Author Note:
Halo semua! KST sekali lagi update! Terima kasih atas respon positif yang sudah diberikan. Syukur deh kalau update-an sebelumnya memuaskan. Seperti biasa, kita sekarang akan memasuki Q&A session!
Q: Apa Naruto nanti menjadi kuat?
A: Sudah pasti.
Q: Kapan DeiAkasuna pergi ke Suna?
A: Masih lama, kira-kira setelah timeskip, dimana umur Naruto dkk akan lebih tua dan lebih kuat untuk siap menghadapi DeiAkasuna.
Q: Apakah Tayuya dan Yuki tahu Naruto versi hanyou?
A: Belum, mereka akan mengetahuinya saat di desa selanjutnya.
Q: Apa nanti akan bertambah ceweknya?
A: Ya, cuma jumlah ceweknya nanti tidak terlalu banyak.
Q: Apa Gaara gak ngasih tahu Tsunade Naruto ada di Suna?
A: Tidak. Karena Gaara sendiri kesal dengan Konoha yang merayakan kepergian Naruto.
Q: Lalu selama pas di Suna ini, apa bakal ada musuh?
A: Tidak. Di Suna lebih ditekankan untuk pengembangan karakter dan plot.
Q: Masih lama ya Naruto ketemu sama teman-temannya?
A: Masih lama. Karena fic ini lebih fokus ke perjalanan Naruto-nya. Teman-teman Naruto akan lebih dilibatkan setelah time skip.
Segitu saja dulu pertanyaan yang aku berikan semoga jawaban dan chapter kali ini memuaskan.
Disclaimer: Naruto©Masashi Kishimoto.
Kicau burung sudah terdengar, menandakan kalau hari sudah pagi.
Naruto sudah terbangun dari tidurnya dan mencoba untuk bangun. Ketika mencoba untuk bangun, dia merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya dan menyadari bahwa ada sebuah beban yang terasa di lengan kirinya. Naruto menoleh ke sumber beban dan menyadari beban itu berasal dari seseorang yang ikut tidur bersamanya tadi malam, Kanazawa Shirayuki. Naruto melihat kalau kedua lengan Yuki sedang memeluk tubuhnya dan kepala Yuki bersandar di lengan kirinya.
'Pantas saja aku merasakan ada yang aneh, aku lupa kalau Yuki tidur bersamaku. Sekarang bagaimana aku keluar dari pelukan Yuki?'
Pikir Naruto kebingungan. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di dalam kepala Naruto. Naruto memejamkan mata dan berkonsentrasi. Lalu terdengar bisikan kecil keluar dari mulut Naruto.
"Kagebunshin no Jutsu."
POOF!
Muncul sebuah kagebunshin di dekat futon Naruto. Naruto lalu menggunakan kawarimi untuk berpindah tempat dengan bunshin-nya.
"Apa maksudnya ini?" bisik kagebunshin tersebut ke Naruto.
"Gantikan aku disini, aku ingin bersiap-siap untuk latihan."
"Bangunkan saja Yuki kalau begitu."
"Tidak mau, aku tidak tega. Apa kau sendiri tega membangunkan Yuki ketika dia sedang tidur?"
Bunshin Naruto melihat ke arah Yuki. Yuki terlihat sangat nyaman dalam tidurnya.
"Tidak juga sih..." Bunshin Naruto menggerutu.
"Karena itu, gantikan aku ya, bunshin-ku!" Naruto berkata dengan riang dan mulai berjalan keluar kamar, tidak menyadari senyum licik yang terukir di bunshin-nya.
POOF!
Tiba-tiba Naruto muncul kembali ke dalam futon. Ternyata bunshin Naruto menggunakan kawarimi untuk berpindah tempat dengan Naruto yang asli.
"Oi, kenapa kau malah berpindah tempat lagi!?"
"Maaf, aku sedang tidak mood untuk menjadi bonekaTeddy Bear, lagipula nikmati saja pelukan Yuki! Ja ne!" kagebunshin itu pun menghilang.
'Sial, aku malah dikalahkan sama kagebunshinku sendiri.' Naruto mengomel dalam hati. Yuki tiba-tiba mempererat pelukannya. Menghilangkan kesempatan Naruto untuk bebas.
Naruto akhirnya menyerah dan kembali berbaring kedalam futon. Naruto memandang wajah Yuki yang tertidur pulas dan tersenyum dengan lembut.
'Biarlah, sekali-sekali seperti ini juga tidak apa-apa kan?' pikir Naruto sambil mengelus-elus rambut Yuki.
30 menit kemudian...
Yuki mulai terbangun dari tidurnya. Entah kenapa tidurnya sungguh nyenyak tadi malam. Ketika Yuki membuka matanya, dia melihat Naruto sedang memperhatikan dirinya. Terlihat sebuah senyum kecil terukir di muka Naruto.
"Tidurmu nyenyak, Yuki?" tanya Naruto dengan lembut.
"Ya, Onii-chan. Sudah lama aku tidak tertidur dengan nyenyak seperti ini." Jawab Yuki.
"Senang mendengarnya. Kalau begitu, bisa lepaskan aku sekarang?" ucap Naruto
"Eh?"
Yuki menjadi kebingungan mendengar perkataan Naruto. Tak lama kemudian Yuki menyadari kalau dirinya sedang memeluk Naruto.
"KYAA! Maaf Onii-chan!" Yuki buru-buru melepaskan pelukan miliknya.
"Tidak apa-apa Yuki, cepat bangun, kita akan mengunjungi Tayuya hari ini."
Yuki dan Naruto bangkit dari futon dan bersiap untuk mandi. Ketika mereka selesai, mereka berdua pergi ke ruang makan dan melihat Gaara, Temari, dan Kankurou sudah menunggu di meja makan. Naruto mengenakan baju putih lengan panjang dan celana krem, sedangkan Yuki mengenakan baju biru dan celana panjang putih.
"Selamat pagi Naruto, Yuki." Ucap semua orang yang sedang di ruang makan.
"Selamat pagi semuanya." Ucap Naruto dan Yuki.
Ketika Naruto dan Yuki sudah duduk, mereka baru memulai sarapan pagi mereka.
Naruto membuka pembicaraan pagi itu.
"Gaara, bagaimana rasanya menjadi seorang calon Kazekage?" tanya Naruto.
"Sedikit gugup, tapi kurasa rasa gugup ini akan hilang seiring berjalannya waktu."
"Begitu ya. Aku ingin bertanya, apakah ada berita baru mengenai Konoha semenjak aku pergi?"
"Ada. Banyak yang sudah terjadi semenjak kau pergi. Desa Haru, Nami, dan Suna memutuskan hubungan politik dengan Konoha begitu mendengar kepergian dirimu dari Konoha. Alasannya karena kami semua merasa murka dan jijik terhadap sikap penduduk Konoha ketika mengetahui salah satu ninja terbaik mereka pergi. " Gaara menjelaskan pada Naruto.
Sedangkan Naruto yang mendengarnya hanya bisa terpaku ditempat. Dia tidak pernah menyangka desa-desa yang pernah dia selamatkan akan menunjukkan perhatian yang cukup besar terhadapnya, apalagi temannya yang satu ini Gaara.
Perlahan-lahan senyuman mulai terukir di wajah Naruto.
"Terima kasih sudah mau peduli, Gaara, Kankurou, Temari."
"Tentu saja kami peduli, kau sudah menyelamatkan adik kami, jadi kau sudah kami anggap keluarga" Kankurou berkomentar.
"Kau tidak sendirian Naruto, jangan lupakan itu." Temari ikut berkomentar.
"Kau menyelamatkanku satu kali jadi aku berhutang budi padamu. Jika ada yang bisa kubantu, beritahu padaku." Gaara diluar dugaan juga ikut berbicara.
Temari, dan Kankurou mengangguk.
Naruto tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.
"Ah, aku hampir lupa. Temari, dimana aku bisa menemukan tempat latihan yang berpasir?" tanya Naruto.
"Ah! Aku juga hampir lupa, untung kau mengingatkan. Kau bisa menemukannya di tempat latihan no 3. Persiapkan air minum agar tidak dehidrasi." Temari mengingatkan.
"Akan kuingat hal itu."
"Nee, Onii-chan, untuk apa kau mencari tempat latihan berpasir?" tanya Yuki kebingungan.
Mendengar pertanyaan Yuki, Naruto menyeringai terhadap Yuki. Yuki merasakan hawa dingin di lehernya ketika melihat hal itu.
"Tentu saja untuk melatihmu, Yuki-chan~" jawab Naruto polos.
"O-Onii-chan, bukankah kurasa latihan seperti itu terlalu cepat untuk orang sepertiku?"
Yuki berkata dengan terbata-bata, dia semakin gugup dan ketakutan sekarang.
"Tenang saja, aku percaya kau bisa melewatinya, Yuki-chan!" jawab Naruto dengan riang.
Setelah mendengar perkataan Naruto, akhirnya Yuki sadar akan sesuatu.
"O-Onii-chan, jangan bilang kau masih dendam tentang tes yang diberikan oleh paman Rouga!?"
"Are? Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Yuki-chan."
"Bohong! Kau pasti ingin balas dendam kepadaku!"
"Aku tidak berniat seperti itu~, lakukan saja demi kebaikanmu~" Naruto lantas melengos pergi meninggalkan Yuki.
"Bohong! Hei, tunggu aku Onii-chan!" Yuki pergi mengejar Naruto.
Sedangkan keluarga Sabaku hanya tertawa melihat pemandangan pagi itu.
Naruto dan Yuki kini sedang berjalan bersama menuju rumah sakit. Naruto berjalan dengan senyuman, sedangkan Yuki cemberut sepanjang jalan. Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit.
Setelah menanyakan kepada salah satu staff mengenai keberadaan kamar Tayuya,Naruto dan Yuki berjalan menuju kamar 2534, kamar dimana Tayuya dirawat.
"Nee, Onii-chan, berapa lama kita akan berada di Suna?" tanya Yuki.
"Oh, aku lupa memberitahumu. Kita akan berada di Suna selama satu bulan dan kita akan menghadiri festival perayaan Suna."
"Lama sekali, lalu apa yan kita akan lakukan selama sebulan?"
"Aku akan fokus melatihmu, dan belajar fuuinjutsu semampu yang aku bisa."
"Kedengarannya membosankan." Yuki mengeluh.
Naruto hanya tertawa mendengarnya.
Mereka sampai di kamar Tayuya.
"Akhirnya kita sampai juga, ayo masuk Yuki." Naruto memutar knob pintu dan mulai membuka pintu.
"Onii-chan, tunggu du-" Yuki tidak sempat menghentikan Naruto.
Ketika pintu dibuka, Naruto disambut dengan sebuah pemandangan yang akan dia kenang seumur hidup.
Pintu yang terbuka memperlihatkan Tayuya yang sedang mengganti pakaian. Badannya dipenuhi keringat, lekuk-lekuk tubuhnya terihat begitu menggoda. Tayuya mengenakan bra berwarna putih. Naruto hanya bisa terpana melihat pemandangan indah tersebut. Tayuya menoleh ke arah pintu begitu mendengar pintu dibuka dan dia melihat Naruto memandanginya.
5...
4...
3...
2..
1...
...
...
"KYAA!"
"AAAAAHHH!"
Tayuya dan Naruto sama-sama berteriak. Naruto karena kaget sedangkan Tayuya karena malu.
"TUTUP PINTUNYA, KUNING BEGO!"
"M-MAAF!"
BLAM!
Naruto segera menutup pintu sebelum Tayuya sempat melemparinya dengan sesuatu. Naruto menyenderkan punggungya ke pintu.
"Fyuh, hampir saja." Naruto menghela nafas.
Dia lega karena tidak sempat dilempari sesuatu oleh Tayuya. Namun penderitaan Naruto belum selesai. Tiba-tiba Naruto merasakan suhu di sekitarnya turun.
"Onii-chan~"
Naruto menoleh kearah Yuki dan merasakan hawa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Naruto melihat Yuki tersenyum ke arahnya namun pandangan matanya terlihat kosong.
"A-a-apa?" tanya Naruto dengan nada panik.
"Kau tahu apa yang disebut dengan 'mengetuk pintu'?" Yuki masih tersenyum, menambah rasa takut yang ada pada Naruto.
"Y-Yuki, itu tadi tidak sengaja! Aku tidak berpikir apa-apa kok tentang Tayuya, aku serius!"
"Oh, Onii-chan, kalau begitu jelaskan kenapa hidungmu berdarah?"
Spontan Naruto memegangi hidungnya dan benar saja ada darah mengalir di hidungnya. Yuki masih menatap Naruto sambil tersenyum.
" Fufufu, dasar Onii-chan mesum."
JLEB!
KUH!
Perkataan Yuki menusuk jiwa Naruto, membuat Naruto bersimpuh di lantai, sebuah awan gelap bertengger diatas kepalanya.
"Aku bukan orang mesum, aku bukan orang mesum, aku bukan orang mesum..." Naruto terus bergumam seakan-akan perkataan ini adalah mantra.
Yuki kembali menjadi ceria melihat sikap Naruto dan mulai mengetuk pintu.
TOK TOK TOK.
"Tayuya-Nee-chan, ini aku Yuki. Boleh kami masuk?" tanya Yuki dengan riang.
"S-silakan masuk!"
Yuki dan Naruto kemudian masuk kedalam kamar. Tayuya sekarang mengenakan baju merah polos dengan celana pendek di bawah lutut berwarna hitam. Muka Tayuya masih memerah. Sedangkan Naruto masih lesu karena habis dibilang mesum oleh Yuki.
"Tayuya-Nee-chan! Bagaimana kakimu?" tanya Yuki.
"Sudah mulai membaik, kemarin dokter bilang dia akan melakukan pengobatan dalam waktu 1 minggu dan setelah itu aku harus menjalani istirahat total selama 2 minggu."
"Wah! Kabar baik itu!" ujar Yuki.
"Ya, aku senang aku akan bisa berjalan sebentar lagi." Komentar Tayuya.
Tayuya tiba-tiba menoleh ke arah Naruto. Mukanya kembali memerah.
"O-Oi Naruto, k-kesini sebentar." Kata Tayuya sambil malu-malu. Mukanya yang memerah menjadikan wajah Tayuya terlihat imut sekarang.
"U-untuk apa?" dada Naruto berdebar-debar melihat wajah Tayuya.
"Sudah cepat kesini!" Tayuya memprotes.
Naruto pasrah dan mendekati ranjang Tayuya. Melihat reaksi Naruto sebelumnya terhadap Tayuya, dada Yuki sedikit terasa perih.
'A, ada apa ini? Kenapa aku merasa sakit melihat reaksi Onii-chan terhadap Tayuya-Nee-chan? Lalu kenapa muka Tayuya-Nee-chan memerah? Aku yakin itu bukan karena marah...apakah Tayuya-Nee-chan suka pada Onii-chan?' pikir Yuki dalam hati.
Entah kenapa membayangkan Naruto bersama dengan Tayuya sambil memegang tangan membuat Yuki sedikit merasa sakit di dada. Yuki akhirnya memutuskan untuk melihat apa yang akan dilakukan Tayuya.
Naruto sudah di dekat ranjang Tayuya sekarang.
"Oi, Naruto...dekatkan wajahmu ke arahku." kata Tayuya
"Eh, tapi untuk apa?"
"Sudah, lakukan saja!" perintah Tayuya dengan malu-malu.
Naruto dengan dada berdebar-debar mendekatkan mukanya ke arah Tayuya. Wajah Naruto semakin dekat, sedangkan Tayuya menunduk, seakan menyembunyikan rasa malu. Yuki menjadi tegang melihat pemandangan itu sampai akhirnya...
BUAK.
GUAH!
Tayuya menguppercut wajah Naruto. Naruto berteriak kesakitan, sedangkan Yuki hanya bengong melihat apa yang baru saja terjadi.
"A-APA YANG KAU LAKUKAN TAYUYA, KENAPA KAU TIBA-TIBA MEMUKULKU!?" protes Naruto.
"JANGAN PURA-PURA BEGO! KENAPA KAU TADI MENGINTIPKU!?"
"AKU TIDAK MENGINTIPMU, AKU TIDAK SENGAJA! LAGIPULA AKU TADI HANYA MELIHAT SEBENTAR, AKU TIDAK INGAT APA-APA SETELAH MELIHATMU!"
"KAU BOHONG! BUKTINYA KAU PASTI TADI MELIHAT BRA-KU YANG BERWARNA UNGU!" teriak Tayuya.
"HAH!? KAU YANG BOHONG, KAU TADI MEMAKAI BRA WARNA PUTIH!" Naruto berteriak penuh kemenangan.
Tiba-tiba suasana menjadi hening.
...
...
...
'Sial, aku keceplosan...mati aku...' Naruto menangis dalam hati, sedangkan Tayuya mukanya semakin memerah.
"Err...maaf?" Naruto meminta maaf dengan ragu-ragu.
JLEB!
"GUUUOOH! MATAKU!"
Naruto berteriak seperti orang gila sambil memegangi matanya ketika Tayuya menusukkan dua jari miliknya ke mata Naruto.
"Rasakan itu dasar mesum!"
"Aku kan sudah minta maaf!" teriak Naruto dengan mata merah yang berair.
"Kau kira itu cukup!?" Tayuya memprotes.
Naruto benar-benar tidak ingin bertengkar dengan Tayuya, akhirnya dia memutuskan untuk mengalah kepada Tayuya.
"Baiklah, aku akan mencoba melupakan hal yang barusan terjadi, puas!?"
Tayuya mengangguk puas. Naruto bersikap lega karena Tayuya mulai memaafkan dirinya.
"Hei, apakah matamu sudah tidak apa-apa?" tanya Tayuya.
"Ya, aku sudah bisa melihat dengan sedikit jelas sekarang." Jawab Naruto sambil mengucek-ngucek matanya.
JLEB.
"AAAAAAA! Kenapa kau menusuk mataku lagi Tayuya!?" Naruto berteriak pada Tayuya.
"KAU BARUSAN MELIHAT DADAKU KAN!?"
"AKU TIDAK MELAKUKANNYA!"
"DIAM KAU PEMBOHONG!"
JLEB.
"GYAAAA! AMPUNI AKU TAYUYA!"
Yuki yang dari tadi melihat mereka hanya menggelengkan kepala karena melihat betapa konyolnya tingkah mereka. Rasa sakit dadanya perlahan menghilang dan digantikan perasaan riang melihat mereka berdua akur. Ya, kalau tingkah mereka berdua bisa dibilang akur.
Mereka berdua akhirnya berhenti ketika dokter datang dan menyuruh mereka untuk diam karena teriakan mereka mengganggu pasien rumah sakit Suna.
Saat ini mereka berada di jalan utama Suna. Tayuya menggunakan kursi roda untuk pergi bersama Naruto dan Yuki. Dokter memperbolehkan Tayuya keluar dari rumah sakit dengan syarat Tayuya tidak boleh melakukan aktifitas berat dan jaga kondisi. Sebenarnya lebih baik jika Tayuya dibiarkan istirahat di rumah sakit sampai persiapan operasi selesai. Namun Tayuya ingin segera keluar dari rumah sakit dengan alasan makanan rumah sakit itu buruk dan dia bosan melihat pemandangan yang sama. Daripada Tayuya terus mengomel, akhirnya dokter memperbolehkan Tayuya keluar dari rumah sakit. Naruto kini sedang mendorong kursi roda Tayuya, dengan Yuki berada disampingnya.
"Akhirnya aku bebas! Setelah berkali-kali mencium bau steril rumah sakit, makanan yang hambar, ruangan yang terlalu putih, akhirnya aku bisa keluar dari rumah sakit!" Tayuya bersorak gembira.
"Tapi jangan lupa, kau harus kembali lagi ke rumah sakit dalam waktu 1 minggu Tayuya." Naruto mengingatkan.
"Oh sudahlah, jangan membahas hal itu untuk sekarang. Ayo kita jalan-jalan!" kata Tayuya dengan semangat.
Naruto hanya menghela nafas. Walaupun di kursi roda, Tayuya masih saja penuh semangat. Yuki mendekati Naruto.
"Onii-chan, apa matamu sudah tidak apa-apa?" tanya Yuki.
"Menurutmu bagaimana?" tanya balik Naruto.
Kedua mata Naruto masih memerah karena kejadian yang baru saja terjadi di rumah sakit(baca:Tayuya.)
"Kan itu salahmu sendiri, Onii-chan."
Naruto hanya menghela nafas sekali lagi. Entah sudah berapa kali menghela nafas dia hari ini.
"Yuki, lain kali ingatkan aku untuk mengetuk pintu sebelum masuk."
"Akan kuusahakan, Onii-chan~" Yuki berkata dengan riang.
"Jujur saja, kau senang kan melihat mataku ditusuk Tayuya?"
"Hehehe" Yuki hanya tertawa.
"Oi, apa yang kalian bicarakan? Ayo kita cepat antar aku jalan-jalan!"
"Ya, iya, sabar sedikit Tayuya." Naruto menggerutu.
Tidak seperti gadis lainnya, Tayuya meminta diantar ke toko persenjataan shinobi. Naruto dan Yuki akhirnya mengantar Tayuya ke toko persenjataan yang ia tahu di Suna. Toko senjata milik Tetsu.
"Selamat datang! Oh, kau rupanya Namikaze-san." Tetsu langsung menyambut Naruto.
"Panggil saja aku Naruto. Kali ini aku membawa 2 orang bersamaku. Yang ada di sebelahku namanya Kanazawa Shirayuki sedangkan gadis galak berambut merah di kursi roda bernama Kisaragi Tayuya." Naruto memperkenalkan Tayuya dan Yuki.
"Selamat pagi Ojii-san." Yuki berkata pada Tetsu.
"Hey." Kata Tayuya singkat.
"Jadi, untuk apa anda datang kesini?" tanya Tetsu.
"Aku hanya mengantar temanku Tayuya kesini. Dia bilang ingin datang ke toko Shinobi, ya kuantar saja kesini." Jawab Naruto santai.
Tetsu menoleh ke arah Tayuya.
"Apa yang bisa saya bantu, nona?"
"Apakah kau memiliki seruling khusus untuk bertarung?" tanya Tayuya penuh harap.
Tetsu berpikir-pikir sejenak.
"Tunggu sebentar, aku akan mengecek terlebih dahulu. Seruling khusus untuk bertarung sudah tidak populer lagi sejak perang dunia ninja ke-3."
Tetsu pergi untuk mengecek barang tersebut.
"Tayuya, kenapa kau menginginkan seruling? Bukankah lebih baik kau mencari senjata jarak dekat saja seperti tanto, katana, naginata, atau semacamnya?" tanya Naruto.
"Aku seorang ahli genjutsu dan media penyalur genjutsuku adalah suara. Akan lebih efektif jika aku menggunakan seruling. Lagipula aku tidak ahli menggunakan senjata lain selain kunai." Jawab Tayuya.
Kenapa tidak belajar saja?"
"Aku tidak tahu harus mulai darimana."
"kenapa tidak belajar saja bersamaku?" Naruto berkata pada Tayuya.
Tayuya menjadi sedikit malu, mendengar perkataan Naruto.
"K-kau mau mengajariku?" tanya Tayuya dengan pelan.
"Tentu saja mau." Jawab Naruto.
Muka Tayuya sedikit memerah. Baru kali ini dia bertemu laki-laki sepertinya. Dia baik, perhatian, mau menolong siapa saja.
"K-kalau begitu, aku akan mem-membiarkanmu mengajarkanku sedikit kenjutsu." Tayuya berkata dengan muka memerah.
"Baguslah kalau begitu!" Naruto berkata dengan riang.
Yuki menjadi sedikit kesal(baca:cemburu) melihat Naruto dan Tayuya.
"Nee, Onii-chan, kalau aku bagaimana?" tanya Yuki dengan polos.
"Aku tidak tahu harus mengajarimu apa. Bagaimana kalau kau mencari senjata yang cocok denganmu?"
Yuki melihat-lihat dan matanya bersinar ketika melihat sebuah senjata berbentuk tongkat panjang dengan ujung pedang di akhirnya. Yuki sepertinya suka dengan senjata tersebut. Naruto meliat arah pandangan Yuki dan menyadari kalau Yuki berniat menggunakan naginata. Yuki mencoba mengangkat naginata diletakkan di dekat rak. Yuki tidak kuat memegang naginata tersebut dan mulai terjatuh.
"KYA!"
Yuki memejamkan mata sambil menunggu rasa sakit menjalar di tubuhnya. Namun rasa sakit itu tidak pernah datang. Ketika Yuki membuka mata, Yuki meihat Naruto menopang punggung Yuki, tangan kanan memeluk pinggang Yuki. dan tangan kiri memegang naginata.
"Kau tidak apa-apa Yuki?"
Yuki mengangguk. Warna merah menghiasi kedua pipinya. Tayuya seketika diserang dengan rasa cemburu.
'Apa-apaan ini? Kenapa aku merasa marah? Apakah aku...cemburu? tidak mungkin! Tidak mungkin aku punya rasa pada si kuning bego itu!" teriak Tayuya dalam hati. Tayuya mencoba untuk tidak berpikir lebih jauh.
"Kau harus lebih berhati-hati Yuki, kau masih belum biasa memegang senjata. Lebih baik kau latihan dulu." Ujar Naruto.
"Maaf Onii-chan..." Yuki menunduk karena rasa bersalah.
PLOK.
Naruto menaruh tangannya ke atas kepala Yuki sambil mengusap-usap kepala Yuki.
"Syukurlah kau baik-baik saja, Yuki." Naruto mengeluarkan senyumannya.
BOOF!
Muka Yuki memerah lebih dalam dan akhirnya dia pingsan.
"Eh? EEEEEEEEHHHH!? Kenapa kau malah pingsan Yuki!?" sambil menggoyang-goyangkan tubuh Yuki. Bisa dilihat senyuman puas di muka Yuki.
PLAK.
Naruto menoleh ke arah sumber suara dan melihat Tayuya dan Tetsu yang baru saja kembali facepalm sambil menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Dasar bodoh."
"Dasar bodoh"
Tetsu dan Tayuya berkata secara bersamaan.
"APA SALAHKU!?"
Naruto hanya bisa berteriak frustasi melihat respon Tetsu dan Tayuya sedangkan Yuki masih terlelap di alam mimpinya.
Pada akhirnya Tayuya, dan Yuki membeli 1 seruling, naginata, dan bokken.
"Jadi, kemana kita sekarang?" tanya Tayuya.
"Kita sekarang akan ke tempat latihan no 3, tempat latihan yang memiliki medan pasir." Jawab Naruto.
"Oh? Kau ingin melatih kecepatan dan stamina Yuki ya?" Tebak Tayuya.
"Sudah kuduga kau bisa menebaknya, Tayuya." Naruto terkesan mendengarnya.
"Tentu saja, aku ini mantan ninja elite Orochimaru, aku sudah pernah melakukan latihan seperti itu." jawab Tayuya sewot.
Yuki kebingungan mendengar percakapan.
"Nee, Onii-chan, aku tidak mengerti apa maksud kalian." Kata Yuki kebingungan.
"Oh, maaf aku lupa kau bukan ninja. Baiklah aku akan menjelaskan sekarang."
Lalu Naruto mulai menjelaskan alasan memilih tempat latihan yang memiliki medan pasir.
"Dengar baik-baik Yuki. Saat manusia melangkah, tumpuan terbesar ada pada telapak kaki bagian depan yang pertama kali menyentuh tanah. Semakin kuat daya cengkramnya, akan semakin baik gerakannya. Permukaan tanah berpasir itu lembut namun berat, telapak kaki depan akan kesulitan untuk melangkah, terlebih lagi daya stamina kita akan diuji sehingga latihan ini akan membuat kecepatan dan stamina menjadi lebih baik, mengerti Yuki?"
"Ya, aku mengerti sekarang." Jawab Yuki.
"Aku tidak menyangka kau bisa menjelaskan secara detail seperti itu, padahal aku kira kau hanya ninja bodoh yang kuat." Tayuya berkata pada Naruto.
"Uwah, kata-katamu kasar sekali Tayuya. Aku sudah membaca banyak cara latihan untuk menguatkan fisik tubuh di Konoha, jangan remehkan aku." Kata Naruto dengan sebal.
"Hei, jangan salahkan aku, kukira kau hanya ninja yang mengandalkan chakra saja." Jawab Tayuya santai.
"Uwaah, kau benar-benar menyebalkan." Naruto berkata dengan kesal.
'Oi, Naruto.' Kurama tiba-tiba memanggil nama Naruto.
'Apa?'
'Apakah kau sadar ada yang mengikuti kita dari tadi?'
'Ya. dan aku kira aku tahu siapa yang mengikuti kita.'
'Jadi? Apa rencana kita selanjutnya?'
'Aku akan membuat kagebunshin dan memisahkan diri dari Tayuya dan Yuki. Jika aku tidak salah menebak, aku yakin orang yang mengikuti kita hanya tertarik padaku.'
'Terserah kau saja. Tapi hati-hati, mungkin saja ini perangkap.'
'Aku tahu. Terima kasih kau sudah peduli Kurama.'
'Bah, aku hanya tidak ingin wadahku mati dengan begitu mudah, jangan salah sangka Naruto.'
'Terserah kau saja, Kurama.'
'Huh, dasar bocah tidak sopan'
Kurama kemudian memutuskan hubungan komunikasi mereka.
Tanpa bicara apa-apa, Naruto membuat segel jurus.
'Kagebunshin no jutsu'
BOOF.
Muncul satu kagebunshin milik Naruto.
"Onii-chan, kenapa kau membuat bunshin?" tanya Yuki kebingungan.
"Apa yang kau pikirkan Naruto?" Tayuya menatap kepada Naruto.
Naruto berbisik kepada mereka berdua.
"Ada yang mengikuti kita, tapi sepertinya yang mengikuti kita hanya tertarik padaku. Aku meninggalkan 1 bunshin bersama kalian untuk melatih Yuki dan menjagamu Tayuya, sedangkan aku akan menghadapi penguntit kita. Tetap waspada." Bisik Naruto.
"Apakah kau tidak apa-apa kalau sendirian?" tanya Tayuya.
"Tidak apa-apa. Dan jika tebakanku tidak salah, aku kenal siapa yang sedang mengikuti kita sekarang. Kalian pergi saja duluan ke tempat latihan, bunshinku akan membimbing kalian."
Tayuya dan Yuki mengangguk dan mulai melangkah ke tempat latihan no 3, Yuki berbisik pada Naruto sebelum pergi lebih jauh.
"Hati-hati, Onii-chan." Kata Yuki dengan cemas.
"Jangan khawatirkan aku, aku ini kuat Yuki. Aku pasti akan kembali." Naruto mengeluarkan senyuman untuk meredakan kekhawatiran Yuki.
Yuki hanya bisa mengangguk dan pergi bersama Tayuya dan bunshin Naruto.
Naruto lalu pergi ke tempat latihan no 5.
Naruto sampai ke tempat latihan no 5, tempat dia berlatih kemarin..
Naruto yang baru sampai hanya menoleh ke belakang, lebih tepatnya menatap ke satu titik dan berkata dengan suara yang cukup keras.
"Bukankah sudah saatnya kau menunjukkan dirimu, Jiraiya-san."
Setelah mendengar perkataan Naruto, sebuah bayangan muncul dan mendarat di depan Naruto.
"Tak kusangka kau bisa menyadariku, kau sudah berkembang, Naruto."
Di depan Naruto sekarang muncul salah satu dari tiga sannin yang selamat melawan Hanzou si salamander, guru Naruto selain Kakashi dan juga sekaligus orang yang seharusnya menjadi ayah angkatnya, Jiraiya.
Di tempat latihan no 03
"Tayuya-Nee-chan, apakah kau yakin, Naruto-Onii-chan tidak akan apa-apa?" tanya Yuki dengan cemas.
"Kita harus percaya dengannya. Walau dia itu bego, dia itu kuat." Jawab Tayuya.
"Oi, aku masih disini." Kata bunshin Naruto yang kesal mendengar dirinya dibilang bego.
"Oh sudahlah, lagipula Naruto juga tidak ada disini." Tayuya berkata dengan santai.
"Apa kau lupa kalau aku bagian dari Naruto, Tayuya?" bunshin Naruto mencoba menahan kekesalannya.
"aku tidak peduli." Ujar Tayuya.
Bunshin Naruto memegang kepalanya dengan frustrasi.
'Kami-sama, kenapa aku harus berurusan dengan wanita seperti Tayuya!?'
Pikir bunshin Naruto dalam hati.
"Jadi, Onii-chan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" perkataan Yuki membuat Naruto sadar dari lamunannya.
"Oh, maaf Yuki. Aku sedang melamun. Sekarang aku ingin kau membuka alas kakimu."
"EH!? Kenapa!? Pasirnya kan panas!" Yuki berteriak pada bunshin Naruto.
"Lakukan saja, lagipula nanti kau akan terbiasa."
Yuki membuka alas kakinya dengan muka kesal sambil menahan panas yang terasa di telapak kakinya.
"Lalu apa lagi yang harus kulakukan?" tanya Yuki dengan cemberut.
"Kelilingi tempat ini selama 10 kali." Jawab bunshin Naruto santai.
"EH!? Tapi kan-" Yuki baru saja mau protes tapi perkataannya terpotong oleh bunshin Naruto.
"Sudah lakukan saja." Kata bunshin Naruto dengan santai.
Yuki akhirnya memutuskan untuk diam dan mulai mengelilingi lapangan 10 kali, menahan rasa panas dan perih dikakinya.
"Uwah, kau kejam juga." Ujar Tayuya.
"Aku bukannya kejam, aku ingin dia menjadi kuat untuk perjalanan kita selanjutnya. Di dunia shinobi akan banyak yang lebih kuat dari kita karena itu aku ingin Yuki sudah siap untuk perjalanan nanti." Bunshin Naruto menjelaskan.
"Aku heran kenapa kau dianggap ninja bodoh padahal kau ninja yang cukup pintar."
"Ingat Tayuya, menipu adalah salah satu alat dari shinobi." Jawab bunshin Naruto santai.
Setelah Yuki mengelilingi lapangan 10 kali, dia mendekati bunshin Naruto dengan rasa lelah tampak diwajahnya.
"Apa lagi Onii-chan?" tanya Yuki.
"Aku ingin kau melakukan push-up 30 kali, sit-up 30 kali, back-up 30 kali dan kelilingi lagi lapangan ini selama 10 kali." Bunshin Naruto berkata dengan senyum jahat di mukanya.
"EEEHH!? ONII-CHAN KAU JAHAT!" Yuki berteriak kesal.
"Lakukan saja Yuki, kau ingin menjadi kuat kan~" bunshin Naruto berkata dengan suara polos biadabnya.
Yuki hanya menggerutu dan melakukan apa yang dia suruh.
"...Kau benar-benar tidak main-main soal latihan ya." Tayuya hanya sweatdrop melihat tingkah bunshin Naruto.
"Semakin kuat seseorang, semakin besar kemungkinan dia untuk bertahan hidup. Karena itu Yuki akan kulatih dengan keras. Dan kata siapa kau juga tidak akan ikut berpartisipasi? Kau akan kusuruh membaca gulungan mengenai beberapa tipe genjutsu dan taijutsu dan ketika kau sudah pulih akan kusuruh kau mengulang apa yang sudah kau pelajari dan kau juga akan kulatih sama kerasnya dengan Yuki."
"APA!? Kenapa aku harus melakukan hal itu, lagipula aku mantan ninja elite Orochimaru tahu, untuk apa aku membaca genjutsu dan taijutsu yang lain? Aku akan tetap bertarung dengan caraku sendiri!" ujar Tayuya dengan kesal.
Bunshin Naruto menghela nafas dan mulai menjelaskan alasannya.
"Tayuya, aku yakin kau cukup kuat, tapi kau mempunyai beberapa kelemahan. Jika serulingmu rusak atau tercuri kau akan menyerang dengan apa? Lalu jika kau hanya mengandalkan genjutsu tipe suara saja kau akan lebih mudah ditebak dan lebih mudah diatasi." Naruto berkata pada Tayuya.
Perkataan Naruto membuat Tayuya kesal namun dia tidak bisa memungkiri kebenaran yang ada didalam perkataan Naruto.
"Cih, aku kesal jika kau mulai bertingkah seperti orang pintar." Tayuya akhirnya menyerah kepada Naruto.
Bunshin Naruto? Dia baru saja berdansa didalam hati karena baru saja melakukan hal yang mustahil dilakukan oleh para pria seumurannya: memenangkan argumen dengan seorang wanita.
"Tapi jangan lupa kau harus melakukan sesuatu untukku Naruto! Ketika aku sembuh kau akan kusuruh-suruh bagaikan budak!"
"HAH!? KENAPA AKU HARUS MELAKUKAN HAL ITU!?"
"KARENA KAU BARU SAJA MENGINTIPKU TAHU! KAU MEMBUAT HARGA DIRIKI TERLUKA DAN JIKA KAU TIDAK MAU, AKAN KUSEBAR RUMOR KALAU NAMIKAZE NARUTO ADALAH SEORANG MESUM YANG BERANI MENGINTIP WANITA YANG SEDANG DIRAWAT DIRUMAH SAKIT!" Tayuya berteriak dengan rasa kemenangan.
"HEI, KAU TIDAK BISA MELAKUKAN ITU!"
"AKU BISA DAN AKAN KULAKUKAN JIKA KAU TIDAK MENURUTIKU!"
Melihat tidak ada respon dari bunshin Naruto, Tayuya merasa memenangkan argumen miliknya kali ini.
Sedangkan bunshin Naruto? Dia hanya bisa menunduk sambil menangis dalam hati, awan hitam bertengger di atas kepalanya.
Dia lupa satu hal dasar tentang wanita. Laki-laki tidak akan pernah menang melawan argumen wanita. Dan jika karena suatu kejaiban sang laki-laki memenangkan argumen melawan wanita, wanita akan menemukan cara untuk membuat laki-laki merasa kalah.
Kembali lagi ke tempat latihan no 05
Naruto masih bertatapan dengan Jiraiya. Setelah keheningan yang cukup lama, Naruto akhirnya membuka suara.
"Jadi Jiraiya-san? untuk apa kau datang kemari? Apakah kau datang untuk membawaku kembali ke Konoha?" tanya Naruto pada Jiraiya.
"Tidak, aku hanya ingin bertemu denganmu, apakah itu tidak boleh?"
"Aku hanya penasaran kenapa kau datang menemuiku jauh-jauh ke Suna. Jika kau bilang ingin membawaku kembali ke Konoha, jangan harap bisa semudah itu."
"Aku juga tidak berniat membawamu ke Konoha, ketika sudah sadar seberapa buruknya perlakuan Konoha terhadapmu Naruto." Jiraiya berkata dengan lirih.
Lalu suasana kembali hening. Mereka berdua tidak tahu harus berkata apa. Naruto memang memaafkan Jiraiya karena dia sudah dia anggap sebagai ayah sendiri tapi di juga tidak melupakan kalau Jiraiya sendiri sudah menelantarkan dirinya selama 13 tahun. Jiraiya sendiri tidak tahu harus berkata apa. Dia merasa sangat bersalah sudah meninggalkan Naruto dan baru menemuinya setelah 13 tahun berlalu, itupun hanya dia lakukan karena ingin melatih Naruto untuk ujian chunin. Setelah lama tidak ada yang berbicara, Naruto kembali membuka suara.
"Kau tahu, selalu ada 1 pertanyaan yang terlintas di kepalaku, Jiraiya-san. kenapa kau menelantarkanku setelah 13 tahun dan kembali saat ujian chunin, Jiraiya-san?" tanya Naruto datar.
Nada datar Naruto membuat Jiraiya meringis mendengarnya. Namun Jiraiya mencoba menjawab pertanyaan Naruto.
"Kau tahu pekerjaanku sebagai mata-mata bukan? Aku memiliki jaringan informasi yang luas dan untuk menjaga jaringan informasi yang tetap stabil, aku harus memasuki daerah-daerah berbahaya. Bohong bila kukatakan aku tidak membawamu denganku karena pekerjaanku berbahaya. Tapi pada kenyataannya aku takut. Aku tidak pernah mengurus anak sebelumnya dan aku juga seorang yatim piatu. Aku takut tidak bisa menjadi figur ayah yang baik dan aku takut tidak bisa melindungimu jika bahaya datang padamu, jadi aku membiarkanmu diurus oleh Sarutobi-sensei dengan harapan kau akan lebih bahagia tinggal di Konoha." Jiraiya menjelaskan.
Naruto masih diam mendengarkan. Jiraiya berhenti sejenak untuk mengambil nafas dan meneruskan ucapannya.
"Aku menanyakan keadaanmu setiap tahun pada Sandaime dan dia mengatakan kepadaku kalau kau baik-baik saja. Karena lega, aku memutuskan untuk membiarkanmu berada di tangan Sandaime. Dan setelah waktu berlalu munculah ujian chunin. Aku ingin melihat keadaanmu, membayangkan kau sudah menjadi ninja yang hebat dan dihormati warga. Ternyata aku salah. Setelah memaksa Sandaime untuk bercerita hal yang sebenarnya, aku benar-benar marah mendengar kau di hina, terabaikan, dan hidup sendirian. Karena itu aku mencarimu dan berpura-pura mengintip di salah satu pemandian air panas agar kau menyadari kehadiranku."
Jiraiya berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan kembali perkataannya.
"Aku tidak punya alasan untuk menghindar dari kesalahanku. Aku tahu kalau aku merupakan salah satu orang yang membiarkanmu menderita didalam desa itu. terserah kau mau apakan diriku tapi bisakah kau memaafkanku? Berikan aku sedikit kesempatan untuk menebus kesalahanku padamu." Setelah selesai, Jiraiya langsung menunduk terhadap Naruto. Bukti bahwa perkataannya benar-benar tulus.
Setelah berpikir sejenak, Naruto berkata pada Jiraiya.
"Jiraiya-san, angkat kepalamu."
Jiraiya melakukan apa yang Naruto suruh.
"Aku punya satu permintaan padamu, Jiraiya-san." Naruto berkata pada Jiraiya.
"Apa itu, aku akan melakukan apapun yang kau suruh!" Jiraiya berkata dengan semangat. Ini bisa menjadi kesempatan dirinya dimaafkan oleh Naruto.
"Bertarunglah serius denganku."
Pernyataan Naruto membuat Jiraiya menjadi terdiam seribu kata. Dari seluruh kemungkinan yang ada, dia tidak menyangka Naruto akan mengatakan hal semacam itu padanya.
"A-apa?" kata Jiraiya terbata-bata.
"Kau tidak salah dengar Jiraiya-san. aku mungkin sudah memaafkanmu tapi aku masih menyimpan banyak kekesalan padamu. Karena itu biarkan aku meluapkan seluruh kekesalanku dengan bertarung melawanmu dan tolong jangan menahan diri." Pinta Naruto.
Jiraiya sekarang bimbang. Di satu sisi Jiraiya tidak ingin menyakiti Naruto, tetapi di sisi lain ini adalah kesempatan Jiraiya menerima maaf dari Naruto. Dengan berat hati Jiraiya menerima permintaan Naruto.
"Baiklah jika memang itu maumu, tapi bertarunglah sekuat tenaga karena aku tidak akan main-main Naruto." Jiraiya masuk ke posisi siaga.
"Itulah yang kuinginkan." Naruto juga masuk ke posisi siaga. Tangan kiri di depan dan tangan kanan di pinggang dengan telapak tangan berada didepan. Kaki kiri Naruto berada di depan dan kaki kanan berada di belakang sebagai tumpuan.
Naruto memulai duluan serangannya.
DUASH.
Naruto memotong jarak dengan cepat dan melempar sebuah pukulan dengan tangan kanan. Jiraiya secara reflex ikut melancarkan pukulan. Pukula mereka bertubrukan.
DUAR!
Sebuah retakan besar muncul di bawah kaki mereka, menandakan pertarungan mereka sudah dimulai.
30 menit berlalu. Tempat latihan 5 sudah rusak dimana-mana. Di tengah tempat latihan terlihat Naruto terkapar di tengah-tengah medan sedangkan Jiraiya hanya berdiri menatap Naruto. Naruto berada dalam kondisi buruk. Beberapa tulang rusuknya patah dan kedua tangannya lebam. Darah terlihat disudut bibirnya. Sedangkan Jiraiya hanya menerima luka di pipinya dan salah satu tulang lengannya retak.
"Ahaha...Kau benar-benar kuat, Jiraiya-san." Naruto berkata pada Jiraiya.
"Apakah kau sudah puas, Naruto." Tanya Jiraiya lembut sambil mengulurkan tangan.
Naruto mengambil tangan yang terulur dan bangkit.
"Jadi, apakah aku dimaafkan?" tanya Jiraiya takut-takut.
"Jangan terlalu berharap Ero-sennin." Kata Naruto dengan riang.
Jiraiya menghela nafas lega. Jika Naruto menyebutnya dengan sebutan 'Ero-Sennin' berarti sepertinya dia sudah dimaafkan. Jiraiya membawa Naruto dengan punggungnya.
"Oi, Ero-sennin. Antar saja aku ke rumah Gaara. Aku akan sembuh dari luka seperti ini hanya dalam waktu 2 hari." Naruto berkata pada Jiraiya.
"Tidak bisa, kau harus kerumah sakit dulu untuk diobati. Setelah itu kau baru boleh pergi ke rumah Gaara."
"Dasar cerewet." Naruto menggerutu.
"Sudah jadi kewajibanku untuk cerewet mengenaimu, bocah." Jiraiya berkata dengan sebal pada Naruto.
Naruto hanya tersenyum mendengarnya. Jiraiya sendiri lega hubungannya dengan Naruto sudah kembali membaik.
Ketika sedang menuju rumah sakit, Naruto berkata pada Naruto.
"Oi, Ero-sennin, bagaimana caranya aku menjadi penulis novel?" tanya Naruto.
"Untuk apa kau bertanya begitu?" tanya balik Naruto.
"Aku butuh sumber penghasilan lain. Kau kaya karena novelmu itukan? Ajari aku untuk menjadi penulis novel sepertimu."
"Oh? Apakah kau ingin membuat novel erotis sepertiku? Ya dengan 2 wanita cantik yang menemanimu, kau bisa mendapatkan bahan tulisan erotis yang cukup banyak, hehehe." Jiraiya berkata dengan mesum.
"Dalam mimpimu Ero-sennin. Lagipula Tayuya dan Yuki akan menghajarku jika aku menjadikan mereka bahan tulisan erotik. Lupakan itu, mereka akan membunuhku jika aku membuat novel erotis." Naruto menggerutu.
"Hehe, jadi nama mereka Tayuya dan Yuki, kau sudah menjadi playboy sekarang ya Naruto."
"Diam atau kupukul kepalamu dari belakang."
"Kau pukul aku, kujatuhkan kau dari gendonganku."
Dan begitulah seterusnya, mereka terus bertengkar sampai ke rumah sakit.
Hari sudah malam.
Naruto belum saja kembali, membuat Yuki dan Tayuya cemas. Keluarga Sabaku baru saja ingin mengirim ninja sensor untuk mencari Naruto ketika mereka mendengar suara ketukan pintu dari luar.
TOK TOK TOK
"Aku pulang!" Naruto berteriak dari luar.
Ketika sudah masuk, Naruto langsung diomeli oleh Tayuya dan Yuki.
"Darimana saja kau Naruto!?" tanya Tayuya.
"Onii-chan, kau mengkhawtirkan kami saja." Yuki menambahkan.
"Maaf, maaf. Aku baru saja bertatap muka dengan penguntit kita." Naruto menjelaskan.
Tayuya, Yuki, dan keluarga Sabaku menerima penjelasan Naruto sampai akhirnya sadar kalau sebagian tubuh Naruto dibalut perban.
"Naruto, apa yang baru saja terjadi denganmu!?" teriak Tayuya
Sedangkan Yuki memegang-megang badan Naruto untuk memastikan badannya tidak luka terlalu parah.
"Aku baru saja bertarung dengan orang yang membuntuti kita. OW! Jangan pegang-pegang Yuki."
"Maaf. Siapa yang menghajarmu Onii-chan, akan kubekukan dia." Kata Yuki dengan nada dingin.
Seketika suhu ruangan menjadi dingin.
"Hei, Yuki tenanglah, aku sudah tidak apa-apa kok." Naruto mencoba membujuk Yuki yang mulai marah.
"Wow Naruto, kau dikelilingi wanita-wanita yang berbahaya." Komentar Kankurou sebelum akhirnya dijitak oleh Temari.
"Kau ini tidak sopan Kankurou! Kau mau menjadi incaran si Yuki!?" Temari memarahi Kankurou.
Selagi Kankurou dan Temari bertengkar, Gaara bertanya pada Naruto.
"Jadi siapa yang menghajarmu sampai seperti ini Naruto?" tanya Gaara.
Mendengar pertanyaan Gaara, semua perhatian kini tertuju ke Naruto.
"Err...Ero-sennin." Jawab Naruto dengan gugup.
"Hah? Siapa dia?" tanya Kankurou. Yang lain hanya mengangguk mendengar pertanyaan Kankurou.
"Oh maaf, kalian tidak kenal panggilanku padanya. Si sannin katak Jiraiya." Jawab Naruto santai.
Ketika mendengar jawaban Naruto, semua orag kecuali Gaara dan Yuki jawdrop seketika.
"SI SANNIN JIRAIYA!? UNTUK APA DIA MEMBUNTUTIMU NARUTO!?" Tayuya, Temari, Kankurou berteriak pada Naruto.
"Karena dia guruku."
3...
2...
1...
...
...
"JIRAIYA SI SANNIN KATAK ADALAH GURUMU!? KENAPA KAU TIDAK PERNAH CERITA PADA KAMI!?" sekali lagi Tayuya, Temari, Kankurou berteriak pada Naruto.
"Um...Kalian tidak pernah bertanya?" jawab Naruto ragu-ragu.
Malam itu Naruto diinterogasi habis-habisan oleh semua orang kecuali Gaara dan Yuki. Naruto juga dipaksa tidur bersama oleh Yuki dan Tayuya dengan alasan 'demi menjaga keselamatan Naruto jika tiba-tiba diserang lagi.' Naruto sudah mengatakan kalau tidak mungkin dia diserang lagi tetapi mereka tidak mendengarkan. Dan akhirnya Naruto menurut saja tidur bersama Tayuya dan Yuki.
Pada hari ini, Naruto mengalami banyak kekacauan namun dia tidak menyesalinya. Dia berharap selama perjalanan untuk kedepannya, hari-hari damai seperti ini tetap bisa dia rasakan. Walau dia tahu kenyataan tidak akan semudah itu tapi hei, orang boleh berharap bukan?
Akhirnya chapter 11 selesai! Kira-kira sudah 2 minggu lebih aku belum mengupdate. Semoga kalian tidak terlalu lama menunggu(ya kalau 2 minggu disebut tidak lama sih.) ya mengenai humor kali ini, aku berharap kalangan reader wanita tidak tersinggung dan semoga humor kali ini cukup menghibur. Itu saja yang ingin aku katakan, terima kasih sudah mau membaca.
Kazehaya Arashi.
