Naru – Part 2

"The Jounin Instructor"

Konoha 2, 2 tahun setelah perpindahan dimensi

"ODAMA RASENGAAAAAN!"

Naru menghantam tubuh seorang genin dengan rasengan yang sudah dikuasainya dengan sempurna. Mungkin bagi orang awam, ukuran rasengan milik Naru terlihat tak seimbang dengan fisiknya yang masih kecil. Tapi nyatanya Naru bisa mengendalikan pancaran bola energi yang berukuran tiga kali dari tubuhnya itu dengan baik.

Ini adalah babak final Internal Chuunin Exam, nampaknya Naru tak mau 'bermain-main' dan lebih memilih untuk langsung memperlihatkan kemampuan terbaiknya. Ujian diadakan di Konoha, tepatnya di lapangan berlatih akademi dan tertutup untuk umum. Seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya, ujian ini hanya diadakan di desa dan tidak mengundang peserta dari desa lain. Biasanya ujian ini hanya ditujukan untuk genin yang lulus cepat (seperti Naru), atau untuk genin yang sudah pernah mengikuti ujian chuunin tapi tidak lulus dan ingin mengikuti ujian ulang.

Naru dan dua teman satu timnya mendapatkan formulir pendaftaran ujian karena memang tim mereka termasuk tim yang paling banyak melaksanakan misi sehingga memenuhi kualifikasi. Kita ambil contoh Naru. Selama setahun terakhir, Naru sudah menyelesaikan 11 misi rank D, 6 rank C, 3 rank B, dan 9 rank A. Baik itu misi bersama timnya, misi solo, maupun misi bersama genin lain.

"Pemenangnya, Uzumaki Naruko!" teriak wasit setelah memastikan lawan Naru tak lagi bisa berdiri dalam hitungan 10 detik. Aku tersenyum dalam hati. Chuunin exam bagaikan permainan saja untuk Naru, begitu mudah dilewati. Padahal dulu aku harus mati-matian untuk memenangkan satu pertandingan saja.

"Kau membuntuti kami lagi, eh?" Pikiranku terusik oleh suara yang familiar, Yamato. "Ini Internal Chuunin Exam. Hanya peserta dan jounin pendamping yang diizinkan masuk menyaksikan pertandingan. Dasar kau siscon," cibir Yamato. Aku tertawa karena memang aku sendiri merasa sifat sister complex-ku makin parah akhir-akhir ini.

Saking seringnya membuntuti Naru, aku sampai hapal semua misinya. Aku juga hapal siapa teman-teman dekatnya, aku hapal ke mana saja biasanya dia main, bahkan aku hapal toko baju langganannya, lengkap dengan nomor baju yang dipakainya.

"Sampai kapan kau akan seperti ini?" tanya Yamato yang – seperti biasa – muncul di sampingku dengan tiba-tiba dalam bentuk elemen kayu.

Aku terdiam sejenak. Jujur saja aku sudah terlalu bosan menjawab pertanyaan seperti itu. Aku belum pernah menjadi kakak dan selalu hidup sendiri. Selama bersama Naru aku hanya mengandalkan instingku untuk berperan sebagai kakak. Aku hanya melakukan hal-hal yang menurutku benar. Terlepas dari itu 'benar' atau 'tidak' dilakukan menurut orang lain. Yang jelas, menurutku selalu mengawasi Naru adalah hal yang 'benar' untuk dilakukan.

"Entahlah sampai kapan aku seperti ini," ujarku pelan, lebih terdengar sebagai gumaman. "Aku seperti paranoid. Di mataku Naru adalah adik kecil yang harus selalu kulindungi. Aku tak ingin jauh darinya. Aku ingin pastikan dulu Naru cukup kuat untuk bisa menjaga dirinya sendiri."

"Cukup kuat katamu? Lihat dia." Yamato menunjuk Naru yang tengah bersorak di tengah lapangan merayakan kemenangannya. "Ayolah, dengan kemampuan Naru sekarang, bahkan aku saja merasa tak pantas jadi gurunya. Dia sudah hampir melampaui kekuatanku." Aku tak merespon, lalu Yamato yang kini sudah dalam wujud manusia duduk di kursi di sampingku. "Kau tak bisa terus-menerus seperti ini. Kau harus bisa melepas Naru."

"Ya, ya, aku akan berusaha," jawabku sekenanya. "Sekarang mana bayarannya? Bukankah kita pernah bertaruh kalau Naru bisa menguasai Odama Rasengan dalam waktu 1 tahun, kau akan membayarku?"

"Sial!" Yamato menepuk jidatnya sendiri. "Kupikir kau sudah lupa." Ia lalu merogoh kantongnya dan menyerahkan beberapa ratus ryo padaku.

"Ngomong-ngomong, tanpa menonton pun seharusnya kau sudah tahu jika Naru akan lulus ujian chuunin."

Aku tersenyum tipis. "Aku hanya ingin menjadi saksi di setiap momen berharga adikku," ujarku sambil membuat segel Hiraishin no Jutsu.


Kurang dari sedetik kemudian aku sudah ada di ladang yang telah menopang hidupku dan Naru selama 2 tahun ini. Tempat yang sejuk, penuh degan tanaman hijau, dan merupakan tempat yang cocok untuk menghabiskan hari, bahkan jika dibanding dengan apartemen kami sekali pun.

Namun sore itu ada yang berbeda, ada dua orang yang menarik perhatianku.

"Sedang apa kalian di sini?" Kulihat Hokage Ke-3 dan Jiraiya sudah menungguku di depan gubuk peristirahatan. Sebenarnya kalau Hokage Ke-3 tak terlalu mengherankan ada di sana karena memang dia sudah sering datang untuk menengok Naru. Yang cukup mengherankan adalah kenapa ada Jiraiya di sini? Kabar terakhir yang kudengar ia sedang 'mencari inspirasi' ke luar desa.

"Bisa kita bicara sebentar, Naruto?" tanya Hokage Ke-3 dengan suaranya yang serak.

Hanya satu kemungkinan hal yang akan dibahas jika dengan nada serius seperti ini, yaitu Naru. Maka aku pun mengerti dan tak banyak basa-basi. "Kelihatannya serius. Apa tidak sebaiknya kita bicarakan di apartemen?"

"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memberikan ini." Hokage Ke-3 memberikan secarik kertas padaku.

"I-ini…" Aku tak mampu melanjutkan kalimatku saking kagetnya membaca tulisan di kertas yang diberikan Hokage Ke-3.

"Kita memang tak punya pilihan, Naruto." Kali ini Jiraiya yang angkat bicara. "Untuk tahap awal, kau bisa melatihnya Sage Mode. Itu cocok untuk melatih kesabaran dan ketenangan. Gunakan gulungan kontrak yang tempo hari kuberikan padamu untuk mengikat kontrak dengan kodok di Myoubokuzan."

"Kami tak punya pilihan lain selain mengikuti rencanamu. Kau sudah membawa kehidupan Naru jauh ke arah yang tak kami bayangkan sebelumnya. Kami tak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Naru. Kami juga tak ingin ketinggalan merawat orang yang sudah kami anggap seperti keluarga. Suruh Naru menghadapku jika dia sudah siap," kata Hokage Ke-3 dengan nada serius.

Apa aku tak salah dengar? Meski tak dikatakan secara jelas, tapi dari kata-katanya aku bisa mengartikan kalau Hokage Ke-3 menyetujui rencanaku untuk menjadikan Naru sebagai Hokage!

Mendengar kata-kata Hokage Ke-3 yang panjang lebar itu membuatku sadar kalau aku bukan satu-satunya orang yang menyayangi Naru. Bahkan bisa dibilang kalau aku ini hanya seorang 'pendatang baru dari dunia lain' yang datang di kehidupan Naru, merubah kehidupannya, tanpa tahu apakah yang kulakukan ini benar atau salah.

Sejak awal orang yang peduli pada Naru (di Konoha 2) adalah Hokage Ke-3 dan Jiraiya. Hanya saja mereka tak terlalu memperlihatkannya, mereka menunjukkannya dengan cara mereka masing-masing.

Aku tak tahu harus bicara apa. Mereka mau mengikuti rencanaku saja aku sudah senang. Kini aku punya hadiah untuk ulang tahun ke-12 Naru esok hari.

"Terima kasih." Hanya itulah kalimat yang terlontar dari mulutku saat itu.


"Selamat ulang tahun Naruto-Niisan!" seru Naru ceria saat pagi-pagi aku membuka pintu dapur. Kulihat Naru sedang berdiri dengan sebuah kue ulang tahun di tangannya. Noda krim di pipinya serta noda tepung di beberapa bagian pakaiannya membuatku sadar kalau-

"Kau membuat kue ini sendiri?" tanyaku memastikan. Setahuku Naru paling malas kalau disuruh memasak makanan.

Naru mengangguk dengan cengiran khas yang tak lepas dari wajahnya. Ukuran kuenya memang tak bisa dikatakan besar, mungkin diameternya hanya 20 cm, tapi tetap saja membutuhkan waktu banyak untuk membuatnya.

Sekarang baru jam 8 pagi. Itu artinya Naru membuat kue dari dini hari.

"Bukankah kau disuruh istirahat pasca Chuunin Exam?" tanyaku heran.

"Aku malas, lebih baik membuat kue ini," jawabnya tanpa dosa.

Ck, tidak istirahat setelah exam adalah tindakan bodoh. Tapi mau bagaimana lagi? Tak ada gunanya marah. Lagipula aku memang paling tak bisa kalau harus memarahi Naru.

"Baka Imouto! Naik level jadi chuunin tidak berarti kau tak butuh istirahat. Bukannya istirahat, kau malah membuat kue," ujarku agak kesal. Kuambil kue di tangan Naru dengan sedikit paksaan.

"Hei-"

"Ada yang salah dengan kuenya," ujarku tanpa mempedulikan protes Naru. Di kue itu tertulis 'Happy birthday Naruto-Nii'. Lalu kutambahkan tulisan '& Naru-chan' di kue dengan krim berwarna orange. Saat itu barulah Naru tersenyum mengerti dan menghentikan aksi protesnya.

Sekarang aku yang memegang kue, dengan posisi Naru yang berada tepat di hadapanku.

"Selamat ulang tahun juga Naru-chan," ucapku, lalu kukecup pipi kiri Naru. Tinggi Naru yang baru mencapai sepundakku membuatku agak membungkuk saat melakukannya. "Jangan lupakan ulang tahunmu sendiri."

Naru terkekeh geli dengan pipi yang merona.

"Ayo kita tiup lilinnya bersama-sama," ajakku.

Naru mengangguk semangat. Kurendahkan posisi kue untuk menyesuaikan tinggi Naru.

"Siap?"

"Siap!"

"1… 2… 3…"

"Fuuhhhh…"

Lilin-lilin kecil yang berjumlah 10 itu akhirnya padam setelah kami tiup bersama-sama. Kami memejamkan mata sejenak, mengucapkan harapan kami masing-masing. Harapanku tidak muluk-muluk, aku berharap semoga aku bisa jadi kakak yang baik bagi Naru dan bisa selalu berada di sampingnya ketika ia membutuhkanku.

Untuk harapan Naru? Aku tentu tak tahu. Ia memejamkan matanya cukup lama saat itu. Hingga memberiku cukup waktu untuk memotong kue menjadi 6 potongan kecil. Lalu kumakan potongan pertama dengan lahap.

"Bagaimana rasanya? Enak?" tanya Naru.

"Rasanya lumayan untuk seorang pemula," pujiku.

Naru tersenyum lalu bergabung duduk bersamaku di meja makan dan memakan potongan kue ke-2.

"Jadi, bagaimana menurutmu Chuunin Exam kemarin?" tanyaku basa-basi, padahal aku sudah tahu bagaimana ceritanya dari awal sampai akhir.

"Sukses, seperti biasanya," jawab Naru tanpa menaruh curiga sedikit pun padaku. Setelah itu Naru menceritakan bagaimana kehebatannya mengalahkan lawan dengan bumbu-bumbu hiperbola di sana-sini. Sesekali aku tertawa menanggapi gaya ceritanya yang menurutku lucu. Dia memang persis sepertiku ketika kecil, selalu bersemangat ketika bercerita, khususnya ketika menceritakan suatu pengalaman baru.

Di akhir cerita Naru, aku memberikan hadiah ulang tahun untuknya berupa kertas yang kemarin Hokage Ke-3 berikan padaku. Kurasa ini akan jadi hadiah ulang tahun yang hebat.

"Surat rekomendasi ujian jounin?! Ini serius?!" tanya Naru tak percaya saat membaca tulisan di header kertas tersebut. Naru menatapku dan kertas di tangannya bergantian. Berkali-kali ia membaca ulang tulisan di kertas, tapi isinya memang sebuah surat rekomendasi ujian jounin.

"Ya. Kemarin Hokage Ke-3 yang memberikannya padaku. Ia bilang kemampuanmu sudah terlalu tinggi jika dikategorikan chuunin. Kau hanya akan mengacaukan standar kemampuan chuunin lain di Konoha. Kau terlalu kuat sementara chuunin lain kekuatannya berada di bawahmu. Karena itulah kau sebaiknya segera naik tingkat jadi jounin."

Senyum di wajah Naru makin mengembang. Jika ia berhasil lulus ujian jounin, maka ia akan selangkah lebih dekat menuju cita-citanya menjadi Hokage. Namun sebelum Naru terlanjur menggantung harapannya terlalu tinggi, kujelaskan padanya apa saja yang diperlukan untuk menjadi seorang jounin. Ujian jounin tidak difokuskan pada fisik atau kekuatan, melainkan pada mental para shinobi. Seorang jounin akan diarahkan untuk menjadi seorang pemimpin karena kelak mereka akan membimbing shinobi lain di tingkat bawah (genin dan chuunin).

Karena itulah, rencana latihan Sage Mode yang disarankan Jiraiya merupakan awal yang baik untuk melatih kesabaran Naru. Barulah setelah itu aku akan mengajarkan hal lain.


Lama-kelamaan obrolan kami semakin serius dan kurasa hari ulang tahun tidak cocok diisi dengan hal-hal yang terlalu serius. Maka aku berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Naru, bagaimana pesta yang kemarin sempat kau rencanakan?" tanyaku.

Naru langsung ingat pada permintaannya kemarin padaku. Ia meminta izin untuk mengadakan pesta ulang tahun kecil-kecilan di apartemen bersama timnya. Hanya sekedar makan malam sekaligus merayakan kelulusan mereka sebagai chuunin.

"Oh iya aku baru ingat. Jadi bagaimana? Apa kau mengizinkan?" tanya Naru dengan muka memelas.

Aku kemudian tersenyum, tidak ada alasan untuk menolak. "Tentu saja, sayang. Kalian bertiga pasti akan jarang bertemu mulai sekarang. Bagaimana kalau kita mulai menyiapkan makanan?"

"Okay!"

Setelah itu kami sibuk menyiapkan makanan untuk pesta Naru.

Aku sudah akrab dengan dua teman se-tim Naru karena ia sudah sering mengajak mereka ke apartemen. Yang pertama adalah Ken. Bocah laki-laki Half-Chinese itu berumur 14 tahun dengan rambut hitam lurus agak panjang menutupi telinganya, kulitnya sawo matang dengan postur yang tinggi. Ia cenderung pendiam, serius, dan dewasa. Di awal, ia ditunjuk sebagai ketua tim. Namun seiring waktu berjalan, mulai terlihat kemampuan Naru dan akhirnya Naru yang jadi ketua. Ken menerima hal itu dan ia memilih jadi second-in-comand Naru, ialah yang memberikan saran-saran berguna bagi Naru di saat ada kondisi sulit. Karena tak bisa dipungkiri, Naru terkadang masih menunjukkan sisi childish-nya, ceroboh, dan belum terlalu matang dalam berpikir.

Orang kedua adalah Hotaru. Ia berumur 14 tahun dengan postur yang juga tinggi. Rambutnya cokelat shaggy, senada dengan penampilannya yang juga berantakan. Ia bersifat cuek dan terkadang tak mau mendengarkan saran orang lain. Hotaro bisa dibilang anggota yang 'menghidupkan' tim karena ia yang paling banyak omong dan tak bisa diam. Jika Ken lebih mahir di taijutsu, maka Hotaro melengkapi tim dengan kemampuan genjutsu-nya yang hebat.

Tim yang dibimbing Yamato ini terkenal tim yang paling solid di antara semua tim seangkatan. Meski Naru berusia 2 tahun lebih muda dari temannya yang lain, itu tidak membuatnya diremehkan. Justru sebaliknya, Naru – yang juga merupakan satu-satunya perempuan dalam tim - sudah dianggap adik oleh Ken dan Hotaro yang harus mereka lindungi.

Aku lega melihat kekompakan tim ini. Paling tidak, tim ini tak terlalu banyak masalah jika dibanding dengan timku dulu. Aku sudah tak ragu untuk mempercayakan Naru pada Ken dan Hotaro. Mereka sudah kuanggap teman yang baik bagi Naru.

Kelulusan ujian chuunin menjadi kesenangan sekaligus kesedihan tersendiri bagi Naru. Setelah menjadi chuunin, para shinobi tak lagi dikelompokkan dalam 3 orang. Tapi mereka menjalankan misi sendiri-sendiri atau dengan chuunin/genin lain. Otomatis mulai sekarang Naru akan jarang bertemu dengan teman satu timnya. Ken akan mulai fokus menjalankan misi-misi kelas A untuk mengejar cita-citanya menjadi ANBU. Dengan kemampuan yang dimilikinya, tentu tak akan sulit. Sementara Hotaro memilih untuk menjadi special jounin karena kemampuan genjutsu-nya.

Menjelang malam, Ken dan Hotaro sampai di apartemen. Tak kusangka ternyata Yamato juga ikut. Tidak salah sebenarnya, karena memang dia juga anggota tim Naru.

Kami makan dengan menu makanan yang sederhana, yang kebanyakan merupakan hasil panen dari ladangku. Tapi itu saja sudah cukup. Yang penting adalah kebersamaan Naru dengan timnya.

Setelah makan, aku membiarkan Naru menghabiskan waktu bercanda bersama kedua temannya. Ini momen yang berharga yang akan mereka ingat sepanjang hidup mereka. Sementara aku dan Yamato pergi ke balkon untuk sekedar mencari angin.

"Aku sudah dengar keputusan Hokage Ke-3 yang akan mengikuti rencanamu, menjadikan Naru seorang Hokage." Yamato berusaha mecairkan suasana dengan memulai topik pembicaraan.

"Ya. Ia memberi surat rekomendasi ujian jounin kepada Naru," responku datar. Yamato nampaknya sadar kalau ada yang mengganjal dalam pikiranku.

"Lalu kenapa kau terlihat tidak senang?"

"Bukannya tidak senang. Tapi aku sudah sampai pada titik terberat dalam menjadikan Naru sebagai Hokage, yaitu melatih mentalnya."

Yamato mengangguk setuju. "Sebagai seorang jinchuuriki kyuubi, ia memang mudah dalam mengusai jurus yang kau ajarkan. Tapi melatih mentalnya, itu hal yang sangat berbeda. Umurnya masih 12 tahun. Butuh usaha ekstra untuk mengajarinya berbagai teori tentang kepemimpinan. Tidak akan cukup seminggu atau sebulan, tapi bertahun-tahun."

"Hn."

"Jika ada yang kau butuhkan, jangan sungkan untuk bilang padaku." Yamato kemudian menatap Naru, Ken, dan Hotaro secara bergantian. "Biar pun mereka sudah jadi chuunin, mereka tetap murid-muridku. Aku selalu ingin mengajarkan hal yang berguna pada mereka."

"Mungkin aku akan perlu bantuanmu dalam waktu dekat. Jiraiya menyarankanku untuk mengajari Sage Mode kepada Naru."

"Kau bisa mengandalkanku."


Sebulan kemudian aku dan Naru mengikat kontrak dengan Gamabunta dan Gamakichi lalu kami melakukan reverse kuchiyose ke Myoubokuzan. Tak lupa Yamato juga ikut serta saat itu.

Latihan berjalan cepat karena aku menyuruh Naru melakukan teknik latihan dengan bunshin. Aku dan Yamato mengawasi dan menenangkan Naru saat ada bunshin-nya yang mulai bertransformasi menjadi Kyuubi karena gagal mengendalikan chakra. Jiraiya tak salah menyarankan jurus ini. Kesabaran Naru benar-benar diuji di sini. Ia yang biasanya bisa menguasai jurus dalam hitungan hari, bahkan jam, kini harus uring-uringan karena tak juga bisa mengusai Sage Mode dalam 4 bulan. Ini terlalu lama dari yang kuprediksikan. Rupanya ketidaksabaran adalah kelemahan lain yang kutemukan dalam diri Naru. Sage Mode bukan teknik yang bisa cepat dikuasai, butuh kesabaran dan konsentrasi penuh untuk menguasainya. Kurasa umur Naru yang masih muda juga cukup berpengaruh dalam lambatnya ia mempelajari Sage Mode.

Setelah menginjak bulan ke-5, barulah Naru berhasil menguasainya.

Sepulangnya kami ke Konoha, aku menyuruhnya untuk beristirahat. Naru terlalu sering memporsir tubuhnya ketika di Myoubokuzan. Hampir setiap hari staminanya terkuras untuk membuat banyak bunshin.

Dari sinilah masalah dimulai.

Tanpa sepengetahuanku Naru pergi menemui Hokage Ke-3 untuk mengikuti ujian jounin. Padahal aku sudah bilang padanya, menjadi jounin bukan masalah kekuatan atau kesabaran saja, banyak aspek lain yang juga dinilai. Masih banyak ilmu-ilmu lain yang harus kuajarkan pada Naru. Entah Naru sudah tak sabar menjadi jounin atau apa sampai membuatnya nekat mengikuti ujian itu.

Maka hasilnya sudah bisa ditebak.

Naru gagal.

Ini bisa dibilang kegagalan pertama bagi Naru. Dari mulai belajar di akademi, berlatih jurus, melaksanakan misi, hingga ujian chuunin, Naru selalu berhasil.

Ini juga jadi kekecewaan pertamaku pada adik kesayanganku itu. Ini pertama kalinya ia mengacuhkan perintahku dan menuruti kemauan dirinya sendiri yang menurutku keras kepala.

"Aku sudah bilang, kau hanya boleh menemui Hokage untuk ujian jounin saat kuanggap kau layak," kataku pada Naru yang sedang duduk di tempat tidurnya.

"Ironis, Sage Mode kuajarkan untuk mengajarimu bersabar. Tapi setelah mengusainya kau malah tak sabar dan bergegas menemui Hokage. Asal kau tahu, kalaupun kau menguasai rasa sabar sekalipun, itu tak cukup untuk membuatmu lulus ujian jounin. Ujian jounin bukan tentang kekuatan dan kesabaran saja, tapi tentang semua aspek yang dibutuhkan seorang shinobi. Itulah sebabnya Hokage turun tangan dalam menguji para peserta secara personal. Sekarang bisa jadi kau adalah shinobi muda terkuat di Konoha, tapi itu tak berarti apa-apa."

Naru lagi-lagi hanya diam. Wajahnya masih ditekuk, kesal, sedih, kecewa, dan juga bercampur rasa bersalah karena ia sadar apa yang dilakukannya salah.

Melihat raut wajah adikku itu rasa ibaku muncul. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Naru. Naru masih berusia 12 tahun dan tentu saja masih labil. Kurasa ini juga kesalahanku karena tak mampu mendidiknya dengan baik.

Aku ikut duduk di atas tempat tidur, di samping Naru. Aku sudah akan merangkulnya untuk menenangkan. Tapi kemudian aku sadar kalau selama ini aku terlalu lembek pada Naru. Aku terlalu memanjakannya. Naru tak akan dewasa jika aku terus memperlakukannya seperti ini.

Kuurungkan niat untuk merangkul Naru, saatnya bersikap tegas untuk membuat Naru makin kuat. Kukeluarkan 3 lembar kertas berisi 3 foto murid akademi, lengkap dengan identitas mereka.

"Kau masih ingin jadi Hokage?" tanyaku datar.

Naru mengangguk lemah. Lalu kuberikan kertas di tanganku kepada Naru. Ia menatapku heran, tak mengerti untuk apa sebenarnya kertas yang ada di tangannya.

"Berbulan-bulan lalu, aku sudah diskusikan dengan Hokage dan Yamato mengenai hal ini dan menjadikan ini rencana cadangan. Tapi sekarang, apa boleh buat, hanya cara ini yang bisa mengajarimu untuk berpikir dewasa."

Kulihat kening Naru berkerut, makin tak mengerti kemana arah pembicaraanku ini. Maka segera kulanjutkan penjelasanku. "Kau akan jadi instructor bagi para genin. Perhatikan tiga murid akademi di kertas itu. Jika mereka lulus dari akademi 6 bulan lagi, mereka akan jadi muridmu."

Ekspresi Naru biasa saja. Tapi langsung berubah panik saat melihat siapa tiga orang yang akan jadi muridnya.

"Mereka?! Nii-san, kau bercanda 'kan?!"

"Apa aku terlihat bercanda?" tanyaku masih dengan nada yang datar.

"Tapi kenapa harus mereka? Masih banyak murid lain yang bisa jadi muridku!"

"Justru kami sengaja memilih mereka bertiga. Mereka seusia denganmu. Kau akan berlatih cara mengendalikan emosi, kepemimpinan, karisma, kebijaksanaan, dan mengembangkan pola berpikirmu dalam menghadapi masalah. Ini kesempatan yang sayang untuk dilewatkan. Jika kau masih berminat jadi Hokage, sebaiknya kau ambil kesempatan ini. Jika tidak…"

"Arrrggggghhh!" Naru melempar 3 lembar kertas di tangannya padaku, lalu membenamkan kepalanya di bantal saking frustasinya. Di masing-masing kertas itu tertulis: Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, Inuzuka Kiba.

Tiga orang murid akademi dengan sifat yang jauh berbeda satu sama lain digabungkan dalam satu tim. Naru tak punya pilihan selain menerima tawaran ini jika ia masih ingin jadi Hokage. Nampaknya mulai sekarang perjuangan Naru akan semakin menantang.

To Be Continue…


© rifuki