"Hyung! Mau tahu rahasiaku?"

"Ngga-"

"AKU MENCINTAIMU!"

:

:

"… Heh?"

:

:


My Secret

.

A BTS Fanfic

.

MinYoon/YoonMin

.

©Siwgr3

.

Main Cast: Park Jimin/Min Yoongi

.

Other Cast: BTS Members, Yoonji, Other

.

Pair: MinYoon/YoonMin, Bott!Suga, Uke!Suga

.

Genre: Romance, Fluffy (Hopefuly), slow burn, angst, hurt/comfort

.

Rated: T

.

Warn:Producer!Yoongi, Colleger!Jimin, Crossdress at the later chapter, Full of cursing, Time Skip(5 years), newbie author


Jimin tidak tahu mimpi apa semalam, tapi mendapat ciuman dari Min Yoonji adalah sebuah keajaiban.

… Oke… walau itu pakai sepatu high heelsnya…

… Oke… bukan ciuman, tapi lebih tepatnya tamparan.

Tamparan tak berkeperi-Jimin-an yang membuat namja tampan nan seksi kita ini terbaring di tanah dengan keadaan setengah sadar.

Normalnya jika ada yeoja yang berani memperlakukan seorang Park Jimin seperti ini, maka Jimin tanpa berpikir dua kali akan langsung balas menggamparnya.

Enak saja! Wajah Park Jimin ini mahal tahu!

… Tapi karena ini Yoonji…

Uhh… lihat itu… wajah marah setengah ngos-ngosannyapun tetap cantik sekali…

"KENAPA KAU MEMATIKAN PONSELMU, HAH?! SUDAH TAHU TAMAN INI LUAS! YAK KAU *piip* YANG *piiip*! KAU MAU AKU MATI, HAH?! KAU KIRA HIGH HEELS INI NYAMAN, HAAH?!"

Jimin nyengir.

"Ah iyaa, mian, Yoonjiya~! Aku sengaja tidak membawa hp~! Aku ingin memfokuskan perhatianku sepenuhnya padamu~!"

Tanpa basa-basi Yoonji langsung menendang 'pelan' perut Jimin, membuatnya terbalik.

Setelah itu Yoonji dengan santainya duduk di bangku taman, tak memperdulikan Jimin yang sudah memegangi perutnya sambil mengeluarkan suara tak manusiawi.

Butuh semenit bagi Jimin untuk bangkit. Bagaimanapun juga insiden 'ciuman' dan tendangan 'pelan' ini sama sekali tidak ada di rencananya.

Yoonji kuat juga.

Jimin berdiri lalu menepuk-nepuk pantatnya, membersihkan debu di celananya. Dia lalu menatap Yoonji takut-takut.

Yoonji bersidekap dengan wajah memerah tanda dia marah. Tapi tetap manis sekali…

Tunggu, Park Jimin, fokus!

Jimin memberanikan diri duduk di sebelah Yoonji. Tanpa sepatah katapun Yoonji membuang mukanya ke arah lain, membisikkan makian-makian yang diperuntukan untuk Jimin.

Jimin memainkan jarinya gugup. "… Mian, Yoonjiya… aku tidak bermaksud…" cicitnya takut-takut.

Yoonji meludah ke tanah.

MELUDAH.

Dia lalu menatap Jimin murka. "KAU KIRA SEGAMPANG ITU?!"

Jimin memandangnya.

"… Suaramu kenapa…?"

Seketika itu juga, Yoonji melotot sambil mengeluarkan bunyi kecil yang manis sekali bagi Jimin. Dia langsung menunduk memandang tanah, tampak gugup entah karena apa.

"… A-aku sedang flu…"

"Hah?!" teriak Jimin dramatis. "K-kalau kau sakit harusnya kau tidak memaksakan diri, Yoonjiya!" Jimin langsung merasa bersalah. Egois sekali dia!

Yoonji berdehem. "A-ani. Tidak masalah."

"Sungguh…?"

Yoonji hanya mengangguk.

Jimin tersenyum. Dia meraih dagu Yoonji, membuatnya menatap pada kedua manik kelam Jimin.

"Kau terlihat cantik sekali hari ini, Yoonjiya."

Yoonji membeku.

Mata mereka masih beradu, Jimin dengan penuh kehangatannya, sementara Yoonji tampak terkejut.

"H-hentikan itu." Yoonji menepis tangan Jimin, kembali bersidekap.

Jimin cengengesan. "Aku bersungguh-sungguh~!"

Yoonji diam seribu bahasa, pipinya sedikit merona.

Cantiknya~!

Jimin mengangkat tangannya dan mengusap peluh di pipi Yoonji. "Maafkan aku, ya…"

Yoonji kembali membeku di bawah sentuhannya.

Jimin tersenyum hangat, membiarkan kedua matanya membentuk bulan sabit. "Biarkan aku menebusnya."

Yoonji mengalihkan pandangannya, tapi tak mencegah jemari Jimin yang mengusap pipinya.

'Kan Jimin jadi ketagihan.

Dia terus mengusap-usap pipi gembil Yoonji. Sedikit tergoda untuk mencubitnya, tapi resikonya yang terlalu tinggi membuat Jimin mengurungkan niatnya.

Dia bisa kok, seharian ini, menghabiskan waktu kencan mereka hanya dengan mengusap-usap pipi Yoonji.

Tapi sepertinya Yoonji tak sepemikiran, karena dua menit kemudian Yoonji langsung menepisnya lagi.

:

:

Untuk kencannya kali ini, Jimin sudah mempersiapkan banyak hal yang spesial!

Pertama, dia ingin menggandeng tangan Yoonji.

"Yoonji, boleh aku menggandengmu?"

"Gak."

"Oh oke."

Gagal.

Tapi tak apa. Jimin masih punya banyak hal lainnya!

Jimin menuntun Yoonji berjalan kaki keluar dari taman.

Sepanjang perjalanan, Jimin mengajak Yoonji ngobrol, tapi hanya dibalas satu dua patah kata bahkan terkadang tak dijawab. Saat Jimin berusaha melawakpun, Yoonji hanya memandangnya seakan Jimin adalah polusi.

Akhirnya mereka sampai ke spot pertama.

"Yak, apa maksudmu membawaku ke daerah yang isinya hotel semua, hah?!"

Oh shit.

Jimin tidak tahu kalau kedai crepes terbaik di kota ini ternyata satu daerah dengan tempat ena-ena.

Dia sama sekali tak bermaksud!

"Y-Yoonjiya! Aku tidak bermaksud! Aku hanya ingin membawamu ke kedai crepes ini!"

Wajah Jimin merah padam, tangannya bergerak-gerak heboh berusaha meyakinkan Yoonji, menunjuk-nunjuk kedai crepes di belakang mereka.

Sementara Yoonji sudah memandangnya dengan tatapan menghujat, seakan Jimin adalah namja paling hina di dunia. Tidak memperdulikan wajah memelas atau suara putus asa Jimin sama sekali.

"Ayo kakak-kakak yang di situ~! Kamar di sini bagus~!"

Seorang ahjussi yang tidak bisa baca situasi sudah melambai-lambai genit ke arah Jimin dan Yoonji.

"Jangan, kaaak~! Di sini saja~! Sudah tersedia vibrator dan toys lainnya~! Ada lingerie juga loh~! Pasti akan cocok sekali dengan kakak cantik itu~!"

WTF

Jimin sontak mengirim tatapan mematikan ke dua ahjussi tidak peka itu sambil menutup telinga Yoonji dengan kedua tangannya. "Yak! Hentikan itu! Aku memang sudah dewasa! Tapi dia masih SMA!" marahnya.

"Oh~? Kalau begitu kamu pedo dong?"

Jleb

… Tidak salah juga sih…

Ah! Tidak! Jimin! Fokus!

Tanpa membalas ejekan si ahjussi, Jimin sudah membawa Yoonji masuk ke dalam kedai crepes itu.

Toko crepes itu bernuansa merah muda dengan harum crepes dan kue yang nikmat. Banyak sekali couple yang terlihat.

Wajah Jimin memerah, senang memikirkan bahwa saat ini dia juga sedang kencan dengan Yoonji.

Jadi mereka couple 'kan…?

"Hentikan senyum mesummu itu, dasar menjijikan."

Jleb

Yoonji tak memperdulikan Jimin yang sedang mengalami mental breakdown. Dia melenggang ke kasir dan memesan crepes es krim vanilla dengan topping oreo dan nuttela serta kopi hitam.

Yoonji kemudian menoleh ke arah Jimin yang masih membatu. "Yak, kau mau apa?"

Jimin mengerjabkan matanya beberapa kali sebelum buru-buru menyusul Yoonji di kasir. "A-ah, aku sama dengan pesananmu!"

Yoonji mendengus, dia berbalik ke kasir. "Dua ya, mbak."

Setelah itu mereka duduk di sudut dekat jendela yang mempertontonkan taman bunga di halaman belakang kedai tersebut.

Jimin tersenyum gembira, sementara Yoonji hanya bertopang dagu sambil memandang taman bunga.

Ah, jangan-jangan Yoonji merasa bosan?

Park Jimin! Ini tidak bisa dibiarkan!

"Y-Yoonjiya!"

Yoonji melirik Jimin melalui ekor matanya. "… Mwo?"

"Lihat ini!"

Yoonji akhirnya menoleh ke arah Jimin, memperhatikannya, menerka-nerka hal sinting apa lagi yang akan dia lakukan.

Jimin menunjukan sendok di salah satu tangannya ke depan wajah Yoonji. "Lihat? Ada? Ada?"

Yoonji hanya mengangguk untuk mempercepat Jimin.

Jimin perlahan menutup sendok itu dengan tangannya yang lain.

"… Daaan… bwesshhh~~! Hilaaang~~!" Jimin mempertontonkan kedua tangannya yang kosong, tampak girang.

Yoonji memandangnya, tak terpukau sama sekali.

"Aku melihatmu menjatuhkannya ke dalam lengan jaketmu."

Jimin gelagapan. Ah sial… rencana membuat Yoonji terhibur gagal…

Apa ini… Park Jimin… kau seharusnya penakluk yeoja loh…! Kenapa membuat Yoonji terhibur saja kau tak bisa? Dasar tak berguna…

Tapi tawa kecil menyadarkan Jimin dari nestapanya. Dia serta merta mendongak, menemukan Yoonji tertawa kecil, walau masih dengan wajah meremehkan itu.

"Idiot."

Jimin nyengir.

Dia berhasil membuat Yoonji tertawa! Dan omg! Suaranya sangat indah~!

Jimin bahagia~!

"Yoonji! Lihat! Lihat! Sapu tangan! Tadi ada, sekarang… bwesshh! Hilang~! Ehehheehh~!"

"Yak, pabbo. Hentikan. Ini sudah tidak lucu lagi."

:

:

Pada spot kedua, Jimin mengajak Yoonji menaiki becak mengelilingi sebuah taman. Di dalam becak, Jimin tak henti-hentinya menunjuk berbagai hal yang dia lihat seperti tupai, bunga-bunga, dan pepohonan rindang. Yoonji tak banyak merespon.

Tapi sesekali Jimin berhasil menangkap basah Yoonji tersenyum.

Spot ketiga, Jimin membawa Yoonji ke pameran seni. Jimin sok mengeluarkan komentar artistik sementara Yoonji kebanyakan menguap.

Masih jelas di ingatan Jimin, kata-kata Yoonji saat dia mengoreksi komentar Jimin tadi.

"Namanya Picasso, bukan pilates. Kalau tidak tahu, tidak usah sok-sokan. Kau membuatku jijik."

Ternyata pengetahuan seni Yoonji lumayan bagus juga.

Spot keempat, mereka pergi ke aquarium raksasa.

"Kenapa kau membawaku ke sini?"

Jimin cengengesan saat menuntun Yoonji masuk. "Aku ingin membawamu ke banyak tempat, supaya aku tahu kesukaanmu~! Apa kau suka ikan?"

"Ya."

Jimin mengangguk senang. Dia tidak salah pilih!

"Untuk makan malam."

Jimin termangu. Sementara ikan-ikan yang tadinya berenang dengan tenang di depan mereka, segera membubarkan diri.

Yoonji melirik Jimin, sebelum tertawa kecil. "Aku bercanda. Kajja."

Jimin terhenyak untuk beberapa saat, sebelum senyumnya kembali mengembang.

"Boleh aku gandeng~?"

"Gak."

"Oh ok."

:

:

Selanjutnya Jimin mengajak Yoonji ke dua spotnya yang terletak di distrik yang sama.

"Yoonjiya! Ayo photobox!"

Jimin menunjuk photobox di depan mereka dengan girang.

Yoonji cemberut. "Untuk apa?"

Jimin mengedipkan sebelah matanya lalu menyeret Yoonji masuk ke dalam box tersebut.

"Ayo kita pose Yoonjiya~!" Jimin menekan tombol start setelah memasukan beberapa koin ke mesin photoboxnya.

Yoonji mengangkat jarinya membentuk v, masih berwajah masam.

Jimin meraih dagu Yoonji membuatnya memandang ke matanya.

Jepret

"Yak!" Yoonji menepis tangan Jimin kesal.

Jimin cengengesan.

Lalu foto keduanya Jimin dengan mendadak (lagi) mengecup puncak kepala Yoonji.

Jepret

"PARK JIMIN!"

"Mian mian!"

Jimin harus berkorban demi foto mesra dengan Yoonji.

Lalu foto ketiga dan keempat Jimin berpose memberi hati dengan jarinya dan gaya sok keren memasukan tangan ke saku jeansnya. Sementara Yoonji tak memberi pergerakan yang berarti.

Selesainya, Jimin menginspeksi foto hasilnya dengan gembira.

Walau yang mesra hanya dua, tapi dua foto terakhir juga bagus~! Yoonji terlihat manis mempoutkan bibir begitu~!

"Kau mau yang mana Yoonji~?" tanya Jimin sambil menoleh ke arah Yoonji.

Yoonji yang tadinya diam-diam mengintip foto-foto di tangan Jimin langsung tersentak. Dia buru-buru bersidekap. "Terserah!"

Jimin kembali mengalihkan perhatiannya pada keempat foto bersejarah itu.

"Kalau begitu yang ini, kau terlihat cantik!(dan aku terlihat keren)" Jimin menyodorkan fotonya yang sedang memasukan tangannya ke dalam saku. "Dan ini~! Kau terlihat manis di sini~!" Jimin memberikan foto dirinya yang sedang mencium kepala Yoonji.

"Awas kalau kau melakukan itu lagi!" omel Yoonji, tapi tetap menerima foto-foto pemberian Jimin.

Jimin menatapnya. Tangannya perlahan terangkat mengusap kepala Yoonji lembut. "Mian… apa kau membencinya?"

Yoonji kembali tersentak. Dia buru-buru mengalihkan pandangannya. Diam seribu bahasa.

Jimin nyengir. "Kuanggap itu sebagai tidak~!"

Yoonji mendelik.

:

:

"Yak Park Jimin."

Yoonji lebih muda darinya padahal, lancang juga. Tapi tetap manis kok.

"Kau serius? Kita akan masuk ke situ?"

Kini Jimin dan (soon-to-be) kekasihnya, Min Yoonji, sedang berdiri di depan sebuah rumah reot muram tidak jelas. Ada papan kotor di depannya.


Rumah hantu SS


Ya, Jimin tahu yang kau pikirkan. Jimin akui dia memang penakut sama hal beginian. Awalnya juga dia ragu saat menemukan tempat ini di situs kencan favorit di Naveria, tapi saat mendapat review dari pengunjungnya, bahwa hubungan mereka semakin mesra setelah lolos dari tempat ini, bahwa rasanya asyik karena dipeluk-peluk, dan tempatnya tidak seram.

Tentu ada juga review buruk dari namja yang diputuskan yeojachingunya karena bersembunyi di belakang sang yeoja atau lebih parahnya lagi langsung kabur meninggalkan yeojachingunya saat bertemu hantu jejadian.

Tapi Jimin memutuskan untuk tidak memperdulikan itu.

Dia sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Dia membaca pengalaman-pengalaman para survivor dan mempelajari jenis-jenis hantu apa saja yang ada.

Jimin yakin dia bisa mengatasi ini.

"Iya! Kajja!"

:

:

Jimin ingin menjerit.

"MIN YOONJI GIVE YOUR LOVE TO ME ALREADY!"

Dengan bgm 'Give Love'-nya Akdong Musician.

Tapi itu tak mungkin.

Hahh… tak apa… Jimin sabar kok…

… Oh ya, btw…

Ide membawa Yoonji ke rumah hantu ternyata salah besar.

Jimin hampir memaki setiap hantu muncul. Dia juga nyaris menginjak hantu yang mencengkram kakinya dan menampar potongan tahu dingin yang jatuh mengenai bahunya.

Kalau kau mengira Jimin sadis, Yoonji lebih sadis lagi.

Saat bertemu hantu pertama, Yoonji langsung memberi bogem mentah tepat ke wajah hantu itu. Setelah itu dia berlari meninggalkan Jimin sambil berteriak.

Suasana yang gelap membuat Jimin tak mampu mengejar Yoonji. Dia juga masih dalam keadaan shock dengan perbuatan Yoonji.

Sesekali Jimin bisa mendengar jeritan melengking Yoonji dan bunyi pukulan yang diikuti oleh rintihan beberapa suara yang Jimin duga adalah suara hantu-hantu korban Yoonji.

Akhirnya Jimin tertatih-tatih mencari pintu keluar, mengalami serangan jantung kecil beberapa kali, hampir tersandung dua kali…

Ah…

Pokoknya tidak berjalan lancar…

Dan kejutan indahnya, begitu Jimin berhasil keluar, hujan deras menerpa Seoul.

Seakan tidak ingin Jimin bahagia.

… Jinjja…

:

:

Jadi di sinilah Jimin dan Yoonji. Di emperan toko. Berteduh dari hujan yang semakin deras.

Rencana Jimin hancur berantakan. Padahal spot yang belum mereka kunjungi masih banyak…

Jimin benar-benar kesal…

Yoonji pasti kecewa.

Jimin melirik Yoonji. Yeoja itu sedari tadi hanya diam di tempatnya berdiri. Wajahnyapun datar.

Sampai manik Jimin menangkap bahu Yoonji yang gemetaran.

Yak! Jimin pabbo!

"Maaf, Yoonjiya! Kau kedinginan! Oh Tuhan!" Jimin buru-buru melepas jaketnya dan menyodorkannya pada Yoonji.

Yoonji membelalak. "A-ani. Tidak usah."

Jimin menggigit bibirnya. Tanpa bicara sepatah katapun, dia memakaikan jaketnya secara paksa pada Yoonji. Dia lalu mengusap-usap tangannya dengan cepat, mencari kehangatan, setelah mendapatkannya, Jimin memegang kedua pipi Yoonji.

"… Mianhae…" bisik Jimin berulangkali. "Aku mengecewakanmu…"

Yoonji menatap Jimin yang sudah menunduk, tampak sangat kecewa. "Ani. Hari ini menyenangkan kok."

Jimin sontak mendongak, tak percaya dengan yang baru dia dengar. "J-jinjja?"

Yoonji perlahan tersenyum manis, membuat kedua matanya menjadi garis lurus. "Ne."

Jimin sendiri terpaku di tempatnya. Senyuman Yoonji seakan menyembuhkan semua luka di hatinya. Seakan-akan Jimin jatuh cinta untuk pertama kalinya lagi.

Kupu-kupu yang berterbangan di perutnya itu buktinya.

Jimin tersenyum bahagia, kedua tangannya masih menangkup pipi Yoonji sementara wajahnya mendekat.

"Saranghae… jeongmal… aku beruntung bisa bertemu denganmu…" bisik Jimin.

Yoonji hanya diam, menatap Jimin dengan kedua maniknya yang membulat.

Wajah mereka sangat dekat sekali saat ini.

Yang terjadi selanjutnya, membuat Jimin terkejut.

Yoonji menangis.

Tentu saja Jimin panik.

"Y-Yoonjiya! Kenapa kau menangis? Maaf!" Jimin buru-buru menjauhkan tangannya, melompat ke belakang, mengira dia sudah lancang memegang-megang Yoonji.

"… Ani… jangan pergi…"

Jimin terkejut. Dia melangkah mendekati Yoonji dengan perlahan.

Yoonji memegang ujung kaos Jimin, masih menangis.

"Yoonjiya… ada apa…?" bisik Jimin sedih. Hatinya perih melihat Yoonji menangis seperti ini.

Yoonji tak menjawab, tak juga mau melepas pegangannya pada ujung kaos Jimin.

Jimin berpikir sejenak. Kemudian, ditariknya tubuh kecil Yoonji dengan lembut untuk masuk ke dalam pelukannya. Satu tangannya bersarang di belakang kepala Yoonji, menepuk-nepuknya pelan, sementara bibir Jimin tak henti-hentinya mengeluarkan kata-kata menenangkan di telinga Yoonji.

"Gwenchana…"

"Saranghae…"

"Tolong jangan menangis…"

"Aku di sini…"

Yoonji tampak tegang sejenak, sebelum kedua tangannya terangkat membalas pelukan Jimin.

Jimin tersenyum senang. Tak dipedulikannya fakta bahwa mereka sedang di depan umum. Ini kebahagiaannya dengan Yoonji, kenapa dia harus memikirkan orang lain?

"… Kau masih menyukaiku…?"

Jimin mengernyit. "Tentu saja!"

"… Aku sudah bersikap kasar padamu."

Jimin tersenyum, memilih untuk mengeratkan pelukannya. "Bukan masalah. Aku tetap mencintaimu."

Yoonji tak membalas.

Jimin melanjutkan. "Awalnya aku mengira kau membenciku… tapi kau malah tersenyum padaku, tertawa dengan tingkah tidak jelasku… jadi kusimpulkan kalau kau hanya sulit mengekspresikan perasaanmu."

Tubuh Yoonji tersentak, sepertinya kata-kata Jimin tepat mengenai hatinya.

"Aku jatuh cinta padamu berkali-kali hari ini…" Jimin terkekeh. "Kau tahu itu?"

Yoonji menggeleng kecil.

"… Kenapa kau menangis…?"

Jimin bisa merasakan kaosnya basah oleh air mata Yoonji, tapi tak masalah.

"… Tidak ada yang pernah memperlakukanku seperti ini sebelumnya…"

Jimin menepuk-nepuk bahu Yoonji. "Begitukah…"

"… Ini pertama kalinya untukku…"

Yoonji menggelengkan kepalanya, masih bersembunyi di dada Jimin.

Ya, di cerita ini Jimin lebih tinggi beberapa cm dari Yoonji.

"Tidak ada yang… menyukaiku seperti… kau…"

Jimin tersenyum, melonggarkan pelukannya, menatap dalam kedua manik Yoonji.

"Mungkin mereka tak melihat apa yang kulihat." bisik Jimin sambil mempertemukan dahi mereka. "Kau berharga… kau istimewa… kau sempurna…"

Yoonji memejamkan matanya, membiarkan jemari Jimin bermain di pipinya.

"Semuanya tentangmu. Makianmu, sikap kasarmu. Aku menyukainya. Kau sangat lucu dan manis. Aku belum pernah bertemu yeoja yang seperti dirimu."

Yoonji membuka matanya, sekali lagi memberi Jimin senyuman manis itu.

Jimin membalas senyumannya. "Saranghae, Yoonjiya~!"

Seketika, senyum itu luntur, dan Jimin bisa menemukan luka di kedua mata Yoonji.

Yoonji menunduk, menggigit bibirnya. "… Ung…"

… Apa Jimin salah bicara…?

:

:

Hujan sudah berhenti beberapa saat yang lalu.

Jimin mengecek jam tangannya. Sudah jam 7 malam. Masih bisa. Masih ada waktu untuk membawa Yoonji ke spot terakhir dari rangkaian spot kencannya!

"Yoonji, hujannya sudah berhenti."

Yoonji yang entah kenapa sangat pendiam sejak tadi hanya mengangguk. Wajahnya tampak tak bersemangat.

"Aku ingin membawamu ke satu tempat lagi. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang. Aku janji sebentar saja! Bolehkah?" harap Jimin.

Yoonji diam, tampak berpikir. Sebelum akhirnya dia membuka suara. "Arraseo."

Jimin memandangnya sejenak, sebelum senyumnya mengembang.

"Oke~!"

:

:

"Kenapa kau membawaku ke hutan? Apa kau berencana memperkosaku dan membunuhku dan meninggalkan jasadku membusuk di sini?"

Jimin tersentak dengan penuh kedramatisan mendengar pertanyaan sarkas Yoonji.

"Aku tidak mungkin melakukan itu padamu, Yoonjiya!" jerit Jimin tak terima.

Yoonji mendengus. "Lalu kenapa membawaku ke hutan?"

"Aku mau menunjukan sesuatu~!" Jimin cengengesan. Dia kembali melangkah, tapi dia segera tersadar bahwa Yoonji sangat lambat. Jimin memperhatikan kaki Yoonji.

Oh sial.

Kakinya lecet karena terlalu banyak berjalan.

Park Jimin! Sekali lagi kau telah mengacau! Selamat!

"Mian Yoonjiya! Kakimu sampai lecet begitu!" Jimin buru-buru menghampiri Yoonji dan berlutut untuk melihat kaki Yoonji lebih dekat.

"A-ani! Cepat berdiri!"

Tidak bisa begini!

Jimin tanpa peringatan langsung menggendong Yoonji bridal style, membuat yeoja itu menjerit kecil karena kaget.

"Apa yang kau lakukan?!"

"Menggendongmu." Jawab Jimin pendek sambil mulai melangkah.

"Tidak perlu! Turunkan aku!" kesal Yoonji sambil berusaha berontak.

Tapi Jimin pura-pura tuli.

Akhirnya Yoonji menyerah dan membiarkan Jimin menggendongnya.

Jimin tersenyum saat perlawanan Yoonji terhenti.

Makan waktu sepuluh menit untuk sampai ke tempat tujuan.

"Kita sudah sampai~!"

Yoonji yang tadinya memejamkan matanya –nyaman digendongan Jimin- sontak membuka mata dan melihat sekeliling.

Seketika dia merasa takjub.

Rupanya Jimin membawanya ke sebuah sungai yang dipenuhi kunang-kunang. Sungai itu sangat jernih, jangan lupakan cahaya kunang-kunang yang terpantul dengan indahnya. Bunga-bunga juga bermekaran dengan indahnya.

"… Woah…"

Jimin tersenyum senang saat mendengar gumaman Yoonji. Dia membawa Yoonji berkeliling sejenak, sebelum akhirnya berhenti di pinggir sungai.

Yoonji menatap sungai itu.

"Jangan bilang kau akan melemparku."

Jimin tertawa renyah. "Aku tidak akan melakukan itu, Yoonjiyaa~!"

Yoonji mendengus.

Jimin tersenyum. "Aku menemukan tempat ini saat kemah SMA dulu." Ujarnya. "… Dan kau satu-satunya orang yang kuberitahu."

Yoonji masih memandang sungai itu, tatapannya kosong.

"Wae…?"

Senyuman Jimin semakin lebar.

"Karena aku mencintaimu."

"… Huh… kita baru bertemu beberapa kali…"

Jimin mengangguk. "Aku sudah merasakan getaran sejak hari pertama kita bertemu." Gumamnya. "Dan kencan kita hari ini membuat semuanya lebih jelas…"

Jimin mengalihkan pandangannya, menatap Yoonji hangat.

"Aku sangat mencintaimu, Yoonjiya…"

Yoonji tak membalas tatapan Jimin. "… Kau sudah bisa menurunkanku."

Rasanya berat sekali melepas Yoonji dari gendongannya, tapi Jimin terpaksa menurut.

Yoonji melihat sekeliling. Sibuk sendiri.

Sementara Jimin setia memandanginya dari belakang.

"… Tempat ini sangat cantik…"

Jimin tersenyum. "Tapi kau lebih cantik lagi…"

"… Hentikan itu."

Jimin terkekeh. "Aku bersungguh-sungguh~!"

Yoonji mendengus sebelum kembali menyibukkan diri melihat sekeliling.

Jimin memandangnya sejenak, sebelum mulutnya kembali terbuka.

"Yoonjiya."

Yoonji perlahan menoleh.

Jimin tersenyum.

Yoonji sungguh sempurna. Wajah cantiknya diterangi oleh cahaya kunang-kunang dan diperindah oleh sinar rembulan.

Jimin bisa memandanginya selamanya.

"Mwo?"

Jimin tersadar. Dia kembali memfokuskan tatapannya pada kedua manik Yoongi.

"Apa ada yang harus kuubah?"

"Mwo?"

"Apa ada yang harus kuubah agar membuatmu mencintaiku?"

Yoonji memandangku.

Kami terdiam sejenak.

Aku menahan napas.

Menunggu apa yang akan dia katakan.

Mulutnya kemudian terbuka.

Lama tak ada suara yang keluar.

Hingga akhirnya dia berbicara.

"… Tak ada."

Yoonji tersenyum tipis.

"Kau sempurna."

-MY-


YOONGI POV: ON


Aku memejamkan mataku. Sudah sejam sejak aku pulang dari 'kencan'ku dengan Jimin. Untung saja Yoonji sedang ke rumah temannya.

Yang kulakukan kini hanya berbaring di atas ranjangku. tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Jungkook tadi.

Bagaimana, hyung?

… Bagaimana apanya…

Rasanya tadi waktu berjalan lama sekali. Aku masih bisa mencium aroma kopi yang kupesan di kedai crepes tadi. Sulap sendok tidak jelas Jimin, komentar sok tahunya di museum tadi, juga saat Jimin mengira gurita dan cumi-cumi itu sama.

Aku membuka mata dan melirik ke samping ke arah tasku. Kuraih tas itu lalu merogoh isinya. Kukeluarkan dua foto hasil photobox dengan Jimin tadi.

Aku memandangi yang pertama. Park Jimin berpose sok keren memasukan tangannya ke dalam saku celananya.

Aku tertawa meremehkan.

Lalu kulihat foto kedua. Park Jimin mencium kepalaku.

Kemana harga diriku?

Aku namja. Dia namja.

Aku jijik.

Cuih.

Kami sesama namja.

Seandainya dia tahu, dia pasti akan marah.

… Seandainya… dia tahu…

… Tidak mungkin dia bilang dia menyukaiku…

Dia mengira aku Yoonji…

Dia normal…

Sialan, Min Yoongi, kuatlah.

Aku melempar kedua foto itu ke lantai, lalu kembali memandang langit-langit kamar.

… Yoonji sangat beruntung…

"Maaf, Yoonjiya! Kau kedinginan! Oh Tuhan!"

Jimin sangat mencintainya.

"Saranghae… jeongmal… aku beruntung bisa bertemu denganmu…"

Jimin mencintai Yoonji.

"Aku jatuh cinta padamu berkali-kali hari ini…"

Jika dia tahu bahwa yang dia kencani tadi aku, dia pasti akan marah.

"Mungkin mereka tak melihat apa yang kulihat."

Aku tidak sebaik, secantik, selucu Yoonji.

"Kau berharga… kau istimewa… kau sempurna…"

Aku kasar, dingin, menyebalkan.

"Aku menemukan tempat ini saat kemah SMA dulu."

Tidak akan ada yang mencintaiku seperti Jimin.

"… Dan kau satu-satunya orang yang kuberitahu."

Jungkook pembohong.

"Awalnya aku mengira kau membenciku… tapi kau malah tersenyum padaku, tertawa dengan tingkah tidak jelasku… jadi kusimpulkan kalau kau hanya sulit mengekspresikan perasaanmu."

… Bohong…

"Apa ada yang harus kuubah agar membuatmu mencintaiku?"

Aku menggigit bibirku.

"… Kau sempurna… dasar brengsek… hentikan ini…"

Aku memejamkan mataku.


"Saranghae, Yoonjiya~!"


Senyumku kembali mengembang.

"… Kau terlalu… sempurna…"


YOONGI POV: OFF


TBC


Halo!^^ saya kembali~!

Saya greget pengen bikin bagian kencannya, dan berhubung besoknya hari minggu, jadi saya nekat nyelesain chapter ini semalaman. Saya begadang bikinnya, jadi rada ndak konsen. Maaf kalau ada typo yang bertebaran!^_^"

Chapt ini mostly pakai POV orang ketiga tapi dari pihak Jimin. Jadi saya pakai nama Yoonji. Semoga tidak bikin bingung ya.

Saya sudah baca review yang masuk, ada yang bilang chapt kemarin terlalu pendek, jadi chapt ini saya tambahkan wordsnya jadi 3000an, semoga cukup ya!^_^"

Terima kasih atas review yang masuk! Saya sangat menghargainya!^^

Saya tidak bisa janji akan uplat lagi setelah ini. Ini juga kebetulan ide ngalir deras, jadi dari jam 8 tadi saya kebut sampai jam 12TwT)b jadi sekali lagi mohon maaf jika ada kesalahan pengetikan.

Saya ketik ini sambil ngedengerin KPOP love song untuk bagian awal dan lagu putus cinta KPOP untuk bagian terakhir. (curhat)

Semoga chapter ini memuaskan!^^

Sekian dan terima kasih!^^


-Siwgr3_/08-04-2018/