xxxxXxxXxxxx

Setelah Naruto menutup teleponnya. Ia pun melihat lingkungan sekitar.

"Aku dimana ya??" pikirnya bingung.

Ia menengok kanan dan kiri, berjalan memutar dan kembali ke tempat dimana tadi ia berada. Gara-gara ia lari secepat yang ia bisa dan tak memperhatikan jalan mana saja yang ia lewati, kini dia tak tahu pasti di mana ia tengah berdiri.

Jangan anggap Naruto itu bodoh. Tapi ia hanya berada di Jepang selama kurang lebih 2 hari saja, dan selebihnya dia menghabiskan masa kecilnya di London, Inggris, negara dimana ayah Naruto berasal.

"Ini semua gara-gara si Teme B*stard itu." Kata Naruto mengutuk dalam hati.

Karena hari telah malam, Naruto pun memutuskan untuk menginap saja ke hotel terdekat. Ia tak bisa kembali ke Osaka jika hari sudah malam seperti ini. Kalau ada hantu nyasar bagaimana?? Naruto tak ingin mendaftar lagi daftar panjang hari buruknya. Sudah cukup sampai hari ini saja.

Lagi pula ia sudah penat dan pusing karena peristiwa yang terjadi siang ini. Naruto hanya ingin segera mengistirahatkan badannya dan juga pikirannya di atas kasur yang empuk dan nyaman.

Untungnya dia tersesat di pinggiran jalanan yang ramai. Sehingga tanpa babibu lagi ia bisa mencegat sebuah taksi dengan mudah dan cepat.

"Pak antarkan saya ke hotel terdekat." kata Naruto setelah duduk di kursi penumpang dan menutup pintu taksi itu.

Ia bisa saja menelepon supirnya untuk menjemputnya tapi hal itu membutuhkan waktu menunggu lagi, yang dapat dikatakan lumayan lama. Kalau tahu tadi akan terjadi peristiwa yang seperti ini, ia pasti tidak menyuruh supirnya untuk pulang.

Ia juga takut kembali ke apartementnya yang dekat di taman kota, kalau-kalau si orang gila itu menemukannya secara tak sengaja. Sejak kejadian tadi siang, dia sudah tak merasa lagi kalau keburuntungan ada di pihaknya.

"Pak tolong pindah ke hotel yang paling ternama dan terkenal saja yang ada di kota ini, jangan yang terdekat. Saya berubah pikiran."

Naruto berpikir kalau ke hotel terdekat, maka akan semakin besar kemungkinan si pantat ayam akan menemukannya. Dia tidak ingin mengambil resiko mengenai hal itu. Dia menginginkan sarana dan fasilitas yang terbaik. Khususnya di keamanannya. Semakin banyak bintang dan semakin terkenal hotel itu maka semakin sulit pula si teme gila itu untuk masuk ke sana.

Karena Naruto dapat melihat dari pakaian yang dikenakan si pantat ayam tadi, dia pasti orang gila yang punya banyak duit. Masa ada pasien rumah sakit jiwa yang boleh diperkenankan memakai pakaian jas (three piece suit) setiap hari. Dapat dilihat juga kalau jas yang di pakainya adalah merk jas yang ternama. Kalau di hotel yang murahan, hanya perlu sedikit sogok sana-sini si teme itu pasti sudah bisa menemukannya dengan mudah.

"Baik Tuan, tapi karena jalanan agak macet, untuk menuju ke tempat itu butuh memakan waktu 1 jam."

"Tak apa Pak. Yang aku butuhkan sekarang adalah dari segi keamanannya. Hotel yang mau kita tuju adalah hotel yang paling aman kan Pak??"

"Ohh tentu saja tuan muda. Walau tarif semalam sudah seharga satu mobil baru, tapi keamananya saya jamin paling terbaik di kota ini. Tuan tak perlu khawatir."

"Kalau begitu kita pergi ke tempat itu saja Pak."

xxxxXxxXxxxx

Naruto pun segera masuk ke dalam hotel itu dan segera menuju ke resepsionis. Karena saking cepatnya ia masuk ke pintu masuk hotel, sampai tak melihat ada sebuah lambang besar terpampang di pintu depan hotel itu. Yaitu lambang sebuah kipas kertas merah yang besar.

"Ada yang bisa kita bantu Tuan Muda??"

'Huhh kau tahu aku tuan muda??'

"Iya, tuan muda. Sebelumnya pemilik kami telah memberitahukan kedatangan anda ke hotel kami. Jadi kami sudah mengenali anda sebelumnya."

'Wahh sungguh sangat baik sekali pemilik hotel ini, sangat tahu sekali kalau aku sedang tertimpa sebuah kesialan yang begitu besar hari ini. Mungkin pemilik hotel ini merupakan kenalan ayahnya atau kakaknya.' pikir Naruto.

Dan Naruto pun tak ingin mencari tahu informasi yang lebih. Ia hanya mau cepat menyentuh bantal dan meletakkan kepalanya di sana.

'Baguslah kalau begitu, segera berikan aku kartu kunci (cardlock) kamarnya. Aku sudah sangat capek dan ingin bergegas tidur di sana.'

"Baiklah tuan muda, maaf telah membuat anda menunggu lebih lama lagi. Ini kamar di lantai yang paling atas tuan. Semoga malam anda berlangsung dengan indah dan menyenangkan. Dan selamat ya tuan atas kabar bahagianya." kata resepsionis itu sambil mengeluarkan wajah yang gembira. Dapat diliatnya ia tersenyum juga.

'Selamat lagi.. Selain Iruka yang memberikan selamat tadi, sekarang ganti resepsionis yang ada di depannya ini. Ohh mungkin mereka hanya senang aku dapat terbebas dari si Teme rambut pantat ayam itu. Ya kalau soal itu siapa yang tak senang. Itu merupakan kabar gembira untuknya.' pikir Naruto.

Dan Naruto suka di berikan selamat.

'Terima kasih atas selamatnya ya Nona Manis.'

"I-ya.. Tu-an.. Sama-sama Tuan Muda. Semoga langgeng ya.." kata si resepsionis itu sedikit terbata.

'Iya terima kasih banyak atas doanya juga'

Huhh.. Langgeng?? Lama maksudnya?? Abadi atau kekal begitu?? Selamanya?? Wahh.. Benar-benar resepsionis yang baik sekali. Mendoakan dirinya agar ia tak bertemu dengan orang gila itu lagi, selamanya.. Hehehe..

Naruto pun lalu mengeluarkan senyuman lebar khasnya kepada si resepsionis, kemudian berlalu pergi menuju kamar yang dituju.