungguh tidak berdaya dalam tubuh manusiamu," sindir Candice, melihat wajah Ichigo yang perlahan membiru. Kedua tangan sang werewolf sudah melemah, dari cakaran juga tinjunya yang sama sekali tidak berarti apa pun bagi Candice. "Lebih lemah dari tubuh monstermu, dan aku bisa mencekikmu seakan menggenggam leher seorang bayi. Tidak berdaya, sungguh miris untuk dilihat."
Ichigo berusaha membuka mulutnya atau sekadar merutuk, tapi tidak bisa. Tembok besar menghalangi jalur pernapasannya, dan kegelapan membutakan penglihatannya. Dia hanya bisa merasakan ajal yang perlahan merayapi kulit, ke sekujur tubuhnya.
Kuku Candice menggores lebih dalam, membiarkan darah segar mengalir dari leher Ichigo, mengacaukan pikiran si Quincy yang semakin menggila. "Dan darahmu … aku butuh darah karena luka ini—yang dilakukan gadis manusia itu. Kau harus membayarnya dengan darahmu, lalu aku juga akan mengambil darah gadis itu," bisiknya di telinga Ichigo. "Dan kau sudah lama mati, ketika aku menikmati darah manusia itu perlahan. Membunuhnya!"
Sesuatu menghantam tubuh Candice hingga terlontar menjauh. Udara masuk ke dalam tenggorokan Ichigo, membuatnya terbatuk dan mengap-mengap kehabisan napas. Sedikit lagi, pria itu akan menemui ajalnya dalam siksaan terburuknya.
Rasa dingin membuat Ichigo menggigil, ketika menyadari jalur es terbentuk dan membekukan tubuh si Quincy. Sebuah patung es di tengah-tengah musim semi yang baru saja berlangsung. Seakan waktu kembali mundur untuk mengulang musim dingin.
Ichigo merutuk dalam hati, begitu menyadari es itu terhubung dalam jalur yang berpusat dari Rukia. Gadis itu, yang berdiri kaku dalam sekejap. Tatapannya kosong dengan tangan terulur ke depan tubuhnya.
Sang Beta mengambil tindakan cepat—melepas kalungnya dan berubah wujud dalam hitungan detik. Dengan mengerahkan seluruh kekuatannya tanpa memikirkan rasa berdenyut di kepala juga lehernya, Ichigo menghempaskan tubuhnya pada si Quincy yang membeku. Menghancurkannya dalam kepingan balok-balok es, mencerai-beraikan tubuhnya.
Quincy itu hancur dan tidak mungkin bisa bangkit kembali. Mimpi buruk yang akhirnya terdiam bisu.
Tubuh Rukia jatuh ke atas tanah, terasa lemas tidak bisa digerakkan. Tangannya bergetar hebat dan ujung-ujung jarinya masih menyisakan es-es yang membeku. Terasa seperti terkubur dalam timbunan salju, napasnya bergetar menahan jantungnya untuk terus berdegup hidup.
Perasaannya meluap-luap seperti buih busa yang muncul ke permukaan laut. Kesendirian, seorang diri dalam kebingungan yang mematikan sistem tubuhnya. Menghambat untuk berpikir, tidak bisa menyangkal semuanya akan baik-baik saja.
Lalu, kehangatan muncul dalam dekapan terhangat yang belum pernah dirasakannya selama ini. Tubuh besar Ichigo yang berbaring di sampingnya dan melindunginya dari kehampaan. Bulu-bulunya menggelitik pipi Rukia, di saat gadis itu bersandar padanya.
Merasa dilindungi dan aman. Walaupun dia tahu ada yang sesuatu yang aneh menjangkit tubuhnya. Sesuatu yang selama ini tertidur dari bagian dirinya.
"A-apa … yang sebenarnya terjadi?" Suara Rukia putus-putus, menggigil hebat. Kedua tangannya memeluk punggung Ichigo yang mengeluarkan suara mengiris hati, melengking sendu. Sang Beta yang ikut bersedih karenanya. "Ichigo…" Pertama kalinya dia merasa rapuh, juga takut. Air matanya kembali keluar dari pelupuk matanya. "—tolong aku…"
.
.
…..~***~…..
.
.
Rukia terbangun dalam kehangatan yang menyelimuti dirinya. Memeluknya erat. Dan dia bersandar pada sesuatu yang hidup, bernapas naik turun dengan degupan jantung terdengar lembut dari telinga kirinya. Seseorang memeluknya, bersandar pada dinding batu yang jauh dari cahaya langit.
Sebersit warna jingga terlihat di atas Rukia, rambut Ichigo yang masih bisa dilihat walaupun bayang-bayang gelap menutupinya. Desiran air sungai mengalir tenang, mengisi kekosongan alam dan menjadi musik di latar belakang.
Kenyamanan yang membuat Rukia ingin kembali terlelap dan tidak ingin terbangun lagi. Ini lebih dari cukup, untuk berisirahat tenang tanpa perlu mengingat mimpi buruknya yang terus berulang.
Dan ingatan itu membuatnya menggigil. Es juga penglihatan yang membuat tubuhnya kembali bergetar takut. Rukia menolak untuk mengingat kembali, ketika es dan salju dingin keluar membuncah dari dalam tubuhnya, terhempas keluar dari ujung-ujung jarinya yang membeku.
Bahkan, sekarang dia masih bisa merasakan rasa es itu yang menggigit kuku-kuku birunya. Menyiksa dan tidak bisa dilepaskan. Dirinya kembali panik.
"Rukia?" panggil Ichigo, bernapas di puncak kepalanya. Rukia kembali menggigil, kali ini karena panas yang terpancar dari tubuh pria di sampingnya. Rasa panas terbakar seperti matahari. "Hei, aku di sini. " Tangan besarnya mengusap-usap lengan Rukia yang terasa dingin. "Kau sungguh dingin. Tetaplah tenang selama aku menghangatkan dirimu."
Mata gadis itu memerhatikan lingkungan di sekitarnya. Dari mulut gua yang segelap malam dan api unggun yang memercikkan lidah apinya. Jilatan api yang sama sekali tidak memberikan kehangatan tambahan, hanya sebagai alat penerang.
"Ini di mana?" Rukia mengeluarkan suaranya, masih bergetar. "Ichigo?"
Ichigo dalam bentuk manusia normalnya, berusaha untuk membuat Rukia tetap hangat. Rasa cemas membuat perhatian berpusat hanya kepada Rukia seorang. "Aku menemukan gua ini di dalam hutan, untuk menghangatkan dirimu. Demi malaikat kematian, tubuhmu benar-benar membeku dan kupikir—" Ichigo menarik napas, mengeratkan kembali pelukannya. "Kupikir aku akan kehilangan dirimu."
Rukia membenamkan wajahnya pada leher Ichigo yang tidak tertupi kaos hitam, mencari kehangatan karena hidungnya masih terasa dingin. Ichigo sempat tersentak ringan, ketika rasa dingin tambahan menyentuh tulang pangkal lehernya.
Keheningan kembali mengisi di antara mereka, di antara tarikan napas dan debaran jantung yang saling menyahut. Yang bisa Ichigo lakukan hanyalah mendekap erat, sementara Rukia menerima tanpa bisa melawan.
Rukia bisa merasakan kekhawatiran dari tarikan napas Ichigo yang tidak tenang. Dan itu mengganggunya, seperti teguran yang membuatnya tetap terjaga.
"Kau tidak mengkhawatirkan hal lainnya? Seperti, mengapa tubuhku bisa mengeluarkan es?" tanya Rukia akhirnya membuka suara, miris, menggigit bibir bawahnya. "Ada yang salah denganku, Ichigo. Aku … merasa tidak normal. Sesuatu di dalam tubuhku membuatku mual dan takut. Dingin juga panas, aku tidak bisa menggambarkannya."
"Kalau begitu jangan," potong Ichigo, menarik Rukia lebih dalam, hingga bibirnya menyentuh kening gadis dalam pelukannya. "Jangan coba pikirkan hal yang membuatmu takut! Karena itu aku di sini, kau tidak sendirian."
"Seharusnya kau takut padaku—pada apa yang tubuh ini lakukan! Kau melihatnya namun menyangkalnya?"
"Aku tidak takut pada apa yang sudah menyelamatkan nyawaku," ucap Ichigo, menyentuh pipi Rukia dengan telapak tangannya dan mengangkat perlahan. Hingga mata mereka bertemu, Ichigo terkejut dengan air mata yang membasahi bola mata Rukia. Rasa sakit yang membuat dadanya terasa nyeri. "Aku berjanji akan mencari jawabannya bersamamu. Apa pun yang kauinginkan, katakan saja padaku. Yang bisa membuatmu tenang dan tidak memikirkan hal buruk ini lagi. Dan tidak membuatmu menangis lagi."
Tangan Rukia terulur dengan sendirinya, menelusuri rahang Ichigo yang tegas sampai ke tulang pipinya. Kerutan di tengah dahi Sang Beta membuatnya ikut mengkerut, menyadari ada seseorang yang sungguh peduli padanya, ketika dia merasa sendirian. Rukia merasa beruntung juga terlindungi.
Karena hanya Ichigo yang bisa membuatnya seperti ini. Terpenuhi.
"Aku tidak menangis," bisik Rukia. "Aku hanya—tidak merasa baik, juga tidak nyaman dengan diriku sendiri."
Pelukan di pinggang Rukia membuat gadis itu bergidik. Jantungnya semakin berdegup kencang, ketika bibir Ichigo menyentuh perpotongan leher juga telinganya. Napas pria itu menderu lembut juga hangat. Perlahan membuatnya hidup.
"Akan kupegang janjiku, selama kau tidak menyembunyikan apa pun lagi dariku. Katakan bila kau merasa sakit atau tidak nyaman," katanya. "Atau yang membuatmu takut. Aku akan melindungimu dengan kekuatanku—itu janji yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku."
Rukia mendongakkan kepalanya dengan mata terbelalak. Dan apa yang ada di hadapannya berhasil memutar sesuatu di perutnya. Mata Ichigo yang lebih terang dari biasanya dan wajahnya yang membuat dunia gadis itu jungkir balik. Penyangkalan yang selama ini dijadikan tameng perlahan mulai runtuh.
Sang Beta berhasil meluluhkan hatinya. Bahkan, es yang kini hilang dari aliran darah juga permukaan kulitnya. Seperti disambut musim panas itu sendiri.
"Ichigo…"
"Kau sudah mulai menghangat," kata Ichigo, seringainya sudah mulai kembali. Tangannya memeriksa leher Rukia juga lengan atasnya. "Sudah lebih baik?"
Harapan yang dirasakan Rukia berusaha disingkirkan. Dengan penolakan yang kedua tangannya lakukan—mendorong tubuh Ichigo menjauh.
"Kita tidak boleh berlama-lama di sini," ucap Rukia gugup, tidak bisa turun dari pangkuan Ichigo selama pria itu tidak mengendurkan pelukannya. Ichigo menolak untuk menjauh. "Yang lain akan merasa cemas bila kita tidak kembali."
"Tidak perlu terburu-buru, karena keadaan di luar sana sudah lebih baik."
"Mengapa kau begitu yakin?" Alisnya bertaut.
Ichigo mengedikkan bahunya, memberikan sikap alaminya. "Insting para werewolf yang terhubung satu sama lain. Selalu seperti itu sejak pertama kali kami berubah dalam wujud werewolf sempurna. Dan—aku masih membutuhkan waktu sebelum kekuatanku kembali pulih."
"Kau terluka," gumam Rukia, mencari sesuatu yang salah pada tubuh pria itu. Tidak ada darah atau luka terbuka, kecuali bekas goresan di lehernya. Masih berwarna merah muda yang bertanda seperti ujung kuku tajam, tepat di atas kalung rantainya.
"Semuanya hampir kembali pulih, kecuali ototku yang seperti ditarik paksa." Ichigo mengerang, membetulkan posisinya juga Rukia di pangkuannya. Matanya terpejam saat bersandar pada dinding batu.
"Tapi, bagaimana bisa—" Rukia menahan napas, saat tangannya ragu untuk menyentuh leher pria itu. Ichigo sama sekali tidak bergerak karena sentuhan ringannya. "Kau bisa menyembuhkan dirimu sendiri. Apa itu kekuatan werewolf yang belum pernah kuketahui sebelumnya?"
Ichigo mendengus, menampakkan giginya saat sudut mulutnya tertarik ke atas. "Ya, seperti itu. Katakan saja kalau tubuh werewolf yang berubah sempurna bisa menyembuhkan lebih cepat daripada tubuh manusianya. Rasa panas juga jaringan otot yang lebih kuat dari makhluk hidup lainnya, mungkin karena itu luka di tubuh kami bisa pulih dalam waktu singkat—tergantung parah atau tidaknya luka yang diterima."
Di sisi lain Rukia merasa iri dari ketakjubannya akan kekuatan lebih yang dimiliki seorang werewolf. Kemandirian juga kepercayaan diri, di mana semua itu adalah hal yang luput dari bagian diri gadis itu. Sulit untuk dikatakan bila dia tidak memercayai dirinya sendiri saat ini. Tidak lagi.
"Kau juga akan baik-baik saja. Akan kupastikan hal itu, jadi jangan khawatir," ucap Ichigo, seperti menjawab apa yang berada di dalam benak Rukia.
Senyum Rukia terbentuk dengan sendirinya, terhalang oleh bayang-bayang rambutnya. Perlahan dia mulai berdiri, ingin merasakan kakinya kembali bergerak dan tidak membeku dalam sengatan es yang melumpuhkan. Ichigo membiarkannya berpindah, namun sebelah tangannya tetap menahan tangan Rukia—menautkan jari-jarinya.
Rukia menahan napasnya, ketika menemukan pemandangan yang selama ini tak terlihat di belakang punggungnya. Air sungai yang mengalir ke mulut gua, juga tanaman rambat yang turun dari atas dinding luar seperti stalakit alami. Warna hijau dari hutan lebat mewarnai area luarnya, yang tidak tertutup oleh kegelapan.
Sinar matahari masih tersembunyi oleh sendunya awan. Namun tingkat kecerahannya mengatakan bahwa sebentar lagi langit akan mulai gelap.
"Tempat ini menakjubkan," ucap Rukia, memerhatikan api unggun di sebelahnya yang belum padam. Kayu bakar bertumpuk sebagai penyangga agar lidah api tidak meredup hilang. "Dan kau bisa membuat api unggun."
"Aku panik ketika merasakan tubuhmu yang dingin tak bergerak. Yang bisa kulakukan hanyalah mencari potongan kayu secepat mungkin dan menyalakan apinya hingga kedua tanganku terasa kapalan."
"Tapi kau tetap bisa melakukannya."
"Tidak ada yang tidak bisa kulakukan," celetuknya, tertawa rendah. "Aku menguasai segala bidang—I'm jack of all trades."
Rukia memutar bola matanya, menahan tawa mirisnya.
"Aku bisa merasakan kau mengejekku."
"Salahkan instingmu yang terlalu peka itu," jawab Rukia, berusaha melepaskan tangannya dari Ichigo. "Bisa lepaskan tanganku?"
"Untuk apa?"
Wajah Rukia tidak pernah lebih merah daripada ini. Dia bersyukur karena Ichigo masih menutup kedua matanya.
"Aku … ingin minum. Tenggorokanku kering."
Ichigo membuka matanya, perlahan melonggarkan jari-jarinya. Rukia yang pertama kali melepaskan genggamannya, meninggalkan rasa hangat itu ketika kakinya melangkah turun ke sumber air segar di hadapannya.
Tangannya merasakan air itu mengalir, menyentuhnya ringan seakan membelai. Air yang masuk ke dalam mulutnya melegakan dahaga yang membuat tenggorokannya mengering. Juga dadanya yang selama ini seperti terikat kuat-kuat.
Dan rasa dingin itu membuat sekujur tubuhnya merinding. Dengan cepat wajahnya berbalik, menatap Ichigo yang juga menatapnya.
Terpisah beberapa langkah dari sumber kehangatannya, membuat Rukia kembali menggigil. Sebuah rasa yang sekarang mulai memasuki nalar sehatnya. Sesuatu yang tidak bisa lagi ditutupi di dasar lubuk hatinya.
Karena Ichigo sangat berarti baginya. Melebihi apa pun di dunia ini. Rasa itu membuncah dengn sendirinya seperti puluhan kembang api di langit malam—tak tertahankan.
Di dalam gua itu mereka bertatapan dalam kebisuan, namun mulai menyadari apa yang sebelumnya pernah terlewatkan. Bahwa mereka saling membutuhkan, satu sama lain.
…..~*(to be continued…)*~…..
.
.
.
.
.
.
.
Author's note:
Aku tahu ini sudah terlalu lama. Maaf bagi yang sudah menunggu dan bertanya-tanya apakah fic ini masih akan tetap berlanjut? Beberapa bulan ini aku mendapat beberapa hambatan, dan akhirnya bisa mengerjakan fic yang masih continue ini. Masih akan tetap berlanjut, itu sudah pasti. Dan aku benar-benar merindukan hubungan Ichigo juga Rukia ketika mulai melanjutkan fic ini. Semoga (aku tidak berani berjanji lagi, karena mungkin bakalan melanggarnya lagi) fic ini masih bisa berlanjut lancar untuk update terbarunya. Ichiruki sudah menyadari perasaan masing-masing, bahwa mereka saling membutuhkan, tapi hanya sampai sebatas itu dulu. Yang berharap lebih, tunggulah sampai chapter terdepan #smirk :D
Info lewat… Awalnya berniat update Black Hair Girl lebih dulu, tapi chapter lanjutannya penuh kekerasan dan kata serapah, ak sendiri masih harus beradaptasi karena sudah lama ga ngetik. Jadi dimulai dari sini dulu, baru akan lanjut ke Black Hair Girl.
Rukia sudah mulai beraksi! Ada es yang sekarang menjadi kekuatan tersembunyinya dan teka-teki akan masa lalunya. Kalian tebak-tebak dulu ya, ak belum bisa menjawab kecuali kalau Rukia memang diincar Quincy.
Candice dan Bazz B muncul sebagai Quincy. Penjelasan ulang sedikit tentang Quincy, bahwa mereka adalah kelompok strigoi yang eksklusif, menamakan dirinya Quincy dengan cirri khas seragam serba putih. Quincy tidak seperti strigoi lainnya yang kadang berburu darah sendiri dan bertindak tidak rasional. Quincy lebih beradab (istilahnya) dan karena itu lebih pintar juga kuat. Salah satu kekuatannya terlihat dari chapter ini, bahwa mereka bisa menyembuhkan diri dengan jalur-jalur aneh yang terbentuk dari pusat lukanya. Kalau di manga nya disebut blunt.
Terima kasih bagi yang masih menunggu juga membaca fic ini! Maaf berkali-kali mengecewakan kalian. Makasih bagi readers yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca fic ini, dan yang baru saja membaca salam kenal ya! Dan bagi yang sudah menyempatkan diri untuk mereview, memberi pendapat dan kesan pesan kalian juga kritik, itu semua sangat berarti bagiku! A lot of loves for you, guys! #bigbighug
Dan ak berikan sedikit hints untuk chapter terbaru, bonus karena sudah lama ga lanjut mengetik fic. Di chapter terdepan, hubungan Ichigo dan Rukia semakin dekat banget banget banget… xD Mereka kembali ke Manhattan dan ada banyak scene Ichiruki. Penampilan perdana musuh baru, bukan hanya werewolf dan strigoi yang bertikai di dunia manusia. Yup, tunggu kelanjutannya~
.
.
Balasan untuk anonymous reviewers dan yang tidak log-in:
haruna aoi: Terima kasih untuk reviewnya ya! Makasih sudah mau menunggu fic yang sudah mulai berlumut ini.. Di chapter ini sudah terlihat Rukia itu siapa, sebagian rahasia terungkap. Ichigo sekarang sudah mulai peka (telat banget) dan keliatan dari caranya memperlakukan Rukia, apalagi setelah dia shock melihat Rukia yang kayak mati membeku. Senjumaru witch, jadi dia pasti tahu sekali lihat, orang biasa aja jg pasti tau sih.. hahahhaa… Ok deh, sudah kulanjut ini dan semoga kamu suka.
Guest: Terima kasih ya! ;)
Mabby chan: Terima kasih untuk reviewnya! Ak ga kemana-mana kok.. hahahhaa cuman akhir-akhir ini sibuk dan ga bisa ngetik berlama-lama (alesan). Belum hiatus donk, selama fic belum selesai.. Maaf sudah kelamaan digantungin jadi harus baca ulang chapter sebelumnya ya.. Lanjutannya sudah kuupdate, setelah sekian lama.. hahaha.. Strigoi berantemnya pakai tangan kosong, karena kekuatan mereka udh kuat banget, fisiknya lebih prima daripada manusia biasa. Cuman tubuhnya masih serupa sama manusia, jadi ditusuk pun masih bisa luka. Klo werewolf ya pakai tubuh, cakar, taringnya mereka, mengingat serupa sama serigala asli cuman tubuhnya lebih besar. :D
NickyBernett: Terima kasih sudah review! Ichiruki nya di sini sudah greget belum? Hehehe.. xD
RifkaHanie: Terima kasih untuk reviewnya! Akhirnya ya.. hahaha.. Ichigo sekarang sudah mulai peka (akhirnya) dan Senjumaru berusaha membuat mereka lebih peka tapi ga berhasil… hahahhaa kepo ya… Udh berdebu nih, tapi akhirnya bisa kuupdate juga.. :D
buu: Terima kasih untuk reviewnya! Maaf sebelumnya ga bisa update kilat, tapi sudah kuupdate…
Kurosaki2241: Terima kasih sudah mereview! Yup, Quincy akhirnya menampakkan diri juga kekuatannya. Sudah kuupdate dan fic lainnya akan segera menyusul! :D
Yuliita: Terima kasih sudah mereview, dan sudah kulanjut! ;)
Snow: Terima kasih sudah mereview! Hehehe gpp kok, keburu kepencet send ya.. Kepala batu si Ichigo, tapi sekarang dia sudah mulai membuka perasaannya kok, harus dipicu dulu.. wkwkkw…. Kekuatan Senjumaru bukan main-main xD Rukia sudah terlihat kekuatannya tersembunyinya di sini, sedikit rahasia sudah bisa terungkap. Semoga bisa mengobati rasa penasaranmu itu.. hehe… Makasih juga buat semangatnya! Sudah kulanjut chapter terbarunya!
BLEACHvers: Terima kasih sudah mereview! Wah masa? Wkwkwkw makasih banyak loh :D Ya, perlahan hubungan mereka sudah mulai mendekat dan pemicunya dari chapter ini. Bet On You masih belum bisa lanjut, karena itu fic collab, jadi kerjasama 2 author… hehehe xD Makasih buat semangatnya!
Louis: Terima kasih sudah mereview ya! Wah senang juga melihatmu senang, tapi maaf sekarang updatenya lama lagi.. hahahha.. Semoga chapter ini bisa mengobati rasa penasaranmu. Makasih juga buat semangat juga dukungannya! :D hihihihi..
Good rukia: Terima kasih buat reviewnya! Rukia yang sebenarnya masih belum bisa kujawab, tapi chapter ini membuka awalnya.. Iya nih, setelah sekian lama update, dan sekarang baru update lagi…
rini: Terima kasih sudah mereview ya! Ini sudah kulanjut chapter terbarunya, dan konfirmasi hubungan Ichiruki masih agak lama, tapi mereka sekarang sudah semakin dekat kok. :D
Allen Walker: Terima kasih sudah mereview ya! Hahahha… boleh tuh nimpuk Ichigo, siapa tahu dia cepat sadar. Kalau soal Yuki No Crystal ak belum bisa jawab, tapi kamu boleh tebak-tebak dulu xD Sudah kuupdate nih akhirnya, setelah sekian lama.. Kalau happy ending sih bisa kemungkinan besar, karena genre nya sendiri ga angst atau hurt/comfort. Ditunggu saja ya.. hehehehe… Adegan romantisnya dimulai dari chapter ini, ada yang nyelip-nyelip :D
Playlist:
Disclosure feat Lorde- Magnet
Fall Out Boy- Alpha Dog
The Chainsmokers feat Daya- Don't Let Me Down
ONE OK ROCK- The Way Back
Zara Larsson- Bad Boys
Snow Patrol- This Isn't Everything You Are
These songs don't belong to me…
