PS: Ini adalah sudut pandang Sasuke di chapter 1. What's This??

Setelah Sasuke keluar dari mobil sportnya, dan di parkirnya mobilnya itu, ia langsung pergi masuk menuju taman kota.

Ia lalu menemui pengawal pribadinya yang sebelumnya, telah diberikannya tugas untuk mematai-matai istrinya, siapa tahu ia berani selingkuh di belakangnya. Dan juga tentu saja untuk menjaga istrinya, siapa tahu ada yang ingin menculik, melukai bahkan mengrape istri tercintanya itu.

"Juugo, apa istriku masih ada di sana??"

'Iya, Sasuke-sama, istri anda masih duduk diam menunggu kedatangan anda tuan.' kata Juugo membalas pertanyaan tuannya.

Kalau pemuda pirang itu dianggap sebagai istri oleh tuannya, maka sebagai bawahan yang peka dan yang tak ingin cari mati tentu saja mengiyakan perkataan tuannya itu.

Kalau Sasuke-sama bilang matahari ada dua, satu ada di langit, satu ada-lah istrinya, maka ia sebagai pengawal yang patuh tentu saja mengiyakannya.

Kalau Sasuke-sama bilang tomat itu jeruk, jeruk itu tomat, hanya warnanya saja yang beda, maka ia sebagai pengawal yang taat tentu saja mengiyakannya.

Tak ada yang tak ia iyakan perkataan tuan mudanya. Apa pun ia iyakan demi kelangsungan hidupnya. Lagi pula ia tak ingin merusak mood baik tuannya semenjak ia telah menemukan 'mataharinya'.

Sebelumnya dapat ia tahu dengan jelas kalau hari-hari yang dilalui tuannya sangat suram dan hampa. Salah sedikit saja, semua orang akan kena getah dari kemarahannya. Bahkan tak ada yang berani mendekatkan diri mereka 5 kaki dari tuannya selain keluarganya. Hanya dirinya lah seorang. Kurasa dirinya patut diberi penghargaan. Hadiah nobel malah. Demi kedamaian dan ketentraman dunia.

Itu lah yang ada dipikiran Juugo, semenjak tuannya Sasuke-sama, mengadakan rapat dadakan di aula besar markas uchiha. Dan mengadakan broadcast bagi yang ada di luar kota ataupun di luar negeri. Yang tujuan dari semua itu adalah untuk mencari informasi sekaligus mengenalkan kepada semua bawahan dan pegawai tuannya, kepada istrinya yang baru ditemui oleh tuan mudanya itu, di siang bolong, di depan kedai ramen, di pinggir kota Tokyo.

Dan tak perlu ditanyakan lagi, seluruh perusahaan, hotel, restoran atau apapun yang ada di bawah kepemimpinan tuannya yaitu Sasuke-sama, telah mengetahui siapa istri dari tuan mudanya itu. Sungguh kemarin adalah hari yang melelahkan, mengejutkan dan mengagetkan. Kalau Sasuke-sama sudah menginginkan dan mengatakan sesuatu, maka apapun yang diinginkan dan dikatakan harus segera menjadi kenyataan.

Kalau tidak, seluruh bawahan dan pegawainya yang akan terkena imbasnya. Kata-katanya adalah sebuah peraturan. Kata-katanya adalah mutlak. Dan kata-katanya tak dapat diganggu gugat. Juugo hanya bisa mengkasihani istri dari tuan mudanya itu. Karena sekalipun ia ingin lari, seberapapun ia menginginkan untuk pergi, Sasuke sama tak akan memberikan kesempatan bagi istrinya itu untuk lolos dari cengkramannya. Ia seperti sesosok naga yang menjaga ketat harta karunnya.

Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Juugo, baru Sasuke merasa lega.

"Bagus lah kalau begitu" katanya kepada Juugo sebelum ia pergi menuju kemana istrinya itu sedang duduk.

Ia tak ingin membuang-buang waktu lagi. Beruntung sekali istrinya belum pergi meninggalkannya, kalau istrinya pergi, maka yang pertama menjadi objek pelampiasan kemarahannya adalah Anikinya.

Keluarga atau bukan, kakak atau bukan, ia akan mencincangnya dan memotongnya kecil-kecil, kemudian mendeliverynya langsung kepada rubah merahnya itu. Tapi kurasa keberuntungan masih ada dipihak kakak keriputnya itu.

Jarak 25 kaki, ia sudah dapat melihat dengan jelas istrinya itu yang tengah duduk dengan sabar menunggunya. Ia melihat jam, wahh sudah 4 jam istrinya duduk di taman ini. Maka ia pun berjalan mendekat.

25 kaki

20 kaki

15 kaki

10 kaki

5 kaki

Kemudian ia berhenti, dapat dilihatnya kalau istrinya itu mengeluarkan aura yang tak ingin diganggu.

"F*ck!!" pikir Sasuke.

Istrinya sudah dalam keadaan marah, karena dirinya yang terlambat datang.

"Bagaimana ini?? Apa yang harus aku lakukan??" galau Sasuke dalam hati.

10 menit ia dalam kegalauannya. Ia hanya diam disitu dan berdiri saja. Diam tak berkutik tak tahu apa yang akan dilakukannya.

Tapi setelah 10 menit berlalu, aura istrinya kembali tenang.

"Ahhh, istrinya tak lagi mengeluarkan aura yang tak ingin diganggu. Istrinya telah memaafkannya berarti. Sungguh istri yang pengertian." pikirnya.

Maka tanpa menunggu lagi, karena Sasuke telah capek menunggu, berlututlah ia dan dikeluarkan kotak merah kecilnya dan membukanya. Dapat diliatnya sepasang cincin emas bertahtahkan berlian yang merupakan peninggalan turun-menurun dari kakek moyangnya, si Madara Uchiha.

Ia pun mengeluarkan kata-kata lamarannya yang telah diulangnya berkali-kali di depan cermin, di dalam kamar mandi dan ketika ia menyetir mobil tadi. Jadi dia sudah hafal betul apa yang harus diucapkannya. Bahkan kalau ia mau ia sudah tahu asal-usul, nenek moyang, kapan dan dimana kata-kata itu dibuat, pikir Sasuke sedeng.

Setelah di keluarkannya tanpa ada salah kata satu kata pun, Sasuke pun menunggu. Ia menunggu. Dan terus menunggu. Sedetik, dua detik.. Sungguh waktu yang sangat lama baginya.

Tapi yang dikatakan istrinya mengagetkannya.

"Kau salah orang"

Hey istriku yang cantik, walau kita belum mengikatkan tali kasih secara resmi. Aku sudah menganggap dirimu adalah istriku. Dan tentu saja aku tidak salah orang. Apa kau pikir suamimu yang tampan ini buta kena katarak apa. Ia pun lalu menjawab,

'Tidak, aku tidak salah orang.'

"Kau tahu siapa diriku??" tanya istrinya kemudian.

Ya tentu saja aku tahu. Kau adalah istriku. Aku tahu sejarah, seluk beluk, asal usul, hobi, bahkan makanan dan minuman yang kau sukai. Aku juga tahu tempat dan orang-orang yang pernah kau temui dan jumpai.

'Tahu' jawabnya singkat, Sasuke tak ingin mengeluarkan kata-kata yang hanya membuat dirinya tambah capek. Menunggu sudah membuat ia capek.

"Siapa??"

Ini istrinya mau main tebak-tebak an di situasi dan kondisi seperti ini?? Dasar istrinya yang tak peka. Kau tahu kan suamimu yang tampan ini sedang menunggu jawabanmu, hey manis.

'Menurutmu??' jawab Sasuke singkat, ia tak mau mengikuti permainan tebak-tebakan istrinya itu.

"Aku tanya dirimu, b*stard!!"

Wahh.. Darlingnya marah. Dia tidak sedang pms kan?? Atau bahkan entah karena suatu sebab ia lupa akan namanya sendiri, jati dirinya sendiri. Atau mungkin istrinya itu karena sedang pms, lupa akan hal itu??

'Dobe, bahkan nama sendiri pun kau tak tahu.'

Ia hanya menyebutnya dobe, tidak ada kata-kata pms karena tentu saja, ia masih ingin hidup di kemudian hari. Menimang cucu di hari tuanya bersama istri tercintanya.

Tapi setelah ia mengucapkanya entah mengapa istrinya menjadi gugup?? Atau gelisah?? Ohh Mungkin karena istrinya telah sadar atas apa yang tadi ia tanyakan.

'Tak usah merasa gugup, jawab saja pertanyaanku.' kata Sasuke berusaha menenangkan kegelisahan istrinya.

"Pertanyaan apa??"

Damn, bukan hanya ia lupa atas namanya sendiri tapi istrinya juga lupa atas pertanyaannya?? Pertanyaan yang tidak lama tadi diajukannya, istrinya sudah lupa!!?

'Tadi kau bodoh sekarang kau pelupa.'

Sungguh kalau ia tidak begitu mencintai istrinya, sudah dari tadi ia meninggalkannya. Sasuke memang suami yang menerima segala kekurangan istrinya, apa pun itu. Ia kan memang apa adanya, pikir Sasuke dengan bangganya.

"Who are you??"

Wahh.. Ini sudah stadium lanjut kah?? Stadium 4?? Atau bahkan stadium akhir?? Bahkan terhadap seorang uchiha yang tampan ini pun kau tak tahu. Apa mungkin informasi yang telah diterimanya mengenai istrinya salah?? Kalau selama ini istrinya itu hidup di gua?? Hutan belantara?? Atau di kutub selatan hidup bersama penguin?? Sasuke tak habis pikir.

'Tentu saja aku ini suamimu, jika kau menerima lamaranku.'

Tak apalah Sasuke akan menerima istrinya apa adanya, bukan ada apanya.

"Menurutmu, aku ini siapa??"

'Tentu saja kau adalah istriku.'

Lebih tepatnya kau adalah istriku sejak aku pertama kali melihatmu, sejak pertama kali aku menjatuhkan pandangan mataku ke sosok dirimu yang mengagumkan itu, ooh istriku..

"Apa aku ini terlihat seperti perempuan?? Huh Teme!?"

'Tentu saja tidak Dobe. Orang lain pun tahu kalau kau itu laki-laki.'

Ini sekali lagi, istrinya membahas tentang matanya. Sasuke tidak katarak okey, Sasuke tidak buta.

"Terus??"

'Terus apa?? Apa kau menerima lamaranku?? Kau tahu aku capek berlutut di sini dan tak ada jawaban.'

Sasuke hanya ingin istrinya menjawab pertanyaannya. Tak salah kan?? Bukan membahas hal-hal yang tidak penting. Seperti siapa diri istrinya, siapa diri suaminya, ada masalah apakah mata suaminya. Buta kah?? Katarak kah??

Sasuke tahu kalau istrinya hanya ingin memberikan perhatian yang lebih mengenai dirinya, yaitu suami tercintanya. Tapi kalau itu di waktu lain bolehlah. Tak apalah. Tapi untuk sekarang yang terpenting adalah jawaban. Sasuke hanya butuh jawaban.

"Fuck you, Bastard!!"

What!?? Istrinya minta langsung ke main course nya?? Ke menu utamanya?? Skip lamaran dan langsung ke ehem-ehem?? Oke lah kalau begitu, sebagai suami yang pengertian, perkataan istrinya adalah mutlak dan harus segera dilakukan. But Uchiha never bottom, apalagi untuk seorang Sasuke Uchiha.

'No darling, you're the one who get fucked'

"Go to The Hell!!"

Ini lagi, kalau kita ehem-ehem kenapa harus ke neraka segala??

'But darling, why we are in the hell for?? We can just go to the heaven when I fuck you.'

Dan dapat dilihatnya istrinya yang berjingkat-jingkat. Tampaknya istrinya sudah tak tahan dan ingin segera melakukannya.

'Aku tahu kau merasa senang Darling, tapi kau tahukan kita masih di tempat umum. Kalau kau mau aku melakukannya, kita sebaiknya segera bergegas ke kamar hotel. Mungkin honeymoon suit cocok untuk kita.'

"Aku sudah tidak taahaaann...!!!"

Wow.. Aku tahu kamu sudah tidak tahan, darling. Tapi tak perlu juga kau teriak pada dunia seperti itu. Sasuke yang masih kaget akan tingkah laku istrinya yang kebelet kawin itu, tak menyadari kalau istrinya berjalan mendekat ke arahnya.

"Rasakanlah dirimu, bastard!!"

Damn, sungguh benar-benar istri idaman. Type yang berhasil membuat dirinya si Sasuke Uchiha, semakin jatuh cinta lagi kepadanya.

Karena dirinya yang menolak ajakan kawin oleh sang istri, dia mendapatkan bogem mentah secara gratis. Istrinya pun dengan kesal dan marah pergi meninggalkan ia seorang diri. Tapi tak perlu dikhawatirkan dan dipermasalahkan. Hal itu dapat diselesaikan dengan mudah.

Tenang saja istriku, aku tahu kamu marah karena tidak segera memenuhi permintaan kawinmu. Tapi aku sebagai seorang gentleman sejati, setidaknya harus menunggu kita sah dulu di mata hukum.

Sasuke pun kemudian mengambil handphone nya dan menelepon seseorang,

"Halo, Sasuke-sama. Ada yang bisa saya bantu, tuan??"

"Suigetsu cepat kau siapkan surat-surat pernikahan. Aku mau hari ini sudah kau serahkan kepadaku. Aku mau kau urus secepatnya. Aku tunggu kau di taman kota."

Tanpa menunggu jawaban dari orang yang diteleponnya, Sasuke menutup teleponnya.

Setidaknya kalau surat sudah ada, dia dan istrinya tinggal menandatanganinya saja. Kemudian mereka telah sah di mata hukum dan mereka bisa langsung ke ehem-ehem. Seperti yang diminta oleh istri tercintanya. Membayangkannya saja sudah membuat Sasuke tidak tahan.

Dan untuk urusan perayaan, hal itu bisa diurus belakangan. Kemudian dia melirik Juugo yang sembunyi di semak-semak.

"Juugo, ikuti kemana istriku pergi. Jangan sampai kau kehilangan jejaknya."

Melihat ada sesuatu yang aneh yang dikenakan oleh Juugo.

"Apa yang kau kenakan, Juugo??"

"Ohh ini tuan??" sambil menunjukkan bajunya kepada tuannya.

"Ini adalah baju seorang supir taksi tuan. Saya menyamar sebagai seorang supir taksi untuk mengikuti Naruto-sama pergi tadi dengan supirnya."

"Ohh begitu, segera kau ikuti Istriku. Aku tak mau dia tersesat dan diterkam oleh binatang buas yang ada di kota ini."

Juugo pun segera pergi dan masuk ke 'Taksi' nya untuk mencari kemana istri tuan mudanya itu berlari pergi.

xXx

PS: Hampir 1800an kata guys.. Sasuke halusinasinya tiada akhir.. Dan terakhir, kalian sudah tahu kan siapa supir taksi yang dinaiki oleh Naru-chan di chapter sebelumnya..

ヽ(。)ノ(*︶*)(*︶*)