Naru – Part 3
"Unexpected Invasion"
Konoha 2, 3 tahun setelah perpindahan dimensi
Kelulusan akademi akhirnya tiba. Seperti dugaanku, Naru tak punya pilihan lain selain menyetujui tawaranku untuk menjadi guru Tim 7. Ia sadar ini merupakan cara terbaik untuk melatih jiwa kepemimpinannya. Apalagi dengan kombinasi 3 murid yang punya sifat jauh berbeda satu sama lain, akan semakin menuntut Naru untuk mengatur mereka dengan benar.
Uchiha Sasuke.
Seorang Uchiha muda stoic yang memiliki masa lalu kelam. Seluruh klan-nya dihabisi oleh kakaknya sendiri. Balas dendam kepada sang kakak adalah cita-cita terbesarnya. Sejak di akademi Sasuke dan Naru tak pernah akur karena sifat mereka yang terlalu bertolak belakang. Naru juga tak berusaha untuk mengakrabkan diri dengannya karena Sasuke terkesan penyendiri.
Inuzuka Kiba.
Bocah periang dan tak bisa diam. Seperti kebanyakan anggota klan Inuzuka, ia tak bisa dipisahkan dari anjing kesayangannya, Akamaru. Ia, Shikamaru, Chouji, dan Naru adalah teman dekat di akademi, sebelum Naru lulus duluan. Ya, dulu Naru memang lebih banyak bermain dengan anak laki-laki.
Haruno Sakura.
Gadis berambut pink itu merupakan salah satu kunoichi pintar saat di akademi. Ia juga merupakan satu dari sekian banyak fansgirl Sasuke. Meski sama-sama kunoichi dan sekelas, ia dan Naru kurang begitu dekat. Pertama, Naru muak dengan aksi fansgirling Sakura kepada Sasuke. Kedua, Sakura dan sahabatnya Ino adalah ratu gosip, dan Naru tak suka menggosip.
Perkenalan antara Naru dan ketiga muridnya tidak berlangsung lama karena mereka sudah saling mengenal. Naru memutuskan langsung menjalankan misi untuk melihat kekompakan tim yang dibimbingnya, tidak seperti cara Kakashi di duniaku yang terlebih dahulu menguji muridnya dengan menyuruh merebut bel. Lagi pula pengujian kekompakan murid dengan metode bel yang dilakukan Kakashi sebenarnya hanya formalitas. Itu hanya akal-akalan Kakashi untuk menakuti muridnya agar mereka bisa bekerja sama. Jika sudah lulus dari akademi dan jadi genin, sebenarnya tidak ada lagi tes tambahan dan mereka tak perlu takut status genin mereka dicabut.
"Kiba, Akamaru lacaklah keberadaan target. Sasuke, Sakura, jangan maju sebelum kuperintahkan. Tunggu saat kuberi aba-aba. Kalian siap?"
Naru memasang kuda-kudanya bersiap menangkap target yang menjadi misi pertama Tim 7. Target mereka adalah seekor kucing nakal bernama Tora milik Madam Shimiji, istri Daimyo. Kucing itu kabur dari rumah, persis seperti kejadian di Konoha 1. Naru tahu tugas seperti ini tak seharusnya dimasukkan ke dalam misi. Tapi berhubung istri Daimyo yang meminta, maka permintaannya dimasukkan dalam ketegori misi tingkat D. Lagipula tugas ini cukup lumayan untuk melatih kekompakan Tim 7.
Tidak ada respon dari 3 sosok di belakang Naru.
Naru menoleh ke belakang dan mendapati 3 orang muridnya masih saja santai-santai. Kiba sedang bermain-main dengan Akamaru, Sakura sedang tebar pesona di hadapan Sasuke, sedangkan Sasuke sedang bersandar cuek di pohon dengan kedua tangannya yang dilipat di dada.
"Hei, kalian sudah siap atau belum?" tanya Naru kesal.
Mendengar 'guru' mereka bertanya, ketiga genin itu saling bertukar pandangan, seperti sedang memutuskan siapa yang akan bicara duluan.
"Aku tak mau menuruti perintahmu, dobe." Sasuke bicara duluan dengan nada datar khasnya.
Naru kaget. Sejak di akademi, ia paling tak suka mendengar nada sok cool Sasuke. Sekarang melihat Sasuke yang membantah perintahnya semakin membuat Naru kesal. Tapi untuk sementara Naru kesampingkan itu, ia berusaha bersikap sabar.
"Sasuke," panggil Naru, padahal biasanya ia memanggil bocah raven itu dengan panggilan 'teme'. "Aku tahu dulu kita kurang akur di akademi, tapi bisakah kau lupakan itu? Kita sekarang satu tim. Kita harus bekerja sama."
Sasuke tidak merespon. Ia malah membuang mukanya, membuat Naru semakin kesal.
"Haaaaa, aku iri pada tim lain." Kali ini Sakura yang angkat bicara. "Mereka didampingi oleh jounin hebat. Tapi kita hanya mendapatkan seorang chuunin yang baru lulus."
Urat di kepalan tangan Naru semakin bermunculan. Sakura termasuk murid yang kurang disukai Naru. Kerjanya hanya membuntuti Sasuke dan selalu menganggap dirinya paling benar.
Naru menoleh ke arah Kiba, berharap teman mainnya dulu di akademi itu memihaknya.
"Maaf Naru. Tapi menjadikanmu sebagai guru terasa 'salah' bagiku. Rumahku sudah didominasi perempuan. Ibuku dan kakakku sudah sering memerintahku semau mereka. Kuturuti mereka karena mereka lebih tua dariku. Tapi jika harus menuruti perintahmu yang lebih muda dariku rasanya…" Kiba menggantung kalimatnya, tapi itu cukup untuk mematahkan harapan terakhir Naru untuk mendapatkan dukungan.
Kepalan kedua tangan Naru makin kuat, ia sudah kehilangan kesabarannya.
"Jadi kalian pikir, kalian hebat?" tanya Naru, dipandangnya ketiga muridnya satu per satu. Namun lagi-lagi ia diacuhkan. Mereka berlagak tak mendengar ucapan Naru.
"Baiklah kalau begitu." Naru melempar gulungan misi kepada Sasuke. "Kalau kalian sudah merasa hebat, lakukan sendiri misi ini tanpaku!" serunya kemudian pergi meninggalkan mereka.
Hmm… Aku hanya bisa menghela napas pelan.
Melihat pemandangan di hadapanku, aku kembali kecewa. Aku kembali disadarkan pada kenyataan kalau adikku bukanlah sosok yang sempurna. Di balik kekuatan ninjanya yang berkembang amat pesat, mentalnya masih kekanak-kanakan. Ia masih butuh bimbingan di sana-sini.
Hari itu kusuruh Kakashi yang mengawasi Tim 7 untuk sementara (karena awalnya itu memang tugasnya) sampai aku berhasil membujuk Naru menjadi guru Tim 7 lagi.
"Kau gagal di hari pertamamu jadi guru mereka," ujarku saat Naru sampai di apartemen. Dengan Hiraishin no Jutsu, aku bisa sampai di apartemen lebih cepat dari Naru. Naru menatapku tajam. Aku agak kaget melihatnya. Setelah hampir 3 tahun kami hidup bersama, ini pertama kalinya Naru menatapku seperti itu.
"Tertawalah sepuasmu!" bentak Naru. Ia yang awalnya akan menuju dapur mengurungkan niatnya dan berbelok ke kamar. Tak lupa ia menutup pintu kamar dengan kasar.
"Ingatlah Naru, ini baru awal. Jika mengurus 3 orang saja kau tidak bisa, bagaimana bisa nanti kau mengurus seluruh penduduk saat kau jadi Hokage?"
"…"
"Hei, Naru? Kau dengar?"
Hening.
Melihat keadaan Naru yang sekarang membuatku merasa bersalah. Apa aku terlalu keras padanya?
Kuingat-ingat bagaimana histori misi-misi Naru beberapa tahun ke belakang saat bersama Ken dan Hotaru. Hampir semuanya sukses. Dengan banyaknya pengalaman dalam misi bersama timnya itu, sebenarnya hanya tinggal menyesuaikan diri. Jika dulu ia berperan sebagai murid, maka sekarang dia berperan sebagai guru yang akan membagi ilmu serta pengalamannya kepada muridnya.
Naru tahun ini berusia 13 tahun, apa mungkin terlalu berat jika harus memimpin sebuah tim di usia semuda itu? Tapi tak ada jalan lain. Ini merupakan cara yang bisa membuat Naru berpikir dewasa dengan cepat. Seseorang akan semakin berpikir dewasa jika ia dihadapkan pada masalah. Lagipula aku sudah bertekad untuk tidak terlalu memanjakannya. Ini semua demi kebaikannya, ini semua agar ia bisa mencapai cita-citanya menjadi seorang Hokage.
"Naru? Kau bisa bertanya padaku jika kau merasa kesulitan."
Lagi-lagi tidak ada jawaban dari dalam kamar.
Sebenarnya aku bisa saja masuk ke kamar dengan Hiraishin. Tapi aku juga punya etika. Aku hargai privasi Naru. Saat ini mungkin ia butuh waktu untuk menyendiri dan berpikir. Biarlah pikirannya tenang dulu.
Sementara itu, aku akan ke Gedung Hokage memenuhi panggilan Sandaime yang kelihatannya penting karena ia menyampaikannya melalui seorang anggota ANBU.
Tak kusangka, yang dipanggil ke Gedung Hokage ternyata bukan aku saja. Hampir semua jounin Konoha diundang hingga dipakailah ruangan pertemuan di lantai dasar yang berukuran paling besar untuk menampung kami semua. Selain para jounin, kulihat Jiraiya dan Tsunade juga ada di sana, tak lupa para tetua desa juga turut hadir. Kalau orang-orang penting itu hadir, pasti hal yang akan disampaikan pun merupakan sesuatu yang penting.
"Mohon perhatiannya," seru Hokage Ke-3 dengan suara seraknya. Ia berada di deretan bangku di depan ruangan tersebut. Di samping kanan dan kirinya duduk para tetua desa. Pemandangan seperti ini mengingatkanku pada pelantikan Hokage Ke-6 di Konoha 1. Tapi aku yakin kali ini bukan untuk melantik Hokage, melainkan hal yang lebih penting dan kelihatannya urgent.
"Aku mengumpulkan kalian semua di sini karena ada hal penting yang ingin kusampaikan." Ya, ya, sudah kuduga itu Kek, cepat lanjutkan.
Hening sesaat. Hokage Ke-3 lalu menunjukku dan menyuruhku maju. Aku yang saat itu berada di paling belakang tak menyangka jika akan dipanggil. Di tengah forum seperti ini tentu aku tak mau banyak protes dan memilih untuk menuruti perintah Hokage.
Setelah aku berada di depan, Hokage Ke-3 turun dari kursinya dan ikut berdiri di sampingku.
"Ini Uzumaki Naruto. Tentu kalian tak asing dengannya," lanjutnya sambil menepuk pundakku. "Sudah 3 tahun dia tinggal di desa kita. Tapi aku yakin ada dari kalian yang belum tahu siapa dia sebenarnya."
Setetes keringat mengalir dari dahiku. Aku mulai tak nyaman dengan arah pembicaraan ini. Jangan-jangan dia mau menyuruhku-
"Naruto, aku ingin kau ceritakan siapa kau sebenarnya kepada semua orang di sini."
Terlambat! Hal yang kutakutkan benar-benar terjadi. Aku menatap Hokage dengan tatapan 'apa-maksud-semua-ini'. Aku belum siap. Aku tidak tahu kalau tujuanku kemari untuk menceritakan siapa aku sebenarnya kepada semua yang hadir. Kutatap deretan orang-orang di hadapanku, orang-orang yang serupa tapi tak sama dengan orang-orang di Konoha 1.
"Aku pastikan kabar ini tak akan sampai di telinga Naru," tambah Hokage Ke-3, membuatku sedikit tenang.
Baiklah, meskipun aku merasa dijebak dengan seenaknya dipanggil ke depan dan menceritakan siapa aku sebenarnya, tapi aku yakin dia punya alasan kenapa menyuruhku melakukan ini. Lagi pula aku tak punya pilihan lain. Aku sudah datang mengacaukan alur kehidupan Naru di Konoha 2, jadi sebaiknya aku ikuti saja apa yang orang-orang di sini inginkan dariku. Sepertinya 3 tahun tinggal di sini membuat hatiku melembek. Akhirnya kuceritakan siapa aku sebenarnya kepada semua yang hadir. Kuceritakan mulai dari kehidupanku di Konoha 1, bagaimana aku bisa terlempar ke Konoha 2, dan apa yang kulakukan selama 3 tahun terakhir ini. Reaksi mereka macam-macam. Ada yang biasa saja karena sudah tahu, ada yang kaget, ada juga yang tak percaya.
Setelah pembahasan mengenaiku selesai, Hokage melanjutkan pembicaraannya. Kali ini nada bicaranya semakin serius.
"Hal kedua yang ingin kusampaikan masih berkaitan denganmu Naruto. Petugas perbatasan akhir-akhir ini sering melihat shinobi asing yang berkeliaran di sekitar perbatasan desa. Ini cukup membahayakan karena seperti kalian ketahui sebentar lagi kita akan mengadakan Chuunin Exam dan mengundang peserta dari desa lain. Aku ingin pastikan desa kita aman selama acara itu berlangsung. Jadi Naruto, aku ingin kau jelaskan apa saja yang terjadi di duniamu. Apa kejadiannya persis seperti ini? Apa kau bersedia?"
Nasi sudah menjadi bubur. Dari pada memberi mereka info yang setengah-setengah, lebih baik kuceritakan apa yang kutahu.
"Chuunin Exam di duniaku dilaksanakan saat aku seusia Naru, yaitu 13 tahun. Dulu aku terlalu sibuk berlatih untuk Chuunin Exam sehingga tidak terlalu mengamati keadaan desa. Selain itu aku tak terlalu pintar dalam mengingat suatu kejadian, jadi tidak bisa menceritakan secara detail. Tapi yang paling kuingat, saat Chuunin Exam Orochimaru menyamar sebagai Kazekage setelah sebelumnya membunuh Kazekage asli. Ia lalu berniat menghancurkan Konoha dan menjadikan Uchiha Sasuke sebagai tubuh incaran selanjutnya."
Orang-orang dihadapanku mulai ribut mendengar cerita yang mengejutkan itu. Mereka tak menyangka missing-nin Konoha akan melakukan hal sejauh itu.
"Masuk akal," seru Jiraiya, menguatkan pernyataanku. "Selama setahun terakhir aku sudah memata-matainya. Dia memang pintar dalam menghilangkan jejak sehingga aku kesulitan melacaknya. Tapi dari petunjuk yang kudapatkan, memang semuanya mengarah ke sana. Dia hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyerang Konoha. Chuunin Exam merupakan waktu yang tepat karena saat itu kita sedang sibuk."
"Jika memang seperti itu, kita harus tingkatkan kewaspadaan. Naruto, aku tak tahu apa kejadian di dunia ini akan sama dengan di duniamu, tapi aku harap kau mau bergabung bersama kami. Bantuanmu akan sangat kami hargai." Hokage Ke-3 menyerahkan head protector yang dulu sempat kuberikan padanya.
Keamanan Konoha berarti keamanan untuk adikku juga. Kuhargai semua shinobi Konoha 2 karena sudah mempercayaiku meskipun aku bukan berasal dari sini. Jadi aku tak punya alasan untuk menolak tawaran Hokage Ke-3 tersebut. "Baik, aku akan membantu kalian." Kuambil head protector yang diberikan Hokage Ke-3, lalu kupasang kembali di kepalaku.
Pertemuan dan isi pertemuan ini akan dirahasiakan dari para penduduk agar mereka tidak panik.
Pertemuan semakin memakan waktu banyak karena setelah para jounin dibubarkan, Hokage Ke-3 ingin berdiskusi denganku. Ia menyampaikan rencananya mengamankan desa. Beberapa kali ia meminta pendapatku dan aku berusaha membantunya sebisaku. Terlihat sekali kalau dia ingin melindungi Konoha 2 sekuat yang ia bisa.
Ada hal menarik dalam diskusi kami, saat kuceritakan kematian Hokage Ke-3 di duniaku yang dibunuh oleh Orochimaru, Hokage Ke-3 di hadapanku hanya tersenyum dan bilang, "Aku sudah tahu kalau cepat atau lambat ia akan melakukannya."
Aku pulang ke apartemen 2 jam kemudian. Saat kupandang bulan purnama di langit, kuperkirakan kalau sekarang sudah tengah malam. Semilir angin malam yang seakan menusuk tulang memperkuat pendapatku itu.
Sesampainya di apartemen aku segera ke dapur karena kelaparan, aku lupa tidak makan malam. Saat kulihat meja makan, aku tersenyum saat melihat separuh masakanku habis. Dari dapur, kupandang pintu kamar Naru, tulisan katakana 'Na-ru' tergantung di sana. Ya setidaknya Naru menyempatkan dirinya untuk keluar kamar dan makan.
Selesai makan, aku bersantai di sofa sambil menunggu makananku turun ke perut. Langsung tidur setelah makan itu tidak baik 'kan?
Aku yang saat itu memejamkan mataku tak perlu menengok atau sekedar membuka mata untuk menyadari seseorang di belakangku. Chakra dan auranya sudah sangat familiar bagiku. Siapa lagi kalau bukan adikku, Naru.
"Kau belum tidur rupanya," gumamku.
"Aku tidak bisa tidur," balasnya. Dari intonasinya aku sudah yakin kalau Naru sudah tenang dan tak marah lagi padaku. Maka aku menyuruhnya untuk duduk di sampingku. Tanpa kusuruh dua kali, ia mengerti dan duduk di sampingku. Bahkan sifat manjanya kumat. Ia menyenderkan kepalanya padaku, seolah melupakan ketegangan yang sempat terjadi antara kami tadi siang.
"Nii-san, bolehkah aku bertanya?" kata Naru sambil memeluk erat bantal yang ia bawa dari kamarnya.
"Tentu."
"Bagaimana caraku membuat Sasuke, Kiba, dan Sakura mau menurutiku?"
Hatiku lega mendengarnya. Sepertinya Naru belum mau menyerah untuk mendampingi Tim 7. Kupeluk Naru dari samping dan kuusap pelan rambut pirang panjangnya.
"Dengarkan baik-baik Naru. Jangan pernah kau samakan mereka dengan Ken dan Hotaru. Mereka masih pemula, belum mengerti bagaimana mempraktekan ilmu-ilmu mereka di dalam sebuah misi. Jadi kau harus sabar dan telaten membimbing mereka, jangan tinggalkan mereka seperti tadi siang. Itu baru misi awal yang tidak berbahaya, tapi bagaimana jika misinya susah? Kau bertanggung jawab atas keselamatan mereka."
Dari raut wajahnya aku tahu Naru merasa bersalah.
"Kalian seumur, jadi agak sulit membuat mereka menurutimu. Saranku, berusahalah jadi teman satu tim mereka, bukan jadi guru mereka. Bimbinglah mereka sebagai seorang teman, tanpa membuatmu terlihat menggurui."
Naru terlihat berpikir sejenak, kemudian ia tersenyum lebar. Senyum pertamanya yang kulihat hari ini. "Terima kasih banyak Nii-san."
Kujawab dengan sebuah anggukan. "Sekarang cepat kau tidur."
"Oyasumi." Naru mencium pipiku lalu berlari kecil ke kamarnya.
"Oyasumi, imouto."
Saran untuk Naru sudah kuberikan, tinggal melihat hasilnya besok. Aku sudah merasa agak tenang sekarang. Kurasa malam ini aku akan tidur nyenyak.
Misi kedua Tim 7 adalah misi mengantarkan Tazuna, seorang pembuat jembatan, ke Nami no Kuni. Misi ini misi kelas C, meski nantinya tak akan mudah karena ada serangan dari chuunin-chuunin musuh. Misi ini sebenarnya bisa dikategorikan kelas B. Aku tidak memberi tahu siapa pun mengenai ini. Aku ingin melihat apakah Naru bisa tetap tenang melindungi anggota timnya meski dalam keadaan darurat.
Aku harus pintar-pintar membagi waktu antara 'memata-matai' Naru dan mempersiapkan Chuunin Exam. Aku belum berani sepenuhnya melepas Naru sendirian dalam sebuah misi meskipun kemampuan ninjanya sudah hebat. Yang aku khawatirkan darinya adalah kemampuan me-manage anggota timnya. Ini bukan misi solo, dia bertanggung jawab atas nasib 3 muridnya.
Penyerangan dimulai dengan datangnya 2 chuunin musuh.
Naru menangani 1 chuunin, Sasuke dan Kiba menghabisi 1 chuunin lagi, sedangkan Sakura melindungi Tazuna. Sasuke, Kiba, dan Sakura terlihat agak canggung (Sasuke berhasil menyembunyikannya dengan sempurna). Ini baru permulaan dan lama-lama mereka akan terbiasa.
Sasuke dan Kiba sebenarnya hanya refleks bereaksi seperti tadi tanpa dikomando Naru. Mereka sepertinya masih belum mau menuruti perintah Naru dan memilih untuk melakukan inisiatif sendiri. Komunikasi antara mereka berempat sama sekali belum terlihat. Tapi sejauh ini tidak ada masalah.
Masalah baru terlihat saat Zabuza muncul. Sasuke, Kiba, dan Sakura kelabakan karena terlambat mendengar perintah Naru. Sekarang Naru sedang melawan Zabuza, Sakura sudah pingsan sementara Sasuke dan Kiba dalam bahaya karena berada dalam jarak tembak naga air yang dibuat Zabuza.
Naru tak punya waktu untuk masuk ke mode Sage, ia hanya bisa menyerang Zabuza dengan dua buah rasengan biasa. Untuk sekarang, itu saja sudah cukup. Pertahanan Zabuza terganggu sehingga kontrol chakra-nya atas naga air miliknya hilang. Naga air itu hancur tapi sayangnya sebelum ia hancur, 2 buah potongan es runcing melesat ke arah Sasuke dan Kiba.
Tak ada waktu untuk menangkisnya. Naru melompat dan mendorong Sasuke dan Kiba menjauh. Sayangnya 1 potongan es itu mengenai tangan kiri Naru, potongan yang tadinya mengarah ke dada Sasuke.
"Ugh." Naru meringis kesakitan karena es itu menusuk cukup dalam ke otot bisepnya, membuatnya mengeluarkan tenaga ekstra untuk mencabutnya.
"Kenapa kau lakukan ini?" tanya Sasuke dengan mata onyx-nya yang membulat.
Naru tersenyum. "Aku bagian dari Tim 7. Kita tim. Anggota tim tak boleh membiarkan anggota lainnya dalam bahaya."
Sasuke mematung mendengar ucapan Naru.
Zabuza yang tak berdaya tiba-tiba dibawa oleh seorang shinobi yang mengaku dirinya hunter-nin yang bertugas membunuh Zabuza. Aku tahu Zabuza tidak benar-benar mati, ia hanya 'diselamatkan' oleh hunter-nin itu yang sebenarnya partner-nya sendiri yang bernama Haku.
Naru sudah sadar akan hal itu karena ia melihat hunter-nin itu tidak membunuh Zabuza di tempat (hal yang biasanya dilakukan hunter-nin lain dalam menghabisi targetnya). Naru tak pedulikan itu. Yang terpenting sekarang, ia harus membawa ketiga muridnya ke tempat yang aman sambil memulihkan tenaga mereka.
Malam mulai menjelang. Tim 7 beristirahat sambil menunggu makan malam di kediaman Tazuna. Naru memanfaatkan waktu itu untuk membalut sendiri lukanya. Karena ia melakukannya dengan 1 tangan ia kesulitan memotong kain perban.
Tiba-tiba Kiba datang dan memotongkan perban itu untuk Naru dengan kunai-nya.
"Terima kasih."
Kiba mengangguk.
Setelah itu hening tercipta. Hanya ada suara Naru yang sedang merapikan balutan lukanya.
"Aku minta maaf, err…. sensei," kata Kiba.
Naru sadar kalau kalimat Kiba terdengar aneh. Saat Naru memandang Kiba, tak disangka ternyata Sasuke dan Sakura juga ada di belakang Kiba.
"Ehehe." Naru tak bisa menahan tawanya. "Sudahlah jangan dibahas lagi, Kiba. Aku tidak apa-apa. Masa penyembuhanku cepat kok. Oh ya, kalau memang dirasa aneh, kau tak usah memanggilku sensei. Sebenarnya aku tak berharap kalian memanggilku itu, aku lebih suka jadi teman kalian seperti dulu. Yang membedakan kita sekarang hanya karena kalian adalah tanggung jawabku. Tapi terserah kalian mau menganggapku apa. Aku memang hanya seorang chuunin, tapi aku akan berusaha semampuku untuk mendampingi kalian."
Sasuke, Kiba, dan Sakura terdiam mendengar ucapan Naru. Meskipun Naru bicara sambil diselingi tawa, tapi mereka tahu kalau Naru serius.
Menyadari kedua temannya tak mau merespon, Kiba bicara duluan.
"Aku akan memanggilmu Naru, seperti saat kita di akademi," kata Kiba.
"Aku juga. Baiklah Naru, mohon bimbingannya," seru Sakura ramah.
"Naru." Kali ini giliran Sasuke.
"Panggilan itu lebih baik. Istirahatlah, besok aku akan mengajari kalian teknik baru."
Senyum tak lepas dari wajah Naru setelah itu. Bahkan dalam tidurnya bibir mungil itu masih saja menyunggingkan senyuman. Aku bisa bayangkan bagaimana senangnya Naru saat itu. Akhirnya ketiga muridnya mau menerimanya. Meskipun mereka tidak memanggilnya 'sensei', tapi kurasa panggilan 'Naru' lebih cocok untuknya.
"Bagaimana caranya? Bagaimana?" "Guk guk!"
Kiba dan Akamaru rupanya sudah tak sabar ingin diajari cara berdiri di atas air saat sesi latihan Tim 7 di pagi hari. Udara pagi Nami no Kuni yang dingin tak menyurutkan semangat mereka untuk berlatih.
"Sebelum berdiri di atas air kalian harus bisa mengontrol chakra di kaki dengan stabil. Cobalah dengan latihan yang mudah dulu." Naru melompat dari air dan kembali berpijak di tanah. Lalu ia menunjuk 3 pohon yang cukup tinggi di antara pohon yang lain. "Panjat pohon itu sampai ke puncaknya tanpa menggunakan tangan."
Naru kemudian mulai memberikan contoh. Dialirkannya chakra ke telapak kakinya secara merata, perlahan ia berjalan vertikal di pohon. "Ingat, panjat tanpa menggunakan tangan."
Ketiga murid Naru mengangguk dan mulai mencoba sendiri.
Sakura menjadi orang pertama yang berhasil mencapai puncak pohon tanpa menggunakan tangan. Kontrol chakra-nya memang hebat. Kiba berhenti di ½ pohon karena ia kelelahan. Sedangkan Sasuke masih terus mencoba sampai malam.
Naru yang heran karena tidak melihat Sasuke di rumah hingga malam akhirnya memutuskan untuk mengecek sekaligus mengajak Sasuke pulang.
Dilihatnya Sasuke masih saja berusaha mencapai puncak pohon.
"Sudah malam Sasuke, ayo kita makan malam," seru Naru agak keras agar terdengar oleh Sasuke.
Sasuke terus saja berusaha memanjat pohon setinggi yang ia bisa. "Aku harus bisa menguasainya hari ini. Aku ingin lebih kuat agar bisa mengalahkan kakakku."
Naru sudah dengar cerita mengenai Uchiha Itachi, tapi ia tak mau membahasnya karena ia pikir sekarang bukan saat yang tepat. Naru lalu duduk di sebuah batang kayu yang tergeletak di tanah.
"Jika ada yang bisa kubantu, tinggal bilang saja," kata Naru.
"Hn. Tapi pertama-tama aku harus kuasai ini dulu. Kau pulang duluan saja."
Naru menggeleng. "Aku akan menunggumu."
Sasuke mengerutkan keningnya heran.
"Yang lain pasti sudah selesai makan malam. Percuma jika aku pulang sekarang, aku akan makan sendirian. Tapi jika aku menunggumu, paling tidak aku ada teman makan. Aku yakin sebentar lagi kau akan bisa sampai di puncak pohon."
Aku tak tahu bagaimana reaksi wajah Sasuke menanggapi pernyataan Naru karena keadaan yang gelap. Yang jelas ia kembali berlatih tanpa henti, sementara Naru mengamati dari bawah sambil tersenyum melihat betapa keras kepalanya muridnya itu.
Keesokan harinya misi dilanjutkan. Kali ini misi berjalan lancar karena ketiga murid Naru sudah mau diajak bekerja sama. Mereka menyerang sesuai arahan Naru dan tidak banyak protes. Mereka sadar jika ini misi yang berbahaya. Jika lengah sedikit saja nyawa mereka bisa melayang.
Akhirnya misi mereka sukses. Aku terharu melihatnya. Aku masih ingat pertama kali kami bertemu. Naru menangis tersedu-sedu karena kesal kenapa aku tidak datang sejak dulu. Saat itu Naru begitu polos dan kenakak-kanakan. Sangat manja apalagi jika kami hanya berdua. Tapi lihatlah sekarang. Gadis kecil itu telah menjelma jadi seorang pemimpin yang hebat, paling tidak pemimpin untuk tim genin pertamanya.
Berjuanglah Naru, jalanmu masih panjang.
Dua bulan kemudian, Chuunin Exam Konoha.
Semua jounin sudah disebar di penjuru desa untuk mengamankan event besar ini. Hokage Ke-3 memutuskan untuk menangkap Orochimaru saat mereka bertemu di panggung karena saat itulah satu-satunya kesempatan Orochimaru berada di dekatnya. Jiraiya tak lupa bersiaga di sekitar panggung yang nantinya ditempati Hokage.
Aku tetap meminta Hokage Ke-3 untuk merahasiakan ini dari Naru. Aku tak mau Naru terlibat dan tahu siapa aku sebenarnya. Hokage Ke-3 setuju dan menugaskanku untuk melindungi Sasuke agar Orochimaru tak berhasil menggigitnya.
Tak kusangka aku bertemu Naru saat di kedai Ichiraku. Ini minggu yang sibuk, bertemu dengannya saat jam makan siang adalah suatu hal yang jarang terjadi.
"Aku yang traktir," seruku.
"Arigato, Nii-san! Sudah lama kau tak mentraktirku."
"Yup. Bagaimana murid-muridmu?"
"Sejauh ini lancar. Mereka menjawab soal di tes tertulis dengan baik. Sekarang mereka sedang diberi arahan oleh Anko-senpai sebelum memasuki Hutan Kematian."
"Kalau begitu tinggal menunggu waktu sampai mereka jadi chuunin dan kau jadi jounin."
Perjanjian awal Naru denganku dan dengan Hokage Ke-3 adalah saat ada salah satu atau semua anggota Tim 7 yang naik tingkat menjadi chuunin, maka Naru berhak naik tingkat jadi jounin karena Naru dinilai sudah mampu menjadi seorang pemimpin.
"Hehe. Ini berkat kau juga. Terima kasih untuk semuanya, Nii-san."
"Hn."
Setelah itu kami mengobrol kesana kemari menikmati waktu makan siang kami sebelum akhirnya aku pamit untuk mengamankan exam. Aku tak bilang secara spesifik kepada Naru kalau aku akan ke Hutan Kematian melindungi Sasuke.
Di Hutan kematian aku tak melepas perhatianku dari gerak-gerik Sasuke. Sayangnya, aku tak bisa mendeteksi keberadaan Orochimaru karena ia selalu menggunakan tubuh orang lain. Peristiwa digigitnya Sasuke adalah peristiwa yang akan memicu masalah-masalah lain di masa depan. Yang paling fatal adalah perginya Sasuke dari desa. Jika itu terjadi, Naru sebagai gurunya pasti akan merasa bersalah. Jadi aku harus memastikan Sasuke tidak digigit Orochimaru.
Berhari-hari Tim 7 mengikuti survival di Hutan Kematian. Hingga akhirnya mereka berhasil mengumpulkan gulungan Bumi dan Langit. Anehnya, Orochimaru tak juga muncul. Padahal kulihat anak buahnya seperti Karin dan Kabuto sudah berkeliaran.
Apa Orochimaru mengubah rencananya?
Aku punya firasat buruk.
Tiba-tiba seorang ANBU datang dengan tergesa-gesa.
"Naruto-san, Orochimaru sudah muncul dan dia… telah menggigit Naru."
Aku kaget bukan main. Kenapa sekarang Naru yang jadi incaran?
"Brengsek!" teriakku, tak bisa menyembunyikan rasa kesal dan takut yang bercampur menjadi satu. Bukan takut kepada Orochimaru, tapi takut jika terjadi apa-apa pada adikku.
Tanpa buang waktu lagi aku melakukan Hiraishin ke tempat Naru berada sekarang. Aku sudah menyimpan segel di tubuhnya sehingga aku bisa melakukan Hiraishin ke mana pun dia berada.
Jurus warisan ayahku itu akhirnya membawaku ke salah satu ruang di rumah sakit. Naru terbaring di tempat tidur sambil mengerang kesakitan. Di lehernya ada bekas gigitan dengan segel yang mulai menyebar ke wajah dan pundaknya.
"Naru!"
Naru mendengar panggilanku dan mengangkat tangan kanannya, berusaha meraihku. "Argghhhhhh, Nii-san… tolong… aku… ughhh!"
Kugenggam tangan kanan Naru berusaha menenangkan. Tapi nyatanya rasa sakit yang dirasakan Naru tak juga mereda. Aku bingung harus melakukan apa.
"Nek! Lakukan sesuatu!" seruku kepada Tsunade panik.
"Sudah! Tapi segel itu seperti virus yang terus saja masuk ke setiap sel Naru!"
"Nii-san…" gumam Naru pilu.
Aku ikut menangis. Aku tidak tega melihat satu-satunya keluarga yang kumiliki menderita. Saat itulah kurasakan sekilas chakra Orochimaru. Itu berarti ia sudah dalam wujud aslinya.
Kuaktifkan mode Kyuubi dan kucatat koordinat keberadaan Orochimaru dalam otakku.
"Tetaplah bersama Naru," kataku kepada Tsunade.
"Kau mau kemana, Naruto?"
"Membunuh Orochimaru!"
Di waktu delay sebelum aku sampai di tempat Orochimaru, aku sudah menyiapkan Bijuu Rasengan di tanganku. Ukurannya semakin membesar seiring emosiku yang semakin memuncak.
"Oi Naruto, tahan amarahmu!" bentak Kurama "Jika rasio chakra kita tidak 2 banding 8, bijuu rasengan itu akan meledak dan menghancurkan tubuhmu berikut Konoha."
"Aku tetap menjaga rasionya. Aku hanya menambah kekuatannya."
"Separuh dari ini saja sudah bisa membunuh pria ular itu!"
"Cerewet!"
Kurama tak protes lagi setelah itu. Sepertinya ia sudah malas untuk berdebat denganku.
Hiraishin berakhir dan aku muncul tepat di hadapan Orochimaru. Bijuu Rasengan langsung kuarahkan ke perut Orochimaru.
"Ini hadiah karena telah menyakiti adikku!"
"Siapa ka-"
BOOMMM!
Orochimaru tak kuberikan kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Pancaran energi bertekanan tinggi yang berwarna ungu pekat itu telah mengenai perutnya dengan telak. Sayangnya Manda masih sempat melindungi Orochimaru dengan chakra-nya sehingga ia belum tewas.
Kembali kubuat Bijuu Rasengan di tangan kananku. Ukurannya kali ini hanya sekepal tanganku. Itu cukup untuk mengakhiri hidup Orochimaru yang sedang sekarat.
Baru saja akan kuserang Orochimaru, Hokage Ke-3 menahan tanganku. "Cukup Naruto! Jangan biarkan dia menjadikanmu seorang pembunuh berdarah dingin!"
"Kita butuh dia hidup-hidup Naruto," tambah Jiraiya.
"Tapi adikku…"
Kyuubi lalu bicara lagi dalam pikiranku. "Aku akan coba menyuruh 'Kurama' di tubuh Naru untuk menolak dan melenyapkan virus ular yang diberikan Orochimaru."
"Apa itu akan berhasil?" tanyaku.
"Aku tak tahu. Tapi setidaknya kita punya harapan."
"Baiklah," ujarku. Hokage Ke-3 dan Jiraiya tak mendengar percakapanku dengan Kurama. Jadi mereka tidak tahu kalau aku bersedia membiarkan Orochimaru hidup adalah karena kata-kata Kurama.
Jiraiya menatap teman satu timnya yang sedang digotong para ANBU dengan tatapan yang tak kumengerti. Mungkin perasaannya sekarang sama dengan perasaanku saat tahu Sasuke akan menyerang Konoha 1.
"Kau benar Ero-Sennin," kataku mencoba mengalihkan ke topik baru. "Alur kehidupan Naru yang telah kuubah telah memunculkan masalah baru. Di duniaku, Orochimaru tak menggigitku, tapi dia menggigit Sasuke."
"Dia memilih anak-anak yang terkuat. Narulah remaja yang terkuat saat ini di Konoha, bahkan mungkin di Negara Api."
Aku setuju dengan pendapat Jiraiya itu. Kunonaktifkan mode Kyuubi karena pertarungan sudah berakhir, namun Jiraiya mencegahku. Aku sama sekali tak mengerti.
"Kau tahu Naruto. Aku dan Tsunade ke sini bukan karena Orochimaru. Orochimaru bukan masalah terbesar yang akan kita hadapi. Yang selama ini berkeliaran di perbatasan Konoha juga bukan Orochimaru atau anak buahnya. Tapi lihatlah."
Jiraiya menatap lurus ke reruntuhan bangunan di hadapan kami.
Aku mengikuti arah pandangan Jiraiya. Dari balik kepulan asap, terlihat sosok belasan orang berjubah hitam.
Aku langsung mengenali mereka bahkan dari siluetnya saja. Mereka… Akatsuki! Dan… semuanya datang dalam waktu bersamaan!
Aku memandang para shinobi Konoha di sekitarku. Para chuunin dan jounin sedang menyelamatkan para penduduk yang terluka. Mereka terlihat kelelahan. Yang bisa kuandalkan hanya beberapa elite jounin yaitu Kakashi, Guy, Asuma, Kurenai, dan Anko. Mereka semua sudah sadar akan bahaya yang datang sehingga mulai mendekat, bergabung denganku dan Hokage Ke-3.
Sial! Coba tadi aku bisa mendeteksi chakra para anggota Akatsuki dari awal. Pasti aku akan punya persiapan. Sepertinya mereka semua bersembuyi dalam dimensi milik Tobi.
"Apa menurutmu mereka datang dengan alasan yang sama dengan Orochimaru?" tanyaku kepada Jiraiya.
"Kurasa iya. Mereka mengincar jinchuuriki ekor 9, Uzumaki Naruko."
To Be Continue…
© rifuki
