Author Note:

Akhirnya kita sampai ke chapter 5. Setelah melihat review dari chapter sebelumnya, syukur deh kalau adegan pertarungannya memuaskan. Mengenai soal pair, setelah liat review jadi pengen bikin harem. Ya seperti yang kubilang sebelumnya, soal pairing masih belum jelas. Segitu aja dari saya, selamat membaca dan seperti biasa jangan lupa review!

Disclaimer: Aku tidak punya Naruto


TOK TOK TOK TOK.

Pagi itu Naruto dibangunkan oleh suara ketukan yang datang dari pintu Apartemennya. Naruto yang sedang kelelahan dengan lesu berjalan menuju pintu Apartemennnya. Ketika Naruto membuka pintu Apartemennya, Naruto melihat dua orang ANBU berdiri didepan matannya.

"Halo ANBU-san, ada apa kalian datang kemari?" Naruto berkata sambil tersenyum kepada kedua orang ANBU tersebut. Dari luar Naruto kelihatan tenang. Namun di dalam pikiran Naruto, Naruto merasa panik.

'Kenapa ada dua orang ANBU datang ke Apartemenku!? Aku yakin kemarin malam aku tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Apa aku ketahuan!?' pikiran Naruto menjadi kalang kabut. Namun Naruto memaksakan dirinya untuk menjadi tenang. Jika dia panik sekarang, dia bisa ketahuan.

"Uzumaki Naruto, kau dipanggil oleh Hokage-sama untuk menuju ke kantornya." salah satu ANBU tersebut berkata pada Naruto.

"Kenapa aku dipanggil ke kantor hokage ANBU-san?" Naruto berkata dengan nada keheranan.

"Kami tidak tau. Tugas kami hanyalah menyampaikan pesan dari hokage kepadamu, genin Uzumaki Naruto." ANBU itu berkata dingin kepada Naruto lalu pergi dari tempat itu.

Setelah kedua ANBU itu pergi dari Apartemennya, Naruto mulai memikirkan beberapa scenario alasan kenapa Tsunade-baa-chan memanggilnya ke kantor Hokage. Namun akhirnya Naruto memutuskan untuk langsung pergi ke kantornya. Naruto kembali masuk ke dalam Apartemennya dan mulai bersiap-siap untuk menemui Tsunade.

Naruto mengenakan baju putih lengan panjang dan celana panjang hitam yang baru saja ia beli kemarin dan masuk ke dalam kantor hokage. Ketika dia membuka pintunya, dia melihat Tsunade, Shizune, dan Jiraiya ada di dalam kantor tersebut. Memasang senyum Naruto berkata kepada Tsunade.

"Pagi Baa-chan! Kau kelihatan tua seperti biasa ya." Naruto mulai menyapa Tsunade.

"Akhirnya kau membuang baju oranyemu itu ya? Syukurlah. Aku mulai khawatir kau akan mengenakan baju mengerikan itu sepanjang umurmu Naruto. Dan jangan panggil aku Baa-chan!" Tsunade berteriak kepada Naruto.

"Apa!? Baju mengerikan!? Baju oranyeku itu sangat bagus tau!" Naruto mulai protes kepada Tsunade yang menghina baju oranyenya.

"Cukup bagus!? Bajumu itu menyakitkan mata tahu. Lagipula baju seperti itu tidak berguna untuk ninja. Bajumu itu seakan berteriak "hei aku disini, bunuh aku ayo cepat!" ke semua orang yang melihatmu Naruto." Jiraiya ikut berkomentar.

"Cih, apa salahnya baju berwarna oranye?" Naruto menggerutu kesal.

"Salah dalam berbagai tingkatan Naruto." Jiraiya berkata pada Naruto dengan nada mengejek.

"Bah." kata Naruto yang mulai kehabisan kalimat.

Jiraiya, Tsunade, dan Shizune hanya bisa tertawa melihat tingkah Naruto.

"Baiklah, ayo kita segera ke inti masalah. Kenapa kau memanggilku pagi-pagi baa-chan?" Naruto bertanya pada Tsunade.

Tsunade menghela nafas dan berkata

"Naruto, kemarin ada yang menerobos masuk ke kantor Hokage." jawab Tsunade.

Naruto langsung terkejut. Mendengar kabar itu, Naruto mulai mengeluarkan keringat dingin. Dia takut kalau Jiraiya, Tsunade, dan Shizune mulai mencurigai Naruto. Namun Naruto dengan segera merespon

"APA!? Bagaimana bisa baa-chan!? Bukannya kantor Hokage keamanannya ketat?" Kata Naruto yang pura-pura terkejut.

"Itu kesalahanku Naruto. Kemarin aku hanya menempatkan dua chunin untuk menjaga kantorku. Aku tak menyangka kemarin malam seseorang akan memanfaatkan situasi tersebut untuk mencuri sesuatu dari kantor Hokage." jawab Tsunade dengan nada datar.

"Apakah salah satu chunin tersebut melihat pelakunya baa-chan?" Naruto melihat Tsunade dengan tatapan yang serius. Jika Naruto memutuskan untuk berhenti menjadi seorang ninja, Naruto akan menjadi seorang aktor papan atas. Kelihatannya akting Naruto cukup untuk mengelabui Tsunade. Namun Jiraiya masih curiga terhadap Naruto.

"Sayangnya tidak. Dari kesaksian mereka pelakunya ada dua orang, seorang pria dan wanita berambut coklat dan bermata hijau ada di daerah sekitar kantor hokage tadi malam." Tsunade menjelaskan.

Jiraiya yang mendengar penjelasan Tsunade mulai rileks. Sepertinya dia menjadi tenang karena muridnya bukan salah satu pelakunya. Sedangkan Naruto hanya terus menatap Tsunade dengan serius. Didalam hatinya Naruto bersorak. Untung saja kagebunshin-nya berubah menjadi seorang wanita. Dengan ini Naruto tidak akan terlihat mencurigakan.

"Naruto aku ingin bertanya apa yang kau lakukan kemarin?" Jiraiya bertanya pada Naruto.

"Aku pergi membeli peralatan ninja untuk latihanku. Jika kau tidak percaya, tanyakan sendiri kepada Hagane Tenten. Kemarin aku membeli peralatan tersebut dari Tenten." Naruto menjawab pertanyaan Jiraiya.

"Hoo? Apa saja yang kau beli?" Jiraiya mulai penasaran.

"Aku membeli satu bokken, tanto, 5 gulungan penyimpan, kuas dan tinta, kertas chakra, 10 kertas segel peledak, dan peralatan ninja lainnya." jawaban Naruto membuat keingintahuan Jiraiya muncul.

"Apa alasanmu berbuat seperti itu Naruto?" Jiraiya berkata pada murid kesayangannya itu.

" Setelah misiku yang terakhir, aku sadar kemampuanku sebagai ninja masih kurang. Jika suatu saat aku menemukan misi seperti ini lagi pasti aku akan gagal. Makanya aku mulai belajar tentang fuuinjutsu, kenjutsu, dan ninjutsu. Agar aku tak mengulangi kesalahan yang sama." Naruto menjawab dengan mantap. Jiraiya, Tsunade, dan Shizune tersenyum mendengar jawaban Naruto.

"Jadi, untuk apa sebenarnya aku dipanggil kemari?" tanya Naruto. Jiraiya dan Tsunade masih belum menjelaskan kenapa ia dipanggil kemari.

"Sebenarnya, kami mengira kau yang menyelinap masuk. Karena menurut salah satu chunin tersebut, badan pria rekan wanita berambut pendek itu agak pendek. Kami mengira kau pelakunnya karena kau satu-satunya genin yang bisa melakukan hal itu. Untung saja kami salah." Shizune memberikan alasannya pada Naruto.

'kalian tidak tau betapa benarnya dugaan kalian Shizune-nee-cha, Tsunade-baa-chan, Ero-sennin.' Naruto bergumam dalam hati.

"Kalau aku boleh bertanya, apa yang dicuri dari kantor ini, baa-chan?" Naruto mulai kembali ke topik pembicaraan.

"Tidak perlu kau tau Naruto. Yang pasti hal yang dicuri dapat membahayakan keselamatan Konoha. Jika kau melihat seseorang yang mencurigakan, segera lapor kepada kami Naruto." Tsunade berkata dengan tegas.

"Baiklah baa-chan." Naruto menjawab sambil menganggukan kepala. Dengan ini Naruto bebas dari daftar pelakunya.

"Oi Ero-sennin, bisakah kau melatihku hari ini?" Naruto bertanya penuh harap.

"Aku ingin Naruto, tapi ada sesuatu yang harus kulakukan hari ini" Jiraiya menjawab sambil mengusap kepala Naruto.

Naruto lalu memasang muka kecewa.

"Paling kau hanya ingin mengintip hari ini."

"Aku ingin sekali Naruto, cuman ada urusan yang harus segera kuselesaikan, rajin-rajinlah berlatih Naruto!" Jiraiya berkata dengan riang.

"Tentu saja, Ero-sennin!" Naruto menjawab dengan semangat. Jiraiya hanya tertawa dan lalu meloncat dari jendela hokage. Tsunade dan Shizune hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Jiraiya. Setelah Jiraiya pergi, Naruto bertanya kepada Tsunade.

"Jadi apakah aku bisa pulang sekarang?"


Akhirnya Naruto diijinkan untuk kembali ke Apartemennya.

Naruto yang sudah mendapatkan izin untuk pulang, segera berlari menuju Apartemennya. Ingin segera membuka tiga gulungan yang ia curi semalam. Ketika sampai, Naruto segera mengunci pintu Apartemennya dan menutup tirai jendela. Naruto lalu berjalan ke kamar tidurnya dan mengambil tiga gulungan yang dia curi semalam. Naruto melihat tiga gulungan tersebut memiliki label. Salah satu gulungan itu memiliki label "Rahasia Konoha" dan kedua gulungan itu berlabel "Untuk Uzumaki Naruto".

'Untukku?" Naruto hanya bisa berkata dalam hati setelah melihat label tersebut. Naruto mencoba membuka gulungan tersebut namun tiada hasil. Sampai akhirnya Naruto melihat sebuah segel tertempel di gulungan tersebut. Naruto yang baru saja belajar fuuinjutsu menyadari itu adalah segel darah, segera menggigit jarinya dan menorehkan darahnya ke arah segel.

POOF!

Tiba-tiba muncul beberapa gulungan dari dalamnya dan sebuah surat. Pandangan Naruto tertuju pada surat yang baru saja muncul. Naruto lalu mengambil suratnya dan mulai membaca isi surat tersebut.

"Hai! Namaku Uzumaki Kushina, jika kau belum mengetahui siapa aku, aku adalah ibumu Naruto." Naruto yang telah mengetahui hal tersebut meneruskan membaca isi surat itu.

"Sebelumnya aku ingin bercerita sedikit tentangku Naruto. Aku adalah putri dari desa Uzushiogakure dan itu menjadikanmu sebagai pewarisku Naruto. Dan aku juga adalah Jinchuuriki Kyuubi generasi kedua setelah Uzumaki Mito. Aku dipilih menjadi Jinchuuriki karena aku memiliki chakra spesial yang bisa menahan seekor bijuu. Pada waktu itu masih perang dunia shinobi ke-3. Klan Uzumaki yang tinggal di Uzushiogakure merupakan klan yang ditakuti pada masa itu karena setiap anggota klan memiliki kemampuan fuuinjutsu yang hebat. Namun hal itu membuat klan kita ditakuti oleh desa shinobi lainnya. Akhirnya Uzushio diserang oleh negara shinobi dan desa kita tumbang." Naruto mulai mengenggam erat surat yang dia baca. Setelah membaca alasan kenapa Uzushiogakure sudah tidak ada, rasa kesal mulai muncul dari tubuhnya. Cuma karena alasan bodoh seperti itu Uzushio dihancurkan!? Sebelum Naruto meledak karena amarah, Naruto mencoba menenangkan diri. Apa gunanya kesal? Itu sudah terjadi di masa lalu, kita tidak bisa merubah apa yang sudah terjadi. Ketika Naruto sudah tenang, Naruto melanjutkan membaca surat tersebut..

" Sebelum Uzushio hancur, Ayahku mengirimku ke Konoha agar aku selamat. Ketika aku sampai, Uzushio sudah tidak ada. Aku benar-benar sebatang kara sekarang. Untungnya Hokage ketiga, Hiruzen Sarutobi mau mengurusiku saat itu. Hidupku di desa waktu itu sungguh menyakitkan. Aku dijauhi oleh anak seumuranku karena aku adalah orang luar dan rambut merahku selalu dijadikan bahan ejekan. Untuk melampiaskan kemarahanku biasanya aku menghajar anak-anak yang mengejekku dan melakukan kejahilan. Aku terus melakukan ini sampai aku bertemu dengan ayahmu, Namikaze Minato."

'Namikaze Minato? Rasanya aku pernah mendengar nama itu.' Naruto berpikir sejenak lalu memutuskan untuk tidak menghiraukannya dan meneruskan kembali bacaannya yang tertunda.

"Dia berambut pirang dan terlihat lemah saat itu. Dia pernah berkata dengan lembut "Aku akan menjadi Hokage" dengan polosnya. Aku hanya bisa menertawakannya. Suatu hari dia mendekatiku dan mengajakku menjadi temannya. Namun karena aku tidak bisa jujur pada perasaanku, aku menolak dan berkelakuan kasar padanya seperti memakinya, menjitaknya, dll. Hubungan kami tidak cukup dekat sampai terjadi sesuatu yang menyebabkan hubungan kami menjadi dekat. Pada waktu itu aku tiba-tiba diculik oleh shinobi Kumogakure. Aku yang disekap hanya bisa meninggalkan petunjuk yaitu sehelai rambut merah yang kutinggalkan sedikit demi sedikit. Ketika aku sudah mulai kehilangan harapan, tiba-tiba Minato muncul dan mengalahkan kedua ninja itu dan membawaku keatas pohon. Ketika dia menanyakan keadaanku aku hanya bisa menundukkan kepala. Entah kenapa jantungku berdetak kencang. Dan akhirnya aku menyadari, aku mencintai Minato, ayahmu Naruto."

Naruto hanya bisa tersenyum ketika mengetahui bagaimana ibunya jatuh cinta kepada ayahnya.

"Mulai saat itu kami menjadi dekat. Dan setelah perjalanan panjang, kami akhirnya menjadi suami istri. Ketika aku dan Minato mengetahui bahwa aku hamil, kami berdua sangat bahagia. Kami menantikan kehadiranmu Naruto. Ketika hari aku sedang melahirkanmu tiba, seseorang memakai topeng datang dan membuat Kyuubi lepas dari kurungannya. Ketika Kyuubi mulai mengamuk, Minato membawaku dan dirimu kembali ke rumah kami. Ketika kami sampai di rumah, kami memikirkan bagaimana cara menghentikan amukan Kyuubi. Kami pun sadar, satu-satunya cara ialah menyegel Kyuubi ke dalam dirimu Naruto. Lalu kami meninggalkan gulungan berisi ninjutsu, kenjutsu, dan fuuinjutsu yang kelak akan kami wariskan padamu."

Ketika Naruto ingin melanjutkan surat tersebut, Naruto melihat ada bekas air menetes yang tumpah di surat tersebut.

"Maafkan kami Naruto. Kami sebenarnya tidak ingin menggunakan cara ini namun ini harus dilakukan. Kami minta maaf, jika suatu saat kau akan mengalami hidup yang berat, jika suatu saat kau akan membenci desa ini, jika suatu saat kau akan mengutuk kami berdua karena meninggalkanmu di dunia yang kejam ini. Yang bisa kami lakukan hanya meminta maaf padamu. Maafkan ibu dan ayahmu yang meninggalkan beban berat seperti ini padamu. Dan ingatlah Naruto, kami selalu menyayangimu. Uzumaki Kushina."

Naruto tanpa sadar mengeluarkan air mata. Bukan air mata kesedihan. Namun air mata kebahagiaan. Setelah bertahun-tahun dia ingin mengetahui siapa orang tua-nya, akhirnya dia menemukan jawabannya. Naruto lalu membuka gulungan yang satu lagi dan melihat nama yang tertera. Namikaze Minato. Naruto lantas segera membukanya dan dari gulungan muncul gulungan jutsu dan sepucuk surat, kali ini dari ayahnya.

"Hai Naruto, namaku Namikaze Minato atau bisa disebut juga dengan Yondaime Hokage" Naruto tiba-tiba berhenti membacanya. Rasa amarah kembali muncul. Orang yang mengutukku dengan kehidupan ini adalah ayahnya sendiri!? Namun sekali lagi Naruto menenangkan dirinya. Pasti ada alasan kenapa dia melakukan itu. Lalu Naruto meneruskan membaca surat itu.

"Aku yakin kau sudah tau semuanya dari surat ibumu. Namun aku ingin meminta maaf padamu Naruto. Sejujurnya aku tidak ingin melakukan ini padamu, menjadikanmu sebagai seorang Jinchuuriki. Namun tanggung jawabku sebagai Hokage memilihmu untuk menjadi wadah Kyuubi. Aku tidak bisa menyuruh orang lain untuk menyerahkan anaknya untuk menjadi seorang Jinchuuriki. Aku memilihmu karena aku yakin kau kuat, kau akan bisa menanggung semua penderitaan dan halangan yang akan menghadangmu nanti."

Sekali lagi Naruto melihat ada bekas air yang menetes di bagian bawah surat.

"Maafkan aku Naruto, memberikan beban ini padaku. Aku sebenarnya ingin menjadi seorang ayah yang baik. Aku ingin melihatmu tumbuh dewasa, melihatmu menggunakan jutsu pertamamu, melihat kencan pertamamu, dan melihatmu tumbuh menjadi ninja yang hebat. Namun keadaan memaksamu berbuat begini. Aku telah meminta seseorang bernama Jiraiya untuk menjadi ayah angkatmu jika terjadi sesuatu padaku. Maafkan aku Naruto, aku tidak bisa melihatmu tumbuh besar dan hidup bersamamu. Aku dan Kushina minta maaf padamu karena kami tidak akan ada di kehidupanmu. Dan Naruto, apapun yang kau pilih, apapun yang terjadi, ingatlah bahwa kami akan selalu menyayangimu dan kami akan berdoa, semoga kau akan bahagia di kehidupan kelak. Namikaze Minato."

"Ugh...UWAAA!" Naruto tidak bisa lagi menahan tangis. Naruto hanya bisa menangis sekuat tenaga ketika melihat kedua surat itu. Asal usul dirinya, perasaan ibu dan ayahnya, dan peninggalan yang diberikan oleh kedua orang tuanya membuat perasaan Naruto campur aduk. Ketika dia sudah lebih tenang, Naruto memegang kedua surat itu dan mendekapnya didadanya. Dengan berlinang air mata dan senyum kecil di muka-nya, Naruto hanya mengeluarkan satu kalimat.

"Aku memaafkanmu ayah, ibu."

Dan Naruto hanya terdiam di tempat sambil memeluk kedua surat itu.

Ketika Naruto sudah menjadi lebih tenang, Naruto membuka gulungan rahasia Konoha dan dari situ dia mengetahui rahasia Konoha yang sebenarnya. Mulai dari dewan rakyat yang menurunkan standar akademi ninja, kenyataan bahwa Itachi membunuh klannya karena klan Uchiha akan melakukan kudeta, serta Shimura Danzo yang dicurigai belum membubarkan ANBU NE-nya secara sepenuhnya. Hal ini menguatkan tekad Naruto untuk pergi dari desa ini. Akhirnya Naruto memutuskan untuk beristirahat dan membuat persiapan kepergiannya esok hari.


1 Minggu kemudian...

Setelah kejadian itu, Naruto berlatih dengan lebih keras. Naruto yang mengetahui dia memiliki elemen angin, air , dan api mulai berlatih tanpa henti. Dia juga tak lupa berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk teman-temannya. Dia juga mulai mempelajari gulungan-gulungan yang ditinggalkan orang tuanya. Selama beberapa hari ini Naruto memikirkan bagaimana cara ia dapat keluar dari desa ini tanpa dicap sebagai nuke-nin. Akhirnya dia menemukan carannya dan Naruto akan segera melakukannya hari ini.

Naruto lalu bergegas menuju kantor Hokage.

"Oi Tsunade-baa-chan, kau masih bekerja siang hari seperti ini? rajin sekali!" Naruto menerobos masuk ke kantor dengan senyum lebarnya.

"Sudah kukatakan berkali-kali ketok dulu sebelum masuk Naruto!" Tsunade membentak Naruto namun sebenarnya dia senang. Setiap kali Naruto berkunjung, itu adalah alasan untuk Tsunade untuk tidak mengerjakan dokumen-dokumen penting. Tiba-tiba wajah Naruto berubah menjadi serius.

"Hokage-sama, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Setelah mendengar hal itu, Tsunade mulai panik. Naruto tidak pernah memanggil dia Hokage-sama sebelumnya.

"Apa itu genin Uzumaki Naruto?" tanya Tsunade kepada Naruto. Ketika Naruto berkata seperti itu, entah kenapa Tsunade berpikir untuk menjawabnya menggunakan bahasa formal.

Naruto menarik nafas panjang dan tiba-tiba berkata

"Aku, Uzumaki Naruto, mengundurkan diri sebagai ninja Konohagakure." Naruto berkata sambil menaruh ikat kepala ninja-nya di meja hokage.

"APA!? Kenapa kau berkata seperti itu Naruto!" perkataan Naruto bagaikan petir di siang bolong. Tsunade merasa sangat terkejut mendengar hal ini.

"Aku sudah muak dengan kehidupan sebagai ninja. Aku tau selama aku hidup disini aku tidak akan pernah dihargai. Dan aku juga akan selalu hidup dalam bayang-bayang dewan. Karena itu aku ingin mengundurkan diri dari program shinobi." jawab Naruto mantap.

"Tidak, pokoknya aku tidak terima keputusan ini Naruto!" Tsunade mulai histeris. Naruto menatap Tsunade dengan lembut.

"Tsunade-baa-chan, selama kau ada disini, aku selalu bahagia. Karena kau selalu mencoba untuk menologku, memperhatikanku, dan selalu memberiku kasih sayang. Kau bagaikan ibu untukku, Tsunade-baa-chan." Tsunade yang mendegar hal itu terkejut. Dia tidak menyangka Naruto menganggap dia sebagai ibu-nya.

" Aku tidak pernah egois ataupun meminta yang macam-macam padamu Tsunade. Cuma untuk kali ini saja, aku ingin bersikap egois. Tolong terimalah permintaan pengunduran diriku dari program ninja baa-chan." Naruto berkata dengan sungguh-sungguh kepada Tsunade. Dengan mata Tsunade berkaca-kaca akhirnya dia berkata

"Aku terima permintaan pengunduran dirimu, Uzumaki Naruto." Tsunade berkata dengan lirih. Naruto tersenyum lalu berjalan mendekati Tsunade. Ketika sudah dekat, Naruto lalu memeluk Tsunade sambil berkata

"Terima kasih, Kaa-san."

Tsunade yang mendengarnya tak bisa menghentikan air matanya dan langsung memeluk kembali Naruto.

"Kau benar-benar bodoh, Naruto." Tsunade berkata dengan lembut dengan air mata yang masih berlinang.

"Aku tahu, Kaa-san."

Lalu mereka berdua terus berpelukan, layaknya seorang ibu dan anak.


Ketika pembicaraan mereka selesai, Naruto berkata pada Tsunade

"Kaa-san, apa tidak apa-apa aku tetap memakai kalung ini?" tanya Naruto.

"Tidak apa-apa. Aku sudah memutuskan kaulah orang terakhir yang akan memakai kalung itu Naruto." jawab Tsunade

"Terima kasih Kaa-san. Kalau begitu aku permisi dulu, Kaa-san. Selamat bekerja!" Naruto melambaikan tangannya ke arah Tsunade sambil berjalan ke arah pintu keluar.

"Tetap semangat, Naruto." Tsunade berkata balik kepada Naruto.

"Selalu." jawab Naruto singkat, lalu dia keluar dari kantor Hokage.

Setelah Naruto keluar dari kantor Hokage, Naruto memutuskan untuk pergi ke toko baju. Untuk menghindari diusir dari toko baju, Naruto melakukan henge dan berubah menjadi laki-laki berambut hitam dengan mata berwarna biru. Ketika sudah di dalam toko, Naruto memilih baju kemeja kaos berwarna putih dan jaket berwarna hitam yang di kedua lengannya terdapat garis merah. Dia juga memilih celana dengan kantong banyak berwarna abu-abu dan sepatu hitam. Setelah selesai membeli baju, Naruto yang sudah diluar toko berubah kembali menjadi rupa aslinya dan mulai berjalan pulang. Ketika berjalan pulang, dia mendengar seseorang memanggil namanya.

"Na-Na-Naruto-kun." Suara kecil yang manis terdengar dari belakang badannya. Lalu Naruto membalikkan badanya dan melihat Hinata menatap ke arahnya.

"Oh hei, Hinata. Kenapa kau memanggilku?" tanya Naruto kepada Hinata.

"Umm...Ano...cuaca di Konoha belakangan ini dingin, jadi aku ingin memberikan sesuatu padamu." Jawab Hinata sambil memberikan sebuah bingkisan.

"Boleh aku buka?" tanya Naruto dengan lembut kepada Hinata. Hinata mengangguk dan Naruto segera membuka bingkisannya. Isinya adalah sebuah syal merah yang cukup panjang.

"Hinata...ini..."

"Aku merajutnya dengan tanganku sendiri Naruto-kun. Kuharap kau menyukai-nya" jawab Hinata dengan lembut. Naruto tersenyum lembut dan lalu memakai syal merah tersebut.

"Terima kasih, Hinata." Naruto memberikan senyum kecil kepada Hinata. Lalu muka Hinata memerah bagaikan tomat lalu berkata sambil tersendat-sendat.

"A-a-aku senang ka-ka-kau menyukainya. Ano...Na-Na-Naruto-kun, aku harus pergi, aku permisi dulu!" Hinata lalu segera pergi dengan muka merah merona. Naruto sekilas melihat wajah Hinata yang tersenyum. Setelah melihat Hinata pergi, Naruto lalu melanjutkan perjalanannya menuju Apartemen bobroknya.


6 hari kemudian...

Naruto terlihat sedang berlatih dengan keras. Dia terlihat sedang menggunakan bokkennya untuk melawan 10 kagebunshin. Kagebunshin yang pertama melancarkan pukulan dengan cepat namun Naruto menunduk dan lalu menebas kagebunshin-nya menggunakan bokken- lalu disambut dua kagebunshin yang menyerangnya dari belakang. Salah satu kagebunshin melancarkan tendangan ke arah dada sedangkan yang satunya lagi melancarkan pukulan ke arah muka. Naruto lalu menahan kaki kagebunshin tersebut menggunakan pedang kayu-nya dan mengganti arah serangan kaki tersebut ke belakang, membuat salah satu kagebunshin tersebut kehilangan keseimbangan. Naruto memanfaatkan kesempatan itu untuk menebas leher sang bunshin dan bunshin itu lenyap. Sedangkan Naruto lalu menunduk untuk menghindari pukulan dari kagebunshin yang satunya lagi, membalikkan badannya sambil menebas rusuk kagebunshin. Kagebunshin itu terpental jauh sebelum akhirnya menghilang. 7 kagebunshin lainnya memutuskan untuk menyerang dari segala arah. Naruto lalu mengganti posisinya menjadi berdiri tegak sambil mengarahkan pedang kayunya ke tanah. Lalu Naruto menaruh kaki kanannya ke depan, kaki kiri di belakang. Kedua tangan memegang bokken yang ujung bokkennya mengarah ke belakang dan berbisik.

"Uzumaki no Ougi: Rasen no Zangeki!" Lalu Naruto memijakkan kaki kirinya sebagai tumpuan lalu memutarkan badannya 360 derajat sambil melakukan tebasan horizontal secepat kilat. Seluruh kagebunshin lenyap terkena tebasan Naruto. Lalu Naruto mengakhiri posisinya dengan berdiri tegak, bokken masih dipegang di tangan kanan. Lalu Naruto menyimpan bokken-nya di salah satu gulungan penyimpanan. Naruto lalu pergi menuju pohon terdekat dan mulai bermeditasi untuk menemui Kurama.

"Oi Kurama, apakah kau sudah siap untuk hari ini?" tanya Naruto yang langsung bertanya kepada Kurama ketika sudah tiba.

"Harusnya aku yang berbicara begitu Naruto. Kau yakin tidak akan pamit dulu kepada teman-temanmu?" tanya Kurama pada Naruto.

"Ya. Jika aku harus berpamitan sekarang, hanya akan membuat kepergianku semakin sulit." jawab Naruto datar.

"Baiklah jika itu maumu. Kapan kita akan pergi dari sini?" tanya Kurama yang tidak sabar ingin segera pergi dari desa.

"Hari ini, pada saat tengah malam." jawab Naruto mantap.

"Baiklah kalau begitu. Dan Naruto jangan sampai kau tertangkap oleh ANBU Konoha nanti malam." Kurama memberikan peringatan kepada Naruto.

"Tidak akan. Percayalah padaku." Setelah berkata seperti itu pada Kurama, Naruto pergi dari alam sadarnya.


Malam sudah tiba.

Terlihat Naruto yang sedang menyegel barang-barang yang ia perlukan. Tidak lupa juga dia segel gulungan-gulungan dan surat dari kedua orang tua-nya. Setelah selesai, Naruto menempelkan 10 kertas segel di berbagai tempat di dalam Apartemennya. Setelah puas, Naruto segera pergi dari Apartemen. Naruto malam itu menggunakan baju kemeja putih, jaket hitam, dan celana abu-abu yang dia beli beberapa hari yang lalu. Dia juga memakai syal merah panjang yang dirajut oleh Hinata. Naruto menggunakan pakaian tersebut untuk dapat menyelinap keluar lebih mudah. Naruto melihat sekumpulan ANBU berjaga-jaga di atap. Naruto mulai berbaur dengan orang-orang desa untuk menghindari pengawasan ANBU sampai akhirnya Naruto sampai di gerbang Konoha. Ketika Naruto mulai berjalan ke arah gerbang, Naruto mulai ragu-ragu. Selama 13 tahun Konoha telah menjadi rumahnya. Apakah karena sikap penduduk desa ia harus pergi dari Konoha? Naruto baru saja ingin membatalkan niatnya ketika dia ingat kata-kata terakhir yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.

'Apapun yang kau pilih, apapun yang terjadi, kami berdua akan selalu menyayangimu dan mendoakan kebahagiaanmu.'

Naruto menarik nafas panjang dan membulatkan niat untuk pergi dari desa itu. Naruto menatap desa itu untuk terakhir kalinya dan berkata

"Sudah 13 tahun aku disiksa oleh desa, menahan penderitaan ini selama 13 tahun. Tapi entah kenapa aku tidak membenci desa ini, dan juga tidak mencintai desa ini. Maaf aku tidak sempat pamit dengan kalian Tsunade-Baa-chan, Jiraiya-Sensei, Shizune-Onee-chan, Lee, Shino, Kiba, Chouji, Ino, Neji, Tenten, Kakashi-Sensei, Hinata. Mungkin suatu saat nanti kita akan bertemu kembali. Dengan ini, keberadaan Uzumaki Naruto sudah tidak ada lagi di Konoha. Mulai sekarang namaku adalah...Namikaze Naruto."

Lalu Naruto membentuk sebuah segel dengan salah satu tangannya dan berbisik.

"Katsu."

BLAR!

Sebuah ledakan besar datang dari Apartemen Naruto. Orang-orang desa mulai panik mendengar ledakan besar tersebut. Semua ninja berlari ke arah ledakan tersebut. Sedangkan Naruto hanya berjalan keluar dari gerbang dan melihat sekilas ke arah Konoha lalu berkata

"Sayonara, Konoha."

Lalu Naruto berjalan ke dalam kegelapan. Dengan ini, kehidupan Uzumaki Naruto di Konoha telah berakhir, dan kehidupan baru Namikaze Naruto telah dimulai.

Chapter 5 End.


Akhirnya Chapter 5 selesai. Dengan ini Naruto sudah resmi pergi dari desa. Untuk selanjutnya aku akan memperlihatkan reaksi kepergian Naruto oleh orang-orang desa dan orang-orang yang dekat dengan Naruto. Dan seperti biasanya jangan lupa review!