::The Dark Legacy— First Quarter::

By: Morning Eagle

Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::

Just to warn you all :: AU, OOC, misstype...for this story


Scene 14: Keep Your Eyes On Me

~0*0~

.0.

.

.

.

.

.

.

.

Rukia terbangun saat mobil terlonjak, melewati jalan berkerikil yang penuh bebatuan. Gadis itu mengerjap dan merasakan tubuhnya terasa berat. Butuh istirahat lebih. Seluruh ototnya memprotes keras. Seakan sedang tidak berada di dalam tubuh yang sesungguhnya. Sesaat dia melupakan apa yang sudah diperbuatnya hingga dinginnya es masih tersisa di ujung-ujung jarinya.

Matanya menemukan sepasang tatapan hangat dari kaca spion depan. Perlahan membuatnya kembali tenang, napasnya menjadi lebih stabil. Kehangatan yang memecah es dingin dari seluruh pembuluh darahnya. Rukia merasa lebih baik, ketika Ichigo selalu memerhatikannya diam-diam.

Perjalanan pulang mereka terasa hening, juga melelahkan. Kensei yang memegang setir kemudi, sementara Ichigo berada di kursi penumpang dengan tubuh bersandar rileks. Sesekali membahas hal mengenai pertarungan juga Senjumaru yang pergi entah ke mana. Kensei kehilangan jejaknya di tengah-tengah pertarungan sengit. Sang penyihir misterius yang memegang rahasia mengenai masa lalu Rukia. Rukia dan Ichigo bermaksud kembali kepada Senjumaru—meminta penjelasan akan kekacauan yang sudah terjadi—namun menemukan rumahnya dalam keadaan kosong. Tidak ada tanda kehidupan.

Sang Beta memutuskan untuk kembali ke markas pusat. Memulihkan diri dan berpikir ulang mengenai langkah selanjutnya. Menentukan apa yang akan mereka lakukan dalam rapat bersama Sang Alpha.

Situasi di luar dugaan, bagi Rukia sendiri juga Ichigo. Dua orang yang saling menjaga punggung masing-masing—menyembunyikan teka-teki terkelam yang baru saja terjadi.

Rahasia kekuatan Rukia yang tersembunyi, diduga sebagai kunci dari segalanya. Identitas diri juga apa yang diincar para Quincy. Para musuh yang mengincar Rukia tanpa alasan jelas. Dan Ichigo memutuskan untuk mengakhiri hari itu dengan sebuah keputusan mutlak. Berkumpul kembali ke titik pusat.

Matahari sudah hilang dari cakrawala. Bintang menyambut gelapnya malam, menjadi penerang di atas langit tak berawan. Malam yang cerah, mengiringi perjalan pulang yang akan terasa sangat panjang. Sangat melelahkan.

"Kupikir kita harus berhenti. Menginap di motel atau semacamnya," kata Kensei, memberi ide.

"Tidak. Teruskan saja." Ichigo memberi perintah dan itu membuat Kensei menggeram.

"Ayolah, Beta! Perjalanan ini masih sebelas jam lagi! Kau ingin tubuhku remuk sementara kau tidur di sebelahku?"

Rukia menegakkan tubuhnya dan mengangguk dalam gelap. Dia butuh tidur di kasur dan air hangat. Sangat butuh mandi untuk menenangkan pikiran kalutnya. "Itu ide bagus."

Ichigo menoleh, memerhatikan wajah lesu Rukia yang tak bersemangat. Bahkan sebagian besar anggota timnya serupa. Werewolf bukan manusia super yang tidak butuh tidur dalam satu hari.

"Bahkan gadis kesayanganmu berkata demikian. Kau tidak punya hati?" lanjut Kensei.

Ichigo memelototinya, terlihat jelas saat cahaya lampu mobil depan menerangi wajah kerasnya. "Kensei, jangan memulai!"

"Aku masih ingin hidup dan sangat tidak mau mati konyol. Entah berapa lama lagi mataku bisa tetap terbuka."

"Baiklah! Cari motel," geram Ichigo, melontarkan kedua tangannya ke udara. Dia menyerah, sebagian besar karena memerhatikan mata Rukia dari spion depan. Mata itu, kelelahan sangat terpancar yang menutupi keputusasaan.

Kensei menyeringai, mulai mencari motel yang terpampang pertama kali pada bahu jalan. "Ya, seharusnya aku lebih mengandalkan Rukia untuk menyadarkanmu sejak awal."

.

.

…..~***~…..

.

.

Perjalanan lima jam, istirahat tujuh jam, dan melanjutkan perjalanan sebelas jam. Akhirnya mereka tiba di Manhattan petang hari. Langit bergemuruh, menandakan hujan sebentar lagi akan datang. Rintik ringan yang diikuti gemuruh petir yang menggetarkan bumi. Membuat setiap orang siaga, memerhatikan kilat yang teredam penangkal petir di gedung tertinggi.

Rukia sudah merasa lebih tenang, setelah mandi air hangat dan tidur hampir selama perjalanan pulang. Matanya terasa sangat berat dan sulit untuk terjaga. Jalannya yang gontai membuat Ichigo hampir menggendongnya di atas bahu. Tubuh kecil Rukia hampir ambruk ketika melihat kasur untuk pertama kalinya hari itu.

Sekarang suara klakson dan kebisingan kota sudah mulai terasa. Kembali ke rumah, tempat di mana para werewolf menghabiskan sebagian besar aktivitasnya dengan membaur. Juga terasa lebih normal, tanpa pertarungan juga suara tulang yang patah.

Rukia merasa lebih baik—di samping tidurnya yang seperti orang mati—mulai menyusun rencana selanjutnya yang akan dilakukan. Bagaimana cara menemukan Senjumaru kembali?

Dan yang lebih penting, bagaimana caranya untuk menyembunyikan keanehan dalam tubuhnya dari para werewolf yang memiliki indera sensitif juga insting yang kuat?

Ichigo berjanji akan melindunginya, tapi bukan berarti rahasianya akan terus terjaga. Entah sampai kapan dia akan melalui semua ini. Berbagai kesulitan terasa seperti bongkahan batu yang menahan jalur pernapasannya.

"Home! Finally!" Kensei berteriak, meregangkan tubuhnya pada kursi penumpang. Ichigo yang menyetir, mengganti shift saat sisa enam jam perjalanan.

"Kau lupa kalau kau harus menyelesaikan pekerjaanmu yang terhambat beberapa hari?"

"Hei, jangan mengingatkanku akan hal itu, perusak ketenangan! Aku masih butuh istirahat, juga tidur," geram Kensei.

Ichigo memutar bola matanya, mendengus sebagai ejekan. "Seharusnya kau melatih staminamu selama masih ada waktu. Kau terlihat seperti kakek-kakek tua."

"Siapa yang tidak akan tumbang setelah menghadapi pertarungan sengit dengan Quincy—tambahkan lima belas jam perjalanan!" Kensei membalas, memelototi Ichigo dengan tangan terangkat di udara. "I need a long fucking vacation, man!"

"Katakan saja langsung pada Alpha. Mungkin, beberapa tulang rusukmu retak sebagai konsekuensinya."

"Itu tidak adil! Mengapa kau sungguh mempersulit hidupku, Beta?!"

"Aku hanya menjelaskan, bukan mempersulit, pal! Seharusnya kau berterima kasih pada kemurahan hatiku!"

"Apa kalian selalu bertengkar seperti ini?" Rukia memotong, melihat kedua werewolves di depannya yang bertingkah seperti anak anjing yang memperebutkan makanan. Itu yang terlihat dari pandangan Rukia, hanya disebutkan dalam hati.

Ichigo memelototi gadis itu melalu kaca spion depan. Sebelah alisnya naik terlalu tinggi. "Ini tidak bisa dikatakan bertengkar. Tunggu sampai dua werewolves berubah dan saling mengincar leher lawan dengan rahang kuatnya—saling menjatuhkan hingga tidak ada yang bisa melerai, kecuali salah satu yang memutuskan untuk menyerah."

"Sama saja dengan kehilangan kekuatan juga harga diri," tambah Kensei, menyeringai. "Itu sangat memalukan bagi werewolf yang ingin meneruskan gelar Alpha selanjutnya. Dia akan ditendang keluar dari calon kandidat."

"Jangan melihatku!" Ichigo memberengut kesal.

"Aku tidak melihatmu, bodoh! Katakan pada kebodohanmu sendiri yang menyerang Kokuto tanpa berpikir matang lebih dulu. Seandainya saja Alpha tidak meleraimu saat itu, kau yang akan ditendang kelompokmu sendiri."

"Pernahkan aku kalah melawannya?" tanya Ichigo, meremehkan. Dia membelokkan setirnya terlalu tajam, memasuki blok area werewolves berkumpul. Gedung-gedung apartemen terlihat berjajar rapi di depan. "Setiap kali Kokuto berulah, tidak ada yang bisa bertindak kecuali Alpha sendiri—oh, ditambah denganku, Kensei! Pernahkah aku menghindari darinya? Huh? Jelaskan padaku sekarang!"

"Oke oke!" Kensei mendengus kesal, tidak berhasil membuat Sang Beta sadar diri. Tetapi berbalik memancing kemarahannya. "Terserah padamu. Kau menang, seperti biasanya."

"Pernahkah aku menghindari serangan juga taring tumpulnya itu, huh? Seharusnya kau lihat sendiri apa yang pernah kulakukan untuk melindungi kalian dari serigala gila itu. Dia selalu mengintimidasi siapa pun yang menghalangi jalannya, tapi tidak denganku."

Ichigo tidak berhenti berceloteh, bahkan sampai mobil masuk ke dalam garasi. Kensei yang jengah tidak bisa memotong, hanya bisa mengerang dan berulang kali mengatakan 'cukup'.

Mungkin Sang Beta sudah kehilangan sebagian akal sehatnya.

"Hentikan penjelasanmu itu sebelum kepalaku kembali berdenyut!" Rukia memprotes, memelototi Ichigo yang akhirnya terdiam. "Gantilah topik pembicaraan. Tidak ada gunanya menyombongkan dirimu sendiri."

Kensei tertawa terbahak, melihat ekspresi Ichigo yang tak ternilai. Sang Beta melotot tidak percaya dengan mulut menganga.

"See! That's why I fucking like her!"

"Shut up!" Ichigo turun dari kursi pengemudi dan memutar ke belakang, membuka pintu penumpang Rukia. Tubuhnya menjulang, menghalangi jalan keluar dengan kedua tangan terentang di atas pintu. "Dengar, Rukia. Apa yang kukatakan bukanlah sebuah kebodohan. Itu fakta yang harus kaumengerti dalam kehidupan kami. Kau tidak lagi tinggal dengan tetangga manusia atau bahkan kaum fairy lagi. Bertahan hidup adalah nilai terpenting yang kami pegang setiap harinya atau kau akan menjilat ludahmu sendiri!"

Rukia tidak terima dengan penindasan Ichigo. Tidak setelah dirinya terlalu banyak melewati kesulitan dan kelelahan berkali-kali lipat.

Gadis itu mengangkat kakinya ke atas kursi, sebelum menghentakkan kuat-kuat. Tepat pada perut Ichigo sebagai sebuah pelampiasan kemarahan yang tak lagi terbendung. Pria itu menahan napasnya, hampir tersedak.

Ichigo mengerang, memegangi perutnya sambil mundur beberapa langkah ke belakang. Dia menatap tidak percaya bahwa gadis kecil di hadapannya bisa membalas dengan sebuah hentakan kuat. Dengan mata besar menyala, penuh kegeraman yang menyamai seekor werewolf itu sendiri.

"Kau?! Apa-apaan—"

"Jangan berteriak di depan wajahku, karena aku sedang tidak ingin mendengar apa pun mengenai yang namanya kehidupan!"

Hening. Mobil kedua sudah terparkir di sisi kanan. Para anggota lainnya keluar dengan wajah terpaku. Pendengaran mereka sudah menangkap pertengkaran yang terjadi tiba-tiba. Di antara pemimpin mereka dan gadis kecil yang amarahnya memuncak dalam hitungan detik.

"Ada apa ini?" Shuuhei angkat bicara lebih dulu, menatap takut pada kebisuan yang mencekam.

"Ichigo sedang mencoba mengetes seorang gadis dengan hormon tak stabil," celetuk Kensei.

Perdebatan hampir berlanjut ke tingkat berikutnya, ketika terpotong oleh sebuah gebrakan keras dari pintu garasi. Seseorang masuk dengan langkah kentara, memberikan panggilan kuat pada setiap werewolves yang ada di dalam ruangan.

Kekuatan dan intimidasi—tidak ada yang berani membuka suara. Lebih kuat dari Sang Beta.

Alpha memandang setiap mata yang tertuju kepadanya, sebelum menyunggingkan senyum lebarnya.

"Kalian pulang tanpa kehilangan satu anggota tubuh pun," kata Isshin, mengangguk puas. "Terutama Rukia yang kembali dengan selamat." Matanya memandang Rukia yang masih tertegun di kursi belakang, menembus kaca belakang mobil. "Jangan menyerang seorang gadis yang tidak memiliki pertahanan, son! Kau tidak pernah mendengar istilah bahwa seekor kelinci pun bisa melawan dan menggigit?"

Ichigo menggeram rendah, memelototi Isshin tanpa takut dengan kekuasaan Sang Alpha. "Aku tidak melakukan apa pun! Mengapa harus aku yang selalu disalahkan?"

"Karena kau yang mengemban tugas untuk menjaganya, kau ingat?" balas Isshin, menunjuk anaknya seakan memerintahkan anak anjing untuk duduk diam. Ichigo bergeming dan bahunya menegang.

Keheningan berlanjut, bahkan suara jarum jatuh ke atas lantai bisa menjadi suara terkeras di antara mereka. Keringat dingin yang membuat kaki Kira bergetar hebat, juga Shuuhei yang berdiri tak tenang.

Rangiku menggigit bibirnya untuk menahan diri. Chad masih duduk di kursi pengemudi. Kensei bersandar pada pintu mobil dengan napas yang terasa berat di dada.

Ichigo merutuk tak jelas dalam kepalanya, tidak mengeluarkan sepatah kata pun karena masih ingin berdiri tegak dengan kedua kaki yang utuh.

Rukia menelan ludah, merasa kegugupan membangunkan bulu kuduknya.

Tidak pernah menyangka kekuatan Alpha bisa membuat werewolf keras kepala tunduk dan terbungkam. Hampir dilupakannya sejak pertama kali dirinya bertemu Sang Alpha.

"Jadi," lanjut Isshin, setelah menarik napas dalam-dalam. "Ceritakan perjalanan panjang kalian. Apa kalian menikmatinya?"

Itu lebih dari kata menikmati, pikir Rukia.

"Kami diserang sekelompok Quincy saat mengunjungi penyihir itu," ungkap Shuuhei, angkat bicara lebih dulu, setelah memastikan Ichigo enggan untuk menjelaskan. "Mereka benar-benar kuat dan lebih pintar daripada strigoi, memiliki strategi sendiri saat bertarung."

"Kecerdasan di atas strigoi," gumam Isshin. "Kemampuan utama mereka untuk cepat beradaptasi dan mengantisipasi lawan. Karena mereka lebih memilih untuk bersembunyi juga mengamati, daripada memilih keluar untuk menyerang secara langsung. Lalu, apa lagi?"

"Senjumaru menghilang. Kami tidak bisa mencari jejaknya," kata Kensei, maju ke depan hingga terlihat oleh pandangan Alpha.

"Apa Rukia sudah bertemu dengannya? Bagaimana?"

Ichigo masih memicingkan matanya saat menatap Isshin, tidak suka untuk diperintah. "Ya. Kami tidak mendapatkan apa pun, karena Quincy menyerang secara tiba-tiba."

"Begitu." Isshin mengangguk, berusaha menyusun cerita para anggota kelompok menjadi satu garis lurus. "Lalu?"

Ichigo menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"

"Apa lagi yang terjadi?"

Sang Beta terdiam sesaat, membuat Rukia gugup setengah mati dalam duduknya. Ada kemungkinan Ichigo mengkhianati dirinya dan membongkar kejadian aneh yang terjadi padanya. Tentang es juga kekuatan itu. Bahkan, mereka belum bisa menemukan jawaban pasti.

"Kami pulang dan menyusun rencana baru bersamamu, di sini," jelas Ichigo, acuh tak acuh.

Isshin terdiam, mengamati Ichigo lebih tajam dari biasanya. Tidak ada yang bisa dilakukan ketika Alpha berusaha menebak jalan pikiran anggotanya. Termasuk sebuah kebohongan.

"Hanya itu. Kau yakin?" tanya Isshin, memastikan sekali lagi.

Ichigo menghela napas berat, menyakiti bahunya saat otot menarik. "Sangat, Alpha."

Isshin tidak meneruskan interogasinya. Dia tersenyum simpul sambil melambaikan tangannya. Menyerah. "Baiklah, aku akan mendiskusikan masalah ini nanti setelah kalian mengambil waktu beristirahat. Terutama Rukia, kau pasti lelah dengan perjalanan panjang ini, bukan?"

Rukia beringsut keluar, melihat Isshin sudah kembali lebih bersahabat dari sebelumnya. Lebih mudah dihadapi tanpa rasa tertekan. "Y-ya … Isshin-san."

"Jaga dia, son! Kau tahu tugasmu."

Isshin berlalu pergi melewati pintu yang sama, meninggalkan kegugupan yang mulai mencair.

Shuuhei yang bersuara lebih dulu saat pintu tertutup rapat. Menarik napas panjang sebagai tanda kelegaan.

"Tadi benar-benar menegangkan."

"I'm done here," kata Kensei. "Ambil waktu kalian masing-masing dan nikmati selagi bisa. Dan, jaga dirimu, Rukia."

Rukia mengangguk ketika Kensei berjalan melewatinya. Pria tangguh yang mulai melunak di dekatnya.

"Aku benar-benar butuh mandi untuk waktu yang lama. Berendam sepertinya ide yang bagus," celetuk Rangiku, meregangkan badannya yang terasa kaku. Berhasil membuat wajah Shuuhei memerah kurang dari satu detik.

"Kau tidak perlu menyebutkannya dengan suara lantang agar orang peduli padamu." Kira berucap, memerhatikan Rangiku dengan tatapan bosan. Kakinya tidak lagi terasa lemas.

Perbincangan dan perdebatan kembali terasa, menjadi lebih normal di antara para werewolf yang terlalu tegang. Melepaskan rasa frustrasi karena beban di pundak mereka.

Termasuk Ichigo, yang masih tidak bisa menetralkan emosinya sendiri. Kerutan di tengah dahinya masih terbentuk jelas.

Dan Rukia enggan untuk angkat bicara. Dia masih bersikukuh dengan ketetapan hati yang teguh dipegangnya. Hingga menciptakan ruang di antara dirinya juga Ichigo.

Kecanggungan mereka seakan mendirikan tembok masing-masing. Tidak bisa ditembus.

.

.

…..~***~…..

.

.

Ketukan di pintu membuat Rukia terbangun dari posisinya. Hari sudah malam dan dia sudah lebih dari cukup untuk tidur lebih dari dua belas jam sejak kemarin. Sebagian besar waktunya diisi dengan makan dan tidur. Setengah merasa hampa karena tidak melihat Ichigo menunjukkan batang hidungnya.

Sesuatu yang diakuinya dalam-dalam, hanya di relung terdalam hatinya. Bahwa dia merindukan suara juga gertakan dari pria keras kepala itu. Termasuk kehangatan dari tangan kekarnya yang selalu melindungi.

Kini Ichigo sedang berdiri di depan pintu—dengan keangkuhan yang kembali pada tatapan tajamnya—di hadapan gadis yang terbelalak lebar, memegangi pintu kamarnya. Pria itu baik-baik saja, lebih normal tanpa ada kerutan di wajahnya. Tidak lagi berteriak atau bersikeras dengan ajaran kelompok tentang bertahan hidup dan harga diri.

Ichigo setengah tersenyum padanya.

"Boleh aku masuk?"

Rukia tidak lagi merasa marah padanya. Tidak, setelah emosinya disalurkan dalam satu tendangan kuat.

Setengah menyesali karena sudah menendang perutnya dan membuat perdebatan baru dengan Sang Beta. Padahal, segalanya hampir berubah lebih baik—lebih manis di antara mereka berdua.

Gadis itu kembali masuk ke dalam kamarnya, diikuti Ichigo di belakang yang menutup pintu rapat. Kini mereka kembali berdua—membutuhkan privasi agar tidak ada yang mengganggu. Rukia membutuhkan waktu seperti ini, di mana dia bisa mengeluarkan jati dirinya tanpa perlu ditahan. Hanya di depan Ichigo, ketika dirinya sendiri bisa merasa lebih bebas.

"Ada apa?" tanya Rukia, hati-hati. Ichigo duduk di tepi ranjang, memerhatikan Rukia yang bersandar pada jendela kamar.

"Tawaran perdamaian," ucap Ichigo, menyeringai. "Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu kepadamu—tentang kemarin sore."

"Ahh…" Rukia tidak bisa membalas, terpaku pada Ichigo yang memandangnya dengan terlalu banyak berpikir. Gadis itu tidak bisa menebak jalan pikir Ichigo, bahkan di saat matanya tak berkedip dalam waktu lama.

"Saat kau menendang perutku," ucap Ichigo, mengulang kembali dengan tekanan lebih lembut.

"Kau pantas mendapatkannya." Rukia mendengus.

Ichigo tidak mendapat permintaan maaf, walaupun dia akui bahwa kekuatan Rukia tidak sekuat pukulan rata-rata werewolf lainnya. Tapi matanya yang membuat Sang Beta tersentak mundur. Kedua mata yang tidak goyah, penuh amarah seperti api membara. Emosi yang tak stabil.

"Kau tidak mengatakannya," lanjut Rukia, ketika mereka terdiam beberapa saat. "—kepada ayahmu?"

Ichigo tahu apa yang dimaksudnya. Tentang kekuatan yang muncul dari tubuh Rukia. Es yang membekukan Quincy dalam sekejap mata. "Aku masih memegang janjiku kepadamu. Kau bisa percaya kepadaku, Rukia. Kita akan mencari jawabannya bersama-sama. Dan mengatakan semua ini kepada ayahku—di depan anggota lainnya, itu bukanlah keputusan yang bijak."

Dan hati Rukia kembali luluh. Hanya dengan beberapa kalimat yang terucap. Sebuah kepercayaan.

"Baiklah."

"Kalau begitu, segera ganti pakaianmu."

"Huh?" Rukia menatap bingung, ketika menyadari Ichigo memakai pakaian lengkap untuk berpergian keluar. Jaket kulit dan boots semata kaki. Tanda dia akan menaiki motornya beberapa menit lagi.

"Aku mengajakmu untuk mencari udara segar," jelas Ichigo, mendengus. "Tawaranku tidak datang dua kali."

"Tapi ini sudah malam." Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih sepuluh menit. "Kita akan pergi ke mana?"

"Masih ada beberapa tempat yang bisa kita kunjungi tanpa perlu khawatir dengan jam malam."

"Klub? Tempat hiburan malam?" tanya Rukia, memekik ngeri. Dia masih belum cukup umur untuk memasuki kawasan itu.

"Bukan itu," dengus Ichigo, bangkit berdiri dengan bertumpu pada kaki jenjangnya. "Tempat yang lebih tenang."

Rukia tidak memiliki pilihan lain selain menerima tawaran Ichigo, tidak mungkin akan didapatkannya lagi bila menolak kali ini. Kesempatan yang bisa memperbaiki hubungan mereka. Memberi ketenangan tersendiri bagi Rukia.

Tidak bisa menyangkal bahwa berada di dekat Ichigo akan selalu terasa nyaman.

Perlahan Rukia menyadari keberadaan Ichigo lebih dari sekadar pelindung baginya. Dia satu-satunya orang di Manhattan yang bisa mengerti dirinya. Bahkan, jauh daripada itu.

Rukia mengenakan jeans dan kaos merah mudanya. Jaket pemberian Ichigo bersandar di bahunya. Gadis itu sudah lebih dari siap hanya dalam waktu lima menit. Sang Beta tak perlu menunggu waktu lama, ketika mereka akhirnya bisa berangkat segera. Mengambil langkah tak peduli pada penghuni lain yang mungkin sedang bersantai di ruangan masing-masing atau ruang kumpul utama. Menyisakan dua individu yang berjalan seirama menuju jalanan malam.

Rukia berdiri tak nyaman di samping motor Ichigo, masih merasa tatapan pria itu tak pernah lepas darinya. Bermula dari saat dirinya keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang diambilnya asal dari lemari pakaian. Ichigo terpaku padanya, sempat tak berkedip dalam beberapa detik. Entah apa yang dipikirkan sang werewolf, berhasil membuat Rukia canggung setengah mati.

Tatapan Ichigo tidak pernah mengganggu sebelum ini. Membuat jantung Rukia berdetak tak karuan.

"Ini," kata Ichigo, memberikan helm pada Rukia.

Helm yang sama, saat mereka pertama kali menyusuri jalanan malam New York beberapa hari lalu. Rukia mengingat jelas kehangatan punggung Ichigo saat tubuhnya bersandar terlalu dekat.

Wajahnya berubah hangat dalam waktu singkat.

Rukia memakai helmnya kikuk, sebelum naik ke bagian belakang motor dengan bertumpu pada tubuh Ichigo. Terlalu tinggi untuk tubuh mungilnya.

"Siap?" Ichigo bertanya, ketika tangan Rukia sibuk memilih antara punggung atau pinggang Ichigo.

"Ya." Rukia memutuskan untuk melingkarkan tangannya pada pinggang pria itu.

Ichigo memutar gasnya, melajukan motor pada jalanan malam. Mereka berkendara dalam diam, memacu dalam kecepatan stabil menuju ke Selatan Manhattan. Rukia menyandarkan tubuhnya lebih ke depan, menyembunyikan wajahnya di balik punggung Ichigo sehingga angin tidak lagi menampar wajahnya yang sudah terasa membeku. Udara malam menjadi lebih dingin, walaupun langit malam tidak berawan. Cahaya bintang bisa terlihat jelas dari atap gedung pencakar langit—jauh dari cahaya kota yang sudah berkilau gemerlapan.

Mereka memasuki kawasan yang lebih terbuka, menelusuri sisi Sungai East yang berada di kiri jalan. Membentang luas hingga ke jembatan Manhattan di ujung jalan. Berdiri kokoh dilatari kilauan gedung pencakar langit juga lampu-lampu menggantung di sisi jembatan.

Mengaggumkan. Rukia tidak bisa menutup mulutnya saat sekali lagi melihat jembatan itu terbentang di hadapan matanya. Di malam hari lebih menakjubkan, seperti muncul dari bagian alam mimpi.

Daerah jalanan menjadi lebih sepi, menyisakan beberapa orang pejalan kaki yang masih terbangun di sisi kota yang tak pernah terlelap itu. New York menjadi salah satu area penuh kesibukan juga kriminalitas tertinggi. Di balik sudut kota dan bayang-bayang malam hari.

Ichigo memarkirkan motornya di pinggir jalan, di sisi deretan rumah penduduk yang menghadap sungai. Dia membuka helmnya, sebelum berbalik dan masih mendapati Rukia memeluk tubuhnya. Erat.

"Hei, kita sudah sampai," ucap Ichigo berdeham, tidak bisa melihat wajah Rukia yang masih menunduk di punggungnya. Terlalu mungil.

Rukia tersentak dan melepaskan tangannya secepat mungkin. Enggan melepas helm karena wajahnya kembali memanas.

"Ayo, turun!" Ichigo sudah turun dari motornya, dengan senyum tersungging lebar di wajah. Beruntung bagi dirinya, Rukia tidak melihat sisi dari sikapnya yang terlihat konyol. Atau tendangan akan diarahkan lagi tepat ke arah perutnya.

Rukia mengikuti Ichigo, terlalu kikuk bahkan saat menyebrang jalan. Tangannya merapatkan jaket hingga ke leher, ketika angin sungai menerpa kuat pada kulit yang menjadi semakin putih. Tidak bisa menahan gigilan, walaupun tubuhnya sudah terlindungi oleh pakaian lengkap.

"Kita akan ke mana?" tanya Rukia, mengikuti langkah Ichigo yang terlalu cepat untuknya. Menyusuri pinggiran sungai lebih jauh.

"Rahasia."

Rukia mendengus tidak suka. "Aku tidak suka bermain tebak-tebakkan sekarang."

"Kau akan mengetahuinya segera. Bersabarlah."

Jalanan pinggir sungai beralih ke sebuah jembatan yang mengarah ke bibir sungai. Jembatan kayu yang diterangi oleh lampu-lampu kecil di sisi kiri juga kanan pegangannya. Seperti sebuah dermaga yang menjorok ke sungai, dengan pemandangan menakjubkan di hadapan mata. Sisi pulau seberang yang menampakkan kesibukan Brooklyn belum tertidur.

Dan jembatan Manhattan terlihat lebih dekat di sisi kanan—jalur penghubung Manhattan dan Brooklyn. Samar-samar suara klakson dari sumber kemacetan terdengar dari atas jembatan, terbawa angin hingga ke hulu sungai.

Ichigo berhenti di sisi jembatan terujung yang menghubungkan dengan rute taman kecil di bagian bawah. Dengan santai dia bertumpu pada pagar jembatan, sebelum melompat keluar. Terlalu tinggi.

Rukia memelototinya dari atas, menganga tak tertahan. "Apa yang kaulakukan? Tidak bisakah memutar saja untuk turun?"

"Ini lebih cepat!" Ichigo menyeringai. "Lompatlah! Aku akan menangkapmu."

"Aku tidak mau melakukannya. Ini terlalu tinggi," gerutu Rukia, memandang Ichigo seperti sudah kehilangan akal. Atau memang sudah gila.

"Ini tidak terlalu tinggi," kata Ichigo, sudah merentangkan tangannya. "Aku kuat untuk menangkap tubuh kecilmu."

"Aku tidak kecil, bodoh!" desis Rukia, berbisik, mengamati area sekitar sebelum matanya menemukan seseorang sedang berjalan ke arahnya. Seorang petugas keamanan yang sedang berkeliling dengan senter di tangan. "Oh—sial!"

"Cepatlah!"

Rukia tidak bisa menunggu lebih lama lagi, sebelum dirinya tertangkap karena melakukan aksi ilegal di malam hari. Memantapkan hati kuat-kuat, tangannya mendorong tubuh hingga ke ujung sisi jembatan. Sebelah kakinya bergelantung di udara.

"I-Ichigo…"

"Lompat!"

Rukia memejamkan matanya sebelum melompat, merasakan angin melawan gravitasi tubuhnya. Dan dalam sekejap dia mendarat di dalam sebuah dekapan erat. Hangat. Menenangkan.

Jantungnya berpacu lebih cepat dan napasnya menghirup wangi tubuh Ichigo. Dia menyukainya, ketika aroma sandalwood lebih tercium kentara. Perwakilan dari alam itu sendiri.

Ichigo menarik Rukia untuk bersembunyi di bawah jembatan, mendengarkan derap langkah petugas keamanan lewat di atas mereka. Tidak ada kecurigaan, saat langkah itu semakin menjauh dan perlahan menghilang.

Mereka sudah lebih aman, untuk sekarang.

"Aku menangkapmu, bukan?" ucap Ichigo, berbisik di atas puncak kepala Rukia.

Rukia mendorong tubuh Ichigo sekuat tenaga, merasa napasnya naik turun tidak stabil. Terlalu terhanyut dalam buaian imajinasinya.

"Ba-bagaimana kalau seandainya dia melihatku?!" Suara Rukia sempat bergetar, membuatnya merutuk dalam hati.

Ichigo menaikkan sebelah alisnya. "Tidak akan. Aku yakin kau akan melompat dari atas sana." Senyumnya mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. "Sekali-kali melakukan hal seperti ini tidak ada salahnya, bukan?"

"Kau—pecinta gila adrenalin!"

"Itu sudah mengalir dalam darahku, sugar," goda Ichigo, sudah berbalik dan berjalan ke area yang lebih rimbun. Pepohonan di sisi sungai yang tak boleh diakses umum. "Ayo cepat!"

Rukia merapikan rambutnya yang kusut, sebelum mengikuti langkah Ichigo dengan wajah memerah. Tidak lagi terasa dingin oleh angin malam, karena tersipu menjadi alasan utama.

Pembuat masalahnya, salahkan pria yang sekarang berjalan santai tak mengenal waktu juga situasi di hadapannya.

Daerah taman di sisi sungai lebih gelap dari jalanan beraspal. Tidak ada penerangan selain lampu-lampu dari kota di seberang sungai. Ichigo terus melangkah hingga menemui titik buntu. Sampai kakinya menapak pada pijakan tanah terakhir sebelum bertemu dengan air yang mengalir tenang.

Tempat yang terasingkan, namun tenang seperti yang sudah dijanjikannya. Tidak ada siapa pun selain suara air juga pemandangan menakjubkan di kursi terdepan. Ichigo duduk di atas tanah dengan kaki terentang ke arah air.

Tidak peduli apa pun lagi, selain mereka berdua yang menikmati waktu menuju tengah malam.

Rukia duduk di samping Ichigo, mengamati cara pria itu menatap ke depan. Seluruh sikap tubuhnya menjadi lebih rileks dan rahangnya tidak lagi mengatup keras.

Ichigo benar-benar menikmati waktunya.

"Ini tempat di mana aku bisa berpikir lebih tenang dari berbagai masalah yang membuatku jengah hampir setiap harinya," jelas Ichigo tanpa mengalihkan pandangan. "Tempat rahasiaku di malam hari."

Ichigo berbicara lebih terbuka kepada Rukia, yang didapatinya sangat jarang dilakukan. "Aku bisa mengerti mengapa kau memilih tempat ini."

"Aku tidak bisa berhenti menatap kota atau pun langit, juga aliran air. Semuanya menjadi kesatuan yang anehnya terlihat sangat pas dipadankan. Alam lalu rancangan tangan manusia yang terlalu kotor—dua hal bertentangan yang bisa menenangkan emosi sesaat. Kita hanyalah sebagian kecil yang menghuni dua dunia tersebut, makhluk rentan yang bisa saja hancur dengan kerasnya alam atau pun kemajuan teknologi."

"Karena kita dilahirkan seperti itu," ucap Rukia, melanjutkan. "Namun, di sisi lain sebuah kekuatan dianugrahkan untuk bertahan hidup. Manusia bisa melakukannya, di antara dua opsi, kuat atau lemah. Maju atau menyerah. Kupikir werewolf lebih diajarkan kepada yang namanya tidak mudah menyerah?"

"Menggigit untuk melawan. Terdengar lebih menarik." Ichigo menyeringai lebar. "Kutukan yang berubah menjadi kekuatan bagi kami. Salah satu yang dipercaya bahwa kami bukanlah monster yang lahir dari darah kotor. Kau pernah mendengar tentang pendapat Thiess?"

Rukia menggeleng. Tidak menyangkal bahwa dirinya tertarik untuk mendengar lebih lanjut. "Apa itu?"

"Thiess—salah seorang di masa lalu yang mengatakan bahwa bangsa kami dilahirkan untuk melindungi. 'The Hound of Gods', istilahnya yang menunjukkan kekuatan werewolf adalah ditakdirkan untuk mengalahkan hollow. Bermula di akhir tahun 1600, Thiess mencatat telah melihat sekelompok werewolves yang lebih memihak manusia, berhasil mengalahkan pasukan hollow yang muncul di malam musim dingin dan menghancurkan sebuah desa kecil di Eropa Selatan."

Rukia bergidik, mendengar hollow yang sudah lama tak pernah terpikirkan olehnya. Musuh lain selain strigoi, juga Quincy. Iblis dari kegelapan yang pernah membunuh dua anggota kelompok Ichigo.

"Yang di mana, aku berpikir bahwa darahku tidak sepenuhnya terkutuk," lanjut Ichigo. "Walaupun beberapa orang mengatakan itu hanyalah sebuah legenda kuno, tapi masih bisa terbuktikan dengan kekuatan kami yang mampu memukul mundur hollow. Selain para fairy."

"Jadi itu benar?" Rukia menelan ludahnya sebelum melanjutkan. "Kokuto pernah mengatakanya, kalau hollow mengincar jejak fairy nii-sama yang tertinggal padaku. Apa mungkin ini semua terjadi karena bukan hanya itu alasannya—" Dia tidak sanggup mengatakannya.

Ichigo tahu apa yang ditakutkan Rukia. Keraguan gadis itu untuk merasakan kembali sesuatu yang berasal dari tubuhnya. Es yang berkilau, Ichigo tidak akan pernah melupakannya.

"Itu masih sebuah spekulasi. Yang kumaksud adalah kekuatan fairy mampu melenyapkan hollow lebih kuat daripada seekor werewolf," kata Ichigo, berusaha memerhatikan raut wajah Rukia dari balik rambut hitamnya yang menghalangi setengah wajah. "Kokuto hanya berusaha memancing amarahmu, jangan pedulikan kata-katanya. Tidak ada yang salah denganmu."

"Sudah jelas ada keanehan dalam tubuhku, Ichigo! Kau bahkan tidak bisa menyangkal bahwa es yang keluar dari tubuhku ini bukan sesuatu yang biasa. Ini—aku bahkan tidak bisa merasakan lagi tubuhku yang sebenarnya. Siapa aku ini?"

"Rukia, kau sudah berjanji kalau kita—" Tangannya terulur, menyentuh wajah gadis itu dan memalingkan ke arahnya. Ichigo menatap kedua mata Rukia yang berkaca-kaca, berusaha menahan air mata. "—aku akan membantumu untuk keluar dari semua masalah ini. Bergantunglah kepadaku…"

"Bahkan, setelah kita tidak bisa melakukan apa pun lagi dan menemui jalan buntu?"

"Pasti ada jalannya." Ichigo meyakinkan, membelaikan ibu jarinya pada kulit Rukia yang terasa dingin. "Akan selalu ada jalan, seberapa kecil pun kemungkinannya, aku akan membawamu keluar dari masalah ini."

Rukia mengambil napas dalam, merasakan sentuhan Ichigo sudah berhasil menenangkannya. Walaupun hanya malam ini, biarkanlah dirinya memegang kepercayaan yang membuainya dalam sebuah kehangatan nyata.

Ichigo tidak bisa memalingkan wajahnya, ketika Rukia membalas tatapannya. Mata gadis itu yang memantulkan sinar bulan di atas permukaan air. Juga cahaya-cahaya berkilauan dari kota yang menyerupai kota kristal negeri dongeng. Hanya dengan melihat Rukia, perasaan Ichigo menjadi lebih hidup.

Perlahan wajahnya mendekat, ingin merasakan lebih akan wangi memabukkan yang memengaruhi indera penciumannya. Es dingin yang bercampur manisnya coklat. Lebih banyak esnya, sedikit menggelitik hidung. Kekuatan tersembunyi yang tidak akan bisa disimpan Rukia rapat-rapat. Ichigo sudah terikat dengannya. Jauh lebih dari sebelumnya.

Bibir Ichigo menyentuh lembut pipi dingin Rukia, merasakan kontur lembutnya, perlahan bergerak ke sudut mulut. Rukia tidak melakukan apa pun, selain merasakan getaran dalam dadanya. Ketika gerakan Sang Beta bergerak terlalu lambat, menyiksa, seakan sedang memastikan reaksinya.

Napas Ichigo membelai bibir gadis itu, membuatnya bergidik. Mata yang terpejam memberikan sensasi lebih ketika akhirnya Ichigo menciumnya. Lambat. Penuh dengan debaran juga kepakan yang bergerak dari perut hingga ke jantungnya.

Ini semua terasa benar. Ichigo menikmatinya, ketika bibir selembut beledu Rukia ikut bergerak bersamanya.

Menyatu dalam tarian di tengah malam yang dipenuhi bintang.

Hanya milik mereka berdua.

Tangan Ichigo bergerak, membelai leher Rukia dengan sangat berhati-hati. Jantungnya semakin berdebar tidak karuan, ketika tangan gadis itu ikut bergerak, mencapai kerah jaketnya.

Jatuh bersamanya, semakin dalam ke lautan emosi yang begitu manis.

Hanya malam ini saja, mereka berharap waktu bisa berhenti untuk beberapa jam.

Rukia menjauh, ketika napasnya semakin terasa berat. Wajahnya memerah malu, ketika mata Ichigo terbuka untuknya. Kerutan di wajahnya terbentuk dalam emosi yang berbeda dari yang sebelumnya. Tarikan napasnya terasa berat, sama seperti saat Rukia menarik udara dalam-dalam ke paru-paru yang mengempis. Namun, terasa benar.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya, masih merasakan saat bibir Sang Beta membelainya.

"Ichigo," panggil Rukia, berupa bisikan halus. "Aku … tidak yakin dengan hal ini."

"Apanya?"

"Hmm… Ini—ya, apa yang sudah terjadi—aku benar-benar tidak tahu…"

Ichigo tersenyum, menarik Rukia lebih dekat kepadanya. Tangannya melingkar di pinggang gadis itu, menahan agar tidak menjauh. Kini wajah mereka lebih dekat dari sebelumnya, dengan ujung hidung saling menyentuh.

"Kalau begitu jangan berpikir. Hanya—jangan…" Ichigo mengecup satu kali, sebelum kembali melanjutkan apa yang sudah ditinggal oleh Rukia.

Merangkai kembali kelembutan juga tarian panas di antara mereka. Mencium Rukia lebih dalam dari sebelumnya.

Rukia mengerang rendah, ketika Ichigo berubah menuntut. Mengeluarkan sebagian sifat liarnya sebagai werewolf itu sendiri. Sangat merupakan dirinya—menginginkan apa pun di depan matanya, merebut dengan cara tersendiri.

Dan Rukia terjatuh ke dalam jeratannya. Tangannya bergerak, merangkul leher Ichigo. Dia berpindah naik ke pangkuan Ichigo, ingin merasakan lebih kehangatan Sang Beta pada kulitnya yang masih menggigil.

Mencari sandaran yang terasa nyaman hingga bisa membunuhnya perlahan.

Mereka menjauh ketika menit sudah bergulir terlalu lama. Mata saling memandang dan tarikan napas yang seirama. Semuanya begitu sempurna, tersadarkan oleh ciuman semanis madu.

Kepala Rukia terasa ringan dan dia tertawa karenanya. Tawa lepasnya yang sudah lama dilupakannya. Rasanya begitu menyenangkan.

"Apa?" Ichigo ikut tersenyum, melihat Rukia lebih membaik. Terasa sangat normal melihatnya tertawa lepas.

"Seharusnya kau—aku melakukan ini lebih cepat."

Seringai Ichigo menampakkan giginya. "Sekarang kau baru bicara."

Rukia bersandar pada bahu Ichigo, membiarkan pria itu memeluknya erat. Merasakan kehangatan membuat matanya cepat mengantuk.

"Dingin?" tanya Ichigo, mengusapkan tangannya pada lengan atas Rukia. "Bagaimana kalau kembali sekarang?"

"Sebentar lagi, tetaplah di sini." Rukia memandangi sungai dan gemerlapan kota di depannya. Merasa hidupnya kembali berputar menjadi lebih menantang. Lebih penuh tantangan yang harus dihadapinya. "Beberapa menit lagi."

"Tentu. Beberapa menit lagi." Ichigo mengambil napas, memejamkan matanya. "Apa yang akan kita lakukan?"

"Entahlah. Berbincang? Apa pun itu…"

Keduanya terhanyut dalam emosi masing-masing. Memandangi pemandangan malam yang merupakan perwujudan dari perasaan di dalam hati. Penuh cahaya di tengah kegelapan yang ada.

.

.

…..~***~…..

.

.

Ichigo menggandeng tangan Rukia erat, ketika mereka memasuki area apartemen. Pintu depan belum terkunci—sebelum jam dua belas malam. Untung saja mereka kembali lebih cepat, setelah berbincang lebih dari satu jam lalu berkeliling kota untuk menikmati jalanan malam yang lebih bebas dari hambatan lalu lintas.

Jam sudah menunjuk ke angka sebelas lebih dua puluh menit. Dan malam masih terasa panjang bagi mereka.

Ya, seperti itu.

"Ini tidak biasa," kata Ichigo, memotong perbincangan mereka mengenai tempat berikutnya yang harus mereka kunjungi selama di Manhattan.

"Apanya?" Rukia berhenti, ketika melihat tubuh Ichigo menegang. "Ada sesuatu?"

Ichigo mengeraskan rahangnya, sebelum melanjutkan jalannya menuju area lobi apartemen. Tangannya semakin erat memegang Rukia, hampir seperti menyeret gadis itu.

Beberapa anggota berkumpul di depan lift. Suara yang saling menyahut, membahas sesuatu dalam saat bersamaan. Menciptakan kericuhan yang tak terbendung. Di antaranya tersebut kata hollow. Membuat mata Rukia terbelalak lebar.

"Chad!" Ichigo memanggil, di antara kerumunan pada sosok pria tertinggi.

Chad mendekati Ichigo, raut wajahnya tak terbaca. Namun ketegangan terasa kentara.

"Ada apa?" tanya Ichigo lanjut.

"Beberapa hollow muncul secara tiba-tiba di bagian Barat. Dan Shuuhei terluka."

Rukia menahan napasnya, melupakan genggaman Ichigo semakin menyakiti tangannya.

"Seberapa buruk?"

Chad terdiam sesaat, mengamati Rukia di samping Ichigo, juga tangan mereka yang saling bertaut. "Hollow kali ini berbahaya, lebih sulit untuk dilenyapkan karena muncul secara berkelompok. Dan Shuuhei mendapat luka cukup serius, pendarahan di perut juga tulang tangan yang patah."

Sang Beta mulai tersulut emosi, tidak memercayai bahwa bahaya lebih cepat datang dari sebelumya. Tak terduga. Di tengah-tengah kedamaian yang baru saja diraihnya bersama Rukia, kini tantangan hidup mulai menguji kembali.

Kali ini, hollow adalah ancaman terbesar—di samping strigoi juga Quincy yang masih mengintai di balik bayang-bayang.

..~*(to be continued…)*~…..

.

.

.

.

.

.

.

Author's note:

Chapter 15, scene 14 akhirnya selesai. Maaf lama update karena sekarang sering mengetik beberapa fanfic baru. Juga multichap nya bertambah satu selain ini dan Black Hair Girl. Wah, harus membagi jatah menulis, maaf kalau jadi agak lama updatenya. Haha… Semoga chapter ini bisa menghibur dan mengobati kalian (dari rasa sakit yang masih terasa sampai sekarang). Panjang loh, panjang~ Jarang ak bisa ngetik sepanjang ini.

Dan akhirnya! *jengjeng* seperti yang dijanjikan, ini membahas hubungan Ichigo dan Rukia yang semakin dekat. Sebuah ciuman manis! Sudah direncanakan sejak lama, karena bagian dari plot yang sudah kutulis. Baru kebagian jatah di chapter ini. Lama juga ya.. hahahha #plak

Ichigo sudah resmi jadiankah? Ya bisa dibilang begitu, walaupun mereka ga mengatakannya langsung, karena ini masih di tengah-tengah kekacauan. Tapi hubungannya jadi semakin dekat. Sangat dekat. Mate? Itu belum dibahas.. hehe

Hollow sekarang yang muncul untuk meneror. Shuuhei terluka saat sedang bertugas. Sekarang kondisinya cukup buruk, karena melawan hollow berbeda dengan melawan strigoi. Hollow berwujud seperti yang ada di manga, cuman mereka bisa menampakkan diri di mata manusia, kadang bersembunyi, tergantung mereka muncul di tempat tertentu. Hantu, demons, atau apalah itu yang berwujud jahat.

Terima kasih sudah membaca sampai chapter ini! Dan yang baru membaca, hai, salam kenal! Semoga fic ini bisa menghibur kalian semua. Dan terima kasih bagi yang sudah mereview, memberi kritik saran, pesan kesan juga pendapat dan koreksi, itu sangat membantu! Love u all, always~

.

.

Balasan untuk anonymous reviewers dan yang tidak log-in: (balasan review log in menyusul besok, setelah fic ini update, karena ini update tengah malam, nyubuh.. ngalong, mata keburu sepet. Maaf ya -_-)

Snow: Terima kasih untuk reviewnya ya! Hahahha… gulanya terlalu banyak ya di sini. Chapter ini lebih banyak lagi loh.. wkkwkwk diabetes akut deh xD Rukia akhirnya mengeluarkan kekuatan tersembunyi, yah dia bisa bekuin Senna kalau berulah lagi. Hisana? Wah nebaknya kok bisa ke sana? *author kalut* hahahha bisa jadi ya *smirk* itu Hisana atau bukan nanti bisa kelihatan. Hanya author yang tahu #plak Makasih buat semangatnya dan semoga chapter ini bisa menghibur!

dearest: Terima kasih sudah mereview ya! Thank you for the like! Senang bisa menghibur. Semoga chapter ini masih bisa menghibur ya. Bakal lanjut sampai tamat kok ;) Tenang saja

Kurosaki2241: Terima kasih sudah mereview! Yuki no Crystal ada pada Rukia kah? Hehe.. tebak dulu saja ya :D Masih belum diungkap untuk yang ini. Terima kasih untuk semangatnya!

Vianna Cho: Terima kasih untuk reviewnya! Momen manis Ichiruki ada di sini! Semoga bisa menghibur!

good rukia: Terima kasih untuk reviewnya! Apa mungkinkah peri es? Tunggu saja ya jawabannya nanti :D Mereka semakin dekat dan di sini pun semakin menjadi. Hahaha… sudah diupdate dan semoga menghibur.

Louis: Terima kasih sudah mereview! Sudah diupdate dan semoga bisa membuatmu meleleh lagi (?) hahahhaa.. makasih sudah mau mengerti ya ;) Cerita lainnya segera menyusul.

BLEACHvers: Terima kasih untuk reviewnya! Cinta segitiga? Hmm untuk sekarang belum ada mengarah ke sana, karena masih bahas Quincy dan hollow di chapter ini. Mungkin nanti? Hhahaha… Candice yang hidup lagi ya.. maklum strigoi serupa dengan zombie, susah mati. Harusnya dibikin horror lagi ya.. hehe.. Thirteen ghost? Ak lupa, dulu pernah nonton tapi kebanyakan disensor di tivi lokal. Nanti coba nonton ah buat referensi~ xD

ai lucia kurosaki: Terima kasih sudah mereview! Sudah kulanjut dan kali ini lebih banyak ichiruki. Semoga bisa menghibur!

Morning Doodle: Makasih sudah review! Hei, penname mu itu apa sih… wkwkkwkw nih udh diupdate, kamu masih bacakah? Semoga masih baca.. hehe.. tambah seru loh~ jangan tiap hari, bisa gempor ak..

V kuchiki: Terima kasih sudah mereview! Sudah kulanjut nih, semoga bisa menghibur :D

Playlist:

Fall Out Boy- Alpha Dog

The Chainsmokers feat Daya- Don't Let Me Down

Ellie Goulding- Still Falling For You

Ariana Grande- Into You

Skylar Grey- Wreck Havoc

Imagine Dragons- Not Today

Sia- Alive

These songs don't belong to me…