Menma – Part 1
"Rokudaime Hokage"
Konoha 1, 4 tahun setelah perpindahan dimensi
"Naruto-kun, orang yang dihadapanmu sekarang adalah Namikaze Menma. Saat ini… ia adalah… Hokage Ke-6 Konoha."
Kalimat itu terasa begitu menusuk di indera pendengaranku walaupun sebenarnya diucapkan dengan suara lemah lembut khas Hinata. Entahlah, hanya saja... jadi Hokage adalah salah satu alasanku untuk kembali ke Konoha. Jika sekarang posisi Hokage sudah ditempati orang lain, lalu untuk apa aku ke sini?
Kulepas pegangan tangan Hinata di dadaku yang tadi bermaksud meleraiku dengan sosok bernama Menma. Kulangkahkan kedua kakiku meninggalkan mereka berdua.
"Naruto-kun, kau baik-baik saja?"
"…"
"Oy, blondie!"
Aku tak menghiraukan pertanyaan-pertanyaan Menma dan Hinata yang terdengar mengkhawatirkan keadaanku. Sebesar apapun rasa penasaran yang kurasakan, saat ini aku hanya ingin istirahat di kamarku. Efek perpindahan dimensi, rasa kecewa, ditambah dengan puluhan pertanyaan yang menyerbu otakku membuat kepalaku ingin pecah. Aku tak bisa berpikir jernih dengan keadaanku sekarang.
Sore itu aku pulang ke apartemen lamaku yang untungnya masih ada dan tampak terawat.
Aku tertidur hingga keesokan harinya.
Aku berharap apa yang terjadi dan apa yang kudengar kemarin adalah mimpi. Tapi pemandangan patung Hokage di luar jendela kamarku seolah menamparku, menyadarkanku kalau ini adalah kenyataan. Kulihat cahaya matahari pagi yang baru saja terbit menghiasi sosok patung ke-6 di deretan patung wajah tersebut.
Patung sosok yang masih asing bagiku.
Pagi itu aku mampir ke Ichiraku untuk sarapan. Entah perasaanku saja atau memang rasa ramen di sini lebih enak dibanding dengan di Konoha 2? Mungkin ini hanya perasaanku saja yang begitu merindukan kampung halamanku ini. Satu mangkuk miso ramen sudah cukup untuk mengganjal perutku. Aku ingin segera menemui sang Hokage.
"Maaf soal kemarin. Kau tahu sendiri pertemuan kita kemarin kurang… enak. Izinkan aku memperkenalkan diriku kembali," ujar Menma saat aku tiba di ruangannya. Menma mengulurkan tangannya padaku dan aku menyambutnya. "Namikaze Menma, Hokage Ke-6 Konoha."
"Uzumaki Naruto, mantan shinobi Konoha."
Menma mengerutkan keningnya mendengarku melakukan penekanan pada kata 'mantan'.
"Suasana di sini terlalu resmi dan membuat kita tegang," ujar Menma.
Menma melepas jubah Hokage-nya, memperlihatkan dada dan otot perutnya yang terbentuk. Hmm, tidak buruk. Pantas saja di 2 kali pertemuan kami dia selalu terlihat bertelanjang dada. Ia memakai celana panjang hitam, sepasang tangannya memakai sarung tangan fingerless hitam panjang yang mencapai otot bisep, dibalut dengan tali kulit berwarna merah. Untuk kakinya, ia memakai sandal ninja hitam yang juga dibalut oleh tali kulit merah.
Jika kulihat wajahnya, sebenarnya wajah kami cukup identik. Mulai dari warna kulit, hidung, sampai sepasang mata shapire juga sama. Yang membedakan kami adalah tanda lahir di pipi Menma yang lebih kasar, rambutnya yang hitam lebih panjang dan berantakan, serta pakaian yang dikenakannyalah yang membuatnya terkesan lebih bad ass.
Menma lalu menatap patung Hokage lewat jendela besar di ruangan itu. "Kurasa di sana lebih nyaman untuk mengobrol. Bagaimana menurutmu?"
Aku tak banyak protes lalu mengangguk setuju.
Sedetik kemudian Menma menghilang. Kecepatan berpindah secepat ini… tidak salah lagi. Ini Hiraishin no Jutsu! Ok, Menma berhutang satu lagi penjelasan padaku!
Aku melakukan Hiraishin ke atas bukit Hokage dan mendapati Menma sudah ada di sana, duduk santai di tepi bukit.
"Jangan terlalu tegang, rileks saja," serunya. Aku menurut dan duduk di sampingnya, tentunya dengan menjaga jarak. Aku masih belum kenal betul orang di sampingku ini.
Menma menghela napas pelan. "Aku hanya punya satu pertanyaan untukmu, pertanyaan yang mewakili semua orang di Konoha. Pertanyaanku adalah, apa benar kau berpindah dimensi?"
Tidak ada yang harus kusembunyikan, lagi-lagi jawabanku hanya berupa anggukan.
"Sudah kuduga. Dengar Naruto, aku sudah tahu segala hal tentangmu dari Hinata. Mulai dari kehidupanmu di Konoha, impianmu sebagai Hokage, sampai peranmu dalam perang dunia ninja ke-4. Jadi intinya aku tak perlu lagi bertanya padamu. Tujuanku membawamu ke sini adalah untuk menjawab berbagai pertanyaan yang aku yakin saat ini bermunculan di kepalamu. Aku ingin kau tahu siapa aku dan apa yang terjadi di Konoha setelah kepergianmu."
Aku bersyukur pemikiran Menma sejalan denganku. Aku tak perlu lagi memintanya untuk menjelaskan kalau memang sejak awal dia berniat untuk menjelaskannya.
"Naruto," panggilnya. "Aku juga dari dimensi lain."
Pernyataan singkat namun sudah cukup untuk membuatku terpaku tak percaya.
"Jangan bercanda."
"Apa aku terlihat bercanda?"
Kulihat kedua bola mata Menma yang identik denganku. Tidak ada kebohongan di sana.
"Aku terlahir di desa yang juga bernama Konoha. Namun aku tidak sepertimu yang terlahir dari pasangan terpandang. Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina di dimensiku hanya sepasang shinobi biasa. Mereka hanya sesosok ayah dan ibu yang setia mengabdi kepada desa demi menghidupi anak tunggalnya yang seorang jinchuuriki, yaitu aku. Ibuku sangat sayang padaku. Ia selalu merasa bersalah karena Kyuubi disegel dalam tubuhku. Tapi mau bagaimana lagi, itu memang takdir kami sebagai klan Uzumaki. Ayahku tahu beban berat yang kupikul sebagai jinchuuriki sehingga mengajariku berbagai jurus hebat, Rasengan, Hiraishin, dan Mode Kyuubi. Berkat bimbingan keduanya aku tumbuh jadi anak yang hebat, punya banyak teman, dan disukai para penduduk meskipun aku seorang jinchuuriki."
Pertanyaan-pertanyaanku mulai terjawab. Pantas saja Menma menguasai Hiraishin, punya 3 pasang tanda lahir yang sama denganku, dan bahkan memiliki fisik yang hampir sama denganku. Namun sepertinya ia lebih beruntung dariku.
Aku tersenyum pahit. "Kau lebih beruntung, Menma. Jika harus memilih, aku lebih memilih menjadi dirimu yang terlahir di keluarga biasa namun tak kekurangan apapun. Kau punya keluarga, teman, dan kasih sayang. Kehidupanmu jauh lebih baik dariku dan adikku, Naru, di dimensi ke-2."
Menma terdiam, ia tahu topik mengenai keluarga adalah hal yang sensitif bagiku. Ia menurunkan nada bicaranya. "Yang dulu kau maksud 'dirimu yang lain' di dimensi ke-2 itu bernama Naru?"
"Ya, itu nama panggilan yang kuberikan padanya. Nama aslinya Uzumaki Naruko."
"Naruko? Dia perempuan?"
"Hn. Dia seorang perempuan yang berumur 7 tahun lebih muda dariku. Dulu dia terlihat lemah di mataku, sehingga aku memutuskan untuk menemaninya."
"Kalau begitu aku lebih memilih jadi dirimu."
Aku terkejut dan memandang Menma. Ia sedang tersenyum memandang langit, senyuman pahit yang sama seperti yang kutunjukan beberapa saat lalu. "Mungkin kalianlah yang lebih beruntung. Kehidupan sempurnaku berubah drastis 4 tahun lalu. Kini aku sudah kehilangan semuanya."
"Apa yang terjadi 4 tahun lalu?" tanyaku penasaran.
"Saat itu aku baru pulang dari misi di Suna. Sebenarnya bukan misi besar, hanya misi tingkat B selama 3 hari. Namun sepulang misi, kulihat Konoha sudah rata dengan tanah. Yang sangat kusesalkan adalah aku tak sempat melihat orang tua dan teman-temanku untuk terakhir kali. Aku bahkan tak bisa menemukan jasad mereka saking dahsyatnya serangan yang terjadi. Yang kutemukan di desa hanyalah sosok yang menamakan dirinya Yami. Dialah yang menghancurkan desaku beserta isinya tanpa sisa."
"Yami?"
"Ya, dia bernama Yami yang berarti 'kegelapan'." Keringat mengalir dari balik jambang panjang Menma. Pembahasan mengenai sosok Yami ini membuatnya tegang.
"Dia berambut pirang sepertimu dan memiliki sepasang mata merah menyala. Dia mengaku dari dimensi lain."
"Tunggu-tunggu," potongku. "Jadi maksudmu ada dimensi lain selain milik kita dan Naru?"
Menma mengangkat bahu. "Kita belum bisa mempercayainya 100%. Tapi yang pasti, Yami sangat kuat hingga bisa menghabisi semua shinobi di desaku sendirian. Setelah menyadari kehadiranku dia mengejarku dan mengatakan kalau akulah yang ia cari. Aku dihajar habis-habisan olehnya. Aku tak mengerti kenapa dia bisa sangat kuat. Saat aku merasa akan mati, entah apa yang terjadi, tiba-tiba aku berpindah dimensi ke sini."
"Tanpa segel?" tanyaku.
"Tanpa segel. Aku hanya berpindah begitu saja."
Cukup aneh memang jika bisa berpindah tanpa segel. Itu berarti Menma tak bisa mengatur kapan dia ingin berpindah. Perlahan teka-teki ini menjadi semakin rumit. Banyak hal baru yang belum kuketahui, maka kubiarkan Menma melanjutkan ceritanya.
"Aku hampir putus asa. Aku sudah kehilangan keluarga, teman, dan desaku. Lalu malah terdampar di tempat yang tak lebih baik dari desaku yang lama. Empat tahun lalu banyak sekali konflik yang terjadi di sini karena Konoha tak punya Hokage. Kau pergi di saat pelantikan sedangkan Tsunade terluka parah karena ada penyerangan dari pihak luar. Kebanyakan penduduk yakin kalau kau akan kembali. Sayangnya, para dewan tak ingin mengambil resiko membiarkan Konoha tanpa Hokage. Perpecahan mulai terjadi antara yang pro terhadapmu dan yang berbalik membencimu karena kau dicap tak bertanggung jawab. Belum lagi tekanan dari desa lain yang memanfaatkan kekacauan di Konoha sebagai waktu yang tepat untuk menginvasi. Aku yang kala itu diangkat jadi seorang jounin, jadi ingat desaku sendiri dan tak bisa tinggal diam. Aku berjuang bersama shinobi Konoha lain mempertahankan desa. Selama 6 bulan Konoha benar-benar berada dalam kekacauan. Empat desa besar dalam aliansi tak bisa berbuat banyak karena menilai ini konflik internal dan mereka tak bisa ikut campur. Tak ada yang bisa maju sebagai Hokage Ke-6 untuk mengkomandoi perang saat itu. Maka aku mengusulkan untuk menjadi Hokage Sementara di tengah kacaunya Konoha. Dewan langsung setuju karena melihat perjuanganku membela Konoha. Aku mulai memimpin perang. Kusebar semua shinobi Konoha ke penjuru desa, kuubah pertahanan desa ini jadi lebih kuat, kuperbanyak perekrutan shinobi, produksi senjata, dan kuperkuat pertahanan Konoha sampai akhirnya keadaan mulai stabil. Pihak yang membencimu mulai menghentikan pemberontakan mereka karena sekarang sudah ada Hokage pengganti. Invasi dari luar pun berangsur berkurang karena mereka melihat pertahanan kita yang semakin bagus."
Mendengar cerita Menma, sekarang aku tahu kalau dia adalah versi lain dari diriku dari dimensi lain. Berarti dia sama saja dengan Naru. Bedanya Menma seumuran denganku. Perlahan rasa kesal itu hilang, digantikan dengan rasa iba. Aku pikir kehidupanku dan Naru adalah yang terparah, tapi nyatanya kehidupan Menma lebih buruk lagi. Menma sebatang kara. Aku tak bisa membayangkan kehilangan semua orang di desa di waktu yang bersamaan. Bahkan setelah terdampar di dimensi ini pun Menma masih dihadapkan pada kekacauan yang kubuat.
"Maaf. Aku sadar kata itu tak berarti apa-apa sekarang karena semuanya telah terjadi. Tapi aku benar-benar tak tahu jika kepergianku akan menyebabkan kekacauan besar." Hanya itulah yang bisa kukatakan, di tengah penyesalanku atas perbuatanku 4 tahun lalu.
"Sudahlah. Para penduduk lebih banyak yang pro terhadapmu. Mereka tak bisa menyalahkanmu karena kau pergi ke dimensi lain. Mereka ingat bagaimana sikap kasar mereka terhadapmu saat kau kecil. Mereka sadar dan tak bisa memaksamu untuk tetap tinggal. Tapi satu yang pasti, kami tetap menganggapmu shinobi Konoha. Jangan pernah katakan kalau kau mantan shinobi Konoha," kata Menma sambil menepuk pundak kiriku.
"Terima kasih," ucapku. Sosok di sampingku ini terdengar begitu bijaksana. Rupanya jabatan Hokage tak diberikan padanya dengan sembarangan oleh para dewan.
"Ngomong-ngomong, apa yang membuatmu kembali?" tanya Menma, kembali mengganti topik.
Membahas hal itu membuatku kembali mengingat Naru, padahal ini belum sampai 24 jam aku meninggalkannya. Apa yang sedang dilakukannya sekarang? Apa dia sudah menguasai mode Kyuubi? Kuharap dia baik-baik saja, pikirku. "Naru sudah dewasa dan cukup bisa menjaga dirinya. Lagipula kehadiranku di sana hanya mendatangkan banyak masalah. Alur waktu di sana jadi berubah dari yang seharusnya."
Menma menyimpan tangannya di dagu, berpikir. "Aku juga telah masuk ke alur kehidupanmu. Bukankah itu berarti aku akan mendatangkan masalah?"
Aku tak bisa menjawab. Kerusakan alur ini belum bisa dinilai keakuratannya karena baru pendapat Jiraiya dan aku. Aku belum tahu apakah invasi Orochimaru dan Akatsuki di Konoha 2 adalah mutlak kesalahanku karena berpindah dimensi? Atau memang itulah takdir yang seharusnya terjadi? Masih banyak misteri yang belum terpecahkan.
Menyadari kalau aku tak bisa menjawab, Menma bicara lagi. "Sejak dulu aku tak pernah berambisi menjadi seorang Hokage, apalagi Hokage di dimensi lain. Keadaanlah yang menuntunku jadi seorang Hokage di sini 3 tahun lalu. Sekarang aku akan bertanya satu hal penting padamu."
Menma memberikan jeda untuk memastikan aku memperhatikan baik-baik kata-katanya. "Apa kau ingin jadi Hokage Ke-6 menggantikanku, Naruto?"
Aku melongo, sedangkan Menma tetap mempertahankan wajah seriusnya. Mengobrol lama-lama dengan Menma membuatku tahu kalau dia tak seburuk yang kukira. Pantas saja penduduk terlihat senang dipimpin olehnya. Tapi ini terlalu tiba-tiba, ada banyak hal yang tak kuketahui dari Konoha yang sekarang.
"Aku perlu waktu untuk berpikir."
"Ini seharusnya jabatan yang kau pegang. Bukankah ini mimpimu sejak lama?"
"Ya. Tapi saat ini terlalu banyak hal yang kupikirkan. Dari semua hal itu, yang lebih menyita pikiranku adalah Yami. Pasti ada alasan tertentu kenapa Yami ingin membunuhmu, juga alasan kenapa dia bisa sangat kuat."
Wajah serius Menma hilang, digantikan oleh seulas senyum.
"Cukup, Naruto. Kau yang sekarang berbeda sekali dengan yang diceritakan orang-orang padaku. Kau lebih serius. Aku sedang tidak mau membahas Yami. Jadi lebih baik pembahasan Yami kau tunda dulu. Malam nanti akan ada perayaan kemenangan Konoha melawan invasi. Jadi sebagian besar shinobi tidak bertugas dan ada di desa. Kenapa tidak berkeliling desa dan menemui teman-temanmu? Aku yakin banyak hal yang berubah setelah kau pergi."
Aku akan menanggapi, tapi tiba-tiba datang seorang ANBU di belakang kami. "Maaf Hokage-sama, ada beberapa berkas penting yang belum Anda periksa," kata ANBU tersebut dengan hati-hati, tak mau terdengar mengganggu kami.
"Aku kembali dulu ke gedung Hokage." Tanpa menunggu responku, Menma sudah menghilang diikuti ANBU tadi.
Aku tak tahu bagaimana Menma bisa sangat tenang mengetahui ada sosok bernama Yami yang mengincarnya. Mungkin ia sudah terlalu nyaman di sini selama 4 tahun sehingga melupakan masalah Yami.
Berbeda sekali denganku yang malah jadi khawatir. Itu berarti ada 4 dimensi yang sekarang kita ketahui yaitu Konoha 1 tempatku berada sekarang, Konoha 2 tempat Naru berada, Konoha 3 tempat asal Menma yang kini sudah hancur, dan Konoha 4 yang merupakan asal Yami.
Bagaimana caranya Menma berpindah tanpa segel? Lalu kenapa segel yang kugunakan selalu membawaku ke Konoha 2 milik Naru? Kenapa tidak ke Konoha lain?
Memikirkan itu membuat kepalaku semakin ingin pecah.
Aku perlu menyegarkan pikiranku dulu.
Aku menuruti saran Menma dengan berkeliling desa. Kuperhatikan Konoha 1 sudah sangat berbeda. Banyak bangunan baru telah berdiri. Dari kebanyakan bangunan baru itu ada beberapa menara pemantau yang terlihat mencolok dibanding bangunan lainnya. Menara itu tingginya sekitar 20 m, dan ada 2 orang penjaga di masing-masing puncaknya. Hal lain yang tak kalah mencoloknya adalah tembok Konoha yang nampak lebih tebal dan tinggi. Tembok itu pun tak luput dari penjagaan para chuunin dan jounin. Mereka sepertinya shinobi-shinobi yang baru saja dipromosikan, bisa dilihat dari wajah mereka yang belum familiar bagiku. Selain dari menara dan benteng, bukti-bukti peperangan juga bisa dilihat dari goresan-goresan senjata di beberapa tembok desa. Kurasa itulah beberapa saksi bisu perjuangan shinobi Konoha melawan invasi dari luar desa.
Seperti yang dikatakan Menma, malam ini akan diadakan perayaan kemenangan Konoha. Para penduduk sibuk menghiasi rumah-rumah mereka dengan lampion dan hiasan lainnya. Menma juga benar tentang sikap penduduk yang masih mengharapkanku, mereka menyapaku bahkan beberapa tak segan untuk menyalamiku dan mengucapkan selamat datang di Konoha. Mereka bertanya kemana saja aku selama 4 tahun ini. Hanya beberapa saja yang kulihat tak senang, kurasa kelompok itulah yang disebut anti-Naruto.
Terlepas dari berubahnya sistem pertahanan Konoha hingga desa ini terlihat seperti desa militer, kulihat kehidupan penduduknya lebih baik. Jauh lebih baik dibanding 4 tahun lalu. Perekonomian desa ini maju dengan pesat. Rumah-rumah penduduk sebagian besar semi permanen 2-3 lantai. Setelah kuperhatikan lebih dekat, ternyata bukan bangunan untuk pertahanan desa saja yang dibangun. Ada banyak fasilitas umum yang juga dibangun seperti taman, arena hiburan, arena bermain, dan arena berlatih ninja. Pakaian yang dipakai para penduduk bagus-bagus. Jarang sekali kutemui gelandangan berkeliaran di jalanan desa.
Aku berbaring di salah satu sudut taman yang nampaknya baru dibangun.
Berjalan seharian di desa membuatku lelah. Baru saja mataku akan terlelap, seseorang memanggilku. "Ano, N-Naruto-kun..."
Aku membuka mataku dan menengadah. "Oh, Hinata." Buru-buru aku beranjak dan duduk di rumput.
"Maaf, apa aku mengganggumu?" tanyanya.
"Sama sekali tidak," jawabku jujur, karena tadi aku belum benar-benar tertidur.
"Umm.. aku membawakan bento sebagai permohonan maaf soal kemarin," kata Hinata malu-malu. Kemarin malam aku tak memperhatikan Hinata dengan jelas, namun kini penampilan Hinata terlihat jelas di hadapanku. Ia lebih feminim dibanding 4 tahun lalu. Rambutnya lebih panjang. Ia memakai kimono lavender yang memperlihatkan sisi kedewasaan dan keanggunannya.
Hinata menunduk malu saat menyadari aku memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Aku sadar telah membuatnya tak nyaman. "Ah, tidak usah repot-repot. Tadi aku sudah mengobrol panjang lebar dengan Menma. Dia sudah menjelaskan semuanya. Kemarin kami hanya salah paham."
Hinata menggeleng pelan. "Aku sengaja membuat ini khusus untukmu. Jadi sayang sekali jika kau tak menerimanya."
Mendengar penjelasan Hinata aku jadi tak kuasa menolak.
"Kalau begitu terima kasih." Kuterima bento yang diberikan Hinata. Setelah kubuka, aku kaget karena isinya banyak.
"Kalau begitu aku pamit," ujar Hinata.
Ada rasa kecewa yang muncul saat Hinata mengatakan itu. "Kenapa buru-buru? Kita bisa makan bento bersama, ini terlalu banyak untukku," ujarku, refleks memegang tangan Hinata yang saat itu masih berdiri, sedangkan aku sedang duduk.
Hinata terkesiap dan segera menarik tangannya. "M-maaf aku tak bisa," katanya panik sambil berbalik lalu berjalan cepat meninggalkanku.
Sesaat masih sempat kulihat rona merah di kedua pipinya. Rambut indigo yang kini mencapai sebatas paha itu berayun mengikuti setiap langkah cepat Hinata. Mataku tak melepas sosok Hyuuga itu sampai ia menghilang di tikungan. Apa dulu Hinata secantik ini?
Mau tak mau aku menghabiskan bento porsi jumbo itu sendirian. Setelah itu aku kembali bersantai di taman. Keputusanku untuk tetap tinggal di sana adalah keputusan tepat karena tak lama setelah itu aku bertemu dengan Kiba, Shino, dan Chouji yang baru pulang dari misi.
Kami saling bercengkrama satu sama lain, melepas kerinduan.
Kiba dan Chouji adalah yang paling banyak bercerita, itu karena aku yang meminta mereka. Aku ingin tahu apa saja yang kulewatkan saat aku pergi. Suka dan duka mereka ceritakan padaku. Mulai dari tewasnya Kakashi dan Shikamaru saat terjadi invasi, sampai kabar bahagia pernikahan Chouji dan Ino. Memang tak disangka kalau Ino menerima lamaran Chouji 6 bulan lalu. Yang kutahu Ino adalah orang yang perfeksionis kalau disuruh memilih laki-laki. Mungkin setelah kepergian sang ayah dan Shikamaru, Ino sadar kalau ia butuh seorang pendamping yang mau menjaganya.
Dari Kiba dan Chouji aku juga tahu kalau Sasuke memutuskan untuk jadi ANBU. Ia ingin melindungi Konoha dengan caranya sendiri. Kiba, Shino, dan Sai memilih bergabung dengan divisi pengintaian untuk menyumbangkan keahlian mereka. Lee memilih menjadi guru akademi meneruskan jejak Guy. Tenten sudah menjadi ketua divisi persenjataan sejak 4 tahun lalu. Dan ada banyak cerita yang kami bagi yang tak bisa kuceritakan semuanya. Yang jelas bisa kusimpulkan kalau banyak sekali hal-hal yang kulewatkan di Konoha.
Tak terasa hari sudah semakin sore. Jalanan Konoha sudah mulai ramai. Para pedagang mulai membuka stand mereka menyambut festival yang beberapa jam lagi akan dimulai.
"Apa acara ini diadakan setiap tahun?" tanyaku pada Kiba.
"Ya. Acara selalu berlangsung meriah. Nanti acara akan dimulai dengan pembukaan oleh Hokage. Selanjutnya akan ada berbagai hiburan. Pengunjung juga dimanjakan dengan adanya berbagai stand makanan dan cindera mata. Lalu acara akan ditutup dengan pertunjukan kembang api."
"Kelihatannya menarik," lalu aku menatap Chouji dan Kiba bergantian. Mengajak Chouji untuk berangkat bersama tentu suatu kesalahan karena dia pasti akan pergi bersama Ino. Maka aku menoleh ke arah Kiba. "Bagaimana kalau kita berangkat bersama, Kiba?"
"Sepertinya aku tak bisa," jawabnya tanpa banyak berpikir.
"Dia akan bersama pacarnya," tambah Chouji. Kiba menyikut Chouji, tapi kemudian ia tertawa pasrah, menandakan kalau apa yang dikatakan Chouji benar.
Aku sadar kalau kami sudah bukan lagi anak-anak remaja yang selalu berkumpul di saat festival seperti sekarang. Di Hanabi Matsuri 4 tahun lalu dan tahun-tahun sebelum itu, aku masih ingat kalau kami berempat, aku, Shikamaru, Chouji, dan Kiba selalu pergi bersama. Mereka bertiga adalah teman pertamaku di akademi. Teman yang menemaniku saat aku bolos dan dihukum, juga teman yang menemaniku saat ada perayaan seperti ini untuk bersenang-senang.
Tapi aku pastikan semua itu tak akan terjadi malam ini. Shikamaru sudah tiada dan kedua sahabatku yang lain sudah punya pasangan.
Aku tersenyum dan menepuk pundak Chouji dan Kiba lalu berjalan pulang.
Mungkin sudah saatnya aku juga mencari pasangan. Tanpa berpikir lama aku sudah tahu siapa yang akan kuajak pergi nanti malam. Perempuan yang sudah menyatakan cintanya padaku tapi belum pernah kutanggapi sampai sekarang.
Hyuuga Hinata, tentu saja.
Acara perayaan dimulai jam 7 malam. Jadi sebelum itu aku sudah bersiap-siap. Kupakai kimono biru tua yang baru saja kubeli karena semua kimono-ku di sini sudah tidak muat. Beberapa kali kusisir rambut pirangku yang sudah agak panjang. Aku ingin tampil rapi malam ini. Aku ingin terlihat baik di hadapan Hinata dan ayahnya.
Setelah siap aku bergegas ke Hyuuga Mansion untuk menjemput Hinata. Ternyata menjemput seorang perempuan ke sebuah festival bisa membuat jantungku berdebar-debar seperti ini. Padahal aku sudah cukup kenal baik dengan Hiashi. Pasca perang dunia ninja ke-4 aku sering mengunjungi Hiashi untuk menepati janjiku kepada Neji dan Hinata, yaitu menghapuskan sistem main-branch di klan Hyuuga. Dengan dihapuskannya sistem itu, tidak akan ada lagi diskriminasi kepada anggota keluarga branch/cabang. Kedua kelompok akan dianggap setara.
Belum sempat aku masuk ke gerbang utama Mansion, keluarga Hiashi keluar dari sana. Hiashi berjalan paling depan, Hanabi dibelakangnya, lalu paling belakang ada Hinata. Dia nampak cantik dengan yukata putih bermotif bunga lavender yang dipakainya. Aku tersenyum ke arahnya. Namun tak lama. Senyumku langsung pudar karena aku baru sadar kalau Hinata tidak sendiri. Ia berjalan beriringan dengan Menma. Lengan Hinata mengapit lengan Menma dengan erat. Lalu di pangkuan Menma ada seorang balita yang sedang tertawa ceria.
Aku terpaku di tempatku.
Aku tak bodoh.
Aku tahu apa yang terjadi.
"Oh, kau di sini Naruto," kata Hiashi menyadarkanku yang saat itu masih terpaku di depan gerbang Mansion.
Hanabi dan Hinata kaget melihatku, sementara Menma nampak tersenyum ramah. "Kau sengaja menunggu kami atau..." Menma menghentikan kalimatnya lalu menatapku penuh tanya.
Aku benar-benar bingung harus apa. Jika aku bilang aku sengaja menunggu mereka, itu akan terdengar aneh. Untuk apa aku menunggu keluarga Hyuuga? Jika aku bilang akan menjemput Hinata, itu tidak mungkin. Pemandangan di hadapanku sudah cukup untuk menjelaskan kenapa ada Menma dan seorang balita di sana.
Aku hanya diam, belum punya alasan yang cukup logis untuk keluar dari keadaan ini.
"Dia menjemputku," seru Hanabi. Tanpa basa-basi ia berjalan ke arahku, meraih tanganku, dan menarikku pergi. "Ayo pergi, Naruto."
Aku berusaha mengimbangi langkah cepat Hanabi sambil sesekali menatap Hanabi penuh tanya.
"Sejak kapan adikmu dekat dengan Naruto?"
"Umm.. entahlah."
Dari kejauhan kudengar percakapan Menma dan Hinata. Aku tak peduli apa reaksi ketiga orang itu tapi yang jelas Hanabi sudah menyelamatkanku dari keadaan yang canggung tadi.
"Terima kasih," gumamku pelan.
"Ya. Soalnya tidak lucu kalau kau datang untuk mengajak istri orang. Apalagi mengajak istri Hokage di depan suaminya sendiri. Jangan salah paham mengenai bento yang kau terima, itu sebenarnya permintaan Menma karena ia merasa bersalah telah memukulmu. Sekarang pegang erat tanganku agar mereka tak curiga," ujar Hanabi dengan intonasi yang juga pelan, memastikan percakapan kami tak didengar yang lain.
Kata-kata Hanabi barusan memperjelas semuanya. Hinata sudah menikah dengan Menma. Anak yang ada di pangkuan Menma adalah anak mereka.
Kutautkan jariku di sela jari-jari kecil Hanabi. Selain meyakinkan 3 orang di belakang kami, ternyata itu cukup ampuh untuk menenangkanku. Dadaku terasa sakit. Ini pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini. Perasaan dimana kau merasa kehilangan orang yang berarti bagimu.
Acara perayaan berpusat di halaman gedung Hokage yang lumayan luas. Acara sudah dibuka oleh Hokage dan kini berbagai hiburan tengah berlangsung di sana.
Aku dan Rookie 11 lainnya berkumpul di satu stand makanan. Tapi aku dan Hanabi memilih meja paling jauh. Awalnya kami bicara kesana kemari sampai akhirnya sampai pada topik yang serius.
"Kau pernah dengar kelompok anti-Naruto dan pro-Naruto yang terbentuk 4 tahun lalu?" tanya Hanabi.
"Ya, Menma sempat cerita padaku."
"Aku salah satu anggota kelompok anti-Naruto. Aku salah satu yang melakukan pemberontakan," Hanabi menatapku, melihat kekagetan di wajahku. "Dulu aku membencimu sampai pada titik dimana aku ingin sekali mencarimu lalu membunuhmu. Kau telah menyakiti kakakku satu-satunya."
Aku menelan ludahku. Gadis 16 tahun di hadapanku ini termasuk Hyuuga terhebat bahkan jika dibanding dengan Hiashi dan Hinata. Sejak kecil dia dipuji karena ia berbakat. Dia bisa membunuhku kalau aku lengah.
Pandanggan sepasang mata beriris lavender itu melembut. "Nee-sama orang yang baik. Saat kau pergi 4 tahun lalu, dia menjadi kelompok yang pro-Naruto karena yakin kau akan kembali. Dia pernah cerita padaku kalau dia sudah menyatakan cintanya padamu tapi kau tak menanggapinya sampai saat ini. Tapi bukan itu yang membuatnya paling sakit hati. Yang lebih menyakiti hatinya adalah kau melupakan mimpimu menjadi Hokage. Dia selalu percaya pada jalan ninjamu karena itu juga merupakan jalan ninjanya. Tapi kau malah membuang jauh-jauh mimpimu di depannya dan di depan seluruh penduduk Konoha. Berbulan-bulan dia menunggumu. Dia masih percaya padamu. Tapi biar bagaimanapun dia juga wanita biasa yang punya perasaan. Jangan harap dia akan setia selamanya padamu. Setahun kemudian ada pemuda yang mengisi hidupnya, yaitu Menma. Ia menghiburnya dan penuh perhatian padanya. Dia selalu ada di sampingnya di saat-saat terberatnya. Perlahan Nee-sama melupakanmu serta jalan ninjamu. Nee-sama berhenti jadi shinobi danmulai membuka hatinya untuk Menma. Tidak heran kalau akhirnya mereka menikah 2 tahun lalu dan dikaruniai seorang anak perempuan."
Aku menoleh ke arah Hanabi. "Kau masih membenciku sekarang?"
"Tidak. Dulu aku membencimu karena aku belum bisa mengontrol emosiku. Lagipula sekarang Nee-sama sudah bahagia bersama orang yang mencintainya. Kini ia selalu ceria, apalagi setelah kelahiran anaknya, Misa."
"Kau benar, mereka kelihatan bahagia," ujarku setuju. Dari kejauhan, kuperhatikan Hinata, Menma dan putri mereka, Misa, yang sedang tertawa bahagia.
Aku berusaha tersenyum meski dadaku kembali terasa sakit. Tapi aku merasa pantas mendapatkan rasa sakit ini. Kepergianku telah menghancurkan mimpi Hinata hingga membuatnya berhenti jadi shinobi. Sudah cukup aku membuatnya sedih. Hinata berhak mendapatkan kebahagiaan bersama orang yang disayanginya.
"Kurasa ini adalah akhir dari cinta pertamaku yang bahkan tak pernah dimulai."
To Be Continue…
A/N:Chapter ini kesannya suram & bikin galau, terutama kalimat terakhir. Anggap aja ini sebagai salah satu konsekuensi karena Naruto sudah melakukan perpindahan dimensi. Lagian kalo terus-terusan perang nanti malah ga seru, jadi cool down dulu.
© rifuki
