Naru – Part 1
"Sister Complex"
Konoha 2, 1 tahun setelah perpindahan dimensi
Dilihat sekilas aku dan Naru memang mirip, baik dari fisik maupun mental. Namun hari demi hari aku hidup bersamanya, kemiripan itu semakin semu. Hari demi hari semakin banyak kutemukan perbedaan di antara kami.
Fisik Naru mulai menunjukkan jati dirinya sebagai perempuan. Wajahnya tidak lagi bulat, tapi melancip seiring tiga pasang tanda lahir di pipi yang semakin memudar. Rambut pirangnya kini sudah mencapai punggung. Rambutnya yang dibiarkan tumbuh itu terlihat cocok dengannya karena tinggi badannya pun semakin bertambah. Hal yang tak luput dari perhatianku adalah kemampuan Naru dalam hal kontrol chakra dan stamina yang dimilikinya. Kontrol chakra Naru nyaris sempurna, meski tak sesempurna klan Hyuuga, tapi yang jelas berada jauh di atasku saat seusia dengannya. Berbanding terbalik dengan stamina Naru yang ternyata berada di bawahku. Tapi sekecil-kecilnya stamina seorang Uzumaki, tetap saja masih di atas rata-rata orang biasa.
Ingat saat Naru berlatih berdiri di atas air?
Dulu aku membutuhkan waktu sehari untuk menguasainya, tapi Naru hanya membutuhkan waktu 1 jam!
Dia tak berbohong saat bilang akan mengusai teknik itu sebelum matahari tenggelam. Aku hanya bisa tercengang kala itu. Apalagi saat mengingat betapa sulitnya aku menguasainya dulu.
Begitu juga saat kuajarkan Kage Bunshin no Jutsu, Naru langsung bisa mempraktekkannya dalam 1 kali percobaan. Aku salut pada kemampuannya membagikan chakra ke seluruh bunshin-nya secara merata. Satu saja kekurangannya, yaitu Naru hanya bisa membuat dua per tiga dari total jumlah bunshin yang bisa kubuat saat seusianya.
Setiap sore kami berlari mengelilingi desa dan sparing untuk melatih stamina Naru. Persis seperti yang sering dilakukan Lee dan Guy-sensei. Itu merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan stamina dan taijutsu Naru sedikit demi sedikit. Karena itulah, setahun terakhir ini aku fokuskan latihan Naru pada peningkatan stamina.
Di sisi mental, Naru lebih dewasa dari pada aku dulu. Nampaknya ia menurutiku untuk mengurangi sifat konyolnya. Terbukti ketika aku menjemputnya ke kelas untuk mengikuti ujian genin lebih awal. Aku ingat bagaimana cibiran dan tatapan menganggap remeh yang diberikan teman-teman sekelas Naru. Saat itu Naru tak terpancing emosi dan mengacuhkan mereka sambil terus berjalan ke luar ruangan.
Naru yang saat itu sudah menguasai Kage Bunshin no Jutsu tentu tak mendapatkan kesulitan saat ujian. Karena biar bagaimanapun Kage Bunshin no Jutsu level-nya berada di atas Henge no Jutsu yang seharusnya diujikan.
Aku tertawa puas saat melihat tatapan tak percaya teman-teman Naru 1 jam setelahnya saat melihat Naru sudah mengenakan protector Konoha yang ia pasang di leher. Hebatnya, lagi-lagi aku tak melihat sedikit pun aura kesombongan di wajah Naru. Itu merupakan pertanda yang bagus. Ia tak tinggi hati meski memiliki kekuatan di atas teman-temannya.
Naru lulus akademi di umur tepat 11 tahun, termuda di angkatannya. Ia bilang itu adalah hadiah ulang tahun terindah dalam hidupnya.
Tapi Naru tetaplah Naru. Saat kami hanya berdua, ia akan memperlihatkan sifat manjanya padaku. Terkadang ia masih ingin ditemani tidur dengan alasan tak bisa tidur, seperti sekarang ini.
Aku tak keberatan. Sungguh. Malah kalau boleh jujur, aku menikmati ini. Secara tidak sadar bukan hanya aku yang mengobati kesepian Naru, tapi juga sebaliknya. Kini hari-hariku selalu diisi dengan keceriaan Naru yang tak hentinya membuatku terhibur.
Kutarik selimut hingga menutupi setengah badan Naru. Lalu kuperhatikan wajah adikku yang sedang tertidur itu. Wajahnya begitu polos, membuatku semakin ingin melindunginya.
"Selamat tidur," bisikku, diakhiri dengan mengecup puncak kepala Naru, lalu berbaring di sampingnya.
Besok adalah hari yang cukup menantang, dimana Naru mendapatkan misi pertama bersama tim barunya.
Naru terlihat gagah sekali pagi itu. Ia memakai jaket orange mirip denganku, dengan alasan ingin sepertiku. Berbeda denganku dulu yang sebenarnya memakai jaket berwarna orange mencolok karena ingin menarik perhatian orang. Kantung kunai ia simpan di paha, sedangkan kantung shuriken dan peralatan ninja lain disimpan di pinggang bagian belakang. Protektor konoha ia letakan di leher, persis seperti yang (akan) dilakukan Hinata. Rambut pirangnya tetap ia ikat dengan gaya twintails seperti biasanya.
Belakangan aku baru tahu jika jounin yang ditugaskan manjadi guru Naru adalah Yamato. Aku tak terlalu kaget mendengarnya, ini pasti perintah Hokage Ke-3. Ia menugaskan mantan ANBU itu agar tetap mendapatkan kabar terbaru dari Naru serta apa saja hal yang kulakukan padanya. Dengan pengalaman sebagai anggota ANBU, tentu tugas itu cocok bagi Yamato. Hal kedua yang kuduga menjadi pertimbangan Hokage Ke-3 adalah karena kemampuan Yamato dalam mengontrol chakra Kyuubi. Setidaknya jika Naru kehilangan kontrol terhadap chakra Kyuubi, ada Yamato yang siap menanganinya.
Cih, sepertinya pak tua itu masih belum mempercayaiku sepenuhnya. Aku tak akan membiarkan Naru kehilangan kontrol atas dirinya. Dikuasai chakra Kyuubi adalah mimpi buruk. Tubuhmu rasanya terbakar dan kau tak bisa berbuat apa-apa. Tentu aku tak akan membiarkan Naru tersiksa seperti itu.
Dalam misi pertama Naru hari ini, ia sudah langsung memperlihatkan kemampuannya. Naru dengan berani melawan 2 perampok bersenjata. Ada kesalahan prediksi dalam misi ini, awalnya misi kelas C, tapi berubah jadi B saat tiba-tiba muncul perampok bersenjata. Rasanya seperti de javu.
Naru tetap tenang saat itu. Ia terlihat lebih superior dari 2 teman satu timnya yang lebih tua 2 tahun. Namun Naru tetap mempertahankan sifat ramah dan cerianya sehingga 2 temannya tidak merasa iri. Justru mereka bersyukur karena satu tim dengan Naru.
Dari kejauhan, aku tersenyum puas. Rasa cemasku yang kurasakan sejak pagi ini perlahan menghilang. Kesamaan area hutan antara Konoha dan Konoha 2 membuatku tahu jika sekarang Naru dan timnya sudah dekat ke perbatasan desa. Daerah ini sudah termasuk daerah aman sehingga aku tak perlu khawatir lagi.
"Mengikuti kami dari mulai berangkat misi sampai pulang, kau perhatian sekali kepada adikmu," clone Yamato muncul dengan elemen kayunya di pohon sebelah kananku.
Aku tak merespon, karena kupikir tak perlu merespon kalimatnya yang hanya berupa pernyataan.
"Kau melatihnya dengan baik," lanjut Yamato. Kini ia sudah dalam wujud manusia sempurna dan berdiri di hadapanku. "Responnya cepat dan tidak panik menghadapi keadaan darurat."
"Tentu saja," ujarku singkat pada pewaris gen Hashirama tersebut. "Aku titip Naru," ujarku mengakhiri percakapan. Kupikir, tak ada yang harus dibicarakan lagi.
Lalu aku ingat sesuatu. "Sampaikan pada Hokage Ke-3 untuk tak terlalu curiga padaku. Sudah kubilang aku tak akan berbuat hal aneh pada adikku sendiri."
Bersamaan dengan itu aku membuat segel Hiraishin no Jutsu untuk kembali ke desa. Sebelum aku lenyap, aku masih bisa melihat Yamato yang mengangguk pelan mendengar ucapanku.
Alur kehidupan Naru yang telah berubah total berefek pada satu lagi sisi positif yang dimiliki Naru, yaitu kepintaran. Kuperhatikan insting bertarungnya mulai tumbuh. Tapi dia tetap tak bersikap sok pamer pada 2 teman satu timnya. Naru sadar dirinya lemah di sisi stamina. Dalam setiap misi dia tidak terlalu eksplosif mengeluarkan tenaganya, tapi lebih dikombinasikan dengan strategi yang matang. Misalnya membagi tugas dengan kedua temannya yang lebih hebat dalam genjutsu dan taijutsu.
Itulah yang membuatku tak ragu untuk mengajarkan jurus lain yang lebih hebat, yaitu Rasengan.
Apalagi kudengar ada Internal Chuunin Exam yang akan diadakan Konoha tahun depan. Internal Chuunin Exam adalah ujian chuunin yang hanya diadakan di desa dan tidak mengundang peserta dari desa lain. Biasanya ujian itu hanya ditujukan untuk genin yang lulus cepat, atau untuk genin yang sudah pernah mengikuti ujian chuunin tapi tidak lulus. Materi yang diujikannya sama saja. Ujian tertulis, survival di Hutan Kematian dan duel satu lawan satu antar sesama genin.
Jika Naru bisa menguasai Rasengan, termasuk jurus-jurus perkembangannya seperti Odama Rasengan dan Rasen Shuriken, aku akan menawarkannya untuk mengikuti ujian chuunin.
Sekarang akan kuajarkan Rasengan biasa dulu kepada Naru.
"Hebaaaaatt," seru Naru saat melihat pancaran energi di telapak tanganku yang tak lain adalah Rasengan.
"Ini adalah jurus yang dibuat oleh Hokage Ke-4. Aku membutuhkan waktu seminggu untuk menguasainya dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkannya ke dalam berbagai bentuk."
"Wah, lama juga ya," gumam Naru. Wajar saja, selama ini ia hanya menguasai jurus-jurus dalam hitungan hari.
Aku tersenyum sesaat sambil mengusap pelan kepala Naru. "Tenang saja. Aku tahu cara untuk mempersingkat latihanmu. Aku sudah melihat kemampuan kontrol chakra-mu serta kemampuanmu membuat bunshin. Untuk mempersingkat latihanmu, kau akan berlatih dengan menggunakan bunshin."
Kening Naru berkerut, tanda kebingungan.
Aku terkekeh, lalu mundur beberapa langkah. "Kurasa lebih baik jika langsung dipraktekan saja agar kau mengerti."
Kubuat satu bunshin dan menyuruh Naru melakukan hal yang sama. Setelah itu bunshin-ku mengajak bunshin Naru pergi ke pojok terjauh lapangan berlatih tempat kami berada sekarang. Jarak sejauh ini membuat kami tak tahu apa yang sedang dilakukan bunshin-bunshin kami di pojok sana.
Tak lama kemudian bunshin kami lenyap, diikuti dengan suara gelak tawa Naru.
"Hahahahahhaaaa!"
"Kau tahu apa yang terjadi di sana?" tanyaku.
Naru mengangguk sambil berusaha mengusap air mata yang keluar dari matanya, saking puasnya tertawa. "Bunshin-mu bercerita, kemarin saat kau menjual sayuran hasil panen ke Ichiraku, kau ditawari bekerja disana. Tapi mereka membatalkannya karena kau tak meminta gaji, melainkan voucher 'gratis ramen sepuasnya' setiap hari."
"Ya, Ayame dan Teuchi-san serentak membatalkan tawaran mereka. Dengan selera makanku yang besar, aku yakin mereka akan bangkrut," kataku ikut tertawa. "Baiklah, apa kesimpulan yang bisa kau ambil dari kejadian tadi, Naru?"
"Umm.." Naru berpikir sejenak. "Kita akan tahu apa pun yang dilakukan bunshin?"
"Tepat sekali! Ingatan bunshin akan kembali ke pemiliknya saat ia lenyap. Jika diterapkan pada latihan, ini akan sangat berguna. Kau akan berlatih menggunakan beberapa bunshin untuk mempersingkat latihanmu yang awalnya membutuhkan waktu lama. Saat kau melenyapkan semua bunshin-mu, maka semua ilmu serta hasil latihan yang telah dipelajari bunshin-mu akan masuk ke dalam tubuhmu, tak terkecuali rasa lelah, tekanan, dan stres yang dirasakan masing-masing bunshin-mu. Karena itulah, dengan kemampuanmu yang sekarang, aku hanya mengizinkanmu membuat 10 bunshin untuk berlatih menggunakan metode ini. Maksimal kecepatan berlatih yang didapat akan menjadi 11 kali lipat. Jika kau berlatih 2 jam, ditotalkan dengan bunshin-mu jadi 22 jam. Itu hampir setara dengan seharian berlatih secara non stop," jelasku panjang lebar.
"Wah hebat sekali," serunya dengan mata yang berbinar. Naru makin semangat sekarang.
"Jangan senang dulu," ujarku. "Seperti kubilang tadi, rasa lelah dan stres yang kau dapatkan juga akan 11 kali lipat. Kau harus ingat itu."
Naru mengangguk pertanda mengerti. Ia memang cepat dalam memahami setiap penjelasan yang kuberikan.
Naru lalu membuat 10 bunshin sesuai dengan yang kuperintahkan. Metode yang kugunakan dalam latihan ini adalah metode yang pernah diajarkan Ero-Sennin dulu padaku.
Pertama adalah memecahkan balon berisi air dengan memutar air ke berbagai arah. Kedua adalah memecahkan bola karet solid memakai kekuatan/power. Ketiga adalah menggabungkan kedua teknik sebelumnya, yaitu menggabungkan kekuatan putaran dan tekanan sehingga bisa memecahkan balon tanpa sedikit pun menggerakkan balon tersebut.
"Perhatikan, kumpulkan energi dalam telapak tanganmu lalu putar air di dalamnya ke berbagai arah sampai…"
SPLASH!
Balon berisi air itu pecah.
"Coba kau lakukan sendiri," perintahku.
Naru kembali mengangguk bersemangat. Ia mengambil balon berisi air yang sudah kusediakan dan berusaha memecahkannya.
Sepuluh menit pertama Naru dan kesepuluh bunshin-nya terlihat semangat. Namun menit-menit selanjutnya ia baru sadar kalau memecahkan balon itu tak semudah yang ia kira. Aku tersenyum melihat wajah serius Naru. Ini memang jurus yang cukup sulit, butuh waktu banyak untuk menguasainya.
Aku menoleh ke arah ladangku. Kulihat ladangku sudah bersih dari tanaman liar, sudah disiram, dan hasil panennya sudah kujual ke Ichiraku dan ke pasar tadi pagi. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan sekarang. Rasanya aku bisa tidur siang dulu sambil menunggu Naru latihan.
Aku duduk bersandar di pohon besar, di sisi utara ladangku. Angin sejuk yang berhembus siang itu berhasil memanjakanku hingga terlelap di sana.
"… jangan putar air ke satu arah, tapi ke berbagai arah…"
"… ya, seperti itu. Semakin banyak arah putaran semakin bagus…"
Sayup-sayup kudengar suara seseorang yang sangat familiar dalam tidur siangku yang nyaman. Kemudian aku sadar suara itu bukan mimpi, tapi suara dari arah lapangan berlatih. Kubuka kedua mataku dan kulihat-
"Ero-sennin!" teriakku saat melihat sang petapa genit sedang berada di dekat Naru, memegang kedua tangannya. Rasa kantukku langsung hilang, segera saja aku berlari mendekati mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" tanyaku ketus sambil menarik tangan Naru dari genggaman Ero-Sennin.
"Hanya sedang melihat-lihat," kilahnya.
Mataku menyipit, mendeteksi kebohongan dari orang termesum yang kukenal itu.
"Baiklah, memang bukan itu tujuan awalku. Sebenarnya aku ingin bicara denganmu," kata Jiraiya akhirnya.
Mengajakku bicara? Tidak biasanya. Sepertinya ada hal penting, maka tak ada salahnya aku memberinya waktu untuk bicara. Apalagi tak bisa dipungkiri aku merindukan Ero-Sennin di duniaku. Melihatnya di hadapanku sekarang membuat rasa rinduku sedikit terobati, meskipun sudah jelas mereka 2 orang yang berbeda.
"Kau mau istirahat, Naru?" tanyaku kepada Naru.
Naru menggeleng. "Pak tua yang kau sebut Ero-Sennin itu sudah mentraktirku ramen."
"Siapa yang kau panggil pak tua Ero-Sennin?!" tanya Jiraiya kesal. Naru hanya terkekeh menanggapinya. "Aku sudah mentraktirmu 3 mangkuk ramen, jadi panggil aku dengan sebutan yang kuminta."
"Baik Jiraiya-sama," kata Naru, mengoreksi panggilannya kepada Jiraiya.
Kupandang Naru dan Ero-Sennin bergantian. "Sepertinya aku tertidur cukup lama sampai kalian bisa seakrab ini. Naru, kembalilah berlatih, ada yang ingin kubicarakan dulu dengan Ero-Sennin."
"Ugh, gara-gara kau aku yakin Naru akan memanggilku dengan nama itu mulai sekarang."
Aku tak pedulikan ocehan Jiraiya dan mengisyaratkan padanya untuk mengikutiku ke dekat pohon tempatku tidur tadi. "Jadi, apa yang akan kau bicarakan?" tanyaku to the point.
"Hmm, enaknya mulai dari mana ya?" Jiraiya bersila di hadapanku, satu telunjuknya disimpan di dagu, berpikir. "Yang jelas Hokage Ke-3 sudah memberitahuku semuanya," lanjutnya.
Aku menghela napas pelan. Kusimpan kedua tangan di belakang kepala lalu bersandar di pohon. Biarpun aku memberitahukan Hokage Ke-3 untuk menjaga rahasiaku, tapi ia pasti menceritakannya kepada Ero-Sennin karena perannya cukup penting dalam kasus ini. Ero-Sennin menjadi salah satu saksi hidup yang tahu siapa sebenarnya Naru, serta apa yang dilakukan Hokage Ke-4 padanya.
"Rasengan, huh?" gumam Ero-sennin, pandangannya lurus ke arah Naru.
"Ya. Familiar dengan metode pelatihan itu?" tanyaku penasaran.
"Tentu, itu metode yang kurancang sendiri untuk menguasai Rasengan."
"Hn. Ero-Sennin di duniaku juga mengajarkan Rasengan padaku dengan metode itu. Bahkan sampai sekarang pun selalu kuingat."
Untuk beberapa saat hening tercipta, tak ada yang bicara, sebelum akhirnya Jiraiya yang memulai percakapan.
"Kau tahu Naruto? Sebenarnya tujuanku ke sini karena ingin mengangkat Naru jadi muridku, lalu mengajarkan teknik itu padanya. Kemarin memang Hokage Ke-3 yang meminta. Tapi sejak dulu, aku memang sempat berpikir untuk menjadi guru dari anak Minato."
"Maaf. Aku tak akan membiarkanmu jadi gurunya," jawabku tanpa basa-basi.
"Kenapa?"
"Kau mesum. Aku tak mau kau berbuat sesuatu yang aneh pada adikku."
"Ahahaha. Aku tahu bukan itu penyebabnya. Pasti karena kau lebih hebat dariku. Jiraiya di duniamu sudah mati 'kan?"
Deg! Aku yang dari tapi tak terlalu serius menanggapi pembicaraan ini langsung tertegun begitu mendengar kata-kata terakhir Jiraiya. "Dari mana kau tahu?"
"Buku itu." Jiraiya menunjuk sebuah buku yang tergeletak di rumput, di sampingku. "Kisah Ninja Pemberani. Itu buku karya terbesarku dan belum ku-publish kemana pun. Jika buku itu ada padamu, ada dua kondisi yang bisa membuatku memberikan buku itu padamu. Aku, maksudku Jiraiya di duniamu telah menyelesaikannya atau kemungkinan kedua dia sudah mati. Karena buku ini sangat berharga, aku yakin dia tak akan menyerahkannya secara sembarangan padamu. Maka sudah pasti dia mati dan ia ingin kau mengetahui isinya."
Aku tak tahu harus merespon bagaimana. Jiraiya di sini maupun di duniaku sama-sama pintar hingga bisa menganalisis sedetail itu. Hal kedua yang membuatku diam adalah… aku tak enak kepada Jiraiya di hadapanku. Bagaimana perasaannya ketika ia tahu ia akan mati?
Kuperhatikan ekspresi wajah Jiraiya. Ternyata ia masih terlihat cuek seolah tanpa beban. Ia malah melanjutkan perkataannya.
"Naruto, aku tak tahu seburuk apa kehidupanmu dulu. Aku hanya ingin memastikan satu hal, jika sifatku dan 'Jiraiya' di duniamu sama, aku yakin dia tak akan mengajarkanmu Rasengan di umur 11 tahun. Lalu kenapa sekarang kau mengajarkan Naru Rasengan secepat ini? Dia masih muda dan Rasengan itu jurus tingkat A yang terlalu berbahaya untuk anak seusianya. Belum lagi dengan penggunaan banyak bunshin untuk berlatih. Bagaimana jika ia tak kuat dan Kyuubi menguasai dirinya?"
"Dengar, bukan bermaksud meremehkan. Aku menghormati Ero-Sennin di duniaku sampai sekarang. Tapi dulu dia terlalu berhati-hati dalam melatihku, aku berguru padanya dan selama 2,5 tahun aku tak mempelajari jurus baru. Yang kudapat hanya peningkatan di sisi kecepatan. Sisanya aku disuruh membaca novel mesum. Padahal jika dipikir baik-baik, waktu 2,5 tahun itu sudah lebih dari cukup untuk mempelajari berbagai jurus baru. Belakangan aku baru tahu kalau latihan selama 2,5 tahun itu hanya untuk menjauhkanku dari Akatsuki. Aku tak ingin mengulangi kesalahan Ero-Sennin. Potensi Naru sangat besar. Dia berbeda denganku saat seusianya. Dia lebih kuat, pintar, dan lebih sadar akan kemampuannya sendiri. Lagipula jika Naru berada di luar kendali, aku dan Kurama akan turun tangan. Aku ingin ia segera mencapai cita-citanya jadi Hokage agar semua penduduk menghargainya."
Raut wajah Jiraiya berubah serius dan menatapku tepat di mata. "Jangan terlalu mencap penduduk dan Hokage salah hanya karena Naru tidak dihargai di desa ini. Banyak orang yang peduli padanya, aku, para tetua desa, dan terutama Hokage Ke-3. Dia sayang pada anak itu lebih besar dari yang kau kira. Kau hanya terlalu over protektif padanya."
Aku kembali tertegun. Apa iya aku terlalu over protektif terhadap Naru?
Jiraiya berdiri, bersiap untuk pergi. "Aku tak akan bersikeras melatih Naru jika kau tak mengizinkan. Lagipula kau juga seorang Jinchuuriki, jadi lebih cocok jadi guru Naru. Hanya satu yang ingin kutekankan padamu. Setiap perubahan dalam kehidupan seseorang akan berpengaruh pada masa depannya, sekecil apapun perubahan itu. Kau telah merubah alur kehidupan Naru selama setahun terakhir ini. Sekarang kehidupannya baik-baik saja tapi siapa yang tahu mungkin akan memunculkan masalah yang besar suatu hari nanti. Kuharap kau sadar akan hal itu."
Sebelum pergi, Jiraiya melempar sebuah gulungan besar.
"Itu gulungan kontrak. Suruh Naru mengikat kontrak dengan salah satu kodok. Suatu saat dia pasti akan membutuhkannya. Dan kurasa kau juga perlu, kau tak bisa memanggil kodok dari duniamu ke sini 'kan?"
Setelah itu Jiraiya menghilang dalam kepulan asap. Kata-katanya tadi benar-benar membuatku berpikir.
DHUAR!
Kudengar bunyi ledakan dari arah lapangan berlatih. "Naru?!"
Nampaklah Naru sedang terduduk di tanah dengan tanah di sekitarnya yang hancur berbentuk seperti kawah kecil. "Aku berhasil," ujarnya ceria, tapi rasa lelah masih bisa kulihat dalam ekspresinya. "Sayangnya belum bisa kukontrol dengan baik. Aku yakin bisa menguasainya sebentar la-"
"Cukup!" seruku sambil memegang kedua pundak Naru.
"Eh?" Naru terlihat bingung.
Lalu tiba-tiba kupeluk badan Naru. "Cukup," bisikku. "Hari ini kau sudah cukup berusaha keras. Istirahatlah, masih ada hari esok."
"Nii-san? Kau kenapa?" tanya Naru dalam pelukanku, ia bingung dengan tingkahku yang tak biasa ini.
Aku menggeleng pelan, sambil mempererat pelukanku di badan mungil Naru. "Tidak apa-apa. Aku hanya sudah lama tidak memelukmu seperti ini."
Tanpa melihat pun aku tahu Naru sedang tersenyum senang sekarang. Terbukti dari kedua tangannya yang ia lingkarkan di badanku, membalas pelukans.
Aku tak peduli jika Ero-Sennin menyebutku over protektif, sister-complex atau apa pun itu. Ia tak akan mengerti rasa takut yang kurasakan. Rasa takut kehilangan keluarga yang sejak dulu aku inginkan. Sejak aku lahir aku selalu sendiri, sekarang sudah ada Naru di sisiku. Aku tak ingin sendiri lagi, aku yakin Naru juga merasakan hal yang sama. Waktu setahun telah cukup membuat kami tahu arti pentingnya keluarga. Rasa sayang kami sudah semakin kuat terbentuk sampai pada titik yang membuat kami tak ingin kehilangan satu sama lain.
Aku tak peduli jika aku sudah merubah alur kehidupan Naru. Yang penting kami bisa bersama. Jika ada hal buruk menanti kami pun aku tak peduli selama kami bersama. Akan kulindungi dia dengan segenap kekuatanku.
To Be Continue…
© rifuki
