::The Dark Legacy— First Quarter::

By: Morning Eagle

Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::

Just to warn you all :: AU, OOC, misstype...for this story


Scene 17: Mate

~0*0~

.0.

.

.

.

.

.

.

.

"Apa yang dilakukan seorang manusia di tempat ini?"

Rukia menelisik ke belakang punggungnya, mencari-cari sosok Quincy yang mengejarnya. Derap langkahnya tak lagi terdengar.

Wajah panik Rukia terlihat jelas, ditanggapi pria asing itu dengan dehaman ringan.

"Aku bertanya kepadamu, gadis kecil," katanya.

"A-ada seseorang yang mengejarku," ucap Rukia berbisik. Giginya hampir bergemeletuk.

Pria itu mengerutkan alisnya. "Siapa?" Matanya mengamati ke mana Rukia melihat. Di balik pepohonan rindang yang gelap tak bercahaya.

Bulu kuduk Rukia meremang ketika tatapan pria itu membulat. Kerutan muncul di tengah dahinya. Pria itu mengetahui sesuatu—kejanggalan di antara keheningan yang mencekam.

Dengan sigap pria itu meraih tangan Rukia, menggenggam erat. "Kita pergi dari sini."

"Tapi—tunggu dulu—"

"Ikut atau kau akan mati di tempat ini."

Rukia tidak bisa melawan, setengah berlari mengikuti pria itu. Menyebrangi padang rumput dengan tergesa. Langkah mereka menjadi lebih cepat, berlari melawan angin malam yang menampar pipi. Memberikan sengatan dingin begitu menggigil.

Rukia kesulitan untuk bernapas, paru-parunya seakan terbakar. Pria itu melihat wajah pucat Rukia, di mana lututnya hampir menyentuh tanah. Dengan sigap tangannya mengangkat tubuh Rukia, mengangkatnya ke atas bahu.

Napas Rukia tercekat begitu melihat tanah di depan matanya. Kedua tangannya mencengkram punggung pria itu ketika dia berlari lebih cepat.

"A-apa yang kaulakukan—"

Pria itu tidak menghiraukan Rukia; berlari menyusuri semak. Langkah kakinya mantap memijak aspal. Kecepatan dia berlari mengingatkan Rukia ketika dirinya berada di atas punggung Ichigo. Di saat sang Beta berubah dalam wujud werewolf-nya. Berlari bebas tak terkekang ke mana kakinya melangkah.

Mereka melewati jalur berseling ke area yang lebih gelap. Perlahan lampu jalan terlihat di ujung jalan, berderet rapi di jalur bebas hambatan. Rukia berusaha menelisik dari bahunya, mencari petunjuk di mana mereka berada.

Pria itu berhenti di sisi jalan, menarik napas beberapa kali sebelum menurunkan Rukia dari bahunya. Rukia masih terpaku dengan mata membulat sempurna. Jantungnya berdegup di atas batas normal.

Dan mereka saling bertatapan tanpa bicara. Suasana canggung terbentuk di antara angin malam. Rukia menggigit bibirnya melawan rasa gemuruh di dadanya. Berpikir dua kali untuk mengambil seribu langkah atau diam di tempat memulai pembicaraan. Pria itu terlihat mengancam dengan matanya yang tajam, namun di sisi lain tidak memberikan rasa permusuhan yang mengintimidasi. Pembawaannya sungguh tenang, tak terusik.

"Apa yang kau lakukan di sana, gadis kecil?" tanyanya, melewati dua menit yang membisu.

"Rukia, itu namaku. Bukan gadis kecil," balas Rukia.

Pria itu mengamati dalam diam. Bibirnya membentuk garis lurus tak berkedut.

"Kau bisa memanggilku Starrk," ungkapnya.

Rukia segera menghapalkan namanya, berikut fitur wajahnya dengan tulang pipi tinggi juga hidung mancungnya. Garis tegas memberikan kesan maskulin yang begitu kuat.

"Jadi, bisa jelaskan mengapa kau lari dari kejaran mereka?" Starrk menekan kata mereka seperti silet tajam. "Dan sepertinya kau bukan manusia biasa. Aku bisa mencium sesuatu yang berbeda dari dirimu."

Rukia memberengut, mengeratkan tangannya pada lengan baju. Melawan rasa dingin yang menggigit.

"Kau tahu siapa mereka, karena itu kau membawaku lari?"

"Aku tidak ingin melihat hal yang mengerikan di depan mataku, di malam yang begitu dingin. Darah membasahi tanah sementara aku tidak melakukan apa pun, itu sungguh bertentangan dengan prinsipku."

"Walaupun kau tidak mengenalku?"

"Siapa pun dirimu, tidak ada yang berhak merebut hak seseorang untuk hidup. Sekali pun kau bukanlah manusia. Aku bisa mengerti tentang keadaan itu."

Rukia menarik napas dalam-dalam, menebak dalam hati. Starrk bukanlah strigoi—tidak dari warna matanya yang hangat, walau sepucat bulan purnama. Kulitnya pun tidak terasa dingin.

"Karena kau juga bukan manusia," tebak Rukia. "Siapa dirimu?"

Starrk menatap pada latar belakang yang hening, seakan mencari sesuatu yang salah. Matanya terpejam merasakan angin malam menyentuh kulit, membangunkan insting yang terpendam.

"Hanya seorang pengelana yang tidak memiliki tempat untuk menetap. Ini sudah jalan hidupku, melihat dunia hanya dengan mataku sendiri," jelas Starrk. "Kau tidak takut?"

Rukia menggelengkan kepalanya; giginya hampir bergemeletuk. "Kau berbeda, tapi tidak menakutkan. Apa yang kurasakan sama seperti berada di dekat teman-temanku. Ya, kurasa seperti itulah rasanya."

"Kau tidak sedang berjalan seorang diri," tebak Starrk.

"Teman-temanku—mereka masih ada di sana. Aku harus segera kembali—"

"Terlalu berbahaya." Starrk mencegah Rukia, menahan lengan atasnya ketika gadis itu hampir berlalu pergi. "Kau tidak akan bisa melakukan apa pun seandainya kau kembali ke tempat itu."

"Lalu apa yang harus kulakukan? Membiarkan teman-temanku mati?"

Emosi Rukia semakin tak tertahankan. Dia mengepalkan kedua tangannya erat ketika rasa dingin yang membakar kulitnya kembali terasa. Es menusuk telapak tangannya, kekuatan yang terpendam bergejolak.

Rukia mengerutkan alisnya, berusaha berkonsentrasi untuk menahan diri. Fokus menenangkan hatinya.

"Mereka bisa mengatasi masalah ini lebih daripada yang kauduga," kata Starrk, acuh tak acuh.

Suara gemerisik rerumputan membangunkan sikap awas Rukia. Bahunya menegang ketika melihat bayangan muncul tanpa terduga. Di balik semak-semak dan kegelapan. Bayangan mimpi buruk yang mengintai dengan mata merah menyala.

Seorang Quincy dengan jubah putihnya, rambut hitam tergerai tertiup angin. Quincy wanita dengan langkah hampir tak bersuara. Gerak tubuhnya begitu anggun dan lembut. Menyembunyikan kenyataan bahwa ancaman yang diberikannya sangat mematikan.

Starrk bergerak cepat, menarik Rukia ke sisi tubuhnya. Sebelah tangan merangkul bahu Rukia, mendekap erat.

Quincy itu mengamati dalam diam. Tatapannya terpaku pada Rukia cukup lama.

Rukia berusaha kuat untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun. Degup jantungnya bertalu keras hingga terdengar di gendang telinganya. Perwakilan rasa takutnya.

"Seekor serigala pengelana," ucap Quincy, tersenyum kecil. "Dan seorang manusia?"

Starrk mendorong tubuh Rukia, membuat gadis itu jatuh terduduk di atas tanah yang lembab. Napas Rukia tercekat begitu Starrk menerjang Quincy itu begitu cepat. Tubuhnya berubah menjadi sesuatu yang mencengangkan—sesuatu yang lain. Tulang berderak juga suara geraman membuat Rukia panik. Ini bukan kali pertama dirinya melihat seorang manusia bertransformasi menjadi makhluk besar yang menakutkan.

Werewolf—itulah jati diri Starrk yang sesungguhnya.

Sosok werewolf Starrk begitu besar, bahkan mungkin lebih tinggi dari Ichigo. Bulu kecoklatannya berdiri tegak. Cakarnya menahan gerakan si Quincy yang meronta. Teriakan Quincy membelah langit malam—ketidakberdayaan juga kegeraman.

Starrk tidak menunggu lama untuk melumpuhkannya. Tubuh besarnya bergerak cepat. Gigi-gigi tajamnya menancap kuat pada bahu si Quincy, melemparnya hingga menghantam batang pohon yang kokoh. Suara derakan membangunkan bulu kuduk, entah dari tulang yang patah atau batang pohon yang remuk.

Rukia berusaha berdiri ketika Starrk sudah menunduk di sebelahnya. Moncongnya menyenggol betis Rukia, memberi isyarat dengan punggung direndahkan.

Rukia mengerti maksudnya. Kedua tangannya langsung meraih bulu di punggung Starrk sementara kakinya mengayun naik. Matanya tidak melirik ke belakang, sekadar melihat kondisi terakhir Quincy yang tumbang. Starrk segera berlari, kali ini lebih cepat melawan arah angin. Rukia memejamkan matanya erat, berkata dalam hati semuanya akan baik-baik saja.

Rasanya berbeda dengan cara Ichigo berlari. Stark lebih cepat juga lihai, menghindari pepohonan begitu gemulai—langkahnya ringan dan mantap. Rukia hampir tidak bisa melihat apa pun karena gelapnya malam. Mereka semakin dalam menelusuri jalur hutan, ke Utara untuk menghindari pantauan Quincy yang masih mengintai.

Starrk tidak melambatkan lajunya ketika melompati bebatuan dan mencapai tebing curam. Rukia hampir berteriak, mengeratkan pegangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Starrk mengambil jalur terjal melewati tebing. Semakin ke atas menghindari semak juga area terbuka.

Hampir sepuluh menit lamanya Starrk berlari tanpa henti. Mereka mencapai area terluar hutan, di mana beberapa rumah terlihat. Daerah belakang perumahan di sekitar area pinggiran Minnesota. Jendela yang gelap menandakan para penghuni rumah sudah terlelap.

Starrk menuju salah satu rumah, melompati pagar kayu dan menyusuri area pekarangan rumah yang cukup luas. Rumah sederhana dua lantai dengan rerumputan tinggi tak dipangkas. Seakan tak peduli dirinya dilihat oleh manusia, werewolf itu mencakar pintu belakang rumah beberapa kali.

"Tunggu dulu, bagaimana kalau dirimu dilihat orang?" bisik Rukia mendesis, tangannya meraih telinga Starrk dan menariknya kuat.

Starrk menggeram rendah, memelototi Rukia di atas punggungnya.

Suara orang merutuk terdengar dari dalam rumah. Lampu dinyalakan dan derap langkah terburu mengisi ruangan.

Rukia terbelalak panik, mencengkram telinga Starrk lebih kuat saat pintu dibuka.

Sosok pria besar dengan mata memicing marah hampir membuat Rukia ikut merutuk. Pria itu sama sekali tak merasa takut atau bahkan berteriak panik. Sebaliknya, dia menggeram rendah.

"Apa yang kaulakukan di halaman belakang rumahku dengan wujud serigalamu?" tanyanya berbisik, mengepalkan tinjunya.

Starrk menunduk rendah, membiarkan kaki Rukia menyentuh lantai. Gadis itu tak menunggu lebih lama untuk turun dari tunggangannya—werewolf yang perlahan menjauh seperti hewan liar tak ingin disentuh.

"Siapa gadis ini—hei tunggu!"

Panggilan pria besar itu tak digubris Starrk yang sudah berlari meninggalkan halaman. Langkahnya tak bersuara meninggalkan jejak di atas tanah, memasuki kegelapan hutan hingga tak terlihat.

Rukia terpaku di tempat. Bahkan, tidak sempat mengucapkan rasa terima kasih yang tertahan di ujung mulutnya.

"Kau mengenal Starrk?"

Pertanyaan pria besar itu membangunkan Rukia dari lamunannya. Tubuhnya sedikit bergidik.

"Ah, ya…. Dia menolongku," gumam Rukia.

Pria besar itu terdiam, memerhatikan Rukia dari atas ke bawah. Mengamati. Akhirnya dia mendesah. "Siapa pun yang ditolong Starrk pastilah bukan orang jahat. Aku memercayai pria serampangan itu. Masuklah dan aku akan mendengarkan ceritamu di dalam."

Rukia enggan untuk melangkah ke area yang belum dikenalnya. Di tempat ini, di halaman belakang orang asing yang masih menatapnya tajam. Alis tebalnya seakan memberikan peringatan untuk tidak diganggu.

"Aku bukan orang jahat, kau tidak perlu takut. Starrk bisa dibilang adalah temanku—ya, walaupun orang itu tidak pernah mengenal apa yang namanya teman," ujarnya menggerutu. "Kau bisa memanggilku Ganju. Aku bertugas sebagai officer di area sekitar sini."

Rukia terdiam sebelum menjawab. Seorang petugas keamanan—anggota kepolisian—sama sekali tidak terlihat dari fisik luarnya. Apalagi tatapan matanya yang serupa dengan brandal kelas kakap.

"Aku Rukia," kata Rukia. "Umm—apakah kau bisa membantuku?"

Ganju mempersilakan Rukia masuk ketika udara pagi buta berada di titik terdingin. Gadis itu mengamati rumah kecil Ganju. Area dapur yang berantakan dan penuh piring kotor. Beberapa botor bil berjejer di atas counter. Namun udara hangat di dalam ruangan hampir menutupi keburukan itu semua.

"Bukannya aku malas membereskan rumahku. Percayalah, tugasku akhir-akhir ini semakin berat karena tingkat kriminalitas yang terus meningkat." Ganju menendang sesuatu ke sudut ruangan. Membersihkan ruang utama seadanya. "Jadi, bagaimana kau bisa bertemu dengan Starrk?"

Rukia mengambil tempat duduk di sofa terujung, yang menurutnya paling aman dari tumpukan baju kotor juga sisa keripik yang terbenam di antara bantal sofa. Gadis itu sedikit mengernyit. "Aku sedang dalam perjalanan ketika beberapa orang menyerang mobil yang kunaiki. Aku terpisah dari teman-temanku, lalu bertemu Starrk di sisi hutan jalan bebas hambatan. Dia menolongku dan membawaku hingga kemari."

"Kau sepertinya tidak begitu terkejut melihat wujud Starrk," ujar Ganju. "Kupikir manusia normal akan berteriak ketakutan melihat wujud monster seperti dirinya."

"Starrk bukanlah monster. Dia hanya berbeda, tapi itu tidak buruk," sanggah Rukia.

"Ahh, kau sudah pernah melihat yang lain selain Starrk?"

"Teman-temanku—mereka sama seperti Starrk."

"Begitu?" Mata Ganju membulat dengan tangan terlipat di depan dada. "Kau berasal darimana?"

"New York, Manhattan, dan dalam perjalanan menuju Montana," ungkap Rukia.

Ganju mengeluarkan suara seakan tercekik. Keterkejutannya bahkan membuat raut wajahnya semakin menakutkan. "Kau bersama kelompok dari Manhattan? Isshin?"

"Kau mengenalnya?" Rukia pun terkejut karenanya.

"Tentu! Walau aku bukan salah satu dari anggota mereka, tapi kami adalah teman baik. Kami saudara walaupun tidak sedarah."

"Jadi, kau juga werewolf?" tanya Rukia.

"Tidak sepenuhnya—maksudku aku setengah dari mereka. Setengah darah werewolf dalam tubuhku tidak bisa membuatku berubah seperti Starrk, wujud sempurnanya. Tapi, aku masih bisa menakuti manusia dengan cakar dan moncong penuh gigi tajam," jelas Ganju, tertawa sarkastik. "Aku tergolong kuat dalam wujud setengah werewolf-ku!"

Rukia mengerutkan alisnya tak percaya. Mendengus dalam hati.

"Hei, aku berkata jujur!"

"Kalau begitu, apakah kau bisa memberitahu di mana markas pusat di Montana?"

"Rumah utama? Itu cukup jauh dari sini. Kau harus menumpang mobil atau mencari kendaraan umum."

Sinar harapan dari mata Rukia membuat Ganju tercekat. Gadis itu memiliki tuntutan yang sulit untuk ditolak.

"Oke, baiklah! Aku akan mengantarmu ke sana setelah aku melanjutkan tidurku," ucap Ganju, melempar kedua tangannya ke udara. "Kau bisa memakai sofa ini atau di mana pun kau merasa nyaman untuk beristirahat. Percayalah, kamarku jauh lebih berantakan daripada sofa ruang tengahku."

Rukia mengernyit, tidak bisa membayangkan apa yang lebih menjijikkan daripada sisa keripik di sela sofa atau tumpukan kaleng bir di atas meja makan yang belum terbuang.

"Bagaimana kalau mereka mencariku? Aku terpisah dari mereka karena perbuatan Quin—strigoi, maksudku."

"Insting werewolf lebih peka daripada yang kaubayangkan. Entah apa yang sudah terjadi padamu atau pada anggota kelompok Isshin, tapi mereka adalah yang terkuat di Utara Amerika. Tidak ada strigoi yang mampu menjatuhkan mereka begitu mudahnya. Apalagi, Isshin memiliki dua Beta tangguh yang sungguh keras kepala."

"Kau mengenalnya—Ichigo?" tanya Rukia penasaran. Wajah Sang Beta terlintas dalam benaknya, membuat gadis itu merasakan denyut ngilu di jantungnya. Rasa khawatir bercampur kalut yang tak kunjung hilang.

Ganju mendengus, mengusap matanya yang masih terasa berat karena menahan kantuk. "Dia musuh lamaku—maksudku, kami menghabiskan masa kecil bersama dengan banyak berkelahi dan saling bertolak belakang. Walau tak dipungkiri bahwa dia adalah rekan yang bisa diandalkan. Sudah cukup lama aku tidak bicara dengannya, semenjak Isshin memutuskan untuk menetap di New York."

Rukia melihat perubahan wajah Ganju yang sedikit keras, namun lembut. Pria itu memiliki kisah tersendiri yang tak bisa dilupakannya. Entah hal apa saja yang sudah berhasil dilewatinya selama ini, sebagai pewaris setengah darah werewolf dalam nadinya.

"Tidurlah, Rukia. Kau butuh tenagamu untuk perjalanan nanti siang. Percayalah, jalan masih akan sangat jauh menuju rumah utama di Montana."

.

.

…..~***~…..

.

.

Matahari terik menelisik dari dedaunan pohon rindang. Jalanan tak lagi berbatu dan sudah memasuki jalan beraspal menuju jalan bebas hambatan. Ganju tak menambah laju truk tuanya, harta berharganya akan hasil kerja kerasnya sebagai petugas keamanan daerah Minnesota. Suara paraunya berkumandang mengisi suasana di dalam mobil menjadi lebih hidup. Dan mengganggu, bagi Rukia. Roy Orbison bukanlah musisi favoritnya.

Dahi Rukia mengkerut semakin dalam ketika Ganju sama sekali tidak bisa menyanyikan bagian reff dengan benar.

"Tidak adakah lagu lain?" tanya Rukia, menahan gerutuannya di ujung lidah.

"Blue Bayou adalah lagu terbaik sepanjang masa!" ucap Ganju antusias, matanya tetap awas pada jalanan. "Ayolah, apa kau belum pernah mendengarnya? Di mana kau tinggal?"

"Aku berasal dari Jepang dan aku tahu Roy Orbison."

Mata Ganju terbelalak lebar. "Wow, aku tak mengira ketika Bahasa Inggrismu cukup bagus!"

"Terima kasih?"

"Itu pujian. Dan kau tahu banyak mengenai musik, huh?"

Pertanyaan Ganju terdengar meremehkan. Rukia menyeringai masam. "Aku bekerja paruh waktu di toko musik, jadi aku cukup tahu banyak. Dan aliran rock tahun 80 lebih tepat dikatakan sebagai lagu-lagu sepanjang masa."

"Sebutkan!"

"Bon Jovi? Van Halen? The Rolling Stones?"

Ganju terdiam, dahinya mengkerut. Dia menyetujui apa yang didengarnya, tak bisa mencari celah untuk menyangkal. Gadis yang duduk di sebelahnya tidak bisa dipandang sebelah mata.

"Kau memiliki selera yang bagus."

"Seperti yang kukatakan."

Perjalanan dengan jalan tanpa hambatan membuat suasana menjadi lebih tenang. Rukia memandangi pepohonan di sisi kiri dan kanan jalan, seperti pagar pembatas dari dunia luar. Dan di antara semua itu—di dalam rahasia yang sangat jauh juga terabaikan dari manusia—pikirannya membayangkan sosok serigala besar dengan bulu kecoklatan dan hampir jingga terang di bawah sinar matahari. Mata hazel yang bercahaya, mengamati dari kejauhan.

Hanya sebuah bayangan yang mampu membuat napasnya tercekat. Semakin jauh dirinya terpisah dari Sang Beta, perasaan rindu itu semakin kuat.

Mungkin apa yang dikatakan Rangiku benar adanya. Dirinya dan Sang Beta terikat oleh sesuatu yang tak kasat mata—tak bisa dijelaskan oleh pemikiran logis. Karena hatinya yang berdetak mengambil alih kata-kata.

Butuh sekitar empat jam perjalanan sebelum mereka berhenti di sebuah pemberhentian. Di sebuah tempat makan kecil yang dipenuhi oleh penduduk lokal. Sedikit terasingkan dari daerah Minneapolis yang padat.

Rukia semakin merasakan kehampaan ketika melihat suasana hangat di dalam tempat makan itu. Seakan dirinya adalah satu-satunya yang aneh, terabaikan dari kelompok. Di mana ini bukanlah tempatnya. Mereka—manusia normal yang tak pernah memedulikan apa yang sebenarnya alam sembunyikan dari kenyataan. Makhluk mistis yang bahkan keberadaannya dibenci oleh sebagian manusia.

Rukia memakan kentang gorengnya lambat-lambat ketika Ganju menyapa orang-orang yang dikenalnya. Sebagai petugas keamanan di daerah sana, dirinya dikenal lebih cepat oleh penduduk pinggiran Minessota. Rukia mengepalkan tangannya, menelan sisa kentang yang terasa seperti bongkahan batu di tenggorokannya. Kedua tangannya terasa panas, juga dingin. Kegugupan membuat kekuatan dalam dirinya memberontak tanpa sebab.

"Tempat ini tidak terlalu buruk, bukan?" tanya Ganju, tertawa lebar sambil menyeruput kaleng sodanya.

Rukia tersenyum simpul, berusaha menyembunyikan rasa cemasnya.

"Ada apa?"

"Bisakah kita pergi lebih cepat?"

Ganju terdiam, melihat ke sekeliling sebelum mengajak Rukia ke pintu keluar. Tidak ada kata yang terucap bahkan setelah Ganju membawa truknya kembali ke jalan raya.

"Aku tidak bermaksud melupakan tujuan awalku mengantarmu," ucap Ganju akhirnya buka suara lebih dulu. "Kau butuh istirahat dan makan sesuatu. Tubuhmu terlalu kurus."

"Aku tidak terlalu lapar, kau tidak perlu mencemaskanku."

"Apakah kau selalu bersikap seperti ini? Menolak tawaran baik dari orang lain?"

Rukia menghela napas, menundukkan kepalanya.

"Aku tidak tahu apa yang sudah kauhadapi dan apa hubunganmu dengan kelompok Isshin," ujar Ganju. "Bukan etika yang baik untuk bertanya lebih dulu mengenai sesuatu di luar tanggung jawabmu, itu yang selalu diterapkan di kebanyakan kelompok werewolves. Kami menutup diri dari dunia karena sangat riskan keberadaan kami diketahui manusia. Sedikit berbeda bagiku ketika aku memilih untuk bisa berada di tengah-tengah manusia dan menjadi manusia normal itu sendiri. Walaupun aku tetap tidak bisa melupakan dan melanggar hukum tak tertulis bagi kelompok werewolves, seakan itu tetap akan mengalir dalam darahku."

Kini Rukia merasakan sesuatu yang lain di dadanya. Rasa sakit yang membuatnya semakin merasa buruk. Rasa bersalah.

"Aku tidak akan bertanya lebih jauh bila kau tidak ingin menceritakannya. Itu bukan masalah besar bagiku," lanjut Ganju. "Terkadang aku hanya ingin tahu dan berusaha menolong karena pekerjaanku sebagai petugas keamanan di daerah sini. Ya, kautahu kalau insting menolong juga karakterku yang hampir serupa dengan pahlawan super itu tidak berbeda jauh."

"Kau ini banyak bicara, ya?"

"Aku? Aku?! Wah—aku hanya mengatakan isi hatiku, nona kecil. Seorang gentleman haruslah memiliki hati yang bijak juga tutur kata yang baik. Aku menawarkan bantuan bukan karena meminta sebuah imbalan."

"Kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sekarang ini? Apa yang Isshin juga Ichigo hadapi di Manhattan dalam situasi sulit hingga mereka memutuskan untuk berkumpul di rumah utama?"

Ganju merubah raut wajahnya, penuh rasa ingin tahu dengan mata terbelalak.

"Jelaskan?"

Rukia tertawa kecil, melihat sikap Ganju yang sungguh bertolak belakang dari apa yang dikatakannya. Pria itu terlalu jujur dengan sikapnya; memakai kata-kata untuk menutupi kebodohannya.

Rukia mulai menjelaskan dari awal dia bertemu Ichigo. Entah dari mana rasa kepercayaannya datang terhadap pria yang duduk di sebelahnya dengan setengah mulut menganga. Mungkin sosok Starrk yang disegani sekaligus kuat di mata Rukia ketika werewolf besar itu mengantarkannya ke pintu belakang rumah Ganju. Starrk memercayai Ganju yang sedikit serampangan dengan kepercayaan diri berlebih. Tidak terlalu buruk bagi Rukia ketika kata hatinya juga berkata demikian.

Matahari hampir terbenam di balik pepohonan rindang, Rukia sudah berada di bagian akhir penjelasan berikut sesi tanya jawab yang sama sekali tak membosankan. Dipenuhi oleh misteri yang akhirnya terungkap. Ganju sesekali bertanya dan hampir salah mengambil belokan karena terlalu fokus untuk mendengar. Kepribadian Ganju yang memilih untuk berekspresi dengan suara lantang daripada gerakan sedikit mengganggu bagi Rukia.

"Jadi strigoi ini—Quincy yang kaukatakan, sudah membuat kelompok Isshin panik? Situasinya benar-benar gawat!"

"Apa selama ini kalian tidak menghadapi strigoi yang menyerang lebih dulu?"

"Tidak selalu karena strigoi tidak suka mencari keributan di tengah kota yang penuh dengan mata tajam manusia juga werewolf," jelas Ganju. "Strigoi tidak suka keramaian dan mereka tahu bahwa werewolf bisa mudahnya mengalahkan mereka karena kekuatan kelompok werewolf jauh lebih kuat dan dinamis. Ditambah keberadaan werewolf yang kini mulai bisa berbaur dan bekerja sama dengan manusia."

Rukia mengingat Renji yang datang ke kediaman Kyouraku. Polisi nyentrik yang menjadi pelanggan setia di tokonya bekerja paruh waktu. Rukia tak pernah mengira bahwa seorang polisi pun mampu menutupi rahasia terbesar dengan begitu rapi.

"Mungkin bisa berakhir pada peperangan. Aku tidak bermaksud menakutimu tapi situasinya benar-benar gawat. Ditambah lagi Isshin memanggil kelompok dari Utara."

"Kau kenal mereka?"

Ganju tersenyum kaku, sedikit dipaksakan. "Lebih daripada itu. Karena pemimpinnya adalah kakakku."

Rukia mendengus, matanya bulat membesar. "Wow, dan kau tidak bergabung bersama mereka?"

"Aku? Setengah werewolf seperti diriku sulit untuk bergabung dengan kelompok kuat seperti mereka. Ya, walaupun ada beberapa anggota yang juga setengah werewolf, selama itu tidak masalah bagi mereka kupikir akan baik-baik saja."

"Dan kakakmu ini, apakah juga setengah werewolf?"

"Seorang Alpha diharuskan memiliki darah werewolf murni yang kuat. Dia kakak sedarahku, walaupun kami beda ibu."

Sekarang Rukia mengerti situasinya, menganggukkan kepala.

"Lalu, bagaimana dengan Starrk? Dia bergabung dalam kelompok mana?"

"Tidak semua werewolf memilih untuk masuk ke dalam kelompok besar. Starrk salah satu contohnya—seorang werewolf pengelana yang tidak menyukai aturan keras di dalam kelompok. Mereka yang memilih keluar dan berjalan sebagai seorang individu hanya akan menghabiskan waktunya berjuang seorang diri, tanpa teman. Tidak memiliki teman bagi seorang werewolf adalah sebuah tantangan besar karena kami sudah lama terbiasa berjuang dan bertumbuh secara berkelompok."

"Tapi Starrk orang yang baik. Dia sudah banyak membantuku, tapi mengapa—"

Kata-kata Rukia terpotong oleh suara decitan ban akibat rem yang ditekan kuat. Tubuh Rukia hampir terlonjak ke dasbor mobil bila tak tertahan oleh seat-belt yang mengikat kuat. Jantungnya mulai bergemuruh tidak karuan.

"Apa-apaan—"

"Apa yang si bodoh itu lakukan di tengah jalan?!"

Rukia melihat ke mana Ganju menatap ngeri. Tepat di depan mereka, di tengah jalan aspal yang disorot oleh lampu mobil, sosok serigala besar berdiri bergeming. Matanya menatap tajam, berwarna coklat keemasan.

Sesaat Rukia hampir mengeluarkan isi hatinya dalam bentuk teriakan. Rasa girang yang bercampur dengan ketakutan luar biasa. Dia tahu jelas siapa werewolf yang kini menatapnya lekat.

Sosok kuat yang selalu berada di sisinya. Sang pelindung yang kini kembali kepadanya, menemukannya.

Ganju sudah lebih dulu keluar dari mobil, menyerapah tak jelas pada sosok werewolf yang seakan tak menghiraukannya. Werewolf itu berjalan lambat ke sisi pintu Rukia. Telinganya berdiri tegak, memberikan sikap awas yang tak berkurang.

Rukia menarik napas dalam-dalam sebelum turun dari kursinya. Angin malam menyapu lembut keringat dingin yang terasa di belakang lehernya. Dan suaranya keluar tercekat, terdengar seperti robekan kertas.

"Ichigo…."

Ichigo mendengus, beranjak mendekat hingga moncongnya menyentuh lengan atas Rukia. Dengan canggung Rukia mengulurkan tangannya, membelai kepala Ichigo yang sehalus beledu. Werewolf itu bersandar kepadanya, menunjukkan rasa rindu dalam sebuah afeksi terbatas di tubuh serigalanya.

"Ichigo! Kau sudah gila?" Ganju masih berteriak di belakang tubuh Ichigo.

Ekornya mengibas cepat hingga memukul perut Ganju, memintanya segera mundur.

"Orang yang melewati jalan ini bisa melihatmu jelas, bodoh! Cepat kembali ke wujud normalmu!"

"Ichigo!" Suara seseorang memanggil dari seberang jalan. Itu Kensei yang terengah, berlari bersama Kira di belakangnya. Dia membawa tas ransel besar yang tersampir di bahunya, menyodorkan kepada Sang Beta. "Jangan gegabah sekarang! Gantilah!"

Ichigo mengeluarkan suara seperti menggeram rendah. Moncongnya mengambil tas yang disodorkan Kensei dengan mata yang masih terpaku kepada Rukia. Mata terang itu perlahan berubah lembut, sebelum sosoknya masuk ke balik pepohonan hitam.

Rukia menghela napas panjang ketika Kensei mendekat dan setengah tersenyum kepadanya.

"Senang melihatmu baik-baik saja, Rukia. Beta mencarimu tanpa henti seperti hampir gila. Sulit sekali untuk menemukan jejakmu," ucap Kensei.

"Hanya Ichigo yang mengenal jelas aroma tubuhmu," tambah Kira. Kemeja lengan panjangnya terlihat kusut dan kancingnya dipakai asal-asalan. "Kami berpencar di sekitar wilayah Minnesota, hingga Ichigo menemukan jejak aromamu samar-samar menuju area terluar Minneapolis. Sungguh beruntung Beta memiliki indera penciuman tajam."

"Dan hei, aku ada di sini," ujar Ganju, melipat tangannya di depan dada. "Aku bermaksud mengantar nona kecil ini ke rumah utama di Montana."

"Ganju, bukan? Sudah lama aku tidak melihatmu," kata Kensei.

Ganju memutar bola matanya. "Ya, kupikir sudah hampir dua belas tahun yang lalu."

"Sungguh beruntung Rukia bisa bertemu denganmu. Sebuah kebetulan?"

"Ada werewolf pengelana yang mengantarkan Rukia ke pintu belakang rumahku. Dini hari ketika aku hampir saja terjatuh dari sofa nyamanku."

Rukia mengernyit, mengetahui fakta bahwa Ganju tidur di atas serpihan keripik yang akhirnya terselip di sisi sofa.

"Werewolf pengelana?" tanya Kensei, penuh rasa ingin tahu. "Apakah aku mengenalnya?"

Ichigo sudah muncul dengan tubuh manusianya, memakai sweater hitam lengan panjang dan celana training. Dia berjalan cepat ke sisi Rukia, tanpa peringatan menarik gadis itu mendekat.

Rukia terkejut begitu Ichigo mendekapnya erat. Tidak pernah Rukia melihatnya seperti ini. Memberikan rasa kejut seperti tersengat listrik.

"Kau sungguh membuatku panik! Seharusnya kau tetap dekat bersamaku, seandainya pria tua itu tidak menahanku terlalu lama!"

Kensei berdeham, menarik perhatian Sang Beta kepadanya. Dahi Ichigo mengkerut tajam.

"Alpha sedang menunggu di rumah utama. Perjalanan cukup jauh dari sini dan stamina kita sudah terkuras terlalu banyak karena kau tidak berhenti berlari sejak dini hari. Kupikir lebih baik menumpang pada Ganju?"

Ichigo melihat Ganju yang berdiri tak jauh darinya. Matanya sedikit terbalalak. "Ide bagus. Sudah berapa lama aku tidak melihatmu, pal? Kau sama sekali tidak berubah?"

"Jadi sejak tadi aku pergi untuk mengantar mate-mu, huh? Kau sudah banyak berubah, pal!"

.

.

…..~***~…..

.

.

Isshin menatap lekat hampir tak berkedip. Rukia merasa risih ketika Ichigo tak melepas genggaman tangan yang terlalu erat di antara jari-jarinya. Mereka sudah tiba di rumah utama setelah menempuh perjalanan lebih dari dua belas jam lamanya. Dari sisi terluar Minneapolis, melewati Dakota Utara, dan berakhir di Montana. Jam melewati waktu tengah malam dan rumah utama masih dipenuhi oleh para werewolf yang terjaga. Terutama Sang Alpha.

"Kau baik-baik saja, Rukia?" tanya Isshin, suaranya berat.

Rukia merasakan kegugupan yang begitu kental di udara. Puluhan pasang mata tertuju kepada dirinya. Sebagian besar adalah orang asing, kemungkinan mereka yang berasal dari kelompok Utara.

"Kami menemukannya bersama Ganju," ujar Ichigo, menjawab pertanyaan ayahnya. "Di perbatasan luar Minnesota. Terima kasih karena kau sudah menghambatku dan hampir kehilangan jejak Rukia, old man!"

Sindiran Ichigo memberikan tawa keras bagi Isshin. Suara yang membahana di dalam ruangan yang sedikit ricuh oleh bisikan dan gumaman. Sang Alpha tertawa lebar, menunjukkan gigi putihnya yang berderet rapi, berikut kerutan usia di ujung matanya.

"Tentu saja kau harus berterima kasih kepadaku, son! Entah aku harus bahagia atau menyesali keputusanmu yang sungguh terlambat. Ketika akhirnya kau mengerti apa yang memanggil dari darahmu."

Rukia menelisik dari sudut matanya, menemukan tatapan Ichigo tertuju kepadanya. Pipi gadis itu terasa panas, yakin warna semburat merah mewarnai kulit pucatnya.

"Apa sekarang kau akan menyangkalnya lagi?" lanjut Isshin bertanya. "Atau kau ingin meminta persetujuan resmi dari kelompok?"

"Haruskah?"

"Itu sudah menjadi tradisi, Beta," ujar Kensei, seringainya terbentuk begitu lebar. "Ayolah! Di mana sikap keras dan tidak tahu malumu itu?"

"Kau sungguh berisik, Kensei!"

"Dan sepertinya Rukia belum memahami situasinya," ucap Isshin, menatap lembut ke arah Rukia yang seperti kehilangan arah.

Mata Rukia membulat dan hanya bisa menebak dari dalam hati. Tidak mengerti akan situasi sebenarnya yang sedang terjadi. Walaupun dia tidak menyangkal akan hatinya yang berteriak untuk Ichigo. Memanggil nama itu berulang kali, merindukan kehangatan dirinya.

Sang Beta adalah segalanya. Perpisahan singkat mereka memberikan sebuah penyesalan terdalam bagi Rukia. Sekarang dia menyadari semua itu.

"Ichigo memilihmu sebagai mate," ungkap Isshin, menjelaskan dengan hati-hati. "Seperti apa yang kami miliki sebagai tradisi lama, seorang werewolf akan memilih pasangan hidupnya ketika darah terkutuk di dalam nadi kami memanggil. Dan anakku yang bodoh ini hampir kehilangan kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya sendiri, seandainya kejadian buruk tempo hari tidak terjadi, entah berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk benar-benar tersadarkan. Kupikir kau bisa menyalahkanku karena kepekaan dirinya yang begitu tumpul, Rukia."

Ichigo mengerang kesal, menarik bahu Rukia untuk mendekat kepadanya. Insting liarnya lebih peka dari biasanya, juga sensitif. Bahkan menantang Sang Alpha pun akan dia lakukan demi melindungi gadis yang berada di sampingnya.

Yang kini wajahnya semakin memerah dan matanya sebesar bola kelereng.

Isshin tersenyum hingga menampakkan giginya. Hampir menyeringai seperti werewolf dalam wujud serigalanya. "Dan dia menjadi begitu sensitif terhadap mate-nya. Apakah aku perlu berhati-hati kepada anakku sendiri?"

Kensei tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh Kira berikut Rangiku yang baru masuk dari pintu depan—kembali dari tugas pencarian Rukia.

Kebahagiaan singkat yang terabaikan dari dua pasang mata tajam memerhatikan dari lantai dua, di sisi kiri balkon. Mereka yang merasakan kedengkian sekaligus bahu yang menegang karena sikap terancam.

Dia, Beta satunya yang hampir tak diakui, berikut adiknya yang berusaha keras menahan teriakan kesedihannya. Di balik bayang-bayang lampu chandelier besar yang menampakkan kilauannya jauh lebih berbahaya. Warna kuning temaram yang seakan mencekik tenggorokan, sewarna dengan warna api yang baru saja menyala.

..~*(to be continued…)*~…..

.

.

.

.

.

.

.

Author's note:

Chapter 16 dikoreksi karena kesalahan setting (waktu). Jadi, Isshin dan kelompoknya pergi pagi hari (sekitar jam 8 pagi) dari New York menuju Montana. Butuh sekitar 33 jam! Jadi, mereka bertemu Quincy di tengah perjalanan (sekitar di daerah Minnesota), dan butuh waktu sekitar 18 jam dari New York ke Minnesota. Dari Minnesota ke Montana butuh waktu 14 jam. Rukia dan Ganju bertemu Ichigo dan timnya di daerah terluar Minneapolis, hampir memasuki Dakota Utara. Karena keteledoran author yang lupa riset (padahal sudah ditulis di buku), jadi chapter 16 dikoreksi. Maaf~

Aku tahu ini sudah terlalu lama, awal bulan baru ketika aku menjanjikan akan update awal bulan kemarin. Mohon maaf pembaca, karena keterbatasan waktu yang aku punya buat membagi pekerjaan duta dan dumay itu sungguh sangat sulit. Ditambah, dalam waktu dekat ini ada proyek cukup besar (akan atau sudah diumumkan di FB aku), jadi mengetik jadi terbatas. Tapi aku akan tetap melanjutkan fic ini, juga Black Hair Girl, walau tidak seefektif sebelumnya. Mohon pengertiannya?

Sudah lama tidak ngetik IR, dan rasanya sekarang berbeda. IR yang kuketik seakan karakternya sungguh berbeda dari IR yang ada di manga-nya. Mungkin lebih ke perasaannya yang berbeda karena setiap kali ngetik fic ini rasanya kayak ngetik cerita baru (atau orific). Ya, mungkin karena itulah aku suka banget sama fic ini, salah satu fic yang benar-benar aku pikirkan matang-matang ide berikut konsep awalnya. Sampai-sampai lupa sama konsep yang udah kutulis jadi ceroboh bikin kesalahan. Hahahaha….

Ya, ganti playlist buat ngetik jadi ganti sedikit suasana juga. Kenapa lagunya BTS semua? Karena aku lagi nge-fans berat sama mereka. Hahahahha…. Maafkan kelebayan ak di sini maupun di FB, karena jadi hobi posting tentang mereka banyak banget! Kalian bisa ganti atau pakai playlist ku sebelumnya buat baca fic ini, atau pakai playlist kalian masing-masing. Ini hanya untuk gambaran kasar mengenai feel nya aja saat membaca.

Seperti yang kalian inginkan, chapter ini menjawab pertanyaan sebagian besar reader. Ichigo itu matenya Rukia! Dan Senna juga Kokuto cuman bisa gigit jari. Klo Kokuto lebih ke terancam posisi Beta nya (karena mate itu sangat diakui di kelompok), mungkin ak bakal jelaskan di chapter selanjutnya.

Dan terima kasih bagi kalian yang masih membaca. Bagi yang masih bertanya dan meninggalkan jejak review. Maaf juga bagi yang sering aku kecewakan. Mulai sekarang aku ga bikin janji lagi, takut tidak bisa menepatinya lagi karena berbagai kendala. Love u!

.

Balasan untuk pertanyaan reviewers:

Allen Walker: Bagian akhir itu bukan Kaien, tapi Starrk ternyata.. sudah terjawab di chapter ini ^^

aerkei: Itu bukan Grimm dan Kano sayangnya. Mereka belum keluar di sini, mungkin season kedua? Hahahah… Mudah-mudahan saja

Azura Kuchiki: Ini saingan berat Ichi yang keluar, jauh lebih keren dan cool, Starrk.. hahahha… tapi dia lewat bentar saja kok

Ciel Strife: Kabar baik, apa kabar juga? Sosok yang di bagian akhir itu sayangnya bukan Kaien, walau banyak jg yang nebak Kaien… hehehe

Hakuya Cherry: Makasih buat rekomennya, mudah-mudahan bisa aku lihat nanti dan jadi asupan buat ngetik juga ^^

Naruzhea AiChi: Pria itu adalah penolong tak terduga, hehehe.. sayang Starrk baru bisa muncul bentar aja

Kuromizukou Ryuuki: Yang nolongin Rukia sudah terjawab di chapter ini dan sayang sekali Ichi jadi pahlawan kesiangan di chapter ini. Rencana fic ini sampai chapter 23-an (mungkin lebih atau pas), itu untuk season 1 nya. Total rencana mau buat 3 season (kayak 3 jilid buku) hahahhaa.. mudah2an bisa terlaksana deh kalau ga ada hambatan

Lucya Namikaze: Ishida kemungkinan akan ada tapi bukan di season ini (ini fic season1) dan Inoue aku ga akan masukin (jujur ak ga tau gunanya karakter ini apa selain peran pembantu pemanis aja) no offence, tapi Inoue karakternya lemah menurut ak ^^ Grimmjow kemungkinan juga ada di season berikut, kalau Ulquiorra belum tahu (soalnya ga tahu dia cocok jadi makhluk supranatural apa?) hahaha…

Vryheid: Itu bukan Kaien, tapi Starrk, dan sayangnya belum bisa cemburu2an dulu…heheheh

kouyaafuku: Kalau untuk update ak ga punya jadwal tetap, tergantung kerjaan di duta bisa kelar lebih cepat apa ga. Karena sekarang waktu efektif buat ngetik fic semakin sedikit. Orang yang muncul di bagian akhir itu Starrk, penolong tak diundang (alias kebetulan lewat) bagi Rukia, seorang werewolf pengelana kesepian

tiwie. okaza1: Makasih buat masukannya, side story Isshin vs Ichi ya.. hahahha.. pingin buat tapi sepertinya nanti dulu ya. Di chapter ini Isshin juga berusaha mojokin anaknya tuh ^^

Izumi Kagawa: Cowok itu Starrk, si werewolf pengelana yang super cool… sayang porsinya cuman dapat dikit dulu

amie. haruno995: Sosok yang Rukia temui itu Starrk, si cool yang tak diundang… hahahha saingan si Beta sih bukan, karena karakter Starrk di sini murni penolong aja. Beta juga mungkin bakalan segan sama dia

Terima kasih banyak buat Allen Walker, Damai, aerkei, Azura Kuchiki, Nafidah, Ciel Strife, Hakuya Cherry, saya orchestra, Yuliita, rukichigo, jabu, wowwoh. geegee, kirito2239, Nozaki, Naruzhea AiChi, Nameloly jun, Kuromizukou Ryuuki, Vanilla Blue, Lucy Namikaze, nayasant. Japaneze, kouyaafuku, tiwie. okaza1, Izumi Kagawa, amie. haruno995, Irene, rin azunsa buat review-review kalian berupa masukan, kritik saran, dukungan, semuanya aku sangat menghargainya! Maaf tidak bisa balas satu per satu ya. I love you all! #bighug

Playlist:

BTS: I Need U, Fire, Not Today, Come Back Home

Cypher 4- Rap Monster, Suga, J-Hope

So Far Away- Suga, Jin, Jung Kook

Awake- Jin

Begin- Jung Kook

Agust D- Agust D (Suga)

These songs don't belong to me…