Akage – Part 1

"Truth"

Konoha 5, 5 tahun setelah perpindahan dimensi

Kedua tanganku bersatu untuk mengakhiri kombinasi segel perpindahan dimensi. Kupastikan Yami ikut terbawa bersamaku ke dimensi lain. Jutsu entah-apa-namanya yang selama ini kupraktekan hanya membawaku dari dan ke Konoha 2. Itu berarti tujuanku sekarang sudah jelas, yaitu Konoha 2, dimensi tempat dimana adikku berada.

Aku berpindah ke Konoha 2 bukan tanpa perhitungan. Aku tak akan berpindah tepat ke Konoha, melainkan ke hutan lebat di perbatasan Negara Api. Saat seseorang berpindah dimensi, ada rasa sakit luar biasa yang dirasakan di sekujur tubuh. Melihat keadaan sekarang, aku yakin kami berdua tak akan bisa bertahan dan akan mati setelah sampai di Konoha 2. Apalagi Yami, lukanya lebih parah dari padaku. Sekujur tubuhnya kini nyaris terbakar Amaterasu. Dan kalian sendiri tahu Amaterasu adalah api yang tak pernah bisa padam kecuali dilenyapkan oleh pengguna sharingan.

Begitu segel jurus aktif, tekanan yang kuat mulai terasa di dadaku. Napasku berat, sendi-sendiku sakit, dan pandanganku mulai mengabur. Yami merasakan hal yang sama karena kurasakan tangan kirinya menegang.

Tak lama kemudian tubuh kami berdua tersedot ke dalam celah dimensi.

"Sampai bertemu di akhirat, Yami!" seruku.

Mata merah Yami menatapku tajam. Lalu ia tertawa dan berkata, "Aku benci dikalahkan! Kalaupun kita harus mati, aku ingin kau mati duluan! Hahahaha!"

Yami mengayunkan Dark Rasengan yang belum sempurna itu ke badanku. Aku yang saat itu sedang membentuk segel, segera menahan tangan Yami dengan sikutku. Sialnya, Yami sebenarnya tak berniat menghantamkan rasengan-nya di badanku. Ia justru meledakkan rasengan saat itu juga, saat bola energi itu masih berada di tangannya.

BOOM!

Ledakan terjadi dalam celah antar dimensi. Membuat keadaan sekitar yang asalnya gelap menjadi terang. Ledakan itu menghancurkan tangan kanan Yami, serta sebagian besar badan bagian kiriku, termasuk lengan kiriku yang saat itu sedang membentuk segel.


BRUKH!

"AAARRRGHHHH!"

Aku terjatuh di tanah dengan keras. Disusul dengan rasa sakit di bahu kiriku. Aku telah kehilangan tangan kiriku, telinga kiriku juga tak bisa mendengar, dan mata kiriku tak bisa melihat. Tetesan darah mengalir dari bagian kiri kepalaku ke pipi dan hidung. Kupejamkan mata untuk menahan rasa sakit yang terasa. Ini jauh lebih sakit dari perpindahan dimensi yang selama ini kulakukan.

"Uhuk, uhuk..."

Kudengar seseorang batuk. Ternyata itu Yami. Ia berada sekitar 5 meter di sampingku. Dia juga sedang menahan rasa sakitnya. Kami sama-sama tergeletak di tanah dengan luka yang parah.

Kutatap sekelilingku cepat. Ini jelas bukan Konoha 2, ini juga bukan Negara Api, bahkan ini bukan dimensi milik Naru! Aku tidak merasakan chakra seorangpun yang kukenal. Aku merasa asing di tempat ini.

"N-Narutoooo!" Yami beringsut ke arahku secara perlahan. Mukanya berlumuran darah. Api Amaterasu di tubuhnya masih tetap menyala dan telah menghanguskan beberapa bagian tubuhnya.

Ini tak mungkin! Dari yang sudah-sudah, kita tak akan bisa bergerak sampai 5 menit ke depan setelah perpindahan dimensi. Apalagi dengan luka separah itu, seharusnya Yami belum bisa bergerak.

"Kau sudah membuatku marah! Sekarang kau tak bisa lari lagi, Naruto!" geram Yami.

Aku sudah pasrah. Aku bahkan tak mampu untuk membenarkan posisi badanku, apalagi untuk bergerak menjauh dari Yami.

"Kenapa kau begitu kuat? Siapa kau sebenarnya?" tanyaku.

"Cih! Jangan samakan aku denganmu. Kau pikir membawaku ke dimensi lain akan membuat kita mati bersama? Mungkin benar jika kau yang mati... tapi aku tidak! Kecepatan penyembuhan lukaku 3x lebih cepat darimu."

Tiga kali lipat? Pantas saja Yami bisa segera bergerak setelah berpindah dimensi. Meskipun dengan luka-luka yang lebih parah dariku.

"Tapi aku berterima kasih padamu, Naruto. Akhirnya aku bisa tahu jurus berpindah dimensi. Ternyata itu lebih cepat dari caraku yang selama ini hanya menggabungkan Hiraishin dan pendeteksian chakra untuk berpindah dimensi."

Yami sudah berada di hadapanku. Dengan sisa tenaganya ia mengambil kunai di kantongnya. Diarahkannya kunai itu padaku dengan gemetar. Meski kekuatannya belum sepenuhnya pulih, tapi itu sudah cukup untuk membunuhku di tengah keadaanku yang tak bisa bergerak ini.

"Kau mengeluarkan banyak darah. Aku yakin kurang dari 10 menit lagi kau akan mati. Tapi seperti kubilang tadi, aku lebih suka jika aku yang membunuhmu!" Yami mengayunkan kunai-nya ke arahku. "MATI KAU!"

Aku tak mampu menghindar. Sepertinya ini akhir dari hidupku.

WHOOSH!

TAP! TAP! TAP!

"Ugh!"

Yami tumbang di hadapanku. Sementara tubuhku diangkat oleh seseorang dan dibaringkan di pangkuannya. Nampaklah seorang wanita paruh baya berambut pirang muda. Kulitnya putih dan memiliki mata yang berwarna lavencer pucat. Ia mengenakan kimono yang juga berwarna lavender.

Wanita itu tak sendiri. Di sampingnya ada sosok yang nyaris sama dengannya dari mulai fisik sampai pakaian yang dipakainya. Bedanya, jika wanita itu Naruto perkirakan berusia 30 tahunan, maka gadis di sampingnya baru menginjak remaja.

"Narutooo! Kemari kau! Akan kubunuh kau!" Dasar Yami, dia masih saja keras kepala ingin membunuhku.

"Tenang saja," ujar wanita itu sambil tersenyum. "Dia tidak akan bisa bergerak karena aku menotok aliran chakra-nya."

Kalimat itu membuatku tenang.

"Siapa kalian?" tanyaku pada sosok yang saat ini sedang memangkuku.

"Namaku Shion, aku akan memperkenalkan diriku secara lengkap nanti. Sekarang kita harus pergi."

"Kemana buru-buru sekali?" tanya seseorang.

Dari suaranya, aku tahu yang bicara barusan adalah laki-laki. Aku belum tahu siapa itu karena untuk menolehkan kepalaku saja aku harus bersusah payah. Tapi dari sayup-sayup suaranya yang terdengar oleh telinga kananku, rasanya suara itu sangat familiar.

"Ck! Kita terlambat. Dia sudah terlanjur datang," keluh Shion sambil membawaku menjauh dari Yami dan 'orang itu'.

Dari reaksi dan bahasa tubuh Shion, aku yakin orang yang tadi datang bukan berada di pihak kami. Shion seperti enggan untuk berhadapan dengannya. Bahkan gadis remaja yang tadi bersama Shion langsung memasang kuda-kudanya untuk melindungi kami.

"Wow, tenang, tenang," ujar orang itu. "Aku kemari hanya untuk menjemput orang bodoh."

Terdengar suara langkah kaki mendekat. Shion semakin membawaku menjauh, ia terlihat waspada sekali.

"Dada sobek terkena Rasen Shuriken, beberapa tulang rusuk patah, sekujur tubuh terkena Amaterasu, tangan kanan hancur, aliran chakra terhenti. Kau benar-benar tak bisa diharapkan, Yami," keluh orang itu.

"Berhenti bicara dan bantu aku membunuh Naruto!" seru Yami.

Sosok itu kini sudah berjongkok di dekat Yami. Sekarang aku bisa melihat punggung sosok itu. Ia laki-laki yang memiliki rambut berwarna hitam rancung. Badannya ditutupi jubah berwarna hitam dengan bulu-bulu di bagian lehernya.

"Cukup untuk hari ini," ujarnya lagi. "Kau sudah memiliki 3 kekuatan Naruto tapi sekarang aliran chakra-mu terhenti. Jika dibiarkan lama tubuhmu bisa hancur. Lebih baik kita pulang dan sembuhkan luka-lukamu dulu."

Mata kananku membulat saat perlahan aku mulai menyadari sesuatu. Suara ini, nada bicara seperti ini, dan juga fisik ini...

Tidak salah lagi, sosok itu adalah...

"Cih!" rutuk Yami kesal. Sosok itu tetap cuek dan mengalungkan lengan Yami di lehernya. Ia tak pedulikan api Amaterasu yang perlahan ikut membakar badannya. Lalu ia bersiap untuk pergi membawa Yami.

"STOP!" teriakku. "Kau Menma! Kau Namikaze Menma! Iya, 'kan?"

Sosok itu menoleh ke arahku sambil tersenyum. Ternyata dia memang Menma. Mata shapire kirinya berubah menjadi Mangekyou Sharingan dan mengeluarkan darah. Bersamaan dengan itu api Amaterasu di tubuh mereka lenyap. Sosok itu tak menjawab pertanyaanku tapi apa yang kulihat sudah cukup membuktikan kalau itu Menma.

"Sampai bertemu lagi, Naruto," kata Menma. Ia dan Yami lalu menghilang dengan Hiraishin.

"Tunggu Menma! Apa maksud semua ini!" teriakku, meskipun sebenarnya percuma karena Menma sudah tak ada di sana.

"Naruto-san, kita juga harus segera merawat lukamu," ujar Shion. Shion menyuruhku untuk berpegangan padanya saat ia menggendong tubuhku di punggungnya. "Sena, ayo cepat," panggil Shion. Gadis remaja yang ternyata bernama Sena itu mendekati kami berdua. Ia memegang tangan kami berdua dan...

Sedetik kemudian aku sudah berada di tempat lain yang terlihat seperti ruang medis. Gadis remaja itu telah menggunakan Hiraishin.

Terlalu banyak kejutan yang sudah kusaksikan. Kekuatan penyembuhan Yami yang 3x lipat, kemunculan Menma yang seharusnya sudah mati, kekuatan 3 Naruto, dan jurus Hiraishin yang tekesan tidak spesial lagi karena sudah banyak digunakan orang.

Aku ingin menanyakan semuanya kepada Shion karena tadi ia terlihat mengenal Menma. Aku yakin Shion mampu menghilangkan semua rasa penasaranku. Tapi tidak sekarang. Sena sudah memberikan obat bius padaku. Lukaku harus segera ditangani. Langit-langit ruangan mewah bergaya tradisional di atasku, alat-alat bedah di sisi kananku, obat-obatan di sisi kiriku, wajah khawatir Shion, dan wajah serius Sena adalah pemandangan-pemandangan yang terakhir kulihat sebelum akhirnya aku tak sadarkan diri.


Aku membuka mataku. Entah sudah berapa lama aku tak sadarkan diri. Kuperhatikan ruangan tempatku berada mirip bagian sebuah istana bergaya tradisional yang dimodifikasi jadi ruangan medis yang fasilitasnya lengkap. Ada 2 orang penjaga yang berjaga di pintu.

"Akhirnya kau bangun," kata Shion yang saat itu berada di sampingku. Sena sedang sibuk memeriksa keadaan badanku.

"Berapa lama aku tertidur?" tanyaku.

"Kau sudah tertidur 5 hari."

Aku menghela napas pelan. Tenyata lama juga aku tertidur. Tapi dengan luka separah ini wajar saja aku tertidur selama itu.

"Kami sudah berusaha semampu kami," ujar Sena. "Tapi mata, telinga, dan tangan kirimu tak bisa diselamatkan lagi. Kami hanya bisa menghentikan pendarahan dan mencegah infeksi."

Aku menatap bahu kiriku. Sudah tak ada tangan yang menempel di sana. Yang ada hanya gulungan perban yang tebal. Siapa yang tak sedih saat kehilangan anggota badan yang sangat berharga. Apalagi tangan adalah anggota badan yang cukup vital bagi seorang ninja karena dengan tangan kita bisa membentuk segel jurus. Tapi setidaknya aku selamat.

"Tidak apa-apa. Aku pasti sudah mati jika kalian tak menolongku. Terima kasih sudah menolongku," ucapku sungguh-sungguh.

Shion tersenyum lembut. "Sama-sama. Mari lanjutkan perkenalan kita yang sempat tertunda. Namaku Uzumaki Shion, dan ini anakku, Uzumaki Sena," kata Shion, ia mengusap rambut Sena saat memperkenalkannya, yang diperkenalkan membungkuk hormat. "Kami pendeta Negara Iblis."

Oh, mereka Uzumaki. Pantas saja Sena bisa menggunakan Hiraishin. Berarti benar sekarang aku berada di dimensi ke-5. Pasti 'Naruto' di dimensi ini sudah mengajarkan Hiraishin kepada Sena.

Kenyataan kalau mereka berdua pendeta juga menjelaskan kenapa mereka selalu memakai kimono sejak kami bertemu. Mengenai Negara Iblis, aku pernah mendengarnya dari Nenek Tsunade. Di Negara Iblis (Negara Iblis di Konoha 1) pernah ada cerita yang beredar kalau puluhan tahun lalu ada seseorang yang berusaha membangkitkan kekuatan iblis Mouryou. Kekuatan Mouryou sangat besar hingga sanggup menghidupkan ribuan pasukan hantu yang tak bisa mati. Dunia hampir hancur saat itu. Untunglah ada seorang pendeta wanita bernama Miroku yang berhasil menyegel jiwa Mouryou dengan mengorbankan nyawanya. Jika cerita di dimensiku dan dimensi ini sama, maka selain mereka klan Uzumaki, Shion dan Sena adalah keturunan dari Miroku.

"Tunggu sebentar, apa dulu di sini ada pendeta wanita terkenal yang bernama Miroku?" tanyaku memastikan.

"Kau bercanda, beliau itu nenekku," jawab Sena sambil tertawa. Shion mengangguk mengiyakan.

"Ah, maaf aku tak tahu," balasku sambil ikut tersenyum. "Oh ya, namaku Uzumaki Naruto, salam kenal."

Senyum di wajah Shion berubah. Tadi ia tersenyum biasa, tapi sekarang lebih seperti kesedihan yang ditutupi oleh sebuah senyuman. "Namamu mengingatkanku pada suamiku yang sudah meninggal," kata Shion.

"Maaf."

Shion memegang pundakku. "Jangan terus-menerus meminta maaf. Itu bukan salahmu."

Jeda sesaat, kemudian Shion melanjutkan kata-katanya.

"Di sini dia jarang dipanggil 'Naruto', orang-orang lebih mengenalnya dengan nama Akage karena ia memiliki rambut merah dan lurus khas klan Uzumaki. Itu warna rambut yang indah dan langka di negara ini hingga membuatku iri."

Aku tersenyum sendiri. Sikap Shion mengingatkanku pada reaksi yang serupa yang kutunjukan saat pertama kali bertemu dengan ibuku. Di pertemuan yang singkat dengan ibuku itu aku bilang padanya jika aku ingin punya rambut yang sama dengan ibuku. Dengan rambut yang merah, lurus, dan indah, pasti aku terlihat tampan. Saat itu ibuku hanya tertawa dan meminta maaf karena justru sifatnyalah yang kuwarisi, termasuk dialek dattebayo, dan bukan fisiknya.

"Ada apa, Naruto-san?" tanya Shion. Pasti dia menyadari aku yang senyum sendiri.

"Ah tidak. Aku hanya ingat kalau dulu aku juga merasa iri saat melihat rambut ibuku yang merah. Dulu aku berharap kalau aku memiliki rambut yang juga berwarna merah. Suamimu sangat beruntung karena mewarisi fisik rambut merah yang jadi ciri khas Uzumaki. Pasti ia tampan sekali dengan rambut merah."

Wajah Shion bersemu merah.

"Kalian berbeda negara, bagaimana kalian bertemu?" tanyaku penasaran.

"Ya kau benar, Akage memang berasal dari Negara Api, tepatnya desa Konoha yang lumayan jauh dari sini. Pertama kali aku mengenal Akage saat ia melaksanakan misi ke sini. Saat itu ia dan 3 rekannya ditugaskan untuk mengawalku untuk menyegel jiwa iblis Mouryou yang dilepaskan oleh Yomi. Akage sebenarnya kuramalkan mati saat melawan Mouryou. Tapi ia pantang menyerah dan bilang jika takdir itu kita yang menentukan. Itulah yang kusukai darinya. Akhirnya kami bertarung bersama sampai akhir hingga kami menang. Akage begitu polos. Saat aku memintanya untuk membantuku melahirkan generasi pendeta selanjutnya, dengan semangat dia menyetujuinya. Padahal ia tak tahu jika arti sesungguhnya dari kata-kataku adalah memintanya untuk menikah denganku."

"Naruto di dimensi ini sebodoh itu?" tanyaku tak percaya.

"Hihi, tapi aku sangat mencintainya. Saat berusia 17 tahun, Akage menepati janjinya untuk menikahiku. Ia rela melepas impiannya jadi Hokage. Dia bilang kalau seorang ninja tak boleh mengingkari janjinya, janji yang dimaksudnya adalah janji untuk menikahiku. Aku sempat takut dia menikahiku hanya karena terlanjur berjanji, bukan karena cinta. Tapi ternyata dia benar-benar menyayangiku. Akage tak ingin langsung memiliki anak karena ia menilai aku yang saat itu masih manja dan kurang dewasa. Barulah 3 tahun kemudian, saat usia kami 21 tahun kami dikaruniai seorang anak perempuan, Sena." Saat bilang itu Shion menatap lembut anak perempuannya, dibalas dengan senyuman ramah sang anak.

"Kami berdua melatih Sena jadi seorang pendeta sejak kecil. Dialah yang nantinya menggantikanku. Akage tak mau mengulangi kesalahan ibuku yang bersikeras tak mengajariku ilmu ninja agar aku menjalani kehidupan normal. Alih-alih kehidupanku normal, aku malah tumbuh jadi anak yang lemah dan tak punya teman. Kami tak mau Sena berakhir sepertiku. Akage melatih Sena ilmu ninja, termasuk ilmu medis ninja di Konoha, sedangkan aku mengajarinya teknik penyegelan. Sena mewarisi gabungan dua gen kami yang sama-sama kuat sehingga menjadikan Sena seseorang yang mudah menguasai baik ilmu ninja maupun teknik penyegelan. Saat latihan penyegelan Sena sampai di tahap akhir di kuil tempat penyegelan jiwa Mouryou, Akage menemukan sesuatu. Sebuah buku yang menjelaskan rahasia tentang dimensi yang ada di dunia ini."

Aku tak menyangka cerita Shion akan sampai pada hal yang dari 5 hari lalu kupertanyakan. Maka tanpa ragu lagi aku bertanya, "Apa isi buku itu? Tolong beritahu aku," pintaku, berusaha untuk tak terdengar memaksa.

Shion mengerti rasa penasaranku dan tanpa ragu memberitahuku.

"Dalam buku itu dijelaskan bahwa di dunia ini ada 7 dimensi."

Mulutku terbuka saking kagetnya, namun tak ada sepatah katapun yang keluar. Ternyata ada banyak dimensi di dunia ini.

"Di dalamnya juga dijelaskan bagaimana caranya berpindah ke ketujuh dimensi. Cara pertama adalah dengan mendeteksi chakra 'dirimu' yang lain melalui celah antardimensi lalu melakukan Hiraishin ke sana. Tapi cara ini kurang efektif karena lama dan sulit untuk mendeteksi chakra dirimu yang lain jika kau belum mengenali chakra-nya. Cara kedua adalah dengan melakukan jurus perpindahan dimensi, yaitu gabungan segel Hiraishin dan sejumlah segel tambahan. Kudua-duanya tetap menguras banyak chakra sehingga hanya anggota klan Uzumaki yang bisa melakukannya. Mana cara yang selama ini kau pakai?"

"Cara kedua, aku menemukannya tanpa sengaja," jawabku. Dari penjelasan Shion aku bisa menarik kesimpulan kalau Yami selama ini menggunakan cara yang pertama. Sedangkan cara Menma berpindah dimensi ke Konoha 1 tanpa segel masih tanda tanya. Ngomong-ngomong masalah Menma, kebingunganku mengenai dirinya belum terjawab.

"Shion, apa mungkin ada cara lain untuk berpindah dimensi tanpa segel? Lalu apa kau kenal Menma?"

"Ya ada 1 lagi tapi sangat kecil kemungkinannya. Seseorang bisa berpindah dimensi saat terjadi ketidakstabilan dimensi. Ia akan berpindah sendiri tanpa melakukan apapun. Lalu pertanyaan keduamu. Bagaimana aku bisa melupakan pembunuh suamiku?"

"Menma membunuh Akage?!" tanyaku tak percaya.

"Yami yang melakukannya, tapi Menma yang menyuruhnya. Jadi sama saja. Ini juga berkaitan dengan buku rahasia yang ditemukan Akage. Selain dijelaskan jumlah dimensi dan cara berpindahnya, ternyata ada satu hal penting yang juga disampaikan di sana."

"Apa itu?"

"Jika kau membunuh dirimu di 6 dimensi lainnya, maka energi dari keenamnya akan masuk ke tubuhmu dan menjadikanmu orang terkuat di dunia ini."

Untuk kedua kalinya aku tertegun. Semuanya mulai masuk akal sekarang. Itulah sebabnya Yami membunuh Akage dan Menma serta berusaha membunuhku. Itu jugalah yang menyebabkan Yami sangat kuat.

"Akage sadar isi buku itu sangat penting dan tidak boleh jatuh ke tangan yang salah. Itulah sebabnya leluhur kami menyembunyikannya di kuil. Bahkan saking hati-hatinya Akage, ia tak pernah mau mempraktekan jurus perpindahan dimensi karena takut merusak dimensi. Kami sepakat untuk tak pernah membahas buku itu lagi. Namun takdir berkata lain. Lima tahun lalu datang Yami dan Menma ke kuil. Yami meminta Akage untuk menyerahkan buku rahasia itu. Tapi Akage sudah membakar buku itu setelah malam sebelumnya aku mendapatkan ramalan kematiannya. Untuk kedua kalinya aku meramalkan kematian Akage. Tapi kali ini benar."

Shion memberikan jeda sejenak agar aku mengerti penjelasannya.

"Menma bilang tak masalah jika buku itu tak ada. Jika Yami ingin membuktikan rumor tentang berpindahnya energi dari satu Naruto ke Naruto lain, Yami hanya perlu membunuh Akage. Yami bersemangat saat disuruh membunuh Akage. Menma tidak ikut bertarung tapi ia memiliki kemampuan yang aneh. Dia seperti tahu kemana Akage akan memukul dan jurus apa yang akan dikeluarkan Akage. Menma memberitahu Yami bagaimana cara mengelak dan ke arah mana ia harus menghindar. Akhirnya Akage tewas dan energinya berpindah ke tubuh Yami. Di akhir hidupnya Akage sempat berpesan untuk jangan pernah melawan Menma dan Yami, terutama Menma. Maka aku dan Sena memutuskan untuk lari. Yami dan Menma nampaknya tidak menghiraukanku dan langsung pergi ke dimensi lain."

Satu kebingunganku masih belum terjawab. Melihat Menma di dimensi ini 5 hari lalu membuatku seperti melihat hantu.

Nampaknya Shion menyadari kebingunganku. "Ada yang ingin kau tanyakan?"

"Ada yang membuatku tak mengerti. Lima hari lalu kulihat Menma sudah mati dibunuh Yami di Konoha 1. Jika Yami dikatakan telah memiliki 3 kekuatan Naruto, berarti kekuatan itu terdiri dari chakra-nya sendiri, chakra Akage dan chakra Menma yang dibunuhnya di Konoha 1. Iya 'kan? Lalu kenapa Menma masih hidup dan mereka terlihat berteman?"

Kening Shion berkerut. "Dari dulu Menma dan Yami memang berteman. Aku menduga Menma di Konoha 1 sebenarnya belum mati. Jadi 3 kekuatan Yami bukan didapatkan dari Menma, melainkan dari chakra dirinya, chakra Akage dan chakra Naruto di dimensi lainnya."

Prediksi Shion membuatku berpikir. Jika benar Menma masih hidup dan ia sebenarnya berteman dengan Yami, untuk apa ia berbuat jauh sampai pergi ke Konoha 1, jadi Hokage, mengarang cerita tentang desanya yang hancur, membuat pertahanan di Konoha 1, melawan Yami bersamaku, hingga mengorbankan tubuhnya mengalahkan Yami.

Lalu satu hal lagi yang menyadarkanku adalah 3 kekuatan Yami. Jika 1 kekuatan diantaranya bukan didapatkan dari Menma, maka kekuatan itu berasal dari Naruto lain. Kemungkinan orang itu adalah 2 Naruto yang belum kukenal, atau bisa saja... Naru!

Tanganku bergetar dan tenggorokanku terasa kering saat membayangkan Naru tewas. Tanpa pikir panjang kugigit jempol tangan kananku. "Bantu aku membuat segel perpindahan dimensi!" ujarku. Seandainya tanganku masih lengkap aku akan melakukannya sendiri.

"Kau mau kemana, Naruto-san?" tanya Shion kaget.

"Aku akan ke dimensi ke-2! Aku ingin pastikan adikku baik-baik saja. Aku takut dia terbunuh."

"Tapi kau masih belum sembuh, kau masih butuh banyak istirahat," tambah Sena.

"Aku tak peduli! Aku hanya ingin melihat adikku! Dia seseorang yang sangat berharga untukku. Tolong buatkan segelnya sekarang juga!"

"Baiklah."

"Tapi Oka-sama, Naruto-san masih perlu-"

"Tidak apa-apa Sena. Dia seorang Uzumaki sepertimu. Chakra-nya saat ini sudah cukup untuk berpindah dimensi," kata Shion memotong perkataan anaknya. Sena terdiam. Sebagai seorang ninja medis, melepaskan pasien sebelum ia benar-benar sembuh membuatnya cemas.

"Naruto-san, kau baru tahu 2 segel untuk berpindah dimensi. Aku akan memberitahumu 19 segel lainnya."

"19?"

"Ya. Totalnya 21 segel." Shion mengambil sebuah gulungan dan menuliskan berbagai segel di sana. "Setiap dimensi punya celah yang berbeda. Di Konoha 1, ada celah dari dimensi 1 ke 2, 1 ke 3, 1 ke 4, dan seterusnya. Kemudian di Konoha 2, ada celah dimensi 2 ke 1, 2 ke 3 dan seterusnya. Kita sekarang berada di dimensi ke-5. Karena itu, jurus yang kau gunakan sebelumnya tidak akan berfungsi di sini. Kau harus menggunakan celah yang tepat, yaitu dari 5 ke 2."

Shion memberikan gulungan segel, lalu ia menyuruh Sena untuk membuatkan kombinasi segel untukku menggunakan darah dari jempolku.

"Terima kasih banyak. Aku tak tahu bagaimana cara berterima kasih kepada kalian," ucapku tulus.

"Cara berterima kasih terbaik adalah kalahkan Yami dan Menma," jawab Shion singkat.

Aku mengangguk mengerti. Segel jurus aktif, disusul tersedotnya badanku ke celah dimensi antara dimensi 5 dan 2. Aku tak pedulikan rasa sakit yang terasa. Yang sekarang memenuhi pikiranku adalah Naru.

Aku berdoa dalam hati, tolong jangan mati Naru...

Tolong jangan mati...

Tolong jangan mati...


Konoha 2, 5 tahun setelah perpindahan dimensi

Setelah sampai di Konoha 2, aku memaksakan tubuhku untuk berjalan masuk ke apartemen Naru. Rasa takut kehilangan Naru telah membuatku melupakan rasa sakit yang terasa di sekujur tubuhku. Padahal seharusnya aku masih belum bisa bergerak sampai 5 menit ke depan.

"Naru!" teriakku sambil membuka pintu apartemen. Tapi yang kutemukan di ruang tengah bukan Naru, melainkan Hinata dan Hanabi. Perbedaan waktu di dimensi ini membuat Hinata seumur dengan Naru yaitu 15 tahun, dan Hanabi masih 9 tahun.

"Dimana Naru!?" tanyaku kepada mereka berdua.

Yang ditanya malah kaget dan beranjak dari sofa yang tadi mereka duduki. Bahkan setelah itu mereka mundur beberapa langkah. Raut wajah ketakutan jelas sekali terlihat di wajah mereka.

Tak lama kemudian, sosok yang kucari keluar dari kamarnya. Naru baru selesai mandi dan masih menggunakan handuk. Tanpa pikir panjang lagi aku langsung memeluknya.

"Hei, siapa kau?!" kata Naru sambil berusaha memberontak. Bukannya melepas Naru, aku malah mempererat pelukanku di badannya. "Ekkkk, apa yang kau lakukan? Dasar mesum!"

Aku baru sadar kalau kepalaku diperban hingga nyaris menutupi seluruh wajahku. Yang terlihat hanya mata kanan, hidung, mulut, dan sebagian pipi. Baju yang kukenakan sekarang adalah kimono hitam yang diberikan Shion karena pakaian ANBU yang sebelumnya kupakai sudah hancur. Itu semua membuatku tampak asing bagi Naru, Hinata, dan Hanabi. Ketiadaan tangan kiri serta aliran darah yang keluar dari mulutku karena efek perpindahan dimensi malah membuatku semakin menyeramkan. Pantas saja Hanabi dan Hinata tadi takut.

"Ini aku..." bisikku di telinga Naru.

Naru berhenti memberontak. Ia mematung. Meski kami sudah berpisah lebih dari 1 tahun, aku yakin Naru masih ingat suaraku. Kami sudah hidup bersama selama 4 tahun. Tak akan mudah bagi Naru untuk melupakan suaraku.

"Nii-san… Naruto-Niisan? Apa ini kau?" tanya Naru, sama-sama berbisik dalam pelukan kami.

Kulepas pelukanku. Kuusap pipi Naru dengan satu-satunya tangan yang kumiliki dan kutatap Naru lekat-lekat. "Ya ini aku, Naruto," jawabku sambil tersenyum.

BUKH!

Pukulan tangan Naru mendarat dengan sukses di perutku. Aku yang sama sekali tak siap mana bisa menghindar. Lagipula aku tak menyangka kalau dia akan memukulku. "Ugh, apa ini sambutanmu setelah sekian lama kita tak bertemu?" tanyaku sambil menahan rasa sakit.

"Itu karena kau mengaku sebagai kakakku. Kau juga meninggalkanku begitu saja!" bentaknya. Aku menunduk karena merasa bersalah. Aku sadar dua hal itu murni kesalahanku. Saat mulutku akan membuka untuk mengutarakan maaf, Naru melingkarkan kedua tangannya di badanku. Ia menyandarkan kepalanya di dadaku. Wangi sweet orange masih tercium dari rambut pirang panjang yang masih basah itu. "Lalu pelukan ini karena kau telah kembali ke sini. Aku merindukanmu, Nii-san," gumamnya.

Dia memanggilku Nii-san?

"Ta-tapi kita sudah sama-sama tahu kalau aku bukan kakakmu," ujarku pelan.

Aku merasakan Naru menggeleng cepat.

"Kau sama sekali tak mengerti. Aku tak peduli siapa dan dari mana kau berasal. Yang aku tahu kau adalah kakakku yang telah membimbingku sampai aku bisa seperti sekarang. Kau sudah menemaniku selama 4 tahun. Kau kakakku yang sampai detik ini masih tetap jadi sosok yang aku banggakan dan kukagumi. Jadi tolong… jangan tinggalkan aku lagi… aku sudah lelah sendirian," ucapnya lirih. Naru terisak, ditandai dengan cairan bening yang keluar dari bola mata shapire-nya hingga membasahi kimono-ku.

Aku terharu Naru masih menganggapku kakak setelah apa yang kulakukan dan setelah tahu kalau kami bukan saudara. Tanpa kusadari ternyata aku pun sangat merindukan bocah ini. Tanpa ragu kubalas pelukan Naru. "Ya, aku tak akan meninggalkan adikku lagi. Aku senang kau baik-baik saja," ujarku.

Aku tak bisa membayangkan seandainya benar Yami berhasil membunuh Naru. Mungkin aku akan merasa bersalah seumur hidupku. Sekarang aku tahu Naru baik-baik saja, maka aku akan berusaha untuk melindunginya. Meski dengan fisikku yang tak sekuat dulu, aku akan berusaha semampuku melindunginya.

Setelah kutinggal setahun, Naru bertambah tinggi hingga kini mencapai daguku. Kusimpan pipi kananku di puncak kepalanya. Kuusap kepalanya pelan.

Naru tak melepas pelukannya lama sekali. Mungkin ia masih ingin melepas rasa rindunya padaku. Aku tak keberatan karena aku juga merasakan hal yang sama.


"Apa yang terjadi sampai membuatmu terluka parah seperti ini?" tanya Naru saat selesai berganti baju dengan t-shirt kuning dan celana pendek hitam. Rambut pirang panjangnya masih belum diikat karena belum benar-benar kering.

Aku tidak menjawab pertanyaan Naru. Perhatianku teralihkan oleh sosok gadis kecil yang sedang duduk di samping Hinata, yaitu Hanabi. Melihat Hanabi versi kecil aku tak tahan untuk tak menggodanya. Ini kesempatan langka bagiku. Aku duduk di sampingnya dan kuacak-acak rambut hitamnya.

"Hentikan. Kubilang hentikaaan!" ujar Hanabi tak senang. Hinata tersenyum geli melihat adiknya diperlakukan seperti itu.

Bukannya berhenti, aku malah mencubit pipinya. "Kau lucu sekali," ujarku sambil nyengir.

"Menyebalkan. Ayo pulang, One-sama," kata Hanabi akhirnya. Sepertinya ia tak tahan terus-menerus kugoda.

Hinata menurut lalu ia pamit, "Naru-chan, Naruto-san, kami pulang dulu."

"Oh iya, terima kasih sudah mengajariku masak hari ini," kata Naru. Hinata mengangguk lalu mohon diri.

Aku menghela napas pelan tanpa melepas senyumku. Ternyata sejak kecil Hanabi memang lebih berani dari kakaknya. Barusan ia menyebutku menyebalkan tanpa ragu padahal dia tahu aku berumur belasan tahun lebih tua darinya di dimensi ini.

Saat aku menoleh ke arah Naru, dia menatapku aneh. "Kenapa?"

"Kau menggoda Hanabi. Apa kau seorang lolicon?" tanya Naru dengan wajah yang melihatku seolah aku menjijikan.

Sontak saja aku tertawa. "Hahaha. Aku normal. Dia hanya mengingatkanku pada seseorang."

Naru menyipitkan matanya seolah tak percaya padaku. Tapi kemudian ia mengibaskan tangannya dengan maksud ingin mengganti topik. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang terjadi di Konoha 1 sampai membuatmu babak belur seperti ini?"

"Baiklah, tadi aku tak menjawab karena kurang baik menceritakan ini di depan Hanabi dan Hinata. Sekarang akan kujelaskan apa yang terjadi, jadi dengarkan baik-baik."

"Hn." Naru duduk di seberangku, wajahnya berubah serius karena tahu hal yang sekarang akan kusampaikan penting.

"Kita tidak hanya berdua," ujarku, membuat kening Naru berkerut. "Dunia ini memiliki total 7 dimensi. Berarti selain kita, ada 5 Naruto lagi di dimensi lainnya dengan karakter yang berbeda-beda. Jika salah satu Naruto mati, maka energinya mengalir ke tubuh Naruto yang berada paling dekat dengannya. Dua diantara mereka, Yami dan Menma, mengetahui rahasia ini dan memburu Naruto lainnya dari ketujuh dimensi. Salah satu Naruto yang dipanggil Akage jadi korban Yami 5 tahun lalu. Beberapa saat lalu Yami juga mengincarku. Aku nyaris mati jika saja tak ditolong isteri Akage, Shion, di dimensi ke 5."

Naru terdiam. Aku yakin tak mudah bagi Naru untuk mempercayai apa yang kukatakan Tapi di sisi lain keadaan tubuhku menjadi bukti yang nyata. "Dia pasti sangat hebat karena memiliki 2 kekuatan Naruto. Pantas saja kau kewalahan."

Aku menggeleng. "Sebenarnya Yami punya 3 kekuatan Naruto."

"Hah? Siapa seorang lagi yang berhasil dia bunuh?"

"Inilah yang membuatku bingung. Di Konoha 1 Yami membunuh Menma. Tapi saat aku sampai di dimensi ke 5 kulihat Menma masih hidup dan mereka terlihat akrab. Aku dan Shion berasumsi kalau Menma tidak benar-benar mati saat di Konoha 1. Jadi dalam rentang 4 tahun ke belakang Yami sebenarnya telah membunuh Naruto lain."

"Ini lebih rumit dari yang kubayangkan," gumam Naru.

"Ya. Karena itu, aku butuh bantuanmu. Aku tak sekuat dulu. Aku bahkan tak bisa membuat segel jurus sendiri. Kita akan berpindah ke berbagai dimensi dan selamatkan Naruto yang tersisa. Jika sampai Yami atau Menma berhasil mengumpulkan semua energi dari ketujuh dimensi, maka tak ada yang bisa mengalahkan mereka. Jika asumsiku benar, maka sekarang ada satu lagi Naruto yang tersisa. Dialah satu-satunya harapan kita. Kita harus membuatnya ada di pihak kita."

Naru berdiri dan mengepalkan kedua tangannya. "Kau bisa mengandalkanku. Dulu kau melindungiku, maka sekarang giliranku untuk melindungimu, Nii-san!"

Aku tersenyum senang. Itulah yang kumaksud. Dengan tetap bersama, kami akan lebih kuat. Mulai sekarang kami akan saling melindungi.

"Kurasa Hokage Ke-5 harus tahu masalah ini. Aku juga perlu bertemu Orochimaru. Dimana mereka berdua?" tanyaku.

"Kebetulan Kakashi-sama sedang menghadiri sidang Orochimaru dan Karin."

"Sidang mereka belum selesai sampai sekarang?"

"Kami menunggu kesehatan Orochimaru pulih. Setelah itu sidang berlangsung alot. Banyak yang menginginkan mereka mati, tapi kita tahu kalau tak bisa menghukum mati seseorang seenaknya."

Ini sudah setahun sejak aku meninggalkan Konoha 2. Rasanya lama sekali pengadilan atas mereka berdua. Tapi justru karena itu aku bersyukur. Aku ada urusan dengan Orochimaru setelah ini.

"Bagaimana dengan Hidan, Nagato dan Zetsu?"

"Mereka sudah mati. Zetsu dan Hidan dianggap berbahaya sehingga mereka dihukum mati beberapa bulan setelah invasi. Sedangkan Nagato mengorbankan jiwanya untuk menghidupkan semua warga Konoha yang mati."

"Apa Jiraiya, Asuma, dan Hokage Ke-3 juga hidup kembali?"

Wajah Naru berubah sedih. Lalu ia berkata, "Nagato bilang hanya orang-orang yang 'belum saatnya mati' yang bisa dihidupkan. Dengan kata lain, Jiisan, Ero-Sennin, dan Asuma-sensei memang sudah ditakdirkan mati."

Aku mengerti bagaimana kesedihan yang dirasakan Naru. Biar bagaimanapun Jiisan dan Ero-Sennin merupakan orang-orang yang berperan penting dalam hidup Naru selain aku. Kuusap kepala Naru, saatnya menggantikan kesedihan itu dengan keceriaan.

"Ikut aku. Kita ke pengadilan dan selamatkan Orochimaru," ujarku sambil mulai berjalan ke luar.

"K-kenapa?!" tanya Naru heran. Bahkan ia berlari dan menyilangkan tangannya di depanku. "Kau harus ingat, Orochimaru sudah mengigitku dan menghancurkan desa!"

Aku tak pedulikan kata-kata Naru. Kutarik badan Naru dan kupegang tangan kirinya. Kuajak dia berjalan di sampingku menapaki jalanan Konoha 2 yang ramai di siang hari ini. Aku ingin bernostalgia mengenang masa lalu kami yang menyenangkan. Rasanya lama sekali kami tak melakukan ini. Terakhir melakukan ini, kuingat Naru masih kecil dan sering menangis karena bersikeras ingin makan ramen lebih dari 5 porsi.

"Nii-san?" Pertanyaan Naru menyadarkanku dari ingatan masa lalu. Aku menoleh ke arah Naru dan disuguhi wajah cantiknya yang penuh tanya. Aku tak tega untuk lebih lama membuatnya penasaran.

"Orochimaru adalah satu-satunya orang yang bisa mempertemukanmu dengan ayahmu," jelasku.

Aku akan menyuruh Orochimaru membangkitkan Minato. Setelah Minato hidup kembali, akan kusuruh dia untuk menyempurnakan chakra Kyuubi milik Naru dengan menggabungkan kembali Kurama Yin di tubuhnya dan Kurama Yang di tubuh Naru. Tapi sebelum semua itu, aku harus mendapatkan izin dari Kakashi, sang Hokage ke-5 Konoha 2. Mudah-mudahan dia mengerti dengan keadaan yang genting ini.

Langkah Naru terhenti saat tahu ia bisa bertemu dengan ayahnya. Perlahan raut penasaran Naru lenyap digantikan dengan senyum lebar. Bahkan keengganannya menemui Orochimaru jadi berubah seratus delapan puluh derajat. Kini justru dia yang menarik tanganku agar berjalan lebih cepat.

Sejak dulu senyuman Naru selalu membuatku senang. Senyuman itu selalu mengingatkanku kalau aku punya keluarga. Keluarga tempatku berbagi suka dan duka. Untuk kesekian kalinya aku bersyukur Naru baik-baik saja. Aku berjanji akan melindungi senyuman itu.

To Be Continue…


A/N:

Summary:

Dimensi 1: Uzumaki Naruto - Naruto Shippuden

Dimensi 2: Uzumaki "Naru" Naruko - Unofficial name by fandom for Female Naruto

Dimensi 3: Namikaze Menma - Naruto Movie Shippuden 6: Road To Ninja

Dimensi 4: Uzumaki "Yami" Naruto/Dark Naruto - Naruto Shippuden episode 243-244

Dimensi 5: Uzumaki "Akage" Naruto - Naruto Movie Shippuden 1, rambut diubah jadi berwarna merah klan Uzumaki [DEAD]

Dimensi 6: ?

Dimensi 7: ?

© rifuki