Naruto – Part 2

"Imouto"

Konoha 2, 5jam setelah perpindahan dimensi

Udara dingin menyambutku sekembalinya ke Konoha 2 pagi ini. Konoha 2 adalah sebutan yang kuberikan pada Konoha milik Naru, tempatku berada sekarang.

Secara garis besar Konoha-ku dan Konoha 2 tidak berbeda. Mulai dari orang-orangnya, posisi bangunan, cuaca, dan lain-lain. Bahkan dari sumber sejarah yang kubaca di perpustakaan, Konoha 2 memiliki sejarah yang sama dengan Konoha tempat tinggalku dulu. Hokage Ke-4 meninggal karena mengorbankan nyawanya ketika menyegel Kyuubi pada tubuh Naru untuk melindungi desa. Meski tak ada sumber yang membahas apa hubungan mereka (karena merupakan rahasia desa), aku sudah bisa menebak kalau Naru adalah putri Hokage Ke-4.

Satu-satunya yang membedakan Konoha kami hanyalah keberadaanku yang digantikan oleh Naru. Kenyataan kalau dia adalah seorang perempuan merupakan salah satu faktor yang membuatku memutuskan untuk menemaninya di dunia ini. Aku takut dia tak mampu menahan beban mental yang makin hari akan makin berat. Apalagi seorang perempuan lebih rentan terkena tekanan mental dibanding laki-laki. Tentu aku tak mau Naru mendapatkan tekanan mental yang berlebih, karena saat aku melihat Naru, aku seperti melihat diriku sendiri.

Di pertemukan pertama kami semalam, aku sudah mengarang cerita mengenai alasanku tidak tinggal di Konoha selama ini. Aku bilang itu untuk alasan keselamatan. Aku mengaku baru mengetahui punya adik saat usiaku tepat menginjak 17 tahun beberapa bulan lalu. Naru yang masih polos tentu langsung percaya. Semalam dia sempat memukul-mukul badanku sambil menceritakan keluh kesahnya menjalani hidup sendiri yang tentu saja sangat berat untuk anak seusianya. Naru kecewa kenapa aku tak ada di sisinya selama ini.

Aku tak menjawab karena tak mau terlalu banyak berbohong. Saat itu aku hanya bisa menenangkan dengan memeluknya, membiarkan Naru menumpahkan semua kekesalan dan rasa sedihnya. Hingga akhirnya ia terlelap.

Setelah Naru tidur, barulah aku kembali ke Konoha, menolak posisi Hokage, lalu kembali ke Konoha 2 di pagi harinya. Dengan kembalinya aku ke sini, maka sudah tidak ada alasan untuk mundur. Mulai sekarang aku akan tinggal bersama Naru dan selalu ada di sampingnya apapun yang terjadi.

Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah-celah gorden orange di kamar Naru telah sukses mengusik tidur gadis itu. Ia berusaha menutup sorotan cahaya matahari dengan tangan kanannya, lengkap dengan wajah yang merenggut kesal. Tapi lama-kelamaan akhirnya ia bangun juga.

"Selamat pagi, Naru," ucapku saat kulihat gadis kecil di hadapanku perlahan membuka matanya.

Orang yang kumaksud tersenyum lebar. Nampaknya ocehannya kepada matahari karena sudah mengusik tidur nyenyaknya ia urungkan. Sebaliknya, Naru kelihatannya berterima kasih kepada matahari karena sudah mengantarnya ke pagi terindah dalam hidupnya. Pagi dimana ia mendapati seseorang di sampingnya, pagi dimana ia tak merasa kesepian lagi.

"Selamat pagiii," balas Naru sambil berusaha duduk di tempat tidur. "Aku senang Nii-san ada di sini. Aku masih menganggap kalau semua ini hanya mimpi."

"Ini bukan mimpi. Kau tidak sendirian lagi sekarang," ujarku tulus.

Senyum Naru makin lebar.

"Arigatou, Nii-san," ujar Naru sambil memasang wajah imutnya. Wajah putih, sepasang mata shapire indah, dengan pipi yang dihiasi 3 pasang tanda lahir yang anehnya malah menambah kesan imut di wajah Naru. Siapa yang tak gemas melihatnya? Hal itu pulalah yang membuatku tak bosan menunggunya bangun sejak 15 menit yang lalu.

"Douitashimashite, Imouto," balasku. "Saatnya sarapan."

Kuulurkan tangan kananku untuk membantu Naru bangun. Sementara tangan kiriku kugunakan untuk merapikan rambut Naru yang agak berantakan.

"Ramen?" tanya Naru memastikan.

Aku terkekeh. "Bukan. Maaf membuatmu kecewa, tapi tidak baik sarapan dengan ramen. Kau harus memulai harimu dengan makanan yang bergizi."

Kutarik tangan Naru yang tiba-tiba saja jadi lemas mengetahui sarapan yang kubuatkan untuknya bukan ramen. Yup, tekadku dalam merawat Naru akan kumulai dari hal-hal kecil, seperti sarapan yang sehat misalnya.

Saat makan, aku menyuruh Naru untuk menceritakan lebih detail apa yang ia ketahui tentang insiden 10 tahun lalu serta efek yang diakibatkannya dari sudut pandangnya sendiri. Sudut pandang Naru menjadi hal penting karena dari situ aku bisa menilai sifat dan karakteristik adik baruku ini. Apakah sama denganku saat seumur dengannya atau tidak? Dari situ pula aku bisa menentukan langkah apa saja yang akan kuperbuat setelah ini di Konoha 2. Kesamaan 2 dunia kami tentunya tak akan membuatku kesulitan untuk segera beradaptasi dengan kehidupan sosial di sini.

Naru mulai menceritakan apa yang ia ketahui tentang insiden 10 tahun lalu dan apa efek yang dirasakannya akibat insiden itu. Dari ceritanya, aku bisa mengambil kesimpulan kalau Naru bernasib sama sepertiku. Penduduk Konoha dan Konoha 2 sama saja, mereka menganggap kami monster yang telah menghancurkan desa dan membunuh banyak penduduk desa. Aku benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran para penduduk desa. Seharusnya mereka berterima kasih kepada Naru karena telah menjadi seorang Jinchuuriki Kyuubi demi menyelamatkan desa.

Namun ada yang kugaris bawahi dari cerita Naru. Rupanya respon Naru terhadap cacian dan hinaan penduduk agak berbeda denganku. Jika dulu aku bersikap cuek dan blak-blakan dalam menanggapinya, maka Naru lebih terkesan 'memasukannya' ke dalam hati, ia lebih sensitif. Ia lebih sabar dan menyimpan kekesalannya dalam hati. Ia hanya akan melawan jika memang sudah tak tahan memendam rasa kesalnya. Dugaanku, itu terjadi karena Naru adalah seorang perempuan yang dikenal lebih perasa dalam menyikapi suatu masalah.

Rasa cintaku pada Konoha dan penduduknya kembali berkurang mendengar cerita Naru. Saat itulah aku memutuskan satu hal yang penting.

Mulai sekarang, aku putuskan tidak akan jadi shinobi, baik di Konoha atau di Konoha 2.

Mulai sekarang aku akan fokus untuk berperan jadi kakak yang baik untuk Naru. Sifat Naru dan sifatku berbeda, karena itulah Naru membutuhkan perhatian ekstra. Aku akan berada di rumah saat ia pulang, melatihnya, dan membantunya mencapai cita-cita terbesarnya, menjadi Hokage perempuan pertama. Aku tak akan terlalu ikut campur urusan desa kecuali jika hal itu ada hubungannya dengan Naru.

Setelah selesai sarapan, Naru bersiap-siap untuk ke akademi sementara aku membereskan peralatan makan. Aku menawarkan untuk mengantar Naru ke akademi. Aku sempat menduga Naru akan menolaknya karena mungkin Naru merasa sudah besar dan tak perlu diantar. Di luar dugaan ternyata Naru menyetujuinya. Aku tahu ini hal yang terdengar sederhana, tapi menjadi tidak sederhana bagi kami, ini sangat berharga bagi kami. Saat aku seumur dengannya, aku selalu iri saat beberapa teman akademiku diantar atau dijemput oleh orang tua atau saudara mereka. Yang bisa kulakukan saat itu hanya duduk diam di ayunan, memandang iri anak-anak lain yang bermanja-manja dengan keluarga mereka dari kejauhan.

Setibanya di apartemen pun aku hanya akan disambut dengan hawa dingin dan rasa kesepian. Tidak ada yang menyambutku dengan ucapan 'Okaeri' atau 'Selamat datang'. Tak ada yang menanyakan hariku menyenangkan atau tidak, belajar apa hari ini, ada pelajaran yang tak dimengerti atau tidak, dan hal-hal lain yang senada. Benar-benar masa kecil yang menyakitkan.

"Nii-san?" tanya Naru saat kami tiba di depan akademi.

"Maaf aku melamun," jawabku, terlalu terhanyut dalam masa laluku yang kelam. Pandanganku beralih pada ayunan di bawah pohon maple besar di kejauhan. 'Aku tak akan membiarkan Naru kesepian sepertiku,' batinku.

Aku kembali menatap Naru. "Sampai jumpa nanti siang," kataku sambil mengacak pelan rambut Naru. "Belajarlah dengan baik dan jangan nakal."

"Tentu saja. Sampai jumpa," jawabnya ceria. Ah, senang sekali rasanya saat kulihat raut wajah penuh keceriaan di wajah adikku itu. Apalagi aku tahu kalau keceriaan itu bukan sekedar topeng, tapi memang keceriaan yang datang dari hati.

Aku membalas lambaian tangan Naru sebelum ia masuk ke akademi. Setelah itu kutinggalkan bangunan akademi, senyumanku perlahan hilang seiring dengan langkah demi langkah yang kupijak. Urusan dengan adikku memang sudah beres, sekarang saatnya mengurus 'mereka'.

"Sampai kapan kalian mau membuntutiku seperti itu?" tanyaku tanpa menghentikan langkahku. Sepuluh orang ANBU yang sejak dini hari tadi terus membuntutiku pasti tak menyangka aku berhasil menyadari kehadiran mereka. Mereka tersebar di sekitarku, ada yang di pohon, di atap bangunan, di balik tembok, bahkan ada yang di tanah menggunakan jurus doton. Lalu ketua dari mereka memberikan isyarat untuk mengepungku.

"Apa mau kalian?" tanyaku datar.

"Kau memiliki head protector Konoha, tapi kami tak pernah melihatmu sebelumnya. Kami juga merasakan chakra yang…" Ketua ANBU itu terlihat mencari kata yang tepat. "Chakra yang sangat besar dari dalam tubuhmu. Ikut kami ke gedung Hokage sekarang juga."

Aku tersenyum, membuat mereka heran. "Tidak usah repot-repot menjemputku begini. Aku memang punya rencana untuk ke sana. Ada yang ingin kubicarakan dengan Hokage."


Di sinilah aku sekarang, di hadapan Hokage Ke-3 Konoha 2. Meski orang di hadapanku sama persis seperti Hokage Ke-3 di duniaku, tapi aku merasa tidak familiar dengannya. Aku merasa tidak 'mengenalnya'. Kurasa itu wajar karena mereka 2 orang yang berbeda.

Aku jelaskan apa yang terjadi dari awal sampai akhir kepadanya. Ia sempat tak percaya tapi saat kutunjukkan segel Kyuubi di perutku serta Hiraishin no Jutsu barulah ia percaya. Butuh waktu beberapa menit bagi sang Hokage untuk berpikir dalam menyikapi kasus yang tidak biasa ini. Sebagai Hokage, aku tahu ia tidak boleh sembarangan memutuskan suatu masalah.

"Kau bukan dari desa ini, menurut prosedur yang berlaku, kau harus jadi tahanan desa selama 1 tahun," kata Hokage Ke-3 dengan nada berwibawa khas seorang pemimpin.

Keningku berkerut. Yang benar saja jika aku harus ditahan!

"Kenapa harus ditahan?" tanyaku datar, berusaha tetap tenang.

"Karena aku tahu kau kuat. Jauh lebih kuat dariku, bahkan dari semua penduduk Konoha. Jika mau, kau bisa dengan mudah melenyapkan desa ini tanpa tersisa. Karena itulah, aku tak bisa membiarkanmu berkeliaran di desa sebelum kupastikan kau tidak berbahaya. Sebagai seorang Hokage, aku harus memastikan kalau desaku aman. Maksud ditahan di sini bukan berarti dikurung. Kau diizinkan berkeliaran bebas di desa tapi kami akan memasang segel pembatas chakra di tubuhmu sehingga kau tak bisa mempraktekkan jurus apapun," jelas Hokage panjang lebar.

Aku tertegun. Jika chakra-ku dibatasi, bagaimana dengan rencanaku melatih Naru dan mewujudkan impiannya jadi Hokage?

Kulepas head protector-ku dan meletakkannya di meja Hokage, kesabaranku mulai berkurang. "Aku ke sini bukan untuk jadi ninja, apalagi menghancurkan desa! Aku ke sini untuk merawat dan melatih adikku. Jadi aku tak mau ditahan!" seruku dengan nada yang meninggi.

Hokage menggeleng, tanda keputusannya tak bisa diubah.

Aku mengepalkan tanganku. "Kau tahu Jii-san? Saat Hokage Ke-5 menawariku posisi Hokage Ke-6 aku sangat senang. Apalagi saat tahu semua penduduk di sana menyetujuinya. Aku sudah melupakan rasa sakit atas perlakuan mereka di masa lalu. Tapi rasa sakit hati itu kembali datang saat melihat semua penduduk di sini memperlakukan Naru semena-mena. Melihat kehidupan Naru di sini seperti melihat masa laluku sendiri terulang. Perlahan luka lama itu muncul lagi, rasa hormatku terhadap penduduk Konoha kembali hilang. Bahkan aku telah menolak mentah-mentah tawaran menjadi Hokage Ke-6 dan memilih menemani Naru di sini. Lalu apa sambutanmu? Menyuruhku jadi tahanan? Aku ingin melindungi Naru! Dia pahlawan desa ini! Kenapa justru malah dia yang menderita? Ini sangat keterlaluan!"

Hokage Ke-3 menghela napas pelan. "Dengar, ini permintaan Hokage Ke-4, ayah kandung Naru. Dia menyuruhku untuk menyembunyikan identitas Naru agar ia aman dan-"

"Apa membiarkan Naru dijauhi semua penduduk termasuk permintaan Hokage Ke-4?" tanyaku memotong kata-katanya.

Hokage Ke-3 terdiam.

"Apa membiarkan Naru kelaparan juga permintaan Hokage Ke-4?" tanyaku bertubi-tubi tanpa memberikan kesempatan Hokage Ke-3 untuk menjelaskan.

Lagi-lagi Hokage Ke-3 tak menjawab. Sebagai seseorang yang dititipi Naru oleh Hokage Ke 4, kulihat ia memang merasa tidak maksimal dalam merawat Naru. Entah karena ia terlalu sibuk jadi Hokage, atau karena Naru terlalu nakal dan susah diatur. Tapi apapun itu, seharusnya ia tetap bertanggung jawab atas Naru, tidak membiarkannya tidak terawat seperti sekarang.

"Aku tak peduli apapun keputusanmu. Aku tak mau ditahan. Aku akan merawat Naru dengan baik, tidak sepertimu," ujarku sambil berlalu.

Melihatku bermaksud meninggalkan ruangan, para ANBU menahan badanku.

Ck! Aku sudah bilang berkali-kali, aku ke sini untuk jadi seorang kakak dari sesosok Uzumaki lain. Kenapa rasanya sulit sekali untuk sekedar mewujudkan keinginan sederhanaku itu?!

Baiklah, kesabaranku sudah habis! Aku tidak mau sok-sokan jadi ninja hebat, tapi kalau keadaan memaksaku, apa boleh buat…

WHOOOSSHHH!

Semua ANBU yang mengepung dan memegang badanku langsung terlempar ke segala arah saat hembusan chakra Kyuubi keluar dari badanku. Aku yakin mereka belum pernah melihat seorang Jinchuuriki Kyuubi dalam mode Kyuubi yang sempurna.

"Sejak awal, sebenarnya kalian memang tak punya pilihan lain selain menuruti keinginanku," ujarku dingin, tanpa menoleh sedikitpun.

"Simpan baik-baik semua yang kuceritakan, terutama dari Naru. Jadikan ini rahasia class S. Jika sampai informasi ini bocor, kau orang pertama yang akan kumintai pertanggungjawaban," lanjutku, tentu saja yang kumaksud adalah Hokage Ke-3.

Hokage Ke-3 tak menanggapi apa-apa. Ia sudah tahu jika sosok di hadapannya memiliki kekuatan yang jauh di atasnya, jadi ia memilih untuk diam.

Kunonaktifkan mode Kyuubi. "Aku tidak akan macam-macam pada Konoha-mu ini. Aku janji," ujarku, sebelum lenyap dari hadapan mereka.


"Terima kasih banyak Naruto-san," ucap seorang paman sambil membungkuk beberapa kali di hadapanku. Bagaimana tidak? Aku baru saja membeli semua ladang miliknya yang memang ingin ia jual. Apalagi luas ladang itu tidak main-main. Jika mau, uang hasil penjualannya bisa dibelikan 3 rumah mewah di pusat Konoha.

"Sama-sama," balasku sambil tersenyum.

Kutatap hamparan ladang yang luas di hadapanku. Sangat luas memang. Tak heran jika sebagian besar uangku habis untuk membelinya. Tapi tidak apa-apa. Ladang ini akan kuolah agar menghasilkan uang karena aku sudah memutuskan untuk tidak menjadi ninja. Tak lupa seperempat tanahnya akan kuubah menjadi tempat berlatih. Di sanalah nantinya aku akan melatih Naru. Letaknya yang tak jauh dari apartemen Naru semakin membuatku puas telah membeli ladang ini.

Berkebun di ladang merupakan salah satu cita-citaku yang tak sempat kuwujudkan di Konoha. Aku terlalu sibuk menjalankan misi di sana. Aku bersyukur bisa mewujudkannya di Konoha 2. Meski sebenarnya aku tak bisa dikatakan mahir bercocok-tanam, tapi paling tidak jika aku punya ladang, aku bisa mencoba-coba semauku.

Dari kejauhan, kudengar bel istirahat akademi. Rupanya baru jam 10 siang. Baiklah, masih ada banyak waktu sebelum Naru pulang.

Kubuat 1.000 bunshin, 800 kusuruh untuk membersihkan ladang dan menanam berbagai sayuran dan buah yang bibitnya sudah kusiapkan, sedangkan 200 sisanya (termasuk aku) akan mengubah seperempat ladang menjadi tempat berlatih ninja. Kupastikan perkerjaan bisa selesai sebelum Naru pulang dari akademi.


Aku bersandar di pohon maple di dekat ayunan, yang lokasinya tak jauh dari gerbang akademi. Kulihat anak-anak akademi satu per satu keluar hingga akhirnya semua keluar. Tapi kemana Naru? Aku belum melihatnya keluar dari sana.

Kuputuskan untuk bertanya pada seorang anak perempuan yang baru saja keluar dari bangunan akademi.

"Permisi, apa kau melihat Naru?" tanyaku berusaha seramah mungkin.

Anak perempuan yang kuperkirakan sebaya dengan Naru itu mengerutkan keningnya. "Untuk apa kau mencari monster itu?"

Dadaku terasa sakit mendengarnya. Ingin rasanya kupukul sosok yang menyebut adikku monster itu. Tapi masa iya aku memukul anak kecil?

"Aku kakaknya, aku ingin menjemputnya," jawabku, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan nada kesal dalam kata-kataku.

Gadis di hadapanku terdiam sejenak, mungkin ia baru tahu kalau Naru punya kakak. "Um.. Kulihat dia sudah keluar dari tadi."

'Lalu kemana dia?' tanyaku dalam hati.

Rasa khawatirku pada Naru membuatku tak tenang. Tanpa menunggu waktu lagi kuaktifkan mode Kyuubi untuk melacak keberadaan Naru, tentunya dengan bersembunyi terlebih dahulu agar tak ada yang melihatku.

Tak butuh waktu lama untuk mencari lokasi Naru lewat chakra-nya. Rupanya ia sedang berada di belakang bangunan akademi. Yang membuatku kaget adalah keadaan wajahnya, ada banyak luka goresan dan hidungnya mengeluarkan darah.

Setelah kuperhatikan lebih dekat, seorang anak laki-laki sedang memukulinya.

Aku sudah akan melompat, menghajar anak laki-laki itu sebelum Naru menahan pukulan bocah itu dengan tangannya.

"Aku bukan monster!" desis Naru sambil mendorong tubuh bocah itu hingga terjungkal, lalu berbalik memukulinya.

"Nii-san bantu aku!" teriak bocah itu. Aku tak menyadari ada seorang genin yang berdiri di belakang mereka, rupanya ia adalah kakak dari bocah tadi. Ia menarik rambut pirang Naru dengan kasar agar Naru menghentikan pukulannya.

Cukup! Ini sudah keterlaluan!

BUKH! BRAK!

Genin yang menjambak rambut Naru terlempar menubruk pagar kayu setelah kuhadiahi dengan pukulan di wajahnya. Entah berapa buah giginya yang rontok.

"Pengecut! Beraninya hanya memukul perempuan," decihku kesal. "Sekali lagi kulihat kalian menyakiti Naru. Aku tak akan memaafkan kalian."

"S-siapa kau?" tanya anak laki-laki yang tadi memukuli Naru.

Kugenggam tangan Naru, menenangkannya. Lalu kutatap tajam anak laki-laki tadi. "Aku kakak Naru, Uzumaki Naruto. Ingat itu!"

Bocah itu mengangguk cepat kemudian membantu sang kakak yang sudah tak berdaya untuk berdiri.


"Tempat ini menyenangkan. Bagaimana kalau kita buat rumah di sini?" tanya Naru.

Aku tersenyum menanggapi pertanyaan Naru. "Uangku tinggal sedikit setelah membeli ladang ini. Aku harus tetap punya simpanan untuk kebutuhan makan kita."

Seandainya aku menguasai jurus elemen kayu, pasti dengan mudah bisa membangun rumah di sini.

Saat ini aku sedang duduk bersandar di pohon besar di ladangku. Sementara Naru memainkan kakinya di aliran sungai tak jauh dari tempatku berada. Ia terlihat tersenyum ceria seolah-olah melupakan apa yang terjadi beberapa saat lalu.

Beberapa luka goresan di wajahnya sudah kusembuhkan dengan bantuan chakra Kyuubi. Tapi biar bagaimanapun aku bukan ninja medis, jadi tidak bisa menyembuhkan luka di wajahnya dengan sepenuhnya.

"Naru?"

"Ya?" sahutnya.

"Apa kau sering dipukuli seperti tadi?" tanyaku dengan nada serius.

Naru yang awalnya menatapku, malah mengalihkan tatapannya ke aliran air jernih di hadapannya. "Sudahlah. Aku tidak apa-apa."

Dia menghindari pertanyaanku. Aku berjalan mendekati Naru, lalu duduk di sampingnya. Kedua kakiku yang saat ini tidak memakai sandal kumasukkan ke dalam aliran air sungai yang dingin, persis seperti apa yang dilakukan Naru. "Kau tak menjawab pertanyaanku. Aku bertanya apa kau sering dipukuli seperti tadi?" tanyaku kepada Naru, mengulang pertanyaanku sebelumnya.

Naru mengangguk lemah. "Tapi lupakan saja Nii-san, aku tidak apa-apa, sungguh."

Aku terkejut, polos sekali jawabannya. Ia tak sadar jika sebenarnya aku sangat marah mengetahui dirinya sering dipukuli. Hari ini ia beruntung karena aku menyelamatkannya. Lalu bagaimana dengan sebelum-sebelumnya? Tentunya dia hanya sendiri 'kan? Membayangkannya saja membuat hatiku sakit. Aku benar-benar merasa masa laluku kembali terulang oleh Naru.

Kedua tanganku mengepal kuat, "Kau tak bisa tinggal diam, jika dibiarkan mereka akan terus menindasmu sampai kapanpun."

Naru diam tak menanggapi apa-apa.

Aku menghela napas panjang, tidak ada pilihan lain. "Aku akan melatihmu agar kau bisa jadi Hokage secepatnya."

Sontak saja Naru langsung terkejut mendengar kata-kataku. "K-kau serius!?"

Aku mengangguk. "Kau berbeda denganku sewaktu kecil. Kau lebih perasa. Mulai sekarang jangan perlihatkan sisi lemahmu. Kau harus buktikan jika kau kuat. Berhentilah bersikap konyol di hadapan para penduduk. Tunjukkan pada mereka jika kau harusnya disegani. Dengan Kyuubi yang tersegel dalam tubuhmu, seharusnya mereka berterima kasih dan memperlakukanmu sebagai pahlawan desa. Bukan malah memperlakukanmu sebagai monster yang dijauhi."

Aku berdiri dan menatap Naru serius. "Jika aku melatihmu dari sekarang, aku yakin kau akan jadi ninja terkuat di Konoha. Semua penduduk akan sangat bergantung pada kekuatanmu. Jika kau bersungguh-sungguh, kau bisa jadi Hokage dalam 4-5 tahun. Sekarang aku bertanya padamu, apa kau siap jadi Hokage perempuan pertama Konoha?"

Tanpa ragu Naru segera berdiri. "Aku siap!" serunya.

Aku tersenyum puas. "Bagus, kau memang adikku," pujiku, dengan dibalas oleh cengiran Naru. "Untuk mengejar cita-citamu itu, tidak ada waktu untuk bersantai. Perhatikan baik-baik."

Aku berjalan ke tengah sungai. "Alirkan chakramu ke telapak kaki," ujarku sambil mempraktekkannya. "Lalu cobalah berdiri di permukaan air," lanjutku sambil berdiri di permukaan air.

Naru menatapku kagum. Dengan bersemangat ia mempraktekkan apa yang kucontohkan dan-

BYUUURRR!

-dia tercebur ke sungai.

"Ahahaha," aku langsung tertawa melihat Naru tercebur ke sungai hingga sekujur tubuhnya basah kuyup. Rambut pirang panjangnya menutupi sebagian wajahnya.

"Jangan tertawa!" renggutnya kesal.

Aku akhirnya menahan tawaku dengan susah payah.

"Aku akan menguasainya sebelum matahari terbenam!" seru Naru saat menyadari aku masih saja belum bisa sepenuhnya menahan tawaku.

Di balik tawaku sore itu, aku sadar perjalanan kami masih panjang. Tapi melihat Naru yang berusaha keras membuatku sedikit tenang. 'Aku yakin kau akan tumbuh jadi shinobi yang kuat dan akan jadi Hokage. Berusahalah, Naru,' ucapku dalam hati.

Aku juga akan berusaha di sisimu. Berusaha jadi kakak yang baik untukmu. Meski aku tahu aku belum pernah jadi seorang kakak sebelumnya, tapi aku akan berusaha semampuku. Aku sudah rela meninggalkan duniaku sendiri demi menemanimu, jadi tak ada alasan untuk menyia-nyiakan kesempatan ini.

To Be Continue…


© rifuki