::The Dark Legacy— First Quarter::

By: Morning Eagle

Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::

Just to warn you all :: AU, OOC, misstype...for this story


Scene 19: An Ambush

~0*0~

.0.

.

.

.

.

.

.

.

Suara air yang menghantam bebatuan terdengar seperti suara alam yang menenangkan hati. Rukia menyukainya, terduduk di pinggir danau dengan kaki terlipat, lutut menyentuh dada. Kedua tangannya memeluk kaki, seraya dagunya disandarkan di sana.

Mata Rukia terpejam, berusaha untuk lebih jelas mendengar suara kicauan burung di atas kepalanya. Seperti sedang menerjemahkan, apa yang dinyanyikan mereka di pagi yang perlahan berubah sendu. Menjelang siang, matahari perlahan bersembunyi di balik awan tebal.

Sentuhan di bahunya membuat mata Rukia mengerjap, memperlihatkan kristal ungu kebiruannya yang berwarna gelap. Di balik bulu matanya yang lentik.

Ichigo tersenyum kepadanya, sebuah senyum lembut yang jarang sekali diperlihatkan Sang Beta.

"Apa?" tanya Rukia, memiringkan kepalanya ke satu sisi.

"Kau tidak tertidur, bukan?"

"Aku sedang berkonsentrasi. Kau mengganggu waktuku."

"Apa yang sedang kaupikirkan?"

"Sesuatu—apa pun itu…."

Rukia mendengar Ichigo mendengus. Sang Beta yang terlihat bosan, menyilangkan tangan di depan dada.

"Melihat air terjun di tempat ini tak lagi menyenangkan," ujar Ichigo, sedikit menggerutu.

"Bukankah kau yang mengajakku kemari? Sekarang kau yang menggerutu."

"Memandangi air tidak lagi menarik."

"Kalau begitu, lihatlah langit."

Ichigo terkekeh geli, melihat Rukia yang sedikit memberengut. "Kau bercanda? Bahkan langit tidak terlihat jelas dari bawah sini. Pepohonan terlalu tinggi."

Rukia kembali terdiam, tak menghiraukan Ichigo yang terus bericara seperti meracau. Sang Beta yang teralihkan fokusnya. Hanya melihat Rukia yang seakan mematung membuatnya risih.

"Sebenarnya apa yang sedang kaupikirkan?" Kali ini Ichigo mendekat, suaranya terdengar lebih rendah. Jari-jari tangannya membelai lembut rambut gadis itu yang jatuh di atas bahunya.

Rukia sedikit bergidik, melihat Ichigo yang bergerak tak bersuara. Sang Beta yang menatapnya sendu, seperti seekor anak serigala yang tersesat.

"Bukan hal serius. Hanya saja, bagaimana caranya mengontrol kekuatan dengan kedua tanganku," kata Rukia, akhirnya mengeluarkan apa yang disembunyikan di dalam benaknya. "Kekuatan ini terkadang muncul dengan sendirinya. Ketika bahaya datang mendekat—aku hanya bisa merasakan rasa panas di atas telapak tanganku. Seandainya aku bisa memakainya, bukan takut untuk tetap menahannya di dalam tubuhku."

"Jadi, kau berpikir kau bisa mengontrol kekuatan itu?"

"Walaupun aku tidak tahu darimana ini berasal, tidak ada salahnya untuk mencoba. Jujur saja, aku masih merasa takut."

Ichigo menyandarkan dagunya pada bahu Rukia, memeluk tubuh gadis itu dengan sebelah tangan. Berusaha membuatnya nyaman, terlindungi. Itulah tugasnya, sejak pertama kali mereka bertemu.

"Aku ada di sini untuk melindungimu. Kau tidak perlu memaksakan diri dan khawatir dengan apa yang ada di dalam dirimu. Kau bisa peracaya kepadaku."

"Tapi, aku ingin melakukan sesuatu, Ichigo. Quincy—mereka bisa menyerang kapan pun dan kau tidak bisa melindungiku setiap saat."

Ichigo meraih dagu Rukia dengan jarinya, menarik kedua mata yang membulat besar untuk menatapnya. Hanya kepadanya. Mata Ichigo balas menatap tajam.

"Kau adalah mate-ku, Rukia. Tidak, tanpa syarat ini sudah menjadi kewajibanku. Darah werewolf yang ada untuk seorang mate, aku bisa merasakannya mengalir di dalam nadiku. Diriku terpanggil hanya untuk melindungimu."

Rukia hampir menganga. Mendengarkan kata-kata itu keluar dari mulut Ichigo seakan tak nyata. Pria keras kepala yang tidak terlalu peka terhadap sekelilingnya, kini berubah dan membuat gadis itu tercengang.

Ichigo—seorang pria dengan darah keturunan seorang werewolf. Salah satu yang terkuat di Amerika Utara, kini menjadi pasangan hidupnya.

Wajah Rukia terasa panas, memerah cepat.

"Dan kau sekarang tersipu. Sungguh manis." Seringai Ichigo terbentuk.

Rukia berusaha menjauh, namun lengan Ichigo menahannya. Gadis itu merasakan ketegangan merambat naik dari jari-jari tangan hingga ke bahunya. Ketika Ichigo menatapnya, tak berkedip. Mata itu membuatnya tenggelam—terhanyut dengan apa yang hatinya rasakan. Jantungnya berdetak untuk itu, berulang kali dan semakin bergemuruh kuat.

Suara lolongan terdengar dari kejauhan. Seekor serigala yang memanggil, memecah hutan yang hening. Membangunkan mereka yang tak awas dengan apa yang terjadi di sekitar. Ketika udara membawa kegelapan masuk di antara celah-celahnya.

Ichigo terbelalak, berdiri dari posisinya dengan bahu menegang. Matanya mencari, ke arah di mana suara itu berasal. Panggilan baginya.

Rukia merasakan bulu kuduknya meremang. Itu bukan suara panggilan biasa. Hatinya mengatakan hal buruk datang mendekat. Mereka yang menyerang dari balik bayang-bayang.

"Ichigo," bisik Rukia, ketika pria itu masih belum merespon.

Ichigo mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Telinga tajamnya berusaha mendengar lebih jelas, mencari jejak dari suara lolongan yang saling menyahut.

"Mereka datang," geram Ichigo, rahangnya mengeras. "Quincy."

Rukia berdiri di sisi Ichigo, memegang erat ujung bajunya ragu. Dia tidak ingin menyentuh Ichigo secara tiba-tiba, tidak ketika Sang Beta mulai menunjukkan taringnya.

"Rukia, tetap bersamaku," perintah Ichigo. "Mereka dekat, aku bisa merasakannya."

Rukia membisu, bahkan ketika Ichigo menjauh darinya.

Pria itu melepaskan kalung rantainya, menyerahkan kepada Rukia. Tatapannya masih tajam, penuh amarah dan adrenalin.

"Jagalah untukku?"

Rukia meraih kalung itu, menggenggamnya erat di dada. Suara kertakan tulang dan geraman rendah terdengar kentara kemudian. Rukia memejamkan matanya, mendengar semua itu seperti siksaan baginya. Seperti suara tulang yang patah.

Dan sosok serigala Ichigo muncul di hadapannya kurang dari lima detik. Moncongnya menyentuh lengan atas Rukia, memintanya untuk mendekat.

Rukia memegang erat bulu di leher Ichigo. Mata gadis itu ikut melihat—berusaha menebak di mana sosok bayang-bayang Quincy bersembunyi. Di antara pepohonan rindang atau dari balik batu. Gadis itu tidak bisa menebak sejeli werewolf. Inderanya tidaklah tajam. Membuat Rukia merasakan ketakutannya kembali muncul ke permukaan, terlalu cepat.

Ichigo menundukkan tubuhnya, setengah menggeram. Rukia tahu apa yang dipintanya, bahkan ketika gadis itu menangkap sesuatu yang bersembunyi di balik batang pohon yang kokoh. Sesuatu yang jahat—gelap. Quincy.

Langkah Ichigo berderap—lari—mengambil arah memutar dari rumah utama. Prioritasnya sekarang adalah menyelamatkan Rukia, membawa gadis itu ke tempat yang lebih aman. Pertarungan sedang terjadi di luar sana dan Sang Beta tak mau mengambil risiko besar, membiarkan mate-nya terluka.

Suara langkah terdengar dari belakang, sepatu yang menginjak ranting juga rerumputan. Rukia mengeratkan kedua pegangannya pada bulu di punggung Ichigo, setengah berbalik untuk melihat dari balik bahunya. Dua bayangan terlihat mengintai mereka dari belakang. Berlari begitu cepat hingga bayangannya hampir tak tampak.

Rukia menahan napasnya ketika Ichigo mempercepat langkahnya dan sesekali berbelok tajam untuk menghindari sang pemangsa. Para pengejar mereka.

Sesosok bayangan muncul dari arah depan, seperti peluru yang menerjang. Ichigo melompat untuk menghindarinya, memakai batang pohon sebagai tumpuan. Geraman terdengar dari bawah—dari sosok yang mengenakan jubah putih di tubuhnya. Rukia terbelalak, melihat mata merah itu menatapnya geram.

Dan Ichigo menabrak sesuatu begitu keras. Rukia memejamkan matanya, berusaha untuk tetap bertahan dengan mencengkram tubuh Ichigo lebih kuat. Tubuhnya seperti melayang, sebelum jatuh membentur tanah. Bebatuan kecil menyakiti punggungnya, tapi tak lebih daripada itu.

Rukia terkesiap saat melihat Ichigo sudah bangkit dan menyerang salah satu Quincy. Geraman melawan teriakan juga desisan. Rahang Ichigo berhasil mencengkram tubuh salah satu Quincy sebelum membantingnya keras ke arah batang pohon.

Dua Quincy masih mengintainya di belakang, berjalan dengan hati-hati. Satu Quincy di sisi lainnya. Dia yang terlihat tenang dengan mata awasnya.

Rukia hampir merutuk di bawah napasnya, mengenal satu sosok Quincy itu. Rambut mohawk merah darah. Quincy yang pernah ditemuinya di makam tua, dia yang seharusnya sudah mati. Bazz-B, itu panggilannya.

Bazz-B menemukan Rukia di belakang tubuhnya—bersembunyi di antara semak dan batang pohon. Gadis itu menatapnya tajam, berusaha menyembunyikan rasa panik, terlihat dari tangan yang sedikit bergetar.

Seringai Bazz-B masih sama seperti terakhir kali Rukia melihatnya. Quincy bengis yang pernah meremehkan Sang Beta.

"Kau—gadis kecil. Akhirnya aku menemukanmu."

Suara geraman dan benturan kembali terdengar. Kali ini tubuh Ichigo yang membentur tanah bebatuan. Dua Quincy membuatnya lengah, terlalu lihai untuk dilawan oleh seorang Beta.

"Tenang saja, satu werewolf tidak akan bisa mengalahkan dua Quincy tangguh," ucap Bazz-B, tertawa nyaring. "Nyaris saja dia memenggal leherku. Nyaris!"

Rukia mengeratkan kalung Ichigo yang melingkari lehernya. Mencari sisa kehangatan dan kekuatan darinya. Berusaha untuk tetap kuat.

"Dan kau—lihat, bau fairy tercium pekat dari tubuhmu. Mengapa aku baru menyadarinya sekarang? Kau sama sekali bukan seorang fana."

"Kau tidak akan bisa menang," tantang Rukia, berusaha menakuti si Quincy. Suaranya sedikit bergetar, namun sorot matanya kuat. "Mereka akan mengalahkanmu dengan mudah, Quincy. Ini markas utama werewolf dan kalian tidak akan bisa menghancurkannya dengan mudah."

"Karena itu kami punya ini," tunjuk Bazz-B pada kepalanya. "Strategi untuk memisahkan kalian dari yang lainnya. Karena ketahuilah, apa yang kami cari—tujuan utama kami—bukanlah sekadar menghancurkan kelompok werewolf besar ini. Berhari-hari bersembunyi dan mengintai, mencari kesempatan yang tepat untuk menyerang. Jangan pikir kami bodoh dengan mempertaruhkan sebagian besar prajurit terbaik kami untuk hal ini!"

Suara geraman Ichigo kembali terdengar. Sang Beta yang sedikit pincang, berusaha menerkam salah satu Quincy yang meninju rahangnya. Tapi, mereka bergerak terlalu cepat. Seperti bayangan yang tak bisa digapai.

Bazz-B kembali tertawa, suaranya memekik mengerikan. "Lihat dia! Bahkan sekarang dia tidak bisa melawan balik!"

Rukia panik, ketika Ichigo tersudutkan oleh dua Quincy. Bazz-B benar, mereka mengirimkan prajurit terbaik untuk menyerang tiba-tiba. Ketika pertahanan rumah utama tak lagi bisa bertahan.

"Kematiannya bukanlah tujuan kami," lanjut Bazz-B, seakan tak terusik dengan pertarungan yang sedang terjadi di belakang punggungnya. Dia melangkah ke arah Rukia, stabil dan tenang. "Karena kami kemari untuk mencarimu, fairy. Kau tahu apa yang kausembunyikan dari kami, bukan?"

Rukia mengerutkan keningnya, berusaha menebak. Punggungnya menubruk batang pohon dan dia tidak memiliki senjata apa pun untuk melindungi diri. Satu-satunya yang bisa dilakukannya adalah dengan menghantamkan bongkah tinjunya, yang tak akan berarti apa pun bagi Quincy yang sekeras batu.

"Kau fairy rapuh yang bahkan tak tahu apa yang sedang terjadi? Kelompok werewolf Utara menyembunyikan sesuatu yang berharga—milik kami. Yang ada pada dirimu."

Suara lolongan terdengar jelas, berikut geraman dari beberapa werewolf. Dua werewolf datang seperti petir di siang hari. Tak terduga. Werewolf yang muncul dari balik pepohonan.

Satu werewolf berlari dan menerjang ke arah Bazz-B. Werewolf dengan tubuh besar dengan bulu hitam keabuan. Tubuhnya sebesar Ichigo, taringnya tajam ketika rahangnya membuka lebar. Bazz-B hampir tak berkutik ketika werewolf itu menghantamkan kaki depannya pada tubuh si Quincy. Taring menancap pada bahunya.

Bazz-B berteriak nyaring, melayangkan tinju dan tendangan pada tubuh werewolf di atasnya. Mata merahnya menyala karena amarah.

Rukia memerhatikan mata werewolf itu mengamati dirinya sesaat. Mata besar yang berwarna unik. Biru kehijauan. Seperti warna air laut.

Bazz-B memiliki perjuangan hidup yang kuat, kegigihan sekeras kulitnya. Sebelah bahunya terkulai lemas dengan luka dalam. Tidak menyurutkan amarah yang terlihat jelas dari mata merahnya. Ketika Bazz-B berhasil mendapatkan pijakannya kembali—lepas dari cengkraman werewolf besar itu.

Pertarungan antara tiga melawan tiga. Ketika Ichigo berhasil melumpuhkan satu Quincy lagi, mematahkan lehernya.

Dua bayangan mendekat dari kejauhan, bergerak cepat ke arah Ichigo. Dua bayangan putih, dua lagi Quincy yang datang.

Tatapan Ichigo jatuh kepada Rukia, mengirimkan kata yang tak terucap. Rukia merasakannya—di dadanya yang bergemuruh. Apa yang ingin Ichigo teriakkan kepadanya—

'Lari!'

Rukia mengeratkan kukunya pada batang pohon, sebelum berbalik dan berlari menjauh. Kembali melangkahkan kakinya tanpa bisa melakukan apa pun. Rukia benci dengan ketidakmampuannya untuk bertahan. Untuk mencoba melawan. Dirinya terlalu lemah untuk memulai.

Bahkan apa yang tubuhnya sembunyikan—kekuatan itu—Rukia belum bisa mengontrolnya dengan baik.

Apa yang Bazz-B katakan terngiang di dalam benaknya selama Rukia berlari—tak tentu arah ke bagian hutan yang lebih dalam. Quincy datang bukan untuk melawan kelompok Isshin, itu terlalu berisiko di markas utama yang penuh dengan para werewolf muda. Mereka memiliki pertahanan kuat. Quincy itu mengincar sesuatu yang lain, rela melakukan apa pun bahkan masuk ke dalam markas musuh sekalipun.

Rukia. Mereka mengincarnya sebagai tujuan utama. Apa yang diinginkan Quincy ada padanya.

Rukia mulai panik ketika kekuatannya memancing hal lain yang lebih berbahaya. Yang lebih gelap. Quincy sudah mengetahuinya dan melihatnya sebagai target utama. Ichigo kehilangan langkah kali ini. Pertahanannya berhasil dibobol oleh pasukan putih.

Tenggorokannya tercekat, Rukia hampir kehilangan pijakan saat bebatuan menggoyahkan langkahnya. Rantai di lehernya berderap nyaring setiap kali Rukia melompat dan mengambil langkah lebih lebar. Otot kakinya terasa kram, peluh membasahi kening juga leher putihnya.

Rasa dingin merambat dari jari-jari tangan ke lengan atasnya. Sesuatu yang membuncah di dada, di antara kepanikan itu membuatnya terjaga. Merasakan degup kehidupan di tengah dadanya. Kekuatan itu, seakan memanggilnya untuk membagi setengah kesadarannya.

Warna putih dan abu-abu pucat. Rasa dingin seperti es yang menyelimuti tubuhnya. Rukia mendapatkan bayangan di dalam benaknya, membuat langkahnya terhenti. Napasnya menderu cepat, naik turun tak stabil. Keningnya mengkerut tajam, menahan rasa sakit yang menghantam tubuh ringkihnya.

Rukia hampir jatuh berlutut ketika seseorang berdiri di hadapannya. Seorang wanita dengan pakaian serba putih. Rukia bergidik, melihat sepatu boots putih bersih tepat di depan matanya.

Rambut hitam panjang memberikan warna lain darinya—perwakilan kegelapan itu. Dan senyum menukik di bibir merahnya. Wanita Quincy yang pernah ditemui Rukia di tengah perjalannya menuju markas utama.

Saat Starrk berusaha menjatuhkan Quincy itu dengan wujud werewolf-nya. Quincy yang mengikutinya dari belakang.

"Kita bertemu lagi," ucapnya, diam seperti patung. Rukia mundur beberapa langkah ke belakang, menjaga jarak. Napasnya tertahan. "Seharusnya aku tahu bahwa kau bukanlah manusia biasa. Serigala pengelana itu lebih cepat dariku."

Rukia merasakan degup jantungnya berdegup hebat. Kepanikan membuat bulu kuduknya berdiri.

"Aku melepaskanmu begitu saja—anggap itu sebagai belas kasih dariku. Walaupun kami tidak pernah memakai kata itu. Di luar dari kepercayaan dan identitas utama Quincy."

Quincy itu mengambil langkah maju, kedua tangannya saling bertaut di belakang punggungnya. Caranya melangkah seperti gadis kecil lugu yang tak pernah melihat darah di atas tanah. Dia, yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang.

Rukia kembali melangkah ke belakang. Rasa tidak aman membuatnya takut.

"Apa maumu?" tanya Rukia.

Quincy itu tertawa, suaranya nyaring. "Membuat kelompok serigala ini kacau balau. Sungguh menyenangkan, melihat mereka tidak bisa mengontrol dirinya. Mereka yang tak terbiasa bertahan seorang diri tanpa bantuan rekannya, sungguh lemah."

"Kau kemari bukan untuk itu," bisik Rukia, setengah mendesis. Dia bisa merasakan rasa panas di telapak tangannya. Kekuatannya menunjukkan efek yang lebih jelas pada tubuhnya.

"Mengapa kau berpikir seperti itu?"

"Ini markas utama mereka. Berusaha menyerang ketika dua kelompok werewolves saling membantu satu sama lain—kurasa kau masuk ke dalam kebodohanmu sendiri, Quincy."

"Bambietta, itu namaku," kata si Quincy, penuh percaya diri dengan dagu terangkat tinggi. "Dan ya, kau cukup pintar, fairy. Sekarang aku bisa mencium warnamu dari jarak sedekat ini. Sedingin es. Bagaimana mungkin kau bisa menyembunyikan kekuatanmu sebelumnya, huh?"

Rukia merasa putus asa. Dia tidak tahu caranya, bagaimana kekuatannya bisa digunakan untuk menyerang. Kedua kepalan tangannya mencengkram erat. Rukia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, selain lari.

Kata-kata Ichigo terngiang dalam benaknya. Rukia ingin mengulur waktu selama yang bisa dilakukannya. Mengecoh Quincy atau apa pun—lebih baik mencoba daripada tidak.

Rukia berbalik dan kembali berlari, berusaha mengenyahkan panggilan si Quincy di belakang tubuhnya. Kakinya menapak dan melangkah lebar, menghindari bebatuan yang terhalang oleh rerumputan setinggi betis. Melewati jalan setapak di antara pepohonan tinggi di sisi kiri dan kanan tubuhnya. Seperti pagar pemisah.

"Hei—aku belum selesai bicara, fairy!"

Suara itu semakin jelas terdengar, semakin mendekat. Rukia merutuk dalam hati. Langkah yang diambilnya belum cukup cepat. Paru-parunya sudah mengempis melewati batas maksimal, tenggorokannya tercekik. Betisnya kembali terasa panas ketika otot-ototnya tertarik paksa—mengejang.

Kakinya mulai goyah, hilang keseimbangan. Tubuhnya jatuh ke sisi kanan, tak melihat bahwa tidak ada rerumputan yang akan menahan bobot tubuhnya. Rukia terbelalak saat bahunya membentur tanah yang miring, jatuh berguling ke permukaan tanah menurun. Jurang yang tak terlalu dalam namun penuh dengan batu-batu juga ranting tajam. Rukia memejamkan matanya erat, tak bisa melakukan apa pun selain berguling hingga ke bawah.

Seluruh tubuhnya sakit, terasa lebam. Beberapa goresan merah terlihat di lengan atasnya. Ranting dan batu tajam melukai kulitnya yang rapuh. Rukia meringis menahan sakit pada punggung juga bokongnya. Jatuh dari ketinggian itu tanpa menderita luka berat merupakan sebuah keberuntungan baginya.

"Kau tidak apa-apa, fairy? Aku bisa mencium darahmu dari atas sini." Suara si Quincy terdengar nyaring, berkumandang.

Rukia menggeram, berusaha mencari sosok Quincy itu—Bambietta yang terhalang oleh dedauanan dan ranting. Dia yang masih berdiri di atas sana.

"Kuakui aku mulai merasa haus. Tapi, Yang Mulia melarang kami untuk menyentuhmu," ujar Bambietta, muncul di sisi Rukia yang masih terduduk di atas tanah.

Rukia hampir berteriak, melihat Bambietta yang datang secepat kilat menyambar. Strigoi memiliki kecepatan yang bisa mengalahkan werewolf, ketenangan di atas kedua kakinya yang melangkah gemulai.

Bambietta memiringkan kepalanya, terkekeh geli. "Tenang saja, aku tidak akan memakanmu, fairy! Aku bisa menahan rasa laparku, tidak seperti strigoi liar yang gila akan setetes darah. Walau darah fairy lebih sulit untuk ditolak, kuakui itu."

Rukia melihat mata merah Bambietta yang menyala, seperti batu berlian. Cantik dan mematikan.

"Apa yang sebenarnya kauinginkan?" tanya Rukia, suaranya sedikit bergetar. Dia berusaha berdiri dengan kaki yang gemetar, terasa letih. Keringat membasahi kening juga lehernya. Napasnya menderu.

"Kau." Bambietta mengerucutkan bibirnya. "Aku tidak suka ini, tapi baiklah—kita buat kesepakatan. Kau ikut denganku, maka akan kuhentikan penyerangan ini. Aku pun lelah untuk bermain lebih lama dengan teman-teman serigalamu."

Rukia mendengus. Mendengar kata 'bermain' terasa salah di telinganya. Quincy adalah sosok yang congkak dan licik. Rukia lebih mempercayai hatinya sendiri daripada kata-kata yang mengandung bisa beracun.

"Kau tidak akan melepaskan mereka begitu saja," bisik Rukia.

"Tidak percaya kepadaku?"

"Kau penuh kebohongan, Quincy. Lagipula, kau kalah jumlah."

"Kau benar. Kehilangan beberapa orang tidak masalah bagiku. Kami bisa merekrut orang-orang baru yang jauh lebih kuat. Mendidik seorang prajurit Quincy tak begitu sulit bila dibandingkan dengan werewolf yang keras kepala. Mereka hanya bidak catur, boneka yang tak berguna bila tangan atau kakinya patah."

"Karena itulah kalian tidak akan bisa mengalahkan kelompok ini," ujar Rukia. "Kepercayaan dan kerja sama—werewolf jauh lebih unggul dengan ikatan yang kuat. Aku sudah melihatnya dan mempercayai hal itu."

"Sekarang seorang fairy mendukung werewolf? Kegilaan macam apa ini? Apakah kau menaruh hati pada anjing berbau busuk itu?" Bambietta berjongkok, memeluk lututnya. Matanya membesar ketika melihat raut wajah Rukia berubah pucat. Mendengar detak jantung yang berdegup cepat. "Ahh—kau jatuh cinta, huh? Apa salah satu dari mereka menaruh tanda kepadamu? Legenda kuno itu?"

Bambietta tertawa keras ketika Rukia bungkam. Sebuah kebisuan yang menjawab rasa ingin tahunya dengan jawaban di luar dugaan. Hal ini membuat Bambietta merasa antusias.

"Seekor werewolf dan fairy! Aku tidak mempercayai hal ini! Wah—jadi mereka bisa memberi tanda bagi seseorang di luar kelompok? Ini menarik."

"Kau yang tak memiliki hati tidak akan pernah mengerti," cibir Rukia.

"Aku tidak membutuhkan perasaan itu—sebuah omong kosong yang akan segera hancur bila kalian mulai saling menyakiti. Cinta? Itu hanya membuatmu menjadi semakin lemah."

"Cinta adalah sebuah perasaan yang murni. Kau tidak pantas mendapatkan itu karena yang kaupikirkan hanyalah dirimu sendiri."

"Tidak ada yang bisa menolongmu selain diri sendiri. Kau yang terlalu naif, fairy!"

"Oya?" Rukia menaikkan sebelah alisnya, mencibir si Quincy. "Kurasa kau yang salah. Hanya mengandalkan dirimu sendiri, sehingga kau tidak tahu apa yang sedang terjadi di sekelilingmu."

Bambietta terdiam, menengok ke sisi atas tebing. Dia merasakannya, sesuatu yang mengintainya di balik semak-semak. Matanya terbelalak ketika dedaunan dan ranting berderak oleh sesuatu yang besar. Seekor werewolf yang melompat, langsung menerjang tubuhnya.

Bambietta hampir berhasil mengelak darinya. Werewolf itu—Ichigo membenturkan tubuhnya pada punggung Bambietta, membuat si Quincy terhempas ke batang pohon besar di hadapannya.

Rukia mengeratkan pegangannya pada kalung rantai di lehernya. Berpegang pada kepercayaan yang melirik dari sudut mata. Ichigo memperhatikannya sekilas, sebelum menerjang Bambietta yang mendesis marah kepadanya.

Beberapa luka dan goresan terlihat pada tubuh Ichigo, darah yang membasahi bulu coklat emasnya. Kekuatannya masih belum berkurang, bahkan saat moncongnya membuka lebar dan gigi-gigi tajamnya berhasil mencengkram kuat kaki kanan si Quincy.

Bambietta kembali terhempas dan membentur tanah. Erangan dan kemarahannya bercampur menjadi satu. Jari-jari tangannya menekuk seperti cakar, berusaha melukai Ichigo yang bergerak lihai menjauh.

Rukia berusaha berdiri, merasakan kakinya kembali bergetar dan tubuhnya jatuh terduduk. Memar di pergelangan kakinya memberikan rasa nyeri yang membuatnya mengernyit. Dia melukai kakinya saat terjatuh tadi. Menghindar dan berusaha lari tak bisa lagi dilakukannya. Rukia hanya bisa melihat apa yang sedang terjadi di hadapannya.

Satu lawan satu. Quincy dan Beta.

Ichigo berusaha menghindar dan menjatuhkan Bambietta. Quincy wanita itu terlalu cepat untuk ditangkap. Tinju dan tendangan menjadi penghalang saat Ichigo hampir saja menancapkan taringnya. Bambietta tak bisa dijatuhkan dengan mudah. Saling mengadu kekuatan dan menunggu siapa yang jatuh ke atas tanah lebih dulu. Bersimbah darahnya sendiri.

Seseorang berdiri di belakang Rukia, dengan suara sepatu yang menggesek rerumputan. Terlalu nyaring untuk didengar. Rukia menoleh dan mendapati seorang Quincy berada di sana. Matanya terbelalak tajam dan taringnya terlihat dari sela seringai. Rukia bergidik saat Quincy itu mendekat ke arahnya.

Rukia beringsut mundur, mendorong tubuhnya ke belakang. Bertumpu pada batang pohon untuk segera berdiri. Gadis itu meringis saat kakinya menahan bobot tubuhnya. Quincy pria di hadapannya mengerang marah. Kedua tangannya terkepal di sisi kiri dan kanan tubuhnya.

Rukia memejamkan matanya. Sesuatu membuncah dari dadanya, ingatan dan rasa dingin. Luapan itu—seperti berdiri di tengah pusaran angin topan. Sekelilingnya berubah buram dan hanya sepatunya yang bisa dilihat Rukia begitu jelas.

Seseorang memanggil namanya, membuat Rukia mendongak.

Sulur akar tanaman menjalar di balik rerumputan, menggapai kaki Quincy pria yang berubah panik. Tangannya yang hampir menyentuh tubuh Rukia terpaku di udara. Sulur tanaman mengikat pergerakannya, membuatnya tak bisa bergerak. Menahan otot-otot tubuhnya.

Rukia merasakan sentuhan di bahunya. Tangan yang begitu dingin memberikan sedikit ketenangan. Mata Rukia mengerjap, berusaha memastikan apa yang dilihatnya adalah sebuah kebenaran. Senjumaru berdiri di sisinya, masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu di Memphis.

Senjumaru menggerakkan sebelah tangannya yang terentang di udara, berubah menjadi sebuah kepalan hingga buku-buku jarinya memutih. Dia mengontrol sulur tanaman itu, menghimpit tubuh Quincy pria yang berteriak nyaring.

"Rukia, percayalah pada kekuatan yang ada di dalam tubuhmu," ujar Senjumaru. Suaranya setenang daun yang gugur. Matanya masih fokus pada si Quincy.

Rukia mulai merasa bingung. Tak bisa menepis rasa panas seperti membakar kedua telapak tangannya. Bibirnya terasa kering.

"Kautahu apa yang mampu kaulakukan, hanya saja kau terlalu takut untuk memulai. Es yang ada di dalam dirimu—itulah dirimu yang sebenarnya. Kau bisa mendengarnya, bukan? Panggilan yang berada di dalam ingatanmu."

"A-apa maksudmu?"

"Dengarkan dan cobalah melihat kata hatimu. Hanya kau yang bisa melakukannya."

Rukia menarik napas dalam-dalam dan mulai memejamkan matanya. Sesuatu—seseorang yang selalu membisikkan namanya di dalam benak. Rukia tak tahu siapa itu, yang memberikan pecahan ingatan seperti retakan es di musim dingin.

Kegelapan menyambutnya dan namanya disebut berulang kali.

Rukia merasakan kehangatan di dadanya. Seperti kembali ke rumah. Terlalu lama untuk dilupakan.

'Rukia….'

.

.

…..~***~…..

.

.

Es. Salju, bulir-bulir air yang membeku jatuh dari langit. Putih dan abu-abu pucat, sejauh mata memandang.

Rukia tidak bisa melihat jelas apa yang ada di hadapannya. Hanya badai salju yang membuat tubuhnya menggigil. Sebuah ingatan yang samar-samar membebani tubuh fisiknya.

Tangannya terentang, berusaha menggapai sesuatu yang tak dikenalnya. Terangkat di udara dan jari-jarinya membeku.

Rukia mendengar namanya dipanggil, semakin jelas di balik badai yang memenjarakan tubuhnya. Ingatannya.

Dan jari-jarinya menggenggam sesuatu. Tangan yang saling bertaut. Kehangatan yang tersalurkan dari jari-jari lainnya. Seseorang menggapai tangannya.

Rukia tidak bisa melihat wajahnya. Hanya warna putih bersih dari jubah panjangnya yang menjuntai ke bawah, menyentuh salju. Suaranya lembut, memanggil namanya berulang kali.

'Rukia….'

Sepasang sayap samar-samar terlihat. Seperti kristal yang menunjukkan kilaunya di udara. Cantik dan seakan tak tampak. Tak nyata.

'Aku tahu kau bisa mendengarku…. Dengarkan kata hatimu, jangan takut pada apa yang ada di dalammu. Kekuatanku—kini menjadi milikmu.'

Rukia merasakan napasnya tercekat. Rasa panas terasa di telapak tangannya.

'Percayalah kepada dirimu sendiri. Aku menyayangimu, adikku….'

'Ini adalah peninggalanku untukmu—our legacy, keep it….'

.

.

…..~***~…..

.

.

Rukia membuka matanya, merasakan luapan emosi dari dalam dadanya. Tersalurkan. Dia bisa merasakan dari mana kekuatannya berasal. Mengontrolnya.

Napasnya keluar dalam bentuk asap dingin. Udara di sekelilingnya mulai terasa dingin. Tanah di bawah kakinya membeku. Perlahan merambat dan menjadi luas.

Rukia mengontrol udara di sekelilingnya. Iris matanya berubah menjadi lebih terang, ungu ke biru muda. Kulitnya pucat seperti es. Tubuhnya tak lagi terasa dingin menggigil, dia sudah bisa menerimanya. Kekuatan itu—

"Rukia," panggil Senjumaru yang sudah mengambil langkah mundur, menjauh dari Rukia. Tubuhnya sedikit bergidik saat melihat Quincy di hadapannya membeku seperti patung es, berikut sulur tanaman yang mengikatnya.

"Rukia, kontrol kekuatanmu!"

Rukia mengeratkan kepalan tangannya, memejamkan mata. Bernapas lebih lambat dan berusaha menahan diri. Telinganya seakan berdengung, tidak begitu jelas apa yang berusaha Senjumaru katakan kepadanya.

Gadis itu berbalik dan melihat Ichigo terhempas, membentur gundukan tanah berbatu. Tubuh Sang Beta mulai terkulai lemah, berusaha tetap berdiri dengan keempat kakinya. Ichigo menggeram rendah pada Bambietta yang berjalan terseok. Mata Quincy itu terbelalak begitu melihat ke arah Rukia—merasakan kekuatannya yang tak lagi terkekang.

"Tidak mungkin! Dia terlalu cepat untuk bangun sekarang—"

Rukia melangkah tegap, merubah suhu udara menjadi lebih dingin pada setiap langkah yang diambilnya. Tangannya kembali terentang kali ini ke arah Bambietta.

Quincy itu dengan cepat menghindar, menaiki batang pohon tinggi hanya kurang dari satu detik. Jelas Bambietta terlihat takut. Rasa gentar membuat tubuhnya bergidik.

"Tidak sekarang, fairy!" teriak Bambietta, matanya tajam menyala. "Kekuatan itu milik Yang Mulia! Suatu hari nanti akan kami dapatkan kembali—"

Senjumaru mengeluarkan kekuatan hitamnya, meremukkan batang pohon dari akar hingga ke rantingnya. Bambietta sudah melompat jauh, berlari pergi menghindar dari mereka. Untuk saat ini dia menyerahkan segalanya, tak peduli tujuannya tak tercapai.

Rukia mendesah lega, menggigit bibir bawahnya yang kering. Sedingin es. Dia mengerjap, setengah terkejut jari-jari tangannya sudah terlapisi oleh es dingin. Tidak lagi terasa panas di permukaan kulitnya.

Ichigo mengerang, berdiri dari posisinya dengan kepala setengah tertunduk. Mata emasnya berkilau, menatap Rukia penuh harap. Gadis itu terbelalak, membalas tatapan Sang Beta dalam keheningan. Hanya emosi yang saling tersalur satu sama lain.

'Percayalah kepadaku…. Aku mempercayaimu….'

Rukia merasakannya, kehangatan yang bergumuruh di tengah dadanya. Melihat kondisi Ichigo yang kacau membuat hatinya pilu. Darah mengering di ujung-ujung bulunya. Luka gores dan lebam di beberapa bagian terlihat jelas. Ichigo kelelahan demi melindungi keluarganya. Mate-nya. Rukia.

"Apa yang sudah terjadi?" Rukia berbisik kepada dirinya sendiri. Rasa panik mulai menggelayuti dadanya saat melihat Senjumaru mendekat.

"Rukia—"

"A-apakah ini kekuatanku? Senjumaru … apa yang sebenarnya sudah terjadi?"

"Kau bisa mengontrolnya, Rukia. Sekarang, cobalah untuk tenang dan redam emosimu."

"Aku tidak bisa…." Rukia memeluk dirinya sendiri ketika merasa lelah. Kepalanya seakan berputar dan gravitasi mengkhianatinya. "Aku tidak tahu caranya—"

"Rukia!"

Yang Rukia rasakan hanyalah kelelahan. Kesadaran terengut dan kegelapan menyambutnya. Rukia tidak tahu lagi apa yang sudah terjadi, selain menyerah untuk sekarang. Jatuh dalam ketidaksadaran yang memeluknya seperti mimpi—menariknya ke dalam dunia lain.

Rukia kembali melihat bayangan itu, salju dan hujan badai. Dia terdiam di sana dalam waktu yang cukup lama, mencari bayangan orang yang menautkan tangannya tadi. Wanita yang memanggil namanya, yang memiliki sayap terindah yang pernah dilihatnya.

Wanita yang tak terlihat wajahnya. Dia yang memanggil Rukia dengan sebutan adik.

..~*(to be continued…)*~…..

.

.

.

.

.

.

.

Author's note:

Scene 19! Selamat tahun baru semuanya! Ini tahun 2018 dan fic masih berlanjut. Aku sangat bersyukur masih bisa mendapatkan waktu untuk mengetik. Woohooo~ Semoga di tahun ini bisa semakin baik mengetik. Dan yeahh, ini bisa disebut sebagai hadiah tahun baru. Semoga tahun ini baik bagi kalian semua!

Full aksi dan ya, mungkin ada yang bertanya, 'kok pendek?'. Karena ini full aksi dan ga ada scene lain di luar pertarungan Ichigo vs Quincy, Rukia yang lari dan menemukan kekuatannya, dan yah…. Begitu menulis full aksi aku berusaha menulis sepanjang-panjangnya, tapi berakhir sampai di sini. Cukup panjang sebenarnya, mencapai 18 halaman (lebih panjang dari scene pertarungan di Memphis). Banyak yang dibahas di sini! Woow…. Bambietta, Bazz-B, werewolf kelompok Utara dengan mata hijau biru laut, dan Rukia. Rukia melihat bayang-bayang ingatan yang seperti mimpi. Ini bukan masa lalu, tapi bayang-bayang ingatan. Dan pasti sudah bisa menebak sosok fairy bersayap yang memanggil Rukia dengan sebutan adik. Fairy dengan jubah putih panjang. Wanita loh, bukan Byakuya.

Senjumaru datang di saat genting untuk membantu Rukia. Dia kunci dari ingatan Rukia dan apa yang Rukia miliki dalam tubuhnya. Ya, akan dibahas di chapter berikut. Dan Byakuya akan segera muncul kembali!

.

Balasan untuk pertanyaan reviewers:

Rukichigo: reviewmu masuk kok, mungkin hrus tunggu dulu sebelum kelihatan.

yuliita: Mate nya Kensei memang belum muncul kok, belum sempat dimunculkan karena bukan dari kelompok werewolf. Aku ada kok akun wattpad, bisa dilihat di profile FB ku. Belum kumasukkan di profile fanfiction. Username nya sama kayak ini.

Nad-Ru15: Kalau misalkan mate-nya mati, aku belum pernah bahas dan kepikiran sebenarnya soal ini. Aku ambil referensi dari beberapa mitos juga kehidupan liar serigala itu sendiri. Bila mate-nya mati, maka akan berdampak besar bagi kelompok, apalagi kalau itu Alpha dan Beta. Werewolf itu bisa memutuskan untuk tetap seorang diri (tanpa mate) atau mencari pasangan lain, tapi hubungannya tak akan sekuat mate utamanya. Jadi bisa dikatakan bukan mate lagi, seandainya werewolf itu punya pasangan kedua (tidak punya ikatan seperti mate).

Izumi Kagawa: Ya, Starrk itu espada nomor 1, tapi tak terlihat T_T

kookie:Terima kasih buat koreksinya ya, wah makasih sudah membaca detail. Aku akan berusaha lebih teliti untuk selanjutnya. Hihihi, army ya? Kliatan dari namanya.

Fleur Choi: Hahahaha, iya banting setir jadi army. Karena tergantung mood nulisnya, jadi pakai lagu yang bisa membantu. Sekarang udah campur lagi kok. Semoga lancar dengan sidangnya!

Terima kasih banyak untuk Azura Kuchiki, Rukichigo, Nafidah, nayasant japaneze, Loly jun, yuliita, Nad-Ru15, Izumi Kagawa, kookie, Fleur Choi, HyperBlack Hole, Allen Walker, Lucya Namikaze, Uchiha No Potoks, wowwoh geegee, flake purpurea, terima kasih sudah mereview ya! Love you all~

Playlist:

Blue Moon- Hyolyn & Changmo (Prod GroovyRoom)

Wolves- Selena Gomez, Marshmello

Rag n Bone Man- Human

Imagine Dragons- Thunder

BTS- Cypher 4

BTS, Jhope- Intro: Boy Meets Evil

These songs don't belong to me…