Naru – Part 5

"Hard Choices"

Konoha 2, 4 tahun setelah perpindahan dimensi

5th -7th Bunshin, Kakashi, Guy, Asuma VS Deidara, Kisame, Hidan

(Bunshin 6 Point of View)

Pertarungan Guy melawan Kisame adalah satu-satunya pertarungan yang berlangsung di air, tepatnya di sungai besar yang membelah pusat desa Konoha. Kisame memilih lokasi ini karena daerah yang banyak air sangat menguntungkan bagi pengendali elemen air seperti dirinya. Pertarungan berlangsung alot karena Kisame bisa mengimbangi kekuatanku dan Guy. Tak heran dia dijuluki bijuu tak berekor.

CBUURRR!

Guy nyaris tenggelam karena kehilangan kontrol chakra di kakinya setelah dihantam Samehada di bagian pundak. Permukaan Samehada yang kasar telah merobek jaket jounin yang dipakainya serta melukai pundaknya hingga mengeluarkan darah. Aku sudah memperingati Guy berulang kali tentang besarnya kekuatan yang dimiliki Kisame, tapi ia tetap saja menyerang Kisame dengan terburu-buru.

"Guy! Dasar kau-"

Bentakanku terhenti saat kulihat Guy bukan sekedar unjuk gigi memamerkan kekuatan gerbang ke-5 miliknya, melainkan ia sengaja memancing Kisame mengayunkan Samehada untuk menangkap ujungnya. Ia sadar kalau Samehada harus dipisahkan dari Kisame agar tidak menyerap chakra Kyuubi di tubuhku dan tubuh Guy. Kisame kesulitan menarik Samehada dari pundak Guy karena Guy memegang kuat ujungnya dengan kedua tangan.

"Sekarang Naruto!" teriak Guy.

Aku mengerti rencana Guy dan mengarahkan tendanganku ke arah perut Kisame. Kisame tak mau mengambil resiko terkena tendangan sehingga memilih menghindar dengan melepaskan Samehada miliknya. Rencana Guy berhasil! Samehada yang telah Kisame lepaskan kubawa menjauh dari sang majikan, sementara itu Guy melanjutkan serangannya.

"Keimon! Gerbang ke-6 terbukalah!"

Dengan dibukanya gerbang ke-6 - yang lokasinya di perut - dalam tubuh Guy, maka kekuatan dan kecepatan Guy meningkat dari sebelumnya.

"Asa Kujaku!"

Asa kujaku adalah jurus yang bisa dilakukan saat Guy membuka gerbang ke-6 dalam tubuhnya. Tubuh Guy mengeluarkan puluhan bola api berbentuk menyerupai merak ke arah Kisame.

Menyadari dirinya terancam, Kisame mengeluarkan serangan pertahanan sekaligus serangan balasan.

"Suiton: Daikōdan no Jutsu!"

Kisame mengarahkan kedua tangannya ke arah Guy. Munculah hiu raksasa yang besar dari tangannya.

Oh tidak, aku ingat serangan itu!

Daikodan adalah serangan yang menyerap chakra lawan dan membalikannya dalam bentuk serangan yang lebih kuat. Kalau begini caranya chakra Kyuubi yang menyelimuti tubuhku dan Guy akan terserap habis, lalu akan berbalik menyerang kami. Aku tahu semua jurus yang dilancarkan Guy bukan ninjutsujadi Asa Kujaku tidak akan terserap, tapi tetap saja dengan level serangan Kisame yang sekarang kami akan kalah.

"Mundur Guy! Kau tak akan bisa menandinginya!"

Lagi-lagi Guy tak bergeming. Padahal puluhan merak api miliknya sudah lenyap dimakan oleh Daikodan milih Kisame.

"Kalau begitu…" Kini giliran Guy yang mengarahkan kedua tangannya ke depan. "Kyōmon: Gerbang ke-7 terbukalah! Hirudoraaa!"

Kali ini muncul sosok berbentuk harimau dari telapak tangan Guy dan menyerang hiu milik Kisame. Hiu milik Kisame dan harimau milik Guy saling menggigit. Namun Kisame tak bisa menyuruh hiu-nya menyerap chakra Guy karena pada dasarnya Hirudora bukanlah gelombang chakra, melainkan pukulan super cepat yang menyerupai bentuk harimau. Akhirnya Kisame kalah karena Hirudora sudah tak terbendung dan langsung menghantam badannya. Aku terpaku di tempatku memandang pertarungan dua orang hebat di hadapanku. Keputusanku sudah tepat menyuruh Guy melawan Kisame. Seandainya aku yang maju, justru chakra-ku akan terserap.

"Uhuk-uhuk…"

"Kau tidak apa-apa?" tanyaku saat Guy sudah menutup kembali 7 gerbang di tubuhnya.

"Aku baik-baik saja," cengirnya. Tapi aku tak buta, batuknya mengeluarkan darah. Pasti itu terjadi karena ia terlalu memaksakan membuka gerbang ke-7 padahal kondisi tubuhnya sudah lemah. Di sisi lain aku tak bisa memaksa Guy untuk istirahat. Kalian tahu sendiri kalau Guy tak bisa diatur dan selalu memaksakan diri.

"Kalau begitu sekarang kita bantu Asuma. Ia terpojok-"

"KATSU!"

Itu suara Deidara!

Aku menoleh ke arah datangnya suara. Lokasi pertarunganku dan Deidara tak terlalu jauh sehingga aku bisa melihat sosok monster tanah liat yang besar. Itu adalah bom C3 milik Deidara! Bunshin-ku (bunshin 5) berusaha menteleportasi C3 ke tempat yang aman. Tapi ia terlambat, setengah dari C3 masih meledak di Konoha.

Asuma tewas karena berada paling dekat dengan ledakan. Begitu juga dengan bunshin 5 dan 7, mereka langsung lenyap tersapu ledakan. Kakashi berhasil selamat karena di detik-detik terakhir bunshin 7 berhasil membawanya menjauh, namun Kakashi tetap terluka parah di kepala karena terlempar ke reruntuhan bangunan. Guy berhasil kuselamatkan, tapi ia pingsan karena tubuhnya sudah tak kuat lagi bertahan. Sedangkan Hidan terluka parah dengan beberapa anggota badan yang terpisah. Ia mengoceh tanpa henti karena Deidara meledakan C3 padahal dirinya sedang dalam radius ledakan. Efek ledakan juga merusak bangunan rumah sakit tempat Naru dirawat. Gedung bagian samping sudah hilang. Untung saja bagian itu hanya gudang dan menara.

Aku menyuruh beberapa chuunin untuk membawa potongan tubuh Hidan yang terpisah ke divisi interogasi. Sementara aku sendiri mendekati Kakashi.

"Saatnya menghabisi bomber itu, Kakashi," seruku.

"Ya, dia sudah terlalu merepotkan."

Kakashi membuka penutup matanya lalu mengaktifkan Mangekyou Sharingan.

"Kamui!"

Kakashi mengincar kepala Deidara untuk melenyapkannya tapi ia berhasil mengelak. Justru sayap burung yang ditungganginyalah yang lenyap. Tapi itupun tak masalah, nampaknya itu adalah rencana B Kakashi yang tak kalah bagus. Burung yang ditunggangi Deidara tak bisa lagi terbang sehingga Deidara terjatuh. Aku membuat sepasang tangan besar dari chakra Kyuubi untuk menangkap tubuh Deidara, saat itulah Kakashi menerjang dengan satu-satunya kelemahan Deidara, elemen petir.

"Raikiri!"

BLESH!

Dada Deidara hancur diserang Raikiri.

"Sudah cukup kau mengacaukan desa ini!" ujarku geram.

"Hahaha."

Aku dan Kakashi saling bertukar pandangan karena tak mengerti dengan respon Deidara yang tersenyum di tengah ajal yang sedang menjemputnya.

"Kalian tidak mengerti seni," gumam pria berambut pirang itu. "Seni adalah… LEDAKAN!"

Tubuh Deidara tiba-tiba diselubungi tanah liat yang semakin menggembung dengan cepat.

Sial! Ini ini bom C4!

Aku menendang paksa tubuh Kakashi agar ia terlepas dari dada Deidara. Maaf sedikit menyakitimu Kakashi, ini demi keselamatanmu. Setelah tangan Kakashi terlepas dari tubuh Deidara, aku menteleportasi tubuhku, Deidara, serta bom C4 yang menyelimuti tubuhnya ke tempat yang aman.

Tak sampai hitungan detik, bom C4 meledak. Tidak ada bunyi ledakan yang memekak telinga. Bom C4 adalah bom mikroskopik, tak kasat mata, yang bisa masuk ke aliran darah dan menghancurkan tubuh makhluk hidup dalam tingkat sel.

Efek ledakan mulai terasa. Perlahan tangan kananku hancur jadi molekul-molekul kecil. Saking kecilnya molekul itu, tanganku seolah-olah seperti menghilang begitu saja.

"Akhirnya aku menang," seru Deidara bangga.

"Tidak juga. Kita seri. Lihat sekitarmu."

Deidara memandang sekitarnya lalu terkejut. Yang terlihat di sekelilingnya hanya awan dan langit. Ia kemudian membuat burung lagi dari tanah liatnya yang tersisa untuk digunakan sebagai tempat berpijak.

"Percuma, Deidara. Kita berada di ketinggian 50.000 kaki, dengan kandungan oksigen di bawah 3%. Jika kau kembali ke bumi sekarangpun tidak akan sempat. Kau akan kehabisan oksigen sebelum kau mencapai bumi."

"Brengsek!" Deidara semakin kesal dan memukul wajahku yang kini setengahnya telah hancur oleh C4 miliknya. Ia kemudian melesat ke bumi secepat yang ia bisa. Namun kandungan oksigen yang sangat tipis menyebabkannya sesak napas.

Di ketinggian ini bahkan Deidara tak bisa mati dengan cara yang menurutnya artistik, yaitu meledakan diri dengan C0. Kandungan oksigen yang tipis tak akan membuat bom terkuat miliknya itu meledak dengan maksimal.

Sebelum kedua mataku hancur oleh C4, aku masih sempat melihat Deidara di kejauhan yang tewas kekurangan oksigen.

'Cara mati yang tragis untuk seorang seniman,' pikirku.


8th -9th Bunshin, Anko, Kurenai, Danzou VS Itachi, Konan

(Bunshin 9 Point of View)

"Suirō no Jutsu!"

Danzou mengurung Konan dalam penjara air yang berbentuk bundar. Lembaran-lembaran kertas yang dibuat Konan tak berdaya menahan volume air yang besar serta bertekanan tinggi. Kertas-kertas itu lepek dan kemudian hancur karena tak kuat menahan tekanan tinggi di dalam penjara air. Perhitunganku tak meleset dalam memilih Danzou sebagai lawan Konan, elemen yang cocok untuk mengalahkan kertas adalah air.

"Kau lawan yang terlalu mudah untukku. Meski harus kuakui, sangat disayangkan kunoichi cantik sepertimu harus mati," gumam Danzou dengan percaya diri. Setelah Konan terlihat kehabisan napas, Danzou mengeluarkan kunai dan berjalan ke arah Konan. Ia tetap mempertahankan kontrol chakra atas penjara air yang dibuatnya. Danzou mengambil ancang-ancang untuk menusuk Konan. "Mati kau!"

Sekilas kulihat Konan membentuk segel.

"Danzou! Itu perangkap!"

Terlambat. Danzou sudah menancapkan kunai ke dalam penjara air, hingga menusuk jantung Konan. Tak lama kemudian tubuh Konan dan penjara air berukuran setinggi manusia itu mengeluarkan cahaya dan meledak.

BOOM!

Danzou yang melakukan kontak langsung dengan Konan tentu saja terkena ledakan dengan telak. Ternyata kertas-kertas yang tadi dibuat Konan adalah kertas peledak. Kertas-kertas tersebut tidak hancur terkena air, melainkan hanya terpotong jadi ukuran-ukuran yang lebih kecil dan tersebar di dalam air.

Tubuh Konan hancur, begitu juga Danzou.

Tak lama kemudian aku melihat sosok Danzou di sisi lain medan pertempuran. Balutan di tangan kanannya sudah hancur, menampakan 10 mata sharingan. Satu diantaranya tertutup, sedangkan 9 yang lain masih terbuka. Ditambah lagi dengan sharingan milik Shisui yang menjadi mata kanannya.

Aku mendekati Danzou.

"Izanagi?" tanyaku memastikan.

"Ya. Aku tak menyangka akan kehilangan 1 mata sharingan koleksiku secepat ini."

Izanagi adalah teknik genjutsu terkuat yang pernah ada. Inanagi tidak ditujukan kepada lawan, namun pada diri sendiri/pemakai. Teknik ini bisa memanipulasi tubuh si pemakai. Saat terdesak atau bahkan mengalami kematian, si pemakai bisa memanipulasi tubuhnya jadi sebuah ilusi. Tubuh terluka si pemakai akan lenyap, kemudian muncul kembali tanpa sedikitpun luka. Saking kuatnya jurus ini, mata si pemakai akan buta. Tapi melihat 11 'koleksi' sharingan milik Danzou, rasanya ia tak perlu khawatir.

Aku sebenarnya agak kesal karena orang di hadapanku ini menjadikan mata milik clan Uchiha sebagai koleksi. Tapi untuk kali ini dia adalah partner-ku dan kami harus bekerja sama. Kemampuan Izanagi yang dimilikinya akan sangat berguna, ia bagaikan memiliki 9 nyawa.

Aku dan Danzou bergegas ke medan pertempuran lain untuk memberikan back up, yaitu tempat Anko, Kurenai, dan bunshin 8 melawan Itachi.

Anko dan Kurenai menuruti perintahku dengan tak menatap Itachi di mata. Karena sekali saja mereka beradu pandangan dengan sharingan Itachi, maka mereka akan terperangkap dalam Tsukuyomi.

Kurenai lebih cekatan dalam menghindari genjutsu karena ia memang jounin di bidang itu. Misalnya dengan menggigit bibirnya sendiri jika terperangkap dalam genjutsu. Dengan begitu ia bisa lepas dari pengaruh genjutsu. Sedangkan Anko beberapa kali hampir terperangkap genjutsu Itachi. Untunglah aku sengaja memasangkannya dengan Kurenai sehingga mereka bisa saling menyadarkan jika terkena genjutsu.

Itachi menyadari serangannya tak membuahkan hasil sehingga memutuskan cara yang lebih kasar.

"Amaterasu!"

Mata kanan Itachi mengeluarkan darah. Lalu muncul api hitam yang mengarah ke tubuh Anko dan Kurenai. Anko dan Kurenai sudah terlalu lelah untuk menghindar, jadi bunshin 8 memutuskan untuk menghalangi mereka berdua. Membiarkan tubuhnya terbakar api yang tak akan pernah padam itu.

Itachi memegang mata kanannya yang terasa sakit karena telah mengeluarkan Amaterasu. Ia tahu target yang diincarnya belum mati.

"AMATERASU!"

Api hitam kembali diarahkan Itachi kepada Anko dan Kurenai. Untuk kedua kalinya kedua kunoichi itu diselamatkan. Kali ini yang menghalangi mereka adalah Kakashi. Ia mengaktifkan Kamui dan bermaksud mengirim api ke dimensi lain. Tapi percuma, itu tak akan membuat api itu mati, itu hanya membuatnya berpindah tempat. Selain itu api yang harus dipindahkan terlalu banyak dan sebagian akan tetap membakar Kakashi, Anko dan Kurenai.

Aku tak bisa berbuat banyak karena jarakku dan Danzou terlalu jauh dari mereka.

"Naruto, kirim aku dengan Hiraishin! Aku akan menghalangi api itu!" ujar Danzou.

Aneh memang, mendengar perkataan itu dari seorang Danzou. Rela berkorban sebenarnya bukan hal yang biasa dilakukan Danzou. Tapi sudahlah, bukan saatnya berpikir seperti itu. Kita sedang sama-sama berjuang melindungi Konoha.

Aku melakukan apa yang Danzou perintahkan. Aku membawanya ke hadapan Kakashi, membiarkannya menghadang Amaterasu dengan badannya sendiri hingga terbakar.

Itachi kembali meringis, menahan rasa sakit di mata kanannya. Danzou yang telah hidup kembali memanfaatkan ini dengan menusuk punggung Itachi dengan kunai berlapiskan chakra. Baru saja kunai Danzou meninggalkan sedikit goresan kecil di kulit Itachi, sesuatu yang besar menangkisnya.

TRANG!

Kunai milik Danzou patah seketika. Lalu tubuhnya terkena tusukan pedang besar berwarna orange.

Setelah debu di sekitar Itachi menghilang, nampaklah sosok tengkorak setengah badan yang tak lain adalah Susanoo. Itachi yang sedang terengah-engah ada di pusatnya. Susanoo milik Itachi perlahan menyusun jaringan tubuhnya sendiri mulai dari daging, kulit, sampai armor. Susanoo memegang Pedang Totsuka (Totsuka no Tsurugi) di tangan kanannya sebagai senjata dan Cermin Yata (Yata no Kagami) di tangan kiri sebagai tameng.

"A-apa itu?" tanya Kakashi penasaran.

"Totsuka no Tsurugi," jawab Danzou yang sudah muncul kembali di sampingku.

"Ya, sekali saja terkena tebasannya, jiwamu akan terikat dan kau akan terjebak dalam genjutsu selamanya." Lalu aku menoleh ke arah Danzou. "Bagaimana kau bisa lolos?"

"Aku membunuh diriku yang terjebak dalam genjutsu agar bisa kembali ke sini. Jadi aku menggunakan 2 kali Izanagi untuk lolos dari serangan barusan. Satu Izanagi untuk lolos dari serangan Pedang Totsuka, dan satu lagi untuk lolos dari genjutsu," kata Danzou. Kini sharingan di tangan kanannya hanya tinggal 6.

Itachi kembali menebaskan pedangnya ke arah kami. Ia kelihatannya terburu-buru karena fisiknya sudah tak kuat menggunakan Susanoo.

Aku menggunakan chakra-ku yang tersisa untuk berubah jadi mode Kyuubi. Lalu kutahan pedang Totsuka dengan tangan Kyuubi. Anko datang membantu dengan merubah tangannya jadi puluhan ular lalu mengikat Susanoo dan berusaha menariknya ke arah yang lain. Danzou, Kakashi, dan Kurenai tak tinggal diam. Mereka mengeluarkan kunai masing-masing, mengalirinya dengan chakra, dan ikut menahan tebasan pedang Totsuka.

Lima melawan satu. Itu tak membuat Itachi gentar. Ia malah semakin memperkuat tebasan pedang Totsuka Susanoo-nya hingga membuat kami kalah. Aku orang pertama yang terkena tebasannya hingga akhirnya aku lenyap dalam kepulan asap.

Aku kecewa karena perjuanganku hanya sampai di sini. Semoga yang lain selamat, pikirku.


Naruto VS Tobi

(Naruto Point of View)

Aku berlutut di tanah, kedua kakiku mendadak lemas. "Tsunade Baachan, Jiisan. Ini tidak mungkin…"

BUKH!

Aku tersungkur ke tanah. Darah segar keluar dari mulutku. Dari rasa perih yang kurasakan, sepertinya pipi bagian dalamku sobek. Selain itu, kurasakan nyeri di bagian rahang kiri. Dengan pikiran yang kacau seperti itu bahkan aku tak bisa mengantisipasi tendangan Obito barusan di wajahku.

"Itulah yang kumaksud. Itu adalah awal dari kehancuran rencanamu. Kalian akan kalah."

Aku berusaha meyakinkan diriku kalau perkataan Obito salah. Namun kenyataan bagaikan menamparku…

Satu demi satu ingatan dari bunshin-ku telah kembali, menandakan kalau mereka sudah mati. Bunshin ke-2 dan ke-3 yang menemani Hokage Ke-3 dan Tsunade lenyap pertama. Kini giliran bunshin lainnya yang lenyap, bunshin ke-5 dan ke-7 lenyap karena ledakan C3, bunshin ke-6 karena C4, bunshin ke-8 karena Amaterasu, dan bunshin ke-9 karena Susanoo.

Dari ingatan semua bunshin-ku yang lenyap, aku bisa mengumpulkan beberapa informasi dari medan perang. Diantaranya informasi tentang Asuma, Deidara, Konan, dan Kisame yang sudah tewas, Hidan yang terluka parah, Guy yang pingsan, serta Anko, Kurenai, Kakashi, dan Danzou yang masih melawan Itachi.

Tiba-tiba muncul chakra spiral dari mata Obito. Tak lama kemudian tubuhnya perlahan terhisap ke dalam matanya sendiri. Obito bermaksud melakukan teleportasi.

"Aku tak akan membunuhmu sekarang. Aku ingin kau melihat dulu satu per satu temanmu mati," ujar Obito sebelum dirinya menghilang.

Sial! Aku tak boleh tinggal diam. Aku melakukan segel Hiraishin dan mengikuti kemana Obito berteleportasi dengan cara mendeteksi chakra-nya .

Hiraishin membawaku ke tempat persembunyian Nagato. Di sana ada Jiraiya dan bunshin 1 sedang berdiri di hadapan Nagato. Jika Jiraiya sudah berada di sini, berarti Shurado dan Ningendo sudah mati, begitu juga dengan Tendo yang tubuhnya tergeletak tak jauh dari Jiraiya.

"Ero-Sennin-"

POOF!

Bunshin 1 tiba-tiba lenyap, memperlihatkan Obito di belakangnya sedang memegang kunai. Aku melotot tak percaya. Apalagi saat kulihat tangan Obito yang lain menusuk punggung Jiraiya.

"Aku sudah bilang. Aku ingin kau melihat satu per satu temanmu mati."

"Obito! KAU!" Aku mengepalkan kedua tanganku kesal.

"Kemampuanmu lumayan dalam melacak keberadaanku, tapi tidak cukup cepat," kata Obito. Mataku terbelalak saat aku melihat Obito menusuk punggung Jiraiya lebih dalam hingga akhirnya menembus ke rusuk bagian depan.

"TIDAAAAK!" Aku tak mampu menahan emosiku lagi, chakra Kyuubi muncul dengan sendirinya dari dalam tubuhku. Sosok rubah berekor sembilan kini sudah nampak nyata menyelubungi tubuhku dengan 9 ekornya yang besar. Seakan itu tak cukup, aku menggunakan mode sage agar bisa melipat gandakan kecepatanku. Lalu aku melesat ke arah Obito dengan Hiraishin. Cakar Kyuubi sudah siap di tanganku. Kuarahkan ke kepala Obito sebelum ia sempat berteleportasi kembali. Topeng orange yang menjadi penutup jati diri Obito kini hancur. Bahkan pipinya ikut terkena cakaranku. Lukanya memanjang dari dekat dagu, melintang di pipi kiri, tapi tepat sebelum cakaranku mengenai hidung dan mata sharingan-nya, ia sudah lenyap.

Aku tak bisa diam saja meratapi kematian Jiraiya sehingga memutuskan untuk mengejar Obito lagi. Kali ini Obito berpindah ke tempat pertempuran Anko dan Kurenai. Di sana, mereka berdua sudah tak berdaya di atas reruntuhan bangunan. Sementara itu Kakashi dan Danzou masih melawan Itachi. Aku bersyukur pedang Totsuka ternyata tak berhasil menghabisi Anko, Kurenai, Kakashi, dan Danzou. Aku tak tahu detail pertempuran di sini bagaimana karena tadi bunshin 9 sudah terlanjur dikalahkan. Tapi kulihat mata sharingan di tubuh Danzou hanya tinggal 1, itu berarti ia sudah tewas 5 kali. Ia pasti sudah berjuang keras karena untuk pertama kalinya kulihat Danzou sangat kelelahan.

Kakashi kaget saat melihat Obito dan aku tiba. Kakashi boleh saja tak pernah melihat wajah Obito belasan tahun. Tapi Kakashi tak akan melupakan orang yang telah memberinya mata sharingan. Kakashi langsung mengenali sosok Obito saat itu juga.

"Obito… kau ketua Akatsuki?" tanya Kakashi tak yakin.

Sebenarnya itu pertanyaan yang tak perlu ditanyakan karena dengan melihat rambut, serta jubah yang dipakai Obito, Kakashi sudah tahu jawabannya.

Obito pun tak menjawab pertanyaan Kakashi. Tanpa alasan yang kumengerti, tiba-tiba Obito memutuskan untuk tak berlama-lama di sana. Ia langsung menuju rumah sakit, hal yang paling kutakutkan sejak dimulainya invasi ini. Aku tentu saja tak tinggal diam dan kembali mengikutinya.

"Kakashi pergilah, aku akan menangani Itachi," kata Danzou, Kakashi akhirnya mengikutiku.


Tekanan mental karena kehilangan teman serta rasa lelah yang telah terakumulasi dari 8 bunshin-ku telah membuat pergerakanku melambat. Kini aku tak bisa lagi menandingi kecepatan teleportasi Obito. Bahkan di saat-saat terakhir aku tak bisa lagi menggunakannya sama sekali. Chakra Kyuubi di tubuhku perlahan memudar. Bahkan untuk mencapai kamar Naru saja aku harus berlari karena tak mampu lagi berteleportasi. Membagi chakra ke 9 bunshin-ku dan membiarkan mereka berubah jadi mode Kyuubi sempurna telah membuat chakra-ku boros.

Saat aku sampai di kamar perawatan Naru, kulihat Shizune sudah tergeletak di lantai sementara Naru dibekap Obito.

Aku kaget sekaligus marah melihat hal yang kutakutkan telah terjadi.

"Lepaskan dia!" bentakku penuh amarah. Ingin rasanya kupukul wajah Obito jika saja aku punya tenaga. Aku tak tega melihat Naru yang masih pingsan itu menderita. Ia sedang sakit dan tidak tahu-menahu mengenai masalah ini. Aku tak ingin ia terlibat.

"Kalau kau ingin Kyuubi, aku… aku bisa memberimu Kyuubi milikku. Tapi aku mohon biarkan dia hidup," ucapku lirih. Aku tak pedulikan Kurama yang protes dalam tubuhku karena tahu aku akan menyerahkannya kepada Obito. Keadaan telah memaksaku merubah gertakan demi gertakanku menjadi sebuah permohonan. Aku tak peduli apa yang terjadi padaku asal Naru tidak mati. Jika Obito mengekstrak Kyuubi dari tubuh Naru, itu berarti dia akan mati dan aku tak mau itu terjadi.

Kakashi sudah tiba saat aku mengatakan itu. Ia sendiri terdiam, tak punya jalan keluar untuk keadaan ini.

Obito berpikir sejenak.

Obito tahu akulah shinobi terkuat di Konoha (atau bahkan di Negara Api) yang cukup merepotkannya. Membuatnya harus mengerahkan semua anggota hanya untuk menangkap Kyuubi. Jika sekarang aku menawarkan diriku sebagai pengganti Naru, wajar saja dia tertarik. Setelah aku mati, maka bebannya semakin berkurang dan misi Mata Bulannya akan lancar.

"Itu lebih baik," kata Obito. Lalu ia berjalan mendekatiku.

"Aku tak tahu kau siapa. Tapi kau memang harus mati karena sudah tahu terlalu banyak mengenai Akatsuki. Dari pertama aku melihatmu, aku sudah merasakan ada Kyuubi di badanmu. Kurasa kau bukan dari masa depan, tapi dari dimensi lain karena tak mungkin ada 2 Kyuubi di sini."

Aku sudah tak peduli lagi apa yang dikatakan Obito. Aku menyambut Naru dengan kedua tanganku. Tapi Obito malah melempar Naru ke arah Kakashi, lalu mengarahkan kunai ke leherku.

"Guh!" Ujung kunai perlahan melukai kulit leherku.

"Ini sesuai dengan yang kukatakan. Pada akhirnya seberapa kuatpun kau berusaha, kau tak akan mampu berada di setiap medan perang untuk melawan semua anggota Akatsuki. Kau hanya bisa mengandalkan bunshin-mu yang secara teknis tak bisa menggunakan kekuatannya secara maksimal seperti dirimu yang asli. Sungguh disayangkan jika shinobi sepertimu harus mati. Tapi apa boleh buat. Saatnya pergi…"

Chakra spiral kembali muncul di sekitar mata Obito, bersiap menghisapku ke dalam dimensi miliknya. Saat aku masuk ke sana, maka semuanya berakhir.

Aku akan terkurung di sana hingga saat eksekusi tiba.

TRANG!

Sebuah kunai mengarah ke wajah Obito namun ia berhasil menangkisnya. Proses teleportasi pun terhenti.

"Tunggu!" teriak seseorang. Aku dan Obito menoleh ke arah suara. Di sana kulihat Naru sedang berusaha berdiri dari pangkuan Kakashi. Naru terlihat kelelahan, keringat bercucuran di keningnya, dan napasnya tak beraturan.

"Aku tak akan… membiarkanmu… membawa Nii-san!" kata Naru dengan terputus-putus. Aku langsung terharu mendengarnya. Aku ingin menangis. Ironis sekali. Di saat seperti ini seharusnya aku melindungi Naru. Seharusnya seorang kakaklah yang melindungi adiknya. Tapi kenapa sekarang malah Naru yang menyelamatkanku? Aku merasa gagal sebagai seorang kakak.

Setelah kuperhatikan, ada yang aneh dengan badan Naru. Leher bagian kirinya yang digigit Orochimaru berubah menggelap dan bersisik. Sisik itu lama kelamaan menyebar ke seluruh tubuhnya.

"Ughhhh!" Naru memegang kepalanya. Sepertinya ia sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat. Saat ia membuka matanya kulihat matanya telah berubah jadi mata ular, diiringi dengan tumbuhnya 4 tanduk dari kepalanya.

"Naru!" panggilku, tak tega melihat Naru kesakitan.

"Naru, badanmu…apa mungkin…" Kakashi sepertinya tahu sesuatu.

"Kakashi, apa yang terjadi dengan Naru?!" tanyaku panik.

Obito juga sepertinya tahu sesuatu karena setelah melihat Naru seperti itu, dia menusuk perutku dengan memanfaatkan kepanikanku. Lalu ia bersiap membawaku lagi ke dimensi miliknya.

"Nii-saaannn!" teriak Naru.

Tiba-tiba muncul naga berukuran sedang dari leher Naru. Naga tersebut memegang sebuah bola bercahaya. Cahayanya sangat terang diiringi dengan suara yang memekikan telinga. Teleportasi Obito gagal untuk kedua kalinya. Ia tak mampu bertahan menahan suara memekik itu meski ia sudah menutup telinga. Tak terkecuali aku dan Kakashi. Kami bertiga terjatuh ke lantai rumah sakit karena tak mampu berdiri lagi. Tulang dan sendi kami rasanya sakit saking kuatnya pekikan suara tersebut.

Di tengah kekacauan itu, samar-samar kulihat Naru berjalan mendekati Obito. Sepertinya ia satu-satunya yang tidak terpengaruh oleh cahaya dan suara dari bola tersebut. Aku tak tahu pasti apa yang dilakukan Naru karena kedua mataku belum bisa melihat dengan jelas karena efek serangan Naru. Tapi sekilas kulihat Naru mengangkat kunai dan menghujamkannya berkali-kali ke tubuh Obito. Samar-samar aku juga mendengar suara Obito yang kesakitan.

Semenit kemudian aku merasa ada yang mengangkat badanku lalu menidurkanku di pangkuannya. Dari gesture serta warna rambut pirang yang samar-samar kulihat, aku tahu itu Naru. Ia bicara padaku tapi aku tak bisa mendengarnya. Efek jurus Naru tadi masih menulikan kedua telingaku. Naru sedang tersenyum, tapi di saat yang bersamaan ia mengeluarkan air mata, ditandai dengan tetes-tetes air mata di wajahku.

Lama-kelamaan penglihatanku semakin jelas. Kini aku bisa melihat kelopak mata ungu milik Naru dan sepasang mata ularnya. Ia sedang menangis terharu. Dari gerakan bibirnya, aku yakin dia mengatakan kalau semuanya sudah berakhir.

Kita telah memenangkan pertarungan melawan Akatsuki.


Tiga hari pasca invasi Akatsuki

Hari ini aku diizinkan pulang setelah 3 hari dirawat di rumah sakit. Luka tusukan di perutku sudah hampir sembuh. Kalau bukan karena chakra Kyuubi, aku pasti tak akan sembuh secepat ini. Aku diizinkan pulang, tapi bukan berarti aku sudah sepenuhnya sembuh. Aku disuruh untuk melanjutkan istirahatku di rumah. Aku dilarang berlatih selama seminggu karena luka jahitan di perutku belum sepenuhnya menutup. Aku juga tak boleh makan makanan yang keras dan pedas termasuk ramen.

Sejujurnya aku tak tahan jika tak makan ramen selama seminggu. Makanya aku sempat punya niat untuk melanggar pantangan dokter itu. Sialnya Naru seperti membaca pikiranku, dia mengatakan kalau dia akan mengontrol pola makanku selama seminggu. Hidup bersama selama 4 tahun telah membuat Naru tahu niat burukku hanya dengan menatap mataku saja.

Kami berjalan di antara reruntuhan bangunan dengan Naru yang mengapit lengan kananku. Desa telah porak poranda. Kami juga kehilangan orang-orang terbaik kami, Hokage Ke-3, Jiraiya, Asuma, dan bahkan Danzou pun tewas. Itachi ikut tewas bersama Danzou karena Danzou sempat mengaktifkan Ura Shishō Fūinjutsu di badannya. Ura Shishō Fūinjutsu adalah segel yang jika diaktifkan akan menyerap benda apa saja (termasuk makhluk hidup) di sekitar si pengguna.

Tapi kami pantas bersyukur karena telah memenangkan pertempuran melawan Akatsuki. Pertempuran yang sebenarnya memiliki persentase kemenangan yang kecil. Untung saja ada Naru yang menyelamatkan kami di saat-saat terakhir.

Jurus yang dikeluarkan Naru kemarin adalah jurus Sennin Mode, yaitu Senpō: Hakugeki no Jutsu. Jurus itu hanya bisa dikeluarkan saat seseorang mencapai level Sage Naga. Jurus itu memancarkan cahaya menyilaukan dan mengeluarkan suara yang memekikan telinga. Saking kuatnya, orang yang berada di sekitar bola itu akan kehilangan fungsi indera penglihatan, pendengarannya, serta lumpuhnya sendi dan tulang dalam waktu beberapa menit. Hanya si pengguna yang bisa bertahan dari efek serangan itu.

Jurus yang hebat, tapi menyebabkan efek samping yang cukup membuatku sedih setiap kali aku memandang adik kesayanganku.

"Tolong jangan melihatku terus, Nii-san," kata Naru sambil menurunkan tudung kepalanya ke arah depan sampai hampir menutupi setengah wajahnya.

Setelah perang, Naru selalu memakai jubah hitam yang menutupi sebagian besar badannya. Alasan Naru memakai jubah hitam dan menutupi wajahnya dengan tudung adalah karena sebagian tubuhnya kini telah berubah menyerupai ular. Kulit leher Naru di sekitar gigitan Orochimaru telah berubah menjadi sisik ular, menyebar hingga ke pundak kiri, dada, tangan kiri, dan wajah bagian kiri. Kedua matanya nampak seperti mata ular, berwarna kuning dan terkesan tajam.

Itulah efek samping yang kumaksud. Padahal Naru sudah tidak dalam Sennin Mode lagi, tapi karakteristik sage Naga memang begitu. Kulit akan terus menerus menerima energi alam dalam jumlah kecil sehingga fisik akan tetap terlihat menyerupai ular/naga. Mata dan sisik tetap ada meskipun dalam jumlah kecil. Hanya 4 tanduk saja yang benar-benar hilang.

Naru bersikeras kalau dia tak apa-apa dengan keadaan fisiknya yang sekarang. Tapi aku tahu itu bohong. Perempuan mana yang rela wajah dan sebagian badannya bersisik? Aku saja yang tidak mengalaminya sangat menyayangkan kondisi Naru saat ini.

Naru telah kehilangan wajah cantiknya.

"Apa itu permanen?" tanyaku.

"Aku sudah menanyakan hal itu kepada Orochimaru. Ia bilang, selama aku membiarkan virus ular menguasai tubuhku, maka tubuhku akan tetap begini." Aku bisa menangkap nada kesedihan dalam kalimat Naru meskipun ia berkata dengan senyuman tipis di wajahnya.

"Kenapa kau lakukan ini, Naru? Bukankah aku sudah menyuruh Kurama untuk memusnahkan virus ular di tubuhmu?"

"Aku memilih untuk tidak melenyapkannya. Aku masih memerlukan kekuatan ular ini. Sage Naga jauh lebih hebat dari Sage Kodok. Rasanya kekuatan alam masuk ke dalam tubuhku tanpa henti melalui kulitku. Aku tak perlu bertapa untuk mengumpulkannya."

"Tapi wajahmu-"

"Tidak apa-apa," potong Naru. Lagi-lagi ia memperlihatkan senyuman yang justru membuat hatiku sakit. "Ini satu-satunya cara agar aku bisa lebih kuat. Meski sebenarnya kekuatan ini pun belum cukup. Tapi paling tidak ini adalah jurus terkuat yang kumiliki saat ini. Pertempuran kemarin telah merenggut nyawa orang-orang yang kusayangi. Ojii-san, Ero-Sennin, dan Asuma-sensei, serta Baachanyang sedang koma. Aku tak ingin kehilangan lebih banyak lagi jadi aku akan tetap membiarkan virus ular menguasai 70% tubuhku."

Kami menghentikan langkah saat sudah berada di apartemen baru kami, yaitu bangunan yang dibuat oleh elemen kayu Yamato.

"Kecuali…" lanjut Naru, ia sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia lalu menoleh padaku dan menatapku dengan sepasang mata ularnya. "Kecuali kau mau mengajarkanku Mode Kyuubi."

Aku terpaku. Sesedih apapun aku saat melihat wajah Naru sekarang, aku tak bisa mewujudkan keinginan Naru yang satu itu.

"Aku tak akan mengajarkanmu Mode Kyuubi," jawabku, perubahan intonasiku yang meninggi telah disadari Naru.

"K-kenapa?" tanya Naru hati-hati.

Sebenarnya saat aku terbaring di rumah sakit, aku sempat berpikir akan mengajarkan Naru Mode Kyuubi. Tapi kemudian aku teringat kalau dalam tahap menguasai Mode Kyuubi, Naru akan bertemu dengan ibunya. Jika berkaca pada kejadian di Konoha 1, ibunya pasti akan bercerita bagaimana insiden Kyuubi 14 tahun lalu, kelahiran Naru, dan semua detail lainnya yang ujung-ujungnya akan mengarah pada kenyataan kalau aku bukan kakak kandung Naru.

Naru akan tahu kalau ia adalah anak tunggal yang lahir dari pasangan Minato dan Kushina. Dia tak pernah punya kakak bernama Uzumaki Naruto yang berumur 7 tahun lebih tua darinya. Ia akan tahu kalau aku bukan kakaknya, aku hanya sosok asing yang datang dan menyebabkan kekacauan di Konoha 2.

Aku tak ingin itu terjadi!

"Kenapa Nii-san? Aku sedih melihat korban di pertempuran kemarin. Aku ingin kekuatan yang lebih besar lagi agar aku bisa melindungi mereka," tanya Naru lagi, menyadari kalau dari tadi aku hanya diam saja.

"Sage Naga-mu sudah cukup kuat, kembangkan saja itu," jawabku sambil masuk ke apartemen. Tak mempedulikan Naru yang kecewa dengan jawabanku.


Aku menatap langit-langit kamar baruku. Membiarkan pertanyaan Naru berputar-putar di otakku.

Jika dipikir lagi, apa hakku melarang Naru mempelajari mode Kyuubi? Takdir Naru yang sebenarnya adalah menguasai mode Kyuubi. Jika aku melarangnya, itu sama saja dengan mengubah kembali takdir Naru ke arah yang tak jelas, ke arah yang bahkan aku sendiri tak bisa prediksikan.

Kekacauan yang terjadi selama ini tidak pernah terjadi di Konoha 1. Ini semua terjadi karena kehadiranku di sini. Persis seperti kata-kata Jiraiya yang bilang padaku jika sekali saja kuubah kejadian di sini, maka efeknya akan terasa di masa depan. Seandainya aku tak mengajarkan mode Kyuubi, pasti akan datang masalah baru lagi.

Aku beranjak dari tempat tidurku. Sepertinya aku berubah pikiran.

Naru tak ada di apartemen, jadi aku mendeteksi chakra-nya, lalu menggunakan Hiraishin untuk menemuinya.

"Rupanya kau di sini."

"Nii-san…"

Naru sedang duduk di kepala patung Hokage Ke-4. Ia ragu-ragu menatapku, takut jika aku masih marah padanya.

Aku menghilangkan keraguan Naru dengan duduk di sampingnya serta menyunggingkan sebuah senyuman. "Maaf tadi aku membentakmu."

"Tidak apa-apa."

"Sedang apa kau di sini?"

"Aku hanya sedang memikirkan impianku. Aku berharap wajahku akan diukir di bukit ini. Aku ingin jadi Hokage perempuan pertama Konoha agar semua orang menghormatiku dan mengakui kehebatanku."

Kalimat Naru mengingatkanku pada janji yang kubuat pada Naru untuk membimbingnya jadi Hokage. Kalimat itu juga mengingatkanku pada impian lamaku menjadi Hokage Konoha 1. "Kau salah, Naru. Seseorang pernah bilang padaku, kalimat yang benar itu bukan 'Seseorang yang jadi Hokage akan diakui oleh semua orang', kalimat yang benar adalah 'Seseorang yang diakui oleh semua orang yang akan jadi Hokage'."

Naru menatapku tak mengerti.

"Belakangan ini para penduduk membicarakan sosok manusia naga berambut pirang yang datang di saat-saat terakhir invasi Akatsuki. Mereka penasaran pada sosok yang berperan penting dalam membalik kekalahan kita menjadi sebuah kemenangan. Jadi lepas saja jubahmu. Biarkan para penduduk tahu jika sosok pahlawan itu ada di antara mereka. Biarkan mereka mengenalimu dan mengakui kehebatanmu."

Naru menggigit bibir bawahnya lalu berpaling. "Tapi dengan wajahku sekarang …"

Aku memegang kedua pundak Naru, membuatnya kembali menatapku. "Dengar baik-baik Naru. Aku tak peduli bagaimana wajahmu sekarang. Naruko tetaplah Naruko, kau tetap adik yang sangat kusayangi. Aku yakin para penduduk juga merasakan hal yang sama denganku."

Tak lama kemudian Naru membuka tudung penutup kepalanya dan tersenyum.

"Tenang saja, minggu depan saat badanku kembali sehat, aku akan mengajarkanmu menguasai Kyuubi."

"Arigatou, Nii-san!"

Naru memelukku dengan erat saking senangnya.

Ya, itu benar. Aku akan mengajarkan Naru menguasai chakra Kyuubi. Atau lebih tepatnya aku akan mengajak Naru menemui orang yang bisa mengajarinya, yaitu Hachibee.

Lalu… setelah itu…

Aku akan pulang ke tempatku yang seharusnya... Konoha 1.


Seminggu kemudian - Pulau Kura-Kura, Kumogakure

"Jaga dirimu baik-baik, Naru."

"Kau tidak ikut masuk ke dalam kuil?" Aku menggeleng, lalu merengkuh tubuh Naru ke dalam pelukanku untuk terakhir kalinya. Aku tak bisa membendung kesedihanku hingga air mataku menetes.

"Umm, apa latihannya sangat berat sampai kau memperlakukanku seperti ini?" tanya Naru bingung melihat reaksiku.

Aku melepas pelukanku, lalu mencium pipi kanan Naru. "Tidak, tenang saja. Kau pasti bisa menguasainya."

Setelah itu Naru masuk ke dalam kuil bersama Hachibee. Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum ceria. Senyuman yang pasti akan sangat kurindukan.

"Aku titip Naru," ujarku sambil menyalami Kakashi, orang yang telah ditunjuk sebagai Hokage Ke-5 Konoha 2 oleh dewan. Yamato ada di sana dan aku juga menyalaminya. Mereka berdua mengangguk mengerti. Padahal awalnya mereka bersikeras mencegahku karena mereka tahu aku dan Naru sudah hidup bersama cukup lama. Naru sudah menganggapku kakak kandungnya dan pasti akan sangat sulit melepasku. Ia pasti akan sangat kehilanganku.

Namun aku tekankan kalau aku melakukan ini jutru karena aku sayang pada Naru. Aku tak ingin hal-hal berbahaya lainnya terjadi hanya karena aku berada di sini. Aku ingin kehidupan Naru kembali ke jalur takdir yang seharusnya.

Selamat tinggal, Naru.

Sebentar lagi kau akan tahu siapa orang tuamu dan siapa aku sebenarnya. Maaf telah membohongimu selama ini dengan mengaku sebagai kakakmu.

Semoga kau baik-baik saja dan tak akan ada lagi kekacauan yang muncul gara-gara kehadiranku di sini. Selamat berjuang, maaf tak bisa menyaksikanmu menjadi Hokage perempuan pertama Konoha. Tapi aku yakin dengan atau tanpaku di sisimu kau akan mencapai mimpimu itu.

Sejujurnya aku malu pada diriku sendiri. Aku telah membuang impianku begitu saja. Berbeda sekali denganmu yang memegang teguh impianmu sampai sekarang. Terima kasih karena kau telah menyadarkanku pada impian lamaku untuk menjadi Hokage. Aku akan pulang ke Konoha 1 tempat kelahiranku, aku akan kembali mengejar mimpi itu.

Sekali lagi, selamat tinggal adikku, Uzumaki Naruko.


Konoha 1

"Uhuk uhukkk…" Rasa sakit yang kurasakan untuk berpindah dimensi ini sama sakitnya seperti 4 tahun lalu. Rasanya badanku remuk dan kepalaku pusing. Tapi paling tidak, aku telah berhasil pulang ke desa kelahiranku dengan selamat.

Perlahan aku berdiri dan-

BUKH!

Seseorang memukul wajahku. "Siapa kau?!" tanyanya.

Aku yang sedang dalam kondisi lemah langsung saja tersungkur ke tanah. Aku kemudian mendongak mencari tahu siapa yang memukulku. "Aku yang seharusnya bertanya, siapa kau? Kenapa memukulku tiba-tiba?"

"Jangan balik bertanya! Kau sudah masuk ke sini tanpa izin!"

Aku memandang sekitarku. Ini halaman gedung Hokage. Sosok berambut rancung gelap itu menarik kerahku dan bersiap memukulku lagi.

"Hentikan Menma-sama!"

Sosok yang dipanggil Menma itu menghentikan pukulannya. Lalu kami menoleh ke arah teriakan feminim tadi. Di sana ada seorang Hyuuga berambut indigo yang berlari dengan terburu-buru. Rambutnya terurai mencapai paha. Poni depannya ditata hime-style. Aku memperhatikan wajahnya. Meski kini sosoknya sudah menjelma jadi seorang wanita muda, tak butuh waktu lama sampai aku sadar kalau itu Hinata.

"Siapa orang ini?" tanya Menma.

Hinata berusaha melepas tangan Menma yang masih saja memegang kerahku. "Dia Uzumaki Naruto, salah satu shinobi Konoha. Dia anak dari Hokage Ke-4, Namikaze Minato."

Menma melepas pegangan kuatnya di kerahku setelah mendengar kata-kata Hinata.

Kini Hinata menatapku. "Naruto-kun, orang yang dihadapanmu sekarang adalah Namikaze Menma," kata Hinata, ia terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

"Saat ini… ia adalah… Hokage Ke-6 Konoha."

To Be Continue…


A/N:

Summary

Lokasi: Konoha 2

Stage 1: Bunshin 1, Jiraiya vs 6 Pain, Nagato

Stage 2: Bunshin 2, Hokage Ke-3 vs Kakuzu

Stage 3: Bunshin 3, Tsunade vs Sasori

Stage 4: Bunshin 4, Yamato vs Zetsu

Stage 5: Bunshin 5, Kakashi vs Deidara

Stage 6: Bunshin 6, Guy vs Kisame

Stage 7: Bunshin 7, Asuma vs Hidan

Stage 8: Bunshin 8, Kurenai-Anko vs Itachi

Stage 9: Bunshin 9, Danzou vs Konan

Stage 10: Naruto vs Tobi

MATI: Bunshin 1, Bunshin 2, Bunshin 3, Bunshin 5, Bunshin 6, Bunshin7, Bunshin 8, Bunshin 9, Jiraiya, Hokage Ke-3, Asuma, Danzou, Jigokudo, Gakido, Chikushodo, Shurado, Ningendo, Tendo, Kakuzu, Sasori, Deidara, Kisame, Itachi, Konan, Tobi/Obito

KOMA: Tsunade

LUKA PARAH: Guy, Zetsu, Kurenai, Anko

DITAHAN: Hidan, Nagato

© rifuki