::The Dark Legacy— First Quarter::

By: Morning Eagle

Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::

Just to warn you all :: AU, OOC, misstype...for this story


Scene 18: Into You

~0*0~

.0.

.

.

.

.

.

.

.

Tangan yang saling tergenggam membuat Rukia tak bisa menarik napas lega. Rasa hangat perlahan menjadi sengatan panas yang menjalar ke kedua pipinya. Rukia tidak bisa mendengar jelas apa yang Sang Alpha katakan di hadapan pasukan kecil werewolf-nya. Cahaya lampu seakan berpendar dua kali lebih terang.

Atas dan bawah, Rukia tidak bisa membedakan ke mana arah gravitasi menahan kedua kakinya tetap berpijak. Matanya mengerjap, berusaha untuk tidak menuruti kata hatinya. Saat ini saja, ketika jantungnya tidak bisa berhenti berdegup kencang. Terlalu cepat, itu menyakiti caranya menarik napas.

Sentuhan tak kasat mata menarik wajahnya untuk berpaling. Kepada sosok yang berdiri tegap di sampingnya. Si pemilik tangan yang semakin mengeratkan jari-jarinya pada tangan mungil Rukia. Pria itu—Sang Beta yang menatapnya bergeming.

Rukia terbelalak dan mulai lupa caranya menarik napas. Kedua mata hazel itu menatapnya intens. Hampir tak berkedip. Semakin membuat dunia Rukia berputar. Layaknya arus gelombang yang menghempas ke tebing karam.

Ichigo hanya terdiam, membiarkan Isshin menyelesaikan upacara singkat mate yang dilakukannya. Seakan tak begitu peduli, Sang Beta terhanyut dalam emosinya sendiri. Dunia barunya.

Rukia menggigit bibirnya tak yakin. Melihat mata tajam Ichigo sama seperti menyerah kepada takdir itu sendiri. Tidak, ketika dirinya masih tak begitu mengerti situasi apa yang sedang terjadi sekarang.

Mate—bagi werewolf adalah sebuah ikatan yang sakral. Menerima itu semua sama seperti sebuah janji yang tak akan bisa tergoyahkan.

"Jadi, kau akan melakukannya—memberikan tanda bagi mate-mu?"

Ichigo terbelalak, menyadari Isshin sedang bertanya kepadanya. Sang Beta tertegun bingung. "Apa?"

"Kiss your mate!" teriak Kensei.

Ichigo mendengus tak percaya. "Haruskah?"

"Jangan mulai berpura-pura bodoh, Beta!"

Rukia hampir tersedak napasnya sendiri ketika menyadari hal ini tak jauh berbeda dengan apa yang namanya sebuah pernikahan. Terlalu dini baginya yang masih berada di bawah batas dewasa.

Setengah mulut Ichigo terbuka, ketika beberapa werewolf muda mengikuti apa yang dikatakan Kensei. Rasa antusias yang bercampur dengan rasa penasaran. Sebagian besarnya hanya menggoda dan memulai keributan akan rasa ingin tahu. Sejauh apa Beta muda mereka bisa melakukannya.

Ichigo melihat Rukia, menyadari gadis itu menunduk gugup. Tangannya sedikit bergetar di dalam genggaman Sang Beta.

Merasakan apa yang mate-nya rasakan, Ichigo mulai bisa mengenal perasaan itu samar-samar. Seperti sengatan listrik yang menyentuh ujung jarinya.

"Kupikir tidak sekarang," kata Ichigo, berusaha menenangkan keributan yang sedang terjadi.

Isshin mengamati putranya. Sebelah tangannya terangkat ke udara, menghentikan suara-suara yang saling menyahut di dalam ruangan. Para werewolf muda mulai menutup mulut mereka menjadi sebuah keheningan bisu.

"Mereka baru datang dari perjalanan panjang. Beri mereka waktu untuk beristirahat malam ini," jelas Isshin. "Dan Rukia adalah tamu di tempat ini—maaf karena kami sedikit lebih antusias daripada biasanya." Isshin menatap Rukia lembut, berhati-hati untuk tidak membuatnya terkejut.

Rukia tidak mengatakan apa pun. Lidahnya terasa kelu dan kepalanya kosong. Hanya melihat mata Ichigo yang menatapnya tajam, berhasil membuat pertahanannya runtuh.

Ichigo bukan sekadar pelindung baginya—pria itu sudah menjadi bagian dari dirinya. Mate yang terikat.

Jantung Rukia berdegup hidup, mulai saat ini berdetak bagi Sang Beta.

.

.

…..~***~…..

.

.

Rukia bergelung, mengerang. Suara gumaman membuatnya tersadar dari tidur panjang. Matanya mengerjap, menyipit ketika sinar matahari pagi menelisik dari balik gorden.

Gumaman itu adalah sebuah melodi lembut di pagi hari. Seseorang bersenandung di dalam kamar, melangkah ringan di atas lantai kayu dengan berjinjit, sedikit melompat.

"Selamat pagi, tukang tidur," ujar Rangiku, memiringkan kepalanya. Dia tersenyum lebar melihat Rukia yang semakin masuk ke dalam selimut tebalnya. "Apa kau akan terus tetap bersembunyi di dalam sana?"

"Masih terlalu pagi," bisik Rukia, mengerang.

"Kau akan tertinggal sarapan pagi." Rangiku menarik gorden—membukanya dan membiarkan sinar matahari masuk ke dalam kamar. Rukia meringis karenanya. "Dan jangan bertingkah seakan kau ini strigoi. Kau tidak akan terbakar hanya karena sinar matahari pagi."

"Memangnya strigoi bisa terbakar?"

Rangiku terdiam, memiringkan kepalanya. "Mereka memang jarang keluar di siang hari. Itu bukan berarti mereka rentan dengan matahari. Mungkin sinar ultraviolet buruk bagi kulit mereka?"

"Bisakah kau tinggalkan saja aku?"

"Ini juga kamarku," balas Rangiku, memutar bola matanya.

"Lalu?"

"Aku yang membuat aturannya. Dan sekarang, kau bangun dan cuci wajahmu—"

"Tunggu—" Rukia terlambat menahan selimutnya. Rangiku sudah menariknya kuat, membiarkan diri Rukia terekspos sinar matahari yang membuat matanya buta. "Demi malaikat kematian!"

"Jangan merutuk di pagi hari! Kalau kau tetap memilih untuk tidur seharian dan melewatkan sarapan, tubuhmu akan tetap kecil selamanya."

Rukia mendengus, mengalah pada wanita yang kini tersenyum lebar di sampingnya. Rangiku duduk dengan kaki menopang pada satunya.

"Ahh—apa kau murung karena tidak bisa satu kamar dengan Beta? Sayang sekali, kau masih di bawah umur untuk melakukannya, Rukia. Itu ilegal."

Rukia mengerang kesal, memilih untuk turun dari ranjang dengan langkah gontai. Rangiku masih terus menggodanya, bahkan setelah semalam berhasil membuat wajah gadis itu merah padam. Rukia menjadi pelampiasan sekaligus mainan baru baginya. Terlalu manis untuk digoda.

Mata Rukia sulit untuk terbuka lebar. Alam mimpi samar-sama masih tersisa di dalam benaknya. Dia berjalan pasrah setelah mencuci muka dan menggosok giginya—rutinitas pagi yang membuat tubuhnya menggigil dingin.

Ruang makan di rumah utama adalah salah satu ruangan terbesar untuk berkumpul. Rukia menyukai warnanya, coklat keemasan di pagi hari dari dinding kayunya. Rumah utama hampir serupa dengan kediaman Kyouraku di Jepang, hampir seluruhnya memiliki unsur kayu, alam. Lampu yang menggantung di langit-langit terbuat dari tanduk rusa, salah satu nilai estetis yang menarik perhatian.

Entah seberapa besar lahan di kediaman utama. Beberapa rumah di sekitarnya juga merupakan milik kelompok werewolf Manhattan. Isshin—Sang Alpha yang bukan sekadar pemimpin kelompok para pemuda dengan emosi labil di pusat kota terpadat Amerika Utara.

Sekitar lima belas werewolf muda sudah memenuhi area ruang makan dan ruang tengah, mereka yang duduk di meja panjang yang terbuat dari kayu oak tua. Dan ketika Rukia menapakkan langkahnya di antara mereka, para werewolf muda meliriknya penuh rasa ingin tahu. Tidak sedikit yang matanya terbelalak lebar.

"Kau menjadi pusat perhatian di sini," ujar Rangiku, menyenggol pundak Rukia. "Aku ingin tahu bagaimana reaksi Ichigo melihat hal ini—lagipula di mana dirinya sekarang?"

Ichigo bukanlah orang yang mudah melewatkan sarapan. Pria itu yang selalu menyeret Rukia untuk duduk di bangku ruang makan lebih awal, menghabiskan jatah makan dua kali lebih banyak. Tubuh mungil Rukia dilihat Ichigo sebagai kurangnya asupan gizi.

Sentuhan di bahu membuat Rukia bergidik. Matanya terbelalak lebar. Rukia belum mempersiapkan dirinya untuk menghadapi Sang Beta, tidak sekarang ketika kepalanya belum bisa berpikir jernih di pagi hari.

Ichigo yang berdiri di belakangnya. Mata tajamnya mengamati, berusaha untuk mengerti apa yang Rukia pikirkan. Kebiasaan seorang werewolf yang berubah peka karena kehadiran seorang mate di sampingnya.

Sulit bagi Rukia untuk menarik napas. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Batin berteriak dan meminta tubuhnya bergerak—berlari keluar dari tempat itu. Namun, tatapan Ichigo berhasil menahannya, membuat kakinya membeku di tempat.

Pria itu berubah—caranya melihat dan bersikap. Rukia menyadarinya jelas, walau inderanya tidak setajam werewolf. Perasaannya mulai terhubung, perlahan kepada pria itu. Seperti sebuah benang merah yang menghubungkan hati masing-masing.

Semuanya terbuka jelas, secerah matahari pagi di langit biru tanpa awan.

"Sampai kapan kalian akan mematung seperti itu, pasangan kikuk?" Kensei bertanya, menepuk pundak Ichigo.

Ichigo tersadar, mengerjap. Bibirnya menekuk ke bawah, melihat Kensei seperti sebuah gangguan.

"Apa werewolf yang baru bertemu mate-nya memiliki emosi labil sepertinya?" tanya Rangiku.

Kensei tertawa setelah Ichigo memelototinya. "Sebagian iya, terutama bagi yang keras kepala seperti Beta. Itu sepertinya sudah mendarah daging."

"Jadi maksudmu Beta mendapatkan sifat itu dari Alpha?" tanya Kira.

"Perlukah kalian membahas ini sekarang?" gerutu Ichigo.

"Mengontrol emosimu iya," tunjuk Kensei kepada Ichigo. "Karena kau bisa menakuti rekanmu bahkan mate-mu sendiri. Aku mengerti seluruh perhatianmu akan terfokus kepada mate-mu, tapi posisimu sebagai Beta harus diutamakan, Ichigo. Ini bukanlah tugas yang mudah—kewajibanmu melawan egomu."

Ichigo memerhatikan Rukia yang menunduk ke bawah, menghindari tatapannya. Gadis itu takut untuk menyadari perasaannya sendiri. Ketika sebuah perubahan memaksanya bersikap di luar kemauannya.

Ichigo menyerah, menghela napas. Dia menyadari sudah bersikap terlalu berlebihan di hadapan para werewolf kelompok Utara. Mereka yang di luar dari kelompoknya sendiri.

Rangiku sudah menarik Rukia untuk duduk di salah satu kursi yang kosong, menghindari tatapan Beta yang terlalu protektif. Ichigo tidak bisa mengalihkan matanya. Hanya kepada Rukia dan mencegah apa pun hal buruk terjadi kepadanya.

Perbincangan di meja makan berlangsung lebih normal. Sebagian besar membahas rencana Isshin menghadapi Quincy yang bisa muncul kapan pun. Rumah utama memiliki pertahanan yang kuat, lebih dari sepuluh werewolf berjaga di area sekitar dua puluh empat jam penuh—mereka para penjaga tetap. Namun, tak bisa menepis kemungkinan Quincy menyerang dari balik kegelapan malam. Berada di area hutan dengan dikelilingi pepohonan adalah kelebihan bagi musuh mengintai di balik bayang-bayang tak terlihat.

Rukia lebih banyak diam, memakan roti panggang dan telurnya tanpa berkomentar. Sebisa mungkin dia menunduk dan menghindari tatapan para werewolf penasaran yang berusaha mencuri pandang ke arahnya. Ichigo sesekali menggeram, sebelum Kensei menendang kakinya untuk menjaga emosinya lebih stabil.

"Jadi, Rukia, siapa werewolf yang menyelamatkanmu itu?" tanya Kensei, mengganti topik untuk menghindari Beta yang mudah sekali terusik.

Fokus Ichigo mengarah kepada Rukia, semudah itu dia mengenyahkan amarahnya.

Rukia teringat akan sosok Starrk. Seorang werewolf pengelana dengan mata seindah bulan purnama. Pria yang sedingin es tapi memiliki hati selembut permukaan air danau yang tenang.

Gadis itu menaruh garpunya di sisi piring, berusaha menjawab mereka yang memandangnya penuh tanya. Ichigo di hadapannya menunggu sabar, tidak lagi menyentuh makanannya yang masih tersisa setengah piring.

"Dia seorang werewolf pengalana, itu yang dikatakan Ganju," jelas Rukia. "Namanya Starrk—pria tinggi dan tubuh werewolf-nya sangat besar. Apa kalian mengenalnya?"

Ichigo mengerutkan dahinya. Kensei menatap tanpa fokus pada udara, berusaha mengingat-ingat. Rangiku mengerucutkan bibirnya, sementara Kira menarik napas panjang.

"Aku tidak pernah mendengar namanya," jawab Kira. "Kensei?"

"Begitu pula aku. Namanya terdengar asing, mungkin salah satu kenalan Ganju?"

"Apa dia lebih besar dari Ichigo?" tanya Rangiku, matanya sedikit melotot, sudut bibirnya menukik. "Kupikir tidak ada werewolf lain yang lebih besar dari Ichigo atau Kensei. Kokuto memang lebih tinggi, tapi otot kakinya terlalu ramping."

"Apa werewolf itu menyakitimu?"

Rukia merasakan apa arti tatapan yang diberikan Ichigo kepadanya. Pria itu menunjukkan kekhawatiran yang terlalu berlebihan, setengah dari rasa panik.

"Hei, kupikir Rukia terlihat baik-baik saja sekarang. Tidak ada luka di sekujur tubuhnya, bukan? Berpikirlah lebih jernih, Beta," tegur Kensei.

"Aku tidak pernah mendengar werewolf pengelana menunjukkan jati dirinya di depan kita, bahkan manusia."

"Bukan berarti orang itu—Starrk berniat buruk, bukan?" ujar Kira. "Dia kenalan Ganju, kupikir tidak ada masalah selama itu adalah anggota dari kelompok Utara."

"Ganju tidak termasuk di dalam kelompok—"

"Dia masih menjadi bagian. Baik itu setengah werewolf atau pun tidak, Ganju sudah banyak membantu dengan menjaga eksistensi kelompok Utara. " Kensei menyikut Ichigo. "Kau sebagai Beta seharusnya bisa menghargai hal itu, lagipula dia itu teman lamamu, bukan?"

Kali ini Ichigo terdiam, hanya mengamati piringnya tanpa menyentuh. Sang Beta memutuskan untuk keluar—berdiri dari kursinya dengan wajah tak acuh.

"Kau belum menghabiskan sarapanmu," kata Kensei dengan mulut penuh makanan.

"Aku sedang tidak lapar." Ichigo menjawab, melambaikan tangannya sebelum berlalu pergi ke pintu keluar.

Rukia tertegun, jelas terlihat keanehan dari sikap Sang Beta. Dirinya yang tak stabil—secara emosional—mengganggu hubungannya dengan anggota kelompoknya sendiri.

"Aku akan menyusulnya," bisik Rukia kepada Rangiku. Wanita itu tak berkomentar jauh, membiarkan Rukia pergi menyusul Ichigo yang sudah tak terlihat lagi punggungnya di dalam ruangan.

Kali ini Kira menarik napas panjang, seakan ketegangan di dalam ruangan sudah menghilang dan membebaskannya. "Katakan, Kensei, apakah kau juga seperti itu ketika bertemu pertama kali dengan Mashiro?"

"Sepertinya semua werewolf yang kasmaran tidak bisa mengontrol emosinya sendiri," ujar Rangiku, menopang dagu dengan sebelah tangan. Tangan satunya memainkan garpu di atas daging bacon yang masih utuh. "Boys…."

Kensei memberengut masam, jelas terlihat tak setuju. "Ada hal lain yang dipikirkan Ichigo, mungkin itu memengaruhi emosinya secara keseluruhan. Dia masih terlalu muda untuk menanggung beban sebagai Beta."

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Kira.

"Serahkan hal ini kepada mate-nya," kata Kensei. "Hanya Rukia yang bisa mengatasinya untuk saat ini."

.

.

…..~***~…..

.

.

Rukia setengah berlari, menyusuri halaman belakang rumah yang mengarah ke dalam hutan. Pepohonan tinggi dan suara burung bernyanyi di pagi hari terdengar kentara. Melodi dari alam Amerika Utara. Bau kayu bercampur tanah memberikan ketenangan yang terasa ganjil.

Rukia hampir tersandung batu yang tersembunyi di antara rerumputan. Rutukan keluar berupa bisikan. Sebagian besar kekesalannya yang terbendung hingga keluar tak tertahan. Kepada Ichigo yang melangkah jauh di depannya, berjalan tanpa berbalik ke belakang.

"Ichigo—tunggu!"

Teriakan tercekat Rukia membuat Ichigo berhenti melangkah. Pria itu berbalik dan mendapati Rukia jatuh tersungkur di atas rerumputan tinggi.

"Rukia—"

"Aku baik-baik saja," gumam Rukia, mengerucutkan bibirnya. Tidak ada luka karena jeans yang dipakainya berperan sebagai bantalan kaki. Boots sepergelangan kaki tidak membiarkan kakinya terkilir hanya akibat batu licin yang tersembunyi di antara lumut.

Ichigo berjongkok di sisi Rukia, matanya mengamati lekat. Rukia bisa merasakan kehangatan yang mulai menggelitik kulit tangannya. Wangi hutan bercampur citrus tercium begitu pekat—bau khas Ichigo.

Rukia merasakan kegugupannya mengambil alih. Rona merah di pipinya kentara terlihat.

"Mengapa manusia selalu bertindak ceroboh?"

Gadis itu mendengus mendengar pertanyaan Sang Beta, konyol menurutnya. "Mengapa werewolf bertingkah terlalu sensitif? Apakah itu karena inderamu yang begitu pekat?"

Ichigo tertawa kecil, terduduk di samping Rukia yang masih enggan untuk beranjak berdiri dari tempatnya. Di atas tanah lembab dan rerumputan yang menggelitik permukaan kulit. Di antara warna alam di sekeliling mereka. Rukia merasakan dunia lain menjadi tempat perlariannya. Hanya dirinya dan Ichigo.

"Kau mulai belajar lebih peka, huh?" tanya Ichigo.

"Itu terlihat jelas. Kau yang memilih untuk berjalan-jalan seorang diri di tengah hutan tanpa menghabiskan sisa sarapanmu." Rukia menggelengkan kepalanya. "Di akhir jam makan pagi kau selalu mengambil seember es krim sebagai makanan penutup. Kehilangan selera makan?"

"Aku hanya butuh udara segar."

Rukia mengerti hal itu. Dia kembali melihat ke belakang, ke arah rumah yang berada di antara batang-batang pohon kokoh. Suasana di dalam sana terlalu penat, ketika Rukia dan Ichigo menjadi pusat perhatiannya. Rukia, sejak lama tidak suka dengan perhatian berlebihan.

"Kau juga butuh hal itu," kata Ichigo.

Rukia menatapnya, kali ini tanpa keraguan. Sedikit jantung yang melompat sebelum berdetak hebat terasa di dada. Rukia masih belum terbiasa dengan cara Ichigo meliriknya, dari balik helai rambut jingganya yang kini berwarna kecoklatan chestnut tanpa sinar matahari terang, terhalang oleh dedaunan di atas kepala.

"Aku merasa tidak nyaman, ketika mereka menatapku seperti itu."

"Para werewolf muda? Mereka tumbuh dengan rasa ingin tahu yang besar. Karena di dalam kelompok, kami tidak menyimpan banyak rahasia yang bersifat personal. Hidup berdampingan dan bekerja sama—kepercayaan satu sama lain selalu kami andalkan."

"Jadi kau sudah terbiasa?"

"Mungkin—terkadang semua emosi itu membuat kepalaku penat. Werewolf butuh waktu untuk bernapas, asal kautahu itu," ujar Ichigo.

"Apa yang sedang kaupikirkan?"

"Hmm?"

Rukia mengamati lekat, ketika beberapa detik Ichigo mengalihkan pandangannya. Keraguan kentara terlihat. Warna matanya tidak secerah energi berlebihnya—Beta yang penuh semangat.

Rukia memajukan tubuhnya. Mata besarnya menatap hampir tak berkedip. "Sekarang, apa yang sedang kaupikirkan?"

Ichigo mengamati gadis itu—aroma tubuhnya yang sedingin es. Layaknya musim dingin yang datang terlalu cepat.

Detik itu, hatinya terbuka untuk Rukia. Memberikan sebagian rahasia yang disimpannya dalam-dalam, untuk dirinya sendiri.

"Ibuku," gumam Ichigo. "Aku mengingat kata-katanya mengenai hal ini—mate."

Rukia diam mendengarkan. Ichigo selalu berdalih ketika gadis itu bertanya mengenai mendiang ibunya. Wanita cantik dengan rambut auburn coklat muda bergelombang. Ichigo memiliki matanya—sejernih topaz.

"Ibuku pernah membahas mengenai mate dan aku sama sekali tidak memercayai legenda kuno itu. Tidak ada orang yang bisa terikat pada satu orang lainnya, seperti seluruh duniamu berpusat hanya kepadanya. Hal terkonyol yang pernah kudengar saat umurku tujuh tahun. Dan ibuku bersikeras kalau aku hanyalah seorang werewolf kecil yang terlalu dini untuk menghadapi dunia. Terkadang perasaan dan kemustahilan berjalan selaras—apa yang tidak bisa dijelaskan menggunakan akal sehat."

Tangan Ichigo meraih Rukia, menggenggam tangan mungilnya dalam kehangatan. Sebuah kepercayaan dari senyum Ichigo yang menukik. Pria itu menyukai cara jari-jari Rukia bertaut di antara jarinya. Rukia tak segan untuk balas menyalurkan perasaannya lewat sentuhan.

"Dan sekarang kau memercayai hal itu?"

"Bagaimana denganmu?"

Rukia tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Werewolf, mate, dan kata-kata baru yang dikenalnya—sebatas pengetahuan tak lazim dalam batas pemikiran manusia normal. Belum terbiasa adalah kata yang tepat.

"Entahlah—sejauh apa pun aku berusaha mengerti, perasaan ini tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Aku tidak tahu jelas seperti apa pastinya."

"Kalau begitu tunjukkan dengan dirimu."

"Huh?" Rukia terlihat bingung, alisnya tertekuk tajam.

"Ketika kau tidak bisa menjelaskannya, terkadang tubuhmu yang mengambil alih, bukan?"

Mulut Rukia terbuka untuk berkata, namun tidak ada satu kata pun yang keluar. Kepalanya menolak untuk berkompromi. Hanya jantungnya yang bergemuruh tidak karuan. Selalu seperti ini, bergelung di dalam perasaan yang sama.

Bukan sebuah keputusasaan, melainkan sebuah godaan termanis. Rasa yang tak bisa ditepisnya, seperti hujan kelopak bunga sakura di musim semi. Rasa itu—seringan bulu kapas yang tertiup angin.

Kalimat, 'aku mencintaimu' rasa yang tak cukup untuk menggambarkannya. Terlalu picisan.

Ichigo berdiri dari duduknya, menarik Rukia untuk bangkit bersamanya.

"Ayo," ajak Ichigo, mulai melangkah masuk ke dalam hutan.

Alis Rukia bertaut. "Ke mana?"

"Banyak tempat menarik di sekitar sini, aku ingin menunjukkannya kepadamu. Terlalu banyak kenangan untuk dilupakan."

Rukia mengikutinya ke mana Ichigo melangkah. Melewati rerumputan dan jalan setapak masuk menuju hutan. Angin sesekali memberikan sentuhan ringan di atas kulit. Udara sejuk di pagi hari, tak terjamah limbah dan polusi. Salah satu alasan para pemilik darah tua menjadikan tempat ini sebagai rumah—di mana mereka bisa berlari dan menyambut kebebasannya masing-masing.

Sebuah jembatan kayu terlihat di sisi sungai, di tengah hutan yang tak terjamah manusia. Derap langkah sepatu mereka mengetuk di antara kedamaian hutan. Di antara suara burung yang masih berkicau dan aliran air di bawah kaki mereka.

Rukia melihat punggung Ichigo, ketika pria itu masih berdiri tegap dan berusaha mengurung segala emosinya seorang diri. Di mana rahasia terdalamnya enggan untuk disentuh orang asing.

Merasa penasaran, Rukia tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya. Kali ini dia berharap Ichigo bisa lebih terbuka kepadanya.

"Ichigo."

"Ya?"

"Mengenai ibumu," bisik Rukia ragu. "Beliau—seperti apakah dia?"

Ichigo berhenti di bagian tengah jembatan. Matanya menatap lembut Rukia, walau keengganan terlihat dari bibirnya yang berkedut. Wajahnya seperti terluka akan luka lama.

"Tidak apa bila kau tidak ingin bicara," lanjut Rukia teburu-buru, merasa menyesal kepada dirinya sendiri. "Aku tidak bermaksud memaksamu dan kembali mengingatkanmu pada kenangan buruk—"

"Ibuku—aku sangat menyayanginya dan sulit bagiku untuk menerima kenyataan bahwa dia sudah meninggal saat umurku sepuluh tahun. Sejak saat itu, membahas tentangnya akan membuatku terlihat lemah. Itu yang kupercayai ketika Senna menegurku akan sikap kekanak-kanakkanku."

Rukia mengerutkan dahinya, merasa janggal ketika nama Senna disebut. "Apa maksudnya? Apa yang Senna katakan kepadamu?"

"Aku terlihat lemah ketika menangis dan tidak seharusnya seorang Beta keturunan Alpha memperlihatkan air matanya," jawab Ichigo.

Rukia mendengus, hampir merutuk ketika mulutnya terbuka. "Apa salahnya bila seseorang menangis ketika merindukan orang yang disayanginya?"

Ichigo tertegun, seperti kembali kepada dirinya yang berumur sepuluh tahun. Bocah polos yang tak mengerti apa itu artinya kejujuran diri sendiri.

"Air mata bukan berarti kelemahan. Sesekali, ketika kau tidak bisa menahan rasa itu di dalam dirimu, tidak apa bila kau ingin menangis," ujar Rukia, meraih tangan Ichigo, menggenggamnya erat. "Kau tidak perlu memikirkan apa yang dikatakan Senna. Menjadi dirimu—di mana kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri dengan menutup emosimu—adalah yang terbaik."

Ichigo masih terlihat ragu, tidak yakin apa yang harus dipilihnya.

"Apa karena itu kau tidak ingin membicarakan masa lalumu, mengenai mendiang ibumu?" tanya Rukia.

Ichigo mengangguk, mengalihkan pandangannya menatap sungai di bawah kakinya. "Terkadang membicarakan hal itu kembali mengingatkanku akan memori lama. Aku hanya tidak ingin terlihat lemah di hadapanmu, Rukia."

"Kau sama sekali tidak terlihat lemah," kata Rukia. "Tidak perlu lagi menutupi apa yang enggan kaukatakan tanpa mengerti dirimu sendiri, Ichigo. Kau bisa mengungkapkannya kepadaku—kapan pun."

"Karena kau adalah mate-ku."

Rukia tertawa kecil. "Jadi sekarang kau sudah terbiasa dengan hal mistis itu?" godanya.

"Kau sendiri—apa itu berarti kau memercayainya?"

Rukia terdiam. Dia tidak pernah mengatakannya secara jujur, apa yang dia rasakan sebenarnya. Tidak melalui kata-kata. Rangkaian kalimat yang tersusun di dalam benaknya selalu berakhir berantakan.

Dan sekarang, di saat itu semua terlihat jelas di depan matanya, Rukia merasakan ketakutan kembali kepadanya. Bukan kegelapan yang mengintai dengan petir dan derak ranting di luar jendela kamar. Ini seperti berusaha menapaki ujung tebing curam yang mengarah pada laut lepas. Menantang diri sendiri.

Sentuhan dari tangan Ichigo membangunkannya dari lamunan sesaat. Jari-jari jenjang Sang Beta yang membelai kulit di pipinya.

"Sekarang kau yang terdiam," goda Ichigo. "Apa kau menolaknya? Apa yang kaurasakan?"

Rukia hampir tergagap, bahkan tercekat napasnya sendiri. "Aku … tidak yakin."

"Katakan saja apa yang kaurasakan. Kau menyangkalnya?"

Gadis itu menggelengkan kepalanya.

"Kalau begitu meyakininya?"

"Aku tidak pernah mengerti apa arti mate itu sebenarnya. Apa yang seharusnya dirasakan ketika bertemu dengan pasangan hidupmu dan tidak akan pernah berpisah selamanya. Ini terdengar seperti dongeng yang perlahan meracuni otakku dan mengubahnya menjadi nyata. Aku hanya mengerti perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta—bukan jatuh tertunduk ketika melihat pasangan seumur hidupmu dan berjanji akan bersama tanpa keraguan."

"Oke, sekarang kau yang berusaha menyangkalnya." Ichigo memutar bola matanya.

"Aku sedang berusaha menjelaskan di sini," tegur Rukia memberengut. "Aku tidak tahu apa yang kurasakan ini sama seperti dirimu atau tidak. Tapi, aku sama sekali tidak menyangkalnya. Se-sejak awal … aku sudah merasakannya—debaran itu. Seperti kau memberikan rasa aman bagiku. Dan aku tidak bisa menjauh darimu, Ichigo."

"Kau menyukaiku?"

Rukia tercekat. Pertanyaan gamblang itu membuat wajahnya memerah.

Ichigo tertawa, mengangkat sebelah tangan Rukia dan mengecup telapak tangannya. Memberikan sengatan listrik kentara di sekujur tubuhnya.

"Wajahmu menjawab semuanya."

Ichigo kembali berjalan, menggenggam tangan Rukia lebih erat. Gadis itu berjalan tertunduk, berusaha mengenyahkan rasa panas di kedua pipinya. Itu berlangsung lama, hingga mereka menyusuri jalan setapak menuju suara air mengalir. Lebih deras dari sekadar sungai.

Rukia terpukau dengan apa yang dilihatnya di balik pepohonan yang mulai berkurang. Menyingkap suara derasnya air terjun yang tersembunyi di dalam hutan. Air yang jernih terlihat kebiruan ketika matahari hari pagi menyinarinya. Sumber mata air yang turun, jatuh menghantam bebatuan berlumut di bagian bawah danau kecil.

"Wah…." gumam Rukia, matanya membesar.

"Aku selalu kemari bila mengunjungi rumah utama. Tempat terbaik untuk merenung dan menjernihkan pikiran."

"Aku bisa mengerti hal itu."

"Inilah tempat yang ingin kutunjukkan kepadamu. Terkadang beberapa werewolf muda menghabiskan waktu di sini bersama pasangannya."

"Seperti tempat werewolf untuk kencan?"

Ichigo mendengus, tertawa kecil mendengar humor Rukia. "Ya, seperti itu kurasa."

"Sekarang kau sedang mengajakku berkencan?"

"Akhirnya kau mengerti maksudku."

"Sungguh manis," komentar Rukia. "Lalu, apa yang selanjutnya dilakukan? Berenang di danau hingga lupa waktu?"

"Aku lebih suka berbincang di sisi danau tanpa harus menunggu waktu lama mengeringkan pakaian yang basah."

"Kuno."

Ichigo mengernyitkan dahinya. "Apa sungguh terlihat seperti itu? Mungkin seperti inilah hiburan terbaik di tempat ini ketika tidak ada kafe kopi atau restoran pizza di kota kecil. Jangan berharap tempat hiburan malam, selain festival di musim panas dan menjelang hari halloween."

Rukia mengaguminya, bagaimana alam berperan penting bagi mereka yang tidak bisa hidup tanpa itu. Tinggal di tengah-tengah kota padat dan terbiasa oleh polusi juga gedung-gedung pencakar langit—segala kecanggihan yang manusia ciptakan—gadis itu melupakan darimana sebenarnya mereka berasal.

Menghabiskan waktu di alam terbuka tidak buruk untuk dirinya. Sesekali dia membutuhkan hal ini, duduk di sisi air terjun tanpa melakukan apa pun, berada di sisi Sang Beta. Itu hal terbaik yang pernah dirasakannya di tempat yang jauh dari rumahnya.

Pikirannya tertuju pada sosok kakaknya—Byakuya. Memikirkan rumah juga keberadaannya, jati diri sebagai sosok spring fairy yang tak pernah gadis itu duga sepanjang hidupnya. Kekuatan asing yang sekarang dia rasakan di telapak tangannya. Es yang membakar kulit tangannya. Rukia membutuhkan penjelasan, bukan bukti yang harus diterimanya tanpa bisa menolak.

"Ada apa?" Ichigo melihat Rukia, ketika gadis itu mengamati telapak tangannya.

"Kekuatan itu, Ichigo. Apa sebenarnya aku ini?"

Ichigo bukan menghindar, melainkan tak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Bila fairy adalah jawabannya, mungkin dirinya tak akan begitu terkejut. Tapi, Rukia akan.

Ichigo tidak ingin menakuti mate-nya yang rapuh, tidak sekarang.

"Aku sudah mengatakannya bahwa aku akan melindungimu, bukan?" ujar Ichigo. Dia beringsut mendekat dari posisi duduknya, memeluk bahu Rukia erat. Memberikan kehangatan yang menenangkan. "Sampai kautahu jawabannya, aku akan terus berada di sisimu."

"Aku membutuhkan kakakku," bisik Rukia.

"Kita menunggu hingga waktunya tiba. Quincy masih berjaga di luar sana, terlalu berbahaya."

Rukia menarik napas dalam, berusaha menahan air mata dari matanya yang terasa panas. "Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulakukan."

"Melakukan apa yang ingin kaulakukan. Apa yang hatimu katakan," ujar Ichigo.

"Bagaimana—seandainya kekuatan di dalam diriku ini jahat? Ichigo, bahkan aku takut untuk memikirkannya. Bila ini jahat dan melukaimu—"

"Kau tidak akan melakukan itu."

"Aku tidak tahu sampai mana batas yang bisa kutahan—apa yang sebenarnya yang diriku mampu lakukan."

"Bila kau tidak bisa menahannya, kau akan melukaiku sebelumnya, bukan membekukan Quincy yang mencekikku." Ichigo mengulurkan tangannya, menangkup pipi Rukia yang terasa dingin. Bibirnya tersenyum tipis. "Tidak ada yang salah dengan dirimu dan aku memercayainya."

Rukia menggigit bibirnya ragu. Memberikan kepercayaannya kepada Ichigo—orang yang tidak ingin disakitinya—adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya.

Dia tidak mampu melihat Ichigo menderita karenanya. Tidak setelah dirinya yang terluka akibat strigoi di gudang terbengkalai Manhattan, ketika dia terkena suntikan wolf's bane.

Ichigo menunduk, menyentuhkan dahinya pada dahi Rukia. Napasnya menyapu lembut wajah gadis itu, ketika keraguan membuat kedua bola matanya nanar.

"Kau tahu kalau mate memiliki kelebihan yang werewolf muda lainnya tidak miliki. Sesuatu yang spesial, hanya di antara werewolf itu dan mate-nya."

"Apa itu?"

Ibu jari Ichigo menyapu bibir Rukia, memberikan sengatan listrik di atas kulitnya. Rukia bergidik, perutnya terasa melilit. Ratusan kupu-kupu seakan menari di dalamnya.

"Mate memercayai pasangannya dan itu tidak bisa dijelaskan secara akal sehat. Hanya perasaan dari masing-masing pasangan yang terhubung—serupa dengan telepati. Dan bila ada sesuatu yang salah, pasangan lainnya akan merasakan kejanggalan di dalam dirinya."

"Dan aku bukan werewolf. Aku tidak memiliki kepekaan seperti dirimu."

"Karena itu percayailah hatimu. Itu yang sedang kulakukan sekarang."

Rukia menengadah, melihat wajah Ichigo yang mendekat kepadanya. Dan bibirnya, menyentuh lembut ketika gadis itu terkesiap.

Ichigo menciumnya, kali ini tanpa keraguan. Rukia memejamkan matanya, merasakan apa yang ingin pria itu sampaikan kepadanya. Kepercayaan, kasih yang tulus. Rasa manis membuat tubuhnya seperti melayang. Ketika Ichigo memagut bibirnya meminta lebih, mengharapkan Rukia bersandar kepadanya.

Tangan Rukia gemeter, meraih tangan Sang Beta yang menangkup pipinya. Merasakan kehangatan di jari-jari jenjangnya. Seperti matahari musim panas miliknya pribadi. Kehangatan yang tak akan berkurang bahkan bila musim dingin tiba terlalu cepat.

Rukia terengah ketika Ichigo menjauhkan bibirnya. Bibir Sang Beta meninggalkan jejak manis di garis rahang hingga telinganya. Tubuh Rukia bergetar saat kata-kata Ichigo bergumam selembut beludru.

"Butuh waktu lama setelah aku menciummu pertama kali malam itu. Mengapa aku begitu bodoh untuk tidak melihatmu, Rukia."

Rukia menuruti apa yang Ichigo coba jelaskan kepadanya, menuruti kata hatinya. Gadis itu lelah menunggu akan keputusannya sendiri yang hanya memberikan keraguan. Tangannya meraih wajah Ichigo, mencium bibir Sang Beta.

Sudut bibir Ichigo menukik, tersenyum. Gadisnya bersandar kepadanya, membalas apa yang perasaannya berusaha sampaikan. Kedua tangan Rukia melingkar erat di leher Ichigo dan tubuhnya beringsut mendekat, naik ke pangkuan pria itu.

Terlalu cepat, Rukia menjauhkan wajahnya saat Ichigo hampir meraihnya—memperdalam ciumannya. Alis Rukia tertekuk dalam, bibirnya memerah.

"Maaf … aku…. Ini terlalu cepat," bisik Rukia.

Ichigo menarik Rukia ke dalam pelukannya—mendekap erat. Jantungnya bergemuruh di telinga Rukia. Detak kehidupan yang serupa dengan milik gadis itu.

Rukia melingkarkan tangannya di punggung Ichigo, balas memeluk erat.

"Tidak apa," ucap Ichigo. "Kita masih punya banyak waktu."

'Kita' pikir Rukia dalam hati. Kata yang tidak pernah dipikirkannya akan terucap untuk dirinya. Dia dan Ichigo kini menjadi satu dalam perasaan dan sandaran bagi masing-masing.

"Kau hangat," gumam Rukia, menyandarkan setengah wajahnya pada dada Ichigo, masih mendengarkan detak jantung itu di telinganya.

"Kau kedinginan? Lebih baik kembali ke dalam rumah utama."

"Tidak—biarlah seperti ini. Sebentar lagi, lebih lama."

Ichigo tertawa kecil, membelai rambut hitam Rukia di bawah dagunya. Lembut di antara jari-jarinya. "Sudah kukatakan ini salah satu hiburan bagi kami. Bersantai di sisi danau tidak terlalu buruk, bukan?"

Rukia tersenyum, bersyukur bahwa Ichigo lah yang berada di sisinya saat ini. Dia yang mengisi relung kekosongan di dalam hatinya.

"Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan Rangiku katakan setelah kita kembali," kata Rukia.

Ichigo mengerang, merutuk dalam hati. "Jangan dia, tolonglah!"

"Rangiku berusaha memojokkanku sejak semalam."

"Dan kau masih bisa bertahan? Aku cukup takjub."

"Dia selalu melakukanya, huh?"

"Lebih dari yang kaubayangkan. Kecuali Chad, dia bisa bertahan karena tidak pernah mencampuri urusan orang lain. Seandainya aku bisa memiliki kesabaran seperti dirinya."

"Kau werewolf yang keras kepala. Kau harus banyak belajar darinya untuk bisa mengontrol emosi labilmu. Tidakkah itu mempersulitmu?"

Rukia tersentak ketika Ichigo mendorong tubuhnya ke belakang. Perlahan dengan tangan pria itu di belakang kepalanya, Rukia terbaring dengan Ichigo yang menunduk di atasnya.

Mata Rukia terbelalak saat Ichigo menunjukkan senyum lebarnya, hampir menyerupai seringai.

"So, do you think I'm a bad wolf, huh?"

Rukia lupa bagaimana caranya menarik napas. Tangan Ichigo berhenti di lehernya, membelai dengan ujung-ujung jarinya. Menggelitik dalam batas tak wajar.

Ichigo menunduk, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Mata yang menatap tajam berhasil menghipnotis Rukia untuk tidak berpaling. Terhanyut dalam emosi hazel terangnya.

"Mengapa kau membuatku seperti ini, Rukia? Aku bisa hilang akal karenamu," bisik Ichigo. Bibirnya mengecup pipi Rukia.

Rukia menutup matanya erat, berusaha untuk tidak tercekat. Bahkan saat bibir Ichigo mencium lagi bibirnya.

Rasa panas dan panik membuat tubuhnya kaku. Terpenjara dalam jeratan manis yang terwakilkan dalam satu kata. Mate. Rukia memercayainya bahwa mitos itu bukanlah sebuah dongeng belaka.

Sekarang perasaannya hanya tertuju pada Ichigo seorang. Seolah dunia berputar lebih cepat dan membuatnya tak bisa fokus untuk berpijak—bertahan pada gravitasi. Ichigo memberikannya kekacauan manis. Rasa termanis yang pernah dirasakannya, bahkan menyakiti dirinya sendiri. Dalam bentuk yang baik.

..~*(to be continued…)*~…..

.

.

.

.

.

.

.

Author's note:

Scene 18's done! Butuh waktu lama buat menyelesaikan chapter di fic ini. Minimal 20 halaman itu ga mudah. Aku mulai semakin lambat untuk mengetik. Mungkin karena takut membuat kesalahan dan ingin buat isi fic ini sebaik yang aku bisa. Melihat ke belakang ternyata tulisanku itu masih butuh banyak perbaikan. Semoga di chapter ini sudah ada sedikit kemajuan (?) hehe….

Cut sampai di sini, bermanis-manis dahulu sebelum mulai lagi konflik di chapter berikut. Sudah masuk klimaks di chapter depan, berarti ada Quincy yang datang. Sedikit bocoran.

Sudah lama sekali tidak menulis romance dan jujur aku bingung untuk memulai IR di chapter ini. Takut terlalu datar penjabaran hubungan mereka yang bukan lagi hanya saling lirik. Di sini mereka sudah mengakui perasaan masing-masing walau ga bilang secara langsung lewat kata-kata. Berusaha menjelaskan apa itu perasaan werewolf Ichigo yang terkadang labil juga blak-blakan dalam bersikap, harus bersanding dengan Rukia yang sedikit lebih tertutup juga malu-malu. Maaf kalau bagian ini masih kurang memuaskan. Bisa kasih masukan di review ya. Aku berharap itu buat ke depannya nanti.

Dan terima kasih banyak, sekali muach muach! #XOXO buat yang masih menunggu dan berharap fic ini dilanjut. Masih kulanjut kok tapi karena tugas di real world semakin menyita waktu jadi ak ga bisa 90% lagi nulis di fanfic (klo 100% ak ga ada waktu buat hidup donk xD). Jadi sekarang mulai lambat update tapi bakal tetap update. Maaf sekali ya, semoga ini bisa dimengerti oleh readers. I still love writing tho! Terima kasih buat dukungannya, buat masukan juga kritik saran lewat kolom review, walau aku tidak bisa balas satu-satu tapi aku baca semua kok! Kalau ada yang ingin bertanya bisa lewat PM atau FB ku (untuk respon cepat), link ada di profile FFN. Terima kasih sekali lagi!

Dan senang juga setelah menemukan mood buat menulis dan didukung oleh playlist baru! Pas lagi buat fic ini! Wolves dari Selena Gomez dan Marshmello. Lirik dan judulnya pas. Aku suka banget lagu ini dan rekomen dariku. Ada juga Blue Moon dari Hyolyn dan Changmo (Prod GroovyRoom), belum sempat cari arti liriknya tapi aku suka banget beat-nya. Senang lagu kpop dan beberapa aku tulis di playlist bawah note.

.

Balasan untuk pertanyaan reviewers:

Nad-Ru15: Ya, yang diakhir itu Senna dan Kokuto lagi gigit jari… hehehe… Fic ini ak baru masukin di wattpad, karena ak rilis di sini lebih dulu dan chapternya banyak jadi baru sempat masukin. Makasih buat saran dan pengertiannya

Nozaki: Sayangnya Ganju harus balik ke rumahnya, karena dia bukan bagian dari kelompok dan lebih memilih jadi manusia biasa. Starrk mungkin bakalan muncul lagi, tapi bukan di chapter ini…hehe…

Izumi Kagawa: Starrk itu bagian dari espada (ak lama mikirnya udah lupa.. hahaha) anak buahnya Aizen, bukan Quincy. Dan di fic ini dia werewolf. Sosok Rukia sebenarnya bakalan ada di chapter depan (mungkin) hehehe… Eh? Rukia anak perdana menteri jualan jeruk? Bukan, itu bukan ficku.

ningKyu: Untuk Kokuto dan Senna ditahan dulu karena chapter ini fokus ke hubungan IR, heeehe.. mereka bisa-bisa mengganggu nanti. Ya, rencananya fic ini sampai season 3. Season 1 nya aja ga tamat-tamat T_T

Naruzhea AiChi: Kokuto perannya masih jadi Beta yang tak diakui, untuk ke depannya masih rahasia, tapi ak udah tulis plotnya kok… hehehhe….

Thank you for Nad-Ru15, HyperBlack Hole, citradewipratiewy, Azura Kuchiki, Rinda Kuchiki, N, yuliita, Allen Walker, Hendrik Widyawati, IchiRuki HF, Nozaki, rin azunaa, Izumi Kagawa, wowwoh geegee, saya orchestra, ningKyu, Naruzhea AiChi, Lucya Namikaze, krab, Fujiwara Chiaki, Amie haruno995, Good rukia, Mika MikamiChan, Hafifah khoirin Nisaz, aerkei, loly jun, terima kasih banyak buat dukungan, masukan, pesan kesan kalian lewat review. Aku sudah baca dan review selalu bikin aku semangat! Thanks a lot! Love u~

Playlist:

Blue Moon- Hyolyn & Changmo (Prod GroovyRoom)

Wolves- Selena Gomez, Marshmello

Really Really- Winner

All We Know- The Chainsmokers

There's Nothing Holdin' Me Back- Shawn Mendes

So Far Away- Suga, Jin, Jung Kook

These songs don't belong to me…