::The Dark Legacy— First Quarter::

By: Morning Eagle

Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::

Just to warn you all :: AU, OOC, misstype...for this story


Scene 15: Blood Legacy

~0*0~

.0.

.

.

.

.

.

.

.

Pertama kali yang dilihat Rukia ketika membuka matanya adalah warna jingga temaram. Lalu suara halus dengkuran, berikut kehangatan ganjil yang menindih bahu kirinya. Rukia terdiam di saat jam menunjukkan pukul empat lewat sembilan pagi. Matahari belum menunjukkan permulaan hari. Terlalu dini ketika sinarnya tertutup oleh langit malam yang masih tersisa di ujung cakrawala.

Napas Rukia tercekat dengan sendirinya. Tangannya perlahan terulur, memastikan bahwa yang benar-benar tidur di sampingnya adalah seseorang. Ichigo. Bergelung di dalam selimut tanpa peduli saat jari-jari Rukia menyentuh wajahnya. Membelai turun hingga ke dagu dan merasakan denyut nadi di lehernya berdetak stabil.

Ichigo tidur di sisinya, meninggalkan insting sensitif hewan liarnya dalam semalam. Bahkan, dia lupa untuk membuka kalung besi di lehernya.

Rukia tidak tahu harus berbuat apa, selain membiarkan Sang Beta tertidur lelap dan memulihkan energinya. Walaupun pertanyaan terbesar mulai tercetak di dalam benaknya, 'bagaimana bisa Ichigo tidur di atas ranjangku?'

Keanehan yang ganjil mengiringi rasa penasaran Rukia. Perasaan aman, terlindungi. Keberadaan Ichigo melebihi apa pun yang dibutuhkan Rukia saat ini.

Tangan Rukia berakhir dengan memeluk punggung tangan Ichigo, merasakan kehangatannya tersalur dari kulit ke kulit. Tubuh Sang Beta selalu hangat, sementara tubuh Rukia hampir sedingin es.

Rukia takut dengan dirinya sendiri, pada apa yang sudah tubuhnya lakukan pada Quincy yang hampir membunuh Ichigo. Kekuatan dashyat yang bahkan tangannya tak bisa kendalikan. Rasa dingin yang berubah menjadi panas di dadanya, Rukia masih mengingat jelas bagaimana rasanya.

Perlahan Rukia mulai beringsut, spontan mencari kehangatan dari tubuh Ichigo. Sebisa mungkin berada dekat dengannya dan bisa melupakan kekuatan asingnya dalam sesaat. Matanya tertuju pada wajah Ichigo, menelusuri setiap detail garis tajam rahang juga tulang pipinya, berikut bulu matanya yang sedikit lentik daripada pria kebanyakan. Fokus Rukia tertuju pada Ichigo seorang, membuatnya merasa lega bahwa Sang Beta selalu mendukungnya. Apa pun yang terjadi.

Ichigo mengerjap, ketika Rukia tak sengaja mencengkram tangannya terlalu erat. Sang Beta mengerang rendah, sebelum membuka setengah mata kantuknya. Terlalu berat untuk berkompromi dengan pagi buta.

Rukia merasakan rasa panas menjalar di kedua pipinya terlalu cepat.

"Aku membangunkanmu…" bisik Rukia. Suaranya seperti embun di pagi hari, lembut dan dingin. Ichigo merasakan kantuknya sulit untuk ditahan lebih lama.

"Mengapa kau tidur di ranjangku?" tanya Rukia lagi.

"Hmm… Mengapa?" Alis Ichigo naik terlalu tinggi, ketika dia tidak bisa memikirkan jawabannya. Otaknya tak bisa bekerja dan merangkai kata-kata. "Entahlah. Kaupikir mengapa?"

Rukia tertawa kecil ketika mendengar Ichigo meracau tidak jelas.

"Kau mengingat apa yang terjadi semalam setelah kau berpatroli?"

Kini dahinya mengkerut dalam. Sekeras apa pun dia berusaha berpikir, akhirnya Ichigo hanya bisa melihat warna hitam dan ketidaksadaran. "Ya, aku berpatroli, lalu apa? Ahh—jangan tanyakan itu sekarang. Aku tidak bisa memikirkan apa pun."

"Tapi kau tidur di ranjangku."

"Ranjangmu, ranjangku, semuanya sama saja, bukan? Aku tidak masalah."

Rukia menahan diri untuk tidak berdebat lebih lanjut. Dan bangun di jam empat pagi bukan pilihan yang bagus untuk tubuhnya. Dua pilihan yang akhirnya dibiarkan Rukia begitu saja. Dia memutuskan tidur adalah solusi terbaik, walaupun sekarang terasa sulit untuk dilakukan. Keberadaan Ichigo sudah mengambil sebagian besar kewaspadaan juga daerah privasinya.

Setidaknya, gadis itu akan mencoba.

Ichigo sudah kembali tertidur, merangkulkan tangan pada pinggang Rukia seakan pengganti bantal baginya. Kebiasaan tidur Ichigo sejak kecil yang belum menghilang sampai sekarang.

Rukia membiarkannya berlalu untuk saat ini saja. Dan matanya menutup dengan sendirinya, ketika dengkuran halus Ichigo membantunya terlelap.

.

.

…..~***~…..

.

.

Rukia terbangun karena sesuatu menyentuh kepalanya begitu lembut. Sebuah belaian, hangat dan mengirim sinyal pada indera yang masih sensitif di pagi hari. Matanya terbuka malas, mendapati Ichigo sedang memandangnya dalam posisi duduk.

Sang Beta sudah terbangun dan memilih untuk bersandar pada punggung ranjang sambil membelai rambut Rukia. Membiarkan jari-jarinya menyisir di antara celah helaian selembut sutra. Hingga mata gadis itu terbuka seperti permata di pagi hari, menjadi hal terindah yang pernah Ichigo lihat. Senyumnya tertarik tanpa disadarinya.

"Pagi, tukang tidur."

Rukia beringsut menjauh. Emosi labilnya belum siap untuk menghadapi Ichigo, ketika dirinya baru saja terbangun. Terlalu dini menyambut ketegangan di depan mata.

"Mengapa kau tidur di ranjangku?" tanya Rukia, mengulang apa yang ditundanya tadi subuh. Keningnya berkerut dalam.

"Kau bermasalah bila aku tidur di sini?" tanya Ichigo balik.

Rukia menggeleng sambil mengerang, bentuk penolakan sengit ketika kepala dan tubuhnya masih belum bisa bekerja sama. "Bukan itu. Mengapa kau bisa tidur di sini, huh? Kau berpatroli semalam dan kuingat kita berpisah di lobi."

"Ya, pemeriksaan keliling yang memakan waktu sekitar dua atau tiga jam, aku tak yakin. Setelah berganti shift aku segera kembali untuk tidur dan, lagi, aku tidak yakin pintu mana yang kubuka." Alisnya mengkerut tajam. "Yang kuingat hanyalah kasur empuk dan selimut tebal—itu yang terlintas dalam benakku semalam, sebelum mataku tidak bisa menahan kantuk lebih lama."

"Dan kau dalam keadaan tidak sadar ketika masuk ke dalam kamarku," celetuk Rukia, membenarkan. "Seperti aku akan memercayai alasanmu itu."

"Samar-samar aku mencium wangi es bercampur lilac atau camellia, aku tidak bisa membedakan, yang kuyakin itu berasal darimu." Seringainya muncul tanpa bisa ditahan. "Salahkan indera penciumanku dikala mataku tidak bisa berkompromi. Aku berjalan mengikuti insting."

Rukia memelototi tidak percaya. Menyanggah alasan yang menurutnya tidak masuk akal, tetapi berhasil membuat kedua pipinya mulai bersemu merah muda. Dia tidak bisa menahannya, ketika Ichigo selalu berhasil meruntuhkan tembok dingin pertahanannya.

"Kau tidak lapar?"

Rukia memutar bola matanya. "Kau mengganggu tidurku, kau ingat? Aku masih menginginkan bantalku."

"Tapi, ini sudah waktunya sarapan."

Rukia melirik jam di meja samping tempat tidur, menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh menit. Masih terlalu pagi untuknya dan sudah cukup siang bagi Ichigo. Rukia bukan tipe orang yang bisa bangun pagi.

"You're not a morning person, are you?" tanya Ichigo, menggoda.

Rukia mengerang dan kembali masuk ke dalam selimutnya. Ichigo selalu bisa membacanya, kelebihan dari insting yang terlalu tajam. Terkadang beberapa werewolf yang terlalu peka akan inderanya sendiri bisa merasakan perubahan emosi yang kentara di sekitarnya.

Rukia merasakan sesuatu mendesak masuk ke dalam selimutnya dan beringsut mendekat. Sesuatu yang hangat mulai melingkari pinggangnya, ketika dia menyadari itu adalah tangan Ichigo. Sang Beta sudah mencuri tempat lagi di sisinya, kali ini lebih dekat.

"Mengapa kau kembali ke tempat tidur?" tanya Rukia, berusaha keras agar suaranya tidak bergetar karena terkejut. Setengah panik saat jantungnya berdegup kencang.

Ichigo mengeratkan pelukannya dan bersandar di belakang Rukia. Hidungnya menyentuh tenguk gadis itu, merasa puas ketika menyadari bahwa dia berhasil membuat Rukia terbungkam. Walau hanya untuk sesaat.

Napasnya menggelitik telinga Rukia. "Hmm… Setelah kupikir, menghabiskan waktu satu atau dua jam lagi di sini tidak ada salahnya." Bahu Rukia berjengit, membuat Ichigo tertawa teredam. "Bagaimana? Sarapan tidak terdengar menggiurkan sekarang."

Ichigo menyadari bahwa tubuh Rukia terlihat lebih mungil dan rapuh dari sisi belakang. Bahu yang tidak lebih lebar dari telapak tangannya, juga pinggang yang begitu mudah dilingkari oleh sebelah tangannya. Dan di dalam tubuh Rukia terdapat sesuatu yang di luar dugaan, dingin juga berbahaya. Orang yang mendengarnya tidak akan percaya, sampai melihat sendiri dengan mata secara langsung.

Kekuatan yang misterius. Mereka masih belum bisa membahasnya, tanpa petunjuk apa pun sekarang.

Bibir sang Beta menelusuri leher Rukia yang terekspos, sebelum berhenti di bahunya sambil larut dalam emosi yang tenang. Hangat, sedikit dingin, namun lembut. Tidak bisa menyebutkannya lebih spesifik, ketika gadis itu aman berada dalam dekapannya.

Hentakan kuat terasa di pinggang Ichigo, membuatnya hampir tersedak dan melonggarkan tangannya. Siku Rukia berhasil mengenai tulang belikatnya. Serangan tiba-tiba yang memberikan rasa sakit di luar dugaan.

"Rukia—"

"Jangan memulai," potong Rukia, yang segera berdiri dan berjalan cepat menuju kamar mandi tanpa berbalik. Wajahnya terasa panas, di kedua pipinya.

Ichigo menyeringai, ketika mendapati kegugupan Rukia seakan terkuak di udara. Begitu gamblang dan mudah ditebak.

"Aku akan menunggu di sini," kata Ichigo, ketika pintu kamar mandi sudah tertutup. "Sepuluh menit atau aku akan kembali tidur untuk dua jam lagi."

Rukia bersandar pada pintu kamar mandi, merasakan detak jantungnya berdegup tak tenang. Berada terlalu dekat dengan Sang Beta memberikan rasa aman sekaligus berbahaya di saat yang bersamaan. Es dan api bercampur menjadi satu.

Sepuluh menit tidak akan mengubah keadaan menjadi lebih baik. Kamar mandi yang seharusnya terasa dingin pun sekarang menjadi lebih hangat. Bulu kuduk yang meremang, menandakan Rukia akan rasa asing yang sama sekali baru. Bukannya tidak nyaman, tetapi lebih seperti tempat teraman yang diisi oleh sedikit tanda berbahaya. Sesekali, terjun ke dalam maut itu sendiri tidak akan merugikan diri sendiri.

Rukia menahan senyumnya yang terlihat bodoh di depan cermin. Merasa seperti bukan dirinya sendiri. Atau ini adalah memang dirinya yang terlalu lama tertidur. Ichigo yang membangunkannya, ketika dunianya terasa sendu juga abu-abu. Di tengah kekacauan yang terjadi, gadis itu masih bisa merasakan apa yang namanya kehidupan.

Rasa sedih bercampur bahagia—selalu, dua kata yang berkonotasi negatif dan positif menjadi satu kesatuan. Itulah yang dirasakannya. Di dalam kesenyapan pagi yang dingin, dirinya merasa lebih hidup.

Rukia mencuci muka juga menyikat gigi sebagai rutinitas paginya. Bayangan di cermin memperingatkan bahwa fisiknya sudah sedikit membaik. Tidak lagi terlihat pucat atau kantung mata hitam membayangi matanya.

Tidak ada lagi bayangan dan berbagai pikiran buruk yang menghantuinya. Dekapan Ichigo adalah obat mimpi buruk yang membuat Rukia tenang.

Tangannya bertumpu pada wastafel, sementara matanya terpejam dan mulutnya menarik napas dalam-dalam. Latihan pernapasan di pagi hari selalu membantu Rukia melepaskan aura negatif atau merilekskan otot-otot yang masih terasa kaku. Sedikit peregangan tangan juga kaki, lalu leher ke kiri juga ke kanan.

Rukia tersenyum, merasa siap untuk memulai rutinitasnya sebentar lagi. Merasa jauh dari rumah juga kegiatan sekolah yang sudah mendarah daging. Hari-hari sibuk yang dilupakan ketika dunia seperti diputar balik. Berubah seratus delapan puluh derajat. Terbebas dari kegiatan Osis dan mempersiapkan tugas sekolah yang tak kunjung usai.

Liburan mungkin sudah berakhir. Rukia mempertanyakan akan kesadaran teman-teman atau pun guru mengenai dirinya yang menghilang tiba-tiba. Mungkin mereka mengira bahwa dirinya dibunuh oleh pembunuh berantai, atau sekarang fotonya sudah tersebar sebagai salah satu orang hilang yang dicari di seluruh pelosok Tokyo. Mungkin, officer Renji akan menutupinya, seperti tugas yang selalu dikerjakannya—berpihak pada kelompok mitos yang berada di balik bayang-bayang.

Ketukan di pintu mengalihkannya dari lamunan. Rukia mendengar samar-samar suara dua orang, mungkin tiga dari balik pintu. Werewolf lain yang berada di dalam kamarnya.

Pintu terbuka dan sosok yang didapatinya adalah Rangiku. Wanita itu berdiri sambil terbelalak. Matanya memerhatikan Rukia dari atas ke bawah, mencari-cari sesuatu. Rukia hanya bisa menahan gugup, berdiri canggung dengan kerut di dahinya.

"Katakan sekali lagi, apa yang kaulakukan di kamarnya?" tanya Rangiku, bukan kepada Rukia. Dia menoleh ke arah Ichigo berdiri, yang sedang berbincang dengan Kira.

Ichigo memelototi Rangiku, berdecak tidak suka.

"Hentikan kebiasaan burukmu itu," kata Kira. "Mencari bahan gosip baru di pagi hari dan menyebarkannya saat sarapan—kau selalu melakukan itu."

"Ini menyangkut Beta, jadi aku tidak akan mentolerir, Kira. Dan aku melihatnya dengan mataku sendiri, bahwa Beta baru saja bangun dari ranjang—"

"Aku tahu ke mana pembicaraanmu mengarah dan itu hanya rekaanmu semata," potong Ichigo sengit. "Berhentilah menyebarkan gosip!"

"Jadi bagaimana?" Perhatian Rangiku tertuju pada Rukia, melihat gadis itu yang memiliki semburat merah muda di pipinya. "Rukia, kau tidak bisa berbohong. Apa yang Beta lakukan terhadapmu semalam?"

Ingatan Rukia bergulir kembali ketika Ichigo mencium bibirnya. Angin malam membelai pipinya, dingin juga membangunkan panggilan hatinya. Membiarkan Ichigo melakukannya, karena itu adalah sesuatu yang terasa benar.

Wajah Rukia memerah dengan cepat.

"Lihat, tebakanku tidak pernah salah," kata Rangiku, memamerkan senyum terlebarnya. Tidak pernah bosan untuk mencari sesuatu yang bisa memuaskan rasa penasarannya. "Beta memaksamu melakukannya, atau kalian memang saling—"

"Satu kata lagi keluar dari mulutmu, maka tugas berjagamu ditambah tiga kali lipat," potong Ichigo, sudah berdiri di samping Rangiku dengan tangan terlipat di depan dada. Sikap tubuhnya menantang.

Rangiku mendengus tak setuju, melihat Ichigo yang lebih tinggi darinya. "Kau memang Beta di dalam kelompok, tapi masalah yang sedang kubahas sekarang bukanlah berkaitan dengan tugas. Ini masalah serius, bocah."

Kali ini Ichigo yang mendengus. "Serius? Mengenai berita yang kauubah hingga membuat seluruh kelompok tak bisa menurunkan telinga tajam mereka? Kau sering melakukannya, dan aku tidak ingin menjadi korbanmu selanjutnya."

"Tidak setelah apa yang dialami Kensei," kata Kira. "Dia menjadi bahan perbincangan selama lebih dari dua minggu."

"Dan itu karena hobi burukmu," lanjut Ichigo, menunjuk Rangiku.

Rangiku menggerutu tidak setuju, melawan dua orang pria yang sekarang memojokkannya. "Oya? Setelah kau menyentuh gadis di bawah umur dan tidur satu ranjang dengannya, aku harus memercayai berita yang mana?"

"Aku tidak menyentuhnya!" Ichigo berteriak geram. "For fuck sake! Stop doing that, dammit!"

"Ichigo benar," ucap Rukia, berusaha menjelaskan. Tiga pasang mata tertuju padanya, membuat Rukia berjengit. "Ya—kalian tahu, ini tidak seburuk prasangka kalian. Aku sedikit mengerti apa yang dimaksud dengan 'tidur' satu ranjang itu, Rangiku."

Alis Rangiku naik terlalu tinggi. "Ahh—tidak menepis bahwa Beta yang memaksamu? Sudah kuperingatkan sebelumnya, bukan? Semua laki-laki di sini adalah penjelmaan serigala liar. Mereka mengandalkan otak kosong mereka daripada harus berpikir dua kali."

"Rangiku!"

"Lebih baik kalian hentikan di sini! Kupikir perdebatan ini tidak akan berakhir hingga matahari terbenam," potong Kira. "Lagipula, di samping itu, apa yang akan kaulakukan untuk menghadapi Sang Ancestor?" Kira mengubah topik, kali ini lebih serius dan Rukia sama sekali tidak mengerti.

Ichigo terdiam, mengambil napas dalam. Kerutan di dahinya semakin bertambah dalam.

"Kau mengganti topik menjadi tidak menarik," gerutu Rangiku. "Tapi itu poin yang bagus untuk membuktikan dirimu pada Sang Ancestor. Memukul mundur calon Beta satunya."

"Siapa Ancestor?" tanya Rukia.

"Yang akan kita temui sekarang," kata Ichigo sambil memijit pelipisnya. "Ayo, kita selesaikan ini lalu segera sarapan. Perutku tidak bisa bersabar lebih lama."

"Ya, setelah apa yang kalian lakukan semalam. Akui saja." Rangiku kembali menggodanya,

"Jangan memulai," gerutu Kira, menutup matanya dengan sebelah tangan.

.

.

…..~***~…..

.

.

Alis di kening Ichigo menekuk seakan sudah menjadi bentuk permanen. Selama mereka menapaki koridor yang sepi—karena semua werewolf sudah berada di ruang makan untuk sarapan—perasaan Ichigo tak kunjung membaik. Membawa ketegangan sekaligus kekesalan yang sedikit menular pada Rukia. Gadis itu lebih risih daripada sebelumnya. Menghadapi Rangiku saja sudah terasa sulit, kali ini dia harus ikut bersama Sang Beta. Entah apa yang disebut dengan Ancestor.

Ichigo tidak mau menjelaskan lebih rinci, karena terlalu fokus dengan kejengkelan yang menggerogoti kepalanya. Darah mendidih di dalam otak, ditambah kekurangan kabohidrat juga mineral cukup untuk menutupi kekurangan energinya.

"Sampai kapan kau akan seperti itu?" Rukia bertanya, ketika mereka menapaki koridor yang terlihat familiar. Kantor sekaligus ruang pribadi Sang Alpha yang berada di ujung lorong.

"Seperti apa?" gerutu Ichigo, berdecak kesekian kalinya.

"Ya seperti itu. Wajahmu seakan menantang langit cerah dengan kilat halilintar di siang bolong."

"Ini semua karena Rangiku—dia memperburuk situasi—dan masalah utamanya adalah aku tidak bisa mengambil jatah sarapanku. Dan mengapa masalah bertambah lagi seakan tak puas dengan ketenangan yang kumiliki?"

Yang dimaksud adalah orang yang akan dihadapi mereka sekarang, sumber masalah yang satu lagi. Rukia setengah mengerti. "Maksudmu Sang Ancestor itu?"

"Yah, apa pun namanya."

"Siapa dia?"

Ichigo menghela napas, ketika mereka berdiri di depan pintu kantor ayahnya. Sesuatu yang kuat membuat tubuh Ichigo menegang, yang bersumber dari balik pintu kayu di depan matanya.

"Ancestor, dia adalah sebuah legenda, salah satu yang tertua dari darah werewolves—keturunan murni yang sudah melewati waktu panjang di masa kehidupannya. Perang di masa lalu, petumpahan darah demi membela kaum kami, yang dilakukannya telah menjadikan dirinya seorang pahlawan. Karena itu kami memanggilnya Ancestor, leluhur kami, memang demikian dirinya."

"Dia adalah tetua kalian," gumam Rukia. "Perang dari masa lalu—jadi berapa umurnya?"

Ichigo memasukkan tangannya ke dalam saku celana jeans-nya. Keringat dingin semakin membuatnya gugup. "Aku sendiri tidak yakin, mungkin lebih dari lima abad. Ancestor seringkali datang menemui Alpha, dan hanya satu yang kukenal—yang berasal dari perang besar di Balkans. Mereka tidak mau menunjukkan fisik di hadapan kami, terlalu tua untuk mengikuti perkembangan zaman."

Rukia ternganga, tidak sempat membalas ketika Ichigo sudah membuka pintunya lebih dulu.

Ada dua orang di dalam ruangan. Isshin sedang terduduk di kursi kerjanya, sementara orang satunya berdiri tegap. Terlalu tinggi, hingga puncak kepalanya hampir menyentuh langit-langit ruangan.

Rukia tidak bisa menutup mulutnya yang masih setengah menganga. Dia tidak pernah melihat orang yang sebesar Chad, atau bahkan yang lebih dari itu. Mungkin itu hal lazim di dalam dunia Ichigo—di mana werewolf bisa tumbuh lebih besar dan setinggi pemain basket NBA. Tapi, pria yang sekarang sedang berbincang dengan Sang Alpha menyanggah itu semua.

Pria asing dengan rambut panjang tergerai hingga punggung, berwarna coklat keemasan. Rukia yakin itu serupa dengan emas, ketika cahaya matahari dari balik jendela menyinarinya menjadi kilauan sutra. Matanya memicing tajam seperti seekor serigala liar yang waspada, kuning emas seperti rambutnya. Dan tinggi tubuhnya hampir mencapai tinggi rak buku di sisi ruangan. Dua meter lebih, berhasil membuat Rukia bergidik dan beringsut mendekat ke sisi Ichigo.

Dia—Sang Ancestor. Keberadaan dirinya membuat Rukia bisa merasakan ketegangan Ichigo. Sang Beta yang selalu percaya diri kini menyembunyikan taringnya.

"Mengapa kalian berdiri di sana?" Isshin bertanya. "Dan di mana sikapmu sebagai Beta, Ichigo?"

Ichigo sedikit tersentak, dan diakui Rukia sebagai keganjilan yang jarang terjadi. Keangkuhan Ichigo seakan melunak, ketika dia mendekati sosok si pria raksasa. Sang Alpha dan Beta harus menengadahkan wajahnya hanya untuk menatap dan bicara.

"Ini kedua kalinya aku melihat anakmu, Isshin," ucap si pria raksasa, dengan suara rendah seperti menggeram. "Dia masih sangat kecil terakhir kali aku mengunjungi kelompokmu. Jadi diakah calon penerus?"

"Masih terlalu jauh. Kau tahu kalau mendidik anak sendiri lebih sulit daripada melatih anggota kelompok."

Ichigo memelototi ayahnya yang menyeringai lebar. "Dan ini kedua kalinya pula aku melihat seorang keturunan murni datang menyapa. Keturunan Lampard yang agung."

Isshin berdeham, ketika si pria raksasa tertawa keras. Rukia takut suaranya bisa menggetarkan lantai kayu dan dinding kaca.

"Anakmu sungguh punya nyali, tapi sangat berisiko! Di mana kebodohan terlihat seimbang dengan nyali tidaklah cukup. Seorang Beta yang mengikuti jejak Alpha haruslah bisa berpikiran matang. Kebijaksanaan yang dimiliki ayahmu adalah kebanggan yang harus kauteruskan sebagai legasi," ucap si pria raksasa. "Dan aku lebih suka dipanggil Komamura. Lampard adalah nama yang terlalu kuno untuk usiaku."

Ichigo terdiam, hanya bisa terpukau dengan perkataan yang terdengar tua.

"Lalu, fairy yang bersamamu," lanjut si pria raksasa—Komamura, kali ini melihat Rukia yang masih terpaut jauh jaraknya. Gadis itu bergidik terkejut. "Kalian melindungi seorang fairy yang baru saja lahir?"

Isshin terdiam, menatap Ichigo penuh tanya. Sementara sang Beta menggertakkan giginya. Garis rahangnya yang tegas sudah membuktikan bahwa dia berusaha menahan amarah.

"Dia adalah Kuchiki Rukia," jelas Isshin, mengambil alih topik. "Keturunan Kuchiki yang merupakan spring fairy dari Jepang. Bukan hal aneh—sebagai Keluarga Kuchiki—Rukia memiliki sisa-sisa sekat pembatas yang diberikan oleh kakaknya."

"Sekat pembatas?" Rukia bertanya. Dia berjalan perlahan ke sisi Ichigo, beringsut mencari kehangatan yang bisa membuat tubuh dinginnya lebih tenang. Udara di dalam ruangan terlalu dingin, bahkan terasa hingga ke paru-parunya.

"Fairy melindungi kaumnya maupun manusia dengan memberikan sekat pembatas di sekitar wilayahnya," jelas Isshin. "Jadi, bukan hal aneh sisa-sisa kekuatannya akan menempel pada kulitmu untuk jangka waktu yang cukup lama."

"Spring fairy memiliki warna yang lain, Isshin. Dan gadis ini memiliki aroma dingin yang cukup pekat. Aku bisa merasakannya jelas dari jarak satu meter," kata Komamura.

Rukia tidak bisa berkata apa pun, selain berusaha menahan diri di samping Ichigo. Sang Beta hampir sama bungkamnya, entah apa yang sedang dipikirkannya untuk menghadapi Sang Ancestor.

"Dan apa yang membawamu kemari?" tanya Ichigo. Keberaniannya mulai terukir seperti baja yang baru saja ditempa. "Jarang sekali untuk mengunjungi kelompok kecil di Amerika Utara, kurasa."

Komamura memandang Ichigo, mengamati dalam waktu yang cukup lama. Mencari di mana celah Sang Beta yang jauh lebih kecil darinya itu bisa dibuatnya bungkam. Nyali Ichigo lebih besar daripada kelihatannya.

"Isshin meminta bantuanku untuk mengatasi masalah Quincy. Mereka sudah terbangun, lebih cepat daripada yang pernah kuduga sebelum ini. Jadi, katakan calon Beta, apa yang kauketahui mengenai Quincy ini?"

"Mereka lebih pintar daripada strigoi biasa. Menyerang secara berkelompok dan cukup sulit untuk dijatuhkan." Ichigo menjelaskan seadanya.

"Kau menghadapi mereka secara langsung?" tanya Komamura.

Seringai Ichigo terbentuk, menunjukkan rasa percaya dirinya. "Beberapa, saat kami pergi ke daerah Memphis. Dua Quincy sedikit berbeda daripada yang lainnya—lebih lihai juga kuat. Tapi, aku berhasil menjatuhkannya."

Komamura melihat Isshin dengan senyum terukir di wajahnya. Tidak seperti werewolf tua yang berusia berabad-abad. Hanya fisiknya yang terlihat muda. Semangat sendu yang terlihat di matanya perlahan berubah hidup.

"Anakmu sudah menunjukkan kemampuannya sebagai Beta yang kuat, Isshin. Kau memiliki keturunan yang bagus."

"Kekeraskepalaannya yang menunjukkan hal itu. Kecerobohan masih menguasai sebagian besar tugasnya."

Ichigo menatap ayahnya tak setuju. Terkadang dia ingin diandalkan, tidak menutup kemungkinan akan penyangkalannya sebagai kandidat kuat Alpha berikutnya.

"Jadi ayah memanggilku untuk membahas masalah ini?" tanya Ichigo sarkastik.

"Lebih dari itu," jawab Isshin, melipat tangannya di atas meja. "Aku ingin kalian menceritakan apa yang kalian alami saat berada di Memphis. Mengenai Quincy juga hal lainnya."

"Kau sudah mendengarnya sebelum ini, Dad."

"Aku yakin belum semuanya, son," balas Isshin, terlihat serius.

"Kupikir sudah semuanya. Kami datang ke Memphis untuk bertemu Senjumaru, lalu tiba-tiba pasukan Quincy menyerang dan kami kehilangan jejaknya. Penyihir itu menghilang seperti kabut."

Sang Alpha berusaha mengorek informasi, sementara Sang Beta berusaha menutupinya. Rukia mengerti akan sifat Ichigo yang terkadang sangat defensif, melebihi batasan yang seharusnya. Sifat alami werewolf yang tak bisa ditepis. Berusaha melindungi gadis itu lebih kuat dari sebelumnya.

Rukia menarik napas. Tidak ada gunanya menutupi, ketika dua werewolf kuat di hadapannya bisa menebak hanya dengan mengandalkan indera sensitifnya.

"Senjumaru mengatakan sesuatu mengenai kunci, yang berhubungan dengan ingatanku," jelas Rukia sedikit ragu akan tatapan setiap orang di ruangan yang mengarah kepadanya, penuh rasa ingin tahu. Sebelah tangannya terasa gatal untuk menggenggam tangan Ichigo. Tapi tidak sekarang. "Dan sesuatu dalam diriku, aku tidak mengerti apa maksudnya. Hanya aku yang bisa membukanya, itu yang dikatakannya."

"Begitu?" Isshin berpikir keras, mengamati Ichigo dan Rukia secara bergantian. "Dan apa yang kau temukan, Rukia? Ada sesuatu yang kausadari selama ini?"

Rukia menggeleng. "Nii-sama juga Senjumaru tidak menjelaskan apa pun lagi, Isshin-san. Dan aku tidak yakin apa yang sedang kualami sekarang."

"Kekuatan yang baru saja terbangun," kata Komamura. "Aku bisa merasakannya samar-samar dari dirimu, Kuchiki Rukia. Lebih baik masalah ini disimpan dan tidak tersebar hingga keluar. Terlalu berbahaya, ketika kalian tidak mengetahui situasi Quincy di luar sana."

Rukia melirik Ichigo di sampingnya. Rahang pria itu mengerah, antara menahan kekesalan juga kepasrahan.

"Itu lebih baik," jelas Isshin-san. "Lalu, apalagi yang sudah kaualami, Rukia? Kekuatan yang baru terbangun—karena insting juga indera perasaku tidak sekuat Komamura, aku ingin kau menjelaskan lebih rinci kepadaku."

"Kupikir ini bukan waktu yang tepat, Dad."

Rukia sedikit tersentak, ketika Ichigo maju dan hampir menghalangi pandangannya. Pria itu, lagi-lagi mengandalkan insting pelindungnya.

Isshin memerhatikan anaknya penuh rasa ingin tahu. Ada sesuatu yang ganjil, itu menarik perhatiannya lebih dalam. Yang membuat Ichigo sebagai tameng bagi Rukia.

"Apa maksudmu itu, son? Kau mengetahui sesuatu, bukan begitu?"

"Bukankah kalian sendiri yang bilang bila situasinya berbahaya?" Ichigo menggertakkan rahangnya.

"Memang seperti itulah keadannya. Dan perlu kuingatkan, bahwa akulah Alpha di sini," ucap Isshin, menekankan setiap katanya dengan tekanan yang mengintimidasi. "Tidak mengerti apa yang terjadi di dalam kelompokku—setiap permasalahannya—itu sama saja dengan buta sebagai pemimpin. Kau tidak akan bisa melakukan apa pun tanpa kerja sama kelompok, juga kejujuran setiap anggotanya. Aku menjamin keselamatan Rukia tanpa keraguan sedikit pun, jika kalian mau jujur kepadaku."

Rukia mengerti situasinya bertambah rumit. Di samping dirinya yang tidak lagi mengenal tubuhnya seperti dulu.

Komamura berdiri diam, mengamati situasi dalam kepalanya sendiri. Sang Ancestor yang enggan berkomentar apa pun, selama masalah ini bukan tanggung jawabnya sebagai pemimpin kelompok. Sudah terlalu lama dia tak menyandang status yang memberinya kuasa penuh, sekaligus beban berat di punggungnya.

Isshin menghela napas, ketika melihat kedua anak muda di hadapannya bungkam. Ichigo masih berdiri bak patung pahatan, terdiam dengan mata memicing tajam. Rukia di sisinya bergerak gelisah. Tercium jelas ketakutannya yang membuat Isshin semakin prihatin.

"Kalian bisa memercayaiku," ucap Isshin, melonggarkan tekanan yang diberikannya. "Aku tidak tahu apa yang kalian hadapi, apa yang kalian lihat saat berada di Memphis. Hanya ini jalan yang bisa kuberikan untuk melindungi kelompokku, juga kau, Rukia." Perhatian Isshin terpusat ke Rukia, memandangnya lembut. Rukia mengangkat wajahnya yang penuh kecemasan, sedikit harapan. "Aku tidak berhak mencampuri permasalahan kakakmu sebagai pemimpin spring fairy, tapi biarkan aku melindungimu. Kau sudah menjadi salah satu bagian dari kelompokku."

Rukia menahan napasnya dan tak menyadari bahwa tangannya mencengkram lengan Ichigo kuat. Pria itu sama sekali tak bergerak, atau bahkan tak menyadari. Ichigo terfokus pada emosi dirinya yang berubah labil.

"Apa pun yang terjadi, apakah kau akan memercayainya, Isshin-san?" Rukia bertanya dan mendapat anggukan persetujuan dari Sang Alpha sendiri. "Aku sendiri tidak yakin apa yang sudah terjadi."

"Karena itulah kami akan menolong. Begitu pula anakku." Senyum lebar Isshin terarah kepada Ichigo yang terbelalak lebar. Kepekaannya kembali ketika Rukia melepas tangannya, melepas rasa dingin yang sejuk itu. "Ichigo akan melakukan apa pun demi dirimu, bukan begitu, son?"

.

…..~***~…..

.

.

Rukia terduduk diam dengan secangkir kopi yang sudah mendingin di hadapannya. Pikirannya terlarut pada percakapan seriusnya dengan Isshin, juga Sang Ancestor. Menjelaskan apa yang sudah terjadi pada tubuhnya, apa yang kekuatan misterius itu lakukan hingga ujung-ujung jarinya membeku pilu. Isshin hanya mengangguk paham, sementara Komamura mengatakan bahwa kekuatan fairy sungguh misterius dan berbahaya. Rukia tidak tahu apa yang sedang dihadapinya. Bahaya apa yang sedang menunggunya di depan sana.

Ichigo mencengkram tangannya selama perjalanan mereka ke ruang makan. Tangan yang saling tergenggam, memberikan perlindungan itu sendiri. Dingin dan panas, es juga api. Kini keduanya seakan berada dalam dua kutub berbeda. Hanya kepercayaan juga hati masing-masing yang saling menunjukkan arahnya—kepada satu sama lain.

Rukia melirik ke arah dapur, ke mana terakhir kali Ichigo membawa piring-piring mereka ke tempat pencucian. Setelah Ichigo menghabiskan tiga porsi makan paginya, tidak ada es krim sebagai makanan penutup hari ini. Rukia hampir tidak menyentuh telur juga roti panggangnya, karena perutnya melilit tegang. Dan memakan satu tangkup rotinya terasa seperti ampas yang hambar.

Kelegaan terasa melonggarkan cengkraman di leher juga perutnya. Membagi sebagian beban kepada Sang Alpha, memberikan ketenangan tersendiri bagi Rukia. Tidak sebesar Ichigo di sampingnya, tapi itu terasa lebih baik. Walaupun dia tidak tahu langkah apa yang akan diambil Isshin selanjutnya.

Sudut mata Rukia menangkap beberapa werewolf yang masih mengisi ruang makan, membisikkan kata-kata yang kentara terdengar di telinganya. Sejak awal gadis itu dan Ichigo memasuki ruangan makan, ketenangan di pagi hari digantikan oleh gunjingan tak berakar yang mulai mengisi kekosongan udara. Ichigo tahu penyebabnya. Tidak lain adalah Rangiku seorang. Desas desus yang beredar, nama Ichigo dan Rukia yang disebutkan berulang kali sebagai topik menarik yang perlu dibahas, semua itu menimbulkan berbagai spekulasi buruk yang merugikan posisi Rukia. Gunjingan yang tak diinginkan. 'Gadis manusia yang menggoda seorang Beta terkuat di Amerika Utara!' Salah satunya terkabar seperti itu.

Gadis itu hanya bisa mendesah, ketika wajahnya tak lagi terasa memerah panas. Menunduk selama sarapan membuat lehernya kaku. Ditambah ketegangan yang berlebih diberikan oleh Sang Beta. Ichigo tidak suka saat jam makannya diganggu. Sesekali menggeram dan memelototi siapa pun yang membuat suara di dalam ruangan, menjadikan udara semakin hening mencekam. Kini suara-suara berbisik itu kembali muncul, ketika Sang Beta tidak terlihat dalam jangkauan pandangan.

Yang bisa Rukia lakukan adalah pura-pura tidak mendengar.

"Lagi-lagi kau menyebabkan masalah."

Rukia bergidik dan berbalik. Seseorang berbicara tepat di belakang punggungnya, seakan menikam dengan belati tajam. Itu Kokuto, yang menyeringai lebar sambil bersandar pada tembok dengan tangan terlipat. Tatapannya memandang tajam, membuat Rukia menggigit bibirnya untuk menahan takut.

"Apa maumu?" bisik Rukia, sinis.

"Oh, ayolah! Aku sedang tidak menyudutkanmu, Rukia. Apakah kau masih mengingat kejadian tempo hari? Maaf bila sikapku kasar sebelumnya."

Rukia mengkerutkan alisnya. Jelas-jelas Kokuto berbohong. Bisanya terlalu tajam seperti ular.

"Semua orang tidak bisa menutup mulutnya, jadi berita itu cepat menyebar. Ditambah, telinga kami terlalu peka untuk menangkap sesuatu yang terdengar menarik," ucap Kokuto, menutupi arah pandang Rukia ke tengah ruangan. Tubuhnya berdiri tegap. "Jadi, Beta kecil itu sudah tidur denganmu, huh? Kau tidak pernah mengerti ungkapan bahwa serigala menyembunyikan taring di balik mulut besarnya? Kami ini menggigit, Rukia."

"Kami tidak tidur bersama," balas Rukia sengit. Kedua kepalan tangannya mengepal erat di atas meja. Matanya tertuju pada Kokuto juga beberapa werewolf yang masih meliriknya penuh rasa ingin tahu. "Bila itu yang kalian inginkan, membicarakan manusia lalu bersikap lebih daripada manusia itu sendiri. Kalian tidak lebih adalah sama, bukan?"

Beberapa werewolf menggeram rendah, tidak menyembunyikan kegeraman yang seakan memecut diri mereka. Disamakan dengan manusia sama seperti sebuah penghinaan pahit. Bersembunyi dan berusaha hidup normal seperti manusia sangatlah mengekang kebebasan insting mereka.

"Kami berbeda dari kalian," geram Kokuto, yang memperingatkan Rukia sudah membahas masalah sensitif. Matanya menatap tidak suka. "Kalian hanyalah bangsa lemah yang selalu mencuri dan merebut apa yang dimiliki orang lain. Tidak pernah puas, menutupi kelemahan kalian dengan kebohongan dan kemunafikan. Tidak peduli bahwa darah yang kalian torehkan itu adalah darah ibu kalian sendiri!"

Rukia berdiri dari duduknya dan menghindari Kokuto yang menegapkan tubuh besarnya. Jauh di atas Rukia.

"Menyudutkan kaum yang berbeda daripada kalian, lalu merebut rumah kami—apa yang sudah kami perjuangkan selama ini." Kokuto maju, menyudutkan Rukia. "Dan ketika kami menunjukkan wujud kami, kalian menyebut kami monster. Penghancur dunia. Lalu memakai tubuh ini sebagai bahan percobaan kalian. Tidak pernahkah kalian merasa puas?"

"Tidak semua manusia seperti itu," balas Rukia. Suaranya mengecil, karena Kokuto sudah menunjukkan taring tajamnya. Otot-otot di leher juga bahunya mulai menegang, hampir berubah ke dalam wujud yang lebih berbahaya. "Kau hanya melihat dari sisi buruknya. Lalu, apa bedanya kau dengan mereka yang kausebut penghancur? Apa yang kaulihat pada manusia tidak ada bedanya dari sebuah kekejian, bukan?"

Kokuto berhenti di tempat. Matanya memandang tidak percaya, seakan Rukia sudah melakukan candaan yang kelewatan. Juga beberapa werewolf yang ikut terintimidasi, yang berada di belakang Kokuto. Beberapa maju ke depan dan mengikuti calon Beta yang satunya. Beta yang tersisihkan.

"Kau terlalu banyak bicara, Rukia. Sadarilah tempatmu sekarang ini!"

Rukia terkesiap saat Kokuto mengulurkan tangannya. Gadis itu hampir terjungkal ketika menubruk mulut meja di belakangnya. Geraman rendah membangunkan bulu kuduknya, memberikan sengatan listrik yang menjalar dari punggung hingga kakinya. Rukia berusaha mencari alat bantu untuk membela diri, ketika Ichigo sudah berdiri di depannya dan melindungi Rukia. Tangan Sang Beta Yang Diakui langsung mencengkram Kokuto kuat.

"Tentu! Kau selalu datang untuk menyelamatkan gadis manusia ini, bukan?" ucap Kokuto, berusaha melepaskan tangannya dan memukul keras lengan atas Ichigo. "Selalu bersikap layaknya seorang pelindung baginya. Atau kau benar-benar sudah tidur dengannya, Ichigo?"

Rangiku ada di sisi Ichigo bersama Kira dan Tetsuzaemon. Mereka berusaha menghalangi Beta muda agar tidak berubah dan menghancurkan ruang makan dalam sekejab. Tidak di pagi hari dan Sang Ancestor masih ada di lantai atas.

Kalung di leher Ichigo mulai mencengkram erat, di saat dirinya tidak bisa mengendalikan emosi. Geraman rendah dan cakar kukunya sudah menajam, tapi tidak bisa berubah sempurna. Terkekang.

Rukia meraih tangan Ichigo lebih dulu. Matanya terpejam dan sesuatu membuncah dari dalam dirinya. Berpusat dari tengah dada, menjalar ke jari-jari tangannya. Rasa dingin itu, menggigit seperti es di musim dingin. Ichigo mengernyit karenanya, merubah fokus kepada Rukia. Melihat gadis itu yang berharap agar Sang Beta bisa segera mundur.

Kokuto menyadari sesuatu yang berubah dalam sekejab. Selama ini matanya hanya tertuju pada amarah dan kebencian. Melupakan indera juga kepekaannya tertutup rapat. Kali ini semuanya seakan disentuh oleh angin dingin yang menampar wajahnya.

Mulutnya menyeringai tak percaya, memerhatikan sosok Rukia yang hampir bersembunyi di balik punggung Ichigo.

"Tahan dirimu dan jangan memulai keributan lagi," saran Tetsuzaemon, yang terlihat lebih bijak daripada dua teman lainnya.

Ichigo memelototi Rangiku dan membuat sang werewolf wanita itu meringkuk terkejut. Kira di sisinya mulai merasa tak nyaman.

Pengendalian Ichigo tak bisa dikontrol, kepada siapa pun yang berada di sekitarnya. Terkecuali Rukia yang berhasil menarik perhatian Ichigo kepadanya. Melonggarkan sedikit ikatan emosi yang membuat darah Sang Beta mendidih.

"Tenangkan dirimu," bisik Rukia, merasakan otot tangan Ichigo sedikit mengendur. "Melawannya di tempat ini tidak akan memberikanmu keuntungan."

Kokuto tak sependapat. Dia tidak suka di saat Rukia hampir berhasil menurunkan emosi Ichigo. Tidak ketika akhirnya Kokuto berniat melakukan sesuatu yang lebih buruk.

"Kau bisa mendengarkan suaranya," kata Kokuto. "Katakan, apakah rasanya sama seperti menyentuh seorang gadis werewolf, huh?"

Ichigo terpancing lagi, berusaha menerjang Kokuto. Tetsuzaemon membantu di sisinya, menarik lengan kanan Ichigo ke belakang. Rukia hampir tersandung langkahnya, bila tidak merangkul erat lengan Sang Beta yang satunya.

"Ichigo!" Suara Rukia tak lagi didengar.

"Hentikan ini!"

Senna berlari dan berdiri di antara Kokuto juga Ichigo. Punggungnya menghadap Ichigo, seakan melindungi pria itu dari amukan kakaknya yang berubah semakin liar. Tak terkendali.

"Minggir, Senna! Kau lebih membela Beta lemah itu daripada kakakmu sendiri?" tanya Kokuto tak percaya. Suaranya seperti amukan petir.

"Dia mate-ku! Sudah sepantasnya aku melindunginya!"

"For fuck sake, Senna! Get off!" Ichigo mengerang kesal, memelototi gadis itu yang meracau tak jelas baginya.

"Just shut up and listen to me!" Senna berbalik dan menunjuk Ichigo tepat di dada. "Aku tidak pernah takut kepadamu dan tidak akan! Kita adalah partner, ingat? Apa pun yang kaulakukan aku ada di sisimu untuk mendukung. Di mana dirimu yang dulu, huh? Do you forget me so easily, partner?"

Ichigo terdiam, memandangi Senna dengan tangan terkepal. Dia bisa mendengarnya dan menekan kembali amarahnya.

Senna menarik tangan Ichigo dan menggenggamnya erat. Jari-jari yang kini kembali normal, tidak lagi menunjukkan cakar abnormal yang setajam serigala. "Di manakah kau selama ini, Ichigo? I know I messed up! And I'm sorry for that…" Senna menautkan jari-jarinya, mendapati Ichigo kembali tegang karenanya. "Tapi aku tidak akan melupakan janji yang telah kukatakan. Janjiku kepadamu, Ichigo. Aku masih mengingatnya jelas, karena untuk itulah aku tetap berdiri di sampingmu."

"Senna!" Kokuto memprotes, menunjuk adiknya tidak suka. "What the hell?!"

"Kau sudah keterlaluan!" Senna membalas, tak segan dengan kakaknya yang mengintimidasi. "Kau terus memojokkan Ichigo padahal kau sendiri tahu siapa Beta-nya, Kak! Berhentilah melakukan hal ini!"

"Dan memilihnya? Bocah yang tidak akan pernah melihatmu lagi?"

Senna terdiam. Dia menggigit bibirnya kuat, merasakan apa yang dikatakan kakaknya sudah mempengaruhi kepercayaannya. Hanya penyangkalan yang bisa membuatnya tetap berdiri teguh. Juga perasaannya, mengatakan bahwa mate itu adalah nyata.

"Aku adalah mate-nya," gumam Senna. "Itu hukum yang tidak bisa dilanggar."

Kokuto memaki dan menendang kursi di sampingnya, melampiaskan kekesalannya. Dia berjalan menjauh, melewati jalur yang diberikan para werewolf ketakutan. Mereka tidak bisa menentang salah satu yang terkuat, atau nyawa menjadi taruhannya.

Rukia menatap semua itu seperti adegan sebuah film aksi. Dirinya hanyalah penonton, sementara Ichigo adalah pelakon utama, di samping Senna yang masih memegang tangannya. Rukia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya, bercampur dengan kesedihan mendalam. Bahwa dirinya tidak bisa melakukan apa yang sudah dilakukan Senna untuk Ichigo.

Mungkin tidak akan pernah bisa.

"Ichigo?" Senna kembali bertanya, menghiraukan Rukia yang masih berdiri di sisi Sang Beta. "Kau sudah baik sekarang?"

Seakan tersadarkan, Ichigo segera melepaskan tangan Senna dan mundur ke belakang. Dia menatap Rukia, mendapati gadis itu tidak mau membalas tatapannya. Sesuatu seperti menusuk tepat di jantungnya, memberikan rasa sakit yang disalurkan Rukia lewat udara. Hanya kepada dirinya—penyesalan yang selalu datang terlambat.

"Rukia," panggil Ichigo, memelas. "Kau baik-baik saja?"

Tangan Ichigo yang terulur tak berhasil menjangkau Rukia. Gadis itu sudah menjauh lebih dulu dan melangkah pergi. Kata-kata terakhirnya hampir tak didengar Ichigo, karena terlalu fokus memerhatikan langkah Rukia yang terasa berat.

"Aku akan ke kamarku." Rukia melangkah pergi tergesa. Matanya berusaha mengerjap dan menghalau air mata yang entah darimana datangnya. Dia tidak ingin tahu hal itu.

"Rukia!" Ichigo hendak mengikutinya, namun langkahnya dicegah Senna. Gadis itu sudah menahan tangan kirinya, memeluk erat.

"Bisa kita bicara?" tanya Senna. "Kita perlu bicara."

"Tidak." Ichigo menjawab tegas, mengkerutkan dahinya.

Rangiku sudah lebih dulu pergi menyusul Rukia. Tanpa sepatah kata pun Kira mengikuti langkah wanita itu, meninggalkan Tetsuzaemon yang mendesah frustasi.

"Biarkan Rangiku yang menemani Rukia. Beri dia ruang, sementara kau selesaikan masalahmu," kata Tetsuzaemon, sebelum melangkah pergi meninggalkan Ichigo. Sang Beta hanya bisa menatap tak percaya. Semua rekannya meninggalkannya sendirian, bersama Senna di sampingnya.

"Ada saat di mana kau perlu terlibat atau tidak," lanjut Senna. "Dan di mana kau harus menempati dirimu dalam situasi atau kewajibanmu. Rukia—dia hanyalah kewajibanmu, tugas yang harus kaulindungi, aku mengerti hal itu. Dan ada di mana saat kau berada di rumahmu sendiri. Ini adalah rumahmu, Ichigo. Tidakkah kau terlampau jauh keluar dari jalurmu sendiri?"

Ichigo tak menjawab. Matanya terus memandang ke mana Rukia menghilang. Lagi, gadis itu lepas dari pantauannya. Dan rasanya seperti kehilangan arah. Jalannya meninggalkan kerikil dan batu untuk tersandung. Jatuh ke dalam lubang yang sama. Kehampaan.

Ichigo membenci dirinya sendiri. Insting liar di dalam dirinya meraung keras, memanggil nama Rukia berulang kali.

..~*(to be continued…)*~…..

.

.

.

.

.

.

.

Author's note:

It's been a while! It's been too long actually… Dan maaf karena lagi-lagi tak menepati janji untuk update cepat. Harus update tahun depan, dalam arti tahun baru, 2017! Damn! Waktu cepat berlalu dan lagi aku menyia-nyiakan kesempatan untuk update dan melanjutkan cerita ini. Banyak kisah sedih dan sulit di tahun 2016, sebagiannya membuatku jadi terlambat update. Dan aku masih hidup, kok. Masih akan tetap melanjutkan dan menyelesaikan apa yang kutulis. Mungkin, membuat fic" lainnya di fandom ini. Still, I won't ever leave ICHIRUKI behind! They are TOO DAMN GOOD to be fool around! DAMN KUBO!

Curhat dikit, aku ga peduli lagi sama apa yang namanya penjelasan dan alasan si mangaka yang katanya… katanya merencanakan ending sejak awal mula lah, surat penggemar yang terkubur lah, ini lah, itu lah… Dia adalah mangaka yang sangat kuidolakan sekaligus yang kubenci. Aku ga mengerti apa yang dia inginkan? Bleach sudah sangat sangat sangat lama kehilangan jati dirinya. Apa yang kulihat diakhir, perasaan jauh jauh jauh sangat berbeda dari pertama kali aku membuka manga Bleach. Ya, I'm pissed off! Tapi, di sisi lain, berterima kasih juga karena sudah menghadirkan Bleach (terutama hanya seri dan arc awalnya) yang sangat mengena di hati pembaca. Identitas Bleach yang sebenarnya ada di sana, kekuatan Gotei 13 yang legendaris, plot rapi dan berbeda, karena itulah Bleach menjadi pendongkrak sekaligus kartu emas dari Jump. Yah… juga Ichiruki yang sejak awal sudah mejadi karakter utamanya. Mereka team mate yang sangat kompak. Ditambah Kon ( yang entah hilang ke mana di akhir). Sejak awal adalah Ichigo dan Rukia. Rukia adalah cahaya bagi Ichigo. Yah… entahlah. Apa maksud dari semua ini? Entahlah. Yang terpenting, perasaan yang pernah ada dulu itu tak terlupakan. Terakhir kali kuucapkan, thanks for your work, sensei! I love you but I hate you! Sekarang mengerti arti dari kalimat itu… Masih keezzzaaall, tapi ya sudahlah. Biarlah yang lama berlalu. Sekarang sudah pergantian tahun, memulai lembaran baru.

Ok, kembali ke fic. Sungguh, bagian akhir itu ga direncanakan, tiba-tiba muncul. Tapi menurutku itu pas banget, karena di chapter selanjutnya membahas hubungan Ichigo-Rukia dan masa lalu Ichigo-Senna. Senna mate Ichigo? Hmm… belum bisa bilang, tapi Ichigo menganggapnya mitos. Kalau (seandainya) Ichigo adalah mate Senna, kenapa di akhir dia menjerit dalam hati dan memanggil Rukia? Yah itu jawabannya… hahahhaha *author ga jelas* xD Yah, pokoknya fokus Ichigo tetap ke Rukia. Kenapa dia bisa berhenti waktu Senna mengungkit janji dan masa lalunya? Itu ada alasannya. Karena mereka teman sejak kecil dan ada di chapter depan.

Ichigo asli nyasar ke kamar Rukia, karena dia kehilangan fokus, setengah mengantuk dan instingnya mencari jejak Rukia. Selama ini dia berada dekat Rukia dan tempat yang membuatnya tenang hanya Rukia, jadi tanpa sadar berakhir tidur satu ranjang.

Rangiku pembuat masalah di sini. Yah, karena dialah konflik jadi berkepanjangan. Rangiku memang suka menyebarkan kabar burung, alias gosip ga jelas. Dia penyuka gosip, dan korbannya sudah banyak. Karakternya ga berbeda jauh dari manga nya sendiri, sisi periang juga jahilnya yang menutupi kalau dia itu masih sendiri (single). Dia salah satu werewolf yang sudah memiliki umur, alias sudah tahap dewasa tapi belum ada pendamping. Sebagian besar werewolf punya pasangannya sejak usia muda, tapi Rangiku belum menemukan jodohnya. Jadilah menyalurkan frustasinya ke hal lain.

Sang Ancestor adalah tetua sekaligus werewolf berdarah murni yang umurnya sudah ratusan tahun. Komamura adalah salah satu yang tertua, usianya sudah 500 tahun lebih, sejak keterlibatannya perang di Balkan dalam membela kaumnya melawan strigoi, disebut sebagai The Bloody War. Selama ini dia bersembunyi dalam kesendirian, sesekali datang membantu kelompok werewolf yang membutuhkan dirinya. Karena zaman semakin berkembang dan kota-kota besar sudah semakin luas, werewolf baru menyesuaikan diri dengan manusia modern, sedangkan Komamura lebih memilih alam liar. Tubuhnya besar karena dia berdarah murni. Mengambil bentuk Komamura versi manusia dari manga nya, rambut panjang keemasan, karena aku sendiri ga yakin warna aslinya coklat atau perak? Ada beberapa fan art yang mewarnainya perak, tapi kupikir lebih cocok coklat keemasan di sini. Nama aslinya adalah Hartwig Lampard, lalu dipanggil Komamura setelah melewati masa perang.

Rukia menceritakan apa yang terjadi kepada Komamura dan Isshin. Dia yang memiliki kekuatan aneh dan bisa mengeluarkan es, Komamura menyimpulkannya sebagai fairy baru lahir. Ya, jawaban sudah adakan? Hehe…

Dan terima kasih buat semua yang masih menunggu fic ini! Maaf atas keterlambatanku, semoga update-nya chapter ini bisa mengobati kerinduan kalian. Dan bagi yang baru membaca, salam kenal. Semoga fic ini bisa menghibur kalian!

.

.

Balasan untuk anonymous reviewers dan yang tidak log-in:

Damai: Terima kasih sudah mereview! Ya, sama2 juga ;) makasih buat semangatnya ya!

rukichigo: Terima kasih sudah mereview! Hahaha.. makasih ya buat semangatnya. Chapter terbaru sudah diupdate!

BLEACHvers: Terima kasih buat reviewnya! Bantu mikir? Wkwkwk.. karena memang settingnya di negara Hollywood :3 dan karena terinspirasi dari negara situ, senang banget buat menjelajah negara berbeda. Wah cita2ku jadi sutradara donk (aminnn) hahhaha…. Yah, kebanyakan para author masih terpukul sama apa yang terjadi kemarin. Karena perasaan kita saat ngetik dipengaruhi besar sama perkembangan manga-nya. Sekarang sudah hancur lebur, harus memulai lagi dari awal buat membangkitkan mood. Ak juga kesulitan buat cari mood itu, tapi sekarang sudah membaik. Ya, peduli amat sama Kubo… dia yang captain, kita yang teruskan… bodoh amat sama dia… hahahhaha.. Semangat 45! Gpp kok kalo mau curcol… wkkwwk

moi: Makasih sudah review ya.. maaf sebelumnya aku ga bisa update kilat. Tapi sudah kulanjut ini, semoga suka ya!

Kurosaki2241: Makasih sudah review! Hiihihi… sudah kulanjut, makasih buat semangatnya ya!

Snow: Terima kasih sudah review! Wkwkwkw diabetes akutkah? Isshin sebenarnya tahu Ichigo nyembunyiin sesuatu, cuman tunggu waktunya aja sampai Ichigo yang cerita sendiri, dan terungkaplah di chapter ini. Dia juga percaya anaknya bakal jagain calon mantu (?) Toushiro versi dewasa? Jujur ak kaget banget lah itu. Ga nyangka bisa membesar dan kupikir ga bakal mengecil lagi, tapi jdi kecil loh. Memangnya dia itu apa ya? xD berharapnya sih klo udh jadi dewasa ya sudah. Ak klo suruh milih lebih suka yg versi dewasanya (guantengg banget) tapi kalo cocok sih cocok yg kecil, aura garangnya dapet banget di chapter awal Bleach. Sayang lama" dia ga gitu menonjol kayak dulu. Makasih buat semangatnya ya!

Louis: Terima kasih sudah mereview ya! Wah makasih ya, chapter ini bikin melayang + jatuh… hahha.. di akhir ada konflik. Senang juga akhirnya bisa bikin scene manis begini, lama ternyata perjalanannya. Ya, aku akan terus dan tetap berkarya!

Morning Doodle: Aku tahu deh ini siapa… wkwkwkkwk makasih udh review! Toushiro? Dia belum muncul di seri ini, mungkin seri depan. Sekarang lebih bahas ke werewolf nya aja.. hoho…

ara-chan: Terima kasih sudah review ya! Hi juga~ Makasih buat sukanya.. ya, ak akan jaga kesehatan, demi mengetik juga.. hihihihi…

Allen Walker: Terima kasih sudah review ya! Ya, perasaan Ichigo yg campur aduk akhirnya bisa terbayarkan sekarang. Hubungan Rukia dan kekuatan misteriusnya pun sudah terlihat, nanti bakalan dibahas lebih lanjut, sebentar lagi. Makasih sudah mau menunggu ya! Maaf sudah lama menunggu, aku masih belum nyerah. Ak bakalan ngetik terus buat Ichiruki tercintah~

Rini: Makasih sudah review ya! Ini sudah kulanjut ceritanya!

Ryuuki: Makasih sudah mereview! Hmm… resmi pacaran sih mungkin belum, karena situasi masih genting. Tapi hubungannya memang semakin dekat dari sebelumnya. Reaksi Isshin udah keliatan di chapter ini. Senna ada lagi dan malah nambah masalah lagi… hahahha.. makasih buat semangatnya ya!

Playlist:

Fall Out Boy- Alpha Dog

Dillon Francis & DJ Snake- Get Low

Ellie Goulding- Still Falling For You

Ariana Grande- Into You

Machine Gun Kelly feat. Camila Cabello- Bad Things

One Republic- Kids

These songs don't belong to me…