::The Dark Legacy— First Quarter::
By: Morning Eagle
Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Just to warn you all :: AU, OOC, misstype...for this story
Scene 20: The Last Princess, The Queen From the North
~0*0~
.0.
.
.
.
.
.
.
.
Tertidur lelap tanpa mimpi, Rukia terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Tenggorokan terasa kering, tidak bisa mengeluarkan sebuah kata terucap. 'Air'. Dia sangat membutuhkannya sekarang.
Pandangannya perlahan membaik, menyadari dia terbaring di atas ranjang. Kamarnya di Montana bersama dengan Rangiku.
Sesosok wanita terduduk diam di samping tempat tidurnya. Rukia bisa melihat dari sudut matanya. Senjumaru dengan rambut hitam panjangnya menyentuh kedua tangan terlipat di atas pangkuan. Pakaian serba hitam dan sedikit aksen ungu memberikan kesan misterius. Sang penyihir yang tersenyum simpul saat melihat Rukia mulai sadarkan diri.
"Ambil waktumu dan tidak perlu bangun terburu-buru, Rukia. Tubuhmu masih belum pulih," ujar Senjumaru tanpa bergerak dari posisinya. Hanya bibirnya yang bergerak konstan.
Rukia merasakan rasa ngilu dari kakinya. Pergelangan kaki yang tertutup selimut tebal. Samar-samar dia bisa mengingat—mengulang ingatannya kembali saat pertarungan werewolves dan Quincy terjadi. Di dalam hutan, kakinya terkilir karena berlari mencapai batas maksimal. Rasa panik mulai kembali terasa.
"Kau baik-baik saja, tidak ada luka berat dan serius. Aku sudah mengobatimu semampuku, sekarang kau hanya butuh istirahat."
"Ngg … boleh aku minta air?" tanya Rukia, suaranya benar-benar parau.
Senjumaru bangkit dari duduknya, berjalan ke meja sisi tempat tidur. Dia mengambil air dari dari teko, menuangkannya ke dalam gelas.
Rukia merasakan kelegaan saat air membasahi tenggorokannya yang kering. Dia yang merasa hidup kembali. Kepalanya perlahan tak lagi berdenyut nyeri.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Senjumaru, setelah membantu Rukia duduk di punggung ranjang.
"Sedikit baik, kurasa. Hanya sedikit pegal dan pening."
"Kau akan baik-baik saja. Kau pulih cukup cepat."
"Apa yang terjadi—maksudku, setelah kejadian itu … aku tidak begitu bisa mengingatnya."
"Setelah kau mengeluarkan kekuatanmu?"
Rukia terdiam, memandangi jari-jari tangannya. Rasanya tidak lagi seperti terbakar. Dingin yang hingga membakar kulit. Es yang menjalar cepat di bawah kakinya, membekukan rerumputan juga bebatuan. Membekukan Quincy dalam sekejap mata, menjadi sebuah patung es.
Dan Ichigo terhempas oleh serangan Bambietta, sangat keras. Gadis Quincy itu yang menghindar cepat, menyebutnya dengan sebutan,
"Fairy," gumam Rukia. "Apakah benar … aku ini fairy?"
Senjumaru sudah kembali duduk di posisinya semula. Tangannya kembali bertaut di atas pangkuan. Sikapnya sungguh tenang, bahkan tatapan matanya tak terlihat mengintimidasi seperti biasanya.
"Ya, kau adalah keturunan fairy, Rukia. Winter fairy dari Utara."
Jawaban itu cukup masuk diakal, namun belum bisa diterima Rukia dengan akal sehat. Kekuatan yang mengalir dari dalam tubuhnya. Es yang bisa membekukan apa pun di depan matanya. Rukia yang mulai merasa takut dengan dirinya sendiri.
Mengapa harus dirinya? Mengapa kenyataan ini baru terkuak sekarang?
"Mengapa aku?" tanya Rukia miris. "Aku tidak mengerti, Senjumaru."
"Semuanya berasal dari apa yang tertanam dalam dirimu," tunjuk Senjumaru, tepat pada tengah dada Rukia. "Sumber kekuatan itu—legasi dari keluargamu. Kau adalah seorang putri, penerus takhta winter fairy yang terakhir. Dan apa yang ada di dalam dirimu adalah pemberian dari kakakmu."
Rukia berusaha untuk mengerti walau rasanya sia-sia belaka. Dia masih tidak bisa menerima semua penjelasan Senjumaru. Baginya cukup gila untuk dipercayai begitu saja.
"Mengapa tidak ada yang memberitahumu? Mengapa ini baru dikatakan sekarang? Aku mengerti bila kau merasa bingung dan tidak tahu harus mulai bertanya dari mana," lanjut Senjumaru. Dia yang peka akan perasaan orang lain, mudah untuk menebak mata mereka yang kebingungan. Terlalu gamblang untuk dibaca. "Aku tidak memaksakan pilihanmu, Rukia. Ketahuilah, selama ini aku selalu memantau keadaanmu."
"Karena apa? Aku ingin kau menceritakan semuanya, Senjumaru. Semua yang kauketahui, walau rasanya aku masih tidak percaya dengan apa yang ada di dalam diriku."
"Bagaimana kalau kau menunggu dia—orang yang akan menjelaskan semuanya kepadamu. Kau akan lebih memercayainya dibandingkan denganku."
"Siapa?"
Senjumaru terdiam. Tatapannya lurus pada pintu kamar. Dia yang menunggu dalam detik bergulir, menjadi menit dan suara derap kaki mulai terdengar. Kepalanya menunduk seraya bangkit dari kursinya.
Pintu diketuk sebanyak tiga kali. Senjumaru membukanya, menyambut seseorang yang berbicara lembut di depan pintu. Suara laki-laki. Rukia berusaha untuk menebak ketika degup jantungnya berdetak cepat tanpa alasan.
Seakan dia tahu siapa yang datang berkunjung ke kamarnya. Dia—seseorang itu yang dimaksud oleh Senjumaru.
Byakuya. Kakaknya.
Rukia terkesiap, menahan napas saat kakaknya masuk ke dalam kamar. Langkahnya mantap dan ringan, hampir tak menimbulkan suara dari sepatu pantofelnya. Byakuya, masih sama seperti terakhir kali Rukia melihatnya di kediaman Kyouraku.
Air mata mulai membasahi pipi pucatnya. Rukia tak bisa menahan rasa rindunya.
Dia yang terisak dan memanggilnya, "Nii-sama…."
Byakuya tersenyum simpul, mengambil tempat duduk di sisi ranjang. Tanpa menunggu lagi, Rukia beringsut dan menerjang tubuh kakaknya. Memeluk seerat yang dia bisa. Tidak ingin melepaskan, takut untuk merasa kehilangan lagi.
Dan bau bunga sakura tercium pekat dari tubuh Byakuya. Manis, mengingatkan akan musim semi yang tak pernah berakhir. Rukia merasa kembali pulang.
Isakannya semakin keras ketika Rukia merasakan tangan Byakuya membelai kepalanya. Tubuh gadis itu yang bergetar pilu.
"Maaf," kata Byakuya, sebuah kata yang akhirnya terucap di antara mereka. "Aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu sendirian, Rukia."
Rukia menggeleng, sedikit menjauhkan tubuhnya dari kakaknya. Dia melihat air matanya membasahi blazer Byakuya.
"Aku merindukanmu, nii-sama."
"Maaf, Rukia." Kata maaf yang terulang dua kali dari mulutnya, Rukia hampir tertegun karena itu. "Aku pun tak bisa berhenti mengkhawatirkan dirimu. Aku datang terlambat dan membiarkanmu terluka." Dia yang mendesah satu kali saat air mata masih menetes pada mata adiknya. "Mereka datang lebih cepat dan hampir menghancurkan perbatasan kelompok werewolves Utara."
"Quincy," bisik Rukia, merasa bulu kuduknya berdiri. "Nii-sama tahu tentang mereka."
"Juga apa yang mereka cari."
Tatapan tajam Byakuya menyembunyikan rahasia tak terucap. Rukia merasa gugup ketika menyadari hal itu. Kakaknya berhasil menutup rapat-rapat apa yang menjadi bagian dari dirinya dan sekarang semua itu akan terungkap.
"Banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu, Rukia. Tidak apa bila kau membenciku setelah mendengar semuanya. Aku sudah menyimpan ini terlalu lama darimu. Menunggu waktu yang tepat bukan lagi sebuah alasan."
"Karena nii-sama menutupi semuanya? Haruskah? Aku tidak bisa membencimu, sekalipun nii-sama sudah melakukan hal buruk kepadaku. Meninggalkanku di bawah pengawasan kelompok werewolves—itu tidak seburuk yang nii-sama perkirakan." Rukia tersenyum tanpa dia sadari. Tak bisa menahan rasa rindunya pada sosok yang lain. Belahan jiwanya. Ichigo.
Alis Byakuya berkedut tajam. Rasa awas membuatnya ingin membentengi diri, juga Rukia. Melindungi gadis itu dan menjauhkannya dari apa pun, termasuk mereka yang menunggu di bawah sana. Para werewolves yang sulit diatur, kaum yang memiliki idealisme kebebasan. Byakuya yang sama sekali tak menyukai hal itu. Kaum fairy memiliki keteguhan yang dingin dan sikap teratur yang cukup kaku, bertolak belakang dengan para werewolves.
Kata lainnya, fairy tak menyukai kecerobohan para werewolves yang mudah sekali berbaur di tengah-tengah komunitas manusia, para fana. Mereka yang memercayai bahwa hidup normal tidak akan berdampak buruk pada masa depan juga keturunan mereka. Sedangkan fairy lebih memilih untuk menyembunyikan diri—bukan menutup diri—hanya memberi batasan yang kentara.
"Mereka cukup baik untuk menjagamu," kata Byakuya.
"Tenang saja, adikmu berada di tangan yang tepat." Kali ini Senjumaru angkat bicara. Dia yang berdiri kaku di belakang Byakuya. Sebuah senyum terukir di bibir merahnya.
"Kalian saling mengenal," ujar Rukia. Sebuah pertanyaan yang terdengar sebagai pernyataan.
Byakuya menarik napas dalam, jarang sekali fairy yang terlihat kaku itu mulai merasa gugup. "Senjumaru banyak membantuku, terutama menjaga dirimu dari pada Quincy. Walau kekuatannya tak sekuat sebelumnya untuk membentengi dirimu, ketika perlahan kau mulai memiliki kuasa untuk mengontrol pikiranmu."
Rukia menatap kakaknya bingung. Kedua tangannya menggenggam ujung blazer Byakuya sebagai tumpuan. Gadis itu yang mengharapkan kakaknya berada di sisinya, kini sosok itu perlahan menjauh.
"Ini bermula dari 14 tahun yang lalu, ketika kau masih berumur 2 tahun. Di pegunungan Eropa Utara, di mana pusat kekuasan winter fairy berada. Mereka yang memiliki kekuatan terkuat di Eropa Utara, kekuasan terbesar sepanjang sejarah fairy. Dan dari mana sebenarnya kau berasal, Rukia. Kau yang sebenarnya, seorang putri keturunan winter fairy terkuat—putri terakhir yang tersisa."
Rukia menahan napasnya selama mendengar penjelasan kakaknya. Terdengar seperti dongeng pengantar tidur. Suara Byakuya yang tenang dan lembuat membuat ceritanya seakan tak nyata.
"Winter fairy hidup dalam kedamaian di perbatasan Utara. Sekat pelindung mereka adalah yang terkuat di antara bangsa fairy, tak mudah untuk ditembus. Ketika penjagaan mereka melemah 14 tahun yang lalu dan Quincy memakai kesempatan itu untuk masuk menyerang kerajaan fairy terkuat yang pernah ada. Quincy—para strigoi haus darah yang kejam, di bawah pimpinan Yhwach, seorang strigoi kuat yang berumur lebih dari 1000 tahun."
"Yhwach, aku pernah mendengar nama itu. Isshin-san pernah menjelaskannya kepadaku sebelum ini," kata Rukia. Tenguknya terasa dingin ketika memorinya berulang, berusaha mengingat setiap detail yang ada. "Juga apa yang mereka cari, Yuki No Crystal."
Byakuya mengangguk sekali sebelum melanjutkan kisahnya, "Yuki No Crystal adalah sebuah kristal sakral yang memiliki kekuatan supernatural berbahaya. Kristal milik winter fairy dan hanya mereka yang mampu mengendalikannya. Turun temurun Yuki No Crystal adalah penyokong sekaligus sumber kekuatan dari para Ratu Winter Fairy, mereka yang memimpin kaumnya selama ratusan tahun dalam kedamaian. Berita tersebar cepat, hingga banyak kaum supernatural lainnya yang menginginkan kekuatan Yuki No Crystal, termasuk Quincy. Ketajaman dan kepintaran Quincy membawa mereka dalam kesempatan besar untuk menyerang perbatasan Eropa Utara. Quincy membutuhkan Yuki No Crystal untuk membangunkan pemimpin mereka yang sudah tertidur cukup lama. Yhawch tertidur untuk memulihkan kekuatannya, setelah perang berdarah terjadi antara strigoi dan werewolves di tahun 1507—The Bloody War. Quincy mengalami kekalahan besar dan putus asa ketika pemimpin mereka tak bisa lagi memimpin kekuasaan strigoi terkuat. Mereka yang memutuskan untuk menunggu dan mencari cara di balik bayang-bayang. Mimpi buruk yang perlahan kembali muncul.
"Empat belas tahun yang lalu adalah acara penobatan Ratu Winter Fairy yang baru. Dia adalah kakakmu, Rukia—kakakmu yang sebenarnya, Hisana. Seorang ratu yang baru saja dinobatkan untuk memimpin bangsa fairy Utara, dan dalam 1 hari kekuasaannya musnah di tangan Quincy yang bengis."
Rukia membelalakkan matanya. Dia tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.
Byakuya, dia bukan kakak kandungnya. Dia yang sudah berbohong terlalu lama, sepanjang hidup gadis itu berjalan hingga hari ini. Rukia tak tahu harus mengatakan apa, selain merasakan kehampaan di dadanya.
"Dan Hisana, di saat-saat terakhirnya dia berhasil menyerahkan Yuki No Crystal kepada dirimu. Kristal yang sekarang tersimpan di dalam tubuhmu. Hisana berkorban untuk darah terakhirnya. Dia sangat menyayangi dirimu lebih dari apa pun."
Air mata menetes dari mata Rukia. Rasa hampa itu berubah menjadi rasa sakit yang menyiksa. Rukia menangis dalam dukanya, walau dia tak pernah mengenal siapa Hisana.
Sosok yang muncul saat kekuatannya keluar—fairy yang berada di tengah badai salju, dia yang bukan bayangan semata. Itu adalah sosok Hisana yang sebenarnya.
"Jadi, kau berbohong kepadaku? Kau bukan kakakku?" tanya Rukia pilu, isakannya kembali keluar. Rasa dikhianati tidak pernah dikiranya akan sesakit ini. Seperti tertusuk belati ratusan kali tepat di jantungnya. Dia yang berpikir bahwa Byakuya tidak akan menyimpan dusta yang setajam belati.
Tangan Byakuya terulur, menjangkau tubuh ringkih Rukia. Sebuah pelukan tulus yang mengatakan perasaan Byakuya yang sebenarnya. Rasa kasih tak bisa berbohong.
"Kau tetaplah adikku, Rukia, walau bukan secara biologis. Sejak hari itu aku berjanji kepada Hisana untuk menjagamu, memberikan kasih yang tak akan pernah bisa diberikannya kepadamu. Hisana—dia adalah pasangan fairy-ku, mendiang istriku."
Mereka terdiam cukup lama, hanya saling bertumpu dan membangun sebuah kepercayaan yang baru. Perlahan, Rukia mulai bisa menerimanya. Kenyataan pahit bahwa keluarganya berkorban untuk dirinya di masa lalu dan kakak—kakak iparnya—melalui perjalanan panjang untuk melindungi dirinya dari tangan kejam Quincy.
Dan apa yang ada di dalam dirinya, semua itu terjawab sudah. Yuki No Crystal, kekuatan winter fairy yang secara langsung menobatkan dia sebagai sang Ratu terakhir.
Winter fairy terakhir.
Beberapa menit berlalu dan Rukia menjauhkan tubuhnya lebih dulu. Menarik napas dalam-dalam, merasakan kedua matanya sembab. Rasa sakit di dadanya tak lagi menusuk.
"Lalu, apa maksudmu, nii-sama? Mengenai Senjumaru yang berusaha menyegel kekuatanku?"
Byakuya yang merasa tersentuh dengan kebaikan hati Rukia. Gadis itu yang tetap memanggilnya kakak. Byakuya bersyukur saat perasaan benci tidak ada di antara mereka.
Rukia menatap Senjumaru yang masih terdiam di sisi pintu kamar, tak bergerak sejak tadi. Dia penyihir misterius yang keberadaannya serupa dengan kabut.
Byakuya menoleh, membiarkan Senjumaru yang menjelaskannya.
"Byakuya khawatir bila Quincy segera menemukan dirimu. Di kala itu, kekuatannya sebagai spring fairy tak mampu membuat sekat pembatas yang cukup kuat untuk melindungi dirimu. Byakuya meminta bantuanku untuk menutup sementara kekuatan Yuki No Crystal yang ada pada dirimu. Dampak negatifnya, memori masa kecilmu tertutup dan kau tidak bisa mengingat apa pun mengenai tempat asalmu.
"Namun, seiring berjalannya waktu, kekuatan Yuki No Crystal semakin kuat dan segel yang kuberikan pada dirimu perlahan menghilang. Kekuatan Yuki No Crystal mulai keluar secara tak terbendung dan tak bisa kaukontrol."
Rukia mulai mengingat hal itu ketika mereka bertemu di Memphis. Quincy menyerangnya dan hampir membunuh Ichigo. Di saat itu kekuatannya muncul secara tak terduga.
"Setelah mendapatkan kembali memori masa lalumu, kau bisa mengontrol Yuki No Crystal yang ada pada dirimu. Menerima jati dirimu sebagai Ratu Winter Fairy—"
"Tapi, aku tidak tahu caranya," potong Rukia sengit. "Aku … bahkan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."
Semuanya terasa jauh lebih berat. Ancaman Quincy dan masa lalu Rukia yang kelam. Rukia merasakan beban di bahunya membuat tubuhnya kaku. Tak bisa bergerak.
"Walaupun kerajaan winter fairy sudah tidak ada lagi, tapi kau adalah identitas mereka. Kau bisa memulai kembali apa yang sudah musnah," ujar Senjumaru. "Masa depanmu, itu kau yang menentukan. Tapi, apa yang kau dapatkan di dalam dirimu juga di sekelilingmu, percayalah kau bisa melaluinya, Rukia."
Ichigo. Wajahnya terlintas dalam benak Rukia. Hanya dengan memikirkan Ichigo bisa membuat keraguannya menghilang. Dia tak lagi takut. Pria itu yang akan menahan punggungnya tetap tegap berdiri dan melindunginya bagaikan tameng.
Dia—mereka yang saling terhubung dengan benang merah.
"Aku akan membantumu untuk mengontrol kekuatanmu. Butuh waktu dan kesabaran, kau akan bisa melaluinya, Rukia." Byakuya menggenggam tangan Rukia yang terasa dingin, memberikan kekuatan hatinya. "Kau memiliki mata yang teguh seperti Hisana. Seorang ratu yang kuat."
Rukia menunduk, berusaha tersenyum untuk kakaknya. Dan untuk mendiang kakaknya yang akan tetap menjaganya melalui Yuki No Crystal. Dia yang mengatakan bahwa itu adalah legasi bagi Rukia.
"Nii-sama tidak akan pergi lagi, bukan?" tanya Rukia.
"Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian lagi. Karena itu kita akan segera pulang."
Rukia terbelalak, tak bisa menahan rasa terkejutnya. "Pulang?"
"Kembali ke Tokyo. Sekat pelindung yang dibuat oleh spring fairies akan cukup untuk melindungimu dari Quincy. Kau akan jauh lebih baik di sana daripada di Manhattan. Aku harus berterima kasih kepada Isshin karena sudah melindungimu—"
"Juga Sang Beta," celetuk Senjumaru. Dia yang melipat tangannya di depan dada dengan senyum tertarik di satu sisi wajahnya. "Anaknya rela mengorbankan tubuhnya untuk melindungi Rukia. Dia keturunan werewolf yang sangat kuat dan seorang calon Alpha selanjutnya."
Byakuya kembali mengerutkan alisnya tajam. Rasa pahit terasa di mulut Rukia, dia yang takut kepada Senjumaru lebih dari sebelumnya.
"Apa kau tidak merasakannya, Byakuya? Kau seorang Pangeran Spring Fairy yang kehilangan kepekaanmu?"
Rukia ingin merutuk. Kedua tangannya terkepal kuat sementara matanya memelototi Senjumaru.
"Sang Beta sudah memilih mate-nya. Dan dia adalah adikmu."
.
.
…..~***~…..
.
.
"Mengapa kau mengatakan itu?" tanya Rukia yang berusaha berdiri dari ranjangnya. Dia ingin segera mengejar kakaknya yang sudah pergi keluar dengan tergesa, tanpa bicara satu kata pun. Jelas amarah tersirat di matanya.
Senjumaru membantu Rukia untuk berdiri. Tatapan gadis itu sungguh tajam kepadanya.
"Saat kau masih tak sadarkan diri, aku bisa merasakan ketegangan di antara mereka, di bawah sana. Tanpa melihat pun aku tahu apa yang berusaha dilakukan Beta terhadapmu. Dia sangat protektif dan butuh beberapa werewolf untuk menahannya tetap di bawah, sementara aku mengobati dirimu. Bayangkan apa yang terjadi saat Byakuya datang kemari."
"Dan kau mempersulit keadaan," tebak Rukia, berusaha menahan diri untuk tidak mengumpat. Rasa sakit di pergelangan kakinya masih terasa. "Kautahu nii-sama belum siap mendengar hal ini."
"Begitu pula denganmu, Kuchiki kecil. Kau tidak bisa mengatakannya kepada kakakmu dan aku hanya ingin membantumu. Ini sebuah informasi penting, setidaknya bagi mereka para keturunan serigala."
"Aku harap tidak akan terjadi apa pun," gumam Rukia yang mulai melangkah melewati lorong luar, menuju tangga ke lantai bawah. Jalan terasa jauh dengan kakinya yang terkilir.
"Ini bisa menjadi sebuah pelajaran bagi Beta. Dia harus belajar untuk menahan amarah dalam dirinya."
Rukia mendengus, melihat Senjumaru seakan tak berekspresi di sisinya. "Apa kau begitu membenci Ichigo?"
"Membenci? Itu sebuah kata yang tak tepat untuk diucapkan. Aku tidak suka bau anjing liar, tapi bukan berarti aku membenci mereka. Pengontrolan diri mereka yang sangat kurang tidak sesuai dengan cara pandang juga pikirku. Kami tidak terlalu cocok untuk bekerja sama."
'Dia membencinya,' pikir Rukia dalam hati. Rukia hampir lupa kalau penyihir pandai untuk merangkai kata-kata, membuat tipu muslihat. Dan keributan yang mulai terdengar di area bawah adalah salah satu buktinya.
"Bagaimana kalau mereka memulai keributan, huh?" tanya Rukia yang mengernyit setiap kali kakinya mengambil langkah turun di anak tangga. Senjumaru masih membantunya, memegangi lengannya dengan kuku panjang yang menancap tajam di atas kulit.
"Bukankah itu bagus? Beta bisa membuktikan kekuatannya sebagai calon Alpha yang kuat. Dan memiliki keturunan yang bagus juga suatu hal penting bagi bangsa fairy. Mungkin sedikit di luar kebiasaan dan peraturan mereka, menjalin hubungan dengan keturunan serigala. Kabar baiknya kau adalah sang Ratu, jadi kau bisa menentukan pilihanmu tanpa terikat aturan, bukan?"
"Itu sama sekali tidak terdengar bagus!"
Rukia hampir tercengang begitu sampai di area bawah. Di ruang tengah di mana para werewolf berkumpul. Mereka yang berdiri dengan tubuh menegang juga awas. Dan di tengah-tengah ruangan terlihat sumber keributan yang mulai hening. Mencekam. Mata memandang mata tajam.
Byakuya yang berdiri dengan dagu terangkat, mata memicing tajam. Beta bersama Alpha di sisinya. Isshin dengan sebelah tangan menahan bahu Ichigo. Tubuh sang Beta hampir setengah menunduk, posisi siap menerkam.
"Nii-sama…." Panggilan Rukia adalah sumber suara terkeras di ruangan. Semua pasang mata memandangnya, tak terkecuali sang Beta.
Ichigo memandangnya dengan mata terbelalak. Rasa khawatir tersirat kuat di sana.
"Mundur, Rukia," ucap Byakuya, lebih terdengar sebagai perintah.
"Kau tidak bisa menahanku di sini sementara Rukia terluka," geram Ichigo. "Dia mate-ku dan aku adalah penjaganya."
"Tidak lagi. Rukia akan pulang bersamaku. Dia akan terlindungi di sana, lebih aman bersama kaumnya, para fairy."
"Kau tidak bisa memutuskan sesuatu seenaknya—"
"Ichigo," tegur Isshin, berusaha memukul mundur Ichigo. Sang Beta lebih keras kepala dibandingkan dirinya. "Menghadapi masalah dengan sikap kerasmu tidak akan menyelesaikan apa pun. Byakuya adalah kakak Rukia, kau harus mengerti hal itu."
"Dan mengenyahkan diriku sebagai pelindung Rukia? Aku adalah mate-nya, old man!"
"Kautahu masalah mate adalah hal yang sangat sensitif, bukan? Paman?" Seorang werewolf maju bicara. Dia yang wajahnya terlihat mirip dengan Ichigo, hanya saja berambut hitam. Rukia hampir tersentak karena kemiripan keduanya. "Kita bisa memahami keputusan fairy, tapi tidak bisa melupakan apa yang mengalir di dalam darah kita. Darah yang memanggil untuk seorang mate, kita terikat akan hal itu."
Beberapa werewolf muda mulai mengangguk setuju. Mereka yang bergumam dengan suara berbisik, menyetujui werewolf berambut hitam.
"Kaien, kau juga tidak bisa gegabah memilih sebuah suara di sini," ujar Isshin, memanggil werewolf itu, Kaien. "Keputusan mutlak ada di tangan Byakuya."
"Bagaimana dengan suaranya—gadis itu?" tunjuk Kaien ke arah Rukia.
Rukia mulai merasa gugup juga tegang. Semua perhatian kembali teralih ke arahnya, menunggu sebuah suara. Jawaban.
Dan kakaknya menatap Rukia dengan rahang mengeras. Jelas dia tidak menyukai hal ini.
"Apakah alasan Rukia terluka tidak cukup kuat?" tanya Byakuya. "Juga apa yang dicari para Quincy."
"Aku bisa melindunginya di sini, bersama kelompok kami," balas Ichigo sengit. Dia yang menggeram dengan gigi menggertak. "Kautahu apa yang kami miliki—kekuatan kami. Karena itu kau mempercayakan Rukia kepada kami pada awalnya, bukan?"
"Tapi tidak dengan ikatan budaya kalian—apa yang kaulakukan kepada adikku."
"Tidak ada yang bisa menantang apa yang mengalir di dalam nadi kami, fairy! Jangan mempertanyakan hal bodoh yang melibatkan perasaan!"
Isshin hampir mendorong Ichigo mundur dengan kepalan tangannya, sebelum Kira dan Kensei menahan sang Beta. Kalung rantai di leher Ichigo bergemeretak karena tubuhnya yang hampir berubah. Amarah mengendalikan emosinya.
"Ichigo!" Rukia berusaha mendekat, melepaskan tangan Senjumaru yang masih menahannya. Melupakan rasa sakit di kakinya, Rukia berjalan tertatih ke tempat Ichigo.
"Rukia, jangan mendekat!" Isshin berusaha memperingatkan, berikut Byakuya yang mendekat ke arahnya. Tangan fairy itu hampir menjangkau tubuh Rukia ketika sengatan dingin terasa. Es yang mulai membekukan udara di sekitarnya, berikut lantai kayu.
Kekuatan Rukia hampir keluar dari tubuhnya yang berubah pucat. Sedingin es, berikut tatapannya yang diberikan kepada Byakuya. Sang Pangeran Fairy tertegun di tempat. Dia yang melihat bayangan Sang Ratu sebelumnya di sana, Hisana.
"Hentikan ini!" Suara Rukia sedingin es, menghentikan keributan yang hampir terjadi dalam sekejap. Suara sang Ratu yang bergema seperti badai salju.
Ichigo mulai menguasai amarahnya, tak bisa mengalihkan tatapannya dari Rukia. Dari mate yang menatapnya penuh harap. Dia yang bisa meredakan emosi sang Beta, memulihkan akal sehatnya. Ketika hatinya bisa merasakan lebih jelas.
Rukia menarik napas dalam, berkonsentrasi untuk menarik kembali kekuatan yang keluar tanpa disengaja. Mengulang nama kakaknya dalam hati, berulang kali. Perlahan udara dingin tak lagi terasa di sekitar tubuhnya. Matanya mengerjap beberapa kali, memastikan tubuhnya baik-baik saja. Jari-jari tangannya bisa bergerak bebas.
"Kalian … memulai pertengkaran yang tak perlu," ujar Rukia. Dia yang mengeratkan kepalan tangannya. "Aku berhak memberikan jawaban, ketika kalian selalu menyembunyikan sesuatu di belakangku, selama ini."
Rukia menatap satu per satu mata yang memandangnya. Byakuya, sang Alpha, hingga sang Beta yang tak sanggup mengeluarkan satu kata pun.
"Aku bukanlah objek yang selalu berada di bawah pengawasan kalian," lanjut Rukia. "Ketika sumber masalah ini juga melibatkan diriku."
Senjumaru berjalan ke sisi Rukia, sepatunya mengetuk keras di atas lantai kayu. Dan senyumnya setajam belati. Dia satu-satunya yang menikmati keributan ini.
"Kalian mendengar apa yang Rukia katakan bukan? Dia adalah pemilik suara bulat di sini, sang Ratu Winter Fairy. Di mana rasa hormat kalian di depan sang Ratu?"
Rukia bisa melihat jelas rahang Ichigo yang menganga. Bahkan setiap werewolf di dalam ruangan, mereka yang tak menduga ke mana arah pembicaraan ini mengarah.
"Jadi kabar itu benar? Rukia adalah putri yang terakhir?" tanya Isshin. Wajahnya menunjukkan rasa antusias yang kentara.
Kaien yang maju lebih dulu di antara yang lainnya. Dia yang tersenyum kepada Rukia sebelum membungkuk dalam.
"Di mana sopan santunku di hadapan sang Ratu? Aku Shiba Kaien, Alpha dari kelompok werewolf Utara, Kanada. Sungguh sebuah kehormatan bertemu sang Ratu Winter Fairy terakhir."
Kaien memegang tangan Rukia dan mengecup punggung tangannya. Sebuah salam yang membuat wajah Rukia memerah cepat.
Gadis itu bisa melihat lebih jelas wajah rupawan Kaien. Benar-benar serupa dengan Ichigo, dengan garis pipi yang lebih tinggi dan mata berwarna hijau laut.
Mata itu—Rukia pernah melihatnya di dalam hutan, werewolf berbulu hitam gelap.
"A-aku … senang bertemu denganmu. Ini pun pertama kalinya aku tahu identitasku…."
Kaien tertawa karenanya, melihat sikap kikuk Rukia yang jauh di luar bayangannya. Sang Ratu yang hampir membekukan tempat itu kini berubah menjadi seorang gadis manis yang terlihat malu-malu.
"Kau memiliki mate yang mengagumkan, Sepupu!" ucap Kaien kepada Ichigo.
Ichigo tak menghiraukan Kaien. Dia yang berjalan ke sisi Rukia. Kerutan di dahinya terlihat jelas. Sepasang mata hazel yang menatap Rukia penuh rasa takut.
"Kau masih terluka," kata Ichigo, memerhatikan Rukia yang berdiri dengan bertumpu pada satu kaki. Kaki kanannya setengah terangkat tak menyentuh lantai, masih dibalut perban. "Sungguh ceroboh."
Rukia tak sempat membalas saat Ichigo sudah mengangkat tubuhnya lebih dulu. Rukia hampir mengumpat saat kedua kakinya tak lagi memijak tanah. Wajah Ichigo tepat berada di depan wajahnya.
"Aku hanya akan mengantarnya ke kamar, kita sepaham untuk hal ini," ujar Ichigo tanpa melihat ke belakang. Dia mengatakan itu kepada Byakuya.
Rukia bisa melihat Byakuya dari balik punggung Ichigo. Kakaknya yang masih tak bisa melepaskan pandangan kepadanya, bahkan ketika Isshin berusaha bicara dengan sang peri. Sang Alpha yang memastikan bahwa anaknya akan berada di sisi Rukia untuk menjaganya. Tak lebih dari itu. Mungkin untuk saat ini.
Rukia terdiam selama Ichigo memeluk tubuhnya erat, menaiki anak tangga menuju kamarnya semula. Rukia bisa merasakan rasa tegang di seluruh tubuhnya yang kaku. Matanya tak bisa menatap Ichigo secara langsung. Bahkan untuk menyentuh bahunya—bertumpu kepada sang Beta—memberikan keraguan dari jari-jarinya yang bergetar ringan.
Rukia takut kepada dirinya sendiri. Hanya dengan melihat reaksi Ichigo kepadanya, gadis itu takut untuk menebak.
Apakah Ichigo mulai merasa takut kepadanya? Membencinya karena kekuatan Yuki No Crystal di dalam tubuhnya?
Ichigo membaringkan Rukia di atas ranjangnya. Pria itu yang diam tanpa kata-kata.
Lalu, perlahan senyum itu terukir. Ichigo yang menampakkan seringai khasnya. Sebelah tangannya terulur untuk membelai kepala Rukia.
"Ada apa denganmu? Karena aku hampir menerkam kakakmu?"
Rukia mendengus, mendengar itu sedikit menggelikan.
"Kautahu kakakku akan menghajarmu lebih dulu," balas Rukia.
"Benarkah? Aku sama sekali tidak takut dengannya."
"Apa kau takut … kepadaku?"
Ichigo terdiam, berusaha mencari sebuah kesalahan di wajah Rukia. Sedikit keraguan yang tak dimengerti dirinya.
"Karena kau adalah sang Ratu? Ya, jujur saja itu mengagetkanku. Wow, aku sama sekali tidak menduganya."
Rukia menggigit bibir bawahnya. Wajahnya menunduk. "Ini jawabannya, Ichigo. Selama ini aku terus mencarinya dan begitu jawabannya terungkap, entah mengapa aku sama sekali tak memercayainya. Pada awalnya ini terdengar tak masuk akal sama sekali. Apa yang mereka cari—Quincy—selama ini ada di dalam tubuhku. Yuki no Crystal."
"Hei," panggil Ichigo, dia yang ikut menunduk dengan jari-jari yang membelai pipi Rukia. "Ini sama sekali tak mengubah apa pun. Kau adalah tetap Rukia yang semula, Rukia yang kukenal—gadis kikuk yang sungguh keras kepala juga sulit diatur."
Rukia setengah memelototinya saat sang Beta terkekeh karenanya.
"Juga manis. Kautahu aku akan selalu berada di sisimu, apa pun yang terjadi. Itu adalah janjiku kepadamu dan tak akan kulupakan." Ichigo menunduk, mengecup pipi Rukia yang terasa dingin di bibirnya. "Sekalipun kristal itu ada di dalam tubuhmu, aku tidak peduli. Aku akan melakukan apa pun untuk melindungimu, Rukia. Karena itu, tak ada yang perlu kau khawatirkan, mate. Bergantunglah kepadaku?"
Rukia mengerjap, merasa gugup. Tenggorokannya seperti tercekat, sulit untuk menarik napas. Dan ketika mata Ichigo menatapnya tanpa berkedip. Sang Beta yang menampakkan senyum manisnya.
Tangan Rukia bergerak tanpa berpikir. Perlahan terangkat dan memukul tepat di belakang kepala Ichigo, hampir ke leher.
Pria itu hampir merutuk dengan geraman rendah.
"Rukia—"
"Ja-jangan lakukan itu! Apa yang kaulakukan di bawah sana tadi sangatlah riskan! Kau kehilangan kontrolmu dan mau menyerang kakakku…."
"Lalu apa yang harus kulakukan? Aku sudah menunggu di bawah sana lebih dari satu jam! Penyihir itu tidak membiarkanku masuk untuk melihatmu, lalu kakakmu datang tanpa menjelaskan apa pun. Ini teritori kami."
"Apa kau berhak melarangnya untuk menemuiku? Aku juga membutuhkannya, setelah nii-sama menghilang tanpa penjelasan. Aku merindukan kakakku."
Ichigo terdiam begitu mendengar gertakan Rukia. Gadis itu lebih kuat daripada yang diperkirakannya. Seorang ratu yang bisa membuat nyalinya menciut. Seorang mate yang sudah menguasai hati juga akal sehatnya.
"Jadi, kau tidak merindukanku?" celetuk Ichigo.
Rukia terbelalak. Wajah Ichigo setengah memberengut dengan alis tertekuk tajam. Matanya sedikit berbinar. Air matakah?
'Yang benar saja,' pikir Rukia dalam hati.
"A-ah…. Mengapa kau menanyakan hal itu?"
"Kau sangat membutuhkan kakakmu tapi tidak denganku. Itu yang kaumaksud?"
"Tentu saja tidak." Rukia mendesah satu kali, memijit pelipisnya dengan sebelah tangan. "Aku juga … mengkhawatirkan dirimu…."
Ichigo menarik napas lega, menyandarkan kepalanya pada bahu Rukia. Sang Beta yang tersenyum simpul, menyembunyikan wajah lelahnya.
"Hanya mendengar itu darimu, aku merasa lega. Terima kasih, Rukia."
Gadis itu tak pernah menduga, terkadang sang Beta membutuhkan perhatian lebih darinya. Efek dari ikatan mate yang membuat keduanya tak bisa menjauh.
Tangan Rukia terdiam kaku di udara, tidak tahu harus melakukan apa. Dia yang setengah menganga, merasakan beban tubuh sang Beta pada bahunya. Dan napas hangat itu menyapu kulit di lehernya, memberikan gelitik ringan.
"Ba-bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Rukia. "Aku melihatmu terluka saat melawan para Quincy."
"Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir. Aku cepat pulih dibandingkan denganmu. Ambillah waktu untuk beristirahat."
Rukia melihat kakinya yang terjulur di atas ranjang. Berusaha menggerakkan sedikit kaki kanannya, merasakan rasa ngilu yang membuatnya mengernyit.
"Apa yang Byakuya katakan benar? Kau akan segera pulang?"
Rukia tersentak, hampir melupakan hal yang satu itu. Ketika kakaknya berharap kepadanya. Rukia menantikan rumah yang sudah lama dirindukannya.
Dan Ichigo, pria itu tidak ingin melepaskan tangannya.
"Cepat atau lambat, aku harus segera kembali," bisik Rukia, merasakan rasa tercekat di tenggorokannya. Dia yang tak ingin mengucapkan kata perpisahan.
Ichigo memeluk tubuh Rukia, merasakan kepedihan di dalam hatinya. Tak bisa disangkal, sang Beta mulai luluh dengan perasaannya sendiri. Bagi seorang mate yang terikat kepadanya.
Rukia bisa mendengar detak jantung pria itu, berdetak cepat untuknya. Perwakilan rasa sakit karenanya. Dia yang akan ditinggalkan di belakang tanpa bisa melakukan apa pun.
"Haruskah berpisah? Aku tidak ingin," ucap Ichigo, suaranya sedikit bergetar. "Ini menyedihkan. Aku tidak bisa melindungimu bila kau pergi, Rukia. Apakah egois bila aku memintamu untuk tetap tinggal?"
Rukia tidak pernah menduga ini. Ichigo yang protektif dan tak memberikan ruang baginya, bahkan ketika dirinya harus kembali. Pulang. Ketika dirinya mulai menjauh, Rukia merasa keterhilangan. Sesuatu—hatinya sebagian hilang darinya. Ichigo.
Kejujuran mengatakan untuk tetap berada di sisi pria itu. Dia yang rela meninggalkan kehidupan lamanya untuk tetap bersama sang Beta.
"Apakah ini yang dimaksud dengan ikatan mate?" tanya Rukia. Jari-jari gadis itu membelai rambut Ichigo, sehalus bulu werewolf-nya. "Mengapa rasanya begitu sakit?"
Ichigo tersentak, memundurkan tubuhnya untuk melihat wajah Rukia lebih jelas. Mata gadis itu tertutup rapat dan dahinya berkerut. Bibirnya bergetar menahan rasa pilu.
"Rukia," panggil Ichigo lembut. Kedua tangannya menangkup wajah Rukia. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu … tidak dengan apa yang kukatakan. Hanya saja, ini terasa berat bagiku, seperti apa yang kaurasakan. Ikatan mate, ternyata ini tak semudah yang pernah kubayangkan."
"Apa kau menyesalinya?" Sebuah pertanyaan yang sudah lama terdiam dalam benaknya. Ketika sang Beta, pada awalnya, tak meyakini arti dari mate itu sendiri. Dan sekarang, Ichigo meyakininya sepenuh hati, bahkan mengutamakan perasaannya kepada Rukia secara terang-terangan.
Ichigo membelalakkan matanya. Bentuk rasa tertolak terpatri di sana.
"Aku tidak … tidak seperti itu." Kepalanya menggeleng cepat, bibir tersenyum miris. "Ini hal terbaik yang pernah kurasakan dalam hidupku, mengapa harus menyesalinya? Kau—hanya kau yang ada di pikiranku, Rukia. Kau adalah hatiku."
Rukia menarik leher Ichigo mendekat kepadanya, memberikan satu kecupan manis pada bibirnya. Kecupan yang perlahan menjadi candu, jenis ciuman yang membuat dada terasa membuncah. Gadis itu yang tak tahu harus melakukan apa selain memeluk tubuh sang Beta seerat mungkin dan tak membiarkannya menjauh.
Mereka yang mulai tenggelam dalam perasaan masing-masing, merasakan rasa manis itu menguasai benak. Sang Werewolf yang kehilangan kekuatan dan kekeraskepalaannya, dan sang Ratu yang meninggalkan takhtanya untuk lima menit tersisa.
Hingga ketukan dan dehaman terdengar dari pintu kamar.
Rukia terengah, mendorong tubuh Ichigo secepat mungkin. Pipinya memerah seperti apel ranum.
Kaien berdiri di sana, bertumpu pada daun pintu dengan tangan terlipat di depan dada. Seringainya muncul saat Ichigo memelototinya.
"Maaf, tidak bermaksud mengganggu kalian," ucap Kaien.
Kelegaan membuat Rukia mendesah. Dia bersyukur itu bukan sosok kakaknya yang berdiri di depan pintu. Berbanding terbalik dengan Ichigo yang merutuk dalam tarikan napasnya.
"Bisakah kau tidak melakukan itu?" geram Ichigo.
"Ohh, kau mengharapkan orang lain yang muncul? Itu tidak akan berakhir baik, Sepupu."
"Ada apa?" Ichigo beringsut ke sisi Rukia, setengah menyembunyikan tubuh gadis itu dari arah pandang Kaien. Sikap protektifnya kembali muncul.
"Aku mendengar sedikit pembicaraan paman dan pangeran fairy. Sepertinya masalah ini menjadi lebih rumit dari yang kaukira, Ichigo. Kau dalam masalah besar ketika sang pangeran tidak akan menyerahkan adiknya kepadamu dengan mudah."
Ichigo mendengus, memutar bola matanya. "Aku sudah tahu itu, kau tidak perlu menjelaskannya lagi."
"Lalu? Kau akan menerima takdirmu begitu saja? Atau kau akan berduel untuk mendapatkan tuan putrimu—ratu, maksudku."
"Hei, aku bukan taruhan di sini," protes Rukia.
"Bila menyangkut soal kakakmu, kupikir kau tidak akan bisa berbuat banyak," kata Ichigo, melirik Rukia yang memberengut di balik bahunya. "Aku sudah memikirkan beberapa cara. Percayalah, aku pun tidak beniat memulai peperangan dengan bangsa fairy."
"Bicara akan menjadi pilihan yang sulit," ungkap Kaien. Dia yang mengangkat tangannya ke udara. "Itu menurutku. Pilihan ada di tanganmu, Sepupu. Tapi ketahuilah, aku ada di sini untuk mendukungmu."
"Mendukung seperti membantuku untuk mewujudkan rencanaku?"
Kaien menyeringai. Mata biru lautnya berubah sedikit lebih terang, memberikan rasa awas. "Katakan saja. Aku siap membantumu."
"Jadi kalian mulai bersekongkol atau apa?" bisik Rukia, bertanya hati-hati. Dia memerhatikan perubahan emosi Ichigo yang menatap Kaien penuh kepercayaan. Rasa percaya diri sang Beta perlahan kembali bangkit.
"Aku lebih memercayai Kaien daripada siapa pun. Kami seringkali bekerja sama ketika kami masih menjadi bocah werewolf yang tak tahu dunia luar. Melakukan misi untuk mencuri buku juga peta rahasia di ruangan pribadi ayahku yang kuyakini sebagai peta harta karun, atau mencuri kendaraan pribadi kelompok untuk pergi menonton acara musik di pusat kota."
"He's my precious partner-in-crime," ujar Kaien. "Seperti Sherlock dan Watson."
Rukia mengernyit, memicingkan matanya. Dia tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.
"Aku tidak tahu, tapi aku memiliki firasat buruk mengenai hal ini." Rukia bergumam. Tangannya mengambil bantal dan melemparkannya ke tubuh atas Ichigo. "Jangan coba menantang kakakku! Itu tidak akan menghasilkan apa pun."
"Hei, aku belum mengatakan apa pun!"
"Kau berniat, aku bisa tahu itu. Kau melihat masalah sebagai sebuah tantangan!"
"Kalau menculikmu, apakah itu sebuah tantangan?"
Rukia membelalakkan matanya. Dia yang membeku di tempat. Suara tawa Kaien seperti cemoohan yang terdengar menggelikan. Ichigo hanya tersenyum dan meyakini kata-katanya sebagai sebuah solusi nyata.
Entah apa yang harus dilakukannya. Yang pasti, Rukia merasa sulit untuk menolak pesona sang Beta. Dia yang mulai bisa menerima bahwa ikatan benang merah yang mengikatnya pada Ichigo tidak mudah untuk diputuskan.
…..~*(to be continued…)*~…..
.
.
.
.
.
.
.
Author's note:
It's been a while! Terima kasih buat reader yang sudah mau menunggu, aku baru bisa update sekarang. Aku mulai merasa sedikit sulit saat mengetik sekarang ini. Dulu, di awal-awal chapter, sangat mudah buat mengetik apa yang ada di dalam pikiran. Tapi, sekarang rasanya sulit buat mengetik apa yang aku inginkan. Selalu ada koreksi dan 'apa ga sebaiknya adegan ini begini?' atau 'apakah ini sebuah penyelesaian yang tepat?'. Karena itu aku membutuhkan waktu untuk mengetik. Memperhitungkan ide awal dan penyelesaian konflik yang terjadi jadi poin penting, bahkan aku hampir lupa beberapa ide yang pernah kutulis sebelumnya. I'm feeling so bad….
Yhwach sebenarnya tertidur akibat kekalahan perang bersejarah mereka di masa lalu. Dan sampai sekarang dia masih belum pulih. Quincy berusaha membangunkan kembali raja mereka dan mendengar kabar Yuki no Crsytal yang menjadi kekuatan utama bangsa peri Utara. Mereka berusaha merebut kristal itu untuk menjadi dasar kekuatan Yhwach.
Byakuya kembali! Dia adalah pangeran, bukan raja spring fairy. Rajanya adalah ayahnya, tapi masih menunggu untuk mengeluarkan perannya di sini. Byakuya menikah dengan Hisana yang merupakan seorang ratu, itu tidak dilarang walau keduanya adalah ahli waris takhta kerajaan. Antar sesama bangsa peri ini adalah sebuah kehormatan besar. Hisana tewas secara tragis di tangan Quincy demi melindungi kerajaan juga adiknya, Rukia. Saat itu terjadi perang besar antar Quincy dan winter fairy. Ingin membahas masalah ini secara khusus, mungkin nanti.
Kaien adalah Alpha dari kelompok werewolf Kanada. Dia sepupu Ichigo dan Isshin adalah pamannya. Dia dan Ichigo memiliki hubungan baik dan teman bersekongkol saat mereka masih kecil.
Terima kasih sekali lagi buat yang masih membaca dan menunggu fic ini sampai sekarang. Ya, beberapa chapter lagi fic ini akan selesai, mungkin 2 termasuk epilog. Dan aku sedang merencanakan season 2 nya, buku baru. Tapi belum kutulis plot secara keseluruhan jadi mungkin masih harus menunggu. Rencana di season berikut akan membahas mengenai winter fairy dan peran Rukia sebagai ratu. Juga Yhwach yang kembali terbangun (?). Kemungkinan season berikut akan sedikit berbeda (gaya penulisanku), 1 chapter lebih pendek jumlah words nya dibandingkan season ini, tapi mungkin akan lebih banyak chapter. Juga memungkinkan aku update lebih cepat (I hope soo ^^). Please support for make this happen xD
.
Balasan untuk pertanyaan reviewers:
Azura Kuchiki: Senjumaru itu penyihir yang ditemui Rukia dan Ichigo di Memphis. Mereka yang cari Senjumaru pakai kompas pemberian Isshin (dari Byakuya).
Allen Walker: Masa lalu Rukia diceritakan di chapter ini ^^ walau ga semunya mendetail, masih garis besarnya saja. Rukia butuh waktu buat dengar semuanya.
amie haruno995: Ya, Byakuya muncul di chapter ini. Quincy yang mereka lawan kemarin memang yang kelas kakap, jdi ga terduga munculnya dan hampir saja pertahanan werewolf hancur karena mereka.
KucikiNaruki: Tidak bisa dibukukan karena ada lisensinya, jdi hanya sebagai fanfic saja ^^. Wattpad masih lanjut, tapi ga secepat yang di sini. Bakal kuupdate lagi nanti di sana.
Terima kasih banyak untuk Azura Kuchiki, yuliita, Allen Walker, Rukichigo, wowwoh geegee, Izumi Kagawa, amie haruno995, KucikiNaruki, Hilfa arfi h, Vanilla Blue, terima kasih buat kritik saran dan pendapat kalian melalui review. Love you all!
Playlist:
Celine Dion- Ashes
Shawn Mendes- In My Blood
Kendrick Lamar with SZA- All The Stars
Vince Staples with Yugen Blakrok- Opps
Illenium feat MAX- Beautiful Creatures
BTS- Fake Love, The Truth Untold (with Steve Aoki), Outro: Tear
These songs don't belong to me…
