"Hyung! Mau tahu rahasiaku?"

"Ngga-"

"AKU MENCINTAIMU!"

:

:

"… Heh?"

:

:


My Secret

.

A BTS Fanfic

.

MinYoon/YoonMin

.

©Siwgr3

.

Main Cast: Park Jimin/Min Yoongi

.

Other Cast: BTS Members, Yoonji, Other

.

Pair: MinYoon/YoonMin, Bott!Suga, Uke!Suga

.

Genre: Romance, Fluffy (Hopefuly)

.

Rated: T

.

Warn:Producer!Yoongi, Colleger!Jimin, Crossdress at the later chapter, Full of cursing, Time Skip(5 years), newbie author


Sejak 'insiden' kencan pertama mereka, Jimin jadi semakin rajin menchat Yoongi dan mengajaknya berkencan.

Dan berkali-kali Yoongi tak mampu menolaknya.

Dia sudah tak mengerti lagi. Yoongi hanya ingin merasakan perhatian Jimin untuk sedikit lebih lama lagi. Bahkan Jungkook sudah berkali-kali mengingatkannya.

"Ingat, hyung! Tujuanmu itu agar si Jimin ilfil!"

Dan Yoongi akan dengan keras kepalanya membalas,

"Iya! Aku tahu, bocah! Aku hanya ingin mempermainkannya!"

Tidak. Yoongi tidak mempermainkan Jimin.

Jiminlah yang mempermainkannya.

Mempermainkan perasaannya.

Dengan senyuman hangat, tawa manis, dan sentuhan lembutnya itu.

Yoongi yang dulu mungkin akan menjerit jijik.

Tapi dirinya yang sekarang…

… Seakan merindukan kehangatan tubuh Jimin.

Sedikit lebih lama lagi.

… Biarkan seperti ini lebih lama lagi.

:

:

"Yoonjiya~! Lihat!"

Yoongi yang tadinya melamun menatap langit melalui jendela café, menoleh ke arah Jimin.

Ini sudah kencan ketujuh mereka. Setelah di kencan-kencan sebelumnya Jimin terus membawa Yoongi ke tempat-tempat absurd, Yoongi jadi harus memohon kepada Jimin untuk kencan yang normal. Dan Jimin mengabulkannya –walau sedikit ragu.

Dan sejak kencan pertama mereka pula, Yoongi lebih memilih pakaian yang nyaman. Dia punya kenangan buruk dengan heelsnya. Di kencan kali ini Yoongi memakai sweater turtleneck berwarna hitam yang dilapisi dengan jaket berwarna merah dan celana jeans hitam serta sneakers putih. Jimin tidak tampak keberatan.

… Jimin terlihat tampan dengan kaos polo hitamnya dan celana jeans biru robeknya. Lihat rambutnya.

… Terlihat sangat lembut.

"Yoonji?"

Suara lembut Jimin menyadarkan Yoongi dari lamunannya. "N-ne?"

Jimin menunjukan layar ponselnya dengan antusias. "Ini anak kucingku~! Namanya Suga~!"

Yoongi memperhatikan seekor anak kucing berwarna putih di layar ponsel Jimin.

"… Manis."

Jimin tampak gembira mendengar respon Yoongi. "Iya kan~? Dia sangat manis~~!"

Jimin mulai berceloteh gembira tentang Suga.

Yoongi sendiri memilih untuk diam dan mendengarkan. Jimin terlihat sangat bahagia, mau tak mau Yoongi ikut tersenyum menanggapinya.

"Ah~! Kau tersenyum~!"

Yoongi tersentak, dia buru-buru membuang mukanya. "A-ani."

Yoongi melirik dari sudut matanya, dan mendapati Park Jimin sedang memberinya senyuman hangat itu lagi.

Dan Yoongi hanya mampu memaki dalam bisikannya.

"… Sial…"

"Mmm? Kau bilang apa Yoonjiya?"

"… Ani."

"Mwooo?"

Yoongi mendelik. "Kubilang ani!" geramnya sambil menendang kecil kaki Jimin di bawah meja.

Jimin nyengir. "Mian mian~!"

Yoongi mencebikkan bibirnya. Bocah menyebalkan ini memang tidak cocok dengan Yoonjinya!

Yang jadi pendamping Yoonji haruslah tampan, baik hati, sopan, bertanggung jawab, dan-

… Kaya.

Yoongi menatap Jimin, menunjukan ketertarikan. "Jiminsshi." Panggilnya dengan ekspresi serius.

Jimin membalas dengan senyuman manisnya. "Ne~?"

"Kau kaya tidak?"

Hening sejenak.

Jimin terpaku di tempatnya.

Sementara Yoongi kembali memaki dalam hati dan mempertanyakan pilihan hidupnya. Jimin pasti akan ilfil padanya.

Duh, Yoongi sudah merusak image Yoonji jadi yeoja matre.

Tunggu, 'kan memang itu tujuannya!

Membuat Jimin ilfil!

"Aku tidak kaya, Yoonjiya." Jawab Jimin akhirnya. "Tapi aku akan berusaha demi kamu!"

Yoongi memicingkan matanya.

Modal nekat.

Memang tidak cocok dengan Yoonji.

Yoongi mendengus. "Kau masih bocah. Belum tahu apa-apa."

Jimin memandanginya.

Kalo Jimin bocah, Yoonji apaan dong?

Yoongi tersadar. Dia harusnya bersikap seperti gadis SMA, bukan lelaki tua yang sedang mengalami mid-life crisis. "M-maksudku… hidup itu keras… 'kan… jadi… ukh-"

Jimin nyengir melihat Yoongi gelagapan. Bocah ini benar-benar minta digampar.

Dan itulah yang dilakukan oleh Min Yoongi yang sedang panik.

"K-kenapa kau senyum-senyum, hah?!"

PLAK

"AGH!"

:

:

Yoongi namja.

NAMJA.

N-A-M-J-A.

Park Jimin juga namja.

Mereka sama-sama namja.

Sama-sama punya itu.

Jadi tidak mungkin Yoongi suka Jimin 'kan?

Tidak mungkin dia main pedang-pedangan 'kan?

Dia masih suka yeoja!

… Dia hanya perlu perhatian…!

PERHATIAN!

"KOOK AH!"

Tepat ketika pintu kamarnya dibuka paksa dan disertai oleh bentakan Yoongi, Jungkook seratus persen tahu hari minggunya tidak akan tenang.

Belum sempat Jungkook menoleh, sang hyung sudah terlebih dahulu melompat menerkamnya yang sedang tengkurap di atas ranjangnya, tadinya sedang memainkan game dengan damai, sampai hyungnya datang dan menjambak rambutnya.

MENJAMBAK

"AAAHHH HYUUNG! LEPAS!" Jungkook berusaha berontak, tapi entah Yoongi dapat kekuatan darimana. Cengkramannya tidak lepas, malah semakin menguat tiap detiknya.

"AKU NAMJA 'KAN, KOOK AAAHHH?! AKU PUNYA PENIS! WALAU TAK BESAR FUCK! TAPI AKU TETAP PUNYA!"

Jungkook sampai tak tahu harus berkomentar apa atas jeritan memilukan hyungnya. "IYAA HYUUNGG! LEPAS DULUU!"

Tapi Yoongi tetap menjambak dengan kuat. Masih mengeluarkan racauan-racauan tidak jelasnya.

Jungkook merasa seperti akan botak sebentar lagi.

Akhirnya dengan sisa kekuatannya, Jungkook menendang perut Yoongi lumayan kuat hingga hyungnya itu jatuh terjungkal di lantai dengan pantat duluan.

"AH! YAK BRENGSEK! BERANI SEKALI KAU MENENDANG HYUNGMU!" bentak Yoongi murka sambil mengusap-usap pantatnya.

"OH MAAF! AKU HANYA MENCOBA MELINDUNGI SISA-SISA RAMBUTKU DARI JAMBAKAN SESEORANG!" balas Jungkook tak kalah murka. "JAMBAKAN SESEORANG YANG MENGAKU NAMJA! TAPI MENJAMBAK! MEN-JAM-BAK! WTH!"

Yoongi kehabisan kata-kata. Akhirnya dia membuang muka sambil sedikit menggerutu.

Jungkook menghela napas, sebelum menghembuskannya, berusaha menenangkan diri sendiri. Ekspresinya melembut. "… Kau kenapa hyung? Mendadak gila begini." Masih kesal rupanya.

Yoongi mendelik. "… Aniya! lupakan saja!"

Jungkook mendengus. Hyungnya ngambek, eoh?

"Seperti yeoja saja."

Yoongi mendelik mendengar gumaman Jungkook. "MWO?!"

Jungkook nyengir. "Aku bercanda, hyung." Dusta Jungkook. "Uhhh… jadi… dari yang kudengar tadi… kau mengalami krisis identitaskah, noon- maksudku hyung."

Yoongi sudah mengirimi Jungkook dengan tatapan lasernya. Jelas sekali dongsaengnya ini meledeknya!

Jungkook bertopang dagu, menatap Yoongi bosan. "Kau mau aku ngapain?"

Yoongi mendengus. "Lupakan!" bentaknya.

Ngambek.

Jungkook ngakak dalam hati, tapi sebisa mungkin mempertahankan poker facenya.

"Kau suka Jimin ya, hyung?"

Yoongi mendelik. "HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA?!"

Jungkook nyengir. "Kuanggap itu sebagai iya."

"Yak!"

Jungkook mendengus. "Jadi sampai kapan game 'menyamar' ini akan berjalan?"

Yoongi memicingkan matanya. "Ini kan kesalahanmu! GARA-GARA KAMU!"

Dia kembali emosi.

"Wowow, okay, hyung. Mian mian." Jungkook merangkak turun ke lantai kemudian mengelus-ngelus surai blonde sang hyung. "… Ada yang mau kau katakan, hyung?"

Ekspresi Yoongi melunak tatkala merasakan elusan Jungkook di kepalanya. "… Aku takut, Kook ah."

"Hmm?"

"… Aku takut dia akan membenciku."

:

:


-Sebulan kemudian…


Ini sudah kencan kesepuluh mereka.

Jimin bahagia.

Kencan malam ini dia membawa Yoonji kembali ke tempat waktu itu. Tempat penuh kunang-kunang yang indah. Karena ini saat yang istimewa.

… Sudah saatnya.

Jimin akan menembak Yoonji. Menyatakan perasaannya. Mengatakan isi hati sesungguhnya.

Jantung Jimin terus berdetak tak karuan. Kini di hadapannya, Yoonji sedang memandangi sungai yang disinari cahaya kunang-kunang. Yoonji tampak cantik sekali dengan hoodie biru, celana jeans hitam dan topi beanie hitamnya.

"… Min…"

Kini Jimin harus menyusun kata-katanya. Apa saja yang harus dia katakan? Apa dia harus mengatakan soal rencana bulan madunya juga?

"-Imin."

Tapi bagaimana kalau dia ternyata terlalu cepat dan membuat Yoonji ilfil?

"-Jimin."

Bagaimana ini? Aduh Park Jimin! Tidak biasanya kau begini! Harusnya kau-

"JIMIN!"

Jimin nyaris melompat dari tempatnya berpijak. "A-aaaiyaa! Yoonjiya! M-mian aku melamun!" gagapnya panik.

Ada jeda sejenak dari Yoonji, sebelum dia kembali bersuara.

"… Bagaimana pendapatmu soal… oppaku…?"

Jimin mengernyit. "Maksudmu Jungkook? Ya dia sahabat yang baik dan-"

"Bukan."

Perkataan Jimin terhenti.

"… Maksudku Yoongi oppa."

Ahhh… Jimin manggut-manggut. Baru saja dia hendak membuka mulut dengan beribu kata indah yang tertata rapi di otaknya, Yoonji sudah memotong.

"Jujur."

Jimin yang tadinya berniat mengagung-agungkan Yoongi –karena sepertinya Yoonji menyayanginya– langsung terhenti. Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia memilih untuk jujur –seperti keinginan Yoonji.

"… Uhhh… aku baru beberapa kali bertemu dengannya…" Jimin menggaruk tengkuknya. "Dia tampak tidak menyukaiku, tapi kurasa dia orang baik. Dia hanya bermaksud menjagamu dari namja lain. Bagaimanapun juga, itu perannya sebagai seorang kaka-"

"Jimin."

Jimin sontak menutup mulutnya mendengar selaan Yoonji.

"… Apa menurutmu… oppaku bisa dicintai?"

Jimin terhenyak.

"… Apa oppaku bisa dicintai…?"

Jimin sungguh tidak tahu harus menjawab apa. Maksudnya, Jimin 'kan tidak terlalu mengenal Yoongi!

Akhirnya Jimin memilih untuk menjawab dengan jawaban yang paling aman. "… Semua orang bisa dicintai, Yoonjiya."

Lama.

Yoonji tak merespon apa-apa.

Jimin sampai berpikir apa dia harus menyatakan perasaannya sekarang atau bagaimana. Takutnya timingnya tidak tepat, dan bukannya menjalankan rencana 'pernikahan bahagia bersama Yoonji dengan tiga anak atau lebih banyak lebih baik di sebuah perumahan sederhana sekaligus memiliki seekor anjing dan dua ekor kucing dan menghabiskan tiap hari minggu dengan makan es krim dan nonton telenovela bersama', bisa-bisa jatuhnya Jimin melajang seumur hidup karena tidak mampu moveon dari Yoonji.

Jimin yang sedang kalut dengan pikirannya tidak menyadari Yoonji yang berbalik dan melangkah mendekatinya. Dia baru tersadar saat telapak tangan dingin Yoonji menyentuh pipinya.

Jimin bisa merasakan seluruh tubuhnya menegang, sementara tatapannya lurus menatap Yoonji yang berwajah kosong.

"… Yoonjiya…?"

Yoonji masih menatapnya, kosong.

"… Kau pasti akan membenciku, Park Jimin…."

Jimin bisa merasakan kesakitan di nada suara Yoonji, dan dia membencinya.

"Aniya… apa yang kau katakan, Yoonjiya…" Jimin menyentuh lembut tangan Yoonji yang masih bersarang di pipinya.

"Kau akan membenciku." Ulang Yoonji lagi. Tak mengubah ekspresinya sama sekali.

Jimin balas menatapnya. "… Wae?"

"… Karena aku tahu." Yoonji perlahan tersenyum. "… Aku tahu pada akhirnya kau akan membenciku."

"… Wae…?"

"Karena aku palsu."

Jimin tidak tahan lagi.

Dia memerangkap Yoonji dalam pelukannya, sebelum mempertemukan bibir mereka berdua.

Dingin dan lembut.

Jimin menutup kedua matanya, tak memperdulikan Yoonji yang sepertinya sedang terkejut sekarang.

Ciuman mereka berjalan lembut dan penuh perasaan. Jimin ingin menunjukannya pada Yoonji. Seberapa cinta dia padanya, tak peduli apapun, karena Yoonji adalah Yoonji.

Dan jantung Jimin berdetak untuknya.

Tak lama kemudian, Jimin menjauhkan wajahnya seraya membuka mata, memandangi wajah cantik Yoonji di bawah terpaan bulan dan bintang.

Yoonji perlahan ikut membuka matanya, kedua matanya menyayu menatap Jimin, sementara bibirnya sedikit terbuka.

"Saranghae, Yoonjiya. Aku mengatakannya kemarin, sekarang, sampai akhir nanti. Aku akan selalu mencintaimu, aku yang akan membuatmu bahagia, aku yang akan membuatmu tertawa, aku tidak peduli jika itu dengan kekonyolan atau bahkan kejelekanku. Aku pasti akan membuatmu bahagia." Bisik Jimin, tak memutus tatapan mata mereka. "Bahkan jika nanti kau memilih bersama yang lain, kupastikan aku akan selalu mencintaimu, Yoonjiya."

Yoonji menggigit bibirnya, masih menatap Jimin. Dia tampak seperti mau menangis, tapi ditahan.

"Aku tidak peduli meski katamu kau palsu, aku tetap mencintaimu, Yoonjiya."

Jimin tersenyum hangat. "Saranghae. Saranghae. Aku tidak peduli harus berapa kali kukatakan agar kau mengerti. Aku akan terus mengatakannya. Saranghae, Yoonjiya."

Hening sejenak, sebelum mulut Jimin kembali terbuka.

"This is my true heart, baby…" suara lembut Jimin terdengar. "Inside my heart, it's full of you."

"Please give me your hand," Jimin meraih tangan Yoonji dan meletakannya di dada Jimin, masih mempertahankan jarak mereka yang sangat dekat. "My heart is beating fast."

"Inside my head, it's all about you. When I'm tired of the difficulties of the world, you bring me back to life." Tangan Jimin yang lain perlahan menangkup pipi Yoonji lembut. Masih bernyanyi lembut. "The curtain creates darkness far away, and you cleared it with your hand."

"You shine in front of my eyes and erase my darkness."

Jimin tersenyum hangat.

"I love you more than anyone else, only you and me, nanannanananana…"

"In this moment I'm so happy… I'm grateful that you come to me…" Jimin mempertemukan dahi mereka sambil tetap memandang lekat kedua manik Yoonji. "The one who gives everything to me, only you and me, nanananananna, it's you…"

Perlahan Jimin mencium dahi Yoonji, sebelum menangkap Yoonji masuk ke dalam pelukannya.

Waktu seakan berjalan lambat, dan Jimin menyukainya.

Memeluk Yoonji, hanya mereka berdua, memiliki kehangatan ini untuk dirinya sendiri.

Jimin merasa egois.

"… Saranghae…"

Jimin melotot. Apa telinganya tidak salah dengar? Dia sontak melepas pelukannya, menatap wajah Yoonji, masih terkejut.

"Saranghae…"

Yoonji tersenyum lebar.

Tidak menangis.

Tapi entah kenapa Jimin bisa merasakan kesakitan di kedua matanya.

… Kenapa?

"Saranghae… saranghae…" Yoonji masih bergumam.

Jimin akhirnya memilih untuk tidak memperdulikan firasat buruknya.

Bukannya ini yang dia inginkan?

Yoonji mencintainya.

Jimin tersenyum hangat sebelum menghujani wajah cantik Yoonji dengan ciuman-ciuman kecil. "Nado saranghae, Yoonjiya… gomawo… saranghae, Yoonjiya…" bisiknya di sela ciumannya.

Dan Yoonji juga tak berhenti mengatakannya.

"Saranghae…"

Masih dengan senyuman yang sama.

:

:

Kencan kemarin malam berakhir aneh.

Setelah sedikit tenang, Yoonji berkata begini:

"… Lusa sore… di kedai crepes yang waktu itu… aku ingin kau menemui… oppaku."

Akhirnya Jimin menyanggupi walau dia tidak yakin apa itu ide yang bagus atau bukan. Maksudnya, Yoongi membenci Jimin 'kan? Jimin tidak mau ke sana menemui sang kakak ipar dan langsung dipanggang oleh kata-kata pedasnya.

Tapi karena Yoonji yang meminta, jadi Jimin sanggupi.

Hanya menemui saja 'kan?

Ah iya! Jimin harus berusaha akrab dengan Yoongi hyung! Mungkin dengan beberapa pujian manis dan senyum tampan bisa meluluhkan hati es Yoongi!

Jimin mulai menata jutaan kata-kata mutiara nan indah di kepalanya.

Dia siap berperang besok.

:

:

Hari h.

Jimin sudah siap sedia. Baik mental maupun fisik.

Dia mematut dirinya di depan cermin kamarnya.

"Kau terlihat tampan hari ini, Jiminnya~! Seperti biasa~!" puji Jimin bahagia.

Narsis.

Jimin merapikan kemeja biru kotak-kotaknya yang sengaja digulung lengan bajunya sampai sebatas siku. Jangan lupakan celana jeans biru selutut dan sepatu nike hitamnya.

Entah kenapa rasanya Jimin lebih tampan saat pertemuan dengan kakak iparnya dibanding saat kencan dengan Yoonji.

Ya, dia harus meninggalkan kesan yang baik 'kan?

Akhirnya setelah yakin penampilannya rapi dan wangi serta otaknya siap dengan kata-kata mutiaranya, Jimin melenggang keluar kamarnya.

:

:

Jimin baru sampai di depan stasiun –keretanya terlambat berangkat, tak jauh dari kedai crepes tempat janjiannya dengan Yoongi, saat dia menemukan Yoonji sedang berjalan santai di depannya.

Apa Yoonji juga ikut pertemuan mereka ya?

Akhirnya Jimin memutuskan untuk memanggil Yoonji.

"Yoonjiyaa~~!" panggilnya dengan suara bindeng, minta dipukul. Dia setengah berlari menghampiri yeoja cantik itu.

Yoonji menoleh kepadanya dengan wajah bingung. "Ne…?"

Jimin ikutan bingung melihat reaksi Yoonji, tapi tetap mempertahankan senyum hangatnya. "Hai! Rupanya kau datang juga?"

Yoonji mematung sejenak, memandang lekat wajah Jimin sebelum wajahnya berubah cerah. "Ahhh! Jimin oppa ya? Temannya Kookie oppa?"

Senyuman Jimin perlahan luntur. "I-iya."

Yoonji tersenyum manis –tak menyadari perubahan ekspresi Jimin. "Sudah lama kita tidak bertemu~! Apa kabarmu, oppa~?"

Jimin seperti kehilangan kata-katanya.

Apa maksudnya ini?

Yoonji mengernyit. "Oppa?"

"… Ah… ne… oppa baik-baik saja…" Jimin memaksakan diri tersenyum, sementara pandangannya sudah jatuh ke tanah. "Uh… bagaimana kabarmu…?"

Yoonji kembali tersenyum. "Aku baik-baik saja~! Terima kasih sudah bertanya~!" jawabnya manis.

Hening sejenak.

Tapi Yoonji memecahkannya.

"Ah, oppa! Boleh aku minta kontakmu? Seperti Line atau semacamnya?"

Jimin mendongak, membalas pandangan polos Yoonji. "… Ne…?"

"Aku akan senang sekali jika kita bisa nongkrong kapan-kapan!" ujar Yoonji ceria.

"… A-ah… nee…" Jimin merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. "… Apa nama akunmu…?"

"Yoon-Ji-Mon!" jawab Yoonji, masih penuh senyum.

Sementara Jimin sendiri sudah membatu.

"… Yoonjiya…"

"Mmm?"

"… Apa kau tahu… akun KumamonSwag…?" Tanya Jimin, nyaris berbisik.

Yoonji mengangguk, tampak sedikit bingung. "Tentu saja! Itu akun Line Yoongi oppa! Bagaimana kau tahu? Apa Kook oppa memberitahumu?"

Jimin benar-benar kehilangan kata-katanya. Jadi dia hanya diam terpaku di sana, tak menjawab pertanyaan Yoonji.

Yoonji mengernyit, semakin bingung dengan tingkah Jimin. "Uhh, jadi… aku harus pergi, oppa. Aku sudah janjian dengan temanku!" Yoonji tersenyum. "Lain kali kita makan bareng ya, oppa! Bye~!"

Setelah itu Yoonji langsung berjalan melewatinya.

Jimin masih memandangi layar ponselnya.


YoonJiMon


Jarinya perlahan memijit tombol add.

Dia masih berdiri di situ untuk beberapa lama.

Sampai sebuah pesan Line masuk.


KumamonSwag: "Jimin? Apa kau jadi datang? Oppaku sudah menunggumu."


Setelah membaca pesan dari 'Yoonji' itu, Jimin hanya mampu tertawa.

… Dia benar-benar bodoh.

:

:

Yoongi kini sudah duduk di salah satu meja di dalam kedai crepes tempat dia janjian dengan Jimin. Sudah sepuluh menit lewat waktu janjian mereka, dan Yoongi semakin merasa panik.

Apa Jimin tidak jadi datang? Atau ada kecelakaan? Bagaimana kalau Jimin terluka?

Yoongi terus-terusan memeriksa ponselnya. Tak ada balasan dari Jimin.

Yoongi yang tadinya kalut, teralihkan perhatiannya dengan kehadiran seseorang di sampingnya. Saat dia menoleh, dia menemukan Jimin.

"O-oh… Jimin… sshi…" suara Yoongi mengecil tiap katanya.

Wajah Jimin aneh.

Namja itu tersenyum.

Tapi matanya tidak.

"Selamat pagi, Yoongi hyungnim. Maaf saya terlambat." Ucap Jimin datar sebelum melangkah untuk duduk di kursi di hadapan Yoongi.

Yoongi terdiam sejenak –masih berusaha memproses apa yang sedang terjadi. Tapi dia segera memperbaiki raut wajahnya. "O-oh. Gwenchana."

Hening.

Yoongi seakan-akan lupa dengan tujuannya memanggil Jimin ke sini. Jimin sedari tadi memandangnya tajam dengan senyum yang sudah hilang sama sekali dari wajah dinginnya.

Kenapa Jimin mendadak aneh begini?

Apa karena dia tidak menyukai Yoongi? Jadi semua sikap manis dan lembut serta hangat Jimin itu hanya untuk Yoonji?

Racauan otak Yoongi terhenti saat matanya menangkap pergerakan Jimin. Namja tampan itu meraih ponselnya dan mulai mengetik sesuatu.

Tak menunggu lama, ponsel Yoongi yang diletakkan di atas meja berbunyi dan nama JiminJiminJam tertera di layar.


JiminJiminJam: "Tes"


Yoongi masih memandangi layar ponselnya.

Tak bisa bereaksi.

"… Yoongi hyung."

Dan ketika Yoongi mendongak dan bertemu mata dengan Jimin, dia hanya menemukan ketakutan.

Ketakutan yang selalu dia rasakan.

Jimin tahu.

"… Aku memang bodoh, hm…" Jimin tersenyum.

Tapi Yoongi membenci senyumannya.

"… Aku bahkan sudah menciummu."

Yoongi merasa semakin ketakutan.

Tapi mulutnya tak bisa bersuara.

Dia tak bisa membela diri.

"… Aku sudah menghabiskan waktuku untukmu."

Yoongi tidak sanggup.

"… Ini menjijikan, hyungnim."


...

Saat itulah dunia Yoongi hancur.

...


"… Wae…? Kenapa kau melakukan ini…?"

Yoongi sungguh tidak tahu harus menjawab apa.

Harusnya dia diam saja.

Tapi mulutnya sama sekali tidak bisa bekerja sama.

"Tentu saja karena aku membencimu."

"… Ne…?"

"Aku tidak suka kau mendekati dongsaengku."

Yoongi memasang wajah dingin terbaiknya.

Membentengi hatinya yang sudah hancur.

"Kau jelek."

Bohong.

"Menjijikan."

Bohong.

"Kau mengira dirimu yang paling tampan, hah?"

Hentikan.

"Kau tidak pantas bersama dengan Yoonjiku."

Hentikan!

"Kau sama sekali tidak ada harganya."

HENTIKAN!

Jimin hanya memandanginya. Mendengarkan tiap kata yang meluncur mulus dari bibir Yoongi. Harunsya dia menghentikan Yoongi, harusnya dia memaki, mengatai Yoongi, memukulnya.

... Harusnya dia menghentikan Yoongi.

"Kau menjengkelkan."

"Yoonji bisa mendapatkan yang jauh lebih baik darimu."

"Kau bodoh. Kau bahkan tidak bisa mengenaliku."

"Konyol sekali. Tidak bisa membedakan yeoja yang kau cintai dengan hyungnya."

"Kau benar-benar sampah."

"Tidak berguna."

"Aku membencimu."

"Makanya aku menipumu."

"Aku mempermainkanmu."

"Kau baru menyadarinya sekarang?"

"Harusnya kau keluar dari kampusmu dan jadi pengangguran."

"Orang sepertimu hanya akan menyusahkan orang lain saja."

Mulut Yoongi tidak bisa berhenti.

"Kau menggelikan."

"Yoonji tidak akan mau dengan namja sepertimu. Harusnya kau bersyukur karena aku mencegahmu mempermalukan dirimu sendiri di depannya. Tanpa kau dia akan baik-baik saja, jadi jangan ganggu dia dengan tingkah menyebalkanmu."

"Hentikan." Gumam Jimin.

Yoongi ingin berhenti.

Tapi dia tidak bisa.

"Kalau aku jadi kau, aku rasanya akan bunuh diri saja. Menggelikan sekali."

"Hentikan!"

Yoongi ingin menangis.

"Orang sepertimu-"

"HENTIKAN!"

Mulut Yoongi otomatis tertutup. Wajahnya berubah keruh.

Dia membenci dirinya sendiri.

Apalagi saat bisa melihat luka di wajah Jimin.

"Kau tahu apa tentangku?" rahang Jimin mengeras, terlihat sekali kalau dia marah. "Ya, aku memang bodoh karena mengira kau Yoonji."

Jimin melempar tatapan tajamnya kepada Yoongi –membuat namja itu tersentak di kursinya.

"Tapi bukannya kau lebih menggelikan…? Berpakaian seperti perempuan begitu… kau ini apa…? Gay?"

Ada sesuatu yang putus di dalam diri Yoongi.

Dia marah. Dia tidak terima.

Dia tidak bisa.

"TAHU APA KAU?!"

BRAK

Dia tak memperdulikan tatapan terkejut pengunjung lain karena gebrakan mejanya.

"KAU KIRA AKU MAU MELAKUKAN HAL BEGINI, HAH?! MENGHIBURMU! PADAHAL KAU SAMA SEKALI TIDAK PUNYA KESEMPATAN BERSAMA YOONJI!" bentak Yoongi berang.

"HARUSNYA KAU MALU PADA DIRIMU SENDIRI! KAU MENCIUMKU! MENGGELIKAN! KAU MEMBUATKU JIJIK WAKTU ITU! BAHKAN SAMPAI SITUPUN KAU MASIH MENGIRAKU YOONJI!"

Jimin hanya diam, memandang Yoongi yang mengamuk.

"FUCK FUCK! BRENGSEK! KEPARAT! GARA-GARA KAU AKU HARUS MENGALAMI ITU SEMUA! HARUSNYA KAU TIDAK USAH SOK KECENTILAN PADA YOONJI!"

Jimin masih tak menjawab.

Tapi dia tetap menatap Yoongi dengan ekspresi itu.

Yoongi tidak bisa. Dia tidak tahan. Dia-

"HARUSNYA SEJAK AWAL KAU TIDAK ADA DI DUNIA INI!"

Hening.

Yoongi masih terengah-engah, tidak bisa mengontrol emosinya.

Jimin tersenyum.

Dia tak berkata apapun. Hanya berdiri kemudian melenggang pergi dari sana.

Meninggalkan Yoongi yang terpaku.

Yoongi masih terdiam di tempatnya.

… Harusnya Jimin yang marah 'kan…?

Memakinya, atau bahkan memukulnya… itu hak Jimin… Jimin bisa melakukannya… dia punya alasan…

Tapi kenapa justru Yoongi yang emosi…?

… Konyol…

LINE!

Mata Yoongi melirik ke layar ponselnya.

Dari Jimin.


JiminJiminJam: "Jangan hubungi aku lagi."


Itu saja.

Yoongi memandangnya kosong.

Sebelum bibirnya melengkung membentuk senyuman kecut.

"… Memangnya aku bisa…?"

:

:

Jungkook sama sekali tidak mengira Jimin akan datang ke rumahnya dan langsung meninjunya begitu dia membuka pintu.

Jungkook ingin membalas, tapi melihat ekspresi Jimin…

… Dia tidak bisa.

"KAU PUAS, HAH?! KAU MENIPUKU! MEMPERMAINKANKU! KAU KIRA KAU ITU LUCU?!"

Saat itu juga Jungkook paham alasan Jimin datang ke rumahnya dan langsung memukulnya.

"AKU MEMPERCAYAIMU, MIN JUNGKOOK! AKU BENAR-BENAR MENGANGGAPMU SEBAGAI SAHABATKU!"

Jungkook hanya membisu.

"KAU SENANG 'KAN KARENA BISA MEMBODOH-BODOHIKU?!"

"HYUNGMU ITU MEMBUATKU JIJIK!"

Jungkook tersentak. Dia benci jika ada yang berbicara buruk soal hyungnya. "KAU-"

"DIAM! DIAAAM! KUBILANG DIAM!" teriak Jimin –membuat Jungkook kembali menutup mulutnya. "AKU MEMBENCIMU! SANGAT! KENAPA KAU MELAKUKAN INI PADAKU, HAHH?! AKU MEMANG MENYEBALKAN, MEMUAKKAN, TIDAK BERHARGA, TIDAK BERGUNA! POKOKNYA SEMUA YANG BURUK ADA PADAKU! KAU SENANG KARENA SUDAH MELAKUKAN INI 'KAN?!"

"… Jimin-"

Satu tinju kembali melayang mengenai pipi Jungkook.

"KAU BRENGSEK!"

Jungkook tidak terima. Dia kemudian membalas tinju Jimin.

Jadilah mereka berkelahi di sana.

Mereka tak berhenti.

Sampai tetangga datang menegur mereka.

Saat itu Jimin mendorong Jungkook sambil menyeka darah yang mengucur dari sudut bibirnya. Dia tetap mengirim deathglarenya kepada Jungkook.

Dia lalu bergumam pelan dengan napas terengah.

"Kau sudah bukan temanku lagi."

Kemudian pergi meninggalkan Jungkook yang juga sedang dalam keadaan babak belur.

Jungkook benar-benar tidak bisa memproses ini semua.

Park Jimin datang dan memukulnya.

Berteriak.

Dan di atas itu semua,

Dia menangis.

:

:


NAMJOON POV: ON


"Hobi! Sudah kubilang bagian itu harus diaransemen ulang!" omelku, sementara Hoseok sudah mengerang. Kami kini sedang berkutat dengan sebuah lagu yang entah kenapa dari kemarin tetap terasa tidak pas.

"Aku bingung, Joon ahhhhh…" rengek Hoseok minta digampar. "Aku sudah mencoba, tapi malah jadi aneeehhh…"

Aku baru saja hendak membalas, pintu studio kami sudah dibuka kasar.

Kami sontak menoleh, dan menemukan Yoongi hyung, penampilannya berantakan sekali. Dia tak memperdulikan kami yang memandanginya, dan memilih tiduran di sofa.

"Oh, hyung…? Selamat datang…" sambutku hati-hati.

Aku mengenali wajah itu.

Wajah muak Yoongi hyung.

"Kukira hari ini kau tidak datang, hyung…? Bukannya kau janjian dengan seseorang?" tanyaku pelan.

Yoongi hyung hanya memandangi langit-langit studio, sebelum memilih untuk memejamkan matanya.

Meninggalkanku dan Hoseok yang kebingungan.

"… Dia kenapa…?" bisik Hoseok.

Aku tak menjawab.

Apapun yang terjadi padanya, sepertinya buruk.

… Ini pertama kalinya aku melihat Yoongi tampak kalut begini.

"… Biarkan dia tidur." Kataku akhirnya.

"Joon."

Suaranya menghentikanku yang tadinya berniat melanjutkan pekerjaanku.

"… Ne, hyung?"

"… Apa aku menyebalkan…?"

Sepertinya Hoseok tergoda ingin menjawab iya, hanya untuk melihat reaksi Yoongi hyung, untung saja aku berhasil membungkamnya.

"Tidak kok, hyung." Aku tersenyum. "Tidurlah, hyung."

Yoongi hyung diam sejenak. Sebelum mulutnya kembali terbuka.

"… Aku kacau, Joon ah."

Aku tidak menjawab.

Yoongi hyung juga tak berkata apa-apa lagi setelah itu.

Aku melirik Hoseok sejenak. "… Kau mau break sebentar, Hobi?"

Hoseok hanya tersenyum tipis.

"Aku akan memesankan ayam goreng." gumam Hoseok.

Aku mengangguk. Sementara Hoseok sibuk dengan ponselnya, aku berdiri kemudian melangkah mendekati Yoongi hyung. aku memandang wajahnya sejenak, sebelum tanganku terangkat dan mengusap rambutnya.

"… Joon."

"Ne, hyung…?" sahutku tanpa menghentikan tanganku.

"Apa kau bisa bernyanyi…?"

"… Kau dan aku sudah tahu jawabannya, hyungnim…"

Yoongi tampak terkekeh kecil.

"… Aku ingin mendengar suara itu lagi, Joon ah."

"Ne?"

"… Ani. Lupakan."

Akhirnya aku tetap berlutut di sampingnya mengelus-elus surainya, berusaha menenangkannya.

Tak lama kemudian napas Yoongi hyung mulai teratur.

Dia tertidur.


NAMJOON POV: OFF


TBC


Halo!^^ Saya kembali!

Maaf lama, saya mengalami writerblock yang membuat mood saya hancur sepenuhnya untuk ngetikTwT jadi akhirnya setelah mengumpulkan motivasi saya dengan nonton video yoonmin moment, saya berhasil menyelesaikan chapt ini.

Chapt ini berantakan dan mungkin banyak typonya, jadi mohon maaf!TwT

Btw, lagu yang saya pakai pas bagian Jimin nyanyi itu lagunya Super Junior yang judulnya All my heart! Saya sangat suka lagunya dan recommended buat didengar!^_^)b

Chapt ini sudah ada angstnya…(mungkin)^_^" saya sakit hati saat ngetik bagian terakhirnya, tapi yah… apa boleh buat, demi kelangsungan cerita. Jadi mulai chapt depan udah time skip ya. Semoga masih ditunggu!^_^"

Saya sudah membaca review yang masuk, terima kasih banyak! Semoga chapter ini tidak mengecewakan dan bisa tetap menghibur!^^

Happy anniversary buat BTS, meski kecepatan!^_^" semoga tahun ini semakin sukses dan bisa menyalurkan lagu dan cerita mereka ke seluruh dunia!^_^

Selamat hari raya lebaran juga buat umat muslim! Saya mohon maaf kalau ada kesalahan kata dan lainnya!^_^

Sekian dulu dari saya.

Terima kasih banyak!^_^


-Siwgr3_/10-06-2018/