Akage – Part 2

"New Dream"

Konoha 2, 5 tahun setelah perpindahan dimensi

Seperti kata Naru sebelumnya, saat ini pengadilan terhadap Orochimaru dan Karin sedang digelar. Aku dipersilahkan masuk karena sidang berlangsung terbuka. Sebenarnya saat sidang perdana dilaksanakan, sidang dilangsungkan tertutup sehingga perdebatan hanya terjadi antara pengacara, jaksa penuntut, dan hakim. Tapi lama kelamaan banyak penduduk yang berdemo di luar ruang pengadilan. Putusan terhadap Orochimaru dinilai lambat sehingga penduduk menuntut untuk mengirimkan beberapa perwakilan untuk mengikuti sidang.

Mulai saat itu 2 perwakilan penduduk dilibatkan dalam sidang Orochimaru dan Karin. Namun itu tidak membantu. Putusan hukuman terhadap Orochimaru tetap saja belum didapatkan sampai sidang ke-6 minggu lalu.

"Perbuatannya telah menyebabkan trauma mendalam kepada sebagian besar penduduk, terutama anak-anak. Lebih baik dia dihukum mati."

"Hukum mati bukanlah cara yang terbaik. Apa dengan dihukum mati semua masalah pasca invasi bisa terselesaikan?"

"Tapi membiarkannya hidup juga bukan cara yang baik. Itu tidak akan memberikan efek jera baik kepada dia maupun kepada penjahat lain. Akan lebih banyak pihak yang berusaha menginvasi kita jika Orochimaru dibiarkan hidup. Hukum di desa kita akan dianggap lemah."

"Tidak, tidak. Menjadikannya pekerja sosial di desa akan lebih bermanfaat. Dia sudah berkeliling dunia. Dia sudah seperti perpustakaan berjalan. Kita bisa manfaatkan ilmu yang didapatnya untuk kemajuan desa kita."

"Bagaimana jika dia kembali menyalahgunakan ilmunya?"

"Tentu saja harus ada pihak yang mengawasinya."

"Dia kuat, siapa yang mampu mengawasinya? Mana mungkin Hokage turun tangan."

Di sidang ke-7 ini, suasana kembali memanas antara kubu yang pro dan kontra. Menurut Naru, sidang-sidang sebelumnya tak kalah alot dari sekarang.

Setengah jam kuperhatikan, kulihat tidak ada progres yang berarti dari sidang ini. Tak ada yang mau mengalah. Jika begini terus tidak akan ada akhirnya. Aku memutar otak untuk mencari jalan keluar.

"Bolehkah aku memberi saran?" tanyaku sambil berdiri. Aku sudah menemukan ide yang mudah-mudahan bisa diterima para penduduk Konoha 2.

Saat aku berdiri, butuh waktu beberapa detik sebelum mereka yang ada di ruang sidang untuk mengenaliku. Bahkan Hokage Ke-5, Kakashi, yang berada di salah satu bangku di depan ruangan saja tidak mengenaliku. Meskipun sebelumnya aku dikenal sebagai salah satu penyelamat desa ini, setengah wajah dan sebelah tangan yang hilang tentu menyulitkan mereka untuk tahu siapa aku.

"Naruto-san, sejak kapan kau kembali?" tanya hakim. Dia orang yang pertama mengenaliku karena ia yang berhadapan langsung denganku.

"Baru saja yang mulia," jawabku dengan hormat kepada pemimpin sidang hari ini.

Tak lama kemudian para peserta sidang ribut. Mereka terdengar mempertanyakan kenapa fisikku cacat seperti ini setelah pergi ke Konoha 1.

"Dia shinobi kuat yang mengalahkan Orochimaru dan Akatsuki, siapa yang bisa membuatnya terluka begitu?" kata salah satu peserta sidang yang terdengar olehku. Tapi saat ini bukan saatnya untuk membahas keadaanku. Aku ke sini untuk membantu mencari putusan untuk sidang yang terlalu bertele-tele ini.

"Boleh kusampaikan saranku?" tanyaku, kembali meminta izin.

"Silahkan," jawab hakim.

Kutatap bergantian Orochimaru dan Karin yang duduk berdampingan di kursi terdakwa. Orochimaru terlihat cuek dengan segala perdebatan tentang dirinya. Ia sudah terbiasa dengan suasana yang penuh tekanan seperti ini.

Beda halnya dengan Karin yang di dimensi ini baru berusia 15 tahun, seusia dengan Naru. Dia terlihat stres sekali. 'Kasihan dia,' pikirku. Naluriku sebagai sesama Uzumaki tentu merasa iba jika melihat salah satu anggota klanku (maksudku klan Naru) yang tertekan. Sidang yang berlarut-larut ini malah akan membuatnya semakin stres.

Tatapanku beralih ke semua yang hadir di sana, lalu berkata, "Kulihat banyak yang menginginkan mereka berdua dihukum mati karena berbahaya. Jadi langsung saja pada intinya, percaya atau tidak, Karin dan Orochimaru di dimensiku melakukan hal yang sama, namun saat terjadi perang Dunia Ninja Ke-4 mereka membantu kami. Bahkan kini mereka memutuskan bergabung bersama Konoha. Mereka masih punya sisi baik. Jadi untuk Orochimaru dan Karin di sini, mereka lebih baik jadi pekerja sosial. Jadikan mereka orang yang bermanfaat untuk menebus kesalahan mereka."

"Tapi kami merasa tidak aman jika Orochimaru di desa," balas perwakilan penduduk yang menginginkan Orochimaru dihukum mati.

"Menjadikannya orang yang bermanfaat bukan berarti menyuruhnya tinggal di sini," ujarku.

Semua orang di sana tak mengerti maksud ucapanku.

"Apa maksudmu?" tanya hakim, mewakili kebingungan orang-orang di sana.

"Aku akan membawanya bersamaku dan pergi dari dimensi ini."

Di tengah keributan yang tercipta, seseorang dari pihak yang kontra berkata, "Naruto-san, kurasa itu tidak adil. Dia sudah menghancurkan desa ini. Jika kau membawa Orochimaru bersamamu, maka Orochimaru tidak diberi kesempatan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya."

Aku sudah menduga akan ada sanggahan seperti itu, maka sudah kusiapkan jawaban lain.

"Aku akan menyerahkan Orochimaru kepada tim interogasi selama seminggu untuk menggali segala informasi yang dibutuhkan. Tempat persembunyian, data percobaan, penemuan baru, lokasi lab, atau apapun yang ingin kalian ketahui. Jika itu tak cukup juga, interogasi bisa dilanjutkan kepada Karin," kataku sambil menatap Karin 'kecil'.

"Jadi Karin tak perlu dihukum mati," tambahku. Disambut dengan raut wajah Karin yang berubah cerah. "Dia lebih baik dipekerjakan sebagai shinobi Konoha sambil tetap menjalani interogasi. Dia sudah lama jadi pengikut Orochimaru jadi dia pasti tahu banyak tentang jaringan kejahatan Orochimaru di luar sana. Terlebih lagi... dia seorang Uzumaki terakhir selain Naru."

Hening. Semua yang hadir di sana kaget. Tentu mereka ingat kuatnya persahabatan Konoha dan Uzu di masa lalu. Bahkan Konoha sampai mengabadikan simbol pusaran air Uzu di berbagai perlengkapan shinobi Konoha.

Naru menarik tanganku. Bahkan Naru yang sedang berada di sampingku tak percaya pada apa yang barusan kukatakan. Aku berusaha memegang pundaknya untuk menenangkan.

"Meski Uzu sudah hilang, bukankah menghukum mati anggota klannya yang masih tersisa akan mencoreng persahabatan yang dulu pernah dibina antara Konoha dan Uzu?" tanyaku kepada seluruh peserta sidang.

Suasana ruangan sidang kembali ramai. Hakim terlihat berbincang dengan dewan dan juga Kakashi setelah mendengar usulanku. Aku duduk kembali. Aku berdoa dalam hati semoga usulanku diterima.

"Mohon perhatiannya," ujar hakim setelah beberapa menit berdiskusi. "Kurasa usulan yang disampaikan Naruto-san sudah bagus. Orochimaru dan Karin tak akan dihukum mati karena masih banyak yang harus mereka pertanggungjawabkan. Orochimaru akan menjalani interogasi selama seminggu kemudian setelah itu akan berada dalam pengawasan Naruto-san. Sedangkan Karin akan mengabdi sebagai shinobi Konoha sambil tetap menjalani interogasi, serta diwajibkan untuk melapor secara berkala kepada Hokage. Apa ada yang keberatan?"

Tak ada yang bersuara, tanda disetujuinya putusan hakim.

"Baiklah. Dengan ini, sidang atas Orochimaru dan Karin ditutup!"

TOK! TOK! TOK!

Palu diketukkan 3 kali menandai berakhirnya sidang.


Setelah sidang Orochimaru selesai, aku diperintahkan Kakashi untuk datang ke ruangannya. Kakashi pasti mempertanyakan tujuanku membawa Orochimaru karena di sidang aku tak sempat membahasnya. Aku membawa turut Naru serta meminta untuk menghadirkan Orochimarunya secara langsung. Sejak awal aku memang berniat untuk menjelaskan semuanya.

Sesampainya di ruang Hokage, ada beberapa orang tambahan yang hadir yaitu Tsunade yang baru sembuh dari komanya, tetua desa, Yamato, Inoichi, Shikaku, dan Iruka. Ada bagusnya mereka semua berkumpul, aku tak perlu susah untuk memberitahu mereka satu per satu.

Aku tak membuang waktu dan menjelaskan masalah yang sedang terjadi. Dimulai dari kepulanganku ke Konoha 1 setahun lalu dan apa yang terjadi di sana sampai membuatku seperti sekarang. Penjelasan panjangku direspon dengan tatapan kaget semua orang, kecuali Naru yang telah lebih dulu mendengar cerita itu.

Mereka tak percaya tapi di sisi lain semua yang kuceritakan masuk akal dan menjadi titik terang dari misteri yang selama ini terjadi. Serangan Akatsuki setahun lalu juga bisa jadi ada hubungannya dengan masalah ini. Bisa saja Akatsuki menyerang lebih awal karena diberitahu tentang keberadaanku oleh Menma atau Yami.

"... karena itulah aku ingin meminta 2 hal padamu," ujarku kepada Kakashi, menyampaikan tujuan utamaku. "Pertama, aku meminta izin untuk membawa Naru bersamaku karena biar bagaimanapun dia penduduk desamu."

Tanpa menunggu waktu lama, Kakashi langsung menjawab, "Aku tak keberatan karena kurasa keselamatan Naru akan lebih terjamin jika dia bersamamu."

Pendapat Kakashi didukung oleh anggukan yang lain.

"Kedua, aku meminta izin untuk membawa Orochimaru. Tapi sebelum itu..." Tiba saatnya kusampaikan hal yang paling penting. Hal yang beresiko ditolak oleh Kakashi. "Aku ingin kau izinkan Orochimaru untuk membangkitkan Minato menggunakan Edo Tensei."

Untuk kedua kalinya semua orang terkaget-kaget. Kali ini diikuti oleh tolakan keras Tsunade.

"Itu jurus terlarang dan tidak boleh digunakan oleh siapa pun!" serunya.

"Orang yang sudah mati tak selayaknya dihidupkan kembali!" tambah Shikaku.

Kakashi menghela napas pelan kemudian bersandar di bangkunya. "Maaf, Naruto. Seperti kata mereka, untuk permintaan terakhirmu aku tak bisa menyanggupinya."

"Dengarkan aku dulu!" seruku dengan nada yang agak keras agar mereka mau mendengarkan penjelasanku. "Asal kalian tahu, sebelum mati, Minato menyegel setengah chakra Kyuubi ke tubuhnya. Kyuubi yang selama ini ada di tubuh Naru adalah sisi Yang, sedangkan sisi Yin ada di tubuh Minato. Yang tahu ini hanya Minato, Kushina dan Sandaime."

Kakashi masih menatapku datar dengan mata sayunya.

"Lihat fisikku sekarang. Seharusnya kalian bisa memperkirakan sekuat apa musuh yang akan kami hadapi. Aku tak mau mengambil resiko dengan menggunakan setengah chakra Kyuubi milik Naru. Dia harus memiliki semua chakra-nya agar bisa bertahan hidup. Aku tak mau dia sepertiku. Aku akan membangkitkan Minato secara sementara. Jika urusan selesai, Minato akan kembali ke tempat peristirahatannya. Aku mohon." Kutatap bergantian semua orang penting di hadapanku berharap mereka mau mengizinkanku.

"Baiklah," jawab Kakashi akhirnya.

"Tapi Hokage-sama-" Yamato maju mendekati Kakashi, namun Kakashi mengisyaratkan untuk diam.

Kakashi membentuk sebuah kombinasi segel untuk memunculkan sebuah gulungan kertas.

"Ini surat wasiat Sandaime Hokage yang ia sampaikan khusus untuk penerusnya. Kurasa saat menulis ini ia sudah merasa umurnya tak panjang lagi," gumam Kakashi. Dibukanya gulungan itu dan disimpan di meja. "Dalam surat wasiat ini banyak sekali pesan yang ia inginkan dari Hokage selanjutnya. Salah satunya adalah menjaga Naru, karena gadis itu jugalah yang dititipkan Minato-sensei kepadanya. Jadi, jika tujuan membangkitkan Minato-sensei adalah demi memperkuat kekuatan Naru, aku mengizinkannya."

Setelah itu tak ada yang protes lagi karena di surat wasiat itu jelas-jelas tertulis kalau Sandaime ingin melindungi Naru.

Naru terlihat bersikeras menahan agar air mata di matanya tak mengalir. Ia terharu karena ternyata Sandaime begitu menyayanginya bahkan sampai ajal menjemputnya. Aku mendekati Naru dan mengusap pelan puncak kepalanya.

Setelah keadaan tenang aku menoleh ke arah Orochimaru. "Kalau begitu lepaskan ikatan Orochimaru, lalu kita berangkat sekarang untuk membangkitkan Minato."

Yamato yang bertugas untuk memborgol tangan dan kaki Orochimaru dengan elemen kayunya terlihat ragu untuk melepas pria ular tersebut.

"Tidak apa-apa. Ikuti perintahnya," ujar Kakashi dengan yakin.


Edo Tensei terhadap Minato tidak bisa dilakukan secara langsung karena jiwa Minato masih terperangkap dalam perut Dewa Kematian. Oleh karena itu, jiwanya harus dikeluarkan dulu dari sana. Caranya adalah dengan membiarkan Dewa Kematian merasuki tubuh Orochimaru. Saat itulah Orochimaru akan mengambil alih badan Dewa Kematian lalu merobek perutnya sampai jiwa Minato keluar.

Hal pertama yang dibutuhkan adalah topeng Dewa Kematian yang terdapat di Kuil Topeng milik Uzu di perbatasan Konoha. Aku memutuskan untuk mengawal Orochimaru ke sana sementara yang lain menuju Kuil Nakano milik Uchiha di pusat desa Konoha, tempat pembangkitan akan dilakukan. Aku juga tak lupa menyuruh mereka menyiapkan 2 clone Zetsu yang akan digunakan sebagai tubuh Minato dan sebagai pengganti tubuh Orochimaru.

"Kau dari tadi hanya diam. Kau keberatan dengan keputusanku untuk membawamu bersamaku?" tanyaku kepada Orochimaru saat kami berada di Kuil Topeng.

"Aku tak punya pilihan. Jika kujawab keberatan pun kau tak akan membebaskanku. Jadi lebih baik aku diam," jawab Orochimaru datar. Ia masih serius mencari-cari topeng yang tepat.

"Benar juga. Kau memang tak punya pilihan selain ikut denganku," gumamku sambil tersenyum menanggapi perkataan Orochimaru.

"Tapi sejujurnya aku tak keberatan ikut denganmu," kata Orochimaru. Kali ini ia menghentikan kegiatannya memilih topeng. Ia menatapku dengan tatapan ularnya yang mengerikan. "Mempermainkan Dewa Kematian, mempraktekan Edo Tensei, lalu berkeliling dimensi, ini semua terdengar menarik dan ingin kucoba."

Sebenarnya Orochimaru mengatakan kalimat itu dengan nada yang biasa, malah terkesan santai. Tapi kedua mata ularnya dan lidahnya yang panjanglah yang membuatku bergidik. Aku harus mulai membiasakan diri dengan pria ular ini karena setelah ini kami akan bekerja sama.

"Baguslah," ujarku.

"Ini topengnya," kata Orochimaru saat menemukan topeng yang tepat. Setelah itu kami berdua kembali ke Konoha dan bergegas ke Kuil Nakano dimana Kakashi dan yang lain sudah menunggu.

"Membangkitkan Minato adalah tugas pertamamu. Jangan mencoba melakukan hal aneh," kataku, memperingatkan Orochimaru.

Orochimaru tak menanggapiku. Ia langsung maju ke depan kuil lalu memakai topeng Dewa Kematian.

"Bersiaplah!" serunya.

Sebuah chakra berwarna keunguan mulai menyelimuti tubuh Orochimaru.

"Semuanya menjauh!" seruku.

Tak lama kemudian Dewa Kematian muncul di belakang Orochimaru. Tubuhnya agak transparan namun kami semua yang ada di sana masih bisa melihatnya. Beberapa dari kami, terutama yang baru pertama melihat Dewa Kematian mundur beberapa langkah.

Pisau yang sejak tadi digigit Dewa kematian diambil atas kemauan Orochimaru. Perlahan pisau itu diarahkan ke tubuhnya, kemudian ditusukan ke perutnya. Perut Dewa Kematian robek, tapi perut Orochimaru ikut robek karena tubuh mereka saat ini terhubung.

"Ughhhhhhh!" Orochimaru berusaha manahan rasa sakit di perutnya.

"Apa dia baik-baik saja?" tanya Kakashi.

"Tenang. Biarkan dia," ujarku, mencegah yang lain untuk mendekati Orochimaru.

Tak lama kemudian keluar jiwa Minato dari perut Dewa Kematian. Jiwa yang keluar dari sana hanya 1 karena di dimensi ini Hokage Ke-1 dan Ke-2 tak pernah di Edo Tensei sebelumnya. Jiwa Sandaime juga tidak tersegel karena dia mati dengan cara biasa.

Orochimaru membuka topengnya lalu berkata, "Siapkan tubuh Zetsu!"

Yamato menarik 2 tubuh Zetsu ke hadapan Orochimaru. Dua tubuh itu hanya clone yang dikembangkan dari tubuh asli Zetsu sebelum ia dihukum mati setahun lalu.

Setelah persiapan selesai, Orochimaru membuat kombinasi segel Edo Tensei. "Kuchiyose: Edo Tensei!"

Jiwa Minato masuk ke salah satu tubuh Zetsu, lalu tubuh itu perlahan berubah jadi Minato. Tak membutuhkan waktu lama sampai Minato membuka matanya. Mengetahui jurusnya berhasil, Orochimaru keluar dari tubuhnya sendiri dalam bentuk ular kemudian masuk ke tubuh Zetsu 1 lagi.

Minato memandang kami satu per satu dengan heran. Lalu tiba-tiba ia mengeluarkan kunai dan memasang kuda-kudanya.

"Sensei, ini aku Kakashi, jatuhkan senjatamu!" Kakashi berusaha menyadarkan gurunya itu.

Tubuh Minato terlihat bergetar. "Aku memang mengenali kalian. Tapi aku tak bisa mengendalikan tubuhku!" katanya.

Aku langsung menatap tajam ke arah Orochimaru. "Apa maksud semua ini Orochimaru!"

"Dia tak bisa dipercaya!" bentak Tsunade.

"Orochimaru, ini tidak sesuai rencana!" tambahku geram.

Orochimaru menghela napas pelan kemudian berkata, "Barusan aku hanya membuktikan apa benar gen Hashirama bisa memperkuat pengendalian Edo Tensei. Jangan khawatir, sudah kubilang aku suka hal-hal baru yang menarik perhatianku."

Orochimaru lalu beristirahat, bersila di pinggir kuil. Berganti tubuh dan membiarkan dirinya dirasuki Dewa Kematian cukup menguras chakra-nya.

"Jika urusanmu selesai bilang saja. Aku akan segera me-release-nya dan mengembalikan Minato ke alam baka. Tikus, Kerbau, Monyet, Harimau, Naga, dan Beruang adalah kombinasi segel untuk merelease-nya jika kau masih belum percaya padaku," tambah Orochimaru.

Perhatian kembali tertuju kepada Minato. Orochimaru sudah tak mengendalikan tubuhnya lagi. Ia terlihat mengepal-ngepalkan tangannya, merasakan bagaimana rasanya dihidupkan kembali.

"Tou-san..." panggil Naru. Ia yang dari tadi berada paling belakang memberanikan diri untuk mendekati ayahnya. Tatapannya masih bingung, tak percaya kalau yang di hadapannya sekarang adalah ayah kandungnya.

Kutarik tangan Naru untuk membuang keraguannya. "Jangan takut. Sana, temui ayahmu."

"Naruko, putriku!" panggil Minato.

Tanpa ragu lagi Naru menghabur memeluk ayahnya. "Tou-san."

"Kau sudah besar, Nak."

Aku tersenyum memandang ayah-anak di hadapanku. Ini sedikit berbeda dengan pertemuan pertamaku dengan ayahku. Dulu aku memukul ayahku karena-

BUKH!

Eh? Tanpa kuduga Naru juga ternyata memukul ayahnya.

'Like brother, like sister,' batinku dalam hati.

"Aku tak mengerti kenapa kau menyegel Kyuubi dalam tubuhku! Kau tak tahu bagaimana penderitaanku gara-gara keputusanmu itu!" bentak Naru kepada ayahnya.

"Aku bisa jelaskan semuanya."

Aku memandang mereka dari kejauhan. Mereka butuh waktu. Aku biarkan momen kekeluargaan ini untuk sementara. Naru berhak mendapatkan penjelasan dari ayahnya. Kulihat yang lain juga berpikiran sama denganku dan memilih untuk diam.

Aku duduk di samping Orochimaru. Sesekali kupandang pria itu yang masih berusaha mengatur napasnya.

"Aku tak akan menghianatimu. Aku masih penasaran apa yang akan kau lakukan setelah ini," katanya, kembali meyakinkanku.

"Ya, aku percaya. Hanya saja jangan pernah lakukan hal yang mengagetkan seperti tadi jika kau masih sayang pada nyawamu."

"Heh, aku sadar kemampuanku sendiri, jadi tak akan macam-macam," jawab Orochimaru santai.

Setelah itu kami diam memperhatikan Naru dan Minato di hadapan kami.

"Kau yang bernama Naruto?" tanya Minato, menyadarkanku yang saat itu sedang melamun. Tak terasa aku sudah membiarkan ia dan Naru mengobrol sekitar 15 menit. Kurasa itu waktu yang cukup bagi mereka untuk melepas rasa rindu.

Aku berdiri dan mendekati Minato. "Ya, Yondaime-sama. Aku Naruto."

"Jangan formal begitu. Tadi Naru bercerita banyak tentangmu. Jadi benar ada pihak yang mengincar kalian?" tanya Minato memastikan.

"Begitulah. Maaf jika aku merepotkan anakmu."

Minato menggeleng. "Tidak. Justru aku yakin Naru yang merepotkanmu selama 5 tahun terakhir ini. Terima kasih sudah menjaganya dan menjadi sosok kakak untuknya," kata Minato sambil memegang pundakku. Rasanya aneh sekali memandang sosok yang serupa dengan ayahku, tapi kenyataannya bukan ayahku.

"Naru," panggil Minato. "Sekarang giliranmu menjaga kakakmu."

Naru mengangguk mantap. Setelah itu Minato kembali menatapku. "Aku akan mengekstrak Kyuubi Yin dari tubuhku dan kupindahkan ke tubuh Naru sekarang. Tolong jaga kami. Kita tidak tahu mungkin saja ada yang berniat jahat saat proses perpindahan dilakukan."

Aku mengerti maksud kata-kata Minato. Bukannya tidak percaya pada orang-orang di sana, tapi ia hanya bersikap preventif. Hal yang ditakutkannya pernah terjadi di dimensiku, tentunya Minato ayahkulah yang mengalaminya. Kyuubi Yin dicuri tepat saat akan dipindahkan ke tubuhku. Meski akhirnya berhasil dikembalikan ke tubuhku.

Syukurlah hal yang serupa tidak terjadi di sini. Proses perpindahan chakra Kyuubi berlangsung cepat dan tanpa masalah.

"Kau baik-baik saja, Naru?" tanyaku saat proses perpindahan chakra selesai.

"Aku baik-baik saja. Justru aku merasa kekuatanku bertambah 2x lipat," katanya sambil nyengir.

Minato ikut tersenyum. "Sekarang kau tinggal berlatih menguasainya. Aku menemui Kakashi dulu," katanya.

Minato menyempatkan diri untuk berbincang dengan Kakashi dan tokoh desa lainnya. Ia banyak menanyakan keadaan desa setelah ia mati. Sebaliknya, Kakashi yang awalnya tak berniat jadi Hokage, banyak bertanya sikap-sikap apa yang perlu dimiliki seorang Hokage. Karena tak bisa dipungkiri, Minato adalah Hokage hebat walaupun ia tak lama menjabat. Intinya mereka saling berdiskusi mengenai Konoha.

Setelah cukup lama, Minato pamit. Ia sadar dirinya sudah meninggal dan tak seharusnya berlama-lama dihidupkan.

"Aku harus pergi."

"Tou-san..." Naru memeluk ayahnya untuk terakhir kali. Kali ini ia tak menangis. Ia ingin membuktikan pada ayahnya kalau dia kuat.

Setelah melepas pelukan anaknya, Minato menyalamiku. "Jaga diri kalian baik-baik," kata Minato sambil menatap aku dan Naru bergantian.

"Pasti. Terima kasih, Minato-san," balasku.

Setelah itu Orochimaru me-release Edo Tensei Minato, mengirim sang Yellow Flash ke tempat seharusnya ia berada.


"Rasengan!"

Bola energi berwarna biru itu nyaris mengenai tubuhku jika saja aku tak bergegas mengaktifkan mode Kyuubi dan melesat menjauh.

"Ini, mengingatkanku pada masa lalu!" teriak Naru, yang tak lain adalah penyerangku. Dari tadi ia menyerangku dengan berbagai jurus andalannya.

"Yaaaa, menyenangkan bukan?" tanyaku dengan teriakan yang tak kalah keras. Wajahku tersenyum walaupun sebenarnya aku akan memukul Naru dari arah belakang.

BUKH!

Adikku tak tahu jika aku menggunakan Hiraishin untuk berpindah ke belakang tubuhnya. Ia terkena pukulan telak di punggungnya, membuatnya terlempar ke tanah dengan keras.

POOF!

Kedua bola mataku... maksudku satu bola mataku membulat karena kaget. Ah, sial sosok yang kupukul tadi hanya bunshin! Kemana Naru yang asli?

"Kau lengah Nii-san, rasakan ini! Bijuu Rasengan!"

Tak disangka Naru sudah berada di belakangku dalam mode Kyuubi juga, Bijuu Rasengan sebesar semangka berwarna ungu pekat sudah berada di tangannya. Jadi ini hasil latihannya bersama Yamato dan Bee selama aku pergi.

Aku sudah tak punya waktu untuk menghindar...

"CUKUP!" teriakku. "Cukup, Naru, kau menang!"

Pupil mata Naru yang merupakan gabungan Kyuubi dan ular kembali berubah jadi mata biru shapire yang menenangkan, begitu juga dengan Bijuu Rasengan yang menghilang. Kini ia sudah bisa menggabungkan senjutsu, chakra yin dan yang dengan baik.

"Dulu mungkin aku bisa bertahan jika terkena jurus seperti itu. Tapi dengan chakra-mu yang sekarang, terkena sedikit saja aku bisa mati," keluhku.

"Hehe," Naru tertawa puas seolah meledekku. Ia kemudian memberiku segelas jus jeruk dingin yang dibawanya. Tanpa pikir panjang segera kuseruput habis karena kelelahan setelah 3 jam berlatih.

"Aku bangga padamu, Naru," gumamku setelah bisa mengatur napasku. "Tapi maaf karena aku tak bisa mewujudkan janjiku menjadikanmu Hokage perempuan pertama di sini. Kita tak bisa diam di sini berlama-lama."

Naru memandang patung Hokage yang berada segaris dengan tempat kami duduk sekarang. Patung kepala Kakashi nampak paling gagah karena baru selesai dibuat. Naru berujar pelan, "Tidak apa-apa. Jika dipikir lagi itu hanya mimpi yang kekanakan. Sekarang aku punya tanggung jawab yang lebih besar. Bukan lagi melindungi 1 desa dan 1 dimensi, tapi juga melindungi 1 dunia."

"Baguslah kalau kau mengerti. Segera kemasi barangmu. Kita berangkat siang ini."

"Yosh!" Naru kembali bersemangat dan segera kembali ke apartemen sementara aku menemui Orochimaru untuk melihat apa dia sudah siap.

Kami tak bisa langsung berkeliling dimensi karena Orochimaru harus menjalani interogasi selama seminggu penuh sesuai kesepakatan di pengadilan. Aku memanfaatkan waktu seminggu itu untuk berlatih bersama Naru. Terutama melatih Naru agar bisa mengontrol chakra besar yang kini dimilikinya.

Saat aku sampai di Divisi Interogasi, Orochimaru sudah selesai berkemas. Kulihat ia tak banyak membawa barang, kelihatannya hanya beberapa baju ganti. Gulungan-gulungan penting dan senjata selalu ia simpan dalam perutnya, kemudian akan ia keluarkan lewat mulutnya, yuck!

Beda halnya dengan Naru yang menghabiskan waktu lama, hingga memaksa aku dan Orochimaru untuk menyusulnya ke apartemen. Ia sedang menyiapkan satu tas yang hampir penuh, entah isinya apa. Saat aku tanya isinya ia hanya bilang... girl's stuff. Aku tak tahu apa artinya.

Yang mengantar kami pergi hanya Kakashi dan Yamato karena kami sudah pamit duluan kepada yang lain. Karena tanganku hanya satu, aku sudah ajarkan semua segel berpindah dimensi kepada Naru sehingga dialah yang akan berperan sebagai transporter.

Seperti sudah dibahas sebelumnya, perpindahan dimensi hanya bisa dilakukan oleh klan Uzumaki. Jadi Orochimaru kuperintahkan untuk masuk ke tubuh Naru melalui gigitan yang dulu pernah dibuatnya di leher Naru. Untunglah Naru tak menolak. Setelah Orochimaru mempertemukannya dengan Minato, sikap Naru kepada Orochimaru berangsur membaik. Apalagi ia juga sadar kalau senjutsu naga yang kini dimilikinya adalah pemberian Orochimaru. Mulai sekarang kami tim, jadi harus menghilangkan ego kami masing-masing.

Aku menyalami Kakashi dan Yamato. Tak lupa kuucapkan banyak terima kasih karena mereka sudah banyak membantuku selama aku di Konoha 2.

"Kemana tujuan kalian sekarang?" tanya Kakashi.

"Apa langsung ke Konoha 6?" tanya Yamato.

"Tidak, kami ke Konoha 1 dulu. Pertama-tama aku ingin memecahkan misteri tentang Menma. Aku juga ingin teman-temanku tahu kalau aku masih hidup. Mereka pasti mengkhawatirkanku, terutama Hanabi."

Aku tersadar saat Naru menatapku aneh. Tatapan nakal bercampur iseng yang selalu saja ia tunjukkan setiap aku menyinggung masalah Hanabi.

"Hei, sudah kubilang aku bukan pedopil. Hanabi di dimensiku sudah besar!" jelasku.

Naru langsung ber-oh ria. "Apa dia kekasihmu?"

"Umm..." Aku menggaruk belakang kepalaku yang tak gatal. "Ya, bisa dibilang begitu."

"Pantas saja kau memeluk Hanabi saat pertama sampai di sini. Hihi."

Entah kenapa pipiku rasanya memanas secara tiba-tiba. Jadi kuputuskan untuk segera pergi.

"Jangan banyak bicara dan segera bentuk segelnya," ocehku.

Orochimaru bergegas masuk ke tubuh Naru, disusul dengan aktifnya segel yang dibentuk Naru.


Konoha 1, 5 tahun setelah perpindahan dimensi

Perbedaan waktu membuat kami sampai di Konoha 1 di malam hari. Butuh waktu setengah jam bagi Naru dan Orochimaru untuk memulihkan tenaga mereka pasca berpindah dimensi. Padahal Orochimaru berada di tubuh Naru. Ini memang bukan mengenai siapa yang lebih kuat semata, tapi ketahanan menghadapi tekanan saat terjadi perpindahan. Naru dan Orochimaru harus mulai terbiasa dengan ini karena mulai sekarang kami akan sering melakukannya.

Setelah mereka berdua bisa berjalan, kami segera mengunjungi tempat tujuan pertama, yaitu Uchiha Mansion.

CLEB!

Kami berhasil lolos dari 6 ANBU yang berjaga di luar. Namun sebuah kunai menyambutku saat sampai di halaman utama Uchiha Mansion. Kunai itu mendarat beberapa cm saja dari kakiku. Sasuke yang telah melemparnya. Tapi setelah mendekat ke arahku, Sasuke langsung sadar siapa yang tadi berusaha ia serang. "Dobe! Kau masih hidup!" seru Sasuke. Saat itu kulihat raut wajah yang jarang diperlihatkan Sasuke, raut wajah kekagetan.

"Sssst!" Aku menariknya untuk segera masuk ke bangunan utama. "Ya, aku selamat. Tapi seperti kau lihat, Yami membuatku seperti ini. Oh ya, mereka anggota timku dari Konoha 2. Dia Naru adikku, dan dia... kau sudah pasti mengenalnya," bisikku sambil menunjuk Naru dan Orochimaru. Keduanya membungkuk hormat. Sebelumnya sudah kujelaskan kepada mereka kalau Sasuke di dimensi ini jadi seorang Hokage.

"Kenapa kau mengendap-ngendap dan berbisik?" tanya Sasuke.

"Aku ingin meminta bantuanmu." Aku masih saja berbisik, takut membangunkan Sakura dan anaknya yang pasti sudah tertidur di jam-jam seperti sekarang.

"Untuk?" tanya Sasuke lagi.

"Membongkar makam Menma."

"Kau gila!"

Sasuke berjalan menjauhiku seolah malas untuk meladeniku lagi.

Aku berusaha untuk mengimbangi langkahnya menapaki lorong mansion yang panjang. "Dengarkan aku dulu. Saat kita berpisah dan aku membawa Yami, kami terlempar ke dimensi ke-5. Lalu Menma datang menolong Yami! Dia masih hidup!"

Kali ini Sasuke menghentikan langkahnya dan menatapku tajam. "Jangan bercanda, aku ikut mengangkat peti matinya. Bahkan aku ikut menguburnya!"

Aku menghela napas pelan. "Kita berdua tahu bagaimana kacaunya keadaan sekarang. Segalanya bisa saja terjadi, teme!"

"Tidak. Dulu aku memang membencinya. Tapi sebagai seorang Hokage, aku harus menghormati Menma yang sudah jadi pahlawan desa."

"Karena itulah aku datang diam-diam, aku tak ingin nama baik Menma sebagai Hokage Ke-6 dan pahlawan Konoha tercemar karena masalah ini. Hanya kita yang berada di sini yang tahu. Aku ingin membuktikan kalau benar Menma mati."

Sasuke terlihat mempertimbangkan permintaanku. "Jika kau bersikeras, paling tidak Hinata harus tahu hal ini."

"Baiklah, hanya dia seorang."

"Hn." Sasuke akhirnya memanggil salah satu ANBU kemudian menyuruhnya untuk menjemput Hinata. Sementara itu, kami berempat langsung menuju pemakaman Konoha, tepatnya mengunjungi makam Menma.


"Maaf Hinata, aku hanya ingin memastikan," ujarku saat Hinata sudah sampai.

"Tidak apa-apa, aku juga ingin membuktikan padamu kalau suamiku tidak bersalah," kata Hinata. Dari suaranya yang bergetar aku tahu ia berusaha keras menyembunyikan rasa sedihnya.

Aku sebenarnya merasa tak enak untuk seenaknya membongkar makam orang yang sudah mati. Apalagi ini orang yang sudah kukenal baik. Dibongkar di hadapan istrinya pula. Tapi ini demi memecahkan misteri yang sudah semakin rumit.

Tak dibutuhkan waktu yang lama bagi Orochimaru – yang merupakan pengguna elemen tanah – untuk membuka makam Menma. Peti mati sudah dimakan rayap di sana-sini. Perlahan kubuka peti mati tersebut.

Begitu peti terbuka... nampak mayat Menma yang belum sepenuhnya membusuk karena baru 2 minggu dikubur.

Hinata sudah tak mampu untuk melihatnya dan langsung menangis. Naru langsung memeluknya untuk menenangkan.

"Kurasa ini sudah cukup, dobe," gumam Sasuke.

"Ya."

Peti dan makam ditutup kembali. Kusempatkan untuk menabur bunga di atasnya. Lalu kami pulang ke rumah masing-masing. Naru dan Orochimaru tidur di apartemenku. Naru di kamarku sedangkan aku dan Orochimaru di ruang tengah.

Aku, Sasuke, Hinata, Naru, dan Orochimaru menganggap pembongkaran makam ini tak pernah terjadi untuk menjaga nama baik Menma serta menjaga perasaan Hinata.

Berarti sudah jelas Menma di dimensi ini, yang telah jadi Hokage Ke-6, sudah benar-benar mati saat pertempuran dengan Yami. Ia mengorbankan nyawanya, merelakan dirinya terkena Rasen Shuriken milikku dan Enton: Susanoo Gakutsuchimilik Sasuke demi menyelamatkan desa.

Aku merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk padanya.

Seharusnya aku yakin kalau Menma sang Hokage Ke-6 Konoha 1 tak mungkin menghianatiku. Menma yang kukenal tak mungkin menolong Yami. Dia sosok yang seharusnya jadi panutanku karena mau membela desa yang sebenarnya bukan kampung halamannya sendiri.

'Maafkan aku, Menma,' ujarku dalam hati.

Sekarang yang jadi pertanyaan, jika Menma memang sudah mati, lalu siapa Menma yang kutemui tempo hari di dimensi ke-5? Rasanya aneh jika ada 2 Menma yang identik tapi berasal dari dimensi yang berbeda. Biasanya akan selalu ada perbedaan antara satu dimensi dengan yang lainnya baik di segi fisik, maupun umur.

Asumsiku dan Shion berubah total. Kini aku tahu, 3 kekuatan yang didapatkan Yami berarti berasal dari dirinya, Menma Rokudaime, dan Akage. Dimensi yang belum terungkap adalah dimensi 6 dan 7.

Hipotesis baruku adalah:

Menma yang sekarang masih hidup berasal DARI DIMENSI KE-6 atau KE-7.

ATAU...

Menma TIDAK berasal dari ketujuh dimensi, dan Naruto di dimensi ke 6 dan 7 masih hidup.

Aku tidak mengharapkan salah satu atau keduanya, kedua opsi itu sama-sama buruk.


Tok! Tok! Tok!

"Naruto! Narutooo!"

Seseorang mengetuk pintu apartemen dengan kasar, diiringi dengan teriakan. Padahal ini masih pagi. Saat kubuka pintu, ternyata itu Hanabi. Ia langsung memelukku begitu saja saat melihatku. "H-hei-"

"Nee-san bilang padaku kalau kau masih hidup. Aku mengkhawatirkanmu, kupikir kau-"

Hanabi tak melanjutkan kalimatnya tapi aku tahu apa yang dia maksud.

"Seperti yang kau lihat aku masih hidup," kataku. Aku tak menyebut 'aku baik-baik saja' karena kenyataannya sekarang anggota tubuhku tak lengkap.

Hanabi menatapku iba. Aku tak ingin melihatnya sedih jadi kuputuskan untuk mengajaknya mengobrol di balkon. Jika di dalam apartemen, aku takut membangunkan Naru yang masih tidur. Dia masih kelelahan karena berpindah dimensi. Sepertinya orang yang mengaktifkan segel/transporter lebih banyak terkuras chakra-nya. Belum lagi ia 'membawa' Orochimaru dalam tubuhnya.

Orochimaru sendiri sudah pergi dari 1 jam yang lalu. Ia bilang ingin menemui 'kembarannya' sambil jalan-jalan di Konoha 1. Ia berpikir pasti menyenangkan bisa mengobrol dengan dirinya yang lain yang satu pikiran dan satu selera.

Aku banyak menceritakan detail misiku kepada Hanabi. Aku ingin dia tahu semuanya. Aku juga ingin dia tahu kalau hubungan yang kami jalin tak akan bisa bertahan lama karena aku harus terus menerus berpindah dimensi. Aku tak tahu pasti kapan Yami dan Dark Menma (sebutanku untuk Menma jahat) akan menemukanku. Yang terpenting adalah aku tak ingin membiarkan Hanabi ikut berada dalam bahaya.

PLAK!

Hanabi menamparku.

"Kau benar-benar bodoh!" bentaknya. Tapi perlahan air mata keluar dari sepasang mata lavender-nya. "Aku tak peduli kau pergi ke dimensi manapun! Selama kau tetap mengingatku, itu sudah cukup. Kau pergi dari sini bukan berarti kau tak akan kembali. Jangan kalah sebelum bertarung. Tetaplah berusaha untuk mengalahkan Yami dan Dark Menma. Aku akan menunggumu sampai kapanpun."

Hatiku mencelos. Aku dibuat terharu olehnya. "Air mata tak cocok mengalir di wajah orang keras kepala sepertimu. Lagipula kau ketua klan Hyuuga," ujarku sambil menghapus jejak air mata di kedua pipi Hanabi dengan punggung tanganku.

"Kau pikir ini ulah siapa, hah?!" tanya Hanabi sambil menepis tanganku. Ia masih mempertahankan nada bicaranya yang keras. Lalu ia berusaha menghapus air mata di pipinya sendiri dengan kasar.

Aku tersenyum sendiri. Gadis ini... Tak bisakah ia bertingkah lebih lembut padaku? Tapi kalau dipikir lagi justru sikapnya ini yang membuatku merindukannya jika ia sedang jauh dariku. Sekarang aku benar-benar tak ingin kehilangannya.

Kuberanikan diri untuk membelai pipi kirinya. Hanabi menatapku sehingga kami saling berpandangan untuk sesaat. Setelah itu aku menunduk, memiringkan kepalaku, dan mencium bibirnya.

Hanabi tentu saja kaget karena selama ini dialah yang selalu mengambil inisiatif dalam hubungan kami. Ia tak mengira jika aku akan menciumnya. Matanya membesar karena kaget, tapi lama kelamaan memejam mengikutiku. Bahkan tak lama kemudian ia melingkarkan kedua tangannya di leherku dan memperdalam ciuman kami.

Setelah kami melepas ciuman, Hanabi menatapku dengan tersipu. "K-kau mencuri ciuman pertamaku. Aku ingin kau mengembalikannya saat kau pulang nanti."

Aku mengangguk sambil tersenyum.

"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Naru hati-hati. Ia muncul dari pintu menuju balkon.

"Tidak," jawabku dan Hanabi bersamaan.

"Aku sudah membuat teh hangat. Mungkin kalian mau?"

Kami berdua mengangguk dan mengikuti Naru ke dapur.

"Kau pasti Naru ya?" tanya Hanabi memulai pembicaraan.

"Ya, aku Naru. Dan kau pasti Hanabi." Dibalas dengan anggukan Hanabi. "Nii-san sudah cerita tentangmu."

Hanabi memandangku sekilas kemudian beralih ke Naru lagi. "Kuharap Naruto tak membicarakan hal yang aneh tentangku. Umm, kau cantik sekali, pantas saja dulu Naruto meninggalkan Konoha dan melindungimu."

"Kau juga, ternyata Naruto Nii-san benar, kau lebih dewasa dari Hanabi di desaku."

"Ah ya, pasti Hanabi di desamu baru berusia 9 tahun."

"Ya, Nii-san sempat menggoda Hanabi di desaku. Jadi kupikir dia pedopil."

"Hahaha."

Kubiarkan keduanya asyik mengobrol sambil sesekali kuseruput teh hangat yang dibuatkan Naru. Seandainya aku tak sedang diincar Yami, maka kehidupanku sudah sempurna. Punya 2 orang gadis cantik yang mau menerimaku apa adanya. Satu adikku, satu lagi kekasihku.

Tak lama setelah itu Orochimaru datang.

"Kau mau teh hangat?" tawar Naru.

"Boleh," jawab Orochimaru. "Ngomong-ngomong, ada seseorang yang bersikeras ingin ikut dengan kita berkeliling dimensi."

"Saudara kembarmu?" candaku.

"Bukan."

Di belakang Orochimaru muncul wanita muda keturunan terakhir Uzumaki di dimensi ini.

"Karin?"

Aku mempersilahkannya duduk bergabung bersama kami.

"Tadi aku sedang berada di lab Orochimaru saat 'Orochimaru lain' datang. Kudengar kau akan menjelajahi dimensi. Aku ingin berpetualang denganmu," pinta Karin.

Secara fisik, Karin tak banyak berubah sejak terakhir aku bertemu dengannya. Ia masih suka memakai baju lavender bertangan panjang untuk menutupi luka di badan bagian atasnya, memakai celana pendek hitam ketat, dipadu dengan stocking hitam sepaha. Kaca mata berbingkai cokelat masih jadi teman setianya. Yang cukup menarik perhatianku adalah rambut merahnya yang kini sudah sepunggung dan wajahnya yang semakin dewasa.

Sebelum aku berpindah dimensi 5 tahun lalu, aku dan Karin terbilang akrab satu sama lain setelah tahu kalau kami keluarga. Meskipun hanya keluarga jauh. Kami sadar hanya kami yang tersisa dari klan Uzumaki sehingga dalam beberapa misi bersama kami saling melindungi dengan atau tanpa sadar.

Dalam insiden kudeta terhadap Menma, aku tak menginginkannya untuk bergabung dengan Resistance. Bahkan aku tak ingin dia tahu mengenai keberadaan Resistance. Aku berpikir, setidaknya jika aku mati, masih ada penerus klan Uzumaki selain diriku.

Kali ini pun aku menjawab tegas. "Ini bukan liburan, Karin. Ini misi hidup dan mati. Aku tak bisa janjikan kau tetap hidup. Aku ingin kau tetap di sini."

Karin menggeleng.

"Aku tak peduli. Setelah Sasuke memilih si jidat itu aku seperti tak punya tujuan hidup selama di Konoha. Tinggal bersama Suigetsu dan Juugo sama sekali tak membantu. Yang kulakukan belakangan ini hanya membantu Orochimaru di lab. Aku bosan dan ingin mencari hal-hal baru yang bisa mengalihkanku dari pemikiran tentang Sasuke. Dulu kau tak melibatkanku dengan Resistance, masa sekarang juga kau tak mengajakku? Aku yakin aku bisa membantumu selama misimu. Apa kau lupa kalau aku pendeteksi chakra terhebat di Konoha, bahkan di Negara Api?"

Apa yang dikatakan Karin memang benar, ia pendeteksi chakra terhebat di negara ini mengalahkanku. Karin memenuhi syarat jika ingin ikut berpindah dimensi. Sebagai seorang wanita Uzumaki, chakra-nya bisa menyaingi ibuku. Hanya saja... awalnya Karin adalah satu dari sekian sosok yang ingin kulindungi di Konoha 1. Tapi kalau ia bersikeras begini... apa boleh buat.

"Apa Orochimaru, tak keberatan? Maksudku Orochimaru bosmu."

"Ya, dia bilang terserah padaku."

Aku menghela napas panjang. Saudara jauhku ini memang keras kepala. "Baiklah. Kau jadi anggota ke-4 timku."

"Terima kasih banyak!" seru Karin senang. Karin kemudian menyalami Naru. "Salam kenal, Naru-chan. Mulai saat ini kita satu tim."

Naru tersenyum dan membalas salam Karin. "Salam kenal, Karin… Nee-chan."

Jelas sekali kalau Naru belum terbiasa dengan panggilan itu.

"Umm.. Kau kenapa?" tanya Karin.

"Datang ke Konoha 1 membuatku merasa seperti anak kecil. Semua orang yang kukenal berubah dewasa," jawab Naru polos.

"Bukan berubah dewasa. Tapi memang berbeda orang," tambahku.

"Hahaha."

Akhirnya kami tertawa menanggapi tingkah Naru. Kupikir merekrut Karin ada bagusnya juga. Naru butuh teman perempuan dalam perjalanan panjang kami.


Aku tak lama di Konoha 1, tak lebih dari 3 hari. Aku tak boleh diam lama di salah satu dimensi jika tak ingin ditemukan Yami.

Hampir semua teman-temanku mengantarkan kami. Setelah pamit ke semua teman-temanku itu, saatnya menyampaikan beberapa pesan terakhir untuk orang-orang terdekatku.

"Selalu ingat pesanku teme, jadilah Hokage yang baik," ujarku sambil menyalami sang Hokage Ke-7 Konoha 1.

"Tentu saja dobe, jangan khawatirkan Konoha 1."

"Hati-hati Naruto," tambah Sakura yang saat itu berada di samping Sasuke.

Orang yang selanjutnya kuhampiri adalah Hinata dan Misa.

Aku tak berani menatap Hinata tepat di matanya gara-gara kejadian 3 hari lalu. Aku berujar pelan, "Hinata, aku tahu mungkin permintaan maafku tak berguna. Tapi maaf karena dulu aku tak pamit padamu. Aku juga minta maaf untuk kejadian 3 hari lalu-"

"Sudahlah Naruto-kun, lupakan saja." Hinata memotong ucapanku. Kuberanikan diri untuk menatap mata lavender-nya. Aku menemukan ketenangan dalam tatapannya, aku juga menemukan senyuman di bibirnya. "Kita sudah berjanji untuk menganggap itu tak pernah terjadi. Mengenai kepergianmu dulu, aku tak pernah marah mengenai hal itu. Kau tahu kenapa aku bergabung bersama kelompok pro-Naruto dulu?" tanya Hinata.

"Kenapa?" Aku balik bertanya karena penasaran.

"Karena aku tahu kau tak pernah kehilangan mimpimu. Kau hanya mengganti mimpimu dengan mimpi lain. Yang asalnya mimpi menjadi Hokage, berganti menjadi mimpi yang jauh lebih besar."

Aku berpikir sejenak. Mencoba mengartikan kata-kata Hinata. Aku lalu menoleh ke arah Naru. Secara tak sadar mimpiku memang sudah lama berubah. Kutolak mentah-mentah jabatan Hokage Ke-6 demi Naru yang dulu masih seorang bocah tak berdaya. Itulah mimpi baruku. Mimpi baruku yang masih kupegang sampai sekarang adalah melindungi Naru sekuat yang kubisa.

Aku kembali menatap Hinata sambil tersenyum.

"Terima kasih." Refleks kupeluk Hinata dan Misa. Aku dan Hinata – bahkan semua yang hadir di sana – sama-sama tahu pelukan ini bukan pelukan nafsu atau maksud negatif lainnya. Ini murni pelukan kepada seorang sahabat baik yang dari dulu selalu memberikan dukungannya kepadaku. Hinatalah satu-satunya orang yang percaya padaku, bahkan sejak aku di akademi.

Setelah melepas pelukan kepada Hinata, tibalah saatnya aku pamit kepada orang yang berat sekali kutinggalkan, yaitu Hanabi. Ia memberiku syal berwarna biru dan memakaikannya di leherku. Syal itu cukup panjang mirip milik Konohamaru. Mungkin Hanabi ingin agar bekas luka di tangan dan leher kiriku tertutup. Aku hargai bentuk perhatiannya. Kueratkan syal itu di leherku untuk membuatku semakin hangat karena saat ini aku sudah kembali memakai pakaian ANBU. Aku merasa pakaian itu paling cocok untuk bertarung.

Kupeluk Hanabi untuk terakhir kalinya.

"Kalahkan Yami dan Dark Menma, selamatkan dunia ini, setelah itu kembalilah ke sini," bisik Hanabi dalam pelukanku.

Kali ini pelukan kami terasa lama. Ini momen yang cukup emosional. Aku tak tahu jika aku bisa kembali bertemu dengan Hanabi atau tidak. Tapi aku harus ingat kata-katanya beberapa saat lalu. Aku tak boleh menyerah.

Setelah kami melepas pelukan, kurapikan rambut bagian depan Hanabi kemudian kuusap pipinya. "Jaga baik-baik kakak dan keponakanmu," ujarku.

"Pasti," jawab Hanabi mantap.

Aku akhirnya berjalan mendekati 3 anggota timku yang sudah siap, Uzumaki Naruko, Uzumaki Karin, dan Orochimaru.

Sudah saatnya kami pergi.

"Ayo kita ke dimensi ke-6!"

"Yeah!"

To Be Continue…


A/N: Okeh cukup melow-melownya setelah ini kita akan berpetualang. Baca Author Note ini sampai selesai ya biar jelas.

Summary:

Team Naruto: Naruto, Naru, 2nd Orochimaru, 1st Karin

Dimensi 1: Uzumaki Naruto (22th) - Naruto Shippuden

Dimensi 2: Uzumaki "Naru" Naruko (15th) - Unofficial name by fandom for Female Naruto

Dimensi 3: Namikaze Menma (22th) - Naruto Movie Shippuden 6: Road To Ninja [DEAD]

Dimensi 4: Uzumaki "Yami" Naruto/Dark Naruto (22th) - Naruto Shippuden episode 243-244

Dimensi 5: Uzumaki "Akage" Naruto (35th) - Naruto Movie Shippuden 1 [DEAD]

Dimensi 6: ?

Dimensi 7: ?

Unknown: Dark Menma

Penasaran sama penampilan Naruto, Naru, dan Karin yang sudah dewasa? Ada bonus fan art Team Naruto yang saya upload di Twitter, Tumblr, Worpress, dan DeviantArt. Masuk ke profil FFn saya dan klik salah satu link yang ada di sana.

© rifuki