Naru – Part 4
"Fight!"
Konoha 2, 4 tahun setelah perpindahan dimensi
Aku berharap ini hanya mimpi dan ingin segera terbangun dari tidurku. Tapi terpaan panas sinar matahari dan embusan angin bercampur butiran-butiran debu yang mengenai wajahku kembali menyadarkanku kalau ini bukan mimpi. Sekumpulan sosok berjubah hitam itu masih berdiri di sana dengan gagah. Sosok mereka semakin terlihat jelas saat kepulan asap yang menyelimuti mereka perlahan tertiup angin. Motif awan merah yang berkibar di masing-masing jubah itu semakin mempertegas kalau mereka adalah kelompok kriminal yang paling ditakuti di dunia shinobi. Mereka adalah kelompok Akatsuki yang datang dengan kombinasi lengkap. Lima belas anggotanya telah datang, secara bersamaan.
Di paling depan ada sang ketua, Tobi atau boleh kupanggil Uchiha Obito. Di samping kirinya berturut-turut ada Deidara, Sasori, Kisame, Itachi, Hidan, Kakuzu, dan Zetsu. Lalu di samping kanannya ada Pain Tendo, Pain Shurado, Pain Ningendo, Pain Chikushodo, Pain Gakido, Pain Jigokudo, dan Konan.
Ini seperti mimpi buruk yang jadi kenyataan hingga membuat tanganku bergetar dengan sendirinya karena ketakutan. Bukan karena takut mati, tapi aku khawatir pada keselamatan orang-orang di sekitarku. Aku merasa mereka adalah tanggung jawabku. Akulah yang menyebabkan Akatsuki datang. Ini pasti ada hubungannya dengan alur kehidupan Naru yang telah kuubah. Di Konoha 1, Akatsuki tidak pernah menyerang secara bersama-sama. Mereka biasanya hanya menyerang berdua.
Biarpun aku pernah mengalahkan beberapa anggota Akatsuki, tapi sekarang keadaannya berbeda. Sekarang mereka menyerang dalam waktu yang bersamaan. Selain itu yang ada di pihakku sekarang tak sebanyak dulu. Sekarang hanya ada Jiraiya, Hokage Ke-3, Kakashi, Guy, Asuma, Kurenai, dan Anko. Kami benar-benar kalah jumlah. Selain itu kekuatan kami sudah terkuras untuk melawan Orochimaru dan anak buahnya.
Kutatap wajah lelah para shinobi Konoha 2. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada mereka, serta pada para penduduk lainnya, terutama pada adikku, Naru, yang saat ini masih berjuang melawan virus ular dalam tubuhnya.
"Aku heran kenapa mereka datang sekarang," gumamku, lebih terdengar seperti berbicara sendiri.
Tak kusangka Jiraiya menanggapiku. "Sepertinya karena Naru sudah semakin kuat. Mereka takut jika terlalu lama menunggu, mereka tak akan bisa menangkap Naru. Mereka juga tahu ada kau di sini. Kau tak bisa mereka anggap enteng sehingga mereka mengerahkan semua anggota untuk menyerang secara bersamaan." Jiraiya diam sejenak, memberikanku kesempatan untuk mencerna apa yang dikatakannya. Ya, asumsi yang dikatakannya memang masuk akal. Akatsuki bukanlah kelompok kacangan yang bertindak tanpa perhitungan. Mereka pasti punya alasan di balik kedatangan mereka yang tak terduga ini.
"Atau mungkin saja mereka justru tertarik pada Kyuubi milikmu, atau malah pada Ichibi milik bocah Suna itu," kata Jiraiya, menambahkan.
Aku terkejut. Aku telah melupakan Gaara! Dia ikut Chuunin Exam dan sekarang sedang di Hutan Kematian. Dia akan jadi sasaran empuk Akatsuki setelah Naru.
"Sial!" rutukku, entah kutujukan kepada siapa kekesalanku itu.
Kedua tanganku mengepal kuat. Tatapanku kemudian beralih ke anggota Akatsuki. Meskipun aku melawan mereka sekaligus dengan membuat 15 bunshin, rasanya aku sulit untuk menang. Aku perlu strategi yang lebih baik. Apa yang harus kulakukan sekarang? Pikirkan baik-baik, Naruto! Pikir! Analisa keadaan dan buat strategi yang tepat. Hilangkan rasa takutmu. Buktikan kalau kau adalah pahlawan Perang Dunia Ninja Ke-4! Tunjukkan kalau kau adalah seseorang yang pernah dinominasikan sebagai Hokage-6 di Konoha 1!
Yosh! Pertama-tama, aku harus himpun kekuatan yang ada dulu.
"Ero-Sennin!"
"Ya?"
"Kita kalah jumlah. Kita perlu tambahan kekuatan, sekecil apapun itu. Aku akan bawa Tsunade Baachan ke sini," usulku.
Jiraiya dan aku sama-sama tahu jika shinobi medis tak selayaknya diajak ke garis depan. Tapi melihat keadaan yang sekarang, kami tak punya pilihan lain. Kami butuh kekuatan pukulan yang dimiliki Tsunade.
"Pergilah. Aku akan mencoba mengulur waktu," kata Jiraiya.
Aku mengangguk lalu melakukan Hiraishin ke ruangan tempat perawatan Naru. Kulihat Tsunade masih ada di sana. Ia sedang melihat kekacauan Konoha dari jendela besar di ruangan tersebut. Raut wajah tegang bercampur kesal terlihat jelas di wajahnya.
"Bawa aku ke medan perang," pinta Tsunade saat ia menyadari kehadiranku. Nampaknya pemandangan di luar sana sudah cukup memberikan Sannin berdada besar itu gambaran betapa kacaunya Konoha saat ini. Sekarang bukan saatnya ia berdiam diri, Konoha sedang membutuhkannya.
"Beri aku waktu 3 menit." Tsunade mengangguk mengerti. Begitu juga dengan Shizune yang sejak awal terus duduk di samping kanan Naru untuk memantau keadaannya. Ia berdiri dan mempersilahkanku duduk di kursi agar aku bisa lebih dekat dengan Naru.
Melihat raut wajah kelelahan Naru yang sedang terlelap membuatku semakin merasa bersalah. Seandainya aku tak terlalu fokus kepada Sasuke, ini tidak akan terjadi. Kuseka keringat dingin di pelipis Naru. Ia sudah berjuang menahan rasa sakit di lehernya cukup lama. Kukesampingkan dulu perasaan sedihku kali ini. Aku harus bergerak cepat. Kugenggam tangan Naru, lalu kumasuki alam bawah sadarnya.
"Naruto?" panggil Kurama.
Saat kubuka mataku, aku dihadapkan pada sel besar yang pintunya tersegel. Segel tersebut buatan Hokage Ke-4 dan memaksa sosok di dalam sel itu tak bisa kabur kemana-mana. Kuperhatikan sekelilingku. Keadaannya agak gelap, udaranya dingin, dan dindingnya lembab dengan dasar lantai yang digenangi air. Satu-satunya suara yang kudengar di sana adalah tetesan-tetesan air yang menggema di sepanjang lorong. Pemandangan yang tak asing bagiku karena aku sudah sering melihatnya di dalam alam bawah sadarku sendiri.
"Rasanya familiar?" tanya Kurama, seperti membaca pikiranku. Saat itu Kurama sedang duduk di sampingku.
"Alam bawah sadar ini tidak berbeda dengan milikku," gumamku.
"Itu bagimu. Bagiku, ada perbedaan yang sangat mencolok di sini." Jeda sejenak, Kurama lalu berjalan mendekati sel dan memegang jeruji besinya. "Jika dulu aku yang dikurung, maka sekarang aku melihat rubah lain yang dikurung."
BRAK!
Tiba-tiba ada 'Kurama lain' yang menggebrak jeruji besi tersebut. "Apa yang kalian inginkan, hah?!"
Aku berusaha tenang, tapi tetap saja aku refleks mundur selangkah saat melihat betapa buasnya Kurama milik Naru. Jika kuperhatikan, Kurama yang ada di tubuh Naru itu adalah versi 'yang' (sama seperti milikku saat seumuran dengannya). Terlihat dari bulunya yang terang dan chakra yang dikeluarkannya. Itu berarti versi 'yin'-nya masih bersama Hokage Ke-4, ayah Naru. Keadaannya berbeda denganku sekarang, Kurama milikku sudah sempurna, yin dan yang sudah bergabung. Saat perang dunia ninja ke-4, ayahku di Konoha 1 memberikan chakra yin di tubuhnya padaku.
Aku berusaha menenangkan diriku. Kutarik napas dalam-dalam lalu berjalan mendekati Kurama milik Naru.
"GROAAAAARRRHHHHH!" Ia meraung tepat di hadapanku. Sekarang aku tidak terlalu kaget lagi karena sudah mulai terbiasa. Lagipula jika dipikir lagi, Kurama milikku sering melakukan gertakan-gertakan seperti itu di masa lalu.
Mendengar raungan itu, Kurama milikku sama cueknya denganku. Ia hanya diam beberapa meter dari jeruji besi tak mempedulikan amukan kembarannya.
"Hei kau, Kurama yang di sana," tunjukku pada Kurama Naru. "Tolong hancurkan virus ular dalam tubuh Naru," perintahku to the point.
"Cih! Siapa kau? Kenapa aku harus menurutimu?!" ledek Kurama Naru.
"Bodoh," cibir Kurama milikku. "Jika virus itu semakin menyebar, tubuh Naru akan dikuasai ular dan tak akan ada tempat untukmu."
Kurama Naru terdiam. Terkurung sendiri saja sudah membuatnya tersiksa. Apalagi jika harus berbagi tempat dengan makhluk lain. Ia tak ingin tempat tinggalnya dikuasai ular.
"Kalau begitu lepaskan segelnya! Bagaimana bisa aku menghancurkan virus di seluruh tubuh Naru jika aku terkurung?" tanyanya.
Aku akan menjawab tapi Kurama-ku memberikan isyarat padaku untuk diam, membiarkannya bicara dengan Kurama lain yang identik dengannya. "Omong kosong! Apa kau pikir aku bodoh? Kita sama-sama Kurama, jadi jangan membodohiku. Aku tahu kau bisa menghancurkan virus ular dari dalam sana tanpa perlu keluar dari sel. Kau hanya tinggal mengalirkan chakra-mu ke seluruh tubuh Naru, lalu menghancurkan setiap virus ular yang menginfeksi sel Naru."
BRAKKKK!
"Brengsek!" bentak Kurama Naru sambil kembali menggebrak jeruji besi. Ia kesal karena upayanya untuk membohongiku digagalkan oleh Kurama-ku. "Akan kuturuti kemauan kalian sekarang. Tapi suatu saat aku akan keluar dan menghajar kalian! Terutama kau, rubah sialan!" Tangan Kurama Naru keluar untuk mencakar Kurama-ku tapi tidak berhasil.
"Kau memang bodoh! Lihat dirimu sendiri! Kau juga rubah! Lebih tepatnya rubah yang terkurung!"
"GROAAARRRRHHHHHHH!"
"Cukup Kurama, ayo pergi," ajakku. Kupikir perdebatan ini tak akan ada habisnya, malah jika dibiarkan akan makin memanas.
Aku tersadar dari alam bawah sadarku. Saat kubuka mataku, aku kembali melihat Shizune dan Tsunade di ruang perawatan Naru. Shizune tampak khawatir karena kini badan Naru diselimuti chakra orange Kyuubi.
Kurapikan poni pirang Naru yang saat itu masih belum siuman. "Jangan khawatir. Chakra Kyuubi akan mencoba untuk menghancurkan virus ular yang tersebar di tubuh Naru. Semoga saja berhasil dan Naru bisa sembuh."
Shizune agak tenang setelah mendengar penjelasanku. Ia kembali duduk di samping Naru, sementara aku memegang tangan Tsunade, bersiap untuk melakukan Hiraishin. "Aku titip Naru, Shizune."
"Kami pergi," pamit Tsunade.
"Hn. Kalian berdua hati-hati!"
Setibanya aku di pusat desa, aku tak membuang waktu dan langsung mengaktifkan mode Kyuubi. Kemudian kuminta 9 orang di pihak Konoha 2 untuk mendekatiku. Mereka adalah Jiraiya, Tsunade, Hokage Ke-3, Kakashi, Guy, Asuma, Kurenai, Anko, dan Yamato (yang baru saja datang). Setelah mereka berkumpul, kusentuh badan mereka satu per satu hingga chakra Kyuubi ikut menyelimuti badan mereka.
"Aku membagi chakra-ku kepada kalian semua. Chakra ini bukan hanya menambah kekuatan kalian, tapi juga bisa melindungi kalian dari serangan lawan. Aku sudah mengatur strategi, tapi aku butuh 1 orang pengendali air selain Kakashi."
Kami saling bertukar pandangan. Nyatanya tidak ada pengendari air di pihak kami selain Kakashi. Mungkin ada saja yang bisa mengendalikan air. Tapi aku butuh pengendali air yang murni dan mahir, bukan sekedar bisa saja.
"Aku bisa mengendalikan air."
Kami menoleh ke arah datangnya suara.
"Danzou?"
Beberapa orang terlihat kaget melihat kehadiran sosok itu. Tidak mengherankan memang. Aksi kontroversial Danzou di 'belakang layar' sudah menanamkan kecurigaan berbagai pihak terhadapnya. Danzou semakin dicap berbahaya saat ia membentuk ANBU 'root', kelompok yang diklaimnya sebagai pelindung Konoha.
Aku tak akan membahas Danzou terlalu detail di sini. Yang kutahu sekarang, aku dan Danzou memiliki tujuan yang sama, yaitu melindungi Konoha. Jadi tak ada alasan untuk menolak bantuannya.
"Baiklah, kita butuh banyak tambahan kekuatan di pihak kita. Apalagi akan sangat berguna jika kau bisa mengendalikan air," jelasku, mencoba memecah ketegangan yang mulai terasa. Yang lain tak ada yang membantah perintahku karena mereka tahu ini yang terbaik. Kusentuh badan Danzou untuk mengalirkan sebagian chakra-ku.
"Selanjutnya, kita akan-"
BOOM!
Percakapan kami terganggu saat ada kelabang raksasa yang muncul dari bawah tanah tempat kami berpijak.
"Tidak ada waktu untuk berdiskusi!" kata Obito yang saat itu berdiri di atas kelabang raksasa. Rupanya Pain Chikushodo sudah memulai aksinya dengan memanggil beberapa hewan besar untuk memecah konsentrasi kami. Ini cukup merepotkan karena membuat kami terpaksa berpencar padahal aku belum menyampaikan rencanaku.
Apa boleh buat. Kuciptakan 9 bunshin dengan mode Kyuubi yang aktif.
"Tolong, lindungi para shinobi Konoha sekuat yang kalian bisa," pintaku pada semua bunshin-ku. Aku tahu ini terdengar aneh karena memohon pada bunshin sama saja dengan memohon pada diriku sendiri. Entahlah, suasana perang yang menegangkan ini memaksaku untuk mensugesti diriku sendiri.
Kesembilan bunshin-ku mengangguk mengerti, lalu berpencar ke segala arah untuk melindungi para shinobi Konoha. Sementara aku sendiri tetap berdiri di tempatku, mendongak, menatap tajam ke arah Tobi yang berdiri di atas kepala kelabang raksasa.
"Aku yang akan jadi lawanmu, Uchiha Obito."
1stBunshin & Jiraiya VS Pain
"Kuchiyose no Jutsu!" seru Jiraiya. Ia bereaksi cepat mengantisipasi serangan Pain Chikushodo dengan memanggil Gamabunta, Gamaken, dan Gamahiro. Tiga kodok raksasa itu segera menahan amukan berbagai hewan besar yang dipanggil Chikushodo. Pertarungan hewan-hewan besar itu membuat kekacauan di medan perang yang semakin membuat semua shinobi terpisah-pisah, termasuk di pihak Akatsuki.
Kumanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan rencanaku kepada Jiraiya.
"Ero-Sennin!"
"Ya?!"
"Dengarkan baik-baik rencanaku. Sekarang kau buatlah bunshin dan suruh dia bertapa mengumpulkan energi alam. Kau harus masuk ke mode sage agar penyeranganmu maksimal."
Jiraiya tidak terlalu kaget saat aku tahu ia bisa masuk ke sage mode serta metode mengumpulkan energi alam dengan bunshin. Ia bisa membahasnya nanti. Lebih baik sekarang ia segera membuat bunshin lalu menyuruhnya bertapa. Sementara bunshin-nya bertapa, Jiraiya mendengarkan lanjutan rencanaku.
"Aku sudah membagi setiap shinobi di pihak kita dan siapa Akatsuki yang akan mereka lawan. Aku membaginya sesuai dengan keahlian kita masing-masing dan berdasarkan kelemahan para anggota Akatsuki. Yang pertama adalah kau, Ero Sennin. Lawanmu adalah 6 orang Akatsuki berambut orange."
Kening Jiraiya berkerut karena ia disuruh melawan 6 orang sekaligus. Bukannya ia takut, hanya saja ini tidak ia duga sama sekali. Ia perlu penjelasan lebih lanjut.
"Mereka adalah Pain. Aku tahu ini terdengar tidak adil, tapi hanya kau yang bisa menangani mereka, kau yang terkuat diantara shinobi Konoha yang ada."
"Apa Jiraiya di Konoha 1 terbunuh oleh mereka?" tanya Jiraiya dengan nada serius.
"Ya," jawabku jujur. Tapi aku buru-buru menambahkan. "Dulu dia belum tahu kelemahan Pain. Namun sebelum mati ia berhasil menemukan kelemahan Pain dan menyampaikannya padaku hingga akhirnya aku bisa mengalahkan mereka. Sekarang giliranku yang akan memberi tahu semua kelemahan mereka padamu."
"Aku mengerti, lanjutkan penjelasanmu."
"Mereka sebenarnya hanya jasad yang dikendalikan oleh 1 orang melalui besi chakra. Yang perlu kau perhatikan adalah penglihatan mereka berenam terhubung satu sama lain. Kekuatan mereka pun macam-macam. Yang potongan rambutnya mirip sepertiku adalah Tendo. Ia memiliki kemampuan untuk mendorong dan menarik orang atau benda. Tapi punya minimal delay 5 detik tiap serangan. Yang botak dipanggil Shurado. Dia bisa mengeluarkan senjata mekanik seperti misil dari dalam tubuhnya. Yang punya tindikan diagonal di hidung bernama Ningendo. Ia punya kemampuan membaca pikiran seperti Klan Yamanaka. Kemampuannya yang lain adalah membunuh dengan cara mengambil jiwa musuhnya. Yang berponi panjang bernama Chikushodo. Kemampuannya adalah melakukan jurus Kuchiyose berbagai hewan besar. Yang badannya besar dan punya rambut ponytail pendek adalah Gakido. Kemampuannya adalah menyerap chakra. Berapa kuatpun jurus yang kau tujukan padanya, ia pasti akan mampu menyerapnya. Jadi kau hanya bisa melawannya dengan taijutsu. Yang berambut rancung dan punya 3 tindikan panjang di telinganya adalah Jigokudo. Kemampuannya adalah menginterogasi orang menggunakan Raja Neraka, sebuah sosok berbentuk kepala besar. Selain digunakan untuk menginterogasi orang, Jigokudo juga bisa menggunakan Raja Neraka untuk menghidupkan atau memperbaiki tubuh Pain lain yang hancur."
Jiraiya terdiam, berusaha merekam seluruh informasi yang kusampaikan padanya.
"Aku tahu akan sangat merepotkan melawan keenamnya sekaligus, tapi itu satu-satunya cara sebelum kau bisa menemui pengendali mereka di bukit." Aku tak menyebutkan siapa sosok yang akan ditemui Jiraiya di bukit. Biarlah dia yang mengetahui sendiri kalau Pain sesungguhnya adalah Nagato, mantan muridnya.
"Begini rencanaku. Pertama, kita harus mengalahkan Jigokudo dulu agar ia tak bisa menghidupkan Pain lain yang mati. Kedua, kita harus kalahkan Gakido karena ia menyerap ninjutsu-mu, nanti kita akan gunakan taijutsu untuk melawannya sehingga kau tidak perlu mengeluarkan chakra yang banyak. Ini akan menghemat penggunaan chakra-mu. Ketiga, suruh Gamabunta, Gamahiro, dan Gamaken untuk menangani berbagai hewan besar sementara kita menghabisi Chikushodo. Keempat, gunakan ninjutsu jarak jauh untuk menyerang Shurado dan Ningendo. Lalu yang terakhir, Tendo, kita akan membagi tugas. Aku akan memancingnya menggunakan Shinra Tensei. Selanjutnya kau punya waktu selama 5 detik untuk mengalahkannya."
Bunshin Jiraiya yang telah mengumpulkan energi alam melenyapkan dirinya dan seketika itu pula chakra mengalir ke tubuh Jiraiya yang asli sehingga ia masuk ke mode sage. Fukusaku dan Shima pun kini muncul di kedua pundak Jiraiya.
"Aku tahu mode sage tak akan bertahan lama, bahkan dengan Fukusaku dan Shima yang bergabung dengan tubuhmu, kau masih belum punya cukup waktu. Jadi aku ingin kita mengalahkan Pain kurang dari 10 menit," jelasku.
Jiraiya mengangguk setuju. "Yeah, ayo kita lakukan."
Di detik selanjutnya, aku langsung melakukan Hiraishin untuk menyerang Jigokudo sementara Jiraiya melesat ke arah Gakido. Aku berhasil muncul di belakang Jigokudo. Kuarahkan pukulan ke arah tengkuknya tapi ia berhasil mengelak. Rupanya ada salah satu dari 6 Pain – entah yang mana - yang melihat gerakanku. Mencari titik buta 6 Pain yang pandangannya terhubung satu sama lain memang tak mudah.
Kulihat Jiraiya juga kesulitan menyerang Gakido karena kemanapun ia mengarahkan serangan, Gakido selalu berhasil mengelak. Kuedarkan pandangan ke segala arah, mencari lokasi keenam Pain. Ternyata mereka berada di berbagai titik di sekeliling kami. Pantas saja, itu akan membuat mereka hampir tak punya titik buta. Aku harus melakukan sesuatu.
"Gamanbunta!"
"Apa?"
"Semburkan asap cerutumu ke arah kami." Gamabunta menurut meski sebenarnya ia tak tahu apa tujuanku menyuruhnya begitu. Kenyataannya adalah, asap akan menutupi pandangan keenam Pain sehingga aku dan Jiraiya bisa menyerang Jigokudo dan Gakido dengan baik. Aku dan Jiraiya bisa lebih cepat menemukan lokasi mereka berdua dalam asap dengan bantuan chakra Kyuubi yang menyelimuti tubuh kami.
Jiraiya mengerti strategiku dan melancarkan kembali serangannya kepada Gakido begitu asap menyelimuti kami. Aku juga tak mau kalah, kembali kulakukan Hiraishin ke arah Jigokudo. Kini aku muncul tepat di depanya dan langsung kupukul perutnya. Lagi-lagi chakra Kyuubi membantuku dalam melipatgandakan kekuatan pukulan. Hanya membutuhkan satu pukulan saja untuk mengalahkan Jigokudo. Aku tersenyum senang saat melihat Jiraiya juga berhasil melumpuhkan musuhnya.
Dua Pain mati. Sekarang tidak akan ada yang menghidupkan jasad Pain lain jika ada yang mati, juga tak akan ada yang menyerap chakra. Kami akan leluasa memakai ninjutsu.
"Gamabunta, atasi monster-monster itu!" teriak Jiraiya. Kelihatannya Jiraiya akan melangkah ke tahap ke-3. Aku mengerti dan menyiapkan rasengan di tangan kananku. Yang kami tuju sekarang adalah Chikushodo. Ia menyadari dirinya terancam sehingga memanggil monster lain berbentuk badak dan kadal besar.
"Gamaken, Gamahiro!" teriak Jiraiya. Kedua kodok itu menghalau kedua monster yang dipanggil Chikushodo sehingga kami bisa menyerang Chikushodo dengan leluasa.
Tanpa kuduga Jiraiya juga menyiapkan rasengan di tangan kirinya. Kami akhirnya menghantam perut Chikushodo dengan 2 Rasengan kami dari arah yang berlawanan, aku dari arah belakang, dan Jiraiya dari arah depan.
"Rasengan!" "Rasengan!"
Tubuh Pain Chikushodo tak berdaya menahan kuatnya 2 rasengan di kedua sisi tubuhnya. Ia tersungkur ke tanah dengan luka di bagian perut dan punggung. Ia sudah tak mampu berdiri lagi karena luka serius itu.
"Tiga lagi," gumam Jiraiya.
"Berapa lama lagi sage mode-mu bertahan?"
"Sekitar 6 menit."
"Itu waktu yang cukup," ujarku sebelum menerjang lawan kami selanjutnya, Shurado dan Ningendo.
2ndBunshin & Sandaime VS Kakuzu
"Double Rasen Shuriken!"
BLESH!
"Guh!"
Kutarik kedua tanganku dari dada Kakuzu. Dua Rasen Shuriken milikku yang berukuran kecil berhasil menghancurkan 2 jantung yang dimiliki Kakuzu. Hokage Ke-3 menghela napas lega karena orang yang menjadi lawannya sudah kalah. Namun ia hanya bisa mematung di tempatnya saat melihat Kakuzu masih hidup padahal dadanya sudah hancur.
"Jangan senang dulu, Jii-san," ujarku sambil berjalan mendekati Hokage Ke-3. "Dia tidak akan mati secepat itu. Namanya Kakuzu, dia punya 5 jantung dalam tubuhnya."
"Lima?!" tanya Hokage Ke-3 tak percaya.
"Ya. Dia punya 5 jantung yang berfungsi normal. Dia bisa mengganti jantungnya dengan yang baru setiap salah satu jantungnya mati. Itulah caranya untuk terus bertahan hidup. Aku tak tahu sudah setua apa dia, tapi yang jelas dia kenal Hokage Ke-1. Jadi kau bisa bayangkan setua apa dia dan sebanyak apa pengalamannya dalam bertarung. Aku sengaja menjadikannya lawanmu karena aku tahu kau juga memiliki banyak pengalaman bertarung. Untuk mengalahkannya sederhana saja, kita harus menghancurkan kelima jantungnya. Dua jantung sudah hancur. Sekarang kita incar 3 lagi. Jangan sampai kau tertangkap atau dia akan mengambil jantungmu."
"Tenang saja, aku aman. Ada satu lagi alasan yang membuatku cocok jadi lawan Kakuzu."
Aku menatap wajah pria 70 tahun itu penasaran.
"Dia tak akan mengambil jantungku karena aku sudah tua, untuk apa mengambil jantung orang yang sudah bau tanah? Tentunya dia hanya tertarik pada jantung anak muda sepertimu," candanya sambil tersenyum.
Aku pun ikut tersenyum, sempat-sempatnya Hokage Ke-3 bercanda di saat seperti ini.
"Kalau begitu kita sama-sama aman. Aku hanya bunshin, tubuhku akan menghilang saat ia berusaha mengambil jantungku."
"Baguslah." Hokage Ke-3 kemudian memanggil partner-nya, Enma. "Aku dan Enma akan mengalihkan perhatiannya. Kau incar jantungnya yang tersisa."
Aku mengangguk mengerti.
"Ayo Enma!"
"Yosh!"
3rd - 4thBunshin, Tsunade & Yamato VS Sasori & Zetsu
BUKH!
Zetsu tersungkur saat menerima pukulan dari Tsunade. Tak memberi kesempatan Zetsu untuk bangun, Tsunade kembali menghantam tubuhnya dengan pukulan hebat hingga terbentuk kawah besar di medan perang.
Zetsu meringis kesakitan tapi tak lama kemudian ia tersenyum, akar-akar di sekitar kawah meruncing dan mengincar Tsunade.
"Baachan!" teriakku. Tsunade menoleh dan kaget melihat akar-akar akan menusuknya. Aku menarik badan Tsunade menjauh sekaligus menteleportasinya ke tempat lain.
Sementara aku dan Tsunade melakukan Hiraishin, Yamato dan bunshin-ku yang lain menahan akar-akar runcing yang dikontrol oleh Zetsu.
"Zetsu bukan lawan yang sesuai untukmu," ujarku pada Tsunade saat sampai di sisi lain Konoha. "Lawanmu adalah Sasori, seorang puppet master."
Tsunade memperhatikan sosok yang bungkuk dan memakai masker di hadapan kami.
"Sosok yang di hadapan kita sekarang adalah boneka yang berfungsi sebagai senjata sekaligus alat pertahanan, panggilannya adalah Hiruko. Sasori yang asli berada di dalamnya. Bahkan dia mengubah tubuhnya sendiri jadi boneka. Hanya sebagian kecil saja dari Sasori yang merupakan sel hidup yang dia sebut core (namami no kaku). Aku pikir hanya kau yang cukup kuat untuk menghancurkan tubuh Hiruko. Aku tahu kita berdua bukan puppet master, tapi berbekal informasi dan strategi yang kudapatkan, aku rasa kita punya kesempatan untuk menang."
"Kau bisa mengandalkanku," kata Tsunade penuh percaya diri.
"Pegang pundakku, bersiaplah untuk menunjukkan pukulan terbaikmu."
Begitu Tsunade memegang pundak kiriku, langsung kulakukan teleportasi ke atas tubuh Hiruko. Aku dan Tsunade berpindah secepat kilat ke atas tubuh Hiruko. Saking cepatnya bahkan Tsunade tak sempat menanggapi ucapanku.
"Pukul sekarang!"
BRAKKK!
Tsunade mengeluarkan kemampuan terbaiknya dengan menghantam tubuh Hiruko tanpa ampun. Sasori tak sempat menghindar. Armor yang diklaim sangat kuat itu kini hancur berantakan. Aku tak salah memilih Tsunade sebagai lawannya.
Dari balik potongan-potongan tubuh Hiruko yang hancur berserakan, perlahan Sasori menunjukkan dirinya. "Kekuatanmu memang tak bisa diremehkan, Tsunade Hime. Kau menghancurkan Hiruko dalam sekali pukul. Tak heran kau dijuluki Sannin Konoha. Aku hanya penasaran siapa orang yang bersamamu? Kenapa dia tahu banyak tentangku?"
"Kau tak perlu tahu siapa aku," potongku, sebelum Tsunade sempat menjawab.
"Kalau begitu aku akan memaksamu bicara." Sasori berjalan selangkah ke depan, menunjukkan 10 pedang tajam dari belakang pinggangnya.
5th-7thBunshin, Kakashi, Guy & Asuma VS Deidara, Kisame & Hidan
"Kurasa di sini yang paling ramai," ujarku saat sampai di bagian terparah dari medan perang. Bangunan di sekitarku nyaris tak ada yang utuh. Tempatku dan kedua bunshin lain berdiri sekarang adalah bagian terdekat ke bangunan rumah sakit, satu-satunya bangunan yang masih kokoh berdiri, yang juga menjadi bangunan yang akan kulindungi karena ada Naru di sana.
Ternyata benar dugaanku, Narulah yang mereka incar sejak awal.
Kisame dan Hidan menebas siapa saja shinobi yang menghalangi mereka. Sedangkan Deidara melemparkan bom dari udara secara bertubi-tubi. Bahkan di sisi kananku Itachi dan Konan masih berlari untuk mendekat ke bangunan rumah sakit. Aku kembali fokus pada tiga lawan di hadapanku, biarlah dua bunshin-ku yang lain yang akan menangani Itachi dan Konan.
KABOOM!
"Ugh!" Atap rumah sakit terkena ledakan dan pecahan-pecahannya berhamburan mengenaiku. Aku harus segera menghentikan aksi bombardir yang dilakukan Deidara secepatnya. Aku takut Naru terkena efek ledakan.
Chakra Kyuubi dalam jumlah yang besar menyelimuti tubuhku. Semakin lama bentuknya makin solid dan membentuk tubuh Kurama yang sempurna. Jika diperhatikan sekilas, bentuk tubuh Kurama itu mirip seperti tubuh asli Kurama yang menyerang Konoha 2 14 tahun lalu. Tak heran beberapa penduduk ketakutan melihat sosoknya, termasuk Kakashi, Asuma dan Guy. Hanya saja mereka bertiga memilih untuk percaya padaku. Sosok 'Kurama' yang kali ini muncul bukan bertujuan menghancurkan desa, tapi justru akan melindungi desa.
Kupusatkan energi di mulut Kurama dan-
BOOM!
Kutembakkan bola energi berwarna hitam itu ke arah burung yang dikendarai Deidara. Deidara menghindarinya dengan mudah. Jarak kami terlalu jauh sehingga aku tak bisa membidiknya dengan tepat.
"Biarkan aku mengambil kendali!" seru Kurama.
Aku menurut dan membiarkan Kurama mengontrol tubuhnya kembali, sedangkan aku tetap berdiri di pusat kepala/chakra Kurama. Kurama berlari melewati reruntuhan bangunan dan melompat ke sebuah bangunan berlantai 3. Dengan instingnya sebagai hewan, tentu Kurama bisa melakukan gerakan-gerakan itu dengan lebih lincah dari pada aku. Bangunan berlantai 3 itu Kurama jadikan tumpuan untuk melakukan lompatan yang lebih jauh lagi, hingga tangan kanannya bisa mencakar burung yang dinaiki Deidara.
"Giliranmu!" seru Kurama lagi sambil memberikan kembali kontrol atas tubuhnya padaku.
Aku mengerti dan kembali mengumpulkan energi dalam mulut Kurama. Kali ini Deidara dan burung tanah liatnya berada dalam genggamanku, sudah siap menerima bijuudama milikku.
"Terima ini!"
BOOOMMMMM!
Ledakan kembali terjadi, membuat langit Konoha berubah menjadi warna putih untuk beberapa detik.
Chakra Kyuubi langsung lenyap setelah aku menembakkan bijuudama itu. Sebagai seorang bunshin, aku tak bisa menggunakan mode Kyuubi selama Naruto yang asli. Bahkan aku sudah mulai kelelahan sekarang. Aku memang sengaja tak membagi rata kekuatanku ke semua bunshin. Tubuhku yang asli mendapatkan porsi chakra yang lebih banyak karena pertarungan dengan Obito membutuhkan porsi chakra yang banyak pula.
"Naruto, apa rencananya?" tanya Kakashi. Dirinya masih sibuk melawan Hidan bersama Asuma.
"Pertama, kau menemaniku melawan Deidara. Kau bisa menggunakan jutsu halilintar, itu adalah kelamahan Deidara."
"Dia belum mati?"
"Satu bijuudama belum cukup untuk membunuhnya," ujarku. "Kedua, Guy, kau lanjutkan melawan Kisame karena memang dia lawan yang cocok denganmu. Dia punya pedang yang menyerap chakra, jadi kunai yang mahir di taijutsu sepertimu adalah orang yang tepat untuk melawannya."
Guy yang dari tadi memang sedang melawan Kisame melanjutkan pertarungannya.
"Ketiga, Asuma, kau lawan Hidan, satu hal yang pasti, jangan sampai ia mendapatkan darahmu. Dia punya ritual yang bisa membunuhmu sekali dia mendapatkan darahmu. Berjuanglah, aku dan dua bunshin-ku yang lain akan ikut bertarung menemani kalian."
8th - 9thBunshin, Danzou, Kurenai, Anko VS Konan & Itachi
"Aku pastikan kalian tak melangkah lebih jauh lagi," ujarku pada Itachi dan Konan yang berdiri beberapa meter saja dari gerbang rumah sakit. Danzou, Kurenai, dan Anko berdiri di sampingku.
Aku sudah memberitahukan kekuatan Konan dalam memanipulasi kertas serta kelemahannya terhadap elemen air kepada Danzou.
Aku juga sudah memberitahu alasan kenapa Kurenai dan Anko kusuruh melawan Uchiha Itachi berdua sekaligus. Malah akan jadi 3 vs 1 jika ditambahkan dengan bunshin-ku. Selain karena Kurenai adalah satu-satunya pengguna genjutsu yang hebat di Konoha, alasan lainnya adalah karena Itachi paling susah untuk diprediksi. Ia selalu saja punya jurus atau pergerakan yang merepotkan.
Itachi mulai mengaktifkan sharingan-nya, sementara Konan sudah mengubah sebagian tubuhnya jadi kertas. Bukan Akatsuki namanya jika mereka mau menuruti perintahku begitu saja.
Naruto VS Obito
"Aku salut pada kemampuanmu dalam membagi-bagi tugas ke semua shinobi Konoha. Kau bisa mengefektifkan serangan meski dengan jumlah shinobi yang sedikit. Kau bahkan sampai tahu semua kelemahan kami dengan detail. Siapa kau sebenarnya?" tanya Obito serius.
Sosok bertopeng orange di hadapanku kontras sekali dengan Tobi/Obito yang sempat kutemui di Konoha 1. Aku ingat saat aku dan Kiba terpancing emosi karena tingkah bodohnya dalam menghindari serangan kami. Gerakannya konyol dan perkataannya sangat polos, yang malah membuat orang yang mendengarnya makin kesal. 'Tobi anak baik,' itulah kalimat yang sering kudengar darinya.
Sekarang keadaannya berbeda. Sosok Tobi di hadapanku telah membuang jauh-jauh sifat konyolnya. Yang tersisa sekarang adalah sorot mata penuh intimidasi yang terlihat dari lubang topengnya. Sikap serius Obito yang kuhadapi sekarang sangat mirip dengan Obito yang telah menjadi Sage of The Six Path di Perang Dunia Ke-4 di Konoha 1.
"Apa kau dari masa depan? Hingga kau tahu semua hal tentang kami?" tanya Obito lagi karena melihatku tak menjawab pertanyaannya.
Aku merasa tak perlu menjawab pertanyaannya jadi memilih untuk tetap diam.
"Baiklah kalau kau tak mau menjawab. Tapi aku beritahu padamu satu hal. Kekuatan kami terlalu besar untuk kau hadapi sendiri. Aku katakan 'sendiri' karena pada dasarnya shinobi lain di pihakmu sudah terlebih dahulu kelelahan karena melawan Orochimaru dan anak buahnya. Hanya kau yang punya stamina 100%. Aku sengaja menunggu momen selesainya invasi Orochimaru sebelum memutuskan menyerang. Hari ini kau akan lihat satu per satu temanmu mati. Perlahan rencana yang telah kau susun akan berantakan."
Kedua tanganku mengepal kuat. Selama 4 tahun ini aku tak pernah merasa kesal kepada seseorang. Dan kini Obito jadi orang pertama yang membuatku kesal setelah sekian lama.
"Sadarlah, sejak awal kalian sudah kalah jumlah."
"Diam!" teriakku. Berbicara dengan Obito hanya akan membuatku makin tertekan. Harus kuakui pemuda Uchiha itu memang pintar bicara, bahkan dulu aku nyaris menjadi sekutunya jika Hinata tak menyadarkanku.
Kubuat rasengan di tangan kananku dan kuarahkan ke wajah Obito. Saat aku yakin rasengan itu akan mengenai kepala Obito, tanganku malah menembus wajahnya. Jurus kamui Obito benar-benar membuatku kesulitan. Seandainya ada Kakashi yang bisa membantuku seperti saat di Konoha 1. Sekarang mau tak mau aku harus beradu kecepatan dengan Obito, persis seperti yang pernah dilakukan ayahku. Dulu pasca perang dunia ke-4, ayahku sempat bercerita padaku tentang pertarungannya dengan Obito di masa lalu. Sekaranglah saatnya aku mempraktekannya sendiri.
Kuambil kunai dari kantong senjata belakangku. Lalu aku berlari ke arah Obito sambil kulemparkan kunai tadi. Seperti biasa, Obito membiarkan bagian kepala yang terkena kunai berpindah ke dimensi lain sehingga terlihat seolah-olah kunai itu menembus kepalanya. Sementara itu kusiapkan sebuah rasengan lagi di tangan kananku. Kulihat Obito juga sudah menyiapkan rantai di tangannya untuk menangkapku.
Tepat saat kunai melewati kepala Obito, aku melakukan Hiraishin ke posisi kunai tersebut. Otomastis sekarang posisiku ada di atas punggung Obito, telah siap dengan rasengan di tangan. Kuarahkan rasengan ke punggung Obito.
"Rasengaaaan!"
Obito yang tak sempat menghindar terkena hantaman rasengan di punggungnya. Tekanan di punggungnya juga membuat ia terbentur ke tanah dengan keras. Dua efek serangan itu akan cukup untuk melumpuhkan seorang shinobi, tapi tidak bagi Obito. Tak lama kemudian Obito sudah bangkit lagi. Serangan seperti itu memang bukan ancaman serius bagi Obito. Aku memperhatikan bahu Obito. Paling tidak, seranganku telah menunjukkan hasil, kulihat jubah bagian kirinya hancur dan pundak kirinya juga mengeluarkan darah yang tak sedikit.
"Gerakan itu. Aku ingat sekarang, aku pernah menerima serangan seperti itu sebelumnya." Obito terdiam sejenak, seperti sedang mengingat-ngingat. "Hokage Ke-4, ya… Hokage Ke-4 pernah menyerangku seperti itu."
"Jangan banyak bicara. Ayo cepat kita akhiri-ugkh!"
Tiba-tiba tubuhku terasa lelah dan bayangan-bayangan tentang Tsunade berdatangan ke otakku. Ini adalah ingatan-ingatan yang kembali dari bunshin ke-3. Itu berarti bunshin 3-ku sudah mati. Dari ingatan-ingatan yang dikirimkan bunshin ke-3, kulihat Tsunade berhasil mengalahkan Sasori tapi ia terkena racun Sasori. Sekarang dia sedang sekarat. Meski ada beberapa petugas medis yang melakukan pertolongan, racun Sasori tak akan bisa disembuhkan jika tidak dengan penangkalnya.
Belum sempat aku mencari jalan keluar untuk menolong Tsunade, datang lagi bayangan lain, kali ini dari bunshin ke-2. Ternyata Hokage Ke-3 sudah mati dikalahkan Kakuzu. Kekalahan terjadi karena bunshin-ku dan Hokage Ke-3 lengah dan tertangkap oleh Kakuzu. Di saat-saat terakhir, bunshin ke-2 berhasil menusuk jantung terakhir Kakuzu. Namun di saat yang bersamaan Kakuzu berhasil menusuk jantung Hokage Ke-3.
Aku berlutut di tanah, kedua kakiku mendadak lemas. "Tsunade Baachan, Jiisan. Ini tidak mungkin…"
BUKH!
Aku tersungkur ke tanah. Darah segar keluar dari mulutku. Dari rasa perih yang kurasakan, sepertinya pipi bagian dalamku sobek. Selain itu, kurasakan nyeri di bagian rahang kiri. Dengan pikiran yang kacau seperti itu bahkan aku tak bisa mengantisipasi tendangan Obito barusan di wajahku.
"Itulah yang kumaksud. Itu adalah awal dari kehancuran rencanamu. Kalian akan kalah."
To Be Continue…
A/N: Bikin adegan pertarungan itu ternyata ga gampang. Semoga ga membingungkan.
Summary
Lokasi: Konoha 2
Stage 1: Bunshin 1, Jiraiya vs 6 Pain, Nagato
Stage 2: Bunshin 2, Hokage Ke-3 vs Kakuzu
Stage 3: Bunshin 3, Tsunade vs Sasori
Stage 4: Bunshin 4, Yamato vs Zetsu
Stage 5: Bunshin 5, Kakashi vs Deidara
Stage 6: Bunshin 6, Guy vs Kisame
Stage 7: Bunshin 7, Asuma vs Hidan
Stage 8: Bunshin 8, Kurenai-Anko vs Itachi
Stage 9: Bunshin 9, Danzou vs Konan
Stage 10: Naruto vs Tobi
MATI: Bunshin 2, Bunshin 3, Hokage Ke-3, Sasori, Kakuzu, Jigokudo, Gakido, Chikushodo
KOMA: Tsunade
LUKA PARAH: Deidara, Zetsu
© rifuki
