"KAI! KAI! KAI! Kenapa kau tidak hilang?"

"Apa kau tahu Naruto-kun? Menghilangnya seorang bunshin juga tergantung pada keinginan bunshin itu sendiri. Kalau ia tidak ingin menghilang, maka ia tidak akan menghilang."

"Hei tunggu dulu! Aku baru sadar! Kau terluka dan berdarah. Bukankah bunshin tidak mengeluarkan darah?"

"Dilihat dari hasil pemeriksaan, dia adalah seorang perempuan yang sempurna. Struktur gen kalian berbeda. Entah genmu mengalami mutasi atau apa, yang jelas secara teknis dia itu memang bukan 'dirimu' Naruto, dia seperti seorang individu baru, dia manusia baru yang terlahir lewat bunshin-mu."

"… kita harus mencari nama untukmu, rasanya membingungkan jika memanggilmu dengan 'Naruto' atau 'hei'. Bagaimana kalau Naruko?"

"Naruko?"

"Aku tidak pandai memilih nama. Hanya itu yang ada di kepalaku, jadi-"

"Nama yang bagus, aku setuju."

"Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggilmu Naruko, Uzumaki Naruko."

"Sekarang kau tidak sendirian lagi. Ada aku disini. Mulai saat ini kau tidak harus memendam kesedihanmu sendiri, kau bisa membaginya denganku. Aku tidak keberatan Naruto-kun."

"Terima kasih. Aku baru sadar kalau rasa sayangku padamu lebih dari yang selama ini kubayangkan. Aku menyayangimu sebagai seorang laki-laki kepada seorang perempuan. Aku tak lagi menganggapmu adikku."

"Apa sekarang aku bisa jadi pacarmu?"

"Sudah jelas 'kan? Aku tak perlu menjawab pertanyaanmu lagi."

"… Naruto jadi lemah karena kehadiran Naruko. Ia bisa kehilangan nyawanya."

"Naruko, selama ini kau telah mengambil chakra Naruto. Dengan kata lain, sampai kapan pun Naruto hanya akan memiliki 50% dari total kapasitas chakra-nya karena 50%-nya lagi ada pada tubuhmu."

"Sepertinya terciptanya dirimu belum sepenuhnya sempurna Naruko. Kau masih menyerap chakra dari Naruto. Itu berarti kau masih… setengah bunshin. Proses metabolisme dalam tubuhmu tak bisa memproduksi chakra sendiri."

"Maaf aku membuatmu terluka parah seperti ini. Andai saja aku tak bersikeras untuk tetap hidup. Andai aku menuruti perintahmu untuk melenyapkan diriku dulu. Satu-satunya cara adalah aku harus menghilang dari sisimu. Aku akan membunuh diriku sendiri agar chakra-mu kembali."

"Kau kekasihnya! Kau pikir Naruto akan diam saja mengetahui kau bunuh diri?"

"Kalau begitu jangan beritahu Naruto-kun mengenai hal ini. Hapus ingatan Naruto tentangku dengan jurus milik Ino atau Inoichi-san. Buat Naruto-kun melupakanku dan menganggapku tak pernah ada dalam kehidupannya."


"Gah!"

Uzumaki Naruto tersentak dari tidurnya hingga ia terduduk di tempat tidur. Tingkahnya itu membuat sang istri, Uzumaki Naruko, yang sedang dalam pelukannya ikut terkejut.

"Kau kenapa? Mimpi buruk?"

Dijawabnya pertanyaan Naruko dengan sebuah anggukan. Naruko mengusap keringat yang mengalir deras di pelipis suaminya menggunakan punggung tangan.

"Mimpi yang sama?"

"Ya. Mimpi tentang kejadian 11 tahun lalu saat kau meninggalkanku."

Naruko mengerti bagaimana perasaan suaminya. Biar bagaimanapun bermimpi buruk selama seminggu berturut-turut akan membuatmu tak tenang. Ditambah lagi hal dalam mimpi tersebut adalah hal yang paling ditakuti Naruto, yaitu kehilangan istrinya. Naruko berusaha menenangkan suaminya dengan memeluknya lebih erat.

"Sudah kubilang berulang kali kalau itu hanya mimpi. Kau ingat kata-katamu dulu saat melamarku?" tanya Naruko.

Naruto menerawang ke masa lalu, mengingat apa yang dikatakannya untuk menyunting sang wanita pujaan. Tak perlu waktu lama untuk mengingatnya karena saat itu adalah saat yang paling berharga dalam hidupnya.

"Kau sudah jadi sosok yang paling mengerti diriku. Kaulah orang yang bisa menghilangkan rasa kesepianku selama ini. Aku tak mau saat aku terbangun kau tak ada lagi di sampingku dan membuatku kesepian lagi," ucap Naruto, mengulangi perkataannya setahun lalu.

Naruko tersenyum.

"Lalu setelah itu?"

"Kau harus tetap berada di sampingku setiap saat. Jika ada musuh, kita akan lawan bersama. Aku akan lemah karena hanya memiliki 50% chakra, tapi dengan adanya kau di sisiku dengan 50% chakra lainnya, kita akan memiliki 100% chakra yang bisa melindungi kita berdua," lanjut Naruto.

"Ya, itu dia. Aku sudah tahu sebesar apa rasa sayangmu padaku. Bahkan jurus Klan Yamanaka saja tak bisa menghapusku dari ingatanmu. Maka dari itu aku tak akan mengecewakanmu. Aku tak akan meninggalkanmu lagi. Lagi pula ada yang menyatukan kita sekarang."

Naruto mengikuti arah pandangan Naruko, memandang bayi yang sedang tertidur di tempat tidur bayi di samping tempat tidur mereka. Senyuman terbentuk di wajah Naruto. Kini perasaannya mulai tenang.

"Kau benar. Lanjutkan tidurmu." Naruto beranjak dari tempat tidurnya lalu mengecup kening istri dan anaknya yang masih berusia 3 bulan.

Masih ada waktu 3 jam sebelum matahari terbit dan kesibukannya sebagai Hokage Ke-7 dimulai. Naruto memanfaatkan waktu luang dengan menyeduh kopi panas lalu bersantai di balkon. Seperti biasa ia menggunakan mug couple yang dibelikan Naruko 11 tahun lalu. Namun bedanya, sekarang ia diwajibkan memakai mug bergambar chibi Naruko, sedangkan mug bergambar chibi dirinya akan selalu digunakan Naruko. Naruko bilang, mereka menukar mug agar saling mengingat satu sama lain saat menggunakannya. Naruto tentu tak keberatan dengan itu.

Tak terasa 3 jam berlalu. Tepat saat matahari terbit di ufuk timur, tiba-tiba mug yang dipakai Naruto terjatuh dari ujung balkon karena licin oleh embun. Mug bergambar Naruko itu terjun bebas dari lantai 2 ke lantai 1 hingga pecah jadi bagian-bagian kecil. Melihat pecahan berukuran kecil yang berserakan itu Naruto yakin mug tersebut tak mungkin lagi diperbaiki seperti 11 tahun lalu. Naruto bukannya tak mau menyelamatkan mug yang sangat bersejarah itu, tapi ada hal yang jauh lebih menyita perhatiannya. Ada 3 kekuatan besar yang mendekati Konoha dengan cepat. Satu diantaranya memiliki kekuatan yang sangat kelam. Ia bergegas membangunkan istrinya.

"Naruko, maaf membangunkanmu! Cepat titipkan Naoki kepada Baa-chan. Setelah itu kembali ke sini."

Naruko tak banyak protes dan menggendong putranya lalu pergi menggunakan Hiraishin. Sementara Naruto menjentikkan jarinya, memanggil ANBU yang sedang berjaga di depan rumah megahnya.

"Perintahkan Divisi Pertahanan untuk memperkuat barier Konoha. Aku punya firasat buruk!"

"Hai, Hokage-sama."

Tak lama kemudian Naruko sudah kembali. Ia tahu ada yang tak beres sehingga mengganti pakaiannnya dengan pakaian ninja. Setelah itu ia mendekati suaminya yang sudah memakai armour lengkap, berikut jubah Hokage Ke-7.

"Kupikir dengan kalahnya Madara, tak akan ada bahaya lagi. Sepuluh tahun dalam kedamaian, ternyata kejahatan akan selalu ada," gumam Naruto. Ia lalu menggenggam tangan istrinya.

"Jangan jauh-jauh dariku. Kita akan hadapi bersama."

Naruko mengangguk seraya mengeratkan genggaman tangan mereka.

"MATI KAU!"

Naruto tak bisa menghindar saat seseorang menusukkan kunai ke dada kirinya. Ia tak bisa mengantisipasi serangan karena sosok bermata merah darah itu muncul secara tiba-tiba. Bahkan barier pertahanan desa hancur begitu saja.

Beruntung saat ujung kunai menyentuh kulitnya, seorang gadis pirang yang memiliki wajah sama dengan istrinya menangkis tangan penyerang itu. Bukan hanya itu, gadis itu juga menahan tangan seorang pria berambut hitam rancung yang berusaha menebas leher Naruto dengan pedang.

Mereka adalah Yami dan Dark Menma yang menyerang Naruto di dimensi ke-7 secara beruntun. Beruntung Naru bisa menahan serangan mereka sekaligus. Namun biar bagaimanapun ia kewalahan jika harus menahan 2 serangan dalam waktu lama. Orochimaru segera keluar dari leher Naru lalu melilit badan Yami dan Dark Menma. Sementara Karin dan Souban tak bisa ikut membantu karena kelelahan setelah berpindah dimensi.

"Bantu kami, Nee-san!" teriak Naru kepada Naruko.

Naruko mematung untuk beberapa saat karena ia kaget menyaksikan perkelahian yang terjadi secara tiba-tiba di depan rumahnya. Ia tak tahu siapa mereka. Namun satu yang pasti, dua orang yang tadi menyerang suaminya bukan orang baik.

Naruko datang membantu Naru. Mereka bertatapan sejenak, mengagumi betapa miripnya fisik mereka. Sedetik kemudian mereka sadar bukan saatnya untuk mengagumi fisik kembaran-berbeda-umur mereka.

"Hiraishin, sekarang!" teriak Naru lagi. Naruko mengerti dan membentuk segel yang sama persis dengan Naru. Keduanya membawa Yami dan Dark Menma ke luar desa, ke hutan yang jauh dari pemukiman penduduk.

Setelah sampai, Naru memberikan isyarat kepada Naruko dan Orochimaru untuk mundur. Ia perlu mengatur strategi baik-baik. Naruto dimensi ke-7, Karin dan, Souban datang tak lama setelah itu. Luka di dada Naruto tak parah, hanya goresan kecil.

"Refleksmu bagus juga, Naru. Kakakmu melatihmu dengan baik," puji Dark Menma.

Naru tak pedulikan kata-kata Dark Menma, meski dalam hati ia berterima kasih kepada Naruto karena sudah melatihnya. Sekarang kakaknya tak ada, ia harus berpikir cepat dan mengambil alih komando. Ia melihat keadaan Karin yang kelelahan karena jadi transporter, lalu Souban yang batuk darah karena baru pertama kali berpindah dimensi, Orochimaru yang masih segar bugar, lalu beralih ke dua sosok Naruto di dimensi ke-7. Yang laki-laki memakai jubah Hokage dan memakai cincin yang serupa dengan yang perempuan. Naru mengambil kesimpulan kalau Naruto seorang Hokage dan ia suami Naruko.

"Aku tahu ini sangat mendadak Hokage-sama. Ceritanya panjang. Intinya ada 7 Naruto dari berbagai dimensi. Yami sedang mengincar semuanya termasuk aku dan kalian. Kau juga pasti tahu sekelam apa chakra Yami. Jadi lebih baik kita bekerja sama."

Sang Hokage berjalan ke dekat Naru diikuti istrinya.

"Aku setuju."

Naru tersenyum, Naruto ke-7 sudah berada di pihaknya.

"Orochimaru, kau lindungi Karin-Neesan dan Souban. Lalu kalian duo Naru, ayo kita hadapi Yami dan Dark Menma!"

"Hn!"

Ketiganya maju beberapa langkah dan memasang kuda-kuda mereka. Dark Menma menepuk pundak Yami.

"Ckckck, kau kalah jumlah, Yami."

Perlahan muncul senyum maniac di wajah Yami yang berubah jadi tawa mengerikan. "Hahahaha. Siapa bilang? Secara jumlah kekuatan, aku menang. Naruto belum sampai di sini. Duo Naru itu hanya memiliki 50% chakra. Lalu anak sekolah yang dipanggil Souban itu hanya jadi beban mereka. Skornya 2 VS 3."

Souban kesal mendengar perkataan Yami ini. Tapi melihat level pertarungan di hadapannya, Souban tahu diri kalau dirinya tak bisa berbuat apa-apa.

"MAJU KALIAN!"


Duo Naru

"Couple"


Konoha 7

Naruto POV

Setelah sampai di Konoha 7, aku langsung disuguhi pertarungan sengit antara 2 kubu. Yami sedang dikeroyok oleh adikku dan 2 orang dari dimensi ini. Tapi Yami tak terlihat kewalahan meski melawan 3 orang. Malah kulihat Naru yang terluka di beberapa bagian tubuhnya.

Sekarang saatnya untuk menguji gen Hashirama yang disuntikkan Orochimaru ke tubuhku.

"Mokuton: Daijurin no Jutsu!"

Kurasakan aliran chakra mengalir deras ke arah tangan kiriku. Tiba-tiba tangan kiriku berubah jadi kayu dan memanjang membentuk puluhan pedang dari kayu. Heh, aku suka kemampuan baruku ini. Jadi inilah kekuatan mokuton. Langsung saja kuarahkan pedang-pedang tajam itu ke arah Yami sebelum ia menyadarinya.

SRET!

Beberapa pedang berhasil mengenai badan Yami hingga menahannya di tanah.

"Kau baik-baik saja Naru?" teriakku.

Sejak membiarkannya pergi duluan ke dimensi ini, aku tak bisa menyembunyikan rasa khawatirku pada adikku itu. Ini adalah pertarungan terbesar yang kami hadapi bersama. Naru mengusap darah di bibirnya sambil tersenyum.

"Aku baik-baik saja. Kau melewatkan pertarungan seru, Nii-san."

Aku bersyukur dia baik-baik saja. Aku berpaling pada Duo Naru di belakangku. Keduanya kaget melihat betapa miripnya aku dengan salah satu dari mereka.

Setelah kuperhatikan dari dekat, aku yakin mereka lebih tua dariku. Yang laki-laki memiliki janggut dan jambang tipis yang dibiarkan tumbuh. Sementara yang perempuan memiliki garis wajah yang melancip, yang memperlihatkan sisi kedewasaan dan sisi feminim. Ia tampak cantik dengan rambut pirang panjang yang dibiarkan terurai mencapai pinggang. Mereka berdua nampak tak kalah kelelahan dari Naru. Aku memfokuskan diri pada aliran chakra yang mengalir antara kedua sosok itu.

"Mmm, aku penasaran, apa chakra kalian-"

Naruto yang memakai jubah Hokage memotong kalimatku. "Chakra kami terhubung satu sama lain. Kami memiliki 1 sumber chakra yang sama karena Naruko awalnya adalah bunshin-ku. Sehingga saat ini aku hanya memiliki 50% chakra, sementara 50% lagi ada pada tubuh Naruko."

"Karena itulah kami harus tetap bersama," tambah wanita yang dipanggil Naruko.

Aku mengangguk tanda mengerti.

"Kupastikan anda dan istri anda tetap bersama dalam pertempuran ini, Hokage-sama."

"Gh!" Yami melepaskan diri dari pedang-pedangku. Rupanya tidak ada organ penting yang terkena oleh pedang-pedang itu. Lengan jaket orange miliknya robek dan memperlihatkan bekas luka di tangan kanannya.

"Kau ingat luka ini, Naruto?" tanya Yami.

"Itu luka karena ulahmu sendiri meledakan Dark Rasengan di dalam celah antar dimensi."

"Baguslah kalau kau ingat. Tak seperti dirimu yang memiliki tangan baru, aku lebih suka membiarkan tanganku yang terluka ini. Ini membuatku berkarakter. Karakter jahat…" tambah Yami dengan cengiran yang mengerikan.

Aku mencoba menenangkan diriku untuk tak terlalu terpengaruh oleh gertakkan Yami. Aku tahu dia hanya ingin mempermainkan emosiku agar aku kehilangan konsentrasi.

"Baiklah. Saatnya berhenti bermain-main," gumam Yami.

Perlahan chakra hitam kelam keluar dari tubuh Yami. Lama-kelamaan seluruh tubuhnya sudah diselimuti chakra hitam. Saat ia membuka matanya, kedua mata merahnya sudah berubah jadi mata rubah. Itu mode Kyuubi! Dalam satu kedipan saja Yami sudah hilang dari pandanganku.

BUKH!

Ia muncul tepat di hadapanku dan memukul ulu hatiku dengan tinju yang berlapis chakra hitam. Gerakannya begitu cepat hingga ia leluasa berpindah ke dekat Duo Naru dan juga memukul mereka. Bukan itu saja, Naru juga terkena serangannya.

Refleks kami cukup bagus sehingga masih sempat masuk ke mode Kyuubi untuk meminimalisir rasa sakit akibat pukulan Yami. Inilah yang sempat diceritakan Menma Rokudaime padaku. Kecepatan serangan Yami tidak seperti manusia normal. Lee saja tidak sampai secepat ini.

Kami jadi bulan-bulanan Yami saat itu.

Aku kesulitan untuk menyesuaikan gerakanku dengan Duo Naru. Mereka punya gaya bertarung yang berbeda. Kalau dengan Naru aku tak kesulitan karena kami sudah sering berlatih bersama.

"Defense!" teriak Hokage.

Ia merasakan hal yang sama denganku. Kami perlu bertahan sejenak untuk menyelaraskan gerakan kami. Menyerang secara terpisah malah membuat kami jadi sasaran empuk Yami. Aku dan Naru mendekati Hokage hingga akhirnya kami berempat saling memunggungi. Memperhatikan arah datangnya serangan Yami dari 4 penjuru angin.

"Ini percuma Naruto, dia punya 3 kekuatan dengan 1 otak. Sedangkan kita 3 kekuatan dengan 4 otak. Tentu Yami lebih unggul."

"Aku tahu Hokage-sama," jawabku.

"Kita bagi tugas. Kalian menyerang dan kami menangkap Yami," usul Nee-san.

"Setuju."

Saling memunggungi membuat Yami kesulitan menyerang kami. Kami terlindung dari depan, belakang, kanan, dan juga kiri. Namun ada 1 lagi arah yang jadi incaran.

"Atas!"

Benar saja. Yami menyerang lewat atas, mengarahkan kunai ke kepalaku. Hokage dan Nee-san tidak tinggal diam, mereka berusaha menangkis tangan Yami.

GREP!

Di luar dugaanku, Duo Naru itu bukan hanya menangkis tangan Yami, melainkan juga menahannya. Tugas mereka menangkap Yami berhasil! Sekarang giliranku dan Naru untuk menyerang. Kugunakan kekuatan Rinnegan untuk mengeluarkan besi chakra tajam dari tangan kiriku. Kuarahkan besi itu ke leher Yami.

Yami menyadari diriya terancam dan menggunakan kedua kakinya yang bebas untuk menendangku. Aku terjatuh ke tanah tapi dengan senyuman puas. Itu hanya serangan untuk mengalihkan perhatian. Serangan sesungguhnya dilakukan oleh Naru. Adikku sudah siap menyerang Yami dari belakang dengan Bijuu Rasengan.

"Apa?!"

"Bijuu Rasengan!"

Bola chakra sebesar kepala manusia ber-rasio 8:2 itu menghantam punggung Yami. Rasio 8 berarti kandungan chakra Kyuubi sebesar 80% sedangkan chakra normal sebesar 20%. Karena itulah warna bola itu ungu tua.

BOOM!

"Yeah, kena kau!" seru Naru senang.

"Terlalu cepat untuk senang Naru! Tambah dengan Rasengan andalan kalian. Sekarang!" teriakku sambil bangkit dan menyiapkan serangan lanjutan.

Yami masih terbaring di tanah saat itu. Naru dan Duo Naru mengikuti perintahku dan menyiapkan serangan mereka masing-masing.

"Rasen Shuriken!"

Aku jadi penyerang pertama dengan melemparkan Rasen Shuriken andalanku.

"Tsuin Rasengan!"

Duo Naru jadi penyerang kedua. Tsuin Rasengan adalah rasengan kembar yang dibuat dari chakra merah Kyuubi dan chakra biru biasa. Hanya saja keduanya tak digabungkan, melainkan dilepaskan dalam keadaan terpisah. Hokage memegang rasengan ber-chakra merah, sedangkan Nee-san memegang chakra biru.

"Odama Rasengan!"

Naru jadi penyerang terakhir. Odama rasengan yang melebihi ukuran tubuhnya sendiri ia lemparkan ke arah Yami.

BOOOM!

Ledakan kedua lebih dahsyat dari yang pertama hingga membuat hempasan angin ke sekeliling hutan. Pohon-pohon berterbangan saking kuatnya ledakan yang terjadi. Tanah di sekelling Yami hancur sehingga kini asap menyelimuti kami.

"Kurasa ini cukup," gumam Hokage. Sang istri dengan setia memegang tangan suaminya, membiarkan chakra antara tubuh mereka terbagi.

"Kuharap begitu," balas Naru.

Aku tak menanggapi mereka. Bagiku yang pernah melawan Yami, rasanya ini belum apa-apa. Yami terlalu cepat untuk kalah. Dia pasti punya-

BUKH!

Tangan Kyuubi berwarna hitam tiba-tiba menghantam tubuh kami hingga kami terlempar ke berbagai arah. Tubuhku menabrak pohon-pohon dan akhirnya tersungkur di tanah.

"Kalian tak apa-apa?" tanyaku pada Naru dan Duo Naru.

Meski ketiganya terlihat terluka, tapi mereka tetap mengangguk untuk menjawab pertanyaanku. Setelah asap yang menyelimuti hutan menghilang. Sekarang pandangan kami lebih jelas. Di hadapan kami ada 3 Kyuubi dengan 3 bijuudama yang siap ditembakkan di mulut mereka.

Kyuubi pertama adalah milik Yami. Terlihat dari warnanya yang hitam pekat. Kyuubi yang kedua adalah milik Menma Rokudaime, berwarna merah pucat. Kyuubi yang ketiga kuduga milik Akage dengan bulu yang berwarna merah cerah. Rupanya Yami memanggil ketiga kekuatan yang sudah dikumpulkannya dan mengeluarkannya secara bersamaan.

Sementara di atas kepala Kyuubi Hitam, ada Yami yang sedang memegang Wakusei Rasengan.

Wakusei Rasengan adalah rasengan berbentuk besar ditambah dengan 3 rasengan lain yang mengelilingnya. Wakusei Rasengan sering disebut Planetary Rasengan karena bentuknya mirip matahari yang dikelilingi 3 planet.

Tiga rasengan yang kami lempar kepada Yami telah melukai perut dan dadanya. Kini jaket orange-nya sudah lenyap dan ia bertelanjang dada. Namun sebagian besar rasengan ia serap, lalu mengkombinasikan ketiganya dengan Dark Rasengan miliknya. Akhirnya terciptalah Wakusei Rasengan. Dark Rasengan ada di pusatnya, sementara Rasen Shuriken, Tsuin Rasengan, dan Odama Rasengan berada di sekelilingnya.

"Perkenalkan rasengan baru ciptaanku, Dark Wakusei Rasengan!"

Inilah yang paling kubenci dari Yami, ia tak pernah mempedulikan hal-hal di sekeliling kami. Dengan 3 bijuudama dan Wakusei Rasengan, hutan sekeliling kami akan hancur dalam sekejap. Bukan itu saja, serangan dengan skala besar seperti itu akan menjangkau pesawahan dan ladang penduduk di belakang kami. Bahkan jika kami kurang hati-hati, serangan bisa mencapai desa Konoha. Nyawa penduduk tak berdosa akan terancam.

Kami bergegas memanggil Kyuubi kami masing-masing agar tak mati konyol. Kami berempat memiliki 3 Kyuubi yang serupa. Bedanya, Duo Naru berada dalam 1 Kyuubi yang sama.

Yami melemparkan Dark Wakusei Rasengan ke arah kami, diikuti 3 bijuudama dari 3 Kyuubi miliknya. Tiga bijuudama itu kami tahan dengan 3 bijuudama pula. Sedangkan Dark Wakusei Rasengan sudah siap kami tahan dengan 4 Odama Rasengan yang kami gabungkan. Di luar dugaan, Dark Wakusei Rasengan milik Yami tidak diarahkan kepada kami melainkan ke belakang kami, ke arah Souban. Dialah yang dia incar sejak tadi!

Aku, Naru, dan Duo Naru tak mungkin menyelamatkan Souban karena sedang menahan bijuudama. Harapan terakhir ada pada Orochimaru dan Karin.

Orochimaru bergerak cepat dengan memanggil 3 benteng andalannya.

"Kuchiyose: Sanju Rashomon!"

Munculah 3 lapis gerbang Rashomon yang jadi benteng pertahanannya. Karin menambah pertahanan dengan membentuk kubah chakra di sekelilingnya untuk melindungi Souban.

Namun seiring dengan Dark Wakusei Rasengan yang kian melesat dan menghancurkan 2 dari 3 Rashomon, aku semakin yakin kalau pertahanan yang dibuat Orochimaru dan Karin tak akan menyelamatkan nyawa mereka. Rasengan milik Yami itu terbentuk dari 4 jenis rasengan, jika ditotalkan kekuatannya bisa setara dengan 1 bijuudama Kyuubi dalam bentuk sempurna!

Sial! Apa yang harus kulakukan? Aku tak bisa membiarkan 3 anggota timku mati sia-sia. Seandainya kekuatan Karin sudah sepenuhnya kembali, mungkin dia bisa mengatasi serangan ini. Sayangnya perlu waktu lebih lama untuk pulih setelah berpindah dimensi sekaligus jadi transporter.

"Aku akan memindahkannya ke tempat lain!" seru Nee-san.

Nee-san keluar dari Kyuubi miliknya (dan Hokage). Ia melepas mode Kyuubi-nya dan bersiap melakukan Hiraishin untuk menghalau rasengan.

"Tidak Naruko, kembali ke sini! Kau tak akan sempat memindahkannya!" teriak Hokage.

Naruko-Neesan tak mendengarkan kata-kata suaminya. Ia malah tersenyum. "Hanya aku yang bisa menyelamatkan mereka."

Aku tercekat mendengar kata-katanya. Apalagi senyuman yang ditunjukkannya. Itu senyuman seseorang yang siap mati! Memang jika dipikir lagi dia dan Hokage adalah orang yang punya kesempatan untuk menyelamatkan timku. Nee-san dan Hokage mengendalikan 1 Kyuubi yang sama, jadi pada keadaan darurat salah satu diantara mereka bisa keluar dan yang lain tetap di dalam Kyuubi.

Namun seperti kata Hokage, rasengan sudah terlalu dekat dengan Souban, Karin, dan Orochimaru. Bisa saja rasengan dipindahkan, tapi dengan resiko nyawa yang harus dipertaruhkan.

"Selamat tinggal, Anata."

"Kau bilang tak akan meninggalkanku lagi. TIDAAAAKKKK!"


Setelah 3 bijuudama berhasil dikalahkan. Aku, Naru, dan Hokage mundur ke dekat Souban. Semua Sanju Rashomon milik Orochimaru telah hancur berantakan. Tapi tiga anggota timku itu selamat karena Nee-san berhasil memindahkan rasengan di detik-detik terakhir. Ledakan terdengar dari arah utara kami, jadi kami tahu ke sanalah rasengan dipindahkan.

"Ayo kita susul Nee-san!" ajakku pada Hokage.

Hokage menggeleng.

"Tidak usah. Lihat ini, chakra-ku sudah tak terbagi lagi. Itu berarti Naruko sudah..."

Hokage tak melanjutkan kalimatnya. Ia terlihat sangat terpukul sekali kehilangan istrinya. Namun ia mati-matian menahan air mata yang akan keluar dari sudut matanya. Ia tak ingin terlihat lemah di hadapan kami. Kuperhatikan chakra di tubuh Hokage yang asalnya hanya 50% kini berangsur kembali. Berarti benar Nee-san sudah mati. Sesuai teori bunshin, saat seorang bunshin lenyap, maka chakra yang tersisa akan kembali ke pemiliknya. Pasti setelah berhasil memindahkan rasengan, Nee-san tak sempat kembali ke sini karena rasengan terlanjur meledak.

"Jika dia berasal dari bunshin-mu, apa 'nyawa'-nya kembali pada tubuhmu saat ia mati? Apa dia bisa dihidupkan kembali?"

"Bisa. Ini kematian keduanya. Sebelas tahun lalu dia pernah mati. Kali ini aku tak akan menghidupkannya kembali. Sudah cukup. Aku tak ingin dia merasakan rasa sakit untuk ketiga kalinya."

"Maafkan aku atas apa yang terjadi," kata Karin. Ia merasa bersalah karena Nee-san mati untuk menyelamatkannya dan juga Souban serta Orochimaru.

Hokage kembali menggeleng.

"Tidak apa-apa. Ini keputusan yang diambilnya sendiri. Dalam kondisi genting seperti tadi, dialah satu-satunya yang bisa menyelamatkan kalian. Ia pasti berpikir kematian 1 orang lebih baik dari pada 3 orang."

"Ck! Yami benar, aku hanya jadi beban kalian."

Aku menoleh kepada Souban. Dia terlihat depresi sekali. Ia pasti menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi.

PLAK!

Naru menampar Souban. Sejujurnya tadi aku mau menasehati Souban, tapi tak berpikir sampai menamparnya. Kubiarkan Naru melakukan apa yang dia suka. Naru dan Souban seumur. Mudah-mudahan Souban tak terlalu sakit hati. Jika aku yang melakukannya, Souban malah akan semakin sakit hati.

"Lalu apa maumu?!" bentak Naru.

"Bertarung membantu kalian!"

PLAK!

Naru menampar sisi lain pipi Souban.

"Jangan sia-siakan nyawamu. Kita tak tahu apa yang akan dilakukan Yami jika ia berhasil mengumpulkan ketujuh kekuatan Naruto. Dengar baik-baik! Dengan tetap hidup saja kau sudah membantu kami. Itulah tugasmu!"

Aku kagum dengan kata-kata Naru. Meski kata-katanya keras, tapi itulah yang dibutuhkan saat ini. Kukeluarkan sebuah kunai dan kuberikan kepada Souban.

"Kata-kata Naru benar. Belum saatnya kau turun. Lebih baik pegang ini dan lindungi dirimu sendiri karena Orochimaru dan Karin sedang terluka."

Souban akhirnya mengerti dan mengambil kunai yang kuberikan.

Aku menoleh kepada Hokage. Ia sudah lebih tenang.

"Ayo kita lanjutkan," ajaknya.

Aku mengangguk.

"Ayo kita kalahkan Yami!"


"Kali ini biar aku yang memimpin," kata Hokage.

Kubiarkan ia berjalan paling depan. Aku tak keberatan. Ini desanya, ini dimensi miliknya. Selain itu dia seorang Hokage dan lebih tua dari aku dan Naru. Ia memancarkan chakra Kyuubi miliknya dan kembali memanggil Kyuubi miliknya.

Aku dan Naru tercengang. Setelah ia memiliki 100% chakra, ia sangat berbeda dengan sebelumnya. Aku tidak tahu, entah karena ia kehilangan istrinya atau memang kekuatan aslinya sebesar ini. Aku merasakan kekuatannya lebih kuat dari aku dan Naru.

"Apa kalian sudah memiliki kedua chakya Kyuubi? Yin dan Yang?" tanya Hokage.

"Ya," jawabku dan Naru bersamaan.

"Bagus. Masuk ke level 2. Kita gabungkan chakra, Yin, dan Yang serta Senjutsu."

"Baik."

Aku dan Naru mengeluarkan sisi Yin Kyuubi dan menggabungkannya dengan sisi Yang. Setelah itu kami gabungkan dengan Senjutsu.

Kulihat Hokage cepat menganalisa keadaan. Ia tahu Dark Rasengan milik Yami bisa menyerap chakra sehingga diperlukan Senjutsu untuk melawannya. Kyuubi Mode Level 2 sudah siap. Langkah terakhir adalah kupanggil kembali sosok Kyuubi.

Pancaran chakra yang keluar dari tubuh kami dan 3 Kyuubi milik kami terasa amat kuat, bahkan bagi kami sendiri yang berada di pusatnya. Kurasakan kekuatanku meluap-luap.

Yami yang sedang bersila di atas kepala Kyuubi miliknya terlihat tak senang dengan keadaan ini. Tiba-tiba Dark Menma muncul di dekatnya.

"Bagaimana sekarang Yami? Haruskah aku turun? Mereka sudah mulai serius," cibir Dark Menma.

Yami berkata tanpa menatap partner-nya itu. "Lebih baik kau kembali ke pinggir dan menonton."

"Baiklah kalau itu maumu."

Dark Menma sepertinya sudah menyerah untuk menggoda Yami. Sekarang ia benar-benar masuk ke mode 'santai'. Ia menyimpanpedangke dalam sarung pedang di punggung. Lalu naik ke pohon tertinggi di sana. Dikeluarkannya beberapa buah jeruk dari kantongnya dan mulai memakannya dengan santai. Ia benar-benar menjadikan kami tontonan! Itu membuatku kesal! Dia pikir ini piknik?

Tapi aku mengambil sisi positifnya. Akage sempat mengatakan kepada Shion kalau Dark Menma adalah orang yang harus diwaspadai dibanding Yami. Melihat keadaan saat ini, aku jadi tak perlu memikirkan Dark Menma. Aku hanya perlu fokus kepada Yami.

"Nah, begitu lebih baik. Aku akan kalahkan mereka sendiri. Sudah sering kubilang, ini urusan 7 Naruto, jadi kau tak masuk di dalamnya," kata Yami.

Entah sadar atau tidak saat Yami mengatakan hal itu. Tapi jika kalimat Yami diartikan baik-baik, itu berarti Dark Menma bukan dari 7 dimensi yang ada saat ini! Aku dan Naru jadi orang yang paling kaget mendengar perkataan Yami tersebut. Meski mengagetkan, namun semuanya jadi masuk akal. Semua Naruto dari ketujuh dimensi sudah ditemukan dan ketujuh dimensi itu bukan tempat tinggal Dark Menma. Dark Menma tidak berasal dari salah satu diantaranya!

Aku menatap Dark Menma dan ia sama sekali tak terganggu dengan kata-kata Yami tersebut. Ia hanya tersenyum dan mengangkat sepotong jeruk. Seolah menawariku jeruk dari kejauhan.

"Kalian terlihat kaget, hahaha."

Yami tertawa puas melihat kekagetan kami. Ternyata Yami memang sengaja mengatakan hal itu untuk memecah konsentrasi kami. Dan aku harus memujinya karena ia berhasil melakukannya!

Hokage memberikan isyarat dengan kedua tangannya agar aku dan Naru tetap fokus. Tawa Yami perlahan memudar. Ia meregangkan otot-ototnya dan menatap kami tajam.

"Jadi, bisa kita lanjutkan pertarungan kita?"

To Be Continue…


A/N:

Summary:

Team Naruto: Naruto, Naru, 2nd Orochimaru, 1st Karin, Souban, Shichidaime Hokage

Dimensi 1: Naruto Uzumaki (22th). Naruto Shippuden

Dimensi 2: Naruko "Naru" Uzumaki (15th). Unofficial name by fandom

Dimensi 3: Menma Namikaze (22th). Naruto Movie Shippuden 4: Road To Ninja [DEAD]

Dimensi 4: Naruto "Yami" Uzumaki (22th). Naruto Shippuden 243-244

Dimensi 5: Naruto "Akage" Uzumaki (35th). Naruto Movie Shippuden 1 [DEAD]

Dimensi 6: Naruto Uzumaki (15th). Fic Ayo Pulang Oneesan [2011], Satu Jiwa Dua Badan [2011], Janji Kita [2011] by rifuki & OVA 5 Naruto: Sippu Konoha Gakuen Den.

Dimensi 7: Naruto-Naruko (28th). Fic Seseorang Yang Paling Mengerti Dirimu [2012-2013]

Unknown: DarkMenma

rifuki