"Hyung! Mau tahu rahasiaku?"
"Ngga-"
"AKU MENCINTAIMU!"
:
:
"… Heh?"
:
:
My Secret
.
A BTS Fanfic
.
MinYoon/YoonMin
.
©Siwgr3
.
Main Cast: Park Jimin/Min Yoongi
.
Other Cast: BTS Members, Yoonji, Kang Daniel, Other
.
Pair: MinYoon/YoonMin, slight!YoonNiel, Bott!Suga, Uke!Suga
.
Genre: Romance, Fluffy (Hopefuly), slow burn, angst, hurt/comfort
.
Rated: T
.
Warn:Producer!Yoongi, Colleger!Jimin, Crossdress at the later chapter, Full of cursing, Time Skip(5 years), newbie author
YOONGI POV: ON
BLAM
Si manajer sok misterius sudah pergi.
Meninggalkanku dengan Park Jimin berduaan.
Aku mulai memikirkan alternatif pilihan hidupku, dan apa yang akan terjadi jika seandainya aku menjadi pegawai kantoran biasa dan bukannya bekerja sebagai PRODUSER TERKUTUK INI!
MAKSUDKU, AYOLAH! ADA BERAPA BANYAK PRODUSER DI KOREA SELATAN?! DAN DIANTARA RIBUAN TRAINEE YANG MAU DEBUT, KENAPA HARUS DIA YANG MUNCUL?!
Ah… darah tinggiku…
"…"
Ini lagi.
Si Park Jimin masih dengan muka tegangnya menatap ke pintu. Tak bersuara sama sekali.
Mukanya seakan-akan aku hendak memperkosanya. Dasar kurang ajar.
Ugh… Min Yoongi… kau harus professional… aku tahu kau akan lebih memilih mengerjakan seratus lagu dalam sebulan dibanding berhadapan dengan Park Jimin, tapi hey! Kau seorang produser professional!
Akhirnya aku bersuara. "… Selamat pagi, Jimin… sshi…"
Aih, aku benci diriku sendiri.
"… Kau mau dengar lagunya dulu… atau…" suaraku semakin kecil tiap suku katanya.
… F*ck, ini canggung sekali.
Tak ada jawaban dari Jimin, aku sampai mulai berpikiran untuk menjedotkan kepalaku ke dinding, tapi akhirnya namja -yang sialnya tambah tampan- itu bersuara.
"Ah… iya…"
Aku meliriknya.
"Saya akan mendengarnya terlebih dahulu…"
Dia tersenyum. Tapi senyum yang memuakkan. Seakan-akan aku memaksanya. Membuatnya tak nyaman.
Seakan-akan… dia membenciku.
… Oh wait, Min Yoongi. Jimin 'kan memang membencimu…
Bukan berita baru.
Dia sopan padamu hanya karena kau produsernya.
Jika tidak, dia pasti sudah pergi dari tadi.
Tak sudi berada satu ruangan denganku.
… Aku membenci diriku yang berpikiran begini. Tapi aku tahu pasti.
Park Jimin memang membenciku.
… Aku tidak tahu seperti apa wajahku sekarang, jadi aku segera berbalik menghadap ke komputerku, tak mau Jimin melihat wajahku lebih lama lagi. Aku mulai menelusuri folder komputerku sambil menggigit bibir bawahku.
Mataku terasa panas.
Tapi harus kulawan.
Hell, hal terakhir yang kuinginkan sekarang adalah Jimin melihatku menangis seperti bocah cengeng di sini.
Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja.
Aku kemudian memutar lagu yang rencananya akan dijadikan title track.
Aku mendengarkan lagu yang terlantun. Apa Jimin menyukainya…? Aku rasa lagu ini cukup baik… dan akan cocok sekali dengan suara Jimin.
… Aku ingin mendengar suaranya lagi.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk berbalik, bermaksud melihat ekspresi Jimin. Tapi yang kudapatkan adalah namja tampan itu tengah memejamkan matanya, seperti fokus mendengarkan musik yang kuputar.
Hatiku menghangat. Apa dia menyukainya…?
… Tampaknya dia akan menutup mata untuk waktu yang lama. Aku memperhatikan wajahnya. Dia sudah semakin tampan. Rambutnya juga memanjang. Tubuhnya juga semakin kekar.
… Bibirnya juga sama seperti yang dulu…
… Sialan, kenapa wajahku memanas begini…
… Aku ingin memandangnya terus, seperti ini…
Aku harap waktu bisa membeku. Agar aku bisa memandangnya selamanya.
Aku menatapnya sejenak, menimbang apa aku bisa curi-curi memotretnya karena dia sedang tutup mata sekarang. Akhirnya setelah memastikan Jimin masih akan menutup mata, aku meraih ponselku dan tak lupa mematikan bunyi shutternya.
Setelah itu aku memotretnya tiga kali dari posisi dudukku, dan buru-buru meletakan ponselku ke atas meja saat lagu yang kuputar mendekati akhir.
"… Bagaimana…?" tanyaku penuh harap.
Jimin perlahan membuka matanya, tampaknya sedikit terkejut saat bertemu mata denganku. Dia langsung mengalihkan pandangannya, tersenyum. "Lagunya sangat bagus."
Aku diam. Menatapnya.
Senyumnya.
Aku hampir lupa.
Dia tampan sekali saat tersenyum begitu.
"Suara penyanyinya juga sangat bagus…"
"… Suaramu lebih bagus."
Jimin menoleh kaget.
OH SHIT, AKU KECEPLOSAN.
Bagaimana ini, Min Yoongi…?! Ughh! Kau dan mulut besarmu! Aku bisa merasakan wajahku memanas. Aku buru-buru membuang muka. "… Masuklah." Kataku sambil menunjuk ruang rekaman.
Jimin masih tak bergerak.
Aku sama sekali tak mau membayangkan isi kepalanya. Dia pasti risih mendengar kata-kataku. Bagaimanapun juga dia membenciku.
Akhirnya aku berdehem untuk menarik perhatiannya.
"A-ah ne…" Jimin melangkah masuk ke ruang rekaman.
Aku tak menatapnya sama sekali. Memilih untuk fokus pada layar komputer di depanku. Wajahku masih panas.
Tubuhku memang tidak bisa diajak kerja sama.
Akhirnya setelah menarik napas sejenak, aku bicara melalui mic. "Baik, kau sudah bisa mulai."
Ini akan jadi hari yang panjang.
Aku memutar lagu buatanku itu, dan kemudian memperhatikan Jimin yang tampak fokus pada kertas lirik. Tak lama, dia mulai bernyanyi mengikuti nada.
Dan bukannya aku ini dramatis atau bagaimana, tapi aku berani bersumpah suaranya jauh lebih indah dari penyanyi manapun yang pernah bekerja bersamaku.
Aku merindukan suara ini. Sudah lama sekali sejak terakhir aku mendengarnya langsung.
Aku merindukannya.
Aku tahu tidak sepantasnya aku menyukainya. Hell, harusnya aku sudah moveon darinya.
Tapi begitu melihatnya lagi, mendengar suaranya.
Bagaimana aku bisa?
YOONGI POV: OFF
:
:
JIMIN'S POV: ON
"Baik, hari ini cukup sampai di sini dulu."
Aku meneguk air mineralku. Tenggorokanku serak karena terus-terusan bernyanyi dari tadi.
"… Jiminsshi."
Aku menoleh ke arah Yoongi hyung, sedikit tegang. "Ya?"
"… Apa… um… kau terlihat lapar…" Yoongi hyung membuang mukanya.
Aku mengernyit. Perutu memang sudah keroncongan dari tadi.
"J-jadi… apa kau mau… makan bersama…?"
Otakku konslet.
Apa katanya? Yoongi hyung mengajakku makan?!
"S-sebagai rekan kerja!" koreksi Yoongi hyung sedikit panik.
Uhh… no…?
"Jeosonghamnida, tapi saya tidak bisa." Aku membungkukkan tubuhku sedikit.
Ya iyalah. Sedari tadi aku rasanya mau mati saja karena canggung sekali! Kenapa pula aku harus menambah penderitaanku dengan duduk lebih lama bersamanya!?
Aku meluruskan posturku dan berhasil menangkap ekspresi kecewa di wajahnya.
"A-ah. Baiklah."
Dia terlihat sangat kecewa. Aku tahu Yoongi hyung bukan orang jahat. Jungkook juga sudah memberitahuku soal insiden di kedai waktu itu.
… Tapi aku masih membencinya.
Aku mulai berpikir bahwa dia pantas untuk merasa sakit hati.
Ditolak bawahan? Hahaha!
… Tapi saat melihat wajah murungnya itu…
Entah kenapa justru hatiku yang merasa sakit.
"Hati-hati di jalan."
JIMIN POV: OFF
-MY-
"MIN JUNGKOOK!"
Suara itu berkumandang, tepat setelah Jungkook menekan tombol answer. Namja tampan itu sampai harus menjauhkan ponselnya sedikit.
Hyungnya ini memang suka berteriak. Ya, setidaknya pada dongsaengnya ini.
Membernya Eunwoo yang duduk di sampingnya mengernyit.
Jungkook tersenyum menenangkan. "Gwenchana, hanya hyungku."
Eunwoo mengangguk kecil, kemudian lanjut menonton tv sambil makan keripik kentang.
Hari ini Jungkook libur. Dia bisa berleha-leha di dormnya, nonton film bareng membernya, atau tidur. Mungkin juga bermain game beberapa ronde.
Tapi tidak.
"YAK MIN JUNGKOOK!"
Hyungnya yang manis, Min Yoongi, tak membiarkannya.
Akhirnya Jungkook memutuskan untuk merespon. "Ne, hyuungg~… ada apaaa…"
"JANGAN SOK BEGO!"
Eunwoo kembali menatap Jungkook pertanda dia bisa mendengar bentakan Yoongi.
Wow, hyungnya ini memang hebat. Padahal tidak diloudspeaker loh.
"Bego kenapa, hyung?" sejujurnya Jungkook tahu apa yang dimaksud Yoongi, tapi dia ingin bermain-main dengan hyung pendeknya itu. Rasanya menarik mendengar suara marah Yoongi.
Aneh memang, tapi sejak dia pindah ke dorm ini, dia jadi merindukan bentakan dan makian hyungnya.
"TEMANMU PARK JIMIN! DIA! AKU! STUDIO!" wow, hyungnya sampai tak bisa merangkai kata menjadi kalimat. "AAAH! KAU TAHU MAKSUDKU! KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU, HAH?!"
Jungkook mengernyit. "Aaa? Kukira kau tidak mau tahu apapun soal Park Jimin."
"YAK KAU BEDEBAH!"
Eunwoo sudah menatap ponsel Jungkook shock. Jungkook hanya tertawa tanpa suara.
"AWAS SAJA KALAU AKU MELIHATMU NANTI! F*CK F*CK!"
Yoongi mematikan teleponnya. Menyisakan Jungkook yang mulai ngakak dan Eunwoo yang kebingungan.
"Aih… hyungku memang sangat manis."
:
:
Yoongi menatap langit-langit studionya. Posisinya kini berbaring di atas sofa, sementara ponselnya tergeletak di lantai. Dia baru saja menelepon Jungkook, walau itu membuatnya semakin darah tinggi.
… Ahhh… ini gara-gara Park Jimin…
Tadi Yoongi dan Jimin menghabiskan waktu sekitar tujuh jam berduaan, merekam lagu Jimin, mencari letak kesalahannya, kemudian memperbaikinya. Yoongi juga harus menyesuaikan lagu itu dengan suara Jimin.
Satu lagu ini sepertinya akan makan waktu beberapa hari. Dan itu baru satu lagu! Bayangkan! Masih ada sekitar sebelas lagu lagi yang harus dikerjakan Yoongi bersama bocah itu!
DAN PENGALAMANNYA BERSAMA JIMIN TADI BENAR-BENAR MEMUAKKAN!
Rasanya canggung sekali bahkan hanya untuk bernapas. Heh, baru tujuh jam saja Yoongi sudah merasa akan mati. Dan ini dia harus bersama anak itu selama sebulan lebih?!
Juga tadi, saat Yoongi (dengan kecanggungan maksimal) menawarkan Jimin untuk makan malam bareng karena Jimin terlihat lapar, tapi Jimin dengan sopan menolaknya –setelah sebelumnya berwajah horror sebagai respon.
Yoongi ingin menjedotkan kepalanya ke tembok terdekat. Apa yang harus dia lakukan?! Dia tak akan mampu melewati semua ini! Yoongi tahu dia harus professional! Tapiii… tetap saja…
"Aih… kenapa Park Jimin…" erang Yoongi putus asa.
Namja manis itu masih berlarut-larut dalam kegundahannya, saat ada bunyi bel terdengar.
Yoongi lupa mengunci pintu saat Jimin pulang tadi. "Hngg, masuuuk. Tidak dikunci." Dia benar-benar ceroboh. Dan sekali lagi, ini semua salah Park Jimin!
Pintu studio terbuka, menampakkan sosok Hoseok yang tersenyum cerah. Terlalu cerah untuk mood Yoongi saat ini, sampai-sampai Yoongi mulai berpikiran untuk melempar asbak ke wajah Hoseok hanya untuk menghapus senyuman menyebalkannya.
"Hai, hyung~! Tumben kau tidak mengunci studiomu?" sapa Hoseok sambil melangkah mendekati Yoongi yang masih berbaring di sofa.
Yoongi sudah memasang wajah galaknya. "Bukan urusanmu!" ujarnya kasar.
Hoseok merengut. "Moodmu lagi buruk ya, hyung? Mukamu jelek sekali."
Kurang ajar.
"So, bagaimana dengan si anak baru? Chim-Chimmie?" Tanya Hoseok sambil duduk di lantai dan bersandar di kaki sofa, memberi Yoongi wajah penasarannya. "Aku tadi sibuk sekali, sampai tidak sempat ke sini."
Oh ayolah. Haruskah Hoseok mengingatkan Yoongi akan kejadian mengerikan tadi? Kejadian dimana si Chim itu ternyata Jimin, dan mereka hanya diem-dieman pas ketemu kayak orang lagi dilukis.
Yoongi tak menjawab, hanya memberi Hoseok geraman peringatan, mengingatkannya untuk tidak bertanya lebih jauh. Hoseok merengut. "Kau kenapa sih, hyuuung? Aku tidak pernah melihat moodmu seburuk ini, kecuali saat kau tahu Yoonji pacaran."
"JANGAN INGATKAN AKU SOAL ITU JUGA!"
Hoseok mengkeret. Dia hanya nyengir. "Iya iya~! Mianhaee~! Ceritakan saja, hyung~!"
Yoongi menggertakan giginya kesal. Berpikir sejenak, sebelum akhirnya menyerah dan membuka suara.
"… Chim itu… ternyata… Park… Jimin…" suara Yoongi semakin mengecil tiap suku katanya, membuat Hoseok mengernyit.
"Ne? Park apa?" Tanya Hoseok tak bisa baca situasi sambil mendekatkan telinganya ke mulut Yoongi.
"PARK JIMIN!" pekik Yoongi –membuat Hoseok melompat kaget, berusaha menjauhkan telinganya dari mulut Yoongi.
Hening sejenak. Hoseok tampak memproses nama yang baru saja Yoongi teriakan.
"… Park Jimin… yang itu…?" Tanya Hoseok dengan kedua mata membulat.
Yoongi mengangguk dengan wajah putus asa. "Iya."
"… Bu… BUHAAHAHAHHAHAHAHAHHAHA!"
:
Namjoon menatap kedua sahabatnya secara bergantian di studio Namjoon. Yoongi mengeluarkan sumpah serapah sambil menunjuk-nunjuk wajah Hoseok yang sudah memerah di pipi hasil gamparan sang hyung.
Tak lupa juga, Yoongi mengatai Namjoon dengan beribu kata-kata 'mutiara' karena sudah memilih agensi Jimin DAN menaruh Jimin di bawah tanggung jawab Yoongi.
Hoseok hanya duduk bersimpuh di lantai, menunduk, berusaha menahan tawanya, tak mau kena gampar lagi.
Pasalnya suara Yoongi saat ini terdengar sangat cempreng dan lucu di telinganya.
"KAU SIALAN! KENAPA HARUS PARK JIMIN, HAH?! TIDAK BISAKAH KAU MENANYAKAN NAMA ARTISNYA DULU?! HAAAAHHH?!"
Namjoon sampai kena semprot kuah lokal Yoongi. Namja tampan berdimples itu menyeka wajahnya yang ternodai dengan kesal. "Aku sudah menanyakannya, hyuunggg… tapi agensinya tetap ngotot menyembunyikan nama aslinya, takut bocor. Dia bilang setelah kita menandatangi kontrak, barulah mereka akan memberitahu namanya saat bertemu dengan produsernya yang kebetulan… kamu…"
Yoongi menggertakan giginya. "Jooooonnnnnnnn…"
Suaranya memelas.
"Bisa tidak kita batalkan saja kontraknya…? Ya ya?" rayu Yoongi penuh harap. Dia memang yang tertua diantara mereka bertiga, tapi tetap saja Namjoon adalah ketuanya. Segala keputusan ada di tangan Namjoon.
"Aniya. kita sudah terikat kontrak, hyung." Tolak Namjoon tanpa perasaan.
Yoongi semakin bermuram durja. "… Kalau begitu biar Hobi saja yang mengurusnyaaa…"
Hoseok sontak menoleh ke arah Yoongi, tak terima.
"No, hyung! Aku sudah punya dua artis yang harus kuurus!"
Yoongi menggeram. "Kalau gitu yang lain juga boleh…"
"Semuanya sibuk." Namjoon tersenyum. "Ada alasannya kenapa aku memberikannya padamu, hyung."
Yoongi sudah berwajah masam. "Apa?!"
"'Kan katamu pengen nyoba bikin lagu jazzy pop, hyung."
Yoongi dan mulut besarnya.
"Sudahlah, hyung. Tak mungkin seburuk itu 'kan?" Hoseok dengan berani menepuk-nepuk bahu Yoongi. "Profesional saja!"
Yoongi menghembuskan napas berat, putus asa. "… Arraseo…"
Namjoon menarik Yoongi masuk ke dalam pelukannya. "Gwenchana, gwenchana. Kau akan baik-baik saja, hyung." Gumamnya sambil mengusap-usap surai Yoongi.
Walau Yoongi selalu tampak tangguh, Namjoon tahu pasti Yoongi sesungguhnya sangat suka dibelai dan dipeluk. Yoongi butuh itu untuk ketenangan. Jika di rumah Yoongi punya Jungkook dan Yoonji untuk memeluknya, maka di studio Yoongi punya Namjoon dan Hoseok untuk menenangkannya.
Yoongi bergumam kecil sambil membalas pelukan Namjoon.
Dia takut. Tak punya muka bertemu Jimin.
… Tapi anggap saja pekerjaan, Min Yoongi. Kau pasti bisa.
… Walau rasanya pasti menyakitkan.
:
:
-Esoknya…
Yoongi benci ini.
Suara musik terdengar membahana.
"…"
Tapi mereka berdua lagi-lagi hanya terduduk diam tanpa saling pandang.
"…"
Sialan, canggung sekali.
Yoongi ingin bersikap professional, tapi lidahnya serasa kelu saat melihat wajah Jimin.
Dan ini baru sekitar sepuluh menit sejak Jimin datang.
Dalam hati Yoongi ingin meraung, menjambak rambutnya sendiri, tidak tahan dengan atmosfer yang berat ini.
Tapi dia masih sama.
Duduk terpaku di kursi putarnya, memasang wajah tegang nan pucat pasi, dengan kedua tangan yang terus-terusan gemetar.
Seseorang, tolong selamatkan dia.
"Anu…"
Yoongi sontak melirik Jimin.
"Jeoseonghamnida, Yoongi… sshi…" ekspresi Jimin jelek sekali. "… Bisa kita mulai rekamannya…?"
Yoongi membeku beberapa saat. Otaknya konslet. Tak ada satupun kata yang terlintas di benaknya. Yang ada hanyalah wajah Jimin di hadapannya.
Jantungnya berdegup menyakitkan karenanya.
Yoongi tidak yakin bisa bertahan selama sebulan ini, dengan Jimin yang kentara sekali tidak menyukainya.
Jimin hanya sopan karena Yoongi adalah produsernya.
"… Yoongisshi?"
Yoongi tersentak. "… Ah… iya. Uhh… sebelum itu… saya ingin mereview bagian ini dulu."
Tidak.
Yoongi kuat. Dia pasti bisa.
:
:
"Darling, whoever you are, you're still all mine… mine…"
Jimin menyelesaikan bagian akhir lagunya dengan selamat. Berkali-kali dia mengulang bagian ini, tapi masih terasa tidak sempurna.
Dia mencuri pandang ke arah Yoongi. Namja yang lebih tua darinya itu sedari tadi menutup mata ketika Jimin bernyanyi. Ekspresinya juga begitu lembut, berbeda saat ketika dia berbicara dengan Jimin tadi pagi.
Jimin masih menatapnya lama.
Sudah lama.
Entah kenapa Jimin baru menyadarinya.
… Sudah lama sejak terakhir kali dia melihat senyuman tulus itu.
Jimin terus memandangi bintang utama dari setiap mimpi basahnya itu –walau Jimin benci dan menolak untuk mengakuinya, sampai ketika Yoongi membuka matanya dan langsung bertabrakan dengan iris Jimin.
Mereka melotot, diam-diaman sejenak, sebelum buru-buru mengalihkan pandangan.
"… Uhh… kerja bagus, Jiminsshi… tinggal kita sempurnakan lagi besok…" suara Yoongi terdengar bergetar saat berbicara melalui micnya. "K-kau sudah bisa pulang. Kerja bagus."
"Kamsahamnida." Jimin membungkuk penuh, kemudian kembali meluruskan posturnya. Mencuri pandang ke arah wajah Yoongi yang sudah merah padam.
… Lucu.
… Ha…? Tunggu… NO NO, PARK JIMIN! KAU HARUSNYA MEMBENCINYA! BUKAN MALAH MERASA GEMAS PADANYA! WTH! DIA NAMJA!
Jimin menggeleng panik. Berusaha menenangkan dirinya.
Jimin kemudian melangkah keluar dari ruang rekaman, menuju meja kecil di depan sofa dan meraih sebotol air mineral yang sudah dipersiapkannya. Dia lalu meminumnya. Kemudian namja tampan itu menyeka keringatnya menggunakan ujung kaosnya, menyingkap abs sempurnanya yang sedari tadi bersembunyi.
Dia mengernyit saat merasakan ada tatapan ke arahnya. Dia melirik dan menemukan Yoongi memandangnya (atau lebih tepatnya perutnya) dengan mulut sedikit terbuka. Jimin mengernyit.
"Yoongisshi?"
Yoongi otomatis membungkam mulutnya. "… A-ah? N-ne. kalau begitu sampai jumpa lagi. Tolong segera pergi. Sekarang juga."
…? Jimin langsung diusir? Kasar sekali. Padahal baru kemarin Yoongi mengajaknya makan malam!
Yaya, Jimin juga tidak mau lama-lama di sini kok!
Dengan perasaan kesal, tapi masih memasang senyuman di wajahnya, Jimin meraih tas ranselnya. "Kalau begitu saya permisi dulu, Yoongisshi. Terima kasih banyak untuk hari ini."
Yoongi hanya mengangguk, tak menatap Jimin sama sekali.
Jimin mendengus. Dia membungkuk ke arah Yoongi sejenak, sebelum meluruskan posturnya dan melangkah ke pintu keluar.
Dia membuka pintu studio dan langsung disuguhi wajah tampan seorang artis.
'… Daniel Kang…?' batin Jimin menatap kaget namja di hadapannya.
Daniel juga tampak kaget melihat Jimin. "A-annyeonghesayo- m-maksudku annyeonghaseyo!"
Jimin buru-buru membalas salam Daniel sambil sedikit membungkuk. "Annyeonghaseyo."
"Daniel? Kenapa kau ke sini?" terdengar suara Yoongi mendekat, sampai Jimin bisa merasakan kehadiran namja pendek tepat beberapa senti di sampingnya.
Daniel merengut mendengar pertanyaan Yoongi. "Kau lupa, hyung? Tentu saja aku menjemputmu! Hari ini 'kan kita kencan!"
"… Ahh, iya. Mian, aku sedang banyak pikiran belakangan ini."
"Gwenchana, hyuuung~! Apa aku mengganggu? Kau sedang sibuk sekali ya? Kalau iya, kita bisa menundanya nanti."
"Tak apa. Aku sudah selesai kok."
Hening.
Otak Jimin konslet.
Wat
De
Pak
KENCAN?!
"Ini Park Jimin… dan ini… Kang Daniel…" suara Yoongi mengecil. Sepertinya dia baru teringat akan kehadiran Jimin tepat di sampingnya.
Kang Daniel tersenyum cerah kepada Jimin. "Halo!"
Jimin tak menjawab. Masih berwajah shock.
Tak terima.
Daniel mengernyit, kenapa namja di hadapannya ini tak merespon apapun? "Jiminsshi?"
"HAH?!"
Jimin menyemburkan kuah lokalnya ke wajah idol nomor satu Korea Selatan.
Jimin langsung panik. "J-jeoseonghamnida!"
Daniel menyeka wajahnya dengan lengan kemejanya. "Haha, gwenchana."
Jimin tersenyum fals. "Hehe…"
Hening lagi.
"… Uhh… Jiminsshi… kau bisa pulang sekarang…"
Interupsi Yoongi menyadarkan Jimin dari mental breakdownnya.
"A-AH?! Ah… ah. N-ne. Heheheh. Maaf, saya hanya kaget karena baru pertama kali melihat artis… saya memang norak…" Jimin mengorbankan harga dirinya. "K-kalau begitu permisi…"
Jimin melangkah melewati Daniel kemudian berjalan menjauh.
Samar dia bisa mendengar percakapan Daniel dan Yoongi.
"Kau tampak sangat manis, hyung."
"Hentikan gombalanmu. Aku dan kamu tahu, jeans belel dan jaket kusamku ini sama sekali tak menarik."
"Aku tidak membicarakan pakaianmu."
"… Berisik, bocah."
No no.
Jimin tidak cemburu.
What the hell?
Mau Yoongi nikah juga Jimin tidak peduli! Yoongi 'kan hanya produsernya! Tidak lebih! Jimin tidak menyukainya! Dia membencinya malah!
Jadi Jimin tidak peduli soal kencan Yoongi bersama namja idol yang paling digilai di Korea Selatan! Mau Yoongi jatuh cinta guling-guling pada Daniel juga bukan urusan Jimin!
… Ya…!
Sama sekali tidak peduli!
TBC
Halo! Saya kembali!^_^ maaf lama sekali ya!^_^"
Semoga chapt kali ini menghibur!^_^
Saya mau ngomongin pidatonya Namjoon di UN. Saya bangga banget sama NamjoonTwT pidatonya sangat indah dan menyentuh. Pokoknya top~! Dan juga pas BTS perform Im Fine di Jimmy Fallon, saya harap mereka bisa sering-sering perform lagu itu karena koreografinya sangat indahTwT
Terima kasih banyak atas review yang masuk!^_^ maaf lama banget ya, semoga masih ditunggu!^_^" dan untuk dulumikan, lagunya Jimin Cuma fiksi kok!^_^" bukan lagu asli. Saya Cuma mengarang indah, hehe.
Sekalian saya mau promosiin Fanart page saya di Instagram, siwgr3. Silahkan dilihat kalau berkenan. Saya juga mungkin akan posting di story saya kalau misalnya update ff. maaf ya kalau fanartnya jelek, masih belajar digital art soalnya^_^" *alesan*
Terima kasih banyak atas waktunya.
Sekian dulu, sampai jumpa chapter depan!^_^
-Siwgr3_/1-10-2018/
