::The Dark Legacy— First Quarter::

By: Morning Eagle

Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::

Just to warn you all :: AU, OOC, misstype...for this story


Scene 21: Being a Part of You

~0*0~

.0.

.

.

.

.

.

.

.

Rukia menggerak-gerakkan kakinya, merasakan tumit juga pergelangan kakinya tak lagi terasa sakit. Hanya dalam satu malam dia bisa kembali berjalan dengan normal. Sebuah keajaiban—majis yang benar-benar nyata. Semuanya berasa dari tangan ajaib kakaknya, dia sang pangeran sakura yang memiliki kekuatan majis yang di luar ekspetasi gadis itu. Kekuatan penyembuh bukan salah satu dari tebakan mulus akal pikirnya.

Sekelebat pikiran akan rasa iri yang berasal dari sebuah kata penasaran membuat Rukia bertanya-tanya dalam hati, 'apakah aku juga mampu untuk menyembuhkan seseorang?'

Pagi yang berawal dari sebuah ketenangan di luar perkiraan. Kediaman werewolf di Montana terasa lebih hening dari malam sebelumnya. Tidak banyak orang yang terlihat berjalan-jalan di dalam rumah atau sekadar duduk di sofa ruang tengah depan perapian. Rukia tidak menemukan siapa pun hingga sosok ramping Rangiku membelakanginya di area dapur. Rambutnya yang tergerai cantik kini dililit membentuk messy bun.

"Kemana semua orang?" tanya Rukia, mencuri pandang pada apa yang sedang dikerjakan Rangiku. Wanita werewolf itu sedang mengaduk adonan di dalam sebuah mangkuk besar.

"Sudah bangun rupanya? Bagaimana dengan kakimu?" tanya Rangiku, membalas dengan sebuah senyum manis.

"Lebih dari baik, kurasa. Aku bisa mencoba untuk berlari tanpa kesulitan."

"Tough girl, aren't you? Kau sungguh terlihat sepadan dengan Beta, Rukia. Kalian memiliki jiwa pejuang yang sekeras batu." Rangiku terkekeh geli, mengambil segenggam gula untuk ditaburkan di atas adonan. "Kalau kau mencarinya, Beta sudah tak terlihat sejak pagi. Sebagian kelompok werewolf Utara sudah kembali ke Kanada dan beberapa anggota kelompok kami sedang melakukan patroli keliling. Mungkin mereka akan kembali saat jam makan siang."

"Dan aku tidak melihat kakakku."

"Pangeran Kuchiki? Mungkin ada di ruangan Alpha. Lantai dua belok kiri setelah tangga utama. Alpha pun belum menunjukkan batang hidungnya sejak pagi. Aku bahkan tak begitu peduli ke mana semua orang pergi tanpa melibatkan diriku. Cukup menyebalkan untuk menjadi seorang wanita werewolf yang terabaikan."

"Tapi kau sangat tangguh, Rangiku," ujar Rukia, berusaha memberikan sedikit kepercayaan juga semangat pada werewolf anggun yang kini setengah memberengut di sebelahnya. "Mereka hanya tidak bisa melihat itu karena mereka laki-laki yang terlalu percaya diri."

Rangiku tertawa, hampir menumpahkan adonan di dalam genggamannya ke atas lantai dapur. "Kau benar, Rukia! Bahkan, Kensei harus mendapat bantuan dariku saat Quincy hampir menghantamkan tubuhnya ke tepian danau. Mereka hanya mengandalkan otot, tidak dengan kepala."

"Aku mendengar itu, women!" Suara keras terdengar dari pintu kaca belakang dapur. Kensei dengan sebelah tangan membawa karung yang berisi kayu-kayu yang telah dipotong. Dia masuk dengan bertelanjang dada, memamerkan apa yang dimaksud Rangiku, otot-otot yang sekeras baja.

"Dan kau masih memiliki telinga yang cukup tajam," kata Rangiku, setengah mengejek. "Kalian pergi berburu atau apa?"

"Mencari kayu bakar. Yang lainnya sedang menyisir area Utara ke Barat, mengikuti jejak Quincy yang tertinggal." Mata Kensei bertemu dengan Rukia yang terdiam di samping Rangiku. Gadis itu terlihat jauh lebih kecil saat Kensei berdiri di hadapannya. "Dan jangan terlalu lama berada di dekatnya, Rukia. Dia pandai memanipulasi pikiran orang lain."

"Jangan bicara melantur, Kensei! Atau kau tidak akan mendapat jatah makan siangmu," ancam Rangiku.

Kensei mendengus, menaikkan sebelah alisnya terlalu tinggi. "Kau yang memasak?"

"Meragukanku?"

"Kau memasak tidak lebih baik dari Beta," ujar Kensei. "Dan menangani makan siang seorang diri? Kau tidak akan mempermalukan kami di depan sang pangeran, bukan?"

Rangiku membelalakkan matanya, menatap Rukia seakan baru saja tersadar.

"Nii-sama bukan orang yang pemilih," kata Rukia tergagap. "Mungkin … sedikit…."

"Kau bisa membantuku untuk memasak," tambah Rangiku, menyarankan dengan jempol terangkat. "Masalah terselesaikan!"

"Tapi … aku tidak begitu bisa memasak…."

Kensei tertawa, mengeluarkan udara dari paru-parunya. Suaranya hampir menggema di dalam rumah utama yang kosong dari para werewolf.

"Maaf, tapi kalian benar-benar dalam masalah besar!"

"Kita," ralat Rangiku, memukul Kensei dengan sendok kayu besar di tangannya. "Uggh—seandainya ada Shuuhei di sini!"

"Kupikir kau memiliki satu bantuan lagi yang bisa menolong, walau aku tidak begitu menyarankannya."

"Siapa?" tanya Rukia ingin tahu. Dia pun tidak ingin membuat malu kelompok werewolf di depan kakaknya. Rukia berada di pihak Ichigo, tentu saja ketika ikatan mereka terasa lebih kuat daripada sebelumnya. Sebut saja sebagai sebuah tindakan spontan.

Rangiku tahu siapa yang dimaksud Kensei. Dia hanya bisa mendesah dengan wajah yang mengkerut.

"Aku tidak begitu yakin dia mau untuk membantu, Kensei."

"Beta bisa memintanya. Hanya Ichigo yang bisa membujuknya."

"Siapa?" tanya Rukia lagi.

Kensei menatap Rukia penuh penyesalan, seakan dia sudah salah bicara, atau memang seperti itu. "Senna. Dia bisa diandalkan untuk persoalan dapur."

Rukia tak bisa menepis rasa dingin yang seakan merayap di tenguknya. Memori buruk yang tak begitu ingin diingatnya mulai kembali ke permukaan. Senna, sahabat Ichigo yang mengerti sosok sang Beta lebih daripada dirinya. Satu-satunya orang yang mampu memberikan sebuah rasa buruk yang tak diinginkannya untuk keluar.

Rasa iri.

Rukia mendesah, menyerah pada kenyataan. "Baiklah, mengapa tidak? Maaf tidak bisa membantumu, Rangiku."

"Untuk apa meminta maaf?" Rangiku merangkul bahu Rukia, berusaha menyemangatinya. "Aku bisa menangani beberapa werewolf yang kelaparan. Mungkin, kakakmu tidak masalah dengan daging panggang setengah matang dan beberapa potong roti? Atau kalkun? Ahh—kita tidak memiliki persediaan kalkun selain untuk acara thanksgiving."

"Tidak perlu makanan yang mewah. Nii-sama cukup menyukai salmon atau mie soba."

Rangiku terdiam, begitu pula dengan Kensei. Dua orang yang terlihat putus harapan.

"Nii-sama … tidak begitu suka daging setengah matang," jawab Rukia, akhirnya.

"Kita benar-benar dalam masalah. Tidak ada pilihan lain, bukan?" kata Kensei.

Dan mereka berakhir canggung ketika Rangiku memutuskan untuk mencari Senna. Seperti yang Kensei duga, gadis keras itu tidak mau beranjak dari pos patrolinya sampai akhirnya Ichigo turun tangan. Sang Beta baru saja selesai melakukan tugas keliling di area hutan sebelah Barat, dia yang meminta Senna untuk membantu Rangiku memasak makan siang.

Rukia hanya bisa duduk di kursi meja makan, memerhatikan Senna mengerjakan tugasnya terlalu mudah. Gadis itu terlihat memukau—Rukia akui itu dengan hati yang tak tenang. Menggigiti bibir bawahnya adalah salah satu tindakan yang kentara.

Ichigo duduk di sebelah Rukia, mengamati pergerakan Rangiku dan Senna yang memutuskan untuk memasak salmon panggang dengan saus salsa. Sebelah tangan sang Beta menggenggam tangan Rukia, jari-jari saling terkait. Sebuah tindakan fisik yang memberikan debaran ringan pada jantung sang gadis. Rukia belum terbiasa untuk hal itu.

"Ada apa denganmu?" tanya Ichigo, mengalihkan perhatian Rukia yang terpaku pada Senna.

"Hmm? Apa?"

"Dahimu mengkerut dan kau terlihat tak tenang," ujar Ichigo. "Aku bisa merasakannya."

Rukia memutar bola matanya. "Kau melakukannya lagi, menebak apa yang kurasakan."

"Itu tak bisa kusanggah, Rukia. Kau terbaca terlalu jelas."

Rukia mengangkat bahunya, berusaha menepis. "Hanya sedikit lelah."

"Apa kakimu masih sakit?"

"Nii-sama sudah mengobatinya. Aku baik-baik saja sekarang." Rukia mendapati Senna sesekali melirik ke arahnya, juga Ichigo. Sepasang mata tajam itu membuat Rukia semakin kehilangan rasa percaya diri. Entah apa yang bisa digambarkannya ketika situasi pun tidak begitu adil bagi Senna.

Rukia mengerti posisinya, di mana Senna pun berhak mendapatkan apa yang diinginkannya. Sebuah hubungan yang tak bisa Rukia tepis, bahwa Senna adalah salah satu orang terpercaya Ichigo.

Sahabat, kawan sejak kecil, partner.

Acara makan siang tidak merubah keadaan menjadi sedikit lebih baik. Rasanya seperti menelan bongkahan batu, Rukia hanya bisa terdiam selama Isshin dan Byakuya masih membicarakan masalah perbatasan juga sedikit masa lalu. Relasi yang terjalin erat antara kelompok werewolf dengan kaum peri musim semi. Sang pangeran peri tak mengerutkan dahinya saat mencicipi salmon panggangnya, bahkan tak menyadari tatapan khawatir Rangiku dari seberang meja.

Sang pangeran lebih memfokuskan tatapan tajamnya pada Beta, yang duduk tepat di hadapan Rukia pada meja panjang di ruang makan. Byakuya menyimpan sesuatu yang ditujukannya kentara—rasa tak suka ketika Ichigo sesekali mencuri pandang ke arah Rukia sesekali atau memberikan sedikit ulas senyum yang dinilai terlalu congkak. Bagi seorang kakak yang terlalu protektif.

"Dan mungkin ini adalah hari terakhir kita makan bersama denganmu, Byakuya," ujar Isshin, tersenyum simpul. Tatapannya jatuh pada Rukia. "Juga denganmu, Rukia. Aku akan merindukanmu."

Rukia melihat Ichigo menghentikan gerakan tangannya, garpu setengah terangkat di atas piring. Matanya terbelalak besar, menatap ayahnya tak percaya. Dan rahangnya mengatup keras.

"Apa maksudmu, old man?" tanya Ichigo terdengar sinis, hampir mendesis.

Isshin mendesah singkat sebelum Byakuya yang angkat bicara. Sang pangeran tak banyak menunjukkan gerakan tubuh. Hanya matanya yang berbicara lantang.

"Kami akan kembali ke Jepang besok siang."

Ruang makan tak terasa lebih canggung dari sebelumnya, hening yang mencekam. Itu berpusat dari sang Beta yang menggertakkan rahangnya, kedua tangan terkepal erat di atas meja. Kensei memerhatikan Ichigo lekat, dia yang duduk di samping sang Beta dengan raut wajah khawatir. Isshin tak berbeda jauh, memelototi Ichigo yang terlihat siap menerjang Byakuya kapan pun. Bahkan detik itu juga.

"Barikade yang kami buat sudah cukup tangguh untuk menghalau Quincy sekalipun. Rukia akan jauh lebih aman di sana, bersama denganku. Dia masih terlalu muda untuk bisa mengontrol kekuatannya seorang diri," lanjut Byakuya, menjawab keheningan yang terasa ganjil.

"Dan kami pun cukup kuat untuk melindungi Rukia dari para penghisap darah itu," geram Ichigo. Sebelah alisnya naik terlalu tinggi, menanggapi kata-kata Byakuya yang terdengar remeh baginya. "Kau tidak perlu meragukan kelompok kami."

"Terlalu berat risiko yang akan ditanggung. Rukia memiliki kehidupannya, di rumahnya yang sebenarnya. Aku tidak ingin adikku terluka karena keteledoranmu, Beta," balas Byakuya. "Ketika kau pun masih tidak bisa mengontrol emosimu. Terlalu muda untuk menyandang gelar Alpha selanjutnya."

"Ichigo," tegur Isshin ketika anaknya hampir menggeram rendah.

Rukia merasa lelah dengan ini. Ketika tidak ada satu pun pihak yang bisa diharapkannya. Mereka yang berseteru karena dirinya. Gadis itu makin merasa bersalah tanpa sebab jelas.

Ichigo menyerah setelah aksi bersitegang itu tak kunjung berakhir. Dia yang lebih memilih mundur, kali ini meninggalkan ruang makan dan beranjak ke lantai atas. Isshin tak menghentikannya, justru merasa lega.

Rukia tercekat oleh napasnya sendiri, bahkan ketika Ichigo tak sekalipun menoleh ke arahnya. Seakan sang Beta pun menyerah pada takdir itu sendiri.

Dan kekeraskepalaan Rukia mengalahkan segalanya. Gadis itu mengikuti kata hatinya, mengikuti sosok Beta tanpa menghiraukan panggilan Byakuya di belakang punggungnya.

Hatinya, jiwanya memanggil Ichigo untuk kembali kepadanya. Ini terasa aneh, bahkan kakinya terasa bergerak dengan sendirinya.

Kekuatan mate yang masih tak bisa dimengertinya.

.

.

…..~***~…..

.

.

Rukia merasa ragu pada awalnya, melihat pintu kamar Ichigo tak terkunci dan jendela ke beranda terbuka lebar. Punggung Ichigo tepat berada pada arah pandangnya. Gadis itu bisa merasakannya—ikatan juga emosi yang tersalurkan—kesedihan Ichigo yang berupa kebisuan.

Langkah kecil Rukia tak berderit pada lantai kayu, tapi punggung Ichigo menegang saat gadis itu hanya berjarak satu kaki di belakangnya. Ichigo menyadari kedatangannya dan membiarkan hal itu tanpa perlu menoleh ke belakang. Dia pun terlalu lelah hanya untuk melihat kekecewaan yang bercampur kebingungan di wajah sang gadis.

"Ichigo," panggil Rukia, hampir berbisik. Ichigo masih bersandar pada pagar kayu, memandang ke arah hutan.

"Kautahu kau akan pulang besok," kata Ichigo, bergumam dengan suara rendah. "Karena itu kau murung sepanjang hari ini, bukan?"

"Aku tidak—" Rukia menggeleng, menarik napas panjang. "Aku pun tidak tahu hal itu, Ichigo. Nii-sama, aku tidak mengira dia akan memutuskannya tanpa bicara denganku terlebih dulu."

"Dan kau akan mengikuti apa yang dia katakan." Ichigo menatap Rukia, dengan rasa gusar juga tak tenang. Matanya jernih dengan perasaan jujurnya. "Kembali ke Jepang. Tentu saja, kau memiliki kehidupan di sana. Tidak ada alasan untuk memintamu tetap berada di sini lebih lama."

"Rasanya seperti mimpi musim panas," gumam Rukia. Semilir angin memberikan rasa tenang dalam degupan jantungnya. Di sisi Ichigo, itu melebihi apa pun juga. "Tapi ini benar-benar nyata. Aku pun tidak ingin kembali dan melupakan segalanya. Meninggalkan semuanya di belakang—semua kenangan ini. Lalu dirimu…."

"Kalau begitu, tinggalah. Apakah egois bila aku memintamu untuk tetap tinggal?"

"Kautahu kalau aku tidak bisa … Ichigo."

"Aku—aku bisa melindungimu di sini, di Manhattan, Rukia. Pertahanan kami lebih kuat daripada sebelumnya; Kaien akan membantu untuk memperkuat barikade. Tidak ada lagi Quincy yang bisa mendekat dan berusaha melukaimu, tidak tanpa melewatiku lebih dulu."

"Lalu, bagaimana dengan kekuatanku?" tanya Rukia. "Kekuatan ini sangat besar dan aku tidak tahu cara mengontrolnya. Nii-sama—hanya dia yang tahu caranya…."

"Aku bisa meminta bantuan Senjumaru—"

"Tidak cukup, Ichigo, kautahu itu."

Ichigo terbungkam. Dia tak bisa memikirkan alasan lagi untuk menahan Rukia tetap di sisinya. Meminta gadis itu tinggal. Tidak dengan perasaannya sendiri—keegoisan yang mungkin akan berdampak buruk bagi hubungan mereka.

Hubungan mate ini perlahan membuat Ichigo menjadi gila. Karena luapan emosi yang tak bisa ditahannya.

"Bagaimana kalau ini karenaku?" Ichigo menegakkan tubuhnya, berbalik menghadap Rukia. Dia yang membuat gadis itu gugup di tempat. "Karena aku yang meminta. Aku tidak bisa menjalani ini tanpamu, Rukia."

Lidah Rukia kelu. Dia tidak bisa membalas kata-kata Ichigo. Sebuah luapan perasaan yang dirinya pun tahu itu nyata. Karena gadis itu merasakan hal yang sama. Luapan emosi itu—

"Aku mencintaimu, dan ini bukan karena mate semata," lanjut Ichigo, menundukkan wajahnya. Kedua tangannya terulur, bertumpu pada bahu Rukia, menarik gadis itu mendekat perlahan. "Kau adalah duniaku sejak pertama kali kita bertemu. Pertama kali aku melihatmu, di jalan sempit di Tokyo, malam itu. Perlahan aku pun mulai menyadarinya, kau mengubahku dengan caramu, berikut apa yang kurasakan. Hatiku…."

Mata itu—sepasang mata sewarna dengan lidah api. Rukia tak bisa mengalihkan pandangannya, berikut perasaannya yang kini saling terhubung. Kekuatan mate, di mana hanya masing-masing pasangan yang tahu. Ikatan yang tak terpatahkan, tak tersanggahkan. Rukia tak bisa menepisnya menjauh, justru semakin terikat dan terjatuh dalam lubang tanpa dasar. Penuh rasa manis yang membuatnya mabuk kepayang.

Cinta tanpa syarat.

Rukia tidak sempat merespon ketika Ichigo menunduk lebih rendah. Wajahnya tepat berada di depan wajah gadis itu. Napas sang Beta menyapu lembut pipi Rukia yang kini merona merah. Mata gadis itu membesar, mengerjap, membiarkan Ichigo mengambil langkahnya. Ketika pria itu menyapukan bibirnya pada bibir sang gadis.

Rukia tertegun, menutup matanya dan mendengar suara angin seakan melingkupinya. Dia tidak tahu di mana dia berada, siang atau malam langit menyapa. Hanya dirinya dan Ichigo, kehangatan sang Beta memeluk tubuhnya hangat. Bibirnya sedikit terbuka ketika Ichigo memagutnya lembut, menunjukkan afeksinya lebih jelas. Rasa di hatinya membuncah keluar, tanpa kata.

Gadis itu tak mendapatkan kesempatan untuk menarik napas sejenak. Ichigo mengangkat tubuh Rukia, memeluknya erat ketika kedua kakinya terkait di belakang pinggul sang Beta. Kaki Ichigo melangkah tanpa beban, masuk ke dalam kamarnya. Dia terduduk di atas sofa dengan Rukia berada di atasnya, di pangkuan juga pelukan tangannya. Tak membiarkan gadis itu menjauh.

Ichigo membisikkan nama Rukia seperti sebuah mantra. Bibirnya menelusuri rahang dan turun ke leher gadis itu, bertumpu pada bahu yang sedikit terekspos. Ichigo bisa merasakan rasa dingin menyentuh kulit wajahnya, sedikit kekuatan Rukia berikut wangi es di penghujung musim panas. Manis dan dingin. Hanya miliknya seorang.

Rukia menangkup wajah Ichigo, menjauhkan wajah sang Beta dengan tangan yang gemetar. Rukia ingin menatap matanya, sepasang api membara yang seindah kelembutannya. Sang Beta hanyut dalam kekalutan juga kebahagiaan gadis itu, tersembunyi dari raut wajahnya yang bersemu malu. Ichigo tersenyum, balas membelai wajah Rukia dengan hati-hati.

"Mengapa kau begitu mengagumkan, Rukia? Aku semakin tidak ingin menjauh darimu, melepaskanmu begitu saja."

"Ichigo…."

"Kau pun tahu kalau kau tidak ingin," ujar Ichigo penuh percaya diri. Matanya masih mengamati lekat, kepalanya miring ke satu sisi. "Aku tahu apa yang kaurasakan."

"Hentikan itu—berusaha menebak apa yang kurasakan."

"Aku tidak bisa menahannya. Kau terlalu mudah untuk ditebak, love."

Rukia tercekat, terdengar seperti tercekik.

Senyum Ichigo semakin lebar karenanya. Matanya menyipit saat tawanya terdengar. Dia tidak pernah merasa lebih bahagia daripada ini—bersama Rukia di sampingnya. Hanya mereka, menutup dunia di luar sana.

Ichigo bersandar pada bantalan sofa. Kepalanya menengadah, sebelah tangan menyapu rambutnya yang kusut.

"Aku akan memikirkan cara lain," ujar Ichigo.

"Seperti apa?" Rukia mulai merasa nyaman, menautkan tangannya pada leher Ichigo. Tubuhnya bersandar pada sang Beta, sementara telinganya berusaha mendengar detak jantung yang hidup itu. Kali ini hanya untuknya, miliknya.

"Entahlah, aku sedang berpikir. Mungkin kau tidak akan menyukai ideku ini."

"Seperti kau ikut bersamaku ke Tokyo?" tebak Rukia.

Tidak ada jawaban. Rasa takut membuat bulu kuduknya berdiri. Rukia bangun dari posisinya, mendapati Ichigo yang tersenyum lebar kepadanya. Kini gigi putihnya tampak dari sela-sela bibirnya.

"Tidak—kau tidak akan—"

"Bila tidak ada cara lain, maka aku yang akan mengikutimu, Rukia."

"Kau tidak benar-benar berpikir, Ichigo. Kau memiliki segalanya di sini, kehidupanmu. Lalu bagaimana dengan mimpimu? Bukankan kau ingin melanjutkan untuk kuliah di Inggris?"

"Tidak tanpamu," gumam Ichigo, memberengut. "Aku tidak akan bisa melakukannya tanpamu. Lalu, mengenai masalah Quincy yang belum selesai sama sekali. Aku ingin melindungimu dari mereka. Mimpiku itu masalah lain."

"Aku tidak bisa, Ichigo. Ini sama saja aku merengut mimpimu, kehidupanmu."

"Jangan berpikir seperti itu," balas Ichigo, meraih tangan Rukia yang terkepal erat di dadanya. "Hei, kau sama sekali tidak melakukan kesalahan di sini."

Rukia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Menghadapi kekeraskepalaan Ichigo yang setangguh tembok batu.

"Karena kaulah hidupku itu, Rukia. Semuanya bermula semenjak pertama kali aku melihatmu. Aku pun tidak bisa menyangkalnya."

Rukia hanya bisa mengangguk sambil memejamkan matanya erat. Rasa khawatir itu perlahan sirna saat Ichigo menariknya mendekat, sekali lagi mengecup bibirnya yang ranum. Rasa manis yang semakin manis setiap kali terjadi. Apakah itu semua mungkin?

.

.

…..~***~…..

.

.

Manhattan, New York

Rukia berdiri di sana, memandang untuk terakhir kalinya markas sekaligus tempat tinggal utama werewolf Manhattan. Minggu-minggu yang mengancam hidupnya sekaligus membangkitkan adrenalin ganjil telah terjadi di sana. Aneh, Rukia tak begitu membencinya. Semua itu terjadi secara nyata, bahwa cerita dongeng bukanlah sebuah karangan belaka. Dia pun menjadi salah satunya—sang ratu yang terlalu lama tertidur.

Manhattan memberikan warna cerah di akhir keberangkatan dirinya menuju Jepang. Pulang. Rukia akan sangat merindukan ini, semua yang terjadi di kota ini seperti asap yang mengepul ke langit putih. Terasa singkat dan mungkin hanya akan dialaminya sekali dalam seumur hidup. Berikut saat matanya melihat teman-teman yang selama ini menemaninya di kala kesulitan terjadi. Mereka yang sekuat serigala liar itu sendiri.

"Kautahu aku akan sangat merindukanmu," kata Rangiku, merentangkan tangannya untuk memeluk Rukia terakhir kalinya. Dekapan hangat yang erat.

Air mata Rukia hampir menetes. Kekeraskepalaan dirinya berhasil menahan rasa sedih itu. Dia tidak pernah menyukai sebuah perpisahan.

"Tidak ada teman yang sebaik juga sekuat dirimu," lanjut Rangiku.

"Lebih tepatnya, dia tidak akan bisa menggoda hubunganmu dan Beta lagi," tambah Kensei.

"Kau mengganggu momen mengharukan ini, dungu!" gertak Rangiku.

"Dia memang dungu tapi ada benarnya juga," kata Shuuhei. Sang werewolf yang sudah pulih seratus persen. "Rukia tidak akan jadi salah satu bahan gosipmu lagi."

"Siapa yang berani membicarakan hal buruk mengenai sang ratu, huh?" Kensei tertawa keras.

"Sebutan itu masih terdengar aneh bagiku," kata Rukia, tersenyum kikuk.

"Tapi kau memang seorang ratu." Shuuhei membenarkan. "Wah, aku bahkan masih tidak mempercayainya. Ichigo memiliki mate seorang ratu es. Perpaduan hebat macam apa ini?"

"Itu yang menjadi pertanyaanku. Kemana perginya Beta?" tanya Rangiku.

Rukia mengangkat wajahnya, mencari-cari kepala jingga Ichigo di antara para pejalan kaki yang lewat. Dia tidak menemukan pria itu sejak kedatangan mereka kemarin malam. Ichigo yang selalu berada di sisi Isshin—sang Alpha—sepanjang waktu. Dan wajah Isshin menunjukkan raut seorang ayah yang sedang gusar.

Mungkin ada sesuatu terjadi di antara mereka. Apakah Isshin mengetahui rencana Ichigo untuk pergi ke Jepang bersama Rukia? Tidak ada werewolf yang tahu akan hal itu, bahkan teman-teman kelompoknya.

"Dia masih saja tetap tak peka," desah Kensei. "Siapa yang tega meninggalkan mate-nya yang akan pergi jauh tanpa mengucapkan salam perpisahan?"

"Dia tidak ikut denganmu?" tanya Rangiku kepada Rukia.

Gadis itu hanya mengerjapkan matanya sambil mengangkat bahu. Tidak memiliki jawaban pasti ketika Ichigo pun tidak menemaninya di saat-saat terakhir keberangkatan. Dua jam lagi.

"Aku akan memasukkan tasku ke dalam mobil," kata Rukia, berusaha untuk menghindar dari berbagai pertanyaan yang mengikis kekukuhannya. Dia tidak ingin ragu di saat terakhir.

Rangiku melepas pelukannya, membiarkan gadis itu masuk ke dalam garasi, menuju salah satu mobil yang akan mengantarnya sampai ke bandara. Byakuya masih berdiri di sisi terdalam garasi, membicarakan sesuatu dengan sang Alpha. Rukia mulai menunjukkan rasa ingin tahunya, bercampur dengan kekhawatiran ketika tak menemukan Ichigo di sana. Pandangannya jatuh pada motor milik Ichigo—motor yang pernah digunakan sang Beta juga dirinya saat malam yang sedikit lembab itu, mengelilingi sedikit bagian kota New York yang diterangi cahaya.

Rukia mendesah ketika memori menerjang benaknya tak terduga.

Dia yang semakin membenci dirinya sendiri.

"Biar kutebak kau mulai terikat dengan orang-orang di sini?"

Suara itu membuat Rukia tersentak. Pria jangkung yang tak terasa keberadaannya, seperti serigala yang mengendap di balik semak-semak. Mata yang memicing tajam dengan rambut putih keperakan menutupi cahaya gelapnya itu.

Kokuto. Rukia hampir tidak ingat kapan terakhir kali pria itu bicara dengannya. Konfrontasi lebih tepatnya.

Rukia mengambil langkah mundur, menghindari Kokuto yang berdiri di depan tubuhnya seperti tembok penghalang.

"Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan, kau tidak perlu khawatir," ucap Kokuto, membungkukkan tubuhnya. "My Queen."

"Kupikir kau tidak akan memikirkan hal seperti ini," kata Rukia, sinis.

"Ayolah, seperti aku tidak akan merindukanmu," gumam Kokuto. "Begitu juga dengan Ichigo. Dia akan mengalami hidup yang sulit tanpa mate di sampingnya."

Rukia menegakkan bahunya tegang. Mendengar nama Ichigo dari mulut Kokuto terasa sangat salah.

"Kau tidak tahu? Ichigo terlibat pertengkaran cukup hebat dengan sang Alpa. Rencananya untuk ikut bersamamu ke Tokyo terbaca sangat gamblang—Ichigo kecil yang masih terlalu muda untuk bersikap tangguh, huh. Tentu saja Alpha menentang keputusannya." Rasa pahit terlihat jelas pada wajah Kokuto. "Alpha selalu mengandalkan anaknya yang bodoh itu—terlalu muda untuk melakukan tugas seorang ketua. Dan dia akan semakin terlihat buruk ketika tidak bisa mengikutimu seperti seekor anak anjing yang tersesat—"

"Hentikan itu!" desis Rukia menggertak. Dia yang merasa tak takut dengan kata-kata tajam Kokuto. Kekuatan yang mengalir di dalam tubuhnya mulai mengambil alih adrenalin berikut keraguannya.

Inikah namanya kekuatan sang ratu es?

Senyum Kokuto mengatakan bahwa gertakan Rukia tak begitu berarti baginya.

"Kau kecewa dia tidak bisa ikut bersamamu? Kau sangat mencintainya seperti adikku mencintai Ichigo?"

Senna. Rukia tak begitu memikirkan hal itu ketika nama Senna hampir luput dari benaknya. Sang adik dari pria yang memiliki bisa racun seperti ular, yang berdiri congkak di hadapannya.

"Aku masih tidak mengerti apa yang dilihat Senna darinya. Semua orang memuja Ichigo—anak anjing itu. Dan sekarang dia mendapatkan hatimu. Apakah kau tidak takut ketika dia menghancurkan hatimu—perasaanmu? Menjatuhkanmu dari takhta?"

"Apa maksudmu?"

"Lihat posisimu sekarang, Rukia. Seorang ratu yang juga seorang mate dari kelompok werewolf Utara. Sang Beta kecil yang bahkan belum bisa mengontrol emosinya sendiri kini bersanding dengan sang ratu winter fairy. Apa yang akan dikatakan bangsa peri mengenai hal ini? Apakah mereka bisa mempercayaimu untuk memimpin bangsa peri es Utara?"

"Aku … aku tidak pernah memikirkan untuk menjadi seorang pemimpin."

"Tapi itu bukanlah pilihanmu, Rukia. Itu sudah menjadi tugasmu. Lalu bayangkan ketika Ichigo merengut takhtamu itu—legasimu demi menjadikannya salah satu werewolf berpengaruh di antara kelompok werewolf lainnya? Kautahu, siapa yang tidak tergiur dengan posisi juga kekuasaan tertinggi? Dia sudah mendapatkanmu, sungguh beruntung, bukan?"

"Ichigo bukan orang seperti yang kaubayangkan," kata Rukia, mengeratkan kepalan tangannya yang mulai bergetar. Rasa dingin menggigit permukaan kulitnya. "Ichigo memilihku karena hatinya yang berkata demikian. Begitu pula denganku. Aku tidak pernah mengerti seperti apa mate itu dan apa yang kalian rasakan dari sebuah hubungan yang tak akan pernah terputuskan di sepanjang sisa hidup kalian. Tapi, Ichigo tidak pernah berbohong kepada hatinya. Mungkin kau perlu belajar darinya, apa arti kata ketulusan itu, Kokuto."

Kokuto terdiam, raut wajahnya semakin terlihat pahit, gusar. Rukia bisa sedikit menghentaknya.

"Kau yang seperti inilah yang tidak mengerti apa arti dari mate yang sebenarnya."

Tawa kecil Kokuto terdengar seperti sebuah bisikan yang menyayat hati. Mengerikan. Seperti kertas yang saling menggesek dan kuku yang menggores tembok kokoh. Bulu kuduk Rukia merinding karenanya.

Sebelah tangan Kokuto menutupi wajahnya, seringai masih terpasang di sana. Pria itu terdiam untuk beberapa saat.

"Sang ratu yang memiliki lidah tajam, sangat mengagumkan. Kau akan menjadi ratu terkuat sepanjang sejarah winter fairy dari Utara," ujar Kokuto, sekali lagi membungkukkan tubuhnya di depan Rukia. "Sampai jumpa lagi, My Queen."

Kokuto beranjak tanpa kata yang terucap dari mulut Rukia. Gadis itu hanya memandangi punggung dingin sang pria—sedingin es yang dirasakan kepalan tangannya. Tak bersahabat.

Rukia menghela napas lega saat Kokuto tak terlihat lagi dari jarak pandangnya. Pria yang datang dan pergi seperti kabut hitam. Pikiran gadis itu berkelana dalam berbagai kemungkinan. Dimulai dari keraguannya akan Ichigo dan apakah pria itu akan menepati janjinya.

Kakinya ingin berlari mengejar sang Beta, tapi kali ini dia lebih memilih diam.

Rukia mulai merasa lelah untuk terus berlari seorang diri.

"Rukia."

Rukia menengadah, mendapati kakaknya menatap khawatir. Byakuya yang menunjukkan aura hangat ketenangan dari kekuatannya.

"Nii-sama."

"Aku akan sangat merindukanmu," kata Isshin, yang berdiri di sisi Byakuya. Pria itu menunjukkan emosinya kentara, sangat jarang dilakukan oleh seorang Alpha. "Maaf tidak bisa membantu lebih dari ini, Rukia. Aku sudah berusaha sekuatku untuk melindungimu dari para Quincy, tapi kekuatanmu berada di luar kemampuan kami. Aku yakin Byakuya bisa membantumu lebih daripadaku."

"Kau sudah sangat banyak membantuku, Isshin-san. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas kebaikanmu selama ini, aku berhutang banyak kepadamu."

"Wah, lihat! Adikmu sungguh sangat manis," ujar Isshin, tertawa kecil sambil menepuk bahu Byakuya. Sang pangeran yang bergeming. "Bagaimana kalau kau membalasnya dengan memberikanku cucu-cucu yang manis?"

Rukia terbatuk, tersedak napasnya sendiri. Dia yakin kakakknya membelalakkan mata cukup besar.

"Pembicaraan ini sungguh di luar batas, Kurosaki Isshin."

"Ayolah! Tidak apa untuk merilekskan pundakmu sedikit. Cepat atau lambat kita perlu waktu untuk bersantai, pensiun."

"Aku masih cukup mampu melanjutkan tugasku. Tidak ada kata rehat bagi seorang fairy."

"Kalian memiliki selera humor yang rendah."

"Lagipula, aku sama sekali tidak menyetujui hal ini."

"Hal apa?"

"Anakmu, Kurosaki Ichigo. Mate yang kalian maksud hanyalah sebuah legenda, itu masih tidak masuk akal bagiku."

"Hei, mereka memiliki haknya masing-masing untuk memilih. Di mana kebaikan hatimu untuk Rukia, huh?"

Byakuya menatap Isshin tajam. Dia mulai merasa jengah akan pembahasan ini. "Rukia masih di bawah umur, secara hukum."

Dan Isshin terdiam. Rukia mulai merasakan keringat dingin membasahi tenguknya. Kakaknya bicara serius dan terlalu dingin menanggapi hubungannya dengan Ichigo.

Apa Byakuya yang terlalu mengekang?

"Ahh, aku tidak masalah menunggu satu atau dua tahun lagi," ujar Isshin menggangguk. "Berapa umur legal di negara kalian?"

Rukia menahan napasnya kali ini ketika merasakan Byakuya mulai menegakkan punggungnya, menengadahkan kepalanya. Kakaknya tak terbiasa oleh sebuah candaan ringan atau dia yang terlalu serius dalam menanggapi sesuatu. Kakak yang terbilang terlalu protektif.

Isshin tidak mengatakan apa pun setelah itu. Tidak dengan di mana Ichigo sebenarnya dan apa yang akan Ichigo lakukan setelah Rukia kembali ke Jepang. Tidak ada. Dan Rukia terlalu takut untuk membuka mulutnya. Tekanan sang Alpha terlalu kuat di sisinya, berikut dengan kakaknya yang tak memberikan kelonggaran emosional.

Mereka tak bertukar sepatah kata pun selama perjalanan ke bandara. Kensei dan Shuuhei yang mengantar. Ketegangan makin terasa ketika Shuuhei tak bisa diam duduk di kursi penumpang depan.

Kedua pria itu menunduk dengan rasa bersalah hingga sampai di gerbang keberangkatan. Mereka yang tak bisa memberikan sebuah kesempatan bagi Rukia, terakhir kalinya.

"Maaf, Rukia. Kami tidak bisa menemukan Beta," gumam Kensei, yang berusaha untuk tidak bicara keras hingga terdengar Byakuya. Sang pangeran sedang menunjukkan paspor pada petugas bandara—memberikan sedikit privasi bagi adiknya.

"Dia menghilang seperti asap," ujar Shuuhei, mendesah berat. "Entah ke mana si bodoh itu pergi."

"Tidak apa," kata Rukia, menggelengkan kepalanya, berusaha tersenyum untuk kedua werewolf yang terlalu mengkhawatirkan dirinya. "Aku sangat berterima kasih, untuk semuanya."

"Hei, tidak perlu katakan itu," sanggah Kensei. "Bukan berarti kita tidak akan pernah bertemu lagi, bukan? Kau masih terikat dengan Ichigo, begitu pula dengan kami. Manhattan sudah menjadi rumahmu."

Rukia tersentuh, sekaligus menyesalinya. Dia yang ingin mempercayai semua itu, apakah dia sanggup untuk melakukannya.

"Kau akan membuatnya menangis, Kensei," tegur Shuuhei.

"Perpisahan selalu membuat gadis menangis. Mashiro sering melakukannya."

Rukia tertawa, dia yang mengulurkan tangannya dan menjabat tangan mereka. Kali ini dia bisa tersenyum tulus. "Kalau begitu, sampai jumpa?"

"Sampai bertemu lagi, Rukia," kata Shuuhei, mengedipkan sebelah matanya. "Aku yakin cepat atau lambat Beta akan sangat merindukanmu dan menyesali perbuatannya. Menghindar tidak akan menyelesaikan sebuah masalah."

"Dia hanya perlu terbiasa untuk membuka diri. Apa salahnya seorang pria menangis ketika harus berpisah dengan kekasihnya?" kata Kensei.

"Ya, kuharap dia menyesalinya." Rukia menyetujuinya, memakai kata-kata itu sebagai penguat langkahnya.

Gadis itu melambaikan tangannya terakhir kali sebelum masuk ke pintu keberangkatan, meninggalkan dua werewolf yang masih menatapnya dari kejauhan. Dua orang teman terbaik dari Manhattan.

Rukia mulai merasakan sakit, sendirian, pilu di dadanya yang membuatnya tercekat. Dia yang tak peduli lagi ke mana langkahnya mengarah. Kembali ke Tokyo bersama kakaknya adalah pilihan terakhir yang tak bisa ditolaknya. Demi Ichigo, demi kelompok werewolf Manhattan—Rukia tidak ingin menyakiti mereka lebih jauh dalam masalahnya. Ketika kekuatan di dalam diri gadis itu semakin tak bisa dikontrol, para Quincy yang mengincar dirinya, itu semua akan berakibat buruk bagi Ichigo.

Rukia tidak ingin menjadi sebuah kelemahan bagi pria itu, karenanya dia berusaha untuk menjadi lebih kuat. Menjadi mate, bersanding dengan sang Beta sebagai seorang fairy yang sesungguhnya.

Menerima takdirnya sebagai salah satu pemimpin bangsa fairy Utara, perlahan itu tidak terdengar terlalu buruk.

Rukia tidak memerhatikan langkahnya saat beberapa anak kecil berlarian di lorong dan menyenggol tubuhnya tanpa sengaja. Gadis itu menjatuhkan paspor dari genggaman tangannya.

Dia menunduk dan bermaksud untuk mengambilnya ketika tangan seseorang meraihnya lebih dulu. Tangan itu milik seorang pria jangkung yang matanya hampir berbayang di bawah topi baseball hitam. Seringainya, Rukia sangat mengenal garis itu.

Pria yang rela menjadi tameng bagi dirinya.

Mereka benar-benar terikat, tak bisa terpisahkan. Benang merah saling terkait satu sama lain.

Rukia tercekat napasnya sendiri.

"Ichigo…."

"Kaupikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?" tanya Ichigo.

"Kensei juga Shuuhei—mereka tidak bisa menemukanmu. Kau … kupikir kau…."

"Mencampakanmu? Huh? Itu bukan cara kerja mate, Rukia. Seharusnya kautahu aku tidak akan melepaskanmu begitu saja."

"Ya, tapi … kau menghilang." Rukia menunduk, menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Kelegaan yang terasa di dadanya, melonggarkan ikatan penyesalan itu.

Ichigo terlihat khawatir. Dia yang ikut menunduk dan berusaha membaca wajah Rukia. "Hei, aku tidak bermaksud mengatakan hal buruk. Rukia?"

Tinju Rukia melayang, tepat ke arah lengan atas Ichigo. Pria itu mengernyit karenanya.

"Kau bodoh! Kautahu seberapa besar aku mengkhawatirkan dirimu, huh?"

"Aku harus cepat berkemas dan menyelinap keluar markas tanpa sepengetahuan yang lainnya," jelas Ichigo. "Mengapa kau begitu kejam kepadaku?"

"Jadi, ayahmu tidak tahu?"

Ichigo mendengus, memutar bola matanya. "Pria tua itu akan mengurungku seandainya dia tahu. Ahh—kau tidak perlu memikirkannya."

"Kau membakang!"

"Hei, itu bukan kata yang tepat untuk diucapkan!"

"Lalu apa yang akan kaulakukan, huh? Kautahu kalau kau tidak memiliki tempat tinggal di Tokyo dan nii-sama, mungkin tidak akan mengizinkanmu tinggal di rumah…." Alis Rukia tertekuk dalam. Dia mulai kebingungan. "Bagaimana ini?"

"Aku memiliki banyak relasi, kau tidak perlu khawatir. Kyouraku-san akan cukup senang menerimaku di sana. Dia memiliki beberapa properti di Tokyo, aku bisa menyewanya."

"Lalu, bagaimana dengan mimpimu?" tanya Rukia. "Inggris?"

Ichigo mendesah panjang, berkacak pinggang. "Apa kita perlu membahas ini sekarang dan ketinggalan pesawat? Kupikir ada baiknya bila kita ketinggalan pesawat."

Mata Rukia terbelalak. Dia yang baru mendengar panggilan peringatan terakhir untuk pesawatnya menuju Tokyo.

"Tidak! Kita akan ketinggalan pesawat!" Rukia meraih tangan Ichigo dan menariknya untuk berlari. Byakuya akan sangat marah sekali kepadanya, dia sangat yakin itu.

Ichigo tertawa geli di belakangnya, mengikuti langkah cepat Rukia menuju pintu pesawat. Sang Beta yang mendapati bahwa situasi menjadi lebih baik sesuai dengan perhitungannya.

"Kautahu kalau aku menyukaimu, Rukia."

"Huh?" Gadis itu terbelalak, melihat Ichigo dengan rona merah mewarnai pipinya. Degup jantung yang berdebar kencang tak lagi datang karena kehabisan napas. Itu berdetak hidup untuk sang Beta.

"Kita mulai terikat mulai saat ini. Karena itu, jangan pernah melepaskan tanganku."

Sebuah kenyataan baru yang harus diterima Rukia tanpa bisa ditolak. Hatinya pun berteriak keras kepada hal itu.

Mereka yang saling terhubung satu sama lain. Dua orang berbeda seperti api dan es. Perbedaan yang perlahan berubah menjadi sebuah kesempurnaan utuh.

Sebuah kisah mitos yang akan dimulai ketika kaki mereka melangkah bersama. Bahkan setelah matahari tenggelam di ujung cakrawala.

Sebuah legasi—rahasia tergelap yang pernah ada.

.

.

.

.

.

Fin

.

.

…..~***~…..

.

.

.

.

.

.

Author's note:

BOOK ONE END! Ini chapter terakhir dari The Dark Legacy: First Quarter. Sebenarnya belum berakhir karena akan ada epilog satu lagi. Epilog yang akan menjadi penghubung dengan buku kedua (mungkin). Keterlambatanku buat up semakin buruk, maaf untuk ini. Aku sebisa mungkin meluangkan waktu untuk mengetik, tapi apa daya kesibukan menyita waktu sangat banyak. Profesi yang sedang kulakukan adalah salah satu impianku, tapi menulis juga tidak bisa kutinggalkan. Maaf bagi para readers yang menunggu lama, kuharap kalian bisa membaca dan menikmati fic ini hingga saat terakhir.

Bagian kedua akan segera muncul, hanya perlu menulis kerangka juga menyusun konflik, tapi itu butuh waktu cukup lama. Kemungkinan tidak akan bisa ku publish dalam waktu dekat, tapi aku akan segera menggarapnya. Coming soon! Akan ada konflik yang lebih menegangkan, Quincy akan muncul lagi berikut karakter-karakter baru. Sedikit bocoran aku kasih di sini. The Dark Legacy: Full Moon, menceritakan masa lalu Rukia dan Hisana, perjalanan Rukia menemukan kerajaannya yang sudah lama hancur, pertempuran melawan Quincy. Karakter yang muncul (sudah kuperkirakan), Ashido Kano, Grimmjow (dia dari kelompok baru), Hitsugaya Toushiro (versi dewasa), Ishida Uryuu (yup, dia akan kumunculkan), untuk saat ini hanya mereka, mungkin akan bertambah bila kerangkanya sudah benar-benar matang. Dan kemungkinan jumlah words (length) setiap chapternya nanti akan lebih pendek dari ini, untuk mempercepat update juga memperpanjang jumlah chapter. Biar setiap konflik yang disampaikan lebih enak dibaca. Percayalah, menulis minimal 5000-6000 kata per chapter itu tidaklah mudah T_T

Sangat termotivasi saat live action Bleach muncul. Jujur aku menunggu lama untuk nonton ini, salah satu alasannya adalah IR. Dan benar saja, ini full IR dan plot nya sendiri sudah cukup bagus. Ak berniat nonton lagi setelah selesai ngetik ini. Haha…. Karena author pun butuh asupan buat inspirasi menulis. Apalagi menulis fandom yang sudah lama tamat dan kapalnya hancur, itu sangat butuh perjuangan. Jadi, kuharap kalian bisa memakluminya ya, maaf bagi kalian yang selalu bertanya "kapan update?" Aku masih hidup kok, belum mati… hahaha

Terima kasih buat kalian yang sudah mengikuti fic ini dari awal. Juga buat dukungan yang tertulis di kotak review, PM, juga FB, ak sangat-sangat senang membaca setiap pesannya. Juga review masukan, koreksi yang sangat membantu, terima kasih banyak. Maaf aku tidak bisa membalas satu per satu T_T. Love you always! Kuharap kalian masih bisa menikmati fic ini, juga fic-fic lainnya dari fandom Bleach, juga IR. Thank you so much!

.

Balasan untuk pertanyaan reviewers:

Azura Kuchiki: Kerajaan winter fairy sebenarnya sudah hancur saat penyeranga Quincy dulu, kala itu Hisana mati dibunuh. Nanti akan dijelaskan lebih lengkapnya di buku kedua ^^

Nad-Ru15: Seandainya jika mate dipisahkan dari pasangannya secara terpaksa seperti itu? Kalau masing-masing masih hidup (tidak ada yg mati) dan memilih menikah/memilih orang yg bukan mate-nya, itu sangat-sangat minim terjadi. Karena hubungan/ikatan mate sangat kuat, mereka saling tergantung satu sama lain. Kalau misalkan mereka memilih berpisah, pasti akan sangat tersiksat T_T menyiksa batin kalau diibaratkan. Iya nanti ada buku keduanya, hoho

Guest: Kaien punya mate? Hmm… jujur ak belum memikirkan ini. Dia (dalam bayanganku) masih single, pacaran pernah (beberapa kali) tapi belum ketemu mate-nya. Dia saat ini Alpha-nya, pemimpin werewolf Utara (Kanada), udah cukup lama memimpin walaupun masih muda. Dia ga berniat nyulik Rukia kok, hoho, dia menghargai Ichigo juga sebagai saudara

Thank you so much for aoi, Izumi Kagawa, Rukichigo, Rinda Kuchiki, Azura Kuchiki, Nad-Ru15, Guest, Arya U Dragneel, Naruzhea AiChi, nayasant. japaneze, flake purpurea, rin azunaa, Allen Walker, Hendrik Widyawati, Mr. Rius, Yuliita, makasih buat review dan semangatnya! Luv u~

Playlist:

Kodaline- All I Want

Birdy- All You Never Say

JOHN. k- Best of Me

Daniel Caesar- Best Part (feat H. E. R.)

Billie Eilish- ocean eyes

The Chainsmokers- Paris

Keira Knightley- Lost Stars

These songs don't belong to me…