::Epilogue::
.0.
.
.
.
Last August—Tokyo, Japan
"Ichigo?"
Rukia mengintip dari balik pintu. Ruangan apartemen itu hening seakan ditinggal oleh penghuninya. Menggunakan kunci ganda yang diberikan Ichigo, tak berarti membuat gadis itu terlihat sebagai penyusup.
Rukia masih sedikit terpukau dengan warna putih yang cukup mendominasi. Studio apartemen yang temboknya berwarna putih. Ada lemari kayu putih di sisi area dapur. Warna alam menghiasi beberapa sudut tempat, tanaman rambat hijau dan beberapa pot di atas rak meja kerja. Cahaya matahari yang menjadi keindahan utama ruangan itu, yang datang dari kaca jendela besar di atap bangunan.
Rukia yang merasa sedikit iri ketika Ichigo mendapatkan kamar—tempat tinggal pribadi yang lebih luas dari kamar kecilnya. Kyouraku yang meminjamkannya dengan harga terjangkau bagi seorang Beta seperti Ichigo.
Bahkan, pria itu mendapat ruang tidur khusus di lantai duanya, secara apartemen itu memiliki area luas yang terdiri dari dua lantai.
Rukia menaruh tas sekolahnya di atas meja dapur. Dia mengambil satu gelas cangkir dan mengisinya dengan air mineral. Sepertinya Ichigo belum pulang dari kerja sampingannya. Gadis itu memutuskan untuk menunggu.
Menit berubah jam. Rukia berbaring di atas kasur Ichigo—karena pria itu tidak memasukkan sofa tambahan ke dalam apartemennya—dan tertidur hingga matahari meredup menjadi jingga kemerahan.
Setengah bermimpi, Rukia merasakan seseorang membelai kepalanya lembut, turun ke pipinya. Sebuah bisikan nama membuatnya hampir terbangun dari tidur sorenya. Dan bisikan manis itu menjadi sebuah tawa kecil. Kecupan singkat serta sapuan lembut yang hangat membuat Rukia membuka matanya.
Dia menemukan sepasang mata hazel terang menatapnya intens. Pria itu berada di atas tubuhnya, tersenyum lebar dan membiarkan cahaya mentari sore bermain menciptakan corak di wajahnya. Warna rambutnya senyala dengan api membara.
Sang Beta. Mate. Pria yang berhasil membuat degup jantungnya bergemuruh tak tenang.
"Kau tertidur di ranjangku," ujar Ichigo, memiringkan kepalanya ke samping, mengamati. Sebelah tangan bertumpu di sisi pinggang Rukia.
"Seharusnya kau membeli sebuah sofa untuk ruang tengahmu," balas Rukia, mengernyit. Dia berusaha menutupi rona merah muda di pipinya.
"Untuk apa sebuah sofa kalau aku sudah mendapatkan ranjang berukuran king size? Dan kau bisa tidur di sini kapan pun kau mau."
Rukia mendengus, mencibir sebuah bisikan, "dork."
Ichigo mengangkat sebelah alisnya terlalu tinggi. Senyumnya berubah menjadi seringai. "Aku mendengar itu, Rukia."
"Semua pria sama saja. Dan minggirlah, Ichigo."
Ichigo semakin memojokkan Rukia, menghalangi Rukia dengan tubuh besarnya.
"Apa kau langsung datang kemari setelah pulang sekolah?" tanya Ichigo. Wajahnya menunduk untuk mengecup pipi Rukia lagi, perlahan turun ke rahangnya.
"Ya," jawab Rukia, menarik napas dalam untuk tidak terdengar panik. Tapi kepalanya mulai sedikit berkabut.
"Dan langsung menyelinap kemari? Hmm? Aku tidak pernah tahu kalau kau bisa menjadi gadis yang nakal."
Rukia mencengkram rambut Ichigo saat pria itu mengecup dan memagut ringan kulit di lehernya. Itu caranya memberikan tanda—cara werewolf menandai mate-nya. Rukia melihat itu sebagai sesuatu yang lain, membuatnya semakin sulit untuk menarik napas.
"Apa kau sudah meminta izin Byakuya?"
"Belum."
Ichigo mengerang, membenamkan wajahnya pada perpotongan leher Rukia. Pria itu mendengus kesal. "Kautahu kalau dia akan menerorku dengan pesan dan telepon ancaman, Rukia. Kau mau menyiksaku?"
"Kupikir nii-sama akan pulang larut hari ini. Ada acara pameran teh yang diadakan di kota, nii-sama ditunjuk menjadi salah satu pembicara kebudayaan meminum teh. Aku mendapat jam malamku hingga jam delapan."
"Dan itu tidak menjamin dia akan meneleponmu, memastikan kau sudah pulang."
"Aku bisa sedikit berbohong?" ucap Rukia tak begitu yakin.
Ichigo terkekeh geli. Tangannya memeluk tubuh Rukia erat, mengecup leher gadis itu hingga dia pun terkekeh karenanya. "Aku tidak pernah tahu kalau aku sungguh memberikan dampak buruk bagimu, Rukia."
Rukia berguling hingga dia bertumpu pada tubuh Ichigo. Sekarang dirinya yang berada di atas dan Ichigo memeluk pinggangnya di bawah. Senyum sang Beta masih belum memudar.
Rukia mendapati noda kotor di pipi Ichigo. Dari posisinya yang terlalu dekat, gadis itu merasakan degup jantung Ichigo berdentum di bawah telapak tangannya, saat Rukia membersihkan noda menggunakan jarinya.
Mata Rukia meredup, merasa sebuah beban yang masih ada di sana kembali bergelayut. Membuatnya tak tenang.
"Ada apa?" tanya Ichigo, dia merasakan perubahan suasana hati mate-nya.
"Kau terjebak di sini bersamaku."
"Sudah kukatakan berulang kali kalau ini adalah pilihan yang kupilih. Rukia, berhentilah menyalahkan dirimu."
"Kau bisa mendapatkan masa depanmu, bila tidak pergi bersamaku ke Jepang—"
"Dan melupakan bahwa kau adalah mate-ku? Rukia, aku tidak ingin mempertaruhkan apa pun selain berada bersamamu. Jangan katakan seandainya kita tidak pernah bertemu—hell, itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak bisa bila tidak tanpamu, tidak akan pernah."
"Kau tidak akan merasa seperti ini di awal musim panas."
Kata-kata itu membuat Rukia semakin buruk. Perundungan membuatnya semakin melukai Ichigo. Membuat kekuatan di dalam tubuhnya bergerak tak stabil. Dan itu selalu menakutinya.
Hanya Ichigo yang mengerti isi hati Rukia yang sesungguhnya. Bahkan, ketika pria itu menarik Rukia mendekat, mencium bibirnya keras. Tak membiarkan gadis itu menjauh ketika jari-jari kecilnya mencengkram kerah baju Ichigo kuat.
Ichigo selalu melihatnya dengan caranya sendiri. Liar dan mengagumkan. Sang Beta yang cukup posesif.
"Jangan pernah katakan itu lagi," kata Ichigo, sebuah peringatan ketika Rukia bergidik karenanya. Sebelah tangan Ichigo mendekap pinggang gadis itu erat.
Sang Beta selalu berdiri kukuh di saat Rukia merasa terpuruk. Kekuatannya yang lain ketika Ichigo menjadi tameng baginya. Rukia hanya bisa berterima kasih kepada hatinya yang jujur. Perasaan gadis itu berbalas dengannya—mate di hidupnya.
Rukia menggigit bibir bawahnya, sebelum mengangguk dan bersandar pada dada bidang Ichigo. Merasakan pria itu menarik napas dalam.
"Maaf."
"Tidak perlu meminta maaf, gadis bodoh."
"Jangan mengatakan kalau aku bodoh!"
"Manis," goda Ichigo, mengecup puncak kepala Rukia. "Dan dingin. Sekarang jari-jariku sedikit mati rasa."
Rukia terkesiap, bangun dari posisinya. Dia melihat tangan Ichigo yang kuku-kukunya membiru. Rasa dingin yang berasal dari kekuatan Rukia. Gadis itu tak menyadari bahwa kekuatan dari dalam tubuhnya kembali menyakiti Ichigo.
"Tidak apa, hanya sedikit sengatan dingin," kata Ichigo, ikut berdiri dari posisinya. Sebelah tangan lainnya menangkup pipi gadis itu. "Kau baik-baik saja, Rukia. Tidak apa, bernapaslah perlahan."
Rukia memejamkan matanya, mengikuti apa yang Byakuya sudah ajarkan kepadanya. Berusaha mengontrol dirinya, fokus pada siapa dirinya yang sebenarnya. Kekuatan itu tak lebih kuat dibandingkan dirinya sendiri. Rukia bisa menguasainya, perlahan.
Yuki no Crystal—kekuatan besar itu tidak akan pernah bisa menguasai tubuhnya.
"Tidak apa, Rukia," bisik Ichigo, menarik Rukia ke dalam pelukannya saat gadis itu sudah bisa menarik kekuatannya. "Aku akan melindungimu."
Rukia yang bersandar pada Ichigo, menarik napas singkat ketika kepulan asap dingin keluar dari sana. Dia yang masih harus banyak belajar, lebih banyak berkorban demi orang-orang yang dikasihinya. Demi Byakuya, juga Ichigo.
Sang putri terakhir, Rukia harus bisa menerima identitas yang sesungguhnya. Ketika waktu berjalan semakin cepat, takdir mengejar dari belakang. Gadis itu menghadapi badai yang lebih kuat datang dari Utara. Dan kehidupannya tidak akan pernah sama lagi.
Mulai sekarang dia adalah pewaris kekuatan dari Utara. Badai mulai turun menuruni gunung, menuju kota yang tak lagi hangat. Musim gugur mulai terasa seperti musim dingin. Takdir menatapnya tepat di depan mata.
.
.
.
.
.
.
.
::The Dark Legacy— First Quarter::
By: Morning Eagle
::Author don't take any material profit from this fiction::
Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Just to warn you all :: AU, OOC, misstype...for this story
.
.
.
.
.
Book 1 end.
.
.
.
.
.
Author's note:
Epilog dan ini tandanya end. Buku 1 sudah selesai! Wooah, ini butuh perjuangan lama buat menyelesaikan 1 buku. Masih akan berlanjut ke buku 2, The Dark Legacy: Full Moon. Ini ada hubungannya dengan kekuatan Rukia, dan akan membahas pertarungan sengit melawan Quincy.
Rasanya seperti tak nyata, aku bisa menulis (mengetik) sampai sejauh ini, dan masih akan jauh sebelum benar-benar tamat. Jadwalku di real world sudah sangat menyita waktu dan aku tahu aku tidak bisa begitu efektif menulis secara rutin di sini. Tapi, aku tidak bisa meninggalkan cerita ini begitu saja. Ini harus segera diselesaikan dan terkadang aku takut ini tidak mencapai ekspetasi kalian. Kuharap kalian bisa menikmati fic ini seperti membaca sebuah buku.
Aku sangat-sangat-sangat berterima kasih bagi kalian para reviewers yang sudah menemani dan memberi banyak masukan dari chapter awal, prolog! Terima kasih bagi kalian yang namanya tidak bisa kusebutkan satu per satu, maaf kalau aku sempat mengecewakan kalian, dan terima kasih buat dukungannya hingga aku tidak berhenti untuk menulis. Berkat kalian juga aku bisa tetap fokus dan melihat ini, menulis, sebagai sebuah pekerjaan yang menyenangkan. Terima kasih dan maaf kalau aku tidak bisa membalas review satu per satu. Tapi aku selalu membaca review kalian kok ^^
Buku kedua akan segera kulanjut, masih dalam proses pembuatan plot juga kerangka. Dan kemungkinan satu chapternya akan lebih sedikit jumlah words-nya, tapi kemungkinan jumlah chapter akan lebih banyak. ^^ Ini untuk mempercepat aku update setiap chapternya. Dan di buku 2 akan ada lebih banyak konflik.
.
Thanks to Izumi Kagawa, Rukichigo, Rinda Kuchiki, Naruzhea AiChi, Allen Walker, Nad-Ru15, flake purpurea, Hendrik Widyawati, Leticia Gonalves, raaann, terima kasih buat review kalian di chapter sebelumnya! Love you~ ^^
Playlist:
The Daydream Club- Soudwaves of Gold
Henry Jamison- Sunlit Juice
Wild Child- Sinking Ship
Ben Howard- The Wolves
Blanco White- Nocturne
Beta Radio- On Your Horizon
These songs don't belong to me…
Thank you and see you soon.
Love, Morning Eagle
