Author Note:

Akhirnya chapter 6 sudah selesai! Mohon maaf buat para pembaca yang udah nunggu lama. Gara-gara banyak tugas jadi gak bisa nerusin cerita secepatnya, maaf ya. Di chapter ini akan dibahas reaksi dari penduduk Konoha dan perjalanan Naruto setelah kepergiannya. Untuk penampilan Naruto yang baru, penampilan Naruto agak sama dengan Ouma Shu(seperti gambar profilku, yang di kanan) dengan celana abu-abu dan jaket hitam dengan warna syal yang sama. Maaf gak bisa nyediain gambarnya, aku gak pintar Corel Draw. Dan aku minta maaf bila masih ada typo di chapter ini.(maklum penyakit lama yang belum sembuh-sembuh dari chapter 1.)

Segitu saja dulu selamat membaca dan seperti prosedur biasa, jangan lupa review!

Disclaimer: Aku tidak punya Naruto.


Hari sudah pagi.

Pagi itu rumor-rumor dan gosip beredar di desa Konoha. Rumor-rumor tersebut bersumber pada ledakan yang terjadi kemarin malam. Ninja-ninja yang berpatroli pada malam itu segera bergegas menuju ke arah ledakan. Setelah diperiksa, diketahui ledakan itu berasal dari sebuah Apartemen yang ditinggali oleh bocah yang paling dibenci di Konoha, Uzumaki Naruto. Hasil ledakan itu sungguh luar biasa, ketika ANBU sampai di lokasi ledakan tidak ada yang tersisa. Yang tersisa di tempat hanyalah serpihan kayu dan abu sisa dari barang-barang dan hal lain yang terbakar dan lenyap akibat ledakan. Diperkirakan oleh ANBU yang memeriksa tempat tersebut, Uzumaki Naruto tewas karena ledakan dan jasadnya telah terbakar menjadi abu. Ninja-ninja dan penduduk yang mendengar kabar tersebut sangat gembira mendengar kabar tersebut. Penduduk desa Konoha merayakan kematian Naruto dengan minum-minum, makan-makan, dan berpesta pora. Bahkan beberapa shinobi pun ikut berpesta bersama penduduk desa. Bocah yang mereka anggap reinkarnasi dari rubah ekor sembilan sudah tewas, tentu saja ini kabar baik untuk penduduk desa. Hanya beberapa yang sedih setelah kabar tersebut. Mereka adalah teman-teman Naruto. Dan sekarang mereka sedang berada di kantor Hokage.


Kantor Hokage

Tsunade duduk sambil mengerjakan dokumen-dokumen yang ada di mejanya. Rambut lurusnya acak-acakan, kantong mata dapat terlihat di bawah kelopak mata, matanya merah, dan ekspresi mukanya terlihat lesu. Tsunade menjadi seperti ini setelah mendengar kematian orang yang dianggapnya sebagai anaknya sendiri, Uzumaki Naruto. Namun Tsunade tetap tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa Uzumaki Naruto masih hidup. Baru saja dia ingin melanjutkan pekerjaannya, tiba-tiba terdengar ketokan keras di depan pintu kantor.

TOK TOK TOK TOK!

"Hokage-sama, biarkan kami masuk!" sebuah suara anak laki-laki terdengar dari luar pintu bersama suara-suara lainnya.

"Silakan Masuk!" dengan perkataan dari Tsunade, pintu terbuka dan beberapa orang masuk ke dalam. Setelah mereka masuk, Tsunade menatap mereka satu persatu. Mereka adalah Konoha 12 minus Sakura dan Sasuke.

"Hokage-sama, apakah benar Naruto sudah tewas!?" tanya Shikamaru. Teman-teman di belakang Shikamaru menatap Tsunade, berharap kalau kabar bahwa Uzumaki Naruto sudah tewas itu tidak benar.

"Sesungguhnya aku tidak tau, Kiba. ANBU mengatakan kalau ledakan yang terjadi kemarin malam cukup besar, sehingga membuat Apartemen itu rata dengan tanah. Dan ketika diperiksa, hanya ada serpihan kayu dan bekas abu. ANBU memperkirakan kalau Naruto ikut tewas dalam ledakan itu karena jasadnya telah terbakar menjadi abu." Tsunade berkata dengan suara serak. Walau begitu Tsunade masih berharap kalau Naruto masih hidup.

Sedangkan Shikamaru dan yang lainnya hanya bisa terdiam di tempat mendegar temannya ynag periang itu sudah tidak ada. Hinata, Ino, dan Tenten menangis mendegar kabar tersebut, sedangkan Shikamaru, Kiba, Neji, Chouji, dan Lee hanya bisa tertunduk sambil mengenggam kedua tangannya dengan keras. Shikamaru lalu bertanya kepada Tsunade

"Hokage-sama, siapa kira-kira yang ingin membunuh Naruto Hokage-sama? Biarkan aku yang mencari pembunuhnya." Tsunade terkejut mendegar kata-kata yang keluar dari Shikamaru, bocah yang biasanya malas-malasan kini berdiri di depannya dengan tatapan serius di matanya. Ketika Tsunade ingin menjawab, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari dalam ruangan.

"Itu tidak perlu." Suara itu datang dari salah satu sannin terkenal, Jiraiya. Jiraiya berdiri di dekat jendela kantor Hokage, tempat ia biasa masuk.

"Apa maksudmu berkata begitu, Jiraiya!?" Tsunade memandang Jiraiya dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa Jiraiya berkata seperti itu? Bukannya Naruto adalah murid kesayangannya?

"Seperti yang kukatakan, kita tidak perlu mencari siapa pembunuhnya."

"Beraninya kau berkata seperti itu Jiraiya! Bukannya dia adalah murid kesayanganmu!? Bukankah kau sudah dengar kalau Naruto-"

"Masih hidup."

Jawaban singkat Jiraiya membuat semua orang yang ada di dalam ruangan terkejut.

"Apa maksudmu Jiraiya?" Tsunade bertanya kepada Jiraiya.

Jiraiya lalu memasukkan tangannya kedalam jubah dan mengeluarkan sebuah surat dan sebuah gulungan dari dalam jubahnya.

"Surat apa itu Jiraiya?" Tsunade melihat surat dan gulungan yang dipegang oleh Jiraiya.

"Ini adalah surat dan gulungan dari Naruto." jawaban Jiraiya membuat semua orang di dalam ruangan terkejut untuk kedua kalinya. Hal ini membuat harapan muncul di dada semua orang.

"Jiraiya, bagaimana kau bisa mendapatkan surat dan gulungan ini?" Tsunade bertanya kepada Jiraiya.

"Aku mendapatkan surat dan gulungan ini dari Gamabunta. Gamabunta sendiri menerima surat dan gulungan ini langsung dari Naruto." Jawab Jiraiya datar.

"Tunggu sebentar, jika Naruto memberikan ini kepada Gamabunta bukankah berarti dia masih terikat dengan gulungan kontrak? Kalau begitu kenapa kita tidak memunculkan Naruto kembali kesini dengan pemunculan terbalik, Jiraiya?" Tsunade berkata kepada Jiraiya.

"Hal itu sudah tidak bisa lagi dilakukan. Nama Naruto sudah tercoret dari gulungan kontrak katak." Jiraiya menjelaskan kepada Tsunade. Nada dingin Jiraiya masih terdengar di dalam suaranya.

"APA!? Bagaimana bisa!? Nama pengguna kontrak hanya bisa tercoret jika pengguna kontrak mati atau... Jiraiya, jangan bilang kalau Naruto!?" Mata Tsunade mulai melebar ketika megetahui apa yang telah Naruto lakukan.

"Ya. Naruto sudah melepas diri dari gulungan kontrak katak dan itu membuat Naruto tidak terikat lagi dengan kontrak tersebut, sehingga pemunculan terbalik tidak bisa dilakukan." Jiraiya menjawab apa yang ada didalam pikiran Tsunade.

"Tapi kenapa Naruto melakukan ini? Jika Naruto tidak tewas dalam ledakan kemarin, dimana dia sekarang?" Tsunade bertanya dengan pelan kepada Jiraiya. Para genin yang ada di dalam ruangan mulai memandang ke arah Jiraiya, menunggu jawaban yang akan datang dari Sannin tersebut. Jiraiya menghela nafas dan berkata kepada Tsunade.

"Bacalah surat yang diberikan oleh Naruto. Semua pertanyaanmu akan terjawab disana."

Lalu dengan segera Tsunade mengambil surat dari tangan Jiraiya dan segera membaca surat dari Naruto.

"Hai Kaa-san! Jika kau menerima surat ini berarti aku sudah tidak lagi berada di Konoha. Aku minta maaf sebelumnya untuk ledakan di Apartemen. Aku yakin hal itu akan membuat pekerjaanmu menjadi semakin repot Untuk itu aku minta maaf. Jika kau ingin tau mengapa aku sudah tidak lagi berada di Konoha karena aku sudah memutuskan untuk meninggalkan Konoha kemarin malam." Kalimat akhir dari surat tersebut membuat seluruh orang di dalam ruangan kecuali Jiraiya terkejut. Naruto meninggalkan Konoha? Hal itu merupakan hal yang konyol jika mereka mengingat seberapa setianya Naruto kepada Konoha.

"Kau tidak salah membaca, aku memang sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan Konoha. Alasan kenapa aku meninggalkan Konoha karena aku sadar aku tidak akan pernah diterima oleh masyarakat Konoha. Aku adalah Jinchuuriki namun mereka akan selalu menganggapku sebagai reinkarnasi dari rubah ekor sembilan. Mereka sudah menghukumku karena sudah menyelesaikan misi dengan menggunakan chakra Kyuubi, apa yang menghentikan mereka untuk membuat lebih jauh lagi? Aku tidak ingin hidupku dan keluargaku kelak akan menderita selama aku tinggal di Konoha. Jadi aku memutsukan untuk pergi mengembara, mencari kebahagiaanku sendiri. Maaf jika ini kedengaran egois tapi izinkanlah aku untuk sesekali berbuat egois. Dan Kaa-san, aku ingin meminta maaf padamu. Aku adalah orang yang menyusup ke kantor Hokage beberapa hari yang lalu. Dan aku sudah mengetahui semuanya. Tentang kebenaran insiden Uchiha, kehancuran desa Uzushio, dan juga siapa keluargaku yang sebenarnya. Aku tidak membenci desa Konoha namun aku juga tidak mencintainya, jadi maafkan aku karena telah berbuat begini. Dan Ero-sennin, sebenarnya aku marah ketika tahu kau adalah ayah angkatku. Aku ingin mempertanyakan kenapa kau baru muncul kedalam hidupku setelah 13 tahun berlalu namun aku memutuskan untuk memaafkanmu. Karena aku sendiri telah menganggapmu sebagai ayahku sendiri. Dan untuk teman-temanku, aku minta maaf jika aku tidak sempat pamitan. Aku harap kita akan bertemu lagi suatu saat nanti. Selamat tinggal Tsunade, Jiraiya, Shizune, dan teman-temanku yang kusayangi. Namikaze Naruto."

Tanpa terasa air mata Tsunade mengalir dan Jiraiya hanya bisa menunduk sambil mengepalkan tangannya sampai tangannya menjadi putih. Sedangkan Konoha 12 hanya bisa menunduk. Mereka terkejut dan malu karena mereka tidak pernah mengenal Naruto yang sebenarnya. Mereka tidak tahu kalau teman mereka adalah Jinchuuriki dari Kyuubi dan sudah menderita selama 13 tahun. Mereka hanya mengenal Naruto sebagai ninja idiot yang tidak punya masa depan kecuali Hinata dan karena itulah mereka malu karena mereka baru menyadarinya sekarang.

"Tsunade, buka gulungan yang kau pegang. Naruto meninggalkan sesuatu untuk kita semua." Jiraiya berkata kepada Tsunade.

Tsunade mengangguk lalu membuka gulungan tersebut. Gulungan tersebut adalah gulungan penyimpanan. Tsunade segera mengalirkan chakranya ke segel yang ada didalam gulungan tersebut.

POOF!

Berbagai barang keluar dari dalam gulungan tersebut bersamaan dengan secarik kertas. Tsunade kemudian memegang kertas tersebut dan membacanya.

"Selama beberapa hari sebelum aku pergi, aku menyiapkan beberapa hadiah perpisahan untuk kalian semua. Untuk Shikamaru aku memberikan sebuah papan shogi yang baru, untuk Ino aku berikan sebuah tanaman liliy, untuk Kiba aku memberikan sebuah sarung tangan yang bisa dialirkan chakra untuk pertempuran, untuk Shino aku berikan sebuah koleksi serangga langka yang aku harap bisa bermanfaat. Untuk Neji, aku memberikan desain segel yang belum selesai yang aku harap bisa diselesaikan oleh Ero-sennin. Jika berhasil, segel ini akan membebaskan Klan Hyuuga dari penggunaan segel sangkar burung. Untuk Lee, aku berikan sebuah perban baru yang bisa digunakan untuk menyimpan chakra, Tenten aku memberimu sebuah gulungan penyimpanan yang lebih besar dua kali lipat dari yang biasanya. Dan untuk Hinata aku memberikan syal berwarna biru dan ikat kepala ninja(hitai-ate) lamaku. Untuk Chouji, aku memberimu buku resep memasak. Dan untuk Tsunade dan Shizune aku berikan sake dengan kualitas tinggi dan peralatan medis yang baru. Dan untuk Ero-sennin aku memberimu tiket menuju pemandian air panas yang mewah. Untuk Sakura dan Sasuke, maaf aku tidak memberikan kalian apa-apa. Mengingat hubungan kita yang sedang memburuk aku tidak bisa memikirkan sesuatu yang bisa kuberikan kepada kalian. Untuk Kakashi-sensei aku memberikanmu buku Icha-Icha terbaru. Kuharap ini akan berguna untuk kalian dan maaf aku tidak bisa memberikannya secara langsung kepada kalian."

Setelah mengambil hadiah milik masing-masing, Shikamaru tiba-tiba berkata

"Hokage-sama tolong berikan kami perintah untuk membawa Naruto kembali ke desa! Jika kita mengajak penduduk desa bicara dengan baik-baik pasti mereka mau menerima Naruto kembali ke desa!"

"Permintaan ditolak." Tsunade menjawab dengan tegas.

"Apa!? Tapi kenapa?" Shikamaru bertanya sambil kebingungan.

"Jika ini keinginan Naruto, maka kita harus hargai itu. Biarkan dia mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Jika kalian adalah teman Naruto, relakanlah dia pergi." Tsunade berkata dengan bijak.

"Tapi bukankah berbahaya jika seperti ini?Naruto akan dicap sebagai nuke-nin!" Shikamaru mencoba mengubah pikiran Tsunade.

"Itu tidak mungkin. Sebelum pergi dari desa, Naruto telah mengundurkan diri sebagai ninja dari Konoha. Itu membuat status Naruto sebagai penduduk biasa. Dengan begitu Naruto tidak akan dicap sebagai nuke-nin dan Naruto bisa bebas bergerak. Jika kita berani mengirim ninja untuk memburu Naruto, reputasi Konoha akan tercemar." Jawab Tsunade.

Setelah berbicara cukup lama akhirnya Konoha 12 minus Sasuke dan Sakura pergi meninggalkan kantor Hokage. Yang ada di dalam ruangan itu hanyalah Tsunade dan Jiraiya saja.

"Jiraiya, apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tsunade berbicara kepada Jiraiya.

"Aku akan mencari Naruto. Bagaimana pun keadaan dia sekarang, ninja atau bukan aku akan melatihnya dan mengurusnya. Ini juga untuk menebus dosaku yang telah menelantarkan Naruto setelah 13 tahun." Jiraiya berkata mantap kepada Tsunade.

"Bagaimana kau akan mencarinya Jiraiya? Akan memerlukan waktu lama untuk mencari Naruto dengan keadaan seperti ini." Tsunade memandang Jiraiya dengan kebingungan.

"Kau lupa Tsunade? Aku punya jaringan informasi yang cukup besar. Aku akan menggunakan jaringan informasi tersebut untuk mencari Naruto. Akan kucari dia walaupun itu akan memakan waktu selama bertahun-tahun." Jiraiya menjawab dengan mantap.

"Beritahu aku jika kau menemukan Naruto, Jiraiya." Tsunade berkata dengan singkat kepada Jiraiya. Jiraiya hanya mengangguk lalu pergi menghilang bersama dengan angin.

Tsunade lalu berjalan ke arah jendela dan menatap ke luar jendela. Hanya ada satu perkataan di dalam pikiran Tsunade.

'Naruto, semoga kau baik-baik saja dimanapun kau berada.'


Di suatu tempat

Di sebuah gua yang gelap dan lembab terdapat 9 siluet manusia yang sedang berdiri membentuk sebuah lingkaran. 9 siluet itu adalah kumpulan dari 9 nuke-nin kelas S yang terkumpul dalam sebuah organisasi yang bernama Akatsuki. Mereka sedang mengadakan sebuah rapat mengenai informasi yang baru didapat.

"Zetsu, berita apa yang kau dapat hari ini?" Pain bertanya kepada Zetsu dengan nada dingin yag biasanya.

"Aku baru saja mendengar kabar kalau Jinchuuriki no Kyuubi sudah keluar dari desa." Zetsu melaporkan kepada Pain

Mendengar kabar tersebut, Itachi terkejut namun dia segera menyembunyikan di balik ekspresi datarnya itu.

'Kenapa Naruto bisa keluar dari desa? Apa yang sedang terjadi di Konoha sekarang?' pikiran Itachi bercampur aduk. Namun dia memaksakan dirinya untuk tenang dan memutuskan untuk melihat situasi terlebih dahulu.

"Begitu ya. Kalau begitu, siapa yang ingin memburu Jinchuuriki Kyuubi?" Pain menanyakan kepada seluruh anggota akatsuki yang hadir.

"Kami saja Pain-sama! Aku ingin menjadikan Jinchuuriki Kyuubi sebagai target ledakanku, akan kubuat dia menjadi seni ledakan yang sangat indah!" Deidara menawarkan diri, ingin segera meledakkan sesuatu.

"Bagaimana kalau kami saja? Aku ingin menjadikan Jinchuuriki Kyuubi menjadi persembahan untuk dewa Jashin-sama! Kakuzu juga bisa mendapat uang dari mayat Jinchuuriki tersebut, iya kan Kakuzu?" Hidan juga menawarkan diri, Kakuzu yang berdiri di sebelahnya hanya diam saja.

"Biar aku saja, Pain-sama." Itachi tiba-tiba membuka mulutnya, membuat semua anggota Akatsuki memandang ke arahnya.

"Tidak biasanya kau menawarkan dirimu untuk memburu Jinchuuriki Itachi. Apa yang membuatmu berubah pikiran?" Pain menatap ke arah Itachi.

"Jika dipikirkan baik-baik, akulah yang paling cocok memburu memburu Jinchuuriki Kyuubi. Dia berasal dari Konoha, sedangkan aku juga berasal dari Konoha. Ninja Konoha memiliki cara pikir yang sama sehingga aku bisa memperkirakan lebih mudah dimana Jinchuuriki tersebut akan pergi." Itachi menjelaskan.

Pain terdiam beberapa saat lalu menjawab

"Baiklah kalau begitu. Jinchuuriki Kyuubi akan diurus oleh Itachi dan Kisame. Yang lainnya segera cari informasi mengenai Jinchuuriki lainnya. Rapat dibubarkan." Dengan pernyataan tersebut, rapat dibubarkan. Membuat Deidara dan Hidan menggerutu karena tidak mendapat target baru. Sedangkan Itachi hanya diam, memikirkan bagaimana cara dia bisa bertemu Naruto. Lalu mereka semua menghilang.


Di sebuah Hutan

"Ugh... Badanku sakit sekali." Naruto menggerutu lalu segera bangun dari tidurnya. Pakaiannya agak basah karena kejadian kemarin malam. Naruto bangkit dan merasakan rusuk kanan dan tangan kirinya kesakitan.

Ketika Naruto bangkit dia menyadari kalau dia sedang terdampar di sebuah hutan yang tidak dia kenal. Lalu Naruto mengeluarkan salah satu gulungannya dan mengalirkan chakra ke gulungan tersebut.

POOF

Dari dalam gulungan keluar beberapa persediaan medis untuk ninja yang dia beli dari toko Hagane beberapa hari yang lalu. Naruto lalu menelan sebuah pill pereda sakit dan mulai mengambil perban dan membalut tangannya dengan perban karena luka gores di tangannya cukup parah. Sekarang dia sedang bersandar di sebuah pohon sambil mengobati lukanya. Selagi mengurus lukanya, Naruto mengingat kejadian tadi malam yang membuatnya dalam kondisi seperti ini.

FLASHBACK

Naruto sedang berjalan di sekitar hutan Konoha malam itu. Setelah keluar dari desa, Naruto berjalan tanpa arah di dalam hutan Konoha. Tiba-tiba dia menyadari sesuatu. Naruto lalu menggigit jarinya hingga muncul darah lalu membuat segel pemanggilan.

"Kuchiyose no jutsu!"

POOF

Tiba-tiba muncul seekor katak raksasa berwarna merah dengan bekas luka di matanya.

"Oi bocah, kenapa kau memanggilku di tengah malam seperti ini!?" tanya Gamabunta pada Naruto. Dia kesal dipanggil pada saat tengah malam yang dingin seperti ini.

"Gamabunta, aku ingin meminta pertolongan padamu." Naruto berkata kepada Gamabunta.

"Pertolongan apa bocah?" Tanya Gamabunta keheranan ke arah Naruto.

"Aku ingin keluar dari perjanjian gulungan kontrak katak Gamabunta." Naruto menjawab singkat pertanyaan Gamabunta.

"APA!? Kenapa kau ingin keluar dari perjanjian itu Naruto!?" Gamabunta berteriak keras.

"Jangan keras-keras Gamabunta! Aku ingin keluar dari perjanjian karena aku tidak ingin dilacak." Naruto mencoba menenangkan Gamabunta.

"Dilacak? Apa yang sudah kau perbuat bocah?" Gamabunta menatap keras pada Naruto.

Naruto mengeluarkan nafas panjang. Dia tau pertanyaan ini akan datang juga.

"Aku sudah bukan ninja Konoha lagi dan aku sendiri sudah keluar dari desa Konoha." jawab Naruto dengan santai.

"APA!?" Gamabunta kembali berteriak keras.

"Ssst! Jangan keras-keras! Nanti aku ketahuan!" Naruto mendesis kepada Gamabunta.

"Kenapa kau keluar dari desa itu Naruto? Bukannya kau ingin menjadi Hokage?" Gamabunta bertanya kepada Naruto.

"Aku sudah tidak tahan hidup di desa itu. Setelah misi terakhirku aku menyadari kalau aku tidak akan pernah bahagia di desa. Karena itu aku telah berhenti menjadi ninja dan mengembara mencari hidup yang baru." Naruto menjawab pertanyaan Gamabunta.

Gamabunta terdiam sejenak, dia tahu cepat atau lambat Naruto akan pergi dari desa. Naruto sendiri sudah cukup kuat menahan kelakuan penduduk desa selama 13 tahun. Namun Naruto mempunyai batas kesabaran dan sepertinya tindakan Konoha kali ini telah melewati batas kesabaran Naruto.

"Begitu ya. Kalau begitu kenapa kau ingin keluar? Bukannya kontrak ini bisa membantumu?" Gamabunta mencoba membujuk Naruto untuk tidak keluar dari kontrak,

"Aku membaca info mengenai gulungan pemanggilan. Di suatu buku dikatakan kalau para binatang kontrak dapat melakukan pemanggilan terbalik terhadap pengguna gulungan kontrak. Kalau begitu suatu saat aku bisa saja dipanggil terbalik untuk kembali ke Konoha. Untuk menghindari hal itu makanya aku ingin memutuskan hubungan kontrak katak." jawab Naruto dengan mantap.

Tiba-tiba suasana menjadi hening dan yang terdengar hanyalah suara angin dan binatang-binatang kecil yang hidup dimalam hari. Gamabunta menghela nafas.

"Kau sudah bulat dengan keputusanmu ini ya, Naruto?" Gamabunta hanya bisa berkata pelan kepada Naruto.

"Ya." jawab Naruto dengan mantap.

"Kalau begitu baiklah, aku terima permohonanmu." Gamabunta akhirnya menuruti keinginan Naruto.

"Terima kasih Gamabunta." Naruto berterima kasih pada Gamabunta. Lalu Gamabunta memunculkan gulungan perjanjian katak.

"Dengan persetujuan dari aku, Gamabunta, bos kontrak gulungan katak, aku menyatakan kalau Uzumaki Naruto sudah bukan pengguna dari gulungan perjanjian katak lagi." Setelah Gamabunta mengeluarkan pernyataan tersebut, nama Naruto terhapus dari gulungan perjanjian katak.

"Uzumaki Naruto, walaupun kau bukan salah satu dari pengguna kami lagi, jika kau memerlukan bantuan kami siap membantumu." Gamabunta berkata kepada Naruto.

"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih, Gamabunta. Jika aku boleh meminta tolong sekali lagi, tolong berikan ini kepada Jiraiya-sensei." Naruto lalu menyerahkan sebuah surat dan gulungan kepada Gamabunta. Gamabunta lalu menjulurkan lidahnya dan membawa surat dan gulungan tersebut ke dalam muilutnya.

"Baiklah, akan ku berikan surat ini pada Jiraiya. Selamat tinggal Uzumaki Naruto. Semoga kita bisa bertemu lagi di kemudian hari." Gamabunta membalikkan badan dan bersiap pergi dari tempat itu ketika suara Naruto terdengar dari belakang tubunya.

"Terima kasih untuk segala bantuan yang telah diberikan Gamabunta! Dan namaku bukan lagi Uzumaki Naruto. Namaku yang sekarang adalah Namikaze Naruto!"

Gamabunta yang mendengarnya hanya tertawa.

"Jadi kau sudah tau siapa orang tuamu Naruto, baguslah kalau begitu. Suatu saat ayo kita minum sake bersama seperti yang kulakukan dulu bersama ayahmu Naruto!"

"Akan kulakukan jika aku bisa, selamat tinggal Gamabunta!" Naruto berkata kepada Gamabunta.

Gamabunta hanya tertawa lalu pergi dari tempat itu.

Naruto kemudian melanjutkan perjalanan menelusuri hutan Konoha yang gelap lebih dalam.


Di sebuah markas 1 jam sebelumnya.

Di sebuah ruangan gelap yang hanya berhiaskan 2 lilin yang menyala, terlihat Shimura Danzo mengerjakan beberapa dokumen. Ketika dia sedang beberapa dokumen seorang ANBU NE muncul di belakangnya untuk melaporkan sesuatu.

"Danzo-sama ada sebuah Apartemen yang meledak malam ini dan seseorang keluar dari desa secara diam-diam." ANBU NE itu melaporkan.

"Siapa orangnya?" Danzo bertanya kepada ANBU-nya.

"Uzumaki Naruto."

Jawaban singkat itu membuat Danzo menghentikan pekerjaan dia sejenak dan memutar tubuhnya untuk bertatap muka dengan salah satu ANBU-nya.

"Apa kau yakin informasi ini benar?" Danzo bertanya.

"Kami yakin Danzo-sama." ANBU itu menjawab.

Danzo diam untuk berpikir sejenak. Setelah beberapa menit, Danzo memberikan perintah kepada ANBU NE-nya.

"Kalau begitu aku perintahkan kau untuk memimpin satu tim ninja NE untuk menangkap Uzumaki Naruto. Kalau kau tidak bisa menangkapnya, bunuh dia." Danzo berkata kepada ANBU tersebut.

"Siap, Danzo-sama!" Lalu ANBU itu menghilang dihadapannya.

'Jinchuuriki Kyuubi sudah pergi dari desa ya...ini merupakan kesempatan emas bagiku untuk menjadikan Kyuubi sebagai senjataku. Apapun yang terjadi, Kyuubi tidak boleh jatuh ke tangan desa lain.'

Danzo sendiri dengan pikirannya, hanya ditemani oleh cahaya lilin yang pudar.


Naruto sekarang sedang beristirahat di tengah hutan. Dia sedang duduk diam di dekat api unggun yang baru saja dia buat. Naruto sedang memikirkan akan kemana dia pergi ketika dia merasakan kalau dia sedang dalam bahaya.

'Perasaan tidak enak apa ini yang sedang kurasakan? Instingku mengatakan untuk segera tidak ingin mengambil resiko, aku harus cepat pergi dari sini.'

Naruto lalu mematikan api unggun dan segera berdiri dari tempat duduknya ketika dia mendengar sebuah suara muncul dari dalam kegelapan.

"Futon:Daitoppa."

'Apa!?'

Tiba-tiba sebuah angin berkecepatan tinggi bergerak menuju Naruto. Naruto yang belum siap menahan dengan kedua tangan bersilang di depan dada namun kekuatan angin tersebut cukup kuat membuat badan Naruto menghantam sebuah pohon.

BRAK!

""GAH!"

Naruto berteriak setelah merasakan rasa sakit yang hebat di punggungnya. Naruto yang masih berada di dekat pohon berteriak ke arah serangan muncul.

"Siapa kalian? Tunjukkan diri kalian!"

Tiba-tiba muncul empat orang ANBU NE dari dalam kegelapan. Naruto yang sudah pulih dari serangan langsung bertanya kepada salah satu dari mereka.

"Kalian bukan ANBU yang biasa kutemui di Konoha. Siapa kalian? Kenapa menyerangku?"

"Uzumaki Naruto, datanglah bersama kami dan kau tidak akan terluka." Salah satu pemimpinnya berkata kepada Naruto.

Naruto diam saja, dia sedang memikirkan bagaimana cara dia untuk bisa lolos dari mereka. Naruto melihat dari topeng mereka sebuah huruf "NE" kecil terukir di topeng mereka. Naruto yang menyadari hal itu lalu berkata kepada mereka

"Kalian datang atas perintah Shimura Danzo bukan? Kalian adalah ANBU NE yang seharusnya dibubarkan 13 tahun yang lalu. Aku tidak tau apa kemauan dari Shimura Danzo, tapi aku menolak untuk datang bersama kalian!"

Pemimpin ANBU NE tersebut dengan nada tanpa emosi berkata

"Uzumaki Naruto, kau sudah tahu terlalu banyak. Kami tidak akan menangkapmu, kami akan menghabisimu disini."

Naruto lalu melemparkan sebuah bom asap ke tanah.

BWOSH

Ketika asap putih sudah keluar, Naruto segera berlari menuju ke dalam hutan dengan kecepatan tinggi.

"Cepat ikuti dia!"

Tanpa basa-basi mereka segera lari mengejar Naruto.

Naruto yang sedang berlari memikirkan sebuah rencana untuk meloloskan diri dari mereka.

'Sial bagaimana carannya aku kabur dari mereka? Mereka semua ANBU. Satu kali lengah saja bisa gawat. Tidak ada cara lain, aku harus mengalahkan mereka satu persatu.'

Lalu Naruto mebentuk sebuah segel Kagebunshin dan muncul 10 bunshin Naruto. Naruto menatap mata mereka satu persatu. Mereka mengangguk tanda mengerti dan 5 bunshin Naruto berubah menjadi ranting, bebatuan, dan daun-daun sedangkan 5 bunshin Naruto yang lainnya berdiri di tempat menunggu empat ANBU NE itu datang. Naruto sendiri bersembunyi di atas pohon yang lebat sambil memegang Tanto yang baru saja dia keluarkan dari gulungan.

5 menit kemudian 4 ANBU Ne itu muncul di hadapan bunshin Naruto.

"Jadi sepertinya dia mengirim bunshin-nya untuk menghadang kita. Habisi mereka semua." Ketua tim ANBU NE memberikan perintah. Lalu mereka semua bergerak untuk membunuh Naruto.

"Tidak bisa semudah itu!" seorang bunshin Naruto lalu melemparkan 5 shuriken dan kunai. Salah satu ANBU itu hanya mementalkan sekumpulan kunai dan shuriken itu dengan kunai miliknya sendiri. Lalu ANBU itu menebas leher bunshin Naruto. Bunshin Naruto lau menghilang dengan asap putih. Tiba-tiba dari dalam asap putih muncul 2 bunshin yang siap menikam ANBU tersebut dari depan.

Ketika mereka hampir berhasil tiba-tiba teman ANBU tersebut mengeluarkan sebuah kunai dan melemparnya dengan cepat ke arah salah satu bunshin Naruto. Kunai itu tepat sasaran. Sedangkan bunshin yang satunya lagi lengah memberikan kesempatan untuk ANBU NE yang satunya lagi untuk menghancurkan pipa lehernya dengan pukulan keras ke arah bunshin itu menghilang. TinggalNaruto yang tersisa.

Naruto itu lalu berlari ke arah salah satu ANBU NE dan memberikan serangan beruntun kepada ANBU tersebut. Tendangan ke arah ulu hati, pukulan kearah leher, tebasan kunai ke arah rusuk, semua serangan dapat di tangkis oleh sang ANBU. Bunshin Naruto lalu bersiap melemparkan kunai peledak. Namun sebelum dia sempat berhasil tiba-tiba ada yang menusuk Naruto dari belakang.

JLEB

"GUAH!"

"Apa kata-kata terakhirmu, Uzumaki Naruto." Kata ANBU yang menusuk Naruto dari belakang masih memegang pedang yang dipakai untuk menusuk Naruto.

"Ha-hanya...dua ka...ta... untuk...mu..." ekspresi Naruto yang kesakitan berubah menjadi senyum licik.

"Bunshin Daibakuha."

BLARR!

Tiba-tiba Naruto meledak. Dan ledakan tersebut berhasil melukai dua ANBU NE yang berada di dekat Naruto.

Sedangkan kedua ANBU NE yang tersisa hanya melihat temannya terluka parah namun masih hidup. Ekspressi mereka tidak dapat terlihat dari topeng mereka.

"Sepertinya kita terlalu meremehkan Uzumaki Naruto. Biarkan saja mereka, cepat kejar Uzumaki Naruto." Pemimpin tim ANBU NE tersebut berkata kepada anggota terakhir tim-nya.

"Maaf kami tidak bisa membiarkan hal itu" tiba-tiba ada suara yang muncul di dekat mereka. Ranting dan bebatuan yang ada di dekat mereka berubah menjadi 5 bunshin Namikaze Naruto.

"Apa!?" kedua ANBU NE itu terkejut sebelum pemimpinnya menghindar dari 5 serangan bunshin Naruto, membiarkan temannya terkena serangan Naruto. ANBU NE yang diserang oleh 5 bunshin Naruto menghindar dan menebas semua bunshin menggunakan kunai. Hanya tiga yang kena, sedangkan dua bunshin sisanya berhasil menusuk badan ANBU tersebut di kedua bagian yang tidak vital.

"Urk!"

Lalu sebelum ANBU NE tersebut pingsan karena kehilangan darah, ANBU tersebut lalu memutar balik badannya dan menusuk salah satu bunshin Naruto dan bunshin yang satunya lagi di tendang dengan kuat hingga lenyap dari pandangan mata. Setelah melakukan itu, ANBU NE tersebut roboh.

Pemimpin tim ANBU NE hanya diam di tempat. Badannya tegang mengantisipasi serangan dari segala arah. Terjadi keheningan di dalam hutan itu. Hanya suara erangan kesakitan anggota tim-nya yang terdengar. Tiba-tiba

WOOSH.

Suara angin yang lembut namun cepat terdengar oleh sang pemimpin tim ANBU NE tersebut. Dia melihat Namikaze Naruto sedang meluncur ke bawah dengan tanto di tangan kanannya. Pemimpin tim ANBU NE tersebut segera menghindar ke samping dan meloncat mundur untuk mengambil jarak. Sedangkan Naruto hanya berhasil menebas ruang kosong. Naruto lalu kembali ke posisi siaga dengan ujung tanto terhunus di depan muka ANBU NE tersebut.

"Sudah cukup. Hentikan semua ini. teman-temanmu sudah terluka parah, segeralah bawa mereka ke rumah sakit Konoha dan berhenti mengejarku. Akan kubiarkan kalian pergi jika kalian berhenti mengejarku." Naruto mencoba untuk meyakinkan ANBU NE tersebut. Mata Naruto yang berwarna biru laut telah berubah menjadi warna biru gelap dan menjadi sedingin es. Naruto masih mengawasi pemimpin tim ANBU NE tersebut.

"Misi kami adalah menangkapmu Uzumaki Naruto dan kami akan menyelesaikannya demi Danzo-sama. Sebagai hadiah karena dapat mengalahkan anggota tim-ku, akan kuberitahu namaku." ANBU NE tersebut membuka topengnya dan dari balik topeng terlihat pria berambut hitam dengan warna mata hijau.

"Namaku adalah Hibiki Mamoru. Dan nama itulah yang akan menjadi hal terakhir yang kau dengar!" Tanpa aba-aba, Mamoru langung memotong jarak antara Naruto dan dirinya lalu mencoba memukul ulu hati Naruto. Naruto melompat mundur untuk menghindari serangan tersebut. Namun Mamoru belum selesai. Setelah serangan pertama-nya gagal, Mamoru lalu melancarkan tendangan kearah rusuk kanan Naruto dan tendangan itu tepat sasaran.

KRAK!

"Ugh!" Naruto mendesis dan merasakan tubuhnya terhempas jauh kedalam hutan. Sebelum terhempas, Naruto sempat memutar badannya di udara dan menebas badan Mamoru, membuat dia teluka. Naruto terhempas cukup jauh dan merasakan badannya bergesek dengan tanah. Ketika sudah berhenti Naruto langsung berdiri siaga. Baru saja dia berdiri siaga tiba-tiba dia mendengar Mamoru mengeluarkan sebuah jutsu.

"Suiton:Suigadan!" dari mulut Mamoru keluar beberapa peluru air dengan tekanan dan kecepatan tinggi menuju Naruto. Naruto berlari ke depan, menghindari semua peluru air dengan kecepatan tinggi dan ketika sudah dekat dengan Mamoru, Naruto melancarkan sebuah teknik kenjutsu.

"Uzumaki no Ougi: Hien!"

Naruto lalu menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri dengan kecepatan tinggi sambil menebas ke arah bahu, kaki, dada, perut, dan leher. Mamoru diserang dengan kecepatan bertubi-tubi bagaikan burung dara yang sedang terbang. Naruto mengakhiri tekniknya dengan tebasan vertikal dari bawah ke atas, membuat Mamoru terpental jauh dengan badan dipenuhi dengan luka tebasan. Badan Mamoru terhempas ke tanah dan tidak bergerak lagi. Namun Naruto tau kalau dia masih hidup.

Naruto mengeluarkan nafas lega. Ketika Naruto mengira dia sudah aman, tiba-tiba tendengar sebuah suara kecil bagaikan kertas yang dibakar di dekat kakinya. Naruto melihat kebawah dan melihat sebuah kunai dengan kertas peledak tertancap di dekat kaki kanan-nya.

'Oh sial.'

BLAR!

Naruto mencoba menghindari ledakan dengan melompat menjauh dan melindungi bagian atas badan kanan-nya menggunakan lengan kanan. Namun badan Naruto masih terluka dan badannya terhempas cukup jauh. Naruto terhempas sampai ke lereng bukit dimana dia terus berguling dengan badan penuh luka gores sampai akhirnya dia berguling ke arah jurang. Naruto mencoba bangkit namun dia tidak bisa. Ketika hampir jatuh, Naruto menggengam ujung jurang untuk menghentikan dia jatuh ke jurang. Tangan Naruto yang sudah terluka tidak bisa menahan bebannya lebih lama lagi. Karena tidak kuat, tangan Naruto terlepas dari ujung jurang. Pikiran terakhir Naruto sebelum jatuh adalah

'Kami-sama membenciku.'

Lalu Naruto jatuh kedalam jurang. Ternyata di dalam jurang ada sebuah arus sungai.

BYUR!

Naruto jatuh kedalam dan hanyut ke dalam sungai dalam keadaan tak sadarkan diri. Dan ketika dia sadar, Naruto terdampar di sebuah hutan.

FLASHBACK END.

Naruto sudah selesai mengobati dirinya. Ketika sudah selesai Naruto segera bermeditasi untuk menemui Kurama.


Alam sadar Naruto.

"Oi Kurama, kau masih didalam?" tanya Naruto.

"Kukira kau sudah mati Naruto. Kau mengkhawatirkanku saja. Kau tidak apa-apa?" Kurama bertanya kepada Naruto.

"Tidak sudah pernah mengalami yang lebih parah."jawab Naruto santai.

"Baguslah kalau begitu. Akan mengotori namaku jika Jinchuuriki ku mati hanya karena jatuh ke jurang." Kurama berkata datar.

"Err...Kurama, kebanyakan orang akan MATI jika mereka jatuh ke jurang. Dan aku akan menganggap ucapanmu tadi sebagai pujian, terima kasih banyak." Jawab Naruto ketus. Kurama hanya tertawa. Lalu muka Kurama menjadi serius dan berkata.

"Naruto, sudah saatnya kita melonggarkan segelnya. Di daerah hutan liar seperti ini, tidak akan ada yang merasakan ledakan chakraku. Kejadian tadi malam menyadarkanku kita harus melakukan hal ini secepatnya. Ingat, ini akan merubahmu menjadi seorang hanyou. Apakah kau sudah siap?" tanya Kurama dengan serius.

"Aku siap." Naruto menjawab dengan mantap.

"Persiapkan dirimu kalau begitu Naruto. Karena ini akan terasa sangat sakit. Segeralah ke dunia nyata. Begitu sudah sampai, aku akan melonggarkan segelnya."

Naruto mengangguk dan keluar dari alam sadarnya.

Ketika Naruto sudah sampai, Kurama lalu melonggarkan segelnya.


Naruto POV

Ketika aku sudah sadar, aku masih melihat pemandangan yang sama yaitu aliran sungai, pepohonan yang rindang, dan jaketku yang rusak. Untung saja syal yang Hinata berikan tidak rusak. Tiba-tiba aku diserang rasa sakit yang luar biasa.

"UAAARRGGHH!" Aku berteriak sekeras mungkin. Baru pertama kali ini aku merasakan rasa sakit sehebat ini! Kepalaku seakan-akan mau pecah, badanku terasa panas sekali bagaikan ada lava yang mengalir di setiap aliran darahku, kedua bola matakku serasa ingin keluar dari tempatnya, dadaku sesak, aku tidak bisa berpikir rasional, dan yang dapat kulihat hanyalah warna merah bagaikan darah di penglihatanku. Aku merasakan ada air hangat di dekat kedua bola mataku. Entah itu air mata atau darah yang keluar dari bola mataku, aku ingin agar ini segera berakhir!

"AAAAAARRRRGGGGHHHH!" aku terus berteriak sampai akhirnya aku mendapatkan yang kuinginkan, kegelapan. Aku pingsan dan rasa sakit itu berhenti kurasakan.

Naruto POV End.

Hari sudah mulai sore, Naruto terbangun sore itu.

"Ugh, badanku sakit sekali."

"Hebat sekali kau, dapat menahan semua rasa sakit itu."

"Gyaaa!" Naruto berteriak ketika dia mendengar suara yang berbicara dengannya.

"Siapa itu!?" Naruto memasang sikap siaga.

"Ini aku, bodoh." Suara itu terdengar bosan.

"Kurama?"Naruto bertanya kepada udara.

'Bukan, aku Hokage pertama. Tentu saja ini aku Naruto!' Kurama berteriak.

"Dimana kau? kenapa aku bisa bicara denganmu dari dunia nyata?" Naruto bertanya sekali lagi pada udara.

'Masih di dalam segelmu. Dan berhentilah bicara dengan udara! Kau kelihatan idiot! Pikirkan saja apa yang ingin kau katakan, aku akan bisa mendengarnya.'Kurama mendengus kesal

'Sudah lebih baik sekarang?'

'Ya, lebih baik sekarang.' jawab Kurama.

'Kurama, bagaimana caranya kau bisa berbicara padaku? Dan apa yang barusan terjadi padaku?'tanya Naruto pada Kurama.

'Aku dapat berbicara padamu karena segelnya ku longgarkan, karena sudah menjadi longgar, aku bisa berbicara denganmu sekarang tanpa harus kau pergi ke alam sadarmu. Dan untuk apa yang sudah terjadi padamu, silakan berjalan ke sungai dan lihatlah dirimu sendiri.' Jawab Kurama santai.

Naruto berjalan ke arah sungai dan melihat refleksi dirinya sendiri.

Hening...

"APA-APAAN INI KURAMA!?" Naruto berteriak kencang setelah melihat apa yang terjadi padanya. Rambutnya yang kuning cerah telah berubah menjadi merah darah, matanya yang biru laut telah berubah mejadi merah bagaikan ruby yang bersinar, dan badannya sekarang lebih tinggi dan lebih berisi dan kuat dibandingkan yang dulu. Dan mukannya menjadi mirip dengan Yondaime Hokage, Namikaze Minato dengan berambut merah.

"KURAMA BAGAIMANa CARANYA AKU KEMBALI KE WUJUD ASALKU!?"

Kurama hanya menghela nafas melihat wadahnya panik.

'Bayangkan saja wujudmu yang semula dan hilamgkan chakramu untuk sementara. Kau cerewet sekali hari ini Naruto.'

Naruto melakukan apa yang Kurama perintahkan. Rambutnya kembali menjadi kuning cerah dan matanya yang merah seperti ruby berubah kembali menjadi biru laut. Badannnya tidak kembali seperti semula.

'Oi Kurama, apa yang terjadi denganku? Aku merasa lebih kuat. Dan kenapa tadi rambut dan mataku berubah menjadi merah?'

Kurama menghela nafas dan menjelaskan.

' Kau sudah berubah menjadi hanyou, tentu saja kau jadi lebih kuat. Reflex, kecepatan, kekuatan, dan kecepatan berpikirmu meningkat adalah pengaruh perubahanmu menjadi hanyou. Dan rambut dan matamu yang berubah menjadi merah adalah efek samping dari proses perubahanmu. Lagian apa masalahnya? Kau terlihat lebih menarik dengan rambut merah dan mata merah ruby yang liar, kenapa harus protes?' Kurama menggerutu.

'Maaf, aku hanya terkejut. Aku tidak biasa melihat rambut dan mataku berubah menjadi merah. Walaupun aku harus mengakui itu membuatku terlihat lebih menarik hehehe.' Naruto berkata sambil tersenyum lebar.

'Kau akan terbiasa. Sekarang jangan ganggu aku, aku ingin tidur. Merubahmu menjadi hanyou membuatku lelah. Sekarang pergi, cari desa yang ingin kau tuju.' Lalu Kurama memutuskan hubungan komunikasi mental antara mereka berdua. Naruto hanya mengehela nafas lalu mengambil kembali barang-barangnya dan memakai syal merahnya dan berjalan menuju ke dalam hutan.


Naruto meneruskan berjalan ke dalam hutan sambil melihat peta. Dia bingung harus pergi kemana. Setelah melihat kembali peta miliknya, ada kemungkinan dia akan pergi ke Suna atau Kiri. Dia akan bisa belajar banyak tentang jurus angin jika pergi ke Suna sedangkan jika dia memutuskan pergi ke Kiri, ada kemungkinan dia akan menemukan kembali reruntuhan desa Uzushiogakure yang hilang. Naruto memutuska untuk memikirkannya nanti. Ditengah jalan dia melihat seekor rubah putih kecil sedang menangis sambil menyentuh dua mayat rubah putih dewasa. Naruto melihat pemandangan tersebut sadar kalau rubah putih kecil itu ditinggal mati orang tuannya.

Naruto berjalan mendekati rubah putih tersebut. Rubah putih kecil itu menyadari kalau ada seseorang datang, melihat kearah Naruto dan mulai menunjukkan taringnya sambil menggeram ke arah Naruto.

"GRR...RAWR!" rubah putih itu menggerram keras melihat Naruto berjalan kearah mayat orang tuannya. Namun karena ukuran rubahnya cukup mungil, geraman rubah itu terdengar imut sehingga tidak akan ada yang takut pada rubah itu. Naruto yang sudah ada di dekat mayat tersebut melihat ada sebuah luka sayatan dan luka-luka lainnya disebabkan oleh manusia.

'Pantas saja rubah ini menggeram kepadaku. Sepertinya orang tuanya dibunuh oleh manusia.' Naruto lalu mulai menyentuh mayat itu.

Rubah kecil itu melompat dan menggigit tangan Naruto.

"OW! Hei jangan gigit aku, aku tidak berniat jahat!" Naruto berteriak kepada rubah kecil itu. Namun rubah itu tidak mau lepas. Naruto ingin melepaskan rubah itu secara kasar dari tangannya ketika melihat rubah kecil itu menangis. Naruto mengurungkan niatnya dan membuat sebuah segel favoritnya.

"Kagebunshin no jutsu."

POOF

Tiba-tiba muncul 10 bunshin Naruto.

"Baiklah semuanya, bawa kedua mayat rubah itu ke suatu tempat dan kuburkanlah di tempat yang aman." Naruto memerintah bunshin-nya dan mereka menangguk dan mulai membawa mereka ke pohon besar dan mulai menggali lubang. Rubah putih kecil yang melihat tindakan Naruto melepas gigitannya dan memandang Naruto keheranan. Naruto hanya memberikan senyum tipis ke arah rubah kecil itu dan melihat kagebunshin miliknya berkerja. Rubah kecil itu menatap Naruto sebentar lalu melihat kedua orang tuanya dikubur. Setelah selesai, Naruto merapatkan kedua tangannya dan berkata

"Semoga kalian tenang di alam sana." Setelah selesai, Naruto beranjak pergi dari situ sampai dia mendengar sebuah suara datang dari rubah putih yang kecil itu.

"Yip Yip!"

"Ada apa? Aku sudah menguburkan orang tuamu dan aku tidak akan memburumu, kau bebas sekarang." Naruto berkata lembut dan kembali melanjutkan perjalanannya.

"Yip Yip!" suara rubah itu makin keras. Naruto menatap kembali ke arah sang rubah dan bertanya

"Kau ingin ikut denganku?"

"Yip yip yip!" Rubah itu menjawab sambil menganggukan kepalanya dua kali. Naruto terawa kecil lalu berkata

"Baiklah kalau begitu. Ayo naiklah ke pundakku." Lalu rubah kecil itu naik ke atas pundak Naruto.

"Karena kau memiliki bulu putih yang terang dan lembut, aku namakan kau Yuki. Kau suka nama itu?" Naruto berkata pada sang rubah.

"YIP!" Rubah itu bersuara riang seakan setuju dengan Naruto.

"Baiklah kalau begitu. Namamu sekarang adalah Yuki." Naruto tersenyum kearah Yuki.

"YIP!" setelah mendengar jawaban tersebut. Naruto dan Yuki melanjutkan perjalanan mereka.


Hari sudah malam, Naruto mengeluarkan gulungan dan mengalirkan chakranya

POOF

Keluar peralatan kemah Naruto. Naruto yakin besok akan menjadi perjalanan yang melelahkan makanya dia memutuskan untuk tidur cepat. Setelah makan dengan hasil buruannya bersama Yuki, Naruto masuk ke tenda untuk tidur. Sebelum itu Naruto mengucapkan selamat tidur pada Yuki.

"Selamat tidur Yuki, aku akan menemuimu besok."

"Yip Yip!" Yuki ikut masuk ke dalam tenda ingin tidur bersama Naruto.

"Kau ingin ikut tidur bersamaku?" tanya Naruto.

"YIP!" jawaban Yuki tanda kalau dia memang ingin tidur bersama Naruto.

"Ya sudah kalau begitu, kau boleh tidur bersamaku." Jawab Naruto.

Setelah itu Naruto tidur didalam tenda dengan posisi badan mengarah ke langit dan Yuki tidur di dadanya.

Keesokan paginya...

Sinar matahari telah muncul dan kicau burung sudah terdengar di luar tenda. Naruto yang mengetahui sudah pagi mencoba untuk bangkit dari tidurnya. Namun ketika dia mencoba bangun, badan Naruto terasa berat, lalu Naruto membuka mata dan melihat ke arah dadanya. Dia melihat seorang perempuan muda yang cantik berumur sekitar 11 tahun dengan rambut putih seputih salju sedang tidur dengan kepalanya berada di dada Naruto. Karena merasakan gerakan dari badan Naruto, perempuan itu bangun dan melemaskan badannya dengan peregangan pagi. Seelah selesai dia melihat kearah mata Naruto lalu perempuan berambut putih itu tersenyum dan berkata dengan riang.

"Ohayou, Onii-chan!" perempuan berambut putih itu berkata dengan senyuman lebar di wajahnya.

Sedangkan Naruto? Dia mengeluarkan jawaban terpintarnya ketika berada dalam situasi seperti ini.

"APA YANG SEDANG TERJADI DISINI!?"

Chapter 6 End.


Author Note:

Aku minta maaf sebanyak-banyaknya baru update sekarang. Karena kesibukan sekolah, aku jadi belum bisa meneruskan chapter 6 beberapa hari ini. syukurlah chapter 6 udah selesai. Dan untuk para pembaca, berhubung sebentar lagi aku UTS, aku gak akan mengupdate fic ini selama UTS dan hanya akan mengupdate kembali ketika UTS sudah selesai. Jadi untuk pembaca setia harus mau bersabar. Sekali lagi aku minta maaf karena membuat kalian menunggu lama. Dan seperti biasa, reveiw please.

Kazehaya Arashi.