Author Note:

Terima kasih kepada para pembaca yang sudah menunggu, chapter 9 akhirnya selesai. Maaf baru update sekarang, sedang banyak tugas ditambah dilema harus memilih universitas yang mana T_T . Sekarang aku akan menjawab sedikit pertanyaan yang ada di review.

Q: Kan naruto kaget tuh , ngeliat gaara jadi kazekage, apakah mimpi naruto untuk jadi hokage tetap ada...? Naruto bakal balik ke konoha ga tor?

A: Soal mimpi Naruto menjadi Hokage, aku rasa sudah tidak ada. Namun walaupun kecil, keinginan Naruto untuk menjadi seorang kage masih ada. Berhasil atau tidaknya Naruto menjadi seorang kage akan diketahui nanti untuk kedepannya. Dan sayangnya hal itu masih lama.

Q: sebenernya Naruto melakukan perjalanan kemana sih? Berapa banyak dan siapa saja teman seperjalanannya?

A: kalau kemana sih, sebenarnya Naruto mengembara tidak ada tujuan, Naruto disini hanya ingin memngenal dunia di luar konoha lebih dalam. Jumlah teman seperjalanan dan siapa saja, itu masih belum ditentukan.

Q:Genrenya harem kan? Siapa aja anggota harem Naruto? penasaran nih!

A: ya, cerita ini genrenya harem dan untuk anggota haremnya itu masih rahasia, Cuma kalian pasti bisa menebaknya jika terus membaca cerita ini. aku sudah memberikan sedikit petunjuk siapa anggota harem Naruto di chapter ini. dan ada sedikit petunjuk di chapter ini yang menunjukkan apa yang akan terjadi di chapter-chapter kedepannya. Pertanyaannya adalah apakah kalian bisa menebaknya ? ;)

Segitu saja dulu yang ingin aku sampaikan, semoga chapter ini cukup memuaskan.

Disclaimer: Aku tidak punya Naruto.


Naruto masih menatap Gaara dengan tatapan tidak percaya. Teman sesama jinchuurikinya itu sudah menjadi Kazekage lebih dulu darinya.

"Ga-gaara, ka-kau benar-benar sudah menjadi Kazekage Suna?" Naruto bertanya untuk memastikan kalau ini bukanlah mimipi.

"Tidak ada lain kandidat Kazekage yang lebih kuat dariku jadi dewan Suna memilihku untuk menjadi Kazekage secara resmi saat ulang tahunku yang ke 16. Jadi secara teknis, akulah Kazekage. Mulai dari sekarang, aku diminta untuk mengurus masalah-masalah mengenai desa dibantu oleh penasihat-penasihat Suna dan saudara-saudaraku. Ada apa memangnya?" Gaara bertanya pada Naruto.

"Tidak, aku hanya ingin bertanya saja. rasanya seperti mimpi. Salah satu dari kita, seorang jinchuuriki, yang selalu dibenci oleh orang-orang, akhirnya menjadi seorang Kage. Hal ini sungguh luar biasa. Ngomong-ngomong, selamat atas keberhasilanmu menjadi Kazekage." Naruto memberikan ucapan selamatnya kepada Gaara.

"Terima kasih, Namikaze Naruto." Gaara tersenyum mendengar ucapan selamat dari Naruto.

"Gaara, sebagai perayaan kau terpilih menjadi Kazekage, aku akan memberikan hadiah spesial padamu."

"Hadiah apa yang kau maksud, Naruto?" Tanya Gaara yang sedikit penasaran.

"Segel di dahimu itu. Segel yang ada di dahimu dibuat dengan buruk, karena itu pengaruh Shukaku lebih besar dari yang seharusnya. Aku sedang belajar sedikit fuuinjutsu dan walaupun aku masih belum terlalu ahli, aku rasa aku bisa membuat segel yang lebih baik dari segelmu yang sekarang. Dengan segelku, kau bisa lebih aman dari pengaruh Shukaku dan kau akhirnya bisa tidur, Gaara." Naruto menjelaskan pada Gaara.

Gaara yang mendengarnya hanya menatap Naruto dengan serius. Tatapan Gaara membuat Naruto sedikit gelisah dan takut.

"A-apa? Kau tidak suka hadiahku?"

Gaara lalu melangkah mendekati Naruto dan menaruh tangannya di bahu Naruto dan menggengamnya dengan erat.

"Namikaze Naruto, apa kau serius dengan ucapanmu?"

Gaara bertanya pada Naruto dengan nada yang dingin. Jika Naruto hanya bercanda, Naruto harus bersiap-siap terkubur di tengah-tengah padang pasir.

"A-aku serius kok!" jawab Naruto dengan cepat. Gaara yang mendengar hal tersebut hanya mengangguk tanda puas.

"Namikaze Naruto, segala yang kau butuhkan selama tinggal di Suna akan aku penuhi."

Gaara hanya berkata dengan singkat. Gaara lalu membalikkan badannya dan kembali duduk di kursinya. Sesaat sebelum membalikkan badannya, Naruto bersumpah dia melihat Gaara baru saja tersenyum.

"Oi, Gaara. Apa kau tadi baru saja tersenyum?" tanya Naruto ragu-ragu.

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan." Gaara berkata dengan nada datar. Namun Naruto yakin mukanya sedikit memerah dan itu bukan karena panas.

"Hee, aku yakin tadi kau tersenyum."

"itu hanya imajinasimu saja."

"Aku tidak menyangka Kazekage Suna, Sabaku Gaara, orang yang bagaikan es batu bisa tersenyum bagaikan orang biasa. Bahan ancaman bagus nih! Akan kuberitahu ke Temari dan Kankurou!" Naruto berkata dengan riang. Tiba-tiba Naruto merasakan munculnya pasir dibawah kakinya.

"Namikaze Naruto, pikirkan kalimatmu selanjutnya baik-baik sebelum aku buat lantai dibawahmu menjadi pasir dan kubuat setengah badanmu tersangkut di lantai." Gaara mengancam dengan muka yang sedikit memerah.

" Ayolah, aku teman baikkmu kan? Tidak mungkin kau setega itu pada teman baikmu sendiri."

Jawab Naruto dengan senyum lebar dan nada yang riang. Tiba-tiba kaki Naruto terbenam di lantai sampai lutut. Naruto mengeluarkan keringat dingin dan berkata dengan ketakutan pada Gaara.

"Err...Gaara, kenapa kakiku terbenam seperti ini?"

"Menurutmu kenapa, Namikaze Naruto?" tanya Gaara dengan datar.

"Kalau aku boleh menebak...kau sedang marah padaku ya?" tanya Naruto takut-takut.

ZRASH!

"UWAA!"

Setengah tubuh Naruto tiba-tiba terbenam.

"Apa yang kau bicarakan, Namikaze Naruto? Aku, Sabaku no Gaara, tidak mungkin marah dengan semudah itu."

Gaara berkata dengan muka datar biadabnya itu. Kalau dilihat dengan seksama, kita bisa melihat sebuah senyuman kecil yang sadis terukir di sudut bibir Gaara. Dan protagonis berambut kuning kita yang sedang tidak beruntung, menyadari hal itu.

"Bohong! Aku tahu kau sedang marah padaku kan!?" Naruto berkata sambil menunjuk-nunjuk jari telunjuknya ke arah muka Gaara.

"Aku tidak sedang marah, Namikaze Naruto."

"Kalau begitu, jelaskan padaku apa maksud dari semua ini!?"

Naruto berteriak sambil menunjuk-nunjuk lantai yang sedang menjebak sebagian tubuhnya itu.

"Oh maafkan aku, Namikaze Naruto, teman baikku. Kau tahu sendiri kalau Suna adalah negara yang penuh dengan pasir, jadi material lantai yang kau injak itu terbuat dari pasir. Aku rasa lantai yang kau injak sudah "rapuh" sehingga kau bisa terjebak seperti ini. ini adalah kesalahanku sebagai Kazekage, untuk hal ini aku minta maaf."

Gaara sedikit menundukkan kepalanya ke arah Naruto. Muka Gaara tertutup oleh rambut merahnya. Senyum sadis yang tadinya tersembunyi tiba-tiba terpampang dengan jelas dimuka Gaara yang tertutup oleh rambut merahnya itu. Naruto yang menyadari hal itu lalu berteriak ke arah Gaara.

"BULLSHIT! Keluarkan aku dari sini, Gaara!" Naruto masih berusaha keluar dari lantai tersebut.

"GYAHAHAHAHA!" Tayuya yang melihat pemandangan absurd antara Kazekaga Suna dan si kuning idiot itu hanya bisa tertawa. Air mata sampai hampir keluar dari mata Tayuya karena tidak kuat menahan tawa.

"JANGAN HANYA TERTAWA TAYUYA! BANTU AKU KELUAR DARI SINI!"

Tayuya dengan santai menunjuk kakinya.

"Kakiku lumpuh, kau ingat?" Tayuya berkata dengan santai sambil menunjukkan senyum polos tanpa dosa itu.

Naruto hanya menggerutu mendengar jawaban polos biadab dari si Tayuya. Naruto lalu menoleh ke arah Yuki, satu-satunya yang bisa diharapkan oleh Naruto untuk mengeluarkan tubuhnya yang tersangkut di lantai.

"Oi Yuki, bantu aku keluar dari sini!" Naruto meminta pertolongan pada Yuki.

Yuki kebingungan mendengar permintaan Naruto.

"Bagaimana caranya aku mengeluarkanmu, Onii-chan?"

"Apa yang ada muncul di pikiranmu yang kira-kira bisa membantuku keluar dari sini?"

"Bagaimana kalau aku bekukan lantai di sekitar badanmu Onii-chan? Kau bisa menghancurkan lantai yang beku itu nanti Onii-chan!"

Yuki menjawab dengan antusias. Sedangkan Naruto yang mendengarnya menjadi pucat pasi. Dia tahu kalau Shirayuki memiliki kekuatan yang cukup besar untuk mengeluarkan es. Namun kendalinya terhadap kekuatan es masih kurang! Kalau dia salah membekukan bisa gawat nantinya! Dan yang lebih mengerikan lagi, Yuki serius dengan perkataanya dan senyum polos itu masih terpampang di wajahnya. Naruto semakin memucat ketika melihat Yuki mulai berjalan ke arahnya, bersiap-siap untuk membekukan lantainya. Tidak mau menunggu bencana menimpanya, Naruto berusaha menghentikan Yuki yang berjalan ke arahnya.

"STOOOOOP! Biarkan aku mencari sendiri jalan keluarnya Yuki!"

"Hah? Kenapa Onii-chan?" tanya Yuki kebingungan.

"Aku punya kepercayaan penuh kau bisa menggunakan kekuatan es mu dengan baik, namun pengendalian es mu masih kurang!" Naruto mencoba menghentikan Yuki.

"Kita tidak tahu kalau kita tidak mencoba, Onii-chan!" Yuki hanya membalas perkataan Naruto dengan senyum yang lebar.

"JANGAN MENCOBANYA KE DIRIKU, YUKI!"

Naruto semakin panik. Yuki yang kasihan melihat Naruto menurut dan kembali duduk di sofa. Naruto akhirnya menghembus nafas lega dan kemudian berkata kepada Gaara.

"Gaara, maafkan aku soal perkataanku tadi. Aku tidak akan memberitahu pada Kankurou dan Temari kalau kau baru saja tersenyum!"

"Senyum apa yang kau maksud, temanku Namikaze Naruto?" tanya Gaara dengan nada santai.

Naruto hanya menggeram. Dia tahu apa yang Gaara ingin dia katakan.

"Baiklah aku hanya berkhayal tadi! Aku berkhayal kalau Kazekage Suna, Sabaku Gaara, yang kepribadiannya itu bagaikan balok es, baru saja tersenyum!"

Naruto berteriak keras di depan Gaara. Gaara mengangguk puas mendengar jawaban Narut. Tiba-tiba tubuh Naruto terangkat dari lantai yang baru saja menjebakknya dan pasir yang berada di lantai tersebut hilang entah kemana. Naruto hanya menggeram setelah keluar dari lantai tersebut. Sedangkan Gaara hanya diam, menatap muka Naruto dengan santai.

"Ingatlah Gaara, suatu saat nanti akan kubalas kau nanti!" Naruto mengeluarkan kata-kata ini dengan kesal.

"Aku akan menunggu hari itu tiba, Namikaze Naruto." jawab Gaara santai.

'Oh Gaara, kau memprovokasi orang yang salah, kau tidak tahu kejahilan apa yang kulakukan dulu di Konoha. Kau akan merasakan pembalasanku nanti, Sabaku Gaara. Bersiaplah! Muahahahaha'

Pikir Naruto dalam hati.

"Namikaze Naruto, mari kita kembali ke topik pembicaraan. Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Gaara.

"Sebelum aku menjawab pertanyaan itu, tolong panggil aku Naruto saja. aku merasa tidak nyaman dipanggil dengan formal seperti itu. Kira-kira kapan Tayuya sudah bisa di tangani di rumah sakit Suna?" tanya Naruto pada Gaara.

"Bisa dimulai dari sekarang. Kapan kau akan mendaftarkan Tayuya untuk ditangani? Aku akan mengusahakan agar nona Tayuya bisa dirawat dengan segera. Apalagi yang kau butuhkan?" tanya Gaara.

"Untuk sekarang, tolong sediakan sebuah penginapan dan restoran untuk kami makan. Dan tolong beritahu aku dimana toko baju dan toko peralatan ninja yang baik. Ada yang harus aku beli disana dan aku juga berencana untuk pergi ke perpustakaan Suna hari ini kalau kau tidak keberatan."

"Akan aku beritahu kepada orang-orangku untuk mengusahakan apa yang kau butuhkan bisa disediakan secepatnya."

"Terima kasih Gaara."

"Sama-sama, Naruto."

Naruto dan Gaara lalu berjabat tangan setelah pembicaraan mereka selesai.

Baru saja Naruto dan Gaara berjabat tangan, masuklah seorang wanita yang cukup cantik dengan rambut kuning gelap mengenakan sebuah yukata yang digunakan untuk bertarung. Dapat terlihat sebuah kipas rasaksa tergantung di punggung wanita tersebut. Dia adalah Sabaku Temari, kakak perempuan Gaara. Dia tampak sedikit kesal.

"Gaara, aku sudah selesai dengan misiku. Gaara, aku minta tolong padamu, jangan lagi kau memberiku misi rank D! aku hampir gila mengurus anak-anak di TK Suna. Sekali lagi kau memberikan misi semacam itu lagi padaku, persetan dengan jabatanmu sebagai Kazekage, akan kuhantam kepalamu dengan kipas besarku ini!" Temari mengancam Gaara. Rambut Temari berantakan, mukanya terlihat sangat kesal. Temari lalu menyadari kalau Gaara tidak sendirian.

"Na-Naruto!? Maaf, aku tidak menyadari kalau kau sedang ada disini. Bagaimana kabarmu? Aku dengar kau menghilang dari Konoha. Aku tidak menyangka kalau aku akan bertemu lagi denganmu di Suna." Temari berkata sambil meminta maaf pada Naruto.

" Baik-baik saja, Temari-san. aku juga tidak menyangka kalau aku akan berada di Suna sekarang. Dan mengenai kabar kalau aku menghilang dari Konoha, aku bukan menghilang dari Konoha. Lebih tepatnya, aku kabur dari desa Konoha."

"Kabur? Kenapa kau memilih kabur dari Konoha? " tanya Temari pada Naruto.

"Hal itu terjadi setelah aku berhasil membawa kembali Sasuke di lembah terakhir. Singkat cerita, para dewan Konoha kesal karena aku membawa Sasuke kembali dengan babak belur, lalu mereka memutuskan untuk menghukumku. Sudah muak dengan perlakuan desa Konoha padaku, aku memutuskan untuk berhenti menjadi ninja Konoha dan keluar dari desa. Dengan ini aku bebas bergerak dan aku tidak akan diburu oleh hunter-nin."

"Begitu ya...Bagaimana kalau kau menjadi ninja Suna saja!" Temari mencoba mengajak Naruto menjadi ninja Suna.

Naruto hanya menggelengkan kepala.

"Maaf Temari, aku tidak bisa menerima tawaranmu. Aku memutuskan untuk berhenti menjadi ninja dan menjadi seorang pengembara. Aku tidak tahu sampai kapan aku akan menjadi seorang pengembara. Namun saat ini, aku cukup senang bisa berhenti menjadi ninja, bisa bebas dan mendapatkan perlakuan yang adil, tidak terlibat dengan sisi gelap dunia ninja. Menurutku kebahagiaan kecil ini merupakan sesuatu yang berharga."

Naruto berkata dengan lembut pada Temari. Selagi membicarakan hal tersebut, pikiran Naruto melayang ke hari dimana ia bertemu dengan Haku. Saat itu dia tertidur di hutan karena kelelahan saat latihan. Ketika dia bangun, dia melihat Haku sedang membangunkannya. Setelah berbicara cukup lama akhirnya Naruto dan Haku berpisah. Mereka bertemu kedua kalinya sebagai musuh keesokan harinya. Pada hari itu, Naruto kehilangan orang dan teman pertama yang mengerti penderitaannya.

Dunia shinobi itu berat dan kejam. Teman bisa berubah menjadi lawan, kematian bisa menyerang kapan saja, dan ninja hanyalah alat bagi suatu desa untuk kepentingan desa itu sendiri. Sebagus atau secantik apapun kata yang dirangkai untuk mendeskripsikan kata ninja, kenyataannya hanya satu. Ninja itu adalah pembunuh, hanyalah sebuah alat bagi sebuah desa. Ninja yang kuat namanya akan dikenang dan ninja yang lemah, namanya akan lenyap begitu saja dalam kegelapan. Membunuh atau dibunuh, itulah hukum alam yang berlaku bagi ninja. Karena hal ini jugalah rantai kebencian itu masih ada. Ninja yang membunuh dan dibunuh tidak akan mendapatkan apa-apa. Naruto yang mendapat kesempatan untuk bebas dari dunia ninja menganggap berhentinya dia menjadi seorang ninja adalah sebuah anugrah dan hal itu harus disyukuri.

"Jadi itu keputusanmu Naruto...baiklah, aku akan menghormati keputusanmu. Aku lihat kau membawa teman ke sini, perkenalkan mereka padaku!"

Temari lalu melihat kedua orang yang datang bersama Naruto. Temari melihat ada seorang gadis cantik berambut putih dengan lekuk tubuh yang bisa membuat laki-laki tergoda dan wanita iri. Gadis berambut putih itu terlihat ramah. Lalu Temari melihat gadis yang duduk di kursi roda. Gadis itu berambut merah dan cukup cantik. Entah kenapa Temari merasa pernah melihat gadis ini. Lalu Temari sadar dia memang pernah bertemu dengan gadis ini.

"KAU!"

Temari lalu menarik kipas besi besarnya dari punggungnya lalu berlari dan mulai mengayunkan kipasnya ke arah kepala Tayuya menggunakan ujung kipas yang keras itu. Naruto yang sadar Temari akan menyerang Tayuya lalu muncul di hadapan Temari dan mengeluarkan tendangan yang keras ke arah ulu hati Temari. Temari dengan cepat menahan tendangan Naruto dengan kipasnya itu. Tendangan Naruto sangat keras sehingga membuat Temari terseret ke belakang beberapa langkah walau sudah menahan serangan tersebut menggunakan kipas besarnya.

"APA YANG KAU LAKUKAN, NARU-"

Temari tiba-tiba diam. Temari yang tadinya ingin berteriak keras pada Naruto kehilangan suaranya ketika melihat kedua mata Naruto berubah menjadi biru es dan muka Naruto terlihat serius. Naruto hanya berdiri di depan Temari setelah selesai menendang Temari. Entah kenapa Temari tidak berani maju selangkah pun ketika melihat tatapan dingin Naruto tertuju ke mukanya. Tatapan dingin yang seakan menusuk jiwanya.

"Temari-san maaf aku menendangmu barusan. Tapi aku peringatkan kepadamu Temari-san, jika kau menyerang Tayuya di hadapanku lagi, tidak peduli kau kakaknya Gaara atau bukan, aku akan menghajarmu." Naruto berkata dengan nada dingin yang menusuk jiwa Temari.

Temari memberanikan diri dan berkata pada Naruto.

"Naruto, apakah kau tidak tahu dia itu siapa!?"

"Dia merupakan mantan ninja Oto dan merupakan salah satu pengawal pribadi Orochimaru. Dia juga ninja yang berpartisipasi dalam penculikan Sasuke."

"Kalau kau tahu kenapa kau menghalangiku!? Dia merupakan salah satu penyebab kau keluar dari desa kan!?"

"Karena aku sudah berjanji pada Tayuya kalau aku akan melindunginya."

Jawaban Naruto membuat Temari tertegun. Naruto kemudian melanjutkan perkataannya.

"Aku tahu kalau dia adalah mantan ninja Oto dan dia juga merupakan pengawal pribadi Orochimaru. Namun hal itu hanyalah masa lalu. Aku tidak kenal dengan ninja Oto yang bernama Tayuya. Yang aku kenal adalah seorang gadis cantik berambut merah bernama Kisaragi Tayuya yang membutuhkan pertolongan dan aku sudah berjanji untuk melindunginya. Walaupun seluruh orang di Suna menjadi musuhnya, maka aku akan berada di sisi Tayuya dan melindunginya." Naruto berkata dengan mantap.

"Kenapa...kenapa kau akan berbuat sejauh itu kepada gadis yang baru kau kenal?"

"Karena aku sudah berjanji. Dan Namikaze Naruto selalu menepati janjinya."

Temari sekali lagi terdiam mendengar jawaban lalu menghela nafas dan menaruh kembali kipasnya di belakang punggungnya.

"Terserah kau saja. Aku akan mempercayai keputusanmu. Namun jika dia berbuat kekacauan di Suna, kau yang harus bertanggung jawab Naruto."

Temari mengalah kepada Naruto. kalau pun Temari mencoba bertarung dengan Naruto, Temari yakin kalau Naruto pasti pemenangnya. Postur tubuh Naruto kemudian menjadi santai dan mata biru es Naruto kembali berubah menjadi lembut.

"Terima kasih atas pengertiannya, Temari." Naruto bersyukur Temari bisa mengerti alasan Naruto.

"Kalau begitu mari kuperkenalkan temanku pada kalian. Gadis yang berambut putih bernama Kanazawa Shirayuki."

"Salam kenal, Temari-chan!" Yuki melambaikan tangannya ke arah Temari.

"Salam kenal juga, Yuki-chan." Temari membalas balik lambaian si Yuki.

"Dan yang di sebelah kanan Yuki adalah Kisaragi Tayuya."

Setelah Naruto memperkenalkan Tayuya, suasana menjadi hening. Naruto mengira Tayuya akan langsung berbicara kasar seperti biasa namun Tayuya tidak berbicara sedikit pun, Naruto membalikkan badan untuk menegur si Tayuya. Ketika membalikkan badan, Naruto melihat Tayuya sedang menunduk sambil menutup mukanya dengan kedua tangan.

"Err...Tayuya, bisakah kau menyapa si Temari?"

"A-apa!?"

Tayuya yang sedang tidak fokus mengangkat mukanya. Naruto yang melihat muka Tayuya secara langsung tiba-tiba memerah. Muka Tayuya terlihat memerah dan matanya berkaca-kaca. Bibirnya sedikit gemetar dan tangan Tayuya masih menempel di kedua pipinya.

'Uwaa!? Kenapa Tayuya terlihat sangat manis di mataku sekarang!?'

Pikir Naruto yang sekarang sedang panik. Tayuya yang menyadari dirinya sedang ditatap oleh mata biru langit Naruto, makin memerah dan mulai mengamuk.

"UWA! JANGAN LIHAT MUKAKU, KUNING BEGO!"

Naruto yang tadinya memerah langsung menjadi kesal.

"OI APA MAKSUDMU MEMANGGILKU BEGO TAYUYA!"

"DIAM KAU LAKI-LAKI BUAS! BISA-BISANYA KAU BERBICARA SEPERTI ITU DI DEPAN ORANG-ORANG! ITU SUNGGUH MEMALUKAN TAHU!"

"BICARA APA MAKSUDMU!? AKU TIDAK MENGERTI APA YANG KAU BICARAKAN!"

"BICARA YANG TADI ITU! PERKATAANMU YANG MENGATAKAN KALAU KAU AKAN MELINDUNGIKU WALAU SELURUH DESA SUNA JADI MUSUHKU!"

"JADI MASALAHNYA APA!?" Naruto makin kebingungan mendengar perkataan Tayuya.

"ITU SUNGGUH MEMALUKAN TAHU! KAU BERBICARA SEAKAN-AKAN AKU ADALAH..." perkataan Tayuya mulai terbata-bata.

"AKU ADALAH!?"

"AKU ADALAH...AKU ADALAH...AKU-FUGAAA!" Tayuya yang sudah tidak bisa menahan malu lalu mulai menggerakan kursi rodanya dan mengambil barang terdekat yang ada di kantor Kazekage tersebut. Tayuya lalu mulai melempar vas, buku yang ada di rak, dan barang kecil yang menyakitkan lainnya.

"OI-BERHENTI TAYUYA! GYAA! JANGAN MENGAMUK DI DALAM KANTOR KAZEKAGE TAYUYA! JANGAN LEMPAR BUKU ITU! GAH!" Naruto menjerit kesakitan ketika salah satu buku kamus yang tebal itu mendarat dengan lancar di muka Naruto. Naruto yang tidak ingin menghadapi kemarahan Tayuya lalu segera kabur dari kantor Kazekage. Yuki juga ikut mengikuti dari belakang.

"Hah...hah...hah..." Tayuya akhirnya kelelahan dan menyandarkan badannya di kursi roda.

Sedangkan Temari? Dia hanya tertawa melihat apa yang barusan terjadi.

"Bwahahahaha! Aku tidak menyangka Naruto akan lari terbirit-birit hanya karena satu wanita lumpuh di kursi roda bwahahaha!" Temari memegang perutnya yang kesakitan karena tertawa Gaara juga terlihat menyembunyikan senyumnya dengan mengenakan topi Kazekage dan menutupi mukanya. Sedangkan Tayuya hanya tertunduk malu.

'Dasar laki-laki bodoh! Kau membuat aku malu tahu! Kau berbicara seakan aku adalah...adalah pacarmu! Sensitif sedikit kenapa sih, dasar idiot!" jerit Tayuya dalam hati.

Tiba-tiba Tayuya melihat sebuah tangan tersodor di depan mukanya. Tangan itu milik Temari.

"Jadi kita mulai berteman dari sekarang? Namaku adalah Sabaku Temari, senang berkenalan denganmu, cabe merah." Temari berkata dengan senyum lebar.

Tayuya yang mendengarkan hal tersebut lalu menggenggam tangan Temari sambil menyeringai.

"Namaku Kisaragi Tayuya, kuncir empat!"

Kedua kunoichi tersebut berjabat tangan sambil menyeringai ke satu sama lain. Ini adalah awal dari persahabatan yang indah bagi mereka berdua. Gaara yang sudah puas tersenyum lalu berkata pada Temari.

"Temari, ajak Kisaragi Tayuya ke rumah sakit Suna. Semoga saja kita bisa menyembuhkan kakinya yang lumpuh itu." Kata Gaara dengan datar.

"Akan kuantar dia. Lagian aku juga ingin membicarakan sesuatu pada Tayuya. Terutama soal laki-laki idamannya." Temari menyindir Tayuya.

"A-APA!? AKU TIDAK SUKA DENGAN NARUTO TAHU!" Tayuya mencoba mengelak.

"Hoo? Rasanya aku tadi tidak menyebutkan nama Naruto, apakah berarti laki-laki idamanmu adalah Naruto?" senyum Temari makin melebar.

"LU-LUPAKAN YANG TADI AKU KATAKAN KUNCIR EMPAT!"

"Oh tidak bisa, kita akan berbicara banyak soal kesanmu tentang Naruto di perjalanan, cabe merah! Gaara, aku sudah memberikan laporan misiku di mejamu!" Temari lalu membawa kursi roda dan Tayuya menuju ke rumah sakit Suna.

"OI TUNG-"

BLAM!

Pintu kantor Kazekage tertutup. Gaarara hanya tertawa puas setelah tidak ada orang didalam.

'Namikaze Naruto, belum satu hari terlewat, kau sudah mencerahkan hariku.'

Lalu Gaara meneruskan pekerjaannya.


Sekarang mari kita lihat protagonis kita yang sekali lagi tidak beruntung. Naruto terlihat sedang berjalan-jalan di jalan desa Sunagakure dengan raut muka yang kesal sambil mengusap-usap hidungnya yang kesakitan akibat terkena buku kamus yang dilempar oleh Tayuya. Yuki mengikuti dari belakang. Mereka berdua menarik perhatian warga Suna karena rambut kuning dan rambut putih yang dimiliki Naruto dan Yuki merupakan sesuatu yang langka di desa Suna. Naruto mendapatkan tatapan penuh perhatian dari perempuan Suna sedangkan Yuki mendapatkan tatapan penuh perhatian dari laki-laki yang ada di Suna. Naruto dan Yuki sedang pergi menuju toko pakaian dan toko alat ninja.

"Aduh hidungku sakit sekali, apa sih yang dipikirkan Tayuya?" Naruto bergumam pada dirinya sendiri.

"Itu karena perkataanmu sendiri, Onii-chan." Yuki memberitahu pada Naruto.

"Hah? Memangnya ada yang salah?" tanya Naruto kebingungan.

"Naruto-Onii-chan, coba kau ulang lagi perkataanmu tentang Tayuya-chan pada Temari."

Naruto mencoba mengingat kembali lalu menjawab.

"Aku tahu kalau dia adalah mantan ninja Oto dan dia juga merupakan pengawal pribadi Orochimaru. Namun hal itu hanyalah masa lalu. Aku tidak kenal dengan ninja Oto yang bernama Tayuya. Yang aku kenal adalah seorang gadis cantik berambut merah bernama Kisaragi Tayuya yang membutuhkan pertolongan dan aku sudah berjanji untuk melindunginya. Walaupun seluruh orang di Suna menjadi musuhnya, maka aku akan berada di sisi Tayuya dan melindunginya. Aku rasa tidak ada yang aneh, jadi kenapa Tayuya menjadi marah?" Naruto menggaruk-garuk kepalanya.

Yuki yang mendengar hal tersebut hanya menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Huh, dasar laki-laki tidak peka." Yuki hanya berkata dengan singkat.

"Kurang peka? Apa maksudmu Yuki?" Naruto jadi semakin kebingungan.

"Pikirkan saja sendiri, baka Onii-chan."

Yuki hanya mendengus mendengar jawaban Naruto. Yuki merasakan simpati kepada Tayuya. Tiba-tiba Yuki teringat sesuatu.

"Nee, Onii-chan, kau ingat janjimu padaku?" Yuki bertanya pada Naruto.

"Hah? Janji yang mana?" tanya Naruto kembali pada Yuki.

"Itu, kau berjanji akan menggendongku setelah Tayuya-chan saat kita di padang pasir." Yuki menjadi cemberut.

"Oh! Yang itu, aku masih ingat. Kenapa memangnya?" Naruto menoleh ke arah Yuki. Naruto melihat muka Yuki yang cemberut menjadi cerah kembali. Naruto kemudian melihat Yuki mengambil ancang-ancang lalu melompat ke punggungnya.

"Waisho!"

"OOF!"

Naruto maju beberapa langkah ketika Yuki meloncat ke punggung Naruto. kedua lengan Yuki merangkul leher Naruto dan kedua lengan Naruto menempel di kedua paha Yuki agar Yuki tidak jatuh ke tanah. Seketika Naruto mendapatkan tatapan iri dari setiap laki-laki di Suna dan Yuki mendapatkan tatapan iri dari perempuan di Suna.

"Oi Yuki, apa yang kau lakukan!?" Naruto seketika menjadi panik

"Sudah jelas kan? Aku sedang digendong oleh mu Onii-chan!" jawab Yuki dengan riang.

"Aku tahu! Tapi kenapa kau loncat ke punggungku!? Masa aku harus menggendongmu di depan umum!?" Naruto protes kepada Yuki.

"Tapi kau kan sudah berjanji, Onii-chan! Lagian aku tidak bilang kapan aku harus digendong, jadi aku memilih untuk digendong sekarang!" jawab Yuki sambil mendekatkan kepalanya ke leher belakang Naruto.

Naruto lalu mengalah dan hanya menghela nafas kecil sambil tersenyum kecil kepada Yuki.

"hah, dasar imouto yang menyusahkan" Naruto berkomentar sambil tersenyum

"Hehe!"

Yuki hanya tersenyum lebar. Naruto hanya menggelengkan kepala lalu melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke toko pakaian.

"Onii-chan wa daisuki." Yuki berbisik kecil dari belakang punggung Naruto.

"Eh? Apa yang tadi kau katakan Yuki? Maaf aku tidak sempat mendengarnya." Naruto bertanya kepadaYuki

"Ti-tidak ada apa-apa!" Yuki mengelak dari pertanyaan Naruto.

Naruto yang mendengar hal tersebut segera melupakannya dan melanjutkan perjalanannya ke toko pakaian.


Naruto dan Yuki sudah sampai di toko pakaian Suna. Naruto yang masih menggendong Yuki masuk ke dalam toko tersebut.

"Selamat datang di toko pakaian Suna! Ada yang bisa saya bantu?"

kata pelayan toko wanita yang bekerja ketika melihat Naruto dan Yuki masuk ke dalam toko. Sesaat pelayan toko itu kebingungan melihat seorang laki-laki berambut kuning menggendong seorang perempuan berambut putih namun si pelayan toko menghiraukan fakta tersebut dan mulai menyapa mereka.

"Kami ingin membeli pakaian untuk laki-laki dan perempuan. Tolong tunjukkan kami dimana bagian pakaian laki-laki dan perempuan. Dan Yuki, turun dari punggungku sekarang!"Naruto memerintahkan Yuki untuk turun dari punggungnya. Yuki hanya cemberut dan secara ogah-ogahan turun dari punggung Naruto.

"Biar saya antarkan kalian berdua ke bagian tersebut. Err...Nona..."

"Yuki." jawab Naruto dengan pelan ke arah pelayan toko tersebut.

"Ya, nona Yuki, tolong ikuti saya ke bagian pakaian wanita. Dan untuk tuan..."

"Naruto."

"dan untuk tuan Naruto, pakaian laki-laki berada di ujung sana." Pelayan toko tersebut menunjuk ke ujung bagian toko.

Naruto mengangguk lalu mulai melangkahkan kakinya ke bagian pakaian laki-laki ketika dia merasakan seseorang memegang ujung bajunya. Naruto menoleh ke belakang lalu melihat tangan yang memegang baju Naruto adalah Yuki.

"O-Onii-chan..." Yuki berkata pelan.

Naruto awalnya bingung kenapa Yuki bertingkah seperti ini. Namun Naruto kemudian sadar kalau Yuki masih takut dengan manusia.

"Pelayan, bisakah aku ikut ke pakaian bagian wanita? Saya ingin mengantarkan adik saya." Naruto meminta izin kepada pelayan toko tersebut.

"Oh silakan saja tuan! Mari ikuti saya." Lalu pelayan toko tersebut menuntun Yuki dan Naruto menuju ke bagian pakaian wanita.

"Arigato, Onii-chan." Bisiku Yuki pelan sambil menundukkan mukanya. Pipinya terlihat merah merona. Naruto dan pelayan wanita itu punya satu pikiran yang sama di benak mereka sekarang.

'Kawaii!'

Akhirnya mereka sampai. Pelayan toko itu berkata.

"Baiklah kita sudah sampai, jika kalian perlu bantuan, panggil saja saya. Nama saya Yumiko. Kalau begitu saya permisi dulu." Lalu pelayan wanita itu pergi.

Naruto mulai berjalan kembali ke bagian pakaian pria ketika Naruto sekali lagi dihentikan oleh Yuki.

"Nee, Onii-chan, temani aku disini." Jawab Yuki pelan. Yuki melihat ke sekitar dan melihat banyak orang yang sedang berbelanja di toko itu. Naruto yang menyadari kekhawatiran Yuki lalu memegang kedua pundak Yuki dan berkata dengan lembut.

"Yuki, aku tahu kau belum terbiasa dengan manusia, ditambah lagi masa lalumu yang kelam juga tidak membantu. Tapi percayalah padaku, tidak semua manusia sejahat itu. Manusia yang ada disini tidak akan menyakitimu. Jika salah satu dari mereka menyakitimu, panggilah namaku maka aku akan datang. Karena itu tenang saja Yuki dan pilihlah baju yang kau suka, akan ku belikan untukmu." Naruto mencoba menenangkan Yuki. Sepertinya Yuki sudah menjadi sedikit tenang.

"A-aku akan mencoba, Onii-chan." Yuki berkata dengan pelan.

"Baguslah kalau begitu. Kalau begitu aku pergi dulu." Lalu Naruto pergi ke bagian pakaian laki-laki, sedangkan Yuki sudah mulai memilih pakaian yang ingin dia beli.

Di bagian pakaian laki-laki.

Naruto sedang memilih pakaian yang akan dia kenakan. Namun Naruto agak kebingungan dia harus memilih pakaian apa yang cocok dengannya. Dia hanya memakai pakaian jumpsuit biru oranye ketika masih di Konoha karena itu adalah hadiah pertama yang diberikan Sandaime. Naruto lalu membuka hubungan telepatinya dengan Kurama.

'Oi Kurama, apa kau masih tidur?' Naruto bertanya pada Kurama.

'Tidak, aku sudah bangun bocah. Kenapa aku memanggilku?'kata Kurama dari dalam pikiran Naruto.

'Aku ingin bertanya padamu, kira-kira pakaian apa yang cocok denganku?'

'Kau bertanya kepada orang yang salah bocah, aku itu bijuu, mana mungkin aku tahu hal yang seperti itu!'Kurama menggerutu ketika ditanya hal sepertiitu.

'Kalau begitu, menurtmu warna baju apa yang cocok untukku?' tanya Naruto sekali lagi.

'Kalau menurutku terserah kau saja, asal jangan kau memilih baju yang terlihat sangat konyol seperti dua manusia yang memliki ulat bulu di mata dan kepala mangkuk itu.' Jawab Kurama. Kedua orang yang memakai pakaian ketat berwarna hijau tersebut merusak mata Kurama saja. dan jika suatu saat Naruto mulai mengenakan pakaian seperti itu, persetan dengan Akatsuki, Kurama lebih baik bunuh diri dari pada punya jinchuuriki yang mengenakan pakaian ketat memalukan seperti itu.

'Begitu ya, terima kasih atas saran yang tidak-terlalu-membantumu itu.' Naruto menjawab dengan kesal.

'Dasar bocah yang tidak tahu sopan santun.'

Lalu Kurama memutuskan telepatinya dengan Naruto. Naruto lalu menghela nafas dan mulai memilih baju-baju yang dia perlukan di perjalanan. Sekarang Naruto mengenakan baju lengan panjang berwarna hitam dengan celana cargo berwarna abu-abu. Baju-baju lainnya sudah dia bawa ke kasir untuk dibayar nanti sekaligus dengan baju yang dia kenakan sekarang. Naruto sekarang menuju ke bagian pakaian wanita untuk mengecek keadaan Yuki.

Ketika Naruto sampai, Naruto melihat Temari sedang menunggu di luar bilik untuk mengganti pakaian.

"Oh Naruto, kau juga disini rupanya." Kata Temari yang ada di toko tersebut.

"Temari? Kenapa kau disini? Bukannya kau menemani Tayuya?" Naruto bertanya kepada Temari.

"Aku sudah mengantarnya ke rumah sakit Suna. Tim doktor mengatakan kalau kaki Tayuya bisa disembuhkan namun memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dan itu akan memakan waktu lama jadi aku pergi saja ke sini, lagi pula ini juga toko langgananku. Dan aku khawatir kalau fashion sense mu yang buruk itu bisa mempengaruhi Yuki. Syukurlah dugaanku salah." Kata Temari sambil tersenyum lebar dengan sindirannya terhadap Naruto. Temari cukup setuju dengan pilihan pakaian Naruto yang sekarang.

"Hei! Fashion senseku tidak buruk tahu!" Naruto mencoba menolak sindiran tersebut.

"Oh ya? Kau dulu ninja yang berisik, mengenakan pakaian jumpsuit yang neon oranye yang menyakitkan mata dan dapat mengundang musuh untuk menyerangmu. Kalau itu bukan bukti fashion sense yang buruk, aku tidak tahu apa itu." Jawab Temari sambil nyengir lebar.

Naruto hanya menggerutu karena fakta itu benar adanya. Naruto lalu melihat tumpukkan baju yang ada di bangku kecil dekat bilik.

"Tumpukkan baju milik siap itu?" tanya Naruto pada Temari.

"Milik Yuki." Jawab Temari santai.

"Hah!? Kenapa bisa sebanyak itu!?" Naruto terkejut mendengar jawaban Yuki. Masa sih Yuki membeli baju sebanyak itu?

"Tentu saja! karena aku yang memilih pakaian tersebut." Temari hanya menjawab santai.

...

"APA!?" Naruto berteriak pada Temari.

"Iya, aku yang memilih pakaian itu. Apa ada masalah?" tanya Temari.

"Tentu saja ada masalah! Kau kira siapa yang harus membayar ini!?" Naruto bertanya dengan kasar pada Temari.

"Seharusnya kau." Jawab Temari,

"Itu dia masalahnya! Kau kira aku punya cukup uang untuk membayar semua baju-baju itu!?" Naruto lalu menunjukkan jarinya ke tumpukan baju tersebut.

"Kan aku bilang seharusnya. Apa kau lupa kalau Gaara berkata akan menyediakan seluruh yang kau butuhkan?"

Perkataan Temari membuat Naruto terdiam. Setelah 3 detik berlalu, Naruto lalu menepuk mukanya.

"Aku lupa kalau Gaara mengatakan hal itu sebelumnya. Bodoh sekali aku." Naruto menepuk mukanya sambil menggelengkan kepalanya.

"Dasar ceroboh."

"Diam kau Temari."

Tiba-tiba terdengar sebuah suara muncul dari balik bilik tempat mengganti pakaian tersebut.

"Onii-chan, kau ada disitu?" Suara Yuki datang dari dalam bilik.

"Ya, ini aku. Apakah kau sudah selesai, Yuki?" Naruto berkata pada Yuki.

"Iya..."

"Kalau begitu keluarlah." Kata Naruto.

"Tapi, aku malu..." jawab Yuki pelan.

Karena malas menunggu Yuki keluar dari bilik tersebut, Temari berjalan ke arah bilik tersebut dan membuka tirainya.

"Kya!" suara imut Yuki terdengar dan tirai pun terbuka.

Naruto hanya dapat menatap penampilan Yuki, suara Naruto tampak tersangkut di tenggorokannya. Yuki sekarang mengenakan baju kaos putih polos dengan jaket berwarna coklat dan rok panjang di bawah lutut berwarna putih. Yuki terlihat sangat cantik untuk seseorang yang berumur 12 tahun.

Temari lalu menepuk dada Naruto sambil berbisik.

"Hei, katakan apa yang kau pikirkan tentang penampilannya sekarang, Naruto!"

Naruto mengangguk lalu berkata.

"Yu-Yuki, ka-kau terlihat cantik sekali." Kata Naruto dengan muka yang sedikit memerah.

"Te-terima kasih Naruto-kun." Jawab Yuki dengan pipi yang merah merona.

'Naruto-kun?'

Naruto menyadari untuk sesaat Yuki memanggil dirinya Naruto-kun, namun dia mencoba melupakannya. Naruto tidak ingin membuat Yuki menjadi lebih malu.

"Kalau sudah selesai, ayo kita segera membayar pakaian-pakaian ini!" kata Temari dengan antusias.

Naruto dan Yuki hanya mengangguk lalu pergi bersama Temari untuk membayar di kasir. Setelah selesai, mereka segera keluar dari toko tersebut dengan barang belanjaannya. Naruto lalu meyegel belanjaannya di gulungan yang biasa dia bawa. Naruto lalu berkata pada Temari.

"Hei Temari, aku sekarang akan pergi ke toko peralatan ninja. Tolong bawa Yuki jalan-jalan sebentar." Naruto berkata pada Temari.

"Boleh saja, aku juga ingin mengenal Yuki-chan lebih dekat. Kau tidak keberatan kan Yuki-chan?" tanya Temari pada Yuki.

"A-aku tidak keberatan." Jawab Yuki. Ini juga bisa menjadi kesempatan bagus untuk menyembuhkan phobia kecilnya terhadap manusia. Lalu Yuki dan Temari berpisah dengan Naruto.

Naruto lalu pergi mencari toko alat-alat ninja.


Toko alat-alat ninja Suna.

Ketika memasuki toko tersebut, Naruto melihat banyak alat-alat ninja terpampang didalamnya. Ada katana, tanto, kusari gama,dan seruling untuk pertarungan. Naruto berjalan ke arah pemilik toko tersebut.

"Selamat siang, namaku Kuzunoha Tetsu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang pemilik toko pada Naruto.

"Selamat siang juga, nama saya Namikaze Naruto. saya ingin memesan sesuatu."

Mendengar nama Namikaze, mata Tetsu terbelalak.

"Namikaze? Namikaze yang sama dengan nama Namikaze Minato!?" tanya Tetsu pada Naruto.

"I-iya. Aku adalah anaknya." Jawab Naruto.

"Begitu ya, pantas saja ada kemiripan antara kau dan Minato. Namaku adalah Kuzunoha Tetsu, orang yang membuat kunai bercabang tiga ayahmu." Perkataan Tetsu membuat mata Naruto melebar.

"Kunai cabang tiga yang digunakan untuk jurus hiraishin!? kunai legendaris yang memunculkan nama Konoha no Kiroi Senkou!?"

"Ya, kunai tersebut. Tak kusangka kalau aku bisa bertemu dengan anaknya, hahaha!" Tetsu tertawa.

"Jadi, kau ingin memesan apa, Naruto? aku akan memberikamu harga diskon karena aku kenal dengan ayahmu."

"Aku ingin kau membuatkan baju untuk bertarung dengan baju yang tahan api, tidak mudah robek dengan kerah warna hitam yang bergabung dengan jubah merah. Celana dan boots berwarna hitam dengan garis merah ke bawah. Dan jika kau bisa, tolong buatkan aku dua buah katana yang cukup kuat, dengan gagang katana pertama berwarna biru dan gagang katana kedua berwarna putih." Naruto memberitahukan apa saja yang dia inginkan kepada Tetsu.

"Wah, perintah yang cukup sulit, namun tidak mustahil. Akan aku coba buat. Ngomong-ngomong, kenapa kau menginginkan kedua katana tersebut memiliki gagang biru dan putih? Apakah ada alasan tertentu? Dan apakah kau tidak ingin menggunakan kunai bercabang tiga?" tanya Tetsu.

"Aku ingin menamakan kedua katana itu. Katana yang berwarna biru akan kunamakan aozora dan yang berwarna putih bernama tsubasa. Jadi kedua katana itu akan memiliki kesan orang yang memiliki sayap untuk terbang ke langit, untuk kebebasan. Sedangkan untuk kunai cabang tiga, kalau kau ingin buat, buat saja. alasan aku tidak memesan pembuatan kunai itu karena aku ingin menjalani jalanku sendiri, tidak mengikuti jalan orang tuaku." Naruto menjelaskan dengan mantap.

Tetsu yang mendengar perkataan Naruto hanya tertawa. Naruto benar-benar mengingatkan dia pada ayahnya.

"Kalau aku boleh bertanya, bagaimana kau bisa mengenal ayahku?" tanya Naruto.

"Aku bertemu dengan ayahmu ketika masih muda. Saat itu sedang terjadi perang shinobi dunia ketiga dan aku cukup terkenal sebagai pembuat senjata. Saat itu aku dan keluargaku sedang pergi mencari tempat aman. Aku dihadang oleh beberapa kumpulan ninja yang mengetahui reputasiku. Saat itu keluargaku bisa saja terbunuh kalau ayahmu tidak menolongku. Ayahmu membunuh sekumpulan ninja itu dengan sangat cepat dalam hitungan 1 menit saja. Setelah selamat, untuk membalaskan hutang budiku padanya aku membuatkan dia kunai bercabang tiga terbuat dari titanium sesuai pesanannya. Aku tidak menyangka karyaku akan menjadi pemicu lahirnya teknik hiraishin. Setelah itu kami pun masih suka berhubungan komunikasi. Namun sayangnya dia meninggal 14 tahun yang lalu. Dan sekarang setelah 14 tahun berlalu aku pun bertemu dirimu. Nasib memang bekerja secara misterius. Pesanan ini akan selesai dalam waktu 2 bulan lebih. Apa kau bisa menunggu selama itu?" Tetsu berkata poada Naruto.

"Aku bisa menunggu selama itu. Terima kasih mau menerima pesananku Tetsu-san."

"Tidak apa-apa, Naruto-san. anggap saja ini hadiah dariku." Kata Tetsu dengan santai.

"Aku akan kesini lagi kapan-kapan!" kata Naruto yang mulai beranjak keluar dari toko.

"Aku akan menunggumu Naruto-san!" kata Tetsu sambil melambaikan tangannya pada Naruto.

Naruto membalas lambaian tangan Tetsu lalu keluar dari toko tersebut.


Naruto setelah mendapatkan informasi dimana letak tempat latihan Suna, segera berjalan menuju tempat latihan tersebut. Seperti yang diduga di Suna, tempat latihan tersebut hanyalah lapangan kosong dengan gundukan pasir dimana-mana. Cocok untuk melatih stamina. Naruto lalu mengeluarkan 25 kagebunshin dan mereka mulai berlatih. Naruto sekarang sedang berlatih untuk membuat variasi rasengan. Rasengan merupakan jutsu yang hebat, namun kelemahannya adalah jutsu ini hanya bisa digunakan untuk jarak dekat. Jika musuh ahli dalam pertarungan jarak jauh dan bergerak lebih cepat daripada Naruto, dialah yang akan kalah.

Naruto lalu mencoba memunculkan rasengan tanpa menggunakan bunshin. Setelah 1 jam berlalu, Naruto sudah dapat melakukannya dengan bantuan kagebunshin. Yang jadi masalah utamanya adalah bagaimana membuat rasengan menjadi teknik jarak jauh. Tiba-tiba Naruto mendengar suara dari dalam pikiran Naruto.

'Naruto, sudah saatnya kau belajar menggunakan kekuatan youkai mu.'Suara itu adalah suara Kurama.

'Kekuatan youkai ku?'

'Ya, atau bisa kau sebut juga kekuatan iblismu. Kekuatan yang muncul saat kau berubah menjadi hanyou, saat rambut dan matamu menjadi merah untuk pertama kalinya.' Kurama menjelaskan.

'Oh itu maksudmu. Bagaimana cara mengeluarkan kekuatan itu?' tanya Naruto pada Kurama.

' Saat ini kau memiliki 2 chakra yang berbeda. Chakra youkai mu dan chakraku. Fokuskan kekuatanmu ke seluruh tubuhmu dan rasakan chakra youkai mu mengalir ke suluruh tubuhmu. Setelah itu kumpulkan dalam satu titik dan keluarkan. Ketika sudah di keluarkan, kendalikan chakramu untuk menyelimuti seluruh badanmu dan chakra yang menyelimuti dirimu akan merubahmu menjadi hanyou.' Kurama menjelaskan.

'Akan aku coba sekarang.'

Lalu Naruto menghilangkan seluruh kagebunshinnya dan hanya diam di tempat. Naruto mencoba mengeluarkan chakra barunya dan mengedarkannya ke seluruh tubuh.

DEG!

"Ugh!"

Naruto merasakan seluruh tubuhnya terasa panas, darahnya bagaikan dialiri api dan peredaran darah Naruto menjadi sangat cepat. Naruto menahan rasa sakit itu lalu mencoba mengeluarkan chakranya kembali. Tiba-tiba dari tubuh Naruto keluar chakra merah. Chakra merah ini berbeda dengan chakra Kurama. Kalau chakra Kurama berwarna merah dengan sedikit warna oranye, sedangkan chakra Naruto yang baru berwarna merah seperti darah. Lalu chakra tersebut menyelimuti tubuh Naruto bagaikan topan. Chakra tersebut lalu meledak di udara. Seketika terlihat sosok Naruto yang sudah berubah menjadi hanyou.

Rambut Naruto menjadi liar dan berwarna merah darah, bersamaan dengan matanya yang merah bagaikan ruby. Naruto memiliki aura yang mengintimidasi siapapun yang tidak memiliki mental yang kuat. Badannya terasa lebih kuat dan lebih cepat.

Namun kekuatan ini terasa berbahaya bagi Naruto. seakan-akan kekuatan ini ingin menguasai tubuhnya. Chakra dalam tubuhnya penuh dengan rasa kepedihan, kemarahan, dan kegelapan.

'Kurama, kenapa kekuatanku tidak bisa dikontrol!?' tanya Naruto pada Kurama. Naruto sedang berusaha kuat menahan keinginan untuk menghancurkan dan membunuh yang tiba-tiba muncul dari tubuhnya.

'Kekuatan ini muncul dari dalam dirimu sendiri, Naruto.' Kurama menjelaskan

'Apa maksudmu, Kurama!' Naruto meminta penjelasan yang jelas

'Kau masih belum bisa menerima dirimu sendiri. 'jawab Kurama singkat.

'Apa?' Naruto seolah-olah tidak percaya dnegan apa yang dia dengar.

'Kau masih belum bisa menerima dirimu sendiri. Didalam dirimu masih ada sebuah kegelapan besar. Kebencian, kemarahan, kepedihan, ketakutan, sisi gelap mu masih tidak menerima fakta bahwa kau seorang hanyou sekarang. Lebih tepatnya, jiwamu belum bisa menerima dirimu yang baru sepenuhnya.' Kurama menjelaskan dengan rinci. Cara untuk mengendalikan kekuatan ini adalah untuk menerima diri sendiri secara seutuhnya. Dan Naruto harus menghadapi sisi gelap yang bersemayam didalam jiwanya.

'Jadi apa yang harus kulakukan sekarang?' Tanya Naruto secepatnya. Jika diteruskan, dia bisa mengamuk di desa Suna. Dan itu merupakan hal yang buruk.

'Putuskan aliran chakramu secepatnya dan kau akan kembali menjadi manusia.'

Mendengar penjelasan Kurama, Naruto segera melaksanan perintah Kurama. Tiba-tiba chakra merah darah itu meredup dan kembali kedalam tubuh Naruto.

BRUK!

"Hah..hah...hah..."

Naruto jatuh tersungkur karena kelelahan. Kurama tiba-tiba berkata pada Naruto.

'Naruto, temui aku di pikiranmu sekarang.'

Naruto langsung pergi ke dalam pikirannya.


Ketika sampai, Naruto meminta penjelasan lebih lanjut pada Kurama.

"Kurama, apa maksudmu aku memiliki sisi gelap yang besar?" tanya Naruto pada Kurama.

"Seperti yang kukatakan sebelumnya, Naruto, kau memiliki sisi gelap yang besar dan tersembunyi didalam relung jiwamu. Hal itu adalah kebencian, kemarahan, kepedihan, dan ketakutan." Jawab Kurama.

"Tapi aku tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya!" Naruto berteriak pada Kurama.

"Itu karena kau menguburnya dalam-dalam" jawaban Kurama membuat Naruto tertegun. Kurama melanjutkan penjelasannya.

"Saat kau masih di Konoha ketika kau disiksa oleh penduduk desa, baik fisik maupun mental, kau mengubur perasaan takut, benci, amarah yang muncul terhadap penduduk desa. Aku menguburnya dengan mengenakan topeng yang biasa kau pakai di Konoha. Sekarang kau memutuskan untuk menanggalkan topeng emosimu, sisi gelapmu mulai menunjukkan batang hidungnya. Dan jika ini terus terjadi, kau bisa menyakiti orang yang berada di dekatmu." Kurma berkata pada Naruto.

"Jadi bagaimana aku menghadapi hal ini!?" Naruto mulai putus asa.

"Kau harus menemui sisi gelap yang ada di dalam jiwamu. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah: apa kau siap?" Kurama berkata dengan datar.

"Apa maksud perkataanmu itu Kurama?"

"Ketika kau bertemu dengan sisi gelapmu, apapun yang terjadi disana aku tidak bisa membantumu. Hanya ada dua kemungkinan yang terjadi jika kau tidak cukup kuat untuk menghadapi sisi gelapmu itu. Yang pertama adalah tubuhmu akan dikuasai oleh sisi gelapmu, yang kedua adalah pikiranmu bisa hancur, sama saja kau mati Naruto. kalau kekuatanmu sama dengan sisi gelapmu, maka kau hanya akan keluar dan semuanya kembali menjadi seperti sekarang. apakah kau siap?" Tanya Kurama pada Naruto. Kurama menatap mata Naruto dengan tajam. Dia harus yakin kalau Naruto siap menemui sisi gelapnya ini.

Naruto menarik nafas panjang dan berkata

"Aku siap."

"Baiklah kalau begitu."

Tiba-tiba muncul sebuah pintu berwarna coklat di sisi Kurama.

"Masuklah kedalam pintu ini Naruto. dan aku harap keberuntungan ada di sisimu Naruto." Kurama berkata dengan datar.

"Terima kasih atas dukungannya, Kurama."

Lalu Naruto masuk kedalam pintu tersebut dan semuanya berubah menjadi putih terang benderang


Ketika Naruto membuka matanya, Naruto melihat dia berada si sebuah tempat. Tempat itu kering dan tandus, langit berwarna merah senja, seakan menandakan kalau langit akan segera berubah menjadi malam.

"Aku sudah lama ingin bertemu denganmu, original."

Sebuah suara muncul dari dalam dunia itu. Naruto menoleh ke sumber suara dan melihat ada seseorang yang sangat mirip dengannya, mengenakan pakaian yang sama. Yang membedakan Naruto dan orang ini adalah Naruto memilik mata berwarna biru dan rambut yang kuning, sedangkan pria dihadapannya memiliki rambut berwarna hitam dan mata yang merah.

"Kau!?"

"Selamat datang di dalam jiwamu, Namikaze Naruto. aku adalah sisi gelapmu. Panggil saja aku, Namikaze Menma." Menma menunjukkan senyum lebarnya kepada Naruto.

Chapter 9 End


Akhirnya selesai juga, sekali lagi aku minta maaf karena aku tidak mengupdate fic ini selama 1 bulan lebih(kalau gak salah) sekali lagi aku minta maaf! Di chapter ini aku ingin meluruskan beberapa hal: Kuzunoha Tetsu bukanlah karakter canon, dia adalah salah satu OC yang kubuat untuk menunjang storyline di chapter ini, begitu juga Yumiko. Dan Menma di cerita ini adalah sisi gelap Naruto. karena di Naruto RTN Menma adalah Naruto di dunia paralel, aku minta maaf bila ada yang keberatan aku menggunakan karakter Menma sebagai sisi gelap Naruto. dan aku mencoba menguatkan sisi tsundere Tayuya di chapter ini, gak tahu apakah bagus atau tidak. Dan kepada para pembaca, terima kasih sudah bersabar menunggu chapter ini datang. Untuk update-tan selanjutnya mungkin waktu updatenya semakin lama karena auhornya masih kebingungan milih universitas (soalnya aku kelas 3 SMA sih) jadi maaf kalau kemungkinan kalian harus nunggu lama lagi. Sekian saja dari saya, terima kasih atas perhatiannya.

Kazehaya Arashi.