Souban

"Konoha Gakuen"

Konoha 6, 5 tahun setelah perpindahan dimensi

CKIIIIIT!

Baru saja sampai di dimensi ke 6, kami sudah dikagetkan oleh suara decitan yang memekikan telinga serta sorotan lampu yang menyilaukan mata. Sekilas aku bisa melihat kalau sebuah kendaraan roda 2 – yang entah apa namanya – hampir saja menabrak kami. Kendaraan itu berhenti hanya sejengkal saja dari tempatku berdiri.

Sang pengendara membuka kaca helm-nya dan langsung berteriak. "Hei, apa kalian gila? Apa yang kalian lakukan di tengah jalan?"

Aku memandang cepat ke sekelilingku. Setelah melakukan jurus perpindahan dimensi, aku, Naru, dan Karin mendarat di sebuah jalan besar (Orochimaru masih di dalam tubuh Naru). Di sekitar kami ada beberapa kendaraan lain yang serupa dengan yang dikendarai pemuda tadi. Ada pula yang bentuknya seperti kereta, bedanya ini berukuran kecil dan bisa berjalan tanpa rel.

"Apa kau tuli?!" bentak pemuda itu.

Ia terlihat semakin kesal karena aku tak menghiraukannya. Namun ekspresi pemuda tadi berubah drastis saat melihat ke belakangku. Yang membuatnya kaget bukan Naru, tapi Karin yang saat itu posisinya berada paling belakang.

"K-Karin-Neesan? Maaf, aku tidak tahu kalau itu kau. Bukankah kau tadi bilang akan pergi ke kampus? Kenapa sekarang malah bermain cosplay di sini?" tanya bocah itu ketakutan.

Aku memandang Karin yang sedang mengerutkan keningnya karena tak mengerti. 'Nee-san? Cosplay?' tanyaku dalam hati. Karin menatapku, berharap aku tahu sesuatu. Tapi sayangnya aku juga tak mengerti kenapa bocah itu memanggil Karin 'Nee-san'. Aku lebih tak mengerti lagi apa itu 'cosplay'.

Karin yang masih mengatur napasnya karena kelelahan setelah berpindah dimensi berusaha berjalan ke depan. "Dengar ya, aku bukan kakakmu. Aku bahkan tak mengenalimu."

"Hah? Jangan bercanda. Oh aku tahu sekarang, tadi kau pura-pura pergi ke kampus supaya tidak disuruh menjaga butik Kaa-san 'kan? Kau berlagak tak mengenaliku bukan berarti aku tak akan melaporkanmu kepada Kaa-san."

Karin semakin tak mengerti dengan perkataan pemuda itu.

"Hei, kenapa diam saja? Ini aku, Naruto."

Aku tertegun mendengar perkataannya. Dia bilang dirinya Naruto. Apa dia 'Naruto' yang kami cari?

"Aku tahu helm dan body motor yang baru kucat ulang ini membuat penampilanku berbeda. Tapi masa kau tidak mengenali suaraku?" tanya pemuda itu sambil melepas helm-nya.

Nampaklah wajah berkulit tan lengkap dengan pipi yang memiliki 3 pasang tanda lahir. Sorot mata berwarna safirnya masih menatap Karin tak mengerti. Rambut pirangnya agak berantakan karena efek memakai helm. Tidak salah lagi, dia orang yang kami cari. Kami sangat beruntung langsung bertemu dengannya!

BEEP! BEEP! BEEP!

Terdengar suara dari kendaraan lain di belakang 'Naruto' muda di hadapanku.

"N-Naruto-kun, kita menghalangi jalan. Lagipula kita hampir terlambat masuk sekolah," gumam seorang gadis yang duduk di belakang Naruto. Dari sela lubang helmnya aku bisa melihat kalau sepasang matanya berwarna lavender sementara benang-benang rambut yang keluar dari helm-nya berwarna indigo.

"Oh, sial, mana pelajaran pertama adalah Orochimaru-sensei! Jika terlambat aku bisa disuruh memakan ular hidup-hidup. Aku pergi, Nee-san! Ingat, aku akan melaporkanmu kepada Kaa-san 'tebayo!"

Pemuda itu kembali menjalankan kendaraannya dengan lebih kencang. Lalu ia masuk ke sebuah bangunan besar bertuliskan Konoha Gakuen. Sebelum melihat bangunan itu lebih detail, kami ke pinggir agar tidak menghalangi jalan.

Konoha Gakuen terlihat seperti sebuah academy jika di desaku. Banyak remaja yang masuk ke sana membawa tas.

"Tadinya aku menyangka akan mendapat tantangan dalam mencari Naruto di dimensi ini. Tapi ternyata kita langsung dihadapkan pada orang yang kita cari. Bagaimana menurut kalian?" tanyaku pada Karin dan Naru.

Naru segera angkat bicara. "Di samping fisiknya yang sama persis sepertimu, dia juga bicara dengan gaya bicara yang khas. Gaya bicara yang seperti itu memangnya siapa lagi? Tentu saja dia Naruto."

Aku mengangguk setuju. "Kurasa koordinat tempat tinggal Naruto di dimensi ini tak beda jauh dengan Konoha kita. Dengan kata lain inilah Konoha di dimensi ke 6, atau kita bisa menyebutnya dengan Konoha 6. Aku yakin nama bangunan itu juga diambil dari nama tempat ini."

Kami lalu naik ke puncak gedung Konoha Gakuen agar lebih leluasa melihat ke daerah sekeliling kami. Setelah sebuah bel berbunyi, keadaan sekolah mendadak sepi sehingga kami leluasa naik ke puncak melalui dinding belakang. Puncak bangunan berlantai 4 itu cukup bersih dan dilengkapi beberapa kursi santai dan tanaman hijau. Kelihatannya tempat ini memang sering dipakai orang-orang. Orochimaru yang sudah penasaran akhirnya keluar dari tubuh Naru dan ikut mengamati keadaan sekitar.

"Tempat ini berbeda sekali dengan Konoha kita. Banyak bangunan tinggi," ujarku sambil menatap bangunan yang jauh lebih tinggi dari tempat kami berdiri sekarang. Peradaban di dimensi ini pasti sudah sangat maju hingga bisa membangun gedung dengan ratusan lantai.

"Tapi sayangnya, udara di sini panas dan kotor," sela Orochimaru.

Kelihatannya dia agak menyesal keluar dari tubuh Naru. Tapi rasa penyesalannya langsung hilang saat dia ingat akan bertemu dengan Orochimaru lain di dimensi ini. Terlihat dari tingkahnya yang langsung mencari posisi Naruto dan 'Orochimaru lain' di sekolah ini.

"Itu mereka. Diriku di dimensi ini terlihat lebih normal dari dugaanku," kata Orochimaru saat melihat dirinya yang lain.

Ia menunjuk sebuah kelas yang tegak lurus dari tempatnya berdiri. Di dalam kelas tersebut banyak alat-alat percobaan biologi, rupanya itu sebuah lab. Orochimaru-sensei nampak sedang menjelaskan sesuatu di depan lab. Ia memakai kemeja resmi dilapisi jas lab.

Kuakui dimensi ini sangat menarik karena berbeda sekali dengan 3 dimensi lain yang pernah kukunjungi. Tapi aku sadar, bukan saatnya untuk mempelajari hal lain di dimensi ini. Orang yang kami cari sudah dekat, kami tak tahu kapan Yami akan datang jadi lebih baik kami bergerak cepat.

"Ayo segera selidiki dia," ajakku.

"Tunggu," cegah Karin. Ia yang dari tadi berada di sisi bangunan yang berlawanan dengan kami sedang mendeteksi sesuatu. "Aku merasakan chakra lain yang mirip dengan pemuda tadi di tempat lain."

Diberitahu hal itu tentu saja aku kaget dan langsung bertukar pandangan dengan Naru yang berada tepat di sampingku.

"Ada lagi?" tanya adikku, dia sama tak percayanya denganku.

Kami mendekati Karin. "Dari sebelah mana?"

"Sangat jauh, 9500 km arah jam 11 kita."

Naru memandang arah yang dimaksud Karin. "Jarak seperti itu bisa saja beda pulau, bahkan beda negara," gumamnya.

"Dan beda benua," tambah Orochimaru.

Kuperhatikan Karin dan Naru masih kelelahan karena berpindah dimensi. Meski Naru terlihat tak selelah dulu seperti saat pertama melakukannya. Tapi sebaiknya mereka berdua tetap di tempat ini untuk memulihkan tenaga mereka.

Aku mengacak pelan puncak kepala Naru. "Kau dan Karin cari tahu tentang pemuda tadi serta tempat ini. Sedangkan aku dan Orochimaru akan menyelidiki chakra lain yang Karin maksud."

"Baiklah."

Aku mengigit jempol tanganku dan membiarkan Orochimaru membentuk segel Hiraishin dengan menggunakan darahku.

"Kita bertemu 5 jam lagi di tempat ini," ujarku sebelum pergi.


Seperti yang dikatakan Karin, ada chakra lain yang mirip dengan Naruto. Letaknya sangat jauh, melintasi lautan, dan berbeda benua. Akibatnya, zona waktu di sini berbeda dan cuaca di sini pun berbeda pula. Di sini hampir tengah malam dan sedang musim hujan, terlihat dari jalanan yang masih basah karena hujan. Sesekali angin yang bertiup terasa menusuk tulang hingga memaksaku mengeratkan syal biru pemberian Hanabi yang setia melingkari leherku.

Perlu waktu hampir seperempat jam untuk menemukan sumber chakra tersebut. Maklum saja, aku dan Orochimaru tak sehebat Karin dalam hal pendeteksian chakra. Ditambah lagi chakra orang yang kami cari lebih lemah, bahkan dibanding Naruto yang sedang ada di sekolah. Karin memberitahu jaraknya tidak sampai detail, sehingga cakupan daerah yang dideteksi memiliki radius beberapa km.

Setelah ditemukan, chakra itu berasal dari seorang gadis berambut pirang panjang. Tanpa banyak berpikir aku dan Orochimaru langsung tahu kalau dia adalah versi perempuan dari Naruto di dimensi ini. Rasanya ini sedikit ganjil. Jika pemuda yang hampir menabrak kami tadi adalah Naruto, kenapa ada versi perempuannya juga dalam 1 dimensi?

Karena penasaran, aku ingin masuk ke rumah gadis tadi. "Aku akan menyelidiki ke dalam rumah," kataku kepada Orochimaru.

"Kalau begitu aku akan mengamati daerah di sekitar sini. Setelah selesai aku akan bergabung bersamamu." Setelah itu Orochimaru terlihat membaur dengan para pejalan kaki di sana. Jalanan masih cukup ramai meski sudah hampir tengah malam.

Gadis itu tinggal di sebuah bangunan megah yang dikelilingi pagar tinggi serta dijaga belasan penjaga. Tapi itu bukan masalah bagiku. Penjaga di rumah itu tak terlalu kuat. Mereka sama sekali tak menyadari jika aku menyelinap masuk. Atau bisa jadi mereka bukan ninja.

"Welcome home, Dad," ujar gadis itu. Menyambut seorang pria dewasa berambut pirang yang baru pulang.

"Hi sweetheart," jawab pria itu sambil mengecup kening gadis tadi.

Aku turun dari pohon yang dari tadi kujadikan tempat pengamatan. Aku mendekati ruangan berkaca besar tempat gadis pirang itu berada. Ada sebuah pot tanaman hias besar yang kujadikan tempat bersembunyi. Ruangan di hadapanku adalah sebuah ruang makan. Karena kali ini aku mendapatkan penglihatan yang lebih jelas, aku tahu yang tadi baru datang adalah Minato. Ada seorang lagi pria ber-ponytail pirang yang secara fisik mirip dengan Deidara yang sedang duduk di ruangan itu.

Tiba-tiba sebuah gelas hampir tumpah dari nampan yang dibawa sang gadis jika saja pria itu tak menahannya.

"Ups! Hati-hati Naruko-chan."

"Hehe.. Sorry, Deidara Ji-san."

"It's okay."

"Sudahlah biarkan pembantu yang menyajikan makanan," gumam Minato.

"Tidak apa-apa. Aku hanya menghangatkan makanan sisa makan malam."

"Hmm, dasar keras kepala." Ucapan Minato itu hanya disambut cengiran sang gadis.

Minato makan sendiri tanpa mengajak 2 orang lainnya di ruangan itu karena ia yakin mereka sudah makan. Ia tahu ini sudah tengah malam, jam makan malam sudah lama terlewat.

Dari percakapan mereka aku tahu gadis itu bernama Naruko, sama dengan adikku. Untuk memudahkan pemanggilan, mulai saat ini aku akan memanggilnya Naruko. Sedangkan Naru tetap jadi panggilan untuk adikku. Pria ber-ponytail itu pamannya, dan yang sedang makan adalah ayahnya.

Jika kuperhatikan, bukan dari wajah saja, kelihatannya Naruko memang seumur dengan Naru. Sifat Naruko baik, periang, tapi ceroboh. Kulit dan rambutnya bersih terawat. Bukan berarti milik Naru tidak bersih dan tidak terawat. Sudah tentu Naruko dan Naru adikku sama-sama cantik. Hanya saja Naruko di hadapanku lebih terlihat seperti model. Otot tangan dan kakinya kecil, kukunya lentik, serta memakai dress selutut yang sudah jelas bukan baju yang didesain untuk bertarung. Dengan fisik dan pakaian seperti itu, sepertinya Naruko memang bukan ninja.

Setelah itu hanya terjadi perbincangan keluarga antara Naruko, Minato, dan Deidara yang sebagian besar tak kumengerti. Mereka seperti mengobrol dengan menggunakan campuran 2 bahasa.

Tak lama kemudian Orochimaru datang.

"Ada petunjuk?" tanyanya.

"Lumayan. Dia bernama Naruko. Dia versi perempuanku di dimensi ini, atau versi perempuan Naruto yang tadi pagi kita temui, atau bisa juga dikatakan versi lain Naru di dimensi ini. Ya intinya 3 sebutan itu semuanya benar. Pria pirang itu Minato dan yang di sampingnya Deidara. Tapi sayangnya ada beberapa obrolan mereka yang tak kumengerti."

"Itu mending. Dua jam aku berkeliling di luar, aku tak mengerti satu pun apa yang orang-orang katakan. Aku juga tak tahu arti tulisan-tulisan di jalan," keluh Orochimaru.

"Sudahlah, kurasa kita tak perlu tahu bahasa apa yang mereka pakai. Yang membuatku penasaran sekarang adalah kenapa ada 2 Naruto di dimensi ini?"

Orochimaru meletakkan jarinya di dagu, berpikir. "Ayo masuk," ajaknya.

"Hei!"

Orochimaru masuk ke rumah Naruko seolah itu rumahnya sendiri. Ia seperti tak takut ketahuan. Mau tak mau aku mengikutinya. Naruko, Minato, dan Deidara masih terdengar berbincang di ruang makan meski sudah lebih dari tengah malam. Kelihatannya Minato adalah orang yang sibuk bekerja sehingga tak punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama keluarganya.

Kami masuk lewat atap kemudian melewati taman indoor yang secara langsung jadi akses ke pusat bangunan. Para penjaga lagi-lagi tak menyadari keberadaan kami. Orochimaru terlihat berpengalaman dalam hal ini. Dia mengamati berbagai benda di rumah yang menurutnya bisa jadi petunjuk. Wajar saja, pengalamannya jadi mata-mata sudah banyak. Ia melihat foto-foto dan beberapa benda yang dipajang di lorong.

"Apa keluarga inti yang tinggal di sini hanya bertiga?" tanya Orochimaru.

"Ya. Sisanya hanya pembantu dan penjaga," jawabku.

Aku terus berjalan menelusuri lorong menuju ruang tengah. Tiba-tiba foto di ujung lorong menarik perhatianku.

"Orochimaru, lihat foto keluarga itu."

Orochimaru tersenyum. "Itu bisa jadi petunjuk kita."

"Baiklah, kita kembali dulu. Kita gabungkan dengan informasi dari Karin dan Naru. Kau punya jurus untuk menggandakan benda? Sebaiknya kita menggandakan foto itu."

"Tentu."


Aku dan Orochimaru kembali ke tempat yang disepakati sebelumnya, yaitu puncak gedung Konoha Gakuen. Kulihat Naru dan Karin sudah ada di sana.

"Bagaimana, Karin?" tanyaku. Ia kutanya pertama karena Naru masih serius memperhatikan Naruto.

"Aku sudah mencari informasi di perpustakaan desa ini. Mungkin kurang tepat dikatakan desa jadi akan kusebut kota. Kota ini bernama Konoha, salah satu bagian dari prefektur Tokyo. Tokyo adalah ibukota negara ini dan merupakan kota terpadat di negara ini. Negara ini sendiri bernama Jepang. Perhatikan ini."

Karin mengeluarkan sebuah gulungan peta dan menggelarnya di lantai gedung. Ia menunjuk satu titik di tengah peta.

"Daratan dan lautan di dimensi ini dan dimensi kita berbeda total. Tapi koordinat Konoha sama. Posisi kita di sini. Sedangkan tadi kalian pergi ke negara Inggris, 9500 km dari tempat ini. Menurut buku yang kubaca, ninja dan samurai memang pernah berkembang di Jepang ratusan tahun yang lalu. Tapi kini populasinya sedikit karena sempat dilarang oleh pemerintah. Klan-klan ninja yang tersisa memilih untuk menghilang tanpa jejak. Mereka berhenti jadi ninja dan berbaur dengan masyarakat untuk menjalani kehidupan normal. Akhirnya keberadaan ninja tergantikan oleh pasukan keamanan bernama polisi dan tentara. Itulah alasan aku tak merasakan keberadaan Kyuubi, maupun biju lain di sini. Hanya spirit Kyuubi saja yang ada di tubuh Naruto. Mungkin keberadaan Kyuubi dan biju lainnya di dimensi ini sudah lama dilenyapkan."

Tidak ada Kyuubi? Apa arti semua ini? Kyuubi adalah sumber kekuatan dari Naruto-Naruto di dimensi lain. Jika Naruto di dimensi ini tak memiliki Kyuubi, apa dia cukup kuat? Apa dia juga dibutuhkan oleh Yami?

Kukesampingkan dulu pertanyaan-pertanyaan itu lalu beralih kepada Naru.

"Bagaimana denganmu, Naru?"

Naru bicara tapi ia tak beranjak dari tempatnya. "Seharian ini aku mengawasi Naruto di sini. Naruto di dimensi ini merupakan berandalan di sekolah. Dia nakal, bodoh, dan sering dihukum. Hari ini saja dia sudah dihukum 2 kali. Pertama karena bolos pelajaran Iruka-sensei, lalu kedua karena berkelahi dengan anak sekolah lain. Dia berbeda sekali denganmu Nii-san."

Dalam hati aku bersyukur karena Naru tidak tahu kalau saat kecil aku juga urakan seperti itu, bahkan lebih parah. Meski kenakalan kami ditunjukkan dengan cara yang berbeda dan di dimensi berbeda pula.

"Banyak pelajaran yang diajarkan di sekolah ini. Tapi sekolah ini tidak mengajarkan ilmu ninja, melainkan belajar tentang dunia ini dan bagaimana hidup di dalamnya. Intinya, mereka bukan diajari untuk bertarung. Sekarang lebih baik kita bersembunyi di menara air itu, sebentar lagi jam istirahat tiba. Tempat ini akan penuh dengan anak sekolah."

Naru berjalan paling duluan ke sebuah menara air di puncak bangunan yang kami tempati. Aku, Karin, dan Orochimaru mengikutinya dari belakang.

"Bagaimana dengan informasi yang kau dapatkan, Nii-san?" tanya Naru sambil menunggu kedatangan anak-anak sekolah.

Aku menghela napas pelan. "Kami tak seberuntung kalian. Tempat yang kami selidiki memakai bahasa yang tak kami mengerti sehingga informasi yang kami dapatkan tak sebanyak kalian. Tapi berdasarkan penyelidikan kami, di sana ada gadis yang sama persis denganmu. Namanya juga sama denganmu yaitu, Naruko. Aku akan memanggilnya Naruko agar tak membingungkan. Hanya saja seperti pengamatan kalian, dia juga bukan ninja, bukan petarung, chakra-nya lemah, sehingga kami yakin bukan dia yang Yami incar. Dia tinggal bersama Minato dan Deidara."

"Oh aku lupa bilang, Inggris memang memakai bahasa yang berbeda. Kalaupun ada yang kau mengerti, berarti mereka menggunakan bahasa Jepang," tambah Karin.

"Informasi lain yang kami dapatkan adalah ini." Orochimaru mengeluarkan copy foto yang tadi kami ambil di Inggris. Di foto itu ada Minato dan Kushina yang sedang memangku 2 bayi kembar berambut pirang. Di antara mereka, berdiri anak perempuan berambut merah yang berusia sekitar 3 tahun. "Kami menduga gadis kecil berambut merah ini adalah kau, Karin. Maksudku, Karin di dimensi ini. Karin di dimensi ini adalah anak tertua dari Minato dan Kushina," jelas Orochimaru.

Karin melihat sosok anak kecil berambut merah di foto yang dimaksud Orochimaru. Wajah anak itu memang sangat mirip dengannya saat masih kecil.

"Pantas saja tadi pagi dia seenaknya memanggilku kakak," keluh Karin. "Itu berarti anak kembar di foto ini adalah Naruto dan Naruko. Tak heran chakra mereka mirip, meski milik Naruko lebih lemah. Kupikir yang diincar Yami adalah Naruto, karena dia yang lebih kuat dan punya tanda lahir di pipi."

Aku mengangguk.

"Jika mereka keluarga, kenapa tinggal terpisah? Kenapa Naruko dan ayahnya tidak tinggal di sini? Atau sebaliknya, kenapa Naruto, Karin dan ibu mereka tidak tinggal di Inggris?" tanya Naru.

"Entahlah. Itulah yang akan kita cari tahu sekarang."

Tak lama kemudian atap sekolah ramai dikunjungi murid yang beristirahat. Kelihatannya atap ini jadi tempat favorit untuk beristirahat. Tempat ini juga jadi favorit tokoh utama yang sedang kami selidiki, Naruto.

Naruto datang menggandeng erat sosok berambut indigo. Dia Hinata. Dia gadis yang pagi tadi diboncengi Naruto.

Setelah kedatangan Naruto, keadaan mendadak heboh. Ia langsung jadi pusat perhatian.

"Woy Naruto, gara-gara kau Kakashi-sensei jadi tahu kalau aku membawa Akamaru ke sekolah!" teriak Kiba sambil mencekik leher Naruto.

"Ghhh! Itu balasan karena tadi pagi kau dan Neji tak membantuku menghabisi anak-anak Kiri Gakuen!"

"Hanya karena hal itu?"

"Saat itu jam pelajaran sedang berlangsung! Aku tak mungkin membantumu, Naruto!"

"Neji benar!"

"K-Kiba-kun, Neji-Niisan, lepaskan Naruto-kun. Dia bisa kehabisan napas."

"Ohohoo, kalian begitu bersemangat mengisi masa muda kalian!"

"Merepotkan."

"..."

"Bisakah kalian diam? Ini jam istirahat jadi sebaiknya kita makan siang!" oceh Sakura. "Hei, Chouji! Jangan mengambil makan siangku, itu untuk Sasuke-kun! Bukankah tadi kau sudah makan banyak snack kentang?"

"Tapi aku masih lapar."

"Minta saja punya Ino!"

"Enak saja kau forehead, ini untuk Sai."

"Terima kasih, cantik."

"Sama-sama."

"Haha, kau tahu sendiri dia memanggilmu cantik hanya berpura-pura, 'tebayo!"

"Hahaha, kau benar Naruto!"

"Diam kaliaaan!"

Aku tersenyum sendiri melihat suasana ceria di hadapanku. Di balik kenakalan yang diceritakan Naru, ternyata Naruto di dimensi ini memiliki banyak teman di sekelilingnya. Aku bersyukur di dimensi ini dia tak menderita. Dia punya keluarga, punya banyak teman, bahkan punya pacar. Aku ikut bahagia untuk Naruto di dimensi ini.

Setelah istirahat selesai, Naruto dan teman-temannya kembali masuk ke kelas.


BUKH! BRAK!

Tiga jam kemudian aku dikagetkan oleh keributan di dekat gerbang sekolah.

"Naruto sedang berkelahi! Lawannya adalah anak sekolah lain yang tadi pagi berkelahi dengannya. Kelihatannya anak sekolah lain itu membawa teman-temannya untuk membalas dendam," seru Naru.

Agar lebih jelas melihat keadaan, aku dan timku bersembunyi di balik semak di dekat gerbang sekolah. Aku melihat sekitar 50 anak sekolah berseragam berbeda yang datang menyerang Konoha Gakuen.

Naruto dibantu Sasuke, Neji, Lee, dan Kiba sedang melawan mereka. Tapi bantuan teman-teman Naruto hanya bisa melumpuhkan 20 orang saja karena mereka kelelahan, 30 orang sisanya masih kuat berdiri. Terpaksa Naruto harus menghadapi mereka sendirian.

"Kami datang bersama para ahli bela diri sekolah kami, kendo, karate, taekwondo, dan kempo. Lihat, teman-temanmu kalah. Kali ini kau juga akan kalah!" teriak ketua penyerang Naruto sambil memerintahkan anak buahnya untuk menyerang.

"Kendo, karate, taekwondo, dan kempo adalah cabang bela diri yang juga di ajarkan di Konoha Gakuen sebagai kegiatan extra," jelas Naru.

"Apa Naruto ikut salah satunya?"

"Itu dia masalahnya. Dia tidak ikut satu pun. Seperti kataku tadi, Naruto dimensi ini sangat nakal, cuek. Dia lebih senang bermain-main sepulang sekolah. Makanya aku tak yakin dia bisa menang." Setelah mengatakan itu Naru bersiap ingin membantu Naruto, tapi aku mencegahnya.

"Biarkan dia. Aku ingin tahu kemampuannya."

Aku tak melihat sedikitpun ketakutan di wajah Naruto meski ia kalah jumlah. Ia lalu berteriak. "Bodoh! Gaya bertarung jalanan milikku lebih hebat. Kalian dengar baik-baik, aku akan menang karena suatu hari nanti aku akan jadi Souban!"

"Souban adalah sebutan untuk ketua Yakuza, geng terkuat di Jepang," ujar Karin. Ia tahu saja kalau aku tak mengerti.

Tanpa disangka Naruto menang melawan 30 orang lawannya. Naru sampai tak percaya dibuatnya.

"Tidak buruk untuk seseorang ber-chakra kecil dan hanya mengandalkan taijutsu. Aku akan menyebutnya Souban mulai sekarang."


Pengamatan dilanjutkan ke rumah Souban untuk mencari tahu kebenaran keluarganya. Naruto menuntun kami ke salah satu rumah sederhana di pusat Konoha. Di sana kami menemukan Kushina dan Karin. Berarti foto yang kami temukan memang benar foto mereka. Karin sedang menyiapkan meja makan sedangkan Kushina sedang memasak.

"Rasanya aneh sekali melihat orang yang mirip denganmu," gumam Karin timku.

"Aku 2 kali," kata Orochimaru.

"Diamlah. Kalau masalah itu aku paling banyak. Aku sudah melihat orang yang mirip denganku sebanyak 4 kali," tambahku tak mau kalah.

Karin dan Orochimaru langsung terdiam, mengaku kalah. Sementara Naru hanya tersenyum geli melihat tingkah kami.

Meski Karin kakak Souban lebih muda dari Karin timku, tapi keduanya memang sangat mirip. Bahkan sampai warna dan model kacamata yang dipakaipun mirip. Itu berarti kedua Karin itu memiliki selera yang sama.

Hari itu Souban pulang saat makan malam sudah siap. Namun ia hanya mengucap salam singkat kemudian membawa makan malamnya ke kamar tanpa bertatapan langsung dengan Kushina. Nampaknya ia takut ketahuan berkelahi. Berkali-kali Kushina meneriaki Souban untuk makan malam bersama tapi Naruto tak menghiraukannya. Karin tahu ada yang tak beres dengan adiknya sehingga ia bergegas ke kamar Souban saat selesai makan malam.

"Berkelahi lagi?! Kau tahu 'kan kalau Kaa-san cerewet," oceh Karin muda kepada adiknya.

Souban menjawab dengan cuek, "Tenang saja, lukaku cepat sembuh. Hinata sudah mengobatiku di rumahnya. Yang penting jangan bilang Kaa-san, atau aku akan melaporkanmu kalau kau ikut cosplay tadi pagi dan bolos kuliah."

"Cosplay? Apa maksudmu? Sudah kubilang aku kuliah."

"Bohong, aku melihatmu memakai kostum di jalanan dekat sekolahku."

"Jangan sembarangan, tadi pagi aku kuliah! Tanya saja kepada Suigetsu kalau kau tak percaya!"

Keduanya terlibat perdebatan sengit hingga akhirnya Karin muda mengalah. Ia memilih untuk kembali ke lantai bawah menemani ibunya.

Aku merasa ini saat yang tepat untuk mendatangi Naruto. Aku dan timku mengetuk jendela kamar Souban hingga sang penghuni kamar menoleh ke arah kami.

"Halo Souban."

"Ka-kalian teman-teman cosplay Nee-san?"

Souban kaget melihat kami dan langsung mendekat. Dia masih yakin kalau kami teman kakaknya jadi akan kumanfaatkan kesalahpahamannya itu.

"Boleh kami masuk?" tanyaku.

"Tentu. Ngomong-ngomong kenapa memanggilku Souban? Itu memang cita-citaku tapi rasanya panggilan itu terlalu cepat saat ini."

"Supaya tidak bingung, karena namaku juga Naruto."

"Oh, kupikir hanya aku yang punya nama Naruto di kota ini, hehe."

Kuperintahkan Karin untuk diam sejenak di luar sebelum Souban membukakan jendela kamarnya. Barulah saat jendela terbuka dan kami masuk, Karin jadi orang terakhir yang masuk dan langsung menutup dan mengunci jendela dari dalam. Sontak saja Souban langsung kaget melihat Karin.

"Nee-san? Bukankah tadi kau ke bawah?" tanyanya bingung.

"Sudah kubilang aku bukan kakakmu," jawab Karin untuk kesekian kalinya.

Souban mulai sadar kalau ada yang tidak beres. Ia mendekati pintu keluar tapi Naru sudah menjaganya. Orochimaru bergerak cepat dengan mengikat kedua tangan Souban dengan ular, sedangkan mulutnya ia tutup dengan handuk. Souban kemudian didudukkan di tempat tidurnya.

"Ini akan jadi cerita panjang," ujarku setenang mungkin. Aku tak mau sosok di hadapanku ketakutan. "Tidak ada gunanya kau memberontak jadi lebih baik kau diam dan dengarkan baik-baik."

Akhirnya aku menceritakan semuanya kepada Souban tentang siapa kami dan apa tujuan kami mendatanginya. Pada beberapa penjelasan, aku meminta respon anggukan dan gelengan kepala Souban.

Misalnya, dia menggeleng saat ditanya ia percaya atau tidak kalau kami ninja.

Aku menyuruh Naru untuk mendemonstrasikan beberapa ninjutsu sederhana seperti kushiyose hingga Souban percaya.

Aku menjelaskan seberapa genting keadaan saat ini dan betapa besar bahaya yang mengancam dirinya. Oleh karena itu aku meminta kerja sama Souban. Beruntung dia adalah tipe orang yang bisa diajak kompromi. Dia mengangguk saat kuminta jangan berteriak setelah ikatan dilepas.

"Kupikir masalah di dunia ini sudah cukup berat. Di dunia ini terjadi perang dingin. Setiap negara berlomba-lomba membangun kekuatan militer di bidang peralatan perang, nuklir, tank, kapal, pesawat tanpa awak, hingga robot. Mulai dari Jepang, China, Amerika, Rusia, Korea, Inggris, dan lain-lain. Keadaan memang terlihat damai tapi kami selalu diliputi ketakutan akan terjadinya perang. Aku tak menyangka ada masalah yang lebih besar di luar sana," gumam Naruto saat Orochimaru melepas ikatan dan bekapannya. Raut ketegangan jelas sekali terlihat di wajahnya.

"Ya, alam semesta ini tak sesempit yang kau duga. Sekarang kami akan bertanya hal terpentingnya. Kau mau ikut dengan kami baik-baik atau dengan cara paksa?" tanyaku.

Kening Souban berkerut. "Apa-apaan pertanyaanmu itu? Kau tak memberiku pilihan!"

"Karena kau memang tak punya pilihan."

SREK!

Tiba-tiba pintu bergeser dan Kushina serta Karin muda masuk. Mereka langsung menghalangi kami dari Souban.

"Aku tak mengizinkan kalian membawa Naruto!" tegas Kushina. Didukung oleh anggukan Karin muda.

Sejak kapan Kushina dan Karin muda ada di sana? Aku menoleh cepat kepada Karin timku. "Kau tak memberitahuku jika ada yang menguping? Seharusnya kau bisa mendeteksi kehadiran mereka berdua di balik pintu," protesku pada Karin.

Karin timku mengangkat bahu. "Tadi kau sedang menjelaskan, jadi kubiarkan saja mereka menguping supaya kau tidak menjelaskan 2 kali. Kupikir mereka berhak tahu."

Jika dipikir lagi perkataan Karin ada benarnya.

"Aku tak tahu kalian orang aneh dari mana," Kushina menatapku dan Orochimaru saat bilang 'aneh'. "Tapi kalau kau membawa Naruto aku akan melaporkan kalian ke polisi," lanjut Kushina.

Aku mencoba menjelaskan sebisaku. "Kalian salah paham. Aku justru ingin membawa Souban karena aku ingin melindunginya. Semua yang kuceritakan tadi bukan omong kosong. Yami sangat kuat, lihat luka di tubuhku. Ini perbuatannya. Sekarang ia sedang mengincar anakmu. Jika ia tetap di sini justru lebih berbahaya. Lebih baik dia bersama kami."

Kushina terlihat menimbang-nimbang. Ia memperhatikan luka di wajah bagian kiriku. Tentu saja ini jadi bukti yang kuat. Aku tak mungkin capek-capek melukai diriku sendiri hanya untuk membawa Souban.

"Beri waktu aku sehari untuk berpikir. Kalian boleh tinggal di sini untuk sementara," ujar Kushina akhirnya. Ia masih syok dengan apa yang terjadi. Ia lalu mohon diri untuk pergi ke kamarnya.

"Aku akan menenangkan Kaa-san," ujar Souban.

Di kamar Souban kini hanya ada Karin muda dan timku.

Rasa penasaranku sudah sampai pada puncaknya sehingga aku menyuruh Orochimaru untuk memperlihatkan foto yang kami dapat di Inggris.

"Dari mana kalian dapatkan ini?" tanya Karin muda. Wajahnya mendadak kaget melihat foto itu.

"Inggris," jawabku singkat.

"Ya, tentu saja, karena di rumah ini tak ada satupun foto pria itu."

"Kau tak keberatan untuk menjelaskan?"

Karin muda mengangguk lemah kemudian mulai bercerita.

"Foto itu diambil sebelum Tou-san dan Kaa-san bercerai. Mereka bercerai saat aku berumur 4 tahun dan Naruto-Naruko 2 tahun. Kaa-san menuntut cerai karena Tou-san terlalu mementingkan pekerjaannya di Inggris. Tou-san mendapat hak asuh Naruko, adik perempuanku, sekaligus kakak kembar Naruto. Ia membawanya tinggal di Inggris, sementara kami tetap di Jepang. Sejak saat itu Kaa-san merawat aku dan Naruto sendirian. Kaa-san sangat sakit hati dan selalu melarang kami untuk membahas Tou-san. Naruto masih terlalu kecil untuk mengingat wajah Tou-san, bahkan dia tak tahu kalau dia punya kembaran. Karena itulah, aku mohon simpan kembali foto itu. Jangan bahas Tou-san dan Naruko di hadapan Kaa-san, apalagi Naruto. Seandainya ada hal yang berkaitan dengan Naruto, jangan pedulikan Tou-san, sekarang Kaa-san memegang tanggung jawab penuh atas aku dan adikku, Naruto."

Mendengar cerita Karin yang panjang lebar membuatku merasa bersalah. Orochimaru merasakan hal yang sama dan menyimpan kembali foto itu.

"Maaf, aku tak tahu," gumamku.

"Tidak apa-apa," balas Karin muda sambil berusaha tersenyum. "Kalian laki-laki bisa tidur di kamar ini, sedangkan yang perempuan bisa tidur di kamarku."

Sebelum pergi aku bisa melihat tetes air mata yang keluar dari mata rubinya. Karin timku juga melihatnya sehingga ia berinisiatif untuk menenangkan 'kembarannya' itu.

"Aku ke kamar duluan, kau ikut Naru?" ajak Karin timku.

"Tentu."


Tak lama setelah para kaum perempuan itu keluar, Souban kembali ke kamarnya.

"Kalian belum ngantuk?"

Aku menggeleng.

"Bagaimana ibumu?"

"Sudah tenang. Tapi ia bersikeras tak mau melepasku. Aku juga tak akan pergi kalau ia tak mengizinkan. Aku satu-satunya laki-laki di keluarga ini, mereka tanggung jawabku."

Satu lagi sifat yang dimiliki Souban di balik kenakalannya, yaitu rasa tanggung jawab. Ia sadar dirinya satu-satunya laki-laki di keluarga ini sehingga berpikir dua kali untuk meninggalkan ibu dan kakaknya.

"Aku tidur duluan," ujar Souban.

Kelelahan karena perkelahiannya tadi siang membuat Souban cepat terlelap.

"Lihat betapa cepat penyembuhan lukanya. Kyuubi memang tidak ada, tapi kemampuan penyembuhan bocah itu menakjubkan," gumam Orochimaru pelan agar tak membangunkan Souban. Ia sedang duduk di dinding kamar, sedangkan aku berbaring di futon yang digelar di dekat tempat tidur Souban.

"Ya, kecepatannya hampir menyamaiku."

"Naruto, sebenarnya ada yang mengganggu pikiranku sejak siang."

"Apa?"

"Taijutsu Souban memang kuat, masa penyembuhannya juga cepat, tapi jika berdasarkan ceritamu tentang kekuatan Yami dan Dark Menma, rasanya Souban tak akan mampu menandingi mereka. Dia hanya mengalahkan 30 orang, sedangkan Yami mengalahkan 2000 orang jounin dalam satu serangan. Aku bahkan ragu Souban bisa membantu kita."

Aku tertegun. Orochimaru benar. Bukannya menghina, tapi kemampuan Souban tidak bisa kuandalkan untuk melawan Yami. Namun aku langsung ingat pesan Shion.

"Kita berkunjung ke sini bukan semata-mata mencari bantuan untuk mengalahkan Yami. Tapi kita harus pastikan Yami tak mendapatkan kekuatan 7 Naruto untuk menghindari hal yang tak diinginkan. Jika Souban tak bisa diandalkan, justru kitalah yang harus melindunginya agar tak dibunuh Yami," jelasku pada Orochimaru.

"Baiklah aku setuju. Tapi dengan keadaanmu sekarang akan sangat sulit melindunginya. Kau tak mungkin terus-menerus membebankan semuanya pada Naru."

Kata-kata Orochimaru membuatku berpikir. Belakanngan ini aku memang merasa tak berguna. Untuk berpindah dimensi saja aku masih mengandalkan Naru. Aku bahkan tak bisa membuat segel sederhana dan malah menyuruh Orochimaru.

"Dengar, aku punya sesuatu yang bisa membuatmu kuat," tawar Orochimaru. Ia kemudian mengeluarkan sebuah tabung transparan dari mulutnya. Yuck, ia tak henti-hentinya membuatku jijik.

"Bola mata Rinnegan," bisiknya.

Aku terbelalak tak percaya melihat salah satu bola mata bergaris yang berwarna ungu muda yang ada di tangan Orochimaru. "Jangan bilang kau mencurinya dari Konoha 1?!" tanyaku, nada bicaraku meninggi.

Orochimaru memasang muka meremehkan. "Jangan menuduhku dulu. Ini pemberian Orochimaru dan Tsunade di Konoha 1. Mereka sudah diberikan izin langsung oleh Sasuke untuk memberikan ini padamu. Temanmu itu terlihat cuek tapi dia sangat peduli padamu."

Bola mata Rinnegan adalah benda yang disimpan baik-baik oleh Konoha setelah Madara berhasil dikalahkan dalam Perang Dunia Ninja Ke-4. Sepasang mata itu disimpan di lab, dijaga oleh Orochimaru dan diawasi secara langsung oleh Hokage dan Divisi Pertahanan.

Aku sadar aku memang butuh kekuatan. Jika aku menolak bola mata Rinnegan ini, justru aku akan menyia-nyiakan bantuan teman-teman dari desaku sendiri, terutama Sasuke.

"Baiklah, aku terima tawaranmu."

"Bagus! Aku akan gabungkan dengan gen Zetsu/Senju dari tubuhku agar kau bisa memiliki tangan kiri lagi. Ini tak akan memakan waktu lama," kata Orochimaru.

Ia bergegas menyiapkan peralatan medisnya. Ia nampak bersemangat sekali melakukan hal ini.

Sebuah suntikan telah siap di tangannya, sebelum menyuntikkannya di bahu kiriku, Orochimaru berpesan. "Gigit syalmu Naruto. Kau akan merasakan sakit saat antibodi di tubuhmu berusaha menolak gen Senju yang kusuntikkan. Itu wajar karena secara alami tubuh manusia selalu berusaha mencegah masuknya zat asing yang masuk ke tubuh."

Aku mengangguk dan mengikuti apa perintahnya. Kehadiran syal ini membuatku merasa lebih kuat. Aku merasa Hanabi sedang berada di sampingku.

Gen Hashirama disuntikkan dan benar saja bahu kiriku langsung terasa sakit.

"Gghhhh!" Aku berusaha menahan rasa sakit yang terasa sambil menahan teriakkanku. Daerah di pundakku serasa disengat oleh ratusan lebah. Rasa sakit itu menjalar hingga ke bagian kiri wajahku.

Rasa sakit itu berlangsung selama kurang lebih 5 menit.

"Tenangkan dirimu. Gen Senju sudah menyatu dengan genmu. Kini sel-sel dalam tubuhmu mulai merekonstruksi bagian tubuhmu yang hilang." Orochimaru lalu mengambil bola mata Rinnegan dan menempatkannya dengan hati-hati di lubang mata kiriku.

Aku merasakan jaringan-jaringan kulit di wajahku mulai tersusun. Begitu juga jaringan-jaringan syaraf di bagian belakang mata Rinnegan. Perlahan kubuka mata kiriku. Sudut pandang mataku telah kembali seperti semula. Mata Rinnegan sudah berfungsi dengan baik. Tangan kiriku pun sudah kembali.

"Selamat, kau punya mata dan tangan baru. Lebih baik kau tidur agar aliran darah ke mata dan tanganmu stabil," kata Orochimaru.

Ia membereskan peralatan medisnya, keluar menuju kamar mandi untuk mencuci tangan serta peralatan medisnya, lalu kembali ke kamar, dan bersiap untuk tidur. Ia memilih untuk tidur sambil duduk di dinding, persis di tempat yang ia duduki sebelumnya.

Aku merasakan tubuhku lebih kuat dari sebelumnya, tapi ada baiknya aku menuruti Orochimaru untuk tidur. Dia lebih tahu mengenai medis dibandingku.


Saat terbangun di pagi hari, aku mencoba mempraktekkan beberapa segel sederhana untuk menguji tangan baruku. Semuanya lancar. Tanganku bisa kugunakan dengan normal.

"Whooa! Kau punya tangan dan mata lagi," seru Naru ceria saat ia masuk ke kamar. Sang tuan rumah masih belum juga bangun meskipun semalam ia tidur pertama.

"Hn. Semalam Orochimaru memberiku mata ini."

"Bagaimana perasaanmu sekarang, Nii-san?"

Aku tersenyum dan mengusap pipi Naru dengan kedua tanganku. "Lebih baik. Sekarang aku bisa lebih jelas melihat wajah cantikmu."

"Hehe."

SREK!

"Jangan bergerak!"

Senyuman Naru lenyap saat segerombolan orang masuk ke kamar Souban dan menangkap kami. Aku, Naru, dan Orochimaru tak sempat menghindar karena gerombolan orang-orang itu menembakkan sebuah alat yang membuat kami terkena aliran listrik dan tak bisa bergerak. Kami tumbang ke lantai dan mereka memborgol tangan kami.

"Ikut kami!"

Kami digelandang ke luar rumah dan dimasukkan ke sebuah kendaraan beroda 4. Kulihat Karin sudah berada di dalamnya. Sebelum masuk kendaraan itu aku memandang tajam Souban yang sudah terbangun dan panik. "Souban! Apa maksud semua ini?!"

"Aku tak melaporkan kalian! Kau tahu sendiri aku baru bangun tidur!"

"Aku yang melaporkan mereka," ujar Kushina datar. "Bawa mereka, Pak Polisi. Mereka orang aneh yang ingin menculik anakku."

Aku melotot tak percaya dengan sikap Kushina yang masih tak percaya padaku. Aku ingin melawan tapi alat bertegangan listrik itu berada di pinggangku, bersiap menyentrumku kapan saja.

BOOM!

Satu dari dua kendaraan yang terparkir di depan rumah Souban terbakar. Empat polisi yang berada di dalamnya terbakar hidup-hidup.

"Naruto! Itu Yami!" teriak Karin.

Aku tak menyadari kedatangan Yami karena terlalu panik. Jika Yami ada di sini, itu artinya Souban dalam bahaya!

Naru dan Orochimaru menyikut 2 polisi yang mengawal mereka kemudian memukul 2 polisi lainnya di dekatku. Karin mengeluarkan sebuah kawat dan melepas borgol dirinya dan borgol yang mengikat tanganku. Setelah itu kami berdua bergegas melindungi Souban.

Dua buah kunai berkecepatan tinggi melesat ke arah kepala Souban. Aku dan Karin menangkisnya dengan cepat hingga kunai-kunai itu terpantul ke jendela rumah, memecahkan kaca jendela.

Naru dan Orochimaru sudah menemukan posisi Yami. Orochimaru merubah tangannya menjadi puluhan ular yang memanjang dan berusaha menangkap Yami yang bersembunyi di balik kendaraan yang terbakar. Naru melakukan hal yang sama. Sage Naga tak memerlukan waktu lama untuk mengumpulkan energi alam karena semua permukaan kulitnya bisa menyerap energi secara otomatis. Ia tak perlu bertapa hanya untuk masuk ke Mode Sage.

Yami mengelak lalu menarik ular-ular itu ke arahnya, membuat Orochimaru dan Naru terjengkal ke depan lalu ikut terbawa. Saat itulah Yami menendang Orochimaru dan Naru hingga terlempar ke pagar rumah yang terbuat dari tembok berlapis baja.

Yami mendekat ke arahku.

"Kau yang berambut pirang, jangan bergerak atau kutembak!" teriak salah satu polisi. Tiga polisi yeng tersisa menodongkan senjata ke arah Yami. Aku tak tahu itu senjata apa tapi aku mencium bau mesiu yang kuat dari benda itu.

Teriakan itu cukup mengganggu Yami sehingga dalam satu gerakan cepat, Yami mencabut tiang lampu penerang jalan. Lalu dengan sadis ia menusuk perut ketiga polisi itu sekaligus.

Kushina menutup mulut dan langsung berpaling. Ia tak tega melihat pemandangan di hadapannya. Rentetan kejadian terjadi begitu cepat sehingga ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Seandainya kalian mau bekerja sama, ini tak akan terjadi. Kita kedatangan tamu tak diundang. Pria pirang bermata merah itu adalah Yami. Sudah kubilang dia mengincar anakmu," gumamku pelan kepada Kushina yang sedang berada di belakangku.

Kushina tak menanggapiku apa-apa karena menyesal.

"Naruto! Akhirnya kita bertemu lagi. Kulihat Naruto di dimensi ini ada di pihakmu. Berarti skor kita imbang 3-3," kata suara serak yang sangat kukenal, Yami.

"Hei Yami, lagi-lagi keberadaanku tak kau anggap," seru seseorang. Aku mencari sumber suara tersebut. Ternyata itu berasal dari sebuah dahan pohon. Dark Menma sedang bersandar santai di sana. Jadi kali ini Yami ditemani Dark Menma. Suasana sudah semakin memburuk!

Yami tak menghiraukan kata-kata Dark Menma.

"Naruto, karena skor kita sama, bagaimana jika kita berlomba untuk mendapatkan kekuatan Naruto yang terakhir di dimensi ke-7?" tawar Yami.

Karin yang berada tepat di sampingku memberi isyarat kalau ia akan jadi transporter. Ia sudah mengapit erat tangan Souban. Di sisi lain, Orochimaru sudah masuk ke tubuh Naru. Sedangkan Naru sendiri sudah melepas energi alam di tubuhnya sesaat setelah benturan terjadi. Kini ia mendekati Karin untuk bersiap berpindah dimensi.

Aku melirik ke arah Yami. Pihaknya juga mulai bersiap-siap. Dark Menma sudah turun dari pohon. Kelihatannya dialah yang akan jadi transporter.

Perebutan kekuatan Naruto yang ke-7 alias yang terakhir sudah tak bisa dihindarkan.

"SEKARANG!" teriakku.

Karin segera membentuk segel untuk berpindah ke dimensi ke-7, Dark Menma melakukan hal yang sama dengan waktu hampir bersamaan. Aku berniat untuk memegang tubuh Karin agar ikut berpindah dengannya. Tapi aku membatalkan niatku saat Yami membuat 1 Dark Rasengan.

"Ini hadiah untuk dunia ini. Selamat tinggal Naruto! Hahaha." Yami melempar Dark Rasengan sebesar tangan ke arah kami.

Jika aku pergi begitu saja, Kushina dan Karin muda bisa tewas.

Sial!

"Karin! Naru! Souban! Kalian duluan ke dimensi ke-7!" teriakku.

Karin mengangguk dan akhirnya menteleportasi Naru dan Souban ke dimensi ke-7 tanpaku. Aku masih harus di sini untuk mengurus bola energi berwarna hitam pekat yang bisa dengan mudah membunuh seluruh warga kota.

Aku menghadang Dark Rasengan sebelum mengenai Kushina dan Karin muda lalu mengirimnya ke laut. Tepatnya 500 km sebelah selatan pulau ini. Meski ukuran Dark Rasengan kali ini jauh lebih kecil dari biasanya, tapi aku merasakan konsentrasinya lebih padat dan memiliki daya ledak yang lebih besar.

BOOOOOM!

Ledakannya menyebabkan gempa besar dan gelombang pasang air laut.

Setelah berhasil kukirimkan ke laut, aku kembali menemui Kushina. "Kalian lihat tadi, dialah orang yang mengincar Souban. Aku harus melindunginya."

Tiba-tiba Kushina menangis. "Maaf telah mencurigaimu. Aku tak menyangka akan seperti ini padahal aku mati-matian menyembunyikan identitas untuk melindungi keluargaku dari bahaya..."

"Apa maksudmu Kaa-san?" tanya Karin muda.

"Kita keturunan ninja, Karin. Kita keturunan terakhir Klan ninja Uzumaki. Tapi karena di awal abad ke-19 pemerintah Jepang melarang adanya ninja, kekuatan Kyuubi yang diwariskan turun-temurun dilenyapkan. Namun spirit Kyuubi tetap diwariskan secara turun temurun mulai dari nenekmu, padaku, dan terakhir pada Naruto. Itulah alasan dia cepat sembuh jika terluka. Meski tak sekuat kekuatan asli, tapi kekuatan itu tetap besar dibanding manusia normal. Itu pula yang menyebabkan aku bersikeras memeperjuangkan hak asuh Naruto. Aku ingin mengawasinya."

Ternyata sesuai dugaan, kekuatan Kyuubi telah benar-benar hilang di dunia ini.

"Tolong lindungi anakku," mohon Kushina padaku.

"Aku akan berusaha semampuku. Kalian juga harus cepat ke tempat yang lebih tinggi. Beberapa menit lagi akan ada gelombang air laut yang menyapu daratan. Waktu kalian tak banyak."

"Jangan khawatir. Negara ini sudah terbiasa dengan gelombang pasang seperti itu. Kami sudah tahu jalur evakuasi untuk menghindari gelombang."

"Baiklah. Kalau begitu aku pergi."

Aku segera membuat segel perpindahan dimensi ke dimensi ke-7.

Ternyata setiap dunia memiliki masalahnya masing-masing. Bahkan kehidupan Souban yang terlihat baik-baik saja itu ternyata tak luput dari masalah. Terlalu banyak hal yang dirahasiakan oleh Kushina dan Karin dari pemuda itu. Dia berhak tahu semuanya. Kuharap kami bisa mengalahkan Yami dan mengembalikan Souban ke sisi keluarganya. Sehingga suatu saat nanti Souban bisa tahu siapa dirinya sebenarnya.

Kekuatan Naruto tersisa 1, mau tak mau 'Naruto' terakhir di dimensi ke-7 harus berada di pihakku jika aku ingin menang melawan Yami.

Segel perpindahan dimensi mulai aktif.

Tunggu aku teman-teman!

To Be Continue…


A/N:

Summary:

Team Naruto: Naruto, Naru, 2nd Orochimaru, 1st Karin, Souban

Dimensi 1: Naruto Uzumaki (22th). Naruto Shippuden

Dimensi 2: Naruko "Naru" Uzumaki (15th). Unofficial name by fandom

Dimensi 3: Menma Namikaze (22th). Naruto Movie Shippuden 4: Road To Ninja [DEAD]

Dimensi 4: Naruto "Yami" Uzumaki (22th). Naruto Shippuden 243-244

Dimensi 5: Naruto "Akage" Uzumaki (35th). Naruto Movie Shippuden 1 [DEAD]

Dimensi 6: Naruto Uzumaki (15th). Fic Ayo Pulang Oneesan [2011], Satu Jiwa Dua Badan [2011], Janji Kita [2011] by rifuki

Dimensi 7: Naruto-Naruko (28th). Fic Seseorang Yang Paling Mengerti Dirimu [2012-2013]

Unknown: DarkMenma

Mungkin dari kalian ada yang kurang familiar dengan universe/dimensi di chapter ini. Latar tempatnya saya ambil dari fic pertama saya Ayo Pulang Oneesan. Ceritanya tentang kehidupan Naruto di Konoha, Tokyo, Jepang. Naruto hanya hidup bertiga dengan kakaknya dan Kushina karena sejak umur 2 tahun Minato-Kushina bercerai.

Chapter ini terjadi sebelum event di fic Ayo Pulang Oneesan dimulai. Fic itu cukup berkesan karena merupakan fic pertama yang saya tulis saat bergabung FFn. Diikuti juga oleh 2 sekuelnya: Satu Jiwa Dua Badan dan Janji Kita. Naruto diceritain bahkan sampai tua dan punya anak. Genre ketiga fic itu emang family banget. Bagi yang suka genre tersebut atau penasaran silahkan dibaca.

Nah, sekarang udah kebanyakan dimensi. Biar ga melenceng kemana-mana. Saya kasih bocoran dikit. Untuk dimensi ke-7, Naruto yang saya tampilkan adalah pasangan suami-istri Naruto-Naruko dari fic Seseorang Yang Paling Mengerti Dirimu (SYPMD). Fic NaruNaru pertama saya dimana mereka sebagai pasangan. Naruko/Female-Naruto diceritakan berasal dari bunshin Naruto yang mengalami mutasi gen dan tubuhnya jadi solid karena terlalu lama 'hidup'. Dia jadi tak bisa dilenyapkan dan akhirnya tinggal bersama Naruto. Meski ide ceritanya nyeleneh, ternyata fic itu cukup banyak mendapatkan respon positif dan banyak yang minta sekuel karena ending-nya yang agak nanggung. Event di chapter depan terjadi sesudah ending SYPMD, sesudah mereka punya anak, jadi anggap saja side story SYPMD.

©rifuki