Author Note:

Akhirnya UTS selesai! setelah seminggu mengerjakan ulangan yang bikin sakit mata akhinya aku bebas! semoga aja gak kena remid. Terima kasih kepada para pembaca yang sudah setia menunggu hampir 2 mingguan lebih, akhirnya chapter 7 sudah selesai! semoga saja chapter bisa memuaskan kalian. Baiklah tanpa basa-basi lagi, inilah chapter 7 Ketika Senja Tiba!

Disclaimer: Aku tidak memiliki Naruto.


Konoha

Saat ini di Konoha sedang mengalami masa-masa yang sulit. Penduduk Konoha tidak lagi berpesta ria atas "kematian"' Naruto. Jika ada salah satu dari mereka merayakannya, mereka akan menerima pukulan dari Tsunade. Ditambah lagi sekarang Konoha mengalami krisis politik. Ternyata kabar burung mengenai "kematian" genin Uzumaki Naruto dan reaksi penduduk Konoha telah sampai ke desa-desa lain seperti Suna, Nami, Haru, dan desa-desa lainnya. Desa-desa yang ditolong oleh Naruto di masa lalu murka mendengar perlakuan penduduk desa Konoha dan akhirnya desa-desa ini memutuskan hubungan politik dengan Konoha. Hal ini membuat Tsunade semakin tertekan dan mulai temperamental. Dan fakta bahwa pencarian Jiraiya mengenai Naruto sendiri tidak membuahkan hasil dan hal itu tidak membantu mood Tsunade. Dan dia juga harus berurusan dengan keputusan Sasuke, Sakura, dan Kakashi mengenai kepergian Naruto.

Flashback

Sebelum Jiraiya pergi mencari keberadaan Naruto, Tsunade meminta Jiraiya untuk membuat segel untuk menekan kekuatan segel kutukan yang ada di leher Sasuke. Jiraiya awalnya menolak membantu Tsunade mengingat Sasuke merupakan salah satu alasan kenapa Naruto pergi dari desa. Namun akhirnya Jiriya setuju untuk membantu Tsunade. Lalu mereka berdua segera pergi ke kamar 1028, kamar dimana Sasuke dirawat.

Kamar 1028

Jiraiya dan Tsunade masuk kedalam ruangan dan disambut dengan tatapan benci dari salah satu Uchiha terakhir di desa. Siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke.

"Untuk apa kalian kesini!? Sudah kukatakan kepada dokter dan perawat yang datang kesini kalau aku ingin sendiri! Dan hal itu berlaku juga untuk kalian. Cepat pergi dari sini!" Sasuke berteriak kepada Tsunade dan Jiraiya.

"Jaga mulutmu, Uchiha Sasuke! Jika kau tidak bisa menjaga mulutmu, akan kuhajar kau sampai kau tidak bisa berbicara lagi!" Tsunade berkata keras kepada Sasuke.

"Kau kira aku peduli!? cepat pergi dari si-"

belum saja Sasuke menyelesaikan omongannya tiba-tiba Sasuke merasakan rasa sakit yang hebat di ulu hatinya. Ketika dia melihat ke badannya, Sasuke mennyadari kalau seseorang telah memukul ulu hatinya.

"Kau..." tanpa sempat menyelesaikan omongannya Sasuke pingsan. Tsunade melihat tangan yang memukul Sasuke dan menyadari kalau pukulan itu berasal dari Jiraiya.

"Jiraiya! Apa yang kau lakukan!? Dia masih belum stabil! Bagaimana kalau kondisinya memburuk!?" Tsunade berkata kepada Jiraiya.

"Aku tidak peduli dengan keadaan bocah ini. Aku memang setuju untuk membantu menyegel segel kutukan Sasuke. Tetapi aku tidak pernah sekalipun berkata kalau aku tidak akan bertindak kasar terhadap Sasuke." Jawab Jiraiya ketus terhadap Tsunade.

Tsunade hanya diam saja. belum pernah dia melihat Jiraiya seperti ini. Namun hal ini dapat dimaklumi oleh Tsunade. Jiraiya baru saja kehilangan murid terbaiknya karena ulah desa dan Uchiha Sasuke. Merupakan hal yang wajar jika Jiraiya masih marah terhadap Sasuke.

"Kalau begitu ayo kita segera ke ruang segel untuk mempersingkat waktu." lalu Jiraiya membawa badan Sasuke ke pundaknya dan melangkah keluar ruangan untuk menuju ruang segel. Tsunade hanya mengikuti Jiraiya dari belakang.

Ruang Segel

Setelah mempersiapkan segala yang dibutuhkan, Jiraiya sudah siap untuk memulai proses penyegelan. Di ruangan tersebut terdapat lingkaran besar yang didalamnya terdapat tulisan kaligrafi asing. Dan didalam lingkaran tersebut ada sebuah lingkaran kecil yang didalamnya terdapat Sasuke yang tidak memakai baju dengan kedua tangan terikat yang siap untuk disegel. Baru saja Jiraiya ingin memulai, Sasuke mulai terbangun dari tidurnya.

"Di...Dimana aku!? Apa yang akan kalian perbuat padaku!?" Sasuke yang baru saja terbangun langsung berteriak kepada Jiraiya dan Tsunade. Jiraiya dengan santai melangkah ke arah Sasuke dan memukul muka Sasuke dengan keras.

"Diam kau bocah! Aku akan menyegel segel kutukanmu agar kau tidak bisa menggunakan segel itu lagi!" Jiraiya menghardik Sasuke.

"APA!? Kau tidak bisa melakukan itu! Kekuatan ini milikku! Kau tidak punya hak untuk mengambilnya dariku!" Sasuke protes sambil mencoba melepas ikatan tali yang mengikat kedua tangannya.

"Aku tidak peduli. Sebaiknya kau bersiap-siap karena proses ini akan terasa sangat menyakitkan bagimu, bocah." tanpa basa-basi lagi, Jiraiya segera membentuk beberapa segel lalu ketika selesai, Jiraiya menghantamkan kedua tangannya ke bahu Sasuke, tepat dimana segel itu berada. Dan tiba-tiba Sasuke berteriak keras.

"AAAAAAAAHHHHHHHH!" sambil berteriak, Sasuke meronta-ronta untuk mencoba untuk melepaskan diri. Tiba-tiba sebuah aura berwarna ungu gelap keluar dari badan Sasuke. Lebih tepatnya, aura itu muncul dari dalam segel yang ada di bahu Sasuke.

"GAAAAAAAAHHHHHH!" Teriakan Sasuke semakin menjadi-jadi ketika aura ungu itu semakin besar. Aura itu hampir saja menggagalkan penyegelan Jiraiya. Namun Jiraiya tetap diam di tempat, berusaha keras agar penyegelan berhasil.

"AAAAAAAARRRRRGGHH!" Sasuke berteriak dengan keras sampai akhirnya proses penyegelan yang menyakitkan itu selesai. Sebuah segel tambahan muncul di bahu Sasuke. Sasuke sendiri roboh ke tanah, pingsan karena rasa sakit yang hebat. Jiraiya yang kelelahan duduk diatas tanah dan Tsunade segera berlari menuju Jiraiya.

"Jiraiya, kau tidak apa-apa?" tanya Tsunade dengan nada khawatir.

"Aku tidak apa-apa Tsunade." Jiraiya bangkit dari duduknya dan berkata kepada Tsunade.

"Tsunade sekarang ayo kita bawa Sasuke kembali ke ruangannya. Kita biarkan dia istirahat 2 jam sebelum kita mulai mengecek kondisi dirinya." Kata Jiraiya. Tsunade mengangguk dan mereka berdua membawa kembali Sasuke ke ruangannya.


2 jam kemudian...

Jiraiya dan Tsunade kembali memasuki ruangan 1208 untuk memeriksa keadaan Sasuke. Ketika mereka masuk ruangan, mereka terkejut melihat Uchiha Sasuke yang tadinya emosional dan penuh kebencian sekarang menjadi tenang dan matanya hitam kosong. Sasuke perlahan-lahan menoleh ke arah Jiraiya dan Tsunade dan berkata dengan pelan.

"Hokage-sama? Jiraiya-sama? Apa...apa yang terjadi padaku, Hokage-sama?" tanya Sasuke pelan. Kebingungan dapat terdengar dari nada suaranya.

"Uchiha Sasuke...apa yang terakhir kali kau ingat sebelum berada disini?" tanya Tsunade dengan hati-hati.

"Aku...aku ingat saat itu aku sedang mendengar kabar bahwa Itachi mengincar Naruto dan aku berlari ke kota untuk mencari Naruto. Ketika aku menemukan Naruto, aku melihat Itachi bersama dengan partnernya dan aku...dipenuhi dengan amarah, aku mengeluarkan chidori lalu berlari ke arah Itachi untuk membunuhnya. Namun aku dikalahkan oleh Itachi dan aku kehilangan kesadaran." Jawab Sasuke pelan. Lalu tiba-tiba ruangan menjadi sunyi.

"Lalu apa lagi yang kau ingat Sasuke?" tanya Tsunade pelan kepada Sasuke. Keadaan Sasuke sekarang jauh berbeda dari sebelumnya dan Tsunade harus berhati-hati agar tidak menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan. Sedangkan Jiraiya hanya diam saja, menunggu apa yang akan dikatakan Sasuke selanjutnya. Sasuke terdiam. Tangannya bergetar, seakan takut dengan apa yang akan dirinya katakan menjadi kenyataan. Sambil menggengam erat lengan kirinya dengan tangan kanannya, Sasuke melanjutkan perkataannya.

"Aku...aku seakan melihat sebuah mimpi buruk dimana ketika aku disembuhkan oleh hokage-sama, aku mengamuk dan mencoba membunuh Naruto. Dan aku melihat diriku sendiri pergi dengan sukarela dengan 4 orang ninja Oto. Memori terakhir yang kuingat adalah aku bertarung dengan Naruto di Lembah Terakhir dan aku membuat dia terluka parah. Ketika aku tersadar, aku melihat kalau aku berada di ruangan ini. Tapi itu semua hanya mimpi kan? Hokage-sama? Jiraiya-sama?"

Sasuke bertanya pelan kepada Tsunade dan Jiraiya. Suaranya bergetar seakan ingin mendengar dari mereka berdua kalau yang baru saja dia katakan hanyalah sebuah mimpi buruk. Tentu dia menganggap Naruto itu menyebalkan, tapi tak mungkin dia mencoba untuk membunuh Naruto. Itu tidak mungkin terjadi kan? Entah kenapa Sasuke tidak ingin tau jawabannya. Sasuke mulai merasakan perasaan tidak enak ketika melihat ekspresi muka Jiraiya dan Tsunade. Tsunade terlihat khawatir sedangkan Jiraiya yang tadinya menatap keras terhadap Sasuke mukanya berubah menjadi datar dengan tatapan kasihan kepada Sasuke. Dan itu merupakakan pertanda yang buruk untuk seorang Uchiha Sasuke.

"Sasuke, apa yang kau lihat di dalam "mimpi" mu adalah kenyataan." Jawab Tsunade singkat.

Perkataan Tsunade membuat Sasuke terkejut.

"Tidak, tidak mungkin! Aku tau Naruto bisa menjadi sangat menyebalkan, tetapi tidak mungkin aku mencoba membunuh orang yang kuanggap saudaraku sendiri!" Sasuke mencoba menyangkal pernyataan Tsunade.

"Itu kenyataannya. Kau mencoba kabur dari desa Konoha dengan bantuan 4 ninja Oto. Kami mengirimkan tim 5 orang yaitu Chouji, Shikamaru, Kiba, Neji, dan Naruto. Kau berhasil dibawa kembali oleh Naruto namun dia luka parah. Apa kau tidak ingat Sasuke?" Tsunade mencoba meyakinkan Sasuke.

"A...Aku..." Sasuke tiba-tiba teringat semua yang terjadi. Sasuke menaruh tangannya ke mukanya, mencoba menerima kabar ini dengan tenang. Akhirnya Sasuke harus mengakui kalau apa yang dikatakan Tsunade itu benar.

"Hokage-sama, Jiraiya-sama, dimana Naruto? Aku harus minta maaf dan menjelaskan tentang semua ini padanya." Sasuke memohon kepada Tsunade.

"Percuma." Jiraiya tiba-tiba berkata kepada Sasuke.

"Kenapa!? Aku hanya ingin meminta maaf pada Naruto. Saat itu aku tidak dalam kondisi rasional! Aku tidak bermaksud untuk kabur dari desa!" Sasuke mencoba meyakinkan Jiraiya.

"Aku bilang percuma."

"Kenapa!? Aku berjanji aku hanya ingin berbicara kepada Naruto, aku-."

"Aku bilang percuma. Karena Naruto sudah tidak ada lagi di desa." Jawaban singkat Jiraiya seketika membuat Sasuke berhenti bicara.

"A...Apa?" Sasuke menatap Jiraiya dengan tatapan tidak percaya.

"Kau mendengarku bocah. Naruto tidak ada lagi di desa. Karena Naruto melukaimu dengan parah pada saat misi, Naruto dihukum tidak boleh menjadi chunin selamanya. Hal itu membuat Naruto berhenti menjadi ninja dan pergi dari desa. Dan anggota tim yang membawamu kembali juga terluka parah. Kau mengerti sekarang bocah? Karena kau tidak bisa mengendalikan amarahmu dan menggunakan segel kutukanmu, Kau telah membuat sesama teman ninjamu terluka parah dan kau menghancurkan hidup dari seseorang yang kau anggap sebagai saudara. Kau sudah mengerti konsekuensi dari tindakanmu kan, Sasuke!" Jiraiya menghardik Sasuke dengan keras.

"Tapi, aku!"

"Lihatlah kenyataan di sekelilingmu sekarang Sasuke! Kau mencoba membunuh Naruto karena dendam bodohmu dengan Itachi dan kau termakan omongan bodoh Itachi yang mengatakan kau akan mendapatkan kekuatan setelah membunuh teman terdekatmu telah menghancurkan karir ninja Naruto! Itu adalah kenyataan yang tidak akan berubah! Pada saat ini maafmu tidak berguna apa-apa, hanyalah omongan yang tidak bernilai. Inilah dunia yang sebenarnya! Setiap perbuatan akan ada konsekuensinya dan inilah beban yang harus kau tanggung sekarang. Sebaiknya kau pikirkan apa yang akan kau perbuat dari mulai dari titik ini, kata-kata hanyalah hiasan, tidak memiliki -kata tidak akan membuat Naruto kembali dan kata-kata juga tidak bisa membantu teman-temanmu yang terluka parah. Hadapilah kenyataan di depan matamu dan berhentilah menjadi anak manja! Karena jika dibandingkan antara Naruto dan kau, penderitaan Naruto lebih besar daripada kau, Uchiha Sasuke."

Jiraiya lalu pergi meninggalkan ruangan.

"Tapi...aku tidak bermaksud..." Sasuke hanya bisa diam setelah itu. Jiraiya memang benar. Selama ini dia terlalu dimanja, terlalu egois, tidak melihat penderitaan orang lain. Dia hanya terlalu terpaku dengan nama Uchiha dan membalaskan dendamnya kepada Itachi. Inilah yang harus dia terima sekarang.

Sasuke lalu berkata kepada Tsunade

"Maaf Hokage-sama, tolong biarkan aku sendiri dulu untuk saat ini. aku tidak ingin diganggu siapapun."

Tsunade hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan Sasuke sendirian.

Sasuke mulai mengingat kembali kenangan dirinya bersama tim 7. Tentang kesehariannya bersama tim-nya, persaingan antar rival dengan Naruto, berbicara kepada Sakura, keseharian itu terasa menyenangkan. Namun karena tindakan bodohnya, akhirnya dia mengancam keutuhan tim 7. Sakura akan membencinya, Kakashi kecewa padanya, dan Naruto...Sasuke telah kehilangan satu-satunya orang yang dia anggap sahabat dan saudara setelah Itachi. Tanpa terasa mata Sasuke mulai terasa perih.

'Aku benar-benar bodoh' pikiran Sasuke mulai kalang kabut.

'Kalau saja waktu itu aku bergantung pada teman-temanku, mencoba mempercayai Sakura dan Naruto, hal ini tidak akan terjadi..." badan Sasuke mulai bergetar dan matanya mulai memerah.

'Sial...Sial...SIAL!" Sasuke membaringkan kepalanya ke bantal dan menutup mukanya dengan telapk tangannya.

'Aku telah melepaskan...tangan yang seharusnya tidak kulepaskan!" Lalu untuk pertama kalinya setelah 8 tahun berlalu sejak kejadian pembantaian klan Uchiha, Sasuke menangis.


Rumah Sakura.

Di sebuah kamar dapat terlihat seorang gadis berambut pink sedang menatap ke arah kaca. Matanya yang hijau terlihat sayu, ada kantong mata dibawah matanya, rambut pink-nya acak-acakan. Dan kelihatannya dia habis menangis seharian. Gadis itu adalah Haruno Sakura. Kenapa dia bisa seperti ini? itu karena dia baru saja menyadari kesalahannya.

Omongan Sakura di rumah sakit kepada Naruto membuat hati Sakura penuh dengan rasa bersalah. Namun karena harga dirinya yang menganggap Naruto lebih bodoh darinya, Sakura menolak untuk meminta maaf pada Naruto, menunggu Naruto sendiri yang datang untuk meminta maaf. Dia tidak tau kalau tindakannya ini merupakan kesalahan terbesarnya. Sudah lebih dari 2 minggu akhirnya Sakura memutuskan untuk meminta maaf pada Naruto.

Lalu Sakura pergi keluar rumahnya dan mencari Naruto. Lalu ketika dia bertemu dengan Ino, teman baiknya, dia terkejut melihat Ino menatapnya dengan dingin. Setelah susah payah memohon agar Ino menjelaskan kenapa dia menatap, Sakura terkejut ketika mendengar Naruto pergi dari desa. Sakura ditimpa rasa bersalah. Karena harga dirinya yang bodoh itu, dia sudah kehilangan teman baiknya yang selalu dapat dia andalkan, yang selalu menyemangatinya ketika dia ditolak oleh Sasuke, teman yang selalu tersenyum walau Sakura selalu berlaku kasar.

Akhirnya Sakura menyadari kesalahannya. Dia tidak pernah sekalipun mendukung Naruto, selalu memukul Naruto hanya karena masalah kecil, selalu harus dibantu di setiap misi, dan selalu menghina Naruto. Sakura menangis hari itu. Akhirnya seluruh perbuatan terhadap Naruto mulai membawa rasa bersalah yang besar pada jiwa Sakura.

Akhirnya dia sadar dia itu manja, egois, ingin menang sendiri, dan angkuh. Namun penyesalan tidak ada artinya pada saat in. Memang benar kata orang, penyesalan datang terakhiran. Akhirnya Sakura memutuskan untuk tidak tenggelam dalam kesedihannya dan mencoba untuk merubah dirinya. Dengan penuh tekad, Sakura keluar dari kamarnya dan segera pergi ke kantor Hokage dengan niat ingin memohon kepada Tsunade untuk menjadikannya sebagai murid. Jika dia ingin Naruto suatu saat kembali, maka dia harus berubah dari sekarang. Tidak ada kata terlambat untuk berubah kan? Dengan hal itu di pikiran, Sakura pergi menuju kantor Hokage.


Di monumen pahlawan

Di tempat tersebut terlihat Kakashi sedang menatap monumen yang berisikan nama pahlawan yang KIA di masa perang. Kakashi lalu jongkok dan meraba monumen itu sambil berkata

"Sensei, Obito, Rin... aku gagal lagi." Kakashi berkata sambil melihat sebuah nama yang tidak akan pernah dia lupakan. Namikaze Minato. Orang yang dia anggap sebagai guru dan figur ayah.

"Sensei, aku benar-benar tidak pantas menjadi guru. Karena aku terlalu fokus dengan utang budiku terhadap Obito, aku hanya melatih Sasuke. Sakura dan Naruto aku telantarkan." Kakashi berkata lirih.

"Sejujurnya, aku tidak pernah melihat adanya potensi ninja di dalam Naruto. Karena itu aku memilih melatih Sasuke. Namun dari waktu ke waktu aku melihat Naruto berkembang dengan pesat. Dan Narutosatu-satunya yang tetap berusaha agar tim 7 bisa tetap utuh. Sejak saat itu aku menganggap Naruto sebagai murid kesayanganku. Namun ketika ujian chunin tiba, aku memberikan Naruto kepada Ebisu. Awalnya kupikir itu ide bagus karena Naruto memiliki teknik dasar yang masih jelek. Namun aku tidak menyangka tindakanku itu akan berakibat buruk untuk Naruto. Untung saja Jiraiya-sama mengambil alih latihan Naruto."

Kakashi menghentikan omongannya sejenak untuk mengambil nafas panjang dan melanjutkan omongannya.

"Lalu ketika aku mengetahui Naruto diincar Akatsuki, aku berusaha menghadang Itachi namun aku gagal melakukannya. Ketika aku sadar, aku mendengar Sasuke dalam kondisi koma dan Naruto bersama Jiraiya-sama pergi keluar desa untuk mencari Tsunade-sama. Dan mereka berhasil. Aku merasa bangga terhadap Naruto. Namun ketika aku datang untuk menjenguk Sasuke, aku melihat Sasuke menggunakan chidori ke arah Naruto. Dan Naruto menggunakan rasengan kepada Sasuke. Aku menghentikan mereka berdua. Setelah selesai aku membawa Sasuke pergi dan menasihatinya, berharap dia akan sadar dan tidak akan menggunakan chidori lagi kepada teman."

Kakashi lalu menunduk dan berkata pelan penuh penyesalan.

"Namun hal itu tidak berhasil. Sasuke pergi dari desa bersama ninja Oto dan sebuah tim dikirik untuk mengejar Sasuke. Aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi dan aku meminta Tsunade untuk diberikan izin untuk membantu tim Naruto. Ketika aku merasakan kedua chakra yang besar bertubrukan, aku tau kalau Sasuke dan Naruto menghantamkan rasengan dan chidori secara bersamaan. Aku panik dan mempercepat langkahku. Ketika aku hampir sampai, aku melihat Naruto menggotong badan Sasuke. Badan Naruto penuh luka dan matanya hampir kehilangan cahayanya. Lalu Naruto jatuh ke tanah. Aku dengan segera mencoba menyelamatkan Naruto. Singkat cerita aku berhasil. Namun hal buruk belum selesai. Aku mendengar kabar kalau Naruto mendapat hukuman dari dewan bahwa dia harus menjadi genin selama-lamanya. Aku tidak terima dan mencoba protes ke dewan. Namun protesku tidak diterima."

Kakashi berhenti sejenak dan melanjutkan.

"Aku merasakan rasa penyesalan yang besar karena aku sadar kalau aku terlalu memanjakan Sasuke. Aku berniat untuk meminta maaf kepada Naruto dan Sakura karena menelantarkan mereka. Dan aku berencana untuk melatih mereka berdua sebagai ganti dari kesalahanku yang dulu. Namun aku terlambat, Naruto sudah pergi dari desa, dan Sakura mengurung diri di rumah."

Tanpa terasa bintik-bintik air jatuh ke tanah menandakan hujan akan datang. Kakashi hanya diam.

"Sensei...aku tidak tau harus bagaimana sekarang. Aku sudah melakukan banyak kesalahan besar. Aku tidaklah kuat seperti yang dulu. Aku megecewakan kau terlalu banyak. Aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan, Sensei!" Kakashi memukulkan tangannya ke tanah, membuat retakan kecil di tanah tersebut. Hujan turun semakin deras, membasahi tubuhnya. Seakan ingin bersimpati dengan apa yang dia rasakan sekarang.

"Sensei...aku tidak tau kalau aku akan dimaafkan olehmu setelah terlalu banyak berbuat kesalahan. Namun aku berjanji padamu sensei."

Kakashi tiba-tiba bangkit dari tanah lalu menatap monumen itu dengan tatapan penuh tekad.

"Aku akan menemukan Naruto dan akan mencoba meyakinkan dia untuk kembali ke desa. Walaupun aku harus berhenti menjadi ninja, walau aku harus melawan ninja lain, walau harus aku sendiri yang mengejarnya, aku akan menemukan Naruto! Jika dia tidak mau kembali ke desa, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu apa saja yang dia butuhkan. Jika dia tidak ingin kembali ke desa, maka aku akan membantunya untuk menjauh dari desa. Untuk menebus kesalahanku, untuk menebus dosaku. Inilah yang sudah aku tetapkan. Doakan aku semoga aku berhasil, Minato-sensei."

Kakashi berjanji di depan monumen itu dengan mantap. Lalu melangkah menjauh dari desa menuju kantor Hokage. Entah kenapa Kakashi merasakan beban di hatinya berkurang dan ada semangat baru muncul didalam badannya. Lalu Kakashi meneruskan langkah kakinya menuju kantor Hokage.

Flashback End

Dan sekarang, di depan mata Tsunade anggota tim 7 sedang hadir didepannya.

"Apa mau kalian datang kesini?" tanya Tsunade.

"Tsunade-sama, kami mohon agar tim kami jangan dibubarkan." Kakashi berkata kepada Tsunade.

"Dan apa alasanku untuk mengabulkan permohonan kalian? Kau lupa Kakashi satu tim ninja terdiri dari 3 genin dan 1 jonin. Kalian kekurangan 1 orang lagi untuk membentuk tim ninja. Karena itu aku tidak bisa mengabulkan permintaan kalian." Jawab Tsunade datar.

"Kalau begitu buat saja kami menjadi tim yang terdiri dari 3 orang." Sasuke berkata kepada Tsunade dengan pelan.

"Dan untuk apa aku mengabulkannya? Aku masih belum percaya padamu Sasuke. Kau baru saja mencoba membunuh Naruto 2 minggu yang lalu dan membuatnya pergi dari desa. Itu merupakan alasan yang lebih dari cukup untuk membuatku tidak percaya padamu Sasuke." Tsunade berkata ketus kepada Sasuke.

"Aku tau aku tidak bisa dipercaya untuk saat ini. Aku tidak perlu kepercayaan darimu, Hokage-sama. Yang aku inginkan hanyalah kau memberikan kesempatan padaku untuk membawa Naruto kembali dan menebus dosa-dosaku. Hanya itu yang kuinginkan, Hokage-sama."

Jawaban dari Sasuke membuat Tsunade, Kakashi, dan Sakura tecengang. Ini baru pertama kalinya mereka mendengar Sasuke berbicara seperti itu.

"Akan kupikirkan. Dan untuk kau Sakura, apa alasanmu datang kemari? Jika aku tidak salah ingat, kau menghardik Naruto ketika kau satu ruangan dengan Sasuke hanya untuk alasan yang sangat bodoh. Berikan aku satu alasan untuk tidak menghantamkan kepalamu ke tembok untuk kujadikan cat dinding berwarna merah! Katakan alasanmu, Sakura!" Tsunade berkata dengan tegas kepada Sakura.

"Aku...aku baru saja menyadari betapa pentingnya Naruto padaku. Dia temanku dan aku sadar aku telah terlalu banyak berbuat salah kepada Naruto. Aku hanya ingin minta maaf kepada Naruto dan membawanya kembali ke desa. Agar tim 7 bisa kembali seperti yang dulu. Karena itu aku datang kemari agar tim 7 tidak dibubarkan dan aku ingin menjadi muridmu, Tsunade-sama!" Sakura berkata kepada Tsunade, berharap dapat meyakinkan Tsunade.

Tsunade berpikir panjang. Perlukah dia berikan kesempatan kedua? Tapi bagaimana jika mereka kembali menyakiti Naruto? Apakah Naruto sendiri mau kembali ke desa? Akan kuberikan kesempatan kedua. Setiap orang setidaknya berhak mendapatkan kesempatan kedua.

"Baiklah akan kukabulkan. Tapi dengan satu syarat. Jika Naruto menolak untuk kembali, maka kalian harus membiarkan dia pergi. Dan jika kalian berani menyakiti Naruto sekali lagi dalam bentuk apapuun...akan kuhabisi nyawa kalian dengan tanganku sendiri. Kalian mengerti, tim 7?" Tsunade berkata dengan tegas, menandakan kalau dia tidak main-main dengan ancamannya itu.

"Mengerti, Hokage-sama!" Kakashi, Sakura, dan Sasuke menjawab serempak. Kakashi dan Sakura merasakan lega di hatinya. Sedangkan Sasuke hanya melihat ke arah jendela dan berharap kalau dia tidak terlambat dan bisa menebus semua kesalahannya terhadap Naruto.

'Naruto, sampai aku menemukanmu kembali, jangan mati.' Pikir Sasuke singkat.


Sekarang mari kita kembali ke protagonis kita yang sedang (tidak?) beruntung.

"APA YANG SEDANG TERJADI DISINI!?"

Ini adalah kalimat yang Naruto keluarkan ketika melihat seorang gadis cantik berambut putih yang sekarang sedang ada di atas badannya tanpa busana. Gadis itu memiliki pinggul yang ramping, dada yang tidak terlalu kecil juga tidak terlalu besar dan memiliki porsi badan yang menggiurkan. Mata Naruto berkeliaran melihat pemandangan yang indah itu.

'Tahan Naruto, kau bukanlah seseorang yang mesum! Aku tidak sudi jatuh ke tingkatan yang sama dengan Ero-sennin! Tapi dada dan pinggulnya tidak terlalu buruk hehehe...berhenti memikirkan yang aneh-aneh, Namikaze Naruto!" Naruto berteriak dalam hati. Namun mengingat kalau Naruto hanyalah remaja dengan hormon yang tinggi, hal itu semakin sulit.

Tanpa terasa, dari hidung Naruto keluar darah berwarna merah segar.

"Eh Onii-chan, kau terluka ya!? Dimana kau terluka? Kau baik-baik saja, Onii-chan!" gadis berambut putih itu panik lalu mendekatkan dirinya kepada Naruto, membuat badan indah gadis itu semakin terlihat.

SERR

Darah semakin banyak keluar dari hidung Narurto.

"UWWAAAA!" Naruto berteriak lalu membaringkan badan gadis itu ke tanah dan segera keluar dari tenda.

"Hah...Hah...Hah... Hampir saja aku mati." Naruto yang baru saja panik, sekarang di luar tenda dengan nafas terengah-engah. Darah yang keluar dari hidung Naruto perlahan-lahan berhenti.

"Onii-chan, kenapa kau bergerak tiba-tiba? Aku jadi terkejut tau!" Gadis itu berkata sambil keluar dari tenda dan sekali lagi perlu di ingatkan kalau gadis ini tidak memakai pakaian sehelai benang pun.

CROT.

CRITICAL HIT!

Dari hidung Naruto, darah kembali mengalir. Kali ini lebih banyak. Naruto tidak sempat melihat seluruh badannya karena di dalam tenda gelap. Namun ketika gadis itu keluar dari tenda, ditambah sinar matahari yang sedang bersinar terang, seluruh badan gadis itu dapat terlihat dengan jelas.

"GYAA!" Naruto lalu membuka baju yang sedang dia pakai lalu melemparkan bajunya ke arah gadis itu sambil berkata

"INI PAKAI BAJUKU!"

"Arigato, Onii-chan!" lalu gadis itu mulai memakai baju pemberian Naruto. Sedangkan Naruto membalikkan badannya agar tidak melihat badan gadis itu.

"Aku sudah selesai, Onii-chan!" mendengar kata tersebut Naruto membalikkan badannya dan kini berhadapan kembali dengan gadis itu.

SERR...

Ah darah keluar lagi.

Walaupun sudah memakai baju, karena baju Naruto yang agak kebesaran, gadis itu jadi semakin terlihat imut dan seksi. Sebuah kombinasi yang seharusnya tidak dapat terjadi. Naruto mencoba menenangkan diri. Naruto tiba-tiba terkejut ketika menyadari gadis berambut putih itu memiliki dua telinga rubah di atas kepalanya dan satu buah ekor rubah mengibas ke kiri dan ke kanan. Naruto langsung menyadari siapa identitas gadis itu.

"Yu..Yuki?" tanya Naruto dengan nada tidak percaya. Benarkah ini adalah rubah yang dia tolong kemarin?

Tiba-tiba ekspresi muka gadis itu yang tadinya ada senyum lebar di mukanya berubah menjadi wajah yang agak murung dengan senyum tipis di mukanya.

"Ya. Ini aku Onii-chan." Jawab gadis berambut putih yang ternyata adalah Yuki.

Ekspresi muka Naruto berubah menjadi serius.

"Baiklah, katakan padaku apa yang sedang terjadi Yuki."

Lalu mereka berdua mulai berbicara.


"Jadi begitu ya." Jawab Naruto singkat ketika mendengar Yuki bercerita.

Berdasarkan cerita Yuki, Yuki dan keluarganya sedang diburu oleh sekumpulan ninja karena mereka tau kalau Yuki dan keluarganya adalah seekor Kitsune. Mereka dikejar karena ingin dijadikan sebagai senjata karena mereka memiliki kemampuan untuk mengendalikan es. Namun orang tuanya sudah meninggal karena kehabisan darah dan disaat itulah Yuki bertemu dengan Naruto. Nama lengkap Yuki adalah Kanazawa Shirayuki. Nama yang hampir sama dengan nama yang diberikan oleh Naruto.

"Onii-chan, apa sekarang kau akan membenciku?" tanya Yuki dengan takut-takut.

Naruto hanya tersenyum dan berkata

"Tidak, aku tidak membencimu." Jawab Naruto singkat.

"Tapi Onii-chan, aku adalah kitsune! Aku bukanlah manusia!" Yuki keheranan melihat reaksi Naruto.

"Aku juga bukan manusia lagi. Aku sekarang adalah seorang hanyou." Jawab Naruto santai.

"Tapi apa kau tidak apa-apa denganku Onii-chan? Aku adalah seekor monster di mata manusia." Yuki berkata dengan pelan, sekaan takut dengan jawaban yang akan diberikan Naruto. Naruto menarik nafas panjang dan berkata kepada Yuki.

"Ada banyak definisi monster di dunia ini. Monster itu bisa dikatakan dalam berbagai hal. Ada monster yang bertingkah laku seperti manusia dan ada juga manusia yang tingkah lakunya lebih buruk daripada monster. Dan yang di depan mataku sekarang, hanyalah seorang gadis cantik yang kehilangan kedua orang tua-nya dan membutuhkan pertolongan." Naruto memberikan senyum terbaiknya kepada Yuki.

Naruto melihat badan Yuki bergetar dan air mata mengalir di kedua bola matanya yang berwarna biru. Lalu Yuki meloncat ke arah Naruto.

"Uwa!"

GUBRAK

Naruto merasakan kalau dirinya dipeluk oleh Yuki.

"Terima kasih Onii-chan, terima kasih!" Yuki masih tetap menangis namun bukan air mata kesedihan. Namun air mata tanda bahagia ketika tau kalau Naruto tidak membencinya.

Lalu Naruto membiarkan Yuki memeluknya.

1 jam kemudian

Akhirnya Yuki sudah tenang dan Naruto sudah bisa bergerak.

"Onii-chan, aku ingin memberikan sesuatu padamu." Kata Yuki ketika sudah melepaskan pelukannya dari Naruto.

"Panggil saja aku Naruto. Dipanggil Onii-chan seperti itu membuatku malu." Naruto berkata kepada Yuki.

"Tidak mau. Aku ingin memanggilmu dengan Onii-chan!" Yuki berkata sambil tersenyum riang.

'Terserah kau saja deh...' Naruto menyerah mencoba meyakinkan Yuki. Diluar dugaan Yuki cukup keras kepala.

"Jadi, apa yang ingin kau berikan padaku?" tanya Naruto.

"Ini!" Lalu tiba-tiba dari tangan Yuki muncul sebuah gulungan.

"Apa itu Yuki?"

"Ini adalah gulungan kontrak kitsune!"

" Ka-kau serius Yuki?"

"Yup!"

Naruto ingin mengambil gulungan tersebut namun dia ragu. Akhirnya Naruto berkata kepada Yuki.

"Yuki, apa tidak apa-apa aku mengambilnya? Kalau memang ini gulungan kontrak, apakah tidak apa-apa jika kau langsung memberikannya padaku terlebih dahulu?" tanya Naruto pada Yuki.

"Aku percaya padamu, Onii-chan!" jawaban Yuki cukup meyakinkan Naruto.

Naruto lalu mengambil gulungan tersebut dan membukanya. Naruto lalu menggigit jarinya dan menuliskan namanya di dalam gulungan kontrak. Lalu Naruto membentuk sebuah segel.

"Kuchiyose no jutsu!"

POOF!

Tiba-tiba muncul seekor rubah raksasa berwarna hitam berekor 7.

"Siapa yang berani memanggilku ke tempat seperti ini!" Rubah itu lalu melihat ke bawah dan menemukan seorang anak manusia dan seekor kitsune. Lalu rubah itu menatap ke arah Naruto. Mata rubah itu melebar ketika melihat siapa kitsune yang dimaksud.

"Yuki! Kau masih hidup!? Syukurlah kau selamat. Dimana orang tuamu?" tanya rubah besar itu.

" Mereka sudah meninggal, paman Rouga." Yuki berkata kepada rubah besar yang bernama Rouga.

"Begitu ya...aku minta maaf mendengar kabar itu. Aku ingin bertanya Yuki. Kenapa bisa ada manusia yang memanggil kita!" suara Rouga yang keras menggema di seluruh hutan.

"Namaku Namikaze Naruto. Aku adalah orang yang menemukan Yuki. Yuki memberikan kontrak ini padaku agar aku bisa memunculkan kalian." Naruto berkata kepada Rouga.

"Yuki, apa benar yang dia katakan itu?"

"Ya."

"Apa kau percaya manusia ini dapat menggunakan kontrak ini dengan sebaik-baiknya, Yuki?" tanya Rouga sambil menatap Yuki di matanya.

"Aku yakin paman Rouga." Yuki menjawab dengan mantap.

"Baiklah kalau begitu. Aku akan memulai tes untuk melihat apakah dia pantas untuk menjadi pemegang kontrak kita." Rouga ingin melanjutkan omongannya namun dipotong oleh Naruto.

"Sebelum kita mulai tesnya, aku akan jujur pada kalian berdua. Aku adalah Jinchuuriki no Kyuubi. Apakah itu akan membuatku tidak berhak untuk memegang kontrak ini?" tanya Naruto kepada Yuki dan Rouga.

"Onii-chan adalah Onii-chan, jadi aku tidak ada masalah dengan itu."jawab Yuki dengan santai.

"Tidak masalah bagiku bocah. Asalkan kau menggunakan kontrak ini dengan baik, aku tidak punya masalah siapapun kau." Jawab Rouga santai.

"Terima kasih atas jawabannya. Baiklah aku sudah siap dengan tesnya." Naruto berkata dengan mantap kepada Rouga.

"BWAHAHAHA! Semangat yang bagus bocah. Baiklah untuk menjadi pemegang kontrak ini, yang perlu kau lakukan Cuma satu, bocah." Rouga berkata kepada Naruto.

"Dan itu adalah?" tanya Naruto pada Rouga.

Tiba-tiba muka Rouga berubah menjadi senyuman lebar penuh kelicikan.

"Kau harus bertahan hidup dariku, bocah."

Jawaban Rouga membuat Naruto tercengang.

"Err...apa maksudnya itu?"

"Aku akan mencoba memakanmu dalam waktu 15 menit dan kau harus bertahan hidup dariku. Sudah lama aku tidak makan daging manusia." Rouga berkomentar dengan santai.

"EH!? Tunggu dulu, tidak ada yang bilang kalau tesnya akan jadi seperti ini! Yuki, kenapa kau tidak bilang dari tadi!"

"Kau tidak nanya Onii-chan hehehe!"

"JANGAN TERTAWA!"

"Kau akan mulai kumakan dalam 5."

" APAKAH TIDAK ADA CARA LAIN!?"

"Tidak ada Onii-chan."

"4."

"OI YUKI YAKINKAN PAMANMU AGAR MENCARI CARA LAIN!"

"Paman rouga itu keras kepala~"

"3."

"AKU TIDAK MAU DIMAKAN HIDUP-HIDUP!"

"Aku percaya Onii-chan bisa lolos tes ini!"

"2."

"PERCAYA TIDAK MENJAMIN AKU AKAN BERHASIL YUKI!"

"Onii-chan, sebaiknya kau mulai berlari sekarang."

"1."

"AWAS KAU NANTI YUKI!" Lalu Naruto mulai berlari menuju hutan.

"Selamat jalan Onii-chan!" Yuki berkata sambil melambai-lambaikan tangannya.

"0. Waktumu habis bocah, bersiaplah karena AKU DATANG!" lalu Rouga mulai mengejar Naruto.


DRAP DRAP DRAP DRAP!

Langkah kaki raksasa Rouga dapat terdengar dari belakang Naruto. Naruto mencari akal agar bisa lolos dari Rouga.

'Sial apa yang harus kulakukan dalam situasi seperti ini? Apakah aku harus melawannya!?' Naruto mendapat ide. Naruto membuat 10 kagebunshin dan memberikan instruksi kepada mereka.

"5 kagebunshin, gunakan jutsu angin untuk menghadang Rouga. 5 kagebunshin lainnya, gunakan jutsu air!"

"Siap!" lalu mereka bersiap menghadang Rouga sedangkan Naruto yang asli mengawasi dari pepohonan. Ketika Rouga sudah di depan mata, kagebunshin Naruto mulai bergerak.

"Fuuton:Daitoppa!"

"Suiton"Suigadan!"

5 buah peluru air yang besar berkecepatan tinggi ditambah dengan sekumpulan tekanan angin raksasa membuat Rouga terdiam di tempat. Peluru air tersebut menjadi semakin cepat dan berhasil menghantam badan Rouga.

BLAR!

5 peluru air itu kena telak membuat badan Rouga sedikit termundur.

"Cukup bagus idemu bocah, tapi itu MASIH BELUM CUKUP!" Rouga lalu menarik tangan kirinya ke belakang lalu mencakar sebagian isi hutan.

"GUAH"

"ARRGH!"

POOF POOF POOF POOF!

Seluruh kagebunshin Naruto meledak menjadi asap. Belum selesai penderitaan Naruto, tiba-tiba Naruto mendengar apa yang akan dilakukan oleh Rouga.

"Rasakan ini! Kitsune no Ougi: Kitsune no Houkou!"

Rouga mengeluarkan raungan yang keras membuat pohon-pohon beterbangan sebagian tanah menjadi rata akibat tekanan dari raungan Rouga. Ketika jurusnya selesai, Naruto tidak terlihat dimana-mana. Rouga mencari-cari keberadaan Naruto namun belum berhasil.

"Kau bisa lari Namikaze Naruto, tapi kau tidak bisa sembunyi!"

"Aku tidak pernah berencana untuk bersembunyi."

Suara yang datang dari atas Rouga membuat Rouga untuk melihat ke atas. Di udara terlihat Namikaze Naruto sedang melayang di udara.

POOF POOF POOF POOF!

Selagi Rouga lengah, muncul 4 kagebunshin yang ternyata menyembunyikan diri sebagai batu dan pohon yang rusak. Lalu 4 kagebunshin itu mengeluarkan masing-masing satu gulungan dan mengeluarkan kuas dan tinta dan menulis sesuatu di gulungan. Ketika selesai, mereka merobek gulungan tersebut dan mengambil kertas yang ditulisi dengan segel.

"Fuuinjutsu:Baindo!"

4 kagebunshin tersebut menempelkan kertas tersebut ke empat kaki Rouga dan mengalirkan chakra ke kertas tersebut.

Tiba-tiba Rouga tidak bisa mengendalikan keempat kakinya.

"FUHAHAHA jadi kau tau fuuinjutsu juga? Ide bagus bocah namun kau lupa aku masih bisa menggerakan ekorku!"

Lalu Rouga menggerakan 7 ekornya kearah Naruto berharap dia akan terhempas oleh massa ekornya yang besar. Namun Naruto dapat menghindari ekor tersebut di udara. Lalu di tangan kanan Naruto terbentuk sebuah bola chakra yang bewarna biru yang berputar.

"Rasengan!"

Lalu Naruto menghantamkan rasengan ke punggung Rouga.

"GAH!"

BLAR!

Tubuh Rouga tersungkur kebawah. 4 kagebunshin mulai menghilang dan Naruto berjalan di depan muka Rouga yang tidak bisa bergerak.

"Jadi...Apa aku lulus tes?" tanya Naruto dengan senyum ragu-ragu.

Rouga hanya bisa tertawa.

"BWAHAHAHA! Baru pertama kali ini ada manusia yang dapat mengalahkanku. Kau menang bocah. Sekarang kau menjadi pemegang kontrak rubah. Gunakan sebaik-baiknya."

"Terima kasih." Jawab Naruto dengan senyuman. Ketika Rouga sudah bebas, Rouga kembali ke alamnya untuk memberitaukan kalau pemilik kontrak rubah sudah ada.

"Onii-chan! Aku tau kau pasti bisa lolos tes!" Yuki berkata dengan riang.

BLETAK!

"OW! Kenapa kau menjitakku, Onii-chan!" Yuki mengusap-usap kepalanya.

"Karena kau tidak memberitauku kalau tes-nya akan sangat berbahaya!" Naruto berteriak pada Yuki.

"Tapi setidaknya kau berhasil kan?" Yuki hanya memberikan senyuman lebar yang membuat Naruto menggelengkan kepala.

"Ngomong-ngomong Yuki, aku sudah memutuskan kita akan kemana sekarang."

"Kemana?" tanya Yuki pada Naruto.

"Kita akan pergi ke Suna. Kita akan mengunjungi seorang teman disana. Kau mau ikut?" Naruto bertanya sambil mengulurkan tangan kanannya.

Sesaat muka Yuki memerah. Namun Yuki tersenyum dan menjawab

"Tentu saja!"

Lalu Naruto dan Yuki menulusuri hutan lebih dalam, melangkah menuju ke desa Sunagakure.


Sudah 2 jam berlalu

Yuki dan Naruto masih tetap berjalan.

"Onii-chan! Apakah Suna masih jauh!?" teriak Yuki yang kesal karena tidak sampai-sampai.

"Tentu saja masih jauh. Kita akan sampai disana dalam waktu 2 hari." Naruto menjawab pertanyaan Yuki.

"Itu terlalu lama!"

"Sabar sajalah."

Akhirnya Yuki melanjutkan langkahnya sambil cemberut. Naruto hanya menghela nafas melihat tingkah si Yuki. Naruto tiba-tiba berhenti.

"Ada apa, Onii-chan?" tanya Yuki yang penasaran kenapa Naruto berhenti.

Naruto diam saja lalu berlari mendekati seorang gadis berambut merah yang terkapar di tanah.

"Onii-chan, tunggu aku!" Yuki ikut berlari mengejar Naruto. Ketika sampai, Yuki melihat Naruto sedang memeriksa kondisi gadis tersebut.

"Kau kenal dia, Onii-chan?" tanya Yuki.

"Ya. Gadis ini merupakan salah satu ninja yang hampir berhasil membawa teman baikku keluar dari desa."

"Yang pernah kau ceritakan di misimu itu?"

"Ya."

Yuki tau soal ini karena Naruto pernah sedikit menceritakan alasan kenapa dia bisa keluar dari desa. Dan gadis ini terlibat dalam misi itu. Naruto tiba-tiba mengangkut badan gadis itu ke pundaknya.

"Onii-chan, kenapa kau membawa badan gadis itu!?" tanya Yuki.

"Dia masih hidup. Ayo kita bawa dia ke Suna untuk diobati. Kelihatannya kakinya luka parah." Jawab Naruto.

"Baiklah kalau itu maumu Onii-chan."

Lalu mereka membawa badan gadis itu beserta mereka, tanpa mengetahui kalau gadis itu akan menjadi teman seperjalanan Naruto yang ketiga.

Chapter 7 End.


Maaf membuat kalian menunggu! Akhirnya chapter ini selesai. Sebelum ada pertanyaan, aku akan menjelaskan kenapa Sasuke tiba-tiba berubah menjadi baik. Di fic ini, aku membuat Sasuke pergi dari desa karena terpengaruh oleh segel kutukan Orochimaru. Dan di manganya sendiri, Orochimaru keluar dari segel kutukan yang ada dibahu Naruto. Jadi ada kemungkinan kalau Sasuke dikendalikan oleh Orochimaru. Dan untuk Sakura, di fic ini aku membuat dia melihat kenyataan seberapa payah, jahat, dan menyedihkannya dia di tim 7.

Dan Sakura yang sadar akan fokus ke latihannya sekarang dan rasa suka Sakura pada Sasuke sudah berkurang namun masih ada. Hal ini perlu untuk pengembangan plotku yang sesungguhnya. Dan untuk Yuki sendiri, gak nyangka di reviewer ada yang menyambungkan Yuki dengan Haku. Yuki dan Haku adalah 2 orang yang berbeda. Hanya namanya saja yang agak mirip dengan nama belakang Haku. Namun akan ada sedikit kejutan mengenai hal ini. kejutannya apa? Aku tidak tau~

Akhir kata, terima kasih sudah mau menunggu lama chapter 7 di update dan jangan lupa reviewnya!

Btw ini sedikit terminology yang ada kalau penasaran.

Kitsune: Siluman Rubah

Hanyou: Manusia setengah Siluman

Fuuinjutsu: Baindo: sebuah teknik dimana yang terkena teknik ini tidak bisa bergerak karena ada chakra yang mengikat pergerakan tubuh target sehingga target tidak bisa bergerak.

Fuuton: Daitoppa:sebuah teknik dimana pengguna mengeluarkan sebuah angin dengan tekanan tingg.

Suiton:Suigadan: sebuah teknik dimana dari mulut pengguna keluar peluru air yang keras dan berkecepatan tinggi

Kitsune no Ougi: Kitsune no Houkou: adalah teknik dimana sang kitsune mengeluarkan raungan keras yang berkecepatan dan bertekanan tinggi. Ya, ada sedikit elemen angin yang tergabunglah.

Segitu saja dulu, semoga kalian terhibur dengan chapter 7 ini. dan maaf kalau joke-nya agak garing.

Kazehaya Arashi.